Showing posts with label #womantalk. Show all posts
Showing posts with label #womantalk. Show all posts

Sterotype, Kerja di bank Harus Good Looking, Benarkah?

Tuesday, April 18, 2017

Halooo, banker’s life dah lama ngga muncul, hahahah karena saya lagi ……. Ya lagi males aja. Apasih alasan lain orang ngga melakukan sesuatu selain malas.

Tapi hari ini saya mau nulis yang ringan aja, bukan tentang produk bank.

Saya mau bahas soal stereotype bahwa pekerja di bank itu HARUS cantik

Uwuwuwuwuwuwuwu

Kenapa?

Karena bahasan ini menarik.

Saya beberapa kali membaca keluhan orang, bahkan kemarin sempet ada demo dimana saya lupa, yang isi demonya kira-kira menuntut agar perusahaan ngga pilih kasih, ngga memilih pekerja “hanya” berdasar penampilan saja. Sampai ada tulisan semacam spanduk atau apa ya namanya di kertas putih gitu isinya “ Nilai kami dari otak kami, bukan dari fisik”


Lupa, isi lengkap, tapi pointnya itu, bahwa banyak perempuan (laki-laki mungkin juga yah) yang merasa keberatan dan merasa diperlakukan tidak adil, saat perusahaan mensyaratkan penampilan sebagai salah satu criteria dalam menerima seseorang bekerja.

Ini kita batasi hanya untuk penerimaan front liner ya, dan saya batasi lagi hanya di bank, biar ga meleber kemana-mana dan ngga miss persepsi. Lha iya, karena saya kan kerjanya di bank, kurang kompeten kalau ngomongin perusahaan lain.


Benarkah sterotype bahwa bekerja di bank itu harus cantik?


Nih, saya kasih tau yah. Itu tidak benar, itu SALAH.


Iya, saya jawab salah, karena memang ngga bener itu.

( Baca : Sterotype banker )

Di bank itu ada banyaaaak banget bagian-bagiannya. Tapi bisalah kita kategorikan jadi 3 bagian besar, yaitu :


  • Front liner (front office ) yang kerjaannya ya di depan, seperti customer service, teller, satpam.
  • Back office , ini kerjaannya administratif, seperti administrasi kredit, logistik, IT.
  • Marketing, sesuai namanya ya kerjannya sebagai tenaga pemasar, kalau di bank, namanya account officer untuk bagian kredit, funding officer untuk bagian dana.


Kalau dilihat dari jalur masuknya, terdiri dari 3 jalur masuk

  • Penerimaan untuk frontliner dan back office
  • Penerimaan marketing
  • Penerimaan jalur ODP/PPS



Nah, kalau kalian bilang kerja di bank maka harus cantik/ganteng.


Salah


Karena namanya kerja dimanapun memang ada porsinya masing-masing.

Ada pekerjaan yang memang butuh kepintaran, ada pekerjaan yang butuh penampilan, ada pekerjaan yang butuh tenaga.

Tidak bisa kita pukul rata, bahwa saat sebuah perusahaan mencantumkan “ berpenampilan menarik” sebagai salah satu kriteria calon karyawannya trus kita bilang perusahaan tersebut diskriminatif.


No.

Contohnya kalau di bank, ada yang namanya penerimaan melalui jalur ODP ( Officer Development Program ) ini sejenis dengan management trainee yang tujuannya memang perekrutan untuk penempatan level manajerial.

Untuk jalur penerimaan seperti ini, mau di bank, atau mau di perusahaan apapun yang bergerak di bidang apapun, sangat jarang menerapkan penampilan menjadi syarat utama. Yang utama pasti otaknya, kepintarannya, penampilan jadi syarat penunjang.

Ngga herankan, lihat perempuan-perempuan tangguh di perusahaan oil and gas yang wajahnya biasa aja. Mungkin malah ngga menarik, mungkin pendek, mungkin item, mungkin rambutnya tidak menjuntai indah.

Ini saya pakai defenisi cantik secara umum yang berlaku di masyarakat ya.

Sama juga, kalau kalian lihat di bank-bank, untuk level ODP ke atas, banyak kok yang wajahnya biasa aja, tapi pintar-pintar kayak gw

Karena apa?

Karena memang level pekerjaannya butuh kompetensi tinggi, bukan butuh penampilan menawan.

Saya contohkan di bank. Untuk level ODP, kerjaan utamanya secara garis besar bisa dibilang adalah menganalisa.

Bisa menganalisa kredit murni atau menganalisa perkembangan ekonomi, menganalisa aturan perkreditan, menganalisa kebutuhan logisik, you named it, intinya menganalisa untuk kemudian merumuskannya menjadi suatu aturan. Atau menganalisa untuk kemudian dirumuskan menjadi prakarsa kredit. Atau menganalisa untuk kemudian diambil keputusan deal or not deal.

Intinya ya kerjaannya memang butuh kepintaran di atas rata-rata, ngga cukup cuma “cantik doang” trus bisa diterima.

Namun ada juga pekerjaan yang memang kompetensi kayak kepintaran or kemampuan analisa atau kemampuan mengambil keputusan tidak terlalu penting, tapi yang dibutuhkan adalah penampilan oke.

Inilah yang didefinisikan ke lembar persyaratan lamaran kerja menjadi good looking, berpenampilan menarik. Menarik itu defenisinya kan luas ya, karena kata teman saya cantik itu relative, jelek itu mutlak, lol. Becanda ya gengs. Maksudnya bahkan orang yang dibilang cantik pun masih relative karena sangat subjektif, makanya digunakan kalimat berpenamilan menarik, karena yang dilihat itu satu keatuan utuh, ngga hanya wajah doang, tapi sikap, body language dan pembawaan diri.

Dalam hal ini customer service atau front liner masuk kategori ini.

Front liner itu orang yang bekerja di garis depan, yang melayani nasabah, meliputi pembukaan rekening, penutupan rekening, informasi awal , tarik setor tabungan, menangani complain, yah semacam itu.

Pekerjaan ini, mungkin kita kalau orang awam melihat, bakal mikir kayak yang saya bilang di atas tadi “ Yah harusnya pilih yang pinter dong, masa lihat penampilan doang”


Ya harusnya emang pinter dan cantiklah.

Yup, mau kerja dimanapun, mana ada sih perusahaan yang mau terima orang ngga pinter, pasti semuanya mau dapat pekerja yang terbaik.

Namun untuk pekerjaan yang memang job desknya adalah pelayanan, mau perusahaan apapun pasti, PASTI bakal melihat penampilan dulu baru ke kompetensi berikutnya.

Nah ini yang harus dimengerti, bahwa kompetensi yang dibutuhkan di setiap level pekerjaan itu berbeda. Untuk frontliner, kompetensi yang dibutuhkan secara garis besar itu meliputi kompetensi pelayanan, keramahan, ketenangan, ketelitian. Kalau mau disederhanain lagi bahasanya, ya karena bagian ini ibaratnya bagian wajahnya sebuah perusahaan,jelaslah perlu yang good looking.

Apalagi bagian frontliner ini adalah bagian pertama yang akan menerima complain dari nasabah. Nah bayangkan kalau nasabah lagi marah, trus ketemu CS yang ayu, senyumnya manis, suaranya lembut, tenang, minimal pasti bakal adem dulu, ayem tentrem.

Pas datang tadi kemarahannya ada di level 10, ketemu mba CS langsung turun ke level 6, komplainnya didengerin turun ke level 4, komplainnya dilayani turun ke level 2, saat akhirnya komplainnya terselesaikan, dia udah di level nol. Keluar dari banking hall wajahnya udah berseri lagi.

Nah bayangkan, kalau mba CS nya wajahnya kurang sedap dilihat, kalau dalam kondisi biasa mungkin nga masalah, tapi orang kalau sedang marah, bawaannya udah kayak orang PMS, semua salah. Nasabah datang marah level 10, ketemu mbanya mungkin turunnya cuma di level 9, dan sampai akhirnya terselesaikan mungkin kemarahannya masih di level 4 atau 5. Keluar banking hall dia masih memendam kekesalan.

Oke, ini subjektif sekali, tapi ya itu gambaran kasarnya aja.

Ngga hanya frontliner, bagian marketing ya 11 -12. Penampilan tetap menjadi hal yang dilihat pertama kali. Karena sama dengan front liner, marketing itu pekerjaannya yang memang ketemu sama orang lain, negosiasi, menawarkan produk dengan tujuan agar si calon pembeli tertarik dan membeli dagangnnya.

Dan lagi-lagi, naturally (istilah apa ini) orang biasanya akan mudah tertarik berbicara dan memberi perhatian kepada seseorang dengan penampilan menarik.


Lho jadi jual tampang doang?




TETOT, nah disinilah miss nya.


Jadi begini mba sis yang mungkin tersinggung atau marah karena ngga keterima kerja gegara penampilan.

Saat ini jumlah suplly pekerja itu jauuuuh lebih banyak daripada ketersediaan lapangan pekerjaannya.

Nah untuk pekerjaan frontliner saja, yang sebenarnya prasyaratnya hanya lulusan D3, atau mungkin SMA, tapi yang mendaftar itu para sarjana (lha iya sekarang semua orang bisa dibilang sarjana kecuali yang ngga sarjana= logic ,LOL).

Para sarjana tumpah ruah bersaing memperebutkan jatahnya anak SMA atau lulusan D3. Dan yang mendaftar ini banyaaaaaaaaaaak banget yang penampilannya memang oke punya. Terserah yam au polesan mau alami, yang pasti good looking.

Sebulanan yang lalu, saya baru saja melakukan perekrutan pekerja untuk unit kerja saya. Saya hanya butuh frontliner kurang dari 10 orang.

Yang mendaftar berapa???? Beugh hamper seratus orang, soalnya ini hanya penerimaan lokal doang.

Sungguhlah sekarang ini banyak banget pencari kerja dibanding ketersediaan lapangan kerja (iya neng, seluruh manusia di muka bumi ini juga tau kenyataan ini).

Dan yang paling bikin saya agak merenung, yang mau diterima ini levelnya frontliner, pekerja kontrak bukan pekerja tetap alias kalau saya di posisi mereka mungkin saja saya ngga akan tertarik (MUNGKIN LHO tapi bisa jadi ngga).

Syaratnya D3 tapi yang datang widih paling hanya 2 sampai 3 oranglah yang D3, sisanya S1, dari jurusan ekonomi, informatika, teknik, hukum, dan dari Universitas negeri atau swasta yang bagus-bagus yang ngga cuma dari Medan.


Sampai bagian ini saya membatin, duh beneran mah sekarang cari kerja pasti susah banget.

Yang melamar ini beragam, dari level kepintaran biasa banget, biasa, mayan, sampai pinter. Tapi semua IP di atas 3, padahal sebenarnya syaratnya IP hanya 2,75 saja (I know, IP ngga menjamin sis tapi itu tiket melamar ya kan )

Dari level penampilan, mulai dari ehhm tidak cantik, biasa aja, mayan cantik, cantik, cantik banget, cantik sempurna.

Cantik sempurna itu yang head to toe ciamik parah. Udah cantik wajahnya, tinggi, rambutnya bagus, bicaranya santun, suara lembut, dan pintar. Nah ini yang saya sebut cantik sempurna.

Dalam perekrutan ini saya bukan si pemutus, saya hanya si perekomendasi , karena keputusan tetap di tangan TUHAN. Iyalah banyak-banyak berdoa makanya kalau lagi cari pekerjaan.

Untuk menentukan siapa yang harus direkomendasikan itu ternyata lumayan susah. Saya pikir selama ini itu hal yang mudah, ternyata ngga samsek. Karena kalau mau dibawa ke perasaan, saya mikir banget mungkin ini harapan mereka untuk bekerja, mungkin ini akan menentukan nasib mereka ke depan, dan perasaan mellow yellow lain.

BUT

Kapasitas saya bukan kapasitas yang harus mellow yellow saat ini melainkan harus berfikir untuk kepentingan perusahaan. Bisnis is bisnis.

Jadi jangan salah ya , saat kalian ngga diterima bekerja sebagai front liner ,bukan berarti itu karena penampilan kalian, sebenarnya ngga juga lho.

Bisa jadi dan saya rasa ini sangat mungkin terjadi, ya karena saingannya jauh lebih baik, udah cantik, mayan pinter pulak.

Saya bilang lumayan karena sekali lagi, kompetensi untuk frontliner itu berbeda dengan untuk ODP.

Maka saat kalian merasa, “Aku pintar, kok aku ngga diterima kerja sih untuk posisi CS atau teller, pasti ini karena aku kurang menarik”.


WRONG


Yang bener itu, saingan kamu lebih menarik dan dia juga pintar.




Jadi urutannya itu, kalau missal ekstrimnya harus memilih hanya satu pekerja untuk diterima sebagai FL, gini nih:


Sama-sama pinter, tapi satu cantik satu kurang cantik, ----> pilih yang cantik

Sama-sama cantik, tapi satu pinter satu ngga bego-bego amat --->; pilih yang paling cantik

Sama-sama tidak cantik, tapi sama-sama pintar --->; tawarkan jadi back office

Sama-sama tidak cantik, dan tidak pintar --->; lihat berkas lain

Ada yang pinter dan cantik banget , solehah pula, pinter masak, alisnya bagus --->; jadikan istri, LOL


Jadi ya tetep, yang dipilih itu yang secara penampilan menarik dan yang bisa memenuhi criteria untuk jadi frontliner. Jangan underestimate bahwa kalau yang diterima itu cantik, maka dia bego, nggalah. Masa kamu ngga yakin sih ada orang cantik dan juga pintar di dunia ini.


Berarti kalau aku ngga cantik padahal aku pinter aku ngga bisa kerja di bank?

Tetot, Wrong lagi.

Bisa banget dan ngga harus di bank.

Semua pekerjaan bisa kamu dapatkan, tapi ya cari yang memang memerlukan kompetensi yang ada di dirimu.

Kalau mau tetep kerja di bank, masuk dari jalur ODP, bersaing secara akademis.

Kamu pinter banget, yaelah ngapain melamar jadi FL, lamar perusahaan unileverlah, oil and gas, jadi penulis, jadi jurnalis

My point is.

Jangan denial jika misal kita ngga mendapat pekerjaan , trus nuduh ‘ INI PASTI KARENA PERUSAHAAN ENTU CUMA MAU PILIH YANG CANTIK AJA, HUH DASAR "DISKRIMINASI”


Kagaklah.

Ya terima kenyataan bahwa semua perusahaan yang orientasinya memang laba, ya pasti tujuannya gimana caranya memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan profit. Salah satu caranya ya dengan memilih pekerja yang fit dengan bidang kerjanya.

Fit dengan bidang kerjanya itu artinya ya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.



  • Cari dana, melayani nasabah --- penampilan is a must
  • Back office , support --- Cari yang tekun, yang teliti, cekatan
  • Menganalisa, memimpin -- Cari yang kompetensi super komplit.


Jadi harusnya ngga perlu ada spanduk-spanduk soal deskriminiasi perusahaan dalam mencari pekerja.

Ngga perlu sama sekali, karena perusahaan juga ngga begolah nerima pekerja yang cantik doang tapi “hah hoh” misalnya.
Kalaupun ada, pasti ada pertimbangan lain, misal dia cuantik mampus level wajah Dian Sastro, body Miranda Kerr, sampe bisa dipastikan, saat ketemu client maka bisa langsung deal masuk sekian M misalnya.


MAKA

DIULANGI

MAKA


Jika kamu tidak ingin dihargai sebatas penampilanmu, jadilah perempuan yang pintar.

Jika kamu ingin dihargai bekerja lebih dari sekedar penampilan, jadilah perempuan yang cerdas.

Lagi, meskipun kamu bekerja sebagai frontliner yang sterotypenya bahwa “ Ih pasti dia modal tampang doang, otaknya pasti ngga sepadan”, ya buktikan, Buktikan ngga seperti itu, buktikan bahwa kamu diterima jadi frontliner karena kamu cantik dan pintar, karena teman kamu yang cantik yang lain toh ada yang keterima.

Jika kamu tidak terima perempuan kok didiskriminasi berdasarkan penampilan fisik saat mencari pekerjaan.


TETOT, kamu salah lagi.


Ngga ada diskriminasi, mereka hanya menempatkan sesuatu sesuai porsinya.


Saat kamu berpenampilan cantik, rupawan ,” Kok aku dimanfaatin perusahaan untuk menggaet client nih”


Ya jangan mau. Tapi karena tugas kamu adalah memang untuk membuat client deal ya gunakan keahlianmu dalam hal marketing untuk menggaet nasabah, jangan gunakan fisikmu.

Iyes, semua kendali ada di tangan kita kok sebenernya.

Kamu mau kerjaan yang mengutamakan penampilan?

Ya ada tempatnya

Kamu mau pekerjaan yang mengutamakan otak?

Banyak banget tempatnya

Kamu ngga mau dianggap diterima kerja karena penampilan doang?

Ya Buktikan


Intinya

Akhirnya ke intinya.

Jangan menyalahkan orang atas apapun kegagalan atau ketidakmampuan kita. Even itu perkara soal good looking or bad looking, karena kendali hidup bukan di tangan perusahaan-perusahaan itu, tapi ada di tangan kita.


Ngga mau terima dengan aturan perusahaan yang menurut kamu diskriminatif?

Ya ngga apa. Kamu ngga harus kerja kantoran kok, kamu bisa bikin usaha sendiri. Malah, sebenarnya, kamu ngga harus kerja kok kalau ngga mau, kalau kamu pengen jadi istri yang tidak bekerja formal ya no problema.

Tapi ya jangan ngomel, kalau ntar ngga punya duit. Jangan ngomel kalau anggaran rumah tangga harus sangat seksama diatur.

Yang pasti apapun pilihan kita ya yang menjalani konsekuensinya diri kita sendiri.

“Lho, kok kamu ngomongnya gitu sih, berarti kamu juga deskriminatif, kenapa ngga memperjuangkan agar pemerintah menerapkan aturan anti diskriminatif terhadap syarat penerimaan karyawan untuk perusahaan-perusahaan tersebut ?”


Ehhm, karena menurut saya, sebenarnya itu justru bisa dibilang salah satu bentuk keadilan lho.

Keadilan yang mungkin hanya bisa kita mengerti kalau kita pernah berada di posisi ketiganya. Posisi si Pintar, posisi si good looking, posisi si tidak good looking.

Adil, karena, jika dia pintar dan tidak menarik secara fisik , maka dia bisa punya pilihan pekerjaan belakang layar atau yang memang mengandalkan otak untuk mencari nafkah.

Adil, karena jika dia berpenampilan menarik namun tidak terlalu pintar, maka dia masih punya peluang bekerja, tentu saja dengan lowongan pekerjaan yang memang lebih ke kebutuhan penampilan.

Jika dia pintar sekaligus good looking, yah dia memang layak untuk mendapatkan apa yang diterimanya dari anugerah Tuhan sekaligus apa yang diusahakannya.

Jika dia tidak good looking dan tidak pintar?, yah dia memang harus berusaha lebih keras, tapi yakinlah dia akan punya cara untuk tetap bertahan hidup.

So, kadang yang kita pandang sebagai diskriminatif malah sebenarnya bisa jadi itu keadilan lho.


Yang ngga setuju , no problema yah.



Makdarit

Biar ngga stress dan nyalah-nyalahin aturan, pertama terima kenyataan. Kenyataan bahwa semua perusahaan apapun, bisa dipastikan akan melihat penampilan dulu sebagai saringan awal, jika mereka membutuhkan pekerja yang tidak perlu kompetensi edebre-edebre yang tinggi.

Kedua, kalau ngga mau terima, ya ngga usah terima, ngga ada yang paksa kita terima kok.


Makdarit kedua

Sebagai ibu, sebagai perempuan, kalau kita ngga suka dengan aturan yang kita anggap diskiriminatif tersebut, saat kita punya anak, AYO DIDIK ANAK KITA supaya ngga perlu bersinggungan dengan aturan-aturan tersebut.

Iyes, didik anak kita agar kelak ia bisa menghidupi diri sendiri tanpa perlu mengandalkan penampilan.

But in my opinion, saya tetap merasa bahwa menjaga penampilan tetap diperlukan, apapun ceritanya, karena orang pertama lihat kamu ya pasti dari penampilan dulu, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju.

Didik anak kita, agar kelak ia tidak perlu melamar di perusahaan dimana syarat pertamanya adalah “ berpenampilan menarik”

Ini juga berlaku untuk anak laki-laki.

Dan yang terakhir, yang merasa penampilan kita ngga secantik orang lain, jangan sedih. Karena bagaimanapun juga, selain jadi artis, pekerjaan yang mencantumkan syarat utama adalah kepintaran bukan penampilan menarik, percaya deh salarynya jauuuh melebihi yang andalannya adalah penampilan.


Pilihan ada di tanganmu ladies #wink





Disclaimer : Tulisan ini murni opini pribadi, tidak mewakili perusahaan atau pihak manapun.




Price Tag And Your Self Value

Tuesday, March 7, 2017



Halo.. halo....

Siapa pembaca disini yang kenal sama mba Nuniek Tirta.

Itu lho, nyonya cantik yang tempo hari sempat viral gegara istri direktur  pakai baju 50 ribuan.

Ini nih saya ingatkan kalau udah pada lupa.



statusnya yang viral banget

Nah, kebetulan minggu lalu mba Nuniek lagi berkunjung ke Medan. Saya ikut hadir di acara Nutsmeetup bersama blogger Medan yang lain.

Sebenarnya saya tahu mba Nuniek mah udah lama, jauh sebelum status viral blio itu beredar di medsos, sesama blogger pasti kenallah dengan mba Nuniek, dan emang dia dari dulu udah keren, jadi yaaa no wonder semenjak viral jadi makin keren, xixixi.

Acaranya sendiri diadakan di Pillastro Cafe.

Hadir juga disitu abege-abege dan emak-emak fansnya mba Nuniek. Iyalah perempuan kece, pinter , stylenya selalu keren lagi, siapa sih yang ngga suka. 

Di acara ini mba Nuniek sharing soal #SuperAffordableStyle and Fashion, Grooming and Personal Branding.

Tema yang sangat menarik menurut saya.  Namun, saya ngga akan ulas satu persatu disini, tapi saya bakal berbagi hal-hal yang menurut saya sangat menarik terkait apa yang disampaikan mba Nuniek

Kita bisa tampil dengan budget murah, tapi tidak murahan.

Jadi di Instagramnya mba Nuniek tuh, sehari-harinya blio sering memposting gaya berbusananya dengan hesteg Superaffordablestyle. Maksudnya kurang lebih, gimana bisa bergaya dan berbusana kece tapi dengan budget yang terjangkau. 

Silahkan di cek deh ke instagramnya blio. Kalau melihat IG nya, mba Nuniek tuh sering kasih harga ootdnya top to toe dan kamu pasti bakal tercengang ngga percaya. Soalnya dengan gaya kece, dan keren tapi ternyata budgetnya ngga mahal sama sekali.

Ni, total look nya cuma Rp 370 ribu, Head to toe. meijing


Saya ngga bakal jembrengin tips-tips berbusana yang baik dan benar , karena sebenarnya kemungkinan kita semua sudah taulah rumus berbusana yang baik. 

Know Your Body

Yaitu kenali bentuk tubuh  kita, tonjolkan kelebihan tutupin kekurangannya. 

Misal, punya bokong gede, ya alihkanlah perhatian orang ke bagian atas tubuh, seperti memakai kalung, or aksen di bagian leher or dada, atau jilbab. Jadi mata orang ngga menuju ke bokong kita.

Ni contohnya, Mba Nuniek itu kekurangannya di bagian bawah yang lumayan gede,
jadi mensiasatinya dengan memakai ornamen mencolok di bagian dada,
jadi fokus orang ke dada bukan ke bawah.

FYI lagi, harga baju mba Nuniek itu cuma 80 ribu., sepatunya Rp 150 rb
 (Aku merasa gagal jadi wanita hahaha)


Mix and match

Ini juga salah satu triknya. Biar budget untuk pakaian ngga turah-turah, maka saat membeli pakaian, pikirkan kalau celana or rok ini bisa ngga dimatch dengan baju kita yang lain. jadi dengan satu celana misalnya atau dengan satu rok, bisa dipasangkan ke beberapa atasa. nah itu kan sudah menghemat budget banget.

Be Proper

Kemudian jangan lupa, berpakaianlah sesuai tempat, biar ngga salah kostum. 

Ya saat di kantor, berpakaianlah layaknya orang kantoran. kalau di kantor yang memang busananya resmi trus kita pakai kaos oblong, itu kan namanya ngga sesuai tempat. Walau bukan dari apa yang dipakai kita dinilai, tapi kalau kita sendiri ngga bisa nempatin diri, ya gimana orang mau respek sama kita. 

Dan semua itu bisa banget diwujudkan dengan low budget, seperti kata mba Nuniek.


Coba Tebak, outfit saya berapaan ini, wahahahaha


Saya setuju nih dengan pendapat mba Nuniek. Karena menurut saya, pakaian murah kalau kita pinter memix and matchnya trus sesuai dengan proporsi tubuh kita dan dipakai dengan percaya diri, pasti jatuhnya tetap keren dan ngga kelihatan murahan.

Salah satu tips mba Nuniek, sering-seringlah ke acara bazar-bazar, atau ngga belanjalah saat diskon, jadi bisa dapat barang kualitas bagus dengan harga miring.

Jangan sampai demi penampilan, kantong terkuras habis ya ceu.

Karena memang sejatinya berbusana itu mah yang penting rapi, membuat kita nyaman, dan membuat orang yang melihatnya nyaman, udahlah bakal kece.

( Baca : Perempuan Cantik )

Jadi, bukan soal harga pakaiannya atau apapun yang kita pakai, tapi lebih ke bagaimana pembawaan kita atas apa yang kita kenakan.



Don't let The Pricetag Define Your Self Value

Ini nampol banget menurut saya

Betapa kita sering kebalik-balik dalam menempatkan posisi benda baik busana atau apapunlah yang kita pakai.

Kita sering banget berfikir bahwa sebuah benda mahal bisa meningkatkan nilai diri kita.

Pengennya pakai baju mahal, sepatu dan tas branded, dengan harapan, kita jadi kelihatan keren karenanya.


Jangan heran kalau lihat orang-orang yang berusaha mati-matian membeli segala barang branded demi mengupgrade nilai diri.

Ngga salah sih, karena ngga bisa dipungkiri yang namanya barang-barang branded itu biasanya lebih bagus, lebih nyaman dan memang kelihatan lebih wow. Dan ngga salah juga kalau kita berharap setelah kita mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membelinya, maka nilai diri kita, kepercayaan diri kita bakal terdongkrak karenanya.

Namun, pemikiran seperti itu yang sebaiknya diubah.

Karena yang namanya baju, sepatu, tas, jam tangan, apapun lah yang kita pakai, sebenarnya hanyalah benda biasa ciptaan manusia. Sedangkan diri kita adalah ciptaan yang maha Kuasa. Ya masa, ciptaan manusia bisa kalah sama ciptaan Tuhan?

Maka, seharusnya bukan sebuah barang yang meningkatkan value kita, tapi diri kitalah yang meningkatkan value suatu barang.

Ibaratnya begini, si Om Mark penemu facebook itu, pakai baju cuma kaos biasa doang warna abu-abu. Di orang lain mungkin kaos itu ya terlihat seperti kaos biasa seharga gocap. tapi ketika dipakai Mark, kaos itu jadi bernilai lebih.

om Mark

Om Steve

So, sebelum kita capek-capek mengupgrade penampilan demi nilai diri yang lebih, baiknya dibalik aja, tingkatkan dulu nilai diri kita, maka saat kita memakai baju atau barang apapun, maka barang-barang itu yang bakal terdongkrak nilainya karena kita yang pakai.

Ini bukan berarti kita ngga boleh pakai barang branded lho. Sepanjang kita mampu dan memang dibutuhkan ya kenapa tidak? . Hanya jangan sampai demi citra diri ,kita sampai menghabiskan dana berlebih yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Oke Sip.


Investasi Mahal Tapi Tak Mahal

Bah, apa maksudnya ini? Mahal kok ngga mahal.

Yup, jadi, ada beberapa hal yang mungkin saat kita mengeluarkan sejumlah dana kelihatannya mahal, padahal sebenarnya ngga mahal.

Contohnya dalam hal penampilan. Saat kita invest dengan membeli skincare mahal, sebenarnya itu bisa dibilang ngga mahal. Karena kalau wajah kita udah bagus, mau pake makeup apapun , yang murah sekalipun, jatuhnya ya bagus aja. Inilah yang disebut mahal tapi tak mahal.

Bisa juga, dengan kita ngeluarin duit untuk ngegym, kelihatannya mahal, tapi jadi ngga mahal, karena dengan ngegym badan kita sehat, kita jadi jarang sakit, biaya berobat bisa zero. Trus karena kita ngegym, badan jadi bagus, jadi langsing, jadi mau pakai baju apa aja, pantes dan enak dilihat. tahu kan, baju untuk orang lansging-langsing itu banyak yang murah ya sis, beda banget sama baju untuk orang semohay, Lol.

So, dalam mengeluarkan duit, apapun itu, kita harus tau tujuannya apa, dan apa kegunaan dan keuntungan untuk kita.

Bisa jadi kelihatan mahal tapi sebenarnya tidak mahal.

Malah bisa dibalik juga tuh, misal kita mau murah nih, belilah kosmetik abal-abal yang mengandung mercury, yang bisa cepet banget bikin kulit putih. Awalnya memang mura, beli cream cuma 50 ribuan , tapi setelahnya wajah kita rusak, mungkin malah bisa terkena penyakit kulit, akhirnya pengeluaran malah makin gede.

Maka, ini disebut, murah yang tidak murah, auk ah.



Selain mba Nuniek, disitu hadir juga suaminya, Mas Natalie Adrianto. Nah dari si mas natalie ini juga ada beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya. Menurut beliau salah satu kunci hidup bahagia adalah pintar memanage ekspektasi.

Mas Natalienya lagi sharing, Mba Nunieknya yang senyam senyum


Manage Expectation

Maksudnya, biar hidup kita tenang dan jauh-jauh dari rasa kecewa, maka sebaiknya kita memiliki kemampuan untuk memanage ekspektasi kita terhadap sesuatu.

Kalau dikaitkan dengan penampilan tadi, misal nih kita pesen barang di online shop seharga 80 ribuan. ya ekspektasinya jangan berharap kita bakal dapat barang dengan kualitas 500 ribu. Ekspektasikanlah dengan barang seharga 80 ribu. Sehingga saat barangnya datang ternyata kualitasnya ya seharga kualitas barang 80 ribuan, kita ngga kecewa. pun jika ternyata kualitas barangnya malah di atas itu, kitanya jadi hepi.

Demikian juga dalam kehidupan berkeluarga. Ngga usah memasang ekspektasi terlalu tinggi kepada pasangan, biar lebih bahagia menjalani hidup.

Misal nih, udah tau memang dari kenal dulu, suami bukan orang yang romantis, ya jangan sampai kita pasang ekspektasi di setiap ultah kita bakal dikirimin buket mawar, dinner romantis, dihadiahi kalung berlian.

Yang ada kita bakal kecewa.

Ya kalau kenalnya dulu emang orangnya ngga romantis, ya ekspektasinya juga disitu. Sehingga kalau dia ngga bawain mawar ya kita ngga kecewa, but kalau tiba-tiba doi ngajak dinner romantis, atau ngasih coklat bentuk love -love, kita bakal surprise dan bahagia.

Xixixi, sederhana ya rumusnya, tapi kadang susah dilakukan.



Entahlah, kok bisa-bisanya yang lain belum pesen makanan
makanan saya udah ada aja di atas meja, hahahah

Orang Ingin Kita Menjadi Biasa

Trus berikutnya, mas Natalie menyampaikan bahwa saat ini, banyak orang yang berusaha menjadikan orang-orang di sekelilingnya menjadi orang biasa.

Iyep, ibaratnya nih, kalau kalian pernah lihat sekumpulan kepiting di sebuah baskom gede. Nah, perhatikanlah, kalau ada aja kepiting yang berusaha mencapai ujung baskom, pasti ada kepiting lain yang bakal menariknya, sehingga jatuh lagi. Gitu terus, sampai akhirnya ngga ada kepiting yang berhasil keluar dari baskom.

Nah begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya di pekerjaan. banyak banget kan kita ketemu sama orang atau rekan kerja yang kalau kita berbuat outstanding, mereka malah berusaha agar kita menjadi biasa.

" Alaaah, ngapain lu rajin banget kerja, sama kok gajinya, nyantai ajalah kayak kita"

Sounds familiar?

Tapi percayalah yang namanya orang-orang menonjol itu dimanapun dia berada, pasti bakal banyak keuntungannya.

Mas Natalie mencontohkan, seperti dia dulu saat bekerja. Dimana, teman-temannya itu selalu berpakaian ala kadarnya. Pakai kaos oblong, jeans dan sepatu biasa kadang pakai sendal malah. Nah mas Natalie tuh tiap hari selalu berpakaian rapi, pakai kemeja, atau ngga kaos berkerahlah minimal, pakai celana, dan sepatu yang rapi.

Hingga bila ada meeting dengan client, si bos butuh mengajak anggota untuk mendampingi, ya yang bakal diajak otomatis mas Natalie, karena dia yang paling ready secara penampilan.

Itu contoh kecil, dimana kalau kita berbeda , tetapi berbeda yang positif ya, maka ngga akan pernah rugi sama sekali.


So, inti dari sharing mba Nuniek dan Mas Natalie yang bisa saya sampaikan sama teman-teman semua adalah.


  • Bahwa yang namanya penampilan itu memang bukan utama, tetapi akan jauh lebih baik kalau kita berpenampilan baik. Karena saat orang berkenalan dengan kita pertama kali yang pasti dilihat adalah penampilan, kita ngga bisa memungkiri hal tersebut.
  • Namun, penampilan baik, bukan berarti harus mahal. Kita bisa tampil keren dan pantas dengan budget yang sesuai kantong.
  • Jangan menjadi hamba benda-benda. Bukan mereka yang menambah nilai tambah kita, tapi kitalah yang memberi add value ke barang yang kita pakai. maka, upgrade diri jauh lebih penting daripada upgrade penampilan.
  • Dimanapun berada, tetaplah menjadi orang dengan performa yang bagus, jangan biarkan orang lain mendown grade diri kita.
Overall, saya senang banget dengan acara kemarin. Banyak hal yang bisa saya pelajari dari pasangan suami istri ini.



Melihat cara mereka berbicara, tindak tanduknya, ngga heranlah kalau dua orang ini menjadi pasangan pemilik start up yang sukses di negeri ini. Orang-orang humble yang tetap berpijak ke bumi walau kesuksesan sudah di genggaman.

Seperti kata mba Nuniek di postingan viralnya dulu :
" Meski income terus bertambah, tapi lifestyle ngga banyak berubah"

Iyes, bukan lifestyle yang mengikuti penghasilan yah, hahaha. Sip deh mba Nuniek. Thank you udah berbagi kisah inspiratif dan seru dengan kami.












#WomanTalk: Benarkah Seorang Wanita Itu Banyak Berkorban Untuk Keluarga?

Friday, January 20, 2017


Astagaaaa seminggu ini banyak banget status orang di efbe yang pengen saya komenin dan bikin blogpostnya.

Huhuhu kadang saya suka gatelan pengen bahas apa aja yang lewat di temlen, soalnya kalau komen langsung di status ybs, takut salah.

Nih saya kasih tau apa aja yang mengusik pikiran.

Pertama soal mengeluh di sosmed, ngeluhin suami sih tepatnya.

#WomanTalk: Wanita dan Cita-Cita Yang Meredup

Thursday, November 24, 2016


"Win kapan di blogmu ada sesi tanya jawab psikolog, bikin dong win"

"Oiya,ntar deh aku atur dulu, hmmm hari Jumat atau Sabtu masih kosong sih jadwalnya"jawab saya

"Ciyeeeee udah pake jadwal ya sekarang"

"Iya dong, demi.... hahaaha demi cita-cita blognya rapi dan update teruuus"

" Wooow, salut gw Win, lu masih semangat dan punya cita-cita"

T_________T

Kemarin WA an sama sobat saya. Percakapannya di atas itu. Trus saya jadi kepikiran. Iyaaa saya mah orangnya suka mikir, xixixi.

7 Makanan Yang Harus Ada Di Kulkas Untuk Mempermudah Ibu Bekerja

Tuesday, October 25, 2016


Makanan yang harus ada di kulkas untuk mempermudah ibu bekerja

Sebelum memiliki ART komplit yang pinter masak seperti saat ini, saya mau ngga mau harus masak sendiri untuk makan kami. Sempet sih katering, tapi karena kateringnya rasanya pedes banget, suami malah ga bisa makan, kepedesan cuuuy, Mas Teg mah orang Jawa tulen yang samsek ngga doyan cabe.

( Baca : Drama ART )

Jadi akhirnya saya putuskan masak sendiri, apalagi toh saya harus masak juga buat makannya Tara, yo wis sekalian.

Nah, karena saya bekerja, jadi ngga mungkinlah bisa masak yang ribet. Disamping waktunya mefet, kemampuan juga mefet sih cyin hahaha. Saya masaknya kan pagi hari sebelum berangkat kerja, trus pulang kerja masak lagi. Doooh capeklah pokoke. Jadi sebisa mungkin yang perlu diringkes ya diringkes aja.

Benarkah Makanan Sisa Sebaiknya Diolah kembali ?

Sunday, August 28, 2016
Benarkah makanan sisa sebaiknya diolah kembali?



Bagi kaum ibu-ibu, makanan sisa yang ada di rumah kadang bingung ya mau diapain. mau dibuang ya kok kesannya mubazir gitu, kan dosa buang-buang makanan. Makanya banyaklah para emak yang akhirnya menciptakan sajian masakan baru dari makanan sisa itu. yang diolah jadi bakwanlah, jadi campuran nasi gorenglah, macem-macemlah.

Seperti yang ditulis oleh mak  Maya Siswadi ini :


Dulu di rumah emak saya juga gitu . Makanan kebangsaan kami kan ikan sambal tuh, itu tuh ikan goreng yang disambal balado gitu, enaaak banget. nah kalau sampai pagi masih sisa, maka pas sarapan disulap dah itu ikan sambal jadi tauco ikan. Wuih makin maknyuss rasanya.

masakan legendaris


Nah, saat saya berumah tangga, saya yang ilmu memasaknya ini masih kelas primary one, ngga punya skill sama sekali buat mengolah makanan sisa si rumah. Jadilah, tiap pagi, kalau sisa ya saya kasih kucing aja, atau ngga ya dibuang. Kebetulan suami juga orangnya kan susah makan (ya iyalah wong masakan istrinya seadanya ya maleslah makan wahahaha), jadi manalah mungkin disuguhkan kembali masakan daur ulang. Wong kesukaannya aja indomie, mana bisa indomie didaur ulang ya kan gaes.

Trus sampai akhirnya kami punya wawak yang kerja di rumah. Orangnya udah tua, jago masak nget nget. Blio type wawak-wawak yang suka bereksperimen di dapur mencoba berbagai macam resep dan membuat aneka cemilan rumahan, hwaaaaaa.

( Baca : Drama ART )

Ya Allah, hidup kami langsung berubah, berasa dapat kiriman malaikat dari surga, seberkas cahaya terang memasuki rumah kami. Saya hepi, Tara hepi, papanya apalagi. Akhirnya mereka terbebas dari terpaksa makan masakan emaknya ini, wuahahahaha. Dan saya juga terbebas dari kewajiban masak-memasak di dapur. 

Uuuu yeah, walaupun saya berusaha menyajikan masakan terbaik di rumah, namun sesungguhnya diriku tidaklah terlalu menyukai segala kegiatan perdapuran. Saya mah mending disuruh nguras bak mandi daripada masak. Tapi karena kewajiban, dan cita-cita menjadi istri solehah kebanggaan suami plus emak kece kebanggaan anak tersayang, maka kemarin-kemarin saya bela-belain dah berkutat di dapur demi sepiring dua piring menu sehat ala mamah Tara, xixixi. And off course saya menyukainya kok, Tapi... saat ada orang yang mumpuni, bisa menggantikan peran koki di rumah, Ya Allah, saya pengen sujud syukur seketika, LOL. 



Dialah wawaknya Divya sang penyelamat perut kami sekeluarga. 

Sehari-hari blio memanjakan kami dengan segala hidangan rumahan yang endess bangeeets. Masteg yang bukan main susahnya makan aja, sampai tambah-tambah kalau makan. Dan sejak ada si wawak kami jadi jarang banget makan di luar. Lhaa ngapain, wong masakan si wawak jauh lebih enak dari masakan resto yang mahal itu kok. Palingan seminggu sekali saya tawarin si wawak untuk beli masakan di luar, karena gimanapun kan pastilah doi juga bosen ya makan masakan sendiri.

aneka camilan made in wawak


Truuuussss.... entah kenapa, sejak si wawak tinggal di rumah, kok di rumah kami jadi banyak tikus, hwaaaaa.

Iya, di rumah kan pasang CCTV ya, jadi pas malam-malam sambil tiduran, saya nonton tuh CCTV di kamar, eh terlihatlah tikus-tikus wara-wiri di dapur, hiii. Saya geli banget, mana tikusnya gede-gede lagi.

Besoknya si papah, beli perangkap tikus. 

Saya dan masteg jadi tanda tanya sih, kok tiba-tiba jadi banyak tikus ya di rumah. Usut punya usut ternyata si meong yang selama ini jadi penjaga rumah kok ngga pernah kelihatan. Yaaah, baru nyadar deh. Hehehe iya, ngaku deh, saya sebenarnya ngga terlalu suka kucing, tapi dari dulu kami selalu pelihara kucing di rumah, karena bagi saya, rumah itu ya memang seharusnya punya kucing, Entahlah ini teori darimana. Mungkin karena sejak kecil di rumah ortu ngga pernah absen dari kehadiran kucing.

Nah karena ngga terlalu suka kucing itu, maka ngga notice saat doi ngga kelihatan beberapa hari.

Diantara keheranan kami tentang menghilangnya si meong itu, kami pun mulai menyelidiki sebab musabab si meong pergi. 

Di suatu malam, sehabis makan malam, saya suruhlah si wawak buat ngasi makan kucing sebagai pancingan 

" Wak, ntar ikan yang sisa ini taruh aja di piring plastik itu ya wak, taruh di dapur, siapa tahu si kucing ntar malam masuk rumah" kata saya

" Yaaah, sayang dong bu, masak dikasih kucing sih. Ini masih bisa wawak olah jadi makanan lain"

JENG JENG JENG JENG......

Terkuaklah misteri hilangnya si meong dari jawaban si wawak.

" Jadi, selama ini wawak ngga pernah kasih makan kucing ya"

" Ngga bu"

" Lhaaa, jadi kalau ada sisa ikan ngga wawak buang, ngga ditaruh di dapur biar dimakan si meong"

" Ngga lah bu, sayang, masih bisa wawak bikin campuran nasi goreng atau campuran bakwan bu".

T_________________________T huehehehehe, ternyata begitu ceritanya. Panteslah si meong kabur,wong ngga dikasih makan.

Besoknya, demi mengusir para tikus yang sudah menjajah rumah kami, maka kami bergerilya mencari kucing di jalanan buat dijadiin peliharaan di rumah, xixixi.


Dan langsunglah saya kasih tau ke si wawak.

" Waaak, kalau ada sisa makanan, jangan disimpan semua ya, kasih juga jatah si meong, itu kan haknya dia"

Dan alhamdulillah, sekarang kami udah punya kucing kembali. Kucing yang tugasnya jagain rumah dari tikus-tikus nakal. Biar betah, maka asupan makanannya udah dijamin sekarang , hahaha.

Makanya saya bilang, ngga selamanya masakan sisa harus diolah kembali, jangan lupakan jatah kucing di rumah ya gaeees, LOL.

Apaaaaa??? Suruh beli makanan khusus kucing?

Sorry to say, kucing kami lebih suka produk lokal #alesan.

Kalau kamu gimana nih menurutmu, makanan sisa itu diolah atau dibuang saja?, atau dikasih kucing kayak saya?. Share dong




Mengapa Wanita Harus Bisa Masak?

Tuesday, May 3, 2016


Mengapa Wanita Harus Bisa Masak ?

Bisa lho ya, bukan jago ala chef Marinka.

Jadi inget dulu pernah ada teman yang nanya sama saya

“ Win kamu bisa masak ngga”

“ Bisa sih, tapi ngga enak” jawab saya

“ Yeee, kalau gitu, namanya kamu ngga bisa masak”

Tentang Suami Selingkuh dan Istri Yang Minta Dimengerti

Monday, May 2, 2016
Belakangan lagi heboh meme-meme dear mantan dear mantan. Aaaah kayaknya gara-gara AADC nih, jadi pada mau dear-dear-an sama mantannya. Udah mantan ngapain jugaaa di dear-dear in.

#4TahunKEB, Just love Your Choice And Be Awesome Instead

Monday, January 25, 2016






#4TahunKEB

Emak-emak Masa Lalu

Waktu saya kecil dulu, kami tinggal di komplek perumahan perusahaan tempat ayah saya bekerja. Dari begitu banyak penghuni di sana, hanya ibu saya yang saat itu berprofesi sebagai ibu bekerja, yang lain adalah ibu rumah tangga.

Setiap pagi, kala ibu mau berangkat kerja, maka kami keempat anaknya yang saat itu masih kecil-kecil akan membentuk orkestra yang menghalangi ibu bergerak. Semuaaa nangis. Paling ekstrim adik saya, dia bakal yang gelantungan gitu di kaki ibu, atau ngga sedari pagi dia bakal tidur di atas motor ibu, biar ibu ngga bisa berangkat.

Istri Idaman dan Istri Tak Diidamkan

Thursday, December 3, 2015
Beberapa hari lalu saya membaca status seorang suami yang dishare ribuan orang, dan terbaca saya saat ada teman di facebook yang mensharenya juga.

Saya ngga capture statusnya , tapi saya tulis ulang saja yah disini :


Punya istri cantik dan wangi mengoda
Istri Berangkat kerja jam 8 pagi pulang pun jam 8 malam

KEB, Rumah para Emak

Wednesday, January 21, 2015
“ Mbanya gabung di komunitas blogger mana?” tanya salah seorang panitia kepada saya. Saat itu saya sedang mengambil hadiah karena memenangkan sebuah lomba blog tentang tempat makan favorit.

“ Haaah, komunitas blogger?, ehmmm eh anu …”

Hahaha, jujur saja saya kebingungan menjawabnya karena saat itu saya memang ngga gabung di komunitas blogger manapun.

Baby Shower

Monday, November 10, 2014

Entah kebetulan atau tidak, tahun lalu saat saya melahirkan bayi pertama saya ke dunia ini bebarengan dengan beberapa orang teman saya. Ya tahun 2013 kemarin itu memang banyak banget istri teman suami, teman sekantor, sampai adik saya juga ramai-ramai menambah jumlah populasi manusia di dunia yang semakin sesak ini.

20 Facts About Me

Friday, October 17, 2014
Nyambung postingan kemarin. trus kayaknya lagi musim nih nulis 20 facts about me, jadi pengen ikutan. 

Kan katanya tak kenal maka tak sayang. Biar bergaulnya lebih asik lagi, biar lebih sayang sama eike, eeaaaaa. Yuk saya bisikin...

1. Nama Asli

Nama asli pemberian ortu tuh Windi Widiastuty. Penulisannya kayak itu, tapi kenyataannya dari 10 orang yang pernah menulis nama saya, paling hanya 1 orang yang bisa nulis bener. Biasanya mereka nulis Windy Widiastuti, atau Windy Widiyastuti, atau Windi Widiyastuti, atau kombinasi dari itu. Padahal yang namanya nama kan punya arti ya?. Jadi biar ngga salah-salah lagi, ya udah saya lebih suka dikenal dengan Windi Teguh aja. Eksistensi diri? masih kok, kan ngga pake ngerubah nama :)

2. Koleris Sejati- Sanguin Sebagian

Yup, kepribadian saya koleris sejati. Blak-blakan, tidak sabaran, mudah marah, lebih suka bicara daripada mendengar, ambisius. Widiiiih ngga ada bagus-bagusnya kayaknya. Tapi saya suka menjadi pribadi koleris, karena koleris itu mandiri, supportive dan memiliki energy tinggi untuk maju. selain koleris, saya juga sanguin. Periang, dan ngga bisa nyimpan apa yang ada di hati. A dibilang A, B dibilang B. Aneh ngga sih, saya ini pemarah tapi suka becanda dan riang gembira, 

Berhadapan dengan saya ngga susah, apa yang di bibir itulah yang di hati, ngga perlu menebak-nebak. Sampai saat ini sih, saya ngga punya masalah yang berarti dengan kepribadian saya, soalnya saya tinggal di Medan yang notabene karakternya mirip-mirip seperti itu. Paling kemarin-kemarin saat saya masih tinggal di Jawa, aduuuh susah deh, kalau ngga begitu kenal saya pasti mikirnya  nih orang ngomong kok ngga pake tedeng aling-aling yah, hahaha gpp lah, dan menariknya beberapa teman yang dulu selalu salah paham sama saya, sekarang rajin banget sms-an, BBM-an curhat-curhat xixixix, mungkin karena tahu saya ngga akan bohong kali ya.

Ketemu dengan suami yang plegmatis-melankolis itu, rasanya seperti punya rem ganda, adeeeem deh. Allah itu memang maha adil, ngasih pasangan buat menjadi penyeimbang.

3. Kurang Peka

Bukan berarti berhati batu, mungkin karena koleris tadi ya, saya jadi ngga begitu perhatian sama detail,  dan ngga peka sama yang halus-halus. Keluarga dan teman yang udah ngerti saya, biasanya ngga pakai cara halus kalau mau minta seuatu atau mau minta bantuan gitu. " Win, minta kopinya dong, sekalian lu buatin ya". Atau ngga " Kak, gajian ya, traktir dong di Nelayan". Ngga pake acara sindir-sindir deh, main tembak langsung aja, soalnya saya suka males menebak-nebak apa maunya orang. Kalau saya mau saya bilang ya, kalau ngga ya bilang ngga aja, ngga pake pura-pura mau padahal hati ngedumel.

Sifat ini juga pernah bikin ibu saya menganggap saya TERLALU, huhuhu. Ceritanya, saat saya nikah. Bagi saya nikah itu adalah hal yang membahagiakan. Nah di prosesi nikahan itu kan ada petatah petitih dari orangtua. Biasanya pengantin akan menangis haru. Nah, saya yang hatinya ngga peka ini, malah tersenyum-senyum mendengar nasehat ibu, ngga ada terharu-terharunya. Lah saya memang ngga bisa berpura-pura sedih, wong hati saya memang lagi bahagia banget, xixixi, pengen disambit deh sama ibu saya. 

4. I Have Many Dream

Mungkin sebagian hidup saya dihabiskan untuk mengkhayal dan bermimpi. nah ini agak sedikit bertentangan dengan koleris-sanguin kayaknya ya. Saya suka sekali menghayal. Sisi positifnya kadang saat saya lagi sedih, lagi down, saya menghibur diri dengan menghayalkan yang indah-indah, biasanya mood saya langsung berubah baik lagi. maka, untuk kebiasaan jelek yang satu ini, saya ngga berusaha menghilangkannya, karena bermanfaat untuk diri saya.

Trus saya punya buanyak banget mimpi, tapi seiring waktu mimpi-mimpi itu saya tinggalkan satu persatu, bukan karena ngga bisa mencapainya, tapi semakin kesini kok saya merasa hidup saya udah komplit, punya suami baik, anak sehat dan cantik, kerjaan saya lumayan, keluarga saya bahagia, eh malah ngga pengen apa-apa lagi. Pengennya ya udah sehat-sehat aja. Intinya saya kok jadi cepat puas dengan yang ada saat ini. Bertolak belakang dengan koleris yang ambisius.

Mimpi pengen keliling dunia, pupus," yang penting diamana aja deh asal sama suami dan sama Tara". Mimpi pengen nulis buku, " Ah udahlah, yang mau saya tulis juga udah ditulis di blog, udah diceritain ke Tara. Tampaknya saya mengalamai degradasi mimpi. Tapi saya mau menikmatinya dulu, karena saya yakin seiring waktu pasti energy saya kembali seperti semula. Memang mungkin saatnya sekarang energy saya ditumpahkan untuk keluarga. Yeaaaah.

5. Saya suka Sirik
Iyaaaa, kalau lihat orang lain berhasil, saya bakal sirik setengah mati. Bukan cuma lu, guweh pun bisa kayak gitu. Saya seneng-seneng aja punya sifat kayak gitu, soalnya ngga merugikan orang lain kok. Karena saya sirik bukan untuk ngejatuhin orang, tapi untuk memacu diri, dendam positif lah istilah kerennya.

Nah yang lain-lain, yang kecil-kecil tuh
6. Suka banget dimsum, dan semua seafood
7. Paling ngga suka dicuekin
8. Suka warna hitam dan merah
9. Saya kuno
10. Lebih suka nonton serial daripada film lepas
11. Hobi banget nonton acara masak-memasak tapi paling males ke dapur
12. Ngga suka ke pasar
13. Pecandu Kopi
14. Mie lover
15. Suka banget sama keju dan jagung
16. Penyanyi favorit Bryan Adams ( duileh gw jadul bgt)
17. Bisa hidup tanpa tivi
18. Paling ngga pinter nawar harga
19. Susah banget punya temen dekat
20. Lebih suka belanja sendirian daripada bareng temen.





Men " Jamu" di Negeri Sendiri

Friday, September 5, 2014
Walau bukan termasuk obat , khasiat jamu tradisional secara turun temurun telah diwariskan oleh leluhur bangsa Indonesia.  Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan jamu ada di negeri kita ini, namun dokumentasi tertua tentang jamu bisa kita lihat pada relief Candi Borobudur ( Tahun 772 M), dimana terdapat lukisan tentang ramuan tradisional atau jamu di atasnya. Selain di Candi Borobudur, dokumentasi tentang jamu juga bisa kita temui pada relief Candi Prambanan , Candi Tegalwangi yang menerangkan tentang penggunaan jamu pada zaman dahulu.

Srikandi Blogger, Aktualisasi Perempuan di Era Digital

Tuesday, May 14, 2013
Hiruk pikuk perhelatan akbar ajang Acer Srikandi Blogger 2013 telah selesai. Senyum puas para finalis, panitia dan semua pihak yang terlibat menghiasi dunia maya. Sebuah ajang apresiasi terhadap para perempuan blogger yang mungkin selama ini tidak terlalu disadari sepak terjangnya.

Tak dapat dipungkiri ajang yang melibatkan para perempuan blogger yang tergabung dalam Kumpulan Emak Blogger ini merupakan perhelatan terbesar pertama kali untuk dunia blogging Indonesia.Bukan saja terbesar semangatnya namun juga terbesar cakupannya. Karena tidak hanya diikuti oleh blogger di satu propinsi tertentu tetapi seluruh perempuan blogger dari ujung Barat Indonesia ke ujung Timur hingga menyeberang ke negeri tetangga dan negeri saudara jauh. Tidak hanya itu, acara dengan sponsor utama Acer dan Rinso ini pun bertabur hadiah, mulai dari stok rinso selama setahun, TV Samsung hingga Notebook Acer. Awesome.

Sosok Inspiratif Itu Bernama Perempuan

Saturday, April 27, 2013
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mamiri Minggu Ketiga dengan Tema " Perempuan Inspiratifku"

Menurut saya sebaik-baik teladan adalah orang yang sudah tidak ada di dunia ini, alias sudah berpulang ke Rahmatullah. Karena kita sudah tahu akhir hidupnya dan benar-benar bisa memilah dan memilih mana yang patut dijadkan inspirasi mana yang tidak.

Bukan berarti sosok yang masih hidup tidak patut dijadikan teladan, namun kalau kita melihat seperti apa ia menutup harinya , lebih banyak pelajaran yang bisa kita petik.

Mengenai itu, saya memiliki tidak hanya satu tapi banyak perempuan inspiratif yang saya jadikan teladan dan tentu saja saya ingin seperti mereka.

Khadijah

Salah satu perempuan paling inspiratif di dunia yang fana ini adalah Khadijah, ummul mukminin, istrinya nabi Muhammad SAW. Kenapa? Apa karena dia satu-satunya istri nabi yang tidak dipoligami?. Hehehe, ngga ada hubungannya sama sekali, walaupun tentu saja kalau boleh meminta saya berharap menjadi satu-satuya istri dari suami saya.

Membaca literatur yang mengulas tentang beliau benar-benar membuat saya terpana. Bukan karena cerita tentang kecantikannya ataupun karena kekayaannya,namun karena begitu besar dukungan yang ia berikan untuk perjuangan Rasulullah menegakkan Islam. Seorang istri dengan kedudukan jauh di atas suami, dengan harta yang melebihi suami, namun tak membuat ia merasa dirinya berada di atas suami. Seorang istri, tetaplah partner suami seberapa berkuasanya pun ia.

Apakah itu istimewa?. Tentu saja, bagi saya hal tersebut sangat istimewa, karena saya banyak melihat perempuan jaman sekarang yang jika memiliki kedudukan lebih di atas suami, tiba-tiba menjadi arogan dan merasa memiliki hak untuk mengambil alih tongkat kepemimpinan keluarga. Ah semoga saya tidak akan seperti itu.

Aisyah Binti Abu Bakar

Sosok perempuan inspiratif kedua versi saya adalah Aisyah binti Abu Bakar, masih istrinya Rasulullah juga. Saya sangat mengagumi kecerdasan akalnya. Bayangkan, di usia yang sangat muda ia telah menjadi seorang istri pemimpin agama dan menjadi sumber jawaban segala tanya setelah Rasulullah wafat. Hampir sebagian besar hadist sohih berasal dari Aisyah. Betapa kuat ingatan perempuan salehah ini. Tidak hanya ilmu agama, bahkan hukum, kedokteran pun dikuasainya. 

Kalau mengingat sosok Aisyah, saya langsung menganalogikannya dengan perempuan karir pada masa ini. karena Aisyah salah satu istri yang sering ikut nabi berjuang ke medan perang. Bukan untuk ikut bertempur, tapi mendampingi dan membantu para korban perang. Ah sungguh iri dengan kepintaran yang ia miliki.

Novialia Lutfiatul

Istri nabi juga?
Bukan, dia bukanlah siapa-siapa. Pun saya tidak mengenalnya sama sekali. Kalau masih ada yang ingat tentang kecelakaan bis yang menewaskan dua mahasiswi kedokteran Undip beberapa waktu silam, maka dialah salah satu korban tersebut.

Seperti saya katakan di awal tulisan, bahwa akhir hidup seseorang bisa menjadi isnpirasi bagi kita. Saat membaca kabar kecelakaan tersebut, tak lama berselang banyak yang menshare blog pribadi Novia. Membaca tulisan-tulisannya membuat saya merinding, terharu sekaligus merenung. Bahwa apa yang kita tulis nantinya akan menjadi peninggalan kita. Bahwa dunia maya dan media sosial yang hampir tiap saat kita berinteraksi di dalamnya bisa menjadi gambaran jejak perjalanan hidup kita.

Dari Novia saya menyadari hal tersebut, dan sungguh tulisan-tulisannya begitu menginspirasi dan membuat pembaca semakin dekat kepada penciptaNya. 

Saya ingin seperti dia. Meninggalkan tulisan yang bermanfaat dan mengakhiri kehidupan dengan kenangan indah di hati orang-orang yang mengenalnya. 

Perempuan inspiratif, tak harus seseorang yang berprestasi menyilaukan. Mereka ada di sekeliling kita, berinteraksi dengan keseharian kita. Bisa seseorang yang kita kenal, atau malah hanya bersinggungan di dunia maya.

Dan hey, bisa jadi kamu adalah sosok perempuan yang juga menginspirasi orang lain. Berbahagialah jika itu terjadi.





Srikandi Blogger, Perempuan Era Digital Tanpa Busur Panah

Wednesday, April 17, 2013

Sebelum membaca postingan saya, lihat video ini dulu yah :)

video


Ngerasa seperti yang dialami emak-emak di video itu ngga?. 

Saya membuat video itu karena seperti itulah gambaran sehari-hari para perempuan menikah yang saya baca, saya dengar maupun saya lihat. Namun, kebanyakan yang merasa seperti itu hanya ibu yang full ada di rumah, alias bukan ibu yang bekerja di luar rumah. Duh padahal ibu bekerja seperti saya ini juga mengalami hal yang serupa lho. Walaupun saya belum memiliki anak ( masih di perut ), namun masalah rumah berantakan, cucian menumpuk, stress, juga kerap menerpa saya. Karena walaupun bisa dibilang hampir separuh hari saya habiskan di kantor, tapi saat kembali ke rumah, saya tetaplah seorang istri yang harus melayani suami, saya tetaplah seorang ibu rumah tangga yang ngga bisa lepas tangan terhadap segala tetek bengek kerjaan rumah yang ngga ada habisnya. Apalagi saya tidak memiliki asisten yang membantu di rumah, jadilah semua harus dikerjakan sendiri.

Tips Melupakan Mantan: Let's Move On, Karena Kamu Begitu Berharga

Monday, April 8, 2013
Tips melupakan mantan



Gara-gara baca blognya si ila Rizky yang ngomongin tentang Move on saya jadi inget masa-masa masih berseragam abu-abu.

Move on, wew kata yang populer banget saat ini. Galau dan move on , dua kata yang biasanya berdampingan. Orang yang gagal move on biasanya jadi galau, orang yang galau itu biasanya orang yang gagal move on, halah.

Wanita di Era Digital: Aktif Tanpa Ribet

Wednesday, July 25, 2012


sumber:www.jalanhidup.jpg

Hidup adalah perjalanan
Membuka mata, melihat luasnya cakrawala
Di dalam perjalanan selalu ada hal istimewa
Karena perjalanan selalu akan memperkaya jiwa

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karena adanya sebab akibat. Bahkan rumput di atas pusara pun tumbuh karena suatu alasan.

Sebagai wanita bekerja , saya sering mendengar omongan miring dari orang-orang. Beberapa kali malah ada yang dengan terang-terangan mempertanyakan apa yang saya cari sehingga mau bersusah payah bekerja dari pagi sampai sore. Padahal gaji suami saya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.Bagi saya itu merupakan bentuk perhatian yang harus saya hargai.

Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi pilihan yang saya jalani.

Ada yang salah dengan kata-kata bersusah payah. Karena pada kenyataannya saya sangat menikmati peran sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.

Menurut saya, apapun pilihan yang diambil oleh seorang wanita terutama yang telah berkeluarga, bekerja di luar rumah atau menjadi full mother itu kembali ke diri masing-masing.

Sejak kecil saya selalu melihat ibu saya bangun pagi, menyiapkan sarapan kami, bersiap diri untuk kemudian pergi mengajar. Saya sangat mengagumi ketangguhan ibu. Sepulang mengajar , ia akan bergegas kuliah dan tiba di rumah hari sudah menjelang senja. Namun itu tidak dilakukan setiap hari, hanya 3 hari dalam satu minggu. Tapi entahlah, saya tidak pernah sekalipun merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

Saat saya ingin jalan-jalan ke mall ibu selalu ada. Saat saya mengenal cinta pertama ,ibu juga ada mendengarkan curhatan saya, dan saat hati remaja saya lebur , ibu ada untuk memeluk saya. Sungguh tak sekalipun saya merasa ibu mengabaikan keluarga demi pekerjaan. Bukti konkritnya, empat anak ibu memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Melihat itu, membulatkan tekad saya untuk tak ragu menjadi wanita karir. Saya sudah melihat contoh, bahwa ibu bekerja bisa menyeimbangkan antara keluarga dan dunia kerja.

Setamat kuliah Alhamdulillah saya langsung diterima bekerja di salah satu bank nasional. Tak lama berselang, saya pun menikah. Suami sama sekali tidak melarang saya untuk terus berkarya. Saya tidak menampik, bahwa dengan bekerja maka ada satu dua hal pekerjaan rumah tangga yag tidak dapat saya tangani. Memasak, mencuci misalnya. Tapi itu hal yang sangat mudah diatasi, karena saya melihat, para ibu yang bekerja di rumah pun kebanyakan menyerahkan pekerjaan tersebut ke tangan asisten rumah tangga.

Sampai saat ini saya belum dikarunia buah hati. Hal ini, saya tidak tahu menyebutnya seperti apa. Ada yang bilang mumpung belum punya anak, bolehlah bekerja. Ada juga yang mengatakan, gimana mau punya anak kalau kerja terus. Apapun itu, saya yakin rejeki tidak akan tertukar dan tidak akan salah alamat, apalagi datang terlambat. Menurut saya, sudah banyak doa-doa saya yang dikabulkan oleh-Nya. Kalau toh satu dua hal saya disuruh menunggu, saya akan terima itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

sumber:  http://retnodamayanthi.files.wordpress.com/2008/06/wanita-karir21.jpg 

Selagi diberi Allah berupa kelonggaran dalam hal waktu, saya memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya merasa memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika tidak didaya gunakan. Bagi saya, itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap talenta yang diberikan.

Namun memang tak selamanya hal tersebut semudah yang dikatakan. Dua tahun lalu, perusahaan memutasikan saya ke Jakarta. Berpisah dengan suami di Medan. Mutasi tersebut bukan tanpa sebab, tapi merupakan apresiasi perusahaan terhadap kinerja saya. Tentu saja saya bangga, senang. Namun ada dilemma di hati, harus memilih antara meninggalkan suami atau menerima tugas tersebut.

Kesempatan tidak datang dua kali. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya berangkat. Bagi saya dukungan dari suami sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja. Ternyata tantangan yang saya hadapi semakin berat. Disamping tanggung jawab yang semakin besar, saya pun harus memikirkan suami di Medan. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati semua itu.

Namun, di era digital ini, begitu banyak kemudahan yang bisa kita dapati. Semua seolah berada dalam genggaman. Jarak beratus kilometer pun dapat terjembatani dengan kecanggihan teknologi. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi otak-otak pintar kepada para penemu internet. Karena bantuan alat tersebut, saya dan suami bisa berkomunikasi dengan lancar. Dimanapun selama ada sambungan internet dan computer, saya bisa skype-an bersama suami. Terkadang, webcam bisa aktif nyala semalaman, sementara saya melakukan apa, suami juga melakukan pekerjaannya, berasa seperti di dalam satu ruangan.

Gambar dari sini

Disamping internet, kami juga menggunakan ponsel sebagai media berkomunikasi. Setelah ada BB, menjadi lebih mudah lagi. Setiap pagi saya akan mengirim foto diri saya, sebagai pelepas rindu. Bahkan dengan dukungan para pebisnis termasuk perbankan, memudahkan saya melakukan reservasi tiket pesawat dan melakukan pembayaran-pembayaran yang seabrek-abrek. Jadi walaupun, saya tidak ada di rumah, segala jenis tagihan seperti telepon, listrik, air, bisa teratasi hanya dengan memencet sejumlah angka di ponsel. Teknologi yang sangat memudahkan.

Hal yang dikhawatirkan tentang keharmonisan rumah tangga yang akan terganggu oleh jarak, Alhamdulillah tidak kami alami selama ini. Semoga selamanya seperti itu. Bahkan , jarak yang memisahkan membuat kami merajut rindu setiap hari. Rasanya , kembali seperti pacaran. Saling menyapa, bertanya sudah makan belum, sedang apa, persis abege jaman sekarang. Siapa sangka kami malah tambah mesra.

Saya tidak mengingkari kuantitas pertemuan dalam suatu keluarga itu sangat penting. Namun, kalau kondisi tidak memungkinkan, pilihan ada pada kita, mau menyesalinya, atau mencari cara untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, saya memilih daerah-daerah yang saya kunjungi untuk perjalanan dinas yang berdekatan dengan Medan. Agar bisa sekalian bertemu suami. Malah pernah saat saya ke Bali, suami saya ajak serta selama seminggu, sekalian honeymoon deh jadinya. Selalu ada kemudahan dalam kesempitan.

Dengan keterbatasan waktu saat bertemu, membuat saya dan suami menjadi saling menghargai. Saling mengerti tanpa harus diutarakan. Kami bisa duduk berdua dalam diam, hanyut dalam kegiatan masing-masing, namun kami tahu kami ada dalam frekuensi dan gelombang yang sama.

Begitu pula, waktu yang terbatas tersebut membuat kami lebih kreatif mencari cara agar tetap bisa bersama, mengunjungi orangtua, bermain dengan keponakan, dan menghadiri undangan pesta rekan kerja atau kerabat. Hal tersebut bisa karena terbiasa.

Banyak hal yang saya dapati saat bekerja. Apalagi saya bekerja di bank yang bergerak di sektor mikro. Membantu membiayai usaha nasabah, melihat jatuh bangun mereka, memberi saja pelajaran baru tentang semangat pantang menyerah. Saya jadi tahu bagaiaman kiat-kiat untuk membangun usaha yang bagus. Selain itu, bertemu orang-orang dengan berbagai type kepribadian, makin memperkaya dan mengasah rasa empati dan toleransi yang saya miliki. Saat saya berinteraksi dengan nasabah, baik eksternal maupun internal, bisa menyelesaiakan masalah mereka, menjawab pertanyaan, dan membantu mempermudah pekerjaan mereka, hal itu bagi saya sudah merupakan kontribusi saya dalam kehidupan.

Dengan bekerja pula, saya belajar hal-hal baru, yang semakin meluaskan wawasan. Diakui atau tidak, saya dan suami bisa menjadi teman diskusi yang sangat klop, karena dia bergerak di bidang perkebunan dan industry sedangkan saya perbankan membuat kami saling take and give terhadap berita-berita dari masing-masing pihak. Menyenangkan sekali bukan, memilki teman diskusi yang kita cintai. Bahkan banyak teman suami yang sering bertukar pikiran dengan saya untuk masalah-masalah perbankan yang mereka alami.

Dan yang paling menyenangkan, saya bisa mengunjungi banyak daerah saat perjalanan dinas. Hal yang mungkin akan sulit saya lakukan kalau saya tidak bekerja. Sara pernah ke daerah rawan bencana di pelosok negeri ini. Melihat dari dekat lokasi-lokasi tersebut membuat saya semakin mensyukuri hidup ini.

Ketahun, Bengkulu
Bagi saya bekerja bukan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga. Malah membuat saya belajar untuk lebih gesit, lebih pintar mengatur waktu dan kemampuan mengatur strategi antara membagi waktu kerja, keluarga, liburan dan kegiatan social. Tak jarang saya mengambil cuti jika ada acara kantor suami yang mewajibkan saya hadir. Sebisa mungkin, bekerja tidak menjadi penghambat.

Saat saya jauh dari suami, membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya. Saya selalu mengusahakan mengabari dimanapun saya berada. Walaupun ia tidak disamping saya, saya akan selalu meminta izin padanya jika ingin pergi ke suatu tempat yang agak jauh. Bagaimanapun saya adalah tanggung jawabnya. Dan saya juga berkewajiban menjaga kehormatannya.

Demikian pula, waktu-waktu luang sepulang kerja, yang mungkin kebanyakan wanita melewatkannya dengan berbagai kesibukan di rumah, saya mengisinya dengan melakukan hal-hal yang menjadi passion saya. Membaca, menulis, berselancar di dunia maya, yang mungkin tidak akan seleluasa saat saya berada di rumah. Tidak banyak, namun ada beberapa tulisan saya yang sudah mejeng di buku dan nangkring di rak Gramedia. Saya hanya berusaha menerima keadaan dengan melakukan hal-hal yang memberi nilai lebih.Dengan teknologi digital, melalui media sosial seperti facebook, twitter saya juga sering mengikuti lomba-lomba menulis. Jadi jangan gunakan media sosial hanya untuk menghabiskan waktu. Dari hobi saya itu, saya malah berkesempatan memenangkan hadiah dari yang kecil-kecil sampai yang terbilang lumayan. Nah kan, hobi kalau ditekuni jadi sangat menyenangkan.

Antologiku
Bekerja juga turut memperngaruhi cara saya berpenampilan. Saya jadi terbiasa tampil rapi kemanapun. Setidaknya saya akan berdandan saat ke kantor.Bukan dandan yang berlebihan, seperlunya dan sepantasnya saja.  Dan karena terbiasa dengan rutinitas, maka saya pun terbiasa dengan ritual kecantikan yang membuat saya selalau merasa fresh. Agar selalu tampil segar, setidaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi rekreasi tersendiri bagi saya. Minimal sebulan sekali ke salon, memanjakan diri, merilekskan otot-otot yang tegang . Dan untuk itu semua, saya bisa melakukannya sesering saya mau, karena saya memiliki budget dari uang pribadi yang saya hasilkan sendiri.

Bekerja juga membuat kebutuhan pakaian saya menjadi spesifik. Cukup tiga kategori, baju kerja, baju santai, dan baju kondangan atau arisan. Karena sudah terkategori demikian, saya tidak pusing. Baju kerja saya sangat simple, hanya berupa blazer dan kemeja. Dengan begitu menghindarkan saya dari belanja yang tidak perlu. Karena saya sudah tahu jenis pakaian yang saya butuhkan. Disamping itu dengan bertemu berbagai macam orang dari berbagai kalangan, memberi saya kemudahan melihat trend fashion yang lagi in. Lumayan, referensi gratis.


Satu hal yang mungkin tidak banyak disadari, keuntungan bekerja adalah memiliki networking yang luas, dari berbagai macam orang dan berbagai macam kalangan. Setidaknya saya memiliki relasi dari Sabang sampai Merauke, juga dari instansi-instansi yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena semakin banyak orang yang kita kenal dan mengenal kita maka semakin banyak kesempatan dan keberuntungan yang bisa kita raih.

Ya bekerja memberi saya triple bonus sekaligus, gaji setiap bulan, peluang belajar menjadi ahli, serta pengalaman yang laku dijual.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wanita, karena itu ia disebut makhluk multitasking. Di era digital ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Wanita di era digital adalah wanita yang tahu apa yang ia mau.Bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya .

Keterbatasan waktu dan ruang bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Tidak ada excuse dalam setiap hambatan. Teknologi yang ada , manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendukung segala aktivitas kita. jangan hanya sebagai pengisi waktu luang yang kurang menghasilkan.

Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Suami yang mencintai saya, keluarga yang selalu mendukung, sahabat yang peduli. Hal-hal tersebut semata-mata adalah curahan kasih sayang-Nya kepada saya. Apa yang telah diberi-Nya membuat saya semakin merasa semakin kecil .

Me, My Life
Sampai hari ini, saya masih berharap dan tak henti berdoa agar diberi jalan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Juga agar diberi kepercayaan menerima titipan-Nya. Sembari menunggu doa-doa saya diijabah, saya hanya bisa mengisinya dengan menghargai setiap tetes cinta-Nya dalam kehidupan saya.

Menjadi wanita bekerja diluar rumah, atau bekerja di dalam rumah, atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memiliki sisi positif masing-masing. Apa yang saya utarakan panjang lebar diatas semuanya dapat dimiliki dan dilakukan oleh ibu yang bekerja di dalam rumah maupun ibu rumah tangga. 

Setiap orang mungkin ditakdirkan untuk memainkan peran yang berbeda- beda yang dibutuhkan untuk membentuk keharmonisan dalam dunia yang tak selebar daun kelor ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan suatu saat saya menjadi ibu rumah tangga. Dan karena tuntutan kebutuhan, ibu rumah tangga menjadi wanita karir. Bukankah hidup adalah misteri?. Apapun peran kita, selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, ikhlas maka akan ada imbalan dari yang maha Kuasa untuk itu semua.

Perjalanan, seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk sampai di tujuan. Semoga dengan rute yang berbeda-beda, perjalanan hidup kita masing-masing berakhir di tempat yang paling indah.

Let's Check This Story


video













Custom Post Signature