Dear Rekan Kerja,Maafkan Kami Para Working Mom

Sunday, September 18, 2016


Beberapa waktu lalu, ada seorang anak gadis yang komen di postingan saya, tapi saya lupa postingan yang mana, tadi udah ngubek-ngubek ngga nemu. Intinya, dia paling ngga suka sama pekerja di kantor yang selalu berpendapat bahwa pekerja yang masih single harusnya bisa kerja lebih lama, karena mereka punya waktu lebih banyak.

Waaah, kok saya langsung merasa ditampol, soalnya kadang saya juga sering berfikir gitu sih. Berfikir bahwa seharusnya rekan kerja yang belum berkeluarga, semestinya performa kerjanya lebih ces plang, karena kan doi ngga punya keterbatasan waktu. Beda dengan pekerja apalagi ibu-ibu yang harus mikirin anaklah, suamilah, arisan, undangan, hwaaa banyak deh. Makanya kalau melihat pekerja single di kantor ogah-ogahan kerjanya, dalam hati agak membatin " ih percuma masih muda, ngga produktif gitu", Iyaa kadang (kadang?) saya suka membatin begitu.

(Baca : Stereotype Banker )

Tapi gara-gara baca komen si eneng, jadi kepikiran, " Lho ternyata para pekerja single juga punya uneg-uneg sendiri soal pekerja yang udah berkeluarga, hahahah"

Dunia.... oh duniaaa

Jadi, pengen ngasih tau kepada para pekerja single, bagaimana isi hati kami ini, terutama para working mom yang masih punya balita unyu-unyu di rumah. Mohon maklumi kami, jika kami kadang melakukan hal-hal ini :

1. Pulang Always Teng Go, Ngga Pernah Kongkow Kongkow Dengan Kalian

Bagi kami, meninggalkan rumah dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore itu adalah batas maksimal yang bisa kami berikan untuk waktu profesional kami sebagai working mom. Bolehlah molor sejaman, lebih dari ? bersiaplah melihat taring kami keluar.

Memang kami meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh yang kami percayai, tapi daripada menghabiskan waktu sejam dua jam lagi di kantor, kami lebih memilih untuk segera terbang ke rumah untuk gantian mengasuh anak kami itu.

(Baca : Nitipin Anak Sama ART? )

Percayalah, bukan karena kami tidak ingin mengobrol dengan kalian, atau tidak ingin kongkow-kongkow sambil ngupi-ngupi cantik seperti kalian, tapi kami sudah memiliki prioritas lain yang harus diutamakan.

So gaes, jangan bilang kami ngga asik dan egois karena selalu hilang begitu jam menunjukkan pukul 5 WIB lebih lebih dikit.

Tapi kalaupun kalian bilang kami ngga asik, kami ngga peduli, karena asik ngga asik versi kita memang sudah berbeda.

2. Begitu Selesai Jam Kantor Kami Seperti Lenyap Ditelan Bumi

Saat kalian telfon, hape kami berdering tapi ngga diangkat. Kalian SMS, kami ngga bales. Chat di Group WA pun cuma centang doang.

Kemungkinan besar, hape kami lagi ketelingsut di bawah bantal, atau ngga udah bercampur dengan mainan masak-masakan anak kami. Entahlah, kami pun tak tau dimana keberadaannya.

Bagi kami, begitu kaki menginjak pagar rumah, maka peran wanita karir pun tanggal begitu saja. Kami kembali jadi ibu, jadi bunda, jadi mama, jadi pikiran tentang kerjaan sudah kami tinggalkan di kantor tadi.

Maaf yah.

3. Ngomel Kalau Disuruh Lembur atau Kerja saat Weekend


Weekend itu kami udah planning buat ngajak anak ke time zone, mau beli baju anak, mau ngajak dia ke rumah omanya. So kalau tiba-tiba manajemen meminta kami masuk kantor saat weekend, mohon maaf lahir batin, kami bakal ngomel dari pagi sampai sore, lanjut besoknya lagi. Ngga hanya ngomel, sangat sangat kecil kemungkinan kami akan menunjukkan batang hidung kami di Sabtu atau Minggu yang cerah ceria.

(Baca : Me Time )

Bukaaan... bukan karena kami ingin membiarkan kalian bekerja sendiri, atau tega ngga masuk dalam team work, tapi... tapi....kalau tiba-tiba begini ya kami ngga bisa, beda kalau memang sudah dijadwal dari kemarin-kemarin.

So, maaf lagi yah, lagian kami kasih tau suatu hal, kerja di saat single itu hepi banget lho, jadi memang masanya kalian lebih ekstra dari kami, percayalah ntar kalain juga mengalami yang kami alami.



4. Di Kantor Kami Terlihat Tidak Konsen, Ngantuk dan Sibuk Nelfon Pengasuh



Besar kemungkinan, tadi malam anak kami lagi demam. Sepanjang malam kami begadang. Oya, sebenarnya setiap malam juga kami  pasti terbangun sih, entah untuk buatin susu, entah anak kami yang tiba-tiba ngajak main kuda-kudaan (keluarga macam apa ini).

Dan tadi pagi, saat meninggalkan rumah, kami sudah menguatkan diri kalau demamnya anak kami itu cuma demam biasa, demam karena mau pinter, kata orangtua " Boli Boli". Tapi, sesantai-santainya kami, tetep pikiran tak lepas dari rumah.

" Masih demamkah? tambah tinggi kah demamnya"

" Mau makan ngga ya?"

" Mau minum susu ngga ya"

Jadi saat kalian melihat kami tiba-tiba tertidur di meja, atau bolak-balik nelfon ke rumah, jangan sebal pada kami. Karena kalau boleh memilih, kami inginnya di rumah saja saat itu. Lagian toh itu ngga terjadi setiap saat. Jadi jangan mencibir ya.

( Baca : Tara Kena Invaginasi )

5. Tiba-Tiba Ngga Masuk Kantor Tanpa Kabar Terlebih Dahulu

Bully kami, bully kami kalau kalian anggap kami ngga profesional. Tiba-tiba di suatu Senin yang hectic, sampai jam 8 pagi, tidak terlihat tanda-tanda meja kami bakal berpenghuni.

Kalau itu terjadi, besar kemungkinan ART kami kabur dari rumah, atau belum balik dari mudiknya.

(Baca : Drama ART )

Atau mungkin kami lagi sibuk di rumah menggendong anak kami yang lagi demam tinggi, yang ngga mau lepas dari pelukan kami, yang sepanjang malam manggil " bunda... bunda..." terus.



Kami tau, pagi ini ada rapat penting, ada laporan yang harus dipresentasikan, ada direksi yang mau datang, bahkan ada presiden yang mau berkunjung. Bagi kami semua itu seperti serpihan kulit ari kacang di toples tupperware, ngga berarti dibanding perasaan kami saat itu.

Kalau sampai kami absen ngantor, percayalah, itu berarti tingkat kepanikan kami udah di level 10, karena biasanya kalau cuma panas-panas dikit, kami masih bisa kok mempercayakan mereka ke pengasuhnya.

Seperti orang Medan bilang " Kalau anak sakit, Hilang Sok Awak"

Iya, begitu tadi malam, termo menunjukkan 40 derajat atau lebih, hilang sudah sok awak. Yang biasanya di kantor cerewet, kami jadi pendiam, yang biasanya bisa menghandle berbagai kerjaan seharian, tiba-tiba jadi bego. Hilang sudah kemampuan multitasking kami di kantor, yang ada di rumah kerjaan kami cuma nyusuin dan ngelonin anak doang.

Mandi? errrr..

6. Di Jam-jam Tertentu, Kami Menghilang

Bukaaan, kami ngga kemana-mana kok, kami cuma menghilang sebentar untuk mengeluarkan ASI yang sudah memenuhi payudara kami. Sakit tauk kalau ngga segera di pompa. 

Iya, minimal 2 kali kami pasti meninggalkan meja kerja. Kalau kalian berfikir enak sekali kami yang bisa ngadem sejenak, plis ubah dulu pikirannya. Ini semua demi ibu pertiwi, demi generasi bangsa yang sehat dan punya imunitas yang tinggi.

(Baca : 11 Hal yang harus dipersiapkan ibu bekerja untuk sukses asix )

Lagian kalau ada apa-apa, kami masih bisa ditelfon kan?

Kalau kalian sebal, karena kami melakukan enam hal di atas, kami mohon maaf sebelumnya. Percayalah, bagaimanapun terkadang segala sesuatu tiba-tiba di luar control. Kami tidak bisa memprediksi kapan anak kami sakit, kapan dia tumbuh gigi, kapan dia mau pintar jalan. Seprofesional-profesionalnya kami, bagi kami si mungil di rumah yang memanggil kami mama, umi, ibu, bunda tetap tak bisa dikalahkan oleh pekerjaan yang maha penting sekalipun

Resign Aja?

Mungkin pernah terbersit di pikiran kalian hal itu. Kok ga resign aja sih.

Percayalah,kami pun memikirkannya.

Saat anak sakit, saat ART ngga balik, rasanya saat itu juga kami ingin menandatangani surat resign. Tapi kadang, hidup memang ngga semudah itu.



Ada denda yang harus kami tebus, ada mimpi-mimpi yang ingin dicapai, ada perasaan ortu yang harus dipikirkan. ada cicilan tupperware,panci, toples, lipstik yang harus dibayar. dan tentu saja karena kami mencintai pekerjaan ini. Ada banyaklah pertimbangan yang harus dianalisa.

Tenang aja, semua ada waktunya kok.

Bagi kalian para rekan kerja tercinta, mohon maklumi ulah kami selama ini. dan terima kasih selama ini sudah begitu pengertian. Maaf kalau kami kadang membuat kalian sebal. Dan ini bukan pembelaan atas sikap kami, hanya biar kalian tahu dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Love you mmuah

Baca lanjutannya Tentang Profesionalisme Ibu Bekerja








95 comments on "Dear Rekan Kerja,Maafkan Kami Para Working Mom"
  1. Bekerja diperusahaan profesional tentu menjadi motivasi, terutama bagi kami yang masih mahasiswa hehe

    ReplyDelete
  2. Aku kok jadi mbrebes mili ya bacanya :') Bener deh. Emang salut sama working mom. Fokus di kantor, tapi sama sekali ga ninggalin fokus sama anak dan keluarga :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba. walau kerja tapi peran utama tetep sebagai ibu

      Delete
  3. bhahahahaha... been there, done that mak!

    Keselnya ampe ke ubun2 kalo dibilang "gak profesional" gegara anak sakit. Lah... zaman eike masih single pan dah gila2an kerjanya... bhahaha... ga terima gituh kalo eike dah ganti prioritas hidup... #yakeleeuuusss..
    lah ini eike malah curhat. haha...

    semangat mak worker!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa semacam berganti ritme hidup ya maaak

      Delete
  4. bhahahahaha... been there, done that mak!

    Keselnya ampe ke ubun2 kalo dibilang "gak profesional" gegara anak sakit. Lah... zaman eike masih single pan dah gila2an kerjanya... bhahaha... ga terima gituh kalo eike dah ganti prioritas hidup... #yakeleeuuusss..
    lah ini eike malah curhat. haha...

    semangat mak worker!

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah iya mak. masa gara2 ga dtg krn anak sakit dibilang ngga profesional ya mak. sepanjang kerjaan beres, anak ga mungkin kita abaikan ya mak kalau kondisi darurat

      Delete
  5. Waaaa ini pas banget sama kondisiku 4 tahun lalu. Dan saking gak kuat dengan itu semua, akhirnya memilih resign demi keluar dari "iklim politik" kantoran. Eh tapi lalu terjerumus dalam politik emak2 hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahaha mundur kena maju kena judulnya mak. ternyata drama ada dimana2 yak

      Delete
  6. Sebenarnya ga imbasnya bkn ke pekerja single aja, bapak2 jg kena. Beberapa kali suami sy lembur alasannya, "maap bun plg telat, hrs ngerjain kerjaannya mba x, lg cuti, anaknya sakit". Jadi lah anak sy kecewa ga bs main sama bapaknya sblm tdr. Belum lagi d kntr suamiku ada sistem mutasi, tiap sekian tahun slalu di rolling kemana aja & para ibu2 tak terjamah alasannya krn keluarga. Laah trus bapak2nya dianggap ga ada keluarga apa. Hiiks

    Tp saya yakin kita semua pny strunggle msg2 dlm hidup. mba windi pun pasti jg sdh bnyk melakukan pengorbanan. Saling semangaat aja yaaa. Caio.. Maap jd curcol :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. I feel you mbaa. aku jg kadang sebel kalo suami hrs lembur, tp kmdian buru2 inget, mungkin temen kantornya ada keperluan, ga jadi sebel

      Delete
  7. Sebenarnya saya pernah kepikiran buat postingan seperti ini. Berhubung apalah apalah saya simpan sendiri aja.

    As single memang paling kesel kalau di kantor ada semacam diskriminasi. Org2 lebih pengertian kalau working mom telat atau gak masuk dengan alasan nganterin anak ke sekolah (sudah gitu gak balik2 kantor lagi), anak sakit, anak ini.. anak itu..

    Tapi giliran orangtua kami sakit atau kami sendiri yang sakit, komentar orang : "Emang gak ada orang lain yang ngurusin?" Atau "sakit apa sih.. bisa masuk kan?"

    Sementara para buibu working mom itu bisanya komentar sinis,"tahu apa sih soal ngurus anak." Bla bla bla..

    Haloooo... meski blm punya anak, ponakan2 gue itu sudah gue rawat dan asuh dari mereka brojol sampe segede ini. Ya taulah gue soal ngurus anak. Pengen toyorin buibu yg komen kek gitu aja rasanya.

    Berhubung saya kerja di media yang notabene 24-7, yang single selalu gak bsa cuti bahkan lebaran. Sementara yang working mom sebelum hari H sudah melipir dgn alasan mau masak. Duh ahjumma.. pliss deh, yang masak dirumah emang cuma kalian?

    Banyak sih hal yg bikin kesel dari para working mom. Kerja ya kerja, jadi ibu is another thing.

    Ini kalau diterusin bisa panjang dan panas nih mak komennya, hahahaha.. Sudah ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I feel you vitaa. makanya udah minta maaf duluan. next post aku udah nulis nih yg menjawab kekesalanmu. cium dulu lah sini :)

      Delete
  8. Tulisannya bagus.. Saya pun working mom, jd tau bener alasan2 yg ditulis disini itu bener..

    Tapi saya juga tau perasaan single yg seperti mba vita, soalnya adik saya msh single dan hny dia sendirian di rumah yg menemani ortu saya, jd ketika ortu sakit cuma dia yg bisa diandalkan dan kadang dia jg terima nyinyiran tmn2 kantornya..

    Ya menurut saya lebih baik para working mom dan single saling sama2 mengerti dan menghargai aja di kondisi masing2.. Itu akan lebih baik :)

    Btw salam kenalnya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kuncinya sih saling tepo seliro, dan tenggang rasa ya mak

      Delete
  9. sebetulnya sih tergantung kiat juga ya, aku malah punya kinerja baik darioada yang bujangan, padahal kalau anak sakit juga sering telpon rumah berkali2. managemen waktu perlu itu, aku list apa yang harus dikerjaakn esok hari, jadi saat esoknya kita cepat mengerjakannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbaa. aku disini ga bahas soal kinerja. tp lbh ke knp working mim begitu. next post aku tulis kiat working mom biar sukses. siale gini2kinerjaku selalu predikat sangat baik xixixi. toss dulu

      Delete
  10. Karena saya ga kerja, dan kakak saya yg kerja, saya ngeliat ini ada di dalam diri kakak saya,semangat berjihad ya mak, ini mah kan demi keluarga

    ReplyDelete
  11. Kalo perusahaannya ngatur jam kerja berdasarkan durasi sih mustinya aman-aman saja, toh gaji akan berbeda setiap individunya. Nah yang bikin nyesek yang single kalo gajinya sama rata.... Tapi jadi working mom juga harus profesional lah...kita digaji sama kantor karena sebagai pekerja bukan sebagai ibu. Hahahhaha setuju sama Mak Vita, kalo diterusin nanti kita semakin bikin jurang pemisah antara yang single dan working-mom. Kembali ke niat masing-masing aja kalo memang ingin berkarya dan professional. HIdup memang pilihan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. siip iya setuju mba, excusenya cuma 6 hal di atas, selebihnya ya kerja sesuai job krn hak dan kewajibannya sama. dan ini ga maksud bikin jurang pemisah. ini malah minta maaf xixixi,

      Delete
  12. Wah seru ya..saya pernah punya anak buah mulai dari abg sampai ibu2&nenek2(iya,di bagian farmasi rumah sakit, rentang usia pekerjanya lebar banget), ngurusin 60 orang yg nggak mungkin sama karakternya, bisa pingsan kalau dipukul rata, Hehe. Tapi perusahaan sudah punya kebijakan sendiri, untuk jam kerja pakai absen inget Print, telat ya dipotong sekian, sekian sama perusahaan. Tapi di dalam ruangan farmasi, ketika telat memang apoteker yang jadi supervisi kebagian Puyeng mikir ganti asisten apoteker yg belum dtg juga, meskipun dia sudah menelepon misal anaknya sakit dll, dan sering juga yg mendadak. Tapi krn itu sudah suatu hal yg sering trjadi, ya mmg sudah ada antisipasi, bagian pelayanan ada yg tugas on call(wkkkka,seringnya sih yg single on call).

    Uniknya, tipe bos juga beda2,bos terdekat saya(ka ins) trmasuk tipe yg ga pandang bulu, mau lagi hamil kek, mau anak sakit kek, krja harus ontime, kerjaan slsai tepat waktu, tp benar nya hatinya baik. Kalau di A yg penanggung jawab ada problem keluarga, ya bisa digantikan temennya yg mau (Catet yang mau ya). Nah, bos saya atasnya lagi(manager frmasi) usia lbh matang,blm ada anak, tp Some how lebih toleran, pas saya hamil ada acara rs dari pagi pe malam (pagi pengumuman akred, malam makan2 sih) kita2 yg hamil diteleponin satu per satu, diminta masuk agak Siangan aja, biar ga kecapekan, so sweet ya.. Dari situ saya belajar, untuk hal2 ttt dan di perusahaan ttt selama masih bisa dihandle tanpa ibu2 yg lagi ada masalah keluarga ya better rocking ke org lain (ini yg Krjaan bisa di rolling sih)intinya jadi bos pun musti fleksibel meski tetap ada batasan hari cuti kerja, kan. Pernah malah ketika ada anak buah yg terlihat g konsen krja krn begini begitu (misal ortu masuk rs, ato anak msuk rs) disuruh pulang sm bosku =)

    ReplyDelete
  13. Inget print=finger print
    Rocking=rolling
    Typo abis

    ReplyDelete
  14. Soal pekerja ga konsen disuruh pulang bukan tanpa alasan. Bayangkan bila di bagian pelayanan, eh dia ga konsen, bisa salah ambil obat dong, anak orang yg kena, kan serem. Biasanya jg langsung ketahuan krn di tiap pos ada yg kroscek resep, jadi kalo ada yg lagi ga konsen y ketahuan. Kalau msh bisa diatasi dari kantor ya diselesaikan masalahnya via kantor, tp kalo g bisa ya bye2, pulang gasik dg konsekuensi ganti shift (enaknya yg shift2an ya gini)

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah bagus bgt kantornya. memang bener mba, kalo pekerja lagi terlihat ga konsen memang mending disuruh pulang dulu. semoga makin byk yg pwngertian gini

      Delete
  15. haaaaaaaa, saya termasuk yg bete abis dengan anggapan because you are single you should spend 24/7 in the office. Well, kami2 yg single ini memang blm/tdk punya kelg sendiri, tapi beberapa dari kami ini masih tinggal bareng orangtua yang kondisinya tidak segar bugar seperti puluhan tahun lalu. Lah, giliran minta ijin krn ortu sakit kayaknya gimanaaa gitu. Apalagi saya anak tunggal. Ya saya dong yg ngurusin.
    Jujur aja saya yang single maklum (walau sering gondok juga) kl para working mom pikirannya terbelah dua antara kerjaan dgn kelg mereka. Tp bukan berarti kami yg single harus jd keset dan wajib segar bugar terus nonstop standby krn toh kami tdk punya kelg sendiri...
    Wah, panjang ya :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. pasti mba, single dan double sama aja yah. sama2 punya kepntingan, walau beda bentuknya. makanya minta maaf nih sama para rekan kerja #lisa kiss

      Delete
    2. Sudah pernah merasakan kerja semasa single sebelum jd working mom. Kerja lembur yaa asalkan gak sendirian ok2 aja dlu mah.
      saya sebisa mungkin gak mau nyusahin partner kerja. Gak masuk kerja krna anak sakit aja kepikiran kerjaan.
      Cm butuh toleransi waktu aja. Apalagi saya tinggal cm sama anak umur 1 tahun d rmh. Masih LDM sama suami. Mau aktivitas rumah sebelum kerja direngekin anak. Alhasil telat ngantor.
      Deket2 mau berangkat kerja tau2 si baby mpup. So, ketunda berangkatnya.
      gak semua yg single ngerti posisi kami ini. Yg working mom dengan kondisi lebih baik pun mungkin ada yg gak ngerti. Ada aja yg nyinyir.
      Kebetulan saat ini saya kerja di lapangan. Kalo di lapangan belom beres.. blm bisa pulang. Sering ngerasa gak enak sama bude tempat titip anak saya kalo jemput anak lewat 2-3 jam dr jam kerja. Semoga bude selalu diberi kesehatan do'a saya.
      Kalo kamu nanti berada di posisi kami juga.. baru deh berasa.

      Bismillah aja.. kadang resep mindsetnya kerja adalah ibadah.
      Mau itu single.. double.. berusahalah. Kamun yg paling tau kesanggupanmu.

      Delete
  16. hi..hi..lucu..jadi ibu rumah tangga aja mbak...

    ReplyDelete
  17. wkwkwk toss mba ini semua seperti aku dikantor sampe2 suka disindir secara halus sama rekan kerjaku yang masih gadis "Bu Herva 1 menit lagi belum siap2?" ah namanya emak2 wolesin aza yang penting langsung CUSS ke parkiran bye kantor :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahahahaha. kalo udah selesai kerjaan, kenapa ngga ya mbaa

      Delete
  18. Tapi kadnag waktu single emang kesel juga seh. Apa apa dicekokin ke kita karena single. Untung di kantor aku antara single dan working mom gak terlalu kentara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha wajar aja kesel manusiawi. tp saat kita udah ngalami sendiri btar kd lbh maklum

      Delete
  19. I love this article soooo muuuuch.. :))

    ReplyDelete
  20. Even I'm a single, saya pun juga selalu tenggo. Iya gue single, nggak ada anak yg mesti gue cebokin sepulang kerja, tapi ada buku yg mesti dibaca, ada naskah yg mesti dikelarin buat jadi duit, bahkan ngajar privat buat tambahan rejeki. Ketimbang ngerumpi ngalor-ngidul. Kadang sy yg suka nanya kalau teman yg anaknya sakit, udah ditelepon lagi belum orang di rumah. Rekan kerja telat krn anak dan segala macem, saya bodo amat, karena toh ada pengurangan gaji dari bos. Kerja di waktu weekend atau lembur? Tergantung sih. Kalau nggak ada urusan, ya diambil, namanya juga duit, haha... So far saya single yg baek2 aja sih sama working moms yg keren2, haha... Lagian kalo mereka ga produktif, itu urusan si bos, bukan urusan kacung kyk saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh kamu rekan kerja idola deh nita hahaha

      Delete
  21. mungkin terlalu naif. tapi di kantorku kondisinya beda banget.
    mungkin juga karena sistem back up nya udah jelas. jadi kalau si x ga masuk atau business trip, si y yang back up, kalo si y juga absen hari itu si z yang akan back up.
    mahmud mahmud yang kebetulan harus ijin pulang karena anaknya sakit atau jemput anak sekolah atau cuti mendadak karena anak sakit juga nggak pernah kena bully. apalagi yang anaknya sakit, malah disuruh pulang sama rekan-rekan kerja. yang single juga kalau kebetulan orangtuanya sakit dan harus dirawat, rekan-rekan juga menganjurkan untuk cuti saja.
    tiap kantor beda beda kali ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. di kantorku jg gitu kok. ada sistem back up. dan sejujurnya aku working mom yg pol kerja di kantor. tp saat ada working mom yg melakukan 6 hal diatas aku maklum bgt krn mengerti dan paham perasannya.

      Delete
  22. Berasa hecticnya ketika kita udah berubah prioritas. Oh, Bundaaa...
    Semangat, mba Windi!

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada saatnya mba kerja pol pol an tp ada saatnya keluarga is thr numero uni. pinter2 nya kita ya kan mbaaa

      Delete
  23. Maaf kalau saya punya pandangan berbeda. Pekerja wanita seharusnya diperlakukan sama, baik single atau married. Gajinya juga sama kan kalau levelnya sama gitu. Atau bahkan kalau PNS, yang punya pasangan dan anak dapat tunjangan anak dan pasangan. Ketika seorang wanita dan dia juga ibu memutuskan bekerja, makan dia harus berkomitmen untuk profesional. Anak dan pek domestik di rumah tidak bisa selalu dijadikan alasan. Bukankah dia bekerja, karena dia butuh pekerjaan tersebut? Kl gak ikutan ngobrol, gak bisa hang-out setelah jam kantor gak jadi masalah, tetapi kl meninggalkan pekerjaan kepada orang lain hemhh, gak baiklahh itu. Jd, pikirkan masak2 sebelum seorang ibu dengan beberapa anak memutuskan untuk bekerja. Menjadi IRT saja mulia kok, apalagi sebagai muslimah :-)...Oke-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komen terbaik nih.. saya ngga single, tapi rasanya kalau melimpahkan kewajiban pekerjaan ke rekan2 yang single karena semata2 pekerjaan yang di minta sudah di luar office hour, kok kayaknya ngga bijak ya.. harusnya makin tua makin bijak dan bertanggung jawab dong..

      Anyway, ngga ada yg maksa kita utk bekerja lho. Itu keputusan yang kita ambil, dan setiap keputusan pasti ada konsekuensinya.

      Delete
    2. makasi udah membaca. yup semua org punya pendapt masing2. kalo saya sih sepanjang itu kondisi normal oke2 aja. tp kalo ada kondisi darurat kyk yg saya sebut di atas, anak sakit,ya maaf. kantor kan kalah.

      dan saya masih muda xixixi.

      anyway thank you. kalo sempet baca lanjutan tulisannya mungkin komennya ga gini. sippo hidup working mom

      Delete
  24. begitu teng..langsung finger langsung bablas.hahahaha.. ga pake mampir makan baso atawa minum es kelapa.. kaya zaman gadis..

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah beda ya jaman gadis sama jaman emak2 xixixi

      Delete
  25. Kalau aku selaluuu jam pulang, langsung pulaang. Kagak pernah nongkrong nongkrong cantik. Mana sempat. Mending pulang maen ama anak. Tapi selebihnya, aku tetap bekerja seperti biasa biarr keliatan profesiional. Hhehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. siiip memang hrs gitu mba. kalo ngga ada kebutuhan mendesak memang kita ya kerja kayak biasa,kan profesional hahaha

      Delete
  26. Aku, ngerasainnya dan aku sebel plus ngomel ketika udah jam pulang masih dikasih tugas... meski ngantor kan pikiran ttp bercabang kangen anak... hiksss

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. aku kalo kondisi normal msh mau pulang molor kalau ada kerjaan tambahan,tp kalo anak sakit,pasti teng go xixixi

      Delete
  27. Keren! Tapi itu kenapa cicilan Tupperware sama panci pake disebut2 sih *toss tapinya* >.<

    ReplyDelete
  28. Bagus tulisannya.. tp kebetulan saya pernah jadi single yg jadi "keset" dan jujur aja gondok hehe.. skrg dgn berbagai pertimbangan memilih utk terus bekerja di luar n jd working mom.. dan sampe skrg tetap nggak setuju kalau byk memberi excuse ke diri sendiri dan melimpahkan kerjaan ke tim yg single.. so berusaha lbh efisien dan efektif d kantor.. kalo nggak kelar d kantor ya bawa ke rumah.. beresin pas anak udah tidur.. hehe.. ya nanti klo udah bener2 nggak kuat utk tetep amanah baik di rumah sekaligus di kantor sih kyknya hrs mutusin resign dan cari cara tetep dpt lahan buat nambah2 heheh.. ^_^ just my two cents plus curcol ya mak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip setuju mak. kalau memang ga bisa nemu cara untuk nyeimbangkan antar kerjaan fan keluarga mungkin memang hrs dipilih opsi lain ya,karena kalo fua2 berantakan kan rugi ya.

      Delete
  29. Hihihihi.. kok samaan ya..
    Tapi thank God.. di divisiku kebanyakan semuanya dah pada married. Tinggal 4 orang, itu pun 1 orang mau married akhir tahun ini.
    So far, mereka paham. Meski dulu awal sempet ada yg ngrasani, "Noni ih... setelah punya anak kok pulangnya tenggo sih.. Enggak asik."
    Bhay aja deh.. You will know what i'm feeling, until you have child! :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba hahaha aku dulu single sampe malam betah di kantor. gitu punya anak, kalau kerjaan dah selesai,langsung cuuus

      Delete
  30. Hemh..semua itu pilihan mbak windi teguh...tergantung kemampuan menyeimbangkan keluarga dan kerjaan..kalau pekerjaan menuntut lebih ya pasti suatu saat ada kalanya kluarga yg kalah..itu sudah kebukti...jadi saat ini mungkin ga kliatan begitu kelihatan efeknya bagi keluarga seandainya terjadi..namun kalau sdh jangka panjang bisa besar efeknya..terutama mental anak dan hub.rumah tangga..mudah2an kearah yg tetap seimbang..tp itu sulit..pada akhirnya kita tinggal memilih siapa yg kalah akhirnya..orang tua atau anak?...mana yg kita pilih orang tua biasa2 aja hidupnya tp anak jadi luar biasa..atau orang tua egonya terpenuhi luar biasa tapi anak hanya biasa2 aja...itu hanya masalah pilihan...tp sekali lagi bukan salah siapa2 apapun itu pilihannya...krn mungkin memang itu dinamika kehidupan biar ga kaku...

    ReplyDelete
  31. Hemh..semua itu pilihan mbak windi teguh...tergantung kemampuan menyeimbangkan keluarga dan kerjaan..kalau pekerjaan menuntut lebih ya pasti suatu saat ada kalanya kluarga yg kalah..itu sudah kebukti...jadi saat ini mungkin ga kliatan begitu kelihatan efeknya bagi keluarga seandainya terjadi..namun kalau sdh jangka panjang bisa besar efeknya..terutama mental anak dan hub.rumah tangga..mudah2an kearah yg tetap seimbang..tp itu sulit..pada akhirnya kita tinggal memilih siapa yg kalah akhirnya..orang tua atau anak?...mana yg kita pilih orang tua biasa2 aja hidupnya tp anak jadi luar biasa..atau orang tua egonya terpenuhi luar biasa tapi anak hanya biasa2 aja...itu hanya masalah pilihan...tp sekali lagi bukan salah siapa2 apapun itu pilihannya...krn mungkin memang itu dinamika kehidupan biar ga kaku...

    ReplyDelete
  32. Luar biasa dimas bahasanya...
    Setelah pindah ke kanwil dps jadi analis semakin supeeerrr sweekaliiii...
    Hahahahhaa

    ReplyDelete
  33. Aq single,tapi aq ga pernah mempermasalahkan working mom yg sering ijin telat karena anak sakit atau sering cuti karena masalah keluarganya..kalopun aq harus gantiin working mom or back up mereka juga ga masalah,toh lain kali pasti aq butuh mereka buat gantiin aq..
    Intinya sih sama2 harus saling ngerti aja,asal jangan memanfaatkan situasi itu aja..hehehehe

    *Camidun analis dps memang luar biasa_mewakili isi hati istri ya mid??
    Hahahahhaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu siapa siiiih. sini sini peluk dulu, pengertian banget

      Delete
  34. Mbak Win, aku sebelum nikah mau kerja sampe jam 2 pagi di hari lebaran juga sebodo, eh pas nikah, mau kerja wiken yang cuma tiga jam aja malesnya mintak ampun karena khawatir suami bete. Pas udah berojol anak, walaupun enggak diasuh sendiri, alias dititip orangtua, ada aja alasannya buat kerja lebih "ringan". Jujur karena jarak saya nikah dan melahirkan sangat dekat dari saat saya bekerja dan masih single, saya bener-bener mohon maaf lahir batin kalau harus ada alasan kerja "ringan" enggak biasa, tapi harus. Haduh. Dulu mau izin sehari aja takut kenapa-kenapa, sekarang izin dua hari sampe tiga hari harus bisa. Thank you for sharing!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya wi, yg penting saat di kantor kita fokus kerjakan pekerjaan sebaik2nya. biar saat ada keperluan darurat militer ga sungkan sama rekan kerja

      Delete
  35. Dulu, pas belum nikah, mau lembur sampe jam berapapun, malah suka. Setelah menikah dan punya anak, aduh... Setelah jam kantor inginnya langsung pulang dan momong anak.:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya ya mba. soale pas single udah pol pol an ya. giliran punya anak. ada ug hes ditimbang2

      Delete
  36. saya pernah ngalamin... berhubung mertua ada kesibukan sendiri, anak terpaksa saya titipkan ke ortu sy di kampung... ngenes sih tp ttp smgt, mau resign tp blm brani, msh bnyk kebutuhan terutama utk si kecil.. kangen sdh pasti, meski tiap bln sy harus "mudik" ke kampung utk ngilangin kangen sy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa dpt solusinya ya mba. dan bs menemukan cara biar bs oke dua2nya

      Delete
  37. mnrt saia, mnta maaph saja tdk menyelesaikan persoalan, yg single tetep jd keset, seolah dianggap tdk pny kepentingan & kepentingan working mom pasti jauh berkali-kali lipat lbh penting
    gaji & job desc sm lho, klo anda sll dtg siang, pekerjaan dikerjakan org lain & mnta di backup mulu artiny anda mnta gaji buta & menganggap gaji buta itu adl hak anda krn anda pny anak
    helllow… perusahaan tdk nyuruh anda pny anak, & anda jg tdk dipaksa bekerja
    b'tanggung jwblah pd pilihan anda sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. siapa yg bilang saya selalu datang siang. wohooo mbanya bacanya pake kepala panas sih. coba baca baik2 bagian mana yg bilang makan gaji buta dan membebankan pekerjaan ke rekan kerja, hayoooo.

      but. makasi udah mampir. kalau km single, saya mengerti knp km komen begini . dan jangan lupa baca tuisan lnjutan yah :)

      Delete
    2. bgs mbak klo tetep bs jaga profesionalisme krj, rekan krj sy yg working mom deskripsiny persis yg di komentar sy T.T

      Delete
  38. Yang salah bosnya sih ya mak, harusnya dalam bagi kerjaan jangan gak proporsional gitu. Yang single lebih banyak yg working mom dikasih lebih dikit. Gini deh jadinya. Jd ada iklim kerja yg jomplang antara yg single sama Working mom. Sah2 aja pulang teng go, ijin gak masuk atau apalah. Yg penting kerjaan kelar. Yg single jangan dibuat kerja 24/7 juga. Kasian ntr bisa single kapan bisa cari belahan jiwa, gak bisa begaol. :)

    ReplyDelete
  39. Setuju bgt mbak sm tulisannya..
    Apalagi aq sempet ngelead team & kerjaannya bisa menyita bgt waktu..sering lembur, ga jarang sampe jam 2-3 pagi..weekend dikasih kerjaan dadakan yg mesti beres sblm senin..
    Pas masih single sih hayuuk aja..seneng kerja & dikasih tanggung jawab lebih..
    Tapi pas udah punya anak, udah susah ngatur ritme kerjaan, dan malah jadi ngerasa ga bertanggung jawab di kerjaan & di keluarga..padahal temen2 satu tim yg masih single dan sering backup kerjaan jg pengertian bgt, ga pernah nyinyir, malah ingetin pulang klo uda 1-2jam lewat jam pulang masih d kantor..
    Akhirnya setelah beberapa bulan maju mundur, resign juga deh..udah ga pusing lg ga enak hati ke temen2 dan ke anak..hihi
    Ya intinya saling pengertian & berusaha ga repotin orang lain..setuju jg sama tulisan lanjutannya..
    Jadi curcol panjang..hehe..makasih tulisannya ya mbak..

    ReplyDelete
  40. Hihi salam kenall mbak windi...rame memang ya mbak kalau bahas ginian. Dulu aku juga ngelihat ibu2 bekerja yang akhirnya keteteran dua duanya suka mikir, "ya resign aja kali... kasian juga anak di rumah kangen dan kadang bikin orang kantor keki..."

    Namun lambat laun aku kenal makin banyak working mom termasuk iparku sendiri aku jadi mengerti kondisi2 / alasan2 yang bikin mereka ga bisa resign... plus kagum sama keteguhan dan kekuatan mereka sebagai ibu bekerja... dan pas hamil aku makin kagum lagi karena berasa pasti pengen banget bisa ada di rumah terus dampingin anak, tapi kan ga semua perempuan punya kemewahan untuk resign. Kadang keadaan ga mengizinkan.

    Sooo... semangatttt ya para working mom. Semoga selalu dikasih kekuatan dan mudah2an ada kelapangan jalan jika suatu saat ingin jadi IRT.

    ReplyDelete
  41. Ngerti banget, secara di kantor saya dikelilingi oleh para working mom yang menurut saya adalah the real wonder women. Ngurus suami, anak, rumah dan kerjaan kantoran, wow!! Saya tidak masalah, kalau ada yang mendadak cuti karena anak sakit, atau ada yang terpaksa bawa anak ke kantor karena tidak ada yang jaga. Saya salut!!
    Tapi ada beberapa pihak yang memang kalau bicara agak sembarangan.. seperti soal pelimpahan kerjaan di luar jam kantor, seringkali ada ucapan " kasih ke dia aja, dia kan single, banyak waktu kosong, ga banyak kerjaan dan pikiran kayak kita emak-emak"... Jujur, kami perempuan single juga banyak yang dipikirin, kalau ortu kami sudah tua, semua hal dari urusan rumah, bayar tagihan dan lain-lainnya juga kami yang urus; belum lagi kalau kami sedang melanjutkan kuliah, atau punya pekerjaan sambilan dan sebagainya, harap dimengerti bahwa tiap individu punya porsi masalahnya masing-masing.
    Jadi lebih baik jangan menghakimi si A lebih sibuk atau si B lebih santai. Kita sudah memilih jalan hidup hingga bisa sampai di titik sekarang ini, baik menjadi ibu bekerja, ibu RT, wanita single, dsb, sehingga apa yang kita jalani sekarang adalah konsekuensi dari pilihan kita sendiri. God bless :)

    ReplyDelete
  42. aku full time mother tapi ikut mbrebes mili bacanya. Alasan ini juga yg mungkin bikin suami request wanti2 saya sejak awal hamil untuk fokus jadi FTM aja. kebetulan untuk urusan menejemen waktu aku masih kacau

    ReplyDelete
  43. Good share mbak... menghibur diri aku sendiri bacanya.. ��
    Banyak keputusan2 sulit yg sebenernya harus kita ambil saat jd Working Mom..
    Tetep semangat yaa mbak dan buat ibu2 lainnya yg bekerja.. semoga apa yg kita lakuin berguna dan selalu indah pada waktunya.. ��

    ReplyDelete
  44. Lanjutkan !!
    Momi tatntik. Bikin lagi lanjutannya ya.. bantu bgt pola pikir sudut pandang dilema saat ini..nice love hug

    ReplyDelete
  45. Saya ibu bekerja dengan 2 anak kecil. Menurut saya, sebagai ibu bekerja kita memang perlu meningkatkan kapasitas diri kita agar bisa menghandle karir dan keluarga dengan baik, misal dengan manajemen waktu yg lebih baik,manajemen anak,dsb.Terkadang meminta org lain paham posisi kita,hanya alasan supaya kita ga perlu berubah, supaya kita tetap bisa nyaman kerja dgn kemampuan segitu aza. Saya setuju dgn comment yg mengatakan kantor bayar kita sebagai pekerja, bukan sebagai emak. Jika memang kita sudah all out kembangin diri dan terpaksa dalam situasi tertentu melakukan 1 atau 2 hal dalam artikel ini, kurasa kita juga siap dengan resiko diomongin orang, ga perlu minta mereka paham juga. Sebab yg bikin kita ga siap diomongin adalah sebenarnya dalam hati terkecil kita, kita tahu bahwa sebenarnya kita bisa melakukan lebih baik dari itu. Karena jujur ngomong, banyak yg menggunakan alasan di artikel hanya untuk menutupi keengganan diri sendiri dengan mengatasnamakan anak dan keluarga.Balik ke kita sendiri, kita mau jadi working mom, kita juga butuh berubah, butuh skill lebih. Kalo memang ga kehandle lagi, ya resign aza, cari kerjaan lain yg lebih dalam kapasitas kita. Apapun pilihannya, jangan jadi beban bagi lingkungan kita. Ini menurut saya :) thanks for sharing Mbak Windi. Artikel yang bagus untuk direnungkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip mak.
      baca postingan lanjutannya yaaa.

      oya mengenai soal resign,byk bgt yg sebenernya pengen resign tp terhalang bbrp hal. semua ada waktunya

      Delete
  46. Wah ada yg senasib ternyata...alhamdulillah teman2 saya cowok semua, jadi pengertian sekali...kalau bolos ya ga jauh2 pasti karena anak-anak..selama kita bisa,ya jalani saja.

    ReplyDelete
  47. iyes working mom emang begituh ya mb gampang banget ilang fokus kalau udah soal anak,.,beda banget ketika dulu masih single aku cuma fokus sm kerjaan,.,setelah jadi working mom harus bisa multitasking,.,tapi tetap harus saling memahami ajah baik yang masih single ataupun working mom karena buat yang single suatu saat kalian akan sampai pada titik working mom (akan tau ketika sudah ada di posisi itu), buat working mom (karena sudah pernah ada di posisi single harus lebih bijak menyikapi situasi) *self reminder juga

    ReplyDelete
  48. Dear Para Working Mom,

    Perkenalkan saya adalah salah satu seorang anak gadis (single) yang juga pengen ngasih tau para working Mom, bagaimana isi hati saya sebagai seorang single melihat para working Mom terutama setelah saya baca artikel ini. Sekali lagi ini hanya pendapat saya jadi mohon maaf sebelumnya jika pendapat saya menyinggung perasaan seseorang.

    "Berfikir bahwa seharusnya rekan kerja yang belum berkeluarga, semestinya performa kerjanya lebih ces plang, karena kan doi ngga punya keterbatasan waktu".

    Seluruh pekerja memiliki keterbatasan waktu termasuk para single dan working Mom. Kewajiban kita sebagai pekerja hanya sebatas yang diatur dalam kontrak (umumnya 8 jam/hari) dan dalam waktu kerja tersebut seluruh pekerja (baik single maupun working Mom) kerjanya harus ces pleng dan produktif. Sisa waktu dalam sehari digunakan pekerja untuk menjalani hidup. Working Mom dengan pekerjaan rumah tangganya dan single dengan aktifitasmya. Jadi pemikiran bahwa single tidak memiliki keterbatasan waktu dalam bekerja adalah pemikirian yang salah (yang sudah dijelaskan di artikel selanjutnya). Kalau waktu kerja para single ga ada batasnya kapan kami bisa mencari jodoh, pergi kencan dan mengembangkan diri biar cepet nyusul juga jadi working Mom juga?

    1."Pulang Always Teng Go, So gaes, jangan bilang kami ngga asik dan egois karena selalu hilang begitu jam menunjukkan pukul 5 WIB lebih lebih dikit. Tapi kalaupun kalian bilang kami ngga asik, kami ngga peduli, karena asik ngga asik versi kita memang sudah berbeda".

    Saya sebagai single tidak pernah merasa bahwa working Mom yang pulang pada waktunya tidak asik dan egois selama pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing selesai. Kalau memang kami para single pernah bilang Mom ga asik dan egois karena ga bisa ikut kongkow dan ngupi-ngupi cantik (bukan karena pekerjaan ya Mom) mungkin karena kami para single merasa cemburu. Cemburu karena merasa kehilangan seorang teman, cemburu dengan status seorang istri dan ibu dari anak-anak yang unyu-unyu . kami juga para single sering galau loh Mom. Diem-diem sering nangis sendirian mohon doa sama sang Maha untuk segera diberikan jodoh. Dulu waktu masih sama-sama single galaunya juga bareng-bareng. Sekarang begitu salah satu diberikan jodoh duluan, single yang ditinggalkan merasa sendirian.

    2."Begitu Selesai Jam Kantor Kami Seperti Lenyap Ditelan Bumi, Saat kalian telfon, hape kami berdering tapi ngga diangkat. Kalian SMS, kami ngga bales. Chat di Group WA pun cuma centang doang".

    Memang benar kewajiban sebagai pekerja selesai setelah kaki kita keluar dari kantor. Tapi alangkah bijaksananya jika kita saling membantu dengan rekan kerja jika memang kita ada waktu luang. Kebayang kan kalau yang lembur harus cari 1 data waktu lembur akan habis hanya untuk mencari data tersebut. Ini ga berlaku untuk working Mom aja kok, tapi seluruh rekan kerja. Namanya aja rekan kerja, sepatutnya saling bantu membantu kan kalau memang memungkinkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 3."Ngomel Kalau Disuruh Lembur atau Kerja saat Weekend, So kalau tiba-tiba manajemen meminta kami masuk kantor saat weekend, mohon maaf lahir batin, kami bakal ngomel dari pagi sampai sore, lanjut besoknya lagi. Ngga hanya ngomel, sangat sangat kecil kemungkinan kami akan menunjukkan batang hidung kami di Sabtu atau Minggu yang cerah ceria".

      Yang ngomel kalau disuruh lembur atau kerja saat weekend bukan para working Mom aja kok, kami para single juga kebanyakan akan ngomel kalau disuruh lembur. Mom mohon diingat ya menjadi single bukan berarti kami ga ada masalah, ga ada aktifitas dan ga ada prioritas lain selain kerja.
      Kalau memang manajemen minta seluruh team untuk lembur atau masuk kerja saat weekend dan ada anggota team yang tidak bisa hadir (baik working Mom ataupun single) dengan alasan apapun, menurut saya dia harus meminta izin dan meminta maaf terlebih dulu dengan seluruh anggota team plus menawarkan alternative lain misalnya dikerjakan di rumah. Kalau dia tidak memberikan penjelasan apapun, tidak meminta maaf sebelumnya, tidak datang, tidak dapat dihubungi dan tidak membantu apa-apa siapa si Mom yang ga jengkel?

      "Bukaaan... bukan karena kami ingin membiarkan kalian bekerja sendiri, atau tega ngga masuk dalam team work, tapi... tapi....biarlah kalian saja yang hepi-hepi ya, karena kerja saat single itu kan emang hepi banget"

      Bekerja dengan hepi itu, menurut saya tidak ada kaitannya dengan status seseorang apa dia single atau tidak. Kaitannya dengan passion seseorang. Pertanyaannya apakah orang yang memang hepi bekerja, secara otomatis tanggung jawab pekerjaannya menjadi bertambah? Atau kebalikannya, orang yang bekerja karena sekedar kewajiban dan tidak hepi menjalaninya secara otomatis tanggung jawabnya menjadi berkurang?
      Kalau Mom dulu bekerja dengan hepi banget saat single dulu itu merupakan anugrah karena mungkin Mom bekerja sesuai dengan passion, tapi mohon untuk tidak menyamaratakan kondisinya untuk seluruh single yang bekerja saat ini, karena ada banyak single yang bekerja tidak sesuai dengan passionnya.

      4."Di Kantor Kami Terlihat Tidak Konsen, Ngantuk dan Sibuk Nelfon Pengasuh. Jadi saat kalian melihat kami tiba-tiba tertidur di meja, atau bolak-balik nelfon ke rumah, jangan sebal pada kami. Karena kalau boleh memilih, kami inginnya di rumah saja saat itu. Lagian toh itu ngga terjadi setiap saat".

      Mom perlu diingat kami para single bukan orang yang bisa membaca pikiran seseorang.. Kalau kami sebal melihat orang yang tertidur di meja atau bolak balik nelfon tanpa ada penjelasan yang kami terima apalagi sampai mengabaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, yang kami lihat adalah seorang pekerja yang tidak professional.
      Mudah-mudahan memang tidak terjadi setiap saat. Kami tidak bisa membaca pikiran, tapi kami juga punya perasaan. Kalau memang Mom sehari-harinya bekerja dengan professional dan hal ini hanya terjadi sekali, dua kali kami para single mungkin akan memaklumi dengan berfikir ada masalah yang terjadi sehingga mengganggu konsentrasi saat bekerja. Kami para single juga sangat perhatian dan meiliki empati yang besar kok Mom.

      Delete
    2. 5."Tiba-Tiba Ngga Masuk Kantor Tanpa Kabar Terlebih Dahulu, Bully kami, bully kami kalau kalian anggap kami ngga profesional".

      Mom tidak semua single punya hobi untuk membully atau menjudge seseorang tanpa ada alasan yang jelas. Kalau sampai ada seseorang yang mencap kita tidak professional menurut saya yang pertama harus kita lakukan adalah berkaca, apa sih yang kita sudah lakukan sampai kita dibilang ga professional?
      Kami para single tidak memandang semua working mom tidak professional kok. Ada working mom yang kami anggap bekerja dengan sangat professional bahkan kadang melebihi para single.

      6."Di Jam-jam Tertentu, Kami Menghilang ,Bukaaan, kami ngga kemana-mana kok, kami cuma menghilang sebentar untuk mengeluarkan ASI yang sudah memenuhi payudara kami. Sakit tauk kalau ngga segera di pompa. Lagian kalau ada apa-apa, kami masih bisa ditelfon kan?, kan kami pumping sambil main hape"

      Kalau saya pribadi, saya ga masalah di jam-jam tertentu para working mom tiba-tiba hilang untuk pumping. Tapi yang mesti diingat adalah jam tertentu yang digunakan untuk pumping itu adalah jam kerja kecuali waktu pumping bukan main hape, bukan ngobrol hal di luar kerjaan, bukan nonton tv (karena dibeberapa ruang laktasi disediakan fasilitas tv) dan bukan jualan tapi pegang laptop atau telpon koordinasi masalah kerjaan maka secara otomatis waktu pumping = waktu kerja. Jangan sampai kita korupsi waktu.
      Yuk kita hitung-hitungan. Kalau dalam sehari minimal 2 kali waktu yang digunakan untuk pumping dan sekali pumping menghabiskan waktu minimal 15 menit maka minimal ada 30 menit jam kerja yang digunakan tidak pada tempatnya. Yang menjadi concern saya adalah, seberapa banyak working mom yang sadar dan melakukan sesuatu untuk memperbaiki hal tersebut?
      “Yang penting kan kerjaan saya selesai”, pasti banyak yang mikir gitu. Setuju mom. Saya juga termasuk salah satu yang berpikir gitu. Yang bikin kita para single gemes itu kalau waktu kerja dipake pumping, kerjaan ga beres, ga mau disuruh lembur, kerjaannya akhirnya dikasih ke kita para single yang selama 8 jam kerja dengan sungguh-sungguh.

      Delete
    3. Pada intinya saya yakin semua orang memiliki alasannya masing-masing dalam memilih jalan hidup termasuk pilihan seorang ibu untuk bekerja. Yang harus diingat adalah dalam memilih jalan hidup ada konsekuensi yang harus diterima.
      Menurut saya, menurunkan performa saat bekerja itu bukan konsekuensi dari sebuah pilihan apalagi memaksa semua orang untuk harus mengerti kondisi tersebut dan dihakimi sebagai orang yang tidak memiliki perasaan jika tidak mengerti dan tidak memaklumi dengan sendirinya.
      Mom memiliki suami, anak dan keluarga yang bahagia merupakan sebuah anugrah. Kami yang single memiki harapan dan berdoa setiap malam untuk bisa merasakan hal yang serupa. Tapi bekerja juga merupakan sebuah komitmen dimana ada kewajiban yang harus dijalani dan hak yang kita terima.
      Menurut saya, para single hanya ingin semua orang termasuk working mom bekerja dengan professional bukan menjadikan suami, anak, orang tua, adik, kakak, mertua, pacar atau aspek apapun menjadi pembenaran atas kekurangan dan kesalahan yang dilakukan. Kalau memang kita salah atau performa kita kurang, akui dengan gentle, terima semua saran dan kritik, intropeksi diri, dan mencoba berubah menjadi lebih baik.
      Mom, kami para single juga akan mudah memahami kondisi dan kesulitan yang dihadapi kok selama kami diberikan penjelasan dengan baik, karena kami juga berpikir akan ada di posisi mom saat tiba waktunya. Kami juga takut akan karma. Tapi kalau mom memaksa kami untuk mengerti dan posisi mom saat ini tanpa ada penjelasan akan sangat sulit bagi kami karena kami belum pernah berada di posisi itu. Yang lebih mudah adalah mom yang mengerti posisi kami karena sebelum menikah pun mom seorang single. Intinya adalah komunikasi.
      Saya juga berterima kasih kepada working mom karena saya dapat belajar banyak hal sebelum saya memutuskan untuk berkomitmen membuat sebuah keluarga. Mudah-mudahan para working mom dapat memahami apa yang menjadi pemikiran saya sebagai single worker dan doakan saya segera menyusul dan bergabung dengan komunitas working mom.

      Delete
    4. udah bisa dijadiin satu postingan sendiri nih komennya .

      very well said mba, saya ngga akan menyanggahnya.

      makasih ya udah menyuarakan jg isi hati para single worker.setuju bgt kita hrs bersinergi dan makasi jg mba nya udah baca lanjutannya jd ga miss persepsi.

      semoga para single segera ketemu jodohnya. dan kayaknya aku kepikiran mau jadiin komen mbanya ini jd postingan lanjutan den. ijin ya mba. makasi :)

      Delete
  49. Mungkin alasan ini hingga suami ga tega lihat aku kerja lagi. Takut saya galau yg bakalan nangis terus jika sdh diphadapkan dg masalah serupa.

    Mmg gak mudah jadi mom yg bekerja. Sama halnya jd full mom. Semua sudah punya "kadar masalahnya" masing2

    ReplyDelete
  50. Hai windy...salam kenal.baca beberapa tulisan di blogmu kyknya kita 1 perusahaan deh..hehe. kemana bs kontak kamu ya? -Kurni-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbaaaa, hai hai, aih senangnya ketemu orang BRI disini. Aku bisa di email ke windi.widiastuty@yahoo.com atau ke WA 081260456163 mbaaa.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)

Custom Post Signature