Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Center Of Universe Setelah Jadi Orangtua

Friday, November 23, 2018



Yup, kayanya hampir semua pasangan muda, setelah menikah dan punya anak, prioritas hidupnya jadi berubah. Anak menjadi center of universe. Semua mua dilakukan demi anak, untuk anak, karena anak. Tak jarang, seorang wanita sampai abai sama kebutuhan diri sendiri, seorang suami lupa sama kebutuhan istrinya, karena semua udah all about the baby.

Tau ngga, saya pernah punya temen cowok, yang sempet sebel sama anaknya sendiri, karena doi bilang, sejak punya anak istrinya ngga lagi perhatian sama dia. Prioritas hidup istrinya Cuma kebutuhan anaknya. Pulang kerja makan sendiri, mau ngajak istrinya ngobrol, eh istrinya sibuk nyusui anaknya. Giliran nyusui selesai, dianya udah ngantuk.

Udah ngga pernah lagi mesra-mesraan, karena si istri yang dibicarakan cuma anak-anak- dan anak.

Awalnya saya tuh yang pengen nokokkan kepala si kawan ini " Woy ya wajarlah, namanya juga ibu baru, masih excited sama anaknya, atau ngga ya karena terlalu khawatir sama anaknya, jadi yang dibicarakan anak-anak-anak".

Tapi setelah saya pikir-pikir, kasihan juga ya para suami. Mereka harus dipaksa mengerti bahwa anak udah jadi center of universe si istri. Padahal ya dianya juga mungkin aja baby blues ya. Mungkin aja doi juga sebenernya gagap jadi papa baru, dan pengen curhat ke istri, pengen berbagi cerita ke si istri. Mungkin penat di kerjaan dan pengenlah si istri yang kayak dulu,manja-manja kepada dia.

Bahwa yang namanya menjadi orangtua, prioritas hidup itu jadi berubah, bahkan prioritas terhadap pasangan aja bisa tergantikan. Anak jadi center of universe kita. Kalau kita terus menerus terjerumus dengan stigma bahwa anak adalah segalanya, bisa bahaya juga bagi keluarga dan bagi perkembangan jiwa diri sendiri. Makanya perlu keseimbangan dan kesadaran, bahwa ga apa kok sekali-kali mendahulukan kepentingan ibunya misalnya. Kayak masalah kompeng dan ayunan itu. Kalau memang diperlukan alat bantu, saya rasa ngga ada salahnya kok ortu menggunakannya. Demi anak tidur lebih nyenyak dan ibu lebih banyak istirahat.

Pokoke intinya, it's ok not to be a perfect mother versi buku parenting. Sepanjang tidak membahayakan anak, kita bahagia, improvisasi dalam hal pengasuhan anak, sah-sah saja menurut saya.

Nah nyambung ke berita yang lagi hot di timeline. Soal perceraian keluarga idola kita semua [KITA], iya idola kitalah, aku termasuk yang suka sama keluarga ini walau ngga sampe yang ngefans gimana, seru aja lihat mereka, ditambah si Koneng lagi.

Banyak banget komen-komen di instagram dan di twitter yang isinya kira" Tolong dong pikirkan perasaan Gempi", sampe yang " Kalian tidak boleh egois jadi orangtua, mengalahlah demi keutuhan orangtua bagi Gempi.

Terus terang saja mendengar berita perceraian Gading_Gisele ini aku sedih. Tapi baca-baca komen netijen begini, kok rasanya gimana yah. Aku yakinlah ga mungkin keputusan sebesar itu ga dipikirin mereka dengan matang. Beban sebagai public figur, beban sebagai role model keluarga bahagia, ditambah postingan-postingan keimutan dan kelucuan anaknya, pasti membuat mereka udah mempertimbangkanlah keputusannya.

Aku mau cerita aja, ada temenku yang orangtuanya tiap hari bertengkar terus, udah level saling menjelekkan satu sama lain. yang tau sama-sama tidak puas dengan diri pasangan. Saling benci tapi ngga mau pisah. Sama-sama berfikir, ga apa-apa kami ga bahagia, asal kalian anak-anak kami tetap memiliki orangtua yang utuh. Kondisi gitu berlangsung bertahun-tahun, dari temenku ini masih piyik sampe kuliah, nikah, punya anak. Ortunya ngga kunjung pisah, tetap bersama dan tetap saling memaki, tetap saling menyakiti, sampe akhirnya si temenku dan sodara-sodaranya jadi benci sendiri sama kedua ortunya. benci sama ortu dan benci sama diri mereka sendiri. " Kenapa mama papa ga pisah aja kalo udah ga saling cocok, kami anak-anak ini ga masalah banget lho punya ortu bercerai daripada lihat kalian berdua ga bahagia gini"

Huhu aku dengerin cerita temenku ini sampe ikutan nangis. Karena ya itu terjadinya udah lama, dan ortunya terlalu pengecut buat ngambil keputusan. 


Apakah mereka si anak merasa bahwa ortunya berkorban untuk mereka?

Ya ngga juga.

Mereka malah mungkin lebih bahagia kalo kedua ortunya lebih punya sikap. Karena untuk apa tetap bersama kalau sebenernya toh ngga ada lagi yang bisa dipertahankan. Kalo anak-anak?. Anak-anak mungkin akan kehilanganlah pada awalnya, mungkin akan kecewa, mungkin akan merasa tidak dicintai, tapi seiring usia dan kedewasaanya, asal dikasi pengertian yang benar, pasti akan mengerti bahwa perpisahan kedua orangtua bukan berarti tidak sayang pada mereka.

Balik ke judul awal. Mungkin setelah menikah, pasangan suami istri akan memiliki prioritas hidup yang berubah, anak, segalanya tentang anak. Tapi untuk kebahagiaan pribadi, jika memang tidak memungkinkan untuk tetap bersama, menurutku berpisah mungkin jadi pilihan terbaik.

Dan perihal anak menjadi pusat semesta kita, aku ngga mau banget seperti itu. Anak tentu  jadi prioritas kita tapi pasangan adalah belahan jiwa kita. Kepentingan dia tidak kalah pentingnya dengan kepentingan anak. Kebutuhan pasangan tidak kalah urgentnya dengan kebutuhan anak.

Percaya saja, anak-anak kita itu tidak selemah yang kita pikir kok, mereka itu kuat dan bisa mengerti kondisi ortunya

Aku ga pro perceraian, aku pro kebahagian semua orang. Karena pernikahan yang di dalamnya saling menyakiti atau sudah tidak satu jalan lagi itu sungguh menyiksa.


Percaya sama aku

Eh ngga ding, percaya ajalah pokoke, lhaaa labil.

Mengajarkan Konsep Uang ke Anak

Thursday, November 22, 2018


Siapa di sini orangtua yang pusing mengajarkan konsep uang ke anaknya?


Ga apa-apa banget lho dari kecil anak diajarkan tentang uang, bukan supaya dia mata duitan, tetapi supaya dia mengerti bahwa beli sesuatu itu pake duit, bukan pake daun, apalagi pake tisue dan airmata, halah.

Dari usia dua tahun sebenernya anak sudah bisa dikenalkan dengan uang. Tapi pastinya dia belum mengerti soal nilainya, tapi minimal paham kalo beli sesuatu tidak sim salabim abakadabra. Bukan begitu bunda?

Kalo di keluargaku, jujur aja aku belum benar-benar ngajarkan konsep uang ke anak. Palingan tindakan nyata soal perduitan, aku cuma ngajarin nabung aja sama Tara. " Ayo Tara nabung, biar bisa beli yang Tara mau"

Aku beliin celengan, suruh isi kalau ada koin-koin sisa duit belanja. Anaknya hepi banget, jadi tiap nemu koin girangnya ampun deh, hahah.


Nah, kalau soal pembelian barang, Tara aku ajarinnya pake konsep " Mahal dan Murah"

Ternyata itu jauuuh lebih gampang dibanding berbusa-busa ngelarang dia celamitan jajan di Indomart.

jadi, kalau lagi ke Indomart, mau beli sesuatu dia bakal nanya dulu ke aku " Bunda, tara boleh jajan ngga?"

" Boleh, tapi bunda bawa duit cuma dikit nih"

" Iya, Tara ngga beli yag mahal-mahal kok, yang murah aja bunda"

Jadi, kalau dia ngambil coklat misalnya, dia bakal nanya " Ini mahal atau murah bunda/"

Ya tinggal jawab aja mahal kalo memamng mahal atau ya murah kalo memang murah. Jawabannya ga serius-serius amatlah, sesuain aja ama kantong, hahahaha. Pokoke Kinderjoy aku bilang mahal #kzlamakinderjoy. Susu Ultramilk yang besar mahal, yang kecil murah, maka Tara ya bakal ambil yang kecil.


Jadinya si Tara sekarang mayan bisa direm celamitannya kalau di tempat belanja. Tetap beli sih, tapi bisa diarahin ke barang yang masuk akal. Ga ujug-ujug guling-guling minta sesuatu. Stress banget kan yah kalo gitu.


Dengan konsep mahal murah ini, dia jadi kayak ikutan mikir gitu lho tentang duit emak bapaknya yang ngga tumbuh di pohon. Memang belum ngerti bener nilainya, tapi udah ngerti bahwa beli barang mahal itu harus dipikirin.


Mau main timezone aja udah bisa pake jurus ini.

"Mainnya dua kali aja yah, mahal"

" Mahal bunda?', bunda ga cukup duitnya?"

"Iya ga cukup"

" Tapi kan ada papa, papa banyak duitnya"

Wahahahaha, serahkan ke papa.

Kemarin itu si Tara, malah sempet nanya gini, " Bunda, kenapa rumah kita kecil?"

Haduh mamaknya kaget ditanya gitu hahaha, tapi ya ga kaget-kaget amat sih, udah persiapan aja ditanya begitu, karena memang dibanding rumah lain di komplek perumahan kami, rumah kami tergolong yang kecil.

" Ngga kecil ah, kan cukup untuk Tara, adek, bunda, papa dama Tete"

"Tapi kecil bundaaa, ngga kayak rumah Chia, rumah Chia bueeesaaaar"

" Iya, rumah Chia soalnya mahal sayang"

" Ooooh rumah kita murah ya, papa duitnya ga cukup?"

" Iya papa duitnya ga cukup"

" Makanya papa, cari uangnya yang banyak dong biar rumah kita besar'

Wahahahaha kacian papa.

Beberapa hari kemudian, aku ajak Tara main ke rumah kosong di komplek yang lebih kecil. Aku bilang ke Tara

" Tara, kita mau pindah ke sini lho, kan Tara kemarin ga mau tinggal di rumah kita, kata Tara rumah kita kecil'

"Ngga bunda, Tara ngga mau pindah,  rumah kita besaaaar"

Wahahaha, dasar labil. Gitu doang udah berubah.

 Tadi aku baca-baca soal artikel keuangan, memang katanya anak baru mengerti nilai uang biasanya di atas usia 7 tahun. jadi bunda-bunda yang mau ngenalin konsep uang ke anaknya, bisa kenalin hal-hal ini dulu ya

1. Beli sesuatu itu pake uang
2. Ada barang mahal dan ada barang murah
3. Papa dan bunda harus kerja untuk dapat duit, ga jatuh dari langit.

Bisa juga pake cara bermain toko-tokoan.

Aku sering mainin ini sama Divya.

Aku beliin mainan masak-masakan yang sepaketan ada duit-duitannya. Jadi tiap Divya bikinin masakan ke aku, aku seolah-olah beli. Sekarag tiap mau sesuatu Divya selalu nagih duit ke aku.
" Bundaaaa, adek mau beli loti, minta duit nda " (baca pake cara cadel ya, duh gemaz).

Kalo ke Tara selain konsep mahal-murah, dia udah sering aku suruh bayar-bayar sesuatu. paling sering kalo ada abag gojek yang ngantar makanan pesananku. Aku suru bayar sembari bilang  ntar ada kembaliannya ya sayang.

Ya udah sih gutu doang, hahahha. Soal kaya miskin aku belum ajarin ke Tara. Pokoke kalo dia nanya-nanya kayak

" Bunda kok rumah di depan besar rumah kita kecil"

Atau " Kok mobil Khira besar, mobil kita kecil" dsb dsb , cukup pake jawaban mahal-murah aja, plus ditekankan " Segini ini udah cukup untuk kita".

Kalau kalian gimana cara ngajarin konsep uang ke anak?. Ayo sharing, biar yang baca bisa kutan niru.





Orangtua Yang Egois

Wednesday, November 21, 2018


Kemarin saat aku sharing di instagram soal romantisasu kalimat-kalimat bijak yang ga bijak-bijak amat, aku sempet bilang bahwa kalimat "Menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan" sering membuat kita salah paham dan begitu mengagung-agungkan posisi kita sebagai orangtua.

Aku udah pernah sih nulis tentang ini di postingan berjudul Benarkah seorang perempuan selalu berkorban untuk keluarganya.

Makin dipikirin kok ya ternyata kita nih ya, gue maksudnya merupakan contoh-contoh orangtua egois. Apa itu kalimat " Semua demi kepentingan anak" wong pada kenyataannya semua-semua pertimbangannya ya ke diri kita kok.

Jadi kemarin aku ngobrol sama masteg tentang sekolab Tara. Aku cerita ke masteg kalo aku hepi dengan progres belajar Tara di sekolah. Walau Tara ga masuklah murid yang terajin,terpintar,tergesit, dan ter ter lainnya tapi dia tuh menyenangkan sekali jadi anak.

Nah soal sekolah, karena tahun depan Tara udah masuk SD jadi ya udah mikirin Tara mau SD di mana.

" Yang deket ajalah nda sama rumah, biar ga repot antar jemputnya"

Lho papa gimana sih, masa nyari sekolah anak yang penting deket sih, kualitasnya gimana?.

Ya kan SD yang di situ ntu bagus juga ah. Ga jelek-jelek amat.

Tapi ya aku ga mau anakku sekolah di sekolah yang ga jelek-jelek amat, aku maunya Tara sekolah di sekolah yang bagus.

" Emang sekolah bagus menurut bunda itu yang mana?"

*Jembrengin sekolah hasil browsing internet.

"Wah iya itu bagus ya dek, coba lihat uang sekolahnya berapa"

Brb cek uang sekolahnya, pandang-pandangan sama masteg kemudian ketawa bersama wahahahahaha.

Karena sekolah yang kutunjukkan, uang tahunannya 150 juta gengs. Trus tersenyun kecut.

Udaaaah kaum menengah kayak kita ga usah sok paten, kata masteg.

Hahahaha sebenernya aku udah tau uang sekolahnya segitu. Aku pikir masteg yang bakal support " Ayo kita usahakan", kulupa suamiku ini orang yang hidupnya sellow kayak di pulo, santai kayak di pantai.

Nah, bener kan, kita-kita [KITA] nih sebagai orangtua sesumbanya aja semua demi kepentingan anak padahal apa-apa ya kepentingan kita, hahahaha.

Nyari sekolah anak, kalo bisa yang searah dengan kantor, biar antar jemputnya gampang. Kalau bisa yang sesuai sama nilai-nilai yang kita anut, belum tentu banget nanya ke anaknya, dia mau sekolah yang gimana.

"Pokoke sekolah yang ada bau-bau agamanyalah biar ga repot harus masukin sekolah agama sore lagi'

Tuh kan, ga mau repot.

Kalao bisa yang full day ajah, biar ga pusing mikirin siapa yang jaga kalo dia pulang sekolahnya masih jam kantor. Kalo full day kan enak, jam sekolah sama jam kantornya samaan.

Yhaaaaa.

Lalu merenung sendiri. Sebenernya apa sih yang dilakukan orangtua yang bener-bener untuk kepentingan anak. Dirikuh malu jadinya. Jadi orangtua kok ya masih egois sih, huhuhu.

Apakah kalian sama sepertiku?



Saat Kau dan Ibumu Tak Saling Mengucap Kata I Love You

Friday, December 22, 2017


Hubungan saya dan ibu itu agak susah dideskripsikan.

Kata bapak , kami terlalu mirip. Sama-sama si pekerja keras, sama-sama di pembelajar dan sama-sama gigih kalau udah punya keinginan. Kalau mau dipanjangin lagi masih banyak kesamaannya.

Sama-sama wanita karir.
Sama-sama suka ikut ajang lomba-lombaan.
Sama-sama suka bicara, sama-sama suka tampil.
Sama-sama to the point kalau bicara

Mungkin sangkin miripnya, malah jadi sering bergesekan. Saya si anak blak-blakan dibesarkan ibu yang berkarakter keras. Bisa dibayangkan gimana jadinya kan?

Ngga sekali dua kali saya dan ibu beradu mulut, mulai dari masalah sepele sampai masalah maha penting. Ibu yang begitu peduli detail, saya yang apa-apa maunya simple. 

Kayak saat saya nikah dulu. Saya pengennya pesta pernikahan yang ngga ribet. Kalau bisa acara adat yang sederhana , ngga usah komplit, kalau bisa yang kasih-kasih nasehat keluarga inti aja biar cepet. Ibu maunya kebalikannya. Makanya acara adat nikahan saya lama sekali rasanya, yang nasehatin juga banyak, padahal saya ngga ngerti apa yang diucapkan.

Ibu yang begitu peduli omongan orang, saya yang berprinsip “ Memuaskan orang ngga akan ada habisnya”.

Masih saat nikah, saat acara tepung tawar biasanya memang para pengantin akan menangis. Menangis haru karena akan meninggalkan keluarga. Saya saat itu entah terlalu gembira atau gimana, malah senyum-senyum. Bukan karena saya ngga sedih, tapi karena toh saya ngga kemana-mana, masih di Medan juga, jadi saat itu belum kepikiran bahwa saya akan jauh meninggalkan rumah, ditambah kenyataan ya emang sejak SMA saya toh udah ngga di rumah.

Wah ibu marah sama saya. Blio bilang ngga enak dilihat orang, karena kesannya saya kok ngga ada haru birunya. Duh.

Sering banget saya berfikir “ Aku ngga akan seperti ibu kelak” kalo lagi di puncak kesebalan pada blio. 

Ngga akan kayak ibu yang kadang ngga mau ngerti maunya saya. Ngga mau kayak ibu yang kadang ribet banget untuk masalah sepele.

Iya, kadang kekesalan itu membuat kalimat di atas berulang-ulang saya ucapkan dalam hati.

Mungkin hubungan saya dan ibu memang sedikit unik. Kami terlalu mirip sekaligus terlalu berbeda. 

Entahlah.

Karena seberapa seringnya pun kami saling teriak, saling banting telpon, nyatanya ibu tetap menjadi perempuan idola saya. Saya mengagumi semangat beliau yang seperti tidak ada matinya. Masih mau belaja di usia senja, begitu peduli sama orang lain, mudah menolong. Ah ngga tau lagi mau bilang apa, karena di luar ketidakcocokan beberapa sifat kami, ibu adalah orang yang akan saya ceritakan ke anak-anak saya tentang kebaikan-kebaikan dalam hidup.

Semua hal-hal baik di diri saya diturunkan dari dirinya.

Seberapa seringnya saya menahan kata maaf di mulut, dengan mudahnya keesokan hari ibu akan siap membantu saat saya butuhkan. Tak peduli, malamnya saya habis bersitegang dengannya.

Begitulah saya dan ibu.

Hubungan ibu dan anak mungkin tidak selalu seperti gambaran di status-status yang berseliweran di timeline. Tidak selalu mengharu biru, penuh kasih, dan penuh kelembutan. Ada keluarga-keluarga dengan berbagai latar belakang yang membentuk pola-pola yang mungkin berbeda dari kebanyakan orang.

Jika kalian terlalu susah mengumbar kata sayang, cinta, maaf ke orangtua. Percayalah kalian tidak sendiri. Ada banyak anak yang seperti itu. Ada banyak anak yang bahkan tidak pernah mengucapkan i love you pada ibunya.

Sebanyak ibu yang mungkin tidak pandai berlemah lembut penuh peluk dan cium.

Apakah karena tidak sayang?

Hmm terlalu naif kalau menyimpulkan seperti itu.

Saya percaya, bagaimanapun hubungan seorang ibu dan anak, tentunya jauh lebih istimewa dari sekedar kata cinta.


Happy mother’s day mom. I Love you to the moon and back.

Awas Ya, Mama Pukul Kamu !!!

Tuesday, October 10, 2017




Di salah satu adegan Desperate Housewife, ada cerita si Lynette menitipkan anak-anaknya ke Bree. Karena Lynette kan ibu bekerja, dan saat itu Nannynya lagi resign, jadi dia minta bantuan Bree sahabatnya untuk menjaga anaknya.

Yang suka Des Hos taulah ya, anak-anak Lynette itu ampun deh lasaknya. Lari kesana kemari, manjat-manjat, dan suka teriak-teriak, apalagi si kembar Potter dan Hary? ( Lho kok jadi Harry Potter?) , auk lupa namanya.

Nah, ternyata saat dititipin ke Bree, si kembar ini lari sana lari sini, si Bree masak kue, kuenya masih panas udah dimakan, mecahin gelas pulak, aaaak stress ga sih jadi temen yang dititipin. Sampai akhirnya Bree kehilangan kesabaran dan memukul si kembar. Pantatnya gitu lho dipukul.



Dasarlah anak-anak, pulang ke rumah, mereka ngadu ke Lynette " Mommy, kami ngga mau main ke rumah tante Bree lagi", gitulah kira-kira si kembar ngadu ke ibunya.

" Why"

" Soalnya kami dipukul sama tante Bree"

" WHAAAAAT!!!!"

Ngamuklah si Lyenette mendengar itu. tau kan ya, sifat Lynette di Des Hos itu kan yang reaktif kayak saya gitu. Langsung tanpa ba bi bu datangin rumah Bree dan mengkonfrontnya

" Ape maksud lu mukul-mukul anak ane hah" (tentu dengan bahsa Inggris ya sodara-sodara)

" Ih apaan sih lu, biasa aja kale. Lha anak lu nakal, ya gw pukul lah. Ah nyantailah biasa itu anak dipukul buat disiplin"

Whaaa nyari mati nih si Bree. Teranglah si Lynetee langsung marah, dan menatap sinis  si Bree

" Menurut lo mukul anak itu memang wajar, tapi menurut ane, haram mukul anak. Gw aja ngga pernah mukul, kenapa lu berani-beraninya mukul anak ane "

BRAAAAK.

Lynette dengan segudang kemarahan pergi meninggalkan rumah Bree.


Menurut kalian gimana?

Lha kok malah nanya.

Mengapa Lynette begitu marah?

YA MARAHLAH, GW AJA NONTONNYA MARAH.

Kalau di dunia nyata, saya sedih banget kalo lihat ada anak yang dipukulin ortunya.

Iya suka sedih kalau melihat atau mendengar orangtua mukul anaknya, even itu pukulan mendisiplinkan. Karena belum ada satu pun penelitian yang membuktikan bahwa memukul anak ada korelasinya dengan kedisplinan.

Gegara kepikiran film Des Hos tadi, saya  malah browsing ke web-web parenting, pengen tau apa kata mereka soal memukul anak.

Dan hey, ngga satu pun artikel yang membahas bahwa memukul anak itu akan memberi efek positif. Semua mengatakan bahwa efek negatif saat kita memukul anak itu bakal berdampak panjang. Anak akan merasa tidak disayang, merasa terpukul, merasa tersakiti, dan lebih gawat lagi bisa menyebabkan luka batin dan trauma .

Ngga banget kan yah.

Mungkin ada orangtua yang mikirnya memukul itu adalah hal yang biasa.

NO.

Ada yang salah dengan konsep pengasuhan anak kita kalau ortu sampai nganggap memukul itu adalah hal yang biasa. Karena hubungan anak dan orangtua adalah hubungan kasih sayang, hubungan mendidik, tapi bukan kekerasan. Dan anak-anak juga memiliki hak perlindungan fisik sama seperti orang dewasa.

Lha kita aja juga ngga mau kan dipukul, ya sama anak kita juga ngga boleh dipukul, even oleh ortunya sendiri.

Mungkin bagi kita orangtua, saat memukul anak kita mikirnya sebatas kita meluapkan emosi, dan agar dia kapok.

NO

Anak-anak belum mengerti konsep kapok. Yang mereka mengerti itu adalah perasaan atau kesan apa saat ia melakukan sesuatu. 

Kayak misal dia kemarin mencet dispenser trus kesiram tangannya sama air panas. Besok-besok dia ga akan ulangi. Bukan karena dia tau itu bahaya trus kapok, tapi karena dia inget perasaannya saat air panas kena tangannya.

Makanya saat kita memukul anak dengan tujuan kapok trus besok-besok dia ga ulangi, itu bukan berarti , bukan karena di tahu bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan, tapi yang direkam memorinya adalah bahwa kalau ia melakukan itu maka ibu akan marah, ibu akan memukulku, aku ngga mau ibu atau bapak ngga sayang aku.

Kan sedih ya kalau rekaman ingatan anak kita malah berupa ketakutan.

Jadi saat kita marah karena anak mencoret dinding, kemudian memukulnya sambil bilang " JANGAN CORET_CORET DINDING, KALAU KAMU CORET LAGI MAMA PUKUL LAGI LHO KAMU"

Dia akan ingat soal mukulnya doang, yang diingatnya adalah rasa takutnya. Huhuhu duh bayanginnya aja langsung sedih.



Waktu kecil saya punya tetangga yang ortunya ringan banget tangannya ke anak. Salah dikit plak, salah dikit plak. Anaknya itu jadi kasar banget ke temen-temen. Dikit-dikit main pukul, dikit-dikit main dorong. Setelah saya pikirin sekarang, ternyata mungkin ada kaitannya.

Karena kata ahli parenting ya, ( bukan kata saya ). Anak yang sering dipukul orangtuanya, akan menganggap bahwa penyelesaian masalah adalah dengan main fisik, dengan memukul, mencubit, maka ia akan menganggap itu menjadi sesuatu yang wajar. Maka jangan heran, coba perhatikan anak-anak di sekolah yang suka mukulin temannya, kemungkinan di rumah ya dia diperlakukan seperti itu.

Sebagai orangtua tentulah kita ngga boleh juga selalu berlindung di balik kalimat " namanya anak-anak", tapi ya segimana sih kelakukan anak kita yang bisa membuat kita punya asalan untuk memukulnya. Jangan-jangan kesalahan bukan di anak, tapi di diri kita. Mungkin kita ngga memperhatikan saat dia main, mungkin kita yang lagi capek trus melampiaskan kekesalan ke anak padahal anaknya juga cuma melakukan kesalahan kecil khas anak-anak, atau mungkin kita yang tidak sabar dan tidak pernah memberitahu ke dia apa yang boleh dan apa yang ngga.

Saya yakin, ngga ada orangtua sih yang niat jahat ke anaknya. Pasti kebanyakan hanya karena menganggap itu bisa mendisiplinkan anak, padahal ada banyak cara yang bisa dilakukan.

Anak mecahin piring

 ---> Ya udahlah dibersihin aja piringnya, besok ganti piring plastik.

Anak Mecahin Tivi 

---> Lha coba tanya, kita dimana, kok bisa-bisanya tivi sampe jatuh dan pecah.

Anak nyoretin dinding

 ----> Kenapa ngga kita sediain buku gambar, dan kalau sampai dia coret-coret dinding ya udahlah dinding bisa dicat ini.9

Anak berkata kasar memaki

 ----> Coba diinget mungkin kita sering juga ngomong kasar, atau tanpa sengaja anak nonton tivi atau youtube tanpa pengawasan kita dan nemu kata-kata kasar itu disitu.

Anak numpahin makanan 

----> Oh Plis anak mana yang ngga melakukan itu.

Tuh kan, ada seribu alasan yang bisa kita cari.

Saya ngga bilang bahwa kalau anak kita berbuat yang aneh-aneh maka pasti orangtuanya, atau ibunya yang salah. Ngga sih, kondisi keluarga kan beda-beda. Namun, yaitu tadi, segimana besar kesalahan anak sampai membuat kita mau melayangkan pukulan kepadanya.

Ntar diinget-inget ya bu ibu, tiap anaknya kita rasa masuk defenisi "Nakal" versi masyarakat umum, maka segera mikir loop di atas. Percaya sama saya, kita ngga akan pernah nemu alasan buat mukul.

Dulu waktu kecil, temen-temen saya suka takut main ke rumah, karena bapak saya wajahnya itu serem, mana badannya tinggi besar kan yah, dan ibu saya karena blio seorang guru, guru matematika pula, yang notabene sering cerewet dan sering ngomel, banyak yang ngira kami pasti sering dipukul.

Padahal, seumur-umur, ngga pernah sekalipun orangtua saya mukul. Ngga tau ya mungkin karena ibu saya guru, makanya blio tahu bahwa mukul anak itu ngga bagus untuk perkembangan psikologisnya.

Makanya, sampai saat ini jadi ortu, berusaha banget nget jangan sampai main tangan ke anak. Ngga mau anak saya takut atau benci ke saya karena main tangan. 

Ngga hanya mukul sih sebenernya, bentak anak juga.

Saya inget banget, dulu pernah pas saya usia SD, saya dibentak oleh om saya, adiknya bapak hanya gara-gara saya mainin peci mbah lanang. Dibentak yang model " HEH JANGAN PEGANG_PEGANG, LETAKIN SITU"

Doooh, sampai sekarang keinget terus, membekas di hati, dan dikit banyak nimbulin rasa benci. Ngga suka aja pokoke sama si om. kalo lebaran, bisa menghindar menghindar deh dari ketemu dia. Padahal udah lama banget. Ngga maksud inget tapi ya keinget.

Saya rasa begitu juga sih anak kita. Apalagi kalau yang melakukannya orangtuanya sendiri, pasti keinget terus.

Saya pernah ga mukul anak?

Mukul ga, tapi pernah kelepasan ngebentak. Gara-gara saya lagi ditelfon urusan kantor, trus Tara merengek-rengek minta hape saya, mau nonton youtube, jadi saya ngga bisa fokus ngomongnya. Kebentak deh si Tara. Abis itu dia lari ke sudut rumah, nangis tersedu-sedu gitu. Bukan nangis yang marah, tapi nangis sedih kayak sakit hati. Trust me deh anak kecil itu bisa banget sakit hati. Duh nyeselnya ampun-ampunan.




Abis nelfon, buru-buru langsung peluk Tara. Peluk sambil minta maaf.

" Maaf ya Tara, bunda ngga sengaja. Tara marah ya sama bunda"

" Huhuhu, iyaaa bunda jahat, marahin Tara"

 Hwaa saya sedih banget, keinget perasaan saya waktu dibentak om dulu.

" Iyaaaa maaf ya Tara, bunda salah, Tara mau kan maafin bunda"

Trus anaknya ngangguk, sambil peluk saya, saya cium dia.

" Yok, tadi Tara mau ngapain?"

" Mau nonton Upin Ipin bunda"

Dan dunia kembali cerah.

Saya pernah baca, hardikan, amarah apalagi sampai pukulan ke anak, sekalipun kita sudah minta maaf sebenarnya tetap ada bekasnya ke anak. Ibarat memaku kayu, kalo pakinya kita cabut, ya tetep si kayu ada bekas pakunya. 

Makanya, mikir panjang banget deh kalo mau marah bahkan sampe mukul anak. Kasiaaaaaan anaknya 😭😭😭.

Trus gimana kalau kita terlanjur marah atau mukul anak?

Namanya udah terlanjur, tentu ga bisa diundo lagi yah. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan perbaikan sehingga meminimaliair dampak negatif ke anak.

Jika suatu saat kita kelepasan memukul atau membentak anak (amit-amit semoga ngga pernah lagi deh), sebaiknya lakukan teknik penyembuhan saat itu juga. Penyembuhan sesegera mungkin bisa meminimalisir pengalaman buruk itu mengendap di pikiran dan perasaan anak.

Caranya?


  • Jangan nunggu anak sampai tertidur. Biasanya kan anak kita kalau nangis tuh sampe tertidur ya sambil terisak-isak gitu tau-tau ketiduran. Lakukan penyembuhan sesegera mungkin sebelum anak tertidur. 
  • Peluk anak kita sambil mengelus-ngelus punggungnya.
  • Kalau tadi kita sempet memukul, cek bekas pukulan tersebut, elus-elus sambil lakukan komunikasi ke anak. Tanya, apakah sakit? " Ini tadi bunda pukul ya, sakit ngga sayang"
  • Minta maaflah. Minta maaf berulang-ulang sambil mengelus dia .
  • Kalau ternyata bekas pukulan atau cubitan kita menimbulkan bekas seperti memar atau luka, ajak dia mengobatinya bersama. " Aduh, merah ya kakinya, kita kompres yuk sayang", atau " Kita obati ya biar ngga sakit lagi", sambil bilang maaf lagi.
  • Setelah itu, sampaikan kenapa kita marah. " Maaf ya sayang, lain kali kalau bunda lagi bicara ditelfon, Tara tunggu dulu ya sampai bunda selesai. Kan bunda ngga pernah pelit kalau Tara mau nonton, oke".
  • Jangan lupa sampaikan bahwa dia anak yang baik, bukan anak anak nakal, jangan melabeli anak. " Tara kan anak baik ya kan, bunda sayang banget sama Tara, Tara sayang bunda juga kan?"
  • Abis itu ajak anak kita melakukan sesuatu yang disenanginya.
DAN PLIS JANJI JANGAN MENGULANGINYA LAGI.

Jadi orangtua beneran ngga mudah deh, dibanyakin sabarnya ya bu ibu, ayah, bapak, agar tidak muncul penyesalan di kemudian hari.

Salam hangat dari sesama ibu yang kadang ngga sabaran .❤❤❤









Tentang Menegur Anak Orang Lain di Publik

Wednesday, September 27, 2017
Namanya anak-anak, kadang saat bermain, bisa saja ada kondisi yang di luar kontrol. Entah ada anak yang berebut mainanlah, anak yang mukulin anak lainlah, atau malah anak yang berlaku kasar. Nah kalau menemui kondisi begitu, kalian pilih menegur anak itu atau diem aja.

Ngomongin itu yuks.




Baca Punya Gesi :

Pernah pada suatu hari saat saya lagi makan KFC sama Tara ada kejadian ngga mengenakkan. Saya lagi makan, Tara main perosotan bersama anak-anak lain. Karena jarak antara perosotan dan kursi saya deket banget, jadi saya cuma sambil ngeliatin aja, ngga ikut masuk ke arena perosotannya. Tiba-tiba saya dengar suara Tara jerit-jerit sambil nangis " Bundaaa.... bundaaa...", sontak saya lari ke Tara. Saya lihat ada anak laki-laki lagi mukulin Tara, Wih langsung esmosi jiwa. Tara yang nangis sesunggukan saya tarik dan saya gendong. 

Awalnya saya sibuk mendiamkan tangis Tara sampe lupa sama si anak, lamat-lamat saya kepikiran " Lho tadi disitu ada ibunya si anak kok ngga minta maaf sama saya ya". Saya kembali ke perosotan, mendatangi si ibu dan anak laki-laki tadi yang udah balik main kayak ngga kejadian apa-apa

" Bu, anaknya tadi mukul anak saya lho, kok ibu ga ada minta maaf ya, atau nyuruh anaknya minta maaf, anak saya sampe nangis sesunggukan gini "

" Yah namanya juga anak-anak sih, biasalah itu"

Duh kesel banget dengernya. Saya balas jadinya

" Ya anaknya sih anak-anak, tapi harusnya ibu minta maaf sama saya, atau nyuruh anak ibu minta maaf"

Eh si ibu malah jutekin saya, ih kesel banget. Lagi saya ngomong, "Plak" si anak laki-laki dia mukul Tara lagi. Waaaah ngamuklah saya.

" Tuh lihat bu anaknya, ngga ada sopan santunnya, Dek, ayo kamu minta maaf sama anak saya, ngga boleh seperti itu"

Yeee emaknya malah ngamuk ke saya. "Besar-besarin masalah amat sih" (lupa saya kalimatnya tapi intinya itu)", karena kondisi saya saat itu lagi hamil Divya, saya ngga mau lanjutin adu mulut itu. Saya pilih pergi sambil melototin si anak dan ngomong untuk terakhir kalinya " Lain kali ya dek, ngga boleh gitu, jangan pukul-pukul teman kayak gitu, main sama-sama"

Dan saya lanjutin " Pantes anaknya ngga sopan, wong ibunya kayak elu"

Kedengerannya saya sadis banget, tapi emang si ibu ngeselin parahlah, dan si anak juga tengil abis dan tangannya itu lho ringan banget. Tapi sesadis-sadisnya, yang saya marahin saat itu ya ibunya.

( Baca : Things I Love About Me and Things I Hate About Me )


Kadang yah memang sebagai ibu kita tuh suka ngga terima kalau ada orang lain yang negur anak kita, apalagi di publik, makanya reaksinya kebanyakan defensif, boro-boro mengakui kesalahan walau jelas-jelas anak kita yang salah, tapi malah berlindung di balik kalimat " Namanya anak-anak"

Padahal kalau menurut saya sih, anak-anaknya sih ya memang anak-anak, makanya kita orangtua yang kudu waras. Lihat anak kita salah ya ditegur, lihat anak orang salah dan ada yang negur ya jangan sewot juga.

So kalau ditanya, negur anak orang lain, yay or nay? Saya mah Yay, 

Bukan karena sok campur urusan orang lain, tapi anak-anak itu memang fasenya untuk diberitahu kalau salah. Bukan kayak kita orang dewasa yang disinisin aja udah ngerti, tapi ya haus ditegur pake kata-kata.

Namun diliat-liat juga dan dipastikan bahwa menegurnya bener, bukan karena alasan cuma membela anak doang. Beberapa kondisi saya pernah negur anak orang

Rebutan Mainan

Lagi di playground, Tara lagi main dorong-dorongan stroller sambil bawa bola-bola, dikumpulin trus dimasukin ke rumah-rumahan. Ada anak tiba-tiba nyerobot, ngerebut stroller yang dipegang Tara, saya ngga akan segan untuk negur " Ntar ya nak, kawannya masih main, ntar gantian". kalau jelas-jelas saya lihat Tara juga baru mainnya, saya ngga akan suruh Tara gantian saat itu, yang saya minta ya si anak lain untuk sabar nunggu.

Sama juga kalau Tara yang mau ngerebut mainan anak orang, ya Taranya yang saya bilangin. 

Ngga mau gantian

Kebalikan dari kejadian di atas, pernah juga di playground ada anak yang ngga mau gantian main mobil-mobilan yang dijalanin pake kaki itu lho. Udah hampir 15 menit saya lihat dia terus yang main, anak lain mau main ngga dikasih. Biasanya kalau yang begini saya pilih bilang ke mba penjaganya untuk nyuruh si anak gantian sama anak lain.

Paling kesel tuh kalau ada ortunya dan anteng aja anaknya monopoli satu mainan. Namanya main di playground ya harusnya gantian, karena anak lain juga kan kesitu pengen main, bukan pengen ngeliatin anak lain main doang.

Tara kadang gitu, suka monopoli mainan  dan ngga mau gantian juga, ya sayanya yang bujuk Tara buat main yang lain.


Ngomong kotor

Nah ini misal lagi main rame-rame, trus ada yang nyeletuk kata kasar atau ngomong kotor, kayak nama binatanglah gitu. Saya pasti reflek ngingetin " Eh ngga boleh ngomong gitu nak, pantang yah".

Kenapa?

Ya soalnya kalau anak lain denger ntar ikutan juga, kalau ngga ada yang negur bisa-bisa mereka pikir itu kata biasa.

Begitulah. Sebagai orangtua memang pasti naluri kita untuk selalu membela anak sendiri dan cenderung marah kalau anak kita ditegur, namun kalau bukan dari kita-kita nih sebagai ortu yang nunjukin hal yang benar sama anak-anak kita ya siapa lagi.

Namun beberapa hal yang mungkin harus kita perhatikan saat menegur anak orang lain 

1. Bersikap Netral

Kita lihat dulu masalahnya apa. Walau anak kita yang nangis belum tentu anak kita yang dipihak benar. Makanya netral dulu, setelah tau apa masalahnya baru boleh tegur.

2. Jangan Membentak

Saya pribadi kalau ada yang membentak anak saya, wah bisa saya bentak balik tuh orang, LOL. Makanya saat menegur anak orang lain juga kita harus dengan cara baik. Gunakan kata nak, sayang, adek, atau sebut nama kalau kenal. Ngomongnya juga baik-baik ya sama kayak kita negur anak kita.

Kalau kejadiannya sama keponakan gitu lebih gampang, bisa negur sambil peluk anaknya.

3. To The Point

Kalau mau negurnya soal rebutan mainan ya itu aja yang dibahas. jangan malah melebar kemana-mana, ngungkit-ngungkit kesalahan yang lain .

4. Haram main Tangan

Yiaya ya bukan anak sendiri ini. Lha anak sendiri aja ngga boleh main tangan apalagi anak orang. Jadi jangan nampel tangan anak orag, mukul, apalagi nampar. wah bisa berabe ntar.

5. Hindari pelabelan negatif

Penggunaan kata anak nakal, anak bandel dan sejenisnya, malah melukai dan bisa mengganggu psikologis anak.

Pokoke apa yang kita ngga mau orang lain lakukan ke anak kita ya jangan lakukan. Itu aja.

Karena kepedulian orangtua termasuk keberanian untuk menegur perilaku anak orang lain bisa melindungi anak kita dan anak-anak lain dari pembiaran-pembiaran hal yang jelas-jelas salah.

Kalau kalian, tipe yang diem dan sebodo amat sama anak orang lain, atau tipe yang mau negur nih kalau anak orang lain salah?








Faktor Kebahagiaan

Tuesday, September 5, 2017
Judulnya astagaaa, ga bisa nemu judul lain soalnya xixixi.

Jadi beberapa waktu lalu saya masukin Tara ke TK, Trus disodori pertanyaan-pertanyaan yang susyeeeeh jawabnya.

Salah satunya adalah : Apa faktor terpenting bagi kebahagiaan keluarga ibu?

Wok wow wow, langsung mikir banget mau jawabnya. 

Kalau ditanya apa yang bikin saya bahagia sih banyak yah

Bisa ke salon tiap hari
Bisa belanja tanpa limit
Bisa makan sepuasnya tanpa jadi gendut
Bisa lihat anak sehat ceria sepanjang hari
Bisa bobo seharian ngga ada yang ganggu
Bisa ngeblog terus tanpa mikirin tunggakan debitur wahahahaha.

Banyak yah hal yang bisa membuat kita bahagia. Tapi kalau pertanyaan dipersempit jadi apa faktor kebahagiaan terpenting bagi keluarga.

Faktor terpenting. Artinya sesuatu yang paling krusial. Kalau dia ada keluarga bahagia, kalau ngga ada maka keluarga ga bahagia.

Hmmmm.... mikir.... mikir..... mikir.

Ah elah ini pertanyaan gini aja diseriusin ya wahahahha, dasar emak-emak ribet.

Balik mikir lagi, dan akhirnya saya menemukan jawabannya.


Ternyata faktor terpenting kebahagiaan keluarga bagi saya adalah kesepakatan dalam keluarga. AHA, tring.

Iya, bisa sepakat dan satu suara dengan suami dalam memutuskan hal-hal penting maupun hal remeh temeh di keluarga itu ternyata faktor penting banget untuk keluarga saya. keluarga saya lho, bukan keluarga orang. kalau ada kata sepakat saya bahagia, ngga tercapai sepakat saya bisa sedih, uring-uringan , bete dan males ngomong.



Waaa ternyata itu membahagiakan sekaligus melegakan banget.

Kenapa?

Karena ternyata segala hal jadi berasa mudah kalau dalam melakukan apapun di rumah tangga kitanya udah satu suara dulu sama pasangan.

Saya kepikiran hal tersebut karena ada saat-saat saya sama masTeg ngga satu suara duh rasanya ngga enak banget, bisa jadi bibit pertengkaran.

Kayak kemarin tuh pernah saya lagi pengen banget bawa anak-anak jalan-jalan yang nginep, tapi masTeg lagi ogah karena dia capek. Akhirnya kami tetap pergi karena anaknya juga udah semangat banget. Gitu nyampe hotelnya, ternyata dapetnya kamar yang posisinya kurang oke, trus Masteg mutung, trus ngambek, Doooooh, malesin banget.

( Baca : Suami Nyebelin )

Itu baru hal kecil, saat saya ngga satu suara dengan Masteg udah bikin suasana bersama ngga kondusif.

Nah jadi saya mikir lagi, ternyata untuk hal-hal lain, saat saya sudah satu suara sama Masteg, walau ada rintangan di depan, kok bawaannya jadi nyantai. Malah dipikirin bersama jalan keluarnya gimana.

Kayak masalah milih sekolah Tara tuh kemarin.

Sebenernya sekolah Tara yang lama itu udah oke banget, jaraknya deket banget dari rumah, mbanya yang di rumah bisa antar jemput dengan mudah, mana kalau pas kebetulan ada keperluan mendesak ibu gurunya bersedia lagi mengantar jemput Tara. Luuuv lah.

Tapi setelah saya nyari-nyari info ke sekolah lain, ternyata saya menemukan sekolah baru yang menurut saya Tara bakal jauh lebih baik kalau disitu secara pendidikannya, makanya saya pindah. Tapi konsekuensinya jaraknya lumayan jauh dari rumah.Dan ndilalah kali ini saya dapat ART lama banget sebagai pengganti ART yang kemarin berhenti.

( Baca : Hari Pertama Sekolah dan Perjalanan Mencari Sekolah Idaman )

Awal-awal itu sumpah ribet banget, masalah antar jemput Tara, karena si mba di rumah ngga mungkin bisa antar Tara pagi-pagi saat dedek Divya masih tidur, maka saya dan Masteg yang gantian antar, akibatnya saya telat mulu ke kantor selama 3 hari berturut-turut. Ini di luar rencana, karena di planning kami yang antar jemput itu si mba di rumah dengan catatan ART saya dua kayak kemarin, lha kalo cuma satu ya ngga bisa. Nah untungnya itu yah, karena milih sekolahnya memang kesepakatan bersama, giliran ada yang ribet gini ngga ada saling menyalahkan, malah sama-sama nyari solusi.

( Baca : Menikah Atau Tidak )

Akhirnya yang antar mas Teguh dengan konsekuensi dia berangkat lebih pagi, dan yang jemput saya. Clear. Problem solved.

Bahkan even di jam pulang sekolah Tara  ternyata posisi saya lagi di luar yang ngga mungkin balik jemput ke sekolah, ya Masteg selalu punya solusi untuk mengatasinya.

Pokoke menurut hemat saya, sepakat dengan suami itu sungguhlah membuat hati ini bahagia tiada tara, karena ngga akan ada saling menyalahkan, jika ada masalah suami istri malah bersatu untuk mencari solusinya.

Makanya ya frend, saya kalau mau memutuskan sesuatu yang sekiranya bakal panjang urusannya ngga mau kalau suami ngga oke dulu, walaupun saya bisa melakukannya sendiri. Misal mau pergi pendidikan, mau ikut job opening di kantor, mau menghire ART, pokoke kudu sepakat dulu baru saya jalan. Ibarat di pekerjaan, ada agreementnya dulu baru action , biar di belakang hari sama-sama enak hahaha.

Oke mulai kemana-mana, mari kita akhiri saja.


Kalau kalian, apa faktor terpenting kebahagiaan keluarga untuk kalian. Sekalian jawab pertanyaan sekolah Tara, hahahaha.







Semua Anak Akan Ke Toilet Pada Waktunya

Thursday, August 24, 2017


Mau nulis tentang toilet training Tara dari setahun lalu, ngga jadi-jadi. Mumpung inget ya udah ditulis sekarang aja. Better late than never lah ya.

Saya banyak baca cerita ibu-ibu soal proses toilet training anaknya. Ada yang cerita betapa susahnya mendisiplinkan anak untuk pee dan poo di toilet, namun ngga sedikit juga yang cerita tentang betapa mudahnya anaknya melakukan toilet training. Bahkan ada temen di circle blogger saya yang anaknya udah diajarin toilet training sejak usia 6 bulan #pingsan

Kalau Tara gimana?

Hahahahaha, ketawa dulu, kemudian minum, kemudian ketawa lagi.



Sejujurnya saya pernah lho berusaha mengenalkan toilet training ke Tara. Pakai teori yang ada di internetlah. Tiap setengah jam di bawa ke kamar mandi disuruh pipis. Tapi ngga berhasil sodara-sodara. Pipisnya malah berceceran dimana dia main. Akhirnya ya udah saya pakaikan pampers lagilah daripada rumah kena pipis semua.

( Baca : Toilet Training Ala Tara )

Saya memang sama sekali ngga pake potti pottian dalam toilet training. Karena saya jijikan. Iya, geli aja anaknya pipis atau pup di potti, trus saya harus bersihinnya. Kalau langsung nyebokin anak mah saya ngga jijik, tapi kalau udah keluar trus terletak gitu di suatu tempat kan geli yah. Kalau saya aja geli, jadi bisa saya pastikan mbanya yang jaga pasti geli juga, makanya ngga pake potti-pottian, langsung aja beli dudukan toilet , jadi kalau mau pee or poo ya langsung di toilet.

Dulu saya pernah cerita kalau Tara di daycare diajarin buang air di toilet, jadinya dia terbiasa, tapi ternyata abis ngga di daycare lagi, eh dia lupa soal toilet trainingnya, balik maning pipis dimana-mana. 

Setelah itu, saya ngga melatih Tara lagi untuk toilet training, ya saya anggap aja anaknya emang belum saatnya bisa pipis dan BAB sendiri #dasarpemalaskau

Baru saat usia Tara 3 tahunlah, alias baru tahun lalu akhirnya dia berhasil ngga pakai pampers lagi kemana-mana.

Apa rahasianya?

Rahasianya adalah karena Tara sekolah, dan di sekolah ngga boleh pake pampers. Udah gitu aja, yeaaaaay. Pengen peluk-peluk ibu guru deh, soalnya saya ngga usaha macem-macem, anaknya bisa ke toilet sendiri. 



Sekarang mah udah cincay. Dalam setahun ini, bisa dihitunglah Tara kebobolan ngompol kalau malam. Paling cuma dua tiga kali, itu pun kalau dia sorenya main lompat-lompat, dan ketiduran sebelum sempet pipis dulu.

Nah, di postingan ini saya bukan mau cerita soal betapa mudahnya anak saya toilet training. Lha ya memang ngga mudah , wong Tara baru bisa bebas pampers usia 3 tahunan kok. Makanya saya mau bilang ke ibu-ibu sekalian, toilet training itu ngga usah dijadikan target anak atau projectnya ibu. Selambat-lambatnya ntar pas masuk sekolah kebanyakan bisa buang air di toilet dengan sendirinya.

Kalau bu ibu punya banyak waktu untuk ngajarin toilet training ke anaknya ya silahkan tapi jangan terbebani kalau belum berhasil. Bagi ibu-ibu yang ngga punya waktu khusus buat melatih anaknya, ya ngga apa juga, pelan-pelan saja, despacito ya bu ibu.

Nikmati aja masa-masa si anak masih mau pake pampers, karena artinya saat kita jalan-jalan ke mall atau kemana gitu ngga perlu repot ke toilet kalo anaknya mau pipis.

Saya sejak Tara bebas pampers, kadang pas di mall lagi asik belanja eh tiba-tiba doi minta pipis itu, rasanya maleees banget nganter dia ke toilet mana toiletnya jauh lagi, hadeeeeeh, makanya nikmati aja ngga usah dibawa stress apalagi banding-bandingin ke anak artis, wueleh.

Ingaaa ingaaa semua anak akan ke toilet pada waktunya.


Salam bahagia.




Mengasuh Anak Bukan Untuk Semua Orang ?

Wednesday, June 14, 2017
 

Curhat Alert.

Yes, kamu ngga salah baca judul.

Hampir semua orang mungkin berfikir bahwa yang namanya mengasuh anak itu adalah kodrat semua perempuan, semua ibu, sehingga harusnya semua perempuan bisa melakukannya dan ahli.

Mengasuh anak yang saya maksud disini adalah mengurus mereka mulai dari memandikan, memberi makan, makein baju, bermain seharian, menemani tidur, menemani belajar sampai menidurkan anak.

Kedengerannya yah memang seperti itu kan tugas seorang ibu, apa susahnya?

Tetot, ternyata itu memang susah saudara-saudara, dan ngga semua ibu memiliki keterampilan untuk mengurus anak dengan tangannya sendiri.

Silahkan bagi yang tidak setuju.

( Baca : Nitipin Anak sama ART? )

Ini berdasarkan pengalaman pribadi dan orang-orang di sekitar saya, bahwa yang namanya setiap orang itu memang memiliki skill berbeda-beda.

Tidak selalu seorang perempuan yang sudah menjadi ibu maka akan gape mengurus anak, memiliki skill mengurus anak ,sama halnya dengan tidak semua perempuan memiliki skill untuk bekerja di kantoran misalnya.

Tidak semua laki-laki yang menjadi bapak memiliki skill menjadi hero di rumah, memperbaiki genteng, nambal ban,  sama halnya tidak semua bapak memiliki skill memandikan anak, atau memasak di rumah.

Benar bahwa ala bisa karena terbiasa, namun memang ada hal-hal yang memang sudah dari sononya ngga bakat. kalaupun dipaksanakan hasilnya malah bakal berantakan.

Banyak banget ibu-ibu yang saat ngurus anaknya misalnya yah seharian di rumah, anaknya malah yang kejedutlah, anaknya malah susah makanlah, males mandilah (true story ), karena skill dia bukan untuk jadi ibu-ibu lembut nan penyabar dalam menghadapi anak, tapi bawaannya adalah sebagai magnet bagi anaknya buat nempel dan mendengarkan ceritanya. Ini biasanya kebanyakan adalah ibu bekerja.


Maka alih-alih memaksakan diri ngurus anak, ya mending berkarya di luar, anak diserahin ke tangan pengasuh untuk ngurusin tetek bengek kayak mandi, makan, makein baju. Giliran di rumah anak udah rapi, wangi, kenyang, si ibu tinggal quality time bersama anak sehingga waktu yang ada jadi berkualitas.

Karena bisa jadi untuk ibu-ibu yang tidak memiliki skill mengasuh anak dengan baik, maka yang ada saat bersama anak malah marah-marah, nyubitlah, bentak atau malah cuek. Nah saat tetek bengek pengasuhan diserahkan ke daycare, ke mba, pas saatnya si anak dipegang si ibu , malah dia bisa memberikan yang terbaik, fokus hanya ke anak saja.

( Baca : Antara Pekerjaan dan Keluarga )

Di keluarga saya, kami 4 bersaudara. Abang saya paling besar, dan dua adik saya. Nah kakak ipar dan adik saya yang bungsu memang skillnya itu merawat anak . Mereka telaten banget mengerjakan segala printilan pekerjaan rumah dan merawat anaknya. tapi disuruh berkarir di luar rumah, langsung angkat tangan angkat kaki, ngga sanggup katanya, wahahahah.

Sedangkan saya dan adik saya Dewi kebalikannya. Kami adalah si hard working. Seharian di kantor bisa on terus, giliran di suruh urus anak, kami belingsatan kayak cacing kremi.

Maka kalau ada pilihan disuruh ngerjain laporan segabruk atau urus anak sendirian di rumah kemungkinan besar kami bakal pilih ngerjain laporan or something like that deh.

Ibu saya juga demikian. Doi gape banget ngurus segala hal di kantornya, giliran jaga cucu, ambil bendera putih langsung, hahahahaha.

( Baca : Bagaimana Rasanya Menjadi Anak dari Ibu Bekerja ?)

Apakah ini salah?

Why? Kok bisa salah sih.

Ya nggalah. yaitu tadi sesuai judulnya, karena mengasuh anak itu bukan keterampilan yang dimiliki semua orang, dan kitalah yang tau kemampuan diri masing-masing.

Sama halnya dengan kemampuan memasak dan menulis, ya mengurus anak juga seperti itu.

Asma Nadia dulu pernah suatu hari mencoba memasak makanan kesukaan keluarga. Waktu yang dihabiskannya untuk memasak berapa jam coba? Kalau ngga salah hampir 3 jam sendiri. Saat suaminya mengetahui bahwa untuk memasak makanan keluarga istrinya perlu waktu selama itu, dia langsung komentar " Mending waktu 3 jam itu kamu gunakan untuk menulis"

( Baca : Mengapa Wanita Harus Bisa Masak? )

Iyes, karena memang potensi semua orang berbeda.

Jadi ya ngga perlu juga menyamaratakan keharusan keterampilan semua orang.

Kalau kalian melihat ada ibu-ibu yang ga gape ngurus anaknya, ya ngga usah nganggap si ibu itu ngga sayang anak. Beda, itu dua hal yang berbeda. Sayang anak dengan pintar mengurus anak bisa jadi memang tidak harus dimiliki oleh satu orang.

Pintar mengasuh anak dengan pintar mendidik anak juga merupakan dua hal yang berbeda lagi.

Ini sebenarnya mau curhat sih, kalau saya tuh sering banget kepikiran " OMG kenapa aku kok ga pinter gini ya ngurus anak?"

Kemudian suka tiba-tiba amaze sendiri " Hah kok Tara udah pinter ini itu, kok Divya udah bisa jalan di usia masih 10 bulan, kok Divya usia segini udah ngerti semua omongan saya"

Hal-hal seperti itu yang membuat saya mikir sendiri. " Aku ngapain aja yah mendidik mereka?"

Ternyata ya, mungkin bagi ibu-ibu yang punya pemikiran sama seperti saya ini, ada banyak hal-hal yang secara tidak sadar kita lakukan malah diserap anak kita. Kita merasa ga melakukan apa-apa, ngga merasa mendidik anak, tapi ternyata kita sudah melakukannya secara tidak sadar.

Kita mengucapkan maaf ke suami saat kita salah, bilang terima kasih ke mba, saat anak kita selesai dimandiin, cuci tangan sebelum makan, sikat gigi sebelum tidur,  atau sholat di depan anak, secara ngga sadar ya kita itu sedang mendidiknya. Mendidik dengan kebiasaan.

( Baca : Suami Nyebelin )

Maka sebenarnya yang ada bukan soal pintar ngga pintar mengasuh anak, atau ahli ngga ahli mendidik anak.

Yang ada itu, ada ibu yang secara sadar, passionate gitulah dalam mengurus anaknya, telaten, penyabar, lemah lembut seperti karakternya. Ada juga ibu-ibu yang memang lebih ahli mengerjakan hal-hal lain diluar mengurus anak, namun saat bersama anaknya secara sadar tidak sadar dia gunakan untuk mengajarkan value yang mungkin tidak didapat anak saat si ibu ngga ngurusnya secara langsung.


Menurt kalian gimana?






Mahalnya Mengasuh Anak

Tuesday, May 30, 2017



Dear para ortu millenial

Apakah kalian pernah berfikir bahwa memiliki anak itu ternyata biayanya muahal banget?.

Kalau iya, mari kita pelukan dulu, lol.

Dulu banget pas masih gadis, setiap denger ibu-ibu di kantor cerita soal uang susu, uang pampers, sampe uang imunisasi yang katanya bikin kantong panas, saya ngga percaya. Ngga percaya level,

"Hah masa sih, punya anak sampe segitunya, emang susu berapa sih, diapers berapa sih, dan imunisasi? bukannya gratis ya dipuskesmas?"

Iya, bu ibu, mungkin kalian juga seperti saya ya dulu. Namun ternyata saat sang jabang bayi hadir di rahim kita, hati ini bersorak bahagia. Dengan penuh sukacita langsung daftar ke dokter kandungan ternama seantereo kota tempat tinggal. Rasa bahagia yang membuncah sampai tidak bertanya lagi berapakah biaya konsul per kedatangan.

Dan wow, siapa yang mengira di masa kehamilan, uang lima ratus ribu itu cuma numpang lewat dompet doang. Periksa Torch sekian juta, USG sekian ratus ribu, beli vitamin ina inu, susu kehamilan biar sehat, plus pengen makan segala macem dengan alasan ngidam, tau-tau gaji sebulan sekedipan mata saja lewat di depan mata.

( Baca : Pilih-Pilih Dokter Kandungan )

Saat waktu kelahiran tiba  hati pun deg-degan tak karuan.

Memikirkan kesalamatan sang bayi sekaligus memikirkan biaya rumah sakit yang harus ditebus. " Ah ngga papa, diganti kantor ini", maka fasilitas kelas satu pun masih diupgrade ke VIP demi kenyamanan selama persalinan. Keluar rumah sakit dompet kembali kosong karena biaya selisih upgrade kamar ternyata bangke banget ya bu ibu, huhuhuhu.

( Baca : Perlengkapan Ibu Menjelang Persalinan )

Hari-hari menjadi ibu pun dimulai.

Anak sekecil mungil begitu siapa sangka printilannya sungguhlah bikin saldo tabungan terkena virus wannacry selalu.

Melihat baju lucu-lucu, segala sepatu, kaos kaki, topi harus matching head to toe hanya untuk kepuasan batin mama baru yang berpotensi baby blues. Ada feed instagram yang sudah ready untuk diserbu foto unyu-unyu bayi.

( Baca : Serba-Serbi Perlengkapan bayi baru Lahir )

Oh siapa sangka diapers yang dulu kata orang bisa membuat kantong panas ternyata juga berimbas membuatnya menjadi kering.

Satu pack diapers hanya bisa bertahan dalam tujuh hari saja, membuat mata kita begitu awas setiap ada kata PROMO di rak diapers dan di lembar  koran di akhir minggu. Yup harapan satu-satunya untuk membuat kantong yang kering ngga berlanjut jadi kerontang.



Dear orangtua millenial

Mengasuh anak sungguhlah mahal

Pernahkan kalian berfikir bahwa ada masanya tissue basah menjadi barang yang akan kalian pedulikan ketersediannya di rumah. Dan sepanjang setahun dua tahun ke depan, tasmu yang bagus itu isinya tak lebih dari 3 T, tissue, telon dan termos dan 2 D diapers, dodot, serta baju bayi, maksa.. biarin.

( Baca : Membawa Bayi Ke Mall )

Apakah hanya sampai disitu?

Eits tunggu dulu. Itu baru permulaan

Dengan begitu banyak ilmu parenting yang didapat, semua ingin yang terbaik untuk si buah hati.

Demi ASI eksklusive maka ibu perlu perangkat pendukung yang mumpuni. Breast pump jutaan rupiah masuk keranjang belanja, jangan lupa cooler bag, apron menyusui, sterilizer . dan tentu saja botol warna warni yang sungguhlah tak semurah kelihatannya.

( Baca : Pilih-Pilih Breastpump )

Huuft, tarik nafas dulu bu pak, perjalanan masih panjang.



Kau takkan mungkin melewatkan jadwal imunisasi yang harus didapatnya kan?

Ini semua demi kekebalan tubuhnya.

Haaah imunisasi  di puskesmas?

Tidak, kau selalu ingin memberi yang terbaik. Hatimu resah kalau kesayanganmu harus demam setelah imunisasi, maka dokter spesialis pun kembali rutin kau jambangi setiap bulan.

Kakimu mungkin sedikit berat setiap melangkah menuju kasir. Kesehatan mahal kan ya?

( Baca : Pilih-Pilih Dokter Anak )


Tapi perjuangan belum berakhir

Begitu si kecil mulai bisa makan, peralatan mpasi ala ibu-ibu pinterest menari-nari di timelinemu. Duh, anakku pasti akan lebih semangat makannya dengan aneka piring dan sendok bergambar Hello Kitty, Sofia, Doraemon, Cars, or Thomas.

Menu Mpasi?

Tentu saja yang bergizi tinggi. Omega 3 omega 6 harus tercukupi, mana itu ikan salmon, dori, hati ayam, alpukat, segala biskuit Heinz dkk.

( Baca : Makanan Instan Anak, Yay or nay ?)

Jangan lupa masih ada segabruk support tools yang tentu akan mempermudah segalanya.

Si kecil butuh tempat untuk duduk-duduk manis begoyang dikala sore, bouncher unyu is a must.

Mau pergi jalan-jalan gimana?

Harus beli car seat biar anaknya anteng di dalam mobil, stroller demi bahu dan punggung aman dari pegal, dan tentu saja carrier biar bonding antara ibu dan anak makin dekat. Semua itu duh ngga akan kebayang harganya. Puk puk kantong pak suami.

( Baca : Pilih-Pilih Gendongan Bayi )

Berakhir?

No

Ibarat komputer , ini kita masih ngomongin hardware, belum ke software.

Anak tersayang kita tumbuh menggemaskan, sudah saatnya ia berinteraksi dengan lingkungan luar. Maka saatnya pengeluaran sesungguhnya dimulai.

APAAAAA? YANG TADI MASIH BOONGAN?

Iya, becanda kamu ah. Itu mah masih remah-remah.

( Baca : Ekspektasi vs Kenyataan Setelah Jadi Ibu )

Biaya sekolah mulai jadi alokasi yang memakan anggaran rumah tangga. Mulai dari playgroup, TK dan seterusnya yang harus sudah dipikirkan dari sekarang. karena biaya pendidikan ngga murah sis, nyiapin harus dari bayi, biar tujuan tercapai #goals.

Dilema melanda antara beli skin care atau buku edukasi, buku dongeng, ensiklopedia, buku sibuk, buku sticker, crayon, ya ampuuun itu kenapa unyu-unyu gitu kok harganya bikin nangis.T___________T.

Eh iya, si kecil sekarang sudah bisa main sama anak lain, sepeda mana sepeda, dia butuh sepeda, butuh diajak ke kebun binatang, mandi di kolam renang, field trip ke kebun sayur, dan cencu saja ulang tahun ala pinterst. Blah.

( Baca : 6 Tips Praktis Merayakan Ulang Tahun Anak )



Dan semuanya itu belum termasuk daycare dan gaji mba di rumah.

Mamaaaaaaaaa..........................................

Sanggupkah kita?

Cukupkah gaji kita?


Dear orangtua millenial

Ada masanya kelak, kau akan lebih sering mampir ke toko bayi dibanding ngopi di kafe kesayanganmu. Toko bayi seolah menjadi rumah keduamu. Bersabarlah, toko bayi juga asik lho jadi tempat hang out.

( Baca : 10 Merk Baju Bayi Bagus dengan Harga Terjangkau )

Ada masanya, saat sepatu putih bunga-bunga tak bisa hilang dari ingatan, kau harus menguatkan diri untuk tidak kembali hanya untuk melihatnya dipakai di kaki orang lain, ingat ada dana darurat yang mesti tercapai check pointnya agar hati ini tenang, saat kejadian terburuk mungkin melanda keluarga.

Ada masanya kau harus menahan hasrat membeli tas lucu yang memanggil-manggil di departement store, ingat ada biaya pendidikan yang harus kita penuhi. Ini demi cita-cita agar si kesayangan mendapat pendidikan terbaik kelak.

( Baca : Mengelola Keuangan Ala Ibu Bekerja )

Bersabarlah

Dear orangtua millenial

Memiliki anak memang  membuat pengeluaran kita seribu kali lebih banyak dibanding saat single dahulu.

Mungkin kita akan kaget, penambahan satu anggota keluarga tapi kebutuhannya kok melebihi kebutuhan kita dan pasangan.

Iyes, memang seperti itu kenyataannya.

Tapi yakinlah, kebahagiaan yang menyertai kehadirannya, senyum lucunya, wangi nafasnya dan bahkan bau pesingnya pun tak sanggup digantikan oleh lembaran rupiah yang mungkin keluar tak terbendung.

Karena itu para orangtua millenials, nikmati saja saat ini, nikmati setiap momen yang mungkin dalam pikiranmu terbersit " Gila, ini mau merawat anak atau merawat mobil sih, kok banyak amat biayanya"

Bersyukurlah atas kehadirannya. Jangan galau kalau tak bisa memenuhi hasrat sesuai ekspektasi merawat bayi ala ibu-ibu millenilas,lho apa inih kok ngga nyambung.

Bersyukurlah atas kesempatan berpusing ria memikirkan biayanya, karena banyak di luar sana orangtua yang dengan senang hati ingin menggantikan posisi kita jika memang bisa dilakukan .

( Baca : Saat Si Buah Hati tak Kunjung Hadir )

Jalani saja, percaya kita sanggup memenuhinya. Lagian ngga semua yang saya sebut diatas harus dipenuhi atau dibeli kok, hahahaha.

Karena setiap anak lahir dengan membawa rezekinya masing-masing yang dititipkan melalui tangan kita orangtuanya.

Yuk mari pelukan dulu, kita bisa kita pasti bisa.



Oya fren, saya suka cerita juga lho di Instagram . Jangan lupa Follow Intagram saya yaaah @winditeguh



Custom Post Signature