Showing posts with label #banker's life. Show all posts

Lebih Aman Bertransaksi di BRI, Dengan Menu Baru Penonaktifkan ATM Sendiri




Yak, yang lagi siap-siap mau liburan, pasti dooong ATM udah full tank, siap buat difoya-foyakan pas akhir tahun, wahahahaha.

Sebagai pegawai bank yang baik dan budiman, saya mau ngingetin aja, untuk lebih berhati-hati ntar saat bertransaksi di ATM yaaaaa sodara-sodara dan nasabahku tercintah.

Soale kan beberapa waktu lalu pernah ya terjadi pembobolan dana nasabah di bank. Modusnya sih sebenarnya udah lama, yaitu pembobolan kartu atm melalui proses skimming melalui alat yang disebut skimmer.

Apa itu skimmer?

Skimmer adalah alat elektronik berukuran relatif kecil yang berfungsi merekam data ketika nasabah melakukan transaksi di mesin ATM,

#Banker'sLife : Hal-Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Tilang Online



Tentang Tilang Online

Salah satu birokrasi paling nyebelin di negara ini adalah semua hal yang berurusan dengan kepolisian.

Hayooo, iya ngga?

Soale belum apa-apa di pikiran kita pasti ntar bakal ribet, pasti ntar bakal lama. Karena harus sidang segala ke pengadilan, mana sempaaaat, masa cuti cuma gara-gara sidang.

#Banker's Life: Biar Kere Yang Penting Kece


Kemarin baca tirto id. artikelnya Arman Dhani Biar Utang Yang penting Gaya.

Ada kalimat yang menarik.

Pada 2013, Kadence International-Indonesia merilis hasil riset Share of Wallet yang mereka lakukan. Hasilnya 28 persen masyarakat Indonesia berada dalam kategori "Broke", atau kelompok yang pengeluarannya lebih besar ketimbang pendapatannya, sehingga mengalami defisit sekitar 35 persen. Pengeluaran ini dilakukan untuk hidup mewah di luar penghasilannya. 

Udah lama sih ya datanya, udah 3 tahun yang lalu juga. Tapi kemungkinan masih relevan sampai saat ini melihat trend gaya hidup, terutama bagi masyarakat urban yang memang ngeri-ngeri sedap awak melihatnya.

#Banker's Life : Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Kartu Kredit

Hal-hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Kartu Kredit




Holaaa, yang belum tahu, di Windiland, tiap Senin sesinya #Banker'sLife ya.

Kemarin ada yang request untuk ngomongin kartu Kredit. Yo wis mari kita obrolin wae.

Disclaimer : tulisan ini berdasarkan pengalaman penulis, bukan berdasar aturan khusus bank tertentu.

Kartu Kredit Itu Apa?

Ini saya jelasin dikit dulu yah, karena walaupun kartu kredit bukan benda asing lagi di masyarakat, tapi masih banyak juga yang belum tahu sebenarnya kartu kredit itu apa sih.

Sama ngga dengan kartu debet?.

Ya bedalah, namanya aja udah beda, xixixi.

#Banker'sLife : Sebelum Komplain ke Bank, Perhatikan Dulu Hal-Hal Ini



Halooo, selamat hari Senin Ceria. Mau ngasih tau nih, mulai hari ini di blog Windiland bakal ada jadwal tetap setiap minggunya, biar ngeblognya lebih terarah maksude.

Nah, setiap Senin, jadwalnya Banker's Life.
Saya bakal nulis postingan yang ada hubungannya dengan bank dan keuangan.

Bisa soal kehidupan saya sebagai pegawai bank, bisa bahas produk-produk bank, atau promo-promo yang sedang jalan nih di bank. Mungkin juga berisi tips-tips seputaran bertransaksi menggunakan produk dan layanan perbankan.

Mengelola Keuangan Keluarga Ala Ibu Bekerja

Dulu, saat masih single, rasanya gaji saya yang tak seberapa itu kok cukup-cukup aja ya buat hidup. Eh giliran nikah, yang berarti punya penghasilan tambahan dari suami kok yaaa kayaknya kebutuhan hidup itu makin lama makin besar. Apalagi setelah punya anak, widih rasanya gaji sebesar apapun pengennya lebih lagi lebih lagi.

Dapat suami yang orangnya sloooow banget. Apa-apa dibawa nyantai. “ Tenang aja dek, rezeki udah ada jatahnya, ngalir aja jangan khawatiran gitu”

Iya sih rezeki emang udah yang ngasih, lha giliran udah ditangan kalau ngga diatur piye dong. Bisa-bisa capek-capek kerja, cuma dapat tagihan doang, ngga bisa punya apa-apa dan ngga bisa ngapa-ngapain. Ya gitu kalau jodohnya suami yang anteng, nyantai kayak di pantai.

Saya mah ogah ngikutin gayanya dia. Kalau sama-sama begitu, bisa hajablah rumah tangga kami. Makanya sebagai istri yang peduli masa depan keluarga #cieeee, walau sederhana, saya punya lho perencanaan keuangan simple untuk keluarga tercintah.

Kenapa kok direncanain? Iya dong, karena yang namanya duit itu kayak hantu, bisa tiba-tiba menghilang tanpa tahu rimbanya. Punya duit segunung pun kalau ngga tahu memanagenya bisa hilang tertiup angin, makanya perlu yang namanya perencanaan keuangan keluarga.

Perencanaan keuangan keluarga juga bertujuan agar kesejahteraan keluarga bisa terwujud. Keluarga yang sejahtera itu, keluarga yang hidupnya teratur, terencana, dan memiliki masa depan yang baik. Halah, itu defenisi ala saya saja, hahahah.

Kalau lagi ngobrolin masalah keuangan dengan teman saya banyak yang langsung komen

“ Kalau kamu enak lah Win, suami istri kerja, punya dua gerdang, bisalah ngatur keuangan ala Safir Senduk, lha kalo kami yang cuma ngandelin penghasilan suami, boro-boro mau pake planning-planningan, bisa cukup sampai akhir bulan aja Alhamdulillah”

Bah, siapa bilang tuh. Dari dulu saya ngga percaya dengan anggapan kalau suami istri kerja hidupnya lebih sejahtera dibanding yang suami doang kerja. You wrong girls.

Masih ingat banget saya dengan kondisi ekonomi keluarga saya waktu kecil. Bapak sama emak saya dua-duanya kerja, dua-dua berpenghasilan, tapi karena semua tidak direncanakan, kami harus gantian lho kuliah, soalnya usia kami berdekatan, jadi masa kuliah juga barengan. Jadinya saat saya kuliah, adik saya harus nunggu dulu sampai saya tamat, setelah saya lulus baru adik saya bisa kuliah, begitu seterusnya. Kenapa? Karena di suatu masa, ayah saya terkena PHK oleh perusahaannya, sementara selama ini ayah dan ibu saya tidak pernah punya tabungan atau investasi untuk pendidikan kami. Tapi Alhamdulillah sih dengan kegigihan ibu kami bisa juga selesai kuliah. Tapi tentu saja dengan usaha yang sangat keras, atau istilah saya, ngos-ngosan .

Untungnya walau suami tergolong cuek, tapi kami punya satu prinsip hidup yang sama, yaitu “ Jangan pernah membeli sesuatu atau merencanakan sesuatu di luar kemampuan ”.

Kalau bahasa orangtuanya “ Jangan besar pasak daripada tiang”

Yee, kalau yang kayak gitu sih semua orang udah tahu ya. Iya semua orang tahu tapi ngga semua orang sukses menjalaninya.

Maksudnya gimana?

Pokoknya dalam mengatur ekonomi keluarga kami type orang yang ngga mau ngos-ngosan karena gengsi.

Contoh kecilnya saja ya.

Di pekerjaan saya sebagai banker. Saya sempatlah setahunan menjadi account officer, yang kerjaannya menyalurkan kredit ke calon debitur. Kadang kalau melihat calon debitur yang mengajukan kredit di bank, saya suka ngelus dada sendiri. Xixixi ya iyalah ya masa ngelus dada orang.

Maksudnya gini lho, banyak banget calon debitur yang niatnya mau pinjam kredit, contohnya kredit konsumtif ya, kayak KPR, KKB, KMG, tapi kemampuan bayarnya jauh dari yang diajukan. Terutama untuk calon debitur KPR. Istilahnya nafsu besar tenaga kurang.

KPR itu termasuk kredit konsumtif, maka perhitungan di bank memakai metode RPC (Re Payment Capacity), yaitu hanya melihat kemampuan bayar dari jumlah penghasilan yang bisa disisihkan untuk angsuran. Jadi oleh bank, bakal dihitung berapa penghasilan kita, dikurangi biaya hidup sehari-hari,dikurangi hutang-hutang yang ada, ketemu penghasilan yang bisa digunakan untuk angsuran. Atau kalau hitungan gampangnya, bank biasanya mematok maksimal 30-40 % dari jumlah penghasilan bulanan. 30-40% lho, bukan seluruh gaji. Trus untuk ngambil KPR, kita juga kudu punya DP ( Down Payment ), yaitu minimal 20- 30% dari harga rumah yang mau dibeli.

Nah kebanyakan calon debitur yang ngajuin KPR,  sebenarnya tidak memiliki DP untuk pembelian rumah, alias hanya berharap dari kredit yang dikucurkan bank. Akibatnya mereka biasanya mengakali dengan menaikkan harga rumah, biar prosentase 70- 80% adalah sebesar harga rumah yang sebenarnya. Akibatnya jumlah angsuran yang harus dibayar pun semakin besar. Padahal maksud bank menerapkan kebijakan DP itu ya supaya si calon debitur ngga berat-berat amat untuk angsuran. Tapi ada aja yang ngakalin seperti itu.

Itu masih contoh DP kurang, ada juga yang karena gajinya ngga mencukupi, mungkin karena sudah terlanjur memiliki hutang di tempat lain, mengakalinya dengan cara merubah slip gaji, dengan meningkatkan jumlah penghasilan di atas kertas biar dapat tuh hitungan angsuran 30% dari THP nya. Kalau udah demikian, ya salam, apa mau dikata bisa dipastikan dese bakal ngos-ngosan dalam mengatur keuangannya. Lha emang udah ngga sesuai tuh hitungannya.

Makanya dulu saat mau membeli rumah, saya dan suami benar-benar menyesuaikan dengan kemampuan bayar kami.  Bukan karena gengsi terus harus ambil rumah di kawasan elite dengan harga yang menggigit. Atau karena pengen sama dengan teman-teman lain, terus beli mobil keluaran terbaru dengan cicilan  yang menghabiskan hampir seperempat gaji saya misalnya.

Ngga lah. Saya dan suami sepakat, yang namanya kredit bukan dihindari tapi sebisa mungkin tidak untuk kepentingan konsumtif. Jadi kalau mau kredit, ya kredit untuk beli rumah saja. Kenapa? Karena nilainya bisa dipastikan akan naik terus.

Beli Mobil? Hmmmm, kami lebih memilih menabung dulu baru membeli sesuai jumlah tabungan. Karena kredit mobil itu tidak memberi nilai tambah.

Kadang ada juga sih orang yang komen, “ Ih masa suami istri kerja rumahnya biasa aja sih”. Atau ngga “ Percuma kerja disitu, tapi mobilnya sama dengan kita-kita yang penghasilannya cuma satu”

Hahaha, ga apa, jangan hidup tergantung omongan orang. Karena yang tahu keuangan kita ya cuma kita sendiri.

Makanya jangan heran kalau banyak orang walau gaji segede gaban, suami istri kerja, tapi tetap saja keuangannya morat-marit.

Saya sih udah lihat banyak keluarga yang pontang panting bayar tagihan ke bank, karena apa? Ya itu karena mereka tidak sadar akan kemampuan diri dan tidak merencanakan keuangan keluarganya dengan baik.

So, mari kita membicarakan rencana keuangan keluarga.

Saya suka membaca artikel-artikel keuangan di website-website financial. Banyak banget ilmu dan tips yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Kalau saya simpulkan sih ya, semua perencana keuangan memiliki satu pandangan yang sama, yaitu yang penting bukan seberapa besar penghasilanmu, tetapi seberapa besar yang bisa kamu sisihkan.

Kalau kata Safir Senduk, malah lebih spesifik lagi, bahwa orang yang kaya itu bukan dilihat dari seberapa besar gaji atau pendapatannya atau seberapa mentereng pekerjaannya, tapi seberapa besar yang bisa disisihkannya untuk investasi. Jadi orang kaya itu yang punya banyak investasi. Yup Setujuh banget sayah.

Untuk bisa tahu seberapa besar yang bisa kita sisihkan setiap bulan, maka kita harus tahu cashflow keuangan kita.

Ada 3 macam cashflow yang mengkategorikan golongan orang kaya, menengah dan miskin.

Orang disebut miskin jika pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, alias habis tanpa ada sisa. Kategori ini ngga sampai memikirkan pengeluarkan tersier atau bahkan sekunder, karena bahkan untuk kebutuhan primer saja sudah habis.

Kategori menengah, jika dari penghasilannya itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan masih bersisa untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, kayak beli pakaian, beli gadget, kongkow-kongkow di mall.

Trus kategori horang kayah, kalau dari penghasilannya dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli barang konsumtif dan masih bisa menyisihkan uangnya untuk investasi.

Nah, dimana nih posisi kamu?

Balik lagi ke kondisi keuangan keluarga saya yang punya dua penghasilan, apa bisa dipastikan kami langsung tergolong kepada golongan ketiga?

TENTU TIDAK

Makanya saya mau bagi-bagi tips nih ala-ala saya dalam mengelola keuangan keluarga.

Alhamdulillah ya, walau ngga berlebih-berlebih amat tapi keuangan keluarga kami lumayan sehat sampai saat ini.  Yaitu tadi prinsip utama keluarga kami dalam mengelola keuangan “ Jangan Besar Pasak dari tiang”

Nah, untuk itu, yang pertama harus dilakukan adalah mengidentifikasi dulu kondisi keuangan keluarga.

1.       Identifikasi Sumber Dana

Yup. Yang namanya suami istri itu harus terbuka dalam hal keuangan. Terbuka dalam arti istri harus tahu berapa penghasilan suami, dan suami pun harus tahu penghasilan istri. Kenapa? Ya biar bisa merencanakan keuangan dengan tepat, dan tidak ada dusta di antara kita.

Yang termasuk penghasilan suami dan istri yaitu gaji, uang cuti tahunan, bonus dan insentif yang didapat. Setelah, tahu gaji masing-masing, mari kelola gaji tersebut.

Pertanyaannya:

Apa suami istri harus memiliki rekening bersama?
Apa suami harus menyerahkan seluruh gajinya ke istri?

Tergantung masing-masing keluarga. Kalau menurut saya sih tidak perlu. Karena istri adalah manajer keuangan keluarga maka sebagai manajer dia ngga perlu pegang uang secara fisiknya, tapi dia yang mengaturnya. Rekening bersama juga tidak wajib dimiliki, karena tidak fleksibel. Cukup istri saja yang membuka rekening, atau kalau tidak, bisa buka rekening atas nama anak.

Ini sih pendapat pribadi saja. Mungkin keluarga lain punya cara yang berbeda.

Pemasukan itu terdiri dari beberapa jenis :

  1. Pemasukan rutin bulananan : Gaji
  1. Pemasukan Tahunan :Bonus, insentif, tunjangan cuti tahunan, THR
  1. Pemasukan Lain-lain :Jika ada usaha atau pemasukan diluar gaji dan pemasukan tahunan, Contohnya uang kontrakan (kalau punya kontrakan).


Setelah tahu berapa penghasilan keluarga per bulan, maka penghasilan itu harus diatur sedemikain rupa biar ga habis begitu saja.

Caranya ?

2.     Buatlah Perencanaan Keuangan Keluarga

Yup, namanya berumah tangga harus punya rencana dong yah. Baik rencana jangka pendek maupun jangka panjang.

Rencana keuangan keluarga itu, kalau di keluarga saya, kami bagi menjadi beberapa bagian



a.      Dana Darurat 

Dana darurat dibutuhkan untuk jaga-jaga saat ada kejadian di luar yang direncanakan. Menurut ahli keuangan, besarnya dana darurat setiap keluarga berbeda-beda tergantung jumlah anggota keluarga dan besarnya pengeluaran rutin setiap bulan.

Karena saya baru memiliki satu anak, dan bakal menyusul yang kedua, maka saya prepare dana darurat untuk keluarga dengan dua orang anak yaitu sebesar 12 kali pengeluaran rutin. Woooww, banyak banget yah.

Saat ini sih kami masih mencicilnya, soalnya belum terkumpul sebesar itu.

Apa saja kegunaannya?

Bisa untuk pengobatan saat sakit kritis, atau jika suatu saat kita kehilangan penghasilan, maka dana darurat bisa menjadi penopang hidup minimal selama setahun ke depan, sampai kita menemukan sumber penghasilan yang baru.

Disimpan Dalam Bentuk apa?

Dana darurat sebaiknya disimpan dalam bentuk yang liquid atau mudah dicairkan. Kami menyimpannya dalam bentuk emas. Belinya ngga banyak-banyak, kapan ada duit, beli dikit, Ada lagi, beli dikit. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

b.  Asuransi

Saya tidak membeli banyak asuransi. Kenapa? Karena kebutuhan asuransi itu berbeda-beda untuk setiap orang, tergantung kebutuhannya. Karena dari kantor sudah ditanggung untuk biaya kesehatan, termasuk rawat inap, melahirkan, imunisasi , kaca mata, gigi , dll, maka asuransi kesehatan langsung coret dari list. Dulu sih sempet punya, tapi segera saya tutup, dananya bisa dialokasikan ke yang lain.

Asuransi rumah sudah dicover saat beli KPR. Jadi ga perlu lagi pasang asuransi kebakaran. Asuransi mobil? Ga punya, kenapa? Pertama karena mobilnya seken, kedua karena berdasar pengalaman cover asuransi mobil selama ini digunakan orang-orang untuk perbaikan-perbaikan kayak lecet karena tersenggol, atau penyok saat tabrakan. Yang mana semuanya itu, tidak terlalu signifikan, bisa menggunakan dana darurat kalau perlu. 

Agar ideal, nominal premi asuransi yang yang kita punya adalah sebesar 10 % dari penghasilan.

Trus apa dong asuransi yang saya miliki

Asuransi yang saya miliki adalah Asuransi Jiwa. Kemarin sih saya sudah beli yang whole life. Tapi setelah baca-baca terus konsultasi dengan sahabat saya yang kerja di asuransi, akhirnya saya putuskan beli yang term life tanpa rider apapun. Preminya bisa minim, hasil optimal. Sekali lagi, ini bisa berbeda-beda tergantung kebutuhan orang.

Memilih asuransi ini juga ngga boleh sembarangan. Jangan malas untuk membandingkan beberapa produk asuransi dari beberapa perusahaan asuransi. Caranya dengan mengirim email ke website mereka, minta ilustrasi atas asuransi yang kita butuhkan, menyangkut berapa premi, pertanggungan, sampai cara klaim dan aturan-aturan spesifiknya.

Nah, biasanya mereka bakal membalas email kita, sekaligus menyertakan ilustrasi asuransi yang kita minta. Tinggal bandingin deh. Tapi yah, kebanyakan asuransi yang saya tanya, ngga mau lho menjelaskan tentang term life mereka pasti nawarinnya unit link. Nah disini kita bisa lihat juga mana asuransi yang mau mendengarkan keinginann kliennya mana yang tidak.

Kemarin saya bandingin 3 perusahaan asuransi yang berbeda. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya pilih yang syaratnya ngga terlalu ribet untuk saya, preminya ringan dan UP maksimal dan mau memberikan informasi sesuai yang saya butuhkan. Disamping itu saya pilih juga yang lebih responsif, jadi kalau ada apa-apa mereka bakal cepat menanggapi kita.

Asuransi jiwa yang saya pilih adalah Asuransi Jiwa term Life 20 tahun Sun life. Dengan premi Rp 500 ribu perbulan, UP nya sekitar Rp 1 Milyaran. Cocok dengan permintaan dan kebutuhan saya. Kalau mau tahu info hitung-hitungannya bisa nih menghubungi ke sli_care@sunlife.com 

c.    Investasi

Yup. Rencana keuangan berikutnya yang kami susun adalah alokasi dana ke investasi. Kalau di Sumatera Utara khususnya di Medan, investasi yang paling menggiurkan itu adalah perkebunan sawit. Namun karena kami tidak memiliki keahlian disitu dan juga tidak memiliki waktu jika memiliki kebun sawit, maka kami pilih investasi yang tidak memerlukan effort besar dalam mengelolanya.

Investasi bisa dibagi menjadi jangka panjang dan jangka pendek.

Untuk investasi Jangka panjang kami investasi ke rumah dan sawah.

Alasannya?

Simpel saja, jumlah penduduk semakin hari akan semakin bertambah, dan yang pasti lahan di muka bumi  tidak akan pernah bertambah. Maka sesuai hukum ekonomi, semakin tinggi demand dengan supply yang terbatas, maka dipastikan harga akan naik terus.

Tapi, darimana duitnya mau beli asset? Harus ngumpulin berapa lama?

Nih, cara kami untuk memiliki asset dengan murah :

-          Beli di saat pemilik butuh uang
-          Beli di saat ekonomi sedang lesu
-          Atau beli di saat promo (rumah)

Jangan terlalu mikirin lokasi, percaya deh, ntar semua lokasi bakal prime xixixi. Apalagi ini buat jangka panjang, jadi ngga bakal rugi.

Kenapa sawah?, karena sawah harganya tidak terlalu mahal. Setelah dimiliki masih bisa menjadi sumber pemasukan, dari hasil panen atau disewakan.

Untuk Apa saja Alokasinya?

Investasi jangka panjang itu, kami alokasikan untuk biaya pendidikan anak saat SMA dan kuliah, dan uang pensiun. Sementara menunggu itu, rumah dikontrakkan dulu, bisa buat pemasukan tambahan. Uang sewanya dialokasikan untuk cicilan haji. Jadi ngga perlu mengganggu cashflow bulanan atau tahunan untuk dana haji. 

Selain investasi jangka panjang, menurut saya sebuah keluarga juga harus memiliki investasi jangka pendek. Tujuannya untuk biaya pendidikan anak dalam waktu dekat, untuk usia SD sampai SMP deh. Kalau kami sih nempatinnya ke emas dan reksadana. Ngga banyak-banyak, rutin perbulan saja sebesar Rp 500000/bulan sudah cukup, sehingga nanti saat Tara masuk SD, SMP, dananya sudah tersedia.

Nah, setelah tahu pemasukan, punya rencana, baru identifikasi pengeluaran. 

Kenapa pengeluaran diletakkan di point terakhir?. 

Karena yang namanya pengeluaran mah, besarnya bisa suka-suka, makanya setelah disisihkan untuk rencana-rencana di atas, baru dana di luar itu dialokasikan untuk pengeluaran yang lain. Kalau alurnya dibalik, yang ada malah semua penghasilan bakal habis untuk membiayai pengeluaran rutin sehari-hari.

3.    Identifikasi Pengeluaran

Yang harus diwaspadai adalah pengeluaran rutin. Jangan menyepelekan pengeluaran yang kecil-kecil alias printilan, karena kecil-kecil kalau digabungkan bisa besar juga lho.

Pengeluaran rutin diantaranya:

-       Belanja Bulanan
-
Kebutuhan dapur dan toiletres
-       Tagihan rutin bulanan
-                       
Listrik, air, gaji pembantu, daycare (jika ada), tivi berbayar, angsuran KPR, angsuran KK, premi asuransi, uang satpam, uang sampah, pulsa, internet
-       Tagihan tahunan
-                       
Pajak kendaraan, PBB, zakat, qurban, biaya mudik, rekreasi.
-       Insidentil dan pengeluaran tahunan
-                       
Undangan, berobat

Pengeluaran Tidak Rutin

Investasi, Dana Haji

Setelah semua pengeluaran diidentifikasi, maka mari kita sinkronkan antara pemasukan, rencana keuangan keluarga dan pengeluaran.

Gaji Bulanan

Gaji bulanan digunakan untuk memenuhi pengeluaran rutin bulanan.

Jadi yang namanya semua tagihan-tagihan itu, harus terpenuhi dari gaji. Kalau di keluarga saya, karena kami dua-duanya bekerja, jadi disepakatin saja, semua pengeluaran rutin bulanan tanggung jawab suami.  Jadi yang namanya uang belanja basah, belanja kering, tagihan listrik dan kawan-kawannya, dibebankan di gaji suami.

Untuk tagihan tahunan, seperti PBB, pajak kendaraan tetap disisihkan dari gaji bulanan.

Penghasilan Tahunan

THR

Salah satu penghasilan tahunan yaitu THR. Karena kami dua-dua bekerja, jadi THRnya dobel doong #nyengir lebar. Nah THR digunakan untuk membiayai mudik dan keperluan lebaran. Mudiknya kami kan ke Jogja, jadi lumayan juga tuh biayanya . Kalo ngga dianggarkan mana bisa mudik setahun sekali. Selain untuk mudik, THR juga dialokasikan untuk zakat dan Qurban, soalnya idul Adha dan Idul Fitri kan berdekatan yah, jadi sekalian aja.

Uang Cuti

Penghasilan tahunan yang lain yaitu uang cuti tahunan. Besarnya biasanya satu bulan gaji. Ya wis gunakan buat rekreasi. Rekreasi itu penting pake banget lho. Apalagilah bagi kami yang dua-dua bekerja, tuntutan pekerjaan sepanjang tahun membuat rekreasi jadi hal yang harus dipenuhi. Jadi tiap tahun dari uang cuti bisa buat jalan-jalan, ngga usah jauh-jauh sekitaran Sumatera Utara saja. Kalau mau jalan-jalan yang agak jauhan saya bisanya punya trik tersendiri.

Di kantor saya itu, kami punya jatah untuk mengikuti public course minimal sekali dalam setahun. Biasanya kesempatan ini saya gunakan sekalian untuk rekreasi. Jadi menghemat biaya akomodasi dan transportasi, karena kan ada SPJ nya. Bisa ke Jogja, Bandung, Bali, Lombok, atau ke Jakarta aja.

Apa saya termasuk korupsi?

Ngga dong, kan rekreasinya dilakukan setelah dinas selesai, jadi sama sekali tidak mengganggu kewajiban saya terhadap perusahaan.

Disamping itu, kegiatan mudik tahunan ke Jogja ya sekalian kami manfaatkan untuk rekreasi.

Bonus dan Insentif Tahunan

Karena jumlah bonus dan insentif lumayan besar, maka digunakan juga untuk kebutuhan yang besar, yaitu investasi. Jadi setiap bonusan uangnya ngga dipakai buat hura-hura tapi buat nambah asset. Bisa juga dengan memanfaatkan pinjaman yang diberikan perusahaan. Iya, biasanya yang namanya pegawai itu diberi kredit lunak oleh perusahaan. Kayak di kantor saya, kita tuh dikasih pinjaman dengan bunga rendah dan jangka waktu yang panjang. Gunakan itu untuk investasi

Trus gaji istri untuk apa?

Untuk asuransi

Untuk nyicil dana darurat

Untuk investasi jangka pendek, seperti tabungan berencana  buat sekolah Tara sampai SMP.

Untuk beli makeup, xixixi sama untuk kebutuhan insidentil kayak undangan dan jenguk orang sakit, untuk kegiatan sosial.

Nah, kalau sudah direncanakan begitu, mudah-mudahan keuangan keluarga bisa lumayan rapi. Dan yang penting ngga menjalani hari-hari kayak dikejar-kejar setan alias Ngos-Ngosan.

Satu lagi  prinsip yang ada di keluarga kami, selain jangan membeli atau merencanakan sesuatu di luar kemampuan, Kami juga sepakat terhadap satu hal, bahwa bertambahnya penghasilan, misalnya karena kenaikan gaji bukan berarti harus diikuti dengan upgrade life style. Its big no no deh.  Jadi, jangan gara-gara naik gaji, yang artinya kelonggaran tarik angsuran kredit dari hitungan gaji bertambah, maka langsung ambil kredit maning untuk ganti mobil. Kalau demikian percayalah, selamanya gaji yang ada akan habis untuk memenuhi gengsi demi kesesuaian jabatan dan gaya hidup. Buat apa?, emangnya kita hidup untuk memuaskan anggapan orang.

Ngga kan?

Kalau semua sudah terencana dengan rapi, Insha Allah masa depan keluarga bisa lebih baik, karena kita memiliki planning-planning yang akan dijalani. Namun tentu saja, ada campur tangan Yang Maha Kuasa di dalamnya, yang namanya rezeki kan memang Dia yang memberi.

So, itu tips perencanaan keuangan ala-ala keluarga kami. Bagaimana dengan anda?


Stereotype Banker

Tadi main ke blognya mba ira tentang stereotype terhadap profesi seseorang. Salah satunya adalah banker. Dipikir-pikir, ternyata memang banyak banget sterotype seorang banker yang sudah melekat di benak orang-orang.


Banker = Jago Ngitung Uang

Jadi katanya stereotype seorang banker itu adalah jago ngitung. Hahahaha, bener banget tuh. Saya sering mengalaminya berkali-kali. Kalo ada acara-acara sering didaulat jadi bendahara lah, jadi tukang ngumpulin duit lah, lhaa malah menjurus jadi kasir. Sepertinya orang-orang membayangkan kalau kerjaan banker di kantor itu ngitungin duit mulu. Ada sih yang memang kerjaannya demikian, itulah Teller, emang kerjaannya ya ngitung duit. Tahu kan kalau teller di bank itung ngitung duit bisa cepet banget, bahkan pada jago-jago ngitung duit pakai 3 jari, sreeet sreeet. Makanya dianggap banker ngitung duit? Keciiil. Xixixi, padahal ngga semua teller juga lho jago ngitung duit manual gitu, apa pada ngga tau ya sekarang mah para teller ngitung duit pakai mesin hitung uang, tinggal letakin di mesin, mesinnya yang ngitung sendiri.

Kurang Kece Aja

Pernahkah kalian berada di suatu kondisi dimana ekpsektasi tidak sesuai dengan kenyataan ?.

Contohnya saat saya kuliah di Semarang, pertama kalinya saya makan risol isi rogut. Bayangan saya, yang saya gigit adalah rasa gurih bercampur pedas dari sayur-sayuran yang ada di dalam balutan risoles. Seperti itu gambaran risol versi saya. Makanya saat gigitan pertama, saya langsung mual dan kecewa. Yah, risol kok manis sih. Berasa ketipu mentah-mentah sama yang jual risol. Padahal ya si penjual juga ga pernah bilang kalau risolnya pedas atau manis. Salahnya saya juga yang ngga nanya.  Perasaan saat itu, sakit maaak.Hiks, risolku kok begini??? Kembalikan uangku !!!

Hampir [Gagal] jadi Bankir

Kalau saja  satu keluarga yang selamat dari kecelakaan Air Asia jurusan Surabaya-Singapura tidak salah jadwal keberangkatan mungkin nama mereka akan ada di deretan para korban.

Kalau saja pada saat tsunami Aceh, tidak bertepatan dengan perayaan ultah BRI, mungkin akan banyak sekali pekerja bank tersebut yang menjadi korban.

Alumni Tekim Murtad

Ika natassa adalah satu dari sekian banyak bankir yang hidup di muka bumi ini yang sukses menceritakan kehidupan bankir dengan sangat mulusnya. Semulus wajah Alexa di Divortiare, semenawan Kiara di Antologi Rasa, dan Segemerlap hidup Andrea di My Very Yuppy Wedding. Sampai-sampai saat membacanya saya langsung pengen menjedutkan kepala ke dinding, itu bankir dimana sih kok hidupnya bisa asoy geboy gitu, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kehidupan bankir di Kampung Pon yang satu ini #sedih.

Cerita Bankir

Sore ini pas ke Gramedia, saya terusik dengan hasil pencarian saya atau tepatnya hasil pencarian yang tidak saya temui.  Ceritanya saya iseng nyari buku-buku entah novel, karya sastra, buku non fiksi, buku motivasi yang ada hubungannya dengan profesi  bankir. Ih ternyata sedikit sekali. Dari hasil pencarian hanya 4 buku saja, yaitu bukunya Ika Natassa, trus the banker Ranny Affandi, buku Bankir sesat si Icanx sama satu lagi saya lupa judulnya, buku tentang kisah bankir konyol yang lain.

Rumput Tetangga [Selalu] lebih Hijau

Minggu ini di grup BB saya lagi hangat membicarakan tentang hasil tes manajer yang seharusnya saya ikuti beberapa waktu lalu.

" Si A jadi MP di Kuta, si B di Medan PH,si C, di Jakarta kota"

Seneng denger kabar teman-teman yang berhasil lulus dan melaju ke jenjang karir berikutnya. Namun ternyata tak dapat saya pungkiri terselip sedikit rasa iri di hati.

" Duh, enaknya mereka, sudah selangkah di depan saya".

Sebagai manusia biasa terkadang kita memang tak bisa terhindar dari rasa iri melihat kesuksesan orang lain. Isltilah "Rumput tentangga lebih hijau" itu benar adanya. Di satu sisi banyak teman saya yang mungkin iri melihat hidup saya, saya pun demikian melihat mereka.

Ada ketakutan-ketakutan akan tertinggal dibanding teman-teman seangkatan yang ujung-ujungnya menjadi " Kalau saja kemarin saya ikut", " Mungkin saja bisa penempatan Medan", dst dst andai andai yang katanya pintu masuknya setan pun menguasai saya.

Kemudian saya lihat wajah putri kecil saya yang sedang menyusu dengan semangatnya. Ah, tiba-tiba saya malu pada diri sendiri, malu pada sang Pencipta. Saya ini sudah dilimpahi banyak rezeki tapi kok ya masih tidak bersyukur juga, masih merasa kurang juga.

" Sesungguhnya orang yang berkecukupan adalah orang yang di hatinya selalu merasa cukup dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus " (HR.Ibnu Hibban )

Plak, tertampar rasanya. Berarti mungkin saya masih termasuk orang fakir. Hmmm semoga di Ramadhan ini saya bisa mencuci otak saya dan menjadi orang yang berkecukupan dengan selalu merasa bersyukur.

Efek Domino: Waspada Bahaya Miras dan Minol Bagi Remaja


Sebulan yang lalu saya mengunjungi salah seorang debitur di daerah Rantau Prapat. Karena si debitur adalah pemasok TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit yg mana sehari-hari menghabiskan waktu di lapo tuak,maka saya pun menemuinya disana sekaligus melihat langsung aktivitas usahanya. Di Sumut terutama di daerah-daerah Kabupatennya,lapo tuak memang menjadi semacam central point untuk berkumpul.Merupakan pemandangan biasa bagi saya melihat para lelaki berkumpul di lapo tuak sambil minum minuman tradisional yang terbuat dari nira tersebut. Namun hal yg membuat saya terkejut adalah saat mendapati beberapa remaja bahkan anak-anak yang ikut meneguk tuak.

Kuta Rock City Part 1

Gara-gara suka menunda-nunda pekerjaan, saya hampir kelupaan kalau mau nulis tentang perjalanan saya waktu ke Bali bareng sohib saya.

Jalan-jalannya udah setahun yang lalu, waktu saya masih kerja di Kantor Pusat di Jakarta,  tapi baru sempat nulisnya sekarang. 

Di perusahaan saya, setiap pekerja mempunyai jatah untuk mengikuti pendidikan or training sebanyak dua kali dalam setahun. Pendidikannya boleh apa saja, tetapi lebih diutamakan yang berhubungan dengan bidang tugas kita. Dan ada aturan tak tertulis, untuk pekerja khususnya yang di kantor pusat, tempat pendidika n diutamakan hanya yang berada di Jawa-Bali saja. Soalnya kemarin-kemarin waktu dibebasin boleh dimana saja, banyak pekerja yang milih pendidikan ke Batam, trus ujung-ujungnya nyebrang ke Singapur, halah, dasar ya anak muda , teteeep aja pendidikan pun disemepet-sempetin sambil jalan-jalan ( iya dong, kapan lagi).

Tentang Kredit di Bank

kredit di bank


Bagaimana cara mendapatkan kredit di bank

“ Win, aku punya rumah, lokasinya strategis, besar lagi, bisa ga aku agunkan di bank dan dapet kredit?’

Seorang teman menghubungi saya seminggu yang lalu. Bukan pertama kalinya saya mendapat telepon bernada serupa dan menanyakan hal yang sama. Mulai dari teman, sodara, teman suami, teman adek, temen ortu, pokoknya siapa saja yang tahu saya kerja di bank.

Just Do It


Marketing???. It’s a big No No job to me.

Dari dulu saya selalu menghindari apapun pekerjaan yang berhubungan dengan marketing. Alasannya, karena saya menyadari saya bukan orang yang luwes, tidak juga supel, dan yang utama , ga bakat.

Saat lulus kuliah, saya sempat  bekerja di salah satu perusahaan gas. Saat itu saya diterima sebagai management trainer. Jadi selama 3 bulan masa trainee saya bekerja berpindah-pindah dari satu bagian ke bagian lain. Sebulan saya bertugas di bagian pengolahan dan produksi gas di daerah Cibitung. Pabriknya yang sudah canggih membuat saya asik-asik aja kerja disitu. Semua sudah otomasi. Control pun dilakukan via computer yang terkoneksi dengan segala macam peralatan pabrik. Menurunkan dan menaikkan tekanan. Mengatur suhu, semua dilakukan hanya dengan memencet tombol di ruang controlling. It’s ok to me. Ruangannya bersih, ber-AC, nyaman lah pokoke. Apalagi saya juga dibantu oleh beberapa operator yang sudah sangat ahli. 

Setelah dianggap menguasai seluk beluk pengolahan, kemudian saya ditugaskan ke pabrik di Medan karena mereka akan ekspansi dan membangun pabrik baru. Jadilah saya si sarjana Teknik Kimia harus nyemplung dan berkutat dengan segala tetek bengek pembangunan sebuah pabrik. Termasuk membaca blue print pabrik dan simbol-simbol yang bikin mata kelilipan, ra mudeng blas. Tapi yah lama-lama jadi ngerti juga kerjaan anak teknik sipil Seharian panas-panasan di lokasi pembangunan, ibarat perawan di sarang penyamun, saat itu saya bekerja diantara para kaum adam. Yang paling tidak saya sukai dari pekerjaan itu adalah, beratnya sepatu safety yang harus saya pakai. Ditambah mesti pakai helm saat bekerja, aaagh ga ada manis-manisnya lah. Bisa dipastikan hanya dalam waktu satu bulan, kulit saya yang sudah mati-matian di lulurin , akhirnya hitam juga. Namun demikian , saya masih sanggup melewatinya.

Bulan ketiga, saya dipindah lagi ke bagian sales engineering. Sales??. Yup. Jelas dari namanya, pasti kerjaannya jualan. Tapi yang namanya sales engineering itu ga cuma jualan doang. Produk utama pabrik tersebut adalah gas (N2,O2,Argon ). Salah satu konsumen saya saat itu adalah rumah-rumah sakit di Medan. Mereka butuh N2 dan O2 untuk operasi. Jadi kerjaannya ga Cuma jualan gasnya, tapi termasuk merencanakan letak dan instalasi aliran gas agar tepat dan sesuai dengan rancangan dan design bangunan rumah sakit. Termasuk memberi pengarahan cara pemakaian gas-gas tersebut, yang mana kalau tidak ditangani dan digunakan sesuai procedural dapat menyebabkan kecelakaan.

Makanya setiap tahu ada rumah sakit yang akan dibangun, saya segera bergerilya jualan disana. Mendekati pihak rumah sakit. Tawar menawar harga, ikut tender, meninjau lokasi, dst dst. Dan ternyata, dari ketiga pekerjaan yang saya jalani di satu perusahaan, pekerjaan marketing ini adalah yang tersulit.

Saat saya di bagian pengolahan, semua ada di teori. Bisa dipelajari, Kalau tekanan naik, tinggal gedein volume, biar tekanan turun, buka valve. Untuk memisahkan oksigen, nitrogen, argon dari udara udah ada caranya, pada suhu berapa mereka akan terpisah di tabung destilasi, berapa tekanannya. Begitupun saat merancang pabrik, sudah jelas spec bahan-bahannya, berapa jarak, berapa maksimal beban yang aman. Namun saat di marketing, sama sekali ga ada ilmu pastinya. Just Learning By Doing

Kemarin-kemarin saya sempat juga nyoba-nyoba marketing dengan masuk dalam sebuah MLM kosmetik. Adakah yang berhasil saya jual?. NOTHING. Dari mulai daftar sampai sekarang saya ga jual apapun. Alasannya sih sebenarnya cukup simpel, karena saya saja ga interest untuk memakai produknya, jadi bagaiamana saya mau menawarkan sesuatu yang saya pun tidak menggunakannya.

Dan sekarang, saya harus berkutat di dunia marketing lagi. Kali ini saya ga jualan produk yang kasat mata. Karena bisnis utama di perusahaan saya ini adalah bisnis dengan modal terbesar berupa kepercayaan.

Kerjaannya?. Saya akan bekerja sama dengan para pengusaha atau individu berpotensi dimana kami akan menjadi partner bisnis mereka, saling membantu dalam mengembangkan usaha yang mereka geluti. Berbeda dengan marketing lain, disini saya tidak hanya menjual produk, kemudian mendapat keuntungan dari hasil jualan tersebut terlepas dari apakah pembeli butuh atau tidak, puas atau tidak dengan produk yang ditawarkan.

Jadi saya harus memastikan bahwa, partner bisnis saya benar-benar membutuhkan produk yang saya tawarkan. Untuk itu saya akan menganalisa usahanya, termasuk saya membantunya mengetahui prospek bisnis ke depannya dan memberi masukan serta saran yang bermanfaat untuk perkembangan bisnisnya. Jika ternyata ia butuh tambahan modal kerja, atau tambahan buat investasi, atau untuk menggantikan biaya yang sudah dikeluarkannya, maka perusahaan kami akan menjalin kerjasama sesuai kebutuhannya. Tidak kurang dan tidak lebih. Untuk itulah dibutuhkan saling percaya diantara kami. Saya percaya dia tidak ingkar janji. Dan ia juga percaya bahwa saya akan membantunya di saat susah maupun senang. Asik banget kan kerjaan saya.

Pada kenyataannya, saya sangat baru dalam bidang ini. Dan dalam waktu yang singkat ini saya dapatkan bahwa marketer sejatinya adalah seorang artis. Dimana ia harus selalu tampil menyenangkan , tak peduli apapun suasana hatinya. Harus terus berinovasi agar client tidak bosan dan berpindah ke lain hati, Makanya dibutuhkan kreativitas disini, tak sekedar ilmu pasti. Jadi segala teori yang diberi dan ditulis oleh buku-buku tentang marketing is bullshit. Itu hanyalah pendukung, sebagai dasar agar kita tahu ilmunya saja . Pada akhirnya seni berkomunikasi dan empati menjadi kunci kesuksesan. Jadi jangan pernah remehkan seorang tenaga marketing. Karena butuh keterampilan dan kesabaran luar biasa untuk sukses menjalaninya.

Untuk itu, saya perlu belajar banyaaak banget untuk menjadi marketer handal ( ceilah ), doakan sayah yah saudara-saudara. Oya, nama pekerjaan saya adalah Account Officer. Jadi, kalau kalian butuh partner bisnis yang memiliki satu visi yaitu ingin melihat usaha anda tumbuh dan berkembang dan mengutamakan rasa saling percaya sebagai landasannya, , cari saya yah.

Sekarang kalau mendengar kata Marketing?

Marketing is Art, so Just Do it..

Transit Lounge

Saya bersyukur banget dah Pemilu daerah Jakarta jatuh pada hari Rabu, pas di tengah-tengah Minggu, di tengah bulan pula, jadi segala kerjaan kantor yang mendesak sudah selesai. Begitu tahu bahwa kantor saya yang terletak di wilayah Jakarta libur, langsung urus surat cuti, pesen tiket, kabuur. Senengnya bisa sekitar lima harian di rumah.

Sampai di bandara, masih 2 jam lagi sebelum waktu boarding. Karena masih lumayan lama, saya pikir lebih enak kalau nunggunya di Executive Lounge saja. Kebetulan , BRI baru buka Transfer Lounge di terminal F. Sebagai pekerja yang sangat baik, saya pun memilih ke BRI transfer Lounge dari sekian banyak Lounge yang ada disana.

Dan begitu masuk, WOW saya kaget banget, ngga nyangka Lounge nya BRI tuh keren banget. Interiornya pas dan sangat modern. Dengan area yang lumayan luas, memungkinkan lounge ini mengakomodir berbagai kebutuhan tamu yang akan melakukan perjalanan. Begitu masuk, di sebelah kiri terdapat Meeting Room, jadi kalau kebetulan saat mau melakukan perjalanan dan ada janji dengan rekan bisnis, bisa langsung kesini. Tempatnya private, ngga akan ada yang nguping.


Kemudian ada counter khusus check-in. Kalau kamu males ngantri check-in di counter Garuda-nya langsung saja check-in di Lounge BRI ini. Kemudian berturut-turut di sebelah kiri ada mushola yang mungil tapi sangat representatif, kamar mandi yang luas untuk ukuran sebuah lounge. Terdapat tiga buah kamar mandi, dengan kebersihan yang TOP Banget , dan wangi, dan keren, dan nyaman. 


Trus ada smoking Room khusus, jadi yang ngga merokok ngga khawatir akan ditularkan penyakit, dan yang merokok, silahkan tuh hirup asap beracun sendiri di ruangan yang sudah disediakan. 

Bagi yang akan bepergian ke luar negeri, kamu ngga perlu repot ngurus segala macem ke imigrasinya. Lounge BRI ini udah nyedian khusus. wah benar-benar memanjakan pengunjungnya.

Nah itu baru ruangannya. Kalau kita mampir ke Ex Lounge salah satu yang menjadi pertimbangan saya mau menggesek kartu kredit saya di tempat itu adalah makanan yang disediakan. Pengalaman saya selama ini, ex Lounge di Medan dan Surabaya merupakan ex lounge dengan makanan yang jempolan deh, kumplit dan enak.


Nah disini, ngga usah diragukan. Di makanan utama, ada nasi dan aluk-pauknya yang erdiri dari, sapi lada hitam, ayam asem manis, mie goreng, omelet. dan capcay. Trus yang ringan-ringannya ada sop jagung, siomay, roti dengan aneka selai, atau kalau mau roti bakar juga ada. Untuk cuci mulutnya, ada buah-buahan yang terdiri dari buah anggur, stroberi, jeruk mandarin, semangka, dan melon yang super manis. Aneka kue juga tidak ketinggalan, apis legit, kue lapis, pie buah, risoles, kroket, apa tuh saya ngga tau namanya, yang kayak roti perancis itu, dan entah apa lagi yang saya ngga tau nyebutnya. Ngga suka kue? tenang ada aneka puding, mau puding coklat, puding stroberi, atau puding susu ada semua. 










Trus minumannya?. Di pojokan saya lihat ada jus jeruk dan jus jambu biji. Trus ada teh, di lemari esnya ada berbagai minuman bersoda, yang bening, merah atau yang berwarna coklat ada semua. Nah disini , awalnya saya celingak-celinguk dan terselip sedikit kekecewaan, coffe makernya dimana???. Bagi saya, salah satu yang bisa membuat saya betah berlama-lama di lounge adalah kopinya. Yah ngga ada, saya agak kecewa. Tampaknya si mba yang mondar-mandir, ngeliat kekecewaan di wajah saya, langsung dia nanyain saya nyari apa. Saya bilang aja, saya pengen minum capuccino. Si mba nyuruh saya duduk aja, nanti diantarnya, dan taraaaa, secangkir capuucino yang masih mengepul hadir di hadapan saya. Wee, keren mba nya, kaya sim salabim, mungkin saya kurang explore kali. Gimana, komplit banget kan ya.

Dan yang membedakan dengan ex lounge lain. Disini kita diperlakukan benar-benar seperti tamu. Bilang aja mau makan apa, si mba dan si mas-mas yang akan melayani, kita tinggal duduk ntar makanannya diantar. Coba, di mana tuh yang kayak gitu, belum pernah saya.
 

Mana kursinya nyaman banget lagi, bikin jadi males-malesan deh disitu. Satu lagi yang paling keren, koneksi wifi nya booo, kenceng banget. Selama dua jam disitu saya bisa donlot video You Tube sebanyak 4 biji, bayangkan, biasanya? boro-boro empat sebiji aja lambreta banget.

Lima menit sebelum waktu boarding, terdengar pengumuman bahwa pesawat saya delay selama 40 menit, hadeeh. Tapi bukannya kesel, saya malah seneng, asiik masih bisa lama-lama disini. Habis yahud banget sih lounge nya. Mana mba-mba dan mas nya ramah banget. 

Pas saya mau sholat, ditunjukin musolanya, ih seneng deh, musolanya sangat manusiawi. Saya pernah ke salah satu ex lounge di terminal 1B. Ya ampuun, itu musola sangat tidak layak buat sholat. Sempit, dan kotor. Kalau disini?, bersih, wangi dan lapang. Cukuplah buat sholat sekitar 5 orang.


Oya saya belum ngasi tahu ya. Yang boleh nogkrong di BRI Trasnit Lounge ini hanya pemegang kartu kredit BRI Gold dan platinum. Tapi, kalau kamu belum punya kartu BRI bisa kok tetep mampir disini, tapi bayar tunai sebesar Rp 125.000. Jumlah segitu worthed banget lah untuk segala layanan dan makanan yang disediakan. Tapi biar lebih enak, buruan buka kartu Kredit BRI. Syaratnya gampang banget kok, hanya mengisi aplikasi di kantor BRi terdekat, sertakan FC KTP dan slip gaji kamu. 

Kenapa kamu harus punya KK BRI ?. Kelebihannya dibanding KK bank lain, pertama dari suku bunga. BRI tuh menetapkan suku bunga terendah dari segala macam kartu kredit yang ada di Indonesia.  Trus, kalau kamu pemegang KK Gold dan Platinum bisa menggunakan fasilitas Ex Lounge di hampir seluruh bandara tanpa pake potong poin segala. Kalau KK bank lain biasanya pake potong poin lho, jadi kamu harus ngumpulin poin dari transaksi belanja , kemudian kalau sudah terkumpul sejumlah poin baru bisa masuk ex lounge. Kalau BRI, bebas, keren banget kan. BRI memang memanjakan nasabahnya. 

Kalau kamu pemegang kartu platinum malah lebih asoy lagi, bisa dapet fasilitas-fasilitas tambahan. Apalgi jadi nasabah Prioritas. Salah satu keuntungannya bisa dapet parkir di Valet parking. Kebayang kan susahnya nyari parkir yang strategis di mall-mall, bandara. Dengan nunjukin kartu prioritasmu, kamu bisa dapetkan kemudahan itu. Terus otomatis jadi anggota Safir lagi. Tahu kan Safir??, itu tuh semacam klub executive gitu lah, isinya yah orang-orang yang ngga inget lagi berapa uang yang ada di rekeningnya, :D.

Waaaaa, udah deh, ngga perlu mupeng gitu. Cepet-cepet aja datengin BRI, dan segera apply kartunya, biar bisa segera menikmati segala kemudahan, kenyamanan, yang diberikan. Ditunggu ya.
 

Gambar: Koleksi Pribadi








Lowongan BI


Beberapa waktu lalu, saya melihat di koran Kompas pengumuman penerimaan pegawai PCPM dan MLE untuk Bank Indonesia.


Mata saya langsung berbinar-binar bahagia. Bagaimana tidak? untuk seorang pegawai bank, bekerja di BI merupakan prestise tersendiri, setidaknya itu menurut pribadi saya.Bukannya tidak mensyukuri pekerjaan yang ada sekarang, namun sudah fitrahnya manusia untuk selalu mencari kehidupan yang lebih baik ( duilee bahasanya)

Dengan semangat 45 saya buka link alamat yang tertera disana. saya baca satu persatu persyaratannya. Dan..... seperti ditabok , beuuugh ternyata tidak ada lowongan untuk jurusan saya, TEKNIK KIMIA. Oke, pasti yang baca tulisan saya ini langsung protes, ya iya lah jurusan Teknik Kimia tu emang naturalnya bukan kerja di bank, tapi di industri, pabrik ,minyak,gas, dan yang sejenisnya. Tapi mungkin banyak yang tidak tahu kalau jurusan Teknik Kimia itu adalah jurusan dengan disiplin ilmu yang bisa masuk ke jenis pekerjaan apapun.

Contohnya bank. Bisnis utama bank kan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Nah kredit itu sendiri diberikan ke berbagai sektor, yang salahtiganya itu adalah sektor industri, migas dan agribisnis yang notabene basic usahanya dipelajari oleh mahasiswa teknik Kimia. Mulai dari prosesnya, produknya sampai manajemen dasarnya pun pernah kita pelajari.

Pun demikian dengan disipilin ilmu yang lain, selain kedokteran, menurut saya semua jurusan bisa masuk ke Bank ( bahkan ada teman saya yang jurusan kedokteran hewan kerja di bank :).

Kenapa? karena bekerja di bank yang paling dibutuhkan itu adalah logika berfikir. Semua bisa dipelajari. Ilmu yang harus didapat oleh seorang bankir bisa dikelompokkan dalam dua garis besar yaitu hukum dan ekonomi. Selebihnya adalah ilmu yang bisa dipelajari dengan kursus, seperti kursus kecantikan, kursus kepribadian dan kursus service excelent.

Jadi, seyogianya ( saya ga terlalu mengerti arti kata ini), setiap jurusan harusnya bisa melamar untuk kerja di BI. Apalagi setelah diterima nanti , calon pegawai BI kan ditraining selama dua tahun. Wah itu kan waktu yang cukup untuk mendidik seorang sarjana dari jurusan apapun, dengan catatan lulus seleksi psikotes dan seleksi lain yang distandardkan BI.

My point is, kalau punya anak ga usah dipaksa kuliah ke jurusan-jurusan yang notabene menurut sebagian besar masyarakat kita merupakan jurusan yang keren. Bukan karena prospek setelah lulusnya tapi karena tingkat kesulitan masuk maupun keluar dari jurusan itu. Biarlah anak milih jurusan sesuai yang diminatinya. Bahkan kalau ia milih yang diminati sekalipun belum tentu nantinya kerja sesuai dengan jurusan.

Trus gimana dong?.Pokoke rezeki itu sudah ada yang ngatur, kita hanya harus tahu dimana tempatnya dan berusaha dengan sangat keras untuk meraihnya.


catt:


Akhirnya saya kekeuh tetep daftar ke BI walaupun ga ada jurusannya. kemarin saya lihat pengumumannya di internet d an hasilnya ................... SAYA GAK LULUS TEST ADMINISTRATIF :((. Ternyata sistem BI canggih ya prend