Showing posts with label #GesiWindiTalk. Show all posts
Showing posts with label #GesiWindiTalk. Show all posts

Review Buku Rabbit Hole

Wednesday, August 23, 2017
Review Buku Rabbit Hole



Salah satu kegiatan Tara di rumah selain main hape (wahahahaha) adalah membaca. Sebagai orang yang hobi baca, rasanya ngga heran sih ya kalau saya juga suka membacakan buku ke anak.

Dalam membacakan buku ke anak, saya pakai metode sambil bercerita. Jadi kadang mau bukunya gimanapun ya saya ceritaaaaaa aja ke Tara. Makanya kalau beli buku saya lebih perhatian ke gambarnya daripada ke isi ceritanya, karena cerita mah bisa saya karang sendiri.

Kegiatan membacanya biasanya menjelang tidur atau ngga kalau kebetulan saya capek banget pas pulang kerja, ya bacanya Sabtu atau Minggu. Ngga rutin sih, tergantung kemauan Tara aja. Kadang Tara yang minta bacain buku, kadang saya yang nawarin. Soalnya ada saatnya juga dia ogah baca buku, maunya main sepatu roda (iya, malam-malam main sepeda roda), jadi saya ngga paksain banget.

Saya pernah baca, sebaiknya saat mengenalkan buku ke anak ya kita ngenalinnya dalam bentuk buku asli, bukan buku bantal atau buku kain, harus buku yang seperti buku. 

Karena untuk anak maka yang harus kita perhatikan itu adalah pilihan materialnya . Diupayakan cari yang bahannya kertas tebal,bergambar dan berwarna. 

Nah, kali ini saya mau review buku Rabbit Hole nya Tara. Sekalian ini jadi #GesiWindiTalk minggu ini karena ternyata Gesi juga punya buku Rabbit Hole, yo wis sekalian. Aaaaak padahal ngga janjian, kok bisa serupa seleranya.

Baca punya Gesi :





Bukunya ini seru banget, sampai saat ini Tara bolak-balik minta dibacain, karena kalau buku lain biasanya saya yang cerita, nah dengan buku Rabbit Hole ini malah dia yang cerita, emaknya dengerin, luuuv.

Kemarin pas liburan aja sampe bela-belain dibawa ke hotel ini buku lho sama Tara.


Penampakan

Kesan pertama saya saat memiliki paketan buku Rabbit Hole ini adalah, bukunya tebel bangeeet. Tapi walau tebel, anehnya ngga berat. Ya biasa bangetlah bobotnya untuk ukuran buku setebal itu.




Sankin tebelnya jadi aman untuk anak-anak. Aman dari dirobek mereka maksudnya, xixixi, karena ya mana ada anak-anak yang bisa anteng lihat kertas, pasti bawaannya pengen ngerobek atau pengen mencoret.

Sudut-sudut bukunya ini tumpul, jadi selain aman dari kemungkinan dirobek anak, juga aman untuk dipegang.

Paketan buku yang saya punya ini terdiri dari buku "Hmmm, buku tentang perasaan", "The Best Holiday", " The Origin Of My Name", " Cilukba", " What Sounds is That?". Sepintas buka bukunya langsung tau yang membedakan buku ini dengan buku lain yaitu ada bagian buku yang bisa disentuh dan dirasa, pop-up, maupun flip flop (buka tutup). Yakin deh buat anak-anak ini menarik banget.

Paketan buku Rabbit Hole
Dari lima judul buku tersebut, baru empat sih yang selesai di baca Tara. Nih saya ulas satu persatu ya biar pada tau isinya gimana.

Hmmm

Ini buku yang paling gede ukurannya, makanya sama Tara ini yang pertama kali pengen dibacanya. Di buku ini anak-anak diajarkan mengenali berbagai emosi. Ada 6 emosi yang ingin disampaikan di buku ini, yaitu, terkejut, marah, jijik, senang, sedih, takut.

FYI ya ternyata 6 perasaan itu merupakan perasaan dasar manusia lho. hayooo pada tau ngga selama ini. Kalau belum tau yo wis sekalian baca buku sama anaknya.

Masing-masing perasaan itu diwakili oleh satu cerita yang nyambung dari awal sampai akhir. Setiap perasaan diwakili oleh sentuhan yang paling mendekati.

Kayak perasaan sedih , dibuku digambarkan dengan awan berwarna kelabu yang sedang menangis. Awannya  kalau kita sentuh terasa lembut.

Awannya bisa disentuh, lembut


Perasaan marah digambarkan dengan hati yang retak, agak kasar dan ngga nyaman di tangan.

Atau perasaan takut, yang memunculkan rasa merinding di bulu, bulu tangannya berdiri dan bisa dirasakan sama anak.



Ada Bulunya, hiiiii


Hwaaa seru banget.

Nah, biar seru nih bu ibu, saat membacakannya kita harus sambil cerita. kayak saya modelnya begini.

" Hari ini Tara terkejut, seperti ada dentum drum di jantungku"

Untuk mengekspresikan kata " Surprised" di buku digambarkan dengan hati berwarna merah yang berdentum kencang seperti genderang. Hatinya ini bisa disentuh dan dirasakan. Saya ajak Tara untuk menyentuhnya, kayak beludru gitu lembut.

Hati yang berdentum


Kemudian tanya ke anaknya, apa rasanya .

Lanjut ke halaman berikutnya, tanya anaknya kenapa di terkejut.

" Tara kenapa terkejut"

" Soalnya Tara mau dikasih papa bola, waaaaa waaaa"

Tara senang banget dapat bola dari papa, Tara mau main ke lapangan. Begitu terus sampai buku habis.

Di buku ini enam perasaan dasar manusia itu dideskripsikan dengan sangat baik.

Ntar di akhir buku ada cermin bulat, dan kita bisa tanya ke anak " How do you feel?" dan suruh dia mendeskripsikan perasaannya.



The Best Holiday

Buku the best holiday ini ceritanya si anak kita mau diajak jalan-jalan. Yang seru di buku ini, anak  dikasi pilihan mau jalan-jalan kemana.

Lembar pertama ada kalender yang menginfokan kapan kita berangkat. Bagian ini Tara heboh bener, nanyain " Bundaaa kita perginya tanggal berapa"

Trus di halaman berikutnya ada gambar koper seluruh anggota keluarga. Nah disini coba ajak anak berimajinasi

" Tara, ini koper siapa aja ya"

Si Tara jawab kalo itu ada koper papa, tas tangan bunda, tas Tara dan tas adek. Bisa juga sekalian belajar warna, karena kopernya warna warni.

Halaman berikutnya ada gambar peta. Petanya flip flop gitu bisa buka tutup. Mainnya seru nih, minta anak pilih dia mau liburan kemana.

Ada dua pilihan destinasi wisatanya. Mau ke Toraja atau ke Jailolo. Tara saya minta buka salah satu peta. Mana destinasi yg dituju ntar ada petunjuk harus buka halaman berapa, karena beda pilihan beda halaman yang dituju.

Kemarin Tara pilih ke Jailolo. Lanjut ke halaman Jailolo, disitu Tara main di pasir pantai. Sambil jalan-jalan kita bisa cerita ke anak, di pantai ngapain aja, bikin istana pasir, di buku digambarkan anaknya bikin candi prambanan dari pasir, eh langsung ada miniatur candi prambanannya, wow. Sekalian deh kita bisa cerita soal candi Prambanan. Letaknya dimana, sekalian ceritain sejarahnya kalo hapal wahahaa.


Jadi walau tadi tujuannya ke Jailolo, ceritanya bisa kemana-mana.

Di lembar selanjutnya, ada diceritain, kalau di Jailolo itu ada apa saja, permainan khasnya apa, komplit.

Abis dari Jailolo, anakny bisa kita suruh pilih lagi destinasi yang lain, yaitu Toraja. Balik maning ke halaman awal, pilih peta, da silahkan bertualang di Toraja, yeaaay.


What Sounds Is That

Ini buku favorit Tara, diulang-ulang terus.

Buku ini isinya tentang suara-suara transportasi. Tara heboh banget tiap baca ini. Jadi di bukunya kita ceritian awalnya Tara dan keluarga mau jalan-jalan. Di jalan Tara denger suara " Whooooooose" . Nah suruh anak tebak suara apa itu?

"Pesawaaaaaat "

Jadi dia satu halaman deskripsi suara, halaman berikutnya ditunjukkin asal suara itu apa. Ada pesawat, mobil, sepeda, kereta api.



Karena buku rabbit hole Tara yang bahasa Inggris jadi ada beberapa suara yang ga pas. Misal suara kereta api harusnya kan "Tuuut tuuut" disitu tertulis " Choo choo", oleh saya diganti aja jadi sesuai yang biasa didengar Tara biar dia ga bingung.





Ci Luk Baaa

Buku ciluk baa ini di dalamnya ada bagian yang bisa dibuka tutup.

Misal saat disitu ceritanya lagi nyari orang di dalam tenda, nah tendanya bisa dibuka, saat dibuka keliatan deh siapa di dalam. 

Phuppet

Selain buku, paketan Rabbit Hole ini ada permainanya juga, boneka phuppet. Udah disedian potongan gambar dan benang serta sticknya, Jadi kita tinggal gunting-gunting, masukin benangnya ke titik-titik yang udah ditandai. Bisa deh langsung main phuppet sambil cerita.



Overall saya suka banget buku Rabbit Hole ini. Bukunya interaktif banget baik untuk anaknya maupun untuk ortu, jadi bisa sama- sama aktif saat membaca bukunya.

Jauh lebih asik sih dibanding busy book. Soalnya ini beneran buku, bukan kain atau bantal. Isi ceritanya juga menarik dan pas dengan usia anak. Tara saat ini usianya 4 tahun dan ngga kesulitan sama sekali untuk memahami isi buku.

Rekomended bangetlah .

Nah biar ga salah memilih buku untuk anak, saya kasih tipsnya nih ya. Untuk memilih buku anak itu setidaknya harus memenuhi 4 kriteria ini :

1. Edukatif

Edukatif ini maksudnya disesuaikan dengan perkembangan anak, Jadi kalau anaknya masih bayi ya beli buku untuk anak bayi, Buku bayi mah yang penting gambar-gambar gitu. Kalau anaknya udah agak gedean, bisa dimulai dari buku yang memuat warna, kemudian naik ke angka, makin besar bisa makin komplit pilihannya.

Tapi biar ngga banyak biaya, ya udah sekalian aja belinya yang bisa cocok sampe usia anaknya gede, wahahahaha, emak medit.


2. Interaktif

Buku yang interaktif ini yang bisa membangun komunikasi antara anak dan ortu. Jadi bukunya kalau bisa bikin anak bereaksi sekaligus ortunya juga ikut aktif disitu. Misal buku yang isinya ada pertanyaan, trus si anak kita minta menjawab gitu. Atau buku yang bisa bikin si ortu cerita trus si anak nyambungin ceritanya.

3. Atraktif'

Ini penting banget, karena anak-anak itu mudah bosan, jadi ortu carilah buku yang punya fitur-fitur menarik, atraktif. yang banyak gambarnya dan gambarnya bagus, boleeeeh. Atau yang bisa disentuh, atau yang bisa dicium. Pokoknya yang membuat anak mau dan mau lagi kalau diajak baca buku itu.


4. Aman

Dan yang terakhir cari yang aman. Aman bahannya, ngga mudah robek misalnya. Ya kayak saya bilang di atas tadi, kalau dari kertas-kertas biasa gitu, yakin deh pasti langsung dirobek anaknya. Makanya cari yang bahannya tebel, jadi ngga bisa dirobek, Tapi walau tebel perhatikan juga ujungnya, pilih yang ujungnya tumpul, biar ga bahaya kalo kebetulan anaknya lasak.

Harga?

Kalau soal harga, menurut saya buku anak memang relatif lebih mahal sih ya dibanding buku biasa, jadi ya memang harus dibudgetin kalau mau buku yang bagus. Tapi ngga apa sih, karena buku itu investasi, dan ngga pernah rugilah beli buku.



Kalau dari kecil sudah dibiasakan baca buku, mudah-mudahan besarnya ya jadi cinta buku, karena kata orang bijak bestari buku itu kan sumber ilmu pengetahuan ya bu ibu, walau udah ada youtube, buku tetep deh ngga ada matinya.

Oiya, daripada pada nanya, saya infokan aja, kemarin saya beli bukunya ini di IG @varrel_collection, beli yang paket lengkap seri bahasa Inggris. Cek disana ya untuk lihat paketan dan harganya.

Kalau kalian buku favorti anaknya apaan. Ada ga yang suka rabbit Hole kayak Tara?










Koleksi

Wednesday, August 16, 2017


Kalau ada pembagian type-type manusia menurut cara dia memperlakukan kenangan, maka saya akan masuk ke type orang yang ga tau mau dikategorikan kemana. Karena di satu sisi saya ini orangnya sungguhlah penyimpan kenangan sejati. Saya bisa inget detail sebuah kejadian sampai hal yang ngga mungkin orang bayangkan. Saya bisa ingat baju apa yang dipakai si Anu saat kejadian, siapa yang ngomong, siapa yang teriak, saya bahkan bisa mengingat aroma udara saat suatu kenangan berlangsung, dan jika suatu saat tercium aroma yang sama, saya bisa menceritakan dengan jelas apa yang terjadi saat itu.

Namun di sisi lain, saya bisa babar blas lupa terhadap kenangan-kenangan masa lalu, sampai tahap malah ngga ingat pernah melakukan atau melalui apa yang diingat orang tentang saya. Saya susah mengingat wajah orang dan ampun dije kalau disuruh mengingat nomor telepon.

Dan yes, minggu ini GesiWindiTalk mau ngomongin soal benda koleksi masing-masing.

Baca punya Gesi :

Koleksi Gesi Dari Masa Ke Masa


Kenapa dari koleksi kok lari ke soal kenangan? Karena ini idenya dari Gesi, dan saya bukan orang yang punya koleksi macem-macem kayak doi. Beberapa benda yang sempat menjadi koleksi saya ya benda kenangan, alias punya history tertentu sampai saya mau menyimpan dan menjadikannya koleksi.

Tapi bukan koleksi yang untuk dipamer-pamerin sih ya, hanya lebih kepada koleksi buat menyimpan cerita,halah

1. Surat

Wahahaha, barang yang paling sering saya koleksi itu adalah surat. Saya dulu punya kotak kenangan yang isinya segala macem kenangan masa lalu yang kebanyakan adalah surat. Pengirimnya beda-beda, tapi isinya kurang lebih sama, berisi luapan rindu yang menggebu-gebu, terekdungces.

Saya simpan surat-surat dari orang-orang yang spesial di hati, bertahun-tahun. Dari jaman SMA sampai kuliah, sampai kerja, saya bawa kemana-mana. Tiap pindah kos ya si kotak kenangan ikut diangkut.

Kalau kalian kemarin sempet nonton film AADC2, ada adegan Cinta mengeluarkan sekardus kenangan dari lemarinya. Nah begitulah kira-kira koleksi surat-surat saya. Dulu disimpan, karena ternyata pas semua sudah berlalu, kemudian dibaca-baca lagi, bisa bikin ketawa-ketawa sendiri, sembari merutuki diri betapa alay dan noraknya diri ini kala muda dahulu, hasek.

Nah, apakah sekarang koleksi surat-surat itu masih ada?

Tentu tidak dong.

Menjelang nikah sama mas Teguh, itu surat beserta diary masa muda dulu saya kasihkan ke Mas Teguh. Blio baca semua-muanya, dari A sampai Z petualangan masa muda saya, haiyaaaah. Abis beliau baca, satu kardus surat itu dan diary kesayangan saya bakar sampai jadi abu. Pengen diminum sih tapi dilarang masTeg, wahahahaha.

Dengan terbakarnya surat-surat tersebut beserta kotak kenangan, maka saya anggap seperti membakar jembatan ke masa lalu, karena yo opo rek, saya punya jalan di depan mata yang puanjaaaaaang banget buat dilalui bersama si akang tersayang, dududududu.

( Baca : How I Met My Hubby )

Selain surat, saya juga menyimpan segala hal yang pernah dikasi orang ke saya. bahkan saya pernah dikasi kulit pisang yang ada tulisan 'I Love You" nya aja saya simpan sampai ntu kulit pisang kering, gosong, dan hilang dengan sendirinya. Dikasi bunga juga ya saya simpen sampai bunganya jadi bunga kering. Ngga heran rumah saya banyak laci-laci yang isinya tidak bisa dideskripsikanlah dengan kata-kata.



2. Buku

Ya elah, anak nerd mah koleksinya kurang gahol ya. Saya suka membaca, dan yah tentu saja korelasinya saya jadi suka beli buku. Saat saya suka dengan sebuah buku, maka saya akan cari semua buku dari penulisnya. Walau belum pasti sih buku yang ditulis oleh seorang penulis bakal bagus semua, namun biasanya feel ceritanya ngga jauh-jauh beda. Makanya sekali suka dengan satu buku yo wis, koleksilah buku lainnya.

Saya koleksi buku Clara Ng


Dewi Lestari Off Course


Untuk daftar bacaan yang jadi koleksi lemari buku saya, sungguhlah random sekali. Saya punya novel drama yang mendayu-dayu, kriminal, pembunuhan, romance, sampai sejarah. Suka buku fiksi maupun non fiksi. Pokoke asal bukunya menarik yo wis bakal masuk keranjang belanja dan jadi koleksilah ya.

Salah satu buku koleksi kesayangan saya itu bukunya Enid Blyton, hahahah saya ngumpulin tapi ngga kumplit-kumplit semua. And yes saya koleksi buku ini biar ntar Tara bisa baca, walaupun saya sebenernya belum baca semua bukunya. Ya maklum, dulu pas kecil bacaannya malah Majalah Cobek, alias majalah sekenan, bukan buku mahal sekelas Enid Blyton gitu gengs.

sebenernya yg lain masih ada, tapi ga tau dipinjem siapa



3. Bungkus Coklat

Xixixi ini nih salah satu benda unfaedah yang pernah saya koleksi, bungkus coklat.

Jadi ceritanya, pas kecil saya suka banget makan coklat, dan coklat bagi saya saat itu adalah makanan mahal, karena ngga bisa dibeli setiap saat. Saya mah ga doyan yah coklat ayam jago, kecil-kecil seleranya udah lumayan, wahahaha. Coklat favorit saya saat SD itu adalah coklat ......................... sumpah saya berusaha mengingat namanya dan ngga inget sama sekali, Pokoke coklatnya isinya satu petak gede, tapi ada terbagi jadi tiga sampai 4 batang gitu, warnanya ada biru, merah, kuning. Aaaaak lupa banget namanya.

Dulu dibeliin ibu saya tiap blio belanja bulanan ke pasar. harganya saat itu sekitar 400 rupiah kalo ngga salah. Mahal kan yah. Tiap makan diemut-emut biar lama abisnya. Coklatnya habis, bungkusnya dikoleksi, wahahaha.


4. Barang Promo

Astagaaaa, saya baru sadar karena nulis ini. Sadar bahwa saya ternyata suka koleksi barang gratisan. Biasanya yang berupa gimmicks-gimmicks gitu lho. Misal nabung di bank A sekian juta bisa dapet mug, atau belanja sekian piece dapet hadiah bolpen. Nah saya suka banget ngumpulin yang gitu-gitu.

Yang beginian ini jadi ajang berburu buat saya, hahahah


Saya pernah belanja bodyshop sampe 2 jutaan hanya karena saya pengen payungnya yang unyu banget. Jadi si payung itu cakep banget, warna putih, tapi kalau kena air bakal berubah warna jadi pink. Yang mungkin agak lebay adalah bahwa saat itu saya lagi dinas luar kota ke Bogor, dan lagi main ke mall trus lihat promo itu, dan saya beli saat itu juga karena kepengen banget punya payungnya. Padahal saya lagi ngga butuh skincare. Jadilah saya beli segala yang ga penting demi si payung, yang padahal harganya mungkin ngga nyampe 150 ribu, huh. Dan akibatnya lagi, saya mesti bawa-bawa payung ke bandara dan si payung ikut naik pesawat. Ribet abis.

Payung idaman :)


Ini sering banget kejadian. Saya bisa punya beberapa produk tabungan walau sama-sama BRI, tapi beda-beda promo hanya karena saya mupeng sama barang promosinya, wahahahaha. Dan ini 11-12 sama suami. Doi juga suka koleksi dan berburu barang promosi.

Pernah ya kami di malam tahun baru ngider-ngider ke beberapa Grapari Telkomsel hanya untuk menukarkan point demi mendapat payung, jam dinding dan mug yang ada tulisan telkomselnya. Padahal mah barangnya juga bukan barang yang unik, di Ace Hardware juga banyaklah, kayak mug stainless gitu, tapi karena ada tulisan Telkomselnya jadi deh bela-belain wara-wiri cari Grapari yang masih buka. Sankin banyaknya point kami, pulang-pulang bawa payung, mug, jam, bantal, kaos, wahahaha, sungguh goals ya sodara-sodara.


5. Prangko

Aha, akhirnya saya punya benda koleksi yang berfaedah. Dulu jaman SMA saya pernah koleksi prangko. Sampe punya beralbum-album perangko. Triggernya ya tentu saja majalah Bobo kesayangan yang dibaca sejak orok yang selalu menceritakan betapa kerennya menjadi Filateli. Tapi ya namanya juga tinggal di Sibloga, sekeren-kerennya perangko yang didapet ya palingan perangko ratu Elizabeth, itupun beli dari teman, bukan nyari sendiri xixixi.


Sekarang entah udah dimana album perangkonya. Mungkin ada di rumah ortu saya kali, ngga pernah nyari juga sih, udah lupa malah.


6. Lipstik



Tadi pagi pas mau lipstikan saya baru ngeh kalo saya punya lipstik banyak banget hahahah, makanya saya masukin disini sebagai daftar koleksi. Karena seumur-umur baru sekarang sih saya suka ngumpulin lipstik aneka warna gini.

Kenapa butuh lipstik banyak padahal bibirnya cuma satu?

Karena menurut saya sampai saat ini belum ada warna lipstik yang bener-bener pas dengan yang saya inginkan, jadi saya kalau pake lipstik itu dimix dua sampe 3 warna, baru ketemu warna yang pas. Favorit saya sekarang, pake lipstik dasar Nyx yang shade Manila, trus timpa Make Over 002, lalu terakhir disamarkan dengan Oriflame shade Nude (lupa nomornya), baru deh ketemu warna yang saya mau, ribet ya sis.



7. Tiket 

Nambahin, ternyata saya juga hobi ngoleksi tiket, alamak.

Jadi karena dulu saya LDR an sama suami, saya di Jakarta, trus pernah di Jogja, sementara suami di Medan, maka saya bolak-balik Jakarta-Medan, Jogja - Medan dengan pesawat itu udah kayak bolak balik kamar-dapur sankin seringnya. Sebulan bisa 2 kali pulang, yang artinya 4 kali tiket. Dikumpulin selama 2 tahun, ya itung aja sendiri ada berapa.

Pindah tugas ke Rantau Prapat, modanya ganti dari pesawat menjadi tiket kereta. Seminggu sekali pulang, bolak-balik udah aja dua tiket. Selama 8 bulan tugas, yo wis udah setumpuk banget tuh tiket kereta.

Ngapain dikoleksi?

Buat ngitung tabungan saya di pesawat dan di KAI, hahahaha. Dan gila yah, udah bisa beli mobil yang murah-murah tuh kalo dikumpulin semua


Jadi 7 barang itu benda yang pernah saya koleksi. Ngga menarik sama sekali kan yah, hahaha, ngga kayak ciwi-ciwi lucu yang koleksi barang Hello Kitty, Unicorn, Winni The Pooh atau Cinderella. Saya terlalu malas dulu ngumpulin benda dengan karakter Disney hanya karena ogah kalau samaan dengan orang. Sempet sih koleksi benda-benda bergambar Dalmatian, tapi ternyata susah nyarinya, jadi males sendiri hahaha. Dan yah mungkin karena memang bukan jiwa saya sih ngoleksi benda cuma karena lucu.


Kalau kalian, suka koleksi sesuatu ngga, Bikin dong blog post tentang koleksi kalian, sekalian nostalgia.





Menikah Atau Tidak

Wednesday, August 9, 2017
Tema #GesiWindiTalk kali ini request dari teman Gesi. Tentang pandangan kami tentang pernikahan. Kalau kami disuruh kasih rekomendasi ke orang lain, kami bakal suruh orang untuk menikah atau tidak?


Baca punya Gesi :




Nah sebelum saya jawab, coba yuk kita pilah mana lebih baik menikah atau single

Single :

Enaknya

↔ Waktu untuk sendiri lebih banyak
↔ Waktu untuk orangtua lebih banyak
↔ Kebutuhan hidup hanya untuk diri sendiri
↔ Mau kemana saja tinggal pergi
↔ Bisa hang out sama teman kapan dan dimana pun
↔ Fleksibel dalam mengejar karir, tidak tergantung pasangan
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga harus minta pendapat pasangan

Ngga enaknya

↔ Ngga ada temen bobo dan berbagi cerita setiap malam, kecuali kamu punya pacar dan mau telfon-telfonan terus
↔ Mikirin dan mutusin apa-apa sendirian, ngga ada yang dimintain tukar pikiran (bisa sih temen kalau mau)
↔ Kalau tidak pintar memanage keuangan, terkadang gamang sama tujuan hidup sendiri
↔ Suka diomongin orang sekitar
↔ Dianggap kurang mature
↔ Kebutuhan biologis siapa yang menuhi?


Menikah :

Tidak Enaknya

↔ Waktu jelas berkurang, karena sekarang apa-apa untuk keluarga
↔ Mengejar karir ada batasnya, karena harus mikirin keluarga , termasuk persetujuan pasangan
↔ Waktu untuk orangtua, kerabat. lingkungan harus dibagi dengan waktu bersama keluarga
↔ Tidak bebas seperti saat single
↔ Biaya hidup akan membengkak, karena banyak tujuan yang harus dicapai, sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, asuransi.
↔ Tidur tidak pernah nyenyak lagi jika sudah punya anak

( Baca : Yang Berubah Setelah Punya Anak )

Enaknya

↔ Ada teman cerita setiap saat
↔ Punya seseorang atau tempat untuk pulang
↔ Kalau sudah punya anak, tambah penghibur hati
↔ Secara society aman, dan dianggap normal
↔ Sex jadi halal

( Baca : Ekspektasi dan Realitas Setelah Menikah)

Kalau kita lihat perbandingannya di atas, sebenernya ngga jauh-jauh amat sih ya bedanya. Enak dan ngga enaknya kalau dipikir-pikir juga ngga signifikan amat. Karena apa yang dilakukan orang menikah bisa juga dilakukan saat single, kecuali sex ya, kecuali kamu menganggap sex sebagai perbuatan yang boleh dilakukan dengan siapa saja, maka menikah jadi tidak ada bedanya dengan single.

Jadi? Kalau gitu ya udahlah single aja, toh ngga ada bedanya.

Jawaban kayak gitu, jadi sama gampangnya dengan ngomong " Ya kalau, ngga ada bedanya, ya kenapa ngga nikah aja, enak ada yang ngurusin."

Hayoooo? Jadi mending nikah atau single ini sih.

Kalau pertanyaan ini ditujukan ke saya sekitar 10 tahunan lalu, pastilah saya bakal jawab dengan pasti, "Ya nikahlah, masa ngga nikah sih", karena memang saya befikir bahwa menikah itu default aja kebutuhan manusia dan hal yang natural dijalani saat orang sudah beranjak dewasa dan siap untuk menikah.

Namun, kalau ditanya sekarang, saya bakal harus mikir dan ngomong panjaaaaaaang dulu sama yang nanya. Karena ternyata setelah saya menikah dan menjalaninya kurang lebih 9 tahunan, ya baru tau aja kalau menikah itu challenging banget deh. Ditambah sering denger cerita dan curhat orang orang lain soal rumah tangganya, membuat saya pengen bilang ke para single " Plis plis jangan buru-buru menikah sebelum yakin betul apa yang kamu inginkan dengan menikah"

Saya ngomong gini bukan skeptis sama lembaga pernikahan sih. Tapi karena saya melihat, banyak banget orang yang kelihatan mesra, ekonomi cukup, anak ada, segalanya kelihatan fine-fine saja, ternyata cerai.

Saya hidup di circle dimana perceraian bukan merupakan hal yang mengejutkan lagi. Saya punya teman yang bercerai, punya keluarga yang bercerai, punya teman kantor yang bercerai , punya tetangga yang bercerai, yang awalnya dulu saya selalu WOW WOW gitu mendengarnya.

Saya sempet mikir " Kenapa bisa cerai?"
" Kok ngga mikirin anaknya?", " Apa ngga bisa dibicarain lagi?" , " Apa tidak mau mencoba lagi?", " Kok bisa selingkuh sih", " Kalau selingkuh, kok sampai cerai sih" (tetep), yang intinya bagi saya dulu perceraian itu menjadi sesuatu yang luar biasa.

Namun makin kesini, makin lama menikah, mengenal orang, dengar cerita orang, melihat kehidupan orang, ya jadi mengerti sendiri. Bahwa di pernikahan itu banyak banget hal yang bisa bikin suami istri bertengkar, tidak sepaham, dan selalu merasa kurang puas.


Makanya kalau saat ini saya mendengar orang bercerai, ya dalam hati cuma bilang " Life Happens" aja.

Makanya kembali saya bilang, bagi para single, plis pikirin lagi saat menentukan pasangan hidup. Karena beneran menikah itu ngga mudah jenderal.

Kalau kita pikir menikah itu cuma untuk memenuhi kebutuhan biologis saja yakin banget itu cuma menjadi kebutuhan utama di awal-awal pernikahan, setelah itu... ya tetap butuh tapi ada hal lain yang lebih krusial.

Tapi saya ngomong gini juga ngga selamanya bener, karena buktinya ada juga pasangan yang berpisah ya karena masalah ranjang.

Saya dan sohib saya di grup pernah ngomongin ini panjang lebar, dan kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa hal paling penting bagi kita saat memutuskan untuk menikah adalah memilih pasangan yang memiliki kesamaan prinsip hidup. TITIK.

Itu paling penting.

Karena yang namanya pernikahan, mau ekonomi sebagus apapun, secinta apapun, support system sebaik apapun, namun saat kita dan pasangan sangat berbeda secara prinsip hidup, udahlah pasti bakal melelahkan sekali. Kecuali salah satu rela untuk berkompromi dan mengalah sepanjang benturan terjadi.

Persamaan prinsip bukan perkara hal-hal sepele, kayak makan enaknya di meja makan atau di depan tivi. Handuk abis mandi harus diletakin ke tempatnya atau dilempar saja sekenanya.

Hal kecil-kecil kayak gini mah remah-remah rempeyek doang. Tapi lebih kepada hal-hal yang bersifat fundamental.

Pandangan soal agama.
Pandangan soal gender
Pandangan soal pengasuhan anak
Pandangan soal peran suami istri dalam keluarga

Ini nih yang paling penting harus sepaham, atau kalian harus menekan ego terus sepanjang tahun pernikahan.

Saya sering cerita bahwa saya dan mas Teguh itu bedaaa banget kepribadiannya.

Berbeda dengan Gesi-Adit yang seumuran, atau Icha-Jege yang punya sifat 11-12, saya dan mas Teg itu perbedaannya udah macam langit dan bumi.

Kami beda suku, beda budaya, beda usia, beda selera, beda sifat dan beda latar belakang keluarga bahkan kami berbeda pandangan politik. Satu-satunya yang menyatukan kami adalah mie ayam, lho, hahahah.

( Baca : Beda?, Siapa Takut ?)

Oke, serius

Namun saya bisa bilang sampai saat ini dan mudah-mudahan selamanya, belum pernah ada masalah berarti di keluarga kami. Belum pernah ada terpikir untuk tidak bersama Mas Teg.

Satu hal yang saya sadari kemungkinan karena kami sama-sama tau bahwa kami berbeda, dan kami ngga merasa perlu untuk menjadi sama. Dan yang pasti karena prinsip hidup kami walau ngga bisa dibilang sama persis tapi ngga beda-beda amat.

Kami sepemahaman soal peran perempuan dalam keluarga, sepakat soal boleh tidak boleh istri bekerja, sepaham bahwa hidup ini dinikmati bukan dikeluhkan, sepakat bahwa anak tanggung jawab bersama, bukan tanggung jawab saya saja , termasuk masalah sepele soal pakaian dan pergaulan saya.

Hal-hal yang saya rasa prinsipil ya itu.Mungkin berbeda di setiap orang.

Makanya walau kepribadian bagai langit dan bumi, namun soal prinsip hidup ya seiya sekata.


So, saya ngga akan berpanjang lebar, saya udah pernah nulis banyak hal soal pernikahan disini. Kalau kalian search label marriage pasti kalian temukan banyak hal soal pernikahan yang sudah saya bahas. Mulai dari tentang bagaimana tahu jodoh yang tepat, sampai soal ekspektasi dan realita setelah menikah.

Makanya saya ngga akan jawab pertanyaan di atas tadi. Kalian menikah atau tidak, You choose , bukan saya, bukan orangtua, bukan lingkungan. Kamu yang harus mutuskan, karena kebahagianmu bukan di tangan orang lain, dan kesedihanmu juga bukan tanggung jawab orang lain.

Namun yang pasti saya hanya mau sampaikan, bahwa tidak ada yang lebih baik dari menikah atau terus menjadi single. Keduanya sama baiknya jika kita bahagia menjalaninya, dan keduanya sama ngga enaknya kalau kita ngga enjoy menjalaninya.

Kalau kata orang menikah itu rumit, ya saya setuju, tapi ngga serumit sampai kamu harus takut menjalaninya.

Kamu hanya hanya harus paham bahwa yang namanya menikah itu konsekuensinya gede. Ada keluarga yang harus dipersatukan, ada anak -anak yang bakal dilahirkan, dan ada status dan nama pasangan yang bakal mendampingi kita seumur hidup.

Saat kamu menikah, kamu bukan hanya menjadi si Mawar lagi, tapi berubah status menjadi istri Kumbang, menantu Bu Broto, dan mamanya Melati. Yup, saat kamu menikah, rentetan normalnya kamu bakal ketambahan embel-embel tidak hanya nama tapi tanggung jawab yang menyertainya.

( Baca : Tentang Jodoh )

Tentu itu tidak mudah namun bukan hal yang harus dibikin sulit juga.

Kamu juga harus paham, bahwa pasanganmu itu yang akan menjadi teman hidup seumur hidup bukan orang yang harus selalu memuaskanmu, dia bukan cenayang yang bisa selalu tau apa maumu, sama seperti dirimu dia juga bisa berubah, maka berharap dia selalu seperti malaikat pasti akan mengecewakanmu.

Dan harus disadari bahwa orang yang hidup dengan kita itu bukan diri kita, maka pasti ada perbedaan. Namun yang namanya perbedaan ya biarkan saja, buka untuk disamakan tapi cukup dipahami dan dikompromikan. Kecuali, sekali lagi kecuali perbedaan prinsip hidup.

Karena menikah dengan orang yang berbeda prinsip akan melelahkan sekali.

( Baca : Suami Selingkuh Dan Istri Yang Minta Dimengerti )

Menikah, dan hidup dengan pasangan yang paling cocok sekalipun, dengan kondisi ekonomi sebagus apapun, dengan lingkungan yang mendukung sebaik apapun, tetap akan ada masalah dalam pernikahan.

Maka jika kamu menikah, menikahlah karena kamu tahu bahwa hidupmu akan lebih baik dengan menikah dengannya, namun tetap persiapkan diri untuk kemungkinan terburuk. Bukan dengan was-was setiap saat, namun dengan memanage ekspektasi. Lower expectation dalam pernikahan biasanya malah lebih bisa menyelamatkan hati dan pikiran dibanding hight expectation yang akan memunculkan rasa kecewa.

Menikah tidak menjamin hidupmu lebih bahagia, tapi saya bisa pastikan menikah akan menempa kamu jadi orang yang lebih dewasa dan kamu bakal menemukan banyak hal yang sebelumnya kamu tidak mengerti. Akan banyak pelajaran hidup yang kamu dapat saat menikah. Percaya ngga percaya, pernikahan, mau ngga mau pasti akan mendewasakan seseorang.*gw sok iye banget ngomong gini di usia pernikahan masih bau kencur*

Namun jika, kamu merasa kamu tidak ingin menikah, Go a head, ga ada yang bisa memaksa kamu untuk menikah, even orangtua sendiri. Karena sekali lagi kebahagianmu dan kesedihanmu bukan tanggung jawab orang lain dan ngga ada orang lain juga yang mau tanggung jawab.

Karena menikah  bukan pilihan hidup, maka teruslah melangkah, carilah apa yang masih kamu cari.

( Baca : Karena Menikah Bukan Tujuan Hidup )

Karena menikah bukanlah prestasi, maka teruslah mengukir prestasi-prestasi lain selain prestasi mencari jodoh.

Karena status menikah bukanlah sebuah piala yang harus dipajang di status fesbukmu, maka ngga perlu kesusu dikejar usia. Jangan turunkan kriteriamu demi sebuah kata "Married with"

Karena menikah juga bukanlah pintu darurat, maka ngga perlu membukanya untuk lari dari apapun.

Karena menikah bukanlah tujuan hidup, melainkan salah satu tools mencapai tujuan hidup.

Namun jika kamu merasa kamu tidak memerlukan tools itu untuk mencapai tujuan hidupmu, ya ra popo. lakukan hal-hal lain yang membuatmu bahagia.

Tidak ada yang salah dengan status single. Kalau kamu memilih untuk menunda pernikahan atau bahkan memutuskan tidak menikah karena suatu alasan kuat, keep on fighting.

Namun berjanjilah untuk menikmati waktu singlemu dengan sebaik-baiknya dan menjalani hidup dengan bahagia. Karena menjadi single kamu bisa melakukan banyak hal lebih baik dari orang yang menikah, TRUST ME, walau dikata orang, menikah menambah energy, namun yakin saat single itu adalah sebaik-baik energy untuk memaksimalkan potensi diri. Kamu bisa menaklukkan dunia kalau kamu mau.

So, what i recommend you : single or married?

Biar postingan ini tetap menjawab pertanyaannya, saya jawab secara cepat saja ya.

Saya rekomendasikan kamu menikah :

Jika dan hanya jika, kamu sudah memastikan bahwa calonmu itu adalah orang yang memiliki persamaan pandangan hidup yang prinsipil. Kalau kalian beda hal remeh, itu bisa dikompromikan, kalau berbeda untuk satu pandangan besar, tinggalkan, cari yang lain.

Saya rekomendasikan kamu single :

Jika kamu ingin menikah hanya untuk memuaskan lingkungan, keluarga, atau hanya untuk status padahal kamu belum menemukan orang yang benar-benar sepaham dengan kamu. ya udah single aja dulu sampai kamu ketemu the one tersebut.

You choose.

Sekolah Itu Ada Gunanya Ngga Sih ?

Wednesday, July 19, 2017

Masih nyambung nih dengan tulisan saya kemarin tentang hari pertama sekolah. Kali ini mau bahas soal penting ngga sih masukin anak ke sekolah dan penting ngga ilmu-ilmu yang kita pelajari di sekolah tersebut.

( Baca : Hari Pertama Sekolah dan Perjalanan Mencari Sekolah Idaman )

Alert: ini bakal panjang banget.


Kenapa sampai muncul pertanyaan ini. Saya ambil paragraph terakhir di tulisan saya sebelumnya yah. Karena saya banyak membaca pendapat orang-orang yang mulai meragukan fungsi sekolah.



Kemarin tulisannya udah kepanjangan jadi disambung dimari, xixixi.

Baca punya Gesi :


Ngga bisa kita pungkiri sih, system pendidikan yang disajikan sekolah-sekolah di negara kita ini belum memuaskan. Dimana parameter untuk menilai hasil belajar anak itu dipukul rata, yaitu nilai UN dan angka-angka di raport. Makanya ngga heran banyak orangtua yang mulai mencari alternative lain untuk pendidikan anaknya.

 Home schooling salah satunya. Demi terbebas dari system pendidikan yang pukul rata tadi.

Rata-rata pendapat orangtua yang saya baca nih, bisa saya simpulkan.


⇔ Sekolah hanya mengajarkan anak menghapal tanpa tahu esensi ilmunya


⇔ Capek-capek mempelajari ilmu eksak, fisika, kimia, math, malah ngga ada gunanya sama sekali di kehidupan, ngga terpakai di dunia nyata

⇔ Sekolah rawan bully, anak bukannya aman malah berbahaya di sekolah


⇔ Sekolah sekarang apa-apa duit mulu, biaya banyak, hasilnya ngga ada


⇔ Sekolah hanya menjadikan anak berorientasi ke hasil tanpa peduli proses


⇔ Sekolah tidak mendidik anak siap terjun di dunia nyata, tapi hanya berkutat di teori semata.


Dan sebagainya-sebagainya.

Hmm menarik banget yah .

Saya mau mengutip kalimat Einstein dulu nih “ Jangan menilai ikan dengan kemampuannya dalam memanjat” karena pastilah si ikan akan kelihatan bodoh.

Saya setuju banget. 

Ini masih berhubungan nih dengan 8 type kecerdasan anak. Bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan masing-masing. Ada yang cerdas dalam bermusik, seni, sains, olahraga, intrapersonal, kecerdasan linguistic, alam, dsb. Cari sendiri ya 8 jenis kecerdasan anak.

( Baca : Kenali Potensi Anak Sejak Dini )

Karena perbedaan kecerdasan inilah, makanya system pendidikan di sekolah konvensional itu ngga akan bisa berlaku adil dalam penilaiannya. Ya gimana, yang diuji di UN mah cuma mata pelajaran tertentu. Jadi kesannya untuk anak-anak yang sama sekali ngga tertarik di bidang eksakta, atau bidang bahasa, bisa-bisa nilainya bakal jeblok banget. 

Kembali ke kalimat Einstein tadi , kita ngga mungkin dong mengukur kemampuan anak yang kecerdasannya adalah bermusik dengan menguji matematika misalnya. Karena parameternya jelas berbeda.

Namun, apa ini jadi alasan kita nih mencibir system pendidikan sekolah di Indonesia? Apa langsung jadi bisa kita simpulkan bahwa percuma sekolah bertahun-tahun ngga ada faedahnya sama sekali, ngga ada gunanya semua pelajaran yang kita enyam dari SD sampai kuliahan tersebut?

Disclaimer: saya hanya membatasai dua hal di atas saja, ngga bahas melebar ke hal lain.

Seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, ada puluhan juta anak sekolah yang harus dipikirkan pemerintah, dengan puluhan juta keinginan yang berbeda-beda pula. Tentu tidak semua keinginan ideal kita sebagai orangtua bisa terealisasi. Saat ini mungkin pendidikan-pendidikan formal tersebut dirasa paling bisa diaplikasikan untuk dana yang ada dan kapasitas sekolah serta guru-gurunya.

Trus gimana dong solusinya untuk anak-anak kita agar usianya ngga sia-sia dihabiskan di sekolah?

Sebenarnya alasan utama para orangtua tersebut berpendapat bahwa sistem pendidikan sekolah kita acakadut dan unfaedah karena kita ini kadang suka berpikir terlalu praktis.

Kita mikirnya ya kalau anakku maunya jadi pelukis ngapain belajar fisika?

Kalau anakku maunya jadi pengusaha real estate kenapa harus pusing dengan ilmu biologi.

Mikirnya pokoknya anak mah diarahkan aja di satu bidang khusus, biar ahli, ilmu yang lain ngga perlu karena seperti pengalaman kita selama ini, sekolah dan belajar lebih dari 5 mata pelajaran, toh malah ngga ada yang kepake.

hahahahahaha


Kurleb seperti itu.

Benarkah?

Bisa jadi benar.

Kayak Valentino Rossi tuh sejak kecil sudah diarahkan jadi pembalap, dilatih balapan dari cimut-cimut ya memang hasilnya jadi pembalap profesional.

Saya ada mengenal beberapa orang yang sudah tau apa yang menjadi minatnya dari kecil. Dia sudah tau dari kecil bahwa dia sukanya menulis misalnya,jadi sedari kecil ya bener-bener diarahin hanya membahas karya-karya sastra saja, diajarin memilih diksi yang bagus. Untuk anak-anak seperti ini tentu orangtua tidak akan mengalami kesulitan untuk mengarahkan minat dan bakat si anak.

Namun, ngga semua orangtua dan ngga semua anak bisa kelihatan bakatnya sejak dini. Banyak banget orang yang tahu apa yang paling disukainya setelah dewasa. Mungkin kamu salah satunya. Dan memang berdasarkan penelitian (saya pernah baca tapi kali ini ngga cantumin sumbernya , ntar kapan kapan saya cari lagi referensinya) bahwa manusia itu banyak yang ngga hanya punya kecerdasan sebiji doang, bisa juga dia punya kecerdasan multitalented, jadi mempelajari banyak hal ini sama sekali ngga ada ruginya.

( Baca : Menemukan passion )

Apalagi jenis-jenis sekolah yang terfokus seperti itu biayanya lumayan mahal yah. Saya nanya temen tuh untuk sekolah musik, biaya daftarnya aja bisa puluhan juta rupiah, belum alatnya, belum kalau mau konser, llalalala bisa-bisa satu tahun sekolah dana yang harus disediakan 300 jutaan sendiri.

Karena biaya mahal tersebutlah, kemungkinan yang bisa disediakan pemerintah ya sekolah-sekolah umum yang ada seperti saat ini.

Makanya menurut saya, bukan saatnya menyalahkan institusi bernama sekolah dalam kegagalan pendidikan di Indonesia, apalagi menganggap bahwa sekolah hanyalah institusi penghasil ijazah semata.

Sebenarnya saat ini sudah banyak pilihan sekolah untuk anak-anak kita. Saya ngomonginnya untuk jenjang TK sampai SD aja ya, karena saya belum nyari tau sampai jenjang SMA.

Bagi anak yang suka kegiatan outdoor ada sekolah alam yang bisa jadi pilihan.

Anak yang suka berkarya macem-macem, utak-atik ina inu, bisa masuk sekolah montessori.

Anak yang sukanya kegiatan mikir kayak nyusun balok, main lego, belajar di kelas, ya banyak sekolah seperti ini.

Untuk anak yang sukanya menghapal (iya ada kok anak yang suka menghapal) dan pengen jadi hafiz Qur'an misalnya ya ada juga sekolahnya.

Bahkan TK sekarang ada yang kurikulumnya internasional, alias pake dua sampai tiga bahasa gitu sebagai pengantarnya.

Itu belum termasuk kursus-kursus yang ada. Kayak kursus masak untuk anak, kursus menggambar, kumon, kegiatan outbond anak, dll.

Mungkin kendala utama ya dibiaya. Makanya pilihan sekolah-sekolah umum yang disediakan pemerintah menurut saya ya masih bisa menjembatani keinginan orangtua.

Caranya, ya dengan si orangtua turut kreatif menambahi apa yang tidak didapat di sekolah tadi.


Yang namanya anak-anak terkadang memang belum tau apa maunya, makanya sebagai orangtua kitalah yang mengarahkan dan memilihkan sekolah yang paling tepat untuk anak-anak kita sesuai bakatnya atau minimal sesuai karakternya.


Namun seperti yang saya bilang di atas, ngga semua orangtua bisa tau apa bakat anaknya sedari kecil. Dan ngga semua anak juga kelihatan apa yang menjadi minatnya sejak dini. Palingan kita hanya menebak berdasarkan kecenderungan yang kita lihat di anak.


Makanya peran sekolah mah yah tetep penting banget. Disamping sebagai sarana bersosialisasi ya sebagai penyaring minat dan bakat tersebut juga.

Keberhasilan pendidikan anak jangan diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Kita sebagai ortu yang harus aware kemana arah minat dan bakat anak kita. Kalau kitanya aja sebodo teuing trus malah nyalah-nyalahin pendidikan di sekolahan kan jadi lucu.


Gitu sih menurut saya. Soal kekhawatiran orangtua terhadap sistem pendidikan sekolah yang dirasa terlalu memaku anak di dalam kelas tanpa punya kesempatan bermain, solusinya adalah dengan memilihkan sekolah yang paling sesuai dengan karakter anak.

Jika ngga mampu di biaya, ya masukin saja ke sekolah umu, namun bekali dengan tambahan kegiatan di rumah.

Iya, jadi orangtua memang ngga mudah kok. :)


Pembahasan kedua yang sering dibicarain orang. Benerkah segala ilmu yang ngga ada hubungannya dengan minat dan bakat anak maka jadi tidak berguna?

Sering kan denger orang bilang, ngapain belajar math, fisika, kimia segala macem yang toh ngga akan terpakai di kehidupan nyata.


Iya, mungkin kita ngga bisa mengatakan dengan pasti apa gunanya angka phi yang kita pelajari jaman SD dulu untuk nyari kerja. Atau untuk apa persamaan reaksi kimia yang njelimet itu.

Buat apa tahu 1 mol itu sama dengan berapa gram, toh ngga akan dipakai untuk ngasuh anak misalnya .

Ngapain tahu rumus diferensial, integral segala macem yang sampe lipat tiga itu, buang-buang waktu aja.

Ini terjadi karena kita mikirnya instan, bahwa harusnya kegunaan rumus fisika itu harus kasat mata terpampang nyata di depan kita baru kita rasa itu punya manfaatnya.


Kita merasa ilmu itu ada manfaatnya saat langsung kelihatan hasilnya. Padahal sekolah itu adalah proses belajar.

Di sekolahlah anak diajarkan segala proses tersebut , ngga ujug-ujug ke hasil. Namun yang namanya institusi, ya gimana mau tau hasilnya kalau ngga ada parameter, maka parameternya saat ini mungkin yang bisa dibuat adalah nilai. Termasuklah nilai UN.

( Baca : Proses atau Hasil ? )

Balik lagi ke soal pelajaran eksak yang kelihatan unfaedah.

Saya mau pakai analogi kungfu ajalah.


Pernah lihat film Shaolin?


Kalau lihat film Shaolin dulu ntu ya, padahal tujuan akhirnya tuh untuk bisa kungfu, tapi di awal pendidikan si biksu shaolin itu malah disuruh yang ngangkat air lah, berlatih keseimbangan, berenang, berendam di air, sampai hal-hal yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan kungfu. Makanya ada di salah satu episodenya si murid yang melarikan diri karena menganggap ngga ada faedahnya dia belajar disitu, pengen jadi ahli kungfu kok malah disuruh nimba air.


Nah kayak gitulah saya rasa pendidikan. Mungkin ngga terlihat langsung faedahnya saat ini namun akan bermanfaat saat diaplikasikan di dunia nyata, di kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Karena ya memang namanya belajar itu ngga berarti kita ngomongin tentang rumus P = F/A , maka harus ada nih di kehidupan sehari-hari.


Tapi setidaknya kita jadi tau bahwa yang namanya tekanan berbanding lurus dengan gaya. Maka saat hidupmu tekanannya tinggi coba introspeksi siapa tahu gayamu kegedean, eeeeeaaaaa




So, makanya saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sekolah tidak mengajarkan apa-apa selain hanya pelajaran sosialisasi saja. Karena pelajaran bersosialisasi itu tidak sekedar " Hanya" lho.

So kalau ada pertanyaan, buat apa capek-capek belajar segala ilmu eksakta, rumus fisika, kimia, math yang njelimet padahal nyatanya tidak pernah sekalipun dipakai di dunia nyata.

Buat apa belajar fisika kalau mau jadi pemain biola.

Nah disini mungkin perlu kita tanamkan bahwa yang namanya ilmu pengetahuan itu saling kait mengkait, tidak bisa berdiri sendiri. Even kamu pengennya jadi pemain musik aja, kamu tetap perlu ilmu lain.

Saya kasih contoh saat kita mau main musik, main biola deh contohnya.

Saat ingin bermain musik, kamu  ngga cuma butuh belajar not atau tangga nada doang. Kamu juga butuh alat yang bernama biola.

Biola itu dibuat pake apa? pake ilmu padi? pake ilmu fisikalah, tentang gesekan, tentang resonansi, tentang keluar masuk udara maka akan menghasilkan bunyi.

Atau kalau kamu mau jadi dokter, emangnya kamu cuma harus tau soal anatomi tubuh aja, hanya harus gape soal penyakit?

Ya kagak.

Kamu nyuntik pakai apa?, periksa kandungan pake apa? operasi pake apa?

Nah itu semua memangnya yang nyiptain ilmu kedokteran?

Ya kagak.

Disitu ada ilmu tentang gelombang alfa, omega, infrared, laser, you name it, biar tahu panjang gelombang mana nih yang pas buat membasmi kanker. -----> ini ilmu fisika

Untuk nyiptakan alat-alatnya juga mesti diperhatikan bahan mana yang tidak bereaksi dengan obat, tidak bereaksi dengan kulit manusia, mana yang cuma sebagai katalisator, mana yang merupakan zat inert ------> ini ilmu kimia.

So semua ilmu itu saling kait mengkait. Ngga ada ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Jadi plis buang jauh-jauh pikiran bahwa sekolah ngga guna karena terlalu banyak ngajarin hal-hal yang ngga guna langsung di kehidupan.



Jadi pointnya apa?


Point yang ingin saya sampaikan adalah:

Bahwa memang pendidikan di sekolah itu ya tujuannya bukan membentuk sim salabim abakadabra, masuk adonan kue dibentuk nastar , masuk oven maka keluarnya nastar. Ya ngga kayak gitu. Sekolah itu adalah bagian dari proses belajar. Ya termasuk belajar social, empati, tenggang rasa, ilmu eksak, sastra, agama, kemanusiaan, kerjasama.



Termasuk juga dapat pengalaman ketemu cowok brengsek yang nantinya bisa dijadiin bahan buat tokoh antagonis di calon novelmu. 

#curhatalert


Kemudian.

Sebagai orangtua kitalah yang paling bertanggung jawab mencarikan sekolah atau sistem pendidikan paling pas untuk buah hati kita. 

Bukan pemerintah bukan pula pihak sekolah.

Mereka menyediakan, kita yang memilih.

Mereka tak menyediakan, kita cari yang menyediakan.

Tidak ada juga?, combinelah pendidikan di sekolah dengan kreativitas ortu.

Kalau menurut kalian sekolah tujuannya biar bisa cari duit, mungkin memang sekolah itu ngga ada faedahnya. Ya mending langsung belajar dari koko-koko di pasar sambu.

Kalau kita masih berfikir bahwa sekolah harusnya menghasilkan produk siap jadi, ya pilihlah sekolah kejuruan.

Saya percaya bahwa apa-apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil akumulasi dari pengalaman hidup, pendidikan dan proses berfikir .

Iyes setuju yang namanya belajar ngga harus di sekolah, bisa di rumah, di mesjid, di jalan, dimana saja.

Saya setuju, yang nilainya paling bagus di sekolah ngga menjamin hidupnya bakal sukses ( ini harus dibahas lagi, parameter sukses itu seperti apa?)

Saya juga setuju lulusan S3 ngga menjamin lebih sukses dari lulusan SD misalnya (ada rezeki, nasib, keturunan yang mempengaruhi yes?)

Ya memang ngga ada jaminan 100% apapun di dunia ini. Tapi data kan berbicara, bahwa orang yang well educated kebanyakan lebih bisa bertahan hidup dimana-mana. karena memang sistemnya masih seperti ini.

Kalaupun ada orang yang tanpa sekolah bisa berhasil, coba hitung berapa persen, dan latar belakangnya seperti apa. Namun tetep dah  tidak ada ruginya sekolah.

Dan bahwa kesuksesan itu ya memang faktornya bukan cuma pendidikan di sekolah. Ada IQ, EQ, dan SQ. Intelegent, Emotional, dan Spiritual.

Sekolah hanya salah satu faktor dan sarana di dalamnya.


Jadi ngga ada yang namanya ilmu itu ngga bemanfaat walaupun tidak kita manfaatkan saat ini secara utuh, tapi tanpa sadar sudah menyertai hari-hari kita.

( Baca : Iman dan Ilmu )


So ibu-ibu, sekolah ya , sekolahin anaknya. Sekolah ngga cuma untuk dapat ijazah , sekolah itu sarana untuk memperkaya batin dan menutrisi otak dan belajar dari orang yang sudah lebih tahu sebelumnya.

Coba mindset masukin anaknya ke sekolah itu diubah dulu.

Sekolah itu sistem terkecil pertama tempat kita mengenalkan kehidupan bermasyarakat ke anak.

Apapun sekolah yang menjadi pilihanmu teruslah belajar, dan berkarya, karena ngga ada ilmu yang sia-sia.

Selamat belajar semuanyaaaa.

Gambar dari FB Maghfirare.









Menemukan Passion

Thursday, June 22, 2017
Kalian kenal Panji Pragiwaksono? Itu lho tim suksesnya pak Anies.

Saya ngga lagi bahas soal cerita tim suksesnya. Tapi saya mau cerita soal bagaimana ia menemukan passionnya sebagai komika stand up comedy. Saya kemarin baca di blog kopikini.com

Ternyata ya, semuanya berawal dari perceraian ortunya. Jadi si Panji ini tinggal berdua bersama ibunya di sebuah rumah kecil. Nah karena rumahnya sering kosong, jadi teman-temannya banyak yang main kesitu. Di rumahnya itu ngga ada apa-apa. Tapi ya masa orang udah main ngga disuguhin apa-apa. Panji yang saat itu kesepian merasa punya kewajiban untuk menyenangkan teman-temannya saat kongkow di rumah. Ia ingin genknya itu betah dan mau balik terus ke rumah, biar dia selalu punya teman. Makanya setiap mereka ngumpul, dia selalu punya cerita lucu yang lama-kelamaan malah orang selalu menanti cerita-ceritanya.

Sebenernya melucu adalah sebuah self defense mechanism di dirinya untuk menghindari pembullyan

Long story short, akhirnya Panji berfikir bahwa ia memiliki bakat untuk menghibur orang ya kenapa ngga dijadiin pekerjaan sekalian. Lalu dia upload tuh video dia ngelawak stand up di youtube sampai akhirnya ia ditemukan oleh Kompas Tivi.

Wow.

Saya selalu suka cerita orang-orang yang menemukan passionnya. Membuat saya semangat dan ketularan energi positifnya.

Panji beruntung yah, tau passionnya di usia yang masih terbilang muda. Ngga semua orang lho tau apa passionnya.



Baca tentang passion lainnya ya.

Gesi:


Icha :

Nahla :


Banyak banget orang yang bahkan sampe usia lanjut baru ngeh apa passion diri dia.

Kolonel Sanderslah contohnya. Setelah meniti karir dari Sales manlah, tukang parkir, pom bensin, sampai akhirnya ia memulai bisnis rumah makan hanya karena seorang gelandangan mengatakan bahwa di Kentucky tidak ada rumah makan enak yang membuat orang bisa makan dengan nyaman di dalamnya.

Karena ia suka ayam goreng, maka ayam gorenglah yang jadi menu andalannya. Karena kecintaannya dengan ayam goreng tersebut, sampe nyobain ratusan resep agar ketemu cita rasa ayam goreng sesuai yang diinginkannya. 11 bumbu rahasia Sanders, jadi temuan penting abad ini

Wow, keren ya....

Pasti bahagia sekali. Bekerja dan menghasilkan uang dari passion yang kita miliki seperti Panji dan Kolonel Sanders.

Iyalah, makanya ada pepatah yang mengatakan, pekerjaan paling menyenangkan di dunia ini adalah pekerjaan yang sesuai dengan passion. Karena ngga dibayar aja kita mau mengerjakannya, eh ini udah kitanya hepi, dibayar pulak, double combo.

Sebenernya passion itu apa sih?

Kalau menurut saya passion itu adalah sesuatu yang amat kita senangi saat mengerjakannya. Pokoknya ngga bosen melakukannya, senang saat mengerjakannya. Ya kalaupun bosen udah lama gitu menggelutinya, semangat untuk selalu mencari tahu dan belajar tentang hal tersebut. Kasarnya, dibayar ngga dibayar kita hepi melakukannya.

Maka itulah passion.

Kalau dipikir-pikir, saya termasuk salah seorang manusia yang agak telat menemukan passionnya.

Passion saya adalah menulis dan bekerja tentu saja.

Nah saya sadar kalau saya suka banget nulis baru beberapa tahun belakangan ini, sejak tahun 2008 tepatnya, namun semakin menguat di tahun 2011.

Sebelas dua belas sama Panji, saya menemukan passion menulis ya saat saya lagi mellow yellow LDR-an bersama suami.

Saat itu saya lagi pendidikan di BRI di Jakarta dan Mas Teguh di Medan. Hwoaaa bawaannya udah kayak pujangga 45 aja.

Saat sedih nulis
Marah nulis
Kangen nulis
Berantem nulis

Halah, pokoke semua mua ditulis.

Saat itulah saya tau ternyata menulis itu sungguh melegakan. Berawal dari notes-notes singkat di FB, lama-lama jadi tulisan panjang di blog ini, dan beberapa buku antologi yang sungguhlah sebenernya ngga bisa dibanggakan tapi cukup bikin koprol saat bukunya nangkring di rak Gramed. hahahaha.

Perkara menemukan passion ini, ngga semua orang bisa mak ndudul kayak saya dan Panji yang langsung tahu bahwa apa yang kami sukai ini adalah passion kami.

Kalau dalam kasus saya, saya langsung ngeh bahwa menulis itu bukan sekedar hobi tapi passion. Karena saya bener-bener mencintai dunia ini. Makanya mau kondisi gimanapun saya masih bisaaa aja nulis satu dua post di blog ini.

Kadang banyak yang nanya ke saya, " Kok bisa sih saya siang seharian kerja, balik ke rumah ada dua balita, dan blognya masih tetep update"

Nah itulah rahasianya. Ya passion itu.

Karena mau secapek dan sesempit apapun waktu yang dimiliki, untuk hal yang satu ini saya selalu bisa menemukan cara untuk mengatasinya. Mau di mobil, di kasur, pake laptop, pake hape, pake tab, saya selalu bisa menemukan cara untuk ngeblog.

Malah kadang ya, saat lagi kerja gitu, saya udah gregetan banget mau buka laptop dan nulis satu postingan gitu. Kalau udah gitu, biasanya saya langsung nulis di notes untuk mendiamkan ide yang lagi caper.

Sankin cintanya lagi sama tulis menulis, bahkan sampe kebawa ke pekerjaan. Saya mah kalau ngonsep surat, kata-katanya bisa kayak nulis blog hahaa, panjang dan penuh diksi. Lha ngasih instruksi ke bawahan aja bisa 2000 kata lho, LOL.

Maka berbahagialah saya, yang bisa menggabungkan pekerjaan dengan passion saya wahahaha.

Cause kata teman saya Arul yah "Work without Passion is Poison "

Makanya pentinglah menemukan passion untuk membuat hidup lebih bersemangat.


Gimana dengan orang-orang yang belum menemukan passionnya?

Ya ngga gimana-gimana.

Ngga ada batasan waktu kok untuk kita bisa menemukan apa yang paling bikin kita bahagia dalam hidup. Siapa tau kamu kayak Colonel Sanders, nemu passion di masa tua

But

Cara termudah menemukan passion itu ya dengan mencoba banyak hal baru.

Kalau kita masih bingung nih, apa ya passion kita, masak ngga bisa, menjahit kaku, nulis bingung, kerja kantoran ogah, ya coba atuhlah jualan tupperware. Siapa tau passion kita adalah berdagang.

Banyak main dan banyak mencoba hal baru adalah kunci. #sikap.

Gimana cara mengetahui bahwa sesuatu itu adalah passion kita?

Gampang banget, cukup lihat aja seberapa antusias kita kalau ada yang membicarakan hal tersebut.

Kalau ngga nemu juga?

Ya ngga apa-apa genks

Daripada sibuk mencari si passion, mending dalami saja apa yang sedang dikerjakan saat ini. Siapa tau kamu punya passion kayak saya. Bekerja.

Iya selain menulis saya suka banget kerja. bagi saya berada di kantor itu sungguh menyenangkan. Kalau ngga inget punya anak, mungkin saya bakal ngendon di kantor terus.

Nah dalami, dalami dan kuasai. Karena sebenarnya kita bisa hepi melakukan sesuatu salah satunya ya karena kita menguasainya. Setelah menguasai, enjoy, dan tadaaa lama-lama jadi passion kita deh.

Saat kamu akhirnya menemukan passion itu, percaya deh kamu akan bangun pagi lebih semangat dua kalinya dibanding sebelumnya.

Kemudian jangan lupa apa yang dikatakan Benjamin Franklyn:

“Jika passion sudah mengambil alih dirimu, lantas biarkan ‘ia’ tetap memegang kendali”. 
Jadi,sudahkah kamu menemukan passionmu? Siapa tau kamu menemukannua saat lagi patah hati? siapa tau kamu menemukannya saat kondisi kepepet.



Vaksin dan Cinta Ibu

Thursday, June 15, 2017
Tampaknya minggu-minggu ini bahasan soal vaksin masih menjadi trending topik sosial media.

Setelah peristiwa Jupe, orang langsung aware terhadap pentingnya vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks. Saya juga langsung berencana nih mau divaksin HPV, tapi belum bisa dilaksanakan saat ini karena kata dokter sebaiknya sebelum vaksin HPV, kita lakukan pap smear dulu. Dan pap smear bisa dilakukann setelah mens. Dan saya belum mens, jadi ya nunggulah beberapa hari ke depan. 

Nah kemarin, seorang anak artis dikabarkan terkena penyakit campak. Tak hanya seorang bahkan anak yang lainnya dari si artis itu juga tertular campak dari adiknya. Sontak kabar ini memunculkan kembali pro kontra soal vaksin.

Uuu yeah bahasan kesekian soal pro kontra mengasuh anak nih, pro vaksin dan anti vaksin.

Baca punya Gesi :




Sudah sejak lama saya membaca soal pro kontra vaksin ini. Entah sejak kapan tepatnya saya tidak tau, tapi konon katanya memang gerakan anti vaksin ini sudah ada bahkan sejak vaksin pertama kali ditemukan. Karena kan vaksin itu berasal dari kuman yang dilemahkan, jadi pihak anti vaksin khawatir malah vaksin bisa memicu datangnya penyakit.

Alasan kedua yang saya tahu adalah karena golongan anti vaksin menganggap bahwa manusia memiliki daya tahan tubuh alami sendiri, sehingga dengan pola hidup sehat dan makanan bergizi, seharusnya berbagai penyakit bisa dicegah.

Dan alasan ketiga yang mana merupakan alasan yang paling keras adalah karena proses pembuatan vaksin  mengandung zat yang berasal dari babi seperti enzim babi, pankreas babi hingga ginjal babi. Makanya sifatnya haram karena mengandung sesuatu yang haram.

Alasan berikutnya, berkaitan dengan isu-isu soal bawa vaksin malah bisa menyebabkan autis dan bahwa anak yang divaksin juga tidak dijamin bakal bebas dari penyakit.

Alasan selanjutnya ya konspirasilah, dan teori-teori lain yang yah sudahlah.

Yah namanya orang kan memang pemikirannya bisa banget berbeda, jadi saya positif thinking ajalah bahwa alasan-alasan ibu-ibu yang anti vaksin sebenernya ya sama juga seperti golongan ibu-ibu pro vaksin. Semua ujung-ujungnya berpendapat bahwa itu demi kebaikan anaknya.

Kebaikan anak versi orang bisa beda-beda lho, jangan salah.

Kalau saya pribadi?

Saya sendiri sangat pro dengan vaksin.

Dua anak saya, semuanya imunisasi full paket komplit. Tidak hanya 5 imunisasi yang diwajibkan pemerintah, bahkan imunisasi tambahan yang disarankan dokter anak saya juga saya berikan.

Alasannya?

Saya ngga punya alasan macem-macem, tapi saya ngga nemu alasan kenapa kok tidak memberi vaksin?

Ya why why why?

Padahal dengan memberi vaksin ke anak berarti kita sudah memberi hak hidup yang lebih baik padanya.

Gimana? Gimana maksudnya?

Dengan memberikannya hak kesehatan yang lebih baik melalui imunisasi berarti saya sudah melindungi sebagian dari masa depannya.

Memang benar bahwa yang namanya kesehatan itu faktor pendukungnya banyak banget. Ngga hanya karena sudah diimunisasi maka anak kita bakal pasti terhindar dari berbagai penyakit. Ada juga kok anak yang diimunisasi campak misalnya ya tetap terkena campak, diimunisasi influenza ya juga kena influenza. Ada faktor makanan, genetik, gaya hidup, lingkungan, daya tahan tubuh sebagai pendukungnya.

Namun, bagi saya setidaknya dengan memberikan imunisasi kita sudah melakukan pencegahan secara dini.

Bayangkan berapa banyak hal positif yang sudah kita lakukan hanya karena memberi kekebalan tambahan bagi anak kita.

Pertama, kita sudah memberinya kesempatan tumbuh dan berkembang dengan risiko penyakit yang diminimalkan. Jadi di saat-saat ia memang seharusnya menikmati masa kecilnya untuk bermain, dan belajar bersama teman, ya dia bisa menikmatinya.



Pernah lihat anak yang terkena polio kan?

Polio itu adalah penyakit yang menyebabkan kelumpuhan yang biasanya menyerang anak-anak di usia 3-5 tahun.

Bayangkan yah kalau amit-amit ada anak yang terkena polio. Tentu hidupnya tidak akan dilalui seperti kebanyakan anak-anak lain. Dia ngga bisa berlari, ngga bisa main, ngga bisa lompat, guling, dan apalah seperti anak lainnya.


Nah polio ini merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini tidak dapat disembuhkan. Ngeri kan?

Namun walau tidak dapat disembuhkan tapi bisa dicegah dengan pemberian imunisasi , pakai vaksin polio (OPV ). Dengan pemberian berulang kali, maka vaksin ini akan melindungi anak seumur hidup.

Itu baru polio, belum penyakit seperti campak, meningitis, tetanus.

Tuh , percaya kan bahwa dengan pemberian vaksin , kita sebagai orangtua sudah memberi hak hidup yang lebih baik untuk anak.


Alasan kedua, dengan memberi vaksin, kita juga turut memberi kesempatan hidup yang lebih baik untuk anak lain.

Hampir semua penyakit yang ada vaksinnya itu adalah penyakit yang bisa menular dan ditularkan. 

Saya mau ambil contoh virus Rubella aja deh. 

Virus Rubella itu bisa menular melalui butiran liur di udara yang dibawa bersin atau batuk. 

Nah virus ini kalau terkena ibu hamil terutama di semester awal kehamilan bisa menyebabkan anak yang dilahirkan mengalami syndrom rubella kongenital yang menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, penyakit jantung kongenital, kerusakan otak, organ hati dan paru-paru.

Nah FYI, saya dikasih tau Gesi nih, yang pernah terserang virus Rubella, bahwa anak-anak penting banget divaksin rubella, karena apa?

Karena, misalnya nih ya, seorang anak tidak divaksin rubella, trus dia tertular virus rubella, lalu di sekolah dia main nih sama anak-anak dan guru. Eh ndilalah si guru lagi hamil, dan belum pernah imunisasi Rubella, akhirnya di ibu guru tertular. Akhirnya anak yang dikandungnya pun bisa tertular virus Rubella.

Hiii, gimana coba, perasaan kita kalau ternyata gara-gara anak kita yang tidak kita imunisasi rubella, malah membuat anak ibu guru tertular virus Rubella dan anaknya lair tidak seperti anak-anak lain.

Sedih kan?



Jadi, ngga hanya tentang kesehatan anak kita ini mah. Dengan vaksin juga kita turut serta menyelamatkan hidup anak orang lain.

Ngga tau deh ibu-ibu lain gimana. Kalau saya ya, saya paling menjagaaa banget gimana caranya supaya anak saya itu ngga menyebabkan sesuatu hal buruk ke anak orang lain, semampu saya.

Dulu pas Tara masih di daycare, setiap anak saya sakit flu, Tara pasti ngga saya masukkan ke daycare, dia tinggal di rumah sampai sembuh. Demikian juga pas Tara udah sekolah, saat dia flu atau batuk, saya minta ijin ke bu guru agar dia ngga masuk.

Bukan karena saya manjain anak, tapi semata karena saya ngga mau anak saya nularin flu dan batuk ke anak orang lain. Saya ngga ngejudge ibu lain yang tetap membiarkan anaknya sekolah walau kondisinya lagi sakit. Mungkin ngga ada yang jaga di rumah. Yang pasti, dari diri pribadi saya ngge pengen aja anak-anak lain sakit gara-gara anak saya.

Walau yang katanya anak sakit flu-flu atau batuk mah biasa, ya monggo. Tapi bagi saya, kalau memungkinkan ya sebaiknya di rumah saja sampai sembuh.Kasihan anak lain kalau ketularan.

Saya ngga tau ini berlaku ngga sampai Tara sekolah SD ntar.

Masih banyaklah contoh lain.

Misal ada anak-anak yang mengidap alergi tertentu atau tengah menjalani pengobatan. Nah anak-anak yang lagi sakit ini ngga bisa diimunisasi. Jadi penting bagi anak-anak kita yang sehat untuk diimunisasi, agar anak kita tidak sakit atau terpapar virus, sehingga tidak  menularkan virus tersebut ke anak lain yang sakit dan tidak bisa diimunisasi.

Duh belibet ya.

Ini kayak mata rantai gitu. 

Jadi kita mengimunisasi anak kita untuk menyelamatkan anak yang tidak bisa diimunisasi juga.

Makanya, saya bilang dengan tindakan kecil kita mengimunisasi anak, kita sebenarnya sudah berkontribusi banget untuk kehidupan yang lebih baik, untuk kesehatan anak-anak kita dan anak-anak orang lain.

Makanya saya berpendapat, bahwa imunisasi adalah  salah satu bentuk cinta dan kasih sayang saya kepada anak, ahsek.

Apalah artinya duit yang dikeluarkan untuk imunisasi komplit, dibanding efek jangka panjang yang bisa dicegah dan bisa dihindari.

Karena sebenernya dengan mengeluarkan biaya imunisasi , kita justru sedang berhemat. Hemat uang untuk pengobatan jika dia terkena penyakit seperti yang saya sebut di atas, dan hemat waktu juga. Coba itung aja berapa banyak waktu yang kita harus sediakan saat anak sakit, ngapa-ngapain jadi ngga bisa.

Lagian ada kok imunisasi gratis yang disediakan pemerintah.

Mengenai Keharaman bahannya

Kalau masalah soal keharaman bahan-bahannya, menurut yang saya baca, bagian dari babi itu hanya sebagai katalisator . Dan yang namanya katalisator itu tidak ikut bereeaksi, dia tuh hanya sebagai bahan untuk membantu reaksi terjadi, entah untuk memisahkan zat yang dibutuhkan, atau tujuan lain. Pada hasil akhirnya, enzim yang berasal dari bagian babi tidak akan terdeteksi lagi, karena akan mengalami proses pencucian, pemurian, hingga penyaringan. Wallahu alam.

Ini Kata MUI

“Namun, dalam kondisi tertentu ketika tidak ada bahan atau enzim (halal) lain maka dimungkinkan pembolehan vaksin dari bahan najis atau haram. Ini sama seperti yang dilakukan nabi dalam menggunakan air kencing yang jelas-jelas najis dan haram untuk pengobatan,” katanya, di Jakarta, Senin (20/4). Jika belum ada materi zat vaksin yang tersertifikasi halal maka boleh digunakan semata-mata untuk melindungi jiwa. 
Mengenai imunisasi bisa menyebabkan autisme?

Sampai sekarang belum ada buktinya.Ya kalau ada anak yang diimunisasi terus terkena penyakit autis, mungkin itu hanya satu dari sekian kejadian yang ada. Memang imunisasi kan tidak menjamin bahwa anak kita bakal terbebas penyakit seratus persen. Namun imunisasi mencegah itu terjadi dan kalaupun terkena penyakit terntentu, dengan sudah divaksin maka akibatnya jauh lebih ringan dibanding tidak imunisasi sama sekali.

Mengenai manusia punya daya tahan tubuh sendiri?

Iya, tapi penyakit juga berkembang terus menerus. Lagian apa kita bisa menjamin bahwa gaya hidup kita sehat banget. Mencegah tentu lebih baik dari mengobati.

Makanya saya pikir, tidak ada alasan untuk tidak imunisasi., karena manfaat yang didapat itu jauuuuh lebih banyak dari mudharatnya.

Semoga anak kita sehat-sehat semua yah baik yang diimunisasi maupun yang tidak diimunisasi.

Karena saya percaya semua ibu pastilah akan sedih kalau anaknya sakit.

Buat ibu-ibu yang anti vaksin, coba kita pikirkan ulang setiap keputusan kita. Pikirkan bahwa apa yang terjadi di anak kita, bisa jadi akan berpengaruh kepada anak lain. Iyes kita punya tanggung jawab untuk masa depan anak kita dan masa depan anak orang lho.

Jangan sampai karena keputusan kita yang salah,maka wabab penyakit yang sudah hilang malah bisa muncul lagi. 

Jadi, anak kalian sudah diimunisasi belum?

Ayo imunisasi, karena imunisasi itu bentuk kasih sayang dan cinta kita untuk anak dan untuk generasi mendatang.

Kita punya tanggung jawab bersama terhadap kesehatan anak-anak kita.

Share ya biar ibu-ibu lain baca, siapa tau bisa menggugah untuk segera imunisasi anaknya.




Custom Post Signature