Showing posts with label financial. Show all posts
Showing posts with label financial. Show all posts

Kalau Terjadi Resesi, Apa yang Harus Dipersiapkan Rakyat Jelata?

Wednesday, October 30, 2019
Pertanyaan di atas ditanyakan di Qustion Box Instagramku kemarin, jadi mari coba kita jawab sama-sama ya. Soalnya memang lagi rame pembahasan soal resesi ini.

Nah sebagai rakyat jelata, yang perlu kita persiapkan apa?.

Sebenernya menurutku mau terjadi resesi atau ngga kita memang harus selalu melakukan persiapan dalam keuangan kita.

1. Upgrade Diri

Bagi para pekerja kayak kita-kita ini nih, agar kalo misalnya terjadi pengurangan pekerja ga kena imbasnya, ya jaga kinerja kita agar menjadi pertimbangan manajemen nantinya. Menjadi pekerja yang adaptif dan bisa fit di mana saja tentu lebih bisa dipertimbangkan dibanding pekerja yang ngga fit mau ditaroh di posisi yang dibutuhkan.

2. Miliki Penghasilan Lain

Memiliki penghasilan lain di luar gaji bulanan juga semestinya sudah kita biasakan. Bisa dengan punya usaha lain, atau ya dari hasil investasi yang kita lakukan.

3. Membangun Dana Darurat


Isu PHK gini kaitannya dengan keuangan kan selalu ke dana darurat. Jadi lihat lagi kondisi keuangan kita, dana darurat jangan sampai terabaikan. Karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, dana darurat ini yang bakal pertama kali kita gunakan.

Sisihkan minimal 10% dari penghasilan kita untuk dana darurat, dan selalu ikuti prinsip dana darurat :
- Disiapkan sebelum proteksi dan investasi
- Tidak perlu berlebih namun jangan kurang
- Diletakkan di instrumen keuangan yang liquid
- Hanya diambil dalam kondisi darurat

4. Review kembali investasi kita.
Review di sini maksudnya, misal investasi yang kita jalankan itu kebutuhannya udah deket, dana pendidikan anak, dana pensiun bagi yang akan pensiun misalnya, kalo memang sudah memenuhi, pindahkan ke instrument keuangan yang lebih aman dan rendah fluktuasinya. 

5. Investasi

Terkait dengan nomor 4, kalo bagi yang sedang dalam tahap mempersiapkan tujuan keuangannya, dan jangka waktu makenya masih lama, menurutku justru sekarang saatnya berinvestasi. Kemarin tuh di Agt-Okt harga saham pada turun, saatnya beli. Tapi tetep yah dianalisa dulu emiten yang mau kita beli efeknya untukk disimpan. Prinsip “ In Fundamental We Trust” mesti dipake.

6. Tahan pengeluaran

Kalo ga penting-penting banget, coba ditahan dulu pengeluaran-pengeluaran ga penting. Ganti tas, beli sepatu, upgrade gadget, kalo tidak sebegitu urgent tunda dulu. Kalaupun takut “Wah ntar kalo ga dibelanjakan duitnya nguap mba”.

Iya lho uang itu volatilitasnya tinggi hahahaha. Maka biar jangan nguap taruh di tempat yang uangmu susah nguapnya, ke reksadana, beli emas, atau belikan obligasi, saham perusahaan-saham  yg fundamentalnya bagus.

Kayak prinsip petanilah, waktu panen raya beras disimpen di lumbung, jadi saat paceklik selalu ada yang bisa dimakan atau dijual.

7. Lunasi Utang

Iyep. Utang-utang konsumtif yang kamu miliki, segera lunasi.

Kenapa?

Ya kaitannya dengan no 1 tadi, misal nih ya misal terkena PHK atau kalo yang freelancer, yg bergadang, saat terjadi resesi kemampuan beli orang menurun, ya penghasilanmu juga akan berkurang toh. Penghasilan berkurang, tapi pengeluaran tetap, bayar utangnya dari mana?

Kalo ga bisa bayar utang, ntar kena denda, BRI Checking jadi jelek, yg kerja kantoran, bisa-bisa dpt teguran dari bos kalo debt collectornya nagih ke kantor hayooo.

Jadi kalo punya duit, kurangi utang kalo ga bs melunasi.

Ada dua cara melunasi utang :

1. Debt Ladder : Lunasi dari utang darisuku bunga paling tinggi
2. Debt Snowball : Lunasi Utang dari jumlah utang terkecil.

Tapi ga usah panik dululah ya. Kan ini masih prediksi belum tentu terjadi, yang penting, kita kudu persiapkan saja diri dan keuangan kita, ga hanya saat resesi, biar aman.

5 Alasan Kenapa Kamu Tidak Bisa Menabung?

Tuesday, October 15, 2019


Nabung itu bukan soal berapa besar gajimu tapi seberapa besar yang bisa kamu sisihkan (yaiyalah, gimana sih kak 😂😂)

Penyebab kamu ga bisa nabung, salah limanya mungkin seperti yang di gambar itu.

1. Kamu ga bisa bilang ngga

Ditawarin asuransi, ga bisa nolak. Ditawarin KK ga bisa nolak, ditawarin diskon ya mau aja, ditawarin jualan temen semua diborong, ditawarin buy one get one padahal ga butuh ya iyes aja. Ga bisa bilang ngga itu selain bikin kamu ga punya pendirian ya bikin kamu bangkrut juga kalo yas yes yas yes terus.

2. Kamu ga punya tujuan

Orang bisa maksa nabung karena punya tujuan, punya goals. Mau beli sepatu inceran, maka jajan dikurangi, paksa nabung biar bulan depan bisa kebeli. Kalo samsek ga punya tujuan ya jadi ga tau juga nabung buat apaaaah. Makanya jadi ga disiplin dan ya jadi ga merasa perlu. Tetapkan tujuan deh biar semangat nabungnya.

3. Kamu punya kebiasaan buruk (yang nguras duit)

Clubbing tiap minggu, belanja kalo stress, liburan kalau galau, balikan sama mantan (eh). Kebiasaan yang ga juntrung gini ya bikin kamu punya tabungan pun bakal ambles terus.

4. Bergaul dg orang yang salah

Karena teman itu harus dipilih ya gengs. Bergaul sama siapa aja boleh banget, tapi teman dekat harus pilih-pilih biar ga salah gaul dan biar ga ada gengsi-gengsian. Punya temen yang asik diajak hepi-hepi memang nyenengin tapi tetep saling ngingetin kalo liat temennya besar pasak dari senderan 😂😂

5. Cicilanmu melebihi kemampuanmu

Punya cicilan boleh asal rationya masih pas. Angka 30% masih bisa ditolerir. Lebih dari itu, kamu hrs waspada dan berfikir untuk turunin ratio dengan melunasi sebagian atau tambah penghasilan. Cicilan berlebihan menghalangi kesempatan menabung. Wis abis rek. Tanggal 10 udah koma.

Nomor berapa alasan kalian hai para netijen yang selalu ngeluh ga bisa nabung?

4 Langkah Praktis Mengatur Keuangan Awal

Udah lama ngga nulis soal financial, ayo bahas lagi.



Kemarin-kemarin sempet baca selewatan status di instagram " Halah ngapain sih pake ngatur-ngatur keuangan, toh selama ini ngga diatur ya cukup-cukup aja, diatur-atur malah ntar pusing dan stress sendiri. Rezeki mah sudah ada yang ngatur"

Pernah denger kalimat seperti itu?. Atau jangan-jangan kamu nih yang suka membatin begitu.

Ya ngga papa sih kalau emang konsep untuk pengaturan keuangannya seperti itu. Bahwa rezeki sudah ada yang atur, jadi serahkan saja sama yang ngasi rezeki.

Well, kalo menurutku sih ya (padahal ngga dimintai pendapat, hahaha), rezeki itu adalah sebuah kepastian yang dibungkus dengan ketidakpastian. Pasti karena ada jaminannya dari Allah, tapi kita ngga tau berapa jumlah pastinya dan ngga tau juga timing rezeki itu datang kapan. Makanya saat udah dikasih dan ada di tangan kita, kita atur biar cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa kini sekaligus mempersiapkan kebutuhan di masa datang. Bentuk syukur kepada si pemberi rezeki mah ya.

Terkadang kita nih ya memang merasa " Ah keuanganku baik-baik aja kok, memang sih ga ada tabungan, tapi cukup kok"

Anggapan sepeti itu nih yang bikin kita jadi males aja ngecek keuangan kita. Padahal kalau kita mau effort buat kulik-kulik sedikit, penghasilan kita malah bisa dioptimalkan untuk mencapai tujuan-tujuan keuangan.

Tujuan keuangan keluarga itu kan banyak yah.
Ada yang pengen nyiapin dana pendidikan anaknya, dana pensiun, dana haji, dana liburan, beli gadget, beli rumah. Wow banyak ya.

Jadi gimana caranya ngatur keuangan keluarga?

Setidaknya ada 4 langkah praktis yang bisa kita lakukan :

1. Mengatur Cashflow
2. Menyiapkan dana darurat
3. Memiliki Asuransi
4. Investasi

Investasi ini tujuannya bakal berbeda-beda tergantung tahapan kehidupan kita.

Untuk fresh graduate investasi di sini tujuannya bisa untuk persiapan dana pernikahan,  dana liburan, dana beli gadget, dana pergaulan. Sedangkan untuk keluarga baru tujuan keuangannya akan berbeda dengan fresh graduate tadi. Dana pendidikan dan dana pensiun akan menjadi concern utama. Kemudian bakal diikuti oleh tujuan dana liburan, beli mobil, dana haji.

Kita bahas satu-satu

1. Mengatur Cashflow.

Ngga usah ngomong kemana-mana kalau cashflow aja belum beres. Ngga usah ngomongin investasilah, reksadana, saham, kalau cashflow masih berantakan. Maka yang pertama harus kita perhatikan adalah mengatur cashflow dulu.

Betewe udah tau kan cashflow itu apa?

Cashflow itu arus uang masuk dan arus uang keluar di keluarga atau di keuangan kita. Pokoke gimana cara kita mengatur agar penghasilan yang kita bawa pulang ke rumah bisa menghandle seluruh pengeluaran keluarga. Diharapkan positif.

Caranya gimana?

Pertama kali ya kamu harus catat segala pengeluaranmu dalam kertas biar bisa memetakan apa saja kebutuhanmu. DICATAT ya jangan cuma diinget-inget di dalam kepala.

Pengeluaran keluarga itu kan banyak, makanya kamu harus bikin pos-posnya biar gampang.

Kalau mau disederhanakan kira-kira seperti ini.




Cashflowmu dianggap sehat jika hasilnya positif, alias penghasilan lebih besar dari pengeluaran. Dan akan menjadi warning jika sampai cashflowmu negatif.

2. Menyiapkan Dana Darurat

Dana darurat ini fundamental lho dalam pengaturan keuangan. Sesuai namanya, dana ini ya akan digunakan untuk kondisi darurat. Kondisi darurat yang mungkin terjadi seperti mobil tabrakan, rice cooker rusak, atap rumah bocor, dan yang paling krusial kamu kehilangan pekerjaan.

Dengan adanya dana darurat ini, cashflow bulananmu diharapkan ngga akan terganggu karena tidak mengambil dari pos-pos keuangan keluarga.

Besarnya berbeda-beda tergantung jumlah pengeluaran bulananmu, tanggungan dan profi risiko pekerjaanmu. Tapi secara umum bisa dikategorikan menjadi :
- Single : 3-4 x pengeluaran
- Menikah : 6 kali pengeluaran
- Menikah dengan anak : 12 kali pengeluaran.

Dana darurat ini karena sifatnya yang harus tersedia saat dibutuhkan, maka disarankan disimpan dalam intrumen keuangan yang likuid seperti tabungan atau reksadana pasar uang.

3. Memiliki Asuransi

Asuransi sering disepelekan oleh kita karena mungkin kita berfikirnya kalo punya asuransi ntar gga terjadi apa-apa duitku ilang dong. Kesalahan pengertian soal asuransi jangan sampai membuat kita jadi abai memberikan proteksi terhadap rencana keuangan yang sudah kita buat.

Setidaknya kita memerlukan asuransi kesehatan jika tidak dicover kantor. Asuransi jiwa untuk si pencari nafkah, dan asuransi untuk aset-aset kita. Membayar jumlah kecil untuk penggantian yang besar.

4. Investasi

Investasi dilakukan agar tujuan keuangan bisa tercapai. Untuk tujuan keuangan keluarga, yang harus dipersiapkan :

a. Dana Pendidikan

Inflasi pendidikan di Indonesia itu sekitar 10-15% per tahun, jadi sebagai orangtua kalo pengen anaknya dapat pendidikan yang bagus ya memang harus dipersiapkan, caranya dengan mempersiapkan dana pendidikan secepat mungkin. Karena semakin lama jangka waktu investasi maka semakin kecil uang yang harus disisihkan.

b. Dana Pensiun

Kebanyakan perusahaan memberi pelatihan atau memberi seminar tentang persiapan pensiun justru di saat si pekerja hanya tinggal 2-3 tahun lagi memasuki masa pensiun, dimana itu sebenarnya sudah terlambat. Sebagai pekerja kita juga lupa memikirkan pensiun karena mengira dana pensiun yang dipersipkan perusahaan akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Padahal kalau mau bertanya ke para pensiunan terdahulu, hampir semua menjawab bahwa dana yang diberikan perusahaan tidak cukup. Karena itu ayo dipersiapkan sendiri walaupun perusahaan juga sudah menyiapkannya.

Persiapan pensiun dari usia muda akan sangat meringankan uang yang harus kita sisihkan agar kebutuhan di masa pensiun dan gaya hidup setelah pensiun tidak njomplang, dan tentu saja cita-cita agar tidak menjadi beban keluarga bisa terlaksana.


Itu deh 4 kiat praktis dalam mengelola keuangan keluarga yang bisa kita lakukan. Ntar bahas lebih spesifik yah.


Ayo Atur Keuanganmu

Thursday, October 3, 2019


Jaman belum punya anak, kalo abis gajian, duitku udah kayak air terjun di Bandara Changi Singapure, ngucuuuuur terus ngga ada penghalang.

Aku kerja, suami kerja, tanggungan ngga ada. Bener-bener kaum DINK lah, Double Income No Kids. Pada masa-masa itu, duit gaji abis gitu aja buat bayar tiket PP Medan-Jakarta, karena kami sempet LDM an, bayar tagihan hotel, sangkin seringnya nginep di hotel, sama makan-makan ngga jelas dengan dalih rekreasi dan pacaran sama suami, halah.

Dengan gaji double gitu, tapi tabungan minim banget. Ada sih ya, bukan ngga ada sama sekali, tapi ya dikit.  Palingan bisa nabung dari penghasilan tahunan, bonus dan THR. Untung deh masih punya bonus. Dulu tiap bonusan langsung masukin rekening, ngga diambil-ambil. Beberapa kali bonusan kebeli deh 1 rumah tanpa KPR. Alhamdulillah ya.

Punya rumah itu rasanya hepi banget, trus berasa yeyeyeyey asik aku udah punya aset, udah berhasil nih nabungnya, santailah ngga usah ngoyo dulu nabung. Lupa, padahal rumahnya ngga ditempati, ngga disewain juga karena sayang dan karena sesekali masih mampir. Rumah ngga ditempati itu malah jadi sumber biaya kan yah, hahahahaha. Gokil lah. bolak-balik rehab karena ada aja yang rusak. Yang mau ganti pagarlah biar aman, ganti keramiklah karena rasanya kurang bagus, ganti atap karena udah jelek. edebre-edebre. Padahal rumahnya di Tebing, aku di Jakarta, suami di Medan. Kapaaaan ini mampir ke rumahnya, halusinasi belaka, hahahaha.

Untunglah LDM akhirnya berakhir, aku balik ke Medan dan bisa serumah lagi sama mas Teguh. Karena balik Medan perlu rumah dong yah, ajuin KPR. DP belum ada jadi rumah di tebing dijual, sebagian buat DP rumah sebagian beli tanah . gegara pindah Medan juga jadi butuh mobil. Weslah tabungan terkuras ngga bersisa.

Ngga lama, Tara lahir, dan wow ngga nyangka anak sekecil itu bisa banget ya menghabiskan seluruh gaji emak bapaknya hahahaha. Segala stroller, pompa ASi berbagai merek, bouncer, Carries dan segala pernak-pernik mamah muda kekinian diborong dari toko. Belum lagi ritual pijet bayilah, jalan-jalan, apalah-apalah, sukses membuat makin ngga sempet nabung, xixixi.

Rasa-rasanya saat itu hidup kok enak banget yaaah. Mau apa aja ada duitnya, selllooooow, tapi ya heran juga pengasilan double, tapi kredit kok ya banyak, ada cicilan KPRlah, cicilan Kartu kredit. Jadi duit ada tapi ya ngga punya tabungan yang memadai.

Pas iseng-iseng ngitung baru sadar, waduh harusnya yah, dengan gaji berdua gini, aku dah punya tabungan yang lumanyan. Trus baca-baca soal dana pendidikan anak yang belum nyiapin sama sekali, Untung nyadarnya cepet, langsung hire Financial Planner buat dicek keuanganku. Dan bener sih hasilnya ngga bagus-bagus amat walau ngga jelek juga, hahahaha.

Nih, hasil financial Check up keuanganku beberapa tahun lalu.





Perhatikan tuh, Net investemnetku rendah banget dari kondisi ideal. Dana darurat ada sih tapi belum cukup, dan ratio utang hampir maksimal. Hahahahaha kemarin sih panik, tapi sekarang malah diketawain. Sama mba Titis Financial Plannerku saat itu, disarankan jangan nambah utang lagi, karena beberapa tujuan keuangan yang mau aku capai ngga akan bisa diplanning kalo ngga ada duitnya, xixixi.

Beberapa tujuan keuangan yang aku rencanain disuruh tunda. Soale keliatannya aja yah gajiku dan suami banyak, ternyata dijembreng di kertas ya ngga bisa ngapa-ngapain, wahahahahaha.

Abis itu langsung diskusi sama suami. Apa nih yang harus dilakukan. Waktu itu kami sepakat yang harus dilakukan pertama kali adalah mengurangi utang. Iyes karena itu yang paling gampang. Caranya ya harus jual aset. Karena saat itu punya dua mobil yang dijual mobillah. Mobil dijual, ketutup deh itu KPR, dan KK. suami ngalah naik motor aja ke kantor, luuv.

Karena cicilan utang berkurang, keuangan kami langsung legaaaa banget. Plan-plan keuangan yang tadinya direkomendasikan untuk ditunda kujalani aja dikit-dikit.

Nyiapin dana darurat, Daftar haji, bikin dana pendidikan anak. Bikin tabungan pendidikan naknya udah 5 tahun lalu, dan sekarang anaknya udah SD ternyata dana pendidikannya ngga tersentuh, jadi bisa lanjut buat dana pendidikan SMP. seneng banget.Pelan-pelan walau belum idela banget tapi udah on the track tuh semua plannya. Paling yang tetap ditunda itu rencana rehab rumah. Waktu itu pengen rehab rumah secepatnya, tapi disarankan ditunda ya udah aku tunda, sampe tahun ini lho baru terlaksana hahahaha, akrena harus nabung dulu.

Oya, kalian tau kemarin itu selain KPR apa cicilanku yang paling gede?

Kartu kredit cuy, sampe 15% dari penghasilanku, dan itu gede lho ratio segitu. Makanya itu yang duluan aku tutup, insaf dan tobat nasuha ngga lagi-lagi bayar minimal terus kalo punya cicilan kartu kredit.

Dulu kan informasi soal keuangan ngga rame kayak sekarang ya. Jadi saat fin plannerku nyaranin aku buka reksadana, aku ngga langsung melakukannya, karena ya ngga ngerti samsek. Tapi bukan berarti karena ngga ngerti terus ngga dijalankan yah. Kayak kalian tuh yang sering DM, dan curhat ngga ngerti, takut, malah ga action-action, Padahal sharusnya ya lakukan aja dulu (udah kayak Tokopedia).

Aku dulu beli buku dulu, baca, udah ngrti baru deh buka reksadana.

Jadi buat kalian yang ngeluh dan sering cerita sama aku di DM bingung dan ngga tau mulai darimana. Tenang aja, banyak kok orang yang kayak kalian, hahahaha ga tau mau beresin keuagan dari mana.

Langkah pertama udah bener, kalian sadar kalau ada yang ngga beres dengan cara kalian ngatur uang. Langkah kedua ga usah denial, ngaku aja kalu kalian memang boros atau ya memang kurang aware sama keuangan kalian.

Nah baru lakukan langkah berkutnya. Lakukan financial check up. Sebagai tahap awal lakukan sendiri aja. Catat arus cahsflow kalian, bikin neraca pribadi dan cek ratio-ratio kesehatan keuangan kalian. Bisa kok dilakukan sendiri.




Ini aku kasih Form Financial Check Up  yang bisa kalian lakukan sendiri.

Ya udah isi dulu yah, besok-besok kita obrolin soal Financial Check Upnya.

Pentingnya Mempersiapkan Dana Pensiun

Tuesday, October 1, 2019
Tentang dana pensiun sudah pernah ditulis di sini. Silahkan dibaca dulu.



Kebanyakan pekrja di Indonesia itu mulai ngeh soal dana pensiunnya, dua sampai tiga tahun menjelang pensiun. Mendadak panik, waaaa aku udah mau pensiun tapi ngga punya persiapan. Padahal semakin cepat dipersiapkan, maka semakin ringan yang harus disisihkan.

Fakta tentang Hari Tua.

1. 75% pekerja berharap mereka masih bisa terus bekerja setelah pensiun. Kenyataannya hanya 26 % dari pensiunan yg masih bisa bekerja setelah usia pensiun.

2. Hanya 21% pekerja di Indonesia yg mengetahui denga pasti berapa jumlah dana pensiun yang dibutuhkan saat masa pensiun tiba.

3. 65% pensiunan di Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar kehidupan mereka.

(Sumber : Axa Scope Survey 2008 (dari kelas One Shildt)

Ngga mau kan jadi yang 65% di atas?. Makanya ayo dipersiapkan dari sekarang.

Kenapa penting dipersiapkan, kan udah disiapkan oleh perusahaan tempat bekerja?

Karena kalau kalian mau nyari tau ke pensiunan-pensiunan di tempat kalian kerja, bisa dipastikan mereka akan mengatakan bahwa uang pensiun yang diberikan perusahaan jumlahnya sangat jauh dari kebutuhan hidup saat pensiun.

Yang harus kita sadarai nih ya, bahwa saat pensiun, kebutuhan dan biaya hidup kita masih tetap aja kayak saat kita di masa aktif bekerja, padahal penghasilannya udah jauh berkurang. Makanya perlu dipersiapkan sendiri sebagai penambah uang pensiun yang nantinya diberikan perusahaan.

Memang sih bakal ada pengeluaran yang berkurang atau hilang, diantaranya :

1. Belanja pakaian , sepatu, tas, gadget
2. Transportasi
3. Cicilan Utang
4. Biaya sekolah anak (jika anak sudah mandiri)

Saat pensiun, pengeluaran di atas itu akan hilang. Tapi bukan berarti pengeluaran jadi berkurang, karena da pengeluaran baru yang akan muncul atau bertambah. Contohnya:

1. Biaya sosial, ketemu teman-teman, kondangan, jenguk orang sakit, arisan edebre edebre.
2. Perawatan kesehatan, mata, gigi, lin-linu, encok, pegel, reumatik.
3. Rekreasi. liburan, ngunjungi cucu, reuni teman SMA, SMP, SD 😃

Nah coba tuh hitung dan dikira-kira, makin nambah atau makin berkurang nih biaya hidup kita setelah pensiun.

Makanya perlu dipersiapkan.

Apa aja yang perlu dipersiapkan?


1. Persiapkan apa yang akan dilakukan saat pensiun ntar.

Ini biar ga kaget trus linglung saat pensiun. Ayo pikirkan, saat pensiun mau punya kegiatan seperti apa?. Mau kongkow-kongkow di desa?. atau mau plesiran ke luar negeri.

Pertanyaannya, uangnya dari mana? hahahaha


2. Hitung dengan benar berapa dana pensiun yang dibutuhkan

Iyes, harus dihitung. Ingat ya ngitungnya itu perhitungkan masa hidup setelah pensiun dan jangan lupa hitung juga inflasi. kebanyakan tuh orang-orang ngitung uang pensiun tapi ngga ngitung inflasi. Padahal jelas biaya hidup 10 juta sekarang dengan 10 juta 20 tahun lagi nilainya udah berkali lipat.

3. Usahakan tidak ada utang lagi.



Nah bagi yang punya utang atau yang berniat ngambil utang. Dari sekarang sebelum memulai kredit di bank, kalian harus itung berapa lama kredit kalian, jangan ngepas bangett sampe usia pensiun sehingga kalian ngga punya kesempatan buat nyiapin dana pensiun akibat gajinya abis buat cicilan terus.



Udah mulai kebuka kan pikirannya tentang pentingnya mempersiapkan dana pensiun. Next kita bahas gimana menghitung kebutuhannya ya.




















Mengajarkan Konsep Uang ke Anak

Thursday, November 22, 2018


Siapa di sini orangtua yang pusing mengajarkan konsep uang ke anaknya?


Ga apa-apa banget lho dari kecil anak diajarkan tentang uang, bukan supaya dia mata duitan, tetapi supaya dia mengerti bahwa beli sesuatu itu pake duit, bukan pake daun, apalagi pake tisue dan airmata, halah.

Dari usia dua tahun sebenernya anak sudah bisa dikenalkan dengan uang. Tapi pastinya dia belum mengerti soal nilainya, tapi minimal paham kalo beli sesuatu tidak sim salabim abakadabra. Bukan begitu bunda?

Kalo di keluargaku, jujur aja aku belum benar-benar ngajarkan konsep uang ke anak. Palingan tindakan nyata soal perduitan, aku cuma ngajarin nabung aja sama Tara. " Ayo Tara nabung, biar bisa beli yang Tara mau"

Aku beliin celengan, suruh isi kalau ada koin-koin sisa duit belanja. Anaknya hepi banget, jadi tiap nemu koin girangnya ampun deh, hahah.


Nah, kalau soal pembelian barang, Tara aku ajarinnya pake konsep " Mahal dan Murah"

Ternyata itu jauuuh lebih gampang dibanding berbusa-busa ngelarang dia celamitan jajan di Indomart.

jadi, kalau lagi ke Indomart, mau beli sesuatu dia bakal nanya dulu ke aku " Bunda, tara boleh jajan ngga?"

" Boleh, tapi bunda bawa duit cuma dikit nih"

" Iya, Tara ngga beli yag mahal-mahal kok, yang murah aja bunda"

Jadi, kalau dia ngambil coklat misalnya, dia bakal nanya " Ini mahal atau murah bunda/"

Ya tinggal jawab aja mahal kalo memamng mahal atau ya murah kalo memang murah. Jawabannya ga serius-serius amatlah, sesuain aja ama kantong, hahahaha. Pokoke Kinderjoy aku bilang mahal #kzlamakinderjoy. Susu Ultramilk yang besar mahal, yang kecil murah, maka Tara ya bakal ambil yang kecil.


Jadinya si Tara sekarang mayan bisa direm celamitannya kalau di tempat belanja. Tetap beli sih, tapi bisa diarahin ke barang yang masuk akal. Ga ujug-ujug guling-guling minta sesuatu. Stress banget kan yah kalo gitu.


Dengan konsep mahal murah ini, dia jadi kayak ikutan mikir gitu lho tentang duit emak bapaknya yang ngga tumbuh di pohon. Memang belum ngerti bener nilainya, tapi udah ngerti bahwa beli barang mahal itu harus dipikirin.


Mau main timezone aja udah bisa pake jurus ini.

"Mainnya dua kali aja yah, mahal"

" Mahal bunda?', bunda ga cukup duitnya?"

"Iya ga cukup"

" Tapi kan ada papa, papa banyak duitnya"

Wahahahaha, serahkan ke papa.

Kemarin itu si Tara, malah sempet nanya gini, " Bunda, kenapa rumah kita kecil?"

Haduh mamaknya kaget ditanya gitu hahaha, tapi ya ga kaget-kaget amat sih, udah persiapan aja ditanya begitu, karena memang dibanding rumah lain di komplek perumahan kami, rumah kami tergolong yang kecil.

" Ngga kecil ah, kan cukup untuk Tara, adek, bunda, papa dama Tete"

"Tapi kecil bundaaa, ngga kayak rumah Chia, rumah Chia bueeesaaaar"

" Iya, rumah Chia soalnya mahal sayang"

" Ooooh rumah kita murah ya, papa duitnya ga cukup?"

" Iya papa duitnya ga cukup"

" Makanya papa, cari uangnya yang banyak dong biar rumah kita besar'

Wahahahaha kacian papa.

Beberapa hari kemudian, aku ajak Tara main ke rumah kosong di komplek yang lebih kecil. Aku bilang ke Tara

" Tara, kita mau pindah ke sini lho, kan Tara kemarin ga mau tinggal di rumah kita, kata Tara rumah kita kecil'

"Ngga bunda, Tara ngga mau pindah,  rumah kita besaaaar"

Wahahaha, dasar labil. Gitu doang udah berubah.

 Tadi aku baca-baca soal artikel keuangan, memang katanya anak baru mengerti nilai uang biasanya di atas usia 7 tahun. jadi bunda-bunda yang mau ngenalin konsep uang ke anaknya, bisa kenalin hal-hal ini dulu ya

1. Beli sesuatu itu pake uang
2. Ada barang mahal dan ada barang murah
3. Papa dan bunda harus kerja untuk dapat duit, ga jatuh dari langit.

Bisa juga pake cara bermain toko-tokoan.

Aku sering mainin ini sama Divya.

Aku beliin mainan masak-masakan yang sepaketan ada duit-duitannya. Jadi tiap Divya bikinin masakan ke aku, aku seolah-olah beli. Sekarag tiap mau sesuatu Divya selalu nagih duit ke aku.
" Bundaaaa, adek mau beli loti, minta duit nda " (baca pake cara cadel ya, duh gemaz).

Kalo ke Tara selain konsep mahal-murah, dia udah sering aku suruh bayar-bayar sesuatu. paling sering kalo ada abag gojek yang ngantar makanan pesananku. Aku suru bayar sembari bilang  ntar ada kembaliannya ya sayang.

Ya udah sih gutu doang, hahahha. Soal kaya miskin aku belum ajarin ke Tara. Pokoke kalo dia nanya-nanya kayak

" Bunda kok rumah di depan besar rumah kita kecil"

Atau " Kok mobil Khira besar, mobil kita kecil" dsb dsb , cukup pake jawaban mahal-murah aja, plus ditekankan " Segini ini udah cukup untuk kita".

Kalau kalian gimana cara ngajarin konsep uang ke anak?. Ayo sharing, biar yang baca bisa kutan niru.





Cara Menghitung NAB Pada Reksadana

Wednesday, November 21, 2018
Kemarin abis sharing Tentang Reksadana, ada yang minta aku nulis gimana cara perhitungan yang riil pada saat pembelian reksadana. Karena selama ini kan kalo baca-baca di internet gitu, cara ngitungnya kebanyakan mengabaikan faktor biaya. Jadi kayak permisalan-permisalan yang tidak mencerminkan kondisi riil saat beli.


Sumber : Danareksa.com



Aku coba jabarkan dikit ya. Semoga bisa membantu.

NAB

Pertama aku mau bahas soal NAB dulu.

Kalau di reksadana dikenal istilah NAB/unit. Nilai aktiva bersih per unit.

Fungsinya NB ini ada beberapa macam :
  • Sebagai harga beli atau jual saat membeli/menjual reksadananya
  • Sebagai indikator hasil untung atau rugi
  • Sebagai sarana untuk mengetahui kinerja historis reksadana kita
  • Sebagai sarana pembanding kinerja reksadana yag satu dengan yang lain.
Yang menghitung NAM itu bank kustodian ya gengs, dan ini akan diumumkan setiap hari oleh si bank melalui harian bisnis atau di webnya langsung. Nilai NAB ini pokoke ditentukan oleh kinerja si Manajer Investasi dan juga ditentukan oleh kondisi pasar secara umum.

Contoh transaksi Beli/jual reksadana .

Misal kita beli reksadana sebesar 10 juta.
Pembelian :

Pada saat kita beli, NAB/Unit reksadana yang mau kita beli nilainya Rp 1000.
Nah, perhitungannya itu ga langsung 10 juta/1000. karena di sini ada biaya pembelian yang harus ditanggung pembeli. Besarnya 1 % dari harga NAB/unit.

Sehingga nilai NAB pada saat beli ditambahkan 1% = 1000 + (1%xRp 1000) = 1010 (ini disebut NAB/unit efektif beli)

Maka saat pembelian NAB/unit yang kita miliki menjadi = 10.000.000 / 1010 = 9.900,990 unit.

Penjualan :

Pada saat kita mau menjual, ternyata harga NAB/unit si reksadana sudah bertambah krn investasinya mayan bagus. Misalnya NAB/unitnya menjadi Rp 1200.

Maka saat kita ingin menjual, lagi-lagi kita kena biaya penjualan sebesar 1 % dari harga NAB/unit.

Sehingga, harga NAB/Unit efektif jual = 1200 - (1% x Rp 1200) = 1188.

Maka duit yang kita terima menjadi = (harga NAB/Unit) x jumlah unit yg kita miliki
= 9.900990 x 1188 = Rp 11.762.376,23

Keuntungan/Kerugian

Dari contoh di atas, maka kita dapet untung nih reksadananya:
( 1200 - 1000 ) /1000 = 20%

Namun, dengan adanya biaya pembelian " yang menaikkan harga NAB/Unit " dan penjualan " yang menurunkan harga NAB/Unit", maka keuntungan bersih kita tidak di angka 20 %, melainkan sbb :

(Rp 11.762.376 - Rp 10.000.000)/10.000.000 = 17.62%

Nah itu tuh keuntungan kita, prosentasenya sebesar 17.62 %. atau kalo dirupiahkan maka keuntungan kita Rp 1.762.376,-

Begitu ya. Semoga jelas, hahahaha

Beda Investasi Langsung dengan Reksadana

Wednesday, November 14, 2018


Mending Depo langsung atau RD Pasar Uang?

Mending trading saham langsung atau RD saham?

Baca sebelumnya Tentang Reksadana


Depo vs RD Pasar Uang


Nominal : minimal depo bank beda-beda, tapi di kisaran 5 jutalah min. RD, min 100 riub udah bisa ikut RD.

Jangka Waktu : Depo ditentukan 1 bln, 3 bln, 6 bln. RD tidak ditentukan, boleh diambil sewaktu-waktu
.
Keuntungan : Depo pasti, karena diperjanjikan di awal. RD ga pasti, tergantung penempatan si MI bank mana saja.

Terkait nominal, kayakk yang aku bilang di postingan sebelumnya. Misal kalian punya duit 100 juta aja. Ini depo di bank bunganya 5%. Potong pajak 20%, berarti 4 juta pertahun. Atau Rp 333 ribu per bulan.

( Baca : Tentang Reksadana )

Nah kalo RD. Kalian punya duit yang sama, 100 juta. Dimasukin RD, digabungin sama duit orang-orang. Masukin ke depo, misal terkumpul 5 M. Bunganya udah beda banget. Mungkin bisa dapat bunga nego sampe 6.5% (tergantung banknya).

Ga usahkan 100 juta, kalian nyetornya 250 rb pun, ya dapat bunganya tetapdi 6.5% persen. Karena kan masukin deponya gelondongan sama duit orang lain.

Tapi reksadana ada biayanya ya, karena kan yang ngolah MI, ya masak MInya ga dibayar.


Mending trading saham langsung atau RD saham?

Hampir mirip sama jawaban depo langsung atau RD PU.

Dari segi nominal. Kalo beli saham langsung hrs minimal 1 lot, ga bs beli ketengan. Ada sih saham yang murah yang under 100 ribu aja bisa dapat 1 lot. Tapi kalian harus memiliki kemampuan untuk menganalisa secara langsung saha-saham yang kalian beli itu.

Kalo kalian memang paham dan mau mantengin pergerakan saham, jelas lebih untung trading saham, karena ya lagi-lagi ga kena biaya kan yah, dan dapat keuntungan dividen langsung. Dividen itu pembagian keuntungan dari perusahaan.

Kalo RD Saham ga akan dapat dividen tapi dikonversi ke NAB.

Tapi yang pasti sama nilainya fluktuatif sehingga sama-sama dibutuhkan kesabaran, ga asal panik main jual-jual aja kalo turun hahaha.

Yg pasti sebenernya, kayak aku bilang tadi, reksadana ini hanya salah satu cara berinvestasi.
Kalian mau invest langsung ke depo ya gpp, ke emas, ya gpp, mau trading saham ya gpp. Bahkan mau nabung biasa aja juga gpp.

Asal rutin, dan asal dimulai lho. Daripada nanya-nanya terus tapi ga mulai-muali #nohok hahahaha

Hanya gini, daripada beli kopi seminggu 50 rb, sebulan 250 rb. mending buka reksadana aja, mayan kan daripada buat jajan-jajan ga jelas. Beli kopinya sachetan ajah #bukantimkopisachetan sebenernya tapi ya gpplah demi masa depan yang lebih baik, halah

Kalo kayak adekku, dia males mempelajari reksadana edebre-edebre gini. jadi dia investnya ke emas. Dia nabung nih sebulan berepa, tiap 3 bln dibeliin emas, 5 gram 5 gram, ya mayan juga. Ga papa daripada ga nabung sama sekali, hahaha

Jadi ya kelen jg ga mesti ikut-ikut. O-orang beli reksadana. Yuuuks beli.
Orang beli ORI, yuuuuuk beli.

Kayak masteg, suamiku ituh, dia ga syuka sama yg begini2. Dia kalo ada duit dikumpulin, trus beli tanah. Ada duit dikumpulin trus beli sawah. Ya gpp bgt.

Mana yg paling bikin kalian nyaman aja. Nabung biasa juga ga papa bgt, asal disiplin.
Sekali lagi pelajari dulu ya frend. Nabung itu piye, investasi itu piye. Oceh

Tentang Reksadana



Bahas reksadana yuks, karena di IG ku banyak banget yang request tema ini.

disclaimer dulu yah, aku nulis ini untuk pemula banget. Jadi mungkin akan sangat annoying bagi yang udah expert.

Tapi sebelum ke reksadananya, aku mau check sound dulu pada tau ga bedanya nabung sama investasi?

Kebanyakan dari kita pasti udah pahamlah ya sama kegiatan menabung. Banyak contoh tabungan saat ini yg ditawarkan di bank-bank.

Nah bedanya menabung dengan investasi itu apa?

Sebenarnya mirip aja sih hahahaha. Investasi itu ya proses menabung juga tapi bedanya dia pake perencanaan, ada tujuannya, ada jumlah yang mau dicapai, dan ada target jangka waktunya

Nah selama ini tuh kita-kita  yg taunya Cuma nabung doang, kebanyakan ya udah pokoknya aku sisihin duit sekian perbulan di tabunganku, Tapi ga mikirin hal-hal ini:

1. Tujuannya utk apa

2. Goalnya berapa untuk tujuan itu

3. Kapan tabungan itu mau dipake

Jadi kebiasaan nabung kita selama ini kalo digambarin begini nih.

“ Aku mau nabung utk anakku masuk SMP (saat ini anak masih balita), biaya masuk SMP saat ini 25 juta, punya waktu ngumpulin duitnya 10 tahun. Ya udah bagi aja 25 juta : 10:12. Sebulan berarti harus nyisihin 208 rb,

Pas anaknya usia masuk SMP, diambil deh tabungannya. Dan jeng jeeeeeng, kurang dong yah, hahahah.

Ya kurang karena pas 10 thn ke depan uang masuknya udah berubah jadi 75 jutaan misalnya. Waduh, capek2 nabung kok tetep kurang nih.

Makanya untuk planning-planning tertentu seperti itu, kita ga cukup cuma nabung doang. Tapi bolehlah mulai belajar soal investasi. Ga usah yang susah-susah dan njelimet kayak trading saham dsb itu. Cukup yang gampang-gampang aja sesuai kapasitas kita. Mulai pelan-pelan biar ga kaget.


Instrumen Investasi


Instrumen investasi yang paling sering kita denger tuh sebenernya ada 3 jenis saja :

1. Deposito
2. Obligasi
3. Saham

Deposito :

Kalian udah taulah ya. Ini tabungan dengan jangka waktu tertentu di bank dengan imbalan berupa bunga. Hasil investasinya di kisaran 0-5% - 0.9 % perbulan tergantung nominalnya.

Iya semakin besar nominal depositonya maka bunganya semakin tinggi. Kepemilikannya pake bilyet yg hrs ditunjukkan saat deposito itu mau dicairkan. Jadi masukin depo 100 juta tidak akan sama bunganya dengan masukin depo 1 milyar.

Obligasi

Obligasi ini hampir mirip dengan deposito, tp dia bukan produk bank. Jangan salah ya. Berjangka juga, tapi jangka waktunya menengah, biasanya dari 1 tahun sampai 3 atau 5 tahun. Imbal jasanya bukan bunga, tapi kupon. Dan bisa diperjual belikan di pasar sekunder.

Misal, perusahaan butuh dana untuk membiayai usahanya. Pastilah dia punya modal sendiri kan. Tapi ngga cukup, dia butuh sokongan dana dr pihak luar, biasanya pinjem di bank atau berhutang ke investor langsung. Nah kalo dia mau minjem sama investor, dia harus terbitin surat utang, nama surat utang yang dikeluarkan ini adalah obligasi.

Kenapa ga minjem bank aja?  kok harus nerbitin surat utang?

Karena bunga bank mahal gengs

Misal ya sekarang, bunga bank untuk pinjaman komersil itu di kisaran 9% sd 13 % setahun. Berarti kalo dia pinjem ke bank dia harus bayar ke bank bunga sebesar itu setiap tahunnya, bagilah perbulannya berapa.

Nah kalo perusahaan nerbitin obligasi untuk dapat pinjaman dari investor langsung, dia cukup tawarkan kupon sebesar 8% misalnya. Lebih murah kan dibanding pinjem di bank. Begicu.

Dari sisi masyarakat/investor, kenapa tertarik beli obligasi?

Karena kuponnya lebihh gede dari yang ditawarkan oleh bank.

Wah bank bisa ga laku dong?

Ga juga. Kalo bank, misalnya depo gitu ya dari BRI, kan udah jelas banget reputasinya, jadi walau bunga lebih kecil tapi keamanan lebih terjamin.

Sebaliknya obligasi, kita sebagai investor harus analisa dulu nih perusahaan yang nerbitin obligasi gimana track recordnya. Jadi ada risikonya terkait baik buruk kinerja si perusahaan.

Balik lagi ke high risk high return. Low risk ya low return.


Sekarang Saham

Perusahaan butuh modal nih buat usahanya. Selain modal sendiri dia bisa pinjem ke bank, nerbitin surat utang melalui obligasi, atau dengan menjual sebagian kepemilikannya. Nah kepemilikan inilah yang disebut saham.

Kalau ada perusahaan yang menjual sahamnya, ini artinya perusahaan itu udah Go Public.

Kalau kita membeli saham salah satu perusahaan, misal beli saham BRI, maka ya kita jadi punya andil kepemilikan di situ. Yang namanya pemilik, maka saat untung dia akan dapat untung, saat perusahaan rugi ya dia nanggung ruginya juga. Jadi istilahnya bagi untung dan bagi rugi.

Inilah makanya investasi di saham, risikonya lebih besar dibanding dua jenis instrument investasi sebelumnya tadi (depo dan obligasi).

Jadi kalau mau kita urutkan, risiko investasi dari rendah ke tinggi itu :

Deposito – obligasi – saham.

Apa beda Depo dan Obligasi?

Perbedaan antara depo dengan oblgasi dan saham salah satunya adalah depo tidak diperdagangkan di pasar sedangkan obligasi dan saham diperdagangkan. Makanya harganya bisa berfluktuasi karena sangat tergantung dengan supply and demand di pasaran.

Supplly dan demandnya sendiri dipengaruhi oleh situasi politiklah, isu-isu nasional, nilai tukar uang, edebre-edebre, makanya ga heran ya kalo ada isu-isu yang nyerang pemerintah, maka harga saham dalam negeri bisa turun, sebaliknya kalo wajah pemerintah lagi baguss, saham-saham juga ngikut naik.

Makanya ayo jgn suka bikin isu-isu negatif ke pemerintah. Lhaaaa

Ini ngomongin reksadananya kapaaaaan?

Sabar. Karena kalo ga dijelasin dari awal, ntar pada bingung soal penempatannya.

Naaaaaah, sebagai calon investor nih, kita mau dong yah nempatin duit kita ke satu instrument tadi. Tapi………. Seperti kata pepatah don’t put all eggs in one basket.

Jangan taruh telurmu di satu keranjang. Diversivikasi men, diversifikasi. Biar ga apa kali kalo ada apa-apa sama satu instrument yang kita beli. Begicu.

Jadi missal naruh deposito, ya taruhlah di beberapa bank.
Kalo mau beli obligasi, ya belilah obligasi beberapa perusahaan
Kalo mau beli saham gitu juga, ya belilah beberapa macem saham, jangan ditaruh semua duitnya di satu saham doang.

Lebih jauh lagi, ya taruhlah di beberapa instrument investasi. Sebagian di depo, sebagian di obligasi, sebagian di saham.


Lho banyak amat duitnya kok bisa beli macem-macem gitu wahahaha.

Puyeng ngga ngurus itu semua?

Kalau kayak aku, jelas aku bilang puyeng. Karena ga punya waktu buat mantengin pergerakan nilai saham satu perusahaan. Tapi bagi yang memang udah ngerti dan punya waktu, ya lebih bagus sih urus sendiri segala investasinya ini.

Nah, untuk melayani orang-orang yang ga punya waktu dan males ribet maka keluarlah suatu produk bernama reksadana. Hasek, mashoook dia





Reksadana

Reksadana itu adalah satu cara untuk berinvestasi.

Ada banyak banget cara berinvestasi lain.

Kalau mau investasi secara langsung, kamu bisa langsung buka depo ke bank (kalau mau depo), beli obligasi ke bank (kalo mau beli obligasi), atau nabung saham sendiri ke perusahaan sekuritas.

Kalau kamu ga mau langsung nangani itu semua karena sibuk, ga ngertilah, lalalala alasan lain, ada cara investasi lain yaitu reksadana.

Jadi reksadana itu apa?


Wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Sebelum masuk ke penjabarannya, kamu perlu tahu siapa saja pihak yang terlibat dalam reksadana ini.

Nah di reksadana itu ada beberapa pihak yg terlibat :

Investor : Kita nih yg mau beli reksadana

Manajer Investasi : Ini org yg akan mengolah duitny kita, diinvestasikan ke instrument keuangan mana aja gitu. MI ini hrs buat kontrak dulu bersama bank custodian, ntar dia daftar ke bapepam untuk dpt ijin menjual reksadana.

Agen Penjual : Untuk beli reksadana kita bisa langsung ke Manajer investasi, atau melalui agent penjual. Ibaratnya kalo MI ini pabrik, maka agen penjual ini kayak distributornya. Agent penjual ini bisa bank, bisa perusahaan sekuritas (Danareksa, Trimegah,MNC)

Bank Kustodian :
Nah bank custodian ini tempat urusan administratifnyalah pokoke Ya pencatatannya, ngitung NAB nya, edebre edebre.


Di mana beli reksadana?

Reksadana bisa dibeli di bank, atau di perusahaan sekuritas kayak Bareksa, Danareksa, MNC, apalagi ya. Pokoke semua agent penjual yang udah dikasi ijin.

Kalo kalian ga tau di mana perusahaan sekuritasnya, ya udin ke bank aja biar gampang. #teteup yah.

Caranya mirip kayak nabung.

Kalian datang ke bank, kalo di BRI, kalian bisa datang ke kantor cabang yg ada Sentra Layanan Prioritasnya. Di Medan ada di Cabang Medan Iskandar Muda, di Medan Putri Hijau, dan di Medan SM Raja.

Ntar ada petugas yang melayani. Kalian akan dikasih form untuk diisi. Sebelum mengisi kalian akan dijelaskan dulu tentang reksadana, jenis-jenisnya, trus dikasi tau pilihan Manajer Investasinya, ditanyain untuk kebutuhan apa, baru deh pilih mau beli reksadana apa.

Isi form, ntar selanjutnya didaftarkan oleh si petugas. Tapi reksadana ngga ada bilyet atau buku tabungan gitu ya, dia cuma dicatatkan aja ntar di sistem.


Jenis-Jenis Reksadana



Reksadana itu ada brbrp jenis :

1. RD Pasar Uang : Deposito, SBI. Obligasi jk < 1 thn.

2. RD Pendapatan Tetap : SUKUK (obligasi Syariah)
SBN (Surat Berharga Negara), Obligasi pada perusahaan BUMN dan perusahaan Swasta.

3. Reksadana Saham : Saham

4. RD Campuran


Reksa Dana Pasar Uang

Ini RD yg risiko paling kecil. Biasanya ditempatkan di depo bank atau obligasi jk pendek. Keuntungan ya paling kecil dibanding reksadana lain, tp tetep lbh tinggi dr kalo km depo langsung sendiri. Hasilnya mayan cepet kelihatan, makanya RD ini cocok utk kebutuhan investasi Jk pendek. Misal utk rencana nikah, rencana liburan.

Bagi yg baru mulai dan masih takut2 dg risiko investasi, boleh nyoba RD jenis ini dulu


Reksa Dana Pendapatan Tetap

Ini risikonya sedenganlah. Penempatan RD jenis ini di obligasi atau ke surat2 utang negara. Nilainya tergantung naik turun BI rate. Cocok utk investasi jangka menengah. sampe 3 tahunan gitulah bisa. Hasilnya biasanya lbh tinggi dr RD pasar uang.

Ini kalo misal mau invest utk dana pendidikan anak, atau naik haji, atau invest utk rehab rumah. bolelebo.


Reksa Dana Saham

Naini, penempatannya ya ke saham2 yg bagus2lah. Dari segi hasil, RD ini paling gede keuntungannya. Tapi ya risikonya jg paling gede, krn pengaruh byk hal yg aku bilang td di depan.

Makanya RD saham cocok utk tujuan investasi jangka panjang, lebih dari 5 tahun. Krn kalo mau diambil 3 thn doag misalnya, pas harga saham lagi turun, ntar panik sendiri hahaha.

Wah kok pusing. Pengen hasil gede, tp risiko kecil aja kakaaaa

Ya sud dimix aja

Reksa Dana Campuran

Reksa dana campuran ini risiko lebih tinggi dari RD pasar uang dan Pendapatan Tetap, tp lebih rendah dr RD saham.  Keuntungan juga di tengah-tengah.

Oleh Manager Investasi ntar dia bakal pilih-pilih penempatannya biar keuntungan bisa gede tapi risiko bisa seimbang.

Jadi ntra komposisinya ya terdiri dari Dua atau mix tiga jenis di atas.
Bisa PU+PT
Bisa PU+PT+Saham.

Jadi di reksadana itu yang sangat berperan adalah si Manajer Investasi.

Cara Kerjanya gimana sih? masih bingung nih  

Bayanginnya gini, Kamu punya duit 250 ribu.

Kebanyakan instrumen investasi itu dana awalnya harus gede baru bisa mulai. Contohnya nih mau buka deposito di bank. Ada nominal minimalnya. Saat ini sekitar 5 jutaanlah. Maka dengan duit 250 rb kamu belum bisa buka deposito.

Kalian mau beli obligasi juga ga bisa, karena min beli obligasi biasanya jutaan. Kalo obligasi pemerintah bisalah Rp 1 juta.

Kalau mau beli saham langsung? Bisa dengan uang 250 ribu, tapi harus urus sendiri semuanya..

Nah gimana caranya biar dengan 250 ribu kamu sdh bisa investasi?

Reksadana ini mewadahinya.

Karena ntar kita setor duit 250 ribu ini ke Manajer Investasi,  duit kita akan digabung rame-rame sama duit-duit org lain, diolahlah sama si Manajer Investasi.

Kayak yang aku bilang tadi, depo 100 juta akan berbeda hasilnya dengan depo 1 M. jadi karena rame-rame tadi duitnya, jadi banyak, maka kalo seandainya si MI, mau nempatin ke depo, ya hasilnya jelas  lebihh tinggi daripada kamu buka depo sendiri.

NAB 


NAB itu nilai aktiva bersih.
Satuan unit yg kamu dapat saat kamu beli reksadana.



Misal kita buka reksadana pertama kali di BRI. setor duit Rp 250 rb.
Kita pilih dulu Manajer Investasinya (ntar dikasi daftarnya).

Trus kita tentuin mau penempatan di mana?. Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Saham, Atau Campuran.

Nah, disitu ada dikasi tau, brp nilai perunit reksadana yg mau kita beli.
Misal RD Campuran saat itu 1 unit Rp 1000.

Maka dr duitmu yg 250.000 itu, kamu dpt 250.000/1000 = 250 unit.

Bulan depan km tambahin lagi reksadanamu, 250.000 lagi. Saat itu NABnya ternyata naik, jd 1100.
Maka dg 250 rb, km ga dpt lg 250 unit tp 250.000/1100 = 227 unit

(blm memperhitungkan biaya ya cuy semuanya)

Gitu trs. Jd km sekarang punya 250+227 unit = 477
Nilainya brp? = 477 x 1100= 524.700


Lanjut di Post Berikutnya yah : Beda Investasi Langsung Dengan Reksadana

Mempersiapkan Pensiun Bahagia

Tuesday, October 16, 2018


Hai-hai, karena banyak yang request soal dana pensiun, jadi yuk mari kita bahas tuntas di sini.

Kemarin kan aku pernah sharing ya, beberapa tujuan keuangan itu diantaranya :

1. Dana pendidikan anak

2. Dana Darurat

3. Dana Haji/liburan

4. Dana pensiun

Tergantung masing-masing keluarga dan masing-masing orang.

Lho kok dana pensiun hrs dipikirkan kan sih?

Pernah denger istilah sandwich generation kan?




Itu istilah untuk generasi yang terjepit kayak sandwich. Di samping harus menanggung biaya hidup keluarga masa depan ( anak) juga harus membiayai keluarga terdahulu (orangtua).

Ini banyak bangett terjadi lho. Jadi alih-alih hanya mikirin biaya pendidikan anak, generasi sandwich ini juga hrs memikirkan biaya hidup ortu, biaya sekolah adiknya bahkan sampai biaya pernikahan adik). Berat ya.

Menolong orangtua tentulah sangat dianjurkan, namun kalau jatuhnya kayak jadi punya dua sampai tiga tanggungan hidup tentulah yang harusnya bisa optimal mikirin masa depan keluarga jadi harus memikirkan keluarga lain juga.

Ini biasanya terjadi pada generasi terdahulu, di mana emang keuangannya pas-pasan sehingga kemungkinan i ortu ga sempat memikirkan rencana pensiun karena uangnya habis untuk membiayai sekolah anaknyayang jumlahnya juga tidak sedikit.

Kalau memang kondisi terpaksa demikian ya mau apalagi ya, namanya kondisi ekonomi orang kan beda-beda.

Nah kalo di jaman skrng sandwich generation tetep banyak juga, mungkin kita-kita juga si generasi sandwich itu, karena alasan-alasan, kayak ortu memang ga punya penghasilan lagi, sampe ya karena kita sendiri yang memang bergantung ke mereka disebabkan punya kebutuhan untuk menjaga anak-anak kita.

Maka kita nih sebagai generasi yang saat ini udah jadi orangtua. Kalaupun saat ini kitalah si generasi sandwich itu, sebisa mungkin yuks putus rantainya.

Jangan sampai masa pensiun nanti kita menjadikan anak kita generasi sandwich berikutnya.

Pastilah pengennya anak kita bisa mulai hidup barunya ya start dengan lbh ringan ya, biar larinya bisa kenceng, ga diganduli oleh biaya hidup kita di masa tua. Makanya perlu banget mempersiapkan dana pensiun dari sekarang.

Kok kita harus persiapkan, Kan udah disediain perusahaan?


Well pada kenyataannya uang pensiun yang dikasi perusahaan biasanya jauh dari yang diharapkan. Maka kita sendiri perlu nyiapin secara mandiri uang pensiun kita.

Mengenai kenapanya?

Tanya aja ke SDM atau HC masing-masing kantor ya hahaha ntar dijelasin deh itungan uang pensiun itu dari mana dan berapa-berapa persennya. Pokoke paling cukup untuk kebutuhan dasar aja ntar setelah pensiun.

Ngga percaya? Tanya aja sama para pensiunan yang sering kalian temui. Tanya berapa penghasilan pensiun dibanding kebutuhan biaya hidup saat ini.

Kalo aku sama masteg, kami nyiapin dana pensiun kami masing2.

Kebetulan di kantorku, aku dapatnya dua jenis pensiun. Yg pertama JHT, yg satu lagi dapat yang DPLK PPIP (Program Pensiun Iuran Pasti)

Nah mas Teguh tuh di kantornya sama dapat pensiun JHT juga. Tapi tau kan yah, yang namanya pensiun dr perusahaan itu itungannya dari gaji pokok. Kalo kebetulan gaji pokoknya gede, selamatlah pensiunnya. Kalo gaji pokoknya kecil ya salam.

Karena kebanyakan perusahaan itu gaji pokok kecil, gedenya di tunjangan-tunjangan. Makanya gitu pensiun ngedrop banget penghasilannya. Jadi sila lihat slip gaji masing-masing

Yang biasa gaji 20 juta, tiba-tiba pensiun cuma gaji 4 jutaan, apa ga jetlag langsung tuh.Padahal gaya hidup belum tentu berubah, pasti berkurang sih biaya hidupnya tapi ga sebanding dengan pengurangan penghasilannya. listrik, air ya tetep harus dibayar, makan ya tetep makan, makanya kudu ditambahin investasi untuk pensiunnya.

Nah masteg itu aku bukain juga DPLK di BRI, biar ntar saat pensiun ga kaget-kaget amat.

Jadi, ngerencanain uang pensiun saat masa produktif itu tujuannya di samping biar ga membebani anak-anak kita tersayang juga biar ngurangi post power syndrom terkait gaya hidup.

Begicu.

Bu bu panjang ama ye mukaddimahnya wahahahha.


Oke masuk ke pembahasan DPLKnya ya.

Apa itu DPLK?



Kayak aku bilang tadi, DPLK itu adalah kependekan dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Ini kepesertaannya bisa korporasi bisa individu.

Jadi misal di kantormu kamu udah punya program pensiun yg dikasi kantor, kamu tetep bisa ikut program pensiun DPLK ini secara terpisah krn memang sifatnya ya kayak investasi perorangan gitu.

DPLK itu ada dua macam.

Aku mau bahas yg Program Iuran Pastinya aja ya. Krn ini yg paling pas untuk kita. Iurannya pasti, manfaatnya mengikuti nilai investasi.

Jadi seperti investasi pada umumnya, hasilnya ya bakal mengikuti perkembangan nilai investasi yang kita masukin.

Sitemnya gimana?

Jadi sistemnya itu kita bayar iuran tiap bulan ke DPLK (kayak nabung). Trus ntar oleh pihak DPLKnya uang kita tersebut akan diinvestasikan ke beberapa instrumen keuangan.

Ada pilihan untuk penempatan dana kita:

- Saham

- Pasar uang

- Pendapatan tetap

- kombinasi ketiganya

Jadi pengelolaannya seperti reksadana.

Kita bisa pilih mau ditempatin di saham aja, di pasar uang aja, atau mau kombinasi. Perhitungannya pake NAB gitu. Kalo saham kan pake lembar, maka ini pake NAB.

NAB itu Nilai Aktiva Bersih.

Jadi misal kamu daftar DPLK, setoran 250 rb. Saat km daftar, NAB di angka 1000, maka kamu dpt 250.000/ 1000 = 250 unit.

Ntar kalo dah diinvestasikan, dan nilai NAB nya naik jadi 1200 misalnya, maka duitmu jadi RP 250x 1200 = 300.000

Ntar kamu rutin terus setor pake autodebet gitu dari rekeningmu setiap bulan. Nilainya boleh tetap aja gitu tiap bulan,boleh berubah2, bebaaas.

Jadi misal kamu punya duit bln ini 500 rb, masukin 500 rb, trus bln depan eh dpt rezeki nomplok trus km mau tambahin jd 1 juta. ya boleh. Eh pas bonusan kamu mau masukin langsung 20 juta ah, ya boleh juga.

Karena ntar itungannya ya ke NAB pada saat kamu setor.

Kapan diambilnya?

Diambilnya pas usia kamu pensiun.

Yang dimaksud usia pensiun di DPLK itu ada beberapa macam :

  • Pensiun Normal, manfaat pensiun diberikan saat mencapai usia pensiun yang ditetapkan peserta pada awal masa kepesertaan (usia 55).
  • Pensiun Dipercepat, manfaat pensiun diberikan kepada peserta yang minimal berusia 10 (sepuluh) tahun sebelum usia pensiun normal dan berhenti dari kepesertaan
  • Pensiun Cacat, manfaat pensiun cacat dibayarkan kepada peserta yang mengalami cacat tetap dan tidak dapat melanjutkan iurannya.
  • Pensiun Meninggal Dunia, apabila peserta meninggal dunia sebelum Usia Pensiun Normal, manfaat pensiun dibayarkan kepada janda/duda atau ahli waris peserta.

Tapi ada aturan pengambilannya, ga bisa langsung diambil semua, tapi dijadiin anuitas, semacam gaji bulanan. Jadi dibayarin per bulan gitu kayak kamu nerima uang pensiun dari kantor.

Aturan POJKnya tuh:

  • 20% dr saldo DPLK mu dibayarkan tunai
  • 80% nya, kalo saldomu < 500 juta boleh dibayar tunai langsung. 
  • Kalo > 500 juta =< 1,5 M, wajib dibelikan anuitas.
Anuitas ini akan dibayarkan terus ke kamu sampe tutup usia. Setelah si peserta meninggal, maka akan dibayarkan ke pasangannya istri atau suami. Setelah pasangan meninggal, akan dibayarkan ke anaknya, sampe si anak usia 25 tahun. Jadi beneran kayak pensiun.

Untung banget kan.

Syaratnya apa aja?

Sama kayak nabung doang .

- Datang ke BRI, ke kantor cabangnya aja biar gampang.

- Bawa KTP, buka rek dulu kalo blm ada, kalo ada ya udah ga perlu

- Isi form DPLK

- Ntar isi berapa mau setoran per bulannya

- Dipasangin autodebet.

- Udah gitu aja.

Ntar tiap bulan rekmu akan didebet utk disetor ke DPLK.

Report?

Setiap 3 bulan kamu dapat hasil perkembangan investasi di DPLKmu. Laporannyabisa berbagai cara :
  • Dikirim via kurir
  • Dikirim via email
  • Atau bisa langsung cek di web www.dplk.bri.co.id

Gampang Kaaaan.

Kalo mau jelasnya, kamu bisa simulasi dulu.
Misal: Usia sekarang berapa, masa investasi sampe pensiun berapa tahun, pengennya ntar pensiun dapat uang bulanan sekian, maka berapa nih tiap bulan hrs nyisihin duit untuk dimasukin DPLK.

Simulasikan aja di www.dplk.bri.co.id.

Pesertanya?

Jadi, DPLK ini bener-bener bisa untuk siapa saja, ga harus pegawai kantoran. Ibu rumah tangga, petani, pedagang, freelancer, pegawai swasta ya bisa banget.

Nah ada beberapa pertanyaan yang tadi mampir di Instagramku. Aku jawab aja sekalian di sini ya .


DPLK ini sama ngga dengan Reksadana?



DPLK dan Reksadana ini banyak kesamaannya tapi ada bedanya.

Persamaan :
  • Sebagai investor kita sama-sama bisa milih sendiri penempatan dananya. Mau di pasar uang, saham, pendapatan tetap atau campuran
  • Sama-sama hitungannya unit penyertaan
  • Iuran sama-sama tdk bersifat mengikat kayak yg aku bilang td. Mau setor berapapun gpp tiap bulan, ga harus dipatok
  • Sama-sama punya risiko. Ya namanya juga investasi, pasti ada risikolah. Bobo aja ada risiko. Risiko dibangunin ayank, eeeaaaa.
Perbedaan Reksadana dan DPLK
 
Reksadana :
  • Penarikan dana bisa sewaktu-waktu
  • Bebas mencairkan dananya. Mau diambil sekalian semua bisa
  • Pihak yg memasarkan : Manajer Investasi langsung, agent penjual bank, dan agent penjual non bank
DPLK :
  • Penarikan hrs di usia pensiun, tdk bisa sewaktu-waktu
  • Pencairan dana ada ketentuannya (td di depan udah aku jabarin). Jadi untuk saldo tertentu, 20% bisa diambil tunai, sisanya harus dibelikan annuitas yg dibayar bulanan kayak gaji pension.
  • Pihak yg memasarkan : DPLK, atau asuransi. DPLK dipasarkan juga melalui bank. BRI salah satunya.


    Ada Risikonya ngga

    Ya adalah, namanya juga investasi. Nabung di celengan aja ada risiko. Hidup ini penuh risiko mas bro (mulai drama). Naah makanya dipelajri dulu dulu, trus sesuaikan sama profil risiko diri kita, beraninya ambil risiko yang mana ini.





Ni, aku kasi tau, tingkat risiko masing-masing penempatan tadi ya.

Risiko Rendah

Penempatan ke DPLK Pasar Uang.
Instrumen investasinya : Deposito, SBI. Obligasi jk < 1 thn.

Deposito udah paham ya.
Obligasi, itu contohnya ORI, baca bahasan ORI di High Lightku.

Nah, kalo kamu yg punya profil risiko rendah alias mau aman ya ntar DPLKnya minta ditempatin di pasar uang.

Tapi tentu saja berlaku rumus High risk, high return.
Low Risk ya low return.

Risiko Sedang .


Penempatan di DPLK Pendapatan Tetap.
Instrumen Investasinya :

SUKUK (obligasi Syariah)
SBN (Surat Berharga Negara)
Obligasi pada perusahaan BUMN dan perusahaan Swasta.


Risiko Tinggi.
Penempatan : DPLK Saham
Instumen Investasi :
- Reksadana Saham
- Saham

Aduh aku mau yg risiko ga gede-gede banget tp returnnya tinggi dong.


Bisaaaa.

Minta penempatannya ke DPLK Campuran/kombinasi.

Jadi ngga semuanya ditaruh di satu jenis, tapi boleh dicampur sesuai prosentase yang kita inginkn.
Misal :
DPLK Saham : 20%
DPLK Pasar Uang : 40%
DPLK Pendapatan Tetap : 40%

Atau mau lebih gede lagi
Saham : 50%
Pasar uang : 50%


Aku maunya di instrumen Syariah aja bisa ngga?

Bisa.
Ada juga jenis DPLK PSU Syariah.

Ini risiko rendah. Sama dengan DPLK Pasar Uang, tapi penempatannya di bank2 syariah.
Deposito ya ke bank syariah, obligasi ya ditaroh ke SUKUK.

Yang risiko sedang-tinggi : DPLK Berimbang Syariah
Ini kombinasi antara SUKUK dan Saham/reksadana syariah




Kelebihan DPLK apa, dibanding kita beli reksadana langsung?

Kalau hasil sama aja sih tergantung pengembagan investasi.

Namun,jika di reksa dana, investor bebas mencairkan sebagian atau seluruh dananya. Kalau di DPLK nilai penarikan dana ada ketentuan dari Kementerian Keuangan. Dimana apabila akumulasi iuran dan hasil pengembangannya di atas Rp 500 juta, maka sebanyak 20% boleh ditarik tunai dan 80% dibayarkan dalam bentuk anuitas.

Misalkan pada usia pensiun, dana yang terkumpul adalah Rp 1 milliar setelah pajak, maka nilai dana yang boleh ditarik secara tunai adalah Rp 200 juta dan Rp 800 juta dibayarkan dalam bentuk anuitas.

Anuitas adalah manfaat pensiun yang dibayarkan secara bulanan.
Anuitas ini dibuat karena khawatir si pensiuanan tidak bijak dalam mengelola dana. Jadi kalo diambil semua bisa habislah dalam sekejap.

Nah anuitas ini manfaat pensiunnya kalo ybs meninggal, akan diteruskan ke  istri .
Kalo istri meninggal diteruskan ke anak, sampe anaknya usia 25 thn.

Tentu besarnya beda ya kalo udah ke ahli waris dibanding si pensiunan sendiri yg dpt.

Kalau reksadana kan ga gitu. Kalau udah diambil ya udah tergantung gimana cara pemakaiannya.

Ada plus minusnyalah.


Di Tengah Jalan boleh Diganti Ngga alokasi DPLKnya?


Bisa saja. Tapi ntar isi form lagi ya di bank.

Oke deh. Semoga bisa memberi pencerahan soal dana pensiun ya. Jadi mau pake produk apapun mah ga masalah. Yang penting kenali dulu sebelum memutuskan. Yang masalah kalau cuma rencana doang, tapi ga dieksekusi-eksekusi.


Ibarat pacaran doang ga ke pelaminan pelaminan, wahahahaha.


Yuks

Mengatur Keuangan Dengan Bantuan Financial Planner

Wednesday, December 13, 2017


Dari awal nikah, saya dan Mas Teguh udah yang ngatur keuangan bangetlah. Perkara ngatur duit pas masih cuma berdua doang, kami bisa dibanggakanlah. Makanya beli mobil ngga pernah pake kredit, karena nunggu duitnya ada dulu. Beli rumah pertama juga ngga pake KPR, nunggu duit terkumpul juga, walau akhirnya dijual dan beli KPR rumah yang sekarang, hahaha failed. Masa-masa itu, tiap dapet bonus langsung tabung, dapat IJP tabung, semua ditabung.

Pokoke intinya, saat belum punya anak, kami lumayan sukseslah planning keuangannya. Berhasil membeli barang konsumtif dengan cara tunai tanpa membuka kredit. Kompensasinya ya ngga liburan kemana-mana kecuali mudik doang. Karena mudik doang udah abis 30an juta ya ceu, saya selalu nyesek tiap masa mudik, hahahah.

Gitu punya anak 1 masih slow juga soal keuangan. Paling ditambahin dana pendidikan Tara, rutin nabung per bulan, pake rekening khusus dengan nama Tara. Nah sejak punya anak kedua, saya mulai keteteran. Mulai ada kekhawatiran-kekhawatiran. Trus baca-bacalah artikel keuangan, dapet nama Ligwina Hananto dari Icha. Ya udin langsung baca semua artikel keuangannya doi. Dan kemudian sadar, OMG keuangan saya sepertinya kacau banget.



Jadi, abis baca tweet dan artikelnya si Ligwina, saya jadi nyadar, ternyata selama ini tuh saya nabung tanpa tau tujuannya apa. Nabung-nabung doang, ikut asuransi ikut asuransi doang tanpa tahu tujuan keuangannya apa?

Tujuan keuangan bagaimana?

Jadi ya menurut Ligwina, dalam merencanakan keuangan yang pertama harus ditanyakan itu adalah tujuan lo apa?. Jadi biar nabung atau investasi, atau asuransi, apapunlah lebih jelas, terukur dan punya timeline untuk mencapainya.

Tujuan keuangan itu, kayak kita mau menyiapkan dana sekolah anak, dana haji, beli rumah, liburan, pensiun.

Contohnya nih, saya dulu udah nabung untuk dana pendidikan Tara 500 ribu sebulan. Tapi saya tuh sebenernya ngga tau, goals saya untuk dana pendidikan Tara berapa?

Nah itu cara yang salah. Karena kita harus tau dulu, tujuan kita nabung atau invest itu apa. Jadi misal tujuannya dana pendidikan sekolah. Tingkat apa dulu nih? SD, SMP, SMA, atau kuliah?

Tujuannya biar kita tau berapa lama waktu yang kita punya untuk ngumpulinnya. Karena jangka waktu duitnya dibutuhkan untuk SMA tentu beda dong yah dengan kebutuhan untuk masuk SD. Semakin panjang waktu duitnya mau dipakai ya berarti semakin ringan cicilannya. Begicu.

Trus saya mulai deh itung-itung. Mulai survey sekolah untuk perkiraan dana yang dibutuhin, eh trus saya kepikiran, " Lha iya sekarang misal masuk SD Namira Rp 12 juta, lha jangan-jangan saat Tara masuk udah jadi 20 juta". Akhirnya pusing sendiri wahahahaha.

Makanya akhirnyaya udahlah, hire Financial palnner aja, biar lebih terarah, hahaha. Pakai financial planner bukan buat gaya-gayaan. Dih apaan sih pake financial planner segala, kayak yang mau diurus harta milyaran rupiah aja. Ngga gitu sih, tapi biar sekalian tau ilmunya, sekalian belajar juga. Begitulah tujuan mulianya.

Saya pake Financial planner dari QM Quanta Magnum punyanya Ligwina. Karena apa? Karena jujur aja saya taunya cuma itu, udah banyak yang merekom, jadi males cari yang lain.

Saya kirim email ke mereka, trus mereka WA ke saya. Saya tanya-tanya dululah mengenai biayanya. Kebetulan kemarin lagi ada promo, jadi dapet diskonan 20 persen, mayan yah.

Biayanya berapa?


Yang pasti ngga semahal nginep di Marina Bay, wakakakaka. 

Eh serius. Pokoke, menurut saya masih worthlah ngeluarin duit beberapa juta tapi kita diaturin dan diarahin untuk masa depan keuangan kita, halah. Namun inget yah, mereka tuh cuma nyaranin, selanjutnya terserah dan tergantung kita. Kalo ngga mau ikutin ya monggo.

Nah setelah fixed, saya transfer pembayarannya dan arrange waktu untuk konsultasi.

Oya, QM financial itu kan kantornya di Jakarta, jadi karena saya di Medan, konsultasinya via Skype. Untuk paket pembuatan plan yang ekonomis ini, saya dapat jatah 4 kali skype. Masing-masing selama 2 jam. Kalau yang di Jakarta, bisa ketemu langsung sama Financial Plannernya, malah asik banget ya. But menurut pengalaman, via skype aja jelas banget kok pemaparannya.

Apa saja yang bakal kita dapat untuk pembuatan plan ini?

Paket komplit sih mulai dari analisa keuangan, edukasi reksadana, perhitungan tujuan keuangan, cara mencapai target keuangan, perhitungan kebutuhan asuransi, sampe implementasi rencana keuangan kita.

Nanti di akhir sesi kita dapet bundel rencana keuangan kita lengkap berdasar hasil diskusi yang telah dilakukan.


Alurnya gimana?

Kita kirim email dulu ke QM, menginfokan kalau kita mau bikin plan pakai jasa mereka. Trus mereka ntar kirim surat konfirmasi pembuatan plan. Tanda tangani trus kirim balik. Ini sebelumnya mereka akan hubungi kita via WA, jelasin dulu apa-apa isi paketannya biar menyesuaikan dengan kebutuhan kita.

Kalau udah setuju, ntar kita dikirimin invoice, bayar deh . Abis itu ntar kita diaturin dengan planner siapa, dan nanti plannernya menghubungi kita untuk arrange waktu konsultasi.

Planner 

Oleh planner ntar kita dikirimin semacam form data keuangan yang ada field-field untuk isi pemasukan dan pengeluaran kita, termasuk juga aset-aset yang dimiliki baik aset lancar maupun aset tetap. Kita isi deh segala pengeluaran dan pemasukan sampe printilan terkecil. Jadi mulai pengeluaran belanja bulanan, belanja baju, listrik, air, sampe kayak kondangan, ngasih orangtua, bantuan ke keluarga, arisan, semua kita masukin. Udah ada disitu daftarnya tinggal isi doang.

Ada juga isian untuk profil risiko kita. Kita masuk type yang moderat atau konvensional.

Kalo saya mah moderat ya, tapi suami saya type konvensional, ngga papa, tuliskan aja di situ, biar si planner tau apa yang harus disarankannya.

Moderat itu maksudnya, kita yang lebih berani ambil risiko gitu lho. Jadi ntar saran investasinya bisa diarahin ke reksadana saham atau campuran. Kalo type konvensional kayak suami mungkin nyaraninnya ke reksadana model pasar uang atau pendapatan tetap gitu.

Lalu isi juga segala pemasukan kita. Baik gaji bulanan, uang cuti tahunan, bonus, hasil kontrakan, hasil panen sawah, harta warisan jika ada. Lalu isi juga form untuk aset, baik yang sudah lunas maupun masih nyicil, kayak rumah, kendaraan, mobil, motor, deposito, emas, reksadana. Semuuuuuuaaaaa dimasukin.

Ini ngisinya harus jujur, jangan ada yang ditutup-tutupin, biar ntar mereka ngga salah juga ngasi advice dan membuatkan plannya untuk kita.

Ntar kalian bakal ter wow wow deh dengan isian sendiri, hahahaha.

Maksudnya terwow wow dengan " Wow betapa borosnya aku selama ini"

Atau ngga  "Wow, ini aku punya uang segini yah harusnya, kenapa kok bisa ngga punya apa-apa?"

*Masalah hidup banget ya bu



Pokoke tahan mental deh pas lihatnya. Karena agak nyesek memang. 

Trus selain pemasukan dan pengeluaran, kita juga harus isi daftar sekolah beserta uang masuk sekolah yang mau kita tuju.

Jadi, karena salah satu tujuan keuangannya adalah dana pendidikan anak, maka kita cari-cari dulu berapa biaya masuk sekolah inceran kita. Gampanglah itu yah, tinggal tanya info via telepon aja ke sekolah yang kita mau. Atau kalau ngga, ya tulis aja nama sekolahnya. Kalo sekolahnya mayan terkenal ntar mba planner akan bantuin kok nyariin perkiraan uang masuknya.

Semua ngga harus fixed kita tuangkan di form awal ini. Ini untuk ancer-ancer dulu, biar secara garis besar si planner tau maunya kita apa. Ntar di sesi konsultasi bakal dibahas lebih dalam.

Setelah form lengkap diisi. Ntar akan dianalisa oleh plannernya. Analisanya bersama-sama kok pas sesi konsultasi

Gimana Konsultasinya?

Konsultasinya itu bisa bertatap muka langsung kalau domisili di Jakarta. Atau melalui skype. Saya kemarin melalui skype. Satu kali pertemuan 2 jam. Jadi cukup bangetlah waktunya. Biar ngga bertele-tele, makanya sebelum skype-an kita janjian dulu, biar sama-sama mengkondisikan suasana dan tempat yang tenang (padahal saya mah di dapur doang wahahahah dengan Divya yang gelendotan dan Tara yang lari-lari sambil jejeritan).

Di sesi konsultasi pertama itu keuangan kita akan dianalisa dulu.

Analisanya itu meliputi cek kondisi keuangan kita sehat atau ngga. Kalau ada yang perlu diperbaiki ntar dikasih tau. Misal utang kegedean, atau pengeluaran ngga penting terlalu banyak. Trus menyamakan persepsi soal tujuan keuangan. Dijelasinlah semuanya.

Jangan ragu untuk bertanya jika memang kita ngga mengerti. Misal kita nih sebenernya ngga tau apa aja yang harus dicapai dulu, ya gpp, kasih tau aja, ntar mbanya pinter kok ngarahin pertanyaan. Kayak saya pas awal tuh, malah ngga tau yang mau diisi di form, tapi saya paparkan saja kondisi keuangan keluarga kami, dan minta pendapatnya mba planner.

Selanjutnya?

Ya ntar pembicaraan berkembang deh, sesuai apa yang kita tulis. Sesuai tujuan keuangan kita.

4 sesi apa cukup?

Cukup banget. Karena satu sesinya kan 2 jam yah. Dan krn pake skype, jadi bisa lihat data langsung, mbanya ntar share power point, jadi kita sama-sama lihat apa yang diobrolin dan dipaparkan, ngga cuma lihat muka doang. 

Abis analisa keuangan, baru deh ntar dibedah satu-satu tujuan keuangan kita. kemana harus investasinya, berapa perbulan yang harus kita sisihkan.

Dan yeaaah ntar hasilnya bikin kita puyeng sendiri wahahahaha. Karena mak dudul keluar angka milyar milyar.

Jangan cemas dulu, angka itu adalah angka perkiraan present value gitu lho. Jadi misal kita planning untuk biaya kuliah anak. Misal mau ke UGM nih planningnya atau mau kuliah luar negeri. Cek berapa uang pangkalnya, berapa uang semesterannya. Sama mbanya diitungin nilai present valuenya. Makanya dapat milyar-milyar.

Masuk akal, karena kan penggunaan dananya memang untuk beberapa tahun ke depan.

Ntar di postingan berikutnya aku jemberingn lebih rinci yah. 

Di sesi ketiga ntar, kita dapat edukasi tentang reksadana, pemilihan asuransi. Trus dijelasin juga cara mencapai tujuan keuangan kita yang kemarin udah di bahas di sesi 1 dan 2.

Ini ngga kaku sih, bisa dibolak balik jika misal kita ada pertanyaan mundur lagi.

Makanya setiap sesi, dipastikan data-data sudah fixed, biar mba planner ngitungnya juga udah di angka pasti, ngga mengira-ngira. Karena kan sayang kalau udah bayar planner tapi itungannya tetap ngga sesuai kondisi real.

Sesi keempat, udah final. Dibikinin resume sama plannernya. Dijelasin lagi dari awal sampe akhir. Berapa yang harus kita sisihkan, Kemana aja pos pos keuangan kita. Apa yang harus dihemat, apa yang boleh tetap dilakukan.

Tapi intinya sih, mereka sama sekali ngga intervensi gaya hidup kita yang sekarang. Pokoke mana yang buat kita nyaman, mereka nyesuain plan nya dengan habbitnya kita. 

Kalau semua sesi udah rampung. Nanti kita akan dikirimi bundel kayak laporan keuangan kita. Yang isinya mulai dari aset kita, rasio keuangan keluarga, pemasukan, pengeluaran, tujuan-tujuan keuangan, perhitungan asuransi, reksadana pilihan yang bisa kita pilih (cuma jenisnya bukan merknya). 

Udaaaah selesai deh. Tinggal tanya diri kitanya, mau dijalanin atau ngga. Kalau mau dijalanin ya ikutin saran-saran si planner.

Karena ini paket hemat, maka ya hanya sampai pembuatan plan aja. Masalah ke banknya, buka rek, beli reksadananya kita lakukan sendiri. 

Gimana menurut kalian? Seru lho. Jadi lebih ngerti keuangan sendiri setelah dijembreng.

Next aku tulis saran-saran dan gambaran plan keuanganku ya. Mungkin ngga rinci sampai angkanya tapi minimal step-step dan pos-posnya. Sabar yah, karena saya nulisnya bener-bener curcurwak, alias curi-curi waktu hahahaha.

Bhay







Custom Post Signature