Showing posts with label kids. Show all posts
Showing posts with label kids. Show all posts

Center Of Universe Setelah Jadi Orangtua

Friday, November 23, 2018



Yup, kayanya hampir semua pasangan muda, setelah menikah dan punya anak, prioritas hidupnya jadi berubah. Anak menjadi center of universe. Semua mua dilakukan demi anak, untuk anak, karena anak. Tak jarang, seorang wanita sampai abai sama kebutuhan diri sendiri, seorang suami lupa sama kebutuhan istrinya, karena semua udah all about the baby.

Tau ngga, saya pernah punya temen cowok, yang sempet sebel sama anaknya sendiri, karena doi bilang, sejak punya anak istrinya ngga lagi perhatian sama dia. Prioritas hidup istrinya Cuma kebutuhan anaknya. Pulang kerja makan sendiri, mau ngajak istrinya ngobrol, eh istrinya sibuk nyusui anaknya. Giliran nyusui selesai, dianya udah ngantuk.

Udah ngga pernah lagi mesra-mesraan, karena si istri yang dibicarakan cuma anak-anak- dan anak.

Awalnya saya tuh yang pengen nokokkan kepala si kawan ini " Woy ya wajarlah, namanya juga ibu baru, masih excited sama anaknya, atau ngga ya karena terlalu khawatir sama anaknya, jadi yang dibicarakan anak-anak-anak".

Tapi setelah saya pikir-pikir, kasihan juga ya para suami. Mereka harus dipaksa mengerti bahwa anak udah jadi center of universe si istri. Padahal ya dianya juga mungkin aja baby blues ya. Mungkin aja doi juga sebenernya gagap jadi papa baru, dan pengen curhat ke istri, pengen berbagi cerita ke si istri. Mungkin penat di kerjaan dan pengenlah si istri yang kayak dulu,manja-manja kepada dia.

Bahwa yang namanya menjadi orangtua, prioritas hidup itu jadi berubah, bahkan prioritas terhadap pasangan aja bisa tergantikan. Anak jadi center of universe kita. Kalau kita terus menerus terjerumus dengan stigma bahwa anak adalah segalanya, bisa bahaya juga bagi keluarga dan bagi perkembangan jiwa diri sendiri. Makanya perlu keseimbangan dan kesadaran, bahwa ga apa kok sekali-kali mendahulukan kepentingan ibunya misalnya. Kayak masalah kompeng dan ayunan itu. Kalau memang diperlukan alat bantu, saya rasa ngga ada salahnya kok ortu menggunakannya. Demi anak tidur lebih nyenyak dan ibu lebih banyak istirahat.

Pokoke intinya, it's ok not to be a perfect mother versi buku parenting. Sepanjang tidak membahayakan anak, kita bahagia, improvisasi dalam hal pengasuhan anak, sah-sah saja menurut saya.

Nah nyambung ke berita yang lagi hot di timeline. Soal perceraian keluarga idola kita semua [KITA], iya idola kitalah, aku termasuk yang suka sama keluarga ini walau ngga sampe yang ngefans gimana, seru aja lihat mereka, ditambah si Koneng lagi.

Banyak banget komen-komen di instagram dan di twitter yang isinya kira" Tolong dong pikirkan perasaan Gempi", sampe yang " Kalian tidak boleh egois jadi orangtua, mengalahlah demi keutuhan orangtua bagi Gempi.

Terus terang saja mendengar berita perceraian Gading_Gisele ini aku sedih. Tapi baca-baca komen netijen begini, kok rasanya gimana yah. Aku yakinlah ga mungkin keputusan sebesar itu ga dipikirin mereka dengan matang. Beban sebagai public figur, beban sebagai role model keluarga bahagia, ditambah postingan-postingan keimutan dan kelucuan anaknya, pasti membuat mereka udah mempertimbangkanlah keputusannya.

Aku mau cerita aja, ada temenku yang orangtuanya tiap hari bertengkar terus, udah level saling menjelekkan satu sama lain. yang tau sama-sama tidak puas dengan diri pasangan. Saling benci tapi ngga mau pisah. Sama-sama berfikir, ga apa-apa kami ga bahagia, asal kalian anak-anak kami tetap memiliki orangtua yang utuh. Kondisi gitu berlangsung bertahun-tahun, dari temenku ini masih piyik sampe kuliah, nikah, punya anak. Ortunya ngga kunjung pisah, tetap bersama dan tetap saling memaki, tetap saling menyakiti, sampe akhirnya si temenku dan sodara-sodaranya jadi benci sendiri sama kedua ortunya. benci sama ortu dan benci sama diri mereka sendiri. " Kenapa mama papa ga pisah aja kalo udah ga saling cocok, kami anak-anak ini ga masalah banget lho punya ortu bercerai daripada lihat kalian berdua ga bahagia gini"

Huhu aku dengerin cerita temenku ini sampe ikutan nangis. Karena ya itu terjadinya udah lama, dan ortunya terlalu pengecut buat ngambil keputusan. 


Apakah mereka si anak merasa bahwa ortunya berkorban untuk mereka?

Ya ngga juga.

Mereka malah mungkin lebih bahagia kalo kedua ortunya lebih punya sikap. Karena untuk apa tetap bersama kalau sebenernya toh ngga ada lagi yang bisa dipertahankan. Kalo anak-anak?. Anak-anak mungkin akan kehilanganlah pada awalnya, mungkin akan kecewa, mungkin akan merasa tidak dicintai, tapi seiring usia dan kedewasaanya, asal dikasi pengertian yang benar, pasti akan mengerti bahwa perpisahan kedua orangtua bukan berarti tidak sayang pada mereka.

Balik ke judul awal. Mungkin setelah menikah, pasangan suami istri akan memiliki prioritas hidup yang berubah, anak, segalanya tentang anak. Tapi untuk kebahagiaan pribadi, jika memang tidak memungkinkan untuk tetap bersama, menurutku berpisah mungkin jadi pilihan terbaik.

Dan perihal anak menjadi pusat semesta kita, aku ngga mau banget seperti itu. Anak tentu  jadi prioritas kita tapi pasangan adalah belahan jiwa kita. Kepentingan dia tidak kalah pentingnya dengan kepentingan anak. Kebutuhan pasangan tidak kalah urgentnya dengan kebutuhan anak.

Percaya saja, anak-anak kita itu tidak selemah yang kita pikir kok, mereka itu kuat dan bisa mengerti kondisi ortunya

Aku ga pro perceraian, aku pro kebahagian semua orang. Karena pernikahan yang di dalamnya saling menyakiti atau sudah tidak satu jalan lagi itu sungguh menyiksa.


Percaya sama aku

Eh ngga ding, percaya ajalah pokoke, lhaaa labil.

Mengajarkan Konsep Uang ke Anak

Thursday, November 22, 2018


Siapa di sini orangtua yang pusing mengajarkan konsep uang ke anaknya?


Ga apa-apa banget lho dari kecil anak diajarkan tentang uang, bukan supaya dia mata duitan, tetapi supaya dia mengerti bahwa beli sesuatu itu pake duit, bukan pake daun, apalagi pake tisue dan airmata, halah.

Dari usia dua tahun sebenernya anak sudah bisa dikenalkan dengan uang. Tapi pastinya dia belum mengerti soal nilainya, tapi minimal paham kalo beli sesuatu tidak sim salabim abakadabra. Bukan begitu bunda?

Kalo di keluargaku, jujur aja aku belum benar-benar ngajarkan konsep uang ke anak. Palingan tindakan nyata soal perduitan, aku cuma ngajarin nabung aja sama Tara. " Ayo Tara nabung, biar bisa beli yang Tara mau"

Aku beliin celengan, suruh isi kalau ada koin-koin sisa duit belanja. Anaknya hepi banget, jadi tiap nemu koin girangnya ampun deh, hahah.


Nah, kalau soal pembelian barang, Tara aku ajarinnya pake konsep " Mahal dan Murah"

Ternyata itu jauuuh lebih gampang dibanding berbusa-busa ngelarang dia celamitan jajan di Indomart.

jadi, kalau lagi ke Indomart, mau beli sesuatu dia bakal nanya dulu ke aku " Bunda, tara boleh jajan ngga?"

" Boleh, tapi bunda bawa duit cuma dikit nih"

" Iya, Tara ngga beli yag mahal-mahal kok, yang murah aja bunda"

Jadi, kalau dia ngambil coklat misalnya, dia bakal nanya " Ini mahal atau murah bunda/"

Ya tinggal jawab aja mahal kalo memamng mahal atau ya murah kalo memang murah. Jawabannya ga serius-serius amatlah, sesuain aja ama kantong, hahahaha. Pokoke Kinderjoy aku bilang mahal #kzlamakinderjoy. Susu Ultramilk yang besar mahal, yang kecil murah, maka Tara ya bakal ambil yang kecil.


Jadinya si Tara sekarang mayan bisa direm celamitannya kalau di tempat belanja. Tetap beli sih, tapi bisa diarahin ke barang yang masuk akal. Ga ujug-ujug guling-guling minta sesuatu. Stress banget kan yah kalo gitu.


Dengan konsep mahal murah ini, dia jadi kayak ikutan mikir gitu lho tentang duit emak bapaknya yang ngga tumbuh di pohon. Memang belum ngerti bener nilainya, tapi udah ngerti bahwa beli barang mahal itu harus dipikirin.


Mau main timezone aja udah bisa pake jurus ini.

"Mainnya dua kali aja yah, mahal"

" Mahal bunda?', bunda ga cukup duitnya?"

"Iya ga cukup"

" Tapi kan ada papa, papa banyak duitnya"

Wahahahaha, serahkan ke papa.

Kemarin itu si Tara, malah sempet nanya gini, " Bunda, kenapa rumah kita kecil?"

Haduh mamaknya kaget ditanya gitu hahaha, tapi ya ga kaget-kaget amat sih, udah persiapan aja ditanya begitu, karena memang dibanding rumah lain di komplek perumahan kami, rumah kami tergolong yang kecil.

" Ngga kecil ah, kan cukup untuk Tara, adek, bunda, papa dama Tete"

"Tapi kecil bundaaa, ngga kayak rumah Chia, rumah Chia bueeesaaaar"

" Iya, rumah Chia soalnya mahal sayang"

" Ooooh rumah kita murah ya, papa duitnya ga cukup?"

" Iya papa duitnya ga cukup"

" Makanya papa, cari uangnya yang banyak dong biar rumah kita besar'

Wahahahaha kacian papa.

Beberapa hari kemudian, aku ajak Tara main ke rumah kosong di komplek yang lebih kecil. Aku bilang ke Tara

" Tara, kita mau pindah ke sini lho, kan Tara kemarin ga mau tinggal di rumah kita, kata Tara rumah kita kecil'

"Ngga bunda, Tara ngga mau pindah,  rumah kita besaaaar"

Wahahaha, dasar labil. Gitu doang udah berubah.

 Tadi aku baca-baca soal artikel keuangan, memang katanya anak baru mengerti nilai uang biasanya di atas usia 7 tahun. jadi bunda-bunda yang mau ngenalin konsep uang ke anaknya, bisa kenalin hal-hal ini dulu ya

1. Beli sesuatu itu pake uang
2. Ada barang mahal dan ada barang murah
3. Papa dan bunda harus kerja untuk dapat duit, ga jatuh dari langit.

Bisa juga pake cara bermain toko-tokoan.

Aku sering mainin ini sama Divya.

Aku beliin mainan masak-masakan yang sepaketan ada duit-duitannya. Jadi tiap Divya bikinin masakan ke aku, aku seolah-olah beli. Sekarag tiap mau sesuatu Divya selalu nagih duit ke aku.
" Bundaaaa, adek mau beli loti, minta duit nda " (baca pake cara cadel ya, duh gemaz).

Kalo ke Tara selain konsep mahal-murah, dia udah sering aku suruh bayar-bayar sesuatu. paling sering kalo ada abag gojek yang ngantar makanan pesananku. Aku suru bayar sembari bilang  ntar ada kembaliannya ya sayang.

Ya udah sih gutu doang, hahahha. Soal kaya miskin aku belum ajarin ke Tara. Pokoke kalo dia nanya-nanya kayak

" Bunda kok rumah di depan besar rumah kita kecil"

Atau " Kok mobil Khira besar, mobil kita kecil" dsb dsb , cukup pake jawaban mahal-murah aja, plus ditekankan " Segini ini udah cukup untuk kita".

Kalau kalian gimana cara ngajarin konsep uang ke anak?. Ayo sharing, biar yang baca bisa kutan niru.





Baby Home Spa Ala Little Bee dari Tupperware

Friday, July 20, 2018
[SP] Baby Home Spa Ala Little Bee dari Tupperware



Siapa di sini ibu-ibu millennial yang hobi spa-in anaknya ke tempat spa?

Aku dong yah, hahahaha. Dulu pas masih baru punya anak pertama, wih semangat amat bawa Tara ke tempat baby spa gitu. Sekalianlah aku juga ikut pijet. Rasanya kekinian banget gitu lho bawa anak spa, foto-foto ala instagram dengan ban di leher. Dari usia 3 bulanan deh kalo ga salah udah rajin bawa Tara spa. Karena meman gmenenangkan sih.

Gitu anak kedua, bhay bangetlah. Rempong abis. Mana kerjaan di kantor lagi seru-serunya, udahlah si dede Divya aku pijetin di rumah aja. Manggil tukang pijet khusus bayi langganan sekaligus ngerawat aku juga.

Sampe sekarang dede Divya mah seneng banget dipijet.

Nah, aku baru tau nih, ada produk baru perawatan baby spa ala rumahan dari Tupperware.

Iya Tupperware.

Kalau selama ini kita kan taunya Tupperware sebagai wadah makanan yah, teryata doi ngembangin sayap ke produk bayi gitu namanya Tupperware Little Bee Baby Spa.


Aaaaaak seneng deh, jadi bisa spa di rumah tapi ala baby spa ngehits di kota-kota.

Jadi Little Bee itu punya 6 produk yang aromanya lembut dan menyegarkan banget, cocok digunakan untuk home baby spa. Selain itu Little Bee mengandung Formula+ yang terbuat dari ekstrak bahan-bahan alami, sehingga aman untuk kulit bayi.




Tahapan pertama dari baby spa itu adalah pemijatan.  Divya suka banget dipijat, kalau aku dah megang baby oil gitu, pasti dia langsung rebahan. Mungkin karena produk Little Bee juga warna warni banget ya. Jadi anak-anak suka.



Baby oilnya Little Bee ini mengandung formula ekstrak lidah buaya yang  membantu memberikan stimulasi pijatan dan merangsang regenerasi kulit. Yang bikin suka itu karena baby oilnya Little Bee cepet nyerap dan nggan inggalin kesan berminyak, makanya anak-anak juga suka.




Abis dipijet, biasanya aku diemin dulu sambil main-main. Udah gitu aku mandiin pake baby wash Little Bee yang mengandung formula minyak zaitun dan Lamesoft. Lamesoft itu ekstrak alami minyak kelapa dan biji bunga matahari, yang fungsinya untuk membersihkan sekaligus melindungi kulit.

Baby Shampoo

 

Nah, salah satu yang paling disukai Divya dari kegiatan mandi itu adalah shampoan. Hahaha entahlah kok dia suka banget, makanya memang harus pilih shampoo yang aman untuk anak-anak seumuran Divya. Shampoo little be mengandung Formula+ Cetiol Conditioner. Fungsinya untuk melapisi dan menjaga kelembutan alami setiap helai rambut.


Time to wangi-wangian. 

Khasnya anak bayi kan memang selalu harum setiap saat. Nah abis dimandiin, langsung deh dikasih lotion, ngembaliin kelembaban kulit abis mandi tadi biar moist selalu. 




Baby lotionnya Little Bee mengandung Formula+ Oleate &Vitamin E. Lagi-lagi dari ekstrak alami minyak kelapa yang fungsinya yaitu tadi menjaga kelembababan kulit si kecil sepanjang hari.

Ini lotionnya enak banget karena ngga peliket, cepet nyerap jadi nyaman dipake.

Baby Powder


Baby powder Little Bee mengandung Formula+ Allantoin.Fungsinya tuh untuk mencegah iritasi dan menjaga kesegaran kulit si Kecil.

Bedaknya ini less powdery gitu, jadi butirannya tidak berhamburan dan mudah menyerap. Ga khawatir batuk-batuk deh.


Spa selesai, bonding terjaga, anak riang gembira, kantong emak selamat, hahahaha #goals.

Siap abilang baby spa itu rempong yah, ngga samsek. Easy banget kalo dilakukan di rumah.

Penasarankan? Yuk ah dicobain.  














Hal-Hal Yang Tidak Pernah Dibayangkan Saat Menjadi Ibu

Friday, March 9, 2018

[SP] Ruam Popok Hal-Hal Yang Tidak Pernah Dibayangkan Saat Menjadi Ibu



Dulu banget yah, saat belum nikah, trus udah nikah tapi belum punya anak, kalau dengerin kakak ipar saya ngobrol sama adek saya yang notabene udah punya anak duluan, saya suka yang jetlag sendiri. Ehmmm gimana yah, omongannya itu kadang yang saya pikir “ Ya elah kayak gitu aja dipusingin”. Tapi ngga saya ucapin sih ya, karena takut dimarahin hahahaha.

Kayak soal menyusui, kalo mereka lagi curhat-curhatan soal puting lecetlah, payudara bengkak, perlekatan bayi, etc,etc, duh sampe mikir “ Ribet amat sih tinggal nenenin doang, buka beha, sorongkan ke mulut bayi”.

Ternyata setelah punya anak, ya ampuuun saya kayak ketulah gitu, segala hal yang dulu keliatan remeh malah bisa banget jadi bahan pikiran, sampe bahan penambah stress huhuhu.



Beberapa hal nih yang mungkin kamu-kamu para wanita muda yang sekarang cuma peduli sama koleksi warna lipstick dan ketahanannya saat makan mie ayam, kalian harus tahu hal-hal remeh ini bisa membuat kalian rela punya lipstick satu warna ajah, wahahahahah #ketawasirik.


1. Masalah PUP


Yow, jangan salah ya para wanita muda. Kalau kalian pikir pup itu Cuma masalah kotoran yang menjijikkan, maka hey hey tunggu dulu.

Setelah punya anak, percaya ngga percaya, pup menjadi hal yang paling aware diperhatikan sama mama baru. Saya dulu juga gitu. Waktu dijelasin sama temen soal macam-macam PUP, sok cuek. Eh ndilalah Tara dari lahir ngga pup-pup sampe berhari-hari, hwaaaa, baru deh googling soal pup .

Baru tau ternyata pup aja ada macam-macamnya dan ada tahapnya. Mulai dari mekonikumlah, pup encer, warna pup, bentuknya. Tiba-tiba saya jadi terobsesi sama pup Tara ahahahahaha. Tiba-tiba pusing kalo anaknya ngga pup. Tiap hari pulang kerja nanya ke ART. “ Udah pup berapa kali hari ini, bentuknya gimana?, warnanya apa”?



Wahahahaha. Sungguh random hidupku. Karena you know mom, dari frekuensi bayi pup kita bisa tahu ASI kita cukup ngga nih, terserap dengan baik ngga. Karena logikanya, jika ada kotoran yang keluar, maka pastilah ada ASI yang bayi telan. Wow amazing.



2. Pipis

Yah sebelas dua belas dengan masalah PUP. Frekuensi bayi pipis juga jadi indicator kecukupan ASI. Gegara ini, saya jadi searching banget normalnya bayi itu pipis berapa kali sehari. Kemudian takjub sendiri. Karena yah beda-beda tiap harinya cuy.

Hari pertama sekali pipis, hari kedua dua kali pipis, makin lama makin banyak. Sampe dicatat segala bok, ya ampuuuun amazing.

Di samping soal jumlahnya ya juga soal warnanya dan aromanya, ah elah, pipis aja sampe saya perhatikan dengan seksama banget lho.

Dua hal tersebut bener-bener kayaknya ngga kepikiranlah menjadi hal maha penting bagi mama muda. Makanya kalo diingat-ingat sekarang sering ketawa sendiri.

Dan karena pentingnya masalah pup dan pee tadi, jadi saya aware banget juga dengan kondisi pantat Tara dan Divya. Ngga mau banget nunggu diapernya penuh baru ganti. Pokoke gitu melihat udah agak gembung aja, ganti.

Milih popoknya pun ngga sembarangan. Pilih yang paling lembut. Bulan-bulan pertama ngga peduli banget sama harga popok, yang penting mana yang paling lembut dan paling nyaman. Sungguh ibu-ibu impulsive.



Trus, khawatir banget sama ruam popok. Karena ya ampuuuun kalian yang pernah ngalamin pasti tau deh rasanya, kalau anak kena ruam popok itu pengen nangis banget. Tara dulu pernah kena ruam popok, sekitaran vagina sampe pantatnya merah-merah gitu dan agak bengkak. Tiap dicebokin abis pup nangis jejeritan, dipakein popok nangis kejer, huhuhuhu saya sampe ngga tega kalo mau makein diapernya lagi. Kelihatan meringis-meringis gitu anaknya. Padahal peralatan tempur perpopokan Tara lengkap banget. Segala cream-creaman komplit.

Ternyata oh ternyata si mba di rumah kadang kelamaan ganti popok Tara. Jadi missal dia pup atau pipis didiemin dulu sampe penuh banget. Padahal kulit bayi kan msih sensitive ya, jadi kalau terlalu bersentuhan dengan kotoran yang mana ada kandungan ammonia, ada bakteri, ya jelaslah meradang.

Padahal saya sediain diaper cream lho untuk pencegahan, tapi mbanya ngga ngerti kalo itu untuk pantat, jadi dikiranya lotion biasa, jadi ya cuma dipakein ke tangan, kaki sama badan Tara aja. Kray. Diriku langsung merasa gagal.



Makanya giliran Divya lahir, ngga mau kecolongan lagi. Dari awal udah wanti-wanti sama mba di rumah, kalau sebelum makein popok harus dipakein diaper cream dulu biar ga ruam popok, biar ga lecet, biar pantatnya lembut, biar ga kesakitan, walah mamaknya udah trauma lihat anak ruam popok. Trus kasih petatah petitih soal ruam popok.


Penyebabnya nih :

1. Kondisi pantat dan daerah sekitar popok lembab, kemudian terlalu lama kontak dengan zat ammonia yang terdapat dalam feses maupun kencing bayi.

2. Pemakaian popok yang terlalu ketat, sehingga terjadi gesekan berlebihan antara kulit bayi dan diaper.

3. Memakai diaper yang terbyat dari plastic atau karet dalam jangka waktu lama sehingga menyebabkan iritasi.

Tuh mam, murah sih boleh murah tapi sering-sering diganti.

Trus ngasi tau juga ke mba nya apa kegunaan diaper cream biar aware dari awal.

1. Daily usage : digunakan setiap kali ganti popok untuk mencegah bakteri penyebab ruam muncul.

2. Curative : membantu mengurangi kemerahan dan iritasi saat ruam popok muncul.


Untuk diaper creamnya sendiri aku pake Sleek Baby. Soale ya dari awal dulu punya anak taunya ya Sleek Baby. Ya untuk nyuci bajuah, nyuci botol. Jadi gitu Sleek ngeluain produk diaper ya udahlah sekalian pake Sleek Baby.

Karena memang kandungan Sleek Baby Diaper Cream sudah teruji secara dermatologis efektif membunuh bakteri penyebab iritasi terutama pada daerah popok, Formulanya aman dan lembut untuk kulit sensitive bayi.




Nih Tips dari saya ya mam agar jangan sampai deh anak kita kena ruam popok, karena itu sungguhlah menyiksa :

1. Pilih popok yang nyaman untuk bayi.


Untuk bayi baru lahir ngga ada salahnya mami-mami muda beli ukura kecil diaper berbagai merk, cobain satu-satu. Tapi kalau mau gampang sih, lihat aja yang ada label premium, atau yah yang harganya mayan mahallalh hahahaha.


2. Gunakan Air Saat Membilas Kotoran Bayi

Nah kadang yah ortu tuh mau praktis jadi pup anak diseka aja pake tissue basah. Padahal banyak tissue basah yang kandungan alkoholnya tinggi, kalau kulit bayinya sensitive malah jadi iritasi, dan tentu saja menurut saya jadi kurang bersih.

Saran saya, beli bola-bola kapas. Taruh air bersih di wadah tertutup gitu. Biar ga rempong, taruh saja di kamar biar ga bolak-balik ke kamar mandi. Saat bayi pup, cara membersihkannya :

- Basahi bola kapas

- Seka pantat bayi

- Ulangi sampai bersih.

- Kapas yang udah kena kotoran jangan dicelup lagi ke wadah air. Jadi celup, seka, buang. Biar arinya tetap bersih.

- Kalau udah selesai, keringkan dengan handuk.

- Bersih men



3. Pakai Diaper Cream




Beneran saya bilang jangan anggap sepele. Selalu mam pakai diaper cream terlebih dahulu sebelum memakai popok. Ini tujuannya menjaga kelembaban pantas bayi, di samping itu biar kulit bayi ngga kering saat bergesekan dengan popok, sehingga mencega iritasi. Lagian diaper cream juga mengandung zat anti bakteri sehingga bisa membasmi sisa-sisa bakteri dari pup atau peenya si bayi.

Cara pakainya. Oleskan di daerah sekitar popok, meliputi pantat, selagkangan, dan paha


4. Ganti Popok Sesering Mungkin

Iyes, jangan nunggu sampe bocor baru diganti. Gitu tahu udah dipipisin ya diganti aja. Jangan nunggu penuh karena baru pipis sekali misalnya. Karena makin ngga diganti berarti pantat bayi kita lebih lama dong bersentuhan dengan pipis atau pupnya sendiri. Seperti yang saya sebut di atas, padahal kotoran kan mengandung ammonia dan mengandung bakteri, jadi memang bikin iritasi.




Kalau dilakukan, mudah-mudahan anaknya bebas ruam popok deh. Alhamdulillah ya DIvya tuh sama sekali ngga pernah kena ruam popok. Soalnya bundanya udah pengalaman, hahahahah.

Hwaaaa, memang pengalaman mengurus bayi itu warbiasyak deh. Hal-hal remeh kayak pup dan pipis aja bisa bikin pusing tujuh keliling, hahaha.

Kalau kalian gimana mam, punya cerita sekitar hal-hal yang ngga pernah kalian pikirkan ngga sebelum punya bayi. Atau samaan nih sama saya, anaknya pernah kena ruam popok. Cerita dong.






Tentang Menegur Anak Orang Lain di Publik

Wednesday, September 27, 2017
Namanya anak-anak, kadang saat bermain, bisa saja ada kondisi yang di luar kontrol. Entah ada anak yang berebut mainanlah, anak yang mukulin anak lainlah, atau malah anak yang berlaku kasar. Nah kalau menemui kondisi begitu, kalian pilih menegur anak itu atau diem aja.

Ngomongin itu yuks.




Baca Punya Gesi :

Pernah pada suatu hari saat saya lagi makan KFC sama Tara ada kejadian ngga mengenakkan. Saya lagi makan, Tara main perosotan bersama anak-anak lain. Karena jarak antara perosotan dan kursi saya deket banget, jadi saya cuma sambil ngeliatin aja, ngga ikut masuk ke arena perosotannya. Tiba-tiba saya dengar suara Tara jerit-jerit sambil nangis " Bundaaa.... bundaaa...", sontak saya lari ke Tara. Saya lihat ada anak laki-laki lagi mukulin Tara, Wih langsung esmosi jiwa. Tara yang nangis sesunggukan saya tarik dan saya gendong. 

Awalnya saya sibuk mendiamkan tangis Tara sampe lupa sama si anak, lamat-lamat saya kepikiran " Lho tadi disitu ada ibunya si anak kok ngga minta maaf sama saya ya". Saya kembali ke perosotan, mendatangi si ibu dan anak laki-laki tadi yang udah balik main kayak ngga kejadian apa-apa

" Bu, anaknya tadi mukul anak saya lho, kok ibu ga ada minta maaf ya, atau nyuruh anaknya minta maaf, anak saya sampe nangis sesunggukan gini "

" Yah namanya juga anak-anak sih, biasalah itu"

Duh kesel banget dengernya. Saya balas jadinya

" Ya anaknya sih anak-anak, tapi harusnya ibu minta maaf sama saya, atau nyuruh anak ibu minta maaf"

Eh si ibu malah jutekin saya, ih kesel banget. Lagi saya ngomong, "Plak" si anak laki-laki dia mukul Tara lagi. Waaaah ngamuklah saya.

" Tuh lihat bu anaknya, ngga ada sopan santunnya, Dek, ayo kamu minta maaf sama anak saya, ngga boleh seperti itu"

Yeee emaknya malah ngamuk ke saya. "Besar-besarin masalah amat sih" (lupa saya kalimatnya tapi intinya itu)", karena kondisi saya saat itu lagi hamil Divya, saya ngga mau lanjutin adu mulut itu. Saya pilih pergi sambil melototin si anak dan ngomong untuk terakhir kalinya " Lain kali ya dek, ngga boleh gitu, jangan pukul-pukul teman kayak gitu, main sama-sama"

Dan saya lanjutin " Pantes anaknya ngga sopan, wong ibunya kayak elu"

Kedengerannya saya sadis banget, tapi emang si ibu ngeselin parahlah, dan si anak juga tengil abis dan tangannya itu lho ringan banget. Tapi sesadis-sadisnya, yang saya marahin saat itu ya ibunya.

( Baca : Things I Love About Me and Things I Hate About Me )


Kadang yah memang sebagai ibu kita tuh suka ngga terima kalau ada orang lain yang negur anak kita, apalagi di publik, makanya reaksinya kebanyakan defensif, boro-boro mengakui kesalahan walau jelas-jelas anak kita yang salah, tapi malah berlindung di balik kalimat " Namanya anak-anak"

Padahal kalau menurut saya sih, anak-anaknya sih ya memang anak-anak, makanya kita orangtua yang kudu waras. Lihat anak kita salah ya ditegur, lihat anak orang salah dan ada yang negur ya jangan sewot juga.

So kalau ditanya, negur anak orang lain, yay or nay? Saya mah Yay, 

Bukan karena sok campur urusan orang lain, tapi anak-anak itu memang fasenya untuk diberitahu kalau salah. Bukan kayak kita orang dewasa yang disinisin aja udah ngerti, tapi ya haus ditegur pake kata-kata.

Namun diliat-liat juga dan dipastikan bahwa menegurnya bener, bukan karena alasan cuma membela anak doang. Beberapa kondisi saya pernah negur anak orang

Rebutan Mainan

Lagi di playground, Tara lagi main dorong-dorongan stroller sambil bawa bola-bola, dikumpulin trus dimasukin ke rumah-rumahan. Ada anak tiba-tiba nyerobot, ngerebut stroller yang dipegang Tara, saya ngga akan segan untuk negur " Ntar ya nak, kawannya masih main, ntar gantian". kalau jelas-jelas saya lihat Tara juga baru mainnya, saya ngga akan suruh Tara gantian saat itu, yang saya minta ya si anak lain untuk sabar nunggu.

Sama juga kalau Tara yang mau ngerebut mainan anak orang, ya Taranya yang saya bilangin. 

Ngga mau gantian

Kebalikan dari kejadian di atas, pernah juga di playground ada anak yang ngga mau gantian main mobil-mobilan yang dijalanin pake kaki itu lho. Udah hampir 15 menit saya lihat dia terus yang main, anak lain mau main ngga dikasih. Biasanya kalau yang begini saya pilih bilang ke mba penjaganya untuk nyuruh si anak gantian sama anak lain.

Paling kesel tuh kalau ada ortunya dan anteng aja anaknya monopoli satu mainan. Namanya main di playground ya harusnya gantian, karena anak lain juga kan kesitu pengen main, bukan pengen ngeliatin anak lain main doang.

Tara kadang gitu, suka monopoli mainan  dan ngga mau gantian juga, ya sayanya yang bujuk Tara buat main yang lain.


Ngomong kotor

Nah ini misal lagi main rame-rame, trus ada yang nyeletuk kata kasar atau ngomong kotor, kayak nama binatanglah gitu. Saya pasti reflek ngingetin " Eh ngga boleh ngomong gitu nak, pantang yah".

Kenapa?

Ya soalnya kalau anak lain denger ntar ikutan juga, kalau ngga ada yang negur bisa-bisa mereka pikir itu kata biasa.

Begitulah. Sebagai orangtua memang pasti naluri kita untuk selalu membela anak sendiri dan cenderung marah kalau anak kita ditegur, namun kalau bukan dari kita-kita nih sebagai ortu yang nunjukin hal yang benar sama anak-anak kita ya siapa lagi.

Namun beberapa hal yang mungkin harus kita perhatikan saat menegur anak orang lain 

1. Bersikap Netral

Kita lihat dulu masalahnya apa. Walau anak kita yang nangis belum tentu anak kita yang dipihak benar. Makanya netral dulu, setelah tau apa masalahnya baru boleh tegur.

2. Jangan Membentak

Saya pribadi kalau ada yang membentak anak saya, wah bisa saya bentak balik tuh orang, LOL. Makanya saat menegur anak orang lain juga kita harus dengan cara baik. Gunakan kata nak, sayang, adek, atau sebut nama kalau kenal. Ngomongnya juga baik-baik ya sama kayak kita negur anak kita.

Kalau kejadiannya sama keponakan gitu lebih gampang, bisa negur sambil peluk anaknya.

3. To The Point

Kalau mau negurnya soal rebutan mainan ya itu aja yang dibahas. jangan malah melebar kemana-mana, ngungkit-ngungkit kesalahan yang lain .

4. Haram main Tangan

Yiaya ya bukan anak sendiri ini. Lha anak sendiri aja ngga boleh main tangan apalagi anak orang. Jadi jangan nampel tangan anak orag, mukul, apalagi nampar. wah bisa berabe ntar.

5. Hindari pelabelan negatif

Penggunaan kata anak nakal, anak bandel dan sejenisnya, malah melukai dan bisa mengganggu psikologis anak.

Pokoke apa yang kita ngga mau orang lain lakukan ke anak kita ya jangan lakukan. Itu aja.

Karena kepedulian orangtua termasuk keberanian untuk menegur perilaku anak orang lain bisa melindungi anak kita dan anak-anak lain dari pembiaran-pembiaran hal yang jelas-jelas salah.

Kalau kalian, tipe yang diem dan sebodo amat sama anak orang lain, atau tipe yang mau negur nih kalau anak orang lain salah?








Bermain Sepatu Roda

Saturday, September 23, 2017



Udah beberapa bulan ini Tara punya hobi baru. kalau yang follow Instagram saya (Follow dong kakaaaa di @winditeguh ), pasti pada ngeh Tara lagi maruk-maruknya main sepatu roda. Hampir tiap minggu sama papanya dibawa main ke USU. Soale di USU ada aspalnya jadi enak buat main sepatu roda, kalau di komplek perumahan kami ngga bisa soalnya jalannya dari batako, jadi ngga rata. Duh suseh ya, mau main aja harus ke USU hahaha.

Awal mula Tara suka main sepatu roda itu gegara pas main ke rumah sepupunya di Jakarta pas lebaran kemarin. Lihat kak Icha dan bang Aqlannya main sepatu roda, dia pun langsung pengen. Pulang dari Jakarta langsung tiap hari nagih minta dibelikan sepatu roda. Duuuh, anaknya reaktif nih kayak emaknya hahaha.

( Baca : Things I Hate About Me )

Nah, gara-hara sering instastory pas Tara lagi main sepatu roda, jadi banyak yang DM nanya-nanya. Beli sepatunya dimana, harganya berapa, mainnya gimana kok Tara kelihatan udah jago.

Yuklah kita jawabin satu-satu.


Beli Sepatu rodanya dimana?

Awalnya saya juga sempet bingung nih sepatu roda beli di mana. Pertama nyari ke SOGO, ngider-ngider di bagian sepatu anak, ternyata yang ada itu model sepatu roda buat fashion gitu alias dipake di mall, jelas ngga pas sama keinginan Tara. Lanjut nyari di segala sport station yang ada di Medan, ternyata ngga ada juga. Terakhir iseng nyoba cari di Transmart Carrefour Plaza Medan fair, dan ternyata ADA sodara-sodara #terharuuuu.

Jadi carilah di Transmart langsung, ngga perlu ngider-ngider kayak saya. Dia ada di lantai 2 Plaza Medan Fair, di bagian deket sepeda-sepeda dan mainan anak.

Kalau kamu males nyari di Carefour bisa juga lho cari online. Ngga usah khawatir ntar ukurannya salah karena ternyata sepatu roda itu punya ukuran yang unik.




Ukurannya ?

Jadi ternyata ukuran sepatu roda itu , untuk satu sepatu bisa dipake sampai 3 ukuran lho, baru tau saya. Jadi ukurannya itu modelnya misal :28-31. Artinya bisa dipake anak yang ukuran sepatunya 28-31. Dia bisa distel stel gitu panjang pendek sepatunya, jadi fleksibel banget mah untuk anaj-anak yang kakinya cepat banget ya bu ibu tiba-tiba udah bertambah panjang.

Itu tombol Pushnya bisa untuk melebar dan menyempitkan panjang sepatu


Oya, Tara pake sepatu rodanya yang model In line Skate ya.


Harganya?

Tenaaang, harganya ngga bikin kantong emak bapaknya bolong kok. Karena saya belinya di Carrefour ya jadi harganya memang ngga mahal-mahal amat, soale dia bukan barang branded sih ya. Sekitaran 250 ribu- 400 ribu tergantung merknya. Kalau punya Tara itu harganya 260 ribuan. Ada juga yang jual di ELC gitu sejutaan, tapi saya sayang mah, soalnya Tara anaknya bosenan, jadi ga apalah yang murce-murce ya, hahahah. #emakmedit


Kok Tara langsung bisa?


Ini banyak yang nanyain, kok tara cepet banget udah bisa main sepatu roda.

Hahahaha, sebenernya ngga lho. Tara mah jatuh-jatuh terus, kalo saya pas videoin itu yang pas lagi oke oce ya karena emang dipilih yang diaplod, xixixix.

FYI untuk sepatu roda Tara, saya memang ngga pakein ala in line skate, tapi di roda belakangnya itu saya pasangkan rodanya dua-dua bersebelahan ( bukan segaris), jadi bagian belakang nopang berat badan Tara, makanya seolah-olah langsung bisa hahahahah ( bongkar rahasia).



Caranya, ntar distel aja rodanya, di paketan pas beli sepatunya ada kok, besi, mur, baut, dan obeng untuk mengaturnya. Atau kalau males rempong ya minta bantuan si abang carefor aja buat nyetelin.

Kok ngga dipasang segaris aja?

Soale main sepatu roda sama Tara itu untuk have fun. Tara itu anaknya mutungan, dulu pas diajak renang pertama kali, saya pakein pelampung yang tangan, trus dia kayak mau tenggelam gitu, sejak itu ogah banget diajak renang, sekarang sih udah mau lagi. jadi saya ngga mau Tara putus asa duluan hahaha, biarinlah dia hepi-hepi dulu main sepatu rodanya, ntar kalo dah gape baru kita sebarisin rodanya.

Jadi buat bu ibu yang pengen anaknya main sepatu roda tapi khawatir anaknya ngga bisa dan jatuh-jatuh, ngga usah khawatir dan ragu lagi, ngga bakal jatoh kok.

Tapi emang kalau saya pikir-pikir, Tara termasuk cepet bisa sih ya (emaknya muji-muji anak sendiri). Ya gimanaaaaaa tiap malam di rumah dan kamar jadi arena sepatu rodanya dia sih huhuhu.

Perlengkapan Lain?

Nah biar main sepatu rodanya aman, lengkapi si anak kita dengan helm, pelindung siku, dan pelindung lutut. Set dah sok nasehatin orang, Tara aja belum saya beliin pelindung lutut dan siku. Soalnya ngga sempet-sempet beli.

Tuh sebenarnya Tara punya helm, tapi kadang emaknya lupa bawain 


Tipsnya

Tips main sepatu roda ala Tara sih cuma satu, pas main, ajarin anaknya nyelarasin antara gerakan tangan dengan kaki aja. Kalau saya, biasanya di rumah, saya peragain seolah-lahh saya main sepatu roda juga, saya gerakkan tangan ke kanan dan ke kiri, dengan posisi kaki huruf V.

Jadi gini, ayunkan kedua tangan ke arah yang sama bersamaan, misal ke kanan, maka kaki kanan yang melangkah duluan, begitu sebaliknya. Mudah-mudahan bisa cepet bisa kalau caranya bener. Search di youtube aja deh banyak.

Yang Harus diperhatikan

Jangan lupa pakai kaos kaki ya, dan pake celana panjanglah saat main, biar kakinya ngga lecet-lecet. Terakhir, si anak jangan diberi beban saat main sepatu roda. Jangan dipaksa harus mahir. Kalau bagi saya sih, ngajak Tara main sepatu roda cuma buat seneng-seneng aja, having fun daripada anaknya main gadget terus di rumah (Tara si hantu gadget).

Di rekam, trus tunjukin ke anaknya kalau udah selesai, pasti anaknya hepi banget.

Ya udah deh, selamat main sepatu roda kawan-kawan Tara semua.









Semua Anak Akan Ke Toilet Pada Waktunya

Thursday, August 24, 2017


Mau nulis tentang toilet training Tara dari setahun lalu, ngga jadi-jadi. Mumpung inget ya udah ditulis sekarang aja. Better late than never lah ya.

Saya banyak baca cerita ibu-ibu soal proses toilet training anaknya. Ada yang cerita betapa susahnya mendisiplinkan anak untuk pee dan poo di toilet, namun ngga sedikit juga yang cerita tentang betapa mudahnya anaknya melakukan toilet training. Bahkan ada temen di circle blogger saya yang anaknya udah diajarin toilet training sejak usia 6 bulan #pingsan

Kalau Tara gimana?

Hahahahaha, ketawa dulu, kemudian minum, kemudian ketawa lagi.



Sejujurnya saya pernah lho berusaha mengenalkan toilet training ke Tara. Pakai teori yang ada di internetlah. Tiap setengah jam di bawa ke kamar mandi disuruh pipis. Tapi ngga berhasil sodara-sodara. Pipisnya malah berceceran dimana dia main. Akhirnya ya udah saya pakaikan pampers lagilah daripada rumah kena pipis semua.

( Baca : Toilet Training Ala Tara )

Saya memang sama sekali ngga pake potti pottian dalam toilet training. Karena saya jijikan. Iya, geli aja anaknya pipis atau pup di potti, trus saya harus bersihinnya. Kalau langsung nyebokin anak mah saya ngga jijik, tapi kalau udah keluar trus terletak gitu di suatu tempat kan geli yah. Kalau saya aja geli, jadi bisa saya pastikan mbanya yang jaga pasti geli juga, makanya ngga pake potti-pottian, langsung aja beli dudukan toilet , jadi kalau mau pee or poo ya langsung di toilet.

Dulu saya pernah cerita kalau Tara di daycare diajarin buang air di toilet, jadinya dia terbiasa, tapi ternyata abis ngga di daycare lagi, eh dia lupa soal toilet trainingnya, balik maning pipis dimana-mana. 

Setelah itu, saya ngga melatih Tara lagi untuk toilet training, ya saya anggap aja anaknya emang belum saatnya bisa pipis dan BAB sendiri #dasarpemalaskau

Baru saat usia Tara 3 tahunlah, alias baru tahun lalu akhirnya dia berhasil ngga pakai pampers lagi kemana-mana.

Apa rahasianya?

Rahasianya adalah karena Tara sekolah, dan di sekolah ngga boleh pake pampers. Udah gitu aja, yeaaaaay. Pengen peluk-peluk ibu guru deh, soalnya saya ngga usaha macem-macem, anaknya bisa ke toilet sendiri. 



Sekarang mah udah cincay. Dalam setahun ini, bisa dihitunglah Tara kebobolan ngompol kalau malam. Paling cuma dua tiga kali, itu pun kalau dia sorenya main lompat-lompat, dan ketiduran sebelum sempet pipis dulu.

Nah, di postingan ini saya bukan mau cerita soal betapa mudahnya anak saya toilet training. Lha ya memang ngga mudah , wong Tara baru bisa bebas pampers usia 3 tahunan kok. Makanya saya mau bilang ke ibu-ibu sekalian, toilet training itu ngga usah dijadikan target anak atau projectnya ibu. Selambat-lambatnya ntar pas masuk sekolah kebanyakan bisa buang air di toilet dengan sendirinya.

Kalau bu ibu punya banyak waktu untuk ngajarin toilet training ke anaknya ya silahkan tapi jangan terbebani kalau belum berhasil. Bagi ibu-ibu yang ngga punya waktu khusus buat melatih anaknya, ya ngga apa juga, pelan-pelan saja, despacito ya bu ibu.

Nikmati aja masa-masa si anak masih mau pake pampers, karena artinya saat kita jalan-jalan ke mall atau kemana gitu ngga perlu repot ke toilet kalo anaknya mau pipis.

Saya sejak Tara bebas pampers, kadang pas di mall lagi asik belanja eh tiba-tiba doi minta pipis itu, rasanya maleees banget nganter dia ke toilet mana toiletnya jauh lagi, hadeeeeeh, makanya nikmati aja ngga usah dibawa stress apalagi banding-bandingin ke anak artis, wueleh.

Ingaaa ingaaa semua anak akan ke toilet pada waktunya.


Salam bahagia.




Sekolah Itu Ada Gunanya Ngga Sih ?

Wednesday, July 19, 2017

Masih nyambung nih dengan tulisan saya kemarin tentang hari pertama sekolah. Kali ini mau bahas soal penting ngga sih masukin anak ke sekolah dan penting ngga ilmu-ilmu yang kita pelajari di sekolah tersebut.

( Baca : Hari Pertama Sekolah dan Perjalanan Mencari Sekolah Idaman )

Alert: ini bakal panjang banget.


Kenapa sampai muncul pertanyaan ini. Saya ambil paragraph terakhir di tulisan saya sebelumnya yah. Karena saya banyak membaca pendapat orang-orang yang mulai meragukan fungsi sekolah.



Kemarin tulisannya udah kepanjangan jadi disambung dimari, xixixi.

Baca punya Gesi :


Ngga bisa kita pungkiri sih, system pendidikan yang disajikan sekolah-sekolah di negara kita ini belum memuaskan. Dimana parameter untuk menilai hasil belajar anak itu dipukul rata, yaitu nilai UN dan angka-angka di raport. Makanya ngga heran banyak orangtua yang mulai mencari alternative lain untuk pendidikan anaknya.

 Home schooling salah satunya. Demi terbebas dari system pendidikan yang pukul rata tadi.

Rata-rata pendapat orangtua yang saya baca nih, bisa saya simpulkan.


⇔ Sekolah hanya mengajarkan anak menghapal tanpa tahu esensi ilmunya


⇔ Capek-capek mempelajari ilmu eksak, fisika, kimia, math, malah ngga ada gunanya sama sekali di kehidupan, ngga terpakai di dunia nyata

⇔ Sekolah rawan bully, anak bukannya aman malah berbahaya di sekolah


⇔ Sekolah sekarang apa-apa duit mulu, biaya banyak, hasilnya ngga ada


⇔ Sekolah hanya menjadikan anak berorientasi ke hasil tanpa peduli proses


⇔ Sekolah tidak mendidik anak siap terjun di dunia nyata, tapi hanya berkutat di teori semata.


Dan sebagainya-sebagainya.

Hmm menarik banget yah .

Saya mau mengutip kalimat Einstein dulu nih “ Jangan menilai ikan dengan kemampuannya dalam memanjat” karena pastilah si ikan akan kelihatan bodoh.

Saya setuju banget. 

Ini masih berhubungan nih dengan 8 type kecerdasan anak. Bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan masing-masing. Ada yang cerdas dalam bermusik, seni, sains, olahraga, intrapersonal, kecerdasan linguistic, alam, dsb. Cari sendiri ya 8 jenis kecerdasan anak.

( Baca : Kenali Potensi Anak Sejak Dini )

Karena perbedaan kecerdasan inilah, makanya system pendidikan di sekolah konvensional itu ngga akan bisa berlaku adil dalam penilaiannya. Ya gimana, yang diuji di UN mah cuma mata pelajaran tertentu. Jadi kesannya untuk anak-anak yang sama sekali ngga tertarik di bidang eksakta, atau bidang bahasa, bisa-bisa nilainya bakal jeblok banget. 

Kembali ke kalimat Einstein tadi , kita ngga mungkin dong mengukur kemampuan anak yang kecerdasannya adalah bermusik dengan menguji matematika misalnya. Karena parameternya jelas berbeda.

Namun, apa ini jadi alasan kita nih mencibir system pendidikan sekolah di Indonesia? Apa langsung jadi bisa kita simpulkan bahwa percuma sekolah bertahun-tahun ngga ada faedahnya sama sekali, ngga ada gunanya semua pelajaran yang kita enyam dari SD sampai kuliahan tersebut?

Disclaimer: saya hanya membatasai dua hal di atas saja, ngga bahas melebar ke hal lain.

Seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, ada puluhan juta anak sekolah yang harus dipikirkan pemerintah, dengan puluhan juta keinginan yang berbeda-beda pula. Tentu tidak semua keinginan ideal kita sebagai orangtua bisa terealisasi. Saat ini mungkin pendidikan-pendidikan formal tersebut dirasa paling bisa diaplikasikan untuk dana yang ada dan kapasitas sekolah serta guru-gurunya.

Trus gimana dong solusinya untuk anak-anak kita agar usianya ngga sia-sia dihabiskan di sekolah?

Sebenarnya alasan utama para orangtua tersebut berpendapat bahwa sistem pendidikan sekolah kita acakadut dan unfaedah karena kita ini kadang suka berpikir terlalu praktis.

Kita mikirnya ya kalau anakku maunya jadi pelukis ngapain belajar fisika?

Kalau anakku maunya jadi pengusaha real estate kenapa harus pusing dengan ilmu biologi.

Mikirnya pokoknya anak mah diarahkan aja di satu bidang khusus, biar ahli, ilmu yang lain ngga perlu karena seperti pengalaman kita selama ini, sekolah dan belajar lebih dari 5 mata pelajaran, toh malah ngga ada yang kepake.

hahahahahaha


Kurleb seperti itu.

Benarkah?

Bisa jadi benar.

Kayak Valentino Rossi tuh sejak kecil sudah diarahkan jadi pembalap, dilatih balapan dari cimut-cimut ya memang hasilnya jadi pembalap profesional.

Saya ada mengenal beberapa orang yang sudah tau apa yang menjadi minatnya dari kecil. Dia sudah tau dari kecil bahwa dia sukanya menulis misalnya,jadi sedari kecil ya bener-bener diarahin hanya membahas karya-karya sastra saja, diajarin memilih diksi yang bagus. Untuk anak-anak seperti ini tentu orangtua tidak akan mengalami kesulitan untuk mengarahkan minat dan bakat si anak.

Namun, ngga semua orangtua dan ngga semua anak bisa kelihatan bakatnya sejak dini. Banyak banget orang yang tahu apa yang paling disukainya setelah dewasa. Mungkin kamu salah satunya. Dan memang berdasarkan penelitian (saya pernah baca tapi kali ini ngga cantumin sumbernya , ntar kapan kapan saya cari lagi referensinya) bahwa manusia itu banyak yang ngga hanya punya kecerdasan sebiji doang, bisa juga dia punya kecerdasan multitalented, jadi mempelajari banyak hal ini sama sekali ngga ada ruginya.

( Baca : Menemukan passion )

Apalagi jenis-jenis sekolah yang terfokus seperti itu biayanya lumayan mahal yah. Saya nanya temen tuh untuk sekolah musik, biaya daftarnya aja bisa puluhan juta rupiah, belum alatnya, belum kalau mau konser, llalalala bisa-bisa satu tahun sekolah dana yang harus disediakan 300 jutaan sendiri.

Karena biaya mahal tersebutlah, kemungkinan yang bisa disediakan pemerintah ya sekolah-sekolah umum yang ada seperti saat ini.

Makanya menurut saya, bukan saatnya menyalahkan institusi bernama sekolah dalam kegagalan pendidikan di Indonesia, apalagi menganggap bahwa sekolah hanyalah institusi penghasil ijazah semata.

Sebenarnya saat ini sudah banyak pilihan sekolah untuk anak-anak kita. Saya ngomonginnya untuk jenjang TK sampai SD aja ya, karena saya belum nyari tau sampai jenjang SMA.

Bagi anak yang suka kegiatan outdoor ada sekolah alam yang bisa jadi pilihan.

Anak yang suka berkarya macem-macem, utak-atik ina inu, bisa masuk sekolah montessori.

Anak yang sukanya kegiatan mikir kayak nyusun balok, main lego, belajar di kelas, ya banyak sekolah seperti ini.

Untuk anak yang sukanya menghapal (iya ada kok anak yang suka menghapal) dan pengen jadi hafiz Qur'an misalnya ya ada juga sekolahnya.

Bahkan TK sekarang ada yang kurikulumnya internasional, alias pake dua sampai tiga bahasa gitu sebagai pengantarnya.

Itu belum termasuk kursus-kursus yang ada. Kayak kursus masak untuk anak, kursus menggambar, kumon, kegiatan outbond anak, dll.

Mungkin kendala utama ya dibiaya. Makanya pilihan sekolah-sekolah umum yang disediakan pemerintah menurut saya ya masih bisa menjembatani keinginan orangtua.

Caranya, ya dengan si orangtua turut kreatif menambahi apa yang tidak didapat di sekolah tadi.


Yang namanya anak-anak terkadang memang belum tau apa maunya, makanya sebagai orangtua kitalah yang mengarahkan dan memilihkan sekolah yang paling tepat untuk anak-anak kita sesuai bakatnya atau minimal sesuai karakternya.


Namun seperti yang saya bilang di atas, ngga semua orangtua bisa tau apa bakat anaknya sedari kecil. Dan ngga semua anak juga kelihatan apa yang menjadi minatnya sejak dini. Palingan kita hanya menebak berdasarkan kecenderungan yang kita lihat di anak.


Makanya peran sekolah mah yah tetep penting banget. Disamping sebagai sarana bersosialisasi ya sebagai penyaring minat dan bakat tersebut juga.

Keberhasilan pendidikan anak jangan diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Kita sebagai ortu yang harus aware kemana arah minat dan bakat anak kita. Kalau kitanya aja sebodo teuing trus malah nyalah-nyalahin pendidikan di sekolahan kan jadi lucu.


Gitu sih menurut saya. Soal kekhawatiran orangtua terhadap sistem pendidikan sekolah yang dirasa terlalu memaku anak di dalam kelas tanpa punya kesempatan bermain, solusinya adalah dengan memilihkan sekolah yang paling sesuai dengan karakter anak.

Jika ngga mampu di biaya, ya masukin saja ke sekolah umu, namun bekali dengan tambahan kegiatan di rumah.

Iya, jadi orangtua memang ngga mudah kok. :)


Pembahasan kedua yang sering dibicarain orang. Benerkah segala ilmu yang ngga ada hubungannya dengan minat dan bakat anak maka jadi tidak berguna?

Sering kan denger orang bilang, ngapain belajar math, fisika, kimia segala macem yang toh ngga akan terpakai di kehidupan nyata.


Iya, mungkin kita ngga bisa mengatakan dengan pasti apa gunanya angka phi yang kita pelajari jaman SD dulu untuk nyari kerja. Atau untuk apa persamaan reaksi kimia yang njelimet itu.

Buat apa tahu 1 mol itu sama dengan berapa gram, toh ngga akan dipakai untuk ngasuh anak misalnya .

Ngapain tahu rumus diferensial, integral segala macem yang sampe lipat tiga itu, buang-buang waktu aja.

Ini terjadi karena kita mikirnya instan, bahwa harusnya kegunaan rumus fisika itu harus kasat mata terpampang nyata di depan kita baru kita rasa itu punya manfaatnya.


Kita merasa ilmu itu ada manfaatnya saat langsung kelihatan hasilnya. Padahal sekolah itu adalah proses belajar.

Di sekolahlah anak diajarkan segala proses tersebut , ngga ujug-ujug ke hasil. Namun yang namanya institusi, ya gimana mau tau hasilnya kalau ngga ada parameter, maka parameternya saat ini mungkin yang bisa dibuat adalah nilai. Termasuklah nilai UN.

( Baca : Proses atau Hasil ? )

Balik lagi ke soal pelajaran eksak yang kelihatan unfaedah.

Saya mau pakai analogi kungfu ajalah.


Pernah lihat film Shaolin?


Kalau lihat film Shaolin dulu ntu ya, padahal tujuan akhirnya tuh untuk bisa kungfu, tapi di awal pendidikan si biksu shaolin itu malah disuruh yang ngangkat air lah, berlatih keseimbangan, berenang, berendam di air, sampai hal-hal yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan kungfu. Makanya ada di salah satu episodenya si murid yang melarikan diri karena menganggap ngga ada faedahnya dia belajar disitu, pengen jadi ahli kungfu kok malah disuruh nimba air.


Nah kayak gitulah saya rasa pendidikan. Mungkin ngga terlihat langsung faedahnya saat ini namun akan bermanfaat saat diaplikasikan di dunia nyata, di kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Karena ya memang namanya belajar itu ngga berarti kita ngomongin tentang rumus P = F/A , maka harus ada nih di kehidupan sehari-hari.


Tapi setidaknya kita jadi tau bahwa yang namanya tekanan berbanding lurus dengan gaya. Maka saat hidupmu tekanannya tinggi coba introspeksi siapa tahu gayamu kegedean, eeeeeaaaaa




So, makanya saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sekolah tidak mengajarkan apa-apa selain hanya pelajaran sosialisasi saja. Karena pelajaran bersosialisasi itu tidak sekedar " Hanya" lho.

So kalau ada pertanyaan, buat apa capek-capek belajar segala ilmu eksakta, rumus fisika, kimia, math yang njelimet padahal nyatanya tidak pernah sekalipun dipakai di dunia nyata.

Buat apa belajar fisika kalau mau jadi pemain biola.

Nah disini mungkin perlu kita tanamkan bahwa yang namanya ilmu pengetahuan itu saling kait mengkait, tidak bisa berdiri sendiri. Even kamu pengennya jadi pemain musik aja, kamu tetap perlu ilmu lain.

Saya kasih contoh saat kita mau main musik, main biola deh contohnya.

Saat ingin bermain musik, kamu  ngga cuma butuh belajar not atau tangga nada doang. Kamu juga butuh alat yang bernama biola.

Biola itu dibuat pake apa? pake ilmu padi? pake ilmu fisikalah, tentang gesekan, tentang resonansi, tentang keluar masuk udara maka akan menghasilkan bunyi.

Atau kalau kamu mau jadi dokter, emangnya kamu cuma harus tau soal anatomi tubuh aja, hanya harus gape soal penyakit?

Ya kagak.

Kamu nyuntik pakai apa?, periksa kandungan pake apa? operasi pake apa?

Nah itu semua memangnya yang nyiptain ilmu kedokteran?

Ya kagak.

Disitu ada ilmu tentang gelombang alfa, omega, infrared, laser, you name it, biar tahu panjang gelombang mana nih yang pas buat membasmi kanker. -----> ini ilmu fisika

Untuk nyiptakan alat-alatnya juga mesti diperhatikan bahan mana yang tidak bereaksi dengan obat, tidak bereaksi dengan kulit manusia, mana yang cuma sebagai katalisator, mana yang merupakan zat inert ------> ini ilmu kimia.

So semua ilmu itu saling kait mengkait. Ngga ada ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Jadi plis buang jauh-jauh pikiran bahwa sekolah ngga guna karena terlalu banyak ngajarin hal-hal yang ngga guna langsung di kehidupan.



Jadi pointnya apa?


Point yang ingin saya sampaikan adalah:

Bahwa memang pendidikan di sekolah itu ya tujuannya bukan membentuk sim salabim abakadabra, masuk adonan kue dibentuk nastar , masuk oven maka keluarnya nastar. Ya ngga kayak gitu. Sekolah itu adalah bagian dari proses belajar. Ya termasuk belajar social, empati, tenggang rasa, ilmu eksak, sastra, agama, kemanusiaan, kerjasama.



Termasuk juga dapat pengalaman ketemu cowok brengsek yang nantinya bisa dijadiin bahan buat tokoh antagonis di calon novelmu. 

#curhatalert


Kemudian.

Sebagai orangtua kitalah yang paling bertanggung jawab mencarikan sekolah atau sistem pendidikan paling pas untuk buah hati kita. 

Bukan pemerintah bukan pula pihak sekolah.

Mereka menyediakan, kita yang memilih.

Mereka tak menyediakan, kita cari yang menyediakan.

Tidak ada juga?, combinelah pendidikan di sekolah dengan kreativitas ortu.

Kalau menurut kalian sekolah tujuannya biar bisa cari duit, mungkin memang sekolah itu ngga ada faedahnya. Ya mending langsung belajar dari koko-koko di pasar sambu.

Kalau kita masih berfikir bahwa sekolah harusnya menghasilkan produk siap jadi, ya pilihlah sekolah kejuruan.

Saya percaya bahwa apa-apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil akumulasi dari pengalaman hidup, pendidikan dan proses berfikir .

Iyes setuju yang namanya belajar ngga harus di sekolah, bisa di rumah, di mesjid, di jalan, dimana saja.

Saya setuju, yang nilainya paling bagus di sekolah ngga menjamin hidupnya bakal sukses ( ini harus dibahas lagi, parameter sukses itu seperti apa?)

Saya juga setuju lulusan S3 ngga menjamin lebih sukses dari lulusan SD misalnya (ada rezeki, nasib, keturunan yang mempengaruhi yes?)

Ya memang ngga ada jaminan 100% apapun di dunia ini. Tapi data kan berbicara, bahwa orang yang well educated kebanyakan lebih bisa bertahan hidup dimana-mana. karena memang sistemnya masih seperti ini.

Kalaupun ada orang yang tanpa sekolah bisa berhasil, coba hitung berapa persen, dan latar belakangnya seperti apa. Namun tetep dah  tidak ada ruginya sekolah.

Dan bahwa kesuksesan itu ya memang faktornya bukan cuma pendidikan di sekolah. Ada IQ, EQ, dan SQ. Intelegent, Emotional, dan Spiritual.

Sekolah hanya salah satu faktor dan sarana di dalamnya.


Jadi ngga ada yang namanya ilmu itu ngga bemanfaat walaupun tidak kita manfaatkan saat ini secara utuh, tapi tanpa sadar sudah menyertai hari-hari kita.

( Baca : Iman dan Ilmu )


So ibu-ibu, sekolah ya , sekolahin anaknya. Sekolah ngga cuma untuk dapat ijazah , sekolah itu sarana untuk memperkaya batin dan menutrisi otak dan belajar dari orang yang sudah lebih tahu sebelumnya.

Coba mindset masukin anaknya ke sekolah itu diubah dulu.

Sekolah itu sistem terkecil pertama tempat kita mengenalkan kehidupan bermasyarakat ke anak.

Apapun sekolah yang menjadi pilihanmu teruslah belajar, dan berkarya, karena ngga ada ilmu yang sia-sia.

Selamat belajar semuanyaaaa.

Gambar dari FB Maghfirare.









Custom Post Signature