Showing posts with label working mom. Show all posts

Pengen Resign Aja


ibu bekerja di luaran sana, setuju ngga kalau saya bilang menjadi ibu bekerja itu sungguh menyenangkan.

Hayoo coba angkat tangannya yang setuju.

Satu dua, 893652820 orang, wow.

Baca punya Gesi :

Haahaha, iyalah siapa sih yang ngga setuju kalau dibilang menjadi ibu bekera itu surga.

Gimana ngga?

Setiap hari bisa ketemu orang baru, pengalaman baru, melakukan hal-hal seru, dibayar pulak.

Mau beli baju tinggal ke toko, mau beli sepatu tinggal pilih warna.

Tentang Profesionalisme Seorang Ibu Bekerja

Dear Rekan Kerja,Maafkan Kami Para Working Mom

Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui

Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui


Sebagai ibu bekerja, mau ngga mau pasti suatu saat akan behadapan dengan yang namanya perjalanan dinas. Perjalanan dinas ini biasanya adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu lho. Saya mah hepi banget kalau dapat SPJ (Surat Perintah Jalan) dari kantor. Karena artinya bakal jalan-jalan gratis dibiayai kantor, yipiiie. Padahal jalan-jalannua cuma di bandara,hotel,kantor doang xixixi.

Tapi itu dulu sih sebelum punya anak. Begitu udah punya anak apalagi saat masa menyusui, yang ada biasanya saya bakal menghindar untuk dinas luar kota. Kalau ngga perlu-perlu amat, minta digantiin aja sama rekan kerja lain, soalnya rempong sih yak. Harus mikirin anak yang ditinggal, trus mikirin harus pumping selama perjalanan, hwaaa aku males pusing.

( Baca : Untukmu Ibu Yang Gagal Memberi ASI Eksklusif )

11 Hal Yang Harus Dipersiapkan Ibu Bekerja Agar Sukses ASIX




Persiapan Menyusui Untuk Ibu Bekerja

Untuk ibu bekerja yang baru punya bayi, hari-hari menjelang masuk kantor kembali itu kadang bikin nervous.

Nitipin Anak Sama ART? Ibu Macam Apa Kamu

Halooo, mau woro-woro nih, kalau sekarang di windiland bakal ada #GesiWindiTalk . Semacam postingan bareng saya dan Gesi, itu lhooo maminya Ubi yang paling ngeheits sejagad blogger ^_^. Nantinya kita bakal bahas hal-hal ringan seputar woman talk deh, ya anak, ya keluarga, ya kerjaan. Pantengin ya, tapi 2 minggu sekali sih, soalnya sibuk boooo, hahahaha.

Gerakan Bawa Bekal Ke Kantor

Eh ternyata tanggal 12 April kemarin diperingati sebagai Hari Bawa Bekal ya?. Wah baru tahu saya ada juga peringatan harinya. Dan ternyata juga hari ini adalah hari Bumi. Kalau yang ini sih saya sudah sering dengar.

Hmmm, hari bekal dan hari bumi, kayaknya pas banget buat dibahas bareng. Yuk mari

Sebagai ibu pekerja yang "cerdas" dan cinta lingkungan saya termasuk pendukung garis keras gerakan bawa bekal ke kantor xixixi. Pokoknya selagi sempat, ngebekel is a must.

Antara Kartini, Kebaya dan Peran Wanita Di Balik Banking Hall BRI

Gara-gara status dedengkot mojok Agus Mulyadi tentang perdebatan yang selalu terjadi di hari Kartini, jadi pengen nulis juga tentang itu.

Tentang Hari Perempuan Internasional


Pada tahu ngga kalau hari ini adalah hari perempuan internasional?

Saya tahunya dari facebook. Pagi- pagi udah diingetin soalnya.

Kalau ngomongin tentang hari perempuan pasti keingetannya langsung ke sosok-sosok perempuan tangguh di jaman dahulu kala. Kayak ibu Kartini lah salah satu contoh perempuan paling ngeheits abad ini.,

Wishlist 5 Barang Kebutuhan Menjelang Masuk Kantor Kembali

Kalau saya didatangi jin ala aladin, trus dikasih kesempatan untuk membuat 3 permintaan yang bakal dikabulkan. Tahu ngga apa yang bakal saya minta?.

Pertama, saya pengen bisa menguasai seluruh bahasa di dunia ini, karena dengan menguasai bahasa saya yakin saya bisa punya kesempatan mau ngapain aja.

Kedua, saya pengen diberi kesempatan kembali ke jaman Rasulullah dan merasakan hidup bersama beliau. Ini karena keimanan saya suka naik turun kayak roller coaster.

Ketiga, saya pengen punya pintu kemana saja. Ini kepikiran karena saya kan lama banget LDR-an sama suami

Karena Isi Kepala Tak Bisa Ditebak

Book Addicts is The New Sexy?
Siapa yang ngga setuju kalau saya bilang kecanduan buku itu salah satu gaya sexy yang baru.

Haaah, kamu ngga percaya? 

Baiklah saya perjelas dulu dengan gambar berikut


Aaaagh, sexy kan seksi kaan??

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak dari Ibu Bekerja?


Tentang Menjadi Anak Dari Ibu Bekerja
Gambar dari Sini 

Bagaimana rasanya jadi anak yang dibesarkan oleh ibu bekerja?

Hmmm, ditengah banyaknya status-status dan war-war an antara ibu bekerja dan ibu yang di rumah soal pengasuhan anak, kayaknya yang paling tepat itu ditanyakan langsung deh ke anak -anaknya. Ya ngga sih?. Percuma kan buibu itu udah perang opini, lha yang merasakan enak ngga nya masing-masing peran bukannya si anak yah.

Istri Idaman dan Istri Tak Diidamkan

Beberapa hari lalu saya membaca status seorang suami yang dishare ribuan orang, dan terbaca saya saat ada teman di facebook yang mensharenya juga.

Saya ngga capture statusnya , tapi saya tulis ulang saja yah disini :


Punya istri cantik dan wangi mengoda
Istri Berangkat kerja jam 8 pagi pulang pun jam 8 malam

Ingin Jadi Anak Kesayangan Bos? Ini Dia Kiat-Kiatnya!

Untuk dapat melangsungkan kehidupan setiap orang dituntut bekerja, atau paling tidak menjalankan sesuatu yang dapat memberikan income, jenisnya sendiri beragam mulai dari menawarkan barang atau mungkin jasa yang mereka miliki. Ada tuntutan bahwa setelah memasuki usia dewasa siapapun itu dapat merasakan dunia kerja dan menghasilkan uang sendiri. Mungkin banyak yang bercita-cita menjadi PNS, mengingat gaji PNS tetap dengan pekerjaan yang mudah, hanya saja bagi yang menginginkan kekayaan tak bisa mengandalkan satu pekerjaan tetap tersebut.

Me Time




" Kalau harus me time trus ninggalin anak di rumah, itu mah namanya ibu-ibu egois. Bagi saya sih me time seorang ibu ya ngabisin waktu sama anaknya. Saya ikhlas kok melakukannya ngga terbebani sama sekali. Kalau udah punya anak itu, ya jangan egois, harus mikrin keluarga"

" Setujuuuu bun, aku juga gitu ngapain pake me time- me time -an"

" Setuju bund, main sama anak kan udah jadi me time yah"


Dan kemudian komen si ibu disambut gegap gempita bunda-bunda lain yang merasa terwakili.

Mengelola Keuangan Keluarga Ala Ibu Bekerja

Dulu, saat masih single, rasanya gaji saya yang tak seberapa itu kok cukup-cukup aja ya buat hidup. Eh giliran nikah, yang berarti punya penghasilan tambahan dari suami kok yaaa kayaknya kebutuhan hidup itu makin lama makin besar. Apalagi setelah punya anak, widih rasanya gaji sebesar apapun pengennya lebih lagi lebih lagi.

Dapat suami yang orangnya sloooow banget. Apa-apa dibawa nyantai. “ Tenang aja dek, rezeki udah ada jatahnya, ngalir aja jangan khawatiran gitu”

Iya sih rezeki emang udah yang ngasih, lha giliran udah ditangan kalau ngga diatur piye dong. Bisa-bisa capek-capek kerja, cuma dapat tagihan doang, ngga bisa punya apa-apa dan ngga bisa ngapa-ngapain. Ya gitu kalau jodohnya suami yang anteng, nyantai kayak di pantai.

Saya mah ogah ngikutin gayanya dia. Kalau sama-sama begitu, bisa hajablah rumah tangga kami. Makanya sebagai istri yang peduli masa depan keluarga #cieeee, walau sederhana, saya punya lho perencanaan keuangan simple untuk keluarga tercintah.

Kenapa kok direncanain? Iya dong, karena yang namanya duit itu kayak hantu, bisa tiba-tiba menghilang tanpa tahu rimbanya. Punya duit segunung pun kalau ngga tahu memanagenya bisa hilang tertiup angin, makanya perlu yang namanya perencanaan keuangan keluarga.

Perencanaan keuangan keluarga juga bertujuan agar kesejahteraan keluarga bisa terwujud. Keluarga yang sejahtera itu, keluarga yang hidupnya teratur, terencana, dan memiliki masa depan yang baik. Halah, itu defenisi ala saya saja, hahahah.

Kalau lagi ngobrolin masalah keuangan dengan teman saya banyak yang langsung komen

“ Kalau kamu enak lah Win, suami istri kerja, punya dua gerdang, bisalah ngatur keuangan ala Safir Senduk, lha kalo kami yang cuma ngandelin penghasilan suami, boro-boro mau pake planning-planningan, bisa cukup sampai akhir bulan aja Alhamdulillah”

Bah, siapa bilang tuh. Dari dulu saya ngga percaya dengan anggapan kalau suami istri kerja hidupnya lebih sejahtera dibanding yang suami doang kerja. You wrong girls.

Masih ingat banget saya dengan kondisi ekonomi keluarga saya waktu kecil. Bapak sama emak saya dua-duanya kerja, dua-dua berpenghasilan, tapi karena semua tidak direncanakan, kami harus gantian lho kuliah, soalnya usia kami berdekatan, jadi masa kuliah juga barengan. Jadinya saat saya kuliah, adik saya harus nunggu dulu sampai saya tamat, setelah saya lulus baru adik saya bisa kuliah, begitu seterusnya. Kenapa? Karena di suatu masa, ayah saya terkena PHK oleh perusahaannya, sementara selama ini ayah dan ibu saya tidak pernah punya tabungan atau investasi untuk pendidikan kami. Tapi Alhamdulillah sih dengan kegigihan ibu kami bisa juga selesai kuliah. Tapi tentu saja dengan usaha yang sangat keras, atau istilah saya, ngos-ngosan .

Untungnya walau suami tergolong cuek, tapi kami punya satu prinsip hidup yang sama, yaitu “ Jangan pernah membeli sesuatu atau merencanakan sesuatu di luar kemampuan ”.

Kalau bahasa orangtuanya “ Jangan besar pasak daripada tiang”

Yee, kalau yang kayak gitu sih semua orang udah tahu ya. Iya semua orang tahu tapi ngga semua orang sukses menjalaninya.

Maksudnya gimana?

Pokoknya dalam mengatur ekonomi keluarga kami type orang yang ngga mau ngos-ngosan karena gengsi.

Contoh kecilnya saja ya.

Di pekerjaan saya sebagai banker. Saya sempatlah setahunan menjadi account officer, yang kerjaannya menyalurkan kredit ke calon debitur. Kadang kalau melihat calon debitur yang mengajukan kredit di bank, saya suka ngelus dada sendiri. Xixixi ya iyalah ya masa ngelus dada orang.

Maksudnya gini lho, banyak banget calon debitur yang niatnya mau pinjam kredit, contohnya kredit konsumtif ya, kayak KPR, KKB, KMG, tapi kemampuan bayarnya jauh dari yang diajukan. Terutama untuk calon debitur KPR. Istilahnya nafsu besar tenaga kurang.

KPR itu termasuk kredit konsumtif, maka perhitungan di bank memakai metode RPC (Re Payment Capacity), yaitu hanya melihat kemampuan bayar dari jumlah penghasilan yang bisa disisihkan untuk angsuran. Jadi oleh bank, bakal dihitung berapa penghasilan kita, dikurangi biaya hidup sehari-hari,dikurangi hutang-hutang yang ada, ketemu penghasilan yang bisa digunakan untuk angsuran. Atau kalau hitungan gampangnya, bank biasanya mematok maksimal 30-40 % dari jumlah penghasilan bulanan. 30-40% lho, bukan seluruh gaji. Trus untuk ngambil KPR, kita juga kudu punya DP ( Down Payment ), yaitu minimal 20- 30% dari harga rumah yang mau dibeli.

Nah kebanyakan calon debitur yang ngajuin KPR,  sebenarnya tidak memiliki DP untuk pembelian rumah, alias hanya berharap dari kredit yang dikucurkan bank. Akibatnya mereka biasanya mengakali dengan menaikkan harga rumah, biar prosentase 70- 80% adalah sebesar harga rumah yang sebenarnya. Akibatnya jumlah angsuran yang harus dibayar pun semakin besar. Padahal maksud bank menerapkan kebijakan DP itu ya supaya si calon debitur ngga berat-berat amat untuk angsuran. Tapi ada aja yang ngakalin seperti itu.

Itu masih contoh DP kurang, ada juga yang karena gajinya ngga mencukupi, mungkin karena sudah terlanjur memiliki hutang di tempat lain, mengakalinya dengan cara merubah slip gaji, dengan meningkatkan jumlah penghasilan di atas kertas biar dapat tuh hitungan angsuran 30% dari THP nya. Kalau udah demikian, ya salam, apa mau dikata bisa dipastikan dese bakal ngos-ngosan dalam mengatur keuangannya. Lha emang udah ngga sesuai tuh hitungannya.

Makanya dulu saat mau membeli rumah, saya dan suami benar-benar menyesuaikan dengan kemampuan bayar kami.  Bukan karena gengsi terus harus ambil rumah di kawasan elite dengan harga yang menggigit. Atau karena pengen sama dengan teman-teman lain, terus beli mobil keluaran terbaru dengan cicilan  yang menghabiskan hampir seperempat gaji saya misalnya.

Ngga lah. Saya dan suami sepakat, yang namanya kredit bukan dihindari tapi sebisa mungkin tidak untuk kepentingan konsumtif. Jadi kalau mau kredit, ya kredit untuk beli rumah saja. Kenapa? Karena nilainya bisa dipastikan akan naik terus.

Beli Mobil? Hmmmm, kami lebih memilih menabung dulu baru membeli sesuai jumlah tabungan. Karena kredit mobil itu tidak memberi nilai tambah.

Kadang ada juga sih orang yang komen, “ Ih masa suami istri kerja rumahnya biasa aja sih”. Atau ngga “ Percuma kerja disitu, tapi mobilnya sama dengan kita-kita yang penghasilannya cuma satu”

Hahaha, ga apa, jangan hidup tergantung omongan orang. Karena yang tahu keuangan kita ya cuma kita sendiri.

Makanya jangan heran kalau banyak orang walau gaji segede gaban, suami istri kerja, tapi tetap saja keuangannya morat-marit.

Saya sih udah lihat banyak keluarga yang pontang panting bayar tagihan ke bank, karena apa? Ya itu karena mereka tidak sadar akan kemampuan diri dan tidak merencanakan keuangan keluarganya dengan baik.

So, mari kita membicarakan rencana keuangan keluarga.

Saya suka membaca artikel-artikel keuangan di website-website financial. Banyak banget ilmu dan tips yang bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Kalau saya simpulkan sih ya, semua perencana keuangan memiliki satu pandangan yang sama, yaitu yang penting bukan seberapa besar penghasilanmu, tetapi seberapa besar yang bisa kamu sisihkan.

Kalau kata Safir Senduk, malah lebih spesifik lagi, bahwa orang yang kaya itu bukan dilihat dari seberapa besar gaji atau pendapatannya atau seberapa mentereng pekerjaannya, tapi seberapa besar yang bisa disisihkannya untuk investasi. Jadi orang kaya itu yang punya banyak investasi. Yup Setujuh banget sayah.

Untuk bisa tahu seberapa besar yang bisa kita sisihkan setiap bulan, maka kita harus tahu cashflow keuangan kita.

Ada 3 macam cashflow yang mengkategorikan golongan orang kaya, menengah dan miskin.

Orang disebut miskin jika pendapatannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, alias habis tanpa ada sisa. Kategori ini ngga sampai memikirkan pengeluarkan tersier atau bahkan sekunder, karena bahkan untuk kebutuhan primer saja sudah habis.

Kategori menengah, jika dari penghasilannya itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan masih bersisa untuk memenuhi kebutuhan konsumtif, kayak beli pakaian, beli gadget, kongkow-kongkow di mall.

Trus kategori horang kayah, kalau dari penghasilannya dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli barang konsumtif dan masih bisa menyisihkan uangnya untuk investasi.

Nah, dimana nih posisi kamu?

Balik lagi ke kondisi keuangan keluarga saya yang punya dua penghasilan, apa bisa dipastikan kami langsung tergolong kepada golongan ketiga?

TENTU TIDAK

Makanya saya mau bagi-bagi tips nih ala-ala saya dalam mengelola keuangan keluarga.

Alhamdulillah ya, walau ngga berlebih-berlebih amat tapi keuangan keluarga kami lumayan sehat sampai saat ini.  Yaitu tadi prinsip utama keluarga kami dalam mengelola keuangan “ Jangan Besar Pasak dari tiang”

Nah, untuk itu, yang pertama harus dilakukan adalah mengidentifikasi dulu kondisi keuangan keluarga.

1.       Identifikasi Sumber Dana

Yup. Yang namanya suami istri itu harus terbuka dalam hal keuangan. Terbuka dalam arti istri harus tahu berapa penghasilan suami, dan suami pun harus tahu penghasilan istri. Kenapa? Ya biar bisa merencanakan keuangan dengan tepat, dan tidak ada dusta di antara kita.

Yang termasuk penghasilan suami dan istri yaitu gaji, uang cuti tahunan, bonus dan insentif yang didapat. Setelah, tahu gaji masing-masing, mari kelola gaji tersebut.

Pertanyaannya:

Apa suami istri harus memiliki rekening bersama?
Apa suami harus menyerahkan seluruh gajinya ke istri?

Tergantung masing-masing keluarga. Kalau menurut saya sih tidak perlu. Karena istri adalah manajer keuangan keluarga maka sebagai manajer dia ngga perlu pegang uang secara fisiknya, tapi dia yang mengaturnya. Rekening bersama juga tidak wajib dimiliki, karena tidak fleksibel. Cukup istri saja yang membuka rekening, atau kalau tidak, bisa buka rekening atas nama anak.

Ini sih pendapat pribadi saja. Mungkin keluarga lain punya cara yang berbeda.

Pemasukan itu terdiri dari beberapa jenis :

  1. Pemasukan rutin bulananan : Gaji
  1. Pemasukan Tahunan :Bonus, insentif, tunjangan cuti tahunan, THR
  1. Pemasukan Lain-lain :Jika ada usaha atau pemasukan diluar gaji dan pemasukan tahunan, Contohnya uang kontrakan (kalau punya kontrakan).


Setelah tahu berapa penghasilan keluarga per bulan, maka penghasilan itu harus diatur sedemikain rupa biar ga habis begitu saja.

Caranya ?

2.     Buatlah Perencanaan Keuangan Keluarga

Yup, namanya berumah tangga harus punya rencana dong yah. Baik rencana jangka pendek maupun jangka panjang.

Rencana keuangan keluarga itu, kalau di keluarga saya, kami bagi menjadi beberapa bagian



a.      Dana Darurat 

Dana darurat dibutuhkan untuk jaga-jaga saat ada kejadian di luar yang direncanakan. Menurut ahli keuangan, besarnya dana darurat setiap keluarga berbeda-beda tergantung jumlah anggota keluarga dan besarnya pengeluaran rutin setiap bulan.

Karena saya baru memiliki satu anak, dan bakal menyusul yang kedua, maka saya prepare dana darurat untuk keluarga dengan dua orang anak yaitu sebesar 12 kali pengeluaran rutin. Woooww, banyak banget yah.

Saat ini sih kami masih mencicilnya, soalnya belum terkumpul sebesar itu.

Apa saja kegunaannya?

Bisa untuk pengobatan saat sakit kritis, atau jika suatu saat kita kehilangan penghasilan, maka dana darurat bisa menjadi penopang hidup minimal selama setahun ke depan, sampai kita menemukan sumber penghasilan yang baru.

Disimpan Dalam Bentuk apa?

Dana darurat sebaiknya disimpan dalam bentuk yang liquid atau mudah dicairkan. Kami menyimpannya dalam bentuk emas. Belinya ngga banyak-banyak, kapan ada duit, beli dikit, Ada lagi, beli dikit. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit.

b.  Asuransi

Saya tidak membeli banyak asuransi. Kenapa? Karena kebutuhan asuransi itu berbeda-beda untuk setiap orang, tergantung kebutuhannya. Karena dari kantor sudah ditanggung untuk biaya kesehatan, termasuk rawat inap, melahirkan, imunisasi , kaca mata, gigi , dll, maka asuransi kesehatan langsung coret dari list. Dulu sih sempet punya, tapi segera saya tutup, dananya bisa dialokasikan ke yang lain.

Asuransi rumah sudah dicover saat beli KPR. Jadi ga perlu lagi pasang asuransi kebakaran. Asuransi mobil? Ga punya, kenapa? Pertama karena mobilnya seken, kedua karena berdasar pengalaman cover asuransi mobil selama ini digunakan orang-orang untuk perbaikan-perbaikan kayak lecet karena tersenggol, atau penyok saat tabrakan. Yang mana semuanya itu, tidak terlalu signifikan, bisa menggunakan dana darurat kalau perlu. 

Agar ideal, nominal premi asuransi yang yang kita punya adalah sebesar 10 % dari penghasilan.

Trus apa dong asuransi yang saya miliki

Asuransi yang saya miliki adalah Asuransi Jiwa. Kemarin sih saya sudah beli yang whole life. Tapi setelah baca-baca terus konsultasi dengan sahabat saya yang kerja di asuransi, akhirnya saya putuskan beli yang term life tanpa rider apapun. Preminya bisa minim, hasil optimal. Sekali lagi, ini bisa berbeda-beda tergantung kebutuhan orang.

Memilih asuransi ini juga ngga boleh sembarangan. Jangan malas untuk membandingkan beberapa produk asuransi dari beberapa perusahaan asuransi. Caranya dengan mengirim email ke website mereka, minta ilustrasi atas asuransi yang kita butuhkan, menyangkut berapa premi, pertanggungan, sampai cara klaim dan aturan-aturan spesifiknya.

Nah, biasanya mereka bakal membalas email kita, sekaligus menyertakan ilustrasi asuransi yang kita minta. Tinggal bandingin deh. Tapi yah, kebanyakan asuransi yang saya tanya, ngga mau lho menjelaskan tentang term life mereka pasti nawarinnya unit link. Nah disini kita bisa lihat juga mana asuransi yang mau mendengarkan keinginann kliennya mana yang tidak.

Kemarin saya bandingin 3 perusahaan asuransi yang berbeda. Setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya pilih yang syaratnya ngga terlalu ribet untuk saya, preminya ringan dan UP maksimal dan mau memberikan informasi sesuai yang saya butuhkan. Disamping itu saya pilih juga yang lebih responsif, jadi kalau ada apa-apa mereka bakal cepat menanggapi kita.

Asuransi jiwa yang saya pilih adalah Asuransi Jiwa term Life 20 tahun Sun life. Dengan premi Rp 500 ribu perbulan, UP nya sekitar Rp 1 Milyaran. Cocok dengan permintaan dan kebutuhan saya. Kalau mau tahu info hitung-hitungannya bisa nih menghubungi ke sli_care@sunlife.com 

c.    Investasi

Yup. Rencana keuangan berikutnya yang kami susun adalah alokasi dana ke investasi. Kalau di Sumatera Utara khususnya di Medan, investasi yang paling menggiurkan itu adalah perkebunan sawit. Namun karena kami tidak memiliki keahlian disitu dan juga tidak memiliki waktu jika memiliki kebun sawit, maka kami pilih investasi yang tidak memerlukan effort besar dalam mengelolanya.

Investasi bisa dibagi menjadi jangka panjang dan jangka pendek.

Untuk investasi Jangka panjang kami investasi ke rumah dan sawah.

Alasannya?

Simpel saja, jumlah penduduk semakin hari akan semakin bertambah, dan yang pasti lahan di muka bumi  tidak akan pernah bertambah. Maka sesuai hukum ekonomi, semakin tinggi demand dengan supply yang terbatas, maka dipastikan harga akan naik terus.

Tapi, darimana duitnya mau beli asset? Harus ngumpulin berapa lama?

Nih, cara kami untuk memiliki asset dengan murah :

-          Beli di saat pemilik butuh uang
-          Beli di saat ekonomi sedang lesu
-          Atau beli di saat promo (rumah)

Jangan terlalu mikirin lokasi, percaya deh, ntar semua lokasi bakal prime xixixi. Apalagi ini buat jangka panjang, jadi ngga bakal rugi.

Kenapa sawah?, karena sawah harganya tidak terlalu mahal. Setelah dimiliki masih bisa menjadi sumber pemasukan, dari hasil panen atau disewakan.

Untuk Apa saja Alokasinya?

Investasi jangka panjang itu, kami alokasikan untuk biaya pendidikan anak saat SMA dan kuliah, dan uang pensiun. Sementara menunggu itu, rumah dikontrakkan dulu, bisa buat pemasukan tambahan. Uang sewanya dialokasikan untuk cicilan haji. Jadi ngga perlu mengganggu cashflow bulanan atau tahunan untuk dana haji. 

Selain investasi jangka panjang, menurut saya sebuah keluarga juga harus memiliki investasi jangka pendek. Tujuannya untuk biaya pendidikan anak dalam waktu dekat, untuk usia SD sampai SMP deh. Kalau kami sih nempatinnya ke emas dan reksadana. Ngga banyak-banyak, rutin perbulan saja sebesar Rp 500000/bulan sudah cukup, sehingga nanti saat Tara masuk SD, SMP, dananya sudah tersedia.

Nah, setelah tahu pemasukan, punya rencana, baru identifikasi pengeluaran. 

Kenapa pengeluaran diletakkan di point terakhir?. 

Karena yang namanya pengeluaran mah, besarnya bisa suka-suka, makanya setelah disisihkan untuk rencana-rencana di atas, baru dana di luar itu dialokasikan untuk pengeluaran yang lain. Kalau alurnya dibalik, yang ada malah semua penghasilan bakal habis untuk membiayai pengeluaran rutin sehari-hari.

3.    Identifikasi Pengeluaran

Yang harus diwaspadai adalah pengeluaran rutin. Jangan menyepelekan pengeluaran yang kecil-kecil alias printilan, karena kecil-kecil kalau digabungkan bisa besar juga lho.

Pengeluaran rutin diantaranya:

-       Belanja Bulanan
-
Kebutuhan dapur dan toiletres
-       Tagihan rutin bulanan
-                       
Listrik, air, gaji pembantu, daycare (jika ada), tivi berbayar, angsuran KPR, angsuran KK, premi asuransi, uang satpam, uang sampah, pulsa, internet
-       Tagihan tahunan
-                       
Pajak kendaraan, PBB, zakat, qurban, biaya mudik, rekreasi.
-       Insidentil dan pengeluaran tahunan
-                       
Undangan, berobat

Pengeluaran Tidak Rutin

Investasi, Dana Haji

Setelah semua pengeluaran diidentifikasi, maka mari kita sinkronkan antara pemasukan, rencana keuangan keluarga dan pengeluaran.

Gaji Bulanan

Gaji bulanan digunakan untuk memenuhi pengeluaran rutin bulanan.

Jadi yang namanya semua tagihan-tagihan itu, harus terpenuhi dari gaji. Kalau di keluarga saya, karena kami dua-duanya bekerja, jadi disepakatin saja, semua pengeluaran rutin bulanan tanggung jawab suami.  Jadi yang namanya uang belanja basah, belanja kering, tagihan listrik dan kawan-kawannya, dibebankan di gaji suami.

Untuk tagihan tahunan, seperti PBB, pajak kendaraan tetap disisihkan dari gaji bulanan.

Penghasilan Tahunan

THR

Salah satu penghasilan tahunan yaitu THR. Karena kami dua-dua bekerja, jadi THRnya dobel doong #nyengir lebar. Nah THR digunakan untuk membiayai mudik dan keperluan lebaran. Mudiknya kami kan ke Jogja, jadi lumayan juga tuh biayanya . Kalo ngga dianggarkan mana bisa mudik setahun sekali. Selain untuk mudik, THR juga dialokasikan untuk zakat dan Qurban, soalnya idul Adha dan Idul Fitri kan berdekatan yah, jadi sekalian aja.

Uang Cuti

Penghasilan tahunan yang lain yaitu uang cuti tahunan. Besarnya biasanya satu bulan gaji. Ya wis gunakan buat rekreasi. Rekreasi itu penting pake banget lho. Apalagilah bagi kami yang dua-dua bekerja, tuntutan pekerjaan sepanjang tahun membuat rekreasi jadi hal yang harus dipenuhi. Jadi tiap tahun dari uang cuti bisa buat jalan-jalan, ngga usah jauh-jauh sekitaran Sumatera Utara saja. Kalau mau jalan-jalan yang agak jauhan saya bisanya punya trik tersendiri.

Di kantor saya itu, kami punya jatah untuk mengikuti public course minimal sekali dalam setahun. Biasanya kesempatan ini saya gunakan sekalian untuk rekreasi. Jadi menghemat biaya akomodasi dan transportasi, karena kan ada SPJ nya. Bisa ke Jogja, Bandung, Bali, Lombok, atau ke Jakarta aja.

Apa saya termasuk korupsi?

Ngga dong, kan rekreasinya dilakukan setelah dinas selesai, jadi sama sekali tidak mengganggu kewajiban saya terhadap perusahaan.

Disamping itu, kegiatan mudik tahunan ke Jogja ya sekalian kami manfaatkan untuk rekreasi.

Bonus dan Insentif Tahunan

Karena jumlah bonus dan insentif lumayan besar, maka digunakan juga untuk kebutuhan yang besar, yaitu investasi. Jadi setiap bonusan uangnya ngga dipakai buat hura-hura tapi buat nambah asset. Bisa juga dengan memanfaatkan pinjaman yang diberikan perusahaan. Iya, biasanya yang namanya pegawai itu diberi kredit lunak oleh perusahaan. Kayak di kantor saya, kita tuh dikasih pinjaman dengan bunga rendah dan jangka waktu yang panjang. Gunakan itu untuk investasi

Trus gaji istri untuk apa?

Untuk asuransi

Untuk nyicil dana darurat

Untuk investasi jangka pendek, seperti tabungan berencana  buat sekolah Tara sampai SMP.

Untuk beli makeup, xixixi sama untuk kebutuhan insidentil kayak undangan dan jenguk orang sakit, untuk kegiatan sosial.

Nah, kalau sudah direncanakan begitu, mudah-mudahan keuangan keluarga bisa lumayan rapi. Dan yang penting ngga menjalani hari-hari kayak dikejar-kejar setan alias Ngos-Ngosan.

Satu lagi  prinsip yang ada di keluarga kami, selain jangan membeli atau merencanakan sesuatu di luar kemampuan, Kami juga sepakat terhadap satu hal, bahwa bertambahnya penghasilan, misalnya karena kenaikan gaji bukan berarti harus diikuti dengan upgrade life style. Its big no no deh.  Jadi, jangan gara-gara naik gaji, yang artinya kelonggaran tarik angsuran kredit dari hitungan gaji bertambah, maka langsung ambil kredit maning untuk ganti mobil. Kalau demikian percayalah, selamanya gaji yang ada akan habis untuk memenuhi gengsi demi kesesuaian jabatan dan gaya hidup. Buat apa?, emangnya kita hidup untuk memuaskan anggapan orang.

Ngga kan?

Kalau semua sudah terencana dengan rapi, Insha Allah masa depan keluarga bisa lebih baik, karena kita memiliki planning-planning yang akan dijalani. Namun tentu saja, ada campur tangan Yang Maha Kuasa di dalamnya, yang namanya rezeki kan memang Dia yang memberi.

So, itu tips perencanaan keuangan ala-ala keluarga kami. Bagaimana dengan anda?


Rumput Tetangga [Selalu] lebih Hijau

Minggu ini di grup BB saya lagi hangat membicarakan tentang hasil tes manajer yang seharusnya saya ikuti beberapa waktu lalu.

" Si A jadi MP di Kuta, si B di Medan PH,si C, di Jakarta kota"

Seneng denger kabar teman-teman yang berhasil lulus dan melaju ke jenjang karir berikutnya. Namun ternyata tak dapat saya pungkiri terselip sedikit rasa iri di hati.

" Duh, enaknya mereka, sudah selangkah di depan saya".

Sebagai manusia biasa terkadang kita memang tak bisa terhindar dari rasa iri melihat kesuksesan orang lain. Isltilah "Rumput tentangga lebih hijau" itu benar adanya. Di satu sisi banyak teman saya yang mungkin iri melihat hidup saya, saya pun demikian melihat mereka.

Ada ketakutan-ketakutan akan tertinggal dibanding teman-teman seangkatan yang ujung-ujungnya menjadi " Kalau saja kemarin saya ikut", " Mungkin saja bisa penempatan Medan", dst dst andai andai yang katanya pintu masuknya setan pun menguasai saya.

Kemudian saya lihat wajah putri kecil saya yang sedang menyusu dengan semangatnya. Ah, tiba-tiba saya malu pada diri sendiri, malu pada sang Pencipta. Saya ini sudah dilimpahi banyak rezeki tapi kok ya masih tidak bersyukur juga, masih merasa kurang juga.

" Sesungguhnya orang yang berkecukupan adalah orang yang di hatinya selalu merasa cukup dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus " (HR.Ibnu Hibban )

Plak, tertampar rasanya. Berarti mungkin saya masih termasuk orang fakir. Hmmm semoga di Ramadhan ini saya bisa mencuci otak saya dan menjadi orang yang berkecukupan dengan selalu merasa bersyukur.

Wanita di Era Digital: Aktif Tanpa Ribet



sumber:www.jalanhidup.jpg

Hidup adalah perjalanan
Membuka mata, melihat luasnya cakrawala
Di dalam perjalanan selalu ada hal istimewa
Karena perjalanan selalu akan memperkaya jiwa

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karena adanya sebab akibat. Bahkan rumput di atas pusara pun tumbuh karena suatu alasan.

Sebagai wanita bekerja , saya sering mendengar omongan miring dari orang-orang. Beberapa kali malah ada yang dengan terang-terangan mempertanyakan apa yang saya cari sehingga mau bersusah payah bekerja dari pagi sampai sore. Padahal gaji suami saya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.Bagi saya itu merupakan bentuk perhatian yang harus saya hargai.

Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi pilihan yang saya jalani.

Ada yang salah dengan kata-kata bersusah payah. Karena pada kenyataannya saya sangat menikmati peran sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.

Menurut saya, apapun pilihan yang diambil oleh seorang wanita terutama yang telah berkeluarga, bekerja di luar rumah atau menjadi full mother itu kembali ke diri masing-masing.

Sejak kecil saya selalu melihat ibu saya bangun pagi, menyiapkan sarapan kami, bersiap diri untuk kemudian pergi mengajar. Saya sangat mengagumi ketangguhan ibu. Sepulang mengajar , ia akan bergegas kuliah dan tiba di rumah hari sudah menjelang senja. Namun itu tidak dilakukan setiap hari, hanya 3 hari dalam satu minggu. Tapi entahlah, saya tidak pernah sekalipun merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

Saat saya ingin jalan-jalan ke mall ibu selalu ada. Saat saya mengenal cinta pertama ,ibu juga ada mendengarkan curhatan saya, dan saat hati remaja saya lebur , ibu ada untuk memeluk saya. Sungguh tak sekalipun saya merasa ibu mengabaikan keluarga demi pekerjaan. Bukti konkritnya, empat anak ibu memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Melihat itu, membulatkan tekad saya untuk tak ragu menjadi wanita karir. Saya sudah melihat contoh, bahwa ibu bekerja bisa menyeimbangkan antara keluarga dan dunia kerja.

Setamat kuliah Alhamdulillah saya langsung diterima bekerja di salah satu bank nasional. Tak lama berselang, saya pun menikah. Suami sama sekali tidak melarang saya untuk terus berkarya. Saya tidak menampik, bahwa dengan bekerja maka ada satu dua hal pekerjaan rumah tangga yag tidak dapat saya tangani. Memasak, mencuci misalnya. Tapi itu hal yang sangat mudah diatasi, karena saya melihat, para ibu yang bekerja di rumah pun kebanyakan menyerahkan pekerjaan tersebut ke tangan asisten rumah tangga.

Sampai saat ini saya belum dikarunia buah hati. Hal ini, saya tidak tahu menyebutnya seperti apa. Ada yang bilang mumpung belum punya anak, bolehlah bekerja. Ada juga yang mengatakan, gimana mau punya anak kalau kerja terus. Apapun itu, saya yakin rejeki tidak akan tertukar dan tidak akan salah alamat, apalagi datang terlambat. Menurut saya, sudah banyak doa-doa saya yang dikabulkan oleh-Nya. Kalau toh satu dua hal saya disuruh menunggu, saya akan terima itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

sumber:  http://retnodamayanthi.files.wordpress.com/2008/06/wanita-karir21.jpg 

Selagi diberi Allah berupa kelonggaran dalam hal waktu, saya memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya merasa memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika tidak didaya gunakan. Bagi saya, itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap talenta yang diberikan.

Namun memang tak selamanya hal tersebut semudah yang dikatakan. Dua tahun lalu, perusahaan memutasikan saya ke Jakarta. Berpisah dengan suami di Medan. Mutasi tersebut bukan tanpa sebab, tapi merupakan apresiasi perusahaan terhadap kinerja saya. Tentu saja saya bangga, senang. Namun ada dilemma di hati, harus memilih antara meninggalkan suami atau menerima tugas tersebut.

Kesempatan tidak datang dua kali. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya berangkat. Bagi saya dukungan dari suami sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja. Ternyata tantangan yang saya hadapi semakin berat. Disamping tanggung jawab yang semakin besar, saya pun harus memikirkan suami di Medan. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati semua itu.

Namun, di era digital ini, begitu banyak kemudahan yang bisa kita dapati. Semua seolah berada dalam genggaman. Jarak beratus kilometer pun dapat terjembatani dengan kecanggihan teknologi. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi otak-otak pintar kepada para penemu internet. Karena bantuan alat tersebut, saya dan suami bisa berkomunikasi dengan lancar. Dimanapun selama ada sambungan internet dan computer, saya bisa skype-an bersama suami. Terkadang, webcam bisa aktif nyala semalaman, sementara saya melakukan apa, suami juga melakukan pekerjaannya, berasa seperti di dalam satu ruangan.

Gambar dari sini

Disamping internet, kami juga menggunakan ponsel sebagai media berkomunikasi. Setelah ada BB, menjadi lebih mudah lagi. Setiap pagi saya akan mengirim foto diri saya, sebagai pelepas rindu. Bahkan dengan dukungan para pebisnis termasuk perbankan, memudahkan saya melakukan reservasi tiket pesawat dan melakukan pembayaran-pembayaran yang seabrek-abrek. Jadi walaupun, saya tidak ada di rumah, segala jenis tagihan seperti telepon, listrik, air, bisa teratasi hanya dengan memencet sejumlah angka di ponsel. Teknologi yang sangat memudahkan.

Hal yang dikhawatirkan tentang keharmonisan rumah tangga yang akan terganggu oleh jarak, Alhamdulillah tidak kami alami selama ini. Semoga selamanya seperti itu. Bahkan , jarak yang memisahkan membuat kami merajut rindu setiap hari. Rasanya , kembali seperti pacaran. Saling menyapa, bertanya sudah makan belum, sedang apa, persis abege jaman sekarang. Siapa sangka kami malah tambah mesra.

Saya tidak mengingkari kuantitas pertemuan dalam suatu keluarga itu sangat penting. Namun, kalau kondisi tidak memungkinkan, pilihan ada pada kita, mau menyesalinya, atau mencari cara untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, saya memilih daerah-daerah yang saya kunjungi untuk perjalanan dinas yang berdekatan dengan Medan. Agar bisa sekalian bertemu suami. Malah pernah saat saya ke Bali, suami saya ajak serta selama seminggu, sekalian honeymoon deh jadinya. Selalu ada kemudahan dalam kesempitan.

Dengan keterbatasan waktu saat bertemu, membuat saya dan suami menjadi saling menghargai. Saling mengerti tanpa harus diutarakan. Kami bisa duduk berdua dalam diam, hanyut dalam kegiatan masing-masing, namun kami tahu kami ada dalam frekuensi dan gelombang yang sama.

Begitu pula, waktu yang terbatas tersebut membuat kami lebih kreatif mencari cara agar tetap bisa bersama, mengunjungi orangtua, bermain dengan keponakan, dan menghadiri undangan pesta rekan kerja atau kerabat. Hal tersebut bisa karena terbiasa.

Banyak hal yang saya dapati saat bekerja. Apalagi saya bekerja di bank yang bergerak di sektor mikro. Membantu membiayai usaha nasabah, melihat jatuh bangun mereka, memberi saja pelajaran baru tentang semangat pantang menyerah. Saya jadi tahu bagaiaman kiat-kiat untuk membangun usaha yang bagus. Selain itu, bertemu orang-orang dengan berbagai type kepribadian, makin memperkaya dan mengasah rasa empati dan toleransi yang saya miliki. Saat saya berinteraksi dengan nasabah, baik eksternal maupun internal, bisa menyelesaiakan masalah mereka, menjawab pertanyaan, dan membantu mempermudah pekerjaan mereka, hal itu bagi saya sudah merupakan kontribusi saya dalam kehidupan.

Dengan bekerja pula, saya belajar hal-hal baru, yang semakin meluaskan wawasan. Diakui atau tidak, saya dan suami bisa menjadi teman diskusi yang sangat klop, karena dia bergerak di bidang perkebunan dan industry sedangkan saya perbankan membuat kami saling take and give terhadap berita-berita dari masing-masing pihak. Menyenangkan sekali bukan, memilki teman diskusi yang kita cintai. Bahkan banyak teman suami yang sering bertukar pikiran dengan saya untuk masalah-masalah perbankan yang mereka alami.

Dan yang paling menyenangkan, saya bisa mengunjungi banyak daerah saat perjalanan dinas. Hal yang mungkin akan sulit saya lakukan kalau saya tidak bekerja. Sara pernah ke daerah rawan bencana di pelosok negeri ini. Melihat dari dekat lokasi-lokasi tersebut membuat saya semakin mensyukuri hidup ini.

Ketahun, Bengkulu
Bagi saya bekerja bukan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga. Malah membuat saya belajar untuk lebih gesit, lebih pintar mengatur waktu dan kemampuan mengatur strategi antara membagi waktu kerja, keluarga, liburan dan kegiatan social. Tak jarang saya mengambil cuti jika ada acara kantor suami yang mewajibkan saya hadir. Sebisa mungkin, bekerja tidak menjadi penghambat.

Saat saya jauh dari suami, membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya. Saya selalu mengusahakan mengabari dimanapun saya berada. Walaupun ia tidak disamping saya, saya akan selalu meminta izin padanya jika ingin pergi ke suatu tempat yang agak jauh. Bagaimanapun saya adalah tanggung jawabnya. Dan saya juga berkewajiban menjaga kehormatannya.

Demikian pula, waktu-waktu luang sepulang kerja, yang mungkin kebanyakan wanita melewatkannya dengan berbagai kesibukan di rumah, saya mengisinya dengan melakukan hal-hal yang menjadi passion saya. Membaca, menulis, berselancar di dunia maya, yang mungkin tidak akan seleluasa saat saya berada di rumah. Tidak banyak, namun ada beberapa tulisan saya yang sudah mejeng di buku dan nangkring di rak Gramedia. Saya hanya berusaha menerima keadaan dengan melakukan hal-hal yang memberi nilai lebih.Dengan teknologi digital, melalui media sosial seperti facebook, twitter saya juga sering mengikuti lomba-lomba menulis. Jadi jangan gunakan media sosial hanya untuk menghabiskan waktu. Dari hobi saya itu, saya malah berkesempatan memenangkan hadiah dari yang kecil-kecil sampai yang terbilang lumayan. Nah kan, hobi kalau ditekuni jadi sangat menyenangkan.

Antologiku
Bekerja juga turut memperngaruhi cara saya berpenampilan. Saya jadi terbiasa tampil rapi kemanapun. Setidaknya saya akan berdandan saat ke kantor.Bukan dandan yang berlebihan, seperlunya dan sepantasnya saja.  Dan karena terbiasa dengan rutinitas, maka saya pun terbiasa dengan ritual kecantikan yang membuat saya selalau merasa fresh. Agar selalu tampil segar, setidaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi rekreasi tersendiri bagi saya. Minimal sebulan sekali ke salon, memanjakan diri, merilekskan otot-otot yang tegang . Dan untuk itu semua, saya bisa melakukannya sesering saya mau, karena saya memiliki budget dari uang pribadi yang saya hasilkan sendiri.

Bekerja juga membuat kebutuhan pakaian saya menjadi spesifik. Cukup tiga kategori, baju kerja, baju santai, dan baju kondangan atau arisan. Karena sudah terkategori demikian, saya tidak pusing. Baju kerja saya sangat simple, hanya berupa blazer dan kemeja. Dengan begitu menghindarkan saya dari belanja yang tidak perlu. Karena saya sudah tahu jenis pakaian yang saya butuhkan. Disamping itu dengan bertemu berbagai macam orang dari berbagai kalangan, memberi saya kemudahan melihat trend fashion yang lagi in. Lumayan, referensi gratis.


Satu hal yang mungkin tidak banyak disadari, keuntungan bekerja adalah memiliki networking yang luas, dari berbagai macam orang dan berbagai macam kalangan. Setidaknya saya memiliki relasi dari Sabang sampai Merauke, juga dari instansi-instansi yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena semakin banyak orang yang kita kenal dan mengenal kita maka semakin banyak kesempatan dan keberuntungan yang bisa kita raih.

Ya bekerja memberi saya triple bonus sekaligus, gaji setiap bulan, peluang belajar menjadi ahli, serta pengalaman yang laku dijual.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wanita, karena itu ia disebut makhluk multitasking. Di era digital ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Wanita di era digital adalah wanita yang tahu apa yang ia mau.Bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya .

Keterbatasan waktu dan ruang bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Tidak ada excuse dalam setiap hambatan. Teknologi yang ada , manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendukung segala aktivitas kita. jangan hanya sebagai pengisi waktu luang yang kurang menghasilkan.

Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Suami yang mencintai saya, keluarga yang selalu mendukung, sahabat yang peduli. Hal-hal tersebut semata-mata adalah curahan kasih sayang-Nya kepada saya. Apa yang telah diberi-Nya membuat saya semakin merasa semakin kecil .

Me, My Life
Sampai hari ini, saya masih berharap dan tak henti berdoa agar diberi jalan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Juga agar diberi kepercayaan menerima titipan-Nya. Sembari menunggu doa-doa saya diijabah, saya hanya bisa mengisinya dengan menghargai setiap tetes cinta-Nya dalam kehidupan saya.

Menjadi wanita bekerja diluar rumah, atau bekerja di dalam rumah, atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memiliki sisi positif masing-masing. Apa yang saya utarakan panjang lebar diatas semuanya dapat dimiliki dan dilakukan oleh ibu yang bekerja di dalam rumah maupun ibu rumah tangga. 

Setiap orang mungkin ditakdirkan untuk memainkan peran yang berbeda- beda yang dibutuhkan untuk membentuk keharmonisan dalam dunia yang tak selebar daun kelor ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan suatu saat saya menjadi ibu rumah tangga. Dan karena tuntutan kebutuhan, ibu rumah tangga menjadi wanita karir. Bukankah hidup adalah misteri?. Apapun peran kita, selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, ikhlas maka akan ada imbalan dari yang maha Kuasa untuk itu semua.

Perjalanan, seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk sampai di tujuan. Semoga dengan rute yang berbeda-beda, perjalanan hidup kita masing-masing berakhir di tempat yang paling indah.

Let's Check This Story


video