Showing posts with label cerita bankir. Show all posts
Showing posts with label cerita bankir. Show all posts

Kartuisasi Jokowi

Wednesday, September 20, 2017
Foto dari sini


Inget ngga waktu jaman kampanye dulu, Jokowi kerap dibully gegara idenya soal kartuisasi. Sempet dibilang tukang kartu malah kalo ngga salah😜😜

Saya inget banget gimana terbata-batanya blio menjelaskan keinginannya agar ada e e e anlah di semua lini. Ya e-KTP, e-budgeting , e- pajak, e-SIM, dsb dsb. Terbata-bata bukan karena tidak tau apa yang dibicarakannya, tapi terbata karena ingin menegaskan betapa pentingnya hal itu.

Pas Kampanye ini Kayaknya


Ide Jokowi saat itu sebenernya sederhana. Melalui kartu dia ingin semuanya berjalan by system, terintegrasi dan transparan, no tipu-tipu. Ia ingin Indonesia memiliki bank data sehingga semua data rakyat Indonesia ini nantinya bisa diakses by sistem, kayak di film-film itu lho, dimana mau nyari data siapa aja bisa melalui internet.

Saya inget pernah denger kata-kata bijak (sorry saya lupa siapa yang ngomong ), bahwa ke depan penguasa dunia adalah orang yang memiliki data dan bisa memanfaatkannya.

Why?

Karena yang namanya data bisa digunakan untuk menerapkan strategi. Ya strategi bisnis, strategi pembangunan, membuat kebijakan , dll.

Kalau selama ini kita selalu mengandalkan data BPS yang masih banyak dilakukan secara manual, ke depannya data-data yang dibutuhkan bisa banget cuma tinggal narik data dari bank data yang ada di bank datanya pemerintah.

Dan kini satu persatu kartuisasi itu mulai terlaksana.

Mulai dari dana-dana bantuan yang diubah dari system tunai menjadi via rekening. Tak kurang dari bantuan non tunai berupa bantuan Rasta (beras Sejahtera ), PKH ( program Keluarga Harapan ), PIP ( Program Indonesia Pintar ), sudah terkartuisasi saat ini.

Ini tujuannya jelas, pertama agar bantuan jatuh hanya ke tangan yang berhak. Karena sudah menjadi rahasia umum, dulu saat bantuan-bantuan ini diberikan dalam bentuk tunai, tak jarang masih terdapat oknum-oknum tak bertanggung jawab yang main pungli aja ke mereka. Bantuan sosial aja masih ada yang ngembat ya, huuuft.



Nah dengan pemberian bantuan via rekening, hal-hal seperti ini dapat diminimalisir. GARISBAWAHI saya sebut DIMINAMILISIR, karena yang namanya niat jahat mah mau systemnya gimanapun selalu ada cara. 

Diminimalisirnya gimana?

Karena untuk mengambil kartu tersebut di bank, bener-bener harus si pemilik yang namanya ada di kartu, dan diberikan via rekening yang mana saat pengambilan jika dia ambil via teller ya harus ada tanda tangan dan tanda pengenal si empunya rekening, jika ngambil melalui ATM maka hanya si pemilik rekening yang tahu no PIN nya. Jadi lebih personal dan lebih aman.

Yang kedua, tujuannya  untuk mendorong percepatan peningkatan indeks keuangan inklusif.

Iyes, karena melalui program bantuan-bantuan sosial tersebut, bank-bank bekerja sama dengan para agent Brilink yang merupakan layanan keuangan inklusif yang melibatkan masyarakat secara langsung. 

Jadi sekali dayung, berpulau-pulau terlampaui 

( Baca : Dapat Gaji Dari BRI Tanpa jadi pegawai BRI )

Mengapa harus kartu dan mengapa harus melalui perbankan ?

Karena melalui kartu yang terhubung ke perbankan, maka system keuangan kita akan muter disitu-situ aja, akan terbentuk closed system gitu lho. Dari pemerintah nyalurin bantuan – masuk rek- nasabah ambil dana dr rek – belanja pake kartu- masuk ke bank- terkumpul dana – salurin ke kredit – kredit untuk mengembangkan usaha – usaha masuk maning ke bank – bank bayar dividen – untuk pembangunan – balik ke rakyat. Gituuu teros, loopnya. 👌👌


Karena disalurkan melalui bank juga maka secara otomatis mereka akan terhubung dengan layanan bank, dan ke depannya, jika mereka memiliki usaha dan kemudian ingin mengembangkannya, bisa meminta kredit mikro di bank sehingga tidak perlu meminjam uang dari rentenir atau lintah darat yang bunganya sungguh mencekik leher. Pinjaman berbunga rendah dengan syarat ringan saat ini ada yang namanya KUR di bank-bank pemerintah.☝️☝️(plis ingetin untuk nulis soal KUR di blog)

( Baca : Tentang Kredit di Bank  )


Nah, yang terbaru nih, seluruh pegawai di bawah kementrian BUMN diwajibkan memiliki kartu Tanda Pengenal Pegawai yang bundling dengan uang elektronik, kayak di foto ini . Kartu pengenal yang berfungsi sebagai e money juga.




Beberapa BUMN bundlingnya dengan BRIZZI  dari BRI, kayak PLN, KAI, 👍👍 yang lain apa lagi yaaa? hahaha males nyari info :)

Jadi si kartu pegawai bisa juga digunakan untuk belanja, dipakai bayar toll, parkir, dsb.

( Baca : Bayar Tol Tinggal Tempel )


Intinya, ntar ke depan diharapkan BUMN ini bakal mendrive untuk BUMN goes digital sebagai pendukung pembentukan National Payment Getaway (NPG ).

Apaan tuh?

National Payment Getaway itu adalah sistem pembayaran non tunai yang digunakan khusus di Indonesia. Garisbawahi nih KHUSUS DI INDONESIA.

Jadi, kalau system yang ada saat ini , setiap transaksi non tunai kita baik kartu debet maupun kartu kredit, data pembayarannya diproses di luar negeri dan kembali ke dalam negeri pada saat penagihan. Padahal, transaksi pembayaran untuk kartu kredit misalnya berdasarkan catatan BI, sekitar 80 persen transaksi terjadi di dalam negeri, dan 20 persen sisanya di luar negeri. 

Nah saat ini kita itu masih menggunakan perantara perusahaan asing seperti Visa dan Mastercard. Karena ada perantara maka akan ada fee tambahan. Fee tambahan ini dibebankan ke pedagang dan ke penerbit kartu .

Tentu akan lebih efisien kalau Indonesia memiliki sendiri badan atau perusahaan yang menjadi perantara segala transaksi non tunai tersebut. Imbasnya nanti biaya transaksi bakal lebih murah, termasuk transfer antar rekening juga biayanya akan lebih murah.


Nah Sistem NPG ini memungkinkan transaksi pembayaran non tunai dapat diproses di dalam negeri. Ada 4 bank yang ditunjuk untuk pengembangan gerbang pembayaran nasional ini, yaitu BRI, Mandiri, BNI, dan BCA. Keempat bank itu akan bertindak sebagai acquirer , artinya mereka mampu melakukan kerjasama dengan pedagang untuk memproses transaksi dari uang elektronik yang diterbitkan.

Apa untungnya untuk Indonesia, untuk kita semua?

Ya jelas banyak banget, pertama Indonesia dapat mengontrol sendiri transaksi domestiknya khususnya yang menggunakan pembayaran via kartu. Trus kita tentu saja bakal berkurang ketergantungan terhadap pihak principal luar. Transkasi non tunai juga jadi lebih efisien lebih murah, ujungnya akan tercipta kedaulatan system pembayaran Indonesia, karena bank kita sendiri nih yang mengontrol transaksi domestic kita. 

( Baca : PBI Tentang National Payment Getaway )

Nah lho, dari kartuisasi ini bisa jadi langkah awal Indonesia yang berdaulat lho, hari gini mah kedaulatan negeri ngga cuma dari angkat-angkat senjata aja ya gengs, tapi dari kedaulatan keuangan melalui proses digitalisasi transaksi keuangan domestik juga bisa dilakukan. 😍😍

Hayoo siapa yang masih ngetawain program kartu-kartuan ala Jokowi 😄😄

***

Kemarin pas saya posting di FB, banyak juga yang komen. Beberapa komentar yang pengen saya bahas, saya tulis disini aja deh ya .


 E- KTP msh banyak masalah MBA.. Itu aja yg harus diutamain


Naini, ngga hanya E-KTP yang jelas-jelas lagi kesandung masalah korupsi, program lainnya juga masih banyak kendala kok. Seperti bansos tuh, masih buanyak banget hal-hal yang harus diperbaiki, mulai dari proses pencetakan kartu sampai pendistribusian ke yang berhak menerima.

Namun, kalau ngga dimulai ya kita ngga akan tahu bakala ada kendala. Ya ngga?

Sp Untuk e-KTP, ayo kita kawal aja kasusnya yah.


Klo berani: 1 kartu bisa berfungsi sebagai: KTP, SIM, BPJS, ATM, NPWP, kartu rumsh sakit, Kartu siswa, bisa buka semua pintu hotel, perpus, dll. Semua terintegrasi. Jadi klo mau daftar apa saja tinggal kasih kartu itu, beres, gak perlu lagi nulis form yg begitu banyak. Syukur-syukur kartu itu bisa merekam jejak seseorang. Misal, dulu domisili dimana, sekarang dmn... (Maklum sisa mimpi tadi malam,😀😀😀)


Kita juga pasti maunya semua praktis, kalau bisa satu kartu mah bisa buat semua, bahkan bisa buat bayar kalau mau ke toilet umum. Tapi saat ini namanya juga baru memulai, akan lebih gampang kalau per kartu dulu, karena tiap kartu itu yang punya urusan beda-beda kementrian.

Kayak E-KTP : Itu hubungannya ke kementrian dalam negeri
Rasta dan PKH ; ke Kementrian Sosial
PIP : Ke Kementrian Pendidikan
E-Tilang : Ke Kepolisian
ATM : Ya ke Bank, hubungannya ke Bank Indonesia dan OJK.
NPWP : Ke Dinas Pajak
BPJS  Ke Kementrian Kesehatan

Sabar ya. Yang namanya birokrasi ngga semudah ngomonong " POKOKNYA", xixixi.


ampa skg kayanya masih di bully klo urusan kartu win. kan banyak kartu saktinya....hehehehe



Iyes tentu saja, sampai kapan pun Jokowi akan dibully kok. Yang bully pasti ada alasannya. Pertama mungkin karena ngga tau atau ngga mau tau dengan tujuan kartuisasi era Jokowi. Kedua, ya mungkin karena yang namanya Jokowi di matanya selalu salah, kalau udah seperti ini ya gimana dong yah hahahah. Alasan ketiga, ya karena orangnya mungkin susah diyakinkan sebelum semua bisa lancar jaya tanpa kendala berarti dan mungkin dianya bukan termasuk orang yang menikmati proses.

Ngga apalah. Bully-an seperti ini mah cukup nunggu waktunya aja, kita doakan bersama semoga semakin dibully semakin berusaha jadi lebih baik yes. 


Yang jelas ada pihak yang untung dan ada juga yg rugi.


Off Course yess. Apapun di muka bumi ini mah memang selalu punya dua sisi mata uang kan yah.

Yang diuntungkan tentu ya kita-kita ini, rakyatnya.

Yang dirugikan jelas banyak. Orang-orang yang pengen nyari celah, yang pengen korupsi, yang pengen tipu-tipu, oknum-oknum yang suka pungli tentu bakal dirugikan banget mah .


kebanyak kartu sakti, proyek kartu jadiinya. lumayan banget tuh klo jadi vendor kartu. suply ke 1 proyek aja dpt berapaan tuh



Ini komen gengges tapi ngga apalah :)

Kalau soal proyek-proyekan mah saya kurang begitu mengerti ya. Tapi kalau kartunya yang dikeluarkan bank, kayak kartu PKH, PIP, Rastra itu mah ngga ada proyek-proyekan, wong skemanya sama dengan buka rekening. Apa iya kalian kalau buka rekening dikenakan biaya? Ngga kan? Wong gratis, jadi disini ngga ada proyek-proyekan kartu ah.

Kalau e-KTP saya kurang tau, jadi ngga berani bahas. 


Kalau soal kekurangan tentulah program mana sih yang ngga ada kekurangannya? Yang penting kita tahu bahwa kita sedang menuju ke arah yang lebih baik, bukan begitu?






Bayar Tol Tinggal Tempel

Tuesday, September 12, 2017
Hal-Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Uang Elektronik

Halooo banker's Life hadir lagi nih, maaf yak udah lama absen.

Apa yang lagi hot nih tentang perbankan?

Iyes, kalau lihat timeline sih lagi wara-wiri yang share soal rencana aturan pemakaian uang elektronik untuk pembayaran tol. Jadi mulai tanggal 31 Oktober 2017, pemerintah melalui BI dan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan memberlakukan aturan pembayaran di jalan tol Indonesia hanya menggunakan uang elektronik saja, alis cash dilarang masuk.



Respon netizen macem-macem, ada yang senang, ada yang bingung, ada yang bengong.

Ada yang nanya " Wah gimana kalau pas kebetulan udah di tol ternyata saldo e moneynya kosong?"

" Gimana kalo lupa bawa e money ", dan sebagainya dan sebagainya

Waaa seru ini.

Sebenernya ngga perlu ditanggapi dengan risau sih, yang namanya mau menuju ke arah yang lebih baik, ya harus ada uji cobanya yak. Mungkin di awal-awal bakal heboh dulu, mungkin ada yang ketinggalan kartu, bisa jadi ada yang saldonya tiba-tiba habis dan ga inget isi ulang, tapi ga apa untuk awal-awal beberapa bank banyak yang standby di pintu tol kok, jadi jangan khawatir dulu ya.

Makanya yang belum punya uang elektronik ayo mulai sekarang pakai uang elektronik ya.

Sebagai pegawai bank yang baik budi, saya mau sharing soal uang elektronik nih, siapa tau ada yang belum tau atau malah belum pernah denger sama sekali. Baca ya biar lebih kenal sama produk bank yang satu ini.

Apa itu uang elektronik?

Uang elektronik atau yang sering disebut e-money ini adalah produk dari bank yang fungsinya sama seperti uang tunai yang dapat dipakai di merchant-merchant yang ada EDC atau card reader bank tersebut

Besar saldonya dibatasi oleh BI hanya sebesar Rp 1 juta saja per kartu.

Di BRI namanya BRIZZI. Saya ngga bahas punya bank lain ya, maklum eikeh cintanya sama bank BRI, bukan bank tetangga wahahahaha.

Ini penampakan kartu Brizzi. Macem-macem banget gambarnya, biar nasabah ngga bosen lihatnya.





Bagaimana cara mendapatkan Kartu Brizzi?

Brizzi dijual di bank BRI. Kamu bisa datang ke BRI mana saja, tanya ke CS atau satpamnya, beli deh kartu Brizzi disana.

Kartu Brizzi ini dijual kosong seharga Rp 20 ribu, nah biar ada saldonya kamu harus melakukan top up. Top upnya bisa melalui EDC BRI ataupun melalui mobile banking.


Cara Top Up

Kalau pakai mobile banking/ internet banking BRI berarti kamu harus punya rekening BRI, caranya seperti ini.








Selain internet banking, pakai mobile banking juga bisa yah.

Ngga punya rekening BRI?

Kalau kamu ngga punya rekening BRI, bisa top up pakai kartu ATM bank mana saja, asal menggunakan EDC BRI. Caranya sama saja, ntar pilih menu pembelian juga sama kayak di atas. Jangan lupa untuk aktivasi dulu ya sebelum digunakan.

Sekarang ini kalau kalian malas ke bank, di beberapa pintu tol ada juga petugas BRI yang menjual Brizzi secara langsung. Ngga perlu top up karena Brizzinya udah diisi saldo, dan siap pakai.


Apakah sama dengan kartu debet?

Beda.

Kalau kartu debet, nasabah harus punya rekening dulu untuk punya ATM nya dan harus ada saldo di rekening BRI, kalau kartu Brizzi nasabah ga harus punya rekening di BRI, siapa saja bisa memilikinya.

Jadi yang saat ini belum punya rekening di BRI pun ya bisa memiliki Brizzi, karena dia bener-bener kayak uang tunai. Namun biar lebih asoy sebaiknya sih buka rekening dulu biar ntar gampang top upnya *wink

Dimana saja bisa digunakan?

Kartu Brizzi ini bisa digunakan dimana saja sepanjang ada EDC BRI nya. Bisa digunakan di merchant-merchant, di gerbang tol, di tempat parkir, di Indomart, Alfamart, pokoke sepanjang ada EDC BRI, maka bisa digunakan.


Cara pakainya tinggal di tap ke reader Brizzi nya, masukin jumlah uangnya , ntar saldo di kartu akan berkurang. 

Bisa direedem ngga ?

Bisaaaaa.

Kalau misalnya nih kamu lagi bokek, tapi saldo di Brizzi kamu lagi banyak, bisa kok kamu redeem, tapi harus ke teller BRI ya. Datang aja ke CS nya, ntar disuruh isi form, lalu dicairkan deh di teller. Jadi fleksibel banget


Apa saja keuntungan pakai Brizzi


Waduh banyaklah.


  • Praktis tentunya, kamu ngga harus kemana-mana bawa uang tunai. 
  • Bisa dimiliki siapa aja tanpa harus punya rekening bank. Ngga perlu pake PIN dan ngga ada kadaluarsanya. Tapi dia akan pasif kalau tidak digunakan selama setahun penuh. Ya masa sih ngga digunakan setahun kan yah.
  • Bisa banget lho digunakan buat ngatur pengeluaran bulanan. Misal nih kamu punya beberapa kartu Brizzi. Yang satu buat bayar toll, yang satu buat alokasi kalau pakai angkutan umum ntar Trans Jakarta, Commuter Line, atau saat kamu ke Jogja mau pakai Trans Jogja misalnya. Trus kartu lain kamu alokasikan buat belanja bulanan di Alfamart atau Indomart, atau di Carefour, terserahlan. Nah jadi teratur kan keuangannya. 
  • Banyak banget diskon di merchant-merchant yang kerjasama dengan BRI. Ada diskon di tempat-tempat kuliner kayak Medan Napoleon, Burger Gaboh, Burger Caffe, si Bolang Durian, Pelawi Durian, banyak deh, saya sampe ngga hapal ^_^

    Mau info lebih jelas soal promo Brizzi bisa dilihat di IGnya BRI nih khusus untuk promo-promo seru yang ada.. http://instagram.com/promo_bri_medan.
( Baca : Medan Napoleon, Oleh oleh Kekinian dan Halal dari  Medan )

Nah udah dijembrengin tuh A-Z tentang Brizzi. 

Balik maning ke pertanyaan di awal tadi, gimana kalo tiba-tiba pas udah masuk tol eh ternyata saldonya kosong?

Wew, makanya gunakan mobile banking BRI untuk cek-cek saldonya. Kamu bisa gunakan hape yang ada fasilitas NFC nya untuk langsung cek saldo, buka mobile banking, pilih menu Brizzinya, tempelkan kartunya, langsung terlihat saldonya.

Hape yang punya fitur NFC itu setau saya sih Sony dan Samsung Galay Note. Cara mengetahui hape kita punya fitur NFC atau ngga, seperti ini :

Masuk ke menu Settings > Wireless & Networks > lalu klik More. Fitur NFC akan terlihat jika smartphone kamu mendukungnya.



Kalau ngga ada?

Ya belilah ah.



YANG PERLU DIPERHATIKAN NIH :

JANGAN LUPA AKTIVASI DEPOSIT SEBELUM MENGGUNAKAN KARTU ELEKTRONIK, APAPUN JENIS KARTU ANDA.

Ini harus diinget ya frend, jangan sampai merasa udah top up trus lupa aktivasi. 


Gimanaaa, udah siap belum buat hidup cashless?

Oya lupa, Brizzi ini bisa banget lho kamu jadikan hadiah buat orang terkasih , eeeaaaa.Hari gini orang dikasih e money pasti hepilah.


APAAAA ngga ada yang ngasih kamu Brizzi???


Baiklah, karena ngga ada yang ngasih kamu Brizzi, saya bakal kasih kalian Brizzi gratis untuk orang yang beruntung


Caranya ?

  1. Share dong tulisan ini, biar banyak yang baca jadi banyak yang tau soal ketentuan bayar tol pake elektronik money, aka Brizzi. Sharenya boleh dimana aja, boleh di FB, di Twitter, terserah. 
  2. Follow akun Instagram akuh ya → @winditeguh, buat apa? biar kalian bisa baca pengumuman pemenangnya.
  3. Follow juga akun IG  → @promo_BRI_Medan, biar kalian ngga ketinggalan info promo yang sedang berlangsung.
  4. Jawab pertanyaan saya di komen postingan ini : " Kalian pengen Brizzi bikin promo di mana aja? dan kenapa?"
  5. Sertakan data diri ya biar saya gampang mention kalau kamu menang :
    Nama :
    Akun IG :
Pemenangnya yang nentuin saya sendiri. 

Hadiahnya ?

Ada 5 BRIZZI dengan nominal @Rp 50 ribu 

Periode : mulai hari ini sampai hari Minggu tanggal 17 September 2017
Pengumuman : Hari Senin, tanggal 18 September 2017.



Jadi..kalau mau bayar tol tinggal tempel pake apaaaa?

Pake BRIZZI lah 😍😍

Working Mom's Story: Antara Pekerjaan dan Keluarga

Monday, May 22, 2017


Dalam sebulan ini, saya ngalamin apa yang disebut pepatah bahwa “ Hidup adalah pilihan”

Beeeugh dalem banget nih kayaknya postingan, hahahah.

Yup, sering denger kan yah kata-kata mutiara tentang kehidupan.

Bahwa hidup adalah pilihan

Dalam hidup kita harus memilih

Bahwa hidup adalah bukan sebuah kebetulan

Bahwa yang namanya hidup ada setiap konsekuensi dari setiap pilihan, halah.

Sampai khatam dengernya.

Sebagai ibu bekerja, ya gitu, tiap hari dari mulai bangun pagi sudah dihadapkan oleh pilihan-pilihan. Mau pilih ngelonin anak sambil cium-cium aroma tengkuknya yang surgawi banget atau bangkit dari tempat tidur, segera mandi dan dandan sebelum si mungil keburu bangun dan malah telat ngantor.

Sampai di kantor, kerja, pas mau pulang pun kembali di hadapkan ke pilihan, mau tetep stay di depan computer sankin asiknya kerja, atau segera beresin meja dan bergegas capcus biar masih sempet main sama anak di rumah.

( Baca : Hidup Ini harus Memilih )

Iyes, kedengerannya sederhana banget kan yah.

Ya iyalah, kalau ada pertanyaan pilih kerjaan atau keluarga, pastilah jawaban semua orang lazimnya bakal pilih keluargalah. Keluarga is numero uno. Ngga ada yang memenangkan pilihan kalau ada keluarga di antaranya

Namun, ternyata jawaban semudah itu ngga selalu terjadi di setiap kondisi.

Ada kalanya keluarga memang harus di pihak yang harus dinomorduakan. Bukan berarti posisinya jadi tidak lebih penting di banding kerjaan, tapi memang ada saat-saat karena pertimbangan tertentu, pekerjaan menjadi prioritas.

Kalau di saya ini sudah terjadi beberapa kali.


Antara keluarga dan kesempatan


Tepat 4 tahun lalu, saya dihadapkan langsung ke pilihan keluarga atau pekerjaan.

Saat itu saya baru melahirkan anak pertama saya Tara. Anak yang sudah dinanti selama 5 tahun lamanya. Baru 3 hari keluar dari rumah sakit, saya ditelepon kantor, pemanggilan assesment untuk naik ke level manajer.

Tentu saja itu tawaran yang menggiurkan, naik grade, naik gaji, perubahan status plus tambahan fasilitas bakal mengikuti di belakangnya.

Namun tentu saja nantinya ada konsekuensi yang harus saya jalani. Yup, terdapat kemungkinan saya bakal mutasi. Namanya bekerja, mutasi kemana itu kan seperti bola liar, ngga ada yang tahu kemana tembakannya. Padahal, saya baru saja berkumpul dengan suami saya setelah LDR-an selama 3 tahun. Ditambah baru saja menikmati peran sebagai ibu baru.

Hadeeeeh, kala itu bener-bener dilemma deh buat saya.

Namun akhirnya saya putuskan untuk merelakan kesempatan itu berlalu. Yup, saya memilih tetap stay bersama keluarga. Ah kesempatan, walau katanya tak mungkin datang dua kali, tapi masih ada peluang untuk datang kembali kan?. Sedangkan kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak akan bisa tergantikan.



Antara Pekerjaan dan Pengabdian


Hasek, judulnya ngeri.

Yup, kembali saya dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan pekerjaan.

Sebulanan lalu, saya dapat panggilan pendidikan ke Jakarta. Duh seneng bangetlah pastinya. Pokoke selalu seneng kalau ada panggilan pendidikan or training karena ada kesempatan jalan-jalan ke Jakarta hahahaha. Bisa ketemuan sama temen dan bisa seminggu bebas dari rutinitas kerjaan, Cuma makan minum di diklat sambil belajarlah ya pastinya, LOL.

Udah persiapan dong, pakaian udah dipacking, tiket udah dipesan. Rencana pergi hari Minggu, dari Sabtu udah nelfon omanya Tara biar bisa jemput anak-anak. Diungsikan ke rumah oma dulu selama saya di Jakrta rencananya.

Namun, namanya manusia berencana , Tuhan juga yang menentukan. Besok pagi mau berangkat, eh malamnya mas Teguh sakit. Demam tinggi dan mulutnya sakit sampai level ngga bisa dibuka sehingga ngga ada makanan dan minuman yang bisa masuk.

Keesokan paginya saya paksa mas Teguh ke rumah sakit. Awalnya Mas Teguh nyuruh saya tetap berangkat, karena dia pikir dia bisa mengurus diri sendiri. Namun, namanya juga istri manalah tenang membiarkan suaminya ke rumah sakit sendiri.

Jadi pagi itu saya bawa Mas Teguh ke RS, setelah diperiksa segala macam ternyata harus opname karena memang suhu tubuhnya tinggi banget, 39’C dan karena sudah dua hari ngga makan apa-apa jadi kondisi tubuhnya lemes banget. Hasil pemeriksaan sementara sepertinya amandel dan disarankan untuk operasi.

Yha dhalah langsung nelfon kantor, batalin training, dan telfon ke maskapai penerbangan, batalin tiket.

Kali ini saya masih tetap memilih keluarga dibanding pekerjaan. Toh training masih bisa diikuti lain kali, namun kesehatan suami, bisa memburuk atau membaik saat itu saya tidak tau. Ngga pengen aja menyesal jika sesuatu terjadi saat saya lebih memilih kerjaan dibanding menemani suami.

Dan Alhamdulillah saya ngga pernah menyesalinya.

( Baca : Dear Rekan Kerja, Maafkan kami Para Working Mom )



Antara Pekerjaan dan Anak

Saya pikir, hal-hal seperti itu bakal membuat saya gampanglah ntar-ntar kalau ada kejadian serupa.

Namun ternyata saya salah.

Semingguan yang lalu, anak saya Tara sibuk minta ulang tahunnya agar dirayakan di sekolah. Sebenarnya ulang tahunnya sendiri tanggal 28 Mei ini, tapi karena tanggal 20 merupakan hari terakhir sekolah, maka acara ulangtahun dimajukan jadi hari kamis tanggal 19 Mei 2017.

Saya ngga ambil cuti, karena minggu sebelumnya saya sudah cuti dan tentu saja karena saat ini kondisi kerjaan di kantor lagi lumayan hectic. Jadi rencana saya, saya bakal datang menjelang jam istirahat kantor, merayakan ultah, selesai acara balik lagi ke kantor. Saya perkirakan palingan cuma 2 jam-an.

Biar ngga rempong, segala sesuatu sudah saya siapkan. Mulai dari kue ultah, balon, dekor, makanan sampai gudie bag untuk teman-teman Tara.

Yha dhalah, di hari H ultahnya, tiba-tiba ada pemberitahuan undangan meeting karena ada Kepala Divisi datang dari Kantor Pusat. Saya masih tenang karena saya pikir palingan menjelang makan siang rapat sudah selesai dan saya bisa langsung ke sekolah Tara.

Namun ternyata sampai menjelang jam makan siang belum ada tanda-tanda selesai, padahal anak TK nya juga udah mau pulang.

Sempat terfikir untuk ijin sebentar dari meeting, pergi ke sekolah Tara , ikut acaranya bentar kemudian balik lagi meeting. Namun setelah saya hitung jarak dan waktunya sepertinya ngga memungkinkan. Saya malah bakal ngga dapet dua-duanya. Dengan jarak yang lumayan jauh, kalau saya ke sekolah pasti acara sudah selesai, ntar saya balik lagi ke kantor, pasti meeting juga udah selesai.

Akhirnya dengan berat hati, saya telpon bu gurunya Tara, meminta blio untuk memulai acara tanpa menunggu saya.

Sedih?

Bangetlah.

Udah kebayang mau nyanyi-nyanyi sama Tara, potong kue, hepi-hepilah.

Mana sempet ngobrol lagi sama Tara

“ Tara, kalau bunda ngga ikut acara ulang tahunnya gimana sayang”

“ Ngga apa bunda, Tara kan anak pintar, Tara bisa ulangtahun sama kawan-kawan”


Ngga tau deh gimana menggambarkan perasaan saya. Kecewa pastinya.

Saya ngga kecewa atau marah sama kantor sih, hanya ya kecewa saja, karena semua memang di luar kuasa saya.

Nah kali ini keluarga saya kalahkan. Ultah anak saya, saya relakan berjalan tanpa saya dan saya memilih stay di ruangan meeting. Bukan berarti meeting lebih penting dari ulang tahun anak. Tapi memang ada kalanya pilihan yang terlihat gampang begini pun memerlukan pertimbangan dulu.



Yah begitulah, terkadang menjadi ibu bekerja itu memang kita dituntut untuk berani memilih diantara keluarga dan pekerjaan. Karena yang namanya seorang perempuan yang sudah menikah, pasti punya tanggung jawab di keluarga. Namun karena ia bekerja ia pun memiliki kewajiban dan tanggung jawab di kantor.

Memilih salah satu, tak berarti membuat yang lain menjadi kurang penting. Ini hanya masalah skala prioritas di waktu tertentu.

( Baca : Profesionalisme Ibu Bekerja )

Yup menjadi ibu bekerja, pasti kita akan sering dihadapkan dengan tantangan rasa bersalah bila harus mengutamakan pekerjaan di waktu tertentu, ga apa kok itu wajar saja. Namun jangan dibawa berlarut-larut karena memang harus kita sadari saat kita memilih bekerja ada konsekuensi yang harus kita jalani.

Nah menurut pengalaman nih, ada beberapa hal yang biasa saya lakukan sebelum memutuskan sesuatu, saya pengen share kepada pembaca saya siapa tau bermanfaat.

Saat kita dihadapkan pada pilihan kerjaan atau keluarga , segera ajukan beberapa pertanyaan ke diri sendiri.

Apakah bisa ditunda atau digantikan?

Ini misalnya pilihan antara pendidikan atau menemani suami sakit, kayak yang saya alami. 

Saya langsung tanyakan ini ke diri saya. 

Bisakah pendidikan ditunda atau digantikan teman?

Jawabnya bisa. Pendidikan akan ada batch lain.

Bisakah kehadiran saya disamping suami digantikan orang?

Jawabnya tidak, karena suami saya type orang yang hanya mau diurus sama istrinya, dan disini dia tidak memiliki keluarga selain keluarga saya.

Maka ya udah , saya pilih membatalkan pendidikan dan stay disamping suami.


Apakah ada kemungkinan kesempatan lain?


Ini saat kejadian pemanggilan assesment saat saya baru melahirkan dan baru ngumpul bersama suami setelah 3 tahun LDR.

Apakah assesment akan ada di lain kali?

Yes ada, karena ini perusahaan besar akan selalu ada job opening,namun paling saya akan tertinggal dibanding teman seangkatan saya. 

Apakah saya siap untuk mutasi pada saat ini?

Jawabannya tidak. Saya ngga siap jika berpisah lagi dengan suami saat anak saya masih bayi banget. dan saya masih enjoy dengan jabatan saat itu.

Maka saya pilih tidak ikut assesment


Namun berbeda saat pilihannya ultah atau meeting kantor.

Kembali saya ajukan pertanyaan ke diri sendiri


Apakah bakal ada lain kali?

Jawabannya tidak. Tidak setiap saat kepala divisi datang untuk memberi pengarahan. Apa yang disampaikannya adakah yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan saya ke depan. Jika saya tidak ikut meeting, saya mungkin tidak bisa menyampaikan ke anggota saya apa yang seharusnya saya sampaikan berdasarkan evaluasi kantor pusat.

Kemudian saya tanya juga pertanyaan itu untuk bagian ultah anak.

Apakah kalau saya tidak ada acara bakal tetap berlangsung?

Ya, ulang tahun akan tetap terlaksana karena acara di sekolah dan semua sudah saya siapkan.

Apakah anak saya bakal sedih?

Tentu saja,pasti lebih bahagia kalau saya ada disitu. Tapi saya bisa mengulang ultahnya kalau mau atau membuat acara sekali lagi bersama saya dan papanya di rumah. 

Maka akhirnya saya pilih meeting dibanding ultah Tara.

Jadi keputusan yang diambil tidak berdasarkan perasaan semata tapi keputusan yang diambil dengan pertimbangan logis. Dengan cara ini ,mudah-mudahan akan meminimalisir perasaan bersalah atau perasaan ngga enak misalnya.

Jadi, ibu-ibu bekerja tetap semangat yaaaa, hahah ini sebenarnya lagi menyemangati diri sendiri ceritanya. 

Jangan jadikan pilihan antara pekerjaan atau keluarga menjadi hal yang menimbulkan perasaan bersalah, sedih atau  penyesalan. Karena semua sudah melalui pertimbangan logis terbaik.

Seperti kata teman saya Annisast, Priority is bullshit. karena prioritas selalu bergantung pada situasi, kondisi dan urgensi.

Yuk tetap semangat semuaaaa. muuah mmuah



Sterotype, Kerja di bank Harus Good Looking, Benarkah?

Tuesday, April 18, 2017

Halooo, banker’s life dah lama ngga muncul, hahahah karena saya lagi ……. Ya lagi males aja. Apasih alasan lain orang ngga melakukan sesuatu selain malas.

Tapi hari ini saya mau nulis yang ringan aja, bukan tentang produk bank.

Saya mau bahas soal stereotype bahwa pekerja di bank itu HARUS cantik

Uwuwuwuwuwuwuwu

Kenapa?

Karena bahasan ini menarik.

Saya beberapa kali membaca keluhan orang, bahkan kemarin sempet ada demo dimana saya lupa, yang isi demonya kira-kira menuntut agar perusahaan ngga pilih kasih, ngga memilih pekerja “hanya” berdasar penampilan saja. Sampai ada tulisan semacam spanduk atau apa ya namanya di kertas putih gitu isinya “ Nilai kami dari otak kami, bukan dari fisik”


Lupa, isi lengkap, tapi pointnya itu, bahwa banyak perempuan (laki-laki mungkin juga yah) yang merasa keberatan dan merasa diperlakukan tidak adil, saat perusahaan mensyaratkan penampilan sebagai salah satu criteria dalam menerima seseorang bekerja.

Ini kita batasi hanya untuk penerimaan front liner ya, dan saya batasi lagi hanya di bank, biar ga meleber kemana-mana dan ngga miss persepsi. Lha iya, karena saya kan kerjanya di bank, kurang kompeten kalau ngomongin perusahaan lain.


Benarkah sterotype bahwa bekerja di bank itu harus cantik?


Nih, saya kasih tau yah. Itu tidak benar, itu SALAH.


Iya, saya jawab salah, karena memang ngga bener itu.

( Baca : Sterotype banker )

Di bank itu ada banyaaaak banget bagian-bagiannya. Tapi bisalah kita kategorikan jadi 3 bagian besar, yaitu :


  • Front liner (front office ) yang kerjaannya ya di depan, seperti customer service, teller, satpam.
  • Back office , ini kerjaannya administratif, seperti administrasi kredit, logistik, IT.
  • Marketing, sesuai namanya ya kerjannya sebagai tenaga pemasar, kalau di bank, namanya account officer untuk bagian kredit, funding officer untuk bagian dana.


Kalau dilihat dari jalur masuknya, terdiri dari 3 jalur masuk

  • Penerimaan untuk frontliner dan back office
  • Penerimaan marketing
  • Penerimaan jalur ODP/PPS



Nah, kalau kalian bilang kerja di bank maka harus cantik/ganteng.


Salah


Karena namanya kerja dimanapun memang ada porsinya masing-masing.

Ada pekerjaan yang memang butuh kepintaran, ada pekerjaan yang butuh penampilan, ada pekerjaan yang butuh tenaga.

Tidak bisa kita pukul rata, bahwa saat sebuah perusahaan mencantumkan “ berpenampilan menarik” sebagai salah satu kriteria calon karyawannya trus kita bilang perusahaan tersebut diskriminatif.


No.

Contohnya kalau di bank, ada yang namanya penerimaan melalui jalur ODP ( Officer Development Program ) ini sejenis dengan management trainee yang tujuannya memang perekrutan untuk penempatan level manajerial.

Untuk jalur penerimaan seperti ini, mau di bank, atau mau di perusahaan apapun yang bergerak di bidang apapun, sangat jarang menerapkan penampilan menjadi syarat utama. Yang utama pasti otaknya, kepintarannya, penampilan jadi syarat penunjang.

Ngga herankan, lihat perempuan-perempuan tangguh di perusahaan oil and gas yang wajahnya biasa aja. Mungkin malah ngga menarik, mungkin pendek, mungkin item, mungkin rambutnya tidak menjuntai indah.

Ini saya pakai defenisi cantik secara umum yang berlaku di masyarakat ya.

Sama juga, kalau kalian lihat di bank-bank, untuk level ODP ke atas, banyak kok yang wajahnya biasa aja, tapi pintar-pintar kayak gw

Karena apa?

Karena memang level pekerjaannya butuh kompetensi tinggi, bukan butuh penampilan menawan.

Saya contohkan di bank. Untuk level ODP, kerjaan utamanya secara garis besar bisa dibilang adalah menganalisa.

Bisa menganalisa kredit murni atau menganalisa perkembangan ekonomi, menganalisa aturan perkreditan, menganalisa kebutuhan logisik, you named it, intinya menganalisa untuk kemudian merumuskannya menjadi suatu aturan. Atau menganalisa untuk kemudian dirumuskan menjadi prakarsa kredit. Atau menganalisa untuk kemudian diambil keputusan deal or not deal.

Intinya ya kerjaannya memang butuh kepintaran di atas rata-rata, ngga cukup cuma “cantik doang” trus bisa diterima.

Namun ada juga pekerjaan yang memang kompetensi kayak kepintaran or kemampuan analisa atau kemampuan mengambil keputusan tidak terlalu penting, tapi yang dibutuhkan adalah penampilan oke.

Inilah yang didefinisikan ke lembar persyaratan lamaran kerja menjadi good looking, berpenampilan menarik. Menarik itu defenisinya kan luas ya, karena kata teman saya cantik itu relative, jelek itu mutlak, lol. Becanda ya gengs. Maksudnya bahkan orang yang dibilang cantik pun masih relative karena sangat subjektif, makanya digunakan kalimat berpenamilan menarik, karena yang dilihat itu satu keatuan utuh, ngga hanya wajah doang, tapi sikap, body language dan pembawaan diri.

Dalam hal ini customer service atau front liner masuk kategori ini.

Front liner itu orang yang bekerja di garis depan, yang melayani nasabah, meliputi pembukaan rekening, penutupan rekening, informasi awal , tarik setor tabungan, menangani complain, yah semacam itu.

Pekerjaan ini, mungkin kita kalau orang awam melihat, bakal mikir kayak yang saya bilang di atas tadi “ Yah harusnya pilih yang pinter dong, masa lihat penampilan doang”


Ya harusnya emang pinter dan cantiklah.

Yup, mau kerja dimanapun, mana ada sih perusahaan yang mau terima orang ngga pinter, pasti semuanya mau dapat pekerja yang terbaik.

Namun untuk pekerjaan yang memang job desknya adalah pelayanan, mau perusahaan apapun pasti, PASTI bakal melihat penampilan dulu baru ke kompetensi berikutnya.

Nah ini yang harus dimengerti, bahwa kompetensi yang dibutuhkan di setiap level pekerjaan itu berbeda. Untuk frontliner, kompetensi yang dibutuhkan secara garis besar itu meliputi kompetensi pelayanan, keramahan, ketenangan, ketelitian. Kalau mau disederhanain lagi bahasanya, ya karena bagian ini ibaratnya bagian wajahnya sebuah perusahaan,jelaslah perlu yang good looking.

Apalagi bagian frontliner ini adalah bagian pertama yang akan menerima complain dari nasabah. Nah bayangkan kalau nasabah lagi marah, trus ketemu CS yang ayu, senyumnya manis, suaranya lembut, tenang, minimal pasti bakal adem dulu, ayem tentrem.

Pas datang tadi kemarahannya ada di level 10, ketemu mba CS langsung turun ke level 6, komplainnya didengerin turun ke level 4, komplainnya dilayani turun ke level 2, saat akhirnya komplainnya terselesaikan, dia udah di level nol. Keluar dari banking hall wajahnya udah berseri lagi.

Nah bayangkan, kalau mba CS nya wajahnya kurang sedap dilihat, kalau dalam kondisi biasa mungkin nga masalah, tapi orang kalau sedang marah, bawaannya udah kayak orang PMS, semua salah. Nasabah datang marah level 10, ketemu mbanya mungkin turunnya cuma di level 9, dan sampai akhirnya terselesaikan mungkin kemarahannya masih di level 4 atau 5. Keluar banking hall dia masih memendam kekesalan.

Oke, ini subjektif sekali, tapi ya itu gambaran kasarnya aja.

Ngga hanya frontliner, bagian marketing ya 11 -12. Penampilan tetap menjadi hal yang dilihat pertama kali. Karena sama dengan front liner, marketing itu pekerjaannya yang memang ketemu sama orang lain, negosiasi, menawarkan produk dengan tujuan agar si calon pembeli tertarik dan membeli dagangnnya.

Dan lagi-lagi, naturally (istilah apa ini) orang biasanya akan mudah tertarik berbicara dan memberi perhatian kepada seseorang dengan penampilan menarik.


Lho jadi jual tampang doang?




TETOT, nah disinilah miss nya.


Jadi begini mba sis yang mungkin tersinggung atau marah karena ngga keterima kerja gegara penampilan.

Saat ini jumlah suplly pekerja itu jauuuuh lebih banyak daripada ketersediaan lapangan pekerjaannya.

Nah untuk pekerjaan frontliner saja, yang sebenarnya prasyaratnya hanya lulusan D3, atau mungkin SMA, tapi yang mendaftar itu para sarjana (lha iya sekarang semua orang bisa dibilang sarjana kecuali yang ngga sarjana= logic ,LOL).

Para sarjana tumpah ruah bersaing memperebutkan jatahnya anak SMA atau lulusan D3. Dan yang mendaftar ini banyaaaaaaaaaaak banget yang penampilannya memang oke punya. Terserah yam au polesan mau alami, yang pasti good looking.

Sebulanan yang lalu, saya baru saja melakukan perekrutan pekerja untuk unit kerja saya. Saya hanya butuh frontliner kurang dari 10 orang.

Yang mendaftar berapa???? Beugh hamper seratus orang, soalnya ini hanya penerimaan lokal doang.

Sungguhlah sekarang ini banyak banget pencari kerja dibanding ketersediaan lapangan kerja (iya neng, seluruh manusia di muka bumi ini juga tau kenyataan ini).

Dan yang paling bikin saya agak merenung, yang mau diterima ini levelnya frontliner, pekerja kontrak bukan pekerja tetap alias kalau saya di posisi mereka mungkin saja saya ngga akan tertarik (MUNGKIN LHO tapi bisa jadi ngga).

Syaratnya D3 tapi yang datang widih paling hanya 2 sampai 3 oranglah yang D3, sisanya S1, dari jurusan ekonomi, informatika, teknik, hukum, dan dari Universitas negeri atau swasta yang bagus-bagus yang ngga cuma dari Medan.


Sampai bagian ini saya membatin, duh beneran mah sekarang cari kerja pasti susah banget.

Yang melamar ini beragam, dari level kepintaran biasa banget, biasa, mayan, sampai pinter. Tapi semua IP di atas 3, padahal sebenarnya syaratnya IP hanya 2,75 saja (I know, IP ngga menjamin sis tapi itu tiket melamar ya kan )

Dari level penampilan, mulai dari ehhm tidak cantik, biasa aja, mayan cantik, cantik, cantik banget, cantik sempurna.

Cantik sempurna itu yang head to toe ciamik parah. Udah cantik wajahnya, tinggi, rambutnya bagus, bicaranya santun, suara lembut, dan pintar. Nah ini yang saya sebut cantik sempurna.

Dalam perekrutan ini saya bukan si pemutus, saya hanya si perekomendasi , karena keputusan tetap di tangan TUHAN. Iyalah banyak-banyak berdoa makanya kalau lagi cari pekerjaan.

Untuk menentukan siapa yang harus direkomendasikan itu ternyata lumayan susah. Saya pikir selama ini itu hal yang mudah, ternyata ngga samsek. Karena kalau mau dibawa ke perasaan, saya mikir banget mungkin ini harapan mereka untuk bekerja, mungkin ini akan menentukan nasib mereka ke depan, dan perasaan mellow yellow lain.

BUT

Kapasitas saya bukan kapasitas yang harus mellow yellow saat ini melainkan harus berfikir untuk kepentingan perusahaan. Bisnis is bisnis.

Jadi jangan salah ya , saat kalian ngga diterima bekerja sebagai front liner ,bukan berarti itu karena penampilan kalian, sebenarnya ngga juga lho.

Bisa jadi dan saya rasa ini sangat mungkin terjadi, ya karena saingannya jauh lebih baik, udah cantik, mayan pinter pulak.

Saya bilang lumayan karena sekali lagi, kompetensi untuk frontliner itu berbeda dengan untuk ODP.

Maka saat kalian merasa, “Aku pintar, kok aku ngga diterima kerja sih untuk posisi CS atau teller, pasti ini karena aku kurang menarik”.


WRONG


Yang bener itu, saingan kamu lebih menarik dan dia juga pintar.




Jadi urutannya itu, kalau missal ekstrimnya harus memilih hanya satu pekerja untuk diterima sebagai FL, gini nih:


Sama-sama pinter, tapi satu cantik satu kurang cantik, ----> pilih yang cantik

Sama-sama cantik, tapi satu pinter satu ngga bego-bego amat --->; pilih yang paling cantik

Sama-sama tidak cantik, tapi sama-sama pintar --->; tawarkan jadi back office

Sama-sama tidak cantik, dan tidak pintar --->; lihat berkas lain

Ada yang pinter dan cantik banget , solehah pula, pinter masak, alisnya bagus --->; jadikan istri, LOL


Jadi ya tetep, yang dipilih itu yang secara penampilan menarik dan yang bisa memenuhi criteria untuk jadi frontliner. Jangan underestimate bahwa kalau yang diterima itu cantik, maka dia bego, nggalah. Masa kamu ngga yakin sih ada orang cantik dan juga pintar di dunia ini.


Berarti kalau aku ngga cantik padahal aku pinter aku ngga bisa kerja di bank?

Tetot, Wrong lagi.

Bisa banget dan ngga harus di bank.

Semua pekerjaan bisa kamu dapatkan, tapi ya cari yang memang memerlukan kompetensi yang ada di dirimu.

Kalau mau tetep kerja di bank, masuk dari jalur ODP, bersaing secara akademis.

Kamu pinter banget, yaelah ngapain melamar jadi FL, lamar perusahaan unileverlah, oil and gas, jadi penulis, jadi jurnalis

My point is.

Jangan denial jika misal kita ngga mendapat pekerjaan , trus nuduh ‘ INI PASTI KARENA PERUSAHAAN ENTU CUMA MAU PILIH YANG CANTIK AJA, HUH DASAR "DISKRIMINASI”


Kagaklah.

Ya terima kenyataan bahwa semua perusahaan yang orientasinya memang laba, ya pasti tujuannya gimana caranya memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan profit. Salah satu caranya ya dengan memilih pekerja yang fit dengan bidang kerjanya.

Fit dengan bidang kerjanya itu artinya ya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.



  • Cari dana, melayani nasabah --- penampilan is a must
  • Back office , support --- Cari yang tekun, yang teliti, cekatan
  • Menganalisa, memimpin -- Cari yang kompetensi super komplit.


Jadi harusnya ngga perlu ada spanduk-spanduk soal deskriminiasi perusahaan dalam mencari pekerja.

Ngga perlu sama sekali, karena perusahaan juga ngga begolah nerima pekerja yang cantik doang tapi “hah hoh” misalnya.
Kalaupun ada, pasti ada pertimbangan lain, misal dia cuantik mampus level wajah Dian Sastro, body Miranda Kerr, sampe bisa dipastikan, saat ketemu client maka bisa langsung deal masuk sekian M misalnya.


MAKA

DIULANGI

MAKA


Jika kamu tidak ingin dihargai sebatas penampilanmu, jadilah perempuan yang pintar.

Jika kamu ingin dihargai bekerja lebih dari sekedar penampilan, jadilah perempuan yang cerdas.

Lagi, meskipun kamu bekerja sebagai frontliner yang sterotypenya bahwa “ Ih pasti dia modal tampang doang, otaknya pasti ngga sepadan”, ya buktikan, Buktikan ngga seperti itu, buktikan bahwa kamu diterima jadi frontliner karena kamu cantik dan pintar, karena teman kamu yang cantik yang lain toh ada yang keterima.

Jika kamu tidak terima perempuan kok didiskriminasi berdasarkan penampilan fisik saat mencari pekerjaan.


TETOT, kamu salah lagi.


Ngga ada diskriminasi, mereka hanya menempatkan sesuatu sesuai porsinya.


Saat kamu berpenampilan cantik, rupawan ,” Kok aku dimanfaatin perusahaan untuk menggaet client nih”


Ya jangan mau. Tapi karena tugas kamu adalah memang untuk membuat client deal ya gunakan keahlianmu dalam hal marketing untuk menggaet nasabah, jangan gunakan fisikmu.

Iyes, semua kendali ada di tangan kita kok sebenernya.

Kamu mau kerjaan yang mengutamakan penampilan?

Ya ada tempatnya

Kamu mau pekerjaan yang mengutamakan otak?

Banyak banget tempatnya

Kamu ngga mau dianggap diterima kerja karena penampilan doang?

Ya Buktikan


Intinya

Akhirnya ke intinya.

Jangan menyalahkan orang atas apapun kegagalan atau ketidakmampuan kita. Even itu perkara soal good looking or bad looking, karena kendali hidup bukan di tangan perusahaan-perusahaan itu, tapi ada di tangan kita.


Ngga mau terima dengan aturan perusahaan yang menurut kamu diskriminatif?

Ya ngga apa. Kamu ngga harus kerja kantoran kok, kamu bisa bikin usaha sendiri. Malah, sebenarnya, kamu ngga harus kerja kok kalau ngga mau, kalau kamu pengen jadi istri yang tidak bekerja formal ya no problema.

Tapi ya jangan ngomel, kalau ntar ngga punya duit. Jangan ngomel kalau anggaran rumah tangga harus sangat seksama diatur.

Yang pasti apapun pilihan kita ya yang menjalani konsekuensinya diri kita sendiri.

“Lho, kok kamu ngomongnya gitu sih, berarti kamu juga deskriminatif, kenapa ngga memperjuangkan agar pemerintah menerapkan aturan anti diskriminatif terhadap syarat penerimaan karyawan untuk perusahaan-perusahaan tersebut ?”


Ehhm, karena menurut saya, sebenarnya itu justru bisa dibilang salah satu bentuk keadilan lho.

Keadilan yang mungkin hanya bisa kita mengerti kalau kita pernah berada di posisi ketiganya. Posisi si Pintar, posisi si good looking, posisi si tidak good looking.

Adil, karena, jika dia pintar dan tidak menarik secara fisik , maka dia bisa punya pilihan pekerjaan belakang layar atau yang memang mengandalkan otak untuk mencari nafkah.

Adil, karena jika dia berpenampilan menarik namun tidak terlalu pintar, maka dia masih punya peluang bekerja, tentu saja dengan lowongan pekerjaan yang memang lebih ke kebutuhan penampilan.

Jika dia pintar sekaligus good looking, yah dia memang layak untuk mendapatkan apa yang diterimanya dari anugerah Tuhan sekaligus apa yang diusahakannya.

Jika dia tidak good looking dan tidak pintar?, yah dia memang harus berusaha lebih keras, tapi yakinlah dia akan punya cara untuk tetap bertahan hidup.

So, kadang yang kita pandang sebagai diskriminatif malah sebenarnya bisa jadi itu keadilan lho.


Yang ngga setuju , no problema yah.



Makdarit

Biar ngga stress dan nyalah-nyalahin aturan, pertama terima kenyataan. Kenyataan bahwa semua perusahaan apapun, bisa dipastikan akan melihat penampilan dulu sebagai saringan awal, jika mereka membutuhkan pekerja yang tidak perlu kompetensi edebre-edebre yang tinggi.

Kedua, kalau ngga mau terima, ya ngga usah terima, ngga ada yang paksa kita terima kok.


Makdarit kedua

Sebagai ibu, sebagai perempuan, kalau kita ngga suka dengan aturan yang kita anggap diskiriminatif tersebut, saat kita punya anak, AYO DIDIK ANAK KITA supaya ngga perlu bersinggungan dengan aturan-aturan tersebut.

Iyes, didik anak kita agar kelak ia bisa menghidupi diri sendiri tanpa perlu mengandalkan penampilan.

But in my opinion, saya tetap merasa bahwa menjaga penampilan tetap diperlukan, apapun ceritanya, karena orang pertama lihat kamu ya pasti dari penampilan dulu, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju.

Didik anak kita, agar kelak ia tidak perlu melamar di perusahaan dimana syarat pertamanya adalah “ berpenampilan menarik”

Ini juga berlaku untuk anak laki-laki.

Dan yang terakhir, yang merasa penampilan kita ngga secantik orang lain, jangan sedih. Karena bagaimanapun juga, selain jadi artis, pekerjaan yang mencantumkan syarat utama adalah kepintaran bukan penampilan menarik, percaya deh salarynya jauuuh melebihi yang andalannya adalah penampilan.


Pilihan ada di tanganmu ladies #wink





Disclaimer : Tulisan ini murni opini pribadi, tidak mewakili perusahaan atau pihak manapun.




DP KPR 0 %?

Saturday, February 18, 2017



Rame-rame soal DP 0% yang kemaren sempet disinggung-singgung bakal diterapkan dalam pembiayaan KPR, membuat banyak orang bertanya-tanya.

Bener ngga sih DP 0% itu bisa dilakukan?

Awal mendengarnya, saya agak mengernyit, Haaaah emang ada pembiayaan KPR dengan DP 0 %.

0 % lho bukan 0 rupiah.

Lho beda ya?

Beda lah.

Yuk mari kita bahas.

Hal-Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Mengajukan KPR di Bank

Tuesday, February 7, 2017
Hal-Hal Yang Harus Diketahui Sebelum Mengajukan KPR di Bank.



Banyak teman yang bertanya soal KPR ke saya, ya udah sekalian aja ditulis yah di edisi #Banker'sLife kali ini.

Bagi pasangan muda, rumah memang kebutuhan pertama yang biasanya akan dipenuhi setelah menikah.

Tapi namanyalah pasangan muda, biasanya saat awal menikah, kondisi finansial belum mapan bener, jadi mau punya rumah pun kudu kredit


Keuntungan dan Kerugian Kredit Pembelian Rumah


Menurut saya pribadi, kredit untuk membeli rumah adalah salah satu kredit yang boleh banget jadi pertimbangan keluarga. Alasannya simpel sih :


  1. Rumah itu kebutuhan primer, dibanding ngontrak ya mending beli.
  2. Harga rumah bakal melonjak setiap tahun, maka semakin cepat beli semakin baik.
  3. Ngumpulin uang untuk beli rumah secara tunai , kemungkinan besar tidak akan terkejar oleh inflasi, jadi misal harga rumah saat ini 300 juta, trus kita ngumpulin selama 5 tahun, eh 5 tahun lagi harga rumah udah 600 juta, jadi ngga terkejar.
  4. Jangka waktu kredit kepemilikan rumah biasanya panjang, jadi ntar makin lama seiring dengan peningkatan income (kondisi ideal demikian) maka cicilan akan terasa makin ringan.
  5. Kredit Kepemilikan Rumah, dilindungi oleh asuransi jiwa, sehingga jika amit-amit kepala keluarga kenapa-kenapa, keluarga yang ditinggalkan sudah memiliki tempat tinggal. Selain itu juga dilindungi oleh asuransi kebakaran, sehingga kalau ada forje major, rumah kita tetap terlindungi.
  6. Investasi rumah selama ini tidak akan rugi, karena alasan sederhana, jumlah penduduk semakin banyak, tapi lahan yang tersedia tetap.

Namun tentu saja ada kelebihan pasti ada kekurangan. Beberapa orang punya prinsip untuk membeli rumah secara tunai aja, alias nunggu duit terkumpul baru beli. Ini juga baik sih, karena memang kredit kepemilikan rumah ada beberapa kekurangan, yaitu :

  1. Suku bunga KPR biasanya lumayan tinggi, sehingga kalau kita hitung total angsuran secara keseluruhan pokok dan bunga, jumlahnya bisa dua kali lipat harga beli rumah. Misal kita beli rumah harga 300 juta, maka kalau ditotal angsuran rumah seluruhnya bisa mencapai 600 jutaan.
  2. Karena angsurannya lumayan gede, jadi bakal mengurangi penghasilan keluarga bisa sampai 30-40 persen sebulan.
  3. Yang namanya kredit pasti ada biaya-biaya, seperti biaya administrasi, biaya, provisi, biaya pengikatan agunan, asuransi, notaris, jadi bakal lumayan juga dibanding kalau beli rumah secara tunai.

Itu sih kelebihan dan kekurangan kalau mau kredit rumah atau memilih ngumpulin duit baru kemudian beli rumah secara tunai.

Oke, sampai disini tau ya lebih kurangnya.

Nah bagi, para pasangan muda yang ngga punya uang tunai seharga rumah yang diinginkan, bisa menggunakan fasilitas KPR dari bank. 

Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)

Disini saya bahas KPR BRI aja ya, karena saya kurang begitu tahu KPR di bank lain. 

Apa itu KPR?

KPR adalah kredit konsumer  yang ditujukan untuk kebutuhan pembelian property.

Sebenarnya KPR BRI itu ngga hanya ditujukan untuk membeli rumah saja, ada beberapa property yang bisa dilayani melalui fasilitas KPR yaitu :

  • Apartemen, rusunami, condotel
  • Ruko, gudang, kantor.
Jadi ngga cuma rumah ya, mau beli apartemen atau rusunami juga bisa melalui KPR, bahkan beli ruko juga bisa. 

Untuk pembelian rumah sendiri, di BRI bisa dilayani pembelian rumah baru, rumah second, renovasi rumah, maupun membangun rumah.

Iya jadi ngga cuma beli rumah saja, kamu mau renovasi, ataupun mau bangun rumah bisa melalui KPR BRI.

Syaratnya apa aja ?

Syarat untuk mendapat fasilitas KPR di BRI hampir sama kok dengan syarat kredit lainnya. 
  • Hanya untuk Warga Negara Indonesia
  • Berusia Minimal 21 tahun atau kalau belum 21 tahun, maka harus sudah menikah
  • Untuk pegawai atau pengusaha, minimal sudah 2 tahun bekerja / membuka usaha
  • Maks usia untuk karyawan aktif pada saat KPR jatuh tempo adalah 55 tahun, sedangkan untuk profesional atau wiraswsta adalah 65 tahun. 
Syarat umumnya cuma itu.

yang perlu diperhatikan hanya masa kerja, dan usia untuk menentukan jangka waktu. 

Jadi misal sekarang pas ambil KPR usianya sudah 45 tahun, maka kalau dia karyawan, jangka waktu maksimal KPRnya hanya 10 tahun, sedangkan kalau dia profesional atau wiraswasta bisa sampai 15 tahun.

Dokumennya apa saja yang harus dipenuhi ?

Dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan kredit ngga ribet sama sekali.

Untuk pekerja dengan gaji tetap

  • FC KTP suami istri, FC Kartu Keluarga, FC NPWP
  • Pasfoto terbaru suami istri 3x4 2 lembar
  • FC rek tabungan 6 bulan terakhir (khusus utk pekerja yang memiliki gaji tetap)
  • Slip Gaji terakhir dan SK Pegawai untuk Pegawai.
Untuk Wiraswasta (pengusaha) dan Profesional :


  • FC KTP, KK, NPWP Pasfoto suami istri 3x4 2 lembar
  • Surat Ijin Usaha (SIUP, TDP, SUrat Ket Lurah, Ijin praktek.
  • Copy Akte Perusahaan 
  • Lap keuangan 2 tahun terakhir atau rekap hasil usaha 6 bulan terakhir + bukti transaksi usaha.

Nah ngga susah kan syaratnya. Hampir samalah dengan mengurus apa-apa di bank, itu-itu juganya.

Kalau udah lengkap syarat-syaratnya, trus ketemu nih rumah yang mau dibeli, ya udah silahkan hubungi pekerja banknya, minta hitungkan berapa maksimal kredit yang bisa diberikan dari harga rumah yang mau dibeli.

Rumah yang bagaimana yang boleh dibiayai KPR ?

Ada yang nanya di kolom komentar, jadi saya tambahin nih :

Rumah yang bisa dibiayai KPR adalah rumah baru atau rumah second. Bahkan rumah mau direnovasi juga bisa, mau bangun rumah juga bisa.

Untuk pembelian rumah baru, ada dua kondisi :

Kondisi bangunan ready


  • Kalau bangunannya udah jadi, dan itu dibangun oleh developer, maka syaratnya , ada PKS antara developer tersebut dengan BRI. Jadi kamu harus tanyakan ke petugas banknya, developer mana aja yang kerjasama dengan BRI. Atau boleh juga dibalik, tanya ke developer, bank mana yang kejasama dengan dia.
  • Sertifikatnya sudah dipeah per unit
  • Trus proses AJB, balik nama, pengikatan HT harus melalui rekanan BRI.

Kondisi Bangunan Indent


Nah ini yang banyak, kalau beli di perumahan baru, biasanya kita sepakat dulu mau beli, serahkan booking fee baru mereka ntar bangun. Ga apa bisa juga kok dibiayai KPR, syaratnya :

  • Developernya kerjasama dengan BRI
  • Terdapat payment garantee
  • Merupakan fasilitas KPR pertama bagi calon debitur
  • Sertifikat masih induk/telah pecah
  • Proses AJB, balik nama, pengikatan HT harus melalui rekanan BRI.


Kalau rumahnya udah jadi tapi rumah baru, ngga ada developernya, bisa ngga?

Bisa juga, sama aja. Yang pasti suratnya harus udah Sertifikat. Kalau belum, bersedia ditingkatkan menjadi SHM. Prosesnya sama aja, ntar pembeli dan penjual melakukan akad jual belinya di depan notaris dan petugas BRI. Setelah semua proses KPR selesai, uangnya langsung masuk ke rekening penjual.

Saya pernah jadi pembeli dan pernah jadi penjual . Malah kalau rumah second, ngga ribet lho, karena semua udah jadi, tingal proses jual beli sama balik nama doang.


Prosedur Pengajuan KPR:


  1. Pilih dulu rumah yang mau dibeli
  2. Datang ke bank, ajukan permohonan kredit dan bawa dokumen persyaratan tadi . Jika beli via developer lebih mudah, ntar bakal dibantu developernya.
  3. Petugas bank akan cek SID untuk mengetahui pinjaman kita di bank lain. Selain itu petugas bank akan survey ke lokasi rumah yang akan kita beli.
  4. Berdasarkan hasil SID dan slip gaji, maka petugas bank akan menghitung jumlah angsuran maksimal kita.
  5. Petugas bank memberitahu kita jumlah maksimal yang bisa kita ambil dan jumlah maksimal angsuran berdasar gaji kita.
  6. Silahkan minta simulasi berdasar angsuran yang kita inginkan, atau berdasar jumlah kredit yang kita butuhkan atau berdasar jangka waktu yang kita mau.
  7. Jika sudah sepakat, hubungi penjual rumah atau developernya.
  8. Nanti pihak bank akan memberi jadwal akad kredit, setelah proses permohonan kredit dikerjakan dan permohonan kredit disetujui oleh pemutus.
  9. Pemohon KPR menyetor jumlah sharingnya
  10. Lakukan akad kredit antara penjual dan pembeli disaksikan notaris dan petugas bank.
  11. Bank mencairkan kredit yang diminta. Penjual menyerahkan asli bukti kepemilikan rumah ke bank untuk disimpan sebagai jaminan.
  12. Selesai



Maksimal Angsuran.

Nah untuk tahu berapa kredit yang bisa diberikan bank, maka akan dihitung dulu maksimal angsuran yang bisa dibayar calon debitur berdasarkan jumlah penghasilan dan angsuran pinjaman yang sudah dimilikinya.

Untuk maksimal angsurannya 

  • Untuk Penghasilan  < 15 juta

 [ 40% x THP ] - Angsuran Pinjaman lain 




  • Untuk Penghasilan  15 - 25  juta

 [ 45% x THP ] - Angsuran Pinjaman lain 


  • Untuk Penghasilan  > 25 juta

 [ 50% x THP ] - Angsuran Pinjaman lain 



THP itu adalah penghasilan per bulan yang ditransfer ke rekening yang sifatnya tetap.

Jadi gini contohnya :

Gaji suami istri  : Rp 10 juta
Angsuran mobil : Rp 1,5 juta
Maka maksimal angsuran : [ Rp 10 juta x 40%] - Rp 1,5 juta = Rp 2,5 juta

Berarti maksimal angsuran yang bisa dibayar nasabah adalah 2,5 juta

Jumlah Kredit.

Dari jumlah maksimal angsuran, baru bisa diketahui berapa maksimal kredit yang bisa diberikan.

FYI yah, kalau kita ngambil KPR, bank tidak memberikan kredit sejumlah harga rumah seluruhnya. Misal harga rumah 300 juta, ya bank ngga akan kasih 300 juta untuk kreditnya. 

Kenapa?

Karena bank bukan ibu bapakmu  hanya memberi sejumlah prosentase tertentu. Jadi biar si nasabah ngga modal dengkul gitu lho. Mau beli rumah ya harus punya sharing, bukan jadi bank semua yang membiayai.



Jadi misal nih harga rumah 300 juta, berdasar penilaian bank nilainya juga Rp 300 juta, type 70, maka maksimal kredit = 80% x Rp 300 juta = Rp 240 juta.

60 jutanya gimana?

Ya pakai duit kamu sendiri. Terserah gimana, pokoke bank hanya membiayai sebesar itu.

Kemudian dicocokin, dengan tabel angsuran yang ada di bank.

Untuk kredit Rp 240 juta, dan angsuran maksimal 2,5 juta berapa lama jangka waktunya.

Udah, selesai.

Atau bisa juga alurnya dibalik. Kita udah tau nih mau minjem kredit berapa, tanya angsurannya untuk jangka waktu sekian tahun berapa, kemudian barus cocokin dengan maksimal angsuran yang bisa kita bayar. 

Sama aja.

Biaya- Biaya

Nah ini termasuk yang sering banget ditanyakan orang, berapa biayanya?

Setidaknya ada 4 biaya yang harus dikeluarkan :

  1. Biaya Provisi : Biasanya 1 % dari plafond (jumlah kredit)
  2. Biaya administrasi : sesuai jumlah kredit yang diberikan
  3. Biaya asuransi kebakaran : dibayar sekaligus sesuai jangka waktu kredit
  4. Biaya asuransi jiwa : dibayar sekaligus sesuai jangka waktu kredit. Asuransi ini, jika si nasabah meninggal dunia sebelum jangka waktu kredit berakhir, maka kredit akan lunas, dan rumah jadi milik nasabah.
  5. Biaya notaris.
Nah biaya notaris itu untuk beberapa kepentingan ( untuk harga rumah sd 500 juta)
  • Akta perjanjian Kredit : 0.5% dari jumlah kredit
  • Akta Jual Beli : 1 % dari transaksi ( harga pembelian rumah bukan jumlah kredit)
  • Balik Nama : 1 % dari nilai transaksi ( harga pembelian rumah bukan jumlah kredit)
  • SKMHT : maksimal Rp 500 ribu
  • APHT : sesuai nilai kredit  sekitar 2 juta sampai 3,5 juta
  • Roya : Maksimal 1 juta
Oya ada lagi yang namanya pajak pembelian dan pajak penjualan yang masing-masing ditanggung oleh penjual dan pembeli. Ini di luar urusan dengan bank ya, tapi dengan kantor pajak, namun bisa diurus oleh notaris.



Wuih lumayan yaah. Iya, kalau ditotal, biasanya biaya-biaya itu sekitar maksimal 10 persen dari harga rumah. 

Biaya di atas hanya perkiraan, kalau mau pasti harus dihitung petugas bank, sesuai jumlah kredit dan harga rumah. Jangan dijadikan patokan ya, itu cuma ancer.

Nah, jadi, saat membeli rumah dengan KPR, nasabah juga harus menyediakan uang untuk membayar biaya-biaya di atas.

Biaya-biaya itu tidak boleh dipotong dari kreditnya, karena kan ntar kredit langsung masuk ke rekening si penjual, jadi si pembeli atau si pemohon KPR harus sedia uang sendiri.

Kelihatan lumayan ribet ya. Lha emang ngga gampang, tapi ngga sulit kok asal semua syarat dipenuhi. 

Pesan saya sih, jangan mengambil kredit KPR di luar batas kemampuan. Misalnya berdasar hitungan, Harga rumah Rp 400 juta, trus maksimal kredit yang diberikan yaitu 80 % dari harga rumah adalah Rp 320 juta. Berarti kan kita harus punya uang 80 juta. Nah karena memang ngga ada 80 jutanya, jadi maksain kredit senilai Rp 400 juta dengan cara naikin harga rumah, biar prosentasenya dapet.

Ya kalau ngga ketauan sih sepanjang jumlah gaji mencukupi, bisa aja, tapi ntar bakal rugi di jumlah pajak pembeli yang harus dibayarkan.

Ngerti kan?

Kalau ngga ngerti ya udahlah ngga usah dipikirin , LOL.



Nah, gitu deh, Hal-hal yang harus diketahui sebelum mengajukan KPR di Bank.

Oya,  saat ini di BRI ada promo untuk program Take Over KPR.

Jadi kalau kamu punya pinjaman KPR di bank lain,  pindahin deh pinjamannya ke BRI karena ada tawaran menarik yaitu :

  • Bunga 8,9% fixed 5 tahun
  • Bebas biaya provisi
  • Bebas biaya admin
Mayan banget lho ntar berkurangnya angsuranmu.  

Semoga bermanfaat.








Lebih Aman Bertransaksi di BRI, Dengan Menu Baru Penonaktifkan ATM Sendiri

Friday, December 30, 2016



Yak, yang lagi siap-siap mau liburan, pasti dooong ATM udah full tank, siap buat difoya-foyakan pas akhir tahun, wahahahaha.

Sebagai pegawai bank yang baik dan budiman, saya mau ngingetin aja, untuk lebih berhati-hati ntar saat bertransaksi di ATM yaaaaa sodara-sodara dan nasabahku tercintah.

Soale kan beberapa waktu lalu pernah ya terjadi pembobolan dana nasabah di bank. Modusnya sih sebenarnya udah lama, yaitu pembobolan kartu atm melalui proses skimming melalui alat yang disebut skimmer.

Apa itu skimmer?

Skimmer adalah alat elektronik berukuran relatif kecil yang berfungsi merekam data ketika nasabah melakukan transaksi di mesin ATM,

#Banker'sLife : Hal-Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Tilang Online

Monday, December 26, 2016


Tentang Tilang Online

Salah satu birokrasi paling nyebelin di negara ini adalah semua hal yang berurusan dengan kepolisian.

Hayooo, iya ngga?

Soale belum apa-apa di pikiran kita pasti ntar bakal ribet, pasti ntar bakal lama. Karena harus sidang segala ke pengadilan, mana sempaaaat, masa cuti cuma gara-gara sidang.

Custom Post Signature