Showing posts with label Chit Chat. Show all posts
Showing posts with label Chit Chat. Show all posts

Empati

Wednesday, May 15, 2019


Dulu banget pernah baca share-an sebuah artikel tentang foto seorang ibu yang meletakkan bayinya di lantai di sebuah boarding room bandara sementara itu si ibu terlihat sibuk dengan hape di tangannya. Beugh jusgementnya yah, si ibu dikatakan sebagai ibu yang TERLALU. Bisa-bisanya nggeletakin anak di lantai dan dianya sibuk main hape.

Gemes deh sama orang yang diam-diam memfoto dan mengaplod fotonya. Gini ini nih kelakuan netizen ga bertanggung jawab. Asal cekrek trus main aplod aja.

Ternyata setelah ditelusuri kejadiannya itu, si ibu sedang dalam perjalanan bersama si bayi, delay sampai berja-jm, si ibu memang kecapekan menggendong si bayi, dan tujuan dia meletakkan bayinya di lantai malah biar anakanya bisa istirahat sambil rebahan bukan digendong. Sementara dia sendiri sibuk menelepon suami nya biar sekeluarga ga panik.

Lalu, kemarin baru banget kejadian viral foto sekeluarga yang dikabarkan menjadi korban keracunan karbon monoksida di daerah Pekanbaru. Aku bacanya di facebook yang udah dishare sampe puluhan ribu orang, di situ memang tujuannya memperingatkan, biar kita berhati-hati, tapi wajah orang-orang di foto itu sama sekali tidak diblur.

Aku sedih banget baca beritanya, karena kebetulan aku kenal sama orang di foto itu. Salah seorang kakak kelas SMAku. DI grup SMA sendiri beritanya sudah tersebar dan kita sungguh berduka. Dan tentu saja beritanya ga seperti yang dishare orang-orang tersebut.

Karena ga tega dan ga rela aja orang yang kita kenal fotonya dishare di mana-mana gitu apalagi sedang terkena musibah, aku langsung menginbox ornag yang ngeshare tadi, minta dia hapus postingannya, dan menceritakan kondisi sebenarnya yang ga seperti yang dia ceritakan di postingannya.

Untungnya si pemilik FB itu masih waras, dan langsung meminta maaf serta menghapus foto-foto tadi. Karena ya bayangin aja kalo kaka kelasku itu ngebaca dan melihat foto dia berdear di sosmed gitu, kan sedih banget :(, di mana sih empati kita sekarang ini?

Kadang yah memang banyak banget orang-orang yang ngeliatnya cuma sepotong kejadian trus ngambil kesimpulan sendiri. Apa kita ga sempet berfikir, gimana kalo itu aku?, gimana kalo itu adalah keluargaku?. :(

Nah, kemarin itu aku pulang kantor kan yah, trus mak dudul di depanku muncul sebuah motor yang dikendarai bapak-bapak. Yang bikin aku langsung merhatiin si bapak adalah karena dia mengendarai motor sambil menggendong bayi di belakangnya. Iyaaa, nggendong bayi pake jarik ditaruh di punggung gitu, kayak mbok jamu. Sambil naik kereta lho. Si anak emang kelihatan anteng dan malah hampir ga bergerak.

Karena aku persis berada di belakang doi, otomatis aku ambil hape dan memvideokannya (yup aku memvideokannya), dan malah mengikuti si bapak dari belakang, sampai di perempatan jalan dia berbelok, dan aku lurus jalan terus.

Wih dalam hati langsung ngomel-ngomel, astagaaa orangtua apaan ini, kok tega banget ngga mikirin keselamatan anaknya. Ga ada niat ngeshare di sosmed atau gimana sih. Tapi ya ngga urung, aku share juga di grup WA temen deketku trus gibahin si bapak.

" Iyaaa ga mikirin keselamatan bayinya yah"
"Duh kalo kenapa-kenapa gimana cobaaa"

Aku kepikiran sampe malam lho. Di kepalaku kayak ngomong sendiri, kok tadi ga aku tegur yah, kok tadi aku ngga nyuruh si bapak minggir, berhenti atau gimana. Tapi terus aku mikir lagi, ya ampuuun kok kasihaaan, jangan-jangan si bapak itu baru ditinggal istrinya, trus dia mau pergi kerja, anaknya harus dijaga orang, makanya dia gendong anaknya naik motor entah mau dititip di mana. (karena kebetulan daerah aku kerja itu banyak kawasan pabrik).

Trus malah skenario macem-macem timbul di kepalaku. Mungkin juga si anak sakit, makanya diem aja di belakang, dan ditaruh di belakang karena menghindari angin langsung dari depan. Dan kemungkinan-kemungkinan lain.

Hih, yang gini-gini memang kita mesti punya stok positif thinking segudang biar ga gampang share-share sesuatu yang sama sekali ngga kita ketahui. Yang tadinya aku ngomel-ngomel sekarang jadi sediiih huhuhuhuhu, kenapaaa kasihan sekali, ya Tuhaaaan.

Udah ah, aku jadi mellow kalo mengingatnya.

Kalian plis yah kalo nemu sesuatu di jalan jangan asal cekrek aplod, kasihan lho orang-orang itu yang kita ga tau sama sekali gimana kondisi sebenarnya.

Otoritas

Thursday, February 14, 2019
Kalian pernah baca buku karangan Jody Picoult ga?.

Buku fiksi. Nah aku mau nyeritain isi salah satu bukunya yang berjudul My sister Keeper.

FYI, My Sister Keeper udah difilmkan, Pemerannya Cameron Diaz, mungkin kalian udah ada yg nonton.

Aku tiba2 inget buku ini pas baca RUU Penghapusan kekerasan Seksual.

Kalian gugling ya lagi rame tuh dibahas. Aku ga akan bahas pro kontranya, krn udah byk yg bahas, dan kumasih tak mengerti kenapa ada yg menolak.

Ceritanya itu, ada suami istri Brian dan Sara yang memiliki dua orang anak Jesse dan Kate. Kehidupan mereka baik2 saja, sampai suatu ketika Kate sakit. Hasil pemeriksan diperoleh bahwa Kate mengidap Leukimia. Sara dan Brian sedih bukan main. Seperti para ibu pada umumnya, Sara pun memohon ke dokter , aku akan melakukan apapun, tolong selamatkan anakku.

Oleh si dokte, dikasih saran yang kedengeran agak gila tp akan menjadi harapan hidup Kate. Sara dan Brian disarankan untuk memiliki anak lagi, tapi anak ini semata lahir sebagai penopang/penolong hidup Kate. Karena katanya Leukimia hanya bisa ditolong oleh donor darah dari sumsum tulang belakang saudara sekandung. Aku lupa detailnya, tp kira2 begitu. Bahwa si bayi yg mau direncanakan ini disebut "design baby".

Akhirnya lahirlah Anna. Sejak Anna lahir, maka tiap Kate drop, Brian dan Sara bakal melarikan KAte ke RS, dan harus sepaket dengan Anna. Karena bakal ada darah Anna yg harus diambil. Kehidupan keluarga mereka ya begitu terus. Lagi jalan di mall, tiba-tiba Kate pingsan, cepet2 lari bawa ke RS, dan Ann wajib ikut. Anna sepaketan dengan Kate.

Namanya udah kanker darah, penyakit pun merembet ke tempat lain. Suatu hari Kate dinyaakan gagal ginjal dan harus ada donor ginjal untuk mengganti salah satu ginjalnya. Saat itu usia Anna sdh ga kecil lagi, udah sekitar 12 tahunan atau 15 gitu, yg digambarkan udah bisa protes dan punya pendapat.

Sara meminta Anna untuk mendonorkan ginjalnya ke Kate. Nah saat inilah konflik terjadi. Anna menolak, dia ga mau mendonorkan ginjalnya. dia ngomong kira2 begini " Aku capek gini terus, aku jg mau hidupku normal, aku tau kalian ga sayang aku, kalian melahirkan aku cuma untuk jadi tubuh cadangan untuk hidup Kate" gitulah.

Duuh sedih deh adegannya.

Tentu saja Sara marah, dia ngga habis pikir kenapa Anna ga mau mengerti, kan itu semu untuk hidup kakaknya. Beda dengan Sara, Brian suaminya lebih nrimo, dia berfikir, Anna berhak menolak jika tidak mau. Suami istri ini pun bertengkar.

Di dalam rumah suasana udah ga enak saja. Kalo makan Sara yang akan memandang sinis ke Anna gitulh.

Nah karena Sara terus memaksa Anna untuk mau mendonorkan ginjalnya, maka Anna kabur dari rumah. Dia mendatangi pengacara. Bayar pake hasil jual kalungnya atau apa (lupa). Dia minta bantuan pengacara untuk membawa masalah ini ke pengadilan. Issu yg dibawa pemaksaan terhadap tubuh dia.

Wah bayangin ya gimana marahnya Sara. " Kamu menuntut ibumu untuk usaha menyelamatkan jiwa kakakmu?" (dasar anak durhaka).

Singkat cerita, di pengadilan Sara yang kayak maki2 Anna gitulah. Anna bergeming, kekeuh sama keputusannya, ga mau mendonorkan ginjalnya, " Aku juga anakmu, aku ama pentingnya dengan Kate" gitulah huhuhu sedih.

Nah akhirnya si Jesse (kalian ingat ya ada Jesse di sini, adiknya Kate, abangnya Anna) membuka rahasia diantara mereka.

JAdi ternyata si Anna sebenernya ga masalah mau dijadikan tubuh donor kek, tubuh cadangan kek, krn dia juga ga mau Kate mati, tapi justru permintaan agar ia menolak menjadi donor datang dari si Kate.

Jadi Kate udah tau, kondisi dia semakin memburuk, dia ga mau Anna terus berkorban untuk dia. Dia tau ibunya sangat mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya, tp dia juga ga mau keluarganya jadi ga bahagia krn dia. Makanya di maksa Anna untuk menolak donor ginjal bahkan maksa Anna untuk cari pengacara. Kerna hanya dengan persidangan ibunya ga bisa maksa Anna.

Mengetahui itu, Sara sedih banget. DIa ga nyangka Kate mau nyerah, padahal dia selama ini udah usaha mati2an agar Kate tetap hidup.

Trus akhirnya sampailah di kondisi Kate yg udah parah banget, Kate minta ibunya untuk merelakan dia pergi, jangan sedih lagi, dia bakal ga sakit lagi. Gitulah. Menjelang kematian Kate, Kate mint dibawa ke Pantai, dia pengen main di pantai. Jelaslah Sara ga mau, tp sama Brian (ayahnya) ga peduli, dibawanya ketiga anaknya main k pantai.

Awalnya Sara marah bgt sama Brian. Tp tak lama dia nyusul ke pantai, dan mereka menghabiskan sisa usia KAte di situ, ketawa bersama.

Endingya, Kte meninggal, dan hidup merka berjalan seperti biasa tanpa pernah melupakan bahwa ada KAte di hidup mereka

Duh sedih banget deh filmnya. Aku baca novelnya aja sampe nangis2.

Nah balik ke soal RUU PKS itu

Aku ga mau bilang apa-apa sih. Cuma berkaca dr film itu ya, bahkan seorang ibu pun ga punya hak atas tubuh anaknya. Setiap manusia ya punya otoritas penuh ke tubuhnya. Ga ada yg boleh memaksanya melakukan apapun ke tubuhnya tanpa seizin dia.

Makanya agak aneh aku baca berita ada yg nolak RUU itu

Padahal jelas-jelas inti isinya ya memang menentang segala pemaksaan atau tindakan kekerasan seksual.

Tapi ya sudahlah, mungkin yg menentang punya pikiran lebih mendalam dan analisa sangat2 mumpuni kali ya. Aku positive thinking  krn ingin nyinyir kutakut (follower berkurang) dosa.

2018 Dalam Cerita

Friday, December 28, 2018



Wah wah. 2018 udah mau berlalu ya bunda-bunda. Dan hepinya , aku merasa PUAAAAAS dengan tahun ini, hahahaha.

Sebenarnya ngga ada hal-hal luar biasa sih yang terjadi di tahun ini. Tapi yang nilai kan diri sendiri yak, yaiyalah namanya juga review akhir tahun, ya yang nilai aku dong ah. Ya kan ya kan. (kalem mba kalem).

Mari kita rekap cerita 2018 ini pada postingan yang mungkin akan menjadi postingan penutup di 2018 ini, yeaaaay.

Dapet Bos Baru

Awal tahun dibuka dengan aku dapet bos baru di kantor. Kenapa ini penting aku ceritain? Ya karena beda atasan akan berbeda ritme di kantor, dan itu sedikit banyak akan ngaruh ke hari-hari kita ke depan. Maka, saat terjadi pergantian bos di awal tahun itu, aku yang sedikit was-was. Soalnya sama bos lama udah akrab bangeeeet, udah berasa kayak keluarga, tepatnya sama tim satu kantor sih. Maka saat ada perubahan gitu, ya sedikit banyak bikin excited sekaligus deg-deg-an.

Dan alhamduillah ya, rasanya sama bos baru ini klop banget. Ritme kerja dia cucok banget sama aku, jadi aku hepi sama blio. Ngga bohong sih agak capek hahahaha karena doi orangnya perfeksionist dan monitoringnya juara, tapi aku senang (walau capek #tetep hahaha).

Kehilangan Sahabat-Sahabat Sekantor

Ternyata mutasi ga berhenti di pergantian bos, gerbong mutasinya menggelinding terooooos sampe bulan-buan berikutnya. Satu-satu temen se-geng maksi dan menggosipku pindah. Hwaaaaa, aku syediiiih. Apalagi abis mereka pergi eh penggantinya ga dateng-dateng.

Baayangin yang semula aku tuh di kantor punya temen manajer 3 orang tempat cerita-cerita kerjaanlah, cerita kelakuan anggota yang ajaib, sampai yang berkeluh kesah kalo abis dimere-mee sama bos kita, eh makdudul aku ditinggal sendiri.

Kalo sore-sore jadi bengong di ruangan karena ngga ada yang diceng-in. Kalau abis dikeramas bos juga ga ada orang yang bisa dijadikan tempat nyampah. Dan termaha penting, aku ga punya tukang foto yang biasa moto-motoin aku kalo aku merasa kece di pagi hari, huhuhu.

Tapi untungnya masih ada temen-temen pincapem yang SKnya masih nyangkut di tangan Tuhan, jadi minimal seminggu sekali bisa ngumpul-ngumpul kalo mereka rapat di cabang.

Badai Datang

Halah judule.

Di tengah taun, aku dapet masalah gengs. Masalah kerjaan yang mayan berat dan kalo salah-salah bisa ngaruhlah ke kerjaanku. Males cerita detailnya, tapi intinya anggotaku ada yang berbuat kesalahan gitulah, mayan fatal, tapi ya kan jadi tanggung jawabku juga, jadi aku yang sempet kepikiran banget gitu. Tapi alhamdulillah, masalahnya bisa selesai walau dengan berat hati aku terpaksa ngambil keputusan buat memberhentikan mereka.

Aku suka sedih banget lho kalo harus bikin rekomendasi yang ngga enak gini, tapi ya gimana, mungkin jalan rezekinya mereka memang ada di tepat lain.

Masih di seperempat tahun, aku dapet panggilan pendidikan. Sebulan euy ke Jakarta. Aku ngga terlalu suka sih kalo pendidikan lama-lama gitu karena ninggalin duo krucils kesayanganku di rumah. *boong banget padahal seneng bisa tidur nyenyak.
  
Tapi kali ini aku nganggap pendidikan itu tepat banget datangnya, karena aku lagi butuh menjauh dari kantor, butuh jeda dengan pekerjaan sehari-hari.

Kemarin aku sempet cerita di instagramku (follow dong @winditeguh), bahwa tahun ini merupakan tahun pertarungan jiwa bagiku. Ya itulah dia,  menjauh dari rutinitas sepertinya tepat untukku saat itu. Aku ngga terlalu ngerti tapi yang pasti di tahun ini banyak banget perang batin terjadi. Kok sekarang pas nulis ini berasa dangdut ya, padahal pas ngelaminnya kemarin mewek terus. Untung aku punya suami yang superlaf. Saat lagi down-down gitu, bukannya dicecar pertanyaan tapi doi malah nyuruh aku ketemu sohib-sohibku.

Ya udah sekitaran bulan Juni atau Juli ya, aku  sempet staycation sama sohib-sohib ciwi kesayanagn akoh di Jakarta dan Cirebon.Ternyata ketemu teman yang kita bisa cerita apa aja itu, sungguh kebahagiaan hidup nomor 13 yang harus disyukuri.



Dapat Reward Jalan-Jalan ke Eropa

Pas lagi di Jakarta, aku dapat kabar dari Corpu BRI bahwa di pertengahan September bakal diajak jalan-jalan ke Eropa. Oh WOOOOOW supercombo, aku sampe loncat-loncat dengernya. Akhirnya hadiah jalan-jalan dari kompetisi di kantor tahun lalu terealisasi juga.

Nah jalan-jalan ke Eropa kemarin aku ajak masteg ikutan. Mayan banget yah sis, berasa bulan madu colongan, hahahaha. Pengalaman ngga terlupakan banget deh, seminggu di Eropa sama teman-teman baru yang ngga nyangka juga cucok banget.

Selama di perjalanan hepi terus, ketawa terus, karena ternyata peserta tour yang juga pemenang brinnovation kemarin itu ngga ada yang jaim satu orangpun. Plus karena aku perginya sama mas Teguh yang bikin perjalanan juga makin mengesankan, halah.

Kayak kata pepatah gitu lho geng " Yang penting bukan kemananya tapi dengan siapa-nya" ahsek

Dapet Temen Baru Lagi

Nah di pertengahan tahun,  aku dapet temen baru, ngga tanggung-tanggung, pergi tiga orang langsung diganti manajemen tiga orang juga. Wow kusungguh hepi.

Awal-awal yang agak " Ah pasti ngga bisa seasyik temen-temenku yang dulu nih". Jadi masih males nyapa-nyapa mereka.

Aku kan anaknya gitu, kalo ketemu orang baru ngga bisa langsung akrab, butuh observasi minimal sebulanlah buat mengamati tingah laku dan tindak tanduk ybs. Ibarat di kebun binatang [KENAPA ANALOGINYA KEBUN BINATANG] aku tuh yang mengendus-ngendus dulu. Ini bau-baunya enak ngga nih atau eneg, hahahha.

Dan yes, kadang-kadang ya kita itu memang suka berlebihan khawatirnya. Apalagi sama hal baru, padahal bisa jadi mereka juga sama khawatirnya dengan kita, ya kan. Akhirnyaaaa aku punya temen menggosip lagi kusenaaang.

Tyda-tyda, aku tetep belum dikasi temen manajer cewe di sini. Tapi tyda mengapalah, yang penting ada temen buat nggosipin atasan dan bawahan tanpa beban , xixixi.

Ikut Bootcamp BRI Millennial

Wahahaha, beginian aja diikutin masuk kaleidoskop ya. Biarinlah.

Jadi menjelang akhir tahun, November akhir gitu aku ngajuin public course ke manajemen. Eh ditolak dong yah, alasannya akhir tahun, ngga boleh kemana-mana, kerja kerja kerja, hahahha.

Eh public course ditolak, datang undangan ngikutin boot camp acaranya BRI Millennials di Bandung, yaaaa sama aja kan jalan-jalan. Aku percaya rezeki itu ngga kemana ya teh, termasuk rezeki piknik, xixixix.

Acaranya seru banget sih soalnya makanya hepi dan harus dimasukin ke sini. Di acara itu ku ketemu idolaqu Agung Hapsah, aaak.

Sebenernya ga idola yang gimana-gimana sih, tapi ya kagum emang sama doi dan udah ngikutin youtubenya dari kapan tau. Plus terharu, lha ya kok BRI keren banget ngundang Agung Hapsah gitu lho, dan ini bikin temen-temenku pada iri. Jadi aku bahagia.

Tapi pulang dari Bandung aku tepar gengs. Sakit dan harus dirawat di rumah sakit seminggu full. Gila lah, pengen nangis karena malu. Malu sama gaya pecicilan kok tumbang.

Finansial 

Aku masukin dalam postingan ini, karena di tahun ini aku lebih aware banget sama pengeluaranku, hahahaha kalian mungkin ngga bisa bayangin betapa borosnya aku. Aku sih boros bermartabat ya, tapi tetap aja aku boros, dan tahun ini aku merasa pengendalian diriku oke banget. Aku review keuanganku banget lho dan kembali menata ulang planning-planningku untuk Tara dan Divya. Oh yes mereka adalah alasanku ngga beli tas selama setahun ini dan ngga kalap lihat diskonan sepatu di mall.

Oke, itu dalam dunia kerja.

Sosial Media dn Menulis

Dari sisi hobiku dan kegiatan sampingan lain. Aku sepertinya makin menikmati dunia instagram nih hahahaha, blog agak mulai jarang nulis. Bukan karena malas nulis tapi karena lebih seneng aja sekarang sharing di instagram karena bisa langsung berinteraksi sama temen-temen dan followerku.

Oya, di tahun ini aku tuh bener-bener puasa sosmed untuk hal-hal unfaedah. Berkurang banget nyinyirin orang, berkurang banget ngomentarin hal-hal ngga perlu. Aku capek gengs lihat cara orang bersosmed yang udah makin ngga sehat.

Di facebook aku babarblas cuma share-share link, dan share memory-memory doang. Ngga ada lagi nulis-nulis status kayak yang dulu sering kulakukan. Karena aku ngga mau nambah-nambah pikiran kalo ada yang komen julid hahaha.

Oya, tahun ini juga tahun aku sempet mempertanyakan hal-hal yang cukup serius. Dari tahun lalu sih tepatnya aku kayak yang mikirin kenapa ya orang-orang sekarang kok pada ngegas-ngegas (maksudku circle yang aku tau ya, dari yang kubaca di internet, di FB, di twitter), gampangan banget tersinggung, mudah banget memaki, suka maksain pendapatnya, suka maksain kemauan, dan cara berfikirnya kenapa sangat kebendaan sekali, dsb dsb.

Yang akhirnya bikin aku sampe di titik ya udah aku ngga mau mikirin mereka, biarin aja mereka dengan sikapnya, aku kalo ngga suka yang seperti itu ya aku harus menjadi orang yang menurutku "Seharusnya seperti apa"

Aduh aku ngomongnya belibet, kalian bingung ya hahahaha. Intinya aku tuh capek gitu lho melihat hujatan-hujatan yang wara-wiri di temlen. Ah aku yakin kalian ngertilah maksudku, aku terlalu malas menjabarkannya. Pernah kutulis sih di sini tentang Iman dan Ilmu.

Tulisan panjang sih tapi kalo kalian mau baca aku senang, karena di situ aku numpahin uneg-uneg keresahanku, halah.

Dan akhirnya aku kayak janji sama diri sendiri, aku ngga mau jadi orang-orang seperti mereka. Aku mau nunjukin wajah lain yang punya sikap optimisme dan positif dengan cara berbagi. Iya pokoke belakangan itu aku usaha banget minimal seminggu sekali share hal-hal positif yag aku punya.


Mungkin ya sedikit pengalaman kerja di bank, ya tentang sedikit pengetahuan keuangan yang aku tau, apa aja deh pokoke. Aku ngga mau nambah-nambahin konten negatif di dunia maya yang kusuka ini.

Aku kedengeran kayak aw Karin wakakakak. Bye-bye instagram, aku akan jual pada........................diriku sendiri. Bhaik windi, kamu mulai julid.

Dan ternyata memang itu sangat menyenangkan sekali. Aku seneng banget sat aku share sesuatu di IG, misal tentang mempersiapkan dana pendidikan dan reksadana trus ada yang DM  "Mbaaa aku akhirnya ngurangin pengeluaran ngga pentingku dan buka reksadana buat dana pendidikan anakku mbaaa, makasi ya"

Huhu terharu lho.

Atau bahkan adekku sendiri yang kayak " Wah undi, sharing tentang DPLKnya manfaat banget, awak jadi mau buka juga ah buat perispan pensiun".

Seneng lho dapat DM-DM kayak gitu, karena diriku yang sering banget terlanda rasa inferior ini berasa punya faedah, hahahaha. Dan aku akan makin memperbanyak share-share yang gitu-gitulah di tahun 2019 ntar.

Pokoke " Do somethinglah" ga sekedar cuma membatin " Kok mereka gitu sih" atau nyek-nyek dalam hati " Ih norak, ih lebaay".

Jual Jilbab Onlen

Hahahaha ini patut dimasukin, karena sebuah prestasi atas rencana-rencana doang yang biasanya cuma tinggal wacana.

Jadi kemarin itu pas aku lagi down-downnya di pertengahan tahun. Aku butuh banget hal baru untuk pelarianku dari mikir yang ngga ngga. Ya udah aku putusin aku mau jualan jilbab aja, karena toh selama ini aku memang suka banget beli jilbab. Aku bikin label sesuai nama anakku, lalitavistara.

Plis follow Ignya ya dan beli jilbabnya di @lalitavistara.id

Dan ternyata ya responnya bagus, total sampe sekarang aku udah jual ratusan jilbab lho padahal awalnya cuma nyetok 50 aja ah. Eh yang mesen banyak, kusenaaaaang.

Dan yes, sekarang udah di penghujung tahun aja.

Seperti aku bilang di awal tadi, memang ngga ada sih hal-hal bombastis yang terjadi di tahun ini. Tapi aku pikir tahun 2018 ini sukses aku lalui. Kusenang dengan diriku di tahun ini. Terserah ya, gw mau muji-muji diri sendiri, wong blog blog akuh hahahaha.

Aku senang dan bangga dengan diriku di tahun ini, karena walau sempet melakukan kesalahan-kesalahan, sempat dapat teguran-teguran dari Allah lah, aku mampu banget kok melewatinya. Aku masih bisa berfikir mana yang benar mana yang salah. Masih bisa menjaga hal-hal yang aku sayangi.

Aku bersyukur untuk semua yang telah kulewati di tahun ini. Untuk pembelajaran maha penting tentang pengendalian diri, tentang melihat segala sesuatu lebih komprehensif. Untuk keluargaku yang ya Allah, kenapa anakku lucu sekali, kugemas sama mereka. Untuk pasangan hidup yang walau kadang banyak perbedaannya tapi mampu menyeimbangkan diriku. Ah superlaaaaf.

Tahun 2018, tahun pertarungan jiwa bagiku, dan aku memenangkannya, yeaaaaay. Proud to myself.

Kalian gimanaaaaaa tahun 2018nya. Ayo cerita. Ngga luar biasa ngga apa-apa. Apresiasi diri sendiri, karena kita pantas mendapatkannya. Kuy, tag aku yah.




Kalimat Bijak Yang Ngga Bijak-Bijak Amat

Friday, November 16, 2018
Jadi, gimana kalo sesorean ini, kita bahas tentang kata-kata bijak yang ternyata ga bijak-bijak amat kalo kita pikirkan lebih dalam.
Iya, aku kan kebanyakan waktu luang, sampe sempet-sempetnya mikirin hal-hal unfaedah dalam hidupku. Yang sabar ya kalian.





“ Keluar dari zona nyaman”

Uwuwuwuwuw, siapa yang sering denger kalimat itu?

Sungguh sebuah kalimat maha dahsyat ya. Didengung-dengungkan para motivator. Ayo jangan mau ada di zona nyaman, keluar, bergerak, move move.

Ini ya opo sih rek. Aku dulu juga kayak yg kepecut gitu dengan kalimat di atas. Tapi setelah kupikir-pikir, kenapa kok udah nyaman-nyaman malah sutuh keluar sih.

Emangnya siapa manusia di dunia ini yang ngga suka berada di tempat yang nyaman?.
Kalo kerja emangnya suka di tempat yang penuh konflik?. Kalau di keluarga emangnya suka di rumah yang sempit, yang ekonomi sulit, yang apa-apa harus irit. Ya ngga tho?

Karena ini biasanya sering disebut-sebut untuk memotivasi para pekerja, maka kita ambil sajalah contohnya ya di kantoran.

Awal-awal masuk kerja atau pindah ke tempat baru, pastilah kita belum nyaman, masih kagok, masih meraba-raba, masih belum ada yang dipercaya, mau ketawa masih malu, apalagi ngakak (ntar dianggap bukan wanita solehah dan kurang berbudi pekerti luhur). Seiring waktu udah mulai adaptasi, udah enjoy, udah enaken, udah nyaman, ealah malah disuruh keluar “ Keluar dari zona nyaman”

Iki siopo siiiih .
Mungkin maksudnya bukan zona nyaman kali yah. Tapi jangan berhenti bertumbuh, jangan berhenti mengembangkan diri.

Karena konotasi zona nyamannya ini ibarat katak yang direndem di dalam air, dimasukin panci, trus ditengkrengin di atas kompor. Saat api dinyalakan, di katak dieeem aja, lama-lama anget-anget, eh makin enak dia, makin diem ga mau bergerak. Pas si air udah mencapai titik didihnya, baru deh dia panik, mau lompat udah ga bisa, akhirnya si katak terebus dalam kenyamanannya. Hiks syedih.

Itu kali yah maksudnya.

Baiklah kita anggap saja maksudnya seperti itu.

Tapi ya teutep mungkin kalimat keluar dari zona nyaman itu perlu sedikit diperbaharui. Karena aku suka kenyamanan, aku mau hidup nyaman, siapa yang ngga mau?

Cinta Tak Harus Memiliki

Kalo pas denger kalimat di atas, keliatan romantis banget kan yah.

“ Aku mencintaimu Sergio”

“ Tyda bisa Marimar, kita beda kasta, followerku udah makro, kamu masih remah-remah debu Instagram”

Kemudian Marimar menangis. “ Ya sudah, aku akan tetap mencintaimu selamanya, karena cinta sejatinya tak harus saling memiliki Sergio, aku akan pergi”

“ Jangan Marimar, kita TTM-an aja, atau gimana kalo kita FWB”

Muncungmu itu Sergio

Gini ya Marimar. Kalo kamu suka banget, cinta banget sama Kani mentayaki, masa iya kamu cuma mau liat-liat doang, ngga pengen memasukkannya ke mulutmu apa?. Padahal kamu tau itu enak banget. Apa kenyang cuma diliatin doang, ngga kan? Ngga kan?

Maka ya carilah Kani Mentayaki di tempat lain.
Kenapa harus buang-buang waktu mencintai orang yang tak bisa dimiliki. Cinta itu ya harus memiliki, karena apalah artinya cinta kalau hanya melihat dia di kejauhan. Hati perih, pedih, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kalau kita mencintai tapi tak bisa memiliki artinya ada yang tidak tepat dengan cinta itu.

Bisa waktunya yang tidak tepat, bisa orangnya yang ga tepat. Maka kalau cinta tapi tak bisa memiliki, jangan dekat-dekat lagi dengan orang itu, segeralah hempaskan cinta itu. Tak usah didramatisir. Cari yang bisa membalas dan bisa kau miliki.

Patah hati itu biasa. Tak bisa memiliki itu sakit luar biasa. Bhay aja.


Kalau jodoh ngga akan kemana

Kemudian nunggu jodohnya diantar sama abang gojek.

Ya bener juga sih, kalau jodoh pasti ketemu di pelaminan. Entah sebagai manten atau malah jadi mantan. Tapi kalo dirimu percaya dengan kalimat itu kisanak, kemudian menanti jodoh jatuh dari langit, ya gpp, siap-siap aja menjomblo terus.

Jomblo itu memang kadang prinsip kadang nasib.

Kalau ketemu dengan orang yang menurutmu sangat cocok denganmu (walau belum tentu dia merasa cocok juga denganmu ) perjuangkan, cari perhatian dia, beritahu dia kalau kamu mencintainya, sepanjang dia bukan masuk kategori “Tak bisa dimiliki”, usahaaaaa.


Jangan Pilih-Pilih Pasangan

Ntar jadi perawan tua lho.

Ini apa Cassandra?

Kenapa kita tidak boleh pilih-pilih pasangan? Kalau beli baju aja kita pilih-pilih. Rela bersusah-susah fitting di kamar pas. Pas dipajang kece parah, pas dipake, eh, nyangkut di pinggul semlohai. Pas dipajang warnanya kok eye catching banget, gitu dipake lho kok ngga pas ya sama warna contact lense, cari warna lain, cari potongan lain, ngga nemu yang pas juga?, pindah cari ke toko lain.

Lha kalau milih baju aja seribet itu dan semau repot itu, kenapa pulak milih pasangan yang bakal mendampingi seumur hidup ga boleh pilih-pilih?

Jangan dengerin orangtua yang ngomong gitu, ditambah pula pepatah

“Pilih-pilih tebu, kena tungkulnya” (ini bener kan yah pepatahnya?)

Ga papa, lama dikit bilang I do, tapi dapat yang fit, ketimbang “Ah biarlah sesek dikit gpp, ntar kalo diet kan nyaman juga celananya” Kalo tambah kurus, kalo makin lemu?

Yhaaaa gimana .

Cinta Ga Butuh Alasan

Kalau cinta ga butuh alasan, ya berarti kita bisa jatuh cinta sama siapa aja dong yah. Sama sembarangan orang. Carilah sebanyak-banyaknya alasan mencintai, jangan cuma satu.

Kamu suka senyumnya, ingat-ingat itu saat berjauhan, kamu kangen dengan senyumnya.

Kamu  jatuh cinta dengan cara berfikirnya. Ingat-ingat itu bahwa dia begitu memikat saat mengeluarkan isi pikirannya.

Kamu jatuh cinta karena masakannya. Rindukan terus masakannya, buat dia tau bahwa masakan terenak di dunia adalah hasil racikan tangannya.

Kamu jatuh cinta karena kecerobohannya. Ingat-ingat betapa lucunya dia saat kesandung mejalah, saat ngga matching antara baju dan jlbab.

Kamu jatuh cinta dengan kebaikan hatinya. Ingat-ingat saat dia begitu menyebalkan, bahwa dia sebenernya baik, Cuma lagi capek aja mungkin.

dst
dst

Selalu ada alasan bagimu mengingatkan kembali kenapa kamu memilih dia dibanding yang lain.


Nikah itu bukan cepet-cepetan tapi lama-lamaan

Walau ini keliatan seperti mematahkan soal nikah mudah, atau dulu-duluan menikah, tapi soal lama-lamaannya juga kok aneh ya.

Pokoke menikah itu bukan balapanlah, jadi ga ada cepet-cepetan dan ya ga ada lama-lamaan. Ya masa kalo udah ga seiya sekata lagi, kalo udah perang badar terus tiap hari, kalo udah ada yang tersakiti, masih harus tahan lama-lamaan?

Menjadi Ibu Adalah Pengorbanan

Ehmmm

Yang pengen jadi ibu siapa?

Yang minta jadi anak siapa?

Tidak ada yang jadi korban ah seharusnya. Wong jadi ibu itu sebuah amanat, sebuah anugerah, buan pengorbanan.

Jangan merasa berkorban, karena inilah cikal bakal orangtua yang selalu nuntut macem-macem ke anaknya. Karena merasa berkorban.

( Baca : Benarkah Seorang Wanita Itu Banyak Berkorban Untuk Keluarga?)


Jangan mau Jadi Pegawai, Jadi Pengusaha Saja

Wahahaha siapa yang sering denger kalimat ini.

" Jangan jadi pegawai"

Seolah-olah jadi pegawai itu begitu buruk. Huh.

Lhaa emang kenapa jadi pegawai?. Ga ada yang salah ih, sma ngga salahnya dengan jadi pengusaha.

Y kalau semua jadi pengusaha, siapa yang mau kalian omelin di kantor-kantor pemerintahan.

Kalau ga ada yang kerja di bank, siapa yang mau kalian sewotin pas kartu ATM kalia tertelan di mesin ATM, hayooo. wahahaha.

Masih ada lagi ga kalimat yang sering kalian denger?



Tentang Postingan Orang Yang Tidak Sesuai Dengan Pendapat Kita

Friday, August 31, 2018


Judulnya ga bisa diringkes aja apa mba?

Hahahahha.

Triggernya karena ternyata banyak juga pembaca blog yang aku singgahin, di komen-komennya itu jawabannya julid-julid banget. Aku pikir komentator instagram aja yang random ternyata komentator di blog juga banyak yang panasan.

Komen-komen yang alih-alih ngajak diskusi tapi  bunyinya malah marahin dan jutekin si penulis. Kalau yang ngga setuju sih aku maklum banget, yaiyalah namanya juga opini. Yang bikin aku sampe pengen nulis postingan ini, karena udahlah ga setuju, malah ngomelin si penulis pulak.

Kayak misal gini

Di postingan beauty blogger misalnya, yang dibahas review lipstik merek tertentu. Dibilanglah di situ lipstik ini bagus, kalo aku cara pakainya biar oke aku tiban pake dua warna, jadi kece bingiit.

Trus komen yang muncul

" Halo mba, emangnya mba pikir pake lipstik ditiban gitu bagus apa untuk bibir. Iya mba enak punya lipstik banyak bisa ditiban-tiban, coba lihat kita-kita ini yang punya lipstik aja cuma satu, mau ditiban pake apa. Lain kali kalo bikin postingan jangan merasa bener sendiri deh, ngga semua orang bisa pake lipstik ditiban-tiban gitu. Ada orang yang bibirnya kering jadi bakal numpuk. Plis deh mba"

Lhaaaaa, ini gimanaaaaa hahahaha.

Contoh lagi

Di postingan blogger yang bahas soal pola mendidik anak.

Anakku selalu aku ajak berfikir dalam segala hal. Aku kasih pertimbangan sebab akibat kalo mau menyuruh dia melakukan sesuatu atau melarangnya. Jadinya sekarang enak, aku kalau mau minta dia apapun tinggal paparin sebab akibatnya dan dia jadi mikir sendiri trus mutusin sendiri deh.

Kayak " Nak, mainin dispenser bahaya lho, kalo kena ciprat air panasnya bisa sakit, panas dan perih, hati-hati ya"

Tanpa aku larang ya, anakku udah ga mau lagi mainin dispenser. Yeaaay

Komen yang muncul :

Mirip sama komen beauty blogger tadi.

" Mba ga semua anak ya bisa dijelasin pake sebab akibat, dan ga semua ibu punya stok sabar kayak gitu. Mbanya sih enak anak cuma satu, kalo anak banyak coba gimana harus jelasin sebab akibat segala. Sok paling bener"

Lhaaaa (2)

Hahahaha, jadi aku merasa lucu gitu.

Ni orang-orang kenapa sih. Si blogger kan cuma cerita. Cerita pengalaman dia, cara dia, bukan mendikte pembaca. Jadi ya baca aja, kalau ngga setuju, kasih opini, bukan malah marahin yang nulis.

Aku mikirnya gini lho, lama-lama orang males jadi nulis sesuatu, yang niat awalnya just sharing ya lama-lama males. Padahal ya, seharusnya kita-kita ini bersyukur lo kalau ada orang yang mau nulis pengalamannya, cerita dia, atau apapunlah ya yang sifatnya berbagi, even ada terselip entah pamer, entah menggurui. Ya itu kan hanya gaya menulis.

Ada orang yang gaya nulisnya blak-blakan, jadi kebacanya kayak ga terfilter.

Ada orang yang gaya nulisnya sebenernya sama sih intinya sama yang blak-blakan tapi karena orangnya lembut, ya kebacanya jadi lebih santun.

Ada orang yang nulis, dia memang harus ngasih tips di akhir tulisannya, eh kebaca kayak yang sok paling tau, yang sok paling berpengalaman.

Ada orang ya kalo nulis yang ditulis adalah ceritanya hidupnya, ya gimana dong?

Manusia memang berbeda-beda pola pikirnya, isi kepalanya. Kadang mau nulis kayak gini aja aku sekarang mikir banget lho. " Ih ntar dikira sensian, gini aja dibahas". Lama-lama kayak nulis sesuatu, trus di tengah jalan berhenti, wah ini ntar dikira macem-macem lagi.

Aku pernah nulis tips mengelola keuangan, dikomenin " Wah pamer ya mba"

Aduh susyeh ya hidup hahahaha, niatnya berbagi aja bisa ditanggapin negatif. Ya namanya sharing aku nganggapnya lebih real kalo aku kasih contoh nyata dibanding aku bilang " Kata Safir Senduk, lalalalal". Aku males banget soalnya nulis sesuatu yang aku ngga alami, karena aku type pencerita, jadi ya tulisanku bakal bercerita. Sedih sih kadang, karena di kepalaku ini banyak banget hal yang mau aku share tapi aku tahan karena ya kepikiran "Ntar kalo aku share ini ada yang sedih pula gegara kondisinya ga kayak yang aku sebut".

Ribet ya.

Mungkin gampang sih bilang "Yaelah ga usah dipikirin kali"

Kalo kondisi mood lagi bagus sih iya bisa banget ga dipikirin, bodo amat, tapi kalo pas ga bagus dan pas lagi overthinking yang kelintas di otak tuh kayak "Wah tulisan ini harus aku pertanggung jawabkan, jangan gegara satu dua kalimat dariku, membuat orang lain ga bahagia, membuat orang lain rusak harinya".

Suseh ya buuu.

Yah begitulah, kembali ke kalimat sakti "Bahwa bagaimana reaksi orang bukanlah tanggung jawab kita, tapi bagaimana kita bereaksi atas reaksi orang tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita"

So, aku pribadi sekarang mikirnya gini sih,  masa kita berharap semua orang bakal setuju terus dengan pendapat kita, bisa aja pas baca postingan kita si orang yang komen itu lagi capek, atau harinya lagi buruk. Mungkin anaknya baru aja numpahin seliter air ke lantai, trus buka hape baca blog yang nyeritain soal begitu penurutnya anak si blogger, wah emosi anjir.

Atau pas, kebetulan dia tadi ke mall mau beli lipstik, pas cek dompet- yah abis karena baru beliin anaknya sepatu", buka hape baca postingan si beauty blogger yang punya lipstik shadenya sampe 100, ya kezel jadinya.

Dan sebagai orang yang suka sharing (Tips menlupakan mantan aja aku share lho), jadi ya mau gimana lagi. Aku bakal tetep nulis, mau apapun tanggapan orang. Gitu aja sih mikirnya. Serah kalo ada yang ga suka, toh prosentase yang suka dan merasa terbantu lebih banyak.

Kembali ke "Reaksi orang bukan tanggung jawab penulislah pokoke" hahahaha.

So untuk siapapun di luaran sana yang mungkin mengalami apa yang aku ceritakan di atas " Keep sharing, keep writing, karena kita ngga pernah tau seberapa manfaat tulisan-tulisan kita bagi orang". Kalau ada komen julid ya anggaplah sebagai pengingat diri bahwa kita memang ga sempurna, dan bahwa ya itulah konsekuensi menulis sesuatu di ranah publik.

Ya ngga?

Andien aja tetep keeukeh nulis mau gimana pun haternya.

Afi aja masih pantang mundur berbagi pikiran-pikirannya,

Hahahaha kenapa aku jadi inget Afiiii.

Selamat sore semuaa, selamat berakhir pekan, mmuah.

When I Need My Best Friends

Wednesday, August 8, 2018
Aku mau nulis yang ringan-ringan aja yah.





Kemarin tuh aku rasanya penaaat banget di kerjaan. Aku juga ngga tau kenapa, padahal ya kerjaan mah gitu-gitu aja, target ya gitu-gitu  doang. Ngga ada hal signifikan yang seharusnya bikin aku penat. Tapi mungkin pengaruh bosen dan udah lama kayak ngga ada hal yang baru di hidupku, jadi ya gitu, semingguan ogah-ogahan banget berangkat ke kantor.

Sama atasanku ternyata kerasa perubahan sikapku. Yang biasanya aku semangat banget di kantor, mungkin kelihatan loyo. Yang biasanya aku aware banget sama kerjaan, ini keliatan aku masa bodo.

Ditegurlah sama dia

" Win, kenapa kamu, seminggu ini kok kayak oon banget saya lihat" [[OON]]. lesu banget.
" Iya pak, saya kayaknya butuh cuti. Tahun ini saya belum ambil cuti sama sekali. Boleh ya pak"

Awalnya ngga dikasihlah. " Apaan kamu, cuti-cuti segala, manja"

Betewe tau ngga kalian atasan ngga ngasi cuti itu jangan dianggep negatif ya. Tidak selalu atasan ngga ngasih atau berat ngasih cuti itu karena dia gengges tapi bisa jadi ya karena dia anggap kehadiran kita penting kali, hahahaha sa aja lu bu.

" Ya udah pak kalo ngga dikasi. Padahal kalo bapak kasih, 3 hari aja pun, ntar balik-baik saya bakal fresh lagi lho , daripada sekarang, saya loyo gini, hayoo" *mulaimelancarkanjurusrayuanpulaukelapa

Doi mikir sejenak.

" Ya udah sana cuti, jangan lama-lama, dan pastiin semua kerjaanmu ada yang menghandle, hape jangan mati, dan tetep monitor grup"

" Siap pak" #win.

Ya udahlah ya, segera heboh di grup chat kesayangan. "Aku mau cutaaaay"

" Ayo mba Win ke Jakarta, kita makan Kintan"

Hahahaha memanglah ya, masa cuti jauh-jauh ke Jakarta tujuannya cuma makan Kintan.

Tapi emang sebenernya aku sama Gesi, Icha dan Nahla kemarin sempet ada wacana pe liburan bareng ke Bangkok, soale aku dapet job barengan sama Icha yang bayarannya udah kami cadangkan buat plesiran, udah niat bangetlah. Tapi yadhalah, kayaknya kami sibuk masing-masing banget tahun ini. Gesi barusan ke Jepang sama keluarganya. Icha baru resign dari kerjaan lama, dan baru pindah kantor baru plus pindah rumah segala, sedangkan Nahla lagi ada projek musiknya (yang aku ngga ngerti sama sekali karena terlalu sulit bagiku mengerti soal anak band). 

Jadi ya gitulah, akhirnya, planning liburan bareng diganti jadi Staycation aja kakaaa. Langsunglah booking hotel di Jakarta doang sih.

Trus aku juga brb menghubungi sohibku Deby di Cirebon. Karena udah lama banget ngga ketemu, kangen. Dan aku udah lama bilang ke Deby, mau main ke sana. Jadi agendanya pengen ke Cirebon trus lanjut main di Jakarta

Sebelumnya aku minta ijinlah dulu ke Mas Teguh. Karena yang namanya emak-emak ya, mau pergi kan ngga bisa main cuss aja. Ijin suami is numero uno.


" Mas boleh pergi liburan ngga ke Cirebon"
"Ngapain?"
"Main ke tempat Deby"

" Kenapa ngga Deby aja yang suruh main ke Medan, bawa ke danau Toba"
" Ya ntarlah lain kali Deby ke Medan, sekarang akunya yag pengen ke sana"


*Mikir....mikir.....mikir*

"Lama ngga?"

"Lima hari aja"

Hmmmmm. " Ya udah"

Yeaaaay. Cuti udah di ACC, suami udah ngasih ijin, yo wis beli tiket, suruh Gesi booking hotel, bikin planning sama Deby, sekalian beli tiket kereta ke Cirebon. Beres. Rencana berangkat Rabu balik Senin.

Hari Senin, dua hari menjelang cuti tererererererereret ada surat pemberitahuan dari Kanwil, bahwa direksi mau datang. 

" Cuti kamu diundur ya Win" Kata si bos.

Hwaaaaaa, panik. Karena ya memang ngga bisa ngga hadir, ada unit binaan aku yang dipanggil di acara itu, yang artinya ya aku sebagai emaknya harus ikut, huhuhu. Ngga bisa kesel karena ya memang aturannya seperti itu. "Apalagi dinas membutuhkan kehadiran sodara, maka cuti bisa dibatalkan atau diundur, lalalalalalala"


Yowislah, refund tiket, planning diubah. Yang tadinya mau ke Cirebon dulu baru ketemu sama Icha Gesi, jadinya dibalik. Karena hotel udah terlanjur dibayar sih. Yang rencana berangkat Rabu , diundur jadi Jumat. 

Dan ya ampunlah ya tiket hari Jumat harganya ampun-ampunan. Syial banget, yang semula aku beli 1,1 juta. Refund cuma dapet 550 rb, eh beli lagi dptnya yang harga 2.5 juta dong yah. Kesel. Susah ya mau cuti doang.


Long story short, akhirnya aku jadi berangkat, ketemu sama Gesi dan Icha. Kami nginep di hotel Grand Mercure Sabang. 

Kenapa pilih di situ?

Auk, Gesi yang pilih, aku ngikut aja. Dan ternyata hotelnya oke banget. Kamarnya lumayan luas, sarapannya enyak, dan di situ deket tempat-tempat makan gitu, jalan doang ke luar hotel, nyebrang dikit, udah jejeran kafe-kafe.

Dari Medan aku pesawat jam 12-an (lupa), nyampe hotel jam 5an, sholat, nunggu Icha dateng, abis maghrib kita langsung go ke Lotte Mart. Agendanya memang cuma mau makan Kintan, wahahahaha.

Kenapa Kintan?

Karena di Medan ngga ada, dan karena kata Gesi, Kintan enak banget. Aku kan susah percaya ya sama selera lidah Gesi, jadi ya udah pengen buktiin aja. 


Dan iyes memang enak sih ya, jauuuuuuh lebih enak dari Hanamasa dan lebih murahlah pulak dari Hanamasa plus pilihan makanannya lebih komplit. Langsung ketagihan makan Kintan.

Sankin serunya cerita, plus sibuk makan yang mana cuma dijatah 90 menit pulak, ya udahlah ga ada foto-foto sama sekali. Abis makan pun ngga inget foto-foto. Sungguh quality time yang sangat berkualitas yah, wahahaha.

Abis makan, kita ngider-ngider mall, dan nemenin Gesi beli skincare.




FYI yang sering ngikutin blog aku-Gesi-Icha dan follower IG kami, pasti tau kalo dulu pas Gesi ultah aku nawarin dong yah kado ke dia sepaketan SK II yang set Pitera, dan dia nolak mentah-mentah. 


SK II ditolak, malah mintanya boneka Unicorn yang lebih mirip sapi, xixixix.

Jadi kemarin pas di counter SK II, Gesi nagih lagi " Win, ayo dong kamu kan dulu mau beliin aku SK II, sekarang aja beliin lagi"

Hohohohoh ogah bangetlah yaw. Kesempatan hanya berlaku satu kali, tidak terulang, catet itu Ges. Lesson learned buat kamu, hahaha. Aduh aku ngetik ini aja sambil ketawa coba, karena lucu sih ya.


Jadinya Gesi beli  SK II, yeaaaay. Ya udah mall tutup kami pun balik hotel.

Nyampe hotel, maskeran bareng sambil ngobroooooooooooooooooooooooooooooooooool terus sampe jam berapa coba? 

Yup sampe jam 4 pagi dong yah. Aku yang paling duluan tidur, karena aku capek banget. Mereka berdua aku ga tau siapa yang tidur duluan. Pokoke aku cuma inget, Icha bolak-balik ngomel karena alarm Gesi nyala terus, sementara Icha kan lagi batuk alergi gitu, yang mana udahlah susah tidur, eh gitu mata terpejam alarmnya si Ges Ges bunyi.

Karena Gesi tidurnya kebo, Icha merepet, ya udah aku ngalah bolak balik bangun, matiin Alarm (dua kali doang sih padahal).


Siangnya Adit-suami Gesi datang, dan kami jalan-jalan sekitaran hotel, makan, ngelanjutin obrolan yang belum kelar tadi malam (astagaaaa),  dan yup tetep ngga inget foto-foto (ekarag nyesel).

Untung ada Adit. Satu-satunya foto yang sempet di take ya gegara Adit yang fotoin. Sigh. Why oh Why?. Makanya ngga punya bahan untuk feed IG #masalahhidup.



Abis makan, ya udah kita kembali ke kehidupan masing-masing. Aku lanjut tujuan hidupku yaitu ke Cirebon wahahahah. 

Aku baru kali ini lho ke Cirebon. Dulu pas kuliah pernahlah beberapa kali lewat doang atau ngga ganti bisa kalo dari Semarang mau ke Bandung, selebihnya ngga pernah samsek nginjek kaki di Cirebon, mkanya aku excited plus karena mau ketemu Deby. Hahahaha udah bayngin bakal chit chat selama dua hari full. 

Betewe, Deby ini sohib akrabku. Kami masuk PPS BRI samaan, tahun 2010. Setahun sekamar bareng pas pendidikan, trus penempatan bareng lagi di Kantor Pusat. Aku Divisi ADK, Deby Divisi BRM. Sekostan maning. Trus aku mutasi ke Medan, yo wis kita pisah. 

Dulu pas pendidikan, kami berdua doang cewek yang udah nikah, jadinya ya rasanya deket banget, karena senasib sepenanggungan, sempet sama-sama LDRan sama suami selama kurleb 2 tahunan kalo ngga salah inget. 

Rencana dua hari di Cirebon, udah nyusun list nih mau kulineran ke mana aja. Tujuan pertama Empal Gentong dong yah.

Sebenernya di depan stasiun Cirebon itu ada Empal Gentong yang kata Deby lumayan enak, tapi bukan yang terenak, jadi dia keukeh mau ngajak aku ke tempat empal gentong yang katanya paling enak deh di Cirebon.

Eh ndilalah ya, yang jualan tutup. Debynya yang kecewa banget hahahaha, sayanya biasa aja, karena belum kebayang juga empal gentong yang enak banget yang kayak gimana.

Pindahlah nyari empal gentong no.2 terenak. 

Tutup juga dong yah, wahahahaha

Sampe nyari beberapa teempat , TUTUP SEMUA, astagaaaa apa yang terjadi dengan para penjual empal gentong, kok tutupnya seragaman gini pas aku datang.

Jadilah akhirnya kami makan Nasi jambal. 

Jangan tanya aku apa aja isinya atau review ala Bondan Winarno ya. Sungguh kutak tau, wahahha. Yang pasti nasi jambal itu makannya pake daun, trus lauknya kita pilih macem-macem. 



Rasanya ?

Ya mayan enak, tapi karena sambelnya ngga pedes jadi bagiku kurang nampol. 


Abis makan, kita ke kantor Deby dong ah. Kan emang niatnya pengen gangguin dia kerja wahahaha.

Nyampe kantornya dia, dibawa ke ruangan trus aku ngakak dong yah, karena ruangan Deby kurasa mirip kantor kelurahan, wakakakaka, dasar temen kurang ajar. Aku ngetawain dia terus, sampe doi sebel, xixixixix. 

Oya, Deby ini pengusaha jilbab lho. Cek deh di IG @breezelabel, dan aku pelanggan setianya. Jadi di kantor Deby ini berserak-serak stock jilbab siap jual. Ya udah aku comot-comot aja tuh jilbab beberapa warna, xixixi. Langsung ganti jilbab, pake di situ.

Aku ngobrol doang di kantor Deby sambil nungguin dia kerja. 

Jam kantor selesai, balik ke rumah dinas Deby ga jauh dari kantornya.

Gitu buka rumahnya, ya Tuhaaaaan, berantakan bangeeeet, wahahahaha. Tapi aku maklum sih ya, karena rata-rata Rudin temen-temen yang aku liat ya kayak gitu, kalo yang ngga tinggal sama keluarga alias dewean. 

Ya gimana ngga berantakan, kalo pulang malam, trus pagi udah pergi ngantor lagi, kapan beresinnya. Maka aku cukup tutup mata pura-pura tidak melihat , hahahah.

Malamnya masih keukeh mau makan empal gentong dan syukurnya ada yang buka deket stasiun.

And aku baru tau sih, ternyata empal gentong itu mirip soto Medan tapi santennya lebih encer.Enak banget mah menurutku apalagi makannya tambah pake sate lagi. 



Abis makan, aku dibawa muter-muter Cirebon, dan kami nongkrong-nongkrong bentar.

Di mana coba nongkrongnya?

Di Mesjidlah, hahahahah

Iya beneran di  mesjid sambil dengerin ceramah. Sungguh goals ya. Kebetulan banget isi ceramahnya aku masih inget

" Sesungguhnya tiap orang diuji sesuai kemampuannya. Dan sesungguhnya setelah kesulitan pasti ada kemudahan"

*Terdiam, merenung bersama Deby*, kemudian nyium bau mi ayam, Yhaaaaa ada tukang mie ayam di halaman mesjid. Mari kita makan mie ayam, lupkan diet sejenak.

Pulang ke rumah udah capek banget, ngobrol sampe ketiduran, ngga sampe pagi sih, karena yha kan Deby besoknya ngantor. Aku mah enak pagi-paggi Deby kerja aku tiduran sampe siang.

rencananya hari Selasa itu kami mau ke Makam Sunan Gunung Jati.

Tau kan yah, Cirebon kan dikenal juga sebagai kota Santri. Emang bener sih, di sepanjang jalan kemarin aku dengerin orang ngaji terus dari corong-corong mesjid, sungguh adem. Aku berasumsi pasti jadi pincapem di Cirebon ngga sesusah di daerah lain, karena warganya yang jadi nasabah pada takut buat nunggak, wahahahaha. #asumsi.

Oya, untuk ke makam Sunan Gunung Jati, ternyata ga bisa sembarangan. Jadi harus ada semacam surat pengantar dari kerajaannya atau gimana gitu yah (ngga nyimak pas Deby ngomong). Jadi kami nunggu AO nya Deby dapetin surat pengantar itu.

Maka makan siaglah kami ke Resto Cheng Ho. Letaknya di dalam area Ade Irma Suryani WaterPark gitu (plis cari sendiri di google, aku lupa adanya di mana hahaha).



Restonya bentuk kapal gitu dan terletak di tepi dermaga. Panaaaaas. 

Menunya modern, semacam steak-steakan gitulah. Di pinggiran resto ada hotel yang bentuk rumah-rumah panggung gitu, mirip sama hotel apa itu ya yang di Garut (gagal jadi blogger traveler nih kayaknya, dari tadi ngga tau mulu xixixi).

Sesiangan makan, ngobrol, bicarain kehidupan, bicarain kerjaan, masa depan, masa lalu, semualaaaaah. Yah namanya udah lama ngga ketemu yah.

Abis itu foto-foto

Aku sebenernya lagi ngga mood foto, karena panaaas. Tapi Deby maksa, katanya aku harus foto yang banyak, biar bisa cerita di blog tentang Cirebon, hahahaha, yo wis pasrah diarahin gaya sama blio. Yang disuruh lompatlah, suruh jalan menghadap belakang, cem macemlah.



Abis makan, dapet kabar dari AO nya Deby, kalo hari itu tuh ngga bisa ke Makam Sunan, karena apa ya (lupa maning, duh aku mikirin apa yah kok lupa terus). Jadinya ya kita ga jadi ke makam, lajut lihat-lihat batik.

Wah batik Cirebon bagus-bagus banget. Jahitannya rapih sekali, bahannya alus, motifnya lucu tapi harganya sama sekali ngga lucu.

Naksir sama satu batik, gitu dilihat bandrolnya, ah elah 2 jutaan, bhay. 

Langsung protes sama Deby

" Jangan dibawa ke tempat yang mahal-mahal banget dong gan, bawa yang terjangkau kantong ane dong"

Dibawa Debylah ke tempat batik yang agak murah dibanding yang pertama.

Kemudian aku sudah tidak selera, karena jauh banget kualitasnya. Duh

" Gan, itu strategi ane gan, biar agan ngga belanja. Bawa ke tempat mahal dulu, lihat yang bagus-bagus, tapi ga sanggup beli, abis itu bawa ke tempat murah, agan sanggup beli tapi pasti udah ngga selera, wahahahah".

Memang agak sinting tuh orang.

Tapi ya mayan juga sih ga jadi belanja kan yah wahahahah. Sungguh strategi cerdas menghemat pengeluaran.

Tapi namanyalah perempuan, mana mungkin ngga belanja. Beli-beli juga pernak-pernik di situ.

Sorenya balik kantor maning, pesen seblak, karena dari kemarin penasaran pengen makan seblak yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah kerupuk digado sama indomie , xixixi.

Malemnya niatnya mau karaokean, tapi ternyata ada yang nyaranin di IG ku but nyoba ke Klapa apa gitu. Ujung-ujungnya malah ke Salt. Udah macem anak gadislah, ngga inget punya anak masing-masing dua.

Salt itu resto di sepanjang jalan menuju puncak gitu, jadi dari restonya kita bisa lihat ke bawah, kota Cirebon terpampang gitulah. Mirip-mirip Gombel di Semarang. Iya taunya Gombel karena aku sama Deby kan sama-sama kuliah di Undip.




" Gan enak ya kalo agan penempatan samaan sama ane, pasti kita sering jalan bareng"

" Ogah, kalo kita penempatan bareng berarti salah satu dari kita atau dua-duanya bakal LDR-an sama suami, ngga mau ah. Ane mau di Medan aja"

"Yah si agan, kan bisa sama-sama di Jakarta , suami agan pindah Jakarta juga"


kemudian menghayal kalo penempatan bareng, wahahahaha.

Taulah kelen ya kan, kerja di BRI ini, sungguh tidak bisa diprediksi kemana nasib membawa, halah. Makanya kata Deby, bisa dikunjungi sahabat ke tempat kerja gini rasanya seneng banget. 

Aku jadi mikir, misal aku ke Jogja trus mampir ke kantor temenku yang di Jogja, pasti mereka hepi juga yah. Karena ya kan kita tersebarnya entah kemana-mana, jadi kalau ada temen yang datang udahlah pasti hepi berat.

Abis makan, pulang, aku packing-packing karena besok pagi harus balik maning ke Jakarta. Pesawatku ke Medan soale siang, jadi kudu pagi-pagi naik keretanya.



Sebenernya belum puas banget ngobrol sama Deby, tapi ya udinlah ya. Langsung bikin rencana pengen liburan bareng pan kapan (yang entah kapan) sama Deby. Semoga aja bisa, aamiin.

Nyampe Jakarta, aku langsung ke bandara, nunggu boarding, balik maning ke Medan, ketemu anak-anak dan suami lagi. yeaaaay.

Pokoke selama beberapa hari kemarin itu aku hepi banget. Beneran kayak dapet energy baru dari sahabat terdekatku.

Kalian pernah nonton film Brides Wars ngga, ang dibintangi Kate Hudson (Liv) dan Anne Hathaway (Emma). Nah di situ ada adegan si Ema dan si Liv bertengkar, trus ga cakapan. Trus si Liv nangis di kamar. Lalu pacarnya bilang " Kamu merindukan Emma ya?. Kamu pengen cerita sama sahabatmu ya , sesuatu yang ga bisa kamu ceritain ke aku"

Huhuhu ya kadang perempuan gitu kan yah. Walau udah punya suami, ada suatu hal yang dia lebih nyaman ngobrol sama sahabat perempuannya dibanding sama suaminy.

Dan aku ngerasain banget itu kemarin. 

Dan syukurnya, mas Teguh tau banget hal itu, makanya dia oke aja aku pergi, karena dia tau banget aku lagi butuh sahabat-sahabatku.

Anyway, bagi kalian yang mungkin kadang lagi jenuh atau penat sama keseharian kalian, semoga kalian punya temen dan sahabat untuk berbagi cerita ya. Karena itu sungguh melegakan. 

Bilangnya mau nulis ringan, jadinya kok panjang banget. Bhaylah.

 





Custom Post Signature