Showing posts with label working mom. Show all posts
Showing posts with label working mom. Show all posts

Mempertanyakan Gaji

Friday, April 20, 2018



Wow judulnya sungguh karyawan banget yah. Kentara banget termasuk #sobatqismin abad ini yang masih hidup dari gaji.

Tadi siang ngobrol sama Icha, nanyain dia sekarang kerjanya ngapain aja di Femaledaily, karena yah sejujurnya aku sangat iri dengan orang-orang yang kerja di media. Bayangin aja bisa nulis tiap hari dan digaji, DIGAJI untuk hobi kita, wow sungguh lifegoals. Trus kata Icha, kerjaan dia salah satunya nulis artikel. Trus aku bilang dong yah, wah untung banget kantor kamu, kamu nulis di situ setiap hari tapi gajinya bulanan, itu kan jadi seperti dapat job blog tapi dibayar gelondongan #kemudianngitung bayaran satu artikel dikali 25 hari dikali rate blog wahahahaha.

Trus dijawab sama Icha " Ya kaleeeee nulis di media beda dong ah sama nulis blog"

Trus akhirnya Icha jembrengin kerjaan orang-orang media.

Aku baru tau kalo ternyata orang-orang media itu nulis artikel banyak banget ya sehari, bisa sampe puluhan, wow, kalo blog pribadi dapat job puluhan artikel sebulan, dapetnya bisa lebih gede tuh.

Trus deh akhirnya itung-itung gaji dan mulaaaaai mempertanyakan " Gaji gw segini sebenernya pantes ga sih untuk gw"

Nanya gitu udah jelaslah ya, maksud pantesnya bukan karena gedean tapi karena ya gitu suka iri sama rumput tetangga. Kalau di bank apalagi, sesama bank plat merah udahlah ya para pekerjanya pasti suka banget membanding-bandingkan gaji temen dengan jabatan serupa.

" Yah kok gaji dia lebih gede sih"

Ngga usahkan sama perusahaan yang sejenis, aku sama suami aja masih suka banding-bandingin gaji kami.

" Dek, coba itung gaji ade kalo dibagi hari dibagi jam, dapetnya berapa tuh, yakin gaji ade gede?"

Minta digampar kan yah suami aku.

Karena yang namanya pekerja mah, manaa ada yang pernah merasa kalau gaji yang didapatnya itu gede. Pasti merasanya kuranglah, kekecilanlah, harusnya aku dapet lebih gede dari inilah, sampe lama-lama bandingin sama penghasilan driver Gojek.

" Ini kalau hari Sabtu aku disuruh lembur, paling dapat berapa, coba kalau aku ngegrab, bisa dapat 4-5 kalinya nih dari uang lembur"

Hayoo siapa yang sering selftalk kayak gitu, hahahaha. #nuduhnggotasendiri.

Ngebayangin pasti lebih enak jadi pengusaha. Sama-sama kerja 25 hari tapi hasil pasti jauh lebih gede. Ini kejadian kalau saya lagi OTS. Kayak yang, "Astagaaa aku sok-sok ngasih kredit sama nih pedagang, gaya aja keren tapi kere" hahaha. Karena kalau lihat pedagang-pedagang di pasar itu, inang-inang di pajak, mereka mah pakaiannya kumel tapi penghasilnya jauh lebih besar dari pegawai bank yang petantang petenteng ke sana ke sini.

Normal sih ya, namanya manusia yang punya akal dan nafsu (bawa-bawa nafsu), pasti pengennya lebih dan lebih. Plus dikipas-kipasin sama syaiton ni roojim jadi suka merasa ga bersyukur, merasa iri, dengki dan penyakit-penyakit hati lainnya #gantiinmamahdedeh.

Tapi kadang kita suka lupa sama beberapa hal soal gaji ini. Mungkin di gaji beda, tapi di hitungan komponen lain ternyata kita lebih diuntungkan. Kayak soal kebebasan berpendapat misalnya, belum soal penempatan, soal jam kerja, trus soal kemudahan ngajuin cuti, soal kemudahan mengklaim pengobatan, termasuk soal kesempatan berkarir dan kesejahteraan lainnya.

Makanya bener-bener ngga bisa dibandingin. Pasti ada satu dua hal yang memang membedakan dan ntar ujung-ujungnya ya jadi square.

Kayak di grup kuliahku tuh, terkadang tanpa sengaja jadi membuka topik soal penghasilan. Sebagian besar mah temen-temenku yang ngga murtad dari jurusan kuliah, pasti kerjanya di Pertamina, di Medco, di Rekin, Total dan perusahaan-perusahaan sejenislah. Yah kalo bayangin gaji mereka tentulah kayak langit dan bumi dengan banker , hahahah #kemudiansedih.

Di grup itu, yang banker kerjaannya yang "Ayo dong bikin kartu kredit di aku, ayo dong gironya, tabungannya, investasinya sama aku aja", #sobatqismin.

Tapi aku ngga pernah iri sih karena ya udah bayangin kerja di perusahaan-perusahaan energy gitu pasti pressurenya lebih gede, dan ngepake otak lebih banyak #bagussadaryasis. Belum lagi kemungkinan mereka yang kerjanya di off shore, harus jauh dari keramaian, atau jauh dari fasilitas umum, yang bisa aja juga terpapar gas dan zat-zat yang mungkin membahayakan kesehatan.

Aku dulu pertama kerja kan di perusahaan gas gitu. Sebulan kerja, langsung opname seminggu wahahaha #dasar lemah kau. Ya gimana, tiap hari, kalau ngga kena panas pas di pabrik ya kena AC di control room yang dinginnya amit-amit. Udahlah, badan langsung remuk redam, mana pake sepatu safety yang beratnya ampun deh, dan yes make up luntur terooos, ga guna banget lah pake eye shadow dan sejenisnya. 

Itu masih soal fasilitas dan tantangan kerjaan, belum bicara soal pengalaman yang bisa di dapat. Mungkin pekerjaan kita saat ini gajinya yah pas-pas buat ngemall, nyekolahin anak, dan JJS ke kota sebelah doang, tapi kesempatan kita bertemu dengan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, kesempatan ketemu masalah hidup orang, kadang menjadi hal-hal yang ga terukur.

Iya lho, ketemu masalah hidup orang itu kayak dapat guru tapi ngga bayar belajarnya. Kayak di kerjaanku sekarang, dengan anggota yang usianya beragam plus dengan masalah masing-masing, aku tuh mau ngga mau kadang jadi lebih tua dari umurku #plisakumasihmudalho.

Mulai dari masalah keluarga, masalah kerjaan, masalah utang piutang, masalah antar rekan kerja, drama mutasi. Jadi tau sudut pandang orang-orang dalam menghadapi masalah.

Yang dulunya, aku seringnya bersikap hitam atau putih kalau memandang masalah orang, sekarang aku punya warna lain, ya ada abu-abu, ada merah, kuning, hijau di langit yang biru.Belum lagi kalau pas kebetulan lagi membagikan bantuan pemerintah ke masyarakat, dengerin curhat mereka trus jadi membatin sendiri " Demi 110 ribu aja sampe ngantri gini ya, makanya jangan sampe ngelama-lamain bantuan deh"

Pokoke, menurutku tiap pekerjaan pasti punya nilai tambah dan ada hal-hal yang bisa kita dapat di luar itung-itungan gaji.

Kayak temenku tuh pernah cerita, dia kerja di media (kembali ke media) yang gajinya, yah mungkin dua kali ngemall juga abis, tapi dia bisa terbang kemana-mana, mewawancarai tokoh-tokoh nasional dan tokoh dunia. Melihat orang-orang yang statementnya menjadi penentu nasib bangsa. Seru banget kan. Walau gaji cuma lebih dikit di atas UMR tapi bisa ngobrol bareng Lee Min Ho tanpa harus berdesak-desakan, kan enak banget yah #recehologi.

Kita suka lupa bahwa membandingkan gaji kita dengan orang lain itu sebenernya meh banget. Karena ya mana ada sih gaji yang bisa apple to apple dibandingin. Pasti ada aja pembeda antara satu kerjaan dengan kerjaan lain.

Makin ke sini aku makin mikirin soal rezeki dan kok rasanya ngga pantes banget masih mempertanyakan gaji yang aku dapat. Makanya jujur aja, kalau ada temen-temen yang riweh soal gaji, ngeluh soal gaji aku ngga mau ikutan. Bukan karena aku begitu ngga butuh duit sampe merasa terlalu cukup atau gimana atau karena aku udah sampe level manusia yang penuh syukur. Ngga juga sih. Tapi lebih ke, ya sadar diri aja bahwa yang namanya manusia memang akan selalu merasa kurang, makanya kalo dikeluhkan ya tetap akan merasa kurang, jadi ngapa harus ikut-ikut ngeluh. Belibet kan yah.



Sekarang kalau ditanya soal gaji lagi, aku ngga mau komen hahaha, karena menurutku soal gaji sebenarnya setiap perusahaan pasti udah punya standard masing-masing. Tinggal kitanya sebagai pekerja mau nerima ngga. Kalau merasa seharusnya kita dibayar lebih dari itu, ya selalu ada pilihan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik di luar sana. Namun sepanjang kita masih bertahan di tempat kerja kita, ya lakukan hal terbaik di job yang menjadi tanggung jawab kita.

Mulai berhenti berfikir kalau kita kerja tuh untuk atasan, atau untuk perusahaan, karena sebenernya kita kerja ya untuk diri kita sendiri. Kalau kita kerja bagus ya kembalinya ke diri sendiri, kalau kerja jelek ya balik ke diri kita juga.

Karena yang namanya kerja bagus atau tidak, ngga melulu harus dikonversi ke rupiah. Ada yang namanya pride, kepuasan, kepercayaan diri yang bisa didapat saat kita melakukan sesuatu dengan hasil memuaskan.

Analoginya tuh, kalau di masyarakat mungkin nilai diri kita dilihat dari seberapa pengaruh kita di lingkungan, seberapa bermanfaat kita dan dibutuhkan orang, nah di kantor juga gitu. Karena lingkungan kerja ya kantor kita itu jadi value diri kita ya memang mau ngga mau dinilai dari hasil kerja kita.



Ngga perlu khawatir atau marah-marah kalau apa yang kita lakukan ngga sesuai dengan kompensasi yang kita dapatkan. Karena kalau kita punya atasan pintar, dia pasti bisa melihat potensi yang ada di kita dan mempertimbangkannya. Mungkin dengan memberi reward, mempromosikan atau memberi penilaian kinerja yang memuaskan.

Karena jujur aja ya, sebagai atasan, aku kadang malu sama bawahanku yang kerjaannya tokcer kalau penghasilannya ga sebanding dengan kinerjanya. Pasti ada rasa tanggung jawab untuk memberinya lebih dibanding rekan kerjanya yang lain yang kerja seadanya. Tapi ya kaleee gw punya kekuasaan naikin gaji orang.  Palingan ya ngasi reward-reward yang masih dalam wewenang kita, kalau ngga bisa ya aku konversi menjadi "kemudahan", kemudahan meminta sesuatu, kemudahan cutilah, apa aja. Yang pasti dia ga akan sama aku perlakukan dengan yang kerjanya asal-asalan.

Kalau ternyata lu dapat bos yang ngga pintar gimana?

Ya ngga apa. Tetep kerja sesuai standar terbaik diri kita aja. Kalau si bos ngga bisa lihat juga, ya tinggal nunggu waktu aja, sampai lu nemu kerjaan yang lebih baik atau bos lain di luar sana yang nemuin lu, wakakakaka #rasainlubos.




Jadi kembali ke judul awal. Alih-alih mengeluhkan gaji, mempertanyakan penghasilan kita, ya selow aja, lakukan pekerjaan kita untuk diri kita. Percayalah yang namanya pekerjaan berserak di luar sana. Tinggal diri kitanya nih, pantes ngga buat diperebutkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut. Punya skill ngga?.  Kalau punya, dan merasa sekarang digaji terlalu kecil, cabslah cari yang lain. Jangan kayak pacar cranky yang ngeluhin pasangan ke sohibnya tapi disuruh putus ogah.

Namun kalau ngga yakin, ada perusahaan lain yang bisa menggaji kita dengan jumlah yang sekarang, yo wis kerja yang baik, tingkatkan kemampuan, dan berhenti mengeluh.

So, mari kita tutup postingan ini dengan himbauan untuk stop mempertanyakan gaji, tapi ganti dengan mempertanyakan bagaimana kualitas diri kita. Boleh tanya ke teman yang jujur kalau bicara atau tanya atasan. Input apapun terima dengan tulus ikhlas. Jangan pake perasaan-perasaan.

" Perasaan kerjaku dah bagus deh, kok aku dikasih nilai jelek" (tunjukin data)

Kadang memang kita ini sebagai pekerjanya banyakan main perasaan ya xixixi.

Semangat ya jadi karyawannya, hahahahaha.





Bijak sekali diriku sore ini.







Sebulan di Jakarta : Dari Ninggalin Anak Sampai Sendirian Diantara Para Pria

Saturday, April 14, 2018


Sebulan ngga update blog, kemana aja mbaaaa?.

Ke Jonggol hahaha.

Jadi ceritanya kemarin tuh aku pendidikan selama sebulan full di Jakarta. Mungkin karena dirikuh anaknya super narsis dan update di insta story terus jadi banyak juga yang nanyain beberapa hal. Kayak "Gimana itu anak-anak ditinggal sebulan"
sampai
" Lho mba Win pendidikannya cewek sendiri ya, waaah seru banget"

Iyaah pastinya seru banget, tapi ya seru-seru kangen sama anak.

Ada juga yang nanya, pendidikan apa sih, kok lama banget?

Ya sebenernya ngga lama sih. Di BRI mah biasa banget pendidikan berbulan-bulan. Bahkan dulu aku pernah pendidikan sampe 14 bulan. Gila ngga?. Ya ngga gila sih biasa aja. Paling cuma nangis-nangis pas nelfon suami karena rindu tapi kok ongkos mahal hahahah.

Aku kemarin pendidikan semacam development gitu, jadi ya memang agak seriusan. Di BRI itu ada juga pendidikan yang sifatnya cuma refreshing, kalo itu mah cuma 3 harian doang dan isinya biasanya lebih ke materi-materi soft skill. Kayak kepemimpinan, budaya kerja, dan review kebijakan-kebijakan terbaru.

Tapi kalo sifatnya development kayak pendidikanku kemarin memang agak serius. Materinya mayan dan ada ujiannya dong yah tiap materi. Makanya ya dibilang berat ga berat-berat amat, dibilang santai ya ngga juga. Mana di akhir pendidikan ada on the job training dan wajib bikin makalah plus presentasi, jadi ya gitu deh. Main-mainnya cuma ke mall doang ngga sempet yang jalan-jalan wara-wiri.

Beberapa temen ada yang ngajak ketemuan selama di Jakarta. Tapi akunya ngga bisa, huhuhu maaf yah, soalnya pulang dari Corpu (Corporate University) itu aja udah sore banget, jam setengah enam gitu, nyampe hotel udah malam, ya teparlah, mana besoknya juga ujian.

Jadi sebulan di sana, aku cuma ketemuan dua kali sama Icha, dan ketemu sama Gesi dan Nahla doang. Sisanya tiap weekend nginep di rumah abang dan ngadem di hotel, bobok. Apalagi ditambah jadwal pendidikannya agak sedikit kamvretor, dimana Sabtu masuk dan tiap Senin dong yah ujian, jadi ya salam, mau pergi-pergi jauh juga takut kualat.

Ketemuannya sama mereka doang


Ninggalin anak sebulan gimana?

Ini pertanyaan yang banyak dialamatkan padaku. Karena memang sebulan itu mayan lama ya untuk ninggalian dua anak di rumah.

To be honest, aku termasuk mamak-mamak yang nyantai dalam hal meninggalkan anak di rumah. Maksudku bukan yang drama-drama mellow gitu. Makanya selama kerja, kalo ada tugas ke luar kota, termasuk lembur di kantor aku ngga terlalu panikan. Sepanjang ada yang jaga di rumah dan suami ngijinin mah aku hayuk ajah.

Dan untungnya yah, mas Teg itu memang support banget sama kerjaanku. Kayak kemarin, aku sempet yang ngomong "Wah kalau sebulan gini pendidikannya, aku mesti balik-balik nih mas tiap Sabtu".

" Haaah ngapain?"

" Ya kan, masa aku ninggalin anak sebulan sama mas"

" Ga apa ah, kan mas bapaknya, masa ngga percaya sih. Udah tenang aja, anak-anak aman sama mas"


Luuv banget kaaaan. Pas di tengah-tengah pendidikan, minggu kedua gitu aku sempet yang nanya lagi "Aku pulang ngga nih mas. Tapi kalau pulang berarti aku bolos sih sehari, karena Sabtu ada kelas"

"Ngga usaaaaah, adek selesain aja di sana, mas handle anak-anak"

Wow, sungguh suami kesayangan.

Makanya kalau ada yang nanya gimana ninggalin anak sebulan, ya memang ngga gimana-gimana. Anak-anakku ada yang jagain di rumah. Soal logistik dsb mah gampang, asal ditinggalin duit, kulkas diisi penuh sebelum berangkat, ya udah lancar-lancar aja.

Anaknya sendiri gimana?

Nah ini aku ngga tau ya mau gimana jelasinnya. Mungkin karena udah terbiasa melihat aku kerja, maka saat ditinggal lama gini, aku cukup ngomong yang sebenernya aja ke mereka. Terutama ke Tara sih, karena Tara yang udah nalar, kalau Divya karena masih 2 tahun belum terlalu ngerti.

" Tara, bunda mau pergi kerja tapi agak lama boleh ngga?"

" Hwaaaa bunda mau ke mana? Tara mau ikut sama bunda, Tara mau ikut bunda kerja" (mulai drama)

" Ya ngga bisa, kan Tara sekolah, lagian kasianlah papanya ditinggal sendiri kalau Tara ikut bunda"

" Tapi lama ngga?"

" Lumayan. Ntar bunda telfon tiap hari, oke"

" Huhuhuhu tapi mau ikuuuut"

" Besok sebelum berangkat kita main dulu, boleh ya"

" Oke deh bunda, tapi jangan lama-lama ya"




Kemudian setelah bundanya di Jakarta dia lupa kalau bundanya ngga pulang-pulang, hahahahaha.

Percaya ngga percaya, ya emang segampang itu.

Selama di Jakarta, aku usahain banget telponan tiap sempet, pake video call, jadi tetap keep in touchlah sebulanan, biar ngga lupa mereka sama bundanya ini.#penting

Suami gimana?

Masteg mah orangnya nyantai, jadi ya no issuelah.

" Mas mau pendidikan sebulan, gimana pergi ngga nih? "
" Ya pergilah"


End.


Nah, ndilalahnya ya, satu kelas itu kan aku ber-22 orang, dan aku satu-satunya perempuan. Jadi pas aku insta story atau posting foto di IG, pasti ada yang komen, "Wah mba Win sendirian cewek ya, keren"

Hahaha, ini pertanyaanku dari dulu, pokoke tiap aku posting foto kerjaan di IG atau FB, pasti pada bilang gini. Padahal itu ngga keren-keren amat kok. Karena memang di BRI itu banyak banget yang kayak aku. Yang di satu unit kerjanya ya cewek sendiri. Ya gimanaaaa, emang untuk level managerial gitu masih didominasi para pria sih. Sebenernya cewek banyak tapi ngumpulnya di Jakarta dan sekitaran Jawa. Kalau untuk luar Jawa emang minim banget cewek.

Management Ismu 2017

Pinca,PCP, Manager dan Kaunit

Jadi begitu lho teman-teman, memang karena kondisinya aja, ngga ada yang mau penempatan luar Jawa, makanya aku beruntung bisa kerja di kampung halaman sendiri, luuuuv.

Balik ke soal pendidikan.

Gimana di kelas cewek sendiri apa ngga risih?

Ngga..

Palingan langsung mikir " Yah ga ada temen buat selfie selfie nih. Atau "Yah, ntar kalo mereka semua sholat Jum'at aku ngapain yah?" gitu doang.

Aku memang ngga pernah risih sih, karena udah biasa aja. Sehari-hari banget di kantor, mulai dari Pinca, pincapem, manajer ya semua laki-laki, jadi aku udah nyantai. Terkadang mereka malah udah ngga nganggap aku cewek lagi, rata aja dibuat mereka. Malah kadang suka dieksploitasi yang disuruh jadi ketua panitialah, disuruh jadi ketua anulah, dasar kampret, hahaha.

Nah sama, pas kemarin pendidikan juga gitu, langsung aja tanpa pake kompromi ditunjuk jadi ketua kelas. Sungguh mereka teman yang sangat asoe yah sodara-sodara. Jadilah selama pendidikan kejadiannya selalu gini :

" Bu ketua, materi soft copynya mintain yah"
" Bu ketua, bilangin ke fasilitator bisa ngga jadwal kita dimajuin"
" Bu ketua, usul dong ke Corpu supaya Sabtu kita libur"
" Bu ketua, gimana kalo kita ngadain acara barbeque setelah selesai pendidikan"

" Bu ketua nonton dong rame-rame"
" Bu ketua bikin baju seragaman dong"
" Bu ketua.... bu ketua''

Heeeeh gw ini ketua kelas atau emak kalian HAH.

Makanya pas ada yang bilang "Wah mba Win cewek sendiri di kelas, pasti dimanjain yah". Gw melengos aja, KARENA KENYATAANNYA TIDAK YA sodara sodara.



Gimana cara bersikap di antara para pria-pria segitu banyak, kan kalo cowok-cowok suka aneh-aneh gitu mba?

Ya ngga gimana-gimana. Biasa aja, beneran biasa banget. Walau aku sendirian cewek ya ngga membuat orang-orang sekitarku jadi kurang ajar, atau malah ngeremehin atau under estimate gitu sih. Mungkin karena- ya kale lihat aja wajah gw yang galak ini. Berani macem-macem aku hajarlah, #serius

Ngga ding, ngga gitu.

Tapi emang karena memang lingkungan kerja yang kondisinya seperti ini ya mau ngga mau kita kudu nyesuain dirilah. Jangan gampang tersinggung, jangan apa-apa dimasukin hati sekaligus ya jaga-jaga sikap juga.

Karena emang bener sih, berada di antara para pria-pria dewasa cukup umur, akil baligh dan jauh dari istri-istri itu BERBAHAYA, wakakakaka.

Obrolan di kelas yang awal-awal sok resmi, jaim-jaim, ya lama-lama karena udah kenal, akrab, jadi kadang ngga terkontrol. Apalagilah di grup. Mulai dari ngomongin ujian, bisa ujug-ujug menggelinding ke share-share video-video lucu (if you know what i mean).

Ya ngga usah marah, kalem aja. Ngga usah ikut nimbrung kalau begitu. Ya masa ya gara-gara ada kita di grup trus mereka jadi ngga bisa berekspresi, jadi sellow.



Di kelas juga gitu. Adaaaa aja ntar guyonan yang levelnya udah 17 ke atas. Karena levelnya masih becanda, saya mah nyantai. Justru kalo kita nyolotan malah aneh dan bikin orang ngga nyaman. Jadi ya kalem aja, diem aja, senyumin aja, dibawa asik aja. Karena becandanya juga masih becanda ringan.

Sempetlah yang difoto-foto candid pas lagi duduk sebelahan sama siapa gitu.

Marah?

Maleslah. Bodo amat.


Tanggapan suami gimana, ngeliat mba Win kok cewek sendiri?

Hmm, suami aku udah level mature. Masa-masa doi cemburuan udah lewat. Ada sih masanya dulu dia yang suka cemburu, suka nanya-nanya, tapi sekarang udah ngga.

" Mas aku di kelas sendiri lo cewek"

" Wah, jadi adek sekamar sendiri dong di hotel"


" Iya"

" Berarti kalo mas kapan senggang mau datang, bisa langsung ke hotel ga perlu pesen hotel lain?"


Oke yak, mantap, berfikir jauh ke depan.

Kok ngga cemburu sih

Ya ngga. Ngapain?, emang lingkungan kerja aku begitu. Kalau emang dia ngga suka ya pasti aku udah disuruh resign dari kapan tau. Nyatanya ga disuruh resign ya berarti ga kenapa-kenapa.Yang pasti kan bergaulnya emang profesional ya, karena kerjaan, ya jadi oke aja deh.

Punya tips ngga buat ciwi-ciwi yang kerja dengan lingkungan kebanyakan pria?

Ngga punyaaaaa. Karena tipe orang mah beda-beda. Aku emang tipe orang yang pintar bergaul sih #plakdigamparlangsung.

Yang pasti ya kayak yang aku bilang tadi. Kalem aja, santai, posisikan diri sewajarnya, ngga usah sok ngatur-ngatur cara bicara mereka, ngga ngatur apa yang mereka obrolin, be profesional. Jangan karena kita cewek trus minta diistimewain, jadi manja. No ya. Atau karena kita cewek jadi merasa harus apa-apa diduluin. Biasa aja. Karena toh digajinya sama, dikasih tanggung jawab juga sama, jadi ya posisinya sama.

Ini di bis. Letakin tas di samping kursi kita kalo mau tenang tidur PP


Kalau pulang malam dari kantor, apa suami ngga marah?

Karena aku selalu bilang ke masteg, maka sampai saat ini belum pernah sih kejadian mas Teg marah karena aku lembur atau pulang malam. Iya, pokoke kalau kira-kira bakal telat pulang ya kasih tau. Bukan minta ijin lho, kalo minta ijinkan berarti bisa diijinin bisa ngga, sifatnya cuma menginfokan, karena udah kesepakatan kami di keluarga, bahwa ya tugas kantor is tugas kantor, jangan dibawa baper dan lebay. Repot kalo dibawa lebay.

Maka saat misalnya aku harus meeting lewat jam kantor, ya fine-fine aja. Kalau ada acara kantor kayak yang perpisahan, atau makan bersama nasabah gitu yang memang jadwalnya makan malam, biar sama-sama enak  kadang mas Teg nawarin untuk jemput aku. Sekalian kenalanlah sama temen-temenku, biar tau juga istrinya pergi sama siapa aja.

Intinya sih, karena sama-sama mengerti gimana kerjaan dan tanggung jawab masing-masing, jadi walau lingkungan kerjaku mayoritas pria, masteg ngga merasa inferior atau curigation yang berlebihan sama dirikuh. #i Love You so much mas ah.

Jadi begitulah sodara-sodara tercinta.

Eh ini kok ngga ada cerita pendidikannya malah ya, xixixi.

Pendidikannya seru banget. Bukan karena materinya sih, kalo materi ya udah templatelah ya (dasar pegawai durhaka kau), tapi seru karena temen sekelasnya asik-asik banget. Kompak setengah mati. Dibawa santai oke, dibawa serius hayuk. Sebulan jauh dari rumah aku tetap hepi. Sampe sekarang juga, udah kelar pendidikan, di grup masih rame aja. Rame saling membully maksudnya.

Awalnya sempet yang kaku gitu, karena pendidikannya agak unik, segala latar belakang jabatan nyemplung di sini. Tapi ternyata lama-lama saat udah kenal, ya asik-asik aja.

Pendidikan kemarin ada materi in class, dan ada on the Job Trainingnya.

Selama di kelas, aku banyakan ngantuuuk. Karena mungkin selama ini kan aku kerja ga melulu di belakang meja ya. Kalo pengen keluar ya tinggal keluar, kalau ada nasabah yang harus dikunjungi ya OTS, kalo ada pembagian bantuan ke masayarakat misalnya ya pergi, jadi gitu disuruh duduk diam selama kurleb 10 jam itu rasanya pantat panas. Tapi ya udah sih ga apa juga karena ada selang coffee break tiap beberapa jam. Plus hiburan juga ngeliatin temen yang ngantuk, xixixi.

Ngantuk boss


Mereka juga asik-asik. Misal saat aku lagi bosen banget makan siang di Corpu, trus pengen ngebakso, ya udah sekelas ngebakso bareng. Pas aku pengen makan idomie, eh ditemenin nyari indomie. Bosen belajar terus, rame-rame nonton bareng.



Filmnya apa?

Pacific Prim, yang aku ngga ngeh samsek sebenernya tentang apa. Tapi ya udahlah mayan bikin ketawa-ketawa nontonnya. Oh plis itu robot ngapain sih, kenapa ceritanya serba kentang. Kisah cintanya kentang, perangnya kentang, endingnya sangat terduga dan yah pemerannya ngga ada yang good looking #ngeluh.

Nonton Film Yag Tak Kumengerti


Trus ternyata mereka rajin-rajin banget belajar. Kalau mau ujian pada belajar bareng, ngumpul di samping kamarku yang kebetulan berada di pojokan dan yang kebetulan juga ternyata lantai khusus smooking (why aku ditaruh di lantai ini?). Jadi ya kedengeran berisiknya tiap malam.

ckckckckcck


Apakah aku bergabung bersama mereka?

Ya tentu tidaklah ya. Aku mah lebih milih bobok, besok di bis tinggal minta hasil belajar mereka pas malam apa, xixixix.

Pas pendidikan kebetulan ada temen yang ulang tahun. Sebagai teman yang (sok) perhatian kami pun beli cakelah rame-rame (Gojek maksudnya yang beli). Mayan motong waktu belajar beberapa menit, buat nyanyi-nyanyi, foto-foto plus makan kue, wahahahahaha, moduuus.


Yang Ultah Siapa, Yang Disuapin Siapa

Trus di salah satu sesi, kami dapat materi kepemimpinan. Dan ngga tanggung-tanggung dong yah, yang ngisinya itu mantan Dirut BRI tahun 1993-2000 bapak Djoko S. Jadi bener-bener dapat pengalaman kepemimpinan langsung dari pemimpinnya BRI. Beruntung yah kami-kami ini.
Pas OJT, aku juga dapat tempat OJT nya yang saik banget, di KCP Mall Taman Anggrek dong yah. Di samping deket sama hotel (aku nginep di Ibis Slipi), juga ya karena di mall, jadi berasa lagi main aja. Tapi ternyata, pas giliran di mall gitu, kok aku malah ga terlalu antusias belanja ya, wow kusungguh bangga. Selama 3 hari OJT di MTA, aku cuma beli buku satu biji di Gramedia, plus beli pensil alis dan beli satu sepatu #proud. Padahal aku bayanginnya bakal kalap beli apaaa gitu, ternyata aku masih bisa menahan diri wahahaha.

Tapi positifnya aku berhasil mapping seluruh tenant yang ada di Mall Taman Anggrek. Aku jadi mayan hapal di mana letak Sephora, di mana toko sepatu yang mau tutup dan ada diskon, dimana tempat makan yag enak tapi murah, sampe di mana letak kamar mandi yang bersih tapi ngga terlalu ramai.

Kesimpulanku, Deps storenya MTA ternyata barangnya udah yang lama-lama yah, kurang memanjakan mata.

Temen2 di KCP Taman Anggrek
OTS ke salah satu usaha nasabah KCP MTA


Di akhir pendidikan ada tugas bikin makalah dan sesi presentasi serta wawancara. Kebetulan aku dapat pasangan yang pinter dan sangat menguasai operasional. Jadi alih-alih di KCP kami belajar, eh doi malah menyelesaikan segala kerjaan yang kurang pas di sana. Mulai dari meperbaiki suspend sampe bantu-bantu ngecek persediaan di situ, wahahaha, sungguh teman yang berdedikasi tinggi.

Giliran presentasi, ya dhalah naseb dapat giliran terakhir. Jadi semua orang udah tenang-tenang (bahkan mereka sempet ngemall), aku masih yang menunggu.... menunggu dan menunggu.

Yah gitulah, ngomong lalalalalalala di depan penguji, kelar deh. Yeaaaaay.

28 hari full terlalui dan saatnya kembali ke pelukan suami dan anak-anak, hasek.

Ini ceritanya pada bilang "Gaya bebas yok gaya bebas" trus ternyata aku doang yang ekspresif. Kzl


Sekarang udah ngantor lagi, kembali ke rutinitas lagi, lama ninggalin kantor jadi berasa anak baru lagi hahaha. Hari pertama kerja langsung lupa password komputer dan semua aplikasi, bagooooooos.


Yang paling hepi dari pendidikan itu, pasti nambah temen. Yang tadinya ngga punya temen di Palopo jadi punya, ada yang dari Luwuk lah, Tanjung Tabalong, dari Kolaka. Pulang pendidikan pasti nambah satu grup WA. Ya udah biar ga mubazir, sekalianlah aku paksa mereka follow instagramku, wahahahaha, rasain kalian. Follow dong kakaaa @winditeguh




Kalian ada yang kayak aku ngga? pernah ninggalin anak lama karena kerjaan atau lingkungan kerjanya mayoritas pria. Sini-sini cerita dong, biar ada temennya hahaha.

Eh betewe kalian tau ngga apa nama grup pendidikanku ini.








Menjelaskan " KERJA" Pada Anak

Wednesday, February 28, 2018




Mommy-mommy yang bekerja pasti pernah dong yah dapet pertanyaan super menohok dari anaknya.

" Bunda kenapa bunda kerja?"

Pertanyaan yang bisa bikin mamak-mamak yang setrong di kantor tiba-tiba harus diem dan mikir mau jawab apa yah, hahahaha.

Saya juga pernah dulu gitu. Usia 3 tahunan gitu, Tara yang udah mulai kritis banget kalo nanya. Dan yadalah pertanyaan sakti itu keluar juga.

" Kok bunda kerja terus sih"

Karena bunda kecenya ini ngga siap sama pertanyaan tiba-tiba, jadi jawab standar ajalah . " Iyalah bunda harus kerja, kan biar dapat duit, buat beli susu Tara, pampers adek, beli mainan"

Kirain bakal aman yah jawab gitu. Ternyata ya ngga dooooog yah. Bukan anak gw namanya kalau dikasih jawaban standar diem, hahahaha.

" Susu Tara masih ada bunda, pampers adek juga masih banyak, Tara ngga minta beli mainan lagi, tapi bunda ga usah kerja, di rumah aja jaga Tara sama adek"

Kraaaaaay.

Bundanya langsung speechless. Gila ya anak kecil itu udah bisa menghubungkan sebab akibat. Bahwa bunda kerja untuk cari duit buat beli susu, maka aku ga perlu minum susu. Oh my.

Makanya abis itu saya mikirin banget soal pertanyaan tadi. Mikirin jawaban apa yang bisa diterima anak seusia Tara. Karena Tara itu anaknya kritis banget. Dia inget banget apa-apa yang saya bilang. Kalau saya bilang saya bakal pulang cepet, dia bakal inget. Ndilalah saya pulang agak malam, gitu buka pintu pasti langsung protes

" Bunda kan tadi pagi bilangnya pulang cepet, kok bunda pulangnya lama. Bunda lamaaaa pulangnya. Kenapa bunda pulang lama".

Gitu terus diulang-ulang, dan ntar bakal diaduin sama papanya. " Papa bunda lama pulangnya papa"

Hahahaha, makanya hati-hati banget kalau jawab pertanyaan Tara.


Baca : 


Akhirnya sekarang kalau doi nanya lagi, saya jawab gini :

" Iya bunda harus berangkat kerja nih, karena bunda harus bantuin orang, dan bunda seneng kerja. Tara senang kan sekolah, ketemu teman, main, sama, bunda juga senang kerja. Jadi bunda berangkat dulu yah. Bunda kerjanya cuma sampe sore kok, ntar malam kita main lagi"

Nah ternyata jawaban begitu tuh masuk akalnya si Tara. Trus dia bakal mikir dan kemudian menjawab

" Oke deh bunda, bunda boleh kerja tapi jangan lama-lama ya pulangnya"

Saya ngga tau sih, jawaban seperti itu benar atau tidak. Tapi untuk anak saya jawaban seperti itu cukup. Message yang ingin saya sampaikan ke Tara, bahwa bekerja itu kegiatan biasa yang saya lakukan, sama kayak dia sekolah, bermain, bertemu teman, jadi bukan hal luar biasa. Gitu sih maksudnya.

( Baca : Bagaimana Rasanya Menjadi Anak Dari Ibu Bekerja )

Makanya kemudian Tara suka juga nanya " Bunda, kalau Sabtu dan Minggu bunda kerja ngga?"

" Ngga sayang, kalau Sabtu Minggu bunda di rumah, main sama Tara"

Nah tapi jika suatu saat memang Sabtu saya harus ngantor, ya tinggal minta ijin sama Tara.

" Tara, bunda kerja ya hari ini, setengah hari aja, ntar sore kita main lagi"

Biasanya mah anaknya bakal nangis dulu." Hwaaaaa ngga boleh, bunda jangan kerja, kan ini Sabtu"

Trus saya bakal tawarin opsi sama dia " Tara mau ikut bunda ke kantor atau Tara mau main warna-warna sama Tete, nanti pulangnya bunda beliin warna-warna yang lain".

Xixixi kayak nyogok yah, tapi ya emang gitu sih biasanya berhasil. Kalau dia pilih ikut, ya saya ajak ke kantor. Kalau pilih mewarnai, ya pulangnya saya beliin pewarna lagi.

Jadi the bottom line is, saya pikir menjelaskan tentang " Kerja" kepada anak itu memang harus disesuain dan direlate-in sama kondisi dia. Jawab dengan kalimat jelas dan yang dimengerti dia. Kalau bagi saya merelatekannya yah dengan menganalogikan seperti kegiatan yang disukai Tara. Dan ngga lupa kita kudu konsisten dan menepati apa yang kita ucapkan.

Kalau bilang pulang sore ya jangan pulang malam. Kalau ngga yakin bisa ya jangan janji.

Jawaban " Kerja untuk cari duit" ini sebenernya memang jawaban paling benar, namun untuk usia tertentu mereka belum bisa mencernanya dengan baik. Apalagi kalau kita hubungkan dengan beli susulah, beli diapers, atau beli mainan. Anak malah jadi merasa bahwa " Oh bunda ninggalin aku karena mau beliin susu. Ya udah aku ngga usah minum susulah"

Tapi misal kita jawab, karena harus bantuin orang. Misal pun dia nanya " Kok harus bantu orang, emang ngga ada orang lain yang bisa bantu?"

Ya tinggal dijawab lagi " Ngga ada, cuma bunda nih yang bisa bantu mereka. Kalau ngga ntar mereka nangis lo". 

Saya pikir jawaban seperti itu masih bisa diterima anak. Ntar kalau dia tambah usia, udah makin mengerti baru deh jelasin dengan sebenernya. Bahwa kita kerja tuh biar punya kehidupan lebih baiklah, atau biar dia bisa sekolah di tempat yang bagus, atau biar bisa liburan atau apapunlah sesuai tujuan kita kerja.

Karena ya jujur aja saya ngga bohong sama Tara, karna saya itu kerja ya karena saya seneng kerja.

Khawatir anak bakal nanya " Emang bunda ngga seneng kalau main sama aku?"

Ngga perlu khawatir sih. Kalau ditanya gitu ya jawab aja " Ngga dong sayang, bunda seneng juga main sama Tara, tapi sekarang bunda kerja dulu, ntar jam 7 bunda balik, kita main lagi. Oke anak pintar"

Hahahaha, auk ah, sampai saat ini jawaban-jawaban saya masih ampuh. Kadang ada saatnya sih Tara lagi mellow, minta anterin ke sekolah, ya saya anter dengan risiko telatlah ngantor. Sekali-sekali saya pikir ga masalah, ijin ke atasan dulu. Yang penting, pastikan kalau selama ini kita kerjanya bener, jadi saat ijin untuk kepentingan pribadi gampang dikasih. Tapi kalau selama ini kerja ngasal ya jangan harap yah diijinin hahahaha.

( Baca : Profesionalisme Ibu Bekerja )


Oke deh mom, semangat yah, ngga usah baper kalau anak ngelarang kerja. Memang ada saatnya kok mereka bakal ngelarang kita hahahah. Yang penting jangan abaikan hak waktu mereka bersama kita di luar jam kantor yak. Mangaaaat.

Selingkuh Dengan Rekan Kerja?

Wednesday, November 29, 2017

Gara-gara kuota data Hooq saya masih banyak banget, jadi sekarang menjelang tidur punya kegiatan baru, yaitu nontoooooon, hahahaha.

Kemarin marathon nonton serial Dawson Creek. Astagaaa film nostalgia bangetlah ini. Trus gegara nonton jadi mikirin salah satu adegannya.

Jadi di episode awal itu diceritain kalau mamanya Dawson adalah seorang pembaca berita di televisi lokal, duet bersama rekan kerjanya Bob, dan ternyata mereka selingkuh padahal di rumah papa mamanya Dawson itu very-very romantic, yang tiap ketemu kissing dan gitu-gitu dimanapunlah, ya di ruang tamu, ya di dapur, anywhere.

Jadi saya kepikiran banget ceritanya. Betapa semesra-mesranya pasangan di rumah ya tetep aja ada kans untuk selingkuh di kantor dengan rekan kerja. Alasan si mamanya Dawson ngehe banget " Karena aku merasa hidupku udah sempurna banget, jadi aku sampai ngga punya keinginan apapun dalam hidup, tapi sekarang aku menemukan kembali keinginannku, aku ingin apa yang sudah kuhancurkan bisa kembali, plis maafkan aku Mitch"

Blah, kzl nontonnya.

Tapi saya ngga kaget sih pas ternyata mamanya Dawson itu ketauan selingkuh, karena ya memang cerita perselingkuhan di kantor itu banyak banget bertebaran.

Sebenarnya mau dimanapun potensi untuk selingkuh itu ada aja. Ngga harus di tempat kantor. Bahkan ibu rumah tangga pun ya bisa-bisa aja selingkuh. .

Ngga harus di tempat kerja yang lingkungannya banyak pria dan wanita, yg proporsinya ngga sebanding pun ya tetap ada. Sialnya kalo ada kasus perselingkuhan, yg pertama kali kena tuding sebagai si penjahat adalah pihak perempuan. Padahal yang namanya selingkuh terjadi kalo ada dua orang yang sepakat untuk menjalin hubungan. Jadi yang punya andil ya dua orang, si laki dan si pere. Atau si laki dan si laki, lol.

Nah sialnya lagi sterotype wanita-wanita bekerja tuh sering dituduh sebagai pelaku perselingkuhan. Padahal sekali lagi kalo udah niat mau apapun profesinya ya bisa-bisa aja. Pelaku MLM juga bisa selingkuh, yang buka usaha kue di ruamh juga bisa selingkuh, yang antar anak sekolah juga bisa selingkuh. 

Namun ngga bisa dipungkiri sih kesempatan dan cerita perselingkuhan di tempat kerja, antar rekan kerja gitu lebih banyak yang tercium kisahnya. Ngga hanya antar rekan kerja sih, dengan klien, dengan vendor, dengan rekanan, pokoke di lingkaran pekerjaanlah. Makanya film-film kan sering ya mengangkat tema perselingkuhan di kantor gini, bukan ngada-ngada karena memang ada di dunia nyata.

Kayak kata Dawson, film itu adalah gambaran nyata dan solusi dari kehidupan, tsaaah.

Alasannya simpel banget, witing tresno jarane seko kulino. Keseringan ketemu bikin merasa cocok. Merasa cocok, jadi sering cerita, cocok cerita jadi enak buat curhat. Keseringan curhat jadi berasa ada yang mengerti, merasa dimengerti, lama-lama deket, malah ngobrol dari hati ke hati, dan tanpa disadari terjadilah saling chat di luar jam kantor. Takut ketauan pasangan, text chattingan diam-diam dihapus. Damn

Karena awal perselingkuhan adalah saat kau diam-diam menghapus pesan dari teman lawan jenismu.

Begicu sih katanya. Dan hmmm bener juga. Karena kalau ngga ada apa-apa kenapa harus dihapus. Kalau chatnya biasa aja cuma nanyain kerjaan ya kenapa juga harus dihapus.

Makdarit,bagi perempuan-perempuan yang bekerja nih, dunia kerja memang penuh intrik. Diri kitalah yg harus membentengi diri sendiri. 

Kenapa saya bilangnya ke perempuan bekerja?

Karena terimalah kenyataan bahwa masyarakat kita masih patriarky pake banget. Yang namanya selingkuh mah harus ada dua orang, perempuan dan pria,  tapi mau gimanapun jalan ceritanya pasti yang salah si perempuan, si laki pasti bebas melenggang.  yang dilabrak ya perempuan, yang dicaci maki ya perempuan, yang dituduh pelakor ya perempuan. 

Saya beberapa kali jadi orang yang dicurhatin para istri yang suaminya selingkuh. Sedih banget dengernya, kebayang aja langsung gimana suami yang kita doakan siang malam saat bekerja, kita harap membawa rezeki bagi keluarga eh malah mengkhianati kepercayaan kita.

Dari para istri-istri ini jugalah saya bener-bener melihat, bahwa istri-istri gimana udah disakitin suaminyapun, udah dikhianati ya tetep ngga ada keluar dari mulutnya sedikitpun anggapan bahwa suaminya punya andil salah, pasti yang salah ya 100 persen si perempuan pengganggu. " Kenapa mau?" gitulah kira-kira.

Wah jadi melebar.

Oke balik maning.

Yang namanya bekerja itu memang kadang kita bisa asik banget di kantor. Ketemu rekan kerja, ngobrolin hal yang sama-sama kita relate, ngobrolin yang bikin hepi ngga musingin ompol anak, susu anak, cicilan, kadang ngga sadar " Lho kok cocok ya", jadinya malah curhat-curhat. Naini yang bikin gaswat. 

Saya udah banyak bangetlah melihat bagaimana keluarga yang baik-baik saja bisa hancur berantakan gara-gara bermain api yang bermula dari sekedar ngobrol ini. Makanya bener kata orang cocok ngobrol itu bisa bahaya kalau sama-sama ngga tau batasan. 


Makdarit, ada beberapa nih hal yang  bisa dilakukan demi menjaga diri dari peluang-peluang yang ada :


1. Hindari bepergian berduaan dengan lawan jenis. 

Apalagi sampai berulang kali, apalagi sampai jadi langganan. Sebisa mungkin cari teman lain. Kadang memang ngga bisa dihindari harus pergi berduaan nemuin klien misalnya, tapi jangan keseringan, apalagi langganan. Langganan diantar pulang misalnya, jangan banget. Langganan dijemput pergi karena searah rumahnya misalnya, ngga usah deh, naik grab ajah.


2. Jangan membicarakan masalah keluarga dengan rekan kerja. 

Apalagi curhat. Curhatnya di blog aja, atau sama Tuhan. Atau sama suami, sama istri, sama sohib kental, sama rumput yang bergoyang, sama siapa aja, tapi jangan rekan kerja lawan jenis. 

Curhat di sini yang kayak nyeritain kekurangan istri/suami, nyeritain kejelekan pasangan. Cerita kalau kurang puas sama pasangan, cerita pengen pasangan begini begitu, yah you knowlah ya.

Cerita keluarga yang aman itu, kayak ngomongin kelakuan anak, ngomongin tentang istri atau suami yang baik-baik. Misal " Eh kemarin aku sama suami makan di sana, ternyata enak lho tempatnya", yang gitu-gitu ngga apa. Tapi jangan cerita " Duh suamiku itu yah jarang banget ngasih aku perhatian, padahal aku pengen disayang, pengen dibeliin perhiasan, ngga kayak kamu, kamu kayaknya perhatian ya sama istrimu, pasti istrimu bahagia banget punya suami kayak kamu, lalalala"

Ini ngeluhin suami sekaligus muji-muji rekan kerja, BAHAYA.


3. Kalau bisa kenalkan pasangan kita dengan rekan kerja. 

Biar tidak ada dusta diantara kita. Iya pasangan kita ngga ada salahnya tau siapa saja teman kerja kita. Biar dia tahu sama siapa saja kita bergaul. Tunjukin fotonya, biar misal ada teman suami/istri ngeliat kita lagi di luar bersama teman kerja itu, trus ngadu ke suami, ya dia ngga parnoan.

Ngga harus ketemu sih, tapi minimal kita sering cerita. Misal " Eh mas aku besok mau nemenin tamu makan durian, ntar makannya sama si Rangga dan si Fahri mas"

4. Jaga Tangan dan Jaga Sikap

Jangan tangannya ramah banget. Jangan tepak tepok orang sembarangan. Jangan ngelendat ngelendot ke suami orang, jangaaaaan mendesah-desah ke teman pria. yang pria juga jangan pegang-pegang anak orang sembarangan, jangan jawil-jawil, jangan sok ramah tangannya. HARAM.

5. Berinteraksilah dengan semua rekan kerja di kantor

Yup semuanya, jangan pilih-pilih teman, biar di tempat kerja hepi dan ngga kepikiran buat menyepi atau berdua-dua dengan seseorang. Ngga usah nyempil-nyempil ngobrol di pantry, ngga usah nyempil ngobrol berdua di tangga darurat, kalau mau ngobrol ya rame-rame ajalah.

Ingat kalo berduaan yang ketiga syaiton ni rrojim.

6. Aware dengan Lingkungan Kerja

Yup, untuk menjaga lingkungan kerja kondusif, jagan ragu untuk mengingatkan teman yang kita lihat udah mulai melenceng. Kalau melihat teman , lho kok dia sering banget nih jalan berduaan di luar jam kantor, atau kok sering diantar jemput sama doi, padahal udah sama-sama berkeluarga atau yang satu udah berkeluaga, segera ingatkan. Ingatkan bukan berarti ikut campur, tapi sekedar peduli.

Bukan yang langsung nuduh, tapi ingetkan baik-baik, atau cara paling halus, saat mereka mau jalan bareng segera ajak si cewek untuk bareng sama kamu. Saat mereka mau makan berduaan doang, segera nimbrung biar jadi orang ketiga.

Jangan ngga peduli, karena ketidakpedulian kita saat ada gejala selingkuh di kantor bisa merugikan diri kita juga lho. Suasana kantor jadi ngga asik, kinerja teman kita juga bisa menurun, dan kalau sampe berkelanjutan pasti si pasangan rekan kerja akan menyumpahi kita (dalam hatinya).

7. Niatkan bekerja apapun itu,kembalinya untuk keluarga, bukan untuk yang lain. 

Kalo udah mulai melenceng segera ambil wudhu, sholat atau puasa #goals.

Sebenernya orang yang selingkuh itu tau banget apa yang dilakukannya salah. Kalaupun ngga merasa salah dia tau apa yang dilakukannya ini tidak sesuai norma-norma yang ada di masyarakat, tapi ya mereka tetep jalan, karena saat dua orang jatuh cinta, yang lain emang ibarat ornamen ngga penting yang bisa diabaikan. Makanya ngga ada yang bener-bener bisa mencegah selain diri kita sendiri. 

Ingat-ingat selalu, bahwa kita bekerja untuk keluarga, bahwa rekan kerja kita bekerja juga demi keluarga. 

Emang yang mau kita cari apa. Adrenalin? Rasa deg-deg an?.

Iya sih pastilah itu, pasti hidup berasa lebih bersemangat, pasti hari-hari jadi penuh warna. Tapi seperti kata pepatah, "sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Sepandai-pandai menyimpan chattingan pasti ketauan juga"

Percayalah bahwa selingkuh , di tempat kerja pula, itu sama saja dengan pup di piring makan sendiri. Ngga akan pernah berakhir indah.

Kalau ketauan atasan bakal dimutasi paling minimal, atau ngga bisa dipecat, mana malu lagi dengan rekan kerja dan tentu saja membuat kebahagiaan orang hancur (meski ini sih jarang dipikirin). 

Apapun alasan dan apapun latar belakang terjadinya selingkuh, even bisa diterima akal, tetep dampaknya ngga pernah baik ke karir kita selanjutnya. Apalagi untuk keluarga, udahlah bisa berabe.Mau dikate itu demi kebahagiaan kita atau apapun, tetap akan ada yg terluka, setidaknya keluarga kita, atau pasangan kita atau pasangan partner selingkuh.

Saya yakin banget nih ngomong gini, pede banget ya ngga bakal selingkuh.

Ngga tau sih, manusia itu tempatnya salah dan lupa. Nulis gini sekalian ngingetin diri sendiri, biar kalau saya melanggarnya, bisa menabok muka sendiri pake tulisan. Nih makan nih tulisan lo. Semoga dengan nulis ini jadi makin bisa menjaga diri, karena jujur aja saya orangnya suka becanda banget sama teman kerja.


Terakhir, banyak-banyak mohon doa biar dijauhkan dari godaan perselingkuhan dimanapun berada. para istri juga banyak-banyak berdoa agar suami-suami kita tetap terjaga hatinya dan kewarasannya.





Working Mom Stories

Tuesday, November 28, 2017



Saya sering nerima pesan baik di Messenger, WA maupun DM Instagram, yang isinya mereka berterima kasih karena saya sering berbagi cerita tentang workingmom stories. Karena kata mereka, di dunia maya, terutama blogger kebanyakan penulisnya adalah ibu yang tidak bekerja kantoran atau istilahnya Stay At Home Mom, sementara mereka ngga relate dengan cerita kesehariannya, makanya seneng baca cerita-cerita saya yang relate sama kehidupan mereka, berasa punya temen cerita katanya.

Hmm, setelah saya pikir-pikir ternyata bener juga. Rata-rata temen blogger saya even dia ibu bekerja, jarang sekali cerita soal dunia kerjanya di blog atau di instagram. Rata-rata ya cerita soal dunia parenting, pengasuhan anak, atau cerita sekeharian yang di luar dunia kerja, dan yang terbanyak ya nulis event-event blogger yang dihadiri.

Saya maklum sih, karena saya dulu juga gitu, males banget cerita soal kerjaan di blog, bahkan dulu ngga nyebut samsek kalau saya kerja di bank apa, paling cuma nyebut saya kerja di bank gitu doang. Bukan karena ngga bangga dengan kerjaan sendiri tapi takut keseleo lidah saat cerita , malah rahasia perusahaan ntar diumbar hahahah, makanya ceritanya ya cerita keluarga aja.

Tapi makin kesini, saya ternyata pun seperti ibu-ibu bekerja di luaran sana, yang pengen cerita, pengen berbagi dan pengen berkeluh kesah soal kerjaan, tapi maluuu. Makanya dulu awal mula colab GesiWindiTalk sama Gesi, kami memang mau ambil point of view yang berbeda. Gesi dari sudut pandang SAHM, saya dari sudut pandang working mom. Kesini-sini saya malah sering cerita sendiri soal dunia kerja.

Karena memang ada banyak hal yang bisa diceritain. Tentang gimana galaunya ART resign, kekhawatiran saat ninggalin anak di tangan pengasuh, pusingnya nyari sekolah di sela-sela tugas kantor, sampe pilihan-pilihan antara ulang tahun anak atau meeting, workshop atau family holiday. Belum lagi soal pergaulan dunia kerja, isu perselingkuhan di kantor, menghadapi atasan, menjaga wibawa di mata bawahan, aaaak banyak banget kan yah yang mau diceritain.

( Baca : Nitipin Anak sama ART?, Ibu Macam Apa Kamu?)

Dan iyes, saya juga belum nemu banyak blogger yang cerita itu sih. Kebanyakan masih di sekitaran anak doang, belum banyak yang ngulik-ngulik cerita kantoran dari sudut pandang perempuan. Makanya saya seneng banget ada yang DM saya bilang bahwa mereka nemu temen cerita, hahahaha. Saya seneng deh beneran. makasi ya kalian yang DM saya.

( Baca : Antara Pekerjaan dan Keluarga )

Untuk ibu-ibu bekerja di luaran sana, yuk kita cerita di blog, siapa tau lho ada ibu-ibu di luar sana yang relate sama cerita kita, atau seremeh terhibur dan merasa ngga sendiri dengan perannya sebagi ibu yang mungkin banyakan waktunya habis di kantor dibanding di rumah.

Untuk kalian yang pengen request tema workingmom stories sama saya, boleh banget, DM atau komen di kolom komentar yah, karena saya punya segudang cerita dunia kerja yang belum diceritain, hahahahah.

Jangan lupa follow IG saya @winditeguh , ada hestek #workingmomstory yang sering saya share. Muuach.


Persahabatan Dunia Kerja

Monday, November 27, 2017



Bagi para pekerja, kantor adalah rumah kedua yg mau ngga mau harus dicintai dengan sepenuh jiwa dan raga. Mau gimana?, kadang waktu yang dihabiskan dalam sehari itu lebih lama di kantor daripada di rumah. Makanya suasana kantor dan orang-orang di sekelilingnya pengennya bener-bener kondusif biar selama di kantor bawaannya hepi dan ngga mutungan.

Saya termasuk orang beruntung lho karena pindah-pindah kantor di beberapa kota dapet rekan kerja asik-asik banget semua.

Sebenernya asik ngga asik itu tergantung kita sih. Kalau kita udah negatif thinking duluan pas masuk kantor pertama kali, bisa jadi dapetnya temen-temen yang nyebelin, tapi kalo dari awal kitanya juga welcome dengan mereka , mudah-mudahan seterusnya jadi enjoy.

Dulu saat penempatan pertama kali di BRI, saya kedapetan penempatan di BRI Unit. Rekan kerjanya udah tua, laki-laki, cerewet banget dan pemarah, wahahaha kombo bangetlah. Saya yang anak baru suka gelagapan kalau udah diperintah-perintah doi, padahal jabatan kita setara hanya dia senior kan yah itungannya.

Karena masih anak baru, segala kerjaan dikasih ke saya semua, tapi untungnya saya kan fresh graduate jadi ya seneng-seneng aja walau kerjaan berjibun. Awalnya saya suka sewot sama blio, suka merepet-merepet sendiri dalam hati, tapi lama-lama saya mikir " Ah wajarlah dia agak nyebelin, dia pasti punya masalah makanya seumur gitu jabatannya masih kayak aku yang baru masuk, ya udah kayaknya dia lebih butuh didukung deh sama aku. Selanjutnya ya di unit malah jadi ketawa-ketawa kalo sore, xixixi.

Yup, karena terkadang orang-orang nyebelin itu ngga sepenuhnya karena ngga suka kita, tapi banyakan karena dia punya masalah dengan dirinya sendiri. Jadi kalo kita malah kepancing jadi bete gara-gara dia kita yang rugi, mendingan kita asikin balik dia, percaya deh, orang-orang kayak gitu cuma butuh dibecandain dan diajak hepi-hepi, :)

Oke, lanjut.

3 bulan di Unit, saya dipindah ke Kantor Cabang, rekan kerjanya udah ibu-ibu, cantik dan cekatan banget. Atasannya bapak-bapak yang lucu parah. Dua tahun kerja sama mereka , saya rela datang pagi pulang malam hahaha sangkin senengnya di kantor. Padahal usianya jauh banget, usia saya itu sama dengan usia anaknya si bapak tapi becandanya kayak sama teman sebaya, makanya si bapak awet muda, si ibu bahagia, sayanya juga hepi.


Kiri Bu Evi, Kanan Kak Martha
Atasan pas di Tebing. Laaf

Dua tahun di Kantor Cabang, saya ikut pendidikan PPS BRI. Dapat teman sekamar cewek super adorable, namanya Deby. Duh dia udah sering banget ya saya ceritain di blog.

Saya dan Deby kebetulan sama-sama sudah menikah, hanya saya belum punya anak, Deby anaknya udah satu masih piyik banget. Jadilah kami dua orang mamah muda jauh dari suami sedang menuntut ilmu. Wah bener-bener bersyukur dipertemukan sama blio, karena selama pendidikan kerjaan saya kan kalo ngga nelfon, nangis hahahaha. Iya, karena awal-awal mutusin ikut PPS ada perasaan nyesel, soale saya ninggalin suami sendirian di belantara kebun sawit Sumatera, jadi ada rasa bersalah banget saat itu.

Karena sama-sama udah nikah jadi dari awal kami bikin perjanjian " Kita saling jaga ya", hahaha bukan apa-apa, karena kan kita pendidikan atas ijin suami jadi ngga boleh mengkhianati kepercayaan mereka , makanya saling mengingatkan kalo ada apa-apa. Termasuk kalau duduk di bis dari hotel menuju Diklat harus selalu satu barisan, biar ngga rikuh kalo misal ada temen cowok yang mau duduk di sebelah kita (tepatnya mau duduk di samping Deby sih hahaha, karena dia kece parah).

Deby my laaf. Tempat curhat dari A sampe Z
Seangkatan, Satu Kanwil pulak penempatan


Penempatan pertama setelah pendidikan dapat di Kantor Pusat. Rekan kerja saya anak lajang semua , satu bapak-bapk, satu mba-mba dan satu ibu-ibu. 

Dulu di Kantor Pusat lucu deh, kan ruangan kerjanya itu bentuknya ruangan gede trus ada kubikel-kubikelnya ya. Jumlah pekerjanya satu Divisi juga ngga banyak-banyak amat, paling sekitar 50-an orang. Suasana kerja di kantor pusat tentu bedalah dengan di kantor Cabang apalagi di BRI Unit. Di sana kan lebih ke monitoring, pembuat kebijakan, jadi kerjaannya itu bener-bener yang duduk di depan komputer, makanya suasana kantornya tuh heniiiing, sampe kalo nerima telfon aja sungkan banget ngomong keras-keras karena bisa kedengeran satu ruangan.

Saya yang kebiasaan kalau ngomong volumenya ngga terkontrol sempet merasa tersiksa, ahahaha, duh ini mau ngobrol sama temen depan kubikel aja bisik-bisik lho, karena ngga enak sama rekan kerja lain.

Dulu saya tuh akrabnya sama mas Gun dan Mas Argi, soalnya duduknya segitiga gitu, di samping saya mas Argi, di depan mas Argi -mas Gun. Jadi kalo cerita walau bisik-bisik tetap kedengeran. Cuma kadang capek juga bisik-bisik, jadi kami suka yang " Ke tangga yuk ngobrol" hahaha. So satu-satu menghilang dari meja, mlipir ke tangga darurat, ngobrol di situ volume suara ngga perlu dikontrol banget, karena ya siapa cobaaa yang nongkrong di tangga darurat.

Ngomongin apa?

Ngga pentinglah, cuma sekalian kayak coffee break gitu kalo bosen di depan komputer.

Tapi, saya ngga lama sih di sana. Setelah mas Gun mutasi, ngga lama saya juga mutasi ke Medan. Bahagianya luar biasa bisa pindah ke Medan, karena selama 2 tahun saya udah LDR-an sama suami Medan-Jakarta, akhirnya bisa ngumpul lagi.

( Baca : Mutasi )

Pindah dari Jakarta, saya jadi AO di Rantau Prapat. Ketemu temannya ya sesama AO. Lagi-lagi temennya anak-anak lajang, masih muda-muda banget, semangat kerjanya masih membaralah.

Dulu tuh model meja kerjanya kayak anak sekolah. Meja kursi model berbaris ke belakang. Nah saya paling depan duduknya, trus berjejer ke belakang, si Rio, Jul, Budi, dan di belakang bang Marbun. Kalau pagi kami punya ritual konyol, saya duduk nih di depan, trus mereka duduk di meja masing-masing, udah komplit saya kasih aba-aba " Lengkaaaap, Berangkaaaat, ngeeeeng ", wakakakaka kayak bocah aja. Karena beneran posisinya kayak naik angkot, saya supirnya, bang Marbun keneknya xixixi.

Yang paling bikin bahagia ya selama di Rantau Prapat, disitu kan kebetulan saya hamil setelah 5 tahun nunggu-nunggu si jabang bayi, jadi mereka tuh yang baik banget, kalau OTS saya pasti ditemenin, soalnya wilayah kerjanya kan serem parah, kebun-kebun kelapa sawit gitu. Pokoke pergi OTS jam 7 pagi, balik kantor udah gelap. Tiap hari. Kalau dipikirin sekarang pasti rasanya capek banget, hamil muda, OTS, jalannya jelek, tapi kok ya saya kuat, hamilnya malah sehat banget, alhamdulillah ya.

Cerita paling lucu tuh saat saya pertama datang. Penempatan dari Kantor Pusat ke Kantor Cabang. Pake high heels, pake blazer, diajak OTS ke kebun sawit yang jalannya super jelek, sakit perutlah di jalan saya. Jalannya yang tanah merah gitu lho, saat itu kemarau, ya udah jangan ditanya abunya gimana.

Kulagi hamil itu. Ini orang2 yang nemenin kalo OTS


Nyampe rumah debitur, karena niatnya cuma bentaran doang, kaca mobil ngga kami tutup, biar ngga panas banget ceritanya. Saat mau pulang, gitu masuk mobil, saya kaget banget, ADA AYAM NANGKRING DI DALAM MOBIL. Aduuuh gila mah itu saya kaget sampe teriak-teriak. Sama bang Marbun diketawainlah. Sumpah itu pengen nangis banget waktu itu. Soalnya di jalan udah kena debu setebel apa, nyampe rumah nasabah ketemu ayam di dalam mobil pula. Beneran ini lucu kalo diceritain tapi pas dialamin, horor.

Di Rantau Prapat ini banyak banget kejadian seru yang saya alami, termasuk dimaki-maki nasabah karena saya salah ngomong. Jadi ada nasabah yang nunggak, pas kebetulan dia lagi berangkat haji. Nunggaknya sih angsuran sebulan yah 2 jutaan gitu, tapi kan kalo di portofolio saya, tunggakannya diitung jumlah pokoknya, pokoknya itu 2 Milyar, jadi mak dudul tunggakan kelolaan saya naik 2 Milyar. Peninglah ya kepala. Padahal saya udah wanti-wanti sebelum dia berangkat haji jangan lupa titipin uang angsuran ke keluarga, atau cadanginlah di tabungan. Ternyata dia ga nitip samsek.

Pulang dari haji, masih nunggak juga, saya datangilah ke rumahnya. Disitu saya ngomong " Bapak usahain bayar dong, harusnya sebelum haji tinggalin duitlah pak, masa kita ibadah tapi malah melupakan kewajiban", kira-kira gitulah kalimat saya.

Eh dia ngamuk, " Ibu jangan gitu ya, jangan kait-kaitkan haji saya dengan tunggakan, saya daftar haji udah sekian tahun yang lalu, jadi jangan ibu anggap uang haji saya dari cadangan uang angsuran kredit, lalalala"

Duh saya pengen garuk-garuk tanah. Kenapa lebih galak doi dari saya, dan saya samsek ngga bilang duit haji dia dari angsuran lho. Tapi ya sudahlah namanya kredit sudah dicairkan itu, bargain ada di nasabah, makanya saya ngalahlah. Ngalah setelah dipaksa temen untuk ngalah hahahah.

Anyway akhirnya saya mutasi maning, ke Kantor Wilayah.

Dapat rekan kerja super gokil. Disitu temen kerjanya masih bawahan saya semua usianya, kabagnya perempuan. Ga ada yang waras sama sekali, semua kalo ngomong, volumenya di 10 kabeh, wahahaha, ngga heran kadang dikira lagi berantem, padahal lagi ngobrol biasa tapi tereak-tereak, xixii. Saya seneng banget pas di bagian ini, karena bawaannya hepi terus.




Ini balapan Belanja. isinya pampers semua, karena anaknya piyik kabeh


Macem ga punya masalah hidup


3 tahun di bagian itu, saya dipindah maning ke bagian penanganan kredit bermasalah. Cuma 6 bulan sih, tapi dapat kabag yang orangnya lucu suka becanda, jadi ya seneng juga. Disitu pokoke kerjaan kita makan-makan aja. Makan is life lah mottonya.


Pas Di Bagian RPKB ini, isi album foto saya makan-makan semua hahahah

Pokoke isinya hepi-hepi terus.

Ngga lama saya promosi dan harus pindah ke Kantor Cabang lagi, saya sempet khawatir. Karena sempet dikasih tau temen saya yang duluan promosi " Win, ntar pertama kali kamu ke cabang, perasaan yang kamu rasakan itu KESEPIAN, soalnya kamu di situ kamu ngga punya temen yang bisa diajak tuker pikiran. Mau curhat ke anggota pasti ngga enak, curhat ke atasan ntar dianggap memble, kuat-kuatin diri deh"

Yaaa dinasehatin gitu kan bikin keder ya.

( Baca : Cerita Mutasi )

Tapi ternyata itu ngga terjadi. Gitu masuk kantor Cabang, ternyata ada 3 Manager yang sudah duluan di situ, jadi saya ngga sendirian hahahaha. Dan ya merekalah jadi temen curhatnyaa. Ya bener juga sih, masa iya pas punya masalah kita curhat ke anggota, kan ngga lucu yah. harusnya mereka dapat motivasi dari kita bukannya dengerin masalah kita. Makanya enaknya ya cerita ke mereka-mereka ini.

Temen sarapan sambil nggosip

Dari nyeritain bawahan, gosipin atasan, sampe cerita ngga penting nyek-nyekan target masing-masing.

" Gila lu ya, lu pendidikan cabang langsung laba, lu ada di sini malah rugi, lu resign aja kenapa"

Ini becandaan paling bener tapi bullying banget hahahaha.

Atau ngga " Win kayaknya lu ada sama lu ngga ada ngga ngaruh deh, mikro bisa jalan tuh tanpa elu, lu ke salon aja sana tiap hari"

Ini candaan paling ngga kelas, huh.

Dari ngomongin kerjaan, ngomongin anggota sampe nyariin jodoh
Geng Sepedaan


Pantes yah kalau ada yang bilang sebenernya enak ngga enaknya kerja itu bukan tergantung target yang diberikan perusahaan, atau tergantung besar kecilnya gaji, tapi kenyamanan bekerjalah yang paling menentukan betah ngga betahnya seseorang di kantornya.

Makanya bersyukurlah kalian-kalian yang dapat rekan kerja nyenengin dan bisa bikin tetap ketawa-ketawa walau semenit yang lalu baru dikeramas atasan. karena itu anugerah no 12 yang harus disyukuri dalam hidup.

Kalian rekan kerjanya asik-asik atau malah malesin?.













Saat Ibu Bekerja Pengen Resign

Thursday, October 5, 2017


Sebagai ibu bekerja pernah ga sih kepikiran resign?

Hahahaha pernah bangeeet. Biasanya kalau lagi emosi ga stabil dan ada pemicu yang bikin galau.





3 situasi tergalau yang bikin kepikiran resign itu :


🀰Abis cuti melahirkan.

Astagaa ninggalin anak di hari pertama usai cuti itu kayak separuh jiwa lepas. Di kantor gelisah tak menentu. Pas Tara dulu, hari pertama saya kerja, doi langsung demam tinggi, gegara dia kaget ngga dinenenin. Beeeugh jangan ditanya,pulang kantor saya nangis-nangis kayak anak kecil di ketek suami😭😭, langsung mau tanda tangan surat resign saat itu juga


Tergalau kedua, Saat ART minta resign 🀦‍♀️🀦‍♀️.


Ya Allah hidup gw kok drama gini ya.

Punya bayi piyik dan ART tiba-tiba minta resign ini rasanya lebih sakit dari diputusin pacarlah, nyeseeeek. Kalau begini, langsung minta ijin ke bos buat cuti dadakan sembari nyari ART pengganti. Tara entah berapa kali saya titipin ke rumah temenlah, ke rumah ortu kakak ipar sampe dititip ke daycare saat si mba ga balik. Bahkan pernah kejadian saya titipin Tara di rumah temen ( tentu dengan nanya dia dulu sebelumnya). Eh besoknya si ART temen yang saya titipin Tara tadi minta resign. Hwaaaaaa saya feeling guilty banget. Merasa bersalah karena jangan-jangan gara-gara saya titipin anak disitu doi jadi males, marah trus minta berhenti. Walau temen saya itu jelasin kalo ga ada hubungannya dengan saya tapi ya tetep aja merasa bersalah.

Pas situasi gini udahlah langsung nekad mau resign saat itu jg, sedih gilak. Tapi untung saat itu saya punya atasan cewek yang pengertian. Selalu nyemangatin, malah bilang " Biasa itu Win, kalau punya bayi ya masalah ibu bekerja itu begini ini, ntar lewat juga kok" 😍😍 luuvlah sama blio.


Tergalau ketiga ya apalagi kalau bukan masalah mutasi, hahahaha.

Taulah di BRI, jaman dulu mah kalo mutasi ga kira-kira tempatnya. Bisa kemana-mana ga tau polanya. Gitu dapat SK mutasi dan harus pisah sama keluarga udahlah detik itu juga pengen marah sama kantor terus pengen resign segera 😡😡. Ya gimanaaa masa gaji habis buat ongkos PP Jakarta-Medan doang, kan ga asik banget. Untungnya sekarang mutasi udah pake regionalisasi, jadi ya udah 4 tahun ini saya ngidernya di Medan doang. Alhamdulillah.

Tapi kalo pas inget hepinya bekerja, mikirin gimana serunya di kantor, mikirin impian diri pribadi, semua kegalauan soal resign bisalah dimute dulu.

Kemarin itu sempet out of the blue saya mak dudul bangun tidur kepikiran resign lagi. Triggernya gara-gara sehari sebelumnya saya pulang kantor jam 11 malam dan Divya ga mau bobo sama saya. Kayak yang ngambek gitu. Waaa saya patah hati banget πŸ˜©πŸ˜©πŸ’”πŸ’”, beneran anak ga mau bobo sama kita itu rasanya sakiiit banget. Kedengerannya lebay tapi pas kejadian ga ada lebay-lebayan malah sedih .

Besoknya ngomong ke suami, suami malah melarang " Yakin dek, bisa adek ngurus anak seharian, nanti migren terus gimana?"

Wah wadepak banget nih suamik.

Tapi ini memang true story sih. Kayak rahasia ilahi gitu lo,masa ya tiap Sabtu Minggu kalo di rumah doang ngga kemana-mana saya sering banget langsung migren. Makanya mas Teg udah hapal banget. Saya kalo ngga ngapa-ngapain ya migren. Seharian di kantor wara wiri sehat walafiat. Giliran weekend bisa leyeh-leyeh di rumah, eh pala pusing #kray.

Mutung sama jawaban suami, saya nanya ke grup WA geng gong kesayangan. Butuh dukungan banget.

Jawabannya

" Udah siap mba Win ga bisa perintah-perintah bawahan? Ntar post power syndrom lho"

" Mba Win kamu tuh PV blog turun aja stress, gimana mau resign coba. Udahlah sementaranya itu perasaan galaunya"

Huh mereka memang kamfretos tapi bener.

Masih ngga puas saya nanya ke grup sohib SMA yang biasanya lebih waras kalo ngasih pandangan, soalnya disitu ada sohib saya yang seorang psikolog.


Tanggapannya

" Win ada banyak orang yang hidupnya lebih bahagia saat dia jadi ibu rumah tangga, dekat dengan anak, ngurusin pekerjaan rumah. Kami udah kenal kau hampir 20 tahun, dan kau bukan termasuk perempuan jenis itu. Jadi udahlah kerja aja kau ga usah sok kementelan pake galau-galau segala"


Memang mereka sungguh kawan yang pengen diketekinlah kalo deket. Ngga ada manis-manisnya kalau dimintai pendapat. πŸ˜‘πŸ˜‘

( Baca : Mengasuh anak bukan untuk semua orang )

Dan begitulah maka sampai hari ini saya masih tetep pergi pagi pulang petang, kadang malam, dan ternyata tetap sehat dan tetep lupa pernah galau.

Memang sih yang namanya semangat itu ya kadang naik kadang turun. Ada saatnya yang menggebu-gebu banget sama kerjaan. Kayaknya semua tantangan di depan itu terpampang nyata dengan indahnya dan seperti manggil-manggil untuk ditaklukkan. Kalau udah gini saya bisa kerja sampe ga kenal waktu. Asik banget berkutat di kantor. Hanya karena takut malam-malam di kantorlah makanya pulang. Kalo kantornya kayak di mall mungkin bisa nginep saya di ruangan kerja.

Namun pas kena suatu kejadian yang nggapleki banget gitu , rasanya langsung terjun bebas semangat yang menggebu tadi. Kayak yang bodo amat sama kantor, emangnya hidup gw cuma di sini aja apa? Hueeeeh . Dasar mamak-mamak labil kau, gampang kali berubah-ubah , LOL

So bagi ibu-ibu bekerja yang suatu saat galau, coba ikuti saran-saran saya.


  • Saat galau melanda, pengen resign, hidup berasa ga berarti, hampa, kzl sama kerjaan, jangan langsung buru-buru melayangkan surat resign. Coba curhat sama sohib seperjuangan. Cerita sama temen terkampfret kalian, Niscaya biasanya yang tadi kelihatan gelap gulita tiba-tiba jadi ... tetep gelap sih, tapi minimal ada yang bikin ketawa.
  • Tarik nafas, kalau memang bisa, cuti dulu sehari dua hari. Nikmati saat-saat bebas dari kerjaan kantor, hepikah? ngga pusingkah?
  • Diskusi ke suami, biasanya perasaan galau pengen resign itu memang ada triggernya, jadi coba berbagi dengan pasangan, biar plong, siapa tau kita pikir itu sebuah masalah maha dahsyat, tapi pas diceritain yaela ternyata cuma remah-remah rempeyek yang kesirem air, langsung lembek.
  • Tanya kembali ke diri sendiri, apa tujuan bekerja, biar galaunya segera sirna.
  • Dan terakhir percayalah yang namanya galau pengen resign bagi ibu bekerja itu memang wajar menghampiri. Biasanya ya karena 3 sebab di atas, atau karena ada rutinitas yang kelamaan, kayak abis weekend tuh atau abis liburan panjang bareng anak, pasti bawaannya kepikiran anak terus, apalagi anaknya mendadak manja akut. Jangan diseriusin karena ini beneran cuma sementara.
  • Namun, kalau ternyata setalah semua dipikirin, toh masih galau dan tetep pengen resign, ya ga apa jugalah resign, daripada galau-galau mulu, malah bikin ngga bahagia. Karena bekerja itu mesti bikin kita hepi. Kalau ngga hepi rugi banget, udah ninggalin anak, eh kitanya ngga hepi pula.


Yah begitulah pasang surut dunia ibu bekerja. Banyak sebab untuk resign, sebanyak alasan untuk terus bertahan. Suatu waktu ntar loopnya balik lagi, Galau 😣- semangat πŸ’ͺ-sedih ☹️-hepi lagiπŸ˜ƒ. Namanya hidup, dinikmati aja ya buibu.




Custom Post Signature