I'm Leader is Made

Friday, October 21, 2016


Video yang hanya berdurasi beberapa detik tersebut tak henti-hentinya diputar ibu di laptop kesayangannya.





Masih terbayang senyum yang merekah di wajah ibu saat menerima piagam dari menteri lingkungan hidup pada 19 April 2013 lalu di museum Wiyata Mandala. Terukir di atas piagam tersebut nama putri nya sebagai pemenang ketiga lomba blog anugerah jurnalistik yang diadakan oleh Aqua Danone. Windi Widiastuty, ya saya sendiri.

Seharusnya sayalah yang akan menghadiri acara penganugerahan itu, namun berhubung kondisi pada saat itu, saya tengah hamil 9 bulan maka saya meminta ibu untuk mewakilinya. Bahagia sekali rasanya melihat ibu yang begitu bersemangat saat saya memberitahu kabar gembira tersebut. Tanpa berfikir ibu langsung setuju untuk mewakili saya dan berangkat ke Jakarta.

Saya lihat kebanggaan di matanya yang berkaca-kaca di layar televisi. Ya acara tersebut ternyata diliput oleh beberapa stasiun televisi nasional. Walau hanya beberapa detik namun itulah momen yang membuat saya begitu bersyukur setidaknya saya pernah membuat ibu tampil di depan public karena prestasi yang saya torehkan.

“ Kamu menang apalagi sekarang ?”

Itu pertanyaan yang sering dilontarkan ibu kepada saya belakangan ini. Memang sepertinya hoki saya lagi baik, karena beberapa lomba menulis yang saya ikuti mencantumkan nama saya sebagai pemenangnya. Dan ibu suka sekali mendengarkan cerita dibalik tulisan yang saya buat. Bahkan ayah saya sering mengatakan kalau ibu suka bergadang sambil membaca-baca blog saya, haduuuh ada haru yang mendesak-desak di hati ini.

“ Mamak dengar kamu dapat promosi di kantor, benar ya nak?”

Pertanyaan ibu yang lain kepada saya. Dua tahun terakhir ini memang karir saya di kantor mengalami kemajuan yang lumayan. Terakhir kali saya memberitahu  ibu bahwa saya direkomendasikan untuk menjabat sebagai manajer, namun karena factor keluarga , maka saya masih mempertimbangkannya. Ada kebanggaan yang tak dapat disembunyikan ibu setiap kali membicarakan anak-anaknya kepada teman-temannya.

Sejujurnya kalau mengingat bagaimana saya kecil, saya sendiri merasa takjub dengan apa yang telah saya capai saat ini.

Dulu saya adalah anak yang pemalu dan tidak percaya diri. Banyak factor yang menyebabkannya. Pertama karena postur tubuh saya yang mungil, otomatis saya sering diangap anak bawang oleh teman sepermainan. Saya tidak pernah dianggap dalam permainan apapun, apalagi memang saya tidak menguasai satu jenis permainan pun. Main kelerang saya ngga bisa, main lompat tali saya sering jatuh.

Dalam berbagai perlombaan pun saya tak pernah mengukir prestasi. Lomba lari ngga pernah menang, lomba balap karung saya kalah cepat, bahkan lomba makan kerupuk pun saya tak pernah mendapat nomor.

Di kelas saya termasuk anak yang pemalu. Walau saya tahu jawaban dari pertanyaan guru, namun enggan sekali mengangkat tangan untuk menjawabnya, kecuali kalau ditunjuk langsung oleh bu guru.

Kalau diingat-ingat bagaimana saya dulu, bisa dipastikan saya ini tidak punya bakat untuk jadi si pemimpin kecil. Bagaimana tidak? Rasa-rasanya sifat-sifat seorang pemimpin tidak ada di diri saya. Seorang pemimpin itu katanya haruslah orang yang pemberani, percaya diri, mandiri, dan seabrek sifat ksatria lain.

Namun tak disangka ternyata saya yang pemalu dan tidak percaya diri dahulu, saat ini  sudah menjelma menjadi sosok yang berbeda. Menjadi seorang pemimpin mungkin bukan hanya merupakan cita-cita lagi.

Untuk itu saya sangat bersyukur terlahir dari rahim seorang perempuan yang saat ini saya panggil mamak. Di tangan ibu, juwa saya ditempa. Ibu memiliki andil dan peran sangat besar dalam kehidupan saya. Ibu dapat melihat kekurangan serta potensi yang ada pada diri saya.

Di tangan ibu, seorang pemimpin kecil pun telah terbentuk.

Apa sebenarnya yang telah dilakukan ibu saya?

Ibu mengajarkan saya untuk disiplin

Yang namanya anak kecil pasti maunya semua permintaannya dituruti. Maunya sekehendak hati, kapan mau makan, kapan main, kapan istirahat. Itu pun terjadi pada saya. Namun hal tersebut tak membuat serta merta ibu mengeluarkan seabrek aturan yang mendisiplinkan saya. Ibu maunya saya disiplin atas kesadaran sendiri bukan karena dipaksa.

Saya ingat, saat itu saya yang antusias sekali untuk membuat jadwal harian. Salah satu penyebabnya karena saya merengek kepada ibu agar diberi ijin mengikuti les tari dan diperbolehkan berenang ke kolam renang setiap sore. Ya, saya memang suka sekali menari dan hobi berenang. Ibu menanyakan kepada saya

“ Kapan kamu mau latihan nari dan berenang, kan pulang sekolah kamu ngaji, pulang ngaji udah sore, belum ngerjain PR, gimana ngatur waktunya?”

“ Narinya pulang ngaji mak, ntar berenangnya sehabis nari”

“ Ah memangnya sempat, biasanya kamu kan suka main terus sama temanmu ?” ibu terlihat ragu

“ Coba deh kamu buat jadwal kegiatanmu, biar mamak lihat masih bisa ngga kamu ikut les tari dan renang “

Hwooo, ngga nunggu lama saya langsung kutak-kutik menyusun jadwal harian saya. Apalagi kebetulan saya mendapat stiker jadwal harian lucu dari majalah anak yang menjadi langganan kami. Mulailah saya mengatur kegiatan saya dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Ibu menempel jadwal harian yang saya buat di pintu meja belajar saya. Biasanya ibu hanya mengingatkan saja jika saya tidak disiplin mengikuti jadwal yang saya buat sendiri. Demi latihan tari dan renang yang menjadi hobi saya, semua kegiatan di jadwal saya patuhi. Ternyata untuk mendisiplinkan seorang anak cukup dengan mengkombinenya dengan kegiatan yang disukainya.

Sampai saat ini saya terbiasa membuat jadwal untuk kegiatan saya. To do list dalam dunia kerja membuat setiap pekerjaan saya selesai tepat waktu dan membuat rencana-rencana yang saya susun berjalan dengan baik

Ibu memberi kepercayaan kepada saya

Saya ingat, saat itu ibu akan pergi dalam waktu yang cukup lama ke Jakarta bersama ayah. Saya,abang serta dua adik saya ditinggal di rumah bersama ART ( Asisten Rumah Tangga ). Saat itulah ibu berbuat sesuatu yang menurut saya sangat luar biasa. Ibu memberikan tanggung jawab yang besar kepada saya, yaitu mengatur keuangan selama ia pergi. Jadi ibu menitipkan uang belanja, dan uang jajan adik untuk saya atur. Maka setiap pagi saya akan menjatah uang jajan mereka, kemudian memberi uang kepada si mbok untuk belanja. Saya begitu bangga diberi kepercayaan oleh ibu, dan berusaha keras agar uang yang ditinggalkan ibu cukup sampai ibu pulang. Akhirnya uang tersebut bukan hanya cukup tapi berlebih.

Ibu mengajarkan saya arti tanggung jawab bukan dengan kata-kata tetapi dengan memberi kepercayaan kepada saya. Bukankah amanah adalah salah satu ciri pemimpin?

Ibu menanamkan pentingnya kejujuran kepada saya

Ibu selalu bilang, orang jujur bakal masuk surga. Ibu juga bilang kalau bohong itu temannya setan. Otak anak kecil saya mencerna bahwa kejujuran itu modal utama masuk surga. Dan karena saya ingin masuk surga maka saya takut sekali berlaku tidak jujur atau berbohong kepada orang lain.

Pernah, saat saya jajan di kantin sekolah, saya membeli mi goreng, beli minum, trus beli permen. Seharusnya uang jajan saya sudah habis. Tetapi saat saya bermain lompat tali, sekeping uang seratus perak lompat dari kantung baju saya. Saya bingung, namun segera sadar, dan merasa bahwa berarti tadi saya jajan belum bayar. Secepatnya saya kembali ke warung jualan tadi dan menyerahkan uang seratus perak saya tadi. Si ibu penjual sampai terheran-heran melihat saya.

Berbuat jujur itu rasanya senaaang sekali. Setelah menyerahkan uang kepada ibu penjual saya merasa telah berbuat baik. Walau akhirnya ketahuan bahwa ternyata uang seratus perak tadi adalah uang jajan sekolah ngaji sore saya, wahahaha

Sampai saat ini ajaran ibu masih saya ingat. Karena itu, tak pernah sekali pun saya mencontek dalam ujian, karena saya takut menjadi temannya setan.

Beberapa waktu yang lalu, pernah juga saat makan di restoran bersama suami saya menemukan bahwa billing yag ditagihkan kepada saya lebih sedikit dibanding yang seharusnya. Tanpa ragu saya memberitahu kepada si pelayan dan menambah uang sesuai dengan yang kami makan. Hal-hal seperti itu walau diajarkan ibu saat saya kecil namun terbawa terus hingga saya dewasa.

(Baca : Niatnya Jujur Malah....)

Kejujuran membuat hidup kita tenang dan membuat kita dipercaya oleh orang lain.

Jujur merupakan sifat seorang pemimpin, maka tak heran nabi Muhammad dijuluki AS-Siddiq yang artinya orang yang dipercaya

Ibu Melatih Kemandirian Saya

Kebanyakan anak diantar jemput oleh orangtuanya saat pergi dan pulang sekolah. Karena ibu setiap hari harus bekerja, maka kegiatan antar jemput tersebut tidak pernah ada dalam kisah pendidikan saya. Saya biasa pergi dan pulang sekolah sendiri. Duduk di bangku kelas 5 SD saya sudah fasih naik turun angkot bersama adik baik berangkat maupun pulang sekolah

Di rumah, walau kami selalu memiliki Asisten Rumah Tangga, tak pernah ibu membiasakan saya untuk menyuruhnya melayani saya. Membereskan tempat tidur, menyusun buku ke tas saya lakukan sendiri.Bahkan menyusun pakaian ke lemari pun saya lakukan sendiri.

Tidak memanjakan saya dan yakin kalau saya bisa membuat saya mandiri lebih cepat dibanding anak seusia saya saat itu.

Tak heran begitu lulus SMP, melanjutkan sekolah di sekolah nun jauh dari rumah, berasrama pula, lanjut kuliah ke Semarang, kerja di Jakarta, yang kesemuanya jauh dari ibu tak membuat saya gamang. Mudah sekali melaluinya karena latihan dari ibu sedari saya kecil.

(Baca : Warna Warni Sekolah Kenangan )

Ibu Mampu Melihat Potensi Saya

Saya merasa saya tidak memiliki kelebihan apapun. Olahraga saya tidak suka, menyanyi pun saya tidak bisa.

Namun setiap melihat acara Panggung hiburan Anak-Anak di TVRI dulu, saya pasti langsung berjoget-joget ria. Setiap mendengar musik saya pun akan bergerak-gerak mengikuti iramanya. Menyadari saya yang begitu antusias kalau mendengar musik, ibu langsung mendaftarkan saya ke sanggar tari. Wow bahagianya hati saya kala itu. Menari memang kesukaan saya.

Ibu memang tak salah, dari menari beberapa kali saya membawa pulang piala yang saya menangkan dari berbagai lomba menari.

Selain tari, potensi saya yang bisa dilihat ibu adalah kegemaran saya membaca yang membabi buta. Sadar anaknya penggila bacaan, ibu membelikan aneka bacaan untuk saya, mulai dari majalah, buku cerita sampai komik. Dulunya sih saya hanya menjadi pembaca setia saja. tak disangka kegemaran membaca saya berguna saat ini, saat saya mulai menulis. Beragam bacaan dimasa kecil turut memperkaya tulisan saya.

Mampu melihat potensi anak merupakan hal penting yang harus dimiliki orangtua. Terkadang banyak anak yang tidak menyadari bakat yang dimilikinya. Namun jangan sampai orangtua memaksakan kehendaknya. Arahkan anak, dan biarkan ia menemukan sendiri apa yang menjadi passionnya.

Ibu Membangkitkan kepercayaan Diri Saya

Saya tidak terlalu yakin apa yang dilakukan ibu ini. Setiap hari saat makan bersama di meja makan, ibu selalu memancing saya untuk bercerita. Apa saja. Lama kelamaan saya dan saudara-saudara jadi terbiasa bercerita. Bahkan yang dulunya harus dibujuk-bujuk agar berbicara akhirnya kami malah berebutan ngomong.

Terkadang ibu nyeletuk " Windi, dengerin dulu abangnya cerita nanti giliran kamu"

Terkadang memang tanpa kita sadari, anak kita ajarkan untuk berani berbicara tanpa pernah mengajarkannya untuk mau mendengar.

Dari kebiasaan itu, saya jadi percaya diri jika disuruh berbicara di kelas. Belakangan saya malah gatal kalau tidak menyumbangkan ide atau pendapat saat di kelas. Kebiasaan tersebut berlanjut terus hingga di dunia kerja. Dan ternyata itu sangat menguntungkan saya.

Ibu Memberi saya Makanan yang baik dan cukup

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat

Seorang pemimpin harus memiliki jiwa yang kuat. Untuk itu ia harus memiliki fisik yang sehat. Ibu mencukupi kebutuhan nutrisi saya dengan memberi makanan yang baik kepada saya. baik dalam arti halal asal usulnya dan baik untuk tumbuh kembang saya.

Walau tak selalu makanan mewah dan mahal, namun  ibu mencukupinya dengan apa yang ada tanpa mengabaikan kandungan gizi di dalamnya.

Setidaknya saya ingat dulu selalu ada ikan di lauk saya. selalu ada buah sebagai pelengkapnya. Bukan buah mahal, hanya buah dari halaman rumah, seperti rambutan, jambu, mangga atau sawo.

Tidak harus mahal untuk mencukupi nutrisi anak. Yang terpenting keseimbangan gizi di dalamnya.

( Baca : Makanan Instan Yay or Nay )

Ibu Memberi Contoh Bukan Perintah

Anak adalah si peniru ulung. Daripada capek-capek memerintahkan mereka ini itu, lebih baik contohkan saja.

Ibu menerapkan itu untuk saya. Alih-alih menyuruh saya rajin belajar, ibu mencontohkan langsung dengan masih semangat kuliah di usianya yang tidak lagi muda. Daripada memberi saya petatah petitih tentang pentingnya bekerja sungguh-sungguh, ibu membuktikannya dengan prestasi-prestasi yang dicapainya. Ibu saya adalah seorang guru, dan di hampir menjelang usian pensiunnya saat ini, telah berulangkali ibu mendapat predikat guru teladan.

(Baca : Bagaimana rasanya menjadi anak dari Ibu Bekerja )

Untuk mengarahkan saya menjadi seorang pemimpin pun ibu terlebih dulu mencontohkannya. Saat ini beliau adalah seorang kepala sekolah yang tentu saja merupakan seorang pemimpin.

Banyak hal yang telah dilakukan ibu untuk saya si pemimpin kecilnya. Kemandirian, percaya diri, jujur, amanah adalah merupakan modal seorang pemimpin. Namun yang terpenting dan menjadi modal utama pemimpin sejati adalah patuh pada Tuhannya.

Patuh pada Tuhan, bukan hanya soal ceremonial ibadah, tetapi lebih kepada akhlak, mengasihi sesama, dan nilai-nilai kebaikan dalam pergaulan. Termasuk

Pemimpin yang patuh pada Tuhannya inshaa Allah akan memiliki sifat jujur, amanah,ihsan tentu saja dan tidak akan mengkhianati orang yang dipimpinnya. Itulah pemimpin sejati.

Hmmm sempurna sekali ibu saya ya

Tentu saja tidak. Ibu saya hanya manusia biasa. Ia sering memarahi saya saat saya salah atau bisa jadi saat ibu dalam kondisi bad mood. Ia juga pernah kecewa saat saya tidak memenuhi harapan-harapannya. Mungkin juga ia pernah membanding-bandingkan saya dengan anak lain, walau saya tak pernah mendengarnya secara langsung. namun, apa yang saya ceritakan di atas adalah hal-hal baik yang telah membentuk saya menjadi seperti saat ini.

Ibu telah berhasil mendidik saya menjadi seorang pemimpin. Setidaknya pemimpin untuk diri sendiri dan pemimpin di tempat kerja. Walau tidak menjadi presiden saya tetaplah si pemimpin kecil ibu saya.

Dan kini, saat saya telah memiliki seorang putri dan menjadi seorang ibu, saya pun ingin agar kelak anak saya menjadi seorang pemimpin.

Karena itu, untuk si pemimpin kecil saya, dua putri kesayangan, saya memulainya dengan memberikan nutrisi terbaik baginya. Saya berusaha keras untuk memberi ASI di awal kehidupannya di dunia ini. Walaupun saya tidak bisa memberi secara eksklusif . Kebutuhan anak saya tidak dapat saya imbangi sehingga saya putuskan untuk menambahnya dengan memberi susu formula. Mungkin banyak ibu yang mencibir saya, tapi bagi saya niat dan usaha keras saya telah membuktikan cinta saya kepada si kecil. Saya tidak mau terbebani dengan hal itu.

Untuk mendidik seorang pemimpin kecil, saya harus berfikir positif dan menularkan aura positif untuk anak saya.



Apa yang dilakukan ibu saya, yang baik-baik dan telah saya rasakan manfaatnya akan saya terapkan ke anak saya kelak, tentu saja disesuaikan dengan kondisi putri saya.

Konon, menurut asal-usulnya seorang pemimpin itu ada dua jenis. Pertama pemimpin yang dilahirkan (Leaders are born)  dan kedua pemimpin yang dibentuk ( Leaders are made).

Pemimpin yang dilahirkan itu salah satu contohnya adalah seorang nabi. Ia memang dilahirkan dan sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin bagi umatnya. Contoh lain adalah seorang anak yang dilahirkan dari Raja dan ratu, maka bisa dipastikan ia akan menjadi seorang pemimpin menggantikan ayahnya.

Sadar bahwa anaknya bukanlah seorang nabi dan bukan pula keturunan raja-raja,maka ibu mendidik dan menjalankan perannya untuk menghantarkan saya menjadi seorang pemimpin seperti sekarang ini.

Dan karena saya tidak tahu apakah anak saya terlahir untuk menjadi seorang pemimpin atau tidak, maka saya akan berusaha maksimal sebagai seorang ibu untuk memberi dukungan dan mencukupi kebutuhannya untuk menjadi seorang pemimpin di masa depan. Seperti saya yang tidak terlahir menjadi pemimpin namun pemimpin yang dibentuk oleh tangan hebat bernama ibu, cause i'm leader is made




4 comments on "I'm Leader is Made"
  1. Kalau disuruh2 anak memang kadang gak mau dengerin ya, bagusan langsung kasih contoh.

    ReplyDelete
  2. That is the power of women! I am actually going to write my research paper about women soon.

    ReplyDelete
  3. I had a really great time reading this kind of valuable post. Please keep sharing and enlightening your readers' minds. Visit my page at www.lawrencetoddmaxwell.net when you have some spare time.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature