Showing posts with label #banker's life. Show all posts
Showing posts with label #banker's life. Show all posts

Mempertanyakan Gaji

Friday, April 20, 2018



Wow judulnya sungguh karyawan banget yah. Kentara banget termasuk #sobatqismin abad ini yang masih hidup dari gaji.

Tadi siang ngobrol sama Icha, nanyain dia sekarang kerjanya ngapain aja di Femaledaily, karena yah sejujurnya aku sangat iri dengan orang-orang yang kerja di media. Bayangin aja bisa nulis tiap hari dan digaji, DIGAJI untuk hobi kita, wow sungguh lifegoals. Trus kata Icha, kerjaan dia salah satunya nulis artikel. Trus aku bilang dong yah, wah untung banget kantor kamu, kamu nulis di situ setiap hari tapi gajinya bulanan, itu kan jadi seperti dapat job blog tapi dibayar gelondongan #kemudianngitung bayaran satu artikel dikali 25 hari dikali rate blog wahahahaha.

Trus dijawab sama Icha " Ya kaleeeee nulis di media beda dong ah sama nulis blog"

Trus akhirnya Icha jembrengin kerjaan orang-orang media.

Aku baru tau kalo ternyata orang-orang media itu nulis artikel banyak banget ya sehari, bisa sampe puluhan, wow, kalo blog pribadi dapat job puluhan artikel sebulan, dapetnya bisa lebih gede tuh.

Trus deh akhirnya itung-itung gaji dan mulaaaaai mempertanyakan " Gaji gw segini sebenernya pantes ga sih untuk gw"

Nanya gitu udah jelaslah ya, maksud pantesnya bukan karena gedean tapi karena ya gitu suka iri sama rumput tetangga. Kalau di bank apalagi, sesama bank plat merah udahlah ya para pekerjanya pasti suka banget membanding-bandingkan gaji temen dengan jabatan serupa.

" Yah kok gaji dia lebih gede sih"

Ngga usahkan sama perusahaan yang sejenis, aku sama suami aja masih suka banding-bandingin gaji kami.

" Dek, coba itung gaji ade kalo dibagi hari dibagi jam, dapetnya berapa tuh, yakin gaji ade gede?"

Minta digampar kan yah suami aku.

Karena yang namanya pekerja mah, manaa ada yang pernah merasa kalau gaji yang didapatnya itu gede. Pasti merasanya kuranglah, kekecilanlah, harusnya aku dapet lebih gede dari inilah, sampe lama-lama bandingin sama penghasilan driver Gojek.

" Ini kalau hari Sabtu aku disuruh lembur, paling dapat berapa, coba kalau aku ngegrab, bisa dapat 4-5 kalinya nih dari uang lembur"

Hayoo siapa yang sering selftalk kayak gitu, hahahaha. #nuduhnggotasendiri.

Ngebayangin pasti lebih enak jadi pengusaha. Sama-sama kerja 25 hari tapi hasil pasti jauh lebih gede. Ini kejadian kalau saya lagi OTS. Kayak yang, "Astagaaa aku sok-sok ngasih kredit sama nih pedagang, gaya aja keren tapi kere" hahaha. Karena kalau lihat pedagang-pedagang di pasar itu, inang-inang di pajak, mereka mah pakaiannya kumel tapi penghasilnya jauh lebih besar dari pegawai bank yang petantang petenteng ke sana ke sini.

Normal sih ya, namanya manusia yang punya akal dan nafsu (bawa-bawa nafsu), pasti pengennya lebih dan lebih. Plus dikipas-kipasin sama syaiton ni roojim jadi suka merasa ga bersyukur, merasa iri, dengki dan penyakit-penyakit hati lainnya #gantiinmamahdedeh.

Tapi kadang kita suka lupa sama beberapa hal soal gaji ini. Mungkin di gaji beda, tapi di hitungan komponen lain ternyata kita lebih diuntungkan. Kayak soal kebebasan berpendapat misalnya, belum soal penempatan, soal jam kerja, trus soal kemudahan ngajuin cuti, soal kemudahan mengklaim pengobatan, termasuk soal kesempatan berkarir dan kesejahteraan lainnya.

Makanya bener-bener ngga bisa dibandingin. Pasti ada satu dua hal yang memang membedakan dan ntar ujung-ujungnya ya jadi square.

Kayak di grup kuliahku tuh, terkadang tanpa sengaja jadi membuka topik soal penghasilan. Sebagian besar mah temen-temenku yang ngga murtad dari jurusan kuliah, pasti kerjanya di Pertamina, di Medco, di Rekin, Total dan perusahaan-perusahaan sejenislah. Yah kalo bayangin gaji mereka tentulah kayak langit dan bumi dengan banker , hahahah #kemudiansedih.

Di grup itu, yang banker kerjaannya yang "Ayo dong bikin kartu kredit di aku, ayo dong gironya, tabungannya, investasinya sama aku aja", #sobatqismin.

Tapi aku ngga pernah iri sih karena ya udah bayangin kerja di perusahaan-perusahaan energy gitu pasti pressurenya lebih gede, dan ngepake otak lebih banyak #bagussadaryasis. Belum lagi kemungkinan mereka yang kerjanya di off shore, harus jauh dari keramaian, atau jauh dari fasilitas umum, yang bisa aja juga terpapar gas dan zat-zat yang mungkin membahayakan kesehatan.

Aku dulu pertama kerja kan di perusahaan gas gitu. Sebulan kerja, langsung opname seminggu wahahaha #dasar lemah kau. Ya gimana, tiap hari, kalau ngga kena panas pas di pabrik ya kena AC di control room yang dinginnya amit-amit. Udahlah, badan langsung remuk redam, mana pake sepatu safety yang beratnya ampun deh, dan yes make up luntur terooos, ga guna banget lah pake eye shadow dan sejenisnya. 

Itu masih soal fasilitas dan tantangan kerjaan, belum bicara soal pengalaman yang bisa di dapat. Mungkin pekerjaan kita saat ini gajinya yah pas-pas buat ngemall, nyekolahin anak, dan JJS ke kota sebelah doang, tapi kesempatan kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, kesempatan ketemu masalah hidup orang, kadang menjadi hal-hal yang ga terukur.

Iya lho, ketemu masalah hidup orang itu kayak dapat guru tapi ngga bayar belajarnya. Kayak di kerjaanku sekarang, dengan anggota yang usianya beragam plus dengan masalah masing-masing, aku tuh mau ngga mau kadang jadi lebih tua dari umurku #plisakumasihmudalho.

Mulai dari masalah keluarga, masalah kerjaan, masalah utang piutang, masalah antar rekan kerja, drama mutasi. Jadi tau sudut pandang orang-orang dalam menghadapi masalah.

Yang dulunya, aku seringnya bersikap hitam atau putih kalau memandang masalah orang, sekarang aku punya warna lain, ya ada abu-abu, ada merah, kuning, hijau di langit yang biru.Belum lagi kalau pas kebetulan lagi membagikan bantuan pemerintah ke masyarakat, dengerin curhat mereka trus jadi membatin sendiri " Demi 110 ribu aja sampe ngantri gini ya, makanya jangan sampe ngelama-lamain bantuan deh"

Pokoke, menurutku tiap pekerjaan pasti punya nilai tambah dan ada hal-hal yang bisa kita dapat di luar itung-itungan gaji.

Kayak temenku tuh pernah cerita, dia kerja di media (kembali ke media) yang gajinya, yah mungkin dua kali ngemall juga abis, tapi dia bisa terbang kemana-mana, mewawancarai tokoh-tokoh nasional dan tokoh dunia. Melihat orang-orang yang statementnya menjadi penentu nasib bangsa. Seru banget kan. Walau gaji cuma lebih dikit di atas UMR tapi bisa ngobrol bareng Lee Min Ho tanpa harus berdesak-desakan, kan enak banget yah #recehologi.

Kita suka lupa bahwa membandingkan gaji kita dengan orang lain itu sebenernya meh banget. Karena ya mana ada sih gaji yang bisa apple to apple dibandingin. Pasti ada aja pembeda antara satu kerjaan dengan kerjaan lain.

Makin ke sini aku makin mikirin soal rezeki dan kok rasanya ngga pantes banget masih mempertanyakan gaji yang aku dapat. Makanya jujur aja, kalau ada temen-temen yang riweh soal gaji, ngeluh soal gaji aku ngga mau ikutan. Bukan karena aku begitu ngga butuh duit sampe merasa terlalu cukup atau gimana atau karena aku udah sampe level manusia yang penuh syukur. Ngga juga sih. Tapi lebih ke, ya sadar diri aja bahwa yang namanya manusia memang akan selalu merasa kurang, makanya kalo dikeluhkan ya tetap akan merasa kurang, jadi ngapa harus ikut-ikut ngeluh. Belibet kan yah.



Sekarang kalau ditanya soal gaji lagi, aku ngga mau komen hahaha, karena menurutku soal gaji sebenarnya setiap perusahaan pasti udah punya standard masing-masing. Tinggal kitanya sebagai pekerja mau nerima ngga. Kalau merasa seharusnya kita dibayar lebih dari itu, ya selalu ada pilihan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana. Namun sepanjang kita masih bertahan di tempat kerja kita, ya lakukan hal terbaik di job yang menjadi tanggung jawab kita.

Mulai berhenti berfikir kalau kita kerja tuh untuk atasan, atau untuk perusahaan, karena sebenernya kita kerja ya untuk diri kita sendiri. Kalau kita kerja bagus ya kembalinya ke diri sendiri, kalau kerja jelek ya balik ke diri kita juga.

Karena yang namanya kerja bagus atau tidak, ngga melulu harus dikonversi ke rupiah. Ada yang namanya pride, kepuasan, kepercayaan diri yang bisa didapat saat kita melakukan sesuatu dengan hasil memuaskan.

Analoginya tuh, kalau di masyarakat mungkin nilai diri kita dilihat dari seberapa pengaruh kita di lingkungan, seberapa bermanfaat kita dan dibutuhkan orang, nah di kantor juga gitu. Karena lingkungan kerja ya kantor kita itu jadi value diri kita ya memang mau ngga mau dinilai dari hasil kerja kita.



Ngga perlu khawatir atau marah-marah kalau apa yang kita lakukan ngga sesuai dengan kompensasi yang kita dapatkan. Karena kalau kita punya atasan pintar, dia pasti bisa melihat potensi yang ada di kita dan mempertimbangkannya. Mungkin dengan memberi reward, mempromosikan atau memberi penilaian kinerja yang memuaskan.

Karena jujur aja ya, sebagai atasan, aku kadang malu sama bawahanku yang kerjaannya tokcer kalau penghasilannya ga sebanding dengan kinerjanya. Pasti ada rasa tanggung jawab untuk memberinya lebih dibanding rekan kerjanya yang lain yang kerja seadanya. Tapi ya kaleee gw punya kekuasaan naikin gaji orang.  Palingan ya ngasi reward-reward yang masih dalam wewenang kita, kalau ngga bisa ya aku konversi menjadi "kemudahan", kemudahan meminta sesuatu, kemudahan cutilah, apa aja. Yang pasti dia ga akan sama aku perlakukan dengan yang kerjanya asal-asalan.

Kalau ternyata lu dapat bos yang ngga pintar gimana?

Ya ngga apa. Tetep kerja sesuai standar terbaik diri kita aja. Kalau si bos ngga bisa lihat juga, ya tinggal nunggu waktu aja, sampai lu nemu kerjaan yang lebih baik atau bos lain di luar sana yang nemuin lu, wakakakaka #rasainlubos.




Jadi kembali ke judul awal. Alih-alih mengeluhkan gaji, mempertanyakan penghasilan kita, ya selow aja, lakukan pekerjaan kita untuk diri kita. Percayalah yang namanya pekerjaan berserak di luar sana. Tinggal diri kitanya nih, pantes ngga buat diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Punya skill ngga?.  Kalau punya, dan merasa sekarang digaji terlalu kecil, cabslah cari yang lain. Jangan kayak pacar cranky yang ngeluhin pasangan ke sohibnya tapi disuruh putus ogah.

Namun kalau ngga yakin, ada perusahaan lain yang bisa menggaji kita dengan jumlah yang sekarang, yo wis kerja yang baik, tingkatkan kemampuan, dan berhenti mengeluh.

So, mari kita tutup postingan ini dengan himbauan untuk stop mempertanyakan gaji, tapi ganti dengan mempertanyakan bagaimana kualitas diri kita. Boleh tanya ke teman yang jujur kalau bicara atau tanya atasan. Input apapun terima dengan tulus ikhlas. Jangan pake perasaan-perasaan.

" Perasaan kerjaku dah bagus deh, kok aku dikasih nilai jelek" (tunjukin data)

Kadang memang kita ini sebagai pekerjanya banyakan main perasaan ya xixixi.

Semangat ya jadi karyawannya, hahahahaha.





Bijak sekali diriku sore ini.







Sebulan di Jakarta : Dari Ninggalin Anak Sampai Sendirian Diantara Para Pria

Saturday, April 14, 2018


Sebulan ngga update blog, kemana aja mbaaaa?.

Ke Jonggol hahaha.

Jadi ceritanya kemarin tuh aku pendidikan selama sebulan full di Jakarta. Mungkin karena dirikuh anaknya super narsis dan update di insta story terus jadi banyak juga yang nanyain beberapa hal. Kayak "Gimana itu anak-anak ditinggal sebulan"
sampai
" Lho mba Win pendidikannya cewek sendiri ya, waaah seru banget"

Iyaah pastinya seru banget, tapi ya seru-seru kangen sama anak.

Ada juga yang nanya, pendidikan apa sih, kok lama banget?

Ya sebenernya ngga lama sih. Di BRI mah biasa banget pendidikan berbulan-bulan. Bahkan dulu aku pernah pendidikan sampe 14 bulan. Gila ngga?. Ya ngga gila sih biasa aja. Paling cuma nangis-nangis pas nelfon suami karena rindu tapi kok ongkos mahal hahahah.

Aku kemarin pendidikan semacam development gitu, jadi ya memang agak seriusan. Di BRI itu ada juga pendidikan yang sifatnya cuma refreshing, kalo itu mah cuma 3 harian doang dan isinya biasanya lebih ke materi-materi soft skill. Kayak kepemimpinan, budaya kerja, dan review kebijakan-kebijakan terbaru.

Tapi kalo sifatnya development kayak pendidikanku kemarin memang agak serius. Materinya mayan dan ada ujiannya dong yah tiap materi. Makanya ya dibilang berat ga berat-berat amat, dibilang santai ya ngga juga. Mana di akhir pendidikan ada on the job training dan wajib bikin makalah plus presentasi, jadi ya gitu deh. Main-mainnya cuma ke mall doang ngga sempet yang jalan-jalan wara-wiri.

Beberapa temen ada yang ngajak ketemuan selama di Jakarta. Tapi akunya ngga bisa, huhuhu maaf yah, soalnya pulang dari Corpu (Corporate University) itu aja udah sore banget, jam setengah enam gitu, nyampe hotel udah malam, ya teparlah, mana besoknya juga ujian.

Jadi sebulan di sana, aku cuma ketemuan dua kali sama Icha, dan ketemu sama Gesi dan Nahla doang. Sisanya tiap weekend nginep di rumah abang dan ngadem di hotel, bobok. Apalagi ditambah jadwal pendidikannya agak sedikit kamvretor, dimana Sabtu masuk dan tiap Senin dong yah ujian, jadi ya salam, mau pergi-pergi jauh juga takut kualat.

Ketemuannya sama mereka doang


Ninggalin anak sebulan gimana?

Ini pertanyaan yang banyak dialamatkan padaku. Karena memang sebulan itu mayan lama ya untuk ninggalian dua anak di rumah.

To be honest, aku termasuk mamak-mamak yang nyantai dalam hal meninggalkan anak di rumah. Maksudku bukan yang drama-drama mellow gitu. Makanya selama kerja, kalo ada tugas ke luar kota, termasuk lembur di kantor aku ngga terlalu panikan. Sepanjang ada yang jaga di rumah dan suami ngijinin mah aku hayuk ajah.

Dan untungnya yah, mas Teg itu memang support banget sama kerjaanku. Kayak kemarin, aku sempet yang ngomong "Wah kalau sebulan gini pendidikannya, aku mesti balik-balik nih mas tiap Sabtu".

" Haaah ngapain?"

" Ya kan, masa aku ninggalin anak sebulan sama mas"

" Ga apa ah, kan mas bapaknya, masa ngga percaya sih. Udah tenang aja, anak-anak aman sama mas"


Luuv banget kaaaan. Pas di tengah-tengah pendidikan, minggu kedua gitu aku sempet yang nanya lagi "Aku pulang ngga nih mas. Tapi kalau pulang berarti aku bolos sih sehari, karena Sabtu ada kelas"

"Ngga usaaaaah, adek selesain aja di sana, mas handle anak-anak"

Wow, sungguh suami kesayangan.

Makanya kalau ada yang nanya gimana ninggalin anak sebulan, ya memang ngga gimana-gimana. Anak-anakku ada yang jagain di rumah. Soal logistik dsb mah gampang, asal ditinggalin duit, kulkas diisi penuh sebelum berangkat, ya udah lancar-lancar aja.

Anaknya sendiri gimana?

Nah ini aku ngga tau ya mau gimana jelasinnya. Mungkin karena udah terbiasa melihat aku kerja, maka saat ditinggal lama gini, aku cukup ngomong yang sebenernya aja ke mereka. Terutama ke Tara sih, karena Tara yang udah nalar, kalau Divya karena masih 2 tahun belum terlalu ngerti.

" Tara, bunda mau pergi kerja tapi agak lama boleh ngga?"

" Hwaaaa bunda mau ke mana? Tara mau ikut sama bunda, Tara mau ikut bunda kerja" (mulai drama)

" Ya ngga bisa, kan Tara sekolah, lagian kasianlah papanya ditinggal sendiri kalau Tara ikut bunda"

" Tapi lama ngga?"

" Lumayan. Ntar bunda telfon tiap hari, oke"

" Huhuhuhu tapi mau ikuuuut"

" Besok sebelum berangkat kita main dulu, boleh ya"

" Oke deh bunda, tapi jangan lama-lama ya"




Kemudian setelah bundanya di Jakarta dia lupa kalau bundanya ngga pulang-pulang, hahahahaha.

Percaya ngga percaya, ya emang segampang itu.

Selama di Jakarta, aku usahain banget telponan tiap sempet, pake video call, jadi tetap keep in touchlah sebulanan, biar ngga lupa mereka sama bundanya ini.#penting

Suami gimana?

Masteg mah orangnya nyantai, jadi ya no issuelah.

" Mas mau pendidikan sebulan, gimana pergi ngga nih? "
" Ya pergilah"


End.


Nah, ndilalahnya ya, satu kelas itu kan aku ber-22 orang, dan aku satu-satunya perempuan. Jadi pas aku insta story atau posting foto di IG, pasti ada yang komen, "Wah mba Win sendirian cewek ya, keren"

Hahaha, ini pertanyaanku dari dulu, pokoke tiap aku posting foto kerjaan di IG atau FB, pasti pada bilang gini. Padahal itu ngga keren-keren amat kok. Karena memang di BRI itu banyak banget yang kayak aku. Yang di satu unit kerjanya ya cewek sendiri. Ya gimanaaaa, emang untuk level managerial gitu masih didominasi para pria sih. Sebenernya cewek banyak tapi ngumpulnya di Jakarta dan sekitaran Jawa. Kalau untuk luar Jawa emang minim banget cewek.

Management Ismu 2017

Pinca,PCP, Manager dan Kaunit

Jadi begitu lho teman-teman, memang karena kondisinya aja, ngga ada yang mau penempatan luar Jawa, makanya aku beruntung bisa kerja di kampung halaman sendiri, luuuuv.

Balik ke soal pendidikan.

Gimana di kelas cewek sendiri apa ngga risih?

Ngga..

Palingan langsung mikir " Yah ga ada temen buat selfie selfie nih. Atau "Yah, ntar kalo mereka semua sholat Jum'at aku ngapain yah?" gitu doang.

Aku memang ngga pernah risih sih, karena udah biasa aja. Sehari-hari banget di kantor, mulai dari Pinca, pincapem, manajer ya semua laki-laki, jadi aku udah nyantai. Terkadang mereka malah udah ngga nganggap aku cewek lagi, rata aja dibuat mereka. Malah kadang suka dieksploitasi yang disuruh jadi ketua panitialah, disuruh jadi ketua anulah, dasar kampret, hahaha.

Nah sama, pas kemarin pendidikan juga gitu, langsung aja tanpa pake kompromi ditunjuk jadi ketua kelas. Sungguh mereka teman yang sangat asoe yah sodara-sodara. Jadilah selama pendidikan kejadiannya selalu gini :

" Bu ketua, materi soft copynya mintain yah"
" Bu ketua, bilangin ke fasilitator bisa ngga jadwal kita dimajuin"
" Bu ketua, usul dong ke Corpu supaya Sabtu kita libur"
" Bu ketua, gimana kalo kita ngadain acara barbeque setelah selesai pendidikan"

" Bu ketua nonton dong rame-rame"
" Bu ketua bikin baju seragaman dong"
" Bu ketua.... bu ketua''

Heeeeh gw ini ketua kelas atau emak kalian HAH.

Makanya pas ada yang bilang "Wah mba Win cewek sendiri di kelas, pasti dimanjain yah". Gw melengos aja, KARENA KENYATAANNYA TIDAK YA sodara sodara.



Gimana cara bersikap di antara para pria-pria segitu banyak, kan kalo cowok-cowok suka aneh-aneh gitu mba?

Ya ngga gimana-gimana. Biasa aja, beneran biasa banget. Walau aku sendirian cewek ya ngga membuat orang-orang sekitarku jadi kurang ajar, atau malah ngeremehin atau under estimate gitu sih. Mungkin karena- ya kale lihat aja wajah gw yang galak ini. Berani macem-macem aku hajarlah, #serius

Ngga ding, ngga gitu.

Tapi emang karena memang lingkungan kerja yang kondisinya seperti ini ya mau ngga mau kita kudu nyesuain dirilah. Jangan gampang tersinggung, jangan apa-apa dimasukin hati sekaligus ya jaga-jaga sikap juga.

Karena emang bener sih, berada di antara para pria-pria dewasa cukup umur, akil baligh dan jauh dari istri-istri itu BERBAHAYA, wakakakaka.

Obrolan di kelas yang awal-awal sok resmi, jaim-jaim, ya lama-lama karena udah kenal, akrab, jadi kadang ngga terkontrol. Apalagilah di grup. Mulai dari ngomongin ujian, bisa ujug-ujug menggelinding ke share-share video-video lucu (if you know what i mean).

Ya ngga usah marah, kalem aja. Ngga usah ikut nimbrung kalau begitu. Ya masa ya gara-gara ada kita di grup trus mereka jadi ngga bisa berekspresi, jadi sellow.



Di kelas juga gitu. Adaaaa aja ntar guyonan yang levelnya udah 17 ke atas. Karena levelnya masih becanda, saya mah nyantai. Justru kalo kita nyolotan malah aneh dan bikin orang ngga nyaman. Jadi ya kalem aja, diem aja, senyumin aja, dibawa asik aja. Karena becandanya juga masih becanda ringan.

Sempetlah yang difoto-foto candid pas lagi duduk sebelahan sama siapa gitu.

Marah?

Maleslah. Bodo amat.


Tanggapan suami gimana, ngeliat mba Win kok cewek sendiri?

Hmm, suami aku udah level mature. Masa-masa doi cemburuan udah lewat. Ada sih masanya dulu dia yang suka cemburu, suka nanya-nanya, tapi sekarang udah ngga.

" Mas aku di kelas sendiri lo cewek"

" Wah, jadi adek sekamar sendiri dong di hotel"


" Iya"

" Berarti kalo mas kapan senggang mau datang, bisa langsung ke hotel ga perlu pesen hotel lain?"


Oke yak, mantap, berfikir jauh ke depan.

Kok ngga cemburu sih

Ya ngga. Ngapain?, emang lingkungan kerja aku begitu. Kalau emang dia ngga suka ya pasti aku udah disuruh resign dari kapan tau. Nyatanya ga disuruh resign ya berarti ga kenapa-kenapa.Yang pasti kan bergaulnya emang profesional ya, karena kerjaan, ya jadi oke aja deh.

Punya tips ngga buat ciwi-ciwi yang kerja dengan lingkungan kebanyakan pria?

Ngga punyaaaaa. Karena tipe orang mah beda-beda. Aku emang tipe orang yang pintar bergaul sih #plakdigamparlangsung.

Yang pasti ya kayak yang aku bilang tadi. Kalem aja, santai, posisikan diri sewajarnya, ngga usah sok ngatur-ngatur cara bicara mereka, ngga ngatur apa yang mereka obrolin, be profesional. Jangan karena kita cewek trus minta diistimewain, jadi manja. No ya. Atau karena kita cewek jadi merasa harus apa-apa diduluin. Biasa aja. Karena toh digajinya sama, dikasih tanggung jawab juga sama, jadi ya posisinya sama.

Ini di bis. Letakin tas di samping kursi kita kalo mau tenang tidur PP


Kalau pulang malam dari kantor, apa suami ngga marah?

Karena aku selalu bilang ke masteg, maka sampai saat ini belum pernah sih kejadian mas Teg marah karena aku lembur atau pulang malam. Iya, pokoke kalau kira-kira bakal telat pulang ya kasih tau. Bukan minta ijin lho, kalo minta ijinkan berarti bisa diijinin bisa ngga, sifatnya cuma menginfokan, karena udah kesepakatan kami di keluarga, bahwa ya tugas kantor is tugas kantor, jangan dibawa baper dan lebay. Repot kalo dibawa lebay.

Maka saat misalnya aku harus meeting lewat jam kantor, ya fine-fine aja. Kalau ada acara kantor kayak yang perpisahan, atau makan bersama nasabah gitu yang memang jadwalnya makan malam, biar sama-sama enak  kadang mas Teg nawarin untuk jemput aku. Sekalian kenalanlah sama temen-temenku, biar tau juga istrinya pergi sama siapa aja.

Intinya sih, karena sama-sama mengerti gimana kerjaan dan tanggung jawab masing-masing, jadi walau lingkungan kerjaku mayoritas pria, masteg ngga merasa inferior atau curigation yang berlebihan sama dirikuh. #i Love You so much mas ah.

Jadi begitulah sodara-sodara tercinta.

Eh ini kok ngga ada cerita pendidikannya malah ya, xixixi.

Pendidikannya seru banget. Bukan karena materinya sih, kalo materi ya udah templatelah ya (dasar pegawai durhaka kau), tapi seru karena temen sekelasnya asik-asik banget. Kompak setengah mati. Dibawa santai oke, dibawa serius hayuk. Sebulan jauh dari rumah aku tetap hepi. Sampe sekarang juga, udah kelar pendidikan, di grup masih rame aja. Rame saling membully maksudnya.

Awalnya sempet yang kaku gitu, karena pendidikannya agak unik, segala latar belakang jabatan nyemplung di sini. Tapi ternyata lama-lama saat udah kenal, ya asik-asik aja.

Pendidikan kemarin ada materi in class, dan ada on the Job Trainingnya.

Selama di kelas, aku banyakan ngantuuuk. Karena mungkin selama ini kan aku kerja ga melulu di belakang meja ya. Kalo pengen keluar ya tinggal keluar, kalau ada nasabah yang harus dikunjungi ya OTS, kalo ada pembagian bantuan ke masayarakat misalnya ya pergi, jadi gitu disuruh duduk diam selama kurleb 10 jam itu rasanya pantat panas. Tapi ya udah sih ga apa juga karena ada selang coffee break tiap beberapa jam. Plus hiburan juga ngeliatin temen yang ngantuk, xixixi.

Ngantuk boss


Mereka juga asik-asik. Misal saat aku lagi bosen banget makan siang di Corpu, trus pengen ngebakso, ya udah sekelas ngebakso bareng. Pas aku pengen makan idomie, eh ditemenin nyari indomie. Bosen belajar terus, rame-rame nonton bareng.



Filmnya apa?

Pacific Prim, yang aku ngga ngeh samsek sebenernya tentang apa. Tapi ya udahlah mayan bikin ketawa-ketawa nontonnya. Oh plis itu robot ngapain sih, kenapa ceritanya serba kentang. Kisah cintanya kentang, perangnya kentang, endingnya sangat terduga dan yah pemerannya ngga ada yang good looking #ngeluh.

Nonton Film Yag Tak Kumengerti


Trus ternyata mereka rajin-rajin banget belajar. Kalau mau ujian pada belajar bareng, ngumpul di samping kamarku yang kebetulan berada di pojokan dan yang kebetulan juga ternyata lantai khusus smooking (why aku ditaruh di lantai ini?). Jadi ya kedengeran berisiknya tiap malam.

ckckckckcck


Apakah aku bergabung bersama mereka?

Ya tentu tidaklah ya. Aku mah lebih milih bobok, besok di bis tinggal minta hasil belajar mereka pas malam apa, xixixix.

Pas pendidikan kebetulan ada temen yang ulang tahun. Sebagai teman yang (sok) perhatian kami pun beli cakelah rame-rame (Gojek maksudnya yang beli). Mayan motong waktu belajar beberapa menit, buat nyanyi-nyanyi, foto-foto plus makan kue, wahahahahaha, moduuus.


Yang Ultah Siapa, Yang Disuapin Siapa

Trus di salah satu sesi, kami dapat materi kepemimpinan. Dan ngga tanggung-tanggung dong yah, yang ngisinya itu mantan Dirut BRI tahun 1993-2000 bapak Djoko S. Jadi bener-bener dapat pengalaman kepemimpinan langsung dari pemimpinnya BRI. Beruntung yah kami-kami ini.
Pas OJT, aku juga dapat tempat OJT nya yang saik banget, di KCP Mall Taman Anggrek dong yah. Di samping deket sama hotel (aku nginep di Ibis Slipi), juga ya karena di mall, jadi berasa lagi main aja. Tapi ternyata, pas giliran di mall gitu, kok aku malah ga terlalu antusias belanja ya, wow kusungguh bangga. Selama 3 hari OJT di MTA, aku cuma beli buku satu biji di Gramedia, plus beli pensil alis dan beli satu sepatu #proud. Padahal aku bayanginnya bakal kalap beli apaaa gitu, ternyata aku masih bisa menahan diri wahahaha.

Tapi positifnya aku berhasil mapping seluruh tenant yang ada di Mall Taman Anggrek. Aku jadi mayan hapal di mana letak Sephora, di mana toko sepatu yang mau tutup dan ada diskon, dimana tempat makan yag enak tapi murah, sampe di mana letak kamar mandi yang bersih tapi ngga terlalu ramai.

Kesimpulanku, Deps storenya MTA ternyata barangnya udah yang lama-lama yah, kurang memanjakan mata.

Temen2 di KCP Taman Anggrek
OTS ke salah satu usaha nasabah KCP MTA


Di akhir pendidikan ada tugas bikin makalah dan sesi presentasi serta wawancara. Kebetulan aku dapat pasangan yang pinter dan sangat menguasai operasional. Jadi alih-alih di KCP kami belajar, eh doi malah menyelesaikan segala kerjaan yang kurang pas di sana. Mulai dari meperbaiki suspend sampe bantu-bantu ngecek persediaan di situ, wahahaha, sungguh teman yang berdedikasi tinggi.

Giliran presentasi, ya dhalah naseb dapat giliran terakhir. Jadi semua orang udah tenang-tenang (bahkan mereka sempet ngemall), aku masih yang menunggu.... menunggu dan menunggu.

Yah gitulah, ngomong lalalalalalala di depan penguji, kelar deh. Yeaaaaay.

28 hari full terlalui dan saatnya kembali ke pelukan suami dan anak-anak, hasek.

Ini ceritanya pada bilang "Gaya bebas yok gaya bebas" trus ternyata aku doang yang ekspresif. Kzl


Sekarang udah ngantor lagi, kembali ke rutinitas lagi, lama ninggalin kantor jadi berasa anak baru lagi hahaha. Hari pertama kerja langsung lupa password komputer dan semua aplikasi, bagooooooos.


Yang paling hepi dari pendidikan itu, pasti nambah temen. Yang tadinya ngga punya temen di Palopo jadi punya, ada yang dari Luwuk lah, Tanjung Tabalong, dari Kolaka. Pulang pendidikan pasti nambah satu grup WA. Ya udah biar ga mubazir, sekalianlah aku paksa mereka follow instagramku, wahahahaha, rasain kalian. Follow dong kakaaa @winditeguh




Kalian ada yang kayak aku ngga? pernah ninggalin anak lama karena kerjaan atau lingkungan kerjanya mayoritas pria. Sini-sini cerita dong, biar ada temennya hahaha.

Eh betewe kalian tau ngga apa nama grup pendidikanku ini.








Mengatur Keuangan Dengan Bantuan Financial Planner

Wednesday, December 13, 2017


Dari awal nikah, saya dan Mas Teguh udah yang ngatur keuangan bangetlah. Perkara ngatur duit pas masih cuma berdua doang, kami bisa dibanggakanlah. Makanya beli mobil ngga pernah pake kredit, karena nunggu duitnya ada dulu. Beli rumah pertama juga ngga pake KPR, nunggu duit terkumpul juga, walau akhirnya dijual dan beli KPR rumah yang sekarang, hahaha failed. Masa-masa itu, tiap dapet bonus langsung tabung, dapat IJP tabung, semua ditabung.

Pokoke intinya, saat belum punya anak, kami lumayan sukseslah planning keuangannya. Berhasil membeli barang konsumtif dengan cara tunai tanpa membuka kredit. Kompensasinya ya ngga liburan kemana-mana kecuali mudik doang. Karena mudik doang udah abis 30an juta ya ceu, saya selalu nyesek tiap masa mudik, hahahah.

Gitu punya anak 1 masih slow juga soal keuangan. Paling ditambahin dana pendidikan Tara, rutin nabung per bulan, pake rekening khusus dengan nama Tara. Nah sejak punya anak kedua, saya mulai keteteran. Mulai ada kekhawatiran-kekhawatiran. Trus baca-bacalah artikel keuangan, dapet nama Ligwina Hananto dari Icha. Ya udin langsung baca semua artikel keuangannya doi. Dan kemudian sadar, OMG keuangan saya sepertinya kacau banget.



Jadi, abis baca tweet dan artikelnya si Ligwina, saya jadi nyadar, ternyata selama ini tuh saya nabung tanpa tau tujuannya apa. Nabung-nabung doang, ikut asuransi ikut asuransi doang tanpa tahu tujuan keuangannya apa?

Tujuan keuangan bagaimana?

Jadi ya menurut Ligwina, dalam merencanakan keuangan yang pertama harus ditanyakan itu adalah tujuan lo apa?. Jadi biar nabung atau investasi, atau asuransi, apapunlah lebih jelas, terukur dan punya timeline untuk mencapainya.

Tujuan keuangan itu, kayak kita mau menyiapkan dana sekolah anak, dana haji, beli rumah, liburan, pensiun.

Contohnya nih, saya dulu udah nabung untuk dana pendidikan Tara 500 ribu sebulan. Tapi saya tuh sebenernya ngga tau, goals saya untuk dana pendidikan Tara berapa?

Nah itu cara yang salah. Karena kita harus tau dulu, tujuan kita nabung atau invest itu apa. Jadi misal tujuannya dana pendidikan sekolah. Tingkat apa dulu nih? SD, SMP, SMA, atau kuliah?

Tujuannya biar kita tau berapa lama waktu yang kita punya untuk ngumpulinnya. Karena jangka waktu duitnya dibutuhkan untuk SMA tentu beda dong yah dengan kebutuhan untuk masuk SD. Semakin panjang waktu duitnya mau dipakai ya berarti semakin ringan cicilannya. Begicu.

Trus saya mulai deh itung-itung. Mulai survey sekolah untuk perkiraan dana yang dibutuhin, eh trus saya kepikiran, " Lha iya sekarang misal masuk SD Namira Rp 12 juta, lha jangan-jangan saat Tara masuk udah jadi 20 juta". Akhirnya pusing sendiri wahahahaha.

Makanya akhirnyaya udahlah, hire Financial palnner aja, biar lebih terarah, hahaha. Pakai financial planner bukan buat gaya-gayaan. Dih apaan sih pake financial planner segala, kayak yang mau diurus harta milyaran rupiah aja. Ngga gitu sih, tapi biar sekalian tau ilmunya, sekalian belajar juga. Begitulah tujuan mulianya.

Saya pake Financial planner dari QM Quanta Magnum punyanya Ligwina. Karena apa? Karena jujur aja saya taunya cuma itu, udah banyak yang merekom, jadi males cari yang lain.

Saya kirim email ke mereka, trus mereka WA ke saya. Saya tanya-tanya dululah mengenai biayanya. Kebetulan kemarin lagi ada promo, jadi dapet diskonan 20 persen, mayan yah.

Biayanya berapa?


Yang pasti ngga semahal nginep di Marina Bay, wakakakaka. 

Eh serius. Pokoke, menurut saya masih worthlah ngeluarin duit beberapa juta tapi kita diaturin dan diarahin untuk masa depan keuangan kita, halah. Namun inget yah, mereka tuh cuma nyaranin, selanjutnya terserah dan tergantung kita. Kalo ngga mau ikutin ya monggo.

Nah setelah fixed, saya transfer pembayarannya dan arrange waktu untuk konsultasi.

Oya, QM financial itu kan kantornya di Jakarta, jadi karena saya di Medan, konsultasinya via Skype. Untuk paket pembuatan plan yang ekonomis ini, saya dapat jatah 4 kali skype. Masing-masing selama 2 jam. Kalau yang di Jakarta, bisa ketemu langsung sama Financial Plannernya, malah asik banget ya. But menurut pengalaman, via skype aja jelas banget kok pemaparannya.

Apa saja yang bakal kita dapat untuk pembuatan plan ini?

Paket komplit sih mulai dari analisa keuangan, edukasi reksadana, perhitungan tujuan keuangan, cara mencapai target keuangan, perhitungan kebutuhan asuransi, sampe implementasi rencana keuangan kita.

Nanti di akhir sesi kita dapet bundel rencana keuangan kita lengkap berdasar hasil diskusi yang telah dilakukan.


Alurnya gimana?

Kita kirim email dulu ke QM, menginfokan kalau kita mau bikin plan pakai jasa mereka. Trus mereka ntar kirim surat konfirmasi pembuatan plan. Tanda tangani trus kirim balik. Ini sebelumnya mereka akan hubungi kita via WA, jelasin dulu apa-apa isi paketannya biar menyesuaikan dengan kebutuhan kita.

Kalau udah setuju, ntar kita dikirimin invoice, bayar deh . Abis itu ntar kita diaturin dengan planner siapa, dan nanti plannernya menghubungi kita untuk arrange waktu konsultasi.

Planner 

Oleh planner ntar kita dikirimin semacam form data keuangan yang ada field-field untuk isi pemasukan dan pengeluaran kita, termasuk juga aset-aset yang dimiliki baik aset lancar maupun aset tetap. Kita isi deh segala pengeluaran dan pemasukan sampe printilan terkecil. Jadi mulai pengeluaran belanja bulanan, belanja baju, listrik, air, sampe kayak kondangan, ngasih orangtua, bantuan ke keluarga, arisan, semua kita masukin. Udah ada disitu daftarnya tinggal isi doang.

Ada juga isian untuk profil risiko kita. Kita masuk type yang moderat atau konvensional.

Kalo saya mah moderat ya, tapi suami saya type konvensional, ngga papa, tuliskan aja di situ, biar si planner tau apa yang harus disarankannya.

Moderat itu maksudnya, kita yang lebih berani ambil risiko gitu lho. Jadi ntar saran investasinya bisa diarahin ke reksadana saham atau campuran. Kalo type konvensional kayak suami mungkin nyaraninnya ke reksadana model pasar uang atau pendapatan tetap gitu.

Lalu isi juga segala pemasukan kita. Baik gaji bulanan, uang cuti tahunan, bonus, hasil kontrakan, hasil panen sawah, harta warisan jika ada. Lalu isi juga form untuk aset, baik yang sudah lunas maupun masih nyicil, kayak rumah, kendaraan, mobil, motor, deposito, emas, reksadana. Semuuuuuuaaaaa dimasukin.

Ini ngisinya harus jujur, jangan ada yang ditutup-tutupin, biar ntar mereka ngga salah juga ngasi advice dan membuatkan plannya untuk kita.

Ntar kalian bakal ter wow wow deh dengan isian sendiri, hahahaha.

Maksudnya terwow wow dengan " Wow betapa borosnya aku selama ini"

Atau ngga  "Wow, ini aku punya uang segini yah harusnya, kenapa kok bisa ngga punya apa-apa?"

*Masalah hidup banget ya bu



Pokoke tahan mental deh pas lihatnya. Karena agak nyesek memang. 

Trus selain pemasukan dan pengeluaran, kita juga harus isi daftar sekolah beserta uang masuk sekolah yang mau kita tuju.

Jadi, karena salah satu tujuan keuangannya adalah dana pendidikan anak, maka kita cari-cari dulu berapa biaya masuk sekolah inceran kita. Gampanglah itu yah, tinggal tanya info via telepon aja ke sekolah yang kita mau. Atau kalau ngga, ya tulis aja nama sekolahnya. Kalo sekolahnya mayan terkenal ntar mba planner akan bantuin kok nyariin perkiraan uang masuknya.

Semua ngga harus fixed kita tuangkan di form awal ini. Ini untuk ancer-ancer dulu, biar secara garis besar si planner tau maunya kita apa. Ntar di sesi konsultasi bakal dibahas lebih dalam.

Setelah form lengkap diisi. Ntar akan dianalisa oleh plannernya. Analisanya bersama-sama kok pas sesi konsultasi

Gimana Konsultasinya?

Konsultasinya itu bisa bertatap muka langsung kalau domisili di Jakarta. Atau melalui skype. Saya kemarin melalui skype. Satu kali pertemuan 2 jam. Jadi cukup bangetlah waktunya. Biar ngga bertele-tele, makanya sebelum skype-an kita janjian dulu, biar sama-sama mengkondisikan suasana dan tempat yang tenang (padahal saya mah di dapur doang wahahahah dengan Divya yang gelendotan dan Tara yang lari-lari sambil jejeritan).

Di sesi konsultasi pertama itu keuangan kita akan dianalisa dulu.

Analisanya itu meliputi cek kondisi keuangan kita sehat atau ngga. Kalau ada yang perlu diperbaiki ntar dikasih tau. Misal utang kegedean, atau pengeluaran ngga penting terlalu banyak. Trus menyamakan persepsi soal tujuan keuangan. Dijelasinlah semuanya.

Jangan ragu untuk bertanya jika memang kita ngga mengerti. Misal kita nih sebenernya ngga tau apa aja yang harus dicapai dulu, ya gpp, kasih tau aja, ntar mbanya pinter kok ngarahin pertanyaan. Kayak saya pas awal tuh, malah ngga tau yang mau diisi di form, tapi saya paparkan saja kondisi keuangan keluarga kami, dan minta pendapatnya mba planner.

Selanjutnya?

Ya ntar pembicaraan berkembang deh, sesuai apa yang kita tulis. Sesuai tujuan keuangan kita.

4 sesi apa cukup?

Cukup banget. Karena satu sesinya kan 2 jam yah. Dan krn pake skype, jadi bisa lihat data langsung, mbanya ntar share power point, jadi kita sama-sama lihat apa yang diobrolin dan dipaparkan, ngga cuma lihat muka doang. 

Abis analisa keuangan, baru deh ntar dibedah satu-satu tujuan keuangan kita. kemana harus investasinya, berapa perbulan yang harus kita sisihkan.

Dan yeaaah ntar hasilnya bikin kita puyeng sendiri wahahahaha. Karena mak dudul keluar angka milyar milyar.

Jangan cemas dulu, angka itu adalah angka perkiraan present value gitu lho. Jadi misal kita planning untuk biaya kuliah anak. Misal mau ke UGM nih planningnya atau mau kuliah luar negeri. Cek berapa uang pangkalnya, berapa uang semesterannya. Sama mbanya diitungin nilai present valuenya. Makanya dapat milyar-milyar.

Masuk akal, karena kan penggunaan dananya memang untuk beberapa tahun ke depan.

Ntar di postingan berikutnya aku jemberingn lebih rinci yah. 

Di sesi ketiga ntar, kita dapat edukasi tentang reksadana, pemilihan asuransi. Trus dijelasin juga cara mencapai tujuan keuangan kita yang kemarin udah di bahas di sesi 1 dan 2.

Ini ngga kaku sih, bisa dibolak balik jika misal kita ada pertanyaan mundur lagi.

Makanya setiap sesi, dipastikan data-data sudah fixed, biar mba planner ngitungnya juga udah di angka pasti, ngga mengira-ngira. Karena kan sayang kalau udah bayar planner tapi itungannya tetap ngga sesuai kondisi real.

Sesi keempat, udah final. Dibikinin resume sama plannernya. Dijelasin lagi dari awal sampe akhir. Berapa yang harus kita sisihkan, Kemana aja pos pos keuangan kita. Apa yang harus dihemat, apa yang boleh tetap dilakukan.

Tapi intinya sih, mereka sama sekali ngga intervensi gaya hidup kita yang sekarang. Pokoke mana yang buat kita nyaman, mereka nyesuain plan nya dengan habbitnya kita. 

Kalau semua sesi udah rampung. Nanti kita akan dikirimi bundel kayak laporan keuangan kita. Yang isinya mulai dari aset kita, rasio keuangan keluarga, pemasukan, pengeluaran, tujuan-tujuan keuangan, perhitungan asuransi, reksadana pilihan yang bisa kita pilih (cuma jenisnya bukan merknya). 

Udaaaah selesai deh. Tinggal tanya diri kitanya, mau dijalanin atau ngga. Kalau mau dijalanin ya ikutin saran-saran si planner.

Karena ini paket hemat, maka ya hanya sampai pembuatan plan aja. Masalah ke banknya, buka rek, beli reksadananya kita lakukan sendiri. 

Gimana menurut kalian? Seru lho. Jadi lebih ngerti keuangan sendiri setelah dijembreng.

Next aku tulis saran-saran dan gambaran plan keuanganku ya. Mungkin ngga rinci sampai angkanya tapi minimal step-step dan pos-posnya. Sabar yah, karena saya nulisnya bener-bener curcurwak, alias curi-curi waktu hahahaha.

Bhay







Persahabatan Dunia Kerja

Monday, November 27, 2017



Bagi para pekerja, kantor adalah rumah kedua yg mau ngga mau harus dicintai dengan sepenuh jiwa dan raga. Mau gimana?, kadang waktu yang dihabiskan dalam sehari itu lebih lama di kantor daripada di rumah. Makanya suasana kantor dan orang-orang di sekelilingnya pengennya bener-bener kondusif biar selama di kantor bawaannya hepi dan ngga mutungan.

Saya termasuk orang beruntung lho karena pindah-pindah kantor di beberapa kota dapet rekan kerja asik-asik banget semua.

Sebenernya asik ngga asik itu tergantung kita sih. Kalau kita udah negatif thinking duluan pas masuk kantor pertama kali, bisa jadi dapetnya temen-temen yang nyebelin, tapi kalo dari awal kitanya juga welcome dengan mereka , mudah-mudahan seterusnya jadi enjoy.

Dulu saat penempatan pertama kali di BRI, saya kedapetan penempatan di BRI Unit. Rekan kerjanya udah tua, laki-laki, cerewet banget dan pemarah, wahahaha kombo bangetlah. Saya yang anak baru suka gelagapan kalau udah diperintah-perintah doi, padahal jabatan kita setara hanya dia senior kan yah itungannya.

Karena masih anak baru, segala kerjaan dikasih ke saya semua, tapi untungnya saya kan fresh graduate jadi ya seneng-seneng aja walau kerjaan berjibun. Awalnya saya suka sewot sama blio, suka merepet-merepet sendiri dalam hati, tapi lama-lama saya mikir " Ah wajarlah dia agak nyebelin, dia pasti punya masalah makanya seumur gitu jabatannya masih kayak aku yang baru masuk, ya udah kayaknya dia lebih butuh didukung deh sama aku. Selanjutnya ya di unit malah jadi ketawa-ketawa kalo sore, xixixi.

Yup, karena terkadang orang-orang nyebelin itu ngga sepenuhnya karena ngga suka kita, tapi banyakan karena dia punya masalah dengan dirinya sendiri. Jadi kalo kita malah kepancing jadi bete gara-gara dia kita yang rugi, mendingan kita asikin balik dia, percaya deh, orang-orang kayak gitu cuma butuh dibecandain dan diajak hepi-hepi, :)

Oke, lanjut.

3 bulan di Unit, saya dipindah ke Kantor Cabang, rekan kerjanya udah ibu-ibu, cantik dan cekatan banget. Atasannya bapak-bapak yang lucu parah. Dua tahun kerja sama mereka , saya rela datang pagi pulang malam hahaha sangkin senengnya di kantor. Padahal usianya jauh banget, usia saya itu sama dengan usia anaknya si bapak tapi becandanya kayak sama teman sebaya, makanya si bapak awet muda, si ibu bahagia, sayanya juga hepi.


Kiri Bu Evi, Kanan Kak Martha
Atasan pas di Tebing. Laaf

Dua tahun di Kantor Cabang, saya ikut pendidikan PPS BRI. Dapat teman sekamar cewek super adorable, namanya Deby. Duh dia udah sering banget ya saya ceritain di blog.

Saya dan Deby kebetulan sama-sama sudah menikah, hanya saya belum punya anak, Deby anaknya udah satu masih piyik banget. Jadilah kami dua orang mamah muda jauh dari suami sedang menuntut ilmu. Wah bener-bener bersyukur dipertemukan sama blio, karena selama pendidikan kerjaan saya kan kalo ngga nelfon, nangis hahahaha. Iya, karena awal-awal mutusin ikut PPS ada perasaan nyesel, soale saya ninggalin suami sendirian di belantara kebun sawit Sumatera, jadi ada rasa bersalah banget saat itu.

Karena sama-sama udah nikah jadi dari awal kami bikin perjanjian " Kita saling jaga ya", hahaha bukan apa-apa, karena kan kita pendidikan atas ijin suami jadi ngga boleh mengkhianati kepercayaan mereka , makanya saling mengingatkan kalo ada apa-apa. Termasuk kalau duduk di bis dari hotel menuju Diklat harus selalu satu barisan, biar ngga rikuh kalo misal ada temen cowok yang mau duduk di sebelah kita (tepatnya mau duduk di samping Deby sih hahaha, karena dia kece parah).

Deby my laaf. Tempat curhat dari A sampe Z
Seangkatan, Satu Kanwil pulak penempatan


Penempatan pertama setelah pendidikan dapat di Kantor Pusat. Rekan kerja saya anak lajang semua , satu bapak-bapk, satu mba-mba dan satu ibu-ibu. 

Dulu di Kantor Pusat lucu deh, kan ruangan kerjanya itu bentuknya ruangan gede trus ada kubikel-kubikelnya ya. Jumlah pekerjanya satu Divisi juga ngga banyak-banyak amat, paling sekitar 50-an orang. Suasana kerja di kantor pusat tentu bedalah dengan di kantor Cabang apalagi di BRI Unit. Di sana kan lebih ke monitoring, pembuat kebijakan, jadi kerjaannya itu bener-bener yang duduk di depan komputer, makanya suasana kantornya tuh heniiiing, sampe kalo nerima telfon aja sungkan banget ngomong keras-keras karena bisa kedengeran satu ruangan.

Saya yang kebiasaan kalau ngomong volumenya ngga terkontrol sempet merasa tersiksa, ahahaha, duh ini mau ngobrol sama temen depan kubikel aja bisik-bisik lho, karena ngga enak sama rekan kerja lain.

Dulu saya tuh akrabnya sama mas Gun dan Mas Argi, soalnya duduknya segitiga gitu, di samping saya mas Argi, di depan mas Argi -mas Gun. Jadi kalo cerita walau bisik-bisik tetap kedengeran. Cuma kadang capek juga bisik-bisik, jadi kami suka yang " Ke tangga yuk ngobrol" hahaha. So satu-satu menghilang dari meja, mlipir ke tangga darurat, ngobrol di situ volume suara ngga perlu dikontrol banget, karena ya siapa cobaaa yang nongkrong di tangga darurat.

Ngomongin apa?

Ngga pentinglah, cuma sekalian kayak coffee break gitu kalo bosen di depan komputer.

Tapi, saya ngga lama sih di sana. Setelah mas Gun mutasi, ngga lama saya juga mutasi ke Medan. Bahagianya luar biasa bisa pindah ke Medan, karena selama 2 tahun saya udah LDR-an sama suami Medan-Jakarta, akhirnya bisa ngumpul lagi.

( Baca : Mutasi )

Pindah dari Jakarta, saya jadi AO di Rantau Prapat. Ketemu temannya ya sesama AO. Lagi-lagi temennya anak-anak lajang, masih muda-muda banget, semangat kerjanya masih membaralah.

Dulu tuh model meja kerjanya kayak anak sekolah. Meja kursi model berbaris ke belakang. Nah saya paling depan duduknya, trus berjejer ke belakang, si Rio, Jul, Budi, dan di belakang bang Marbun. Kalau pagi kami punya ritual konyol, saya duduk nih di depan, trus mereka duduk di meja masing-masing, udah komplit saya kasih aba-aba " Lengkaaaap, Berangkaaaat, ngeeeeng ", wakakakaka kayak bocah aja. Karena beneran posisinya kayak naik angkot, saya supirnya, bang Marbun keneknya xixixi.

Yang paling bikin bahagia ya selama di Rantau Prapat, disitu kan kebetulan saya hamil setelah 5 tahun nunggu-nunggu si jabang bayi, jadi mereka tuh yang baik banget, kalau OTS saya pasti ditemenin, soalnya wilayah kerjanya kan serem parah, kebun-kebun kelapa sawit gitu. Pokoke pergi OTS jam 7 pagi, balik kantor udah gelap. Tiap hari. Kalau dipikirin sekarang pasti rasanya capek banget, hamil muda, OTS, jalannya jelek, tapi kok ya saya kuat, hamilnya malah sehat banget, alhamdulillah ya.

Cerita paling lucu tuh saat saya pertama datang. Penempatan dari Kantor Pusat ke Kantor Cabang. Pake high heels, pake blazer, diajak OTS ke kebun sawit yang jalannya super jelek, sakit perutlah di jalan saya. Jalannya yang tanah merah gitu lho, saat itu kemarau, ya udah jangan ditanya abunya gimana.

Kulagi hamil itu. Ini orang2 yang nemenin kalo OTS


Nyampe rumah debitur, karena niatnya cuma bentaran doang, kaca mobil ngga kami tutup, biar ngga panas banget ceritanya. Saat mau pulang, gitu masuk mobil, saya kaget banget, ADA AYAM NANGKRING DI DALAM MOBIL. Aduuuh gila mah itu saya kaget sampe teriak-teriak. Sama bang Marbun diketawainlah. Sumpah itu pengen nangis banget waktu itu. Soalnya di jalan udah kena debu setebel apa, nyampe rumah nasabah ketemu ayam di dalam mobil pula. Beneran ini lucu kalo diceritain tapi pas dialamin, horor.

Di Rantau Prapat ini banyak banget kejadian seru yang saya alami, termasuk dimaki-maki nasabah karena saya salah ngomong. Jadi ada nasabah yang nunggak, pas kebetulan dia lagi berangkat haji. Nunggaknya sih angsuran sebulan yah 2 jutaan gitu, tapi kan kalo di portofolio saya, tunggakannya diitung jumlah pokoknya, pokoknya itu 2 Milyar, jadi mak dudul tunggakan kelolaan saya naik 2 Milyar. Peninglah ya kepala. Padahal saya udah wanti-wanti sebelum dia berangkat haji jangan lupa titipin uang angsuran ke keluarga, atau cadanginlah di tabungan. Ternyata dia ga nitip samsek.

Pulang dari haji, masih nunggak juga, saya datangilah ke rumahnya. Disitu saya ngomong " Bapak usahain bayar dong, harusnya sebelum haji tinggalin duitlah pak, masa kita ibadah tapi malah melupakan kewajiban", kira-kira gitulah kalimat saya.

Eh dia ngamuk, " Ibu jangan gitu ya, jangan kait-kaitkan haji saya dengan tunggakan, saya daftar haji udah sekian tahun yang lalu, jadi jangan ibu anggap uang haji saya dari cadangan uang angsuran kredit, lalalala"

Duh saya pengen garuk-garuk tanah. Kenapa lebih galak doi dari saya, dan saya samsek ngga bilang duit haji dia dari angsuran lho. Tapi ya sudahlah namanya kredit sudah dicairkan itu, bargain ada di nasabah, makanya saya ngalahlah. Ngalah setelah dipaksa temen untuk ngalah hahahah.

Anyway akhirnya saya mutasi maning, ke Kantor Wilayah.

Dapat rekan kerja super gokil. Disitu temen kerjanya masih bawahan saya semua usianya, kabagnya perempuan. Ga ada yang waras sama sekali, semua kalo ngomong, volumenya di 10 kabeh, wahahaha, ngga heran kadang dikira lagi berantem, padahal lagi ngobrol biasa tapi tereak-tereak, xixii. Saya seneng banget pas di bagian ini, karena bawaannya hepi terus.




Ini balapan Belanja. isinya pampers semua, karena anaknya piyik kabeh


Macem ga punya masalah hidup


3 tahun di bagian itu, saya dipindah maning ke bagian penanganan kredit bermasalah. Cuma 6 bulan sih, tapi dapat kabag yang orangnya lucu suka becanda, jadi ya seneng juga. Disitu pokoke kerjaan kita makan-makan aja. Makan is life lah mottonya.


Pas Di Bagian RPKB ini, isi album foto saya makan-makan semua hahahah

Pokoke isinya hepi-hepi terus.

Ngga lama saya promosi dan harus pindah ke Kantor Cabang lagi, saya sempet khawatir. Karena sempet dikasih tau temen saya yang duluan promosi " Win, ntar pertama kali kamu ke cabang, perasaan yang kamu rasakan itu KESEPIAN, soalnya kamu di situ kamu ngga punya temen yang bisa diajak tuker pikiran. Mau curhat ke anggota pasti ngga enak, curhat ke atasan ntar dianggap memble, kuat-kuatin diri deh"

Yaaa dinasehatin gitu kan bikin keder ya.

( Baca : Cerita Mutasi )

Tapi ternyata itu ngga terjadi. Gitu masuk kantor Cabang, ternyata ada 3 Manager yang sudah duluan di situ, jadi saya ngga sendirian hahahaha. Dan ya merekalah jadi temen curhatnyaa. Ya bener juga sih, masa iya pas punya masalah kita curhat ke anggota, kan ngga lucu yah. harusnya mereka dapat motivasi dari kita bukannya dengerin masalah kita. Makanya enaknya ya cerita ke mereka-mereka ini.

Temen sarapan sambil nggosip

Dari nyeritain bawahan, gosipin atasan, sampe cerita ngga penting nyek-nyekan target masing-masing.

" Gila lu ya, lu pendidikan cabang langsung laba, lu ada di sini malah rugi, lu resign aja kenapa"

Ini becandaan paling bener tapi bullying banget hahahaha.

Atau ngga " Win kayaknya lu ada sama lu ngga ada ngga ngaruh deh, mikro bisa jalan tuh tanpa elu, lu ke salon aja sana tiap hari"

Ini candaan paling ngga kelas, huh.

Dari ngomongin kerjaan, ngomongin anggota sampe nyariin jodoh
Geng Sepedaan


Pantes yah kalau ada yang bilang sebenernya enak ngga enaknya kerja itu bukan tergantung target yang diberikan perusahaan, atau tergantung besar kecilnya gaji, tapi kenyamanan bekerjalah yang paling menentukan betah ngga betahnya seseorang di kantornya.

Makanya bersyukurlah kalian-kalian yang dapat rekan kerja nyenengin dan bisa bikin tetap ketawa-ketawa walau semenit yang lalu baru dikeramas atasan. karena itu anugerah no 12 yang harus disyukuri dalam hidup.

Kalian rekan kerjanya asik-asik atau malah malesin?.













Tentang Kompetisi Best Innovator BRI

Friday, November 17, 2017
Disclaimer : Postingan ini penuh dengan cerita muji-muji diri sendiri. Agak lebay dan sedikit norak. kalau kira-kira ngga suka model cerita seperti itu, plis close daripada nyesel, beneran.





Nyambung postingan sebelumnya nih , baca dulu yah : Air Laut (Biasanya) Asin Sendiri.

Di postingan kemarin saya cerita tentang penjurian lomba Brinovasi yang saya ikuti. Tapi karena kemarin saya merasa inferior parah jadinya isi postingannya hopeless banget, ngga bersemangat, bahkan ga pake ilustrasi dan foto apapun, sanking lagi downnya.

Nah karena sekarang saya udah ngga merasa inferior, jadi nyeritainnya bisa agak tenang nih, sekarang saya mau nyeritain tentang Kompetisi The Best Innovator BRI dari awal sampe akhir, hahahah biar ngga lupa.

Awalnya

Jadi sekitaran bulan Agustus kemarin, saat saya buka e-office kantor saya melihat ada pengumuman lomba gitu. Wah saya yang banci lomba langsung naik nih radarnya, tapi cuma sekedar " Eh ada lomba" udah gitu doang, bahkan suratnya ngga saya buka, karena lagi banyak kerjaan yang lain.

Trus saat saya sedang ngobrol via WA dengan sohib saya Deby, kepikiran lagi soal lomba itu, dan nanya-nanya ke doi. Eh ternyata dia malah udah ikutan, hahahah langsunglah saya semangat. Sama Deby malah dikomporin " Ayo gan, agan harus ikut, agan pasti punya ide "

Lomba The Best Innovator BRI itu maksudnya  kompetisi mencari ide-ide inovasi yang bisa diterapkan di BRI, skalanya untuk internal doang, khusus pekerja BRI. Ini acara rutin tahunan sih, tapi formatnya beda-beda tiap tahun. Beberapa waktu lalu lombanya bukan berupa ide bebas gini, tapi ditentukan segmen bisnisnya, kemudian kita kasih ide yang bisa dikembangkan. Saya ikutan, dan menjadi salah satu pemenangnya.

Nah tahun ini lebih menarik karena tema ngga dibatasi, jadi lebih bisa bebas gitu ngasih idenya, ah saya mah seneng banget kalo dikasih kesempatan beginian, xixixi.

Tapi pas lihat deadline, lho kok deadline tinggal 2 hari lagi, waaa waaaa panik mode on. Brb bikin konsep, didiemin semalaman, eh besoknya ngerasa konsepnya basi. Mikir lagi, sambil tiduran, tiba-tiba kayak dapet wangsit dan brb WA Deby lagi.

" Agaaan, ane punya ide nih, lalalalala jelasinlah dari A sampai Z, berapi-api" Via Wa jam 12 malam, ngoceh sendiri, padahal udah tau sohib saya ini pasti udah tidur, oke ntap, dasar orang reaktif ngga bisa nunggu besok ya bu, hahahaha.

Ngga bisa nunggu besok banget ya bu?
Ngga bisaaaaa


Besok paginya, dibaca doi, nanya-nanya gimana-gimananya, dan disemangatin lagi, ayo kirim gan, hari ini juga harus kirim, karena deadline ntar malam.

Kebiasaan ya sis, ikut lomba mefet deadline.

Abis ngerecokin Deby, ane ngerecokin grup WA geng Cinta. Minta dikoreksi dan divalidasi, ini penting karena saya pengen tau sebagai orang awam non pekerja bank, mereka bisa merasa bermanfaat ngga idenya saya itu. Kan ngga lucu ya, udah semangat ngirim ternyata tiada guna, halah.

Sama Icha, Gesi dan Nahla, terutama Icha dikritisilah dari segala sisi, sampe akhirnya saya bisa ngeliat kelemahan-kelemahannya dan diperbaiki dulu.

Setelah yakin oke, langsung isi form pendaftaran, dan Send. Huuuft, selanjutnya lupakan, hahahah gitu kan yah katanya.

Karena skalanya nasional, alias seluruh unit kerja BRI, maka tahap penilainnya berjenjang, mulai dari seleksi cabang, wilayah, sampe finalis nasional.

Seleksi Cabang, saya keluar jadi juara 1, seneng dong yah, tapi masih biasa.

Seleksi Wilayah, menang lagi juara 1, mulai seneng nih, hahaha. Akhirnya terkumpul 1675 ide seluruh Indonesia.

Masuk Finalis

Sebulan kemudian, dapat surat dari Kantor Pusat, bahwa saya masuk jadi 21 finalis The Best Innovator, dan diundang untuk presentasi ke Kantor Pusat di Jakarta, aaak seneng banget. Seneng karena masuk jadi finalis berarti semakin dekat untuk jadi salah satu pemenang, dan seneng kedua, karena berarti bisa jalan-jalan dong ke Jakarta hahahah. Karena biasanya kan ke Jakarta beneran urusan dinas yang serius gitu, yang ada ujiannyalah, kalau kali ini kan acaranya walau serius tapi bisa dibawa santai.



Pas lihat agenda acaranya juga ngga padet-padet amat, jadi malah bawa anak sekalian.

Pengarahan Direksi

H-1 penjurian, ke-21 finalis yang berasal dari Sabang sampai Merauke dikumpulin dulu nih di Kantor Pusat, dikasih pengarahan materi seputar inovasi oleh Direksi. Wah seneng banget, karena biasanya direksi BRI tuh kalo ngasih wejangan suka keren-keren banget. Saya selalu yang terbakar semangat kalau mereka ngomong, yaiyalah ya kalau ngga gitu ngga mungkin dong yah mereka jadi direksi.

Nah, materi si bapak juga keren abislah. Intinya bahwa BRI tuh berharap bahwa yang namanya inovasi itu bukan hanya sekedar menjadi ajang lomba tahunan tapi harus menjadi DNA para insan BRI, karena dengan semakin cepatnya perubahan yang terjadi , selalu dibutuhkan ide-ide dan terobosan baru untuk mengikuti kebutuhan nasabah.

Oya FYI, memang di BRI sendiri budaya kerjanya udah diubah lho, sekarang ada point inovasinya. Jadi lomba best innovator ini bukan sekedar ceremonial tetapi diharapkan ya jadi budaya kerja bagi para pekerja BRI, laaaf.

Materinya keren banget, ntar saya tulis terpisah deh, karena kalian wajib tahu biar saya ngga sia-sia dapet wejangannya, hahaha.

Abis Pengarahan dari Bapak Indra Utoyo (Direktur DBT BRI)
Bersama 21 Finalis



Kunjungan ke BRI Inovation Center

Selesai pengarahan dari direksi, ngasi ucapan selamat ke para finalis, pemberitahuan jadwal penjurian yang akan dilakukan besok hari, kriteria penilaian lalalala, foto bersama, trus para finalis diajak mengunjungi Inovation Centernya BRI.

BRI Innovation Center ini letaknya persis di Kantor Pusat BRI. Bagi orang-orang Kantor Pusat tiap hari mah bisa ke sini ya, bagi saya yang notabene penempatan di Medan, dapat kesempatan gini ya hepi banget. Langsung pencilakan di dalam, penasaran gimana sih di dalamnya.

Ternyata emang keren banget ya. Jadi saat masuk, kita bakal disambut dengan layar gede dimana disitu akan diputar film pendek sejarah BRI mulai dari berdiri. Jadi ceritanya BRI itu dulu awalnya dari kas Mesjid di Purwokerto lho. Berawal dari gagasan Raden Bei Aria Wirjaatmadja untuk mengentaskan kesulitan masyarakat pribumi kala itu yang hidupnya njomplang banget dengan Belanda. Maka dimanfaatkanlah kas mesjid untuk dipinjamkan ke masyarakat secara bergilir. Abis dibayar dipinjam orang lagi, begitu seterusnya.  Lama-lama jadilah bank dengan nama De Poerwokertosche Hulp En Spaarbank en Inlandsche Hoofden. Atau Bank Bantuan dan Simpanan Purwokerto.

Videonya bikin terharu deh, karena bekground musiknya mendayu-dayu gitu.

Abis nonton, kita dibawa masuk dan ditunjukin semacam bank Hybird. Jadi ada meja gde, trus ada semacam kartu-kartu yang ada kategorinya (pinjaman, simpanan, teras, investasi, layanan prioritas, dll) yang kalau kita letakkan di meja maka akan berpendar trus wups muncul deh tulisan-tulisan yang bisa disentuh trus muncul info lainnya. (mirip kayak yang ada di Art Science Museum Singapore )

( Baca : Tiga  Hari Di Singapura )



Trus, ada bilik tempat kita mengemukakan ide-ide kita.

Jadi di bilik ini ada kameranya. Kita bisa merekam sendiri sambil ngomong apa saja ide yang mau kita sampaikan ke pihak manajemen. Ntar setiap bulan, Divisi Transformer banking akan menyelekasi ide-ide yang masuk dan dipilih ide terbaik yang akan mendapatkan hadiah. Selain itu ide-ide yang bisa diaplikasikan akan dibuat BRSnya untuk diusulkan ke Divisi terkait. Cool yah.

Lalu kami dibawa ke ruangan lain yang isinya layar lebar lagi. Berbeda dengan pas masuk tadi, dimana isi video adalah sejarah BRI, maka di sini videonya menunjukkan gimana ntar BRI masa depan. Wih canggih bangetlah, dimana bener-bener ntar segala transaksi itu tanpa batas banget, dan based on technology, digital, dan sangat modern. Aamiin semoga segera nyampe ke sana.

Nah, gitu deh kira-kira isi Brinnovation centernya BRI. Jadi memang budaya menciptakan inovasi itu bener-bener lagi ditumbuhkan ke para pekerjanya. Wow, bahagia deh melihatnya.

Foto Lagilah buat rame-ramean :)


Setelah acara kelar, saya balik ke hotel.

Penjurian

Besok paginya adalah jadwal penjurian. Ke 21 finalis dibagi menjadi 3 kelompok. Ada kelompok Incremental, Adjacent, dan Breaktrough.

Kategori Incremental itu untuk ide-ide yang merupakan re-engineering business process dari yang susah ada.



Adjacent itu untuk ide-ide yang merupakan existing produk tapi marketnya baru.

Sedangkan kategori breaktough untuk ide-ide yang new product, new market, dan disruptif.

Dan ternyata ide inovasi saya masuk kategori Breakthrough, hahaha, kusenang.

Coba lihat pengertiannya yuk kenapa masuk kategori Breaktrough


Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.
Nah memang ide saya itu sesuatu yang baru sih, beberapa regulasi bahkan agak dilanggar, makanya saya deg-degan banget pas mau presentasi, takut dipatahin karena ada yang melanggar ketentuan yang selama ini sudah ada. Tapi, saya ngga bisa nyeritain apa idenya secara detail di blog, karena ya kan lahacia. Tapi yang pasti bukan sesuatu yang wow banget tapi saya rasa bakal membantu nasabah dalam bertransaksi.

Ok lanjut.

Penjuriannya dibagi 3 tim dengan masing-masing tim terdiri dari 4 juri. 3 orang dari internal BRI yaitu Kadiv, satu orang dari eksternal.

Salah satu Kepala Divisi yang nguji saya tuh Kadiv TSI, wow seru kan, karena blio pasti langsung bisa menilai soal implementasinya secara system. Dan yang dari pihak eksternal, seperti yang saya ceritain di post sebelumnya, dari Tokopedia cuy. Saya excited banget.

Ini CV Jurinya gan, Kece parah kan yah


Karena ya Tokopedia itu kan bergerak di ekonomi digital banget kan, jadi pas dengan ide saya yang inline sama 3 pilar ekonomi jaman now yaitu Digital economy, sharing economy, dan keuangan inklusif.

Pas penjurian tuh, saya yang semangat banget menjelaskan. 3 Kadiv yang dengerin juga banyak nanya ini itu. Nanyain kalau begini gimana, kalu begitu gimana. Ini ada risikonya nih, mitigasi kamu gimana, lalalala, seru deh.

Pas di bagian pemaparan sosialiasasi ke masyarakat, saya kan ngusulin ntar pake jasa influencer, ya blogger, selebgram, youtuber, sekalian saya sebutin nama-nama influencer yang bakal saya gandeng plus rate yang harus dikeluarin BRI, kenapa mereka, gimana mekanismenya, briefnya gimana lalalalala, ya fasehlah kan ane nyemplung disitu ya kaka, hahahahahaha.

Nah, si Ibu Kadiv langsung tertarik gitu, dan komen " Wah ini bisa jadi satu makalah sendiri nih soal influencer ini" xixixi.

Saya nyamber dong yah " Oh kalau ini usah pernah saya jadiin makalah bu dua tahun lalu, pas lomba call paper BRI, dan kebetulan jadi pemenang juga, dan saat ini udah diimplementasikan kok walau belum maksimal.

Kan kan, seru kan yah penjuriannya. Saya dong jadi tambah semangat.

Tapi ada satu juri yang dieeeem aja, ya si bapak Tokopedia. Doi sibuk ketak ketik di laptop macbooknya yang kece (orangnya juga kece), saya sampe membatin, " Ini ngga mau nanya atau gimana yah"

Saat akhirnya slide presentasi saya abis, barulah dia nanya.

Kalimat pertamanya " Hmmm, ide kamu ini beautiful banget lho kalo sampai diimplementasikan"

Yes , kata saya dalam hati



" Tapi ada yang ngga sinkron disini"

Deg-degan

" Coba kamu sampaikan ide ini dalam satu kalimat, intinya aja"

Wets saya diem sesaat, karena agak kaget. tapi ya udah lah ya saya jawab.

Trus dia lanjut " Ini bisa banget dilaksanakan tapi ngga match, ada beberapa hal yang nabrak antara ide dengan tujuan, antara tempat dan sasaran nasabahnya, lalalalalala"

Yang semuanya yang dia bilang itu bener banget, ngga kepikiran sama saya, dan sepertinya juga baru kepikiran sama juri lainnya.

Saya langsung pengen kempis dan menghilang. Ngerasa " Duh iya ya, kok gw bego sih, kok ngga mikirin itu sih, kok kelupaan sih, kok kok yang lain"

Tapi yah namanya lagi presentasi, tetep dong yah berargumen, ngasi penjelasan, ngasi solusi lalalala, tapi intinya ya dia bener dan gw salah.

Saya ngakui banget, makanya langsung sedih.



Trus juri yang lain melihat saya yang mukanya mungkin berubah gitu langsung kasih semangat

" Lho mba, kamu jangan patah semangat, namanya ide itu memang harus divalidasi terus, ada yang salah kita perbaiki, ada yang ngga pas kita cari yang pas gimana, lagian namanya ide ngga harus langsung diimplementasi lho, bisa dikembangkan dan nemu formula yang pas nantinya"

Huhuhu, iya deh paaak, saya laaf dengan kata-kata bapak, tapi saya jadi merasa butiran debu.

Akhirnya waktunya habis, dan saya pamit keluar. yang tadi pas awal masuk udah niat pengen foto bareng langsung ambyar, males banget.

Dan yah gitu, pulang dari situ, saya balik hotel, males-malesan, curhat sama Debi dan geng gong, menyesali kebodohan diri sendiri. Dihiburlah sama Deby " Gan, paling semua peserta digituin gan, namanya juga juri, biasa itu gan " . tapi tetep sedih, ya udahlah capcus pergi ke Bandung, mau jalan-jalan aja sama Tara biar ngga kepikiran lagi.

Lupakan lupakaaaan.


Pengumuman

Nah saya beneran udah ngelupainnya kan. Karena tiap keinget saya langsung sedih, hahahaha, saya agak lebay karena saya bener-bener pengen ide saya diimplementasikan, makanya sedih.

Udahlah, mulai nyusun rencana Trip bareng sohib saya Gesi dan Icha. Itu cuma jarak seminggu banget soalnya. Pulang ke rumah, besoknya balik kantor, nyelesain kerjaan yang ditinggal 3 hari, trus nyiapin koper untuk holidey yeaaay.

Eh malam sebelum pergi holidey, tiba-tiba dapet pengumuman di grup Innovator, kalau saya masuk jadi 10 besar, wohooooooo. Kusenang banget.



Senang karena udah ngga berharap sama sekali lagi. Udah nganggap ide saya kemarin sampah bangetlah. Makanya langsung norak bikin status hahahaha. ga apa ya, saya kan gitu, ada apa-apa nyetatus xixixi.

Urutan pemenang belum tau sih, baru dikasih tau 10 besar secara acak, ntar pengumuman resminya pas ultah BRI Desember nanti.

Kalian tau kenapa saya hepi berat?

KARENA HADIAHNYA KECE PARAH

Saya berdoa aja semoga panitia ngga berubah pikiran soal hadiahnya hahahaha.

BRI ngga main2 ngasih hadiah hahahah


So, begitulah, saya lagi hepi berat. Ntar pas ultah BRI ke 10 finalis bakal diundang gala dinner di kantor Pusat dan diundang di acara ultah di Kantor Pusat juga, yang artinya SPJ lagiii horeeeee, hahahah norak parah.

Saya udah ngga deg-degan soal urutannya sih, mau juara berarapun saya udah hepi aja.

Dan ini bener-bener ngga lepas banget dari dukungan sohib-sohib kesayangan saya Debi buat. dan geng gong yang udah bersedia saya recokin di WA dan samsek ngga nganggap ide saya basi atau cemen. i laf yu lah pokoke.

Btw, plis plis doain gw masuk 3 besar dong fren, hahahaha.

Ayo semangat Brinovasi







Custom Post Signature