Showing posts with label working mom. Show all posts
Showing posts with label working mom. Show all posts

Working Mom's Story: Antara Pekerjaan dan Keluarga

Monday, May 22, 2017


Dalam sebulan ini, saya ngalamin apa yang disebut pepatah bahwa “ Hidup adalah pilihan”

Beeeugh dalem banget nih kayaknya postingan, hahahah.

Yup, sering denger kan yah kata-kata mutiara tentang kehidupan.

Bahwa hidup adalah pilihan

Dalam hidup kita harus memilih

Bahwa hidup adalah bukan sebuah kebetulan

Bahwa yang namanya hidup ada setiap konsekuensi dari setiap pilihan, halah.

Sampai khatam dengernya.

Sebagai ibu bekerja, ya gitu, tiap hari dari mulai bangun pagi sudah dihadapkan oleh pilihan-pilihan. Mau pilih ngelonin anak sambil cium-cium aroma tengkuknya yang surgawi banget atau bangkit dari tempat tidur, segera mandi dan dandan sebelum si mungil keburu bangun dan malah telat ngantor.

Sampai di kantor, kerja, pas mau pulang pun kembali di hadapkan ke pilihan, mau tetep stay di depan computer sankin asiknya kerja, atau segera beresin meja dan bergegas capcus biar masih sempet main sama anak di rumah.

( Baca : Hidup Ini harus Memilih )

Iyes, kedengerannya sederhana banget kan yah.

Ya iyalah, kalau ada pertanyaan pilih kerjaan atau keluarga, pastilah jawaban semua orang lazimnya bakal pilih keluargalah. Keluarga is numero uno. Ngga ada yang memenangkan pilihan kalau ada keluarga di antaranya

Namun, ternyata jawaban semudah itu ngga selalu terjadi di setiap kondisi.

Ada kalanya keluarga memang harus di pihak yang harus dinomorduakan. Bukan berarti posisinya jadi tidak lebih penting di banding kerjaan, tapi memang ada saat-saat karena pertimbangan tertentu, pekerjaan menjadi prioritas.

Kalau di saya ini sudah terjadi beberapa kali.


Antara keluarga dan kesempatan


Tepat 4 tahun lalu, saya dihadapkan langsung ke pilihan keluarga atau pekerjaan.

Saat itu saya baru melahirkan anak pertama saya Tara. Anak yang sudah dinanti selama 5 tahun lamanya. Baru 3 hari keluar dari rumah sakit, saya ditelepon kantor, pemanggilan assesment untuk naik ke level manajer.

Tentu saja itu tawaran yang menggiurkan, naik grade, naik gaji, perubahan status plus tambahan fasilitas bakal mengikuti di belakangnya.

Namun tentu saja nantinya ada konsekuensi yang harus saya jalani. Yup, terdapat kemungkinan saya bakal mutasi. Namanya bekerja, mutasi kemana itu kan seperti bola liar, ngga ada yang tahu kemana tembakannya. Padahal, saya baru saja berkumpul dengan suami saya setelah LDR-an selama 3 tahun. Ditambah baru saja menikmati peran sebagai ibu baru.

Hadeeeeh, kala itu bener-bener dilemma deh buat saya.

Namun akhirnya saya putuskan untuk merelakan kesempatan itu berlalu. Yup, saya memilih tetap stay bersama keluarga. Ah kesempatan, walau katanya tak mungkin datang dua kali, tapi masih ada peluang untuk datang kembali kan?. Sedangkan kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak akan bisa tergantikan.



Antara Pekerjaan dan Pengabdian


Hasek, judulnya ngeri.

Yup, kembali saya dihadapkan pada pilihan antara keluarga dan pekerjaan.

Sebulanan lalu, saya dapat panggilan pendidikan ke Jakarta. Duh seneng bangetlah pastinya. Pokoke selalu seneng kalau ada panggilan pendidikan or training karena ada kesempatan jalan-jalan ke Jakarta hahahaha. Bisa ketemuan sama temen dan bisa seminggu bebas dari rutinitas kerjaan, Cuma makan minum di diklat sambil belajarlah ya pastinya, LOL.

Udah persiapan dong, pakaian udah dipacking, tiket udah dipesan. Rencana pergi hari Minggu, dari Sabtu udah nelfon omanya Tara biar bisa jemput anak-anak. Diungsikan ke rumah oma dulu selama saya di Jakrta rencananya.

Namun, namanya manusia berencana , Tuhan juga yang menentukan. Besok pagi mau berangkat, eh malamnya mas Teguh sakit. Demam tinggi dan mulutnya sakit sampai level ngga bisa dibuka sehingga ngga ada makanan dan minuman yang bisa masuk.

Keesokan paginya saya paksa mas Teguh ke rumah sakit. Awalnya Mas Teguh nyuruh saya tetap berangkat, karena dia pikir dia bisa mengurus diri sendiri. Namun, namanya juga istri manalah tenang membiarkan suaminya ke rumah sakit sendiri.

Jadi pagi itu saya bawa Mas Teguh ke RS, setelah diperiksa segala macam ternyata harus opname karena memang suhu tubuhnya tinggi banget, 39’C dan karena sudah dua hari ngga makan apa-apa jadi kondisi tubuhnya lemes banget. Hasil pemeriksaan sementara sepertinya amandel dan disarankan untuk operasi.

Yha dhalah langsung nelfon kantor, batalin training, dan telfon ke maskapai penerbangan, batalin tiket.

Kali ini saya masih tetap memilih keluarga dibanding pekerjaan. Toh training masih bisa diikuti lain kali, namun kesehatan suami, bisa memburuk atau membaik saat itu saya tidak tau. Ngga pengen aja menyesal jika sesuatu terjadi saat saya lebih memilih kerjaan dibanding menemani suami.

Dan Alhamdulillah saya ngga pernah menyesalinya.

( Baca : Dear Rekan Kerja, Maafkan kami Para Working Mom )



Antara Pekerjaan dan Anak

Saya pikir, hal-hal seperti itu bakal membuat saya gampanglah ntar-ntar kalau ada kejadian serupa.

Namun ternyata saya salah.

Semingguan yang lalu, anak saya Tara sibuk minta ulang tahunnya agar dirayakan di sekolah. Sebenarnya ulang tahunnya sendiri tanggal 28 Mei ini, tapi karena tanggal 20 merupakan hari terakhir sekolah, maka acara ulangtahun dimajukan jadi hari kamis tanggal 19 Mei 2017.

Saya ngga ambil cuti, karena minggu sebelumnya saya sudah cuti dan tentu saja karena saat ini kondisi kerjaan di kantor lagi lumayan hectic. Jadi rencana saya, saya bakal datang menjelang jam istirahat kantor, merayakan ultah, selesai acara balik lagi ke kantor. Saya perkirakan palingan cuma 2 jam-an.

Biar ngga rempong, segala sesuatu sudah saya siapkan. Mulai dari kue ultah, balon, dekor, makanan sampai gudie bag untuk teman-teman Tara.

Yha dhalah, di hari H ultahnya, tiba-tiba ada pemberitahuan undangan meeting karena ada Kepala Divisi datang dari Kantor Pusat. Saya masih tenang karena saya pikir palingan menjelang makan siang rapat sudah selesai dan saya bisa langsung ke sekolah Tara.

Namun ternyata sampai menjelang jam makan siang belum ada tanda-tanda selesai, padahal anak TK nya juga udah mau pulang.

Sempat terfikir untuk ijin sebentar dari meeting, pergi ke sekolah Tara , ikut acaranya bentar kemudian balik lagi meeting. Namun setelah saya hitung jarak dan waktunya sepertinya ngga memungkinkan. Saya malah bakal ngga dapet dua-duanya. Dengan jarak yang lumayan jauh, kalau saya ke sekolah pasti acara sudah selesai, ntar saya balik lagi ke kantor, pasti meeting juga udah selesai.

Akhirnya dengan berat hati, saya telpon bu gurunya Tara, meminta blio untuk memulai acara tanpa menunggu saya.

Sedih?

Bangetlah.

Udah kebayang mau nyanyi-nyanyi sama Tara, potong kue, hepi-hepilah.

Mana sempet ngobrol lagi sama Tara

“ Tara, kalau bunda ngga ikut acara ulang tahunnya gimana sayang”

“ Ngga apa bunda, Tara kan anak pintar, Tara bisa ulangtahun sama kawan-kawan”


Ngga tau deh gimana menggambarkan perasaan saya. Kecewa pastinya.

Saya ngga kecewa atau marah sama kantor sih, hanya ya kecewa saja, karena semua memang di luar kuasa saya.

Nah kali ini keluarga saya kalahkan. Ultah anak saya, saya relakan berjalan tanpa saya dan saya memilih stay di ruangan meeting. Bukan berarti meeting lebih penting dari ulang tahun anak. Tapi memang ada kalanya pilihan yang terlihat gampang begini pun memerlukan pertimbangan dulu.



Yah begitulah, terkadang menjadi ibu bekerja itu memang kita dituntut untuk berani memilih diantara keluarga dan pekerjaan. Karena yang namanya seorang perempuan yang sudah menikah, pasti punya tanggung jawab di keluarga. Namun karena ia bekerja ia pun memiliki kewajiban dan tanggung jawab di kantor.

Memilih salah satu, tak berarti membuat yang lain menjadi kurang penting. Ini hanya masalah skala prioritas di waktu tertentu.

( Baca : Profesionalisme Ibu Bekerja )

Yup menjadi ibu bekerja, pasti kita akan sering dihadapkan dengan tantangan rasa bersalah bila harus mengutamakan pekerjaan di waktu tertentu, ga apa kok itu wajar saja. Namun jangan dibawa berlarut-larut karena memang harus kita sadari saat kita memilih bekerja ada konsekuensi yang harus kita jalani.

Nah menurut pengalaman nih, ada beberapa hal yang biasa saya lakukan sebelum memutuskan sesuatu, saya pengen share kepada pembaca saya siapa tau bermanfaat.

Saat kita dihadapkan pada pilihan kerjaan atau keluarga , segera ajukan beberapa pertanyaan ke diri sendiri.

Apakah bisa ditunda atau digantikan?

Ini misalnya pilihan antara pendidikan atau menemani suami sakit, kayak yang saya alami. 

Saya langsung tanyakan ini ke diri saya. 

Bisakah pendidikan ditunda atau digantikan teman?

Jawabnya bisa. Pendidikan akan ada batch lain.

Bisakah kehadiran saya disamping suami digantikan orang?

Jawabnya tidak, karena suami saya type orang yang hanya mau diurus sama istrinya, dan disini dia tidak memiliki keluarga selain keluarga saya.

Maka ya udah , saya pilih membatalkan pendidikan dan stay disamping suami.


Apakah ada kemungkinan kesempatan lain?


Ini saat kejadian pemanggilan assesment saat saya baru melahirkan dan baru ngumpul bersama suami setelah 3 tahun LDR.

Apakah assesment akan ada di lain kali?

Yes ada, karena ini perusahaan besar akan selalu ada job opening,namun paling saya akan tertinggal dibanding teman seangkatan saya. 

Apakah saya siap untuk mutasi pada saat ini?

Jawabannya tidak. Saya ngga siap jika berpisah lagi dengan suami saat anak saya masih bayi banget. dan saya masih enjoy dengan jabatan saat itu.

Maka saya pilih tidak ikut assesment


Namun berbeda saat pilihannya ultah atau meeting kantor.

Kembali saya ajukan pertanyaan ke diri sendiri


Apakah bakal ada lain kali?

Jawabannya tidak. Tidak setiap saat kepala divisi datang untuk memberi pengarahan. Apa yang disampaikannya adakah yang saya butuhkan untuk melakukan pekerjaan saya ke depan. Jika saya tidak ikut meeting, saya mungkin tidak bisa menyampaikan ke anggota saya apa yang seharusnya saya sampaikan berdasarkan evaluasi kantor pusat.

Kemudian saya tanya juga pertanyaan itu untuk bagian ultah anak.

Apakah kalau saya tidak ada acara bakal tetap berlangsung?

Ya, ulang tahun akan tetap terlaksana karena acara di sekolah dan semua sudah saya siapkan.

Apakah anak saya bakal sedih?

Tentu saja,pasti lebih bahagia kalau saya ada disitu. Tapi saya bisa mengulang ultahnya kalau mau atau membuat acara sekali lagi bersama saya dan papanya di rumah. 

Maka akhirnya saya pilih meeting dibanding ultah Tara.

Jadi keputusan yang diambil tidak berdasarkan perasaan semata tapi keputusan yang diambil dengan pertimbangan logis. Dengan cara ini ,mudah-mudahan akan meminimalisir perasaan bersalah atau perasaan ngga enak misalnya.

Jadi, ibu-ibu bekerja tetap semangat yaaaa, hahah ini sebenarnya lagi menyemangati diri sendiri ceritanya. 

Jangan jadikan pilihan antara pekerjaan atau keluarga menjadi hal yang menimbulkan perasaan bersalah, sedih atau  penyesalan. Karena semua sudah melalui pertimbangan logis terbaik.

Seperti kata teman saya Annisast, Priority is bullshit. karena prioritas selalu bergantung pada situasi, kondisi dan urgensi.

Yuk tetap semangat semuaaaa. muuah mmuah



#CelotehTara : Bunda Jangan Kerja

Monday, March 13, 2017
Sekarang Tara udah cerewet banget. Ngomongnya banyaaak banget. Dia bisa tahan ngoceh ngga berhenti-henti, padahal saya udah hampir setengah watt sangkin capeknya pulang kerja.

Iya, sejak beberapa bulan ini saya nyampe rumah selalu malam. Jadi ya terkadang udah capek pengennya lansgung bobo, tapi anaknya masih ngajak main.


Boong bangetlah yang bilang, kalau melihat anak di rumah, semua lelah langsung hilang.

Ngga..... bahagia iya.

Seneng iya melihat mereka.

Tapi yang namanya capek ya capek aja.

Oke, ini bukan postingan mau ngeluh sih ah.

Jadi weekend kemarin, seperti biasa saya selama dua hari yang maiiiin terus sama Tara dan Divya. Pokoknya weekend adalah haknya merekalah. 

Nah karena Tara udah pinter ngomong dan omongannya juga udah bermakna gitu, jadi kadang sering bikin mellow.

Jadi sekarang dia tiap saya pulang kerja, trus saya mau mandi, pasti langsung ngomong " Bunda ngga mana mana lagi kan siap ini, bunda ngga mana mana kan?, bunda di rumah aja kan"

Kalau lagi normal sih saya fine -fine aja dengernya.

Palingan dijawab

" Ngga sayang, bunda di rumah aja, kan udah pulang"

Tapi kalau pas PMS, huhuhu langsung mberebes mili dengernya.

Kemarin malam juga gitu. Abis mandi sore, saya makein baju Tara, trus sambil dipakein baju dia peluk-peluk saya gitu.

" Bunda... bunda jangan kerja yah, biar papa aja yang kerja, bunda di rumah aja jaga Tara sama adek. ya kan bunda... ya kan..."

Sesaat saya diem.

Pertama, wow saya kaget dengan kosakata Tara yang komplit dan teratur banget gitu.

Kedua saya speechless nih anak ngerti ngga sih apa yang diomongin. Kok bisa dia ngomong gitu.

Huhuhuhu makanya langsung mellow.

Trus saya jawablah 

" Bunda kan kerjanya cuma dari pagi sampai sore, malamnya kan kita tetap main. Boleh ya bunda kerja"

" Ehmmmm (sambil mikir dia, jari telunjuknya diketuk2an ke dagu, ala orang dewasa), ok deh bunda, tapi jangan lama-lama ya"


Tapi ada kalanya, dia yang fine-fine aja kalau lihat saya berangkat kerja , bahkan kadang ikut menyiapkan tas kerja saya.

" Bunda mau kerja ya"

" Iya... boleh ya"

" Boleh bundaa....ati-ati yah"


Nah itu kalau lagi bahagia dia, xixixi.


Ni inti ceritanya apa nih.

Ngga ada intinya sih. Cuma mau cerita aja.

Terkadang menjadi ibu bekerja itu tantangannya bukan karena tekanan pekerjaan, tapi ya yang gini-gini ini. 

Kalau kebetulan lagi mellow bisa kepikiran. Tapi seiring jalannya waktu, yah si anak kadang ngga peduli, kadang komplain sama ibunya.

Hmmm, begitulah namanya juga hidup.

Buat ibu-ibu bekerja di luaran sana. Stay strong, stay cool.

Saat perasan mellow melanda, jangan malu untuk terbawa perasaan. Mungkin akan muncul rasa bersalah, mungkin akan muncul rasa tidak tega.

Its oke. Hadapi saja, nikmati saja.

Besok-besok, saat anak kita lupa perkatannya, tetap selalu ingat bahwa ada anak kita di rumah yang selalu menunggu kepulangan kita.

Sini-sini yuk pelukan dulu, saling menguatkan.

Pengen Resign Aja

Wednesday, December 28, 2016

ibu bekerja di luaran sana, setuju ngga kalau saya bilang menjadi ibu bekerja itu sungguh menyenangkan.

Hayoo coba angkat tangannya yang setuju.

Satu dua, 893652820 orang, wow.

Baca punya Gesi :

Haahaha, iyalah siapa sih yang ngga setuju kalau dibilang menjadi ibu bekera itu surga.

Gimana ngga?

Setiap hari bisa ketemu orang baru, pengalaman baru, melakukan hal-hal seru, dibayar pulak.

Mau beli baju tinggal ke toko, mau beli sepatu tinggal pilih warna.

7 Makanan Yang Harus Ada Di Kulkas Untuk Mempermudah Ibu Bekerja

Tuesday, October 25, 2016


Makanan yang harus ada di kulkas untuk mempermudah ibu bekerja

Sebelum memiliki ART komplit yang pinter masak seperti saat ini, saya mau ngga mau harus masak sendiri untuk makan kami. Sempet sih katering, tapi karena kateringnya rasanya pedes banget, suami malah ga bisa makan, kepedesan cuuuy, Mas Teg mah orang Jawa tulen yang samsek ngga doyan cabe.

( Baca : Drama ART )

Jadi akhirnya saya putuskan masak sendiri, apalagi toh saya harus masak juga buat makannya Tara, yo wis sekalian.

Nah, karena saya bekerja, jadi ngga mungkinlah bisa masak yang ribet. Disamping waktunya mefet, kemampuan juga mefet sih cyin hahaha. Saya masaknya kan pagi hari sebelum berangkat kerja, trus pulang kerja masak lagi. Doooh capeklah pokoke. Jadi sebisa mungkin yang perlu diringkes ya diringkes aja.

Tentang Profesionalisme Seorang Ibu Bekerja

Monday, September 19, 2016

Dear Rekan Kerja,Maafkan Kami Para Working Mom

Sunday, September 18, 2016

Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui

Thursday, September 1, 2016
Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui


Sebagai ibu bekerja, mau ngga mau pasti suatu saat akan behadapan dengan yang namanya perjalanan dinas. Perjalanan dinas ini biasanya adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu lho. Saya mah hepi banget kalau dapat SPJ (Surat Perintah Jalan) dari kantor. Karena artinya bakal jalan-jalan gratis dibiayai kantor, yipiiie. Padahal jalan-jalannua cuma di bandara,hotel,kantor doang xixixi.

Tapi itu dulu sih sebelum punya anak. Begitu udah punya anak apalagi saat masa menyusui, yang ada biasanya saya bakal menghindar untuk dinas luar kota. Kalau ngga perlu-perlu amat, minta digantiin aja sama rekan kerja lain, soalnya rempong sih yak. Harus mikirin anak yang ditinggal, trus mikirin harus pumping selama perjalanan, hwaaa aku males pusing.

( Baca : Untukmu Ibu Yang Gagal Memberi ASI Eksklusif )

11 Hal Yang Harus Dipersiapkan Ibu Bekerja Agar Sukses ASIX

Monday, June 6, 2016



Persiapan Menyusui Untuk Ibu Bekerja

Untuk ibu bekerja yang baru punya bayi, hari-hari menjelang masuk kantor kembali itu kadang bikin nervous.

Nitipin Anak Sama ART? Ibu Macam Apa Kamu

Thursday, April 28, 2016
Halooo, mau woro-woro nih, kalau sekarang di windiland bakal ada #GesiWindiTalk . Semacam postingan bareng saya dan Gesi, itu lhooo maminya Ubi yang paling ngeheits sejagad blogger ^_^. Nantinya kita bakal bahas hal-hal ringan seputar woman talk deh, ya anak, ya keluarga, ya kerjaan. Pantengin ya, tapi 2 minggu sekali sih, soalnya sibuk boooo, hahahaha.

Gerakan Bawa Bekal Ke Kantor

Friday, April 22, 2016
Eh ternyata tanggal 12 April kemarin diperingati sebagai Hari Bawa Bekal ya?. Wah baru tahu saya ada juga peringatan harinya. Dan ternyata juga hari ini adalah hari Bumi. Kalau yang ini sih saya sudah sering dengar.

Hmmm, hari bekal dan hari bumi, kayaknya pas banget buat dibahas bareng. Yuk mari

Sebagai ibu pekerja yang "cerdas" dan cinta lingkungan saya termasuk pendukung garis keras gerakan bawa bekal ke kantor xixixi. Pokoknya selagi sempat, ngebekel is a must.

Antara Kartini, Kebaya dan Peran Wanita Di Balik Banking Hall BRI

Thursday, April 21, 2016
Gara-gara status dedengkot mojok Agus Mulyadi tentang perdebatan yang selalu terjadi di hari Kartini, jadi pengen nulis juga tentang itu.

Tentang Hari Perempuan Internasional

Tuesday, March 8, 2016

Pada tahu ngga kalau hari ini adalah hari perempuan internasional?

Saya tahunya dari facebook. Pagi- pagi udah diingetin soalnya.

Kalau ngomongin tentang hari perempuan pasti keingetannya langsung ke sosok-sosok perempuan tangguh di jaman dahulu kala. Kayak ibu Kartini lah salah satu contoh perempuan paling ngeheits abad ini.,

Wishlist 5 Barang Kebutuhan Menjelang Masuk Kantor Kembali

Wednesday, February 3, 2016
Kalau saya didatangi jin ala aladin, trus dikasih kesempatan untuk membuat 3 permintaan yang bakal dikabulkan. Tahu ngga apa yang bakal saya minta?.

Pertama, saya pengen bisa menguasai seluruh bahasa di dunia ini, karena dengan menguasai bahasa saya yakin saya bisa punya kesempatan mau ngapain aja.

Kedua, saya pengen diberi kesempatan kembali ke jaman Rasulullah dan merasakan hidup bersama beliau. Ini karena keimanan saya suka naik turun kayak roller coaster.

Ketiga, saya pengen punya pintu kemana saja. Ini kepikiran karena saya kan lama banget LDR-an sama suami

Karena Isi Kepala Tak Bisa Ditebak

Saturday, January 30, 2016
Book Addicts is The New Sexy?
Siapa yang ngga setuju kalau saya bilang kecanduan buku itu salah satu gaya sexy yang baru.

Haaah, kamu ngga percaya? 

Baiklah saya perjelas dulu dengan gambar berikut


Aaaagh, sexy kan seksi kaan??

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak dari Ibu Bekerja?

Friday, December 18, 2015

Tentang Menjadi Anak Dari Ibu Bekerja
Gambar dari Sini 

Bagaimana rasanya jadi anak yang dibesarkan oleh ibu bekerja?

Hmmm, ditengah banyaknya status-status dan war-war an antara ibu bekerja dan ibu yang di rumah soal pengasuhan anak, kayaknya yang paling tepat itu ditanyakan langsung deh ke anak -anaknya. Ya ngga sih?. Percuma kan buibu itu udah perang opini, lha yang merasakan enak ngga nya masing-masing peran bukannya si anak yah.

Istri Idaman dan Istri Tak Diidamkan

Thursday, December 3, 2015
Beberapa hari lalu saya membaca status seorang suami yang dishare ribuan orang, dan terbaca saya saat ada teman di facebook yang mensharenya juga.

Saya ngga capture statusnya , tapi saya tulis ulang saja yah disini :


Punya istri cantik dan wangi mengoda
Istri Berangkat kerja jam 8 pagi pulang pun jam 8 malam

Ingin Jadi Anak Kesayangan Bos? Ini Dia Kiat-Kiatnya!

Thursday, November 19, 2015
[Sponsored Post]

Untuk dapat melangsungkan kehidupan setiap orang dituntut bekerja, atau paling tidak menjalankan sesuatu yang dapat memberikan income, jenisnya sendiri beragam mulai dari menawarkan barang atau mungkin jasa yang mereka miliki. Ada tuntutan bahwa setelah memasuki usia dewasa siapapun itu dapat merasakan dunia kerja dan menghasilkan uang sendiri. Mungkin banyak yang bercita-cita menjadi PNS, mengingat gaji PNS tetap dengan pekerjaan yang mudah, hanya saja bagi yang menginginkan kekayaan tak bisa mengandalkan satu pekerjaan tetap tersebut.

Me Time

Thursday, October 22, 2015



" Kalau harus me time trus ninggalin anak di rumah, itu mah namanya ibu-ibu egois. Bagi saya sih me time seorang ibu ya ngabisin waktu sama anaknya. Saya ikhlas kok melakukannya ngga terbebani sama sekali. Kalau udah punya anak itu, ya jangan egois, harus mikrin keluarga"

" Setujuuuu bun, aku juga gitu ngapain pake me time- me time -an"

" Setuju bund, main sama anak kan udah jadi me time yah"


Dan kemudian komen si ibu disambut gegap gempita bunda-bunda lain yang merasa terwakili.

Mengelola Keuangan Keluarga Ala Ibu Bekerja

Monday, October 19, 2015
Dulu, saat masih single, rasanya gaji saya yang tak seberapa itu kok cukup-cukup aja ya buat hidup. Eh giliran nikah, yang berarti punya penghasilan tambahan dari suami kok yaaa kayaknya kebutuhan hidup itu makin lama makin besar. Apalagi setelah punya anak, widih rasanya gaji sebesar apapun pengennya lebih lagi lebih lagi.

Dapat suami yang orangnya sloooow banget. Apa-apa dibawa nyantai. “ Tenang aja dek, rezeki udah ada jatahnya, ngalir aja jangan khawatiran gitu”

Iya sih rezeki emang udah yang ngasih, lha giliran udah ditangan kalau ngga diatur piye dong. Bisa-bisa capek-capek kerja, cuma dapat tagihan doang, ngga bisa punya apa-apa dan ngga bisa ngapa-ngapain. Ya gitu kalau jodohnya suami yang anteng, nyantai kayak di pantai.

Saya mah ogah ngikutin gayanya dia. Kalau sama-sama begitu, bisa hajablah rumah tangga kami. Makanya sebagai istri yang peduli masa depan keluarga #cieeee, walau sederhana, saya punya lho perencanaan keuangan simple untuk keluarga tercintah.

Dapat Rezeki Gara-gara Food Combining

Thursday, May 21, 2015
Kemarin itu saat saya lagi semangat-semangatnya diet kayak yang saya ceritakan di postingan ini (Diet Mayo Ala-Ala), sebenarnya ada agenda tersembunyi dibaliknya. Jadi, selain memang pengen langsing lagi kayak sebelum hamil, saya juga dapat tips kece dari seorang teman. Waktu itu di kantor saya bilang kalau saya pengen hamil lagi, soale umur saya udah mau expired nih buat punya anak wahahaha ketauan tuanya. Nah sama teman saya itu dibilangin supaya saya coba diet. Karena kalau lagi diet, makanan kita kan bakal yang sehat-sehat tuh, trus metabolismea tubuh juga lebih teratur karena kita makan pakai panduan, jadi mudah-mudahan semakin mudah untuk terjadi kehamilan. Maka saya cobalah diet yang sangat sehat itu. Iya lho, soalnya kan makanan saya selama diet itu dari bahan organic semua, no minyak lagi, rendah kolesterol dan bergizi tinggi.

Custom Post Signature