Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Iman dan Ilmu

Monday, May 22, 2017



Belakangan saya jadi sering kepikiran soal cara berfikir orang-orang yang saya kenal di dunia maya. Hmmm mungkin sekitar setahun atau dua tahunan ini kali ya.

Saya melihat saat ini begitu gampang orang melabeli seseorang dengan kata liberal, hanya karena ia menulis atau berpendapat sesuatu yang tidak seperti orang kebanyakan.

Padahal apa sih sebenarnya arti liberal itu sendiri? Kok seolah- olah setiap orang yang ga ga gampang peecaya terhadap sesuatu atau yang gunain logikanya dalam mencerna hal-hal tertentu langsung dicap liberal,
dicap terlalu menuhankan logika, sehingga hatinya mati. hak dezing.

( Baca : Catatan Aksi Bela Islam )

Apa yang salah dengan memikirkan dan mempertanyakan hal-hal dalam rangka untuk proses berfikir, berdiskusi. Masa kita ngga boleh berfikir?

Ya kan di agama juga ada dibilang " Aku dengar dan aku taat" Udah lakukan saja sesuai perintah Allah.

Nah, ini saya masih ngga ngerti kenapa bisa muncul orang-orang yang mengatakan kalimat ini. seolah-olah, orang yang berfikir dianggap membangkang. Padahal kalau kita mau menelaah, dan ngomongin asal muasal ajaran Islam, itu dimulai dari satu kata " Iqra' baca.


Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Baca.... baca.....

Iqra, membaca, menganalisa, mendalami, merenungi, menyampaikan, meneliti tidak sebatas pada membaca ayat-ayat yang bersumber dari Tuhan, kitab suci, tapi juga membaca dan merenungkan alam semesta.

Jelas kita dituntut untuk memiliki ilmu, mempelajari apa yang diciptakannya. Lha terus ngapain kalau kita disuruh belajar tapi ngga boleh berfikir.

Sialnya saya melihat suatu paradoks disini. Ngga suka dengan orang yang apa-apa pake logika, yang banyak berfikir tapi bangga banget saat ada seorang muslim yang berprestasi atau saat ada sebuah penemuan yang ternyata penemunya adalah seorang muslim.

Bangga yang sampai pada ngeshare disertai caption ' Subhanallah, seorang muslim ternyata yang menemukan lalalalalala."

Saat Zidan si pemain sepak bola dunia ternyata beragama Islam, kita dengan bangga bakal bilang " Wow Zidan ternyata muslim lho"

Ya ngga.

Atau saya salah? Kalau saya salah mohon koreksi.

Artinya apa?

Artinya, di dalam hati kita, kita ingin kan bahwa pemeluk agama Islam itu banyak yang punya prestasi, berilmu. Prestasi apa saja, boleh dalam sains, dalam bidang keartisan, perdamaian dunia, seni, olahraga, apapun.

Kita senang, saat ada ilmu baru di dunia kedokteran, atau di dunia antariksa yang ternyata telah diceritakan di Al Qur'an sebelumnya, yang ternyata berasal dari mempelajari Al Qur'an.

Seneng kan? Bangga kan?

Ya wajar-wajar saja, karena tentu itu akan menjadi sterotype positif terhadap pemeluk agama tersebut secara keseluruhan.

Nah, tapi kenapa, di saat yang bersamaan kita ketakutan saat ada orang yang sedikit aja berfikir, menunjukkan kepintarannya, atau menunjukkan bahwa ia memiliki ilmu yang mungkin tidak dimiliki kebanyakan orang, kalau dia membaca lebih banyak dibanding yang dibaca orang lain.

Kenapa?

Kenapa?

Atau jangan-jangan kita sendiri ketakutan, kalau orang terlalu pintar maka akan mempertanyakan segalanya dan berujung bisa mempengaruhi cara berfikir orang lain ?

Bahkan ada yang mengatakan, jangan terlalu banyak berfikir ah, jangan apa-apa dilogikain ntar malah jadi atheis lho?

Nah lho, berarti disini sebenarnya yang meragukan keimanan sendiri siapa? yang meragukan agamanya sendiri siapa?

Buya hamka pernah berkata, bahwa ilmu tanpa iman ibarat lentera di tangan pencuri.

Bisa digunakan untuk kejahatan. Bisa digunakan untuk memperkaya diri sendiri, untuk menyengsarakan orang, untuk merugikan orang, dan untuk membuat orang tidak tenang.

Persis seperti pencuri.

Yak benar, makanya orang-orang yang berilmu perlu ditundukkan dengan keimanan, agar ilmunya terpagari.

Namun, jangan lupa iman tanpa ilmu juga ibarat lentera yang dipegang oleh bayi.

Tahu kan bagaimana lentera di tangan bayi. Bisa jadi malah ngga bermanfaat, bisa pecah, mudah diambil, mudah diombang-ambing, dan mudah dikendalikan oleh siapapun.

Makanya saya ngga setuju banget jika ada orang atau siapapun yang banyak berfikir, mempertanyakan sesuatu, even yang dipertanyakannya adalah tentang agama, trus langsung dicap liberal. langsung dicap tidak sami'na wa ato'na.

Kok bisa seperti itu?

Kebayang ngga sih, lama-lama orang akan malas berfikir. ya udahlah, daripada dicap liberal, diberangus ya udah iyain aja. Ngga usah didebat. dengerin aja. Ngga usah dipikirin. Singkirkan semua buku-buku , bisa berbahaya, jangan kasih baca buku sastra nanti sok puitis, ngga usah baca buku filsafat ntar jadi mempertanyakan segalanya.

Pokoknya saya melihat orang-orang yang ada di sekitar saya terutama yang mengaku sebagai kaum agamais, maka mereka akan menolak saat ilmu pengetahuan bertentangan dengan dogma tapi di satu sisi bersorak saat dogma pas dengan ilmu pengetahuan.

Bukankah itu lucu.

Sebenarnya adalah sangat wajar jika ada beberapa hal antara ilmu pengetahuan dan agama/dogma bertentangan, ya karena dasarnya memang udah beda.

Kita harus menyadari dulu, yang namanya ilmu pengetahuan itu ya basisnya adalah keragu-raguan sedangkan agama dasarnya adalah iman. Iman artinya percaya, percaya artinya tidak ragu, Ya uwis sampai kapanpun ngga akan ketemu kalau selalu dibentur-benturkan.

Padahal ya bisa saja kalau ditelaah dan dipelajari lebih lanjut, mungkin memang tidak saling bertentangan, hanya yang namanya pengetahuan manusia kan terbatas ya, sesuatu yang saat ini diyakini benar bisa jadi akan ada penelitian ke depan yang menentangnya. Demikian pula yang saat ini dianggap salah, bisa jadi bertahun kemudian baru ditemukan bukti kebenarannya.



Lha iya, dulu bumi dianggap sentral alam semesta, sekarang ganti toh jadi matahari.

Dulu, Kita taunya bumi satu-satunya planet yang ada, ternyata hanya setitik debu di alam semesta. Makanya kita dituntut untuk terus belajar, berfikir. Ngga ada yang salah dengan itu.

Mempertanyakan sesuatu bahkan mempertanyakan agama itu sendiri bukan berarti tidak percaya Tuhan, tidak percaya apa yang dikatakan kitabnya, ya bagaimanapun kembali ke kalimat tadi, iman tanpa ilmu akan mudah terombang-ambing, makanya kita harus berlimu biar semua ada dasarnya, biar keyakinan tidak sekedar ikut orangtua, tidak sekedar warisan tapi merupakan hasil berfikir, dan hasil meyakini dari hati yang telah melalui saringan logika.

Nah sekarang coba tanya ke diri masing-masing, agama yang kita anut saat ini beneran hasil rekonstruksi cara berfikir kita setelah dewasa atau memang masih bawaan warisan orangtua?

Jangan marah dulu, dan jangan langsung semena-mena mengatakan yang mempertanyakan ini liberal.

Pertanyaan ini perlu kita tanyakan ke diri masing-masing, bukan untuk meragukan keimanan sendiri, tapi lebih kepada mempertanyakan benarkah kita memang meyakini agama yang kita anut sekarang ini berdasarkan keihklasan kita?, berdasarkan proses berfikir kita?

Coba ini ditanyakan dulu dan dijawab dengan jujur.

" I'm not what happenned to me, I'm what i choose to become"

Kalau ini ditanyakan ke saya.

Tentu saya akan menjawab bahwa agama saya saat ini bukan agama yang diwariskan orangtua saya. Iya dulu saya lahir dengan membawa warisan agama Islam. Namun seiring saya bisa berifikir, saya yakin bahwa Islam adalah agama paling benar di muka bumi ini.

Namun itu tak membuat saya merasa superior dan menganggap bahwa pemeluk agama lain kecil.

Karena saat kita yakin terhadap agama sendiri, kita sama sekali tidak perlu mengkerdilkan agama lain.  sehingga tidak takut hanya karena pemikiran seorang anak yang ternyata kok ngga seperti pemikiran kebanyakan orang.

Saaf kita yakin dengan agama kita, maka kita  juga ga akan terombang-ambing dan parno sendiri saat rumah ibadah agama lain, berdiri di samping mesjid kita misalnya.

Lha kenapa harus takut? Karena kita sudah tau, kita sudah membandingkan dan mempelajari, bahwa apa yang kita yakini, tidak ada keraguan di dalamnya.

Namun kalau kita bisanya cuma teriak-teriak bahwa " Aku percaya apa yang dikatakan guru ngajiku, aku percaya apa yang dikatakan oleh ulama kami, aku percaya apa yang dikatakan kitabku" tanpa pernah mempelajarinya sendiri, memikirkannya atau bahkan membandingkannya itulah yang disebut dengan lentera di tangan bayi.

Kamu hanya percaya atas apa yang dikatakan orang. Makanya kamu berang saat ulama dihina, makanya kamu marah saat agamamu dihina.

Ngga, kalau kamu paham dengan baik, kamu akan berfikir ulang saat berang melihat ulamamu dihina, atau agamamu dilecehkan. Kamu akan mungkin berfikir, bahwa mereka yang menghina, mereka yang melecehkan, adalah orang-orang yang tidak tahu. Kita menyebutnya sebagai " belum mendapat hidayah"

Kamu percaya hal ini, tapi sekaligus kamu mengingkarinya.

Bagaimana mungkin kita bisa marah kepada orang yang ngga tau apa-apa tentang agama kita.

Bagaimana mungkin kita akan terbakar emosi pada orang yang melecehkan Tuhan kita, padahal mereka ya memang belum kenal pada apa yang kita yakini.

Maka seharusnya, alih-alih terjadi perpecahan saling menghina atau saling mencap yang tidak sepemikiran dengan kata liberal, mungkin kita perlu baca sejarah tentang akhlak rasul yang kita junjung.

Nabi Muhammad sendiri banyak mencontohkan bagaimana lemah lembutnya ia terhadap umat beragama lain, bagaimana santunnya beliau terhadap orang yang tidak sepemahaman.

Ia tidak marah saat seorang Badui mengencingi mesjid. Karena ia tahu, si badui hanya tidak tau kalau itu salah. Alih-alih langsung menghardiknya, nabi malah membiarkan ia menyelesaikan hajatnya kemudian baru memberitahukannya, dan sekalian pula membersihkannya.

Kalau mau kita telaah lagi, kenapa rasul ngga langsung menghardiknya?, Karena alih-alih bikin orang mengerti bahwa mesjid bukan untuk dikencingi, malah mudharat yang ada. Si Badui bisa terkejut, malah bisa kelihatan auratnya, bisa malah pakaiannya kena najis, malah bisa saja karena kaget, kencingnya berhenti mendadak dan bisa jadi penyakit.

Ya ngga sih?

Pernah denger ngga, kalimat ini " Jika kita menghilangkan suatu kemungkaran, namun malah mendatangkan kemungkaran yang lebih besar maka sama saja kita melakukan kemungkaran yang pertama tadi plus ditambah kemungkaran yang datang karena perbuatan kita tadi. Dan tambahan kemungkaran itu sudah jelas maksiat.

Jadi mikirnya itu panjang, ngga cuma soal kemungkaran itu tapi rentetan di belakangnya juga harus dipikirin.

Kecuali kita dalam kondisi berperang, dan salah satu melanggar perjanjian,yang akibatnya bisa membahayakan nyawa pemeluk agama kita, tentu kita boleh berlaku tegas, angkat senjata pun jadi.

Tapi coba lihat kembali ke kondisi negara ini, apakah kita sedang perang?

Apakah keselamatan kita terancam?

Kita dianugerahi jumlah yang banyak, mayoritas, seharusnya kita yang menjadi change agent terhadap perwakilan diri seorang muslim bagi lingkungan kita.

Muslim tidak pemarah
Muslim tidak pengumpat
Muslim tidak pencaci
Muslim tidak rasis

Karena agama kita adalah agama pembawa kedamaian, rahmatan lil alamin.

Bukankah itu yang selalu kita katakan? Karena memang demikian seharusnya.

Bagaimana kita bisa menjadi rahamatan lila alamin, kalau saudara kita yang berbeda agama kita hindari.Bagaimana kita mau rahmatan lil alamin, kalau sesama muslim saja kita saling menghujat?

Jangan terlalu picik menganggap hidup ini cuma soal pilkada, atau cuma soal siapa yang lantang bersuara berada di pihak mana. Gsyfhchdgsh

Ngga sehitam putih itulah hidup ini.

Memangnya kalian yakin bahwa yang tidak mendukung pemenjaraan ahok maka hatinya sudah tidak beriman lagi?, sudah tidak memiliki ghirah lagi terhadap agamanya?

Karena seharusnya memang benar ilmu itu bukan membuat orang hanya pintar berkata-kata, tapi ilmu itu seharusnya bisa membuat orang makin bertakwa.

Tapi tunggu dulu, kalau bagi kalian sekufu itu saat kita sama-sama membela Habib Rizieq, tentu itu keliru.

Atau kita sekufu saat kita sama-sama ingin negeri ini menjadi negara khilafah, ya mungkin memang  ngga sepaham.

" Tapi selama ini umat muslim sudah dizolimi, kita dibungkam, difitnah"

Ya makanya, ayo anak-anak muda muslim, ayo belajar lebih giat. Pelajaran ilmu agama penting tapi kalau kita ingin membuat perubahan nyata di negara ini, ya ilmu pengetahuan lain perlu dipelajari juga.

Jangan takut pada filsafat. Filsafat bukan membuat orang jadi sesat, tapi membuat orang lebih bijak, lebih bisa melihat dari sudut pandang yang lebih luas.

Orang dengan sudut pandang lebih luas, maka akan memiliki penglihatan lebih jernih, bisa melihat segala sisi, dan bisa melihat apa-yang mungkin tidak kelihatan saat jarak terlalu dekat.



Jangan ketakutan dengan ilmu di luar agama. Lha gimana mau bersaing di kancah politik kalau anak-anak kita hanya boleh bergaul sesama muslim, bagaimana bisa punya skill untuk berbaur dengan bangsa kita yang majemuk.


Sudahilah dengan memberi pelabelan kepada sesama kita.

" Tapi mereka kadang suka duluan sih, memancing-mancing agar kita terbakar, menertawai agama kita"

Lha biarin. Kalau mereka seperti itu ya jangan ikutan. kalau kita juga membalasanya, apa bedanya kita dengan mereka.

Harus ada yang memutus rantai itu. Dan kitalah yang harus memutusnya.

Ingat, apa yang dikatakan atau dilakukan orang lain itu bukan tanggung jawab kita.

Tapi bagaimana kita bereaksi atas perlakuan mereka, maka itulah tanggung jawab kita.

" Kalau mereka terus menghina"

Diemin aja.


Mungkin saat ini ada yang merasa terzalimi, mungkin saat ini ada yang begitu bersemangat ingin menegakkan agama di tanah air tercinta ini, ghirahnya lagi meletup-letup. Tapi ingat, kita tidak tinggal sendiri, ada saudara-saudara kita yang beragama lain yang juga punya keinginan untuk aman damai disini, Yang ingin negeri ini lebih baik lagi.

" Lha siapa bilang mereka terancam? kapan kita mengancam, sudah beratus tahun Muslim mayoritas disini tapi ngga ada kok pernah terjadi pemaksaan, mereka aman selama ini"

Ya udah bagus kalau gitu, pertahankan. Namun itu kan perasaan kita, lha iya kitanya mayoritas, mereka belum tentu merasa demikian.

Kalau kita ingin dimengerti saat agama kita dihina, ya kita juga harus mau mengerti saat mereka merasa terancam.

( Baca : Alasan Saya Memahami Ketakutan Kaum Minoritas )

Makanya sama-sama membuktikan, bahwa satu sama lain tidak seperti yang selama ini dibayangkan.

Udah panjang banget nih, daripada saya ntar ngalor ngidul, balik lagi ke awal kenapa saya nulis ini.

Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang punya iman tapi tak berilmu sehingga malah layaknya lentera di tangan bayi

Bukan pula termasuk orang yang punya ilmu tapi tak beriman layaknya lentera di tangan pencuri.

Kebenaran hanya milik Allah, kita ini apalah, ngetik aja kadang typo, masih sok pula merasa yang paling mengerti segalanya. Lebih parah lagi, masih pula ngga mau berfikir, kemudian merasa paling mengerti tentang agamanya.










Jenis-Jenis Orang di Muka Bumi

Friday, March 31, 2017


Quote ini kalo dipikir-pikir nohok banget ya.

Bahkan dari jaman dulu kala, tipe-tipe manusia udah digolongkan seperti di atas, hahahaha.

Bener sih ya, orang-orang besar, orang sukses itu setau saya memang jarang banget yang suka ngurusin urusan orang. Lha iya, ngapain ngurusin orang kan orangnya belum tentu mau kurus *krik krik krik.

Orang-orang besar itu waktunya habis untuk memikirkan ide ide dan ide.

Kayak om Mark tuh, si pemilik facebook. Otaknya mungkin muter terus ya.

" Masa facebook cuma bisa nulis status biasa, bikin yang lain ah"

Tring, bisa bikin status warna warni.

" Masa cuma warna-warni doang sih, yang kreatif dong ah"

Tring, pas tahun baru kemarin, setiap kita ketik Happy New Year maka, otomatis akan muncul kembang api meledak di udara, keren.

" Yah gitu aja mah cemen, apa lagi yah"

Tring muncul Facebook live.

Abis itu sekarang FB pun bisa bikin story.

Wow wow, kalau udah gitu, mana sempat ya ngomongin orang, atau ngomongin hal remeh temeh kayak kita-kita ini. (((KITA))), LOL

Tapi memang terkadang hidup ini butuh keseimbangan.

Iya, sebagai ibu-ibu masa kini yang ngakunya modern, kekinian, dan ngga mudah terikut arus, ternyata ya saya tuh belum bisa jadi Great People sepenuhnya. Semua jenis manusia di atas itu ya nyampur di dalam diri saya.

Satu waktu ngomongin orang kenapa dia begini, kenapa dia begitu.

Meski tidak terang-terangan, adaaa aja gitu selintasan di pikiran " Ih apaan sih nih orang" atau " Ya ampun gitu aja dijadiin status".

Apalagi di jaman sosial media sekarang ini.

Orang dengan mudahnya bisa tahu apa yang lagi dirasakan orang. Karena semua mua bisa dishare ke publik. Semua-mua kehidupan kita ini bisa dilihat orang.

Akibatnya ya itu, kita juga punya kesempatan buat ngomentarin hidup orang. Maka jadilah kita si Small People tadi.

( Baca : Not Everything Is About You )


Di waktu lain ngomongin hal-hal remeh  yang mungkin Great People nganggap ngga penting amat sih. Kayak meratapi kok belum nemu lipen yang ngga hilang walau dibawa makan mie ayam, bakso, sushi dan segala macam. Curhat sama teman gimana caranya biar bisa punya Iphone 7 terbaru tapi ngga keluar duit, halah. Sampai menyesali hidup kok berat badan belum balik ke kondisi semula ya padahal anak udah bisa jalan huhuhuhu.

Ya begitulah namanya hidup.

Walaupun ini kedengarannya kayak pembelaan diri gitu, tapi menurut saya masih wajar-wajar sih. Asal posinya jangan berlebihan.

Jangan lupa sisihkan waktu juga untuk membicarakan apa yang Great People itu bicarakan. Mikirin ide, berkarya, mikirin kreativitas, atau sesuatu selain people atau things lah.

Kalau porsinya tidak dibalik-balik, mungkin kita yang saat ini masih di level small people bisa beranjak jadi average people, dan besok-besok siapa tau saham fesbuk jatuh ke tangan kita wahahahaha.


Makanya yuk yuk, kurang-kurangi ngomongin orang. #Ini notes untuk diri sendiri.

Kalaupun mau ngomongin orang pakai cara yang elehan.

Yang elehan itu yang kayak mana?

Ya dalam hati aja, trus diam-diam bikin tulisan, posting di blog, tambahin kata-kata mutiara, wahahahaha jadi deh satu postingan.

Oke skip, abaikan kalimat di atas.

Saya yakin masing-masing kita tahulah caranya yah, Kan udah dewasa.

Jadi, hari ini kamu dominan jadi orang jenis yg mana?

Great people
Average people
Atau small people?

Menertawakan Musibah

Tuesday, February 21, 2017



Tahun 2004, saat tsunami menerjang Aceh dan sekitarnya, banyak spekulasi bermunculan. 

Kaum agamais menyebut bencana tersebut sebagai murka Tuhan. Bahkan di awal bencana terjadi penyanyi cilik Sherina menyanyikan lagu dengan lirik yang menyatakan bahwa semua ini adalah murka Tuhan.

" Tuhan marahkah kau padaku
Sungguh besar .....murkamu..
Kau hempaskan jarimu di ujung Banda"

Namun, akhirnya lirik tersebut diganti. Kalimat kedua yang berisi kata murka diganti menjadi "Inikah akhir duniaku"

Asap

Friday, October 23, 2015
Pagi ini saat saya mau berangkat kantor, terlihat asap menghalangi pandangan. Putih dimana-mana. Sebenarnya dari kemarin sore sih, suami udah bilang nafasnya agak sesak soale asapnya makin tebal. Iya suami saya memang agak sensitif sama debu dan asap. Udah bolak balik sih ke dokter paru katanya memang gitu, jadi diusahain jangan terpapar debu atau asap sering-sering. Tapi gimana yah, kan ngga mungkin ngendon di rumah terus, kan harus kerja. Kerja berarti kan harus keluar rumah, berarti harus terpapar asap, batuk-batuk dan sesak deh jadinya.

Angelina,Kakak Mia dan Kepedulian Kita

Thursday, June 11, 2015

Kakak mia kakak Mia minta anak barang seorang
Kalau dapat kalau dapat hendak saya suruh berdagang
Anak yang mana akan kau pilih? Anak yang mana akan kau pilih ?
Itu yang gemuk yang saya pilih, bolehlah ia menjual sirih
Sirih sirih siapa beli? Sirih.. sirih siapa Beli

Lagu anak-anak tersebut mungkin tak asing di telinga kita. Kalau kita perhatikan memang ada yang salah dengan kata-katanya, seolah-olah melegalkan human trafficking sekaligus eksploitasi pada anak.

Bagaimana tidak? Si Kakak Mia itu minta anak barang seorang kepada seseorang (yang entah siapa) . Kemudian ia disuruh memilih anak yang mana, seolah-olah seorang anak adalah sebuah barang yang bisa dipilih sesuai kebutuhan seseorang. Dan Kakak Mia memilih anak yang badannya gemuk, soalnya anak itu bukan untuk disayang atau dirawat tapi semata hanya untuk disuruh menjualkan dagangannya.

Ulala, alangkah mengerikan lagu anak ini. Terang-terangan menggambarkan proses eksploitasi anak yang tidak semestinya.

Kita yang dari dulu mendengar lagu ini beredar di televise, di kaset-kaset pun sepertinya tidak terlalu terusik. Mungkin kurang menyadari konteks di dalam lirik yang dinyanyikan karena hanya focus dengan iramanya yang memang sangat menghibur dan enak didengar.

Seperti itulah yang terjadi pada kasus hilangnya gadis kecil Angeline di Bali.

Angeline dilaporkan hilang saat sedang bermain di depan rumah pada tanggal 16 Mei 2015 silam oleh orangtuanya. Banyak media memberitakannya, hingga tanggal 10 Juni 2015 pencairan bocah cantik tersebut berakhir sudah. Di timbunan sampah di antara kotoran ternak jasad mungilnya ditemukan, sambil memeluk bonekanya, yang mungkin satu-satunya temannya selama ini.

Tak lama bermunculanlah pengakuan dari para guru, tentang Angeline yang selalu terlambat datang ke sekolah. Tentang Angeline yang selalu berbau kotoran ternak, tentang Angeline yang selalu kelaparan.

Sama seperti lagu Kakak Mia tersebut, sepertinya tetangga, guru, kurang merenungi lirik lagu yang berusaha disampaikan oleh Angeline semasa hidupnya. Wajah kuyu lelah dan tubuh kurusnya seharusnya menjadi alarm bahwa ada yang salah dengan anak kecil tersebut. Ketidakterbukaan orangtua angkatnya saat didatangi menteri menjadi alarm juga bahwa ada yang salah dengan keluarga ini. Sehingga hampir sebulan kemudian jasad Angeline baru ditemukan di lokasi yang hanya selemparan batu dari tempat si pelapor. Miris.

Kekerasan pada anak, eksploitasi anak sepertinya bukan merupakan hal baru terjadi di negara ini. Mungkin kasus Angelina menjadi puncak gunung es , menguak betapa empati dan kepedulian lingkungan sekitar terhadap nasib anak-anak korban kekerasan masih minim.

Anak-anak korban kekerasan berkeliaran di sekitar kita dengan ciri yang sebenarnya bisa kita kenali. Anak yang murung, agresif, bahkan dalam kasus Angeline si anak sudah mengungkapkan bahwa setiap hari ia harus memberi makan puluhan ternak, sehingga badannya pun berbau kotoran ternak. Bahwa ia kekurangan makan, pihak sekolah mungkin bisa mencegah melayangnya nyawa si gadis malang kalau saja lebih berani dalam bersikap.

Ciri-ciri korban kekerasan anak jelas terlihat pada diri Angeline jika mengacu kepada keterangan si guru sekolahnya, tapi ternyata tidak ada aksi dan upaya untuk melepaskan si gadis kecil dari penderitaannya.

Kita semua pasti tak ingin kasus yang sama tejadi lagi kepada anak manapun di muka bumi ini. Kita tidak cukup merasa lega bahwa anak kita bukan termasuk anak anak malang tersebut. Namun ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah kasus serupa terulang.

Pertama, Aware terhadap lingkungan sekitar

Jika melihat ada perilaku anak yang aneh di sekitar kita, tidak ada salahnya kita menaruh curiga. Terhadap anak tetangga yang terlihat bekas kekerasan pada fisiknya. Terhadap anak didik yang selalu murung dan tampak ketakutan. Jika anak dititip kepada pengasuh, selalu lakukan screening pada malam hari, lihat ada yang janggal dengan dengan anggota tubuhnya. Tanda-tanda kekerasan dan sejenisnya.

Kedua, Konfirmasi Langsung

Tanyakan pada si anak langsung, apa penyebab luka atau lebam fisik di tubuhnya. Jika si anak masih terlalu kecil lihat cara dia bereaksi terhadap orang sekitar. Misalnya sebagai orangtua, perhatikan perilaku anak kita saat berada di samping kita. Apakah takut dengan pengasuhnya?. Atau malah bersikap agresif dengan melakukan pemukulan atau penolakan kepada si pengasuh.

Ketiga, Lakukan Tindakan

Jika kecurigaan semakin kuat segera lakukan investigasi awal. Sebagai orangtua bisa dengan mengintai kegiatan harian anak kita dengan pengasuhnya, cuti tanpa diketahui si pengasuh. Pencegahan yang bisa dilakukan, pasang CCTV di rumah. Sebagai tetangga, laporkan kecurigaan kita kepada pihak berwenang, untuk tahap bisa kepada pak RT, Pak lurah, Komnas HAM atau kepolisian. Sebagai guru, bisa dengan memanggil dan meminta penjelasan kepada orangtuanya. Atau melakukan pengecekan sesekali ke rumah anak didik.

Kepedulian kita, bisa jadi menyelamatkan nyawa Angeline Angeline lain di sekitar kita.


Malu Dong Sama Test Pack

Saturday, January 24, 2015
Terkadang saya suka mikir, kenapa negara kita ini susah majunya. Kenapa selalu ketinggalan dengan negara lain. Bahkan sama negara tetangga Malaysia, Singapura yang notabene dari segi geografis, kebudayaan, ngga jauh-jauh amat bedanya pun kita tetap tertinggal. 

Dan pagi ini saya tahu jawabannya.

Pray For Air Asia

Tuesday, December 30, 2014
“ Pesawat Air Asia Surabaya-Singapur hilang katanya”

Seorang ibu di bis menuju terminal kedatangan memberitahu. Baru beberapa saat saya, suami, Tara dan wawaknya mendarat dengan Air Asia di Kuala Namu, penerbangan Jogja-Medan pada Minggu tanggal 28 Desember 2014 lalu.

Seketika itu juga saya langsung membuka smart phone di tangan. Postingan #prayforAirAsia memenuhi timeline. Duh, lemas seketika kaki saya. Terselip rasa syukur di hati, saya dan keluarga selamat sampai tujuan. Dan bersyukur juga, saya mendengar kabar buruk itu setelah mendarat. Bisa dibayangkan kalau saya tahu sebelum terbang, bisa-bisa sepanjang perjalanan bakal ketakutan terjadi hal yang serupa.

Keraslah terhadap Hidup Nak

Friday, December 5, 2014


Tara… usiamu sudah satu tahun setengah sekarang. Baru kusadari, ternyata sudah begitu lama aku tak bercengkerama denganmu melalui tulisan, melalui blog ini. Tadi pagi, saat aku meninggalkan rumah, kau masih terlelap dengan tenangnya. Nafasmu naik turun dengan teratur. Pelan sekali kucium pipi tembammu, takut membangunkanmu, karena jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Ya setiap Jum’at aku memang berangkat satu jam lebih cepat, karena mau mengikuti senam pagi di kantor. Aku sangat suka acara senam pagi itu, karena kalau tidak rame-rame di kantor nyaris tak pernah aku berolah raga.

Korupsi Temannya Setan

Tuesday, November 5, 2013

Tiba-tiba sebuah amplop disodorkan begitu saja di meja saat saya sedang sibuk mengerjakan spreadsheet untuk menganalisa pengajuan kredit seorang calon debitur.

Eh apa-apaan ini, pikir saya.

“ Ini untuk ibu, makasi udah dibantu bu” kata bapak di hadapan saya.

Pencemaran Nama Baik : Ikhlas, Haruskah?

Friday, May 24, 2013
Ikhlas itu lebih Indah

Seorang teman memberi nasehat kepada saya setelah saya mencurahkan uneg-uneg di hati. Saya setuju sekali dengan kalimat tersebut, bahwa iklhas itu lebih indah. Ikhlas itu lebih menenangkan dan ikhlas itu jauuuuh lebih baik daripada tidak ikhlas, eh.

Namun kemudian saya bertanya-tanya , keadaan yang seperti apakah kita harus ikhlas? Setiap saat?. Terkadang saya mikir, ada saatnya kita tidak boleh mengikhlaskan sesuatu kalau memang itu menjadi hak kita.

Efek Domino: Waspada Bahaya Miras dan Minol Bagi Remaja

Tuesday, April 30, 2013

Sebulan yang lalu saya mengunjungi salah seorang debitur di daerah Rantau Prapat. Karena si debitur adalah pemasok TBS (Tandan Buah Segar) kelapa sawit yg mana sehari-hari menghabiskan waktu di lapo tuak,maka saya pun menemuinya disana sekaligus melihat langsung aktivitas usahanya. Di Sumut terutama di daerah-daerah Kabupatennya,lapo tuak memang menjadi semacam central point untuk berkumpul.Merupakan pemandangan biasa bagi saya melihat para lelaki berkumpul di lapo tuak sambil minum minuman tradisional yang terbuat dari nira tersebut. Namun hal yg membuat saya terkejut adalah saat mendapati beberapa remaja bahkan anak-anak yang ikut meneguk tuak.

Apa Yang Terjadi dengan Tulisanmu Saat Engkau Mati?

Saturday, April 27, 2013


HAAAAh Uje meninggal ? Innaillahi wa inna ilaihi rajiun

Begitu reaksi saya saat melihat postingan teman di FB mengenai kabar bahwa Uje meninggal dunia tempo hari. Setelah membaca status tersebut,  tebak apa yang saya lakukan?.

a. Menghidupkan televisi
b. Nanya ke temen
c. Konfirmasi ke istrinya Uje

Yang C jelas ngga mungkin. B masih subuh saat saya membaca status tersebut, siapa pula yang mau diganggu subuh-subuh. Kemungkinan terbesar adalah A. Tapi saya tidak melakukan ketiga hal di atas.

Ya Allah Beri Aku Kekuatan. Aida MA

Tuesday, January 8, 2013
Memasuki usia kehamilan ke 5 bulan ini saya semakin berhati-hati dalam bersikap. Katanya di usia ini bayi sudah bisa mendengar dan ikut kontak batin dengan ibunya. Makanya saya diingatkan suami untuk lebih menjaga emosi, ngga gampang marah, dan menjaga kata-kata yang keluar dari bibir saya. Setiap malam, saya luangkan waktu untuk bercerita kepada si calon buah hati ini. Untung saya tinggal dengan tante yang punya anak masih kecil-kecil jadi ada stok bacaan anak yang bisa saya bacakan, ngga perlu beli. Kisah-kisah para nabi dan kisah bermakna. Saat itulah saya merasakan " me time" dengan bayi saya.

Kalau mengingat-ngingat perjalanan panjang saya sampai hari ini rasanya bersyukur banget untuk setiap tetesan rezeki yang diberi Allah. Namun ada saat-saat saya teringat masa-masa berat yang saya jalani. Bukan bermaksud mengingat yang sedih-sedih, tapi hanya berbagi kisah saja.

Betapa berat rasanya, 4,5 tahun menikah belum ada tanda-tanda kehidupan di rahim saya. Gerah rasanya setiap ada orang yang bertanya tentang isi perut saya. Tidak di acara pertemuan keluarga, di undangan, lebaran bahkan ketemu teman lama pun pertanyaannya sama. Ngga cukup sampai disitu, SMS, BBM-an, bahkan teman FB pun seperti tak bosan-bosannya menanyakan pertanyaan yang itu-itu saja.

" Sudah isi win?".  " Jangan ngejar karir aja, inget umur lo".

Duuh Sedih sekali rasanya. Hati saya seperti teriris-iris saat mendapat serbuan pertanyaan seperti itu. Terkadang sempat terlintas di benak saya, Ya Allah apa salahku, mengapa ujian ini begitu berat. Secara tidak sadar saya jadi menarik diri dari pergaulan. Saya jadi enggan ke acara kumpul-kumpul keluarga seperti arisan. Acara kantor suami pun sering saya hindari, karena pembicaraannya ngga jauh-jauh dari tentang anak dan printilannya. Kalau hanya bicara anak sih saya senang mendengarnya, tapi kalau udah sampai ke semua mata menuju ke saya, hih rasanya kayak didakwa, apalagi saya merasa ada sebagian kecil yang menuduh seolah-olah sayalah sumber masalah ketidakhamilan ini. 

Saat mudik lebaran pun, saya jadi enggan keluar rumah, Kerjaan saya hanya mendekam di kamar. Saat suami mengajak saya bersilaturahmi ke tetangga  dengan enggan akhirnya saya ikut juga. Soalnya kan setahun sekali, masa ngga sowan. Tapi, lagi-lagi perasaan saya harus terlukai dengan pertanyaan menyebalkan itu. Apalagi ditambah tatapan mengasihani. Saya paling tidak suka dikasihani orang. Akhirnya acara silahturahmi pun berbuah amarah bagi saya. 

Bersyukur saya memiliki suami yang sabarnya luar biasa. Ia yang selalu menguatkan saya. Walaupun saya tahu di dalam hatinya juga pasti merasakan hal yang sama dengan saya. Sering di malam-malam sepi, di sujud-sujud saya berdoa, " Ya Allah beri aku kekuatan menjalani semua ini". Saya tidak ingin menggugat Allah, saya percaya semua adalah takdirNya, dan saya sungguh ikhlas akan semua ketentuanNya. Namun sebagai manusia biasa, ada keterbatasan dalam diri untuk menerima rasa terpuruk dan tak berdaya.

Mungkin yang bertanya pada saya tersebut tidak tahu bagaimana usaha saya dan suami yang tak kunjung putus. Ikhtiar dalam menjemput rezeki yang dinanti-nantikan semua pasangan. Mulai dari periksa ke dokter. Ngga main-main, periksa kesuburan itu menyakitkan saudariku. Bayangkan sakitnya saat anda haid, kalikan sepuluh. Entah berapa jarum suntik yang menembus kulit saya. Periksa darah, periksa hormon, semua diperiksa. dari mulai luar sampai ke dalam. Namun bersyukur ternyata semua normal, saya tidak sampai mengalami yang namanya rahim ditiup, karena katanya luar biasa sakit. Saya pun tidak harus minum obat apapun karena hasil pemeriksaan tidak ada yang bermasalah di diri saya.

Disamping waktu, tenaga, tekanan psikis, tidak sedikit biaya yang harus kami keluarkan. Sekali datang ke dokter sudah bisa dipastikan minimal 1,5 juta melayang dari dompet. Sempat disarankan oleh salah seorang dokter agar kami menjalani inseminasi buatan atau sekalian bayi tabung. Tapi kami menolaknya, karena kami yakin Allah punya rencana yang lebih indah untuk keluarga kami.

Tidak putus asa, kami mencoba cara alternatif. Saya pernah dipijet, katanya untuk memperbaiki letak rahim, siapa tahu rahim saya terlalu naik atau terlalu turun. Dan pijet itu juga sakit saudariku, percayalah. Awalnya saya enggan melakukannya karena toh dokter sudah bilang saya baik-baik saja, namun tak tega rasanya melihat ibu saya. Beliau yang menyarankan saya untuk pijet, katanya siapa tahu berhasil. Ya sudahlah ngga ada ruginya pikir saya. Mencari tukang pijet juga bukan perkara mudah. Kami sempat ke pelosok desa di Siantar, saat ada yang bilang disana ada tukang pijet yang sudah banyak membuat oarng hamil. Ternyata saat kami akan mengunjungi, si nenek tukang pijet keburu dipanggil Ilahi. Benar-benar ujian kesabaran.

Masih tidak cukup, kami pun menerima saran-saran orang. Dari mulai makan kurma ijo yang katanya berkhasiat, disuruh makan delima hitam, segala macam yang katanya berkhasiat. Bahkan dari seorang teman yang 11 tahun baru dikarunia anak kami mendengar cerita yang lebih miris lagi. Sampai harus minum ramuan yang pahitnya luar biasa, makan torpedo kambing, segalanya dicoba. Namun saya tidak sampai seekstrim itu. Kurma ijo kami konsumsi, karena menurut hemat saya kurna memang berkhasiat untuk kesehatan. Saya lebih percaya dengan khasiat alami makanan yang terjamin kesehatannya dibanding mencoba-coba ramuan yang saya tidak yakini. Segala sumber protein kami konsumsi, mulai dari kecambah, kerang, segala macam seafood  sampai madu.Empat tahun berlalu, tak satupun usaha tersebut membuahkan hasil

Hai, saudariku, lihatlah ikhtiar kami. Percayalah kami menginginkannya lebih dari siapapun, lebih dari orang-orang yang bertanya, yang begitu perhatiannya setiap saat tanpa kenal lelah melempar pertanyaan bernada sama.

Rezeki, jodoh pertemuan, maut, semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya. hanya Dia yang tahu kapan saat itu sampai pada kita. Rezeki tidak akan tertukar, baik waktu maupun takarannya.

Sungguh, untuk semua perasaan sakit, terhina yang saya terima bertahun-tahun tersebut rasanya lunas dalam sekejab, hilang tak bersisa. Saya berterima kasih untuk semua bentuk perhatian yang mungkin tidak saya pahami dari orang-orang sekitar saya. Saya yakin Allah tak akan memberi ujian kepada hambanya melebihi batas kemampuannya.

Teruntuk semua wanita yang sedang menunggu kehadiran si buah hati, semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam penantian panjang yang hanya Dia yang tahu kapan berujung. 

Teruntuk Saudariku yang lain, masih ingin bertanya?. Think Again


Nggak Level

Thursday, April 26, 2012

Kemarin siang saya ingin sekali makan soto kudus . Sejak satu jam sebelum waktu menunjukkan pukul 12, saya sudah membayangkan segarnya semangkok soto daging plus segelas es teh manis. Hmm pasti maknyus.

Jam 12 teng, saya segera berjejalan dengan warga kantor mengikuti kata hati dan suara di perut saya. Tampaknya hidup di Jakarta memang segala sesuatunya penuh perjuangan. Ga percaya?

Coba antri lift saat jam makan siang di gedung BRI. 

Setelah antrian di menit ke lima belas, akhirnya saya pun berhasil melalui perjuangan hidup pertama dengan mendaratnya kaki saya  di lantai dasar. Tanpa membuang waktu, saya focus pada tujuan hidup saat itu, Be We, tempat makan “segalanya ada” yang melayani warga 3 gedung perkantoran yang kelaparan

Setelah memesan si soto idaman, mata saya nyalang menyusuri deretan bangku demi bangku yang penuh sesak oleh warga seantereo bendungan hilir.

Kamu bilang hidup ini susah?

Buktikan dengan mencari tempat duduk di Food Court terlengkap di bendungan hilir ini. Setelah itu , bandingkan dengan susahnya hidupmu.

*****

“ Itulah kalau perempuan ga bekerja, pikirannya sempit. Abis kerjaannya cuma nonton sinetron dan gossip doang sih. Ga kayak kita, ada kesibukan, pergaulannya juga beda, jadi lebih melek sama perkembangan jaman. Lain kali ga usah ngajak si Ika deh, ga nyambung, levelnya beda.”

Lah, yang dilakukan barusan itu apa, bukannya menggosip?. 

Saya tutup buku yang saya baca sambil meninggalkan taman tersebut, menjauhi wanita-wanita karir yang begitu jumawa dengan statusnya, mengganggap dirinya lebih tinggi dari ibu rumah tangga, merasa lebih berpendidikan dan lebih modern dari para wanita yang mengabdikan dirinya menjadi full mother.

***
Aaaah, setelah seminggu penuh wara-wiri Jakarta-Bengkulu akhirnya terkabul juga keinginan bebas dari rutinitas kantor. Cuti sehari sambil memanjakan diri sejenak di salon adalah sebentuk surga kecil di dunia. Hampir saja mata saya terpejam menikmati pijatan lembut  si mba di pundak, sambil menunggu creambath di rambut meresap.

“ Eh, bu Ira kemana, kok ga ikut nyalon hari ini”
“ Biasa, akhir bulan, banyak kerjaan di kantornya”
“ Wah, ternyata enakan kita ya jeng, bisa kapan aja ke salon, ga perlu kerja keras, tiap bulan ditransfer suami, ngapain capek-capek “
“ Iya, padahal sama aja yah, pemasukan dua tapi kan pengeluaran juga dua “
“ Oya, arisan periode depan, kita-kita aja yah, biar gampang ngatur waktunya”

Dan cekikikan kedua sosialita tadi sukses menghalangi bertemunya kedua kelopak mata saya.

Diskriminasi

Yah, dalam kasus ini, Para perempuan tersebut sudah mendiskriminasikan perempuan lain. Berlaku tidak adil karena perbedaan. Baik perbedaan fisik maupun perbedaan status.

Si perempuan ber blazer executive, dengan sepatu high heels yang akan mengeluarkan suara tuk tuk tuk kalau berjalan, merasa dirinyalah ikon kartini masa kini. Berfikiran terbuka, dan dialah si perempuan abad 21. Hingga memandang rendah wanita tidak bekerja dan tidak pantas masuk dalam golongannya.

Mungkin sekali, ia tidak mengerti bagaimana nikmatnya mengurusi seluruh kebutuhan keluarga, menyiapkan sarapan suami, mengantar anak-anak sekolah dan dengan senyum sesegar pop ice menyambut suami yang telah berlelah-lelah menafkahinya. Disitu terdapat ladang pahala dari keikhlasannya.

Di sisi lain, full mother merasa kasihan dengan si wanita karir yang harus berjibaku di hiruk pikuk dunia kerja, yang menurut kacamatanya tidak senyaman istana yang didiaminya sepanjang hari. Hingga terkadang, dalam pergaulan mereka mengkotak-kotakkan diri, dengan membaur hanya sesama IRT, dan menganggap wanita bekerja ancaman bagi mereka.

Bisa jadi, ia tidak tahu, betapa menyenangkannya menemukan dan belajar hal-hal baru di tempat kerja, pengalaman bertemu orang-orang dari segala bidang dan membantu perekonomian keluarga. Disitu pula ada ladang ibadah jika ia bekerja dengan ridho suami , gajinya bisa untuk memperbanyak sedekah, membantu keluarga dan bukan hanya sekedar ajang eksistensi diri.

Kalau saja, mereka saling menghargai pilihan pihak lain, saling berempati kepada yang lain, pasti tidak ada pelecehan dan sikap merendahkan sesama wanita.

Kesetaraan?? kata apa itu?







She Lost Her Baby

Thursday, April 12, 2012
Hari ini saya sedih sekali. Sedih yang benar-benar sedih, sampai tidak mampu menggambarkannya. 

Saya baru dapat kabar, bahwa sahabat saya yang lagi menanti kelahiran buah hatinya tiba-tiba harus kehilangan calon bayi yang bahkan belum sempat memperdengarkan tangisnya ke semesta.
Kelilit tali puser, begitu berita yang saya tahu.

Ya Allah. Saya yang tidak mengalaminya secara langsung saja sedihnya ga terkatakan. Bagaimana lagi sahabat saya tersebut. Benar-benar tidak bisa saya bayangkan.
Sedari tadi saya tak henti-hentinya menangis. Ingin memeluk sahabat saya tersebut, tapi jarak kami terlalu jauh. Dia ada di pulau seberang.

Sembilan bulan yang lalu saat ia mengabarkan tetang kehamilannya kepada saya, saya langsung menitikkan air mata. Entahlah saya tidak tahu itu air mata apa. Bahagia, pasti. Dia termasuk sahabat dekat saya, pasti saya bahagia untuk kebahagiaannya. Walaupun jauh jauuuh di dilubuk hati terdalam saya terselip sedikit iri. Iri karena saya sudah begitu lama menanti waktu untuk memberi kabar gembira tersebut kepadanya.

Saat itu saya berfikir, betapa dewi fortuna sangat suka mengikuti jejak hidupnya. Ia seorang perempuan yang cantik, sangat cantik malah, baik, pintar, karirnya bagus, dapat suami dengan pekerjaan begitu mapan. Beberapa bulan menikah langsung diberi rezeki kehidupan baru. Bahkan begitu beruntungnya ia, sampai pada acara kantor ia mendapat ipad 2. Bayangkan siapa lagi orang yang lebih beruntung dari dia.

Namun tadi malam saya begitu tergugu membayangkan sedang apa ia sekarang.

Normalnya setelah melahirkan seorang ibu akan disibukkan dengan kegiatan baru. Mengasuh bayi mengilnya, menyusui, begadang karena tangisnya. Namun mungkin sahabat saya tersebut akan tetap begadang, tetapi sambil termenung mendekap baju-baju lucu hasil belanja kemarin. Atau juga sambil menciumi wangi bedak bayi . Saya tak sanggup memikirkan perasaannya.

Benarlah  kata orang tua, bahwa orang lain itu adalah cermin introspeksi bagi diri kita.

Terkadang kita perlu melihat kesedihan orang lain untuk mensyukuri nikmat yang diberi kepada kita. Terkadang kita harus ditampar dengan kejadian-kejadian luar biasa di hidup kita untuk lebih dekat kepada yang memberi hidup ke kita.

Saya jadi sadar, bahwa cobaan dalam hidup saya tidak ada apa-apanya. Saya hanya disuruh bersabar untuk memeluk bayi mungil yang akan meramaikan istana cinta saya. Sedangkan sahabat saya, ia harus kehilangan makhluk indah yang sudah menyatu di dirinya selama ini. Suatu perbandingan yang sangat tidak sepadan.

Saya yakin Allah sedang mengujinya untuk menaikkan derajatnya. Ia seorang perempuan yang begitu baik. Allah pasti punya rencana lain dan akan mengganti kesedihannya dengan sesuatu yang akan mengobati lukanya.

Saya juga jadi semakin yakin, bahwa sebaik apapun kita berencana, kita harus bersiap diri untuk ketentuan dari Nya. Hidup mati itu sepenuhnya hak preogratif-Nya. Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk diri kita. Di balik semua peristiwa pasti ada hikmah yang tersembunyi.

Sampai detik ini saya hanya memandangi hp saya. Membaca postingan twitternya beberapa hari yang lalu tentang kegembiraanya menyambut si jabang bayi. Foto saat ia senam hamil. Bahkan euforianya membeli seluruh perlengkapan bayinya.

Dan saya mencoba menghubunginya. Saya dial no hpnya. Berdering, sedetik dua detik tiga detik. Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.

" Turut berduka"    
            
" Tabah ya"

" Be strong dear"

Ah saya rasa dia tidak butuh kata-kata seperti itu. Mungkin saat ini ia hanya butuh waktu untuk sendiri. Menyatu dalam kesedihannya. Menumpahkan airmata di bahu suaminya.

Tidak...., saya yakin , ia tidak butuh hiburan dari orang lain. Yang ia butuhkan hanya bayinya.
Tuuut, saya tekan tombol merah. Tidak, saya tidak sanggup berbicara dengan nya.

***

Ya Allah berilah sahabat saya kekuatan

Ganti lah kesedihannya dengan yang lebih baik.

Daihatsu Xenia....., Cara Aman Berkendara

Wednesday, January 25, 2012

Yang lagi nyari mobil
Yang bingung tentang kualitas mobil
Yang ingin selamat naik mobil

Tidak perlu bingung lagi, ga perlu iklan berlebihan untuk mempromosikan suatu produk berkualitas.
Masyarakat sekarang sudah pintar, tahu mana yang beneran mana yang hanya iklan. Jadi percuma saja, mempromosikan suatu produk dengan model-model papan atas dan efek-efek visual yang super canggih kalau belum terbukti.

Kata orang mobil buatan Eropa paling bagus, body nya kuat, interiornya mewah, desainnya elegan, teknologinya canggih.

Tapi tetap saja mobil buatan Jepang yang paling laris.
Harga beli terjangkau, harga jual mahal, spare part ada dimana-mana. ga perlu pusing mikirin perawatan.

Soal keselamatan???
Renault..... lewat
Mercedes.............lewat
BMW............lewat

Daihatsu Xenia juaranya

Walaupun menabrak pembatas jalan, jumpalitan di trotoar, menghancurkan sebuah halte, dan menewaskan sembilan nyawa serta melukai beberapa orang tak bersalah, penumpang di dalamnya sehat walafiat tanpa tergores sedikit pun. Bahkan tidak menimbulkan ekspresi shock di wajah-wajah itu.

Jadi?? masih bingung memilih mobil??

Custom Post Signature