Otoritas

Thursday, February 14, 2019
Kalian pernah baca buku karangan Jody Picoult ga?.

Buku fiksi. Nah aku mau nyeritain isi salah satu bukunya yang berjudul My sister Keeper.

FYI, My Sister Keeper udah difilmkan, Pemerannya Cameron Diaz, mungkin kalian udah ada yg nonton.

Aku tiba2 inget buku ini pas baca RUU Penghapusan kekerasan Seksual.

Kalian gugling ya lagi rame tuh dibahas. Aku ga akan bahas pro kontranya, krn udah byk yg bahas, dan kumasih tak mengerti kenapa ada yg menolak.

Ceritanya itu, ada suami istri Brian dan Sara yang memiliki dua orang anak Jesse dan Kate. Kehidupan mereka baik2 saja, sampai suatu ketika Kate sakit. Hasil pemeriksan diperoleh bahwa Kate mengidap Leukimia. Sara dan Brian sedih bukan main. Seperti para ibu pada umumnya, Sara pun memohon ke dokter , aku akan melakukan apapun, tolong selamatkan anakku.

Oleh si dokte, dikasih saran yang kedengeran agak gila tp akan menjadi harapan hidup Kate. Sara dan Brian disarankan untuk memiliki anak lagi, tapi anak ini semata lahir sebagai penopang/penolong hidup Kate. Karena katanya Leukimia hanya bisa ditolong oleh donor darah dari sumsum tulang belakang saudara sekandung. Aku lupa detailnya, tp kira2 begitu. Bahwa si bayi yg mau direncanakan ini disebut "design baby".

Akhirnya lahirlah Anna. Sejak Anna lahir, maka tiap Kate drop, Brian dan Sara bakal melarikan KAte ke RS, dan harus sepaket dengan Anna. Karena bakal ada darah Anna yg harus diambil. Kehidupan keluarga mereka ya begitu terus. Lagi jalan di mall, tiba-tiba Kate pingsan, cepet2 lari bawa ke RS, dan Ann wajib ikut. Anna sepaketan dengan Kate.

Namanya udah kanker darah, penyakit pun merembet ke tempat lain. Suatu hari Kate dinyaakan gagal ginjal dan harus ada donor ginjal untuk mengganti salah satu ginjalnya. Saat itu usia Anna sdh ga kecil lagi, udah sekitar 12 tahunan atau 15 gitu, yg digambarkan udah bisa protes dan punya pendapat.

Sara meminta Anna untuk mendonorkan ginjalnya ke Kate. Nah saat inilah konflik terjadi. Anna menolak, dia ga mau mendonorkan ginjalnya. dia ngomong kira2 begini " Aku capek gini terus, aku jg mau hidupku normal, aku tau kalian ga sayang aku, kalian melahirkan aku cuma untuk jadi tubuh cadangan untuk hidup Kate" gitulah.

Duuh sedih deh adegannya.

Tentu saja Sara marah, dia ngga habis pikir kenapa Anna ga mau mengerti, kan itu semu untuk hidup kakaknya. Beda dengan Sara, Brian suaminya lebih nrimo, dia berfikir, Anna berhak menolak jika tidak mau. Suami istri ini pun bertengkar.

Di dalam rumah suasana udah ga enak saja. Kalo makan Sara yang akan memandang sinis ke Anna gitulh.

Nah karena Sara terus memaksa Anna untuk mau mendonorkan ginjalnya, maka Anna kabur dari rumah. Dia mendatangi pengacara. Bayar pake hasil jual kalungnya atau apa (lupa). Dia minta bantuan pengacara untuk membawa masalah ini ke pengadilan. Issu yg dibawa pemaksaan terhadap tubuh dia.

Wah bayangin ya gimana marahnya Sara. " Kamu menuntut ibumu untuk usaha menyelamatkan jiwa kakakmu?" (dasar anak durhaka).

Singkat cerita, di pengadilan Sara yang kayak maki2 Anna gitulah. Anna bergeming, kekeuh sama keputusannya, ga mau mendonorkan ginjalnya, " Aku juga anakmu, aku ama pentingnya dengan Kate" gitulah huhuhu sedih.

Nah akhirnya si Jesse (kalian ingat ya ada Jesse di sini, adiknya Kate, abangnya Anna) membuka rahasia diantara mereka.

JAdi ternyata si Anna sebenernya ga masalah mau dijadikan tubuh donor kek, tubuh cadangan kek, krn dia juga ga mau Kate mati, tapi justru permintaan agar ia menolak menjadi donor datang dari si Kate.

Jadi Kate udah tau, kondisi dia semakin memburuk, dia ga mau Anna terus berkorban untuk dia. Dia tau ibunya sangat mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya, tp dia juga ga mau keluarganya jadi ga bahagia krn dia. Makanya di maksa Anna untuk menolak donor ginjal bahkan maksa Anna untuk cari pengacara. Kerna hanya dengan persidangan ibunya ga bisa maksa Anna.

Mengetahui itu, Sara sedih banget. DIa ga nyangka Kate mau nyerah, padahal dia selama ini udah usaha mati2an agar Kate tetap hidup.

Trus akhirnya sampailah di kondisi Kate yg udah parah banget, Kate minta ibunya untuk merelakan dia pergi, jangan sedih lagi, dia bakal ga sakit lagi. Gitulah. Menjelang kematian Kate, Kate mint dibawa ke Pantai, dia pengen main di pantai. Jelaslah Sara ga mau, tp sama Brian (ayahnya) ga peduli, dibawanya ketiga anaknya main k pantai.

Awalnya Sara marah bgt sama Brian. Tp tak lama dia nyusul ke pantai, dan mereka menghabiskan sisa usia KAte di situ, ketawa bersama.

Endingya, Kte meninggal, dan hidup merka berjalan seperti biasa tanpa pernah melupakan bahwa ada KAte di hidup mereka

Duh sedih banget deh filmnya. Aku baca novelnya aja sampe nangis2.

Nah balik ke soal RUU PKS itu

Aku ga mau bilang apa-apa sih. Cuma berkaca dr film itu ya, bahkan seorang ibu pun ga punya hak atas tubuh anaknya. Setiap manusia ya punya otoritas penuh ke tubuhnya. Ga ada yg boleh memaksanya melakukan apapun ke tubuhnya tanpa seizin dia.

Makanya agak aneh aku baca berita ada yg nolak RUU itu

Padahal jelas-jelas inti isinya ya memang menentang segala pemaksaan atau tindakan kekerasan seksual.

Tapi ya sudahlah, mungkin yg menentang punya pikiran lebih mendalam dan analisa sangat2 mumpuni kali ya. Aku positive thinking  krn ingin nyinyir kutakut (follower berkurang) dosa.

Cerita Liburan Tahun Baru Bareng Sleek Baby Travel Wash

Wednesday, January 30, 2019

[SPONSORED POST]: Cerita Liburan Tahun Baru Bareng Sleek Baby Travel Wash




Kalian tahun baru kemarin pada kemana????

Aku perhatikan temlen IGku saat pergantian tahun kemarin, wow pada plesiran kabeh. Yang ke luar negerilah, ke luar kotalah, atau keluar galaksi. Kalo aku mah udah pastilah tyda kemana-mana, hahaha. Maklum ya sis pekerja bank, kalo akhir tahun pantang ke mana-mana. Bukan pantang sih, tapi ya biasanya kalo ngajuin cuti ga bakal Acc, karena akhir tahun gitu kan harus mastiin semua mua oke oce tiada kendala. Ya target-target, ya pelayanan karena biasanya bakal libur panjang, ya keamanan kantorlah, lalalala.

Makanya kemarin, liburan akhir tahunnya aku di dalam kota aja, staycation di hotel. Yang penting lepas dari rutinitas, kumpul bersama keluarga dan hepi-hepilah bawa Divya dan Tara. Nginepnya di hotel Santika aja, karena letaknya persis banget dengan lapangan Benteng, yang biasanya
ada pertunjukan kembang api kalo pergantian tahun. Makanya pas check-in aku langsung request
supaya dapat kamar menghadap lapangan Benteng. Alaaaah penuh ternyata. Jadi aku dikasinya kamar menghadap Wisma benteng yang juga menghadap jalan raya. And, you know what, ternyata aku beruntung, malamnya di Lapangan Benteng malah ga ada kembang api, tapi dipindah ke Wisma Benteng, wahahahahaha, jadi persis banget di depan jendela kamarku si kembang api meledak meletup. Jadi berasa dapat private show kembang api deh, yeaaaay.

Makanya ya mba, jangan pernah menyesali apapun yang terjadi, halah.

Btw ngomongin soal staycation, keluargaku tuh memang suka banget staycation di hotel. Minimal dua bulanan sekalilah kami pasti ngadem semalam di hotel dalam kota aja, ga jauh-jauh. Pertimbangannya ya, karena pengen suasana baru buat istirahat, plus sekalian ngajak anak-anak berenang, dan ngajak si embanya Tara dan Divya buat liburan juga. Soale mereka kan full yah kalo weekday jagain anak-anakku, seringnya sampe malam pula kutinggal kerja, jadi ya memang butuh refreshing ngga masak, ngga beresin rumah, ngga nyuci, pokoke bobo manis aja di hotel. Karena mereka juga kan kamarnya sendiri dan anak-anak sama aku dan masteg, makanya bisa mayanlah istirahatnya.

Agenda acara kami kemarin. Sore check-in di hotel. Malamnya kita melipir ke Merdeka Walk.
Rencananya mau makan malam, sekaligus mau main-mainlah di tengah lapangan, main bubble atau apa gitu kayak biasa. Dan yah seperti diduga, tempat makan ruameeeeee, full. Untung masih dapet kursi hahahah. Abis makan, niatnya mau ke lapangan. Jadi mlipir-mlipir menembus keramaian di sekitar tempat-tempat makan di Merdeka Walk. Di bayanganku “Ah ntar di lapangan kan sepi, jadi enak bisa duduk-duduk di rumput sambil ngeliatin Tara sama Divya main bubble”.

Dan eng ing eeeeng, gitu nyampe lapangan, whuooooooo, bahkan rumputnya ga keliatan lagi, penuh
orang mameeeen. Ogahlah desak-desakan gitu. Akhirnya kami mundur teratur, dan mutusin main di
pinggir-pinggir merdeka Walknya aja. Pas pulak di situ ada yang jual balon kerlap kerlip. Harganya 80 ribuan cobaaa, wah bener-bener rezeki tahun baru ya untuk abang penjual.

Punya dede Divya pecah ketusuk batang daun hahaha


Capek main balon, baliklah ke hotel. Emang deket sih hotelnya, jadi jalan kaki doang. Nyampe hotel,
ngopi-ngopi sebentar di kafe yang ada di bawah hotel. Naik ke kamar dan woooooooow, tepat jam 12
teng, buka jendela, kami disuguhi pertunjukan kembang api Live show. PERSIS BANGET DI DEPAN JENDELA. Hepi banget.

Pemandangan Kembang Api persis di depan jendela kamar

Mana kembang apinya buanyak banget lagi, ngga berhenti-henti. Tara dan Divya seneng banget sampe teriak-teriak. Kembang api habis, ya kami pun tidurlah. Yeaaaay. Tahun baru yang sungguh menyenangkan. 

Pokoke kemarin itu puas banget walau liburannya cuma staycation aja, hahahah.

Nah, aku punya beberapa tips nih, milih hotel yang oke dan apa aja yang mesti dibawa kalo bawa anak staycation di hotel biar liburan tetap asik, anak-anak tetap nyaman.

Lihat Review Orang-orang

  • Kalo aku biasanya baca-baca review hotel di dalam kota dari aplikasi pemesanan hotel online yang ada.
  • Jangan percaya sama foto yang diaplod hotel ya, karena mereka kan biasanya pake fotografer gitu, jadi kamar yang keliatan besar bisa jadi ternyata Cuma seuprit. Kolam renang yang keliatan luas ternyata hanya sebesar kolam bebek, hhahha. Maka always lihat foto-foto dari pengunjung, atau kamu bisa juga lihat dari instagram dan ketik nama hotel itu. Biasanya kan orang kalo nginep di mana gitu suka foto-foto, dan aplod di IG.
Minta Potongan Harga

Karena aku kerja di perusahaan yang sering memakai jasa hotel untuk acara-acara kantor, maka aku
biasanya order hotel ga dari aplikasi tapi langsung telpon ke hotelnya langsung. Kemudian minta harga corporate, biar ada potongan hahahaha. Potongannya sih ga gede, paling 100 sampai 200 ribu, tapi kalo reservasi untuk dua kamar, kan mayan ya, buat bayar makan malam, xixixi.

Yang Ramah Anak

Cari hotel yang ramah anak. Aku biasanya lihat yang kolam renangnya ada khusus untuk anak-anak, dan harus ada play groundnya, biar si krucil seneng ada tempat main. Kalo masalah makanan sih, ya udah templatelah, tergantung bintang hotelnya

Perlengkapan yang Dibawa

Nah terus jangan lupa bawaan selama nginep. Aku yang penting perelngkapan anak dulu .

  1. Perlengkapan renang : Baju, ban, kacamata. Ini jangan sampe ketinggalan, bawa aja semua
  2. Baju anak : Bawa secukupnya saja, banyakin kaos sama jins, 4 pasang cukuplah untuk semalam doang.
  3. Makanan : Aku bawa snack-snack karena biasanya di kamar mereka suka lapar.
  4. Perlengkapan toiletress

Naini, soal perlengkapan toiletress untuk anak. Kadang males ya bawa toiletress mereka yang
segambreng, ya sabunlah, shampoo, bedak, detergen anak, hih.



Kalo untuk sabun dan shampoo aku bawa yang sekaligus bisa jadi shampoo dan sabun aja. Untuk bedak mah gampang. Nah urusan detergen nih yang malesin. Detergen biasa yang untuk orang dewasa itu kan suka gede-gede ukurannya yah, Di samping gede, busanya juga banyak banget yang bikin proses mencuci jadi boros air dan boros waktu.

Kalo aku menyiastinya dengan bawa detergen khusus anak kayak Sleek Baby Laundry Travel Wash itu lho. Soale dia ada kemasan untuk travellingnya yang praktis banget di bawa ke mana-mana. Dan pastinya aman buat si kecil soalnya diformulasi dari natural plant extract dan paraben freeKalo aku menyiastinya dengan bawa detergen khusus anak kayak Sleek Baby Laundry Travel Wash itu lho. Soale dia ada kemasan untuk travellingnya yang praktis banget di bawa ke mana-mana. Dan pastinya aman buat si kecil soalnya diformulasi dari natural plant extract dan paraben free.



Ada juga Sleek Baby Pencuci dot yang duh love banget karena kemasannya
tinggal pencet doang ga bikin meleber ke sana ke mari.

Trus ada sabun mandi sekaligus shampoo. Ada diaper cream yang emang dibutuhin Divya biar ga ledes-ledes kalo pake popok. Dan terlove itu detergen babynya.

Kok bawa-bawa detergen sih lagi liburan? Apa ga bisa dicuci di rumah aja.

Ya bisa-bisa aja, terserah sih. Tapi taulah gimana kolam renang ya. Even itu kolam renang hotel yang
makenya juga ga rame-rame amat kayak di kolam renang umum. Tapi kalo pas musim liburan gini, ya Tuhaaaan, itu kolam renang udah kayak cendol sangkin ramenya. Dan kita ga pernah tau kana pa saja yang terjadi di dalamnya, hahahaha. Ya mungkin pipislan, muntahlah, euuy.

Kolam renang kayak cendol sankin ramenya


Makanya abis berenang gitu, selain harus langsung mandi dan bersih-bersih badan, segala baju juga
harus langsung dicucilah. Khawatir aja kuman-kumannya sempet nangkring dan nginep di baju renanganakku, kalo didiemin dulu nunggu nyampe rumah.

Tips nyuci baju di hotel.



Kan ada wastafel yah. Nah sumbat dulu tuh aliran alir ke bawah di wasteful. Udah gitu buka keran air,pilih yang air hangat, jangan sampe penuh dulu, setengah aja dulu. Kemudian tuangkan si detergen,baru buka lagi keran, jadi, biar si detergen kena air yang ngalir gitu lho buibu, biar busanya keluar. Nah udah gitu rendem deh si baju renang krucil kita. Diemin bentar, kucek-kucek, bilang, jaaaadi deh, wahahaha.

Jemurnya di mana?

Biasanya di atas closet gitu kan ada tempat untuk handuk, nah jemur deh di situ. Kamar mandi-kamar
mandi hotel gitu kan biasanya pake blower ya, yang fungsinya supaya kamar mandinya tetap dalam
kondisi kering. Nah ini bermanfaat juga untuk kita, Kalo berenang sore, trus langsung dicuci, malam
ditinggal tidur, besok pagi bisa dipake lagi tuh buat berenang, hahaha. Ngga kering banget sih tapi ya
ngga kelebes yang bikin males makenya lagi.

Pokoke walau pun dalam kondisi liburan, perlindungan untuk kebersihan si krucil ya tetap diutamakan. Jangan gara-gara alasan ngga mau ribet, jadi males bawa sabun detergenlah, sabun cuci dotlah, jangan ya mam.


Giveaway Yeaaaay

Okeee, biar kalian kalo liburan juga bisa praktis bawa-bawa toiletress kayak Divya, aku adain giveaway keci;-kecilan nih. Ini caranya ya :

1) Follow IG @winditeguh dan @sleekbaby_id

2) Tinggalin komentar di IG dan di sini dengan ceritain pengalaman kalian pakai Sleek (buat yang udah pernah) atau kenapa sih pengin cobain produk Sleek (buat yang belum pernah pakai)

3) Sertakan akun IG kalian (karena ntar aku bakal undi)

4) Jika kamu terpilih sebagai lucky winner, kamu WAJIB mengupload hadiah nya (boleh model unbox atau short review) di IG

 

Hadiahnya?

 



Satu set travel kit dari Sleek Baby Indonesia yang isinya ada Travel Wash, Cleanser, Soap, dan Diaper Cream, plus pouch yang limited edition banget, dicari di mana-mana ngga ada hahahaha.

Yu ah cuss.

Jangan Lupa Juga Jadi Suami

Thursday, January 24, 2019



Tentang jangan lupa menjadi suami ini sebenernya karena aku ngeliat seringnya istri-istri gitu lho yg diingetin “ Jangan lupa jadi istri”, jangan lupa merawat diri, jangan lupa melayani suami.

Sekali-kali kita ingetin juga nih para pria. Ayo bapak-bapak jangan lupa jadi suami. Karena istrimu itu juga butuh dijadikan kekasih bukan hanya sebagai ibu dari anak-anakmu,gitu kan yah?

Kalo reminder ke istri itu kan biasanya seputar “ Menjaga penampilan”, Menjaga performa wik wik”, Tetap manja-manja. Melayani makan suami, pakaian. Apalagi ya.

Nah kalo untuk ke suami gimana?

Sontoh :

Kalian pulang dari bepergian, naik mobil, bisa berdua bisa bersama anak-anak. Nyampe komplek rumah, kan harus berhenti dulu nih di depan rumah, krn mau buka pagar ya kan? (kalo rumahnya berpagar).

Pertanyaan : Siapakah yg membuka pagar?

Kalau masih istri, ya berarti kalian lagi lupa menjadi suami, hahahaha.

Kesannya sepele ya, tapi bagi aku (AKU YA AKU BUKAN KALIAN), suami mau repot turun dari mobil, kemudian membukakan pagar padahal ya dia tinggal bilang “ Bukalah pagarnya kan aku lagi nyetir” itu romantic dan bikin berasa jadi Princess, wahahaha.

Plisss plisss bukain pagernya, aku tak mampu membuka pagar.

Jadi coba lakukan itu. Mungkin istrinya kayak aku, yg sepele gitu aja hepi.

Apalagi?

Misal, istri kalian lagi terlihat bersedih, apakah kalian bertanya ke dia kenapa?

“ Kok manyun terus sih drtd, kenapa?”

Atau

 “ Muka kok jelek banget gitu sama suami, dasar istri ga bersyukur”

Kalian yang mana?

Kalo dia mulai cerita atau mengeluh atu curhat

“ Aku kok minder ya sama temen-temenku, kayaknya aku ga punya pencapaian apa-apa”

Jawaban kalian seperti apa?

“ Ya udahlah gitu aja dipikirin. Yang penting kan anak-anak terurus. Emang km mau kerja di luar tp anak terlantar?”

Atau

“ Ga punya pencapaian gimana?. Kamu keren lho, belum tentu temen-temenmu bisa kayak kamu. Beneran kamu itu keren. Udah jangan sedih”

Hayo, kamu suami yg gimana.

“ Aku gemukan ya mas. Lihat nih aku pake celana udah kayak lontong pahanya, mana perutnya gendut banget lagi, meleber kemana-mana gini”

Kamu nanggepinnya gimana?

“ Ya namanya udah ibu-ibu, emang mau gimana? Mau kayak anak gadis? Ya usahalah”

Atau 

“ Iya sih kayaknya agak gemukan, tapi tetep cantik kok”

Jangan lupa jadi suami itu ya meliputi hal-hal di atas itu. 

Kalau suami senengnya diperhatikan, dilayanin, dimanja, ya istri juga seperti itu. Saat wanita dituntut untuk jangan lupa menjadi istri, para pria harusnya juga punya tuntutan yang sama, jangan lupa menjadi suami. Jangan lupa melihat istri dari kaca mata kekasih, bukan sebagai ibu dari anak-anak.

Saat jadi kekasih, apa coba yang dimauin? Samalah, dimesra-mesrain, dimanja, dipuji, dibikin seperti seorang putri.

Tapi kan suami udah capek kerja?

Ya samalah, istri juga capek.

Yaa harus istrilah yang memulai, kalau istri melayani suami dengan baik, maka suami pasti akan baik juga. Pokoke semua tergantung istri, kalo istri jadi istri yang baik, maka suami juga akan menjadi suami yang baik.

Ya belum tentulah Farel.

Kenapa ga dibalik aja?

Kalo istri bahagia, maka sekeluarga akan bahagia?

Bukankah begitu? Bukankah sering dengar yang seperti itu?

Siapa yang bertugas membahagiakan istri?

Ya pertama diri masing-masing. Masing-masing bertanggung jawab terhadap kebahagiaan masing-masing. Tapi masing-masing bertanggung jawab juga terhadap ketidakbahagiaan pihak lain karena ketidakseimbangan fungsi. Halah ribet

Makanya jangan lupa menjadi suami. Karena saat kamu lupa menjadi suami, istri ya lupa juga menjadi istri, lalu kalian saling lupa wahahahaha.

Makin ga jelas. 

Pointnya sih menurutku, ya usahalah sama-sama. Bukan istri saja yang dituntut untuk selalu mengingat perannya. Ya sebagai istri, ya sebagai ibu, ya sebagai teman.

Suami juga demikian. Suami yang suka becanda sama istri, suka genit-genitin istri, manja-manjain istri, ngelus-ngelus kepala istri, ga lupa melebihkan uang belanja untuk kebutuhan istri, nah itu suami yang inget jadi suami.

Karena banyak banget juga suami-suami yang setelah punya anak, awarenya ya sama anak. Karena melihat tubuh istri sudah tidak oke oce, tida mempesona lagi, jadi jarang belai-belai istri.

Mau istrinya jadi Farah Quinn di dapur, inem saat beresin rumah, dan Maria Ozawa pas di kasur, ya si suami mau ngga jadi Mc Giver saat ada yg rusak di rumah, jadi Ardie Bakrie, saat istri butuh perawatan, jadi Ariel Peter Pan saat wik wik, dan jadi Iko Uwais, saat istri dibully masal. Hayooo bisa ngga. Hahahaha

Jadi kebahagiaan suami istri tergantung siapa sodara-sodara?

Ya tergantung si suami dan istri. Kan nikahnya berdua, tanggung jawabnya juga berdua dong yah.

Jadi siapa motor penggerak kebahagiaan rumah tangga?

Ya dua-dua.

Jadi siapa yang harus duluan menjadi suami atau istri yang baik?

Ya dua-dua.

Jadi gimana?


2018 Dalam Cerita

Friday, December 28, 2018



Wah wah. 2018 udah mau berlalu ya bunda-bunda. Dan hepinya , aku merasa PUAAAAAS dengan tahun ini, hahahaha.

Sebenarnya ngga ada hal-hal luar biasa sih yang terjadi di tahun ini. Tapi yang nilai kan diri sendiri yak, yaiyalah namanya juga review akhir tahun, ya yang nilai aku dong ah. Ya kan ya kan. (kalem mba kalem).

Mari kita rekap cerita 2018 ini pada postingan yang mungkin akan menjadi postingan penutup di 2018 ini, yeaaaay.

Dapet Bos Baru

Awal tahun dibuka dengan aku dapet bos baru di kantor. Kenapa ini penting aku ceritain? Ya karena beda atasan akan berbeda ritme di kantor, dan itu sedikit banyak akan ngaruh ke hari-hari kita ke depan. Maka, saat terjadi pergantian bos di awal tahun itu, aku yang sedikit was-was. Soalnya sama bos lama udah akrab bangeeeet, udah berasa kayak keluarga, tepatnya sama tim satu kantor sih. Maka saat ada perubahan gitu, ya sedikit banyak bikin excited sekaligus deg-deg-an.

Dan alhamduillah ya, rasanya sama bos baru ini klop banget. Ritme kerja dia cucok banget sama aku, jadi aku hepi sama blio. Ngga bohong sih agak capek hahahaha karena doi orangnya perfeksionist dan monitoringnya juara, tapi aku senang (walau capek #tetep hahaha).

Kehilangan Sahabat-Sahabat Sekantor

Ternyata mutasi ga berhenti di pergantian bos, gerbong mutasinya menggelinding terooooos sampe bulan-buan berikutnya. Satu-satu temen se-geng maksi dan menggosipku pindah. Hwaaaaa, aku syediiiih. Apalagi abis mereka pergi eh penggantinya ga dateng-dateng.

Baayangin yang semula aku tuh di kantor punya temen manajer 3 orang tempat cerita-cerita kerjaanlah, cerita kelakuan anggota yang ajaib, sampai yang berkeluh kesah kalo abis dimere-mee sama bos kita, eh makdudul aku ditinggal sendiri.

Kalo sore-sore jadi bengong di ruangan karena ngga ada yang diceng-in. Kalau abis dikeramas bos juga ga ada orang yang bisa dijadikan tempat nyampah. Dan termaha penting, aku ga punya tukang foto yang biasa moto-motoin aku kalo aku merasa kece di pagi hari, huhuhu.

Tapi untungnya masih ada temen-temen pincapem yang SKnya masih nyangkut di tangan Tuhan, jadi minimal seminggu sekali bisa ngumpul-ngumpul kalo mereka rapat di cabang.

Badai Datang

Halah judule.

Di tengah taun, aku dapet masalah gengs. Masalah kerjaan yang mayan berat dan kalo salah-salah bisa ngaruhlah ke kerjaanku. Males cerita detailnya, tapi intinya anggotaku ada yang berbuat kesalahan gitulah, mayan fatal, tapi ya kan jadi tanggung jawabku juga, jadi aku yang sempet kepikiran banget gitu. Tapi alhamdulillah, masalahnya bisa selesai walau dengan berat hati aku terpaksa ngambil keputusan buat memberhentikan mereka.

Aku suka sedih banget lho kalo harus bikin rekomendasi yang ngga enak gini, tapi ya gimana, mungkin jalan rezekinya mereka memang ada di tepat lain.

Masih di seperempat tahun, aku dapet panggilan pendidikan. Sebulan euy ke Jakarta. Aku ngga terlalu suka sih kalo pendidikan lama-lama gitu karena ninggalin duo krucils kesayanganku di rumah. *boong banget padahal seneng bisa tidur nyenyak.
  
Tapi kali ini aku nganggap pendidikan itu tepat banget datangnya, karena aku lagi butuh menjauh dari kantor, butuh jeda dengan pekerjaan sehari-hari.

Kemarin aku sempet cerita di instagramku (follow dong @winditeguh), bahwa tahun ini merupakan tahun pertarungan jiwa bagiku. Ya itulah dia,  menjauh dari rutinitas sepertinya tepat untukku saat itu. Aku ngga terlalu ngerti tapi yang pasti di tahun ini banyak banget perang batin terjadi. Kok sekarang pas nulis ini berasa dangdut ya, padahal pas ngelaminnya kemarin mewek terus. Untung aku punya suami yang superlaf. Saat lagi down-down gitu, bukannya dicecar pertanyaan tapi doi malah nyuruh aku ketemu sohib-sohibku.

Ya udah sekitaran bulan Juni atau Juli ya, aku  sempet staycation sama sohib-sohib ciwi kesayanagn akoh di Jakarta dan Cirebon.Ternyata ketemu teman yang kita bisa cerita apa aja itu, sungguh kebahagiaan hidup nomor 13 yang harus disyukuri.



Dapat Reward Jalan-Jalan ke Eropa

Pas lagi di Jakarta, aku dapat kabar dari Corpu BRI bahwa di pertengahan September bakal diajak jalan-jalan ke Eropa. Oh WOOOOOW supercombo, aku sampe loncat-loncat dengernya. Akhirnya hadiah jalan-jalan dari kompetisi di kantor tahun lalu terealisasi juga.

Nah jalan-jalan ke Eropa kemarin aku ajak masteg ikutan. Mayan banget yah sis, berasa bulan madu colongan, hahahaha. Pengalaman ngga terlupakan banget deh, seminggu di Eropa sama teman-teman baru yang ngga nyangka juga cucok banget.

Selama di perjalanan hepi terus, ketawa terus, karena ternyata peserta tour yang juga pemenang brinnovation kemarin itu ngga ada yang jaim satu orangpun. Plus karena aku perginya sama mas Teguh yang bikin perjalanan juga makin mengesankan, halah.

Kayak kata pepatah gitu lho geng " Yang penting bukan kemananya tapi dengan siapa-nya" ahsek

Dapet Temen Baru Lagi

Nah di pertengahan tahun,  aku dapet temen baru, ngga tanggung-tanggung, pergi tiga orang langsung diganti manajemen tiga orang juga. Wow kusungguh hepi.

Awal-awal yang agak " Ah pasti ngga bisa seasyik temen-temenku yang dulu nih". Jadi masih males nyapa-nyapa mereka.

Aku kan anaknya gitu, kalo ketemu orang baru ngga bisa langsung akrab, butuh observasi minimal sebulanlah buat mengamati tingah laku dan tindak tanduk ybs. Ibarat di kebun binatang [KENAPA ANALOGINYA KEBUN BINATANG] aku tuh yang mengendus-ngendus dulu. Ini bau-baunya enak ngga nih atau eneg, hahahha.

Dan yes, kadang-kadang ya kita itu memang suka berlebihan khawatirnya. Apalagi sama hal baru, padahal bisa jadi mereka juga sama khawatirnya dengan kita, ya kan. Akhirnyaaaa aku punya temen menggosip lagi kusenaaang.

Tyda-tyda, aku tetep belum dikasi temen manajer cewe di sini. Tapi tyda mengapalah, yang penting ada temen buat nggosipin atasan dan bawahan tanpa beban , xixixi.

Ikut Bootcamp BRI Millennial

Wahahaha, beginian aja diikutin masuk kaleidoskop ya. Biarinlah.

Jadi menjelang akhir tahun, November akhir gitu aku ngajuin public course ke manajemen. Eh ditolak dong yah, alasannya akhir tahun, ngga boleh kemana-mana, kerja kerja kerja, hahahha.

Eh public course ditolak, datang undangan ngikutin boot camp acaranya BRI Millennials di Bandung, yaaaa sama aja kan jalan-jalan. Aku percaya rezeki itu ngga kemana ya teh, termasuk rezeki piknik, xixixix.

Acaranya seru banget sih soalnya makanya hepi dan harus dimasukin ke sini. Di acara itu ku ketemu idolaqu Agung Hapsah, aaak.

Sebenernya ga idola yang gimana-gimana sih, tapi ya kagum emang sama doi dan udah ngikutin youtubenya dari kapan tau. Plus terharu, lha ya kok BRI keren banget ngundang Agung Hapsah gitu lho, dan ini bikin temen-temenku pada iri. Jadi aku bahagia.

Tapi pulang dari Bandung aku tepar gengs. Sakit dan harus dirawat di rumah sakit seminggu full. Gila lah, pengen nangis karena malu. Malu sama gaya pecicilan kok tumbang.

Finansial 

Aku masukin dalam postingan ini, karena di tahun ini aku lebih aware banget sama pengeluaranku, hahahaha kalian mungkin ngga bisa bayangin betapa borosnya aku. Aku sih boros bermartabat ya, tapi tetap aja aku boros, dan tahun ini aku merasa pengendalian diriku oke banget. Aku review keuanganku banget lho dan kembali menata ulang planning-planningku untuk Tara dan Divya. Oh yes mereka adalah alasanku ngga beli tas selama setahun ini dan ngga kalap lihat diskonan sepatu di mall.

Oke, itu dalam dunia kerja.

Sosial Media dn Menulis

Dari sisi hobiku dan kegiatan sampingan lain. Aku sepertinya makin menikmati dunia instagram nih hahahaha, blog agak mulai jarang nulis. Bukan karena malas nulis tapi karena lebih seneng aja sekarang sharing di instagram karena bisa langsung berinteraksi sama temen-temen dan followerku.

Oya, di tahun ini aku tuh bener-bener puasa sosmed untuk hal-hal unfaedah. Berkurang banget nyinyirin orang, berkurang banget ngomentarin hal-hal ngga perlu. Aku capek gengs lihat cara orang bersosmed yang udah makin ngga sehat.

Di facebook aku babarblas cuma share-share link, dan share memory-memory doang. Ngga ada lagi nulis-nulis status kayak yang dulu sering kulakukan. Karena aku ngga mau nambah-nambah pikiran kalo ada yang komen julid hahaha.

Oya, tahun ini juga tahun aku sempet mempertanyakan hal-hal yang cukup serius. Dari tahun lalu sih tepatnya aku kayak yang mikirin kenapa ya orang-orang sekarang kok pada ngegas-ngegas (maksudku circle yang aku tau ya, dari yang kubaca di internet, di FB, di twitter), gampangan banget tersinggung, mudah banget memaki, suka maksain pendapatnya, suka maksain kemauan, dan cara berfikirnya kenapa sangat kebendaan sekali, dsb dsb.

Yang akhirnya bikin aku sampe di titik ya udah aku ngga mau mikirin mereka, biarin aja mereka dengan sikapnya, aku kalo ngga suka yang seperti itu ya aku harus menjadi orang yang menurutku "Seharusnya seperti apa"

Aduh aku ngomongnya belibet, kalian bingung ya hahahaha. Intinya aku tuh capek gitu lho melihat hujatan-hujatan yang wara-wiri di temlen. Ah aku yakin kalian ngertilah maksudku, aku terlalu malas menjabarkannya. Pernah kutulis sih di sini tentang Iman dan Ilmu.

Tulisan panjang sih tapi kalo kalian mau baca aku senang, karena di situ aku numpahin uneg-uneg keresahanku, halah.

Dan akhirnya aku kayak janji sama diri sendiri, aku ngga mau jadi orang-orang seperti mereka. Aku mau nunjukin wajah lain yang punya sikap optimisme dan positif dengan cara berbagi. Iya pokoke belakangan itu aku usaha banget minimal seminggu sekali share hal-hal positif yag aku punya.


Mungkin ya sedikit pengalaman kerja di bank, ya tentang sedikit pengetahuan keuangan yang aku tau, apa aja deh pokoke. Aku ngga mau nambah-nambahin konten negatif di dunia maya yang kusuka ini.

Aku kedengeran kayak aw Karin wakakakak. Bye-bye instagram, aku akan jual pada........................diriku sendiri. Bhaik windi, kamu mulai julid.

Dan ternyata memang itu sangat menyenangkan sekali. Aku seneng banget sat aku share sesuatu di IG, misal tentang mempersiapkan dana pendidikan dan reksadana trus ada yang DM  "Mbaaa aku akhirnya ngurangin pengeluaran ngga pentingku dan buka reksadana buat dana pendidikan anakku mbaaa, makasi ya"

Huhu terharu lho.

Atau bahkan adekku sendiri yang kayak " Wah undi, sharing tentang DPLKnya manfaat banget, awak jadi mau buka juga ah buat perispan pensiun".

Seneng lho dapat DM-DM kayak gitu, karena diriku yang sering banget terlanda rasa inferior ini berasa punya faedah, hahahaha. Dan aku akan makin memperbanyak share-share yang gitu-gitulah di tahun 2019 ntar.

Pokoke " Do somethinglah" ga sekedar cuma membatin " Kok mereka gitu sih" atau nyek-nyek dalam hati " Ih norak, ih lebaay".

Jual Jilbab Onlen

Hahahaha ini patut dimasukin, karena sebuah prestasi atas rencana-rencana doang yang biasanya cuma tinggal wacana.

Jadi kemarin itu pas aku lagi down-downnya di pertengahan tahun. Aku butuh banget hal baru untuk pelarianku dari mikir yang ngga ngga. Ya udah aku putusin aku mau jualan jilbab aja, karena toh selama ini aku memang suka banget beli jilbab. Aku bikin label sesuai nama anakku, lalitavistara.

Plis follow Ignya ya dan beli jilbabnya di @lalitavistara.id

Dan ternyata ya responnya bagus, total sampe sekarang aku udah jual ratusan jilbab lho padahal awalnya cuma nyetok 50 aja ah. Eh yang mesen banyak, kusenaaaaang.

Dan yes, sekarang udah di penghujung tahun aja.

Seperti aku bilang di awal tadi, memang ngga ada sih hal-hal bombastis yang terjadi di tahun ini. Tapi aku pikir tahun 2018 ini sukses aku lalui. Kusenang dengan diriku di tahun ini. Terserah ya, gw mau muji-muji diri sendiri, wong blog blog akuh hahahaha.

Aku senang dan bangga dengan diriku di tahun ini, karena walau sempet melakukan kesalahan-kesalahan, sempat dapat teguran-teguran dari Allah lah, aku mampu banget kok melewatinya. Aku masih bisa berfikir mana yang benar mana yang salah. Masih bisa menjaga hal-hal yang aku sayangi.

Aku bersyukur untuk semua yang telah kulewati di tahun ini. Untuk pembelajaran maha penting tentang pengendalian diri, tentang melihat segala sesuatu lebih komprehensif. Untuk keluargaku yang ya Allah, kenapa anakku lucu sekali, kugemas sama mereka. Untuk pasangan hidup yang walau kadang banyak perbedaannya tapi mampu menyeimbangkan diriku. Ah superlaaaaf.

Tahun 2018, tahun pertarungan jiwa bagiku, dan aku memenangkannya, yeaaaaay. Proud to myself.

Kalian gimanaaaaaa tahun 2018nya. Ayo cerita. Ngga luar biasa ngga apa-apa. Apresiasi diri sendiri, karena kita pantas mendapatkannya. Kuy, tag aku yah.




REVIEW SKINCARE RISTRA COSMETODERMATOLOGY UNTUK KULIT TROPIS

Thursday, December 27, 2018
[SP] REVIEW SKINCARE RISTRA COSMETODERMATOLOGY UNTUK KULIT TROPIS





Kalau ditanya, kapan pertama kali mengenal skincare, mungkin pada kaget dengan jawaban aku. Karena aku pake skincare itu udah dari SMP banget. Tapi dulu ngga tau sih ya istilah skincare. Pokoke lihat iklan di tivi trus minta beliin aja sama ibu. Produk pertama yang dikasi ibu ke aku itu adalah milk cleanser sama toner. Dulu namanya air bunga mawar gitu. Pokoke sebelum tidur, bersih-bersih muka, pake cleansing milk, pake facial foam,baru pake toner/air mawar. Ternyata dari dulu aku udah kenal aja ya dengan yang namanya double cleansing.

Ga cukup pake itu, ibu juga selalu ngingetin aku pake masker. Dulu bilangnya bedak dingin, wahahahaha. Itu lho yang bulet-bulet putih, dicampur air, trus diolesin ke wajah, tunggu sampe kering, baru dibilas. Perasaan abis pake masker-maskeran gitu wajah jadi setingkat lebih cantik. Aku suka banget karena kan dulu SMP sukanya main panas-panasan ya, jadi abis pake masker gitu berasa dingin wajah.

Pokoke aku berterima kasih bangetlah sama ibuku, karena ga lupa ngajarin aku merawat wajah sejak piyik, jadi di usiaku yang 35 tahun begini, kulit wajahku walau ga kayak artis korea (karena aku memang ngga putih) ya ngga parah gitu lho, hahaha.

Makanya dikirimin rangkaian skincare Ristra cosmetodermatology, aku hepi banget, langsung keinget rangkaian perawatan yang udah kulakukan bertahun-tahun. Karena emang Ristra ini usianya samaan kayak aku banget, wahahahah jadi berasa kayak diperuntukkan bagiku, halah.

Nah, aku udah pakai selama sebulan lebih, aku mau review rangkaian skincare Ristra dan Sun protectornya.




Kenapa Ristra?

Jadi kesalahan kebanyakan kita nih ya, suka make skincare atau perawatan wajah yang ga sesuai sama kondisi kulit kita. Kita tuh kan tinggal di daerah tropis, maka penting juga untuk memilih skincare atau kosmetik yang sesuai dengan iklim Indonesia.



Nah Ristra itu formulanya udah disesuain untuk kulit wajah di iklim tropis. Selain itu dia merupakan produk cosmetodermatology yang sudah lolos test dermatology. Maksudnya tuh, produk yang udah diteliti oleh dokter kulit yang juga ahli kosmetik. Satu lagi, karena produk Ristra ini PH Balanced yang mencegah bakteri dan menjaga kulit tetap sehat dengan menjaga keseimbangan PHnya. Biar cantik kini dan nanti gitu lho, sampe tua kayak ibu-ibu kita yang masih kinclong juga.

4 Step Dasar Perawatan Kulit

Jadi kalau yang sekarang lagi ngetrend itu kan yang 10-11 step skincare ya kan. Sebenernya mau 10, 11 atau berbelas-belas step itu, dasarnya ya 4 step doang. Yaitu cleansing, toning, moisturizing, sama protecting. Itu doang lho, hahahaha kita emang suka ribet yah.

Nah rangkaian produk ristra ini udah mengandung 4 step dasar ini banget.

1. Cleansing 

Tahap cleansing di step skincare ini ngga boleh banget dianggap sepele. Pokoke mau sebagus apapun skincare lanjutannya kalo pas bersihin wajah ngga bener, ya hasilnya ga akan maksimal. Ibaratnya nemplokin sesuatu di tempat yang kotor ya kan ngga akan berfaedah ya sobat. Makanya usahain banget untuk double cleansing.

Double cleansing itu intinya dua kalilah step pembersihannya. Pertama pake cleansing yang gentle yang fungsinya kayak bulldozer untuk ngangkat semua make up yang nemplok di wajah, termasuk foundation dsb dsb. Kedua baru pake facial wash yang fungsinya bersihin sisa kotoran dan sisa pembersih sebelumnya.

Ristra Extremely Gentle Cleansing Milk 



Produk Cleansingnya Ristra ini terdiri dari cleansing milk dan med soap.

Cleansing milknya ini ya bentuknya creamy. Aku pake sebagai first cleansing, bersihin wajah abis seharian di luar. Aku kan sehari-hari mayan make-up ya walau ngga yang ful make up berat tp pasti pake bedak, eye shadow, masakara dan lipstick. Untuk eye dan lips aku tetep bersihin pake remover yang khusus daerah itu. Untuk wajah keseluruhan aku pake cleansing milk ini.

Teksturnya ya creamy ya. Kalau cleansing milk gini aku suka pake banyak-banyak karena aku parnoan banget sama step cleansing jadi kudu serius. Dipijet-pijet di wajah sampe itu cream yang warna putih agak berubah warna agak kecoklatan baru deh aku angkat pake kapas.

Kesanku, cleansing milk Ristra ini ngga terlalu lengket dan berminyak kayak produk lain, jadi ngga kemeliket gitu lho, enak di wajah, dan bersih banget.

Ristra Med Soap





Selesai pakai cleansing milk, aku lanjutin pakai Ristra med soap, alias facial wash. Teksturnya agak semi gel gitu. Wanginya enak, ngga yang nyegrak banget. Ini termasuk favorit aku dan aku bawa kemana-mana krn dipakenya enak banget di wajah. Ga usah banyak-banyak karena dikit aja menurutku udah cukup banget buat ngangkat sisa-sisa cleansing milk sebelumnya.

Ristra med soap ini ngga yang bikin kulit kesat, tapi tetep berasa bersih karena formulanya PH balanced jd ya gitu.

2. TONING

Nah abis step cleansing, lanjut step berikutnya yaitu toning. Toning ini fungsinya untuk mengembalikan keseimbangan PH alami kulit wajah kita yang sebelumnya udah kena giles sama pembersih di tahap double cleansing tadi. Ini nih sering juga dilewatin sama kite-kite karena mikirnya toning itu cuma buat seger-segeran aja di wajah (aku dulu mikirnya juga gitu hahahah), padahal fungsinya lebih dari itu.

Step toning ini juga sekaligus membantu ngecilin pori-pori dan menjaga produksi minyak di kulit.

Toning Lotion



Aduh aku looooove banget sama toning lotionnya Ristra ini. Eits jangan salah ya walau ada kata lotionnya tapi ya dia bentuknya bukan lotion kayak yang kita kenal tapi ya seperti toner pada umumnya yang cair gitu.

Aku suka banget, sampe hampir abis sendiri karena seringnya aku pake hahahaha. Tonernya ini enak di wajah karena kerasa banget ga mengandung alcohol, jadi bukan yang dingin lebay gitu. Aromanya juga lembut bahkan hmpir ga kecium sama aku dn segeer bangeet. Tonernya Ristra ini mengandung allantoin yang fungsinya untuk melembabkan, jadi pas banget sama kulit wajahku yang normal cenderung kering, makanya aku suka pake berlayer-layer. Love love deh.

3. Moisturizing 





Nah abis step toning, selanjutnya step moinsturizing, alias ngasih kelembaban ke kulit. Jadi kulit kita ini perlu dijaga kelembabannya dan dihidrasi biar kandugan air di dalamnya tetap terjaga. Ini tahap penting biar kulit ga kering kerontang. Kalo kulit kering dia malah bakal ngasilin banyak minyak untuk usaha ngelembabinnya, malah kulit kita jadi berminyak ga beraturan gitu, halah.
Moisturizing Cream


Di kulitku, moisturizing creamnya Ristra ini cocok banget, cepet banget nyerapnya. Apa karena kulitku memang kering gitu ya, jadi kayak dioles trus nyerap gitu, ngga pake nunggu lama-lama. Jadi aku cocok nih sama si moisturizing.

Aku baca di kandungannya, moisturizing creamnya Ristra ini mengandung olive oil untuk menutrisi dan melembabkan. Selama sebulan ini oke-oke aja di kulitku dan memang berasa jadi ngga kering sih, karena memang fungsinya itu ya, menjaga penguapan air dari muka kita.

Scrub Cream 




Sejujurnya aku ngga terlalu suka menscrub wajah. Alasannya jelas karena kulitku kering, jadi aku suka merasa abis scrub itu kulitku malah makin kering kerontang dan bakal merah-merah, makanya kalo pake scrub aku pilih yang ngga bentuk butiran gitu tapi lebih ke peeling gel.

Scrub creamnya Ristra ini agak ngagetin pas dipake, karena dia dingiiiiiin kayak ada mintnya gitu, hahahaha. Jujur aja aku kaget pas makenya. Aku pikir yang bakal kerasa banget gitu butirannya tapi ternyata cukup haluslah. Aku pake ngga banyak-banyak, dipijet aja dengan gerakan memutar di seluruh wajah. Khusus bagian bawah mata, dan sekitar bibir aku hindari karena KERIIIING. Dari tadi aku ngomongnya kulitku kering-kering terus yah wahahaha, memang begitulah adanya.

Abis dipake, bilas pake air, dan kulit berasa muluuuuuus hahaha. Tapi jangan sering-sering ya. Aku pake scrub itu biasanya paling banyak seminggu sekali doang sih.

4. Protecting

Nah tahap terakhir tuh dari 4 step skincare adalah protecting. Iyalah karena apa gunanya kita pake smua-mua itu, kalo diterpa cahaya matahari yang ajegile panasnya sekarang trus wusssss kena flek huhuhu.

Jujur aaja aku termasuk yang males-malesan banget dulu pake suncare. Karena mikirnya ah kan ngga kena sinar matahari langsung ah, kan aku di mobil, abis itu masuk ruangan. Ya ternyata bisa nembus ya gengs. Ibaratnya nabung flek, dikit-dikit kalo tiap hari terpapar ya jadi banyak dan keliatan. Jadi yang belum telat jangan lupa ALWAYS pake suncare kalo keluar rumah.

SUNCARE




Di aku sebenernya suncare Ristra ini agak kekecilan SPFnya, karena dia SPF 17 gitu kan yah. Aku biasanya pake yang 50 sekalian, sangkin parnonya sama sinar matahari. Tapi SPF segini sebenerny udah cukup asal sering-sering aja diolesin lagi setiap beberapa jam gitu.

Suncarenya Ristra ini teksturnya antara lotion dan cream gitu, jadi ngga kentel banget tapi ngga cair juga. Termasuk cepat nyerap di aku. Warnany putih banget, awalnya aku ngga biasa karena selama ini always pake suncare yang transparan, tapi karena cepat nyerap jadi ngga ngaruh juga soal warnanya.

Yang menarik nih suncare bisa dipake untuk anak usia 5 tahun lebih. Ya udah aku pakein juga ke Tara. Karena anakku itu kan hobi banget main di luar sama temen-temennya, hahahaha. Mayan nih suncare bisa banget dipake sekeluargaan gitu.



Selesai. Empat step perawatan wajah ala Ristra yang sebulanan lebih ini aku coba, overall cocok semua di wajahku. Ngga ada yang bikin break out atau gimana. Produk favoritku itu toner dan med soapnya. Tonernya udah mau abis banget, aku bakal repurchase banget karena seenak dan secocok itu di wajahku hahaha.

Ayo kalian cobain juga. Produk dari jaman ibu kita gini udah ngga diraguin lagi kualitasnya ya kan. Cuss.



Center Of Universe Setelah Jadi Orangtua

Friday, November 23, 2018



Yup, kayanya hampir semua pasangan muda, setelah menikah dan punya anak, prioritas hidupnya jadi berubah. Anak menjadi center of universe. Semua mua dilakukan demi anak, untuk anak, karena anak. Tak jarang, seorang wanita sampai abai sama kebutuhan diri sendiri, seorang suami lupa sama kebutuhan istrinya, karena semua udah all about the baby.

Tau ngga, saya pernah punya temen cowok, yang sempet sebel sama anaknya sendiri, karena doi bilang, sejak punya anak istrinya ngga lagi perhatian sama dia. Prioritas hidup istrinya Cuma kebutuhan anaknya. Pulang kerja makan sendiri, mau ngajak istrinya ngobrol, eh istrinya sibuk nyusui anaknya. Giliran nyusui selesai, dianya udah ngantuk.

Udah ngga pernah lagi mesra-mesraan, karena si istri yang dibicarakan cuma anak-anak- dan anak.

Awalnya saya tuh yang pengen nokokkan kepala si kawan ini " Woy ya wajarlah, namanya juga ibu baru, masih excited sama anaknya, atau ngga ya karena terlalu khawatir sama anaknya, jadi yang dibicarakan anak-anak-anak".

Tapi setelah saya pikir-pikir, kasihan juga ya para suami. Mereka harus dipaksa mengerti bahwa anak udah jadi center of universe si istri. Padahal ya dianya juga mungkin aja baby blues ya. Mungkin aja doi juga sebenernya gagap jadi papa baru, dan pengen curhat ke istri, pengen berbagi cerita ke si istri. Mungkin penat di kerjaan dan pengenlah si istri yang kayak dulu,manja-manja kepada dia.

Bahwa yang namanya menjadi orangtua, prioritas hidup itu jadi berubah, bahkan prioritas terhadap pasangan aja bisa tergantikan. Anak jadi center of universe kita. Kalau kita terus menerus terjerumus dengan stigma bahwa anak adalah segalanya, bisa bahaya juga bagi keluarga dan bagi perkembangan jiwa diri sendiri. Makanya perlu keseimbangan dan kesadaran, bahwa ga apa kok sekali-kali mendahulukan kepentingan ibunya misalnya. Kayak masalah kompeng dan ayunan itu. Kalau memang diperlukan alat bantu, saya rasa ngga ada salahnya kok ortu menggunakannya. Demi anak tidur lebih nyenyak dan ibu lebih banyak istirahat.

Pokoke intinya, it's ok not to be a perfect mother versi buku parenting. Sepanjang tidak membahayakan anak, kita bahagia, improvisasi dalam hal pengasuhan anak, sah-sah saja menurut saya.

Nah nyambung ke berita yang lagi hot di timeline. Soal perceraian keluarga idola kita semua [KITA], iya idola kitalah, aku termasuk yang suka sama keluarga ini walau ngga sampe yang ngefans gimana, seru aja lihat mereka, ditambah si Koneng lagi.

Banyak banget komen-komen di instagram dan di twitter yang isinya kira" Tolong dong pikirkan perasaan Gempi", sampe yang " Kalian tidak boleh egois jadi orangtua, mengalahlah demi keutuhan orangtua bagi Gempi.

Terus terang saja mendengar berita perceraian Gading_Gisele ini aku sedih. Tapi baca-baca komen netijen begini, kok rasanya gimana yah. Aku yakinlah ga mungkin keputusan sebesar itu ga dipikirin mereka dengan matang. Beban sebagai public figur, beban sebagai role model keluarga bahagia, ditambah postingan-postingan keimutan dan kelucuan anaknya, pasti membuat mereka udah mempertimbangkanlah keputusannya.

Aku mau cerita aja, ada temenku yang orangtuanya tiap hari bertengkar terus, udah level saling menjelekkan satu sama lain. yang tau sama-sama tidak puas dengan diri pasangan. Saling benci tapi ngga mau pisah. Sama-sama berfikir, ga apa-apa kami ga bahagia, asal kalian anak-anak kami tetap memiliki orangtua yang utuh. Kondisi gitu berlangsung bertahun-tahun, dari temenku ini masih piyik sampe kuliah, nikah, punya anak. Ortunya ngga kunjung pisah, tetap bersama dan tetap saling memaki, tetap saling menyakiti, sampe akhirnya si temenku dan sodara-sodaranya jadi benci sendiri sama kedua ortunya. benci sama ortu dan benci sama diri mereka sendiri. " Kenapa mama papa ga pisah aja kalo udah ga saling cocok, kami anak-anak ini ga masalah banget lho punya ortu bercerai daripada lihat kalian berdua ga bahagia gini"

Huhu aku dengerin cerita temenku ini sampe ikutan nangis. Karena ya itu terjadinya udah lama, dan ortunya terlalu pengecut buat ngambil keputusan. 


Apakah mereka si anak merasa bahwa ortunya berkorban untuk mereka?

Ya ngga juga.

Mereka malah mungkin lebih bahagia kalo kedua ortunya lebih punya sikap. Karena untuk apa tetap bersama kalau sebenernya toh ngga ada lagi yang bisa dipertahankan. Kalo anak-anak?. Anak-anak mungkin akan kehilanganlah pada awalnya, mungkin akan kecewa, mungkin akan merasa tidak dicintai, tapi seiring usia dan kedewasaanya, asal dikasi pengertian yang benar, pasti akan mengerti bahwa perpisahan kedua orangtua bukan berarti tidak sayang pada mereka.

Balik ke judul awal. Mungkin setelah menikah, pasangan suami istri akan memiliki prioritas hidup yang berubah, anak, segalanya tentang anak. Tapi untuk kebahagiaan pribadi, jika memang tidak memungkinkan untuk tetap bersama, menurutku berpisah mungkin jadi pilihan terbaik.

Dan perihal anak menjadi pusat semesta kita, aku ngga mau banget seperti itu. Anak tentu  jadi prioritas kita tapi pasangan adalah belahan jiwa kita. Kepentingan dia tidak kalah pentingnya dengan kepentingan anak. Kebutuhan pasangan tidak kalah urgentnya dengan kebutuhan anak.

Percaya saja, anak-anak kita itu tidak selemah yang kita pikir kok, mereka itu kuat dan bisa mengerti kondisi ortunya

Aku ga pro perceraian, aku pro kebahagian semua orang. Karena pernikahan yang di dalamnya saling menyakiti atau sudah tidak satu jalan lagi itu sungguh menyiksa.


Percaya sama aku

Eh ngga ding, percaya ajalah pokoke, lhaaa labil.

Custom Post Signature