Showing posts with label working mom. Show all posts
Showing posts with label working mom. Show all posts

Pengen Resign Aja

Wednesday, December 28, 2016

ibu bekerja di luaran sana, setuju ngga kalau saya bilang menjadi ibu bekerja itu sungguh menyenangkan.

Hayoo coba angkat tangannya yang setuju.

Satu dua, 893652820 orang, wow.

Baca punya Gesi :

Haahaha, iyalah siapa sih yang ngga setuju kalau dibilang menjadi ibu bekera itu surga.

Gimana ngga?

Setiap hari bisa ketemu orang baru, pengalaman baru, melakukan hal-hal seru, dibayar pulak.

Mau beli baju tinggal ke toko, mau beli sepatu tinggal pilih warna.

7 Makanan Yang Harus Ada Di Kulkas Untuk Mempermudah Ibu Bekerja

Tuesday, October 25, 2016


Makanan yang harus ada di kulkas untuk mempermudah ibu bekerja

Sebelum memiliki ART komplit yang pinter masak seperti saat ini, saya mau ngga mau harus masak sendiri untuk makan kami. Sempet sih katering, tapi karena kateringnya rasanya pedes banget, suami malah ga bisa makan, kepedesan cuuuy, Mas Teg mah orang Jawa tulen yang samsek ngga doyan cabe.

( Baca : Drama ART )

Jadi akhirnya saya putuskan masak sendiri, apalagi toh saya harus masak juga buat makannya Tara, yo wis sekalian.

Nah, karena saya bekerja, jadi ngga mungkinlah bisa masak yang ribet. Disamping waktunya mefet, kemampuan juga mefet sih cyin hahaha. Saya masaknya kan pagi hari sebelum berangkat kerja, trus pulang kerja masak lagi. Doooh capeklah pokoke. Jadi sebisa mungkin yang perlu diringkes ya diringkes aja.

Tentang Profesionalisme Seorang Ibu Bekerja

Monday, September 19, 2016

Dear Rekan Kerja,Maafkan Kami Para Working Mom

Sunday, September 18, 2016

Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui

Thursday, September 1, 2016
Tips Melakukan Perjalanan Dinas Untuk Ibu Menyusui


Sebagai ibu bekerja, mau ngga mau pasti suatu saat akan behadapan dengan yang namanya perjalanan dinas. Perjalanan dinas ini biasanya adalah suatu hal yang ditunggu-tunggu lho. Saya mah hepi banget kalau dapat SPJ (Surat Perintah Jalan) dari kantor. Karena artinya bakal jalan-jalan gratis dibiayai kantor, yipiiie. Padahal jalan-jalannua cuma di bandara,hotel,kantor doang xixixi.

Tapi itu dulu sih sebelum punya anak. Begitu udah punya anak apalagi saat masa menyusui, yang ada biasanya saya bakal menghindar untuk dinas luar kota. Kalau ngga perlu-perlu amat, minta digantiin aja sama rekan kerja lain, soalnya rempong sih yak. Harus mikirin anak yang ditinggal, trus mikirin harus pumping selama perjalanan, hwaaa aku males pusing.

( Baca : Untukmu Ibu Yang Gagal Memberi ASI Eksklusif )

11 Hal Yang Harus Dipersiapkan Ibu Bekerja Agar Sukses ASIX

Monday, June 6, 2016



Persiapan Menyusui Untuk Ibu Bekerja

Untuk ibu bekerja yang baru punya bayi, hari-hari menjelang masuk kantor kembali itu kadang bikin nervous.

Nitipin Anak Sama ART? Ibu Macam Apa Kamu

Thursday, April 28, 2016
Halooo, mau woro-woro nih, kalau sekarang di windiland bakal ada #GesiWindiTalk . Semacam postingan bareng saya dan Gesi, itu lhooo maminya Ubi yang paling ngeheits sejagad blogger ^_^. Nantinya kita bakal bahas hal-hal ringan seputar woman talk deh, ya anak, ya keluarga, ya kerjaan. Pantengin ya, tapi 2 minggu sekali sih, soalnya sibuk boooo, hahahaha.

Gerakan Bawa Bekal Ke Kantor

Friday, April 22, 2016
Eh ternyata tanggal 12 April kemarin diperingati sebagai Hari Bawa Bekal ya?. Wah baru tahu saya ada juga peringatan harinya. Dan ternyata juga hari ini adalah hari Bumi. Kalau yang ini sih saya sudah sering dengar.

Hmmm, hari bekal dan hari bumi, kayaknya pas banget buat dibahas bareng. Yuk mari

Sebagai ibu pekerja yang "cerdas" dan cinta lingkungan saya termasuk pendukung garis keras gerakan bawa bekal ke kantor xixixi. Pokoknya selagi sempat, ngebekel is a must.

Antara Kartini, Kebaya dan Peran Wanita Di Balik Banking Hall BRI

Thursday, April 21, 2016
Gara-gara status dedengkot mojok Agus Mulyadi tentang perdebatan yang selalu terjadi di hari Kartini, jadi pengen nulis juga tentang itu.

Tentang Hari Perempuan Internasional

Tuesday, March 8, 2016

Pada tahu ngga kalau hari ini adalah hari perempuan internasional?

Saya tahunya dari facebook. Pagi- pagi udah diingetin soalnya.

Kalau ngomongin tentang hari perempuan pasti keingetannya langsung ke sosok-sosok perempuan tangguh di jaman dahulu kala. Kayak ibu Kartini lah salah satu contoh perempuan paling ngeheits abad ini.,

Wishlist 5 Barang Kebutuhan Menjelang Masuk Kantor Kembali

Wednesday, February 3, 2016
Kalau saya didatangi jin ala aladin, trus dikasih kesempatan untuk membuat 3 permintaan yang bakal dikabulkan. Tahu ngga apa yang bakal saya minta?.

Pertama, saya pengen bisa menguasai seluruh bahasa di dunia ini, karena dengan menguasai bahasa saya yakin saya bisa punya kesempatan mau ngapain aja.

Kedua, saya pengen diberi kesempatan kembali ke jaman Rasulullah dan merasakan hidup bersama beliau. Ini karena keimanan saya suka naik turun kayak roller coaster.

Ketiga, saya pengen punya pintu kemana saja. Ini kepikiran karena saya kan lama banget LDR-an sama suami

Karena Isi Kepala Tak Bisa Ditebak

Saturday, January 30, 2016
Book Addicts is The New Sexy?
Siapa yang ngga setuju kalau saya bilang kecanduan buku itu salah satu gaya sexy yang baru.

Haaah, kamu ngga percaya? 

Baiklah saya perjelas dulu dengan gambar berikut


Aaaagh, sexy kan seksi kaan??

Bagaimana Rasanya Menjadi Anak dari Ibu Bekerja?

Friday, December 18, 2015

Tentang Menjadi Anak Dari Ibu Bekerja
Gambar dari Sini 

Bagaimana rasanya jadi anak yang dibesarkan oleh ibu bekerja?

Hmmm, ditengah banyaknya status-status dan war-war an antara ibu bekerja dan ibu yang di rumah soal pengasuhan anak, kayaknya yang paling tepat itu ditanyakan langsung deh ke anak -anaknya. Ya ngga sih?. Percuma kan buibu itu udah perang opini, lha yang merasakan enak ngga nya masing-masing peran bukannya si anak yah.

Istri Idaman dan Istri Tak Diidamkan

Thursday, December 3, 2015
Beberapa hari lalu saya membaca status seorang suami yang dishare ribuan orang, dan terbaca saya saat ada teman di facebook yang mensharenya juga.

Saya ngga capture statusnya , tapi saya tulis ulang saja yah disini :


Punya istri cantik dan wangi mengoda
Istri Berangkat kerja jam 8 pagi pulang pun jam 8 malam

Ingin Jadi Anak Kesayangan Bos? Ini Dia Kiat-Kiatnya!

Thursday, November 19, 2015
[Sponsored Post]

Untuk dapat melangsungkan kehidupan setiap orang dituntut bekerja, atau paling tidak menjalankan sesuatu yang dapat memberikan income, jenisnya sendiri beragam mulai dari menawarkan barang atau mungkin jasa yang mereka miliki. Ada tuntutan bahwa setelah memasuki usia dewasa siapapun itu dapat merasakan dunia kerja dan menghasilkan uang sendiri. Mungkin banyak yang bercita-cita menjadi PNS, mengingat gaji PNS tetap dengan pekerjaan yang mudah, hanya saja bagi yang menginginkan kekayaan tak bisa mengandalkan satu pekerjaan tetap tersebut.

Me Time

Thursday, October 22, 2015



" Kalau harus me time trus ninggalin anak di rumah, itu mah namanya ibu-ibu egois. Bagi saya sih me time seorang ibu ya ngabisin waktu sama anaknya. Saya ikhlas kok melakukannya ngga terbebani sama sekali. Kalau udah punya anak itu, ya jangan egois, harus mikrin keluarga"

" Setujuuuu bun, aku juga gitu ngapain pake me time- me time -an"

" Setuju bund, main sama anak kan udah jadi me time yah"


Dan kemudian komen si ibu disambut gegap gempita bunda-bunda lain yang merasa terwakili.

Mengelola Keuangan Keluarga Ala Ibu Bekerja

Monday, October 19, 2015
Dulu, saat masih single, rasanya gaji saya yang tak seberapa itu kok cukup-cukup aja ya buat hidup. Eh giliran nikah, yang berarti punya penghasilan tambahan dari suami kok yaaa kayaknya kebutuhan hidup itu makin lama makin besar. Apalagi setelah punya anak, widih rasanya gaji sebesar apapun pengennya lebih lagi lebih lagi.

Dapat suami yang orangnya sloooow banget. Apa-apa dibawa nyantai. “ Tenang aja dek, rezeki udah ada jatahnya, ngalir aja jangan khawatiran gitu”

Iya sih rezeki emang udah yang ngasih, lha giliran udah ditangan kalau ngga diatur piye dong. Bisa-bisa capek-capek kerja, cuma dapat tagihan doang, ngga bisa punya apa-apa dan ngga bisa ngapa-ngapain. Ya gitu kalau jodohnya suami yang anteng, nyantai kayak di pantai.

Saya mah ogah ngikutin gayanya dia. Kalau sama-sama begitu, bisa hajablah rumah tangga kami. Makanya sebagai istri yang peduli masa depan keluarga #cieeee, walau sederhana, saya punya lho perencanaan keuangan simple untuk keluarga tercintah.

Dapat Rezeki Gara-gara Food Combining

Thursday, May 21, 2015
Kemarin itu saat saya lagi semangat-semangatnya diet kayak yang saya ceritakan di postingan ini (Diet Mayo Ala-Ala), sebenarnya ada agenda tersembunyi dibaliknya. Jadi, selain memang pengen langsing lagi kayak sebelum hamil, saya juga dapat tips kece dari seorang teman. Waktu itu di kantor saya bilang kalau saya pengen hamil lagi, soale umur saya udah mau expired nih buat punya anak wahahaha ketauan tuanya. Nah sama teman saya itu dibilangin supaya saya coba diet. Karena kalau lagi diet, makanan kita kan bakal yang sehat-sehat tuh, trus metabolismea tubuh juga lebih teratur karena kita makan pakai panduan, jadi mudah-mudahan semakin mudah untuk terjadi kehamilan. Maka saya cobalah diet yang sangat sehat itu. Iya lho, soalnya kan makanan saya selama diet itu dari bahan organic semua, no minyak lagi, rendah kolesterol dan bergizi tinggi.

Rumput Tetangga [Selalu] lebih Hijau

Wednesday, July 10, 2013
Minggu ini di grup BB saya lagi hangat membicarakan tentang hasil tes manajer yang seharusnya saya ikuti beberapa waktu lalu.

" Si A jadi MP di Kuta, si B di Medan PH,si C, di Jakarta kota"

Seneng denger kabar teman-teman yang berhasil lulus dan melaju ke jenjang karir berikutnya. Namun ternyata tak dapat saya pungkiri terselip sedikit rasa iri di hati.

" Duh, enaknya mereka, sudah selangkah di depan saya".

Sebagai manusia biasa terkadang kita memang tak bisa terhindar dari rasa iri melihat kesuksesan orang lain. Isltilah "Rumput tentangga lebih hijau" itu benar adanya. Di satu sisi banyak teman saya yang mungkin iri melihat hidup saya, saya pun demikian melihat mereka.

Ada ketakutan-ketakutan akan tertinggal dibanding teman-teman seangkatan yang ujung-ujungnya menjadi " Kalau saja kemarin saya ikut", " Mungkin saja bisa penempatan Medan", dst dst andai andai yang katanya pintu masuknya setan pun menguasai saya.

Kemudian saya lihat wajah putri kecil saya yang sedang menyusu dengan semangatnya. Ah, tiba-tiba saya malu pada diri sendiri, malu pada sang Pencipta. Saya ini sudah dilimpahi banyak rezeki tapi kok ya masih tidak bersyukur juga, masih merasa kurang juga.

" Sesungguhnya orang yang berkecukupan adalah orang yang di hatinya selalu merasa cukup dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus " (HR.Ibnu Hibban )

Plak, tertampar rasanya. Berarti mungkin saya masih termasuk orang fakir. Hmmm semoga di Ramadhan ini saya bisa mencuci otak saya dan menjadi orang yang berkecukupan dengan selalu merasa bersyukur.

Wanita di Era Digital: Aktif Tanpa Ribet

Wednesday, July 25, 2012


sumber:www.jalanhidup.jpg

Hidup adalah perjalanan
Membuka mata, melihat luasnya cakrawala
Di dalam perjalanan selalu ada hal istimewa
Karena perjalanan selalu akan memperkaya jiwa

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karena adanya sebab akibat. Bahkan rumput di atas pusara pun tumbuh karena suatu alasan.

Sebagai wanita bekerja , saya sering mendengar omongan miring dari orang-orang. Beberapa kali malah ada yang dengan terang-terangan mempertanyakan apa yang saya cari sehingga mau bersusah payah bekerja dari pagi sampai sore. Padahal gaji suami saya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.Bagi saya itu merupakan bentuk perhatian yang harus saya hargai.

Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi pilihan yang saya jalani.

Ada yang salah dengan kata-kata bersusah payah. Karena pada kenyataannya saya sangat menikmati peran sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.

Menurut saya, apapun pilihan yang diambil oleh seorang wanita terutama yang telah berkeluarga, bekerja di luar rumah atau menjadi full mother itu kembali ke diri masing-masing.

Sejak kecil saya selalu melihat ibu saya bangun pagi, menyiapkan sarapan kami, bersiap diri untuk kemudian pergi mengajar. Saya sangat mengagumi ketangguhan ibu. Sepulang mengajar , ia akan bergegas kuliah dan tiba di rumah hari sudah menjelang senja. Namun itu tidak dilakukan setiap hari, hanya 3 hari dalam satu minggu. Tapi entahlah, saya tidak pernah sekalipun merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

Saat saya ingin jalan-jalan ke mall ibu selalu ada. Saat saya mengenal cinta pertama ,ibu juga ada mendengarkan curhatan saya, dan saat hati remaja saya lebur , ibu ada untuk memeluk saya. Sungguh tak sekalipun saya merasa ibu mengabaikan keluarga demi pekerjaan. Bukti konkritnya, empat anak ibu memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Melihat itu, membulatkan tekad saya untuk tak ragu menjadi wanita karir. Saya sudah melihat contoh, bahwa ibu bekerja bisa menyeimbangkan antara keluarga dan dunia kerja.

Setamat kuliah Alhamdulillah saya langsung diterima bekerja di salah satu bank nasional. Tak lama berselang, saya pun menikah. Suami sama sekali tidak melarang saya untuk terus berkarya. Saya tidak menampik, bahwa dengan bekerja maka ada satu dua hal pekerjaan rumah tangga yag tidak dapat saya tangani. Memasak, mencuci misalnya. Tapi itu hal yang sangat mudah diatasi, karena saya melihat, para ibu yang bekerja di rumah pun kebanyakan menyerahkan pekerjaan tersebut ke tangan asisten rumah tangga.

Sampai saat ini saya belum dikarunia buah hati. Hal ini, saya tidak tahu menyebutnya seperti apa. Ada yang bilang mumpung belum punya anak, bolehlah bekerja. Ada juga yang mengatakan, gimana mau punya anak kalau kerja terus. Apapun itu, saya yakin rejeki tidak akan tertukar dan tidak akan salah alamat, apalagi datang terlambat. Menurut saya, sudah banyak doa-doa saya yang dikabulkan oleh-Nya. Kalau toh satu dua hal saya disuruh menunggu, saya akan terima itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

sumber:  http://retnodamayanthi.files.wordpress.com/2008/06/wanita-karir21.jpg 

Selagi diberi Allah berupa kelonggaran dalam hal waktu, saya memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya merasa memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika tidak didaya gunakan. Bagi saya, itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap talenta yang diberikan.

Namun memang tak selamanya hal tersebut semudah yang dikatakan. Dua tahun lalu, perusahaan memutasikan saya ke Jakarta. Berpisah dengan suami di Medan. Mutasi tersebut bukan tanpa sebab, tapi merupakan apresiasi perusahaan terhadap kinerja saya. Tentu saja saya bangga, senang. Namun ada dilemma di hati, harus memilih antara meninggalkan suami atau menerima tugas tersebut.

Kesempatan tidak datang dua kali. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya berangkat. Bagi saya dukungan dari suami sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja. Ternyata tantangan yang saya hadapi semakin berat. Disamping tanggung jawab yang semakin besar, saya pun harus memikirkan suami di Medan. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati semua itu.

Namun, di era digital ini, begitu banyak kemudahan yang bisa kita dapati. Semua seolah berada dalam genggaman. Jarak beratus kilometer pun dapat terjembatani dengan kecanggihan teknologi. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi otak-otak pintar kepada para penemu internet. Karena bantuan alat tersebut, saya dan suami bisa berkomunikasi dengan lancar. Dimanapun selama ada sambungan internet dan computer, saya bisa skype-an bersama suami. Terkadang, webcam bisa aktif nyala semalaman, sementara saya melakukan apa, suami juga melakukan pekerjaannya, berasa seperti di dalam satu ruangan.

Gambar dari sini

Disamping internet, kami juga menggunakan ponsel sebagai media berkomunikasi. Setelah ada BB, menjadi lebih mudah lagi. Setiap pagi saya akan mengirim foto diri saya, sebagai pelepas rindu. Bahkan dengan dukungan para pebisnis termasuk perbankan, memudahkan saya melakukan reservasi tiket pesawat dan melakukan pembayaran-pembayaran yang seabrek-abrek. Jadi walaupun, saya tidak ada di rumah, segala jenis tagihan seperti telepon, listrik, air, bisa teratasi hanya dengan memencet sejumlah angka di ponsel. Teknologi yang sangat memudahkan.

Hal yang dikhawatirkan tentang keharmonisan rumah tangga yang akan terganggu oleh jarak, Alhamdulillah tidak kami alami selama ini. Semoga selamanya seperti itu. Bahkan , jarak yang memisahkan membuat kami merajut rindu setiap hari. Rasanya , kembali seperti pacaran. Saling menyapa, bertanya sudah makan belum, sedang apa, persis abege jaman sekarang. Siapa sangka kami malah tambah mesra.

Saya tidak mengingkari kuantitas pertemuan dalam suatu keluarga itu sangat penting. Namun, kalau kondisi tidak memungkinkan, pilihan ada pada kita, mau menyesalinya, atau mencari cara untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, saya memilih daerah-daerah yang saya kunjungi untuk perjalanan dinas yang berdekatan dengan Medan. Agar bisa sekalian bertemu suami. Malah pernah saat saya ke Bali, suami saya ajak serta selama seminggu, sekalian honeymoon deh jadinya. Selalu ada kemudahan dalam kesempitan.

Dengan keterbatasan waktu saat bertemu, membuat saya dan suami menjadi saling menghargai. Saling mengerti tanpa harus diutarakan. Kami bisa duduk berdua dalam diam, hanyut dalam kegiatan masing-masing, namun kami tahu kami ada dalam frekuensi dan gelombang yang sama.

Begitu pula, waktu yang terbatas tersebut membuat kami lebih kreatif mencari cara agar tetap bisa bersama, mengunjungi orangtua, bermain dengan keponakan, dan menghadiri undangan pesta rekan kerja atau kerabat. Hal tersebut bisa karena terbiasa.

Banyak hal yang saya dapati saat bekerja. Apalagi saya bekerja di bank yang bergerak di sektor mikro. Membantu membiayai usaha nasabah, melihat jatuh bangun mereka, memberi saja pelajaran baru tentang semangat pantang menyerah. Saya jadi tahu bagaiaman kiat-kiat untuk membangun usaha yang bagus. Selain itu, bertemu orang-orang dengan berbagai type kepribadian, makin memperkaya dan mengasah rasa empati dan toleransi yang saya miliki. Saat saya berinteraksi dengan nasabah, baik eksternal maupun internal, bisa menyelesaiakan masalah mereka, menjawab pertanyaan, dan membantu mempermudah pekerjaan mereka, hal itu bagi saya sudah merupakan kontribusi saya dalam kehidupan.

Dengan bekerja pula, saya belajar hal-hal baru, yang semakin meluaskan wawasan. Diakui atau tidak, saya dan suami bisa menjadi teman diskusi yang sangat klop, karena dia bergerak di bidang perkebunan dan industry sedangkan saya perbankan membuat kami saling take and give terhadap berita-berita dari masing-masing pihak. Menyenangkan sekali bukan, memilki teman diskusi yang kita cintai. Bahkan banyak teman suami yang sering bertukar pikiran dengan saya untuk masalah-masalah perbankan yang mereka alami.

Dan yang paling menyenangkan, saya bisa mengunjungi banyak daerah saat perjalanan dinas. Hal yang mungkin akan sulit saya lakukan kalau saya tidak bekerja. Sara pernah ke daerah rawan bencana di pelosok negeri ini. Melihat dari dekat lokasi-lokasi tersebut membuat saya semakin mensyukuri hidup ini.

Ketahun, Bengkulu
Bagi saya bekerja bukan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga. Malah membuat saya belajar untuk lebih gesit, lebih pintar mengatur waktu dan kemampuan mengatur strategi antara membagi waktu kerja, keluarga, liburan dan kegiatan social. Tak jarang saya mengambil cuti jika ada acara kantor suami yang mewajibkan saya hadir. Sebisa mungkin, bekerja tidak menjadi penghambat.

Saat saya jauh dari suami, membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya. Saya selalu mengusahakan mengabari dimanapun saya berada. Walaupun ia tidak disamping saya, saya akan selalu meminta izin padanya jika ingin pergi ke suatu tempat yang agak jauh. Bagaimanapun saya adalah tanggung jawabnya. Dan saya juga berkewajiban menjaga kehormatannya.

Demikian pula, waktu-waktu luang sepulang kerja, yang mungkin kebanyakan wanita melewatkannya dengan berbagai kesibukan di rumah, saya mengisinya dengan melakukan hal-hal yang menjadi passion saya. Membaca, menulis, berselancar di dunia maya, yang mungkin tidak akan seleluasa saat saya berada di rumah. Tidak banyak, namun ada beberapa tulisan saya yang sudah mejeng di buku dan nangkring di rak Gramedia. Saya hanya berusaha menerima keadaan dengan melakukan hal-hal yang memberi nilai lebih.Dengan teknologi digital, melalui media sosial seperti facebook, twitter saya juga sering mengikuti lomba-lomba menulis. Jadi jangan gunakan media sosial hanya untuk menghabiskan waktu. Dari hobi saya itu, saya malah berkesempatan memenangkan hadiah dari yang kecil-kecil sampai yang terbilang lumayan. Nah kan, hobi kalau ditekuni jadi sangat menyenangkan.

Antologiku
Bekerja juga turut memperngaruhi cara saya berpenampilan. Saya jadi terbiasa tampil rapi kemanapun. Setidaknya saya akan berdandan saat ke kantor.Bukan dandan yang berlebihan, seperlunya dan sepantasnya saja.  Dan karena terbiasa dengan rutinitas, maka saya pun terbiasa dengan ritual kecantikan yang membuat saya selalau merasa fresh. Agar selalu tampil segar, setidaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi rekreasi tersendiri bagi saya. Minimal sebulan sekali ke salon, memanjakan diri, merilekskan otot-otot yang tegang . Dan untuk itu semua, saya bisa melakukannya sesering saya mau, karena saya memiliki budget dari uang pribadi yang saya hasilkan sendiri.

Bekerja juga membuat kebutuhan pakaian saya menjadi spesifik. Cukup tiga kategori, baju kerja, baju santai, dan baju kondangan atau arisan. Karena sudah terkategori demikian, saya tidak pusing. Baju kerja saya sangat simple, hanya berupa blazer dan kemeja. Dengan begitu menghindarkan saya dari belanja yang tidak perlu. Karena saya sudah tahu jenis pakaian yang saya butuhkan. Disamping itu dengan bertemu berbagai macam orang dari berbagai kalangan, memberi saya kemudahan melihat trend fashion yang lagi in. Lumayan, referensi gratis.


Satu hal yang mungkin tidak banyak disadari, keuntungan bekerja adalah memiliki networking yang luas, dari berbagai macam orang dan berbagai macam kalangan. Setidaknya saya memiliki relasi dari Sabang sampai Merauke, juga dari instansi-instansi yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena semakin banyak orang yang kita kenal dan mengenal kita maka semakin banyak kesempatan dan keberuntungan yang bisa kita raih.

Ya bekerja memberi saya triple bonus sekaligus, gaji setiap bulan, peluang belajar menjadi ahli, serta pengalaman yang laku dijual.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wanita, karena itu ia disebut makhluk multitasking. Di era digital ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Wanita di era digital adalah wanita yang tahu apa yang ia mau.Bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya .

Keterbatasan waktu dan ruang bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Tidak ada excuse dalam setiap hambatan. Teknologi yang ada , manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendukung segala aktivitas kita. jangan hanya sebagai pengisi waktu luang yang kurang menghasilkan.

Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Suami yang mencintai saya, keluarga yang selalu mendukung, sahabat yang peduli. Hal-hal tersebut semata-mata adalah curahan kasih sayang-Nya kepada saya. Apa yang telah diberi-Nya membuat saya semakin merasa semakin kecil .

Me, My Life
Sampai hari ini, saya masih berharap dan tak henti berdoa agar diberi jalan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Juga agar diberi kepercayaan menerima titipan-Nya. Sembari menunggu doa-doa saya diijabah, saya hanya bisa mengisinya dengan menghargai setiap tetes cinta-Nya dalam kehidupan saya.

Menjadi wanita bekerja diluar rumah, atau bekerja di dalam rumah, atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memiliki sisi positif masing-masing. Apa yang saya utarakan panjang lebar diatas semuanya dapat dimiliki dan dilakukan oleh ibu yang bekerja di dalam rumah maupun ibu rumah tangga. 

Setiap orang mungkin ditakdirkan untuk memainkan peran yang berbeda- beda yang dibutuhkan untuk membentuk keharmonisan dalam dunia yang tak selebar daun kelor ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan suatu saat saya menjadi ibu rumah tangga. Dan karena tuntutan kebutuhan, ibu rumah tangga menjadi wanita karir. Bukankah hidup adalah misteri?. Apapun peran kita, selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, ikhlas maka akan ada imbalan dari yang maha Kuasa untuk itu semua.

Perjalanan, seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk sampai di tujuan. Semoga dengan rute yang berbeda-beda, perjalanan hidup kita masing-masing berakhir di tempat yang paling indah.

Let's Check This Story


video













Custom Post Signature