Showing posts with label cerita medan. Show all posts
Showing posts with label cerita medan. Show all posts

Si Bolang Durian, Tempat Makan Durian Sepuasnya di Medan

Thursday, December 29, 2016




Si Bolang Durian, Tempat Makan Durian Sepuasnya di Medan

Haloooo hawa -hawa liburan udah mulai merebak di udara.

Biasalah ya kalau udah akhir tahun begini, ya libur natalan, ya libur tahun baru, mana anak sekolah pada libur pulak, udahlah dimana-mana orang-orang ceritanya liburaaaan aja.

Ntar di temlen juga bakal rame postingan OTW dan Check-in di mana-mana.

Ya check-in di hotel, di tempat wisata atau nyobain aneka kuliner di tempat tujuan.

Nah, bagi para perantau yang mau mudik ke Medan , pastilah ntar mau nyobain berbagai makanan yang lagi ngehits di sini.

Kemarin itu, sore-sore saya dijemput sama teman-teman seangkatan di BRI.

Jadi Pembicara di Acara DURIAN

Tuesday, November 1, 2016


Sabtu kemarin, saya diundang oleh komunitas Bloger Medan untuk ngisi materi blogging di acara Durian (Diskusi Ringan Anak Medan ).

Hwaaa seneng banget deh, secara baru pertama kali ini saya diminta untuk jadi pembicara yang berkaitan dengan dunia blogging. Jadi ya saya hepi.

Tentang Bloger Medan

Yup, saya belum pernah ya bahas soal Bloger Medan di blog ini.

Jadi di medan tuh kan banyak banget para bloger yang kece-kece. Nah untuk mewadahi dan mempersatukan serta sebagai sarana sharing dan silaturahmi, maka dibentuklah sebuah komunitas bernama Bloger Medan.

Medan Napoleon, Oleh-oleh Kekinian dan Halal yang Baru dari Medan

Thursday, September 22, 2016
[ Sponsored Post ]



Medan Napoleon, Oleh-oleh paten Kota Medan, halal dan kekinian dari Irwansyah

Kalau mendengar nama kota Medan, apa yang ada di pikiranmu?

Niatnya Jujur, Malah ........

Friday, May 27, 2016

Kata ibu saya, dalam hidup itu kita harus selalu jujur. Karena kejujuran membuat hidup tenang. Saya selalu berusaha mengikuti kata-kata ibu saya tersebut.

Sewaktu saya SD saya dikenal sebagai anak yang jujur. Apa sebab? . Ceritanya saya pernah makan mie di kantin sekolah. Selesai makan, saya pun main lompat karet bersama teman-teman. Pas giliran saya main, dari kantong saya terjatuh uang seratus perak. Saat itu uang jajan saya memang seratus rupiah. Wah saya kaget, “ lho kok uang saya masih utuh sih, kan tadi udah jajan”.  Pikir punya pikir, saya berkesimpulan bahwa pasti tadi saya jajan dan lupa bayar.

Dengan berlari-lari saya kembali ke kantin sekolah. Saya pun segera meminta maaf kepada ibu tukang warung dan memberikan uang seratus perak milik saya tadi. Si ibu seneng banget. Saya pun bahagia sekali, berasa sudah berbuat suatu kebajikan yang sangat besar.

Sore hari, saya lanjut sekolah ibtidaiyah, saat saya mau membeli es lilin baru saya sadar, ternyata uang seratus perak yang tadi pagi saya kira uang jajan yang lupa dibayar itu adalah uang jajan buat sekolah madrasah. Oalah, jadinya sore itu saya gak punya uang buat jajan, jadi bengong.

Namun sejak hari itu, si ibu penjual mie cerita-cerita ke anak-anak lain,kalau saya tuh jujur banget, lupa bayar ngaku dan kembali buat bayar. Sampai-sampai tukang jualan lontong yang sudah tua di sekolah saya selalu meminta saya menghitungkan jualannya yang laku terjual, termasuk kue yang dititipkan di warungnya. Soalnya dia sudah rabun dan gak terlalu mahir berhitung. Wah saya senang sekali bisa membantunya, apalagi setiap selesai ngitungin saya biasanya dikasi dua biji bakwan.

Kejadian yang sama terulang kembali saat saya sudah berkeluarga. Suatu hari saya dan suami berbelanja untuk kebutuhan bulanan di sebuah minimarket . Saya belanja ini itu, shampoo, sabun, telur, gula sampe dua gallon air mineral. Setelah membayar di kasir, kami pun kembali ke rumah. Sampai di rumah, saya periksa lagi bon belanjaan, eh ternyata dua gallon air mineral yang saya beli belum terbayar alias gak kehitung. Soalnya di mini market kan biasa tuh air mineral galon ditaruh di depan pintu toko, jadi tadi langsung masuk mobil, gak sempet dibawa ke kasir. Sayanya lupa, si mba pelayannya juga lupa. Berhubung jarak rumah saya dan mini market tersebut lumayan jauh, ya sudahlah, saya niatkan besok saja balik kesitu.

Esoknya, saya mampir ke minimarket tersebut dan mengatakan ke si kasir yang ternyata adalah pemilik minimarket bahwa saya kelupaan bayar air mineral kemarin saat belanja. Si ibu seneng banget, bolak-balik bilang terima kasih ke saya. Namun setelah saya pergi ,saya mendengar si ibu memarahi pelayannya. 

“ Eh dasar kamu ya kerja gak becus, bisa-bisanya ada pembeli yang gak bayar, untung ibu itu jujur, kalau ada berapa orang yang gak bayar dan ga jujur kaya gitu, bisa bangkrut saya”

Waduh kasihan banget saya melihat si mba dimarah-marahi gitu. Ia hanya bisa nunduk sambil minta maaf sama majikannya. Dan saya jadi merasa bersalah, kok gara-gara saya orang lain jadi dimarahi.

Kejadian lain saat saya makan di restoran seafood di Medan bersama suami. Setelah selesai makan dan si pelayan menyerahkan bill, saya pun membayar sesuai dengan jumlah tagihan. Sebelum beranjak dari meja, saya periksa kembali bon pesanan tadi. Dan ternyata, ada dua pesanan saya yang tidak dimasukkan ke bill , mungkin pelayannya lupa pikir saya. Segera saya memanggil pelayan yang berdiri terdekat dengan meja saya, kebetulan supervisor pelayanannya. Setelah saya jelaskan kemudian saya bayar kekurangan tagihannya. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada saya. Namun lagi-lagi, saat berjalan keluar dari restoran tersebut saya sempat mendengar si supervisor memarahi si pelayan yang lalai mencatat pesanan saya ke tagihan.

Duh, kok mau jujur aja malah nyusahin orang ya. Heran saya, kenapa sih mereka gak cukup berterima kasih aja, gak perlu pake marah-marah sama pegawainya. Saya sempet takut, jangan-jangan gara-gara saya si pelayanan bisa dipecat atau bisa ga nerima bayaran. Wah gawat.

Kesini sini saya sempat bingung kalau menghadapi kejadian serupa lagi, jadi trauma, takut niat baik saya malah mungkin bisa berdampak buruk bagi orang lain. 

Tips dari saya sih, pokoke sebelum membayar sesuatu pastikan jumlahnya sesuai dengan yang kita beli, bukan saja agar kita tidak dirugikan tapi juga demi menghindari kayak kejadia. saya di atas.

Ga hanya soal bayar-bayaran saat membeli sesuatu, saat melakukan transaksi apapun juga, seperti nabung atau ngambil uang di bank,  biar sama-sama aman.

Walau demikian, jangan pernah takut untuk jujur dimanapun yah, karena kejujuran itu  adalah pondasi dari integritas.

Kalau kamu pernah ga mengalami hal kayak saya? 








11 Syarat Kafe Idaman Mamah Muda

Friday, March 4, 2016
11 syarat kafe idaman mamah muda

Pernah dengar istilah ngopi cantik?


Ngopi cantik itu kayak gambar di atas ini lhooooo. Orang-orang cantik, nongkrong-nongkrong di kafe sambil ngupi-ngupi.

Jelajah Fauna Dunia di Gallery Rahmat Shah Medan

Wednesday, September 23, 2015

UUU yeaaah, yang namanya pepatah rumput tetangga lebih hijau itu kayaknya berlaku sama saya. Bertahun-tahun tinggal di Medan, objek-objek wisata di Medan yang yahud-yahud dan terkenal seantereo negeri malah belum saya kunjungi. Malah sibuk, nyari-nyari destinasi wisata ke pulau Jawa, ke Bali, ke Lombok.

FYI aja, saya belum pernah lho masuk ke mesjid raya Medan yang sudah menjadi ikon kota Medan itu, aaiiiih parah gilak. Kalau Istana Maimoon sih udah, itu pun dulu banget saat masih kecil, dibawa bapak saya. Rumah Tjong Afie aja baru saya kunjungi beberapa bulan lalu. ( Baca: Menjelajah Masa Lalu di RUmah Tjong A Fie ). Orang Medan macam apah dirimuuuu.

Sibolga Kota Sejuta Wisata

Sunday, February 15, 2015
Isitilah rumput tetangga lebih hijau, tampaknya pas disematkan untuk sektor wisata kita. Terutama untuk masyarakat di Sumatera Utara. Setiap akhir tahun, liburan panjang, maupun weekend berbondong-bondong penduduk Medan dan sekitarnya terbang ke negeri tetangga. Kuala Lumpur, Singapura, Bangkok, Thailand, Ho chi Min menjadi tempat menghabiskan waktu liburan. Padahal di Sumatera Utara sendiri ada lho tujuan wisata yang begitu indah dan menyimpan sejuta pesona, namun kurang terkespos dan kurang familiar bagi penduduk Sumatera Utara khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Padahal keindahannya sudah memikat wisatawan mancanegara.

Cuma Ada di Medan (Part 2)

Monday, April 15, 2013

Wah kalau ngomongin rasa lokal di daerah saya Medan, bisa bermeter-meter saya menulisnya. Medan itu kota yang sangat unik. Dari sekian banyak kota yang pernah saya kunjungi, Medan tetap menempati peringkat tertinggi yang memiliki hal-hal yang ngga akan habis untuk diceritakan.

Main ke Taman Kota Yuks

Friday, April 5, 2013
Halo Keke dan Nai


Kenalin nih, namaku Fadlan. Aku ponakannya mimi Endi, yang punya blog ini. Mimi Endi itu kakaknya bundaku, biar keren makanya manggilnya Mimi, soalnya kalo tante kan sebutan buat adik bunda.

Cuma Ada di Medan

Friday, March 1, 2013

Kalau kemarin saya pernah cerita tentang sinamot dan printilan pernikahan ala Medan, sekarang saya pengen cerita tentang kebiasaan yang pasti ada di setiap pesta pernikahan di tanahnya orang Batak ini.

Yup, pasti sudah pada mahfum kalau orang Batak itu hobinya bernyanyi, dan ngga usah disangsikan lagi kemerduan suaranya. Hobi bernyanyi itu, akan menemui jodohnya si acara-acara pernikahan.

Di kampung saya dulu, setiap malam minggu ga pernah absen acara kawinan yang pastinya nanggep keyboard. Itu tuh hiburan di pesta dengan alat musik keyboard yang bisa dipastikan penyanyi asli bawaan si tukang keyboard ga sempet nyanyi, karena diborong semua sama tamu undangan dan orang dapur.  Iya, jadi kalau ada yang pesta, satu persatu tamu akan diminta menyumbangkan lagu, mulai dari teman si pengantin wanita, pengantij pria, tetangga sampai orang yang masak-masak atau sering disebut dengan orang dapur.

Gagal Pulang

Saturday, July 7, 2012
Kemarin saya sudah niat banget mau pulang ke Medan. Memang sudah jadwalnya saya pulang, sudah dua minggu. Namun dari seminggu yang lalu harga tiket masih melangit. pulang pergi Jakarta-Medan sekitar 3 jutaan. Wah saya bertanya-tanya ada apa gerangan. Tidak biasanya seperti itu. Ternyata eh ternyata, liburan anak sekolah biang keroknya. Pyuh, inilah nasib para perantau, sangat tergantung dengan tanggalan kalender dan hari-hari libur. 

Setiap hari saya pantau pergerakan harga tiket. Pengalaman saya selama ini, biasanya menjelang hari keberangkatan bisa saja ada tiket murah, hasil cancel-an orang yang ngga jadi berangkat. Saya ingat tahun lalu, saat teman-teman sudah ramai beli tiket sebulan sebelum lebaran,  saya tenang -tenang saja. Mereka dapat tiket seharga kira-kira 1,2 juta. itu termasuk yang murah. Tapi bagi saya itu masih terlalu mahal.  Tiga hari menjelang pulang saya baru melihat tiket di internet, dan tadaaa saya dapat tiket seharga 500 ribu rupiah saja. How Lucky i am.

Namun sepertinya keberuntungan lagi menjauh dari saya minggu ini. Hari kamis saya sudah booking tiket Garuda untuk Medan-Jakarta, tiket pulangnya. Alhamdulillah dapat harga promo, yippie. Namun karena belum dapat tiket perginya maka saya belum membayar tiket tersebut. Batas waktu pembayaran sampai keesokan hari, Jumat sebelum jam 11 siang. Dari Jumat pagi saya sibuk hunting tiket. Semua maskapai saya jambangi. searching sana sini. Harganya bukan malah turun, makin meroket terus, sampai seharga 2 juta sekali jalan. oh my God. Ditambah lagi hari itu kerjaan di kantor hectic banget, saya jadi rempong sendiri.

Sampai jam 2 siang saya belum juga memutuskan mau beli tiket maskapai apa, Dan kemudian saya inget, ternyata tiket pulang saya sudah kelewatan waktu bayarnya. Lengkap lah sudah. Saat saya searching lagi di internet. semua tiket untuk penerbangan hari itu sudah close.

Yo wis, saya gagal pulang. Pyuuh. Pulang-pergi menghabiskan dana diatas 2 juta menurut saya bukan tindakan bijaksana.

Dan begitulah, hingga hari ini, bosen di kos saya nyebrang ke mall Semanggi. Ke Gramedia sebentar, beli dua biji buku traveling dan ngopi-ngopi di Dunkin. Ah, nikmati sajalah.

Pulang

Friday, June 22, 2012
Yes, it's friday again. Selalu happy kalau jum'at tiba. Hari-hari lain seneng juga, tapi Jum'at itu menurut saya master of the day. Everything that we do in Jum'at is always be grateful and meaningful. 

Di kantor saya, Jum'at itu hari mudik sedunia. Jadi jangan coba-coba membuat rapat di hari jum'at sore, peserta rapatnya pasti sudah resah bin gelisah begitu jam dinding bergeser ke angka empat. Saya termasuk salah satunya. Hanya saja jika yang lain rutin pulang setiap Jum'at saya tidak. Paling banter dua minggu sekali. Khusus Jum'at ini saya ngga pulang, soalnya Rabu kemarin baru balik dari Medan.

Ngomong-ngomong soal mudik dan soal pulang, saya jadi inget acara di TV yang dulu sering saya tonton. Lupa saya nama acaranya, dimana seorang selebritis ditodong buat nunjukin isi tas atau isi dompetnya. Saya suka banget nih acara, soalnya terkadang banyak barang-barang aneh yang ga kepikiran tapi ada di tas mereka. Dulu ada artis yang bawa kaos kaki kemana-mana di dalam tasnya. 

Nah sekarang saya  mau ngulik isi tas saya. Mau mudik atau ngantor biasa, isi tas saya tuh ga ada bedanya. Ya itu-itu aja. 


Ini tas yang saya gunakan untuk kerja. Kalo mudik? ya ini juga. Dinas ke luar kota? ya ini juga. Sebagian orang mungkin punya beberapa tas kerja. Saya sih punyanya satu doang, kalo udah rusak baru beli lagi, hemat pangkal ga miskin. Lagian ini tas benar-benar multifungsi, walaupun bentuknya mungil ( 28cm x 23 cm ), tapi muat semua kebutuhan saya.


Apalagi bentuknya yang so simple. Sebelum ini saya pake ransel juga ke kantor, tapi ukurannya rada gedean dari yang sekarang, ga diisi apa-apa aja berat. Tapi kalau yang ini, dia ringan banget. Terus selain bisa dipake ngeransel, bisa juga dipake gaya selempang, atau cukup ditenteng saja. Keren kan.

Isi ransel saya ini nih :

Laptop



Laptop mini ini setia banget menemani saya selama dua tahun. Suami memberikannya sebagai hadiah ulang tahun saya yang ke 27. Semua kegiatan menulis saya terarsip disini. Tidak hanya itu, laptop ini juga yang menemani saya menghabiskan waktu-waktu luang di kos, nonton film, dengerin musik, internetan. TOP banget deh. Tapi sekarang sih udah mulai agak lemot. Kayaknya perlu diinstall ulang, soalnya virusnya juga udah beranak pinak di dalam.

Buku


1  
     Yang satu ini udah pasti gak mungkin ketinggalan, selalu ada di tas. Saya suka mati gaya kalau berada di bandara kelamaan.  Berhubung penerbangan kita kalau delay suka ga punya perasaan , maka saya selalu membawa penghilang suntuk yang paling ampuh. Tak terasa perjalanan dua jam pun lewat begitu saja. Kalau bukunya agak tipisan, biasanya saya bawa lebih dari satu. Biar kalau yang satu abis di baca masih punya stok yang lain. Pernah saya lupa bawa karena sebelumnya saya baca dulu di kantor, eh malah ketinggalan, terpaksa saya beli buku di bandara. Males banget, di bandara kan harga bukunya juga ga punya perasaan.


      Hard Disk External dan Paramex



Hard disk eksternal dan Paramex, dua benda yang wajib saya bawa. Hardisk ini berisi file-file film favorit saya. Isinya macem-macem, mulai dari film serial kayak Friends, Desperate Housewives, film-film blockbuster dan tentu saja serial Korea. Kecuali saat naik Garuda, saya pasti nonton film di pesawat. Favorit saya Friends, bisa ketawa ketiwi sendiri saya ga peduli sama penumpang di sebelah. Walau ipad udah merajalela dan nonton di laptop kayaknya udah ketinggalan jaman, saya enjoy aja, seruu.

Paramex??. Wah obat yang satu  ini juga gak boleh ga ada di tas saya. Saat migraine saya kambuh, ga ada obat lain yang bisa ngilangin sakitnya secepat obat murahan ini. Paling lama dua jam, wesewes ewes bablas pusingnya. Kata orang sih bahaya, tapi saya udah ketergantungan sepertinya.


Dompet dan Payung



Benda berikutnya adalah dompet dan payung. Dompet saya cukup praktis, bisa memuat hape, kartu-kartu dan duit. Kalau sampai ini hilang, bisa pusing saya. Biasanya saya ga masukin ni dompet ke dalam tas, dipegang saja. Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, si dompet ini pernah ketinggalan di pesawat. Udah sampai di luar baru saya sadar, terpaksa deh balik lagi. 

Payung juga demikian. Cuaca yang sering berubah-ubah membuat saya memasukkan payung sebagai benda yang wajib saya bawa kemanapun. Agar tidak memberati tas, saya pilih payung yang ringan dan ukurannya kecil. Payung ini yang milihin suami saya, saat  kami jalan-jalan tiba-tiba turun hujan. Payung yang saya punya kan hanya satu, kecil lagi, jadi kami beli lagi satu buah, motifnya batik, lucu kan.

Kosmetik

Kemudian dompet kosmetik saya. Walau jalan kemana-mana harus tetap cantik dong. Isinya sih hanya kosmetik dasar, bedak, tabir surya, krim malam, lipstik dan eye shadow. Semua masuk dalam satu tempat. Dari semua kosmetik tersebut,  the must be taken item adalah krim malam. Katanya sih untuk mencegah penuaan dini, halah. Tapi bener lo,beda banget kondisi wajah saya kalau malamnya pake krim malam atau ngga. Keliatan lebih seger dan lebih cling cling gitu.

Mukena


And the last but not the least, mukena. Karena bahannya dari parasut, jadi bisa disumpel-sumpelin ke tas biar ga makan tempat. Dimana pun bisa langsung sholat tanpa harus ngantri memakai mukena mushola umum.

Semua muanya itu adalah benda-benda yang memang saya butuhkan. Tidak ada barang yang tidak penting yang saya bawa. Apalagi untuk pulang ke rumah, cukup bawa seperlunya saja. Karena memang seperti itulah konsep pulang. 

Pun dalam konteks pulang yang hakiki. Hendaknya kita hanya membawa dan memikirkan yang kita butuhkan selama perjalanan. Yang ga dibutuhkan,? mending ditinggal saja daripada nantinya malah memberatkan kita,



ARISAN, Budaya Paling Indonesia

Wednesday, June 13, 2012
Sejak menikah empat tahun yang lalu, tiba-tiba saja saya disibukkan dengan berbagai macam arisan. Mulai dari arisan kantor, arisan afdeling.,Arisan kebun, sampai arisan distrik. Itu masih arisan yang resmi dari kantor suami. Belum lagi ditambah arisan teman-teman seangkatan suami, sampai arisan keluarga. Arisan keluarga ini pun masih terbagi-bagi lagi. Arisan keluarga dari pihak ibu saya, arisan keluarga pihak ayah, dan terakhir arisan keluarga dari pihak suami. Hadeeeh, kalau dihitung-hitung, saya sudah bisa punya BRA (Buku Register Arisan ) sanking banyaknya arisan yang saya ikuti. Jatah cuti saya pun harus diatur sedemikian rupa demi menghadiri yang namanya Arisan. Gila ya.

Arisan sepertinya sudah mendarah daging di bumi Indonesia tercinta kita ini, bahkan sampai ada film yang bercerita khusus tentang kegiatan satu ini. Tidak tangung-tanggung  Film yang dirilis pada tahun 2003 ini menjadi salah satu dari hanya dua film yang berhasil memenangkan kelima penghargaan utama dalam Festival Film Indonesia 2004, yaitu Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Arisan! pun menjadi salah satu dari hanya sedikit dari film yang dinominasikan untuk seluruh kategori yang dapat diikuti oleh sebuah film dalam FFI. Tidak hanya itu, Film ini pun tampil dalam Festival Film Asean di Washington DC.

Kenapa Film ini sukses?. Tentu saja karena ide yang diangkat begitu membumi. Terjadi di kehidupan nyata, bahkan sudah membudaya. Kalau boleh saya katakan, Arisan bisa kita kategorikan sebagai budaya yang  paling Indonesia. Gimana ngga, di setiap lini kehidupan kayaknya tidak ada yang tidak pernah bersinggungan dengan kegiatan yang namanya arisan.

Tidak hanya berlaku di kehidupan sehari-hari , wabah arisan ternyata sudah masuk ranah perbankan. Tampaknya mereka sangat menyadari budaya arisan yang tidak bisa terlepas dari keseharian masyarakat kita, budaya kumpul-kumpul . Beberapa bank malah sudah menawarkan produk tabungan arisan. Wah ibu-ibu pasti makin seneng nih, dan bapak-bapak makin keringet dingin.

Sebenarnya apa sih Arisan itu?

Arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau iuran dengan jumlah yang sama oleh sekumpulan orang. Uang yang dikumpulkan tersebut kemudian diundi untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkannya. Kegiatan pengundiannya sendiri dilakukan dengan mengadakan pertemuan rutin setiap bulan. 

Namun makin lama, arisan tidak melulu kepada kegiatan mengumpulkan uang. Bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Uang bisa diganti dengan barang lain.

Kalau di kampung saya dulu , arisan benar-benar dimanfaatkan untuk menutupi kebutuhan warga desa tersebut. Jadi jenis arisannya disesuaikan dengan request warga. Ada yang namanya arisan semen. Arisan ini bertujuan untuk membantu tetangga yang sedang membangun rumah. Jadi kita boleh menyumbang apa saja, mulai dari semen, batu bata, keramik, genteng, pasir. Nah pengembaliannya saat yang menyumbang membangun rumah. Jadi, kalau dulu dia memberi semen, maka akan dikembalikan semen, kalau batu ya dikembalikan batu sejumlah yang disumbangkan dulu. Tidak boleh ditukar dengan uang, dengan pertimbangan nilai uang tidak sama dari waktu ke waktu.

Arisan berikutnya yang ramai peminatnya adalah arisan bumbu. Jangan bayangin, yang dikumpulin bumbu dapur ya. Arisan ini dilatarbelakangi oleh keinginan setiap orangtua untuk mengadakan perhelatan pesta saat anaknya nikah, sunat , bahkan akekahan. Prinsipnya hampir sama dengan arisan semen tadi, namun yang dikumpulkan adalah kebutuhan pesta. Boleh nyumbang beras 3 karung misalnya, atau nyumbang gula, minyak goreng, sampai bumbu-bumbuan sesuai dengan nama arisannya. Saat giliran pesta di rumah kita, kita akan mendapat pengembalian dari barang-barang yang pernah kita beri ke tetangga yang lebih dulu pesta.

Masih banyak jenis arisan lain, mulai dari arisan sendok, arisan piring, arisan panci sampai arisan tikar. Ada-ada saja yah, bangsa kita memang kreatif banget.

Dilihat dari pengertiannya, arisan memang banyak manfaatnya. Bisa menjadi sarana melatih diri untuk menabung ( uang, barang) karena ada unsur pemaksaan disini, yaitu kita dipaksa bayar setiap bulannya, jadi buat yang susah menyisihkan uangnya, arisan bisa menjadi alternatif jika ingin mengumpulkan uang sejumlah tertentu. Selain itu buat yang malas kumpul-kumpul, arisan bisa menjadi alasan untuk membuka diri terhadap lingkungan luar, karena kita dipaksa datang ke pertemuan kalau mau nama kita yang keluar untuk menerima uang. 

Keuntungan lain arisan yaitu sebagai sarana silaturahmi dan meluaskan networking termasuk sebagai sarana pemasaran. Bagi yang jobless mungkin bisa mendapat peluang kerja disini, bagi yang single bisa menjadi sarana cari-cari jodoh. Namun tak jarang, arisan malah menjadi tempat bertukar gossip terhot di kalangan anggotanya. Beberapa malah menjadikannya ajang untuk memperlihatkan kemapanan hidup mereka. Makanya untuk meminimalisir anggapan miring tersebut, sekarang banyak kegiatan arisan yang dibundling dengan kegiatan lain seperti pengajian. Jadi walaupun kemasannya acara ngumpul-ngumpul tetep beribadah gitu. Ada juga yang mengadakan arisan bersamaan dengan grand opening tempat usaha, pesta, atau reuni. 

Dewasa ini, arisan juga sudah menjadi gaya hidup. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Arisan tidak melulu soal kumpul-mengumpul uang, namun lebih ke pengakuan status sosial. Bagi kalangan Jet set bisa masuk dalam kelompok arisan tertentu menjadi gengsi dan image eksklusif tersendiri. Bisa tercermin dari gaya berbusana, perhiasan yang dikenakan, sampai seputar obrolan yang dibicarakan. Tak heran , tempat arisannya pun tidak seperti arisan-arisan kebanyakan yang diadakan di rumah, cafe, restoran atau Mall, bisa jadi di kapal pesiar atau pulau pribadi. Uang yang terkumpul pun bisa ratusan juta, makanya sering kita dengar kasusu selebritis yang berakhir di pengadilan hanya gara-gara arisan.

Disamping manfaatnya, arisan juga bisa menyusahkan. Dalam budaya arisan, setiap kali salah satu anggota memenangkan uang pada pengundian, pemenang tersebut memiliki kewajiban untuk menggelar pertemuan pada periode berikutnya arisan akan diadakan. Terkadang demi gengsi, si tuan rumah akan berusaha menyajikan makanan yang wah untuk memuaskan tamunya. Ujung-ujungnya, walaupun sudah ada alokasi dana untuk makan yang dikutip dari tiap anggota, tetap saja harus mengambil dari uang yang dimenangkan dari arisan tersebut.

Repotnya lagi, seperti saya bilang tadi, arisan bisa berfungsi sebagai salah satu sarana networking dan pemasaran, maka tak heran kalau di setiap acara arisan, ruang arisan tiba-tiba berubah menjadi pasar kaget. Mulai dari jualan baju, tas, sepatu , kue sampai ujung-ujungnya menawarkan ikut MLM ( Multi Level Marketing). Jadi kalau mau ikut arisan, siap-siap sedia muka innocent untuk bisa menolak setiap tawaran yang datang, kalau gak mau kantong jebol.

Terlepas dari baik-buruknya, kalau masih hidup di Indonesia sepertinya kita tidak bisa terlepas dari budaya ini. Di negara lain sepertinya tidak ada acara seperti ini. Acara arisan ini Indonesia banget lah pokoknya.

Wah, sudah dulu ngobrolnya ya, saya mau arisan dulu nih. Pakai baju apa ya???. Beugh, dilema setiap mau arisan .

Selamat ikut Arisan, semoga bisa mengambil manfaatnya dan menjauhi mudharatnya.


Catatan :
Afdeling adalah sebuah wilayah administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang diperintah seorang asisten residen. Afdeling merupakan bagian dari sebuah Karesidenan. Sebuah afdeling terdiri atas beberapa onderafdeling( Wikipedia)

DIstrik : Wilayah administratif yang membawahi beberapa kebun
Gambar dari sini


 

Custom Post Signature