Showing posts with label cerita bankir. Show all posts
Showing posts with label cerita bankir. Show all posts

Tentang Kompetisi Best Innovator BRI

Friday, November 17, 2017
Disclaimer : Postingan ini penuh dengan cerita muji-muji diri sendiri. Agak lebay dan sedikit norak. kalau kira-kira ngga suka model cerita seperti itu, plis close daripada nyesel, beneran.





Nyambung postingan sebelumnya nih , baca dulu yah : Air Laut (Biasanya) Asin Sendiri.

Di postingan kemarin saya cerita tentang penjurian lomba Brinovasi yang saya ikuti. Tapi karena kemarin saya merasa inferior parah jadinya isi postingannya hopeless banget, ngga bersemangat, bahkan ga pake ilustrasi dan foto apapun, sanking lagi downnya.

Nah karena sekarang saya udah ngga merasa inferior, jadi nyeritainnya bisa agak tenang nih, sekarang saya mau nyeritain tentang Kompetisi The Best Innovator BRI dari awal sampe akhir, hahahah biar ngga lupa.

Awalnya

Jadi sekitaran bulan Agustus kemarin, saat saya buka e-office kantor saya melihat ada pengumuman lomba gitu. Wah saya yang banci lomba langsung naik nih radarnya, tapi cuma sekedar " Eh ada lomba" udah gitu doang, bahkan suratnya ngga saya buka, karena lagi banyak kerjaan yang lain.

Trus saat saya sedang ngobrol via WA dengan sohib saya Deby, kepikiran lagi soal lomba itu, dan nanya-nanya ke doi. Eh ternyata dia malah udah ikutan, hahahah langsunglah saya semangat. Sama Deby malah dikomporin " Ayo gan, agan harus ikut, agan pasti punya ide "

Lomba The Best Innovator BRI itu maksudnya  kompetisi mencari ide-ide inovasi yang bisa diterapkan di BRI, skalanya untuk internal doang, khusus pekerja BRI. Ini acara rutin tahunan sih, tapi formatnya beda-beda tiap tahun. Beberapa waktu lalu lombanya bukan berupa ide bebas gini, tapi ditentukan segmen bisnisnya, kemudian kita kasih ide yang bisa dikembangkan. Saya ikutan, dan menjadi salah satu pemenangnya.

Nah tahun ini lebih menarik karena tema ngga dibatasi, jadi lebih bisa bebas gitu ngasih idenya, ah saya mah seneng banget kalo dikasih kesempatan beginian, xixixi.

Tapi pas lihat deadline, lho kok deadline tinggal 2 hari lagi, waaa waaaa panik mode on. Brb bikin konsep, didiemin semalaman, eh besoknya ngerasa konsepnya basi. Mikir lagi, sambil tiduran, tiba-tiba kayak dapet wangsit dan brb WA Deby lagi.

" Agaaan, ane punya ide nih, lalalalala jelasinlah dari A sampai Z, berapi-api" Via Wa jam 12 malam, ngoceh sendiri, padahal udah tau sohib saya ini pasti udah tidur, oke ntap, dasar orang reaktif ngga bisa nunggu besok ya bu, hahahaha.

Ngga bisa nunggu besok banget ya bu?
Ngga bisaaaaa


Besok paginya, dibaca doi, nanya-nanya gimana-gimananya, dan disemangatin lagi, ayo kirim gan, hari ini juga harus kirim, karena deadline ntar malam.

Kebiasaan ya sis, ikut lomba mefet deadline.

Abis ngerecokin Deby, ane ngerecokin grup WA geng Cinta. Minta dikoreksi dan divalidasi, ini penting karena saya pengen tau sebagai orang awam non pekerja bank, mereka bisa merasa bermanfaat ngga idenya saya itu. Kan ngga lucu ya, udah semangat ngirim ternyata tiada guna, halah.

Sama Icha, Gesi dan Nahla, terutama Icha dikritisilah dari segala sisi, sampe akhirnya saya bisa ngeliat kelemahan-kelemahannya dan diperbaiki dulu.

Setelah yakin oke, langsung isi form pendaftaran, dan Send. Huuuft, selanjutnya lupakan, hahahah gitu kan yah katanya.

Karena skalanya nasional, alias seluruh unit kerja BRI, maka tahap penilainnya berjenjang, mulai dari seleksi cabang, wilayah, sampe finalis nasional.

Seleksi Cabang, saya keluar jadi juara 1, seneng dong yah, tapi masih biasa.

Seleksi Wilayah, menang lagi juara 1, mulai seneng nih, hahaha. Akhirnya terkumpul 1675 ide seluruh Indonesia.

Masuk Finalis

Sebulan kemudian, dapat surat dari Kantor Pusat, bahwa saya masuk jadi 21 finalis The Best Innovator, dan diundang untuk presentasi ke Kantor Pusat di Jakarta, aaak seneng banget. Seneng karena masuk jadi finalis berarti semakin dekat untuk jadi salah satu pemenang, dan seneng kedua, karena berarti bisa jalan-jalan dong ke Jakarta hahahah. Karena biasanya kan ke Jakarta beneran urusan dinas yang serius gitu, yang ada ujiannyalah, kalau kali ini kan acaranya walau serius tapi bisa dibawa santai.



Pas lihat agenda acaranya juga ngga padet-padet amat, jadi malah bawa anak sekalian.

Pengarahan Direksi

H-1 penjurian, ke-21 finalis yang berasal dari Sabang sampai Merauke dikumpulin dulu nih di Kantor Pusat, dikasih pengarahan materi seputar inovasi oleh Direksi. Wah seneng banget, karena biasanya direksi BRI tuh kalo ngasih wejangan suka keren-keren banget. Saya selalu yang terbakar semangat kalau mereka ngomong, yaiyalah ya kalau ngga gitu ngga mungkin dong yah mereka jadi direksi.

Nah, materi si bapak juga keren abislah. Intinya bahwa BRI tuh berharap bahwa yang namanya inovasi itu bukan hanya sekedar menjadi ajang lomba tahunan tapi harus menjadi DNA para insan BRI, karena dengan semakin cepatnya perubahan yang terjadi , selalu dibutuhkan ide-ide dan terobosan baru untuk mengikuti kebutuhan nasabah.

Oya FYI, memang di BRI sendiri budaya kerjanya udah diubah lho, sekarang ada point inovasinya. Jadi lomba best innovator ini bukan sekedar ceremonial tetapi diharapkan ya jadi budaya kerja bagi para pekerja BRI, laaaf.

Materinya keren banget, ntar saya tulis terpisah deh, karena kalian wajib tahu biar saya ngga sia-sia dapet wejangannya, hahaha.

Abis Pengarahan dari Bapak Indra Utoyo (Direktur DBT BRI)
Bersama 21 Finalis



Kunjungan ke BRI Inovation Center

Selesai pengarahan dari direksi, ngasi ucapan selamat ke para finalis, pemberitahuan jadwal penjurian yang akan dilakukan besok hari, kriteria penilaian lalalala, foto bersama, trus para finalis diajak mengunjungi Inovation Centernya BRI.

BRI Innovation Center ini letaknya persis di Kantor Pusat BRI. Bagi orang-orang Kantor Pusat tiap hari mah bisa ke sini ya, bagi saya yang notabene penempatan di Medan, dapat kesempatan gini ya hepi banget. Langsung pencilakan di dalam, penasaran gimana sih di dalamnya.

Ternyata emang keren banget ya. Jadi saat masuk, kita bakal disambut dengan layar gede dimana disitu akan diputar film pendek sejarah BRI mulai dari berdiri. Jadi ceritanya BRI itu dulu awalnya dari kas Mesjid di Purwokerto lho. Berawal dari gagasan Raden Bei Aria Wirjaatmadja untuk mengentaskan kesulitan masyarakat pribumi kala itu yang hidupnya njomplang banget dengan Belanda. Maka dimanfaatkanlah kas mesjid untuk dipinjamkan ke masyarakat secara bergilir. Abis dibayar dipinjam orang lagi, begitu seterusnya.  Lama-lama jadilah bank dengan nama De Poerwokertosche Hulp En Spaarbank en Inlandsche Hoofden. Atau Bank Bantuan dan Simpanan Purwokerto.

Videonya bikin terharu deh, karena bekground musiknya mendayu-dayu gitu.

Abis nonton, kita dibawa masuk dan ditunjukin semacam bank Hybird. Jadi ada meja gde, trus ada semacam kartu-kartu yang ada kategorinya (pinjaman, simpanan, teras, investasi, layanan prioritas, dll) yang kalau kita letakkan di meja maka akan berpendar trus wups muncul deh tulisan-tulisan yang bisa disentuh trus muncul info lainnya. (mirip kayak yang ada di Art Science Museum Singapore )

( Baca : Tiga  Hari Di Singapura )



Trus, ada bilik tempat kita mengemukakan ide-ide kita.

Jadi di bilik ini ada kameranya. Kita bisa merekam sendiri sambil ngomong apa saja ide yang mau kita sampaikan ke pihak manajemen. Ntar setiap bulan, Divisi Transformer banking akan menyelekasi ide-ide yang masuk dan dipilih ide terbaik yang akan mendapatkan hadiah. Selain itu ide-ide yang bisa diaplikasikan akan dibuat BRSnya untuk diusulkan ke Divisi terkait. Cool yah.

Lalu kami dibawa ke ruangan lain yang isinya layar lebar lagi. Berbeda dengan pas masuk tadi, dimana isi video adalah sejarah BRI, maka di sini videonya menunjukkan gimana ntar BRI masa depan. Wih canggih bangetlah, dimana bener-bener ntar segala transaksi itu tanpa batas banget, dan based on technology, digital, dan sangat modern. Aamiin semoga segera nyampe ke sana.

Nah, gitu deh kira-kira isi Brinnovation centernya BRI. Jadi memang budaya menciptakan inovasi itu bener-bener lagi ditumbuhkan ke para pekerjanya. Wow, bahagia deh melihatnya.

Foto Lagilah buat rame-ramean :)


Setelah acara kelar, saya balik ke hotel.

Penjurian

Besok paginya adalah jadwal penjurian. Ke 21 finalis dibagi menjadi 3 kelompok. Ada kelompok Incremental, Adjacent, dan Breaktrough.

Kategori Incremental itu untuk ide-ide yang merupakan re-engineering business process dari yang susah ada.



Adjacent itu untuk ide-ide yang merupakan existing produk tapi marketnya baru.

Sedangkan kategori breaktough untuk ide-ide yang new product, new market, dan disruptif.

Dan ternyata ide inovasi saya masuk kategori Breakthrough, hahaha, kusenang.

Coba lihat pengertiannya yuk kenapa masuk kategori Breaktrough


Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.
Nah memang ide saya itu sesuatu yang baru sih, beberapa regulasi bahkan agak dilanggar, makanya saya deg-degan banget pas mau presentasi, takut dipatahin karena ada yang melanggar ketentuan yang selama ini sudah ada. Tapi, saya ngga bisa nyeritain apa idenya secara detail di blog, karena ya kan lahacia. Tapi yang pasti bukan sesuatu yang wow banget tapi saya rasa bakal membantu nasabah dalam bertransaksi.

Ok lanjut.

Penjuriannya dibagi 3 tim dengan masing-masing tim terdiri dari 4 juri. 3 orang dari internal BRI yaitu Kadiv, satu orang dari eksternal.

Salah satu Kepala Divisi yang nguji saya tuh Kadiv TSI, wow seru kan, karena blio pasti langsung bisa menilai soal implementasinya secara system. Dan yang dari pihak eksternal, seperti yang saya ceritain di post sebelumnya, dari Tokopedia cuy. Saya excited banget.

Ini CV Jurinya gan, Kece parah kan yah


Karena ya Tokopedia itu kan bergerak di ekonomi digital banget kan, jadi pas dengan ide saya yang inline sama 3 pilar ekonomi jaman now yaitu Digital economy, sharing economy, dan keuangan inklusif.

Pas penjurian tuh, saya yang semangat banget menjelaskan. 3 Kadiv yang dengerin juga banyak nanya ini itu. Nanyain kalau begini gimana, kalu begitu gimana. Ini ada risikonya nih, mitigasi kamu gimana, lalalala, seru deh.

Pas di bagian pemaparan sosialiasasi ke masyarakat, saya kan ngusulin ntar pake jasa influencer, ya blogger, selebgram, youtuber, sekalian saya sebutin nama-nama influencer yang bakal saya gandeng plus rate yang harus dikeluarin BRI, kenapa mereka, gimana mekanismenya, briefnya gimana lalalalala, ya fasehlah kan ane nyemplung disitu ya kaka, hahahahahaha.

Nah, si Ibu Kadiv langsung tertarik gitu, dan komen " Wah ini bisa jadi satu makalah sendiri nih soal influencer ini" xixixi.

Saya nyamber dong yah " Oh kalau ini usah pernah saya jadiin makalah bu dua tahun lalu, pas lomba call paper BRI, dan kebetulan jadi pemenang juga, dan saat ini udah diimplementasikan kok walau belum maksimal.

Kan kan, seru kan yah penjuriannya. Saya dong jadi tambah semangat.

Tapi ada satu juri yang dieeeem aja, ya si bapak Tokopedia. Doi sibuk ketak ketik di laptop macbooknya yang kece (orangnya juga kece), saya sampe membatin, " Ini ngga mau nanya atau gimana yah"

Saat akhirnya slide presentasi saya abis, barulah dia nanya.

Kalimat pertamanya " Hmmm, ide kamu ini beautiful banget lho kalo sampai diimplementasikan"

Yes , kata saya dalam hati



" Tapi ada yang ngga sinkron disini"

Deg-degan

" Coba kamu sampaikan ide ini dalam satu kalimat, intinya aja"

Wets saya diem sesaat, karena agak kaget. tapi ya udah lah ya saya jawab.

Trus dia lanjut " Ini bisa banget dilaksanakan tapi ngga match, ada beberapa hal yang nabrak antara ide dengan tujuan, antara tempat dan sasaran nasabahnya, lalalalalala"

Yang semuanya yang dia bilang itu bener banget, ngga kepikiran sama saya, dan sepertinya juga baru kepikiran sama juri lainnya.

Saya langsung pengen kempis dan menghilang. Ngerasa " Duh iya ya, kok gw bego sih, kok ngga mikirin itu sih, kok kelupaan sih, kok kok yang lain"

Tapi yah namanya lagi presentasi, tetep dong yah berargumen, ngasi penjelasan, ngasi solusi lalalala, tapi intinya ya dia bener dan gw salah.

Saya ngakui banget, makanya langsung sedih.



Trus juri yang lain melihat saya yang mukanya mungkin berubah gitu langsung kasih semangat

" Lho mba, kamu jangan patah semangat, namanya ide itu memang harus divalidasi terus, ada yang salah kita perbaiki, ada yang ngga pas kita cari yang pas gimana, lagian namanya ide ngga harus langsung diimplementasi lho, bisa dikembangkan dan nemu formula yang pas nantinya"

Huhuhu, iya deh paaak, saya laaf dengan kata-kata bapak, tapi saya jadi merasa butiran debu.

Akhirnya waktunya habis, dan saya pamit keluar. yang tadi pas awal masuk udah niat pengen foto bareng langsung ambyar, males banget.

Dan yah gitu, pulang dari situ, saya balik hotel, males-malesan, curhat sama Debi dan geng gong, menyesali kebodohan diri sendiri. Dihiburlah sama Deby " Gan, paling semua peserta digituin gan, namanya juga juri, biasa itu gan " . tapi tetep sedih, ya udahlah capcus pergi ke Bandung, mau jalan-jalan aja sama Tara biar ngga kepikiran lagi.

Lupakan lupakaaaan.


Pengumuman

Nah saya beneran udah ngelupainnya kan. Karena tiap keinget saya langsung sedih, hahahaha, saya agak lebay karena saya bener-bener pengen ide saya diimplementasikan, makanya sedih.

Udahlah, mulai nyusun rencana Trip bareng sohib saya Gesi dan Icha. Itu cuma jarak seminggu banget soalnya. Pulang ke rumah, besoknya balik kantor, nyelesain kerjaan yang ditinggal 3 hari, trus nyiapin koper untuk holidey yeaaay.

Eh malam sebelum pergi holidey, tiba-tiba dapet pengumuman di grup Innovator, kalau saya masuk jadi 10 besar, wohooooooo. Kusenang banget.



Senang karena udah ngga berharap sama sekali lagi. Udah nganggap ide saya kemarin sampah bangetlah. Makanya langsung norak bikin status hahahaha. ga apa ya, saya kan gitu, ada apa-apa nyetatus xixixi.

Urutan pemenang belum tau sih, baru dikasih tau 10 besar secara acak, ntar pengumuman resminya pas ultah BRI Desember nanti.

Kalian tau kenapa saya hepi berat?

KARENA HADIAHNYA KECE PARAH

Saya berdoa aja semoga panitia ngga berubah pikiran soal hadiahnya hahahaha.

BRI ngga main2 ngasih hadiah hahahah


So, begitulah, saya lagi hepi berat. Ntar pas ultah BRI ke 10 finalis bakal diundang gala dinner di kantor Pusat dan diundang di acara ultah di Kantor Pusat juga, yang artinya SPJ lagiii horeeeee, hahahah norak parah.

Saya udah ngga deg-degan soal urutannya sih, mau juara berarapun saya udah hepi aja.

Dan ini bener-bener ngga lepas banget dari dukungan sohib-sohib kesayangan saya Debi buat. dan geng gong yang udah bersedia saya recokin di WA dan samsek ngga nganggap ide saya basi atau cemen. i laf yu lah pokoke.

Btw, plis plis doain gw masuk 3 besar dong fren, hahahaha.

Ayo semangat Brinovasi







Kartuisasi Jokowi

Wednesday, September 20, 2017
Foto dari sini


Inget ngga waktu jaman kampanye dulu, Jokowi kerap dibully gegara idenya soal kartuisasi. Sempet dibilang tukang kartu malah kalo ngga salah😜😜

Saya inget banget gimana terbata-batanya blio menjelaskan keinginannya agar ada e e e anlah di semua lini. Ya e-KTP, e-budgeting , e- pajak, e-SIM, dsb dsb. Terbata-bata bukan karena tidak tau apa yang dibicarakannya, tapi terbata karena ingin menegaskan betapa pentingnya hal itu.

Pas Kampanye ini Kayaknya


Ide Jokowi saat itu sebenernya sederhana. Melalui kartu dia ingin semuanya berjalan by system, terintegrasi dan transparan, no tipu-tipu. Ia ingin Indonesia memiliki bank data sehingga semua data rakyat Indonesia ini nantinya bisa diakses by sistem, kayak di film-film itu lho, dimana mau nyari data siapa aja bisa melalui internet.

Saya inget pernah denger kata-kata bijak (sorry saya lupa siapa yang ngomong ), bahwa ke depan penguasa dunia adalah orang yang memiliki data dan bisa memanfaatkannya.

Why?

Karena yang namanya data bisa digunakan untuk menerapkan strategi. Ya strategi bisnis, strategi pembangunan, membuat kebijakan , dll.

Kalau selama ini kita selalu mengandalkan data BPS yang masih banyak dilakukan secara manual, ke depannya data-data yang dibutuhkan bisa banget cuma tinggal narik data dari bank data yang ada di bank datanya pemerintah.

Dan kini satu persatu kartuisasi itu mulai terlaksana.

Mulai dari dana-dana bantuan yang diubah dari system tunai menjadi via rekening. Tak kurang dari bantuan non tunai berupa bantuan Rasta (beras Sejahtera ), PKH ( program Keluarga Harapan ), PIP ( Program Indonesia Pintar ), sudah terkartuisasi saat ini.

Ini tujuannya jelas, pertama agar bantuan jatuh hanya ke tangan yang berhak. Karena sudah menjadi rahasia umum, dulu saat bantuan-bantuan ini diberikan dalam bentuk tunai, tak jarang masih terdapat oknum-oknum tak bertanggung jawab yang main pungli aja ke mereka. Bantuan sosial aja masih ada yang ngembat ya, huuuft.



Nah dengan pemberian bantuan via rekening, hal-hal seperti ini dapat diminimalisir. GARISBAWAHI saya sebut DIMINAMILISIR, karena yang namanya niat jahat mah mau systemnya gimanapun selalu ada cara. 

Diminimalisirnya gimana?

Karena untuk mengambil kartu tersebut di bank, bener-bener harus si pemilik yang namanya ada di kartu, dan diberikan via rekening yang mana saat pengambilan jika dia ambil via teller ya harus ada tanda tangan dan tanda pengenal si empunya rekening, jika ngambil melalui ATM maka hanya si pemilik rekening yang tahu no PIN nya. Jadi lebih personal dan lebih aman.

Yang kedua, tujuannya  untuk mendorong percepatan peningkatan indeks keuangan inklusif.

Iyes, karena melalui program bantuan-bantuan sosial tersebut, bank-bank bekerja sama dengan para agent Brilink yang merupakan layanan keuangan inklusif yang melibatkan masyarakat secara langsung. 

Jadi sekali dayung, berpulau-pulau terlampaui 

( Baca : Dapat Gaji Dari BRI Tanpa jadi pegawai BRI )

Mengapa harus kartu dan mengapa harus melalui perbankan ?

Karena melalui kartu yang terhubung ke perbankan, maka system keuangan kita akan muter disitu-situ aja, akan terbentuk closed system gitu lho. Dari pemerintah nyalurin bantuan – masuk rek- nasabah ambil dana dr rek – belanja pake kartu- masuk ke bank- terkumpul dana – salurin ke kredit – kredit untuk mengembangkan usaha – usaha masuk maning ke bank – bank bayar dividen – untuk pembangunan – balik ke rakyat. Gituuu teros, loopnya. 👌👌


Karena disalurkan melalui bank juga maka secara otomatis mereka akan terhubung dengan layanan bank, dan ke depannya, jika mereka memiliki usaha dan kemudian ingin mengembangkannya, bisa meminta kredit mikro di bank sehingga tidak perlu meminjam uang dari rentenir atau lintah darat yang bunganya sungguh mencekik leher. Pinjaman berbunga rendah dengan syarat ringan saat ini ada yang namanya KUR di bank-bank pemerintah.☝️☝️(plis ingetin untuk nulis soal KUR di blog)

( Baca : Tentang Kredit di Bank  )


Nah, yang terbaru nih, seluruh pegawai di bawah kementrian BUMN diwajibkan memiliki kartu Tanda Pengenal Pegawai yang bundling dengan uang elektronik, kayak di foto ini . Kartu pengenal yang berfungsi sebagai e money juga.




Beberapa BUMN bundlingnya dengan BRIZZI  dari BRI, kayak PLN, KAI, 👍👍 yang lain apa lagi yaaa? hahaha males nyari info :)

Jadi si kartu pegawai bisa juga digunakan untuk belanja, dipakai bayar toll, parkir, dsb.

( Baca : Bayar Tol Tinggal Tempel )


Intinya, ntar ke depan diharapkan BUMN ini bakal mendrive untuk BUMN goes digital sebagai pendukung pembentukan National Payment Getaway (NPG ).

Apaan tuh?

National Payment Getaway itu adalah sistem pembayaran non tunai yang digunakan khusus di Indonesia. Garisbawahi nih KHUSUS DI INDONESIA.

Jadi, kalau system yang ada saat ini , setiap transaksi non tunai kita baik kartu debet maupun kartu kredit, data pembayarannya diproses di luar negeri dan kembali ke dalam negeri pada saat penagihan. Padahal, transaksi pembayaran untuk kartu kredit misalnya berdasarkan catatan BI, sekitar 80 persen transaksi terjadi di dalam negeri, dan 20 persen sisanya di luar negeri. 

Nah saat ini kita itu masih menggunakan perantara perusahaan asing seperti Visa dan Mastercard. Karena ada perantara maka akan ada fee tambahan. Fee tambahan ini dibebankan ke pedagang dan ke penerbit kartu .

Tentu akan lebih efisien kalau Indonesia memiliki sendiri badan atau perusahaan yang menjadi perantara segala transaksi non tunai tersebut. Imbasnya nanti biaya transaksi bakal lebih murah, termasuk transfer antar rekening juga biayanya akan lebih murah.


Nah Sistem NPG ini memungkinkan transaksi pembayaran non tunai dapat diproses di dalam negeri. Ada 4 bank yang ditunjuk untuk pengembangan gerbang pembayaran nasional ini, yaitu BRI, Mandiri, BNI, dan BCA. Keempat bank itu akan bertindak sebagai acquirer , artinya mereka mampu melakukan kerjasama dengan pedagang untuk memproses transaksi dari uang elektronik yang diterbitkan.

Apa untungnya untuk Indonesia, untuk kita semua?

Ya jelas banyak banget, pertama Indonesia dapat mengontrol sendiri transaksi domestiknya khususnya yang menggunakan pembayaran via kartu. Trus kita tentu saja bakal berkurang ketergantungan terhadap pihak principal luar. Transkasi non tunai juga jadi lebih efisien lebih murah, ujungnya akan tercipta kedaulatan system pembayaran Indonesia, karena bank kita sendiri nih yang mengontrol transaksi domestic kita. 

( Baca : PBI Tentang National Payment Getaway )

Nah lho, dari kartuisasi ini bisa jadi langkah awal Indonesia yang berdaulat lho, hari gini mah kedaulatan negeri ngga cuma dari angkat-angkat senjata aja ya gengs, tapi dari kedaulatan keuangan melalui proses digitalisasi transaksi keuangan domestik juga bisa dilakukan. 😍😍

Hayoo siapa yang masih ngetawain program kartu-kartuan ala Jokowi 😄😄

***

Kemarin pas saya posting di FB, banyak juga yang komen. Beberapa komentar yang pengen saya bahas, saya tulis disini aja deh ya .


 E- KTP msh banyak masalah MBA.. Itu aja yg harus diutamain


Naini, ngga hanya E-KTP yang jelas-jelas lagi kesandung masalah korupsi, program lainnya juga masih banyak kendala kok. Seperti bansos tuh, masih buanyak banget hal-hal yang harus diperbaiki, mulai dari proses pencetakan kartu sampai pendistribusian ke yang berhak menerima.

Namun, kalau ngga dimulai ya kita ngga akan tahu bakala ada kendala. Ya ngga?

Sp Untuk e-KTP, ayo kita kawal aja kasusnya yah.


Klo berani: 1 kartu bisa berfungsi sebagai: KTP, SIM, BPJS, ATM, NPWP, kartu rumsh sakit, Kartu siswa, bisa buka semua pintu hotel, perpus, dll. Semua terintegrasi. Jadi klo mau daftar apa saja tinggal kasih kartu itu, beres, gak perlu lagi nulis form yg begitu banyak. Syukur-syukur kartu itu bisa merekam jejak seseorang. Misal, dulu domisili dimana, sekarang dmn... (Maklum sisa mimpi tadi malam,😀😀😀)


Kita juga pasti maunya semua praktis, kalau bisa satu kartu mah bisa buat semua, bahkan bisa buat bayar kalau mau ke toilet umum. Tapi saat ini namanya juga baru memulai, akan lebih gampang kalau per kartu dulu, karena tiap kartu itu yang punya urusan beda-beda kementrian.

Kayak E-KTP : Itu hubungannya ke kementrian dalam negeri
Rasta dan PKH ; ke Kementrian Sosial
PIP : Ke Kementrian Pendidikan
E-Tilang : Ke Kepolisian
ATM : Ya ke Bank, hubungannya ke Bank Indonesia dan OJK.
NPWP : Ke Dinas Pajak
BPJS  Ke Kementrian Kesehatan

Sabar ya. Yang namanya birokrasi ngga semudah ngomonong " POKOKNYA", xixixi.


ampa skg kayanya masih di bully klo urusan kartu win. kan banyak kartu saktinya....hehehehe



Iyes tentu saja, sampai kapan pun Jokowi akan dibully kok. Yang bully pasti ada alasannya. Pertama mungkin karena ngga tau atau ngga mau tau dengan tujuan kartuisasi era Jokowi. Kedua, ya mungkin karena yang namanya Jokowi di matanya selalu salah, kalau udah seperti ini ya gimana dong yah hahahah. Alasan ketiga, ya karena orangnya mungkin susah diyakinkan sebelum semua bisa lancar jaya tanpa kendala berarti dan mungkin dianya bukan termasuk orang yang menikmati proses.

Ngga apalah. Bully-an seperti ini mah cukup nunggu waktunya aja, kita doakan bersama semoga semakin dibully semakin berusaha jadi lebih baik yes. 


Yang jelas ada pihak yang untung dan ada juga yg rugi.


Off Course yess. Apapun di muka bumi ini mah memang selalu punya dua sisi mata uang kan yah.

Yang diuntungkan tentu ya kita-kita ini, rakyatnya.

Yang dirugikan jelas banyak. Orang-orang yang pengen nyari celah, yang pengen korupsi, yang pengen tipu-tipu, oknum-oknum yang suka pungli tentu bakal dirugikan banget mah .


kebanyak kartu sakti, proyek kartu jadiinya. lumayan banget tuh klo jadi vendor kartu. suply ke 1 proyek aja dpt berapaan tuh



Ini komen gengges tapi ngga apalah :)

Kalau soal proyek-proyekan mah saya kurang begitu mengerti ya. Tapi kalau kartunya yang dikeluarkan bank, kayak kartu PKH, PIP, Rastra itu mah ngga ada proyek-proyekan, wong skemanya sama dengan buka rekening. Apa iya kalian kalau buka rekening dikenakan biaya? Ngga kan? Wong gratis, jadi disini ngga ada proyek-proyekan kartu ah.

Kalau e-KTP saya kurang tau, jadi ngga berani bahas. 


Kalau soal kekurangan tentulah program mana sih yang ngga ada kekurangannya? Yang penting kita tahu bahwa kita sedang menuju ke arah yang lebih baik, bukan begitu?






Bayar Tol Tinggal Tempel

Tuesday, September 12, 2017
Hal-Hal Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Uang Elektronik

Halooo banker's Life hadir lagi nih, maaf yak udah lama absen.

Apa yang lagi hot nih tentang perbankan?

Iyes, kalau lihat timeline sih lagi wara-wiri yang share soal rencana aturan pemakaian uang elektronik untuk pembayaran tol. Jadi mulai tanggal 01 Oktober 2017, pemerintah melalui BI dan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan memberlakukan aturan pembayaran di jalan tol Indonesia hanya menggunakan uang elektronik saja, alis cash dilarang masuk.



Respon netizen macem-macem, ada yang senang, ada yang bingung, ada yang bengong.

Ada yang nanya " Wah gimana kalau pas kebetulan udah di tol ternyata saldo e moneynya kosong?"

" Gimana kalo lupa bawa e money ", dan sebagainya dan sebagainya

Waaa seru ini.

Sebenernya ngga perlu ditanggapi dengan risau sih, yang namanya mau menuju ke arah yang lebih baik, ya harus ada uji cobanya yak. Mungkin di awal-awal bakal heboh dulu, mungkin ada yang ketinggalan kartu, bisa jadi ada yang saldonya tiba-tiba habis dan ga inget isi ulang, tapi ga apa untuk awal-awal beberapa bank banyak yang standby di pintu tol kok, jadi jangan khawatir dulu ya.

Makanya yang belum punya uang elektronik ayo mulai sekarang pakai uang elektronik ya.

Sebagai pegawai bank yang baik budi, saya mau sharing soal uang elektronik nih, siapa tau ada yang belum tau atau malah belum pernah denger sama sekali. Baca ya biar lebih kenal sama produk bank yang satu ini.

Apa itu uang elektronik?

Uang elektronik atau yang sering disebut e-money ini adalah produk dari bank yang fungsinya sama seperti uang tunai yang dapat dipakai di merchant-merchant yang ada EDC atau card reader bank tersebut

Besar saldonya dibatasi oleh BI hanya sebesar Rp 1 juta saja per kartu.

Di BRI namanya BRIZZI. Saya ngga bahas punya bank lain ya, maklum eikeh cintanya sama bank BRI, bukan bank tetangga wahahahaha.

Ini penampakan kartu Brizzi. Macem-macem banget gambarnya, biar nasabah ngga bosen lihatnya.





Bagaimana cara mendapatkan Kartu Brizzi?

Brizzi dijual di bank BRI. Kamu bisa datang ke BRI mana saja, tanya ke CS atau satpamnya, beli deh kartu Brizzi disana.

Kartu Brizzi ini dijual kosong seharga Rp 20 ribu, nah biar ada saldonya kamu harus melakukan top up. Top upnya bisa melalui EDC BRI ataupun melalui mobile banking.


Cara Top Up

Kalau pakai mobile banking/ internet banking BRI berarti kamu harus punya rekening BRI, caranya seperti ini.








Selain internet banking, pakai mobile banking juga bisa yah.

Ngga punya rekening BRI?

Kalau kamu ngga punya rekening BRI, bisa top up pakai kartu ATM bank mana saja, asal menggunakan EDC BRI. Caranya sama saja, ntar pilih menu pembelian juga sama kayak di atas. Jangan lupa untuk aktivasi dulu ya sebelum digunakan.

Sekarang ini kalau kalian malas ke bank, di beberapa pintu tol ada juga petugas BRI yang menjual Brizzi secara langsung. Ngga perlu top up karena Brizzinya udah diisi saldo, dan siap pakai.


Apakah sama dengan kartu debet?

Beda.

Kalau kartu debet, nasabah harus punya rekening dulu untuk punya ATM nya dan harus ada saldo di rekening BRI, kalau kartu Brizzi nasabah ga harus punya rekening di BRI, siapa saja bisa memilikinya.

Jadi yang saat ini belum punya rekening di BRI pun ya bisa memiliki Brizzi, karena dia bener-bener kayak uang tunai. Namun biar lebih asoy sebaiknya sih buka rekening dulu biar ntar gampang top upnya *wink

Dimana saja bisa digunakan?

Kartu Brizzi ini bisa digunakan dimana saja sepanjang ada EDC BRI nya. Bisa digunakan di merchant-merchant, di gerbang tol, di tempat parkir, di Indomart, Alfamart, pokoke sepanjang ada EDC BRI, maka bisa digunakan.


Cara pakainya tinggal di tap ke reader Brizzi nya, masukin jumlah uangnya , ntar saldo di kartu akan berkurang. 

Bisa direedem ngga ?

Bisaaaaa.

Kalau misalnya nih kamu lagi bokek, tapi saldo di Brizzi kamu lagi banyak, bisa kok kamu redeem, tapi harus ke teller BRI ya. Datang aja ke CS nya, ntar disuruh isi form, lalu dicairkan deh di teller. Jadi fleksibel banget


Apa saja keuntungan pakai Brizzi


Waduh banyaklah.


  • Praktis tentunya, kamu ngga harus kemana-mana bawa uang tunai. 
  • Bisa dimiliki siapa aja tanpa harus punya rekening bank. Ngga perlu pake PIN dan ngga ada kadaluarsanya. Tapi dia akan pasif kalau tidak digunakan selama setahun penuh. Ya masa sih ngga digunakan setahun kan yah.
  • Bisa banget lho digunakan buat ngatur pengeluaran bulanan. Misal nih kamu punya beberapa kartu Brizzi. Yang satu buat bayar toll, yang satu buat alokasi kalau pakai angkutan umum ntar Trans Jakarta, Commuter Line, atau saat kamu ke Jogja mau pakai Trans Jogja misalnya. Trus kartu lain kamu alokasikan buat belanja bulanan di Alfamart atau Indomart, atau di Carefour, terserahlan. Nah jadi teratur kan keuangannya. 
  • Banyak banget diskon di merchant-merchant yang kerjasama dengan BRI. Ada diskon di tempat-tempat kuliner kayak Medan Napoleon, Burger Gaboh, Burger Caffe, si Bolang Durian, Pelawi Durian, banyak deh, saya sampe ngga hapal ^_^

    Mau info lebih jelas soal promo Brizzi bisa dilihat di IGnya BRI nih khusus untuk promo-promo seru yang ada.. http://instagram.com/promo_bri_medan.
( Baca : Medan Napoleon, Oleh oleh Kekinian dan Halal dari  Medan )

Nah udah dijembrengin tuh A-Z tentang Brizzi. 

Balik maning ke pertanyaan di awal tadi, gimana kalo tiba-tiba pas udah masuk tol eh ternyata saldonya kosong?

Wew, makanya gunakan mobile banking BRI untuk cek-cek saldonya. Kamu bisa gunakan hape yang ada fasilitas NFC nya untuk langsung cek saldo, buka mobile banking, pilih menu Brizzinya, tempelkan kartunya, langsung terlihat saldonya.

Hape yang punya fitur NFC itu setau saya sih Hp android kayak Samsung, Sony, Xiaomi tapi lihat-lihat typenya. Cara mengetahui hape kita punya fitur NFC atau ngga, seperti ini :

Masuk ke menu Settings > Wireless & Networks > lalu klik More. Fitur NFC akan terlihat jika smartphone kamu mendukungnya.



Kalau ngga ada?

Ya belilah ah.



YANG PERLU DIPERHATIKAN NIH :

JANGAN LUPA AKTIVASI DEPOSIT SEBELUM MENGGUNAKAN KARTU ELEKTRONIK, APAPUN JENIS KARTU ANDA.

Ini harus diinget ya frend, jangan sampai merasa udah top up trus lupa aktivasi. 


Gimanaaa, udah siap belum buat hidup cashless?

Oya lupa, Brizzi ini bisa banget lho kamu jadikan hadiah buat orang terkasih , eeeaaaa.Hari gini orang dikasih e money pasti hepilah.


APAAAA ngga ada yang ngasih kamu Brizzi???


Baiklah, karena ngga ada yang ngasih kamu Brizzi, saya bakal kasih kalian Brizzi gratis untuk orang yang beruntung


Caranya ?

  1. Share dong tulisan ini, biar banyak yang baca jadi banyak yang tau soal ketentuan bayar tol pake elektronik money, aka Brizzi. Sharenya boleh dimana aja, boleh di FB, di Twitter, terserah. 
  2. Follow akun Instagram akuh ya → @winditeguh, buat apa? biar kalian bisa baca pengumuman pemenangnya.
  3. Follow juga akun IG  → @promo_BRI_Medan, biar kalian ngga ketinggalan info promo yang sedang berlangsung.
  4. Jawab pertanyaan saya di komen postingan ini : " Kalian pengen Brizzi bikin promo di mana aja? dan kenapa?"
  5. Sertakan data diri ya biar saya gampang mention kalau kamu menang :
    Nama :
    Akun IG :
Pemenangnya yang nentuin saya sendiri. 

Hadiahnya ?

Ada 5 BRIZZI dengan nominal @Rp 50 ribu 

Periode : mulai hari ini sampai hari Minggu tanggal 17 September 2017
Pengumuman : Hari Senin, tanggal 18 September 2017.



Jadi..kalau mau bayar tol tinggal tempel pake apaaaa?

Pake BRIZZI lah 😍😍

Working Mom's Story: Antara Pekerjaan dan Keluarga

Monday, May 22, 2017


Dalam sebulan ini, saya ngalamin apa yang disebut pepatah bahwa “ Hidup adalah pilihan”

Beeeugh dalem banget nih kayaknya postingan, hahahah.

Yup, sering denger kan yah kata-kata mutiara tentang kehidupan.

Bahwa hidup adalah pilihan

Dalam hidup kita harus memilih

Bahwa hidup adalah bukan sebuah kebetulan

Bahwa yang namanya hidup ada setiap konsekuensi dari setiap pilihan, halah.

Sampai khatam dengernya.

Sebagai ibu bekerja, ya gitu, tiap hari dari mulai bangun pagi sudah dihadapkan oleh pilihan-pilihan. Mau pilih ngelonin anak sambil cium-cium aroma tengkuknya yang surgawi banget atau bangkit dari tempat tidur, segera mandi dan dandan sebelum si mungil keburu bangun dan malah telat ngantor.

Sampai di kantor, kerja, pas mau pulang pun kembali di hadapkan ke pilihan, mau tetep stay di depan computer sankin asiknya kerja, atau segera beresin meja dan bergegas capcus biar masih sempet main sama anak di rumah.

( Baca : Hidup Ini harus Memilih )

Iyes, kedengerannya sederhana banget kan yah.

Ya iyalah, kalau ada pertanyaan pilih kerjaan atau keluarga, pastilah jawaban semua orang lazimnya bakal pilih keluargalah. Keluarga is numero uno. Ngga ada yang memenangkan pilihan kalau ada keluarga di antaranya

Namun, ternyata jawaban semudah itu ngga selalu terjadi di setiap kondisi.

Ada kalanya keluarga memang harus di pihak yang harus dinomorduakan. Bukan berarti posisinya jadi tidak lebih penting di banding kerjaan, tapi memang ada saat-saat karena pertimbangan tertentu, pekerjaan menjadi prioritas.

Kalau di saya ini sudah terjadi beberapa kali.


Antara keluarga dan kesempatan


Tepat 4 tahun lalu, saya dihadapkan langsung ke pilihan keluarga atau pekerjaan.

Saat itu saya baru melahirkan anak pertama saya Tara. Anak yang sudah dinanti selama 5 tahun lamanya. Baru 3 hari keluar dari rumah sakit, saya ditelepon kantor, pemanggilan assesment untuk naik ke level manajer.

Tentu saja itu tawaran yang menggiurkan, naik grade, naik gaji, perubahan status plus tambahan fasilitas bakal mengikuti di belakangnya.

Namun tentu saja nantinya ada konsekuensi yang harus saya jalani. Yup, terdapat kemungkinan saya bakal mutasi. Namanya bekerja, mutasi kemana itu kan seperti bola liar, ngga ada yang tahu kemana tembakannya. Padahal, saya baru saja berkumpul dengan suami saya setelah LDR-an selama 3 tahun. Ditambah baru saja menikmati peran sebagai ibu baru.

Hadeeeeh, kala itu bener-bener dilemma deh buat saya.

Namun akhirnya saya putuskan untuk merelakan kesempatan itu berlalu. Yup, saya memilih tetap stay bersama keluarga. Ah kesempatan, walau katanya tak mungkin datang dua kali, tapi masih ada peluang untuk datang kembali kan?. Sedangkan kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak akan bisa tergantikan.



Antara Pekerjaan dan Pengabdian


Hasek, judulnya ngeri.

Yup, kembali saya dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan pekerjaan.

Sebulanan lalu, saya dapat panggilan pendidikan ke Jakarta. Duh seneng bangetlah pastinya. Pokoke selalu seneng kalau ada panggilan pendidikan or training karena ada kesempatan jalan-jalan ke Jakarta hahahaha. Bisa ketemuan sama temen dan bisa seminggu bebas dari rutinitas kerjaan, Cuma makan minum di diklat sambil belajarlah ya pastinya, LOL.

Udah persiapan dong, pakaian udah dipacking, tiket udah dipesan. Rencana pergi hari Minggu, dari Sabtu udah nelfon omanya Tara biar bisa jemput anak-anak. Diungsikan ke rumah oma dulu selama saya di Jakrta rencananya.

Namun, namanya manusia berencana , Tuhan juga yang menentukan. Besok pagi mau berangkat, eh malamnya mas Teguh sakit. Demam tinggi dan mulutnya sakit sampai level ngga bisa dibuka sehingga ngga ada makanan dan minuman yang bisa masuk.

Keesokan paginya saya paksa mas Teguh ke rumah sakit. Awalnya Mas Teguh nyuruh saya tetap berangkat, karena dia pikir dia bisa mengurus diri sendiri. Namun, namanya juga istri manalah tenang membiarkan suaminya ke rumah sakit sendiri.

Jadi pagi itu saya bawa Mas Teguh ke RS, setelah diperiksa segala macam ternyata harus opname karena memang suhu tubuhnya tinggi banget, 39’C dan karena sudah dua hari ngga makan apa-apa jadi kondisi tubuhnya lemes banget. Hasil pemeriksaan sementara sepertinya amandel dan disarankan untuk operasi.

Yha dhalah langsung nelfon kantor, batalin training, dan telfon ke maskapai penerbangan, batalin tiket.

Kali ini saya masih tetap memilih keluarga dibanding pekerjaan. Toh training masih bisa diikuti lain kali, namun kesehatan suami, bisa memburuk atau membaik saat itu saya tidak tau. Ngga pengen aja menyesal jika sesuatu terjadi saat saya lebih memilih kerjaan dibanding menemani suami.

Dan Alhamdulillah saya ngga pernah menyesalinya.

( Baca : Dear Rekan Kerja, Maafkan kami Para Working Mom )



Antara Pekerjaan dan Anak

Saya pikir, hal-hal seperti itu bakal membuat saya gampanglah ntar-ntar kalau ada kejadian serupa.

Namun ternyata saya salah.

Semingguan yang lalu, anak saya Tara sibuk minta ulang tahunnya agar dirayakan di sekolah. Sebenarnya ulang tahunnya sendiri tanggal 28 Mei ini, tapi karena tanggal 20 merupakan hari terakhir sekolah, maka acara ulangtahun dimajukan jadi hari kamis tanggal 19 Mei 2017.

Saya ngga ambil cuti, karena minggu sebelumnya saya sudah cuti dan tentu saja karena saat ini kondisi kerjaan di kantor lagi lumayan hectic. Jadi rencana saya, saya bakal datang menjelang jam istirahat kantor, merayakan ultah, selesai acara balik lagi ke kantor. Saya perkirakan palingan cuma 2 jam-an.

Biar ngga rempong, segala sesuatu sudah saya siapkan. Mulai dari kue ultah, balon, dekor, makanan sampai gudie bag untuk teman-teman Tara.

Yha dhalah, di hari H ultahnya, tiba-tiba ada pemberitahuan undangan meeting karena ada Kepala Divisi datang dari Kantor Pusat. Saya masih tenang karena saya pikir palingan menjelang makan siang rapat sudah selesai dan saya bisa langsung ke sekolah Tara.

Namun ternyata sampai menjelang jam makan siang belum ada tanda-tanda selesai, padahal anak TK nya juga udah mau pulang.

Sempat terfikir untuk ijin sebentar dari meeting, pergi ke sekolah Tara , ikut acaranya bentar kemudian balik lagi meeting. Namun setelah saya hitung jarak dan waktunya sepertinya ngga memungkinkan. Saya malah bakal ngga dapet dua-duanya. Dengan jarak yang lumayan jauh, kalau saya ke sekolah pasti acara sudah selesai, ntar saya balik lagi ke kantor, pasti meeting juga udah selesai.

Akhirnya dengan berat hati, saya telpon bu gurunya Tara, meminta blio untuk memulai acara tanpa menunggu saya.

Sedih?

Bangetlah.

Udah kebayang mau nyanyi-nyanyi sama Tara, potong kue, hepi-hepilah.

Mana sempet ngobrol lagi sama Tara

“ Tara, kalau bunda ngga ikut acara ulang tahunnya gimana sayang”

“ Ngga apa bunda, Tara kan anak pintar, Tara bisa ulangtahun sama kawan-kawan”


Ngga tau deh gimana menggambarkan perasaan saya. Kecewa pastinya.

Saya ngga kecewa atau marah sama kantor sih, hanya ya kecewa saja, karena semua memang di luar kuasa saya.

Nah kali ini keluarga saya kalahkan. Ultah anak saya, saya relakan berjalan tanpa saya dan saya memilih stay di ruangan meeting. Bukan berarti meeting lebih penting dari ulang tahun anak. Tapi memang ada kalanya pilihan yang terlihat gampang begini pun memerlukan pertimbangan dulu.



Yah begitulah, terkadang menjadi ibu bekerja itu memang kita dituntut untuk berani memilih diantara keluarga dan pekerjaan. Karena yang namanya seorang perempuan yang sudah menikah, pasti punya tanggung jawab di keluarga. Namun karena ia bekerja ia pun memiliki kewajiban dan tanggung jawab di kantor.

Memilih salah satu, tak berarti membuat yang lain menjadi kurang penting. Ini hanya masalah skala prioritas di waktu tertentu.

( Baca : Profesionalisme Ibu Bekerja )

Yup menjadi ibu bekerja, pasti kita akan sering dihadapkan dengan tantangan rasa bersalah bila harus mengutamakan pekerjaan di waktu tertentu, ga apa kok itu wajar saja. Namun jangan dibawa berlarut-larut karena memang harus kita sadari saat kita memilih bekerja ada konsekuensi yang harus kita jalani.

Nah menurut pengalaman nih, ada beberapa hal yang biasa saya lakukan sebelum memutuskan sesuatu, saya pengen share kepada pembaca saya siapa tau bermanfaat.

Saat kita dihadapkan pada pilihan kerjaan atau keluarga , segera ajukan beberapa pertanyaan ke diri sendiri.

Apakah bisa ditunda atau digantikan?

Ini misalnya pilihan antara pendidikan atau menemani suami sakit, kayak yang saya alami. 

Saya langsung tanyakan ini ke diri saya. 

Bisakah pendidikan ditunda atau digantikan teman?

Jawabnya bisa. Pendidikan akan ada batch lain.

Bisakah kehadiran saya disamping suami digantikan orang?

Jawabnya tidak, karena suami saya type orang yang hanya mau diurus sama istrinya, dan disini dia tidak memiliki keluarga selain keluarga saya.

Maka ya udah , saya pilih membatalkan pendidikan dan stay disamping suami.


Apakah ada kemungkinan kesempatan lain?


Ini saat kejadian pemanggilan assesment saat saya baru melahirkan dan baru ngumpul bersama suami setelah 3 tahun LDR.

Apakah assesment akan ada di lain kali?

Yes ada, karena ini perusahaan besar akan selalu ada job opening,namun paling saya akan tertinggal dibanding teman seangkatan saya. 

Apakah saya siap untuk mutasi pada saat ini?

Jawabannya tidak. Saya ngga siap jika berpisah lagi dengan suami saat anak saya masih bayi banget. dan saya masih enjoy dengan jabatan saat itu.

Maka saya pilih tidak ikut assesment


Namun berbeda saat pilihannya ultah atau meeting kantor.

Kembali saya ajukan pertanyaan ke diri sendiri


Apakah bakal ada lain kali?

Jawabannya tidak. Tidak setiap saat kepala divisi datang untuk memberi pengarahan. Apa yang disampaikannya adakah yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan saya ke depan. Jika saya tidak ikut meeting, saya mungkin tidak bisa menyampaikan ke anggota saya apa yang seharusnya saya sampaikan berdasarkan evaluasi kantor pusat.

Kemudian saya tanya juga pertanyaan itu untuk bagian ultah anak.

Apakah kalau saya tidak ada acara bakal tetap berlangsung?

Ya, ulang tahun akan tetap terlaksana karena acara di sekolah dan semua sudah saya siapkan.

Apakah anak saya bakal sedih?

Tentu saja,pasti lebih bahagia kalau saya ada disitu. Tapi saya bisa mengulang ultahnya kalau mau atau membuat acara sekali lagi bersama saya dan papanya di rumah. 

Maka akhirnya saya pilih meeting dibanding ultah Tara.

Jadi keputusan yang diambil tidak berdasarkan perasaan semata tapi keputusan yang diambil dengan pertimbangan logis. Dengan cara ini ,mudah-mudahan akan meminimalisir perasaan bersalah atau perasaan ngga enak misalnya.

Jadi, ibu-ibu bekerja tetap semangat yaaaa, hahah ini sebenarnya lagi menyemangati diri sendiri ceritanya. 

Jangan jadikan pilihan antara pekerjaan atau keluarga menjadi hal yang menimbulkan perasaan bersalah, sedih atau  penyesalan. Karena semua sudah melalui pertimbangan logis terbaik.

Seperti kata teman saya Annisast, Priority is bullshit. karena prioritas selalu bergantung pada situasi, kondisi dan urgensi.

Yuk tetap semangat semuaaaa. muuah mmuah



Sterotype, Kerja di bank Harus Good Looking, Benarkah?

Tuesday, April 18, 2017

Halooo, banker’s life dah lama ngga muncul, hahahah karena saya lagi ……. Ya lagi males aja. Apasih alasan lain orang ngga melakukan sesuatu selain malas.

Tapi hari ini saya mau nulis yang ringan aja, bukan tentang produk bank.

Saya mau bahas soal stereotype bahwa pekerja di bank itu HARUS cantik

Uwuwuwuwuwuwuwu

Kenapa?

Karena bahasan ini menarik.

Saya beberapa kali membaca keluhan orang, bahkan kemarin sempet ada demo dimana saya lupa, yang isi demonya kira-kira menuntut agar perusahaan ngga pilih kasih, ngga memilih pekerja “hanya” berdasar penampilan saja. Sampai ada tulisan semacam spanduk atau apa ya namanya di kertas putih gitu isinya “ Nilai kami dari otak kami, bukan dari fisik”


Lupa, isi lengkap, tapi pointnya itu, bahwa banyak perempuan (laki-laki mungkin juga yah) yang merasa keberatan dan merasa diperlakukan tidak adil, saat perusahaan mensyaratkan penampilan sebagai salah satu criteria dalam menerima seseorang bekerja.

Ini kita batasi hanya untuk penerimaan front liner ya, dan saya batasi lagi hanya di bank, biar ga meleber kemana-mana dan ngga miss persepsi. Lha iya, karena saya kan kerjanya di bank, kurang kompeten kalau ngomongin perusahaan lain.


Benarkah sterotype bahwa bekerja di bank itu harus cantik?


Nih, saya kasih tau yah. Itu tidak benar, itu SALAH.


Iya, saya jawab salah, karena memang ngga bener itu.

( Baca : Sterotype banker )

Di bank itu ada banyaaaak banget bagian-bagiannya. Tapi bisalah kita kategorikan jadi 3 bagian besar, yaitu :


  • Front liner (front office ) yang kerjaannya ya di depan, seperti customer service, teller, satpam.
  • Back office , ini kerjaannya administratif, seperti administrasi kredit, logistik, IT.
  • Marketing, sesuai namanya ya kerjannya sebagai tenaga pemasar, kalau di bank, namanya account officer untuk bagian kredit, funding officer untuk bagian dana.


Kalau dilihat dari jalur masuknya, terdiri dari 3 jalur masuk

  • Penerimaan untuk frontliner dan back office
  • Penerimaan marketing
  • Penerimaan jalur ODP/PPS



Nah, kalau kalian bilang kerja di bank maka harus cantik/ganteng.


Salah


Karena namanya kerja dimanapun memang ada porsinya masing-masing.

Ada pekerjaan yang memang butuh kepintaran, ada pekerjaan yang butuh penampilan, ada pekerjaan yang butuh tenaga.

Tidak bisa kita pukul rata, bahwa saat sebuah perusahaan mencantumkan “ berpenampilan menarik” sebagai salah satu kriteria calon karyawannya trus kita bilang perusahaan tersebut diskriminatif.


No.

Contohnya kalau di bank, ada yang namanya penerimaan melalui jalur ODP ( Officer Development Program ) ini sejenis dengan management trainee yang tujuannya memang perekrutan untuk penempatan level manajerial.

Untuk jalur penerimaan seperti ini, mau di bank, atau mau di perusahaan apapun yang bergerak di bidang apapun, sangat jarang menerapkan penampilan menjadi syarat utama. Yang utama pasti otaknya, kepintarannya, penampilan jadi syarat penunjang.

Ngga herankan, lihat perempuan-perempuan tangguh di perusahaan oil and gas yang wajahnya biasa aja. Mungkin malah ngga menarik, mungkin pendek, mungkin item, mungkin rambutnya tidak menjuntai indah.

Ini saya pakai defenisi cantik secara umum yang berlaku di masyarakat ya.

Sama juga, kalau kalian lihat di bank-bank, untuk level ODP ke atas, banyak kok yang wajahnya biasa aja, tapi pintar-pintar kayak gw

Karena apa?

Karena memang level pekerjaannya butuh kompetensi tinggi, bukan butuh penampilan menawan.

Saya contohkan di bank. Untuk level ODP, kerjaan utamanya secara garis besar bisa dibilang adalah menganalisa.

Bisa menganalisa kredit murni atau menganalisa perkembangan ekonomi, menganalisa aturan perkreditan, menganalisa kebutuhan logisik, you named it, intinya menganalisa untuk kemudian merumuskannya menjadi suatu aturan. Atau menganalisa untuk kemudian dirumuskan menjadi prakarsa kredit. Atau menganalisa untuk kemudian diambil keputusan deal or not deal.

Intinya ya kerjaannya memang butuh kepintaran di atas rata-rata, ngga cukup cuma “cantik doang” trus bisa diterima.

Namun ada juga pekerjaan yang memang kompetensi kayak kepintaran or kemampuan analisa atau kemampuan mengambil keputusan tidak terlalu penting, tapi yang dibutuhkan adalah penampilan oke.

Inilah yang didefinisikan ke lembar persyaratan lamaran kerja menjadi good looking, berpenampilan menarik. Menarik itu defenisinya kan luas ya, karena kata teman saya cantik itu relative, jelek itu mutlak, lol. Becanda ya gengs. Maksudnya bahkan orang yang dibilang cantik pun masih relative karena sangat subjektif, makanya digunakan kalimat berpenamilan menarik, karena yang dilihat itu satu keatuan utuh, ngga hanya wajah doang, tapi sikap, body language dan pembawaan diri.

Dalam hal ini customer service atau front liner masuk kategori ini.

Front liner itu orang yang bekerja di garis depan, yang melayani nasabah, meliputi pembukaan rekening, penutupan rekening, informasi awal , tarik setor tabungan, menangani complain, yah semacam itu.

Pekerjaan ini, mungkin kita kalau orang awam melihat, bakal mikir kayak yang saya bilang di atas tadi “ Yah harusnya pilih yang pinter dong, masa lihat penampilan doang”


Ya harusnya emang pinter dan cantiklah.

Yup, mau kerja dimanapun, mana ada sih perusahaan yang mau terima orang ngga pinter, pasti semuanya mau dapat pekerja yang terbaik.

Namun untuk pekerjaan yang memang job desknya adalah pelayanan, mau perusahaan apapun pasti, PASTI bakal melihat penampilan dulu baru ke kompetensi berikutnya.

Nah ini yang harus dimengerti, bahwa kompetensi yang dibutuhkan di setiap level pekerjaan itu berbeda. Untuk frontliner, kompetensi yang dibutuhkan secara garis besar itu meliputi kompetensi pelayanan, keramahan, ketenangan, ketelitian. Kalau mau disederhanain lagi bahasanya, ya karena bagian ini ibaratnya bagian wajahnya sebuah perusahaan,jelaslah perlu yang good looking.

Apalagi bagian frontliner ini adalah bagian pertama yang akan menerima complain dari nasabah. Nah bayangkan kalau nasabah lagi marah, trus ketemu CS yang ayu, senyumnya manis, suaranya lembut, tenang, minimal pasti bakal adem dulu, ayem tentrem.

Pas datang tadi kemarahannya ada di level 10, ketemu mba CS langsung turun ke level 6, komplainnya didengerin turun ke level 4, komplainnya dilayani turun ke level 2, saat akhirnya komplainnya terselesaikan, dia udah di level nol. Keluar dari banking hall wajahnya udah berseri lagi.

Nah bayangkan, kalau mba CS nya wajahnya kurang sedap dilihat, kalau dalam kondisi biasa mungkin nga masalah, tapi orang kalau sedang marah, bawaannya udah kayak orang PMS, semua salah. Nasabah datang marah level 10, ketemu mbanya mungkin turunnya cuma di level 9, dan sampai akhirnya terselesaikan mungkin kemarahannya masih di level 4 atau 5. Keluar banking hall dia masih memendam kekesalan.

Oke, ini subjektif sekali, tapi ya itu gambaran kasarnya aja.

Ngga hanya frontliner, bagian marketing ya 11 -12. Penampilan tetap menjadi hal yang dilihat pertama kali. Karena sama dengan front liner, marketing itu pekerjaannya yang memang ketemu sama orang lain, negosiasi, menawarkan produk dengan tujuan agar si calon pembeli tertarik dan membeli dagangnnya.

Dan lagi-lagi, naturally (istilah apa ini) orang biasanya akan mudah tertarik berbicara dan memberi perhatian kepada seseorang dengan penampilan menarik.


Lho jadi jual tampang doang?




TETOT, nah disinilah miss nya.


Jadi begini mba sis yang mungkin tersinggung atau marah karena ngga keterima kerja gegara penampilan.

Saat ini jumlah suplly pekerja itu jauuuuh lebih banyak daripada ketersediaan lapangan pekerjaannya.

Nah untuk pekerjaan frontliner saja, yang sebenarnya prasyaratnya hanya lulusan D3, atau mungkin SMA, tapi yang mendaftar itu para sarjana (lha iya sekarang semua orang bisa dibilang sarjana kecuali yang ngga sarjana= logic ,LOL).

Para sarjana tumpah ruah bersaing memperebutkan jatahnya anak SMA atau lulusan D3. Dan yang mendaftar ini banyaaaaaaaaaaak banget yang penampilannya memang oke punya. Terserah yam au polesan mau alami, yang pasti good looking.

Sebulanan yang lalu, saya baru saja melakukan perekrutan pekerja untuk unit kerja saya. Saya hanya butuh frontliner kurang dari 10 orang.

Yang mendaftar berapa???? Beugh hamper seratus orang, soalnya ini hanya penerimaan lokal doang.

Sungguhlah sekarang ini banyak banget pencari kerja dibanding ketersediaan lapangan kerja (iya neng, seluruh manusia di muka bumi ini juga tau kenyataan ini).

Dan yang paling bikin saya agak merenung, yang mau diterima ini levelnya frontliner, pekerja kontrak bukan pekerja tetap alias kalau saya di posisi mereka mungkin saja saya ngga akan tertarik (MUNGKIN LHO tapi bisa jadi ngga).

Syaratnya D3 tapi yang datang widih paling hanya 2 sampai 3 oranglah yang D3, sisanya S1, dari jurusan ekonomi, informatika, teknik, hukum, dan dari Universitas negeri atau swasta yang bagus-bagus yang ngga cuma dari Medan.


Sampai bagian ini saya membatin, duh beneran mah sekarang cari kerja pasti susah banget.

Yang melamar ini beragam, dari level kepintaran biasa banget, biasa, mayan, sampai pinter. Tapi semua IP di atas 3, padahal sebenarnya syaratnya IP hanya 2,75 saja (I know, IP ngga menjamin sis tapi itu tiket melamar ya kan )

Dari level penampilan, mulai dari ehhm tidak cantik, biasa aja, mayan cantik, cantik, cantik banget, cantik sempurna.

Cantik sempurna itu yang head to toe ciamik parah. Udah cantik wajahnya, tinggi, rambutnya bagus, bicaranya santun, suara lembut, dan pintar. Nah ini yang saya sebut cantik sempurna.

Dalam perekrutan ini saya bukan si pemutus, saya hanya si perekomendasi , karena keputusan tetap di tangan TUHAN. Iyalah banyak-banyak berdoa makanya kalau lagi cari pekerjaan.

Untuk menentukan siapa yang harus direkomendasikan itu ternyata lumayan susah. Saya pikir selama ini itu hal yang mudah, ternyata ngga samsek. Karena kalau mau dibawa ke perasaan, saya mikir banget mungkin ini harapan mereka untuk bekerja, mungkin ini akan menentukan nasib mereka ke depan, dan perasaan mellow yellow lain.

BUT

Kapasitas saya bukan kapasitas yang harus mellow yellow saat ini melainkan harus berfikir untuk kepentingan perusahaan. Bisnis is bisnis.

Jadi jangan salah ya , saat kalian ngga diterima bekerja sebagai front liner ,bukan berarti itu karena penampilan kalian, sebenarnya ngga juga lho.

Bisa jadi dan saya rasa ini sangat mungkin terjadi, ya karena saingannya jauh lebih baik, udah cantik, mayan pinter pulak.

Saya bilang lumayan karena sekali lagi, kompetensi untuk frontliner itu berbeda dengan untuk ODP.

Maka saat kalian merasa, “Aku pintar, kok aku ngga diterima kerja sih untuk posisi CS atau teller, pasti ini karena aku kurang menarik”.


WRONG


Yang bener itu, saingan kamu lebih menarik dan dia juga pintar.




Jadi urutannya itu, kalau missal ekstrimnya harus memilih hanya satu pekerja untuk diterima sebagai FL, gini nih:


Sama-sama pinter, tapi satu cantik satu kurang cantik, ----> pilih yang cantik

Sama-sama cantik, tapi satu pinter satu ngga bego-bego amat --->; pilih yang paling cantik

Sama-sama tidak cantik, tapi sama-sama pintar --->; tawarkan jadi back office

Sama-sama tidak cantik, dan tidak pintar --->; lihat berkas lain

Ada yang pinter dan cantik banget , solehah pula, pinter masak, alisnya bagus --->; jadikan istri, LOL


Jadi ya tetep, yang dipilih itu yang secara penampilan menarik dan yang bisa memenuhi criteria untuk jadi frontliner. Jangan underestimate bahwa kalau yang diterima itu cantik, maka dia bego, nggalah. Masa kamu ngga yakin sih ada orang cantik dan juga pintar di dunia ini.


Berarti kalau aku ngga cantik padahal aku pinter aku ngga bisa kerja di bank?

Tetot, Wrong lagi.

Bisa banget dan ngga harus di bank.

Semua pekerjaan bisa kamu dapatkan, tapi ya cari yang memang memerlukan kompetensi yang ada di dirimu.

Kalau mau tetep kerja di bank, masuk dari jalur ODP, bersaing secara akademis.

Kamu pinter banget, yaelah ngapain melamar jadi FL, lamar perusahaan unileverlah, oil and gas, jadi penulis, jadi jurnalis

My point is.

Jangan denial jika misal kita ngga mendapat pekerjaan , trus nuduh ‘ INI PASTI KARENA PERUSAHAAN ENTU CUMA MAU PILIH YANG CANTIK AJA, HUH DASAR "DISKRIMINASI”


Kagaklah.

Ya terima kenyataan bahwa semua perusahaan yang orientasinya memang laba, ya pasti tujuannya gimana caranya memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan profit. Salah satu caranya ya dengan memilih pekerja yang fit dengan bidang kerjanya.

Fit dengan bidang kerjanya itu artinya ya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.



  • Cari dana, melayani nasabah --- penampilan is a must
  • Back office , support --- Cari yang tekun, yang teliti, cekatan
  • Menganalisa, memimpin -- Cari yang kompetensi super komplit.


Jadi harusnya ngga perlu ada spanduk-spanduk soal deskriminiasi perusahaan dalam mencari pekerja.

Ngga perlu sama sekali, karena perusahaan juga ngga begolah nerima pekerja yang cantik doang tapi “hah hoh” misalnya.
Kalaupun ada, pasti ada pertimbangan lain, misal dia cuantik mampus level wajah Dian Sastro, body Miranda Kerr, sampe bisa dipastikan, saat ketemu client maka bisa langsung deal masuk sekian M misalnya.


MAKA

DIULANGI

MAKA


Jika kamu tidak ingin dihargai sebatas penampilanmu, jadilah perempuan yang pintar.

Jika kamu ingin dihargai bekerja lebih dari sekedar penampilan, jadilah perempuan yang cerdas.

Lagi, meskipun kamu bekerja sebagai frontliner yang sterotypenya bahwa “ Ih pasti dia modal tampang doang, otaknya pasti ngga sepadan”, ya buktikan, Buktikan ngga seperti itu, buktikan bahwa kamu diterima jadi frontliner karena kamu cantik dan pintar, karena teman kamu yang cantik yang lain toh ada yang keterima.

Jika kamu tidak terima perempuan kok didiskriminasi berdasarkan penampilan fisik saat mencari pekerjaan.


TETOT, kamu salah lagi.


Ngga ada diskriminasi, mereka hanya menempatkan sesuatu sesuai porsinya.


Saat kamu berpenampilan cantik, rupawan ,” Kok aku dimanfaatin perusahaan untuk menggaet client nih”


Ya jangan mau. Tapi karena tugas kamu adalah memang untuk membuat client deal ya gunakan keahlianmu dalam hal marketing untuk menggaet nasabah, jangan gunakan fisikmu.

Iyes, semua kendali ada di tangan kita kok sebenernya.

Kamu mau kerjaan yang mengutamakan penampilan?

Ya ada tempatnya

Kamu mau pekerjaan yang mengutamakan otak?

Banyak banget tempatnya

Kamu ngga mau dianggap diterima kerja karena penampilan doang?

Ya Buktikan


Intinya

Akhirnya ke intinya.

Jangan menyalahkan orang atas apapun kegagalan atau ketidakmampuan kita. Even itu perkara soal good looking or bad looking, karena kendali hidup bukan di tangan perusahaan-perusahaan itu, tapi ada di tangan kita.


Ngga mau terima dengan aturan perusahaan yang menurut kamu diskriminatif?

Ya ngga apa. Kamu ngga harus kerja kantoran kok, kamu bisa bikin usaha sendiri. Malah, sebenarnya, kamu ngga harus kerja kok kalau ngga mau, kalau kamu pengen jadi istri yang tidak bekerja formal ya no problema.

Tapi ya jangan ngomel, kalau ntar ngga punya duit. Jangan ngomel kalau anggaran rumah tangga harus sangat seksama diatur.

Yang pasti apapun pilihan kita ya yang menjalani konsekuensinya diri kita sendiri.

“Lho, kok kamu ngomongnya gitu sih, berarti kamu juga deskriminatif, kenapa ngga memperjuangkan agar pemerintah menerapkan aturan anti diskriminatif terhadap syarat penerimaan karyawan untuk perusahaan-perusahaan tersebut ?”


Ehhm, karena menurut saya, sebenarnya itu justru bisa dibilang salah satu bentuk keadilan lho.

Keadilan yang mungkin hanya bisa kita mengerti kalau kita pernah berada di posisi ketiganya. Posisi si Pintar, posisi si good looking, posisi si tidak good looking.

Adil, karena, jika dia pintar dan tidak menarik secara fisik , maka dia bisa punya pilihan pekerjaan belakang layar atau yang memang mengandalkan otak untuk mencari nafkah.

Adil, karena jika dia berpenampilan menarik namun tidak terlalu pintar, maka dia masih punya peluang bekerja, tentu saja dengan lowongan pekerjaan yang memang lebih ke kebutuhan penampilan.

Jika dia pintar sekaligus good looking, yah dia memang layak untuk mendapatkan apa yang diterimanya dari anugerah Tuhan sekaligus apa yang diusahakannya.

Jika dia tidak good looking dan tidak pintar?, yah dia memang harus berusaha lebih keras, tapi yakinlah dia akan punya cara untuk tetap bertahan hidup.

So, kadang yang kita pandang sebagai diskriminatif malah sebenarnya bisa jadi itu keadilan lho.


Yang ngga setuju , no problema yah.



Makdarit

Biar ngga stress dan nyalah-nyalahin aturan, pertama terima kenyataan. Kenyataan bahwa semua perusahaan apapun, bisa dipastikan akan melihat penampilan dulu sebagai saringan awal, jika mereka membutuhkan pekerja yang tidak perlu kompetensi edebre-edebre yang tinggi.

Kedua, kalau ngga mau terima, ya ngga usah terima, ngga ada yang paksa kita terima kok.


Makdarit kedua

Sebagai ibu, sebagai perempuan, kalau kita ngga suka dengan aturan yang kita anggap diskiriminatif tersebut, saat kita punya anak, AYO DIDIK ANAK KITA supaya ngga perlu bersinggungan dengan aturan-aturan tersebut.

Iyes, didik anak kita agar kelak ia bisa menghidupi diri sendiri tanpa perlu mengandalkan penampilan.

But in my opinion, saya tetap merasa bahwa menjaga penampilan tetap diperlukan, apapun ceritanya, karena orang pertama lihat kamu ya pasti dari penampilan dulu, suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju.

Didik anak kita, agar kelak ia tidak perlu melamar di perusahaan dimana syarat pertamanya adalah “ berpenampilan menarik”

Ini juga berlaku untuk anak laki-laki.

Dan yang terakhir, yang merasa penampilan kita ngga secantik orang lain, jangan sedih. Karena bagaimanapun juga, selain jadi artis, pekerjaan yang mencantumkan syarat utama adalah kepintaran bukan penampilan menarik, percaya deh salarynya jauuuh melebihi yang andalannya adalah penampilan.


Pilihan ada di tanganmu ladies #wink





Disclaimer : Tulisan ini murni opini pribadi, tidak mewakili perusahaan atau pihak manapun.




Custom Post Signature