Center Of Universe Setelah Jadi Orangtua

Friday, November 23, 2018



Yup, kayanya hampir semua pasangan muda, setelah menikah dan punya anak, prioritas hidupnya jadi berubah. Anak menjadi center of universe. Semua mua dilakukan demi anak, untuk anak, karena anak. Tak jarang, seorang wanita sampai abai sama kebutuhan diri sendiri, seorang suami lupa sama kebutuhan istrinya, karena semua udah all about the baby.

Tau ngga, saya pernah punya temen cowok, yang sempet sebel sama anaknya sendiri, karena doi bilang, sejak punya anak istrinya ngga lagi perhatian sama dia. Prioritas hidup istrinya Cuma kebutuhan anaknya. Pulang kerja makan sendiri, mau ngajak istrinya ngobrol, eh istrinya sibuk nyusui anaknya. Giliran nyusui selesai, dianya udah ngantuk.

Udah ngga pernah lagi mesra-mesraan, karena si istri yang dibicarakan cuma anak-anak- dan anak.

Awalnya saya tuh yang pengen nokokkan kepala si kawan ini " Woy ya wajarlah, namanya juga ibu baru, masih excited sama anaknya, atau ngga ya karena terlalu khawatir sama anaknya, jadi yang dibicarakan anak-anak-anak".

Tapi setelah saya pikir-pikir, kasihan juga ya para suami. Mereka harus dipaksa mengerti bahwa anak udah jadi center of universe si istri. Padahal ya dianya juga mungkin aja baby blues ya. Mungkin aja doi juga sebenernya gagap jadi papa baru, dan pengen curhat ke istri, pengen berbagi cerita ke si istri. Mungkin penat di kerjaan dan pengenlah si istri yang kayak dulu,manja-manja kepada dia.

Bahwa yang namanya menjadi orangtua, prioritas hidup itu jadi berubah, bahkan prioritas terhadap pasangan aja bisa tergantikan. Anak jadi center of universe kita. Kalau kita terus menerus terjerumus dengan stigma bahwa anak adalah segalanya, bisa bahaya juga bagi keluarga dan bagi perkembangan jiwa diri sendiri. Makanya perlu keseimbangan dan kesadaran, bahwa ga apa kok sekali-kali mendahulukan kepentingan ibunya misalnya. Kayak masalah kompeng dan ayunan itu. Kalau memang diperlukan alat bantu, saya rasa ngga ada salahnya kok ortu menggunakannya. Demi anak tidur lebih nyenyak dan ibu lebih banyak istirahat.

Pokoke intinya, it's ok not to be a perfect mother versi buku parenting. Sepanjang tidak membahayakan anak, kita bahagia, improvisasi dalam hal pengasuhan anak, sah-sah saja menurut saya.

Nah nyambung ke berita yang lagi hot di timeline. Soal perceraian keluarga idola kita semua [KITA], iya idola kitalah, aku termasuk yang suka sama keluarga ini walau ngga sampe yang ngefans gimana, seru aja lihat mereka, ditambah si Koneng lagi.

Banyak banget komen-komen di instagram dan di twitter yang isinya kira" Tolong dong pikirkan perasaan Gempi", sampe yang " Kalian tidak boleh egois jadi orangtua, mengalahlah demi keutuhan orangtua bagi Gempi.

Terus terang saja mendengar berita perceraian Gading_Gisele ini aku sedih. Tapi baca-baca komen netijen begini, kok rasanya gimana yah. Aku yakinlah ga mungkin keputusan sebesar itu ga dipikirin mereka dengan matang. Beban sebagai public figur, beban sebagai role model keluarga bahagia, ditambah postingan-postingan keimutan dan kelucuan anaknya, pasti membuat mereka udah mempertimbangkanlah keputusannya.

Aku mau cerita aja, ada temenku yang orangtuanya tiap hari bertengkar terus, udah level saling menjelekkan satu sama lain. yang tau sama-sama tidak puas dengan diri pasangan. Saling benci tapi ngga mau pisah. Sama-sama berfikir, ga apa-apa kami ga bahagia, asal kalian anak-anak kami tetap memiliki orangtua yang utuh. Kondisi gitu berlangsung bertahun-tahun, dari temenku ini masih piyik sampe kuliah, nikah, punya anak. Ortunya ngga kunjung pisah, tetap bersama dan tetap saling memaki, tetap saling menyakiti, sampe akhirnya si temenku dan sodara-sodaranya jadi benci sendiri sama kedua ortunya. benci sama ortu dan benci sama diri mereka sendiri. " Kenapa mama papa ga pisah aja kalo udah ga saling cocok, kami anak-anak ini ga masalah banget lho punya ortu bercerai daripada lihat kalian berdua ga bahagia gini"

Huhu aku dengerin cerita temenku ini sampe ikutan nangis. Karena ya itu terjadinya udah lama, dan ortunya terlalu pengecut buat ngambil keputusan. 


Apakah mereka si anak merasa bahwa ortunya berkorban untuk mereka?

Ya ngga juga.

Mereka malah mungkin lebih bahagia kalo kedua ortunya lebih punya sikap. Karena untuk apa tetap bersama kalau sebenernya toh ngga ada lagi yang bisa dipertahankan. Kalo anak-anak?. Anak-anak mungkin akan kehilanganlah pada awalnya, mungkin akan kecewa, mungkin akan merasa tidak dicintai, tapi seiring usia dan kedewasaanya, asal dikasi pengertian yang benar, pasti akan mengerti bahwa perpisahan kedua orangtua bukan berarti tidak sayang pada mereka.

Balik ke judul awal. Mungkin setelah menikah, pasangan suami istri akan memiliki prioritas hidup yang berubah, anak, segalanya tentang anak. Tapi untuk kebahagiaan pribadi, jika memang tidak memungkinkan untuk tetap bersama, menurutku berpisah mungkin jadi pilihan terbaik.

Dan perihal anak menjadi pusat semesta kita, aku ngga mau banget seperti itu. Anak tentu  jadi prioritas kita tapi pasangan adalah belahan jiwa kita. Kepentingan dia tidak kalah pentingnya dengan kepentingan anak. Kebutuhan pasangan tidak kalah urgentnya dengan kebutuhan anak.

Percaya saja, anak-anak kita itu tidak selemah yang kita pikir kok, mereka itu kuat dan bisa mengerti kondisi ortunya

Aku ga pro perceraian, aku pro kebahagian semua orang. Karena pernikahan yang di dalamnya saling menyakiti atau sudah tidak satu jalan lagi itu sungguh menyiksa.


Percaya sama aku

Eh ngga ding, percaya ajalah pokoke, lhaaa labil.

Mengajarkan Konsep Uang ke Anak

Thursday, November 22, 2018


Siapa di sini orangtua yang pusing mengajarkan konsep uang ke anaknya?


Ga apa-apa banget lho dari kecil anak diajarkan tentang uang, bukan supaya dia mata duitan, tetapi supaya dia mengerti bahwa beli sesuatu itu pake duit, bukan pake daun, apalagi pake tisue dan airmata, halah.

Dari usia dua tahun sebenernya anak sudah bisa dikenalkan dengan uang. Tapi pastinya dia belum mengerti soal nilainya, tapi minimal paham kalo beli sesuatu tidak sim salabim abakadabra. Bukan begitu bunda?

Kalo di keluargaku, jujur aja aku belum benar-benar ngajarkan konsep uang ke anak. Palingan tindakan nyata soal perduitan, aku cuma ngajarin nabung aja sama Tara. " Ayo Tara nabung, biar bisa beli yang Tara mau"

Aku beliin celengan, suruh isi kalau ada koin-koin sisa duit belanja. Anaknya hepi banget, jadi tiap nemu koin girangnya ampun deh, hahah.


Nah, kalau soal pembelian barang, Tara aku ajarinnya pake konsep " Mahal dan Murah"

Ternyata itu jauuuh lebih gampang dibanding berbusa-busa ngelarang dia celamitan jajan di Indomart.

jadi, kalau lagi ke Indomart, mau beli sesuatu dia bakal nanya dulu ke aku " Bunda, tara boleh jajan ngga?"

" Boleh, tapi bunda bawa duit cuma dikit nih"

" Iya, Tara ngga beli yag mahal-mahal kok, yang murah aja bunda"

Jadi, kalau dia ngambil coklat misalnya, dia bakal nanya " Ini mahal atau murah bunda/"

Ya tinggal jawab aja mahal kalo memamng mahal atau ya murah kalo memang murah. Jawabannya ga serius-serius amatlah, sesuain aja ama kantong, hahahaha. Pokoke Kinderjoy aku bilang mahal #kzlamakinderjoy. Susu Ultramilk yang besar mahal, yang kecil murah, maka Tara ya bakal ambil yang kecil.


Jadinya si Tara sekarang mayan bisa direm celamitannya kalau di tempat belanja. Tetap beli sih, tapi bisa diarahin ke barang yang masuk akal. Ga ujug-ujug guling-guling minta sesuatu. Stress banget kan yah kalo gitu.


Dengan konsep mahal murah ini, dia jadi kayak ikutan mikir gitu lho tentang duit emak bapaknya yang ngga tumbuh di pohon. Memang belum ngerti bener nilainya, tapi udah ngerti bahwa beli barang mahal itu harus dipikirin.


Mau main timezone aja udah bisa pake jurus ini.

"Mainnya dua kali aja yah, mahal"

" Mahal bunda?', bunda ga cukup duitnya?"

"Iya ga cukup"

" Tapi kan ada papa, papa banyak duitnya"

Wahahahaha, serahkan ke papa.

Kemarin itu si Tara, malah sempet nanya gini, " Bunda, kenapa rumah kita kecil?"

Haduh mamaknya kaget ditanya gitu hahaha, tapi ya ga kaget-kaget amat sih, udah persiapan aja ditanya begitu, karena memang dibanding rumah lain di komplek perumahan kami, rumah kami tergolong yang kecil.

" Ngga kecil ah, kan cukup untuk Tara, adek, bunda, papa dama Tete"

"Tapi kecil bundaaa, ngga kayak rumah Chia, rumah Chia bueeesaaaar"

" Iya, rumah Chia soalnya mahal sayang"

" Ooooh rumah kita murah ya, papa duitnya ga cukup?"

" Iya papa duitnya ga cukup"

" Makanya papa, cari uangnya yang banyak dong biar rumah kita besar'

Wahahahaha kacian papa.

Beberapa hari kemudian, aku ajak Tara main ke rumah kosong di komplek yang lebih kecil. Aku bilang ke Tara

" Tara, kita mau pindah ke sini lho, kan Tara kemarin ga mau tinggal di rumah kita, kata Tara rumah kita kecil'

"Ngga bunda, Tara ngga mau pindah,  rumah kita besaaaar"

Wahahaha, dasar labil. Gitu doang udah berubah.

 Tadi aku baca-baca soal artikel keuangan, memang katanya anak baru mengerti nilai uang biasanya di atas usia 7 tahun. jadi bunda-bunda yang mau ngenalin konsep uang ke anaknya, bisa kenalin hal-hal ini dulu ya

1. Beli sesuatu itu pake uang
2. Ada barang mahal dan ada barang murah
3. Papa dan bunda harus kerja untuk dapat duit, ga jatuh dari langit.

Bisa juga pake cara bermain toko-tokoan.

Aku sering mainin ini sama Divya.

Aku beliin mainan masak-masakan yang sepaketan ada duit-duitannya. Jadi tiap Divya bikinin masakan ke aku, aku seolah-olah beli. Sekarag tiap mau sesuatu Divya selalu nagih duit ke aku.
" Bundaaaa, adek mau beli loti, minta duit nda " (baca pake cara cadel ya, duh gemaz).

Kalo ke Tara selain konsep mahal-murah, dia udah sering aku suruh bayar-bayar sesuatu. paling sering kalo ada abag gojek yang ngantar makanan pesananku. Aku suru bayar sembari bilang  ntar ada kembaliannya ya sayang.

Ya udah sih gutu doang, hahahha. Soal kaya miskin aku belum ajarin ke Tara. Pokoke kalo dia nanya-nanya kayak

" Bunda kok rumah di depan besar rumah kita kecil"

Atau " Kok mobil Khira besar, mobil kita kecil" dsb dsb , cukup pake jawaban mahal-murah aja, plus ditekankan " Segini ini udah cukup untuk kita".

Kalau kalian gimana cara ngajarin konsep uang ke anak?. Ayo sharing, biar yang baca bisa kutan niru.





Orangtua Yang Egois

Wednesday, November 21, 2018


Kemarin saat aku sharing di instagram soal romantisasu kalimat-kalimat bijak yang ga bijak-bijak amat, aku sempet bilang bahwa kalimat "Menjadi ibu adalah sebuah pengorbanan" sering membuat kita salah paham dan begitu mengagung-agungkan posisi kita sebagai orangtua.

Aku udah pernah sih nulis tentang ini di postingan berjudul Benarkah seorang perempuan selalu berkorban untuk keluarganya.

Makin dipikirin kok ya ternyata kita nih ya, gue maksudnya merupakan contoh-contoh orangtua egois. Apa itu kalimat " Semua demi kepentingan anak" wong pada kenyataannya semua-semua pertimbangannya ya ke diri kita kok.

Jadi kemarin aku ngobrol sama masteg tentang sekolab Tara. Aku cerita ke masteg kalo aku hepi dengan progres belajar Tara di sekolah. Walau Tara ga masuklah murid yang terajin,terpintar,tergesit, dan ter ter lainnya tapi dia tuh menyenangkan sekali jadi anak.

Nah soal sekolah, karena tahun depan Tara udah masuk SD jadi ya udah mikirin Tara mau SD di mana.

" Yang deket ajalah nda sama rumah, biar ga repot antar jemputnya"

Lho papa gimana sih, masa nyari sekolah anak yang penting deket sih, kualitasnya gimana?.

Ya kan SD yang di situ ntu bagus juga ah. Ga jelek-jelek amat.

Tapi ya aku ga mau anakku sekolah di sekolah yang ga jelek-jelek amat, aku maunya Tara sekolah di sekolah yang bagus.

" Emang sekolah bagus menurut bunda itu yang mana?"

*Jembrengin sekolah hasil browsing internet.

"Wah iya itu bagus ya dek, coba lihat uang sekolahnya berapa"

Brb cek uang sekolahnya, pandang-pandangan sama masteg kemudian ketawa bersama wahahahahaha.

Karena sekolah yang kutunjukkan, uang tahunannya 150 juta gengs. Trus tersenyun kecut.

Udaaaah kaum menengah kayak kita ga usah sok paten, kata masteg.

Hahahaha sebenernya aku udah tau uang sekolahnya segitu. Aku pikir masteg yang bakal support " Ayo kita usahakan", kulupa suamiku ini orang yang hidupnya sellow kayak di pulo, santai kayak di pantai.

Nah, bener kan, kita-kita [KITA] nih sebagai orangtua sesumbanya aja semua demi kepentingan anak padahal apa-apa ya kepentingan kita, hahahaha.

Nyari sekolah anak, kalo bisa yang searah dengan kantor, biar antar jemputnya gampang. Kalau bisa yang sesuai sama nilai-nilai yang kita anut, belum tentu banget nanya ke anaknya, dia mau sekolah yang gimana.

"Pokoke sekolah yang ada bau-bau agamanyalah biar ga repot harus masukin sekolah agama sore lagi'

Tuh kan, ga mau repot.

Kalao bisa yang full day ajah, biar ga pusing mikirin siapa yang jaga kalo dia pulang sekolahnya masih jam kantor. Kalo full day kan enak, jam sekolah sama jam kantornya samaan.

Yhaaaaa.

Lalu merenung sendiri. Sebenernya apa sih yang dilakukan orangtua yang bener-bener untuk kepentingan anak. Dirikuh malu jadinya. Jadi orangtua kok ya masih egois sih, huhuhu.

Apakah kalian sama sepertiku?



Cara Menghitung NAB Pada Reksadana

Kemarin abis sharing Tentang Reksadana, ada yang minta aku nulis gimana cara perhitungan yang riil pada saat pembelian reksadana. Karena selama ini kan kalo baca-baca di internet gitu, cara ngitungnya kebanyakan mengabaikan faktor biaya. Jadi kayak permisalan-permisalan yang tidak mencerminkan kondisi riil saat beli.


Sumber : Danareksa.com



Aku coba jabarkan dikit ya. Semoga bisa membantu.

NAB

Pertama aku mau bahas soal NAB dulu.

Kalau di reksadana dikenal istilah NAB/unit. Nilai aktiva bersih per unit.

Fungsinya NB ini ada beberapa macam :
  • Sebagai harga beli atau jual saat membeli/menjual reksadananya
  • Sebagai indikator hasil untung atau rugi
  • Sebagai sarana untuk mengetahui kinerja historis reksadana kita
  • Sebagai sarana pembanding kinerja reksadana yag satu dengan yang lain.
Yang menghitung NAM itu bank kustodian ya gengs, dan ini akan diumumkan setiap hari oleh si bank melalui harian bisnis atau di webnya langsung. Nilai NAB ini pokoke ditentukan oleh kinerja si Manajer Investasi dan juga ditentukan oleh kondisi pasar secara umum.

Contoh transaksi Beli/jual reksadana .

Misal kita beli reksadana sebesar 10 juta.
Pembelian :

Pada saat kita beli, NAB/Unit reksadana yang mau kita beli nilainya Rp 1000.
Nah, perhitungannya itu ga langsung 10 juta/1000. karena di sini ada biaya pembelian yang harus ditanggung pembeli. Besarnya 1 % dari harga NAB/unit.

Sehingga nilai NAB pada saat beli ditambahkan 1% = 1000 + (1%xRp 1000) = 1010 (ini disebut NAB/unit efektif beli)

Maka saat pembelian NAB/unit yang kita miliki menjadi = 10.000.000 / 1010 = 9.900,990 unit.

Penjualan :

Pada saat kita mau menjual, ternyata harga NAB/unit si reksadana sudah bertambah krn investasinya mayan bagus. Misalnya NAB/unitnya menjadi Rp 1200.

Maka saat kita ingin menjual, lagi-lagi kita kena biaya penjualan sebesar 1 % dari harga NAB/unit.

Sehingga, harga NAB/Unit efektif jual = 1200 - (1% x Rp 1200) = 1188.

Maka duit yang kita terima menjadi = (harga NAB/Unit) x jumlah unit yg kita miliki
= 9.900990 x 1188 = Rp 11.762.376,23

Keuntungan/Kerugian

Dari contoh di atas, maka kita dapet untung nih reksadananya:
( 1200 - 1000 ) /1000 = 20%

Namun, dengan adanya biaya pembelian " yang menaikkan harga NAB/Unit " dan penjualan " yang menurunkan harga NAB/Unit", maka keuntungan bersih kita tidak di angka 20 %, melainkan sbb :

(Rp 11.762.376 - Rp 10.000.000)/10.000.000 = 17.62%

Nah itu tuh keuntungan kita, prosentasenya sebesar 17.62 %. atau kalo dirupiahkan maka keuntungan kita Rp 1.762.376,-

Begitu ya. Semoga jelas, hahahaha

Kalimat Bijak Yang Ngga Bijak-Bijak Amat

Friday, November 16, 2018
Jadi, gimana kalo sesorean ini, kita bahas tentang kata-kata bijak yang ternyata ga bijak-bijak amat kalo kita pikirkan lebih dalam.
Iya, aku kan kebanyakan waktu luang, sampe sempet-sempetnya mikirin hal-hal unfaedah dalam hidupku. Yang sabar ya kalian.





“ Keluar dari zona nyaman”

Uwuwuwuwuw, siapa yang sering denger kalimat itu?

Sungguh sebuah kalimat maha dahsyat ya. Didengung-dengungkan para motivator. Ayo jangan mau ada di zona nyaman, keluar, bergerak, move move.

Ini ya opo sih rek. Aku dulu juga kayak yg kepecut gitu dengan kalimat di atas. Tapi setelah kupikir-pikir, kenapa kok udah nyaman-nyaman malah sutuh keluar sih.

Emangnya siapa manusia di dunia ini yang ngga suka berada di tempat yang nyaman?.
Kalo kerja emangnya suka di tempat yang penuh konflik?. Kalau di keluarga emangnya suka di rumah yang sempit, yang ekonomi sulit, yang apa-apa harus irit. Ya ngga tho?

Karena ini biasanya sering disebut-sebut untuk memotivasi para pekerja, maka kita ambil sajalah contohnya ya di kantoran.

Awal-awal masuk kerja atau pindah ke tempat baru, pastilah kita belum nyaman, masih kagok, masih meraba-raba, masih belum ada yang dipercaya, mau ketawa masih malu, apalagi ngakak (ntar dianggap bukan wanita solehah dan kurang berbudi pekerti luhur). Seiring waktu udah mulai adaptasi, udah enjoy, udah enaken, udah nyaman, ealah malah disuruh keluar “ Keluar dari zona nyaman”

Iki siopo siiiih .
Mungkin maksudnya bukan zona nyaman kali yah. Tapi jangan berhenti bertumbuh, jangan berhenti mengembangkan diri.

Karena konotasi zona nyamannya ini ibarat katak yang direndem di dalam air, dimasukin panci, trus ditengkrengin di atas kompor. Saat api dinyalakan, di katak dieeem aja, lama-lama anget-anget, eh makin enak dia, makin diem ga mau bergerak. Pas si air udah mencapai titik didihnya, baru deh dia panik, mau lompat udah ga bisa, akhirnya si katak terebus dalam kenyamanannya. Hiks syedih.

Itu kali yah maksudnya.

Baiklah kita anggap saja maksudnya seperti itu.

Tapi ya teutep mungkin kalimat keluar dari zona nyaman itu perlu sedikit diperbaharui. Karena aku suka kenyamanan, aku mau hidup nyaman, siapa yang ngga mau?

Cinta Tak Harus Memiliki

Kalo pas denger kalimat di atas, keliatan romantis banget kan yah.

“ Aku mencintaimu Sergio”

“ Tyda bisa Marimar, kita beda kasta, followerku udah makro, kamu masih remah-remah debu Instagram”

Kemudian Marimar menangis. “ Ya sudah, aku akan tetap mencintaimu selamanya, karena cinta sejatinya tak harus saling memiliki Sergio, aku akan pergi”

“ Jangan Marimar, kita TTM-an aja, atau gimana kalo kita FWB”

Muncungmu itu Sergio

Gini ya Marimar. Kalo kamu suka banget, cinta banget sama Kani mentayaki, masa iya kamu cuma mau liat-liat doang, ngga pengen memasukkannya ke mulutmu apa?. Padahal kamu tau itu enak banget. Apa kenyang cuma diliatin doang, ngga kan? Ngga kan?

Maka ya carilah Kani Mentayaki di tempat lain.
Kenapa harus buang-buang waktu mencintai orang yang tak bisa dimiliki. Cinta itu ya harus memiliki, karena apalah artinya cinta kalau hanya melihat dia di kejauhan. Hati perih, pedih, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kalau kita mencintai tapi tak bisa memiliki artinya ada yang tidak tepat dengan cinta itu.

Bisa waktunya yang tidak tepat, bisa orangnya yang ga tepat. Maka kalau cinta tapi tak bisa memiliki, jangan dekat-dekat lagi dengan orang itu, segeralah hempaskan cinta itu. Tak usah didramatisir. Cari yang bisa membalas dan bisa kau miliki.

Patah hati itu biasa. Tak bisa memiliki itu sakit luar biasa. Bhay aja.


Kalau jodoh ngga akan kemana

Kemudian nunggu jodohnya diantar sama abang gojek.

Ya bener juga sih, kalau jodoh pasti ketemu di pelaminan. Entah sebagai manten atau malah jadi mantan. Tapi kalo dirimu percaya dengan kalimat itu kisanak, kemudian menanti jodoh jatuh dari langit, ya gpp, siap-siap aja menjomblo terus.

Jomblo itu memang kadang prinsip kadang nasib.

Kalau ketemu dengan orang yang menurutmu sangat cocok denganmu (walau belum tentu dia merasa cocok juga denganmu ) perjuangkan, cari perhatian dia, beritahu dia kalau kamu mencintainya, sepanjang dia bukan masuk kategori “Tak bisa dimiliki”, usahaaaaa.


Jangan Pilih-Pilih Pasangan

Ntar jadi perawan tua lho.

Ini apa Cassandra?

Kenapa kita tidak boleh pilih-pilih pasangan? Kalau beli baju aja kita pilih-pilih. Rela bersusah-susah fitting di kamar pas. Pas dipajang kece parah, pas dipake, eh, nyangkut di pinggul semlohai. Pas dipajang warnanya kok eye catching banget, gitu dipake lho kok ngga pas ya sama warna contact lense, cari warna lain, cari potongan lain, ngga nemu yang pas juga?, pindah cari ke toko lain.

Lha kalau milih baju aja seribet itu dan semau repot itu, kenapa pulak milih pasangan yang bakal mendampingi seumur hidup ga boleh pilih-pilih?

Jangan dengerin orangtua yang ngomong gitu, ditambah pula pepatah

“Pilih-pilih tebu, kena tungkulnya” (ini bener kan yah pepatahnya?)

Ga papa, lama dikit bilang I do, tapi dapat yang fit, ketimbang “Ah biarlah sesek dikit gpp, ntar kalo diet kan nyaman juga celananya” Kalo tambah kurus, kalo makin lemu?

Yhaaaa gimana .

Cinta Ga Butuh Alasan

Kalau cinta ga butuh alasan, ya berarti kita bisa jatuh cinta sama siapa aja dong yah. Sama sembarangan orang. Carilah sebanyak-banyaknya alasan mencintai, jangan cuma satu.

Kamu suka senyumnya, ingat-ingat itu saat berjauhan, kamu kangen dengan senyumnya.

Kamu  jatuh cinta dengan cara berfikirnya. Ingat-ingat itu bahwa dia begitu memikat saat mengeluarkan isi pikirannya.

Kamu jatuh cinta karena masakannya. Rindukan terus masakannya, buat dia tau bahwa masakan terenak di dunia adalah hasil racikan tangannya.

Kamu jatuh cinta karena kecerobohannya. Ingat-ingat betapa lucunya dia saat kesandung mejalah, saat ngga matching antara baju dan jlbab.

Kamu jatuh cinta dengan kebaikan hatinya. Ingat-ingat saat dia begitu menyebalkan, bahwa dia sebenernya baik, Cuma lagi capek aja mungkin.

dst
dst

Selalu ada alasan bagimu mengingatkan kembali kenapa kamu memilih dia dibanding yang lain.


Nikah itu bukan cepet-cepetan tapi lama-lamaan

Walau ini keliatan seperti mematahkan soal nikah mudah, atau dulu-duluan menikah, tapi soal lama-lamaannya juga kok aneh ya.

Pokoke menikah itu bukan balapanlah, jadi ga ada cepet-cepetan dan ya ga ada lama-lamaan. Ya masa kalo udah ga seiya sekata lagi, kalo udah perang badar terus tiap hari, kalo udah ada yang tersakiti, masih harus tahan lama-lamaan?

Menjadi Ibu Adalah Pengorbanan

Ehmmm

Yang pengen jadi ibu siapa?

Yang minta jadi anak siapa?

Tidak ada yang jadi korban ah seharusnya. Wong jadi ibu itu sebuah amanat, sebuah anugerah, buan pengorbanan.

Jangan merasa berkorban, karena inilah cikal bakal orangtua yang selalu nuntut macem-macem ke anaknya. Karena merasa berkorban.

( Baca : Benarkah Seorang Wanita Itu Banyak Berkorban Untuk Keluarga?)


Jangan mau Jadi Pegawai, Jadi Pengusaha Saja

Wahahaha siapa yang sering denger kalimat ini.

" Jangan jadi pegawai"

Seolah-olah jadi pegawai itu begitu buruk. Huh.

Lhaa emang kenapa jadi pegawai?. Ga ada yang salah ih, sma ngga salahnya dengan jadi pengusaha.

Y kalau semua jadi pengusaha, siapa yang mau kalian omelin di kantor-kantor pemerintahan.

Kalau ga ada yang kerja di bank, siapa yang mau kalian sewotin pas kartu ATM kalia tertelan di mesin ATM, hayooo. wahahaha.

Masih ada lagi ga kalimat yang sering kalian denger?



Beda Investasi Langsung dengan Reksadana

Wednesday, November 14, 2018


Mending Depo langsung atau RD Pasar Uang?

Mending trading saham langsung atau RD saham?

Baca sebelumnya Tentang Reksadana


Depo vs RD Pasar Uang


Nominal : minimal depo bank beda-beda, tapi di kisaran 5 jutalah min. RD, min 100 riub udah bisa ikut RD.

Jangka Waktu : Depo ditentukan 1 bln, 3 bln, 6 bln. RD tidak ditentukan, boleh diambil sewaktu-waktu
.
Keuntungan : Depo pasti, karena diperjanjikan di awal. RD ga pasti, tergantung penempatan si MI bank mana saja.

Terkait nominal, kayakk yang aku bilang di postingan sebelumnya. Misal kalian punya duit 100 juta aja. Ini depo di bank bunganya 5%. Potong pajak 20%, berarti 4 juta pertahun. Atau Rp 333 ribu per bulan.

( Baca : Tentang Reksadana )

Nah kalo RD. Kalian punya duit yang sama, 100 juta. Dimasukin RD, digabungin sama duit orang-orang. Masukin ke depo, misal terkumpul 5 M. Bunganya udah beda banget. Mungkin bisa dapat bunga nego sampe 6.5% (tergantung banknya).

Ga usahkan 100 juta, kalian nyetornya 250 rb pun, ya dapat bunganya tetapdi 6.5% persen. Karena kan masukin deponya gelondongan sama duit orang lain.

Tapi reksadana ada biayanya ya, karena kan yang ngolah MI, ya masak MInya ga dibayar.


Mending trading saham langsung atau RD saham?

Hampir mirip sama jawaban depo langsung atau RD PU.

Dari segi nominal. Kalo beli saham langsung hrs minimal 1 lot, ga bs beli ketengan. Ada sih saham yang murah yang under 100 ribu aja bisa dapat 1 lot. Tapi kalian harus memiliki kemampuan untuk menganalisa secara langsung saha-saham yang kalian beli itu.

Kalo kalian memang paham dan mau mantengin pergerakan saham, jelas lebih untung trading saham, karena ya lagi-lagi ga kena biaya kan yah, dan dapat keuntungan dividen langsung. Dividen itu pembagian keuntungan dari perusahaan.

Kalo RD Saham ga akan dapat dividen tapi dikonversi ke NAB.

Tapi yang pasti sama nilainya fluktuatif sehingga sama-sama dibutuhkan kesabaran, ga asal panik main jual-jual aja kalo turun hahaha.

Yg pasti sebenernya, kayak aku bilang tadi, reksadana ini hanya salah satu cara berinvestasi.
Kalian mau invest langsung ke depo ya gpp, ke emas, ya gpp, mau trading saham ya gpp. Bahkan mau nabung biasa aja juga gpp.

Asal rutin, dan asal dimulai lho. Daripada nanya-nanya terus tapi ga mulai-muali #nohok hahahaha

Hanya gini, daripada beli kopi seminggu 50 rb, sebulan 250 rb. mending buka reksadana aja, mayan kan daripada buat jajan-jajan ga jelas. Beli kopinya sachetan ajah #bukantimkopisachetan sebenernya tapi ya gpplah demi masa depan yang lebih baik, halah

Kalo kayak adekku, dia males mempelajari reksadana edebre-edebre gini. jadi dia investnya ke emas. Dia nabung nih sebulan berepa, tiap 3 bln dibeliin emas, 5 gram 5 gram, ya mayan juga. Ga papa daripada ga nabung sama sekali, hahaha

Jadi ya kelen jg ga mesti ikut-ikut. O-orang beli reksadana. Yuuuks beli.
Orang beli ORI, yuuuuuk beli.

Kayak masteg, suamiku ituh, dia ga syuka sama yg begini2. Dia kalo ada duit dikumpulin, trus beli tanah. Ada duit dikumpulin trus beli sawah. Ya gpp bgt.

Mana yg paling bikin kalian nyaman aja. Nabung biasa juga ga papa bgt, asal disiplin.
Sekali lagi pelajari dulu ya frend. Nabung itu piye, investasi itu piye. Oceh

Tentang Reksadana



Bahas reksadana yuks, karena di IG ku banyak banget yang request tema ini.

disclaimer dulu yah, aku nulis ini untuk pemula banget. Jadi mungkin akan sangat annoying bagi yang udah expert.

Tapi sebelum ke reksadananya, aku mau check sound dulu pada tau ga bedanya nabung sama investasi?

Kebanyakan dari kita pasti udah pahamlah ya sama kegiatan menabung. Banyak contoh tabungan saat ini yg ditawarkan di bank-bank.

Nah bedanya menabung dengan investasi itu apa?

Sebenarnya mirip aja sih hahahaha. Investasi itu ya proses menabung juga tapi bedanya dia pake perencanaan, ada tujuannya, ada jumlah yang mau dicapai, dan ada target jangka waktunya

Nah selama ini tuh kita-kita  yg taunya Cuma nabung doang, kebanyakan ya udah pokoknya aku sisihin duit sekian perbulan di tabunganku, Tapi ga mikirin hal-hal ini:

1. Tujuannya utk apa

2. Goalnya berapa untuk tujuan itu

3. Kapan tabungan itu mau dipake

Jadi kebiasaan nabung kita selama ini kalo digambarin begini nih.

“ Aku mau nabung utk anakku masuk SMP (saat ini anak masih balita), biaya masuk SMP saat ini 25 juta, punya waktu ngumpulin duitnya 10 tahun. Ya udah bagi aja 25 juta : 10:12. Sebulan berarti harus nyisihin 208 rb,

Pas anaknya usia masuk SMP, diambil deh tabungannya. Dan jeng jeeeeeng, kurang dong yah, hahahah.

Ya kurang karena pas 10 thn ke depan uang masuknya udah berubah jadi 75 jutaan misalnya. Waduh, capek2 nabung kok tetep kurang nih.

Makanya untuk planning-planning tertentu seperti itu, kita ga cukup cuma nabung doang. Tapi bolehlah mulai belajar soal investasi. Ga usah yang susah-susah dan njelimet kayak trading saham dsb itu. Cukup yang gampang-gampang aja sesuai kapasitas kita. Mulai pelan-pelan biar ga kaget.


Instrumen Investasi


Instrumen investasi yang paling sering kita denger tuh sebenernya ada 3 jenis saja :

1. Deposito
2. Obligasi
3. Saham

Deposito :

Kalian udah taulah ya. Ini tabungan dengan jangka waktu tertentu di bank dengan imbalan berupa bunga. Hasil investasinya di kisaran 0-5% - 0.9 % perbulan tergantung nominalnya.

Iya semakin besar nominal depositonya maka bunganya semakin tinggi. Kepemilikannya pake bilyet yg hrs ditunjukkan saat deposito itu mau dicairkan. Jadi masukin depo 100 juta tidak akan sama bunganya dengan masukin depo 1 milyar.

Obligasi

Obligasi ini hampir mirip dengan deposito, tp dia bukan produk bank. Jangan salah ya. Berjangka juga, tapi jangka waktunya menengah, biasanya dari 1 tahun sampai 3 atau 5 tahun. Imbal jasanya bukan bunga, tapi kupon. Dan bisa diperjual belikan di pasar sekunder.

Misal, perusahaan butuh dana untuk membiayai usahanya. Pastilah dia punya modal sendiri kan. Tapi ngga cukup, dia butuh sokongan dana dr pihak luar, biasanya pinjem di bank atau berhutang ke investor langsung. Nah kalo dia mau minjem sama investor, dia harus terbitin surat utang, nama surat utang yang dikeluarkan ini adalah obligasi.

Kenapa ga minjem bank aja?  kok harus nerbitin surat utang?

Karena bunga bank mahal gengs

Misal ya sekarang, bunga bank untuk pinjaman komersil itu di kisaran 9% sd 13 % setahun. Berarti kalo dia pinjem ke bank dia harus bayar ke bank bunga sebesar itu setiap tahunnya, bagilah perbulannya berapa.

Nah kalo perusahaan nerbitin obligasi untuk dapat pinjaman dari investor langsung, dia cukup tawarkan kupon sebesar 8% misalnya. Lebih murah kan dibanding pinjem di bank. Begicu.

Dari sisi masyarakat/investor, kenapa tertarik beli obligasi?

Karena kuponnya lebihh gede dari yang ditawarkan oleh bank.

Wah bank bisa ga laku dong?

Ga juga. Kalo bank, misalnya depo gitu ya dari BRI, kan udah jelas banget reputasinya, jadi walau bunga lebih kecil tapi keamanan lebih terjamin.

Sebaliknya obligasi, kita sebagai investor harus analisa dulu nih perusahaan yang nerbitin obligasi gimana track recordnya. Jadi ada risikonya terkait baik buruk kinerja si perusahaan.

Balik lagi ke high risk high return. Low risk ya low return.


Sekarang Saham

Perusahaan butuh modal nih buat usahanya. Selain modal sendiri dia bisa pinjem ke bank, nerbitin surat utang melalui obligasi, atau dengan menjual sebagian kepemilikannya. Nah kepemilikan inilah yang disebut saham.

Kalau ada perusahaan yang menjual sahamnya, ini artinya perusahaan itu udah Go Public.

Kalau kita membeli saham salah satu perusahaan, misal beli saham BRI, maka ya kita jadi punya andil kepemilikan di situ. Yang namanya pemilik, maka saat untung dia akan dapat untung, saat perusahaan rugi ya dia nanggung ruginya juga. Jadi istilahnya bagi untung dan bagi rugi.

Inilah makanya investasi di saham, risikonya lebih besar dibanding dua jenis instrument investasi sebelumnya tadi (depo dan obligasi).

Jadi kalau mau kita urutkan, risiko investasi dari rendah ke tinggi itu :

Deposito – obligasi – saham.

Apa beda Depo dan Obligasi?

Perbedaan antara depo dengan oblgasi dan saham salah satunya adalah depo tidak diperdagangkan di pasar sedangkan obligasi dan saham diperdagangkan. Makanya harganya bisa berfluktuasi karena sangat tergantung dengan supply and demand di pasaran.

Supplly dan demandnya sendiri dipengaruhi oleh situasi politiklah, isu-isu nasional, nilai tukar uang, edebre-edebre, makanya ga heran ya kalo ada isu-isu yang nyerang pemerintah, maka harga saham dalam negeri bisa turun, sebaliknya kalo wajah pemerintah lagi baguss, saham-saham juga ngikut naik.

Makanya ayo jgn suka bikin isu-isu negatif ke pemerintah. Lhaaaa

Ini ngomongin reksadananya kapaaaaan?

Sabar. Karena kalo ga dijelasin dari awal, ntar pada bingung soal penempatannya.

Naaaaaah, sebagai calon investor nih, kita mau dong yah nempatin duit kita ke satu instrument tadi. Tapi………. Seperti kata pepatah don’t put all eggs in one basket.

Jangan taruh telurmu di satu keranjang. Diversivikasi men, diversifikasi. Biar ga apa kali kalo ada apa-apa sama satu instrument yang kita beli. Begicu.

Jadi missal naruh deposito, ya taruhlah di beberapa bank.
Kalo mau beli obligasi, ya belilah obligasi beberapa perusahaan
Kalo mau beli saham gitu juga, ya belilah beberapa macem saham, jangan ditaruh semua duitnya di satu saham doang.

Lebih jauh lagi, ya taruhlah di beberapa instrument investasi. Sebagian di depo, sebagian di obligasi, sebagian di saham.


Lho banyak amat duitnya kok bisa beli macem-macem gitu wahahaha.

Puyeng ngga ngurus itu semua?

Kalau kayak aku, jelas aku bilang puyeng. Karena ga punya waktu buat mantengin pergerakan nilai saham satu perusahaan. Tapi bagi yang memang udah ngerti dan punya waktu, ya lebih bagus sih urus sendiri segala investasinya ini.

Nah, untuk melayani orang-orang yang ga punya waktu dan males ribet maka keluarlah suatu produk bernama reksadana. Hasek, mashoook dia





Reksadana

Reksadana itu adalah satu cara untuk berinvestasi.

Ada banyak banget cara berinvestasi lain.

Kalau mau investasi secara langsung, kamu bisa langsung buka depo ke bank (kalau mau depo), beli obligasi ke bank (kalo mau beli obligasi), atau nabung saham sendiri ke perusahaan sekuritas.

Kalau kamu ga mau langsung nangani itu semua karena sibuk, ga ngertilah, lalalala alasan lain, ada cara investasi lain yaitu reksadana.

Jadi reksadana itu apa?


Wadah yang digunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk kemudian diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.

Sebelum masuk ke penjabarannya, kamu perlu tahu siapa saja pihak yang terlibat dalam reksadana ini.

Nah di reksadana itu ada beberapa pihak yg terlibat :

Investor : Kita nih yg mau beli reksadana

Manajer Investasi : Ini org yg akan mengolah duitny kita, diinvestasikan ke instrument keuangan mana aja gitu. MI ini hrs buat kontrak dulu bersama bank custodian, ntar dia daftar ke bapepam untuk dpt ijin menjual reksadana.

Agen Penjual : Untuk beli reksadana kita bisa langsung ke Manajer investasi, atau melalui agent penjual. Ibaratnya kalo MI ini pabrik, maka agen penjual ini kayak distributornya. Agent penjual ini bisa bank, bisa perusahaan sekuritas (Danareksa, Trimegah,MNC)

Bank Kustodian :
Nah bank custodian ini tempat urusan administratifnyalah pokoke Ya pencatatannya, ngitung NAB nya, edebre edebre.


Di mana beli reksadana?

Reksadana bisa dibeli di bank, atau di perusahaan sekuritas kayak Bareksa, Danareksa, MNC, apalagi ya. Pokoke semua agent penjual yang udah dikasi ijin.

Kalo kalian ga tau di mana perusahaan sekuritasnya, ya udin ke bank aja biar gampang. #teteup yah.

Caranya mirip kayak nabung.

Kalian datang ke bank, kalo di BRI, kalian bisa datang ke kantor cabang yg ada Sentra Layanan Prioritasnya. Di Medan ada di Cabang Medan Iskandar Muda, di Medan Putri Hijau, dan di Medan SM Raja.

Ntar ada petugas yang melayani. Kalian akan dikasih form untuk diisi. Sebelum mengisi kalian akan dijelaskan dulu tentang reksadana, jenis-jenisnya, trus dikasi tau pilihan Manajer Investasinya, ditanyain untuk kebutuhan apa, baru deh pilih mau beli reksadana apa.

Isi form, ntar selanjutnya didaftarkan oleh si petugas. Tapi reksadana ngga ada bilyet atau buku tabungan gitu ya, dia cuma dicatatkan aja ntar di sistem.


Jenis-Jenis Reksadana



Reksadana itu ada brbrp jenis :

1. RD Pasar Uang : Deposito, SBI. Obligasi jk < 1 thn.

2. RD Pendapatan Tetap : SUKUK (obligasi Syariah)
SBN (Surat Berharga Negara), Obligasi pada perusahaan BUMN dan perusahaan Swasta.

3. Reksadana Saham : Saham

4. RD Campuran


Reksa Dana Pasar Uang

Ini RD yg risiko paling kecil. Biasanya ditempatkan di depo bank atau obligasi jk pendek. Keuntungan ya paling kecil dibanding reksadana lain, tp tetep lbh tinggi dr kalo km depo langsung sendiri. Hasilnya mayan cepet kelihatan, makanya RD ini cocok utk kebutuhan investasi Jk pendek. Misal utk rencana nikah, rencana liburan.

Bagi yg baru mulai dan masih takut2 dg risiko investasi, boleh nyoba RD jenis ini dulu


Reksa Dana Pendapatan Tetap

Ini risikonya sedenganlah. Penempatan RD jenis ini di obligasi atau ke surat2 utang negara. Nilainya tergantung naik turun BI rate. Cocok utk investasi jangka menengah. sampe 3 tahunan gitulah bisa. Hasilnya biasanya lbh tinggi dr RD pasar uang.

Ini kalo misal mau invest utk dana pendidikan anak, atau naik haji, atau invest utk rehab rumah. bolelebo.


Reksa Dana Saham

Naini, penempatannya ya ke saham2 yg bagus2lah. Dari segi hasil, RD ini paling gede keuntungannya. Tapi ya risikonya jg paling gede, krn pengaruh byk hal yg aku bilang td di depan.

Makanya RD saham cocok utk tujuan investasi jangka panjang, lebih dari 5 tahun. Krn kalo mau diambil 3 thn doag misalnya, pas harga saham lagi turun, ntar panik sendiri hahaha.

Wah kok pusing. Pengen hasil gede, tp risiko kecil aja kakaaaa

Ya sud dimix aja

Reksa Dana Campuran

Reksa dana campuran ini risiko lebih tinggi dari RD pasar uang dan Pendapatan Tetap, tp lebih rendah dr RD saham.  Keuntungan juga di tengah-tengah.

Oleh Manager Investasi ntar dia bakal pilih-pilih penempatannya biar keuntungan bisa gede tapi risiko bisa seimbang.

Jadi ntra komposisinya ya terdiri dari Dua atau mix tiga jenis di atas.
Bisa PU+PT
Bisa PU+PT+Saham.

Jadi di reksadana itu yang sangat berperan adalah si Manajer Investasi.

Cara Kerjanya gimana sih? masih bingung nih  

Bayanginnya gini, Kamu punya duit 250 ribu.

Kebanyakan instrumen investasi itu dana awalnya harus gede baru bisa mulai. Contohnya nih mau buka deposito di bank. Ada nominal minimalnya. Saat ini sekitar 5 jutaanlah. Maka dengan duit 250 rb kamu belum bisa buka deposito.

Kalian mau beli obligasi juga ga bisa, karena min beli obligasi biasanya jutaan. Kalo obligasi pemerintah bisalah Rp 1 juta.

Kalau mau beli saham langsung? Bisa dengan uang 250 ribu, tapi harus urus sendiri semuanya..

Nah gimana caranya biar dengan 250 ribu kamu sdh bisa investasi?

Reksadana ini mewadahinya.

Karena ntar kita setor duit 250 ribu ini ke Manajer Investasi,  duit kita akan digabung rame-rame sama duit-duit org lain, diolahlah sama si Manajer Investasi.

Kayak yang aku bilang tadi, depo 100 juta akan berbeda hasilnya dengan depo 1 M. jadi karena rame-rame tadi duitnya, jadi banyak, maka kalo seandainya si MI, mau nempatin ke depo, ya hasilnya jelas  lebihh tinggi daripada kamu buka depo sendiri.

NAB 


NAB itu nilai aktiva bersih.
Satuan unit yg kamu dapat saat kamu beli reksadana.



Misal kita buka reksadana pertama kali di BRI. setor duit Rp 250 rb.
Kita pilih dulu Manajer Investasinya (ntar dikasi daftarnya).

Trus kita tentuin mau penempatan di mana?. Pasar Uang, Pendapatan Tetap, Saham, Atau Campuran.

Nah, disitu ada dikasi tau, brp nilai perunit reksadana yg mau kita beli.
Misal RD Campuran saat itu 1 unit Rp 1000.

Maka dr duitmu yg 250.000 itu, kamu dpt 250.000/1000 = 250 unit.

Bulan depan km tambahin lagi reksadanamu, 250.000 lagi. Saat itu NABnya ternyata naik, jd 1100.
Maka dg 250 rb, km ga dpt lg 250 unit tp 250.000/1100 = 227 unit

(blm memperhitungkan biaya ya cuy semuanya)

Gitu trs. Jd km sekarang punya 250+227 unit = 477
Nilainya brp? = 477 x 1100= 524.700


Lanjut di Post Berikutnya yah : Beda Investasi Langsung Dengan Reksadana

Custom Post Signature