Menikah Atau Tidak

Wednesday, August 9, 2017
Tema #GesiWindiTalk kali ini request dari teman Gesi. Tentang pandangan kami tentang pernikahan. Kalau kami disuruh kasih rekomendasi ke orang lain, kami bakal suruh orang untuk menikah atau tidak?


Baca punya Gesi :




Nah sebelum saya jawab, coba yuk kita pilah mana lebih baik menikah atau single

Single :

Enaknya

↔ Waktu untuk sendiri lebih banyak
↔ Waktu untuk orangtua lebih banyak
↔ Kebutuhan hidup hanya untuk diri sendiri
↔ Mau kemana saja tinggal pergi
↔ Bisa hang out sama teman kapan dan dimana pun
↔ Fleksibel dalam mengejar karir, tidak tergantung pasangan
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga harus minta pendapat pasangan

Ngga enaknya

↔ Ngga ada temen bobo dan berbagi cerita setiap malam, kecuali kamu punya pacar dan mau telfon-telfonan terus
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga ada yang dimintain tukar pikiran (bisa sih temen kalau mau)
↔ Kalau tidak pintar memanage keuangan, terkadang gamang sama tujuan hidup sendiri
↔ Suka diomongin orang sekitar
↔ Dianggap kurang mature
↔ Kebutuhan biologis siapa yang menuhi?


Menikah :

Tidak Enaknya

↔ Waktu jelas berkurang, karena sekarang apa-apa untuk keluarga
↔ Mengejar karir ada batasnya, karena harus mikirin keluarga , termasuk persetujuan pasangan
↔ Waktu untuk orangtua, kerabat. lingkungan harus dibagi dengan waktu bersama keluarga
↔ Tidak bebas seperti saat single
↔ Biaya hidup akan membengkak, karena banyak tujuan yang harus dicapai, sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, asuransi.
↔ Tidur tidak pernah nyenyak lagi jika sudah punya anak

( Baca : Yang Berubah Setelah Punya Anak )

Enaknya

↔ Ada teman cerita setiap saat
↔ Punya seseorang atau tempat untuk pulang
↔ Kalau sudah punya anak, tambah penghibur hati
↔ Secara society aman, dan dianggap normal
↔ Sex jadi halal

( Baca : Ekspektasi dan Realitas Setelah Menikah)

Kalau kita lihat perbandingannya di atas, sebenernya ngga jauh-jauh amat sih ya bedanya. Enak dan ngga enaknya kalau dipikir-pikir juga ngga signifikan amat. Karena apa yang dilakukan orang menikah bisa juga dilakukan saat single, kecuali sex ya, kecuali kamu menganggap sex sebagai perbuatan yang boleh dilakukan dengan siapa saja, maka menikah jadi tidak ada bedanya dengan single.

Jadi? Kalau gitu ya udahlah single aja, toh ngga ada bedanya.

Jawaban kayak gitu, jadi sama gampangnya dengan ngomong " Ya kalau, ngga ada bedanya, ya kenapa ngga nikah aja, enak ada yang ngurusin."

Hayoooo? Jadi mending nikah atau single ini sih.

Kalau pertanyaan ini ditujukan ke saya sekitar 10 tahunan lalu, pastilah saya bakal jawab dengan pasti, "Ya nikahlah, masa ngga nikah sih", karena memang saya befikir bahwa menikah itu default aja kebutuhan manusia dan hal yang natural dijalani saat orang sudah beranjak dewasa dan siap untuk menikah.

Namun, kalau ditanya sekarang, saya bakal harus mikir dan ngomong panjaaaaaaang dulu sama yang nanya. Karena ternyata setelah saya menikah dan menjalaninya kurang lebih 9 tahunan, ya baru tau aja kalau menikah itu challenging banget deh. Ditambah sering denger cerita dan curhat orang orang lain soal rumah tangganya, membuat saya pengen bilang ke para single " Plis plis jangan buru-buru menikah sebelum yakin betul apa yang kamu inginkan dengan menikah"

Saya ngomong gini bukan skeptis sama lembaga pernikahan sih. Tapi karena saya melihat, banyak banget orang yang kelihatan mesra, ekonomi cukup, anak ada, segalanya kelihatan fine-fine saja, ternyata cerai.

Saya hidup di circle dimana perceraian bukan merupakan hal yang mengejutkan lagi. Saya punya teman yang bercerai, punya keluarga yang bercerai, punya teman kantor yang bercerai , punya tetangga yang bercerai, yang awalnya dulu saya selalu WOW WOW gitu mendengarnya.

Saya sempet mikir " Kenapa bisa cerai?"
" Kok ngga mikirin anaknya?", " Apa ngga bisa dibicarain lagi?" , " Apa tidak mau mencoba lagi?", " Kok bisa selingkuh sih", " Kalau selingkuh, kok sampai cerai sih" (tetep), yang intinya bagi saya dulu perceraian itu menjadi sesuatu yang luar biasa.

Namun makin kesini, makin lama menikah, mengenal orang, dengar cerita orang, melihat kehidupan orang, ya jadi mengerti sendiri. Bahwa di pernikahan itu banyak banget hal yang bisa bikin suami istri bertengkar, tidak sepaham, dan selalu merasa kurang puas.


Makanya kalau saat ini saya mendengar orang bercerai, ya dalam hati cuma bilang " Life Happens" aja.

Makanya kembali saya bilang, bagi para single, plis pikirin lagi saat menentukan pasangan hidup. Karena beneran menikah itu ngga mudah jenderal.

Kalau kita pikir menikah itu cuma untuk memenuhi kebutuhan biologis saja yakin banget itu cuma menjadi kebutuhan utama di awal-awal pernikahan, setelah itu... ya tetap butuh tapi ada hal lain yang lebih krusial.

Tapi saya ngomong gini juga ngga selamanya bener, karena buktinya ada juga pasangan yang berpisah ya karena masalah ranjang.

Saya dan sohib saya di grup pernah ngomongin ini panjang lebar, dan kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa hal paling penting bagi kita saat memutuskan untuk menikah adalah memilih pasangan yang memiliki kesamaan prinsip hidup. TITIK.

Itu paling penting.

Karena yang namanya pernikahan, mau ekonomi sebagus apapun, secinta apapun, support system sebaik apapun, namun saat kita dan pasangan sangat berbeda secara prinsip hidup, udahlah pasti bakal melelahkan sekali. Kecuali salah satu rela untuk berkompromi dan mengalah sepanjang benturan terjadi.

Persamaan prinsip bukan perkara hal-hal sepele, kayak makan enaknya di meja makan atau di depan tivi. Handuk abis mandi harus diletakin ke tempatnya atau dilempar saja sekenanya.

Hal kecil-kecil kayak gini mah remah-remah rempeyek doang. Tapi lebih kepada hal-hal yang bersifat fundamental.

Pandangan soal agama.
Pandangan soal gender
Pandangan soal pengasuhan anak
Pandangan soal peran suami istri dalam keluarga

Ini nih yang paling penting harus sepaham, atau kalian harus menekan ego terus sepanjang tahun pernikahan.

Saya sering cerita bahwa saya dan mas Teguh itu bedaaa banget kepribadiannya.

Berbeda dengan Gesi-Adit yang seumuran, atau Icha-Jege yang punya sifat 11-12, saya dan mas Teg itu perbedaannya udah macam langit dan bumi.

Kami beda suku, beda budaya, beda usia, beda selera, beda sifat dan beda latar belakang keluarga bahkan kami berbeda pandangan politik. Satu-satunya yang menyatukan kami adalah mie ayam, lho, hahahah.

( Baca : Beda?, Siapa Takut ?)

Oke, serius

Namun saya bisa bilang sampai saat ini dan mudah-mudahan selamanya, belum pernah ada masalah berarti di keluarga kami. Belum pernah ada terpikir untuk tidak bersama Mas Teg.

Satu hal yang saya sadari kemungkinan karena kami sama-sama tau bahwa kami berbeda, dan kami ngga merasa perlu untuk menjadi sama. Dan yang pasti karena prinsip hidup kami walau ngga bisa dibilang sama persis tapi ngga beda-beda amat.

Kami sepemahaman soal peran perempuan dalam keluarga, sepakat soal boleh tidak boleh istri bekerja, sepaham bahwa hidup ini dinikmati bukan dikeluhkan, sepakat bahwa anak tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab saya saja , termasuk masalah sepele soal pakaian dan pergaulan saya.

Hal-hal yang saya rasa prinsipil ya itu.Mungkin berbeda di setiap orang.

Makanya walau kepribadian bagai langit dan bumi, namun soal prinsip hidup ya seiya sekata.


So, saya ngga akan berpanjang lebar, saya udah pernah nulis banyak hal soal pernikahan disini. Kalau kalian search label marriage pasti kalian temukan banyak hal soal pernikahan yang sudah saya bahas. Mulai dari tentang bagaimana tahu jodoh yang tepat, sampai soal ekspektasi dan realita setelah menikah.

Makanya saya ngga akan jawab pertanyaan di atas tadi. Kalian menikah atau tidak, You choose , bukan saya, bukan orangtua, bukan lingkungan. Kamu yang harus mutuskan, karena kebahagianmu bukan di tangan orang lain, dan kesedihanmu juga bukan tanggung jawab orang lain.

Namun yang pasti saya hanya mau sampaikan, bahwa tidak ada yang lebih baik dari menikah atau terus menjadi single. Keduanya sama baiknya jika kita bahagia menjalaninya, dan keduanya sama ngga enaknya kalau kita ngga enjoy menjalaninya.

Kalau kata orang menikah itu rumit, ya saya setuju, tapi ngga serumit sampai kamu harus takut menjalaninya.

Kamu hanya hanya harus paham bahwa yang namanya menikah itu konsekuensinya gede. Ada keluarga yang harus dipersatukan, ada anak -anak yang bakal dilahirkan, dan ada status dan nama pasangan yang bakal mendampingi kita seumur hidup.

Saat kamu menikah, kamu bukan hanya menjadi si Mawar lagi, tapi berubah status menjadi istri Kumbang, menantu Bu Broto, dan mamanya Melati. Yup, saat kamu menikah, rentetan normalnya kamu bakal ketambahan embel-embel tidak hanya nama tapi tanggung jawab yang menyertainya.

( Baca : Tentang Jodoh )

Tentu itu tidak mudah namun bukan hal yang harus dibikin sulit juga.

Kamu juga harus paham, bahwa pasanganmu itu yang akan menjadi teman hidup seumur hidup bukan orang yang harus selalu memuaskanmu, dia bukan cenayang yang bisa selalu tau apa maumu, sama seperti dirimu dia juga bisa berubah, maka berharap dia selalu seperti malaikat pasti akan mengecewakanmu.

Dan harus disadari bahwa orang yang hidup dengan kita itu bukan diri kita, maka pasti ada perbedaan. Namun yang namanya perbedaan ya biarkan saja, buka untuk disamakan tapi cukup dipahami dan dikompromikan. Kecuali, sekali lagi kecuali perbedaan prinsip hidup.

Karena menikah dengan orang yang berbeda prinsip akan melelahkan sekali.

( Baca : Suami Selingkuh Dan Istri Yang Minta Dimengerti )

Menikah, dan hidup dengan pasangan yang paling cocok sekalipun, dengan kondisi ekonomi sebagus apapun, dengan lingkungan yang mendukung sebaik apapun, tetap akan ada masalah dalam pernikahan.

Maka jika kamu menikah, menikahlah karena kamu tahu bahwa hidupmu akan lebih baik dengan menikah dengannya, namun tetap persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Bukan dengan was-was setiap saat, namun dengan memanage ekspektasi. Lower expectation dalam pernikahan biasanya malah lebih bisa menyelamatkan hati dan pikiran dibanding hight expectation yang akan memunculkan rasa kecewa.

Menikah tidak menjamin hidupmu lebih bahagia, tapi saya bisa pastikan menikah akan menempa kamu jadi orang yang lebih dewasa dan kamu bakal menemukan banyak hal yang sebelumnya kamu tidak mengerti. Akan banyak pelajaran hidup yang kamu dapat saat menikah. Percaya ngga percaya, pernikahan, mau ngga mau pasti akan mendewasakan seseorang.*gw sok iye banget ngomong gini di usia pernikahan masih bau kencur*

Namun jika, kamu merasa kamu tidak ingin menikah, Go a head, ga ada yang bisa memaksa kamu untuk menikah, even orangtua sendiri. Karena sekali lagi kebahagianmu dan kesedihanmu bukan tanggung jawab orang lain dan ngga ada orang lain juga yang mau tanggung jawab.

Karena menikah  bukan pilihan hidup, maka teruslah melangkah, carilah apa yang masih kamu cari.

( Baca : Karena Menikah Bukan Tujuan Hidup )

Karena menikah bukanlah prestasi, maka teruslah mengukir prestasi-prestasi lain selain prestasi mencari jodoh.

Karena status menikah bukanlah sebuah piala yang harus dipajang di status fesbukmu, maka ngga perlu kesusu dikejar usia. Jangan turunkan kriteriamu demi sebuah kata "Married with"

Karena menikah juga bukanlah pintu darurat, maka ngga perlu membukanya untuk lari dari apapun.

Karena menikah bukanlah tujuan hidup, melainkan salah satu tools mencapai tujuan hidup.

Namun jika kamu merasa kamu tidak memerlukan tools itu untuk mencapai tujuan hidupmu, ya ra popo. lakukan hal-hal lain yang membuatmu bahagia.

Tidak ada yang salah dengan status single. Kalau kamu memilih untuk menunda pernikahan atau bahkan memutuskan tidak menikah karena suatu alasan kuat, keep on fighting.

Namun berjanjilah untuk menikmati waktu singlemu dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup dengan bahagia. Karena menjadi single kamu bisa melakukan banyak hal lebih baik dari orang yang menikah, TRUST ME, walau dikata orang, menikah menambah energy, namun yakin saat single itu adalah sebaik-baik energy untuk memaksimalkan potensi diri. Kamu bisa menaklukkan dunia kalau kamu mau.

So, what i recommend you : single or married?

Biar postingan ini tetap menjawab pertanyaannya, saya jawab secara cepat saja ya.

Saya rekomendasikan kamu menikah :

Jika dan hanya jika, kamu sudah memastikan bahwa calonmu itu adalah orang yang memiliki persamaan pandangan hidup yang prinsipil. Kalau kalian beda hal remeh, itu bisa dikompromikan, kalau berbeda untuk satu pandangan besar, tinggalkan, cari yang lain.

Saya rekomendasikan kamu single :

Jika kamu ingin menikah hanya untuk memuaskan lingkungan, keluarga, atau hanya untuk status padahal kamu belum menemukan orang yang benar-benar sepaham dengan kamu. ya udah single aja dulu sampai kamu ketemu the one tersebut.

You choose.

7 comments on "Menikah Atau Tidak"
  1. Kereeen :D. To the point, jd orang2 yg galau mau nikah ato keep single, jg lbh gampang nentuin pilihannya :D.aku sendiri kalo boleh ngulang waktu, ttp sih bakal pilih nikah. Krn kita walo beda sifat, tp prinsip kita sama. Jd semua perbedaan bisa ditolerir lah.

    Kecuali ama ex suami pertama wkwkwkw.. Kalo itu aku bakal ttp pilih cerai lah -_- . Malah kalo bisa dibatalin, pgn diapus aja dr masa lalu :p. Tp yo wislah... Utk pembelajaran..

    ReplyDelete
  2. Masih single maupun menikah punya kebahagian masing-masing ya Win :)

    ReplyDelete
  3. Menikahlah jika tujuan menikah sudah jelas. Plus ketemu partner yang memang sudah jelas tujuannya dalam pernikahan. Kalau hanya menghindari pertanyaan kapan nikah, ya... wassalam...

    ReplyDelete
  4. Win... aku jadi berkaca-kaca bacanya. Aku hanya mau nikah selain soal prinsip juga soal kenyamanan. Aku pernah disuruh nikah tapi kalau cuma untuk status atau nyenengin orang lain, aku ga mau. Yang jalanin kan aku. Thanks buat tulisannya, ya.

    ReplyDelete
  5. Banyak benernya sih... Tapi, tergantung yang jalanin juga ya

    ReplyDelete
  6. Ternyata menikah itu bukan perkara mudah ya mba harus siap mental, materi, dan masa depan untuk anak - anak nantinya. Aku pribadi lebih milih single dulu sampai menemukan jodoh yang tepat daripada kita menikah cepat2 tapi berujung dengan perceraian karena ekonomi, KDRT, sama pertengkaran.

    nurazizahkim.blogspot.com

    ReplyDelete
  7. Ih mantep banget nih dijembreng semua. Bener banget kalau menikah itu pasti dua insan yang berbeda, selama yang beda bukan hal prinsip in Sha Allah tetep bisa jalan. Suka banget sama tulisan Windi yang ini :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Tinggalin jejak dong biar saling kenal :)

Custom Post Signature