Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Tentang Mengatakan Boleh Pada Anak

Wednesday, May 10, 2017
[Sponsored Post] Ngga Khawatir Lagi Mengatakan “ Iya Boleh”



Ibu-ibu disini siapa ya yang suka larang-larang anaknya. Pokoknya bawaan kita ketakutaaan aja.

" Jangan lari-lari"
" Jangan manjat-manjat
" Jangan naik sepeda"
“ Jangan kesitu”
“ Jangan pegang itu”

BAHAYA.

Hehehe sounds familiar?

Kadang sebagai ibu, kita suka banget khawatiran ya sama keselamatan anak kecil. Kita suka mikir kalau lingkungan di luaran sana bahaya banget bagi anak kita.

Kita larang dia berlari, karena khawatir dia jatuh.

Kita larang dia megang binatang, karena kita takut ia tertular penyakit.

Kita bahkan khawatir kalau dia bermain di luar rumah, dia bakal terpapar kuman penyebab penyakit.

Duh, sebenarnya kita ini orangtua atau polisi sih, kok melarang-larang aja kerjanya ,LOL.



Padahal namanya anak-anak  ya masanya itu memang masa bermain, lari-lari, lompat-lompat , main kotor, karena itulah dunianya. Ia suka mencoba hal baru, dan suka mengkesplor apa yang ada di dekatnya. Pada usia tersebut dia lagi penasaran akan segala yang bisa dilihat, disentuh bahkan yang diciumnya. Makanya biasanya semakin kita larang semakin penasaran dia.

Mungkin sebagai orangtua kita perlu tahu, bahwa terlalu banyak larangan pada anak akan membawa beberapa pengaruh negative. Ini nih diantaranya :

1. Terganggu Tumbuh Kembangnya

Kenapa?

Karena anak selalu dilarang bereksplorasi dengan lingkungannya, akibatnya ia akan menganggap bahwa lingkungannya tidak aman. Ia jadi penakut saat hendak mengeksplorasi benda atau barang di sekelilingnya.

Itu secara mental.


2. Kurang Kreatif

Iyes, anak yang terlalu sering dilarang ina inu, bakal jadi anak yang kurang kreatif.  Karena saat ia diberi kebebasan melakukan sesuatu dan mengeksplor dunianya sebenarnya ia sedang diberi kebebasan untuk berfikir dan mengambil keputusan. Ntar pas gede dia bakal apa-apa melihat contoh dulu, ngga bisa melakukan atau berimajinasi sendiri.

Ini biasanya terjadi pada anak-anak dengan orangtua over protective.

Misal nih, saat main panjat-panjatan. Pasti di awalnya ia akan kesulitan mencapai tempat yang tinggi. Namun karena sebagai ortu kita membiarkannya, tentu saja dengan pengawasan, ia bakal menemukan cara agar bisa mencapai tempat yang ingin dipanjatnya. Nah ini contoh bahwa membiarkan anak melakukan sesuatu bakal mengasah kreativitasnya.





3. Kurang Inspiratif

Karena selalu dilarang, maka besok-besok anak kita kurang punya dorongan untuk bertindak sendiri. Apa-apa harus tunggu diperintah , tidak ada inisitaif dari diri sendiri.



4. Susah Beradaptasi

Yup, problema berikutnya adalah susah beradaptasi, karena ya gimana, wong kurang belajar dari lingkungan. Karena lingkungan adalah sebaik-balik pelatihan beradaptasi. Soalnya saat ia berinteraksi dengan anak lain, bermain di udara terbuka, maka saat itu juga ia belajar beradaptasi dengan segala jenis orang, dan segala jenis keadaan.


5. Kurang Percaya Diri

Karena apa-apa dilarang, jadi dia jadi takut berbuat salah. Takut salah akhirnya jadi ngga pede, karena khawatir orang juga akan melarang kalau ia melakukan sesuatu.




6. Prestasi Akademik Rendah

Beberapa kemampuan dan kelebihannya menjadi terkubur karena selalu dilarang. Karena ia tidak diberi kesempatan trial and error, learning by doing, maka ia juga jadi takut mencoba hal baru.

Akibatnya kemampuan analisanya terhadap sesuatu juga rendah. Ia akan sulit mencari alternative lain dari setiap permasalahan, sehingga ya berkorelasi juga dengan prestasi akademik.


7. Daya tahan Tubuh Rendah

Secara fisik, anak juga bakal lebih ringkih, karena sedari kecil sangat steril dengan pengaruh luar, sehingga ntar pas gede kena debu aja langsung sakit, kena cahaya matahari langsung pusing, haduh.


Trus gimana nih kita sebagai orangtua, apa yang bisa kita lakukan?

Kalau saya pribadi memang tidak membiasakan melarang Tara menikmati dunianya. Dia boleh lari, lompat, manjat, pegang binatang, tapi tentu tetap saya awasi. Karena gimanapun juga mereka kan masih anak-anak yang kadang tidak tahu mana yang berbahaya mana yang tidak.

Namun, ya kasih saja kesempatan dia mencoba dan merasakan serta mengalami sendiri konsekuensi setiap tindakannya.

Misal, dia minta main panjat-panjatan, ya ngga usah dilarang, bolehkan saja, namun kasih tahu supaya hati-hati karena kalau tidak hati-hati bisa jatuh, kalau jatuh bisa luka, dan bisa sakit.

Jadi kita membolehkan, namun beritahu juga konsekuensinya. Jadi anak akan lebih berhati-hati.

Saat mungkin dia jatuh, atau terbentur, dia bakal belajar, Oh kalau manjat tangga ngga pegangan bisa jatuh, “ Oh kalau naik sepeda kencang-kencang bisa jatuh.

Hobinya main sepeda


Sehingga ke depannya, kalau ia melakukan lagi, ia sudah tahu dimana titik-titik bahaya yang harus dihindari dan juga bisa mensiasati biar ngga jatuh lagi, biar ngga kepeleset lagi misalnya.

Atau misal lagi nih soal dispenser.

Tara penasaran banget sama dispenser, pengen mencet-mencet. Pas dulu masih kecil banget, daripada saya jantungan setiap dia deketin dispenser, akhirnya saya gantilah dispensernya jadi model pencetan di atas, sehingga dia ga akan sampai menjangkaunya.

Sekarang dia udah gede, udah lebih tinggi, dah pinter narik kursi untuk mencet dispenser. Nah alih-alih melarang, saya malah kasih contoh dan pengertian aja langsung.

" Tara, Tara boleh ambil minum sendiri tapi yang warna red ini kalau mau pencet harus sama bunda ya, karena ini air panas, sakit kalau kena tangan, nih coba Tara pegang"

Jadi saya taruh tuh air panas ke cangkir, saya senggolkan dikit ke tangannya. Taranya langsung bilang 

" Panas bundaaa".

" Iya panas, makanya sama bunda ya"

Jadi, saya ngga larang dia, saya hanya kasih alasan kalau dia melakukan ini maka akibatnya itu.

Kalau seperti itu dia jadi ngga parnoan sama lingkungan, tapi malah selalu nanya ke kita, dan berfikir bahwa ini boleh ini ngga boleh dengan melihat sebab akibat.

Bu ibu jangan remehin kemampuan anak-anak kita lho, logika mereka itu luar biasa.
Saya percaya kalau anak dibiarkan berekspresi, dia akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri, anak yang  berani dan cinta lingkungan.


Nutrisi Perlindungan Diri

Nah tapi tentu saja, saya berani membolehkan Tara main sesukanya di luar ya ngga asal bilang boleh saja, setidaknya saya yakin kalau ia terlindungi dari kuman penyebab penyakit.

Soal perlindungan, saya sudah membekalinya dengan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.

Karena Tara usianya sudah menjelang 4 tahun, maka saya kasih dia susu pertumbuhan yang mengandung zat untuk melindungi saluran cernanya.

Favorit Tara sih susu Dancow.

Soalnya susu Dancow warnanya kuning, cerah ceria yang bikin Tara semangat minum susu.

Apalagi saat ini Dancow memiliki produk terbaru yaitu Dancow Advance Execelnutri+.

Kelebihannya yaitu memiliki lebih dari 3x kandungan Lactobacillus Rhamnosus. Bakteri inilah yang fungsinya untuk melindungi saluran cerna.

Kenapa?

Karena kalau saluran cerna anak kita baik, maka berpengaruh terhadap daya tahan tubuhnya, soalnya 80% daya tahan tubuh kan terdapat pada kesehatan saluran cerna.

Saya sadar sih, kalau perlindungan tubuh merupakan pondasi utama untuk mendukung pertumbuhan fisik dan proses belajar anak, makanya menurut saya penting banget, kita sebagai orangtua aware terhadap kesehatan saluran cerna anak kita.

Kalau sudah terlindungi begitu, makanya saya tidak ragu mengatakan “ Iya boleh” kalau Tara minta ijin main di luar atau melakukan sesuatu yang baru.




Kalau bunda-bunda disini punya cerita ngga, soal mengatakan kata " Jangan" pada anaknya. Berani ngga nih bilang “ Iya Boleh” kalau anaknya minta main di luar, di alam bebas, hayooooo, sharing ya.

Sex Education Untuk Anak, Perlukah?

Thursday, February 23, 2017
Sex education untuk anak, perlukah?



Kalau pertanyaan ini diajukan kepada orangtua manapun saat ini,pastilah jawabannya beragam.

Ada yang akan langsung menjawab perlu, dan saya yakin pasti masih ada yang menjawab tidak perlu.

Yang menjawab tidak perlu, kebanyakan adalah orangtua yang masih menganggap sex adalah sebuah hal yang tabu dibicarakan.

Ngisinin, malu,rikuh, ngga enak.

Padahal, yang namanya sex itu kan sesuatu yang alamiah pada manusia, jadi seharusnya ngga perlu malu membicarakannya, jika dalam koridor dan tujuan yang tepat.

Apalagi belakangan, kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual pada anak semakin sering terjadi, hiii bikin parnoan. Apalagi saya, yang punya dua orang anak perempuan. Eh tapi ngga hanya anak perempuan sih, anak laki-laki juga sama saja perlakuannya.



Jujur saja, saya sempat kecolongan dalam memberikan sex education kepada Tara. Walau sudah sering membaca soal sex education, saya sempat berfikir " Ah nanti sajalah, sebentar lagi, belum saatnya".

Sampai entah gimana, suatu hari (auuuuuu, udah kayak dongeng belum nih), waktu saya menemani Tara bobo sambil minum susu (Tara minum susu sambil tiduran), saya lihat tangan kiri Tara dimasukin ke celananya.

Jadi tangan kanan pegang botol susu, tangan kiri dimasukin celana. Saya ngga kaget sih, soalnya sebelumnya kan saya sudah punya ponakan dan pernah melihat hal yang sama. Sambil sayang-sayang Tara, langsung saya bilang " Tara, tangannya ngga boleh dimasukin ke celana, kotor ya".

Eh ternyata Taranya marah. Setiap saya keluarin tangganya, langsung ditepisnya. " Bundaaaaaa....... Tara mau pegang", saya ambil tangannya, gitu lagi. Duh T________T.


Ternyata kata ART saya, Tara memang udah sering begitu.

Pernah juga pas pipis, saya melihat Tara ketawa-ketawa sendiri. Saya pikir dia lagi ngapain ternyata sambil cebok dia pegang-pegang kemaluannya dan merasa geli sendiri.

Nah, disitulah saya langsung dhueng gitu " Ah iya ternyata aku belum pernah ngasih edukasi ke Tara soal sex) huhuhu.




Nah, bagi ibu-ibu yang pernah mengalami hal serupa, yaitu melihat anaknya memegang kemaluannya, atau menggesek-gesek kemaluannya, atau malah memegang kemaluan temannya, ngga usah cemas, ngga usah malu dan ngga usah khawatir ya bu.

Ternyata, memang pada anak, ada yang tahapan psikologi yang memang wajar terjadi.

Kebetulan, saya punya seorang teman kantor yang istrinya adalah penggiat di dunia anak, namanya mba Fadhila Wulandari. Kemarin, saya dapat edukasi penting nih dari si mba Wulan soal tahapan psikoseksual anak ini. Saya bagi sekalian disini biar banyak yang tahu.

Jadi, mba Wulan mengatakan bahwa tahapan psikologi anak ini, menurut Sigmund Freud dinamakan tahapan psikoseksual. Ketika anak yang sedang mengalami fase ini, namun terlewat tanpa arahan maka akan berpengaruh pada terbentuknya perilaku anak ketika mereka telah dewasa 😢

Oleh karena itu penting sekali bagi orangtua untuk memahami tahap perkembangan psikoseksual anak sehingga kita bisa melakukan upaya penguatan pijakan kepada mereka sehingga mampu menghantarkan setiap fase tersebut dengan tepat dan tuntas 😍💪

Nah tahapan psikoseksual menurut Sigmud Freud ada beberapa fase :

1. Fase oral 

Ini adalah tahap pertama yang dimulai sejak anak dilahirkan hingga sekitar usia 1 tahun. Anak pada usia ini berfokus pada mulut untuk mendapatkan rasa nikmat. 

Freud menyebutnya sebagai kenikmatan seksual (Freud mengartikan seksual secara luas). Ketika anak memasukkan benda (mainan, jari jemari, dll) kedalam mulut, maka seluruh organ oral terlibat dalam mewujudkan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh anak 👨‍👨‍👧‍👧👩‍👩‍👧‍👦🍼

Menyusui merupakan salah satu fase untuk pemenuhan fase pertama ini. Maka aktifitas menyusui hingga 2 tahun memberikan efek psikologis yang besar kepada anak. Salah satunya ketika sang anak telah dewasa, kelak ia memiliki konsep diri yang baik 👍🏻

2. Fase anal 

Berlangsung kurang lebih antara umur 1-3 tahun. Fase ini bersamaan dengan latihan penggunaan toilet (toilet training). Latihan ini secara lebih luas, bisa diartikan latihan untuk mengendalikan pengeluaran dari kandung kemih dan isi perut. Pada fase ini, orientasi kenikmatan (seksual) berada pada area anal (anus).

Mengeluarkan feses dari anus adalah hal yang membanggakan. Anak merasakan sedang berproduksi, menghasilkan sesuatu dari dalam dirinya. Bahkan prosesnya adalah sebuah kenikmatan, yaitu ketika feses bergerak melalui saluran. Ketika orang dewasa menghendaki anak mengeluarkan kotoran pada saat dan tempat yang tepat (toilet training), menahannya juga menjadi kenikmatan bagi anak, karena memenuhi harapan orang dewasa di sekitarnya 😊😇

Di fase ini, pembiasaan toilet training (tidak dibiasakan memakai diapers sehari2) di usia yang tepat, akan berpengaruh pada kemampuan pengendalian dirinya 👍🏻

3. Fase Pahllic.

Berlangsung antara usia 3-5 tahun. Di tahap ini, anak mulai menggeser area kenikmatan seksualnya pada alat kelaminnya. Anak mulai bisa menikmati sentuhan (rangsangan) pada alat kelaminnya. Yang khas dari tahap ini adalah terjadinya oedipus komplex, yaitu fase dimana anak laki-laki begitu mencintai ibunya dan merasa bahwa ayahnya adalah saingan😀😊

Pada tahap ini pula Freud menjelaskan konsepnya tentang penis envy, yaitu rasa iri anak perempuan atas kepemilikan penis anak lelaki. Maka ada kasus yg ditemukan (di sekolah saat toilet training) seorang anak perempuan yang berusaha menyentuh penis anak laki2. Kemudian diberikan penguatan pijakan tentang konsep diri terkait ciri-ciri gender dan stereotype yang melekat 😎

4. Fase Latensi

Tahap latent terjadi saat hasrat oedipal ditekan dan mereda. Ini terjadi sampai masa pubertas. Sebenarnya, penelitian membuktikan bahwa hasrat seksual justru meningkat sampai puncaknya pada masa pubertas. Maka pada masa ini, perlu pendampingam intensif dari ortu untuk menyiapkan pijakan ketika menstruasi bagi perempuan dan mimpi basah bagi laki - laki

5. Tahap Genital

Tahap terakhir dari perkembangan psikoseksual adalah fase genital, yang terjadi sejak pubertas. Fase Oedipus tidak lagi ditekan, tetapi sudah selesai pada fase ini. Bentuk penyelesaiannya adalah penyempurnaan objek pemuas dorongan seksual, yaitu melalui hubungan seksual dengan lawan jenis


Pyuuuuh, tuh kan, ternyata fase memegang kemaluan di anak itu memang ada.

Nah, masih menurut mba Wulan nih, ada hal-hal preventif yang bisa dilakukan orangtua agar setiap tahapan psikoseksual ini bisa terlewati dengan baik.

1. Memahami tahapan psikoseksual untuk bekal penguatan pijakan sesuai tahapan perilakunya. Sehingga kita bisa memberikan respon yang tepat jika hal tersebut dialami oleh anak kita 👍🏻

2. Menggunakan buku sebagai media pendukung pembelajaran. 

Mungkin untuk saat ini belum banyak buku sex education. Nah untuk buku, orangtua harus mendampingi anak saat membacanya, biar tidak salah pengertian.

Jangan asal marah dengan buku yang beredar,  karena harusnya ya orangtua aware juga terhadap apa yang dibaca anaknya.  Temanin kalau bisa malah,  saat anak membaca.

3. Ketika kita melihat indikasi anak melakukan perilaku yang memasuki tahapan psikoseksual. Maka kita berikan pernyataan tidak langsung sesuai fakta tentang apa yg kita lihat  ☺😎

(Contoh : "Bunda melihat, ada yang menggesekkan alat kelamin" "Adik sedang apa? Apa yang dirasakan?" Berikan respon yang wajar, sehingga bisa terjalin komunikasi dua arah antara orang tua dengan anak. Bereaksi marah menghambat anak mendapatkan arahan yang tepat terkait perilaku tersebut 👍🏻

Ketika bisa berkomunikasi dua arah lanjutkan dengan memberikan pijakan logis tentang sebab akibat perilaku tersebut ditinjau dari kesehatan


Begitu ya bu ibu, jadi jangan langsung panik-panik ngga menentu kalau melihat anaknya sampai di tiap fase psikoseksualnya itu.

Balik maning ke pengalaman pribadi. Dulu Tara itu saya dapati suka memegang kemaluannya di usia 2 tahunan, masih kecil banget kan. Tapi ngga apa, walau masih kecil gitu, anak-anak sudah bisa kok diberitahu.

Ada beberapa hal yang saya lakukan dalam hal memberi sex education kepada Tara, dan mudah-mudahan Tara bisa nangkepnya.

Memberi Tahu Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan

Kirain gampang, ternyata agak susah, hahahaha.

Jadi Tara saya beritahu perbedaan laki-laki dan perempuan dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Caranya ngga gimana-gimana sih. Misal saat Tara mau sekolah, kan Tara pakai jilbab, jadi saya bilangin, " Tara pakai jilbabnya, anak perempuan pakai jilbab dulu ya"

Trus dia bakal nanya " Puan puan itu apa bunda" xixixi

Ya udah jelasin aja sekalian. "Perempuan itu kayak bunda, kayak tante, kayak oma, adek Divya, kalau papa itu laki-laki"

Trus Taranya bingung, malah lanjut nanya.

"Ibu guru bunda"
"Ibu guru perempuan"
"Oma"
"Oma perempuan"
"Pak satpam"
"Pak satpam laki-laki"

Gituuu terus sampe habis semua yang dikenalnya. Tapi gitu saya yang balik nanya, eh ketuker ketuker T_____T.

Ngga apa, lakukan aja terus sambil dikasih tau bedanya perempuan sama laki-laki.

" Bunda, bunda pakai ini ya"( Tara nunjuk-nunjuk bra saya di lemari)
"Iya, soalnya bunda perempuan jadi pakai beha,kalau papa ngga karena papa laki-laki"

" Bunda pakai itip ya (lipstik)"
" Iya, kan bundanya mau cantik, karena bunda perempuan, kalau papa ngga pake lipstik, karena papa laki-laki"

"Karena papa ganteng ya bundaaa"



Hal-hal seperti itulah.

Kayak kalau sholat bunda dan Tara pakai mukena, papa pakai peci.

Tara ngga boleh mandi sama papa, karena Tara perempuan papa laki-laki.

Saya belum bisa memastikan apakah Tara mengerti benar dengan apa yang saya bilang, tapi paling tidak dia udah bisa nyimpulin satu hal.

" Bunda kalau abang-abang itu laki-laki ya, kalau kakak kakak itu perempuan" xixixixi.


Memberi Tahu Area Tubuh Mana Yang Tidak Boleh Disentuh

Yup, kita bisa lho mengajarkan ke anak bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang. Kalau di saya, saya melakukanya di saat-saat saya bisa nunjukin bagian tubuh Tara dengan jelas.

Saat apakah itu?

Yak benar. Saat mandi.

Sampai sekarang Tara masih suka mandi bersama saya. Jadi ya udah sekalian mandi saya kasih

Saat mandi, sekalian saya kasih tahu mana bagian-bagian tubuh yang ngga boleh dipegang oleh orang lain selain saya.

Bagian dada, perut dan daerah seputar celana.

Biar gampang dicerna anak, sebelumnya saat mau bobo gitu saya kasih Tara nonton video edukasi sex untuk anak ini. Video ini lumayan jadi favorit Tara selain Upin Ipin, soalnya bahasanya mudah dimengerti anak-anak.

Tonton ya





Memberi Tahu Bahwa Dia Tidak Boleh Disentuh oleh Orang Asing

Abis nonton videonya, saya tanya lagi soal isi video. Tara suka banget nih permainan tanya jawab begini.

Saya : " Tara, Tara ngga boleh ya dicium atau dipegang-pegang sama sembarangan orang"
Tara : " Iya bunda"
Saya : " Kalau dicium satpam boleh ngga"
Tara : " Ngga boleeeh"
Saya : " Tukang becak?"
Tara : " Ngga boleh"
Saya : " Bapak satpam?"
Tara : " Ngga boleh"
Saya : " Abang gojek"
Tara : " Ngga boleh"
Saya : " Kalau ada yang pegang Tara, tara harus ngapain?"
Tara : " Teriak, jangaaaaaaan, tidak boleeeeeh"

Persis deh kayak anak yang teriak di video itu

Taranya ngerti ngga?

Sepertinya sih ngga terlalu ngerti, tapi karena sering diulang-ulang, saya berharapnya dia inget.


Mengajarkan Rasa Malu

Ini saya lakukan misal kalau dari kamar mandi abis mandi harus pakai handuk ke kamar. Handuknya dililit dari dada sampai mata kaki. Taranya sih seneng banget, dia suka karena berasa orang dewasa.

Kadang Taranya masih suka juga sih lari aja dari kamar mandi langsung ke kamar, saya bilangin aja " Ih malu ih Tara, masa telanjang-telanjang, malu ih"

Lama-lama dia malah minta handuk sendiri, kalau handuknya ga ada kadang ga mau keluar dari kamar mandi. Tapinya kadang dia lupa juga.


Pokoke ngga pantang menyerah deh memberi sex education ke anak.

Hal-hal itu sifatnya memang hanya preventif tapi penting dilakukan. Nah ntar kalau anaknya udah lebih gede bisa dijelaskan sekalian alasan logisnya.

Kalau di usia Tara ini palingan saat dia pegang-pegang kemaluan , saya melarangnya dengan  alasan kotor, bau, kalau udah gedean dikit bisa dijelaskan dari segi kesehatan.

Jangan memberi alasan "Tidak boleh, pokoknya tidak boleh"

Wah anaknya malah makin penasaran ntar. Kok ga boleh sih, kok dilarang sih.

POKOKNYA TIDAK BOLEH.

Karena mereka berhak tau kenapa sesuatu itu dilarang, biar tidak mengulanginya lagi dengan sukarela.

Intinya, sebagai orangtua kita harus tahu tahap-tahap perkembangan anak termasuk tahapan soal psikoseksualnya, biar kita bisa mempersiapkan juga reaksi kita kalau menemukan anak kita yang udah mulai penasaran dengan alat kelaminnya. Jangan malu atau merasa awkward membicarakannya.

Kenapa?

Ya karena kalau ngga dari kita,  dia bakal dapat informasinya dari luar,  dari temannya,  dari tivi.  Iya kalau bener,  kalau aneh-aneh gimana.

Kayak jaman kita dululah,  saya ngga pernah dapat pendidikan sex.  Saya tau istilah masturbasi aja dari teman.  Bukan dari buku pelajaran.

Makanya dulu penasarannya kayak apa sama yang namanya sex.

Makanya saya ngga mau anak saya ngga tau apa-apa kayak saya dulu trus mencari tau dari teman,  dari novel (((NOVEL))) . Pembaca Fredy S  mana suaranyaaaaa, xixixux.

Pokoke saya pengennya anak saya ngga merasa sex itu sesuatu yang tabu, tapi juga ga menganggap itu boleh dilakykan sembarangan. Dari hal-hal kecil yang diajarkan sedari dini semoga malah bisa lebih mengontrol keingintahuannya.

Respon dan arahan yang tepat, mudah-mudahan bisa memberi pemahaman yang baik bagi anak, dan menghindarinya dari perilaku seksual yang menyimpang serta melindunginya dari kekerasan dan pelecehan seksual.



Nah gimana nih, sudahkah kita memberi sex education kepada anak?, Menurut ibu-ibu disini perlu ngga sex education ke anak?, cerita dong gimana cara kalian memberi sex education ke anaknya.

Orangtua vs Kakek Nenek

Wednesday, February 8, 2017
Orangtua vs Kakek Nenek



Kalau kalian pikir kita sebagai orangtua adalah orang yang paling menyayangi anak-anak kita, kalian pasti salah besar.

Kenapa?

Karena, dibanding kita, kakek nenek adalah orang yang jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih sayang sama anak-anak kita, wahahaha.



Bener ngga?

Nanti saya kasih tau jawabannya.

Hari ini mau ngomongin soal orangtua vs kakek nenek.

Baca Punya Gesi :



Bagi kebanyakan orangtua jaman sekarang, apalagi yang suami istri bekerja, kehadiran orangtua dalam membantu menjaga anak tentu menjadi semacam penyelamat kehidupan.

Iyalah, hari gini, ninggalin anak sama ART aja bagi sebagian adalah hal yang horor dan ngga masuk akal. Kecuali saya tentunya.

Kenapa?

Karena bagi saya yah kondisinya memang ngga memungkinkan sih anak dititipin ke orangtua. Pertama karena jauh, kedua karena ibu saya bekerja, ketiga karena saya juga ngga mau. Keempat,  karena ibu saya juga ga mau jaga anak-anak saya.

( Baca : Nitipin Anak Sama ART? Ibu Macam Apa Kamu?)


" Pokoknya mama ngga mau ya ntar masa tua mama harus urus anak-anak kalian"

Duh itu ibu saya bilangnya saat saya masih gadis lho, LoL.

Bagi saya sih sah-sah aja ibu saya ngomong gitu.  Karena sebagai anak , saya juga ga pernah kepikiran buat nitipin anak-anak saya sama kakek neneknya.

Bukannya ga percaya atau gimana,  tapi biarlah mereka kalau sama cucunya yang bagian main cilukba aja.

Disclaimer,  bagi saya orangtua memutuskan mau nitipin anak sama kakek neneknya atau sama nanny atau ke daycare,  pastiah sudah dengan pertimbangan masing-masing. Jadi ga masalah samsek.


Nah sama dengan ortu yang mengalami kegalauan saat nitipin anak ke nanny or daycare,  orangtua yang menitipkan anak ke kakek nenek juga terkadang mengalami dilema ya bu ibu.

Soalnya banyak kejadian, pola asuh yang udah capek-capek diterapkan orangtua ke anak, eh bisa berantakan gitu si anak ketemu kakek neneknya.



Ini sih saya denger dari curhatan temen-temen, karena saya ngga mengalami langsung. Kakek neneknya Tara dua-duanya kerja sih, jadi palingan omanya Tara sekali-sekali doang ketemu sama cucunya, jadi ngga sampai yang intervensi gitu dalam hal mendidik dan pola pengasuhan anak.

Tapi tetap ya kadang saya suka yang bertentangan gitu dengan omanya Tara, karena ada beberapa hal dalam mengurus anak yang kami ngga bisa mencapai kata sepakat. Bedaaaa aja gitu.

Ya wajarlah ya, namanya juga oma-oma, pasti merasa pengalaman hidupnya lebih banyak jadi menganggap kita ngga tau apa-apa.

Sebaliknya, bagi kita orangtua masa kini, merasa ilmu pengetahuan kita lebih mumpuni dibanding ibu kita. ya dhalah sampai kapan ngga akan ketemu, bisa ribut terus, xixixi.

Beberapa hal yang biasanya bertentangan nih kalau di saya :

Mitos vs Fakta

Jadi ibu saya tuh dalam beberapa hal masih agak-agak suka menghubungkan sesuatu ke mitos, kalau sama saya ya ngga masuk akallah.

Misal saat Tara lahir, di usia 40 hari, sama ibu, Tara dipasangin semacam benang-benang gitu di kepala, di perut sama di pegelangan tangan dan kaki. yang masang sih bukan ibu saya, tapi tukang pijet langganan ibu. Kataya biar anaknya ngga diganggu makhluk halus.

Lha gitu tukang pijetnya pulang, dan ibu saya pulang dari rumah saya, ya langsung guntinglah, potong, kresh, selesai.

No, no barang-barang ghaib di badan anak saya.

Faktanya: biar anak ga diganggu makhluk halus ya didoain,  bukan dipakein benang-benang.

Ada juga saat Tara jatuh dari ayunan, pas saya cerita di telepon, ibu langsung suruh saya siram air di bawah ayunan. Ya ngga saya lakukan, wong jatuhnya bukan karena lantai kok.

Kadang ibu saya sempet menggumam gitu ," Dibilangin orangtua ngga percaya"



Huhuhu, ya gimanaaaa, masa kayak gituan dipercaya.

Belum lagi soal bedong, habis deh saya diceramahin gara-gara ngga makein Tara bedong sampai minimal 3 bulananlah.

Tara lepas bedong, di usia 2 minggu, Divya lebih parah, ngga saya pakein gurita sama sekali.


Dokter vs Boli-boli

Namanya aja udah aneh ya.

Jadi ada istilah orangtua itu yang bernama boli-boli. Boli-boli itu adalah kondisi anak mau pinter.

Anak demam panas, kalau kita sebagai ortu masa kini pasti otomatis bakal bawa ke dokter, atau minimal kasih obatlah, jika suhunya udah di atas 38 derajat celcius.

Nah kalau sama oma, kadang dibilang itu cuma boli-boli, ngga perlu khawatir, palingan demam karena mau pinter. Mau pinter duduk, mau tumbuh gigi, mau pinter jalan, atau mau pinter ngomong.

Anak demam versi saya : Anak sakit, bawa ke dokter

Anak demam versi oma : Boli-boli, mau pinter.

Apa lagi yaaaa, banyaklah, yang ngga boleh keluar rumah sebelum 40 hari, ga boleh termakan beras mentah, pantang lewat jemuran, ngga boleh meras baju anak keras-keras,  harus ke kompor abis pulang dari mana mana. Aaaagh  banyak banget kalau dijembrengin.

( Baca : Mitos- Mitos Seputar Bayi )

Tapi overall sih omanya Tara ngga saklek-saklek amat kayak oma-oma yang sering saya baca dikeluhkan ibu-ibu di fesbuk.

Setidaknya si oma tau tentang ASI eksklusif, tau soal MPASI setelah 6 bulan, dan beberapa hal mendasar lain. Laaaaf.



Itu baru soal mitos dan fakta,  belum soal nilai-nilai yang kita tanamkan.

👸 Tidak semua keinginan Tara harus dipenuhi.  anak boleh kecewa.  Nangis karena keinginannya ga diturutin ya boleh-boleh aja,  no problema.

👵 Cucu adalah si Putri kecil.  Kalau bisa dipenuhi kenapa ngga?. Oma paling ngga tega lihat cucunya nangis.

Untungnya ini ngga sering terjadi,  karena saya ngga segan bilang sama ibu apa yang boleh dan apa yang ngga boleh.

👸Saya masih pikir-pikir mau beli baby walker atau ngga,  karena baca-baca artikel ternyata baby walker ngga baik untuk tumbuh kembang tulang anak.

👵 Tiba-tiba omanya datang ke rumah sambil bawa baby walker pink unyu-unyu untuk cucu kesayangan.

Untuk yang satu ini saya masih mau mengalah.  Karena utuk urusan beli-beli mainan kadang saya diuntungkan sih,  hahahaha. Kan mayan kalo dibeliin oma.



Akhirnya baby walkernya sebentar aja dipake,  karena untungnya Tara lumayan cepat jalan.


Jadi, sekali lagi, perbedaan pola pikir kita dan orangtua kita memang ngga bisa dihindari.

Nah, kembali ke pernyataan saya di paragraf awal, kenapa kakek nenek itu begitu.  Kenapa mereka kelihatan jauuh lebih sayang sama cucu dibanding kita, walau sayangnya itu kadang bikin gengges ortu.

Ternyata memang ada alasannya.

Ternyata oh ternyata, hal itu disebabkan karena ada semacam misi "balas dendam" kakek nenek yang dilampiaskan ke cucunya.

Balas dendam?

Maksudnya begini, balas dendam bukan dalam arti negatif, tetapi balas dendam dalam arti yang berbeda.

Jadi, pada saat dua orang manusia berubah status menjadi orangtua, maka saat itu pula ia memiliki dua tanggung jawab sekaligus kepada anak-anaknya yaitu tanggung jawab menyayangi dan tanggung jawab mendidik.

Ya mendidik moral, kepribadian, tingkah laku, termasuk agama dan pendidikan ilmu pengetahuan.

Wooow berat ya tugas orangtua.

Makanya yang namanya orangtua dimana-mana hampir sama, walau gimanapun sayangnya sama anak, tapi tetap ada misi mendidiknya.

Jadi kalau anaknya salah ya dimarahi, anaknya nangis kejer mau minta makan permen segabruk ya didiemin, dibiarin daripada giginya rusak. Padahal dalam hati iba banget, pengen meluk si anak saat dia nangis, tapi dikuat-kuatin demi tidak kalah dengan rengekan.

Yang pasti pola pengasuhan orangtua ngga melulu isinya sayang-sayangan.

Kadang si anak harus dilarang kalah melakukan sesuatu yang berbahaya, kadang dimarahi, dicereweti, banyaklah sesuai cara masing-masing orangtua.

Nah,  saat si orangtua ini beralih peran menjadi kakek nenek, mereka ingin menebus apa yang sebenarnya ingin dilakukannya dulu yaitu pure menyayangi darah dagingnya tanpa ada tanggung jawab embel-embel mendidik.

Wajarlah si kakek nenek jadi super duper sayang sama si cucu. Jadi over perhatian,  over manjain. Karena mereka merasa ngga punya tanggung jawab mendidik. Taunya ya mereka sebagai kakek neneknya, oma opanya, eyangnya, boleh melimpahkan kasih sayang sebanyak-banyaknye ke cucu.

Makanya, saat anak kita nangis minta manjat lemari dan kita melarangnya misalnya, maka saat itulah si kakek nenek merasa perlu turun tangan menjadi Hero bagi cucunya. Dengan senang hati mereka akan menggendong si cucu dan membiarkannya menaiki lemari, yang bikin kita sport jantung, padahal niat kita melarang untuk mengajarkan anak bahwa itu bahaya , ngga boleh.

Saat anak kita nangis minta beli mainan yang kita tahu kalau di rumah bakal jadi sampah doang, maka saat itulah kakek nenek muncul dan menjadi hero again, beliin mainan demi melihat cucunya bahagia.



Iyes, di sisa usianya, salah satu kebahagiaan mereka adalah membahagiakan cucu, melihat senyum di wajah lucu cucunya, alih-alih derai air mata yang membasahi.

Jadi jangan heran ya kalau perlakuan orangtua dan  kakek nenek kepada cucunya itu berbeda.

Ya jelas berbeda karena misinya juga udah berbeda.

Jelas berbeda karena tanggung jawanya juga berbeda.

Makdarit, sebagai orangtua masa kini yang mungkin suka bertentangan dengan kakek nenek dalam hal pengasuhan, perlakuan atau dalam hal penanaman nilai-nilai pada anak, jangan buru-buru antipati dan pasang tembok pemisah.

1. Pahami Perasaan Kakek Nenek

Pahami dulu, bahwa niat kakek nenek sebenarnya simpel, yaitu tadi mau menebus apa yang dulu ngga sempat dilakukannya ke kita, anaknya.

Kemudian pahami juga bahwa mereka terkadang hanya ingin ikut berperan dalam mengasuh anak kita.

2. Komunikasi

Namun sebagai orangtua, kita jangan sampai kalah. Jangan sampai mengalah untuk hal-hal prinsipil yang memang mau kita tanamkan ke anak, karena memang ini fasenya peran kita sebagai pendidik bagi anak.

Kuncinya adalah KOMUNIKASI.

Komunikasikan ke orangtua apa yang kita mau.

Saya pernah bilang ke omanya Tara, kalau saya dan mas Teguh tidak membiasakan anak ke mall untuk bermain, padahal omanya hobi banget bawa Tara ke mall. Alasan kami simpel karena keselamatan dan keamanan Tara. Kalau diomongin baik-baik omanya ngerti kok. Yang dulunya sebulan bisa sampai 4 kali ngajakin ke mall sekarang berkurang jadi paling sebulan sekali, malah kadang 2 bulan sekali.

Gantinya?

Ya tetap bawa main Tara, tapi ke USU, lihat rusa, atau ngga ke tempat makan yang ada mainannya.

Karena untuk ukuran main ke mall itu, bagi saya pasukan yang bawa Tara harus komplit ada papanya juga, biar saya ngga deg-degan.

( Baca : Membawa Bayi ke Mall )

3. Beri Mereka Pengakuan

Bagi kakek nenek, apalagi yang usianya sudah beranjak senja, perasaan dihargai, disayangi itu penting banget, biar mereka ngga merasa ditinggalkan kita anaknya, dan biar mereka tetap merasa bahwa kita seneng kok anak kita diasuh, dijaga, diajak main sama kakek neneknya.

Sering-seringlah mengucapkan pelabelan untuk kepemilikan cucunya.

Halah belibet.

Gini contohnya: Misal anak kita bisa jalan, jangan lupa cerita ke kakek neneknya, " Wah oma, cucunya udah bisa jalan lho sekarang"

" Oma, cucunya rindu oma nih, kapan oma kesini"

" Oma, ini cucunya mau ngomong, " sambungin via telepon.

Pokoke sering-sering menyebut " CUCU OMA nih" daripada " Anakku" sebagai tanda bahwa kita ngga melupakan mereka sebagai kakek neneknya.

Begitulah ibu-ibu, jadi orangtua itu tantangannya memang buanyak dan ga mudah, hehehehehehe, apa siiiih.

Pokoke, jangan sampai perbedaan pola pikir dan pola asuh orangtua vs kakek membuat hubungan kita panas ya bu ibu.

Ingat bagaimanapun mereka dulu yang menyayangi kita dengan segenap jiwanya, sama dengan seperti saat ini kita menyayangi anak kita.

Jika ada yang masih bisa ditolerir biarlah. Kalo udah prinsipil silahkan ngobrol. Jangan ngga diobrolin tapi kita marah-marah,  yeee jangan gitu yah.

Karena cucu adalah muara Kasih sayang mereka saat ini,  Sumber bahagia di hari tuanya,  maka tak perlu merasa bersaing.

Komunikasi...  Komunikasi....  Komunikasi...

Kalau kalian gimana nih soal hubungan orangtua vs kakek nenek kepada cucu. Banyak perbedaan atau fine-fine aja, share dong.







Memuji Anak

Sunday, January 22, 2017

Seorang peneliti asal Jepang,Dr.Masaru Emoto membuktikan bahwa air sanggup menerima pesan yang disampaikan padanya.

Air yang diberi respon positif, misalnya doa atau kata-kata baik maka akan menghasilkan molekul kristal heksagonal yang indah. Sebaliknya, jika kita mengucapkan kata-kata yang tidak baik, maka air akan membentuk molekul kristal yang berantakan.

Parenting Rules : Tentang Kata Jangan Pada Anak

Wednesday, January 18, 2017
Penggunaan Kata Jangan dalam mendidik anak



Salah satu teori parenting yang dulu ngga ada, trus sekarang ada adalah tentang pengunaan kata JANGAN.

Dulu setahu saya ngga pernah ada yang bahas soal ini, hingga kemudian muncul teori bahwa kata JANGAN sebaiknya dihindari dalam pola asuh anak.

Kalau saya baca-baca artikel parenting rata-rata menyebutkan bahwa sebaiknya dalam mendidik anak hindari kalimat negatif dan usahakan pakai kalimat preventif. Karena menurut penelitian, otak anak susah mencerna kata " JANGAN". Jadi alih-alih mengartikan kata " Jangan nakal" - misalnya sebagai larangan untuk tidak nakal, malah yang terekam adalah kata nakalnya.

Anak dan Tontonan

Wednesday, January 11, 2017


Saat ini menjadi orangtua itu peernya banyak banget.

Mulai dari mikirin pendidikannya, pergaulannya, sampai melindunginya dari tontonan televisi yang kurang baik.

Tahu kan, sekarang ini banyak ortu yang merasa waswas dengan aneka acara yang ditayangkan di televisi. Karena banyak banget acara yang memang kurang mendidik.


Sebut saja sinetron-sinetron remaja yang cuma membahas masalah cinta-cintaan doang, sampai acara hiburan yang isinya cuma bully membully doang.

Ngga usahkan acara orang dewasa yang memang riskan untuk anak, acara yang jelas-jelas diperuntukkan untuk anak pun masih bikin hati ketar-ketir.

Pilih Pilih Gendongan Bayi

Sunday, January 8, 2017


Tips memilih gendongan bayi.

Seorang bayi bernama Eric Matthews meninggal dunia ketika orangtuanya Marianne dan Robert mengajak berjalan-jalan untuk menenangkannya.

Eric Matthew meninggal karena tidak sengaja tercekik saat berada di gendongan ibunya. 

Selain Eric, penyelidikan tim Koroner mencatat setidaknya sudah enam anak tewas akibat gendongan di Inggris. Sedangkan 16 kematian tercatat di Amerika dan Kanada.

(sumber : http://health.liputan6.com/read/2032421/bahaya-kain-gendongan-bayi-5-minggu-meninggal-sesak-napas)

Wih, membaca berita tersebut, jantung saya rasanya mau copot.

Hal-Hal Yang Bisa Diajarkan Kepada Anak Usia 3 Tahun

Wednesday, December 21, 2016



Yang namanya berkeluarga tentu harus memiliki aturan.

Bukan aturan yang saklek dan tertulis sih, tapi minimal pasti punyalah hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan di rumah.

Demikian juga dalam mendidik anak.

Walau masih berusia 3,5 tahun, saya dan Mas Teguh udah mulai menerapkan beberapa aturan untuk Tara.

Awalnya sangat sulit. Sankin sayangnya sama Tara, saya dan Mas Teguh dulu sempet yang sama sekali ngga pernah marah sama Tara.

Makanya  Tara tuh lama banget tau yang namanya konsep dimarahi.

Dia ngga tau kalau saya marah itu artinya saya marah. Artinya saya lagi kesal.

Dia ngga tahu kalau dibilang jangan itu artinya ngga boleh dilakukan.

Custom Post Signature