Ya Allah Beri Aku Kekuatan. Aida MA

Tuesday, January 8, 2013
Memasuki usia kehamilan ke 5 bulan ini saya semakin berhati-hati dalam bersikap. Katanya di usia ini bayi sudah bisa mendengar dan ikut kontak batin dengan ibunya. Makanya saya diingatkan suami untuk lebih menjaga emosi, ngga gampang marah, dan menjaga kata-kata yang keluar dari bibir saya. Setiap malam, saya luangkan waktu untuk bercerita kepada si calon buah hati ini. Untung saya tinggal dengan tante yang punya anak masih kecil-kecil jadi ada stok bacaan anak yang bisa saya bacakan, ngga perlu beli. Kisah-kisah para nabi dan kisah bermakna. Saat itulah saya merasakan " me time" dengan bayi saya.

Kalau mengingat-ngingat perjalanan panjang saya sampai hari ini rasanya bersyukur banget untuk setiap tetesan rezeki yang diberi Allah. Namun ada saat-saat saya teringat masa-masa berat yang saya jalani. Bukan bermaksud mengingat yang sedih-sedih, tapi hanya berbagi kisah saja.

Betapa berat rasanya, 4,5 tahun menikah belum ada tanda-tanda kehidupan di rahim saya. Gerah rasanya setiap ada orang yang bertanya tentang isi perut saya. Tidak di acara pertemuan keluarga, di undangan, lebaran bahkan ketemu teman lama pun pertanyaannya sama. Ngga cukup sampai disitu, SMS, BBM-an, bahkan teman FB pun seperti tak bosan-bosannya menanyakan pertanyaan yang itu-itu saja.

" Sudah isi win?".  " Jangan ngejar karir aja, inget umur lo".

Duuh Sedih sekali rasanya. Hati saya seperti teriris-iris saat mendapat serbuan pertanyaan seperti itu. Terkadang sempat terlintas di benak saya, Ya Allah apa salahku, mengapa ujian ini begitu berat. Secara tidak sadar saya jadi menarik diri dari pergaulan. Saya jadi enggan ke acara kumpul-kumpul keluarga seperti arisan. Acara kantor suami pun sering saya hindari, karena pembicaraannya ngga jauh-jauh dari tentang anak dan printilannya. Kalau hanya bicara anak sih saya senang mendengarnya, tapi kalau udah sampai ke semua mata menuju ke saya, hih rasanya kayak didakwa, apalagi saya merasa ada sebagian kecil yang menuduh seolah-olah sayalah sumber masalah ketidakhamilan ini. 

Saat mudik lebaran pun, saya jadi enggan keluar rumah, Kerjaan saya hanya mendekam di kamar. Saat suami mengajak saya bersilaturahmi ke tetangga  dengan enggan akhirnya saya ikut juga. Soalnya kan setahun sekali, masa ngga sowan. Tapi, lagi-lagi perasaan saya harus terlukai dengan pertanyaan menyebalkan itu. Apalagi ditambah tatapan mengasihani. Saya paling tidak suka dikasihani orang. Akhirnya acara silahturahmi pun berbuah amarah bagi saya. 

Bersyukur saya memiliki suami yang sabarnya luar biasa. Ia yang selalu menguatkan saya. Walaupun saya tahu di dalam hatinya juga pasti merasakan hal yang sama dengan saya. Sering di malam-malam sepi, di sujud-sujud saya berdoa, " Ya Allah beri aku kekuatan menjalani semua ini". Saya tidak ingin menggugat Allah, saya percaya semua adalah takdirNya, dan saya sungguh ikhlas akan semua ketentuanNya. Namun sebagai manusia biasa, ada keterbatasan dalam diri untuk menerima rasa terpuruk dan tak berdaya.

Mungkin yang bertanya pada saya tersebut tidak tahu bagaimana usaha saya dan suami yang tak kunjung putus. Ikhtiar dalam menjemput rezeki yang dinanti-nantikan semua pasangan. Mulai dari periksa ke dokter. Ngga main-main, periksa kesuburan itu menyakitkan saudariku. Bayangkan sakitnya saat anda haid, kalikan sepuluh. Entah berapa jarum suntik yang menembus kulit saya. Periksa darah, periksa hormon, semua diperiksa. dari mulai luar sampai ke dalam. Namun bersyukur ternyata semua normal, saya tidak sampai mengalami yang namanya rahim ditiup, karena katanya luar biasa sakit. Saya pun tidak harus minum obat apapun karena hasil pemeriksaan tidak ada yang bermasalah di diri saya.

Disamping waktu, tenaga, tekanan psikis, tidak sedikit biaya yang harus kami keluarkan. Sekali datang ke dokter sudah bisa dipastikan minimal 1,5 juta melayang dari dompet. Sempat disarankan oleh salah seorang dokter agar kami menjalani inseminasi buatan atau sekalian bayi tabung. Tapi kami menolaknya, karena kami yakin Allah punya rencana yang lebih indah untuk keluarga kami.

Tidak putus asa, kami mencoba cara alternatif. Saya pernah dipijet, katanya untuk memperbaiki letak rahim, siapa tahu rahim saya terlalu naik atau terlalu turun. Dan pijet itu juga sakit saudariku, percayalah. Awalnya saya enggan melakukannya karena toh dokter sudah bilang saya baik-baik saja, namun tak tega rasanya melihat ibu saya. Beliau yang menyarankan saya untuk pijet, katanya siapa tahu berhasil. Ya sudahlah ngga ada ruginya pikir saya. Mencari tukang pijet juga bukan perkara mudah. Kami sempat ke pelosok desa di Siantar, saat ada yang bilang disana ada tukang pijet yang sudah banyak membuat oarng hamil. Ternyata saat kami akan mengunjungi, si nenek tukang pijet keburu dipanggil Ilahi. Benar-benar ujian kesabaran.

Masih tidak cukup, kami pun menerima saran-saran orang. Dari mulai makan kurma ijo yang katanya berkhasiat, disuruh makan delima hitam, segala macam yang katanya berkhasiat. Bahkan dari seorang teman yang 11 tahun baru dikarunia anak kami mendengar cerita yang lebih miris lagi. Sampai harus minum ramuan yang pahitnya luar biasa, makan torpedo kambing, segalanya dicoba. Namun saya tidak sampai seekstrim itu. Kurma ijo kami konsumsi, karena menurut hemat saya kurna memang berkhasiat untuk kesehatan. Saya lebih percaya dengan khasiat alami makanan yang terjamin kesehatannya dibanding mencoba-coba ramuan yang saya tidak yakini. Segala sumber protein kami konsumsi, mulai dari kecambah, kerang, segala macam seafood  sampai madu.Empat tahun berlalu, tak satupun usaha tersebut membuahkan hasil

Hai, saudariku, lihatlah ikhtiar kami. Percayalah kami menginginkannya lebih dari siapapun, lebih dari orang-orang yang bertanya, yang begitu perhatiannya setiap saat tanpa kenal lelah melempar pertanyaan bernada sama.

Rezeki, jodoh pertemuan, maut, semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya. hanya Dia yang tahu kapan saat itu sampai pada kita. Rezeki tidak akan tertukar, baik waktu maupun takarannya.

Sungguh, untuk semua perasaan sakit, terhina yang saya terima bertahun-tahun tersebut rasanya lunas dalam sekejab, hilang tak bersisa. Saya berterima kasih untuk semua bentuk perhatian yang mungkin tidak saya pahami dari orang-orang sekitar saya. Saya yakin Allah tak akan memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya.

Teruntuk semua wanita yang sedang menunggu kehadiran si buah hati, semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam penantian panjang yang hanya Dia yang tahu kapan berujung. 

Teruntuk Saudariku yang lain, masih ingin bertanya?. Think Again


Dilema, Antara Pekerjaan dan Mendukung Korupsi

Monday, January 7, 2013
sumber gbr: harianterbit.com

Kemarin-kemarin waktu ada lomba dengan tema tentang korupsi saya ngga pernah ikutan, kenapa? karena dunia saya sangat erat sekali dengan yang namanya korupsi. Dan saya sering terjebak di dalamnya. Jangan berprasangka macam-macam dulu, bukan berarti kerja di bank berarti korupsi, tapi sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saya.

Saya bertugas sebagai account officer. Kerjaan saya memberi kredit kepada nasabah yang membutuhkan dan dianggap layak sesuai analisa yang saya lakukan. Nah, dalam proses analisa tersebut, ada beberapa tahapan yang mengharuskan pihak bank berhubungan dengan instansi lain. Misalnya untuk penilaian agunan, saya harus memiliki data harga pasar wajar nilai tanah di daerah lokasi agunan nasabah berada. Biasanya saya meminta ke kantor kelurahan. 

Seperti kemarin pagi. Ada tanah nasabah yang harus saya nilai, maka demi keabsahan penilaian dan keakuratan data pergilah saya ke kantor kelurahan setempat. Ketemu dengan pak lurahnya, saya jelaskan maksud kedatangan saya. Intinya saya minta surat keterangan dari beliau kisaran harga terendah dan tertinggi di wilayah binaannya tersebut. Duuuh susaah banget mintanya, alasannya dia ngga berwenang lah, takut salah ngasih data lah, bla bla bla dan ujung-ujungnya si pak lurah ngomong gini , 

" Wah mba, kalau saya ngeluarin surat keterangan gini, udah banyak dong uang masuk saya".

Nah lho, coba dicerna sendiri maksud perkataannya tuh apa. Setelah basa-basi ngomong sana sini, belum juga ada tanda-tanda si dia akan mengeluarkan surat yang saya butuhkan itu. Ya sud lah, saya keluarkan uang 50 ribu, ngga sampai 5 menit kemudian surat keterangan pun sudah di tanda tangani lengkap dengan stempelnya.

Saya sadar saya salah dalam hal ini, turut menyuburkan tindakan sogok menyogok. Tapi mau gimana lagi ya, saya butuh surat tersebut, karena atasan saya tidak mau kalau saya menilai agunan tanpa dasar tertulis. Kalau saya ngga kasih uang, si lurah ngga mau ngeluarin surat. Dilema... dilema. Mungkin saya memang terlalu lemah dalam hal ini. Typical warga negara yang tidak baik. tapi sekali lagi, mau gimana lagi?

Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali. Saat ada nasabah yang nunggak dan agunannya harus dilelang. Pihak bank berkewajiban untuk memberi surat peringatan 1 sampai 3 untuk si nasabah. Kebanyakn nasabah yang sudah mengunggak itu susahnya minta ampun ditemui, seperti hilang ditelan bumi. Bahkan banyak yang sudah kabur dari rumahnya. padahal surat peringatan hanya boleh diterima oleh si empunya hutang, bisa suami atau istrinya. Nah sialnya si sitri atau suami pun biasanya ikut kabur. Cara lain yang bisa ditempuh adalah meyerahkan surat tersebut kepada instansi pemerintahan setempat. karena menurut hukum, mereka sudah diberi kuasa oleh negara untuk mewakili warganya. Nah instansi setempat yang paling dekat adalah lagi-lagi kantor kelurahan. 

Dan cerita berulang, saat saya menyerahkan surat peringatan untuk nasabah tersebut lagi-lagi si lurah banyak alasan , ini itu lah, bilang " emangnya kita kantor pos", duuuh padahal udah dijelaskan juga tentang UU yang mendasarinya, tetep aja ngga mau. Pengen banget ngomong sama si lurah " Ya sudah pak, kalau ngga mau dititipin surat ya ngga usah jadi lurah, masa mau jabatannya ngga mau kerjaannya". Tapi buat apa? bukannya malah selesai, malah kasihan ntar teman-teman saya yang lain bisa-bisa makin sulit kalau ada perlu kesana. Dan akhirnya dari dompet saya pun keluar lagi selembar uang warna biru tersebut.

Masalahnya, trus yang ganti uang yang saya keluarkan siapa dong?. Bank tempat saya bekerja tuh punya aturan keras mengenai GCG ( Good Coorporate Governance) yang melarang keras para pekerja menerima seuatu baik uang atau bingkisan dari nasabahnya. Kalau ketauan, ancamannya ngga main-main, bisa langsung turun jabatan atau malah sampai diPHK. Sudah banyak sekali kejadian teman atau rekan kerja di tempat lain yang terkena hukuman jabatan gara-gara yang namanya gratifikasi ini. Nah dilema banget kan?. Seperti makan buah simalakama. 

Ternyata memberantas korupsi itu ngga segampang teori yang banyak dibahas di tivi-tivi, di media cetak. Lah dari lingkungan terkecil saja sudah seperti itu.  Jangan bilang saya turut menyuburkan korupsi tersebut. Sudah beberapa kali teman-teman saya mau menerapkannya. Minta surat keterangan ke lurah ngga ngasih uang pelicin. Ditunggu sehari dua hari ngga keluar-keluar juga, sampai seminggu juga ngga keluar. Alasannya lurahnya keluar kota lah, sekdes nya rapat lah, dan lain-lain. Begitu dikasi amplop, ngga sampai satu jam tuh surat langsung terketik rapi. Mengerikan. Padahal dalam pekerjaan saya, kami butuh cepat karena nasabah juga maunya cepat, target menunggu di depan mata, persaingan perbankan semakin gila. Huh, capee deh.

Jadi, what should i do? saya ngga tau. Semoga saja di lain waktu saya bisa menemukan cara untuk bisa mendapat surat-surat tersebut tanpa mengeluarkan uang seperak pun. Dan semoga saja tidak semua kantor kelurahan seperti itu, mungkin saya saja yang ketiban sial.




Kado Istimewaku

Ultahnya udah tanggal 2 kemarin tapi baru sempet nulisnya sekarang.

Yup tanggal 2 Januari kemarin genap usia saya memasuki the Golden Age eh. Iya Masa keemasan, karena katanya Life begans at 30 . Whats??? jadi selama ini ngapain aja, kok baru di umur 30 tahun mulai hidupnya.

Kalau bagi saya sih, hidup saya berawal di usia ke 25, saat suami tersayang melamar saya di suia yang bikin deg-deg plas karena katanya usia segitu usia rawan, jam biologis udah njerit-njerit. Ah ada-ada saja istilah orang untuk setiap pertambahan umur. 

Sebenarnya kata suami saya yang namanya ulang tahun itu bukan dirayain tapi harusnya buat muhasabah karena jatah usia kita berkurang. Iya , bener banget tuh. Dan ternyata memang 30 tahun hidup saya rasanya berlalu begitu saja. Belum banyak membawa arti bagi orang sekitar :(.

Di ulang tahun kemarin, saya dapat kado istimewaaa banget. Bukan ... bukan dari suami, tapi dari sahabat saya yang paling baik hatinya. Namanya Deby Gurendo. Saya baru kenal dengan Deby dua tahun belakangan ini, sejak dilempar ke Jakarta oleh perusahaan saya. Selama setahun kami berbagi ruangan yang sama dalam satu kamar. Setahuun loo, bangun tidur liat dia, makan sama dia, di kelas sama dia, belanja sama dia. Eh pas penempatan sama-sama di kantor pusat, balik satu kos-an lagi, samaan lagi. Berasa menemukan belahan jiwa. Sampai-sampai liburan pun kami setting bersama.

Sejujurnya saya dan Deby berbeda kepribadian. Deby orang yang sangat menjaga perasaan orang lain, bicaranya santun, tindak-tanduknya sangat menyenangkan, and always possitive thinking untuk setiap masalah. Sedangkan saya orangnya grasa-grusu, suka ngomong ceplas ceplos tanpa mikirin akibatnya. Dari dia saya banyak belajar tentang ewuh pakeuwuh. Saya juga belajar agar berfikir positif untuk apa yang terjadi. Duuh banyak vanget lah jasa anak satu ini sama saya.

Walaupun berbeda, tapi kami memiliki selera yang sama, makanya sering kembaran kalau beli apa-apa. Baju kantor, sepatu, sendal, karpet hahaha untung saja ukurannya beda kalo ngga udah pinjem-pinjeman mungkin.

Saya sangat menyukai bentuk persahabatan yang kami miliki. Bukan bentuk yang dimana ada kamu disitu ada aku, selalu menerima kekurangan dan kelebihanku. Ngga seperti itu. Saat saya ingin melakukan sesuatu dan ia ngga mau, ya no problema, kami akan melakukan kegiatan masing-masing. Jadi ngga ada tuh ceritanya kalo saya mau makan mie ayam, Deby harus makan juga.

Kekurangan yang ada pada masing-masing ? bukan untuk diterima begitu saja, tapi sebisanya dibantu untuk mengatasinya. Lebih tepatnya sih, Deby yang ngoreksi kekurangan saya, karena menurut saya she's perfect.

Deby juga adalah editor amatir untuk passion menulis saya. Dia orang pertama yang akan membaca tulisan-tulisan ngga jelas yang saya buat. Kasihan juga nih anak, suka jadi korban kesemena-menaan saya. Kalau tulisan saya jelek ya dibilang jelek, tapi tentu saja dengan caranya dia yang ngga membuat saya down, tapi malah makin semangat nulis. Aiih, ni sohib TOP BGT deh.

Trus apa dong kadonya???

Nah kemarin tuh bertepatan dengan ultah saya neng Deby ini memutuskan memakai jilbab. ALhamdulillahirabbil alamiin. Seneeng banget dengernya. Semoga saja kami berdua bisa istiqomah memakai busana ini. Dan semoga kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Selamat ya aganwaty. Happy For You

Hmm kalau kado dari suami??

Yah si akang mah ngga ngasi kado tuh. Dia ngadonya berupa sponsorship untuk GA yang saya adain kemarin. Katanya saya udah gede ngga perlu dikasi kado lagi, jiaaah pengen dilempar buldozer nih suami. Tapi gpp lah, yang penting dia ada di samping saya aja udah bersyukur banget.

Hanya berharap semoga tahun ini mendapat limpahan barokah dari Allah SWT, aamiin


Pemenang Giveaway WIndiland

Saturday, January 5, 2013
Alhamdulillah Giveaway Windiland sukses terlaksana, ciee ciee. Dan nggak nyangka banget pesertanya banyaaaak. Duuh senengnya, total ada 65 peserta yang mendaftar. Sesuai dengan kesepakatan di awal, setiap tulisan akan dikonversi sebeesar Rp 5000, jadi totalnya hmmm (itung dulu ) Rp 325 ribu. Karena nanggung kita genapin aja jadi Rp 350 ribu yah. Dan nantinya jumlah tersebut akan kita sumbangkan ke Palestina. Makasi ya teman-teman semua, semoga dihitung sebagai amal ibadah kita.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dari membaca tulisan-tulisan peserta:
  1. Hampir sebagian besar sebenarnya tidak terbiasa membuat resolusi bahkan ada yang baru pertama kalinya. Waah kalau menurut saya resolusi itu penting loo, walaupun ngga harus ditulis di sosmed or blog #maksa
  2. Bisa dibilang, salah satu resolusi terfavorit adalah menerbitkan buku solo, hwaaaa surprise, jadi mari kita aminkan beramai-ramai semoga resolusi yang satu ini tercapai untuk semua orang
  3. Trus ternyata banyak banget yang punya resolusi menghapal Al-Qur'an, duuuh malu sama diri sendiri ngga pernah menjadikan hapalan Al Qur'an sebagai cita-cita. Saluut buat yang istiqomah menjalankannya
  4. Dan terakhir, pesertanya banyak yang diatas 40, xixixi walaupun udah kepala 4 masih semangat aja nulis. TOP bunda-bunda, ayoo yang masih muda apalagi yang masih kuliah jangan mau kalah
Nah itu sekelumit yang saya simpulkan.

Ya sud ngga usah berpanjang lebar lagi saya umumkan pemenangnya yah. Sebenarnya susaaah banget nentuinnya, secara tiap tulisan memiliki keunikan masing-masing dengan gaya bercerita ynag asik-asik. Sampe bersemedi dan melibatkan serombongan orang untuk menentukan pemenangnya. Pengennya semua menang, tapi apa daya hadiah tak mencukupi. ( kelamaan nih basa-basinya).

And the Winner is....... jengg jeng jeng ....

PEMENANG UNTUK PESERTA TERCEPAT
( Buku Trinity 4 )
Blog : Leyla Hana
Note Fb : Saeful Abu Zaza
Peserta Ke-20 : Umi Qudsiyah


PEMENANG PERTAMA
(Mukena )


PEMENANG KEDUA
( Sprei Anak )
Oci YM
Lina W Sasmita
Asni Ahmad Sueb

PEMENANG KETIGA
( Tupperware)
Dessi Desma
Dyah Hapsari Fajarini

PEMENANG KEEMPAT
( Buku Trinity  The Naked Traveller)
Annur EL Karimah

PEMENANG HIBURAN
(Pulsa @25 ribu )

Aisyah Al Farisi
Sri Komarudin
Siti Latifah
Dwi Aprily
Ruri
Ade Anita

Pemenang Paling Semangat Komen
(Pulsa juga )
Denny Setiawan


Eiits kok ada pemenang tambahan?. Iyaaa soalnya saya bingung , banyak banget yang bagus. Setelah nego dengan suami akhirnya beliau mau mengucurkan dana tambahan, horeee.

Dan ada salah satu peserta yang semangat sekali menulis resolusi sampai mengirim 3 tulisan. Saya mau ngasi hadiah tambahan, tapi belum tahu apa, ntar saya pikirin lagi yah. Selamat kepada kamu :
Arga Litha

Selamat kepada para pemenang. Harap segera kirim data diri berupa nama lengkap, alamat dan no telepon. Untuk pemenang Pulsa cukup No telepon saja ke email  windi.widiastuty@yahoo.com dengan subjek Pemenang GA Windiland.

Bagi yang belum menang, jangan sedih ya, semoga di GA selanjutnya bisa menang, aamiin.
Terima kasih semuanyaaaa.... :)







All About 2012 Part 2

Thursday, January 3, 2013
Lanjut lagi. Masih tentang 2012, di postingan sebelumnya saya tulis tentang pencapaian dalam dunia tulis menulis dan berbagai lomba. Selain hal-hal tersebut, tahun 2012 saya sebut sebagai tahunnya saya karena di tahun itu pula saya yang sudah dua tahun berpisah dengan suami antara Jakarta-Medan akhirnya berkumpul kembali. Dengan waktu yang begitu singkat, melalui sebuah SK mutasi. Duuuh anugerah banget bagi kami.

Kembali ke kampung halaman rasanya seperti mengisi paru-paru yang sesak dengan udara segar. Walau belum full seratus persen tinggal serumah, namun minimal seminggu sekali bisa ketemu suami. Belum lagi dana yang bisa dihemat untuk transportasi. Dulu saat masih di Jakarta, saya PP Jakarta-Medan tiap 2 minggu sekali. Bayangkan berapa biaya yang harus kami sisihkan. Sekarang modanya udah ganti, jadi kereta api, jauh lebih hemat, uhuy.

Mungkin benar kata orang, dulu banyak yang bilang saya ngga hamil-hamil karena stres jauh dari suami. Eh gitu ngumpul, sebulan aja langsung isi. Allah memang Maha baik. Walau saya ngga percaya teori stres-stresan atau teori subur ngga subur, tetap saya bersyukur banget atas anugerah luar biasa ini. Ya, saya lebih percaya dengan konsep semua ada saatnya dan Allah yang maha tahu apa yang terbaik untuk kita.

Pertama kali ditempatkan di Rantau Prapat perasaan saya seneng banget, sampe nangis-nangis terharu, udah gitu ngga lama muncul pertanyaan segede toge di kepala saya, WHY???? Why Rantau Prapat?, kenapa ngga di kota Medan aja sekalian. Kok SDM tega sih?, kok Allah ngasi rezekinya tanggung-tanggung sih? dan berbagai pertanyaan kenapa2 di dalam kepala saya. Walaupun saya bersyukur banget, namun tidak dapat dipungkiri terselip juga tanda tanya tersebut.

Setelah 3 bulan disini saya akhirnya menemukan jawabannya. Disini saya ketemu dengan atasan yang pengertiannya luar biasa. Saat tahu saya hamil, beliau langsung menasehati saya untuk tidak OTS ( On the Spot) ke tempat-tempat yang jauh, yang jalannya rusak atau yang memungkinkan membahayakan kandungan saya. Disini juga ternyata potensi pasar untuk prospek kredit demikian besar, membuat saya tidak terlalu pontang-panting mencari nasabah. Belum lagi rekan kerja yang sangat kooperatif. Saya merasa kembali ke rumah. Kantor seolah-olah menjadi rumah kedua bagi saya.

Dari sini saya sadar, semua hal yang terjadi pada diri kita tidak terjadi sekonyong-konyong. Dan lagi-lagi saya sadari Allah yang sangat tahu apa yang terbaik untuk kita, jangan coba-coba meragukan hal tersebut. Suasana kerja yang kondusif mungkin menjadi salah satu faktor saya relaks, senang, tenang yang membuat pembuahan berhasil. Ah entahlah, semua memang sudah ada waktunya.

Hmm 2012 memang tahun yang begitu amazing buat saya. Di tambah lagi pada awal tahun, saya dan suami bisa memiliki rumah yang insyaAllah akan menjadi baiti jannah bagi keluarga kami. Rumah yang disiapkan suami untuk saya. Saat rehab rumah, saya masih berada di Jakarta, selama hampir 2 bulan saya tidak dibolehkan pulang, karena ia tidak mau saya melihat rumah dalam keadaan berantakan.Setelah semuanya beres barulah saya diijinkannya masuk. Iiih, suamiku baik banget deh.

Semua ini, semoga membuat saya semakin mensyukuri hidup, tidak menjadi kufur nikmat. Semoga keberkahan selalu menyertai apapun yang saya jalani #doain yah teman-teman.

Custom Post Signature