Showing posts with label Marriage. Show all posts
Showing posts with label Marriage. Show all posts

Faktor Kebahagiaan

Tuesday, September 5, 2017
Judulnya astagaaa, ga bisa nemu judul lain soalnya xixixi.

Jadi beberapa waktu lalu saya masukin Tara ke TK, Trus disodori pertanyaan-pertanyaan yang susyeeeeh jawabnya.

Salah satunya adalah : Apa faktor terpenting bagi kebahagiaan keluarga ibu?

Wok wow wow, langsung mikir banget mau jawabnya. 

Kalau ditanya apa yang bikin saya bahagia sih banyak yah

Bisa ke salon tiap hari
Bisa belanja tanpa limit
Bisa makan sepuasnya tanpa jadi gendut
Bisa lihat anak sehat ceria sepanjang hari
Bisa bobo seharian ngga ada yang ganggu
Bisa ngeblog terus tanpa mikirin tunggakan debitur wahahahaha.

Banyak yah hal yang bisa membuat kita bahagia. Tapi kalau pertanyaan dipersempit jadi apa faktor kebahagiaan terpenting bagi keluarga.

Faktor terpenting. Artinya sesuatu yang paling krusial. Kalau dia ada keluarga bahagia, kalau ngga ada maka keluarga ga bahagia.

Hmmmm.... mikir.... mikir..... mikir.

Ah elah ini pertanyaan gini aja diseriusin ya wahahahha, dasar emak-emak ribet.

Balik mikir lagi, dan akhirnya saya menemukan jawabannya.


Ternyata faktor terpenting kebahagiaan keluarga bagi saya adalah kesepakatan dalam keluarga. AHA, tring.

Iya, bisa sepakat dan satu suara dengan suami dalam memutuskan hal-hal penting maupun hal remeh temeh di keluarga itu ternyata faktor penting banget untuk keluarga saya. keluarga saya lho, bukan keluarga orang. kalau ada kata sepakat saya bahagia, ngga tercapai sepakat saya bisa sedih, uring-uringan , bete dan males ngomong.



Waaa ternyata itu membahagiakan sekaligus melegakan banget.

Kenapa?

Karena ternyata segala hal jadi berasa mudah kalau dalam melakukan apapun di rumah tangga kitanya udah satu suara dulu sama pasangan.

Saya kepikiran hal tersebut karena ada saat-saat saya sama masTeg ngga satu suara duh rasanya ngga enak banget, bisa jadi bibit pertengkaran.

Kayak kemarin tuh pernah saya lagi pengen banget bawa anak-anak jalan-jalan yang nginep, tapi masTeg lagi ogah karena dia capek. Akhirnya kami tetap pergi karena anaknya juga udah semangat banget. Gitu nyampe hotelnya, ternyata dapetnya kamar yang posisinya kurang oke, trus Masteg mutung, trus ngambek, Doooooh, malesin banget.

( Baca : Suami Nyebelin )

Itu baru hal kecil, saat saya ngga satu suara dengan Masteg udah bikin suasana bersama ngga kondusif.

Nah jadi saya mikir lagi, ternyata untuk hal-hal lain, saat saya sudah satu suara sama Masteg, walau ada rintangan di depan, kok bawaannya jadi nyantai. Malah dipikirin bersama jalan keluarnya gimana.

Kayak masalah milih sekolah Tara tuh kemarin.

Sebenernya sekolah Tara yang lama itu udah oke banget, jaraknya deket banget dari rumah, mbanya yang di rumah bisa antar jemput dengan mudah, mana kalau pas kebetulan ada keperluan mendesak ibu gurunya bersedia lagi mengantar jemput Tara. Luuuv lah.

Tapi setelah saya nyari-nyari info ke sekolah lain, ternyata saya menemukan sekolah baru yang menurut saya Tara bakal jauh lebih baik kalau disitu secara pendidikannya, makanya saya pindah. Tapi konsekuensinya jaraknya lumayan jauh dari rumah.Dan ndilalah kali ini saya dapat ART lama banget sebagai pengganti ART yang kemarin berhenti.

( Baca : Hari Pertama Sekolah dan Perjalanan Mencari Sekolah Idaman )

Awal-awal itu sumpah ribet banget, masalah antar jemput Tara, karena si mba di rumah ngga mungkin bisa antar Tara pagi-pagi saat dedek Divya masih tidur, maka saya dan Masteg yang gantian antar, akibatnya saya telat mulu ke kantor selama 3 hari berturut-turut. Ini di luar rencana, karena di planning kami yang antar jemput itu si mba di rumah dengan catatan ART saya dua kayak kemarin, lha kalo cuma satu ya ngga bisa. Nah untungnya itu yah, karena milih sekolahnya memang kesepakatan bersama, giliran ada yang ribet gini ngga ada saling menyalahkan, malah sama-sama nyari solusi.

( Baca : Menikah Atau Tidak )

Akhirnya yang antar mas Teguh dengan konsekuensi dia berangkat lebih pagi, dan yang jemput saya. Clear. Problem solved.

Bahkan even di jam pulang sekolah Tara  ternyata posisi saya lagi di luar yang ngga mungkin balik jemput ke sekolah, ya Masteg selalu punya solusi untuk mengatasinya.

Pokoke menurut hemat saya, sepakat dengan suami itu sungguhlah membuat hati ini bahagia tiada tara, karena ngga akan ada saling menyalahkan, jika ada masalah suami istri malah bersatu untuk mencari solusinya.

Makanya ya frend, saya kalau mau memutuskan sesuatu yang sekiranya bakal panjang urusannya ngga mau kalau suami ngga oke dulu, walaupun saya bisa melakukannya sendiri. Misal mau pergi pendidikan, mau ikut job opening di kantor, mau menghire ART, pokoke kudu sepakat dulu baru saya jalan. Ibarat di pekerjaan, ada agreementnya dulu baru action , biar di belakang hari sama-sama enak hahaha.

Oke mulai kemana-mana, mari kita akhiri saja.


Kalau kalian, apa faktor terpenting kebahagiaan keluarga untuk kalian. Sekalian jawab pertanyaan sekolah Tara, hahahaha.







Menikah Atau Tidak

Wednesday, August 9, 2017
Tema #GesiWindiTalk kali ini request dari teman Gesi. Tentang pandangan kami tentang pernikahan. Kalau kami disuruh kasih rekomendasi ke orang lain, kami bakal suruh orang untuk menikah atau tidak?


Baca punya Gesi :




Nah sebelum saya jawab, coba yuk kita pilah mana lebih baik menikah atau single

Single :

Enaknya

↔ Waktu untuk sendiri lebih banyak
↔ Waktu untuk orangtua lebih banyak
↔ Kebutuhan hidup hanya untuk diri sendiri
↔ Mau kemana saja tinggal pergi
↔ Bisa hang out sama teman kapan dan dimana pun
↔ Fleksibel dalam mengejar karir, tidak tergantung pasangan
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga harus minta pendapat pasangan

Ngga enaknya

↔ Ngga ada temen bobo dan berbagi cerita setiap malam, kecuali kamu punya pacar dan mau telfon-telfonan terus
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga ada yang dimintain tukar pikiran (bisa sih temen kalau mau)
↔ Kalau tidak pintar memanage keuangan, terkadang gamang sama tujuan hidup sendiri
↔ Suka diomongin orang sekitar
↔ Dianggap kurang mature
↔ Kebutuhan biologis siapa yang menuhi?


Menikah :

Tidak Enaknya

↔ Waktu jelas berkurang, karena sekarang apa-apa untuk keluarga
↔ Mengejar karir ada batasnya, karena harus mikirin keluarga , termasuk persetujuan pasangan
↔ Waktu untuk orangtua, kerabat. lingkungan harus dibagi dengan waktu bersama keluarga
↔ Tidak bebas seperti saat single
↔ Biaya hidup akan membengkak, karena banyak tujuan yang harus dicapai, sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, asuransi.
↔ Tidur tidak pernah nyenyak lagi jika sudah punya anak

( Baca : Yang Berubah Setelah Punya Anak )

Enaknya

↔ Ada teman cerita setiap saat
↔ Punya seseorang atau tempat untuk pulang
↔ Kalau sudah punya anak, tambah penghibur hati
↔ Secara society aman, dan dianggap normal
↔ Sex jadi halal

( Baca : Ekspektasi dan Realitas Setelah Menikah)

Kalau kita lihat perbandingannya di atas, sebenernya ngga jauh-jauh amat sih ya bedanya. Enak dan ngga enaknya kalau dipikir-pikir juga ngga signifikan amat. Karena apa yang dilakukan orang menikah bisa juga dilakukan saat single, kecuali sex ya, kecuali kamu menganggap sex sebagai perbuatan yang boleh dilakukan dengan siapa saja, maka menikah jadi tidak ada bedanya dengan single.

Jadi? Kalau gitu ya udahlah single aja, toh ngga ada bedanya.

Jawaban kayak gitu, jadi sama gampangnya dengan ngomong " Ya kalau, ngga ada bedanya, ya kenapa ngga nikah aja, enak ada yang ngurusin."

Hayoooo? Jadi mending nikah atau single ini sih.

Kalau pertanyaan ini ditujukan ke saya sekitar 10 tahunan lalu, pastilah saya bakal jawab dengan pasti, "Ya nikahlah, masa ngga nikah sih", karena memang saya befikir bahwa menikah itu default aja kebutuhan manusia dan hal yang natural dijalani saat orang sudah beranjak dewasa dan siap untuk menikah.

Namun, kalau ditanya sekarang, saya bakal harus mikir dan ngomong panjaaaaaaang dulu sama yang nanya. Karena ternyata setelah saya menikah dan menjalaninya kurang lebih 9 tahunan, ya baru tau aja kalau menikah itu challenging banget deh. Ditambah sering denger cerita dan curhat orang orang lain soal rumah tangganya, membuat saya pengen bilang ke para single " Plis plis jangan buru-buru menikah sebelum yakin betul apa yang kamu inginkan dengan menikah"

Saya ngomong gini bukan skeptis sama lembaga pernikahan sih. Tapi karena saya melihat, banyak banget orang yang kelihatan mesra, ekonomi cukup, anak ada, segalanya kelihatan fine-fine saja, ternyata cerai.

Saya hidup di circle dimana perceraian bukan merupakan hal yang mengejutkan lagi. Saya punya teman yang bercerai, punya keluarga yang bercerai, punya teman kantor yang bercerai , punya tetangga yang bercerai, yang awalnya dulu saya selalu WOW WOW gitu mendengarnya.

Saya sempet mikir " Kenapa bisa cerai?"
" Kok ngga mikirin anaknya?", " Apa ngga bisa dibicarain lagi?" , " Apa tidak mau mencoba lagi?", " Kok bisa selingkuh sih", " Kalau selingkuh, kok sampai cerai sih" (tetep), yang intinya bagi saya dulu perceraian itu menjadi sesuatu yang luar biasa.

Namun makin kesini, makin lama menikah, mengenal orang, dengar cerita orang, melihat kehidupan orang, ya jadi mengerti sendiri. Bahwa di pernikahan itu banyak banget hal yang bisa bikin suami istri bertengkar, tidak sepaham, dan selalu merasa kurang puas.


Makanya kalau saat ini saya mendengar orang bercerai, ya dalam hati cuma bilang " Life Happens" aja.

Makanya kembali saya bilang, bagi para single, plis pikirin lagi saat menentukan pasangan hidup. Karena beneran menikah itu ngga mudah jenderal.

Kalau kita pikir menikah itu cuma untuk memenuhi kebutuhan biologis saja yakin banget itu cuma menjadi kebutuhan utama di awal-awal pernikahan, setelah itu... ya tetap butuh tapi ada hal lain yang lebih krusial.

Tapi saya ngomong gini juga ngga selamanya bener, karena buktinya ada juga pasangan yang berpisah ya karena masalah ranjang.

Saya dan sohib saya di grup pernah ngomongin ini panjang lebar, dan kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa hal paling penting bagi kita saat memutuskan untuk menikah adalah memilih pasangan yang memiliki kesamaan prinsip hidup. TITIK.

Itu paling penting.

Karena yang namanya pernikahan, mau ekonomi sebagus apapun, secinta apapun, support system sebaik apapun, namun saat kita dan pasangan sangat berbeda secara prinsip hidup, udahlah pasti bakal melelahkan sekali. Kecuali salah satu rela untuk berkompromi dan mengalah sepanjang benturan terjadi.

Persamaan prinsip bukan perkara hal-hal sepele, kayak makan enaknya di meja makan atau di depan tivi. Handuk abis mandi harus diletakin ke tempatnya atau dilempar saja sekenanya.

Hal kecil-kecil kayak gini mah remah-remah rempeyek doang. Tapi lebih kepada hal-hal yang bersifat fundamental.

Pandangan soal agama.
Pandangan soal gender
Pandangan soal pengasuhan anak
Pandangan soal peran suami istri dalam keluarga

Ini nih yang paling penting harus sepaham, atau kalian harus menekan ego terus sepanjang tahun pernikahan.

Saya sering cerita bahwa saya dan mas Teguh itu bedaaa banget kepribadiannya.

Berbeda dengan Gesi-Adit yang seumuran, atau Icha-Jege yang punya sifat 11-12, saya dan mas Teg itu perbedaannya udah macam langit dan bumi.

Kami beda suku, beda budaya, beda usia, beda selera, beda sifat dan beda latar belakang keluarga bahkan kami berbeda pandangan politik. Satu-satunya yang menyatukan kami adalah mie ayam, lho, hahahah.

( Baca : Beda?, Siapa Takut ?)

Oke, serius

Namun saya bisa bilang sampai saat ini dan mudah-mudahan selamanya, belum pernah ada masalah berarti di keluarga kami. Belum pernah ada terpikir untuk tidak bersama Mas Teg.

Satu hal yang saya sadari kemungkinan karena kami sama-sama tau bahwa kami berbeda, dan kami ngga merasa perlu untuk menjadi sama. Dan yang pasti karena prinsip hidup kami walau ngga bisa dibilang sama persis tapi ngga beda-beda amat.

Kami sepemahaman soal peran perempuan dalam keluarga, sepakat soal boleh tidak boleh istri bekerja, sepaham bahwa hidup ini dinikmati bukan dikeluhkan, sepakat bahwa anak tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab saya saja , termasuk masalah sepele soal pakaian dan pergaulan saya.

Hal-hal yang saya rasa prinsipil ya itu.Mungkin berbeda di setiap orang.

Makanya walau kepribadian bagai langit dan bumi, namun soal prinsip hidup ya seiya sekata.


So, saya ngga akan berpanjang lebar, saya udah pernah nulis banyak hal soal pernikahan disini. Kalau kalian search label marriage pasti kalian temukan banyak hal soal pernikahan yang sudah saya bahas. Mulai dari tentang bagaimana tahu jodoh yang tepat, sampai soal ekspektasi dan realita setelah menikah.

Makanya saya ngga akan jawab pertanyaan di atas tadi. Kalian menikah atau tidak, You choose , bukan saya, bukan orangtua, bukan lingkungan. Kamu yang harus mutuskan, karena kebahagianmu bukan di tangan orang lain, dan kesedihanmu juga bukan tanggung jawab orang lain.

Namun yang pasti saya hanya mau sampaikan, bahwa tidak ada yang lebih baik dari menikah atau terus menjadi single. Keduanya sama baiknya jika kita bahagia menjalaninya, dan keduanya sama ngga enaknya kalau kita ngga enjoy menjalaninya.

Kalau kata orang menikah itu rumit, ya saya setuju, tapi ngga serumit sampai kamu harus takut menjalaninya.

Kamu hanya hanya harus paham bahwa yang namanya menikah itu konsekuensinya gede. Ada keluarga yang harus dipersatukan, ada anak -anak yang bakal dilahirkan, dan ada status dan nama pasangan yang bakal mendampingi kita seumur hidup.

Saat kamu menikah, kamu bukan hanya menjadi si Mawar lagi, tapi berubah status menjadi istri Kumbang, menantu Bu Broto, dan mamanya Melati. Yup, saat kamu menikah, rentetan normalnya kamu bakal ketambahan embel-embel tidak hanya nama tapi tanggung jawab yang menyertainya.

( Baca : Tentang Jodoh )

Tentu itu tidak mudah namun bukan hal yang harus dibikin sulit juga.

Kamu juga harus paham, bahwa pasanganmu itu yang akan menjadi teman hidup seumur hidup bukan orang yang harus selalu memuaskanmu, dia bukan cenayang yang bisa selalu tau apa maumu, sama seperti dirimu dia juga bisa berubah, maka berharap dia selalu seperti malaikat pasti akan mengecewakanmu.

Dan harus disadari bahwa orang yang hidup dengan kita itu bukan diri kita, maka pasti ada perbedaan. Namun yang namanya perbedaan ya biarkan saja, buka untuk disamakan tapi cukup dipahami dan dikompromikan. Kecuali, sekali lagi kecuali perbedaan prinsip hidup.

Karena menikah dengan orang yang berbeda prinsip akan melelahkan sekali.

( Baca : Suami Selingkuh Dan Istri Yang Minta Dimengerti )

Menikah, dan hidup dengan pasangan yang paling cocok sekalipun, dengan kondisi ekonomi sebagus apapun, dengan lingkungan yang mendukung sebaik apapun, tetap akan ada masalah dalam pernikahan.

Maka jika kamu menikah, menikahlah karena kamu tahu bahwa hidupmu akan lebih baik dengan menikah dengannya, namun tetap persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Bukan dengan was-was setiap saat, namun dengan memanage ekspektasi. Lower expectation dalam pernikahan biasanya malah lebih bisa menyelamatkan hati dan pikiran dibanding hight expectation yang akan memunculkan rasa kecewa.

Menikah tidak menjamin hidupmu lebih bahagia, tapi saya bisa pastikan menikah akan menempa kamu jadi orang yang lebih dewasa dan kamu bakal menemukan banyak hal yang sebelumnya kamu tidak mengerti. Akan banyak pelajaran hidup yang kamu dapat saat menikah. Percaya ngga percaya, pernikahan, mau ngga mau pasti akan mendewasakan seseorang.*gw sok iye banget ngomong gini di usia pernikahan masih bau kencur*

Namun jika, kamu merasa kamu tidak ingin menikah, Go a head, ga ada yang bisa memaksa kamu untuk menikah, even orangtua sendiri. Karena sekali lagi kebahagianmu dan kesedihanmu bukan tanggung jawab orang lain dan ngga ada orang lain juga yang mau tanggung jawab.

Karena menikah  bukan pilihan hidup, maka teruslah melangkah, carilah apa yang masih kamu cari.

( Baca : Karena Menikah Bukan Tujuan Hidup )

Karena menikah bukanlah prestasi, maka teruslah mengukir prestasi-prestasi lain selain prestasi mencari jodoh.

Karena status menikah bukanlah sebuah piala yang harus dipajang di status fesbukmu, maka ngga perlu kesusu dikejar usia. Jangan turunkan kriteriamu demi sebuah kata "Married with"

Karena menikah juga bukanlah pintu darurat, maka ngga perlu membukanya untuk lari dari apapun.

Karena menikah bukanlah tujuan hidup, melainkan salah satu tools mencapai tujuan hidup.

Namun jika kamu merasa kamu tidak memerlukan tools itu untuk mencapai tujuan hidupmu, ya ra popo. lakukan hal-hal lain yang membuatmu bahagia.

Tidak ada yang salah dengan status single. Kalau kamu memilih untuk menunda pernikahan atau bahkan memutuskan tidak menikah karena suatu alasan kuat, keep on fighting.

Namun berjanjilah untuk menikmati waktu singlemu dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup dengan bahagia. Karena menjadi single kamu bisa melakukan banyak hal lebih baik dari orang yang menikah, TRUST ME, walau dikata orang, menikah menambah energy, namun yakin saat single itu adalah sebaik-baik energy untuk memaksimalkan potensi diri. Kamu bisa menaklukkan dunia kalau kamu mau.

So, what i recommend you : single or married?

Biar postingan ini tetap menjawab pertanyaannya, saya jawab secara cepat saja ya.

Saya rekomendasikan kamu menikah :

Jika dan hanya jika, kamu sudah memastikan bahwa calonmu itu adalah orang yang memiliki persamaan pandangan hidup yang prinsipil. Kalau kalian beda hal remeh, itu bisa dikompromikan, kalau berbeda untuk satu pandangan besar, tinggalkan, cari yang lain.

Saya rekomendasikan kamu single :

Jika kamu ingin menikah hanya untuk memuaskan lingkungan, keluarga, atau hanya untuk status padahal kamu belum menemukan orang yang benar-benar sepaham dengan kamu. ya udah single aja dulu sampai kamu ketemu the one tersebut.

You choose.

Suami Nyebelin

Thursday, June 1, 2017



Halo ibu-ibu dimanapun kalian berada.

Kalian pernah sebel ngga sama kelakuan suami. Sebel level males ngomong sama blio sampe level sebel dan pengen nyanyi lagu Betharia Sonata " Pulangkan saajaaaa aku pada ibuku atau ayahku, uwo uwo uwo "

Kalau saya?

Pernah banget 

Adaaa aja gitu hal yang menyebalkan dari suami yang pas saat kejadian bikin pengen teriak di kuping dia, tapi ya sebel-sebel gitu tetep cinta sih, aku lemah.

Mungkin kalian juga mengalaminya. apa sajakah itu?

Baca Punya Mereka Juga Ya :

Gesi



TIDAK PEKA

Ada satu hal yang saya sadari tentang kenyataan dalam pernikahan dan mungkin kalian juga menyadarinya. 

Ternyata, segala hal yang terjadi , prinsip atau kondisi apapun yang berlaku umum saat sebelum menikah, maka setelah menikah menjadi kebalikannya, literally, bukan cuma slogan, tapi nyata dan terjadi hampir di seluruh pernikahan.


Dulu sebelum menikah, posisi perempuan itu ada di atas angin. Okelah bukan di atas angin tapi di atas pria. Mau ngambek ya ngambek aja, mau marah ya marah aja, males nerima telfon ya tinggal matiin, males ketemu ya tinggal bilang ngga ada saat didatengin, pokoke bargaining positionnya setingkat lebih tinggilah dibanding si pria.

Karena ntar pasti ujung-ujungnya si pria minta maaf, kalau masih cinta ya.

Karena pasti toh ntar tetep nyoba nelfon balik sejam kemudian.

Ini saya ngomong yang berlaku umum, bukan untuk special case. 

Yang pasti saat sebelum menikah, pria itu bisa menekan egonya sampai ke titik dasar, sekali lagi if he loves her . 

Namun setelah menikah, sedikit banyak keadaan berbalik. Pokoke mereka tuh ya kadang jadi makhluk yang paling menyebalkan.

Entahlah, setelah menikah kok rasanya perempuan itu lebih banyak ngalahnya, lebih besar pengertiannya, lebih mudah memaafkan. Ngga bisa lagi ngambek-ngambek ngga penting, karena suami kadang ya ngga seheboh dulu mau minta maaf. Boro-boro, kadang merasa salah aja ngga. Kita udah sewot seharian, eh dia lempeng kayak ngga terjadi apa-apa, kitanya malah jadi gondok setengah mati.


Pernah dengar kan kalimat ini.

 " Setelah menikah, perempuan selalu berharap suaminya berubah, sebaliknya laki-laki berharap istrinya tidak pernah berubah"

Ini maksudnya, perempuan tuh selalu berharap setelah menikah, suaminya itu yang dulu kekanak-kanakan bisa berubah lebih wise, lebih mature, lebih segalanya lah, Sedangkan laki-laki pengen istrinya ga berubah, tetap langsing, awet muda, singset selalu, wahahahah, maumu.

Nah, menurut saya kalimat itu justru terbalik. 

Harusnya " Setelah menikah, perempuan selalu berharap suaminya ngga berubah, tetep aja kayak jaman sebelum nikah dulu, suka manjain, salah ngga salah pokoknya minta maaf, penyabar, dan mau melakukan everything untuk kita". 

Kan gitu kan ya sebelum menikah. Makanya kita ((KITA)), saya sih maksudnya suka kan mengulang-ngulang kata " KAMU BERUBAH UDAH NGGA KAYAK DULU LAGI"

Huhuhu bagian ini sungguh paling sering bikin saya dan suami diem-dieman seharian. 


Kadang saya heran, muka udah nyureng-nyureng, nada suara udah ketus, tetap aja ngga peka kalau saya lagi marah, lagi ngambek, pengennya disayang-sayang, dibujuk-bujuk, eh dia lempeng tetep nonton bola kayak biasa, lempeng tetep sok ngajak kita ngomong, ngajak becanda. Bikin sebel.

Masa ya mereka ini para suami ngga ngerti, bahwa kalau udah level istri cerewet tiba-tiba jadi pendiem, maka itu alarm bahwa ada yang salah, ada yang bikin dia kesal, maka harusnya ya hai para suami, " TANYA DONG, TANYA ISTRINYA KENAPA", bukannya malah dicuekin.

( Baca : Istri Cerewet )

Aduh sungguhlah saya tak mengerti otak pria, kok bisa ngga sensitif sama sekali, huuuft. Aku kesel kalau diginiin.


SOLUSI :

Akhirnya berdasar pengalaman bertahun-tahun, saya jadi mengerti memang yang namanya pria itu sepertinya ngga bisa menagkap hal-hal berupa kode, atau isyarat. Mereka adalah makhluk yang tidak bisa membaca tanda-tanda, mereka makhluk permukaan, alias harus terang benderang jelas terpampang dilihat dan jelas clear dikatakan baru ngeh.

Makanya ya, kalau saya lagi bete sama suami, sekarang saya ngga main kode-kode, langsung aja ngomong " Mas aku tuh lagi marah sama kamu karena lalalalalala"

Kadang walau udah dibilangin begini masih aja ngga peka, tetep merasa mungkin " Ah paling ntar baik sendiri", maka saya akan tetap mengingatkan dia " Mas aku masih marah lo sama kamu, kenapa kamu ngga minta maaf sama aku" kemudian nangis , LOL.

Apakah ini berhasil?

Biasanya berhasil.

Tau ngga sih, kenapa perlu mengkomunikasikan perasaan kita ke pasangan?

Mungkin kelihatan lebay, " Ih apaan sih, masa aku minta-minta supaya suami minta maaf, gengsi dong"

Perasaan negatif yang ditumpuk terus menerus akan membuat bibit-bibit ketidaksukaan dengan pasangan. Kalau ngga dikomunikasikan dan kita merasa bahwa perasaan kita diabaikan, maka jangan heran suatu saat akan meledak berupa pengungkitan-pengungkitan kesalahan di masa lampau.

Makanya ya perempuan itu butuh apology yang tersurat, permintaan maaf yang dikatakan, bukan sekedar gestur.

Jadi, para suami, tolong yah tolong, kalau istrinya lagi marah, ngambek, even karena hal yang mungkin di mata kalian terlihat remeh, tolong kembali menjadi sosok seperti sebelum menikah dulu, yang suka meminta maaf, karena saat kamu minta maaf, istri tuh merasa kalau perasaannya dihargai, merasa bahwa suaminya sayang sama dia.


LUPA

Hal menyebalkan kedua yang paling sering dilakukan suami adalah, mereka sering lupa.

Iya, pria itu makhluk yang paling pelupa di dunia.

Mereka lupa kalau istrinya ini adalah dulu putri kesayangan di keluarga, mereka lupa kalau istrinya ini sebelum menikah dulu adalah gadis yang suka dipuji.



Iya, jadi terkadang suami tuh mikirnya istri itu adalah ibu dari anak-anaknya sekaligus merangkap jadi ibunya dia juga.

Makanya mereka tuh mikirnya kalau kita ingin pastilah wanita yang dewasa, yang bisa menyelesaikan segalanya sendiri. Masalah anak, masalah keuangan, masalah urusan rumah, semuanya dikira kita bisa handle.

Walaupun kita bisa melakukannya, alangkah senangnya kalau suami ikut turun tangan, ikut andil.


Suami-suami seperti ini memang bukan suami yang tidak pengertian, mungkin saja ia malah suami yang sangat mempercayai istrinya. Tapi mungkin mereka perlu disadarkan bahwa istri itu pengennya dia itu care. Ikut peduli atas apapun yang terjadi di rumah, minimal nanyalah.

Pulang ke rumah, kan ga ada salahnya nanya istri 

" Dek tadi anak-anak gimana"

Ini sungguhlah pertanyaan basa-basi tapi bisa bikin istri bahagia.

" Dek, uang belanja yang mas kasih, cukup ngga"

" Dek, rencana uang sekolah anak gimana yah, kita bikin planning apa?'

Pertanyaan seperti ini membuat istri tahu, bahwa dia ngga sendiri mikirin semua.


Kalau ada yang bilang istri adalah manager keluarga, maka harus diingat bahwa suami adalah kepalanya. ya masak semua diserahin ke istri.

Jadi para suami, tolong yah tolong jangan sampai lupa kalau istrimu itu di depan anak mungkin ia bersikap sebagai wonder woman, super mom, tapi di depanmu, dia tetap ingin diperlakukan ya seperti gadis yang dulu kau lamar bertahun-tahun yang lalu.

Yang buka botol aqua aja kadang minta tolong dirimu, walau di rumah emaknya ngangkat galon aja sanggup.




Iya, dia masih perempuan yang sama yang masih ingin diperlakukan seperti kala gadis dulu.

Jangan lupa puji dia saat pakai baju merah dan wajahnya terlihat cerah, atau saat pakai baju hitam dan ia terlihat langsing. Puji...puji... puji kami.



SOLUSI :

Jika suamimu lupa, jangan segan ingatkan dia. Mungkin dia memang lupa atau pura-pura lupa, Bilang ke doi, kalau kita pengen dipuji, kalau kita pengen dia nanya kondisi kita, nanya perasaan kita, kalau kita pengen dikasi kado, lol




Hmm apa lagi yaa.

Kalau bagi saya, dua hal itu sih yang paling bikin saya sebel sama mas Teguh. Dua hal yang kelihatan sepele tapi beneran kalau pas doi melakukannya saya tuh sebel banget, sebel level maleslah lihat dia. 

Saya sadar sih sebenernya yang namanya karakter orang itu ga bisa diubah. Kayak saya yang memang karakternya suka ngomong blak-blakan ketemu sama Mas Teguh yang karakternya tertutup, maka memang harus ada usaha dari kedua belah pihak biar bisa ketemu.


Usaha itu ngga bisa tunggu-tungguan. Harus ada yang mau dengan sukarela memulai.

Sebenernya di dalam hati pengen sih sebodo amat " Enak aja masa aku terus yang usaha buat buka percakapan, masa aku terus yang harus mikirin gimana biar tetap mesra", tapi kemudian saya mikir, lha kan yang karakternya suka ngomong memang saya, yang karakternya blak-blakan kan saya, bagi saya mungkin ngomong " Mas aku mau disayang dong" itu biasa aja, bagi masteg mungkin mau mengungkapkan sayang dengan kata-kata butuh waktu sampai Roro Jonggrang nikah sama Jaka Tarub dulu kali (plis ini ga usah ditelusuri ceritanya, saya asal nulis aja kok), makanya di banyak kesempatan, ya udah saya ngalah, ngomel-ngomel dah, sambil mengungkapkan apa yang saya mau, apa yang saya rasakan.

Menikah memang ngga mudah ya bu ibu. Saya merasakan benar bahwa menyatukan dua karakter yang sama aja masih akan banyak terjadi perselisihan, apalagi yang jelas-jelas beda. makanya KOMUNIKASI dan PENGERTIAN mutlak harus dibangun tanpa pernah merasa bosan.

Gagal, coba lagi, gagal coba lagi.

Dia nyebelin, kesel sih, tapi jangan lupa bahwa kalau kita sebelnya kelamaan tanpa berusaha mengkomunikasikan apa yang kita rasakan, maka kita sendiri yang rugi. 

Dia nyebelin sih,tapi jangan lupa juga akan kebaikan-kebaikannya.

Dia mungkin ga pintar bilang i love you dengan gamblang tapi dengan dia selalu menjaga kesetiaan dan kepercayanmu, mungkin itu cara ia mengungkapkan kata i love you.

Kembali lagi, saat suami lagi nyebelin, komunikasikan dan tetap ingat kebaikan-kebaikannya #ngomongsamacermin

Karena menikah itu memang harus diperjuangkan.

Kalian apa nih yang paling bisa bikin kalian sebel ke pasangan, sama ngga kayak saya?


Mau baca soal pernikahan lainnya, klik label Marriage ya 







Istri Selalu Salah?

Saturday, February 18, 2017
Istri Selalu Salah?

Judulnya kok nelongso amat ya.



Ini gegara status seorang ibu yang seliweran di timeline saya.

Disitu si ibu nulis kalau dia hanyalah wanita biasa, yang tak luput dari dosa dan salah. Namun seberapa banyak pun yang dilakukannya sampai ia lupa makan, lupa mandi dan lupa akan kepentingan pribadinya demi kepentingan keluarga, eh tetap juga disalahkan suami.



Baca punya Gesi :
Ibu Boleh Mengeluh Kok



#Save_Emak2
SAYA hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan salah, iyaa ini lah SAYA yang merangkap jadi IBU sekaligus IRT...
. Bangun kesiangan yang salah SAYA
. Masak ke siangan + gak enak yang salah SAYA
. Anak sakit yang salah SAYA
. Anak jatoh yang salah SAYA
. Anak gak doyan makan yang salah SAYA
. Anak gak doyan nyusu yang salah SAYA
. Anak rewel yang salah SAYA
. Cucian baju + piring numpuk yang salah SAYA
. Setrikaan baju numpuk yang salah SAYA
. Rumah berantakan yang salah SAYA
. Kamar mandi kotor yang salah SAYA
. Kamar tidur berantakan yang salah SAYA
. Air matang habis yang salah SAYA
. Sampah dapur numpuk yang salah SAYA
. Uang bulanan habis tak tersisa yang salah SAYA
. Dll
dosa apakah saya? Sampai2 begitu banyak salah yang saya perbuat. Bahkan saking banyaknya terkadang saya juga sering pelupa yaa LUPA yang menjadi kebiasaan.
. Lupa mandi, sehari sekali udah alhamdulillah
. Lupa makan, klo gak berasa laper gak akan makan
. Lupa sampoan, klo gak berasa gatel banget gak bakal sampoan
. Lupa gosok gigi, 1hr sekali aja udah alhamdulillah
. Lupa gmn caranya manjain diri sendiri
. Lupa gmn caranya nangis karna kadang selalu berusaha pura2 kuat dan gak cape
. Lupa gmn caranya buat sabar saking banyaknya sabar
. Lupa gmn caranya tidur pules minimal 7jam full tanpa bangun tengah malam bikin susu ganti popok dll
Nikmat ini sungguh luar biasa rasanya,,,,
semoga lelahku menjadi berkah menjemput surga yang dinantikan.
Aamiin.




Membacanya kok saya sedih yah. Sedih sekaligus sebel.

Iya sedih karena saya tahu, banyaaaak banget istri-istri seperti gambaran di status itu ada di sekitar saya. 

Bangun kesiangan : salah istri

Rumah berantakan : salah istri

Masakan ngga enak : salah istri

Kerjaan rumah ngga beres : Salah istri

Pokoke suami taunya pulang ke rumah, rumah dalam keadaan bersih,rapi dan wangi.

Padahal dia ngga tau seharian si istri berjibaku ngurus anak. Yang tadinya rumah udah diberesin rapi, eh si kakak minta buatin kapal-kapalan dari kardus. Kapal jadi, adeknya minta buatin pudding. Puding dimakan berserakan. Belum sempet beresin, kakaknya minta mandi. Kelar mandiin kakak, adeknya pup, gitu terus sampe si papa pulang, dan yang dilihatnya adalah rumah berantakan. Tinggal salahin istri.

Itu baru perkara beberes rumah, belum perkara anak.

Anak sakit : salah istri

Anak jatuh : salah istri

Anak ga doyan makan : salah istri

Anak rewel : Salah istri

Ini gengges banget deh kalau ada suami macam gini.

Emangnya tuh anak, cuma anak si ibu doang, bapaknya ngapain?

Padahal saat anak jatuh, anak sakit, anak ngga doyan makan, yang pusing tujuh keliling itu ibunya. Yang ngga bisa tidur di malam hari itu ibunya.

Maka saat ada suami yang nyalahkan istri untuk kejadian itu, rasanya pengen di smekdon aja rasanya.

Saya baca di sebuah web parenting, bahwa sebuah rumah tangga yang isinya salah satu selalu menyalahkan yang lain atau keduanya saling menyalahkan adalah sebuah rumah tangga yang tidak sehat.

Ya gimana mau sehat kalau kondisinya demikian.

Ceria tidaknya sebuah keluarga itu ya tergantung istri. Kalau istri bahagia, riang maka biasanya seisi rumah juga bakal ketularan bahagia. Sebaliknya saat istri ngambek, sedih,murung, seisi rumah juga kecipratan auranya.

Ini saya ngerasain bener. Kalau saya lagi migren aja, dan ngga bisa ngapa-ngapain, rumah langsung heniiiing gitu, ngga rame. Kalau saya sehat, suami dan anak-anak heboh yang minta main kesanalah, kesinilah.

Happy mom raise happy kids.

Maka biar rumah tangganya sehat, ya emaknya juga harus sehat, tidak sering disakiti hatinya.

Karena hati seorang istri itu bakal patah saat suami selalu menyalahkannya.

Sebenarnya apa sih penyebab suami kok sering nyalah-nyalahin istri begitu?

Menurut saya penyebabnya adalah tidak adanya rasa saling memahami diantara suami istri.

Kenapa tidak memahami?


Karena KURANGNYA KOMUNIKASI

Iya, menurut saya mah semua itu bisa disebabkan salah satunya karena komunikasi yang tidak berjalan baik di keluarga.

Bayangkan kalau seharian kita udah capek masak di dapur. Pas giliran suami makan, eh ternyata rasanya kurang enak. Bukannya menyemangati istri, si suami malah nyalahin si istri “ Gimana sih ma, masa masak gini aja rasanya hambar, bisa masak ngga sih?”

Wah, kalimat suami yang demikian itu bisa bikin hati seorang istri patah berkeping-keping. Kepercayaan dirinya bias melorot sampai titik terendah.

Nah biasanya, yang sering saya lihat, si istri bakal diam saja. Mungkin dalam hatinya sedih luar biasa, tapi di permukaan ya dia diam saja. Tidak menunjukkan bahwa hal itu menyakitinya.

Karena suami ngga tau kalau perkataannya itu menyebabkan istrinya sedih, ya besok-besok bakal diulang lagi.

Kalau kebetulan si istri adalah type introvert, bisa-bisa lama kelamaan blio akan kehilangan kepercayaan diri karena selalu dianggap salah. Abis itu lama-lama dia depresi . Karena depresi dia jadi berlaku kasar ke anak. Anak jadi kurang kasih sayang. Kalau kurang kasih sayang, bisa jadi si anak jadi sosok yang kasar juga.

Happy mom raise happy kids.

Jadi, kembalinya ke anak-anak kita, ya anak-anak si suami itu juga

Makanya , saat seorang suami menyakiti hati istri, dia sudah ikut menyakiti anak-anaknya.

Karena itu buat para istri :

KOMUNIKASIkanlah perasaanmu dengan pasangan. Jangan pernah memendam perasaan sendiri.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa istri yang baik itu yang nurutan, yang ngga banyak protes, yang ikhlas terhadap apapun perlakuan suami. Well, itu Cuma di angan-angan aja .

Iya mungkin kamu bakal dianggap istri penurut, tapi kamu sedih, kamu nelangsa, maka apa artinya sebutan istri penurut itu. Kita menikah kan bukan untuk dapat sebutan istri penurut, tapi untuk hidup dengan kasih sayang bersama suami.

Karena itu, jika kamu merasa apa-apa kok kamu selalu disalahin, komunikasikanlah dengan pasangan.

Omongin apa-apa yang bikin kita sedih, yang bikin kita ga suka diperlakukan seperti apa. Kalau dikomunikasikan dengan baik tentu ngga akan ada salah-menyalahkan.

Saat istri bangun kesiangan , si suami langsung sebel, ngomel

“ Kenapa sih Mama, kok bangunnya kesiangan, papa kan jadi kesiangan juga”

Nah kalau suami marah hanya gara-gara kita bangun kesiangan, sebaiknya dijawab aja oleh si istri.

“ Iya mas, aku kesiangan, karena tadi malam boboin si kakak sampai tengah malam”

Jangan diam saja, kalau memang kita kesiangan karena begadang jaga anak ya disebutkan. Biar suami juga ngeh bahwa kesiangannya kita bukan yang disengaja, ngeh juga kalau anak kita sakit. Malah harusnya ya ajak aja dia ikut begadang sekalian, biar sekalian tau.

Pun saat anak sakit, anak jatuh, katakan bahwa kita juga sedih, jadi ngga usah nambahin perasaan bersalah lagi.

Jangan malu ngungkapin perasaan kita ke suami kalau dia nyalah-nyalahin kita, bilang bahwa kita ngga suka disalahin, biar suami tahu. Karena kadang yang namanya suami itu ngga peka hatinya.

Mereka terkadang harus distated bahwa kita marah, bahwa kita bĂȘte, bahwa kita ngga suka, karena kalau ngga ya tidak tahu.

KOMUNIKASI adalah penjembatan kesalahpahaman dan perekat hubungan suami istri.

Namun memang ngga semua kejadian saat suami marah or nyalahin kita, kita harus jawab. Ada saat-saat kita perlu diam saja.

Pernah pas Mas Teguh pengen beliin mainan buat tara. Jam udah menujukkan pukul 7 malam, trus dia nyuruh saya buru-buru ganti baju, biar toko mainannya ngga sempet tutup. Secepet-cepatnya saya ganti pakaian ya tetep makan waktulah. Bener sampe di tempat, tokonya udah tutup. Trus Mas teguh marah dan menyalahkan saya.

“ Tuh kan ade, coba tadi cepet dikit ganti bajunya kan masih keburu.

Kalau begini sih saya milih didiemin aja.

Kenapa?

Karena sebenarnya mas Teguh bukan marah sama saya. Dia hanya marah karena tokonya tutup sehingga ngga bisa beliin mainan untuk anaknya. Kan ngga mungkin dia marah sama tokonya, lagian pegawai toko juga udah ga ada. Yang ada di hadapannya ya saya, jadi saya yang dimarahin..

Jadi dia marah Karena pengen marah aja.

Kalau yang kayak gini saya diemin aja. Paling besoknya kalau udah lupa, bakal saya ajak lagi ke toko itu.

Apa artinya kita ngga boleh mengeluh?

Iya, saat baca komen-komennya,  ada yang bilang kalau ibu-ibu yang ngeluh itu ngga ikhlas. Duh. Lha gimana, masa udah ngerjain pekerjaan rumah tangga sendiri, sampai lupa makan ,lupa mandi, masih disalah-salahkan juga, kan yang ka**ret suaminya, bukan soal ikhlas ga ikhlas istrinya. Ih gemes sama yang komen.

Ngga lah moms, kita bolehlah ngeluh. Mengeluh itu kan manusiawi. mengeluh bukan berarti ngga ikhlas. mengeluh mungkin pertahanan terakhir kalau udah ngga didengerin lagi.

But, tetep menurut saya, komunikasi itu harus dilakukan

JANGAN BAPER

Yup, jadi para istri juga kadar bapernya boleh dikurangi. Karena memang ada saatnya suami tuh suka marah ngga jelas entah karena apa.

Mungkin karena banyak kerjaan di kantor, mungkin tim bolanya kalah, atau mungkin dia lagi bokek. Kalau marah model begini, udah diemin aja.


Cintai Dirimu

Iya kalau diri sendiri ngga cinta , jangan harap orang lain melakukannya.

Jadi saat kamu merasa apa yang dilakukan suami membuatmu tersakiti, bicarakan. Jika ngga bisa juga, minta bantuan konselor.

Kalau sering disalahkan suami bukan berarti kamu yang salah mutlak, jadi jangan nrimo aja kalau sampai ada kekerasa verbal.

Buat para suami di luaran sana.


Ketahuilah bahwa mengurus pekerjaan rumah itu adalah never ending story nya para istri. Jangan pernah sekalipun menyalahkan istri atas 3 hal berikut :

-rumah berantakan

- cucian belum dijemur

-setrikaan menumpuk

Kamu menikahi seorang wanita bukan seorang pembantu. Jadi seharusnya kamu menyediakan ART untuk membantu istrimu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Jika kamu tidak sanggup melakukannya, dan istrimu bersedia melakukannya, maka berterima kasihlah 100 kali lipatnya. Karena setiap penghargaan darimu sekecil ucapan terima kasihpun bakal menggugurkan rasa lelahnya.

Kemudian, jangan pernah pula kalian salahkan istri untuk hal berikut :

- Anak jatuh

- Anak sakit

- Anak ngga mau makan

Karena percayalah, orang yang paling repot saat anak kalian jatuh, sakit, ngga mau makan itu ya dia, istrimu, bukan dirimu. Jadi ngga ada seorang ibu yang ingin anaknya sakit, jatuh atau ngga lahap makannya.

Maka saat itu terjadi, saat anak sakit atau saat anak jatuh tunjukkan rasa khawatir alih-alih marah. Ambil alih pekerjaannya yang lain kalau perlu. Karena sudah menjadi hal lumrah, satu dua hari anak sakit, maka hari ketiga istrimu yang bakal jatuh sakit.

Tau apa artinya?

Yang repot ya dirimu juga nantinya. Makanya, jangan salahkan mereka.


Buat para remaja

Keluhan ibu-ibu di temlen itu menunjukkan bahwa yang namanya menikah itu ngga gampang. Dan mencari suami yang mengerti perasaan istri itu ngga mudah. Maka bagi kalian yang berencana menikah, lakukanlah wawancara singkat or Tanya-tanyalah minimal tentang pandangan-pandangan hidup blio, tanya tentang pendapatnya soal pekerjaan rumah tangga. Apakah dia yg berpikiran tugas rumah adalah tugasnya istri doang atau dia juga mau bersama-sama melakukan.

Apakah dia mau ikut urus anak atau bagi dia tugas istri urus anak, sedangkan suami fokus cari nafkah. Tanya hal-hal yang menurutmu penting biar punya gambaran menghadapinya ntar.

Ga ada jawaban salah benar. Yang ada, kira-kira kamu bisa ga kompromi dengan pandangan dan jawaban-jawabannya. Biar ga kaget aja ntar.

Penting juga memilih pasangan yang memiliki selera humor yang bagus, karena menikah itu banyak awan-awannya dek, jadi kita akan jauh lebih relaks saat bersama pria yang mudah ketawa untuk hal-hal remeh. Karena kemungkinan dia bakal gampang memaafkan kesalahan-kesalahan kecil.

Iyalah pria humoris biasanya ngga gampang marah.#uyel2Masteg.

Seperti doa si ibu di status, semoga segala yang dilakukan para ibu di dunia ini menjadi peringan langkahnya di kemudian hari. AAmiin


















Bolehkah Memeriksa Hape Pasangan?

Wednesday, February 1, 2017


Salah satu pondasi dalam berumah tangga adalah kepercayaan.

Rasa saling percaya kepada pasangan bisa meminimalisir rasa curiga,  gelisah dan salah sangka.

Halah berat ya.

Nah sejauh mana kita berbagi rahasia dengan pasangan menunjukkan juga tingkat kepercayaan kepadanya.

Kalau sekarang,  di era digital begini,  suami istri bisa diuji tingkat kepercayaannya dari soal periksa memeriksa hape.

Karena Menikah Bukan Tujuan Hidup

Thursday, January 26, 2017


Dear wanita Indonesia

Sadarkah kalian bahwa hidup di negara kita ini sungguhlah berat.

Iya berat bagi makhluk bernama wanita.

Yang cantik kena sterotype cantik = bego
Yang jelek, apalagi, udahlah bisa dipastikan bakal dihina, dicibir dan paling sedih, kurang dihargai.

Wanita mandiri dikatain bikin pria takut
Wanita lemah dibilangin manja, disuruh lebih tegas.

Kita bekerja dibilang haus eksistensi
Jadi ibu rumah tangga, dinasehatin harus bisa memiliki kebebasan finansial.

#WomanTalk: Wanita dan Cita-Cita Yang Meredup

Thursday, November 24, 2016


"Win kapan di blogmu ada sesi tanya jawab psikolog, bikin dong win"

"Oiya,ntar deh aku atur dulu, hmmm hari Jumat atau Sabtu masih kosong sih jadwalnya"jawab saya

"Ciyeeeee udah pake jadwal ya sekarang"

"Iya dong, demi.... hahaaha demi cita-cita blognya rapi dan update teruuus"

" Wooow, salut gw Win, lu masih semangat dan punya cita-cita"

T_________T

Kemarin WA an sama sobat saya. Percakapannya di atas itu. Trus saya jadi kepikiran. Iyaaa saya mah orangnya suka mikir, xixixi.

Pilih Mana Perempuan Tangguh Atau Perempuan Manja

Sunday, October 30, 2016


Menjadi perempuan memang susah-susah gampang yah.

Kalau kita terlalu mandiri dan bisa melakukan apa-apa sendiri tanpa bergantung orang lain, ntar dianggap menyalahi kodrat. Apalagi kalau sampai seorang perempuan sanggup menjadi pemimpin, tangguh, pintar, udah deh langsung ditakutkan ntar susah dapat jodoh. Stereotypenya dia jadi perempuaan egois yang pasti ngga mau diatur lelaki dan bakal mau menang sendiri seperti yang dikatakan di artikel ini:

Tips Dapat Jodoh dari Henry Manampiring untuk Perempuan Pintar yang Sulit Dapat Pasangan.


Disitu dibahas soal perempuan Alpha yang katanya bakal susah dapat jodoh, karena banyak pria yang merasa terintimidasi bahkan dianggap alpha female harusnya jangan terlalu pemilih.

Tuh kan perempuan pintar,mandiri, tangguh, malah menakutkan bagi para pria, malah membuat pria merasa terintimidasi dan enggan mendekati. Disini perempuan disuruh menurunkan sedikit ke superior-annya

Ekspektasi vs Realita Setelah Menikah

Wednesday, October 5, 2016


Sebenarnya saya masih sedih nih, baru baca ulasan buku tentang ibu yang membunuh kelima anaknya, ditambah seliweran berita yang lewat di temlen facebook saya mengenai ibu yang memutilasi anaknya.

Jangan... jangan buru-buru menyalahkan si ibu, karena kalau baca kisahnya, malah kasihan banget sama mereka. Yup menjadi seorang ibu memang kadang kita memiliki ekspketasi yang tinggi, pengen sempurna di mata lingkungan. seperti yang kemarin sudah saya bahas di postingan #GesiWindiTalk soal ekspektasi vs realita setelah punya anak.

Sekarang mau bahas ekspektasi vs realita setelah menikah.

#PillowTalk : Hal-Hal Yang Tidak Dimengerti dari Pasangan

Sunday, September 25, 2016

Jadi, kemarin saya diantar mas Teguh ke kantor. Di perjalanan seperti biasa kami ngobrol lah, ini inu. 

Dan seperti biasa pulalah, istrinya yang cerewet ini nanya-nanya ngga penting gitu.

" Mas, apa hal yang ada pada ade, yang ngga bisa mas mengerti", tanya saya

" Haaaah, maksudnya"

#PillowTalk: Istri Cerewet

Wednesday, August 24, 2016
Halooo, seri #PillowTalk muncul lagiii. Bagi yang belum tahu, sekarang di blog windiland ada label baru, namanya Pillowtalk. Isinya seputar pembicaraan penting ngga penting saya dan suami. Biasanya kami itu suka ngobrol di dapur sambil ngupi-ngupi saat anak-anak udah tidur, atau malah ngobrol sambil boboin anak. Kalau ngga sempat, ngobrolnya bisa juga dilakukan sambil ngantar saya ke kantor. Pokoke bagi saya, ngobrol intim sama pasangan itu penting pake banget, biar tetap menjaga keromantisan dan semakin mempererat perasaan dan kasing sayag, halah. Pokoke, jangan abaikan ngobrol ringan sama pasangan yah, mau nomongin kerjaan, anak, atau masa depan, suka-suka deh.

Kemarin udah sempet posting yang pertama 

#PILLOWTALK : TENTANG SENTIMENTIL DAN KPR RUMAH YANG TAK KUNJUNG LUNAS

#PillowTalk : Tentang Sentimentil dan KPR Rumah Yang Tak Kunjung Lunas

Friday, August 19, 2016


Saya itu kan orangnya hobiii banget cerita. Apa-apa diceritain. Dan korban pendengar semua cerita saya adalah suami dong tentunya wahahaha.  

Kalau ngga cerita sehari aja bisa pusinglah pala nikita. Makanya gimana pun sibuknya,kami pasti nyempetin diri buat ngobrol. Ngobrol apaa aja,bisa soal kantor,soal anak, atau soal masa depan tsaaah.

Bener Ngga Sih Nikah Muda Itu Keren?

Wednesday, August 10, 2016

Mau bahas yang lagi hot beberapa hari ini. Yess, tentang #nikahmuda nya Alvin, anaknya Ustadz Arifin Ilham.

Baca punya Gesi:




Jadi, bagi yang belum tahu, Alvin, putranya Ustz. Arifin Ilham yang baru berusia 17 tahun, kemarin Sabtu tanggal 06 Agustus 2016 menikah dengan Larissa Chou,20 tahun, China Muallaf.

How I Met My Hubby 3

Wednesday, June 15, 2016
Sebenarnya saya udah cerita behind the scene pertemuan dengan si akang sih di blog ini, malah udah pake sekuel segala biar detail hahaha, tapi ga pernah saya share , soale memang niatnya cuma buat dokumentasi doang. Akuh maluuuu kalo ngeshare postingan berbau tsurhat. Tapi karena kemarin ada yang nodong Gesi untuk cerita gimana ketemu sama suaminya, yo wis kita putusin tema #GesiWindiTalk minggu ini tentang cerita ketemu sama suami ajahlah.


Baca 

How I Met My Hubby 2

Sunday, June 12, 2016
Baca cerita sebelumnya disini



Ternyata masalah email saya itu memang ga bisa selesai. Setiap saat dia ngungkit-ngungkit hal itu.

Saya mulai jengah.

# BahagiaDiRumah adalah Saya

Tuesday, May 31, 2016
Sejak kecil hidup berpindah-pindah membuat saya butuh definisi yang tepat untuk sebuah kata "rumah".

Dulu saya pikir, rumah adalah tempat dimana kita paling banyak menghabiskan waktu.

Tapi nyatanya, saat SMA, hanya satu minggu dalam empat bulan saya bisa merasakan tidur di rumah orangtua saya, selebihnya saya habiskan waktu di sebuah asrama nun jauh di tepian kota Sibolga.

Memilih Kado untuk Suami Ternyata Ada Triknya Lho

Thursday, May 12, 2016
Memilih Kado untuk Suami Ternyata Ada Triknya Lho

Hubungan mesra dengan suami memang harus dibina dengan baik setiap saat. Tak hanya memanjakan suami dengan masakan yang enak, ada hal lain yang tak kalah penting bagi suami istri. Salah satu yang seru adalah menyiapkan kado ulang tahun untuk suami.

Yang Berubah Setelah Punya Anak Dua

Wednesday, May 11, 2016

Selamat hari Rabu bu ibu. Minggu ini #GesiWindiTalk mau ngomongin tentang hal-hal yang berubah setelah kita punya anak kedua.




Apaa???? Belum tahu ya kalau kita sudah punya dua anak, xixixi, memang sih kalau dilihat sepintas ga ada bedanya sama anak gadis. Kita memang samaan sih sama si Dian Sastro, punya dua anak tapi masih singset gituuu #disambit massa.

FYI, saya punya dua anak, cewe-cewe lucu. Sementara Gesi udah sepasang , kaka Ubi sama dek Aiden. 

Tentang Berbagi Tugas Dengan Suami

Wednesday, May 4, 2016

Yeaay, udah masuk minggu ke-2 nih #GesiWindiTalk nya. Oya sekalian mau infoin, kalau jadwal postingan barengan ini diubah jadi hari Rabu, ngga jadi Kamis, biasalah emak galau banyak pertimbangan.


Kenapa atuh harus berbagi tugas sama suami?

Ya, karena kalau udah berkeluarga, suami itu memang tempat berbagi, masa berbaginya sama tetangga mana ada yang mau ^_^.

Tentang Suami Selingkuh dan Istri Yang Minta Dimengerti

Monday, May 2, 2016
Belakangan lagi heboh meme-meme dear mantan dear mantan. Aaaah kayaknya gara-gara AADC nih, jadi pada mau dear-dear-an sama mantannya. Udah mantan ngapain jugaaa di dear-dear in.

Custom Post Signature