Klik-iT, Inovasi Kabel Berantakan

Saturday, August 11, 2012
Entah kebetulan entah tidak ya. Setiap ada lomba blog, apaa aja, saya pasti selalu punya pengalaman yang pas dengan tema yang diminta. Makanya kalau temanya saya ngga tau sama sekali, saya masih mikir-mikir buat ikut. Dan tanpa sengaja saya melihat info lomba dari Klik-IT. Temanya, pengalaman menyebalkan tentang kabel berantakan.

Sebelum saya bercerita, coba perhatikan gambar di bawah ini 



Aiih dimanakah itu gerangan?. 

Yes, itu adalah gambar yang diambil oleh fotografer amatir aka saya sendiri di dalam kamar kos-an saya. Keren kan yah. Sumprit, berantakan banget tuh kabel-kabel. Di kamar saya itu hanya ada satu stop kontak. Padahal banyak banget peralatan elektronik yang butuh colokan. Makanya saya beli kabel panjang dengan empat lobang untuk colokannya. Mendingan lah menurut saya, jadi lebih banyak tempat. Itu kabel ngga pernah kosong . Saya butuh buat kipas angin, buat rechargre Hp, buat baterai laptop. Belum lagi buat setrikaan, trus buat rice cooker. Coba hitung, satu, dua tiga, enam . Tuh kan masih kurang juga. Pasti di benak kamu langsung mikir, ya gantian aja, ribet amat sih. Hoho ngga semudah itu.

Sini saya jelaskan mengapa saya ngga bisa gantian make tuh kabel. Pertama, rice cooker, harus dicolok setiap saat, apalagi bulan puasa gini, biar nasinya tetep panas. Males banget kan, kalau sahur makan nasi dingin. Trus kipas angin, ngga bisa ngga, saya harus pake setiap saat. Tahu kan Jakarta panasnya kayak apa. Laptop, kalo pas baterainya penuh sih okelah bisa ga dicolokin. Tapi biasanya, saya isi baterai penuh setiap di kos, agar ntar di kantor ngga perlu nge-Charge lagi. Karena keadaan di kantor sama aja, terlalu banyak perlatan elektronik yang butuh colokan listrik. Lanjut, saya paling suka BBM-an sambil browsing di internet plus tidur tiduran. makanya, hape juga kudu di Charge. Yah gimana yah, si berry hitam itu kan kelemahannya memang cepet banget baterainya habis. Kalau setrikaan sih, alasannya saya ngga mau pasang-cabut, karena setrika saya tuh susah banget masukin ke stop kontaknya- agak keras gitu, jadi lebih praktis kalau dia ada disana terus. Kapan mau pakai, tinggal tombol pengatur panas nya diputar.

Sebenarnya bukan di kos saja saya punya masalah dengan stop kontak listrik. Di kantor juga. Satu kabel yang hanya terdiri dari empat tempat colokan itu, udah habis buat CPU, monitor komputer, printer, speaker, lah mau nge_charge hp aja saya seringnya pakai kabel data, disambungin ke komputer, karena tempatnya udah ngga cukup. Gara-gara banyaknya kabel yang bersilweran, meja saya terlihat tidak pernah rapi. Kesannya berantakan gitu. Kadang, teman saya bilang saya sengaja biar kelihatan banyak kerja, halah.

Masalah lain, kalau saya lagi bepergian menggunakan pesawat terbang. Sering banget di tengah jalan, baterai hape saya ngedrop. Padahal saya butuh banget buat nelfon, buat SMS. Yah salah saya juga sih, ga bisa berhenti browsing sana sini. Soalnya kan boring banget kalau lagi nunggu boarding. Eh gitu nyampe di tempat, hapenya tewas. Kadang saya ngga bisa menghubungi suami, mau ngasi tau saya udah nyampe atau belum. Di bandara sih ada tempat buat stop kontak. Tapi ya itu, jumlahnya sangat terbatas, harus cepet-cepetan sama penumpang lain. Sampai saat ini, saya ngga pernah kebagian tempat. Aaargh, bener-bener masalah nih buat saya. Terkadang saya sengaja ke mushola yang di luar boarding room, demi untuk bisa nge-charge hape atau laptop saya yang selalu setia menemani kemanapun. Padahal mushola di luar boarding room kan ngga ada AC-nya, Jadilah saya panas-panasan demi mengisi baterai, pyyuuh. Bahkan pernah saya, nge-charge hape sambil berdiri di bawah papan pengumuman keberangkatan. Soalnya saya udah cari kemana-mana semua stop kontak penuh, satu-satunya yang ada ya cuma colokan papan pengumuman. Ish, kalau inget itu tengsin juga sama orang yang lalu lalang.

Pernah juga saya terpaksa harus minum-minum kopi di sebuah kafe yang sangat tidak cozy di bandara hanya agar bisa menggunakan stop kontak mereka ( baca ceritanya disini ). Pendek kata, saya pengen mengakhiri penderitaan saya dalam mencari sumber listrik dimanapun. Baik di kos, di kantor, di perjalanan, dimana aja deh. Kadang sebel banget. Lagi seru-serunya nonton film pake laptop di bandara, eh baterai low. Mau nge-charge penuh. 

Nah pas baca tentang lomba blohgKlik iT ini, otomatis saya jadi buka-buka websitenya di  http://www.klik-it.co.id  dan baca-baca produk mereka yang katanya sebagai solusi untuk masalah kabel seperti yang saya alami selama ini. Nama produknya Klik-iT, kabel ekstension fleksibel. Klik-IT ini merupakan inovasi baru pengganti colokan listrik atau kabel roll biasa yang seperti selama ini saya gunakan. Stop kontaknya bisa di pasang dimana saja sepanjang kabel tanpa alat bantu.  Cara pasangnya juga mudah banget, cukup ditekan dengan telapak tangan dan langsung " ON" listriknya. Dengan begitu, kabel-kabel yang berseliweran tidak akan ada lagi, sehingga ruangan akan kelihatan lebih rapi.

Ini nih makhluknya:



Masih bingung ?. 

Jadi maksudnya, mau dimanapun di sepanjang kabel tinggal pasang tuh Klik-iT nya. Mau di samping tempat tidur, di samping TV. Bahkan bisa di permukaan licin seperti keramik dan kaca. Tinggal di pasang aja. Contohnya, saat di bandara, kan colokannya terbatas tuh. Tapi kan kabel tempat stop kontak itu berada panjang, nah dengan klik-IT, kita tinggal pasang saja, di sepanjang kabel, dimanapun. Dengan 3 T, Taruh, Tekan, Tancap. Lihat gambar ini contohnya

Taruh, Tekan, Tancap
  1. Taruh kabel pada rel/jalur yang telah disediakan di stop kontak Klik-iT bagian bawah. Pastikan kabel rata,tidakmiring   atau menyilang
  2. Tekan stop kontak Klik-iT bagian atas dengan posisi tegak lurus. Tekan dengan kuat hingga rapat.
  3. Tancapkan steker perangkat elektronik anda. Klik-iT siap digunakan!
Contoh-contoh penempatan Klik-iT bisa dilihat di gambar di bawah ini.

Klik-It Di Tempat Tidur

Tuh lihat, tinggal di pasang aja di sepanjang kabel, sambil tiduran bisa main hape. Atau kalau nyolokin laptop, juga bisa nulis sambil baringan. Saya paling suka nih nulis sambil telungkup di tempat tidur daripada duduk di kursi, capeek.


Gambar di bawah ini, beberapa pemasangan klik-IT di berbagai tempat. Kemudahan pemasangan inilah yang menyebabkan ruangan menjadi lebih rapi, karena stop kontak langsung berada di dekat peralatan elektronik sesuai yang kita butuhkan, sehingga tidak ada lagi bersileweran kabel-kabel yang merusak pandangan mata.


Kelebihan lainnya, Klik-iT ini bisa diletakkan dalam posisi apapun. Misalnya di bawah meja kerja, di samping ranjang, di dapur, menggantung di tembok, bahkan di permukaan licin seperti keramik da kaca. Tingga tempel cable holdernya di titik yang diinginkan . Dengan Klik-iT, ngga perlu lagi menghancurkan tembok untuk memasang stop kontak.

Gara-gara fleksibel dan mudah pasangnya ini, maka efek rapi tercipta. Gimana nggak?. Soalnya stop kontak sumbernya ngga terpusat , jadi hanya butuh satu rangkaian kabel mengelilingi ruangan, dan tinggal letakkan Klik-iT dimana kita suka dan dimana kita butuh.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa alat elektronik yang bisa memakai Klik-iT tersebut adalah yang tidak lebih dari 1500 watt. Selama belum melebihi batas yang disarankan sebesar 1500 watt/ rangkaian, maka klik-iT boleh dipasang di sepanjang kabel.

Hmm, sepertinya memang sudah saatnya mengganti kabel-kabel colokan yang ada di kos. Harganya masih terjangkau kok, kisaran 70 rbu sampai 120 ribu tergantung ukuran. Satu setnya berisi kabel 10 meter, 4 stop kontak, 18 kabel holder, releasebale cable ties dan kertas manual. Oya FYI, Klik-iT ini seratus persen produk Indonesia lo. Seneng banget kalau bisa pakai produk bermutu buatan anak bangsa. Karena belum pernah makai, saya hanya berharap Klik-iT seperti tagline nya mudah pasangnya, rapih hasilnya.




Berkah Ramadhan

Gambar dari sini

Berkah Ramadhan

Dalam bulan ini entah sudah berapa kali saya mendengar kata-kata itu terucap. Melihat kata itu tertulis di media cetak, di status facebook , di twitter bahkan dalam perbincangan sehari-hari. 

Teman saya menulis status di FB nya. " Yey, menang lomba nih dapet uang 3 juta plus sepeda, berkah ramadhan kayaknya ". 

Yes, Ramadhan memang bulan penuh rahmah, bulan penuh pengampunan, dan tentu saja bulan penuh berkah. Kemarin-kemarin, saya sempet berujar dalam hati, apa saya bakal dapat berkah ramadhan ya tahun ini. 

Ramadhan kali ini adalah ramadhan tahun kedua saya tidak bersama suami. Ih sedih banget rasanya. Bukan sediah mikirin diri sendiri sih, kalau saya di kos-an kan banyak temen. Sahur bareng-bareng, ntar buka juga bareng. Masih ada teman lah. Kalau suami saya, dia kan sendirian di rumah. Membayangkan ia sahur sendirian hati saya teriris-iris. Berasa istri yang sangat tidak bertanggung jawab. Kalau lagi melow, bisa  menetes air mata saya setiap ingat dia disana.

Perbedaan waktu antara Jakarta dan Medan yang terpaut sekitar hampir setengah jam-an baik sahur maupun buka memang menguntungkan. Jadi, setiap sahur saya makan dulu, udah selesai baru nelfon suami, bangunin dia buat sahur. Berasa kayak orang pacaran. " Udah sahur belum, makan apa sahurnya". 

Perkara bangun membangunkan ini terkadang tidak mudah. Bisa saja saya nelfon sampai setengah jam-an dan si beliau disana ngga bangun juga. Hadeh, kalau udah begini, rasanya pengen punya pintu ajaib, agar bisa meneriaki di telinga suami, " Bangun maaaas". Apalah daya, terkadang entah karena mimpinya terlalu indah, atau suara dering telepon sudah ibarat menina bobokan, suami saya kelewatan waktu imsak. Duh Gustii.

Kalau waktu berbuka lain lagi ceritanya, suami akan kirim message " Selamat berbuka sayangku ". Setiap membacanya, bibir saya akan melengkung ke bawah, dan ujung-ujungnya pengen pulang.

Sanking pengennya saya berkumpul bersama suami, sepanjang ramadhan ini , setiap selesai sholat,  doa saya bunyinya selalu dengan nada dan melodi yang sama . " Ya Allah, berilah jalan agar hamba dan suami bisa berkumpul kembali, hanya kepadaMu kuserahkan segala urusanku".

Pagi, siang,sore, malam , doa tersebut selalu terucap dari bibir saya. Terkadang ada rasa putus asa, kenapa doa saya tidak kunjung dikabulkannya. Sampai seorang sahabat terbaik saya berkata " Yakin Win, dengan seratus persen keyakinanmu, bahwa Allah pasti mendengar doamu". Begitu terus ia menyemangati saya . Astaghfirullah, sungguh saya sama sekali tidak bermaksud meragukan ketentuan-Nya.

Tanpa bermaksud riya. Beberapa malam yang lalu, saya tumpahkan segala resah di hati kepada-Nya. Bermunajat dalam sujud panjang. saya benar-benar pasrah. Menyerahkan segalanya. Yakin apapun yang saya jalani adalah yang terbaik dari-Nya. Saya benar-benar mohon petunjuk, mohon diberi tanda. Kalau memang saya harus resign dari pekerjaan saya sudah rela. Apapun, yang penting saya mohon diberi kemantapan hati.

Dua hari kemudian, tepat hari Kamis, Allah menjawab doa saya, dengan cara yang begitu indah. 

Mungkin kalian pernah dengar kalimat ada tawa di dalam tangis, dan ada tangis di dalam tawa. Itu adalah kondisi dimana kebahagiaanmu sudah  mencapai titik kulminasi. Saat doa-doamu dikabulkan. Bukan sesuai dengan pintamu, tapi sesuai degan butuhmu. Karena tidak usah diragukan lagi, Ia yang maha tau apa yang terbaik untuk kita.

Pagi itu, saat doa rutin seperti biasa, tiba-tiba pak Kadiv memberitahukan sebuah pengumuman. Dengan cara yang begitu dramatis. 

" Ada kesempurnaan dalam angka sepuluh. bahkan angka-angka dari satu sampai sembilan tercipta untuk melengkapi kesempurnaan itu. 
Satu + sembilan, dengan awalan sama-sama 'S' adalah sepuluh. 
Dua + Delapan= sepuluh. 
Tiga + Tujuh = sepuluh. 
Empat + Enam = sepuluh
Lima + Lima = sepuluh  "

Sampai disini pak Kadiv mengambil jeda sebentar, membuat kami menerka-nerka apa yang ingin disampaikannya. Akhirnya ia melanjutkan.

" Begitupun dengan nama yang tertera di SK Mutasi ini. Dengan hurup nama awal dan nama akhir yang sama. Selamat kepada  Windi Widiastuty, kamu pindah ke daerah asalmu ".

Allahu Akbar. Mendengarnya saya hampir pingsan. Tidak menyangka doa saya terkabul sebegitu cepat. Hanya dalam hitungan hari. Tanpa bisa saya bendung, air mata saya mengalir deras. Saat diminta mengucapkan sepatah dua kata. Saya hanya mampu mengucapkan terima kasih ya Allah, terima kasih pak, terima kasih semuanya. Saya yang biasanya seperti tak pernah kehabisan bahan omongan, kali ini tak mampu  mengucapkan apapun. Sungguh Allah Maha baik. 

" Maka nikmat Tuhan  yang manakah yang kamu dustakan "

Ya, akhirnya SK itu saya terima juga. Dalam minggu ini saya akan meninggalkan kota ini. Jakarta, kota yang dulu saya caci maki, tapi ternyata memberi saya begitu banyak pengalaman berharga.

Ternyata, bahagia itu sederhana, sesederhana mendapat SK mutasi.  Alhamdulillah

Dan akhirnya saya bisa mengucapkan kata-kata itu. Berkah Ramdhan ternyata menghampiri saya. Lebih dari apapun yang pernah saya bayangkan. Ramadhan terindah yang saya jalani. Apapun kondisi hidupmu saat ini, yakinlah dengan sepenuh keyakinan tanpa keraguan setitik pun, bahwa Allah tidak tidur.












Negeri Fatamorgana

Sudah seminggu ini di kantor saya sibuk sekali. Terutama di bagian lobi bawah. Ada yang berubah. Keramik di dinding dibongkar. Meja resepsionis di geser. Mesin-mesin ATM dipindahkan. Para pekerja bangunan wara-wiri kesana-kesini. Ada apa gerangan ???.















Usut punya usut ternyata RI 1 mau datang ke kantor saya. Oh, pantesan heboh. Dari tiga hari lalu sudah diwanti-wanti sama atasan, kalau ntar hari Jum'at jangan lupa saat keluar kantor kudu pake tanda pengenal, kalo ngga nanti ga bisa masuk gedung.

Saya jadi ingat, beberapa tahun yang lalu saat saya masih berada di kota kecil bernama Tebing Tinggi, RI 1 juga pernah berkunjung ke kota itu. Tujuan kunjungannya saat itu berkenaan dengan program KUR ( Kredit Usaha Rakyat) yang diluncurkan. Peserta rombongan terdiri dari Gubernur Sumatera Utara dan direktur utama 5 bank BUMN terbesar. Wih. 

Dulu itu jalan dari Medan menuju Tarutung, di beberapa bagian banyak yang berlubang, tidak rata pokoknya kurang nyaman lah untuk pengendara kendaraan. Hal itu berlangsung bertahun-tahun. namun tiba-tiba , sim salabim,  jalan raya sepanjang Medan sampai Parapat tiba-tiba mulus lus dalam sekejab. Ngga pake lama. 

Dan saya seperti mengalami dejavu, saat melihat lobi kantor yang dalam waktu hanya 3 hari saja sudah berubah bak baru lagi. 

Pagi kemarin ( hari Jum;at ), saya berangkat kantor lebih pagi, khawatir telat kalau lift yang digunakan dibatasi. Karena denger-denger gedung bakal disterilisasi. Saat tiba di halaman kantor, udah ada beberapa paspampres yang hilir mudik. Dan yang membuat saya terbelalak takjub, tuh lantai di lapisi karpet merah mulai dari tangga hingga di depan lift. Daaaaan, si karpet masih diplastiki, hihihi lucu .





Dan begitulah, akhirnya hari ini si bapak datang ke kantor saya, tepat waktu sesuai jadwal . Panser-panser berderet di belakang kantor. Para paspampres siap siaga, polisi berjaga-jaga di tiap pintu masuk dan keluar. Dan yang paling lucu dari kedatangan si bapak adalah kenorakan penghuni kantor yang begitu antusias foto-foto, Dimana coba?????. Yup di depan mobil dengan plat polisi RI 1. jiiaha.







Hmm, entah untuk ke berapa kali si bapak akan selalu disambut dimanapun dengan penampakan yang dikondisikan bagus, indah, tertata dan teratur. Segala sesuatu terlihat seperti yang diinginkan. Dengan kondisi ideal. Instan. 

Sebenarnya ada untungnya juga kalau pejabat pemerintah atau siapa saja yang berpengaruh di negeri ini berkunjung ke suatu daerah atau suatu tempat. Perhatikan saja, pasti tiba-tiba semua tertata dengan rapi. jalan-jalan menjadi bersih. Fasilitas yang kiranya akan digunakan, akan diganti baru. Tapi ya gitu, itu hanya sementara. Sama dengan kita yang langsung beres-beres rumah kalau mau lebaran. Kenapa? karena mau ada tamu. Setelah lebran lewat?. Yah balik lagi ke kondisi semula.

Apakah beliau tahu semua itu? Dan sampai kapan, pemimpin negeri ini mau saja disuguhin dengan fatamorgana?. Kalau seperti itu, darimana ia bisa melihat kondisi bangsa yang sesungguhnya. 

Tanya kenapa??

Jadi Penulis, Siapa Takut (Bag 3)

Wednesday, August 8, 2012

Nyambung postingan siapa takut jadi penulis berikutnya, dari seminar Asma Nadia. ( baca sebelumnya disini dan disono )



Setelah kita tahu manfaat menulis, sekarang kita ngomongin modal untuk menulis. Tidak seperti kegiatan lain yang butuh modal dalam bentuk materi, berbeda halnya dengan menulis. Modalnya itu ngga berat, malah gampang banget, ga butuh biaya dan bisa dilakukan siapa saja.

Pertama dan utama adalah niat yang teguh ( kayak nama suami saya hihi ). Kalau mau jadi penulis itu ngga boleh sambil lalu, ya harus diniatkan dari awal “ I wanna be a writer”. Sekali kita punya niat dan alasan yang kuat, maka itu cukup menjadi amunisi seumur hidup  (pasang iket kepala ). Bahkan penulis blog aja, kalau niatnya ngga teguh ya blognya bisa kayak rumah hantu, penuh sarang laba-laba, rumput liar karena ngga pernah dirawat sama yang punya. Lihat deh rata-rata kita pasti punya lebih dari satu blog, tapi berapa banyak yang benar-benar terurus ( ngomong sama cermin ).

Kalau udah punya niat, modal selanjutnya adalah banyak membaca. Yang namanya penulis kudu suka baca. Karena sekolahnya penulis ya dari bacaan. Percuma kita ikut seminar sana-sini, baca teori menulis ini itu, , tapi ngga pernah membaca. Hanya saja cara penulis membaca itu harus beda dengan pembaca biasa. Dia bukan sekedar menikmati tapi mengamati. Pilihan judul, diksi, cara si penulis buku membangun konflik, alur crita. Pokoknya semuanya diamati. Dari situ kita belajar.

Kalau soal cara bertutur saya suka sekali dengan gaya Ika Natassa, mengalir dan membawa kita larut ke tulisannya. Untuk drama, Joy Fielding is awesome, Grand Avenuenya mantap .

Kalau cara menyelesaikan ending cerita, favorit saya Shidney Sheldon, endingnya selalu merangkum cerita dari awal sampai akhir. Yang tadinya misteri, terurai semua menjadi sangat masuk akal.

Saya kurang suka dengan ending yang To Good To Be True. Walaupun fiksi tetep aja lebih asik kalau membumi. Bukan untuk mengkritik, tapi Tere Liye menurut saya penulis yang bukunya sering gagal di ending. Tapi dia itu penulis yang tulisannya keren banget, banyak banget yang bisa kita ambil dari setiap karyanya. Tapi ya itu, beberapa endingnya kayak sinetron ( Sunset bersama Rossie contohnya, like Kuch Kuch Ho Ta Hai ). Ngga tau juga sih selera orang ya, ada yang suka sad ending, happy ending, open ending, closed ending. Terserah saja. Novel Istana Keduanya Asma Nadia,menurut saya endingnya bagus banget. Menyuruh kita berfikir sendiri. “ Arini berlari membawa luka” (kira-kira bgeitu, lupa saya )

Terus latihan disiplin. Ih mau jadi penulis kok kayak mau ikut latihan militer aja sih. Disipilin disini dalam arti disiplin dengan aturan yang kita buat sendiri. Misalnya kita udah bikin rule untuk diri sendiri menulis dua halaman sehari, ya jangan dilanggar. Kalau saya sih ga saklek-saklek amat. Pokoknya dalam satu minggu harus nulis, gitu aja ( makanya ga jadi-jadi novelnya J) . kalau bisa buat jam biologis. Misalnya nulis dua jam setiap hari di malam hari, atau pagi setelah subuh, atau tiap sabtu sore, terserah. Jadi ngga moody. Sekali-kali boleh ngikuti mood, pas ngga mood ya ngga usah dipaksakan nulis. Tapi kalau orangnya moody terus, ya kapan jadinya.

Dalam menulis, ide memegang peranan sangat penting. Masalahnya, terkadang ide itu datang di saat-saat ngga tepat. Waktu lagi di depan lepi, waktu luang, dengan segelas kopi di tangan, eh kepala kosong melompong. Gitu lagi belanja di pasar, Ting tiba-tiba ide berseliweran. Untuk itulah kita butuh notes. Atau apalah terserah, yang berguna untuk mencatat kapanpun ide datang. Lagi nyabutin rumput, tiba-tiba ‘ AHA” ( kata temen saya, entah darimana kata ini berasal ), langsung ambil notes , catet. Kalau saya yang orangnya grasak grusuk, lebih suka nulis ide di hp. Karena hape yang jelas dibawa kemana-mana. Paling sering dapet ide, kalau lagi ngobrol sama temen. Saat ada satu kata yang menarik, langsung buru-buru bilang “ Tunggu-tunggu, sebentar aku catet dulu kata-katamu barusan, bagus tuh buat tulisan “., wkwkwk, sampai kadang temen saya mutung ngga mau ngomong lagi .

Untuk menemukan ide itu ada beberapa sumber. Bisa dari pengalaman, pengalaman masa kecil, pengalaman sekolah, pengalaman putus cinta. Pengalaman di tempat kerja. Jhon Grisham , Marga T adalah beberapa penulis yang menulis berdasar latar belakang pribadi. Kalau penulis jaman sekarang tuh Raditya Dika,  Andrea Hirata, Ahmad Fuadi atau antologi-antologi yang lagi menjamur.

Bisa juga dari mengamati. Di angkot, di terminal, di taksi, di bandara, di perempatan jalan, dimana-mana deh. Amati semua hal, banyak ide wara-wiri di sekitar kita.

Trus bisa dari tokoh unik. Mungkin di kantor ada temen yang sering di Bully, bagus banget tuh buat jadi tokoh di tulisan kita hahaha. Atau dari public figur ( kalau nonton infotainment, sebaiknya sambil membayangkan si artis dalam imajinasi kita, Ariel contohnya , eh ).  Sepatu Dahlan Iskan salah satu novel yang ditulis berdasarkan seorang tokoh.

Atau khayalan. Hmmm . Konon katanya, Agatha Christie itu dapet ide selalu pas nyuci piring. Wah kerennya, pasti dia jadi rajin banget tuh nyuci piring, lah idenya jadi best seller semua. Ehmm siapa lagi ya. Oya , saya pernah baca, JK Rowling dapet ide waktu naik kereta api dari Manchester ke London. Ia menghabiskan waktu di dalam perjalanannya itu dengan memikirkan plot lengkap dengan ceritanya. Katanya sih, dia tuh cuma duduk menunggu keterlambatan kereta selama 4 jam dan semua detail bermunculan. Tentang anak laki-laki ceking berambut hitam , berkaca mata dan tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir.. Kok bisa ya, dari kereta api malah terangkai jadi cerita penyihir. Jadi milyuner pulak, iri.

Ngga dapet dari khayalan, bisa jadi dari mimpi.Si Stephanie Mayer juga dapet ide gara-gara mimpi, pas adegan Edward Cullen tertimpa cahaya matahari di hutan dan timbul kerlap kerlip di badannya.Katanya It’s so beautiful, sangkin indahnya mimpi itu, begitu bangun dia langsung nulis tentang si vampire itu, hadeeeh kapan ane punya mimpi yang spektakuler.

Berikutnya bisa juga dari berita . Kayak dari VOA, dari televisi, dari koran. Seno Gumira Ajidarma banyak menulis berdasarkan berita-berita. Seperti kumpulan cerpennya yang berjudul  “Ketika Jurnalisme dibungkam sastra harus bicara”.

Lanjut. Lengkapi referensi. Ini udah dibahas kemarin yah. Tulisan tanpa referensi kosong. Adanya curcol kayak tulisan saya di blog ini nih.

Jangan lupa goal setting. Apa tujuan kita. Mau dalam setahun nerbitin buku, atau dua tahun, atau sebulan. Sama dengan resolusi kali yah ( nunduk malu, resolusinya terancam gagal).

Terakhir, seperti tadi saya bilang diatas, terkadang semangat kita naik turun. Mood kita berubah-ubah. Bisa saja sekarang berapi-api pengen jadi penulis, trus tiba-tiba di satu titik karena banyaknya kendala, semangat itu padam perlahan-lahan. Makanya biar ga kayak gitu, bergabunglah dengan komunitas penulis. Di FB banyak tuh. Apa pentingnya?? Ya untuk menciptakan atmosfer yang kondusif. Saling memberi semangat. Saling tukar ilmu, bagi-bagi pengalaman. Dan memacu kita, kalau lihat teman udah nerbitin buku, udah nembus media, pasti lah kita akan lebih terpacu. Ngga mau kan cuma jadi penonton. 

Komunitas penulis itu juga bermanfaat untuk melebarkan networking. Biasanya kalau sudah ada yang bisa nembus penerbit mana, minimal kita bisa tanya-tanya tipsnya, minta no contact yang bisa dihubungi. Ah banyak untungnya deh ikut komunitas gini. Tapi memang untuk bisa gabung ngga sembarangan sih,biasanya mereka nentuin syarat tertentu. Ada yang pake daftar, trus bayar berapa gitu, ntar dapet pelatihan online. Ada juga yang gratisan, tapi pertama-tama kita harus ngirim contoh tulisan. Atau ada yang harus mereka yang menginvite kita, bukan kita yang join langsung. Pilah-plih deh. Tapi saya sarankan sih, pilih yang anggotanya terbatas, maksimal seratus orang lah, biar lebih fokus. Kalau grupnya udah kebanyakan orang ngga asik juga. Sama kayak kalau kita di kelas, semakin sedikit pasti lebih intens.

Namun dari semua hal diatas. Ada 3 tips yang paling paten. Ini sudah terbukti kemanjurannya. Agar bisa jadi penulis maka lakukan hal-hal berikut. Pertama , segeralah menulis. Kedua, menulis lagi. Ketiga, tetap menulis.

Semoga bermanfaat


I Hate Recaptcha

Tuesday, August 7, 2012
Okeeee, saya udah mulai ngga sabaran nih kalau lagi blogwalking trus mau koment di blognya temen dan harus ngisi Re-Captcha, hadeeeh. Ngga percayaan amat sih tuh blog kalau saya ini manusia bukan robot. Saya pribadi paling males kalau mau ninggalin jejak aja harus repot gitu, mana tulisannya susah banget lagi di baca. Apalagi kalau dari hape, widiiiw ngga pake recaptcha aja komeng udah susah apalagi pake recaptcha-recaptch-an. 

Saya positif thinking si empunya blog mungkin ngga tau gimana cara ngilanginnya. Atau memang sengaja??. 
Anyway apapun alasannya, saya rasa enakan ngunjungi blog yang ngga pake moderasi,ngga pake verifikasi, yang simple dan gampang kalau mau berinteraksi. 

Ngga tau nih dibutuhkan atau ngga. Kalau seumpamanya belum tahu cara ngilangan recaptcha itu, saya kasi panduannya mau ya. Udah gitu pliiiis, ilangin deh ntu konformasi robot. Ok check it out.

1. Buka setelan / Setting


2. Klik pos dan komentar


3. Perhatikan isiannya. Kalau mau komentar tanpa moderasi, pilih moderasi komentar, trus pilih
    Moderasi Komentar ? : Tidak pernah


    Tampilkan Verifikasi kata ? : Tidak


4. Simpan

Udah selesai. Pengunjung blog senang, hati senang, dudududu. Oke teman, selamat mencoba . 

Because It's me , Powerful And Energic

Saturday, August 4, 2012

Saya jadi ingat, saat awal lulus kuliah dan melamar pekerjaan kesana-sini, pasti di curriculum Vitae akan tertulis segala kelebihan kita. Menjual diri istilahnya. Saya selalu menuliskan begini : berani menerima tantangan, percaya diri,  bisa bekerja dalam team atau sendiri, bisa bekerja under pressure, cepat belajar, bla bla bla. Pokoknya segala hal yang menggambarkan diri saya.

Kaya di bawah ini nih :

Testimoni My Friends untuk #journey bersama Riyani Djangkaru

Setelah saya diterima, saya harus mengikuti pendidikan selama setahun. Nah saat pendidikan itu, ada kelas tentang kepribadian. Kita disuruh menentukan apa kepribadian kita. Pilihannya, action, planner, structure atau relation. Saya berfikir saat itu “ Ih semuanya pasti pilih action lah, males banget nih jadi orang kebanyakan. Sebelum memilih, saya tiba-tiba kebelet pipis, ya udah la ke belakang dulu. Begitu saya masuk kelas lagi, saya lihat teman-teman saya sudah terbagi menjadi empat kelompok. Scanning cepat, saya putuskan pilih kelompok yang paling dikit , sekali lagi saya ngga mau jadi orang kebanyakan. Saat saya bergabung ke kelompok yang cuma terdiri dari empat makhluk itu barulah saya tahu, ternyata itu kelompok Action, What???. Cuma empat orang nih yang action disini. Pantes aja, dari kemarin di kelas yang nanya hanya segelintir orang plus saya.

Mungkin udah bawaan orok kali ya, dari dulu, dari mulai saya SD, sampe kerja gini, kalau udah namanya di kelas, bawaan saya ngga bisa diem hanya ngeliatin guru ngajar, pasti tangan langsung ngacung. Kalau dulu metode belajar adalah CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif, maka saya sukses menerapkan metode itu. Ngga heran, guru-guru selalu ingat nama saya.

Bahkan waktu SD, saya paling suka pelajaran matematika, dan guru matematikanya paling suka buat kuis kecil menjelang bel pulang. Siapa bisa jawab, boleh pulang duluan. Wah ngga usah diragukan, saya selalu menjadi anak yag pertama keluar dari kelas. Asiknyooo. ( lihat ceritanya disini ).

Kejadian lucu saat SMP. Saya ikut pramuka. Biasa kan ya, kalau pramuka gitu ada acara berkemah. Trus di acara berkemah ada kegiatan yang kayak uji nyali itu loo, kita disuruh jalan malam-malam, ngelewatin kuburan, ditinggal sendiri di tempat gelap. Beberapa teman cewek ada yang teriak-teriak ketakutan, ada yang nangis. Wah rame deh. Gimana ngga, lokasi kemahnya tuh di sekolah, kebayangkan sekolah kalau malam hari serem banget. Mana di kanan kiri yang ada kebun sawit lagi, gelap gulita. Saya???, boro-boro nangis atau ketakutan. Saya malah sembunyi aja di satu tempat, capek  jalan terus dari tadi, malah saya kepikiran mau ngerjain tuh kakak Pembina, biar ngirain saya hilang, xixi ( yang ada kakak Pembina nangis ngga nemu saya dimana ).

Dari atas-kiri-kanan
Asrama (itu kolam buat hukuman), gedung sekolah,
 mau kemana-mana hrs baris, patung siapa itu yah
Gimana ngga ya ?. Dari lulus SMP saya udah jauh dari Ortu. Entah angin apa yang membuat ibu saya memutuskan mengirim saya ke sekolah berasrama- semi militer pula- jaraknya 10 jam dari rumah, otomatis saya hanya ketemu keluarga tiap liburan catur wulan, empat bulan sekali. Widih, parah banget tuh sekolah. Tiap hari bangun jam setengah lima pagi, pake peluit panjang. Dalam waktu yang amat sangat singkat, kita sudah harus berada di lapangan setelah sebelumnya seprai kamar harus dalam keadaan rapi, dan berganti baju piyama ke baju olahraga. Jangan sampai telat, nyesel dah seumur-umur, hukumannya ngga tanggung-tanggung. Saya pernah telat sekali, gara-gara kebelet pengen BAB. Ah udah lah, disuruh keliling lapangan bola tiga kali, pyuuuh. Itu baru hukumannya. Padahal kegiatan rutin setiap pagi itu lari keliling lapangan sebanyak 10 kali, sit up 30 kali, push up 20 kali. Trus lo pikir, perut gw jadi kotak-kotak gitu??. Ngga tuh. Berhubung dulu saya ceking, jadi nggga ngaruh apapun. Yang ada, gitu di kelas, sukses ngantuk dah dari jam pertama ampe jam terakhir.

Tamat SMA ( udah kayak bikin sejarah hidup nih ). Saya keterima kuliah di Semarang. Jangan pikir saya kesono diantar ortu. Nggak sama sekali, hanya diantar abang saya yang memang pengen banget ke Jawa ( udah tau kan saya orang Medan ). Perginya naik kapal laut. Nyampe Tanjung Priok langsung naik bis ke Semarang. DImana itu Semarang ???. I don’t Know. Tapi ya itu, dasar saya ngga ada takutnya, nyantai aja. Tiba di Semarang langsung cari hotel, dianter supir taksi. Bilang gini “ Bang, cariin hotel yang murah ya”. Dan si supir taksi bener-bener nganter saya ke hotel murah banget, semalemnya waktu itu 15 ribu. Tengah malam baru saya tahu. Ternyata  ITU HOTEL ESEK-ESEK. Hadeeeh, ( lap keringet). Pantes, saat saya masuk sama abang saya, si resepsionis agak-agak gimanaaa gitu ngeliatnya.

Sampai sekarang. dalam kelompok apapun, saya pasti akan menjadi anggota yang aktif dan berani . Berani mengungkapkan pendapat, berani mencoba hal baru, berani mengkritik dan dikritik. Singkat kata, saya ini pemberani luar dalam. Udah berani, aktif pula lagi. Jadi jangan heran, kalau di grup manapun yang saya ikuti, anggota yang lain insyaAllah kenal sama saya ( pasang kaca mata item ). 

Kalau pas ikut seminar, atau pelatihan atau workshop, saya pasti jadi volunteer buat tantangan yang ada. Tapi seru lho, pulang dari acara itu saya ngga pernah tangan kosong, pasti ada yang dibawa. Ikut pelatihan di Jhon Robert Power pulangnya bawa Mug keren. Ikut seminar menulis Asma Nadia, dapet souvenir cantik, Ikut kelas kepribadian Min Uno dikasi buku kepribadian. Memang ngga ada ruginya jadi orang yang aktif.

Selain itu, saya ngga pernah takut untuk mengatakan yang salah itu salah. Saya pernah naik taksi dari kantor di bilangan Sudirman ke bandara. Sama si supir taksi saya diputer-puterin. Yang harusnya muter lewat jembatan semanggi trus masuk tol, sama dia saya dibawa ke arah Selatan, muter di mampang. Saya waktu itu lagi sibuk sama hape karena ada yang penting yang harus saya hubungi jadi ngga merhatiin jalan.Yang biasanya dari kantor ke bandara paling habis 90 ribu, kali ini argo nunjuk ke angka 150 ribu, siiigh.  Gitu sampai di bandara, saya langsung ngomong sama tuh supir,

“ Mas, kamu tadi sengaja ya bawa saya jalan yang jauh, lain kali jangan seperti itu. kalau mau cari setoran dengan cara begitu ntar rezekimu ngga berkah”. 

Selesai saya bilang gitu, saya bayar tuh ongkos taksi. Si mas taksi langsung minta maaf sama saya, dan minta saya ngga ngelapor ke perusahaannya. Yah saya juga ngga mau lah ngelapor, buat apa?. Tapi kan yah, saya tuh mau dia tahu kalau apa yang dilakukannya salah.

Kepribadian berani dan aktif itu ternyata banyak mendatangkan keuntungan bagi saya. Saya jadi suka mencoba sesuatu. Apa aja. Hal-baru maupun hal tidak baru. Yang belakangan ini nih, saya lagi suka ikut macem-macem lomba. Lomba nulis, lomba blog, sampe kuis-kuis di FB maupun twitter. Pengalaman  sama si supir taksi , saya kirim ke majalah, eh dimuat, dapet duit dah saya. Ngga gede sih, tapi cukuplah buat beli buku baru. Dari lomba-lomba tersebut, saya ngumpulin lumayan tuh hadiah-hadiahnya. Dari mulai uang, buku, voucher belanja, hape, jadi finalis jalan-jalan bareng Riyani DJangkaru (masih nunggu hasil final ), sampai mesin cuci, horeeee.

Entah bener entah enggak, kata orang, kepribadian itu tercermin dari warna kesukaan kita. Mungkin benar juga. Setelah saya lihat-lihat isi lemari , barang-barang yang saya punya, ternyata kebanyakan bernuansa item dan merah. Tak terkecuali saat nikahan, dimana kata orang itu adalah “Hari” nya diri kita. Saya pilih dekorasi ruangan berwarna merah. Karena saya pakai baju adat jawa dan mandailing, pilihan saya baju Jawanya item, mandailingnya merah ( lha emang ada warna apa lagi J). Ibu dan adik-adik saya , kebayanya yah saya pilih merah. Pas lamaran saya pun pakai kebaya merah, hantarannya, ya warna merah juga, aiiiih. Merah mencerminkan pribadi saya yang berani. Dan , mukena juga merah, O My God. Kalau ngga diingetin sahabat saya, saya bisa punya mukena warna merah entah berapa biji. Kadang saya lupa, gitu pesen mukena, eh pesennya merah lagi, untung diingetin “ Lo kan udah punya berapa biji warna merah, yang lain napa”.


Kalau untuk pakaian, saya sukanya warna item. Karena kan saya pakai jilbab, jadi kalau pakai baju item gampang padu padan dengan jilbab warna apapun. Tuh lihat, asik kan. Jilbabnya suka saik banget tuh pakai hitam, kalau bisa ada kombinasi merahnya jadi lebih keren. Kesannya maskulin dan kuat gitu. Ya memang, karena saya bukan perempuan yang lemah ( mau adu panco?? Sini )

Apapun warna jilbabnya, bajunya tetep item :))


Merah juga Oye


Tas saya, Maskulin and Powerful

Nah, kepribadian itu, selain tercermin dari warna pakaian dan barang-barang kita, juga bisa tercermin dari gadget yang kita pakai. Contohnya notebook. Maka saat saya membaca lomba blog dari Sony Vaio dan Female Daily  yang bertajuk ekspresikan kepribadianmu dengan Sony Vaio E 14P, tanpa ragu saya langsung bisa memilih, kepribadian saya sesuai dengan Vaio warna hitam dengan garis merah. Untuk saya yang kuat,percaya diri, berani dan aktif. Yes, because It’s me.



Desain Vaio E 14P yang unik dengan lima pilihan warna, membuat setiap orang bisa mengekspresikan gayanya masing-masing. Suatu terobosan yang tidak biasa. Karena memang notebook adalah benda yang sangat personal. Bagi saya, notebook seperti teman bertukar pikiran. Tempat saya menuangkan ide-ide yang berseliweran di kepala. Sepantasnya, notebook yang notabene selalu menemani kita kemanapun bisa menggambarkan seperti apa diri kita.

Saat ini, saya memiliki notebook warna hitam, sesuai dengan kepribadian saya yang kuat dan berani dan sesuai juga untuk menemani aktivitas saya yang mobile kesana kemari.  Tapi, karena umurnya udah lama, performancenya juga udah mulai menurun. Terkadang kalau lagi nulis saya suka stress sendiri, lemotnya minta ampun. Apalagi saya suka utak-atik foto dan video buat ngelengkapin tulisan yang akan saya posting di blog, beugh bisa bolak-balik tombol  Ctrl+alt+del saya pencet, sanking frustasinya (ada disini ceritanya )



Yang saya butuhkan itu notebook yang kuat karena saya suka wara-wiri Jakarta-Medan minimal sebulan dua kali, belum lagi kalau ada tugas luar dari perusahaan, jadi si notebook harus tahan banting. Dan untuk menemani perjalanan saya itu, biasanya saya suka nulis di pesawat, nonton film, apalagi kalau lagi delay, wih si notebook adalah tumpuan harapan membunuh waktu. Makanya saya juga butuh yang baterainya tahan lama. Tau kan, kalau di bandara nyari colokan listrik itu susahnya minta ampun. Kalaupun ada harus rebutan sama orang lain.

Kata orang yang namanya jodoh itu ngga akan kemana deh. Pas baca spesifikasi Notebook Sony Vaio E Seri 14 P, kok ya kayaknya tuh notebook emang diciptakan buat saya ya. Dengan ketahanan baterai sampai 5 setengah jam-an dijamin bisa menemani saya mengatasi bosan selama di perjalanan. Soalnya kalau diitung-itung, jarak Jkt-medan 2 jam, hadir di bandara minimal 1 jam sebelumnya. Berarti berangkat harus satu jam lagi sebelumnya. Asumsi delay satu jam, pas 5 jam waktu yang dibutuhkan  notebook saya sebelum tewas kehabisan energy ( 2+1+1+1)

Trus lagi, keyboardnya yang bisa menyala di kegelapan itu benar-benar dipikirkan untuk mengakomodir kebutuhan pengguna kayak saya ini. Kenapa?. Soalnya kan saya kalau pulang balik Jkt-Medan selalu malam hari, last flight. Nah kalau udah diatas kan lampu dimatiin. Bisa sih nyalain lampu baca, tapi suka ngga enak sama penumpang sebelah soalnya kan jam segitu biasanya orang-orang pada tidur. Makanya dengan keyboard yang bisa terlihat di kegelapan gini, saya bisa tetep pakai tanpa mengganggu orang lain. Mantap. 

Ditambah lagi memorynya yang gede SAMPAI 4 GB, cukup banget untuk menyimpan file-file film yang saya koleksi. Saya kan penggemar film serial. Friends, Desperate Housewife,Girlmore Girls, sampe serial Korea. Belum lagi file-file kerjaan. Kerjaan saya tuh di bidang manajemen portofolio, jadi ya isinya data-data sampai berkilo-kilo bahkan megabyte,soalnya kan ada file excellnya, power point, belum database yang biasa saya bawa-bawa saat harus dinas ke luar kota. Selama ini biar ngga mengganggu kecepatan si notebook, saya nyimpennya di harddisk eksternal. Tapi kalau bisa tersimpan semua di notebook, berarti berkurang deh bawaan saya satu kalau kemana-mana. Cihuuy.

Apalagi ternyata Vaio E Series ini memiliki fitur PlayMemories Home yaitu ftur untuk mangatur, dan menyunting foto dan video. Camera digital viewing, external HDD viewing dan pembuatan film pendek. Cocok dengan yang saya butuhkan. Saya kan suka banget utak-atik foto kayak yang di tulisan ini contohnya.

Spesifikasi lainnya, kualitas suaranya yang ciamik punya. Mau nonton film, pasti berasa kayak di bioskop beneran ,karena pengggunaan teknologi X Loud dan Clear Phase yang mampu meningkatkan volume tanpa gangguan di film atau game favorit.

Hwaaa udah deh, kalau kamu butuh notebook sekarang. Pilih Sony Vaio E14P dan ekspresikan kepribadianmu. 

Saya?, wah alokasi dananya saat ini untuk tiket mudik lebaran ke Medan dulu.  Semoga nantinya saya bisa memiliki notebook yang menggambarkan kepribadian saya. Hitam dengan garis merah, untuk saya yang Powerful dan Energic.  Saya pilih itu, because It’s me. Kalau kamu??


Gw banget kan yah ...

Yippie Ye Yippie Yo

Tuesday, July 31, 2012


Seneng banget dah akhir bulan ini. tadi siang dapet email dari streetdirectory kalau ternyata saya menang lomba rekomendasi tempat makan favorit yang diadain Blogger + dan streetdirectory.com ini.

Lumayan banget buat pelipur lara setelah sebulan ini banyak lomba yang saya ikuti ngga menang. Walau menang bukan tujuan, tapi tetep aja seneng kalau ngeliat ada nama kita di pengumuman. 

Jadi tambah semangat nih. Semoga keberuntungan berlanjut :))

Wanita di Era Digital: Aktif Tanpa Ribet

Wednesday, July 25, 2012


sumber:www.jalanhidup.jpg

Hidup adalah perjalanan
Membuka mata, melihat luasnya cakrawala
Di dalam perjalanan selalu ada hal istimewa
Karena perjalanan selalu akan memperkaya jiwa

Saya percaya tidak ada suatu kebetulan di dunia ini. Semua terjadi karena adanya sebab akibat. Bahkan rumput di atas pusara pun tumbuh karena suatu alasan.

Sebagai wanita bekerja , saya sering mendengar omongan miring dari orang-orang. Beberapa kali malah ada yang dengan terang-terangan mempertanyakan apa yang saya cari sehingga mau bersusah payah bekerja dari pagi sampai sore. Padahal gaji suami saya bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.Bagi saya itu merupakan bentuk perhatian yang harus saya hargai.

Namun tak sedikit juga yang mengapresiasi pilihan yang saya jalani.

Ada yang salah dengan kata-kata bersusah payah. Karena pada kenyataannya saya sangat menikmati peran sebagai wanita karir sekaligus seorang istri.

Menurut saya, apapun pilihan yang diambil oleh seorang wanita terutama yang telah berkeluarga, bekerja di luar rumah atau menjadi full mother itu kembali ke diri masing-masing.

Sejak kecil saya selalu melihat ibu saya bangun pagi, menyiapkan sarapan kami, bersiap diri untuk kemudian pergi mengajar. Saya sangat mengagumi ketangguhan ibu. Sepulang mengajar , ia akan bergegas kuliah dan tiba di rumah hari sudah menjelang senja. Namun itu tidak dilakukan setiap hari, hanya 3 hari dalam satu minggu. Tapi entahlah, saya tidak pernah sekalipun merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang dari ibu.

Saat saya ingin jalan-jalan ke mall ibu selalu ada. Saat saya mengenal cinta pertama ,ibu juga ada mendengarkan curhatan saya, dan saat hati remaja saya lebur , ibu ada untuk memeluk saya. Sungguh tak sekalipun saya merasa ibu mengabaikan keluarga demi pekerjaan. Bukti konkritnya, empat anak ibu memiliki prestasi belajar yang memuaskan.

Melihat itu, membulatkan tekad saya untuk tak ragu menjadi wanita karir. Saya sudah melihat contoh, bahwa ibu bekerja bisa menyeimbangkan antara keluarga dan dunia kerja.

Setamat kuliah Alhamdulillah saya langsung diterima bekerja di salah satu bank nasional. Tak lama berselang, saya pun menikah. Suami sama sekali tidak melarang saya untuk terus berkarya. Saya tidak menampik, bahwa dengan bekerja maka ada satu dua hal pekerjaan rumah tangga yag tidak dapat saya tangani. Memasak, mencuci misalnya. Tapi itu hal yang sangat mudah diatasi, karena saya melihat, para ibu yang bekerja di rumah pun kebanyakan menyerahkan pekerjaan tersebut ke tangan asisten rumah tangga.

Sampai saat ini saya belum dikarunia buah hati. Hal ini, saya tidak tahu menyebutnya seperti apa. Ada yang bilang mumpung belum punya anak, bolehlah bekerja. Ada juga yang mengatakan, gimana mau punya anak kalau kerja terus. Apapun itu, saya yakin rejeki tidak akan tertukar dan tidak akan salah alamat, apalagi datang terlambat. Menurut saya, sudah banyak doa-doa saya yang dikabulkan oleh-Nya. Kalau toh satu dua hal saya disuruh menunggu, saya akan terima itu sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

sumber:  http://retnodamayanthi.files.wordpress.com/2008/06/wanita-karir21.jpg 

Selagi diberi Allah berupa kelonggaran dalam hal waktu, saya memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya merasa memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika tidak didaya gunakan. Bagi saya, itu merupakan salah satu bentuk rasa syukur terhadap talenta yang diberikan.

Namun memang tak selamanya hal tersebut semudah yang dikatakan. Dua tahun lalu, perusahaan memutasikan saya ke Jakarta. Berpisah dengan suami di Medan. Mutasi tersebut bukan tanpa sebab, tapi merupakan apresiasi perusahaan terhadap kinerja saya. Tentu saja saya bangga, senang. Namun ada dilemma di hati, harus memilih antara meninggalkan suami atau menerima tugas tersebut.

Kesempatan tidak datang dua kali. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya saya berangkat. Bagi saya dukungan dari suami sangat penting untuk menciptakan rasa nyaman saat bekerja. Ternyata tantangan yang saya hadapi semakin berat. Disamping tanggung jawab yang semakin besar, saya pun harus memikirkan suami di Medan. Bukan hal yang mudah bagi kami melewati semua itu.

Namun, di era digital ini, begitu banyak kemudahan yang bisa kita dapati. Semua seolah berada dalam genggaman. Jarak beratus kilometer pun dapat terjembatani dengan kecanggihan teknologi. Saya sangat bersyukur kepada Allah yang telah memberi otak-otak pintar kepada para penemu internet. Karena bantuan alat tersebut, saya dan suami bisa berkomunikasi dengan lancar. Dimanapun selama ada sambungan internet dan computer, saya bisa skype-an bersama suami. Terkadang, webcam bisa aktif nyala semalaman, sementara saya melakukan apa, suami juga melakukan pekerjaannya, berasa seperti di dalam satu ruangan.

Gambar dari sini

Disamping internet, kami juga menggunakan ponsel sebagai media berkomunikasi. Setelah ada BB, menjadi lebih mudah lagi. Setiap pagi saya akan mengirim foto diri saya, sebagai pelepas rindu. Bahkan dengan dukungan para pebisnis termasuk perbankan, memudahkan saya melakukan reservasi tiket pesawat dan melakukan pembayaran-pembayaran yang seabrek-abrek. Jadi walaupun, saya tidak ada di rumah, segala jenis tagihan seperti telepon, listrik, air, bisa teratasi hanya dengan memencet sejumlah angka di ponsel. Teknologi yang sangat memudahkan.

Hal yang dikhawatirkan tentang keharmonisan rumah tangga yang akan terganggu oleh jarak, Alhamdulillah tidak kami alami selama ini. Semoga selamanya seperti itu. Bahkan , jarak yang memisahkan membuat kami merajut rindu setiap hari. Rasanya , kembali seperti pacaran. Saling menyapa, bertanya sudah makan belum, sedang apa, persis abege jaman sekarang. Siapa sangka kami malah tambah mesra.

Saya tidak mengingkari kuantitas pertemuan dalam suatu keluarga itu sangat penting. Namun, kalau kondisi tidak memungkinkan, pilihan ada pada kita, mau menyesalinya, atau mencari cara untuk menikmatinya. Untuk menyiasatinya, saya memilih daerah-daerah yang saya kunjungi untuk perjalanan dinas yang berdekatan dengan Medan. Agar bisa sekalian bertemu suami. Malah pernah saat saya ke Bali, suami saya ajak serta selama seminggu, sekalian honeymoon deh jadinya. Selalu ada kemudahan dalam kesempitan.

Dengan keterbatasan waktu saat bertemu, membuat saya dan suami menjadi saling menghargai. Saling mengerti tanpa harus diutarakan. Kami bisa duduk berdua dalam diam, hanyut dalam kegiatan masing-masing, namun kami tahu kami ada dalam frekuensi dan gelombang yang sama.

Begitu pula, waktu yang terbatas tersebut membuat kami lebih kreatif mencari cara agar tetap bisa bersama, mengunjungi orangtua, bermain dengan keponakan, dan menghadiri undangan pesta rekan kerja atau kerabat. Hal tersebut bisa karena terbiasa.

Banyak hal yang saya dapati saat bekerja. Apalagi saya bekerja di bank yang bergerak di sektor mikro. Membantu membiayai usaha nasabah, melihat jatuh bangun mereka, memberi saja pelajaran baru tentang semangat pantang menyerah. Saya jadi tahu bagaiaman kiat-kiat untuk membangun usaha yang bagus. Selain itu, bertemu orang-orang dengan berbagai type kepribadian, makin memperkaya dan mengasah rasa empati dan toleransi yang saya miliki. Saat saya berinteraksi dengan nasabah, baik eksternal maupun internal, bisa menyelesaiakan masalah mereka, menjawab pertanyaan, dan membantu mempermudah pekerjaan mereka, hal itu bagi saya sudah merupakan kontribusi saya dalam kehidupan.

Dengan bekerja pula, saya belajar hal-hal baru, yang semakin meluaskan wawasan. Diakui atau tidak, saya dan suami bisa menjadi teman diskusi yang sangat klop, karena dia bergerak di bidang perkebunan dan industry sedangkan saya perbankan membuat kami saling take and give terhadap berita-berita dari masing-masing pihak. Menyenangkan sekali bukan, memilki teman diskusi yang kita cintai. Bahkan banyak teman suami yang sering bertukar pikiran dengan saya untuk masalah-masalah perbankan yang mereka alami.

Dan yang paling menyenangkan, saya bisa mengunjungi banyak daerah saat perjalanan dinas. Hal yang mungkin akan sulit saya lakukan kalau saya tidak bekerja. Sara pernah ke daerah rawan bencana di pelosok negeri ini. Melihat dari dekat lokasi-lokasi tersebut membuat saya semakin mensyukuri hidup ini.

Ketahun, Bengkulu
Bagi saya bekerja bukan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab terhadap keluarga. Malah membuat saya belajar untuk lebih gesit, lebih pintar mengatur waktu dan kemampuan mengatur strategi antara membagi waktu kerja, keluarga, liburan dan kegiatan social. Tak jarang saya mengambil cuti jika ada acara kantor suami yang mewajibkan saya hadir. Sebisa mungkin, bekerja tidak menjadi penghambat.

Saat saya jauh dari suami, membuat saya lebih berhati-hati dalam menjaga sikap dan perilaku. Karena saya tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikannya. Saya selalu mengusahakan mengabari dimanapun saya berada. Walaupun ia tidak disamping saya, saya akan selalu meminta izin padanya jika ingin pergi ke suatu tempat yang agak jauh. Bagaimanapun saya adalah tanggung jawabnya. Dan saya juga berkewajiban menjaga kehormatannya.

Demikian pula, waktu-waktu luang sepulang kerja, yang mungkin kebanyakan wanita melewatkannya dengan berbagai kesibukan di rumah, saya mengisinya dengan melakukan hal-hal yang menjadi passion saya. Membaca, menulis, berselancar di dunia maya, yang mungkin tidak akan seleluasa saat saya berada di rumah. Tidak banyak, namun ada beberapa tulisan saya yang sudah mejeng di buku dan nangkring di rak Gramedia. Saya hanya berusaha menerima keadaan dengan melakukan hal-hal yang memberi nilai lebih.Dengan teknologi digital, melalui media sosial seperti facebook, twitter saya juga sering mengikuti lomba-lomba menulis. Jadi jangan gunakan media sosial hanya untuk menghabiskan waktu. Dari hobi saya itu, saya malah berkesempatan memenangkan hadiah dari yang kecil-kecil sampai yang terbilang lumayan. Nah kan, hobi kalau ditekuni jadi sangat menyenangkan.

Antologiku
Bekerja juga turut memperngaruhi cara saya berpenampilan. Saya jadi terbiasa tampil rapi kemanapun. Setidaknya saya akan berdandan saat ke kantor.Bukan dandan yang berlebihan, seperlunya dan sepantasnya saja.  Dan karena terbiasa dengan rutinitas, maka saya pun terbiasa dengan ritual kecantikan yang membuat saya selalau merasa fresh. Agar selalu tampil segar, setidaknya melakukan perawatan wajah dan tubuh menjadi rekreasi tersendiri bagi saya. Minimal sebulan sekali ke salon, memanjakan diri, merilekskan otot-otot yang tegang . Dan untuk itu semua, saya bisa melakukannya sesering saya mau, karena saya memiliki budget dari uang pribadi yang saya hasilkan sendiri.

Bekerja juga membuat kebutuhan pakaian saya menjadi spesifik. Cukup tiga kategori, baju kerja, baju santai, dan baju kondangan atau arisan. Karena sudah terkategori demikian, saya tidak pusing. Baju kerja saya sangat simple, hanya berupa blazer dan kemeja. Dengan begitu menghindarkan saya dari belanja yang tidak perlu. Karena saya sudah tahu jenis pakaian yang saya butuhkan. Disamping itu dengan bertemu berbagai macam orang dari berbagai kalangan, memberi saya kemudahan melihat trend fashion yang lagi in. Lumayan, referensi gratis.


Satu hal yang mungkin tidak banyak disadari, keuntungan bekerja adalah memiliki networking yang luas, dari berbagai macam orang dan berbagai macam kalangan. Setidaknya saya memiliki relasi dari Sabang sampai Merauke, juga dari instansi-instansi yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Hal tersebut sangat bermanfaat, karena semakin banyak orang yang kita kenal dan mengenal kita maka semakin banyak kesempatan dan keberuntungan yang bisa kita raih.

Ya bekerja memberi saya triple bonus sekaligus, gaji setiap bulan, peluang belajar menjadi ahli, serta pengalaman yang laku dijual.


Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang wanita, karena itu ia disebut makhluk multitasking. Di era digital ini, banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Wanita di era digital adalah wanita yang tahu apa yang ia mau.Bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang tercipta untuk memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya .

Keterbatasan waktu dan ruang bukan menjadi penghalang untuk berkarya. Tidak ada excuse dalam setiap hambatan. Teknologi yang ada , manfaatkan sebesar-besarnya untuk mendukung segala aktivitas kita. jangan hanya sebagai pengisi waktu luang yang kurang menghasilkan.

Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki saat ini. Suami yang mencintai saya, keluarga yang selalu mendukung, sahabat yang peduli. Hal-hal tersebut semata-mata adalah curahan kasih sayang-Nya kepada saya. Apa yang telah diberi-Nya membuat saya semakin merasa semakin kecil .

Me, My Life
Sampai hari ini, saya masih berharap dan tak henti berdoa agar diberi jalan untuk bisa berkumpul bersama keluarga. Juga agar diberi kepercayaan menerima titipan-Nya. Sembari menunggu doa-doa saya diijabah, saya hanya bisa mengisinya dengan menghargai setiap tetes cinta-Nya dalam kehidupan saya.

Menjadi wanita bekerja diluar rumah, atau bekerja di dalam rumah, atau menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan yang memiliki sisi positif masing-masing. Apa yang saya utarakan panjang lebar diatas semuanya dapat dimiliki dan dilakukan oleh ibu yang bekerja di dalam rumah maupun ibu rumah tangga. 

Setiap orang mungkin ditakdirkan untuk memainkan peran yang berbeda- beda yang dibutuhkan untuk membentuk keharmonisan dalam dunia yang tak selebar daun kelor ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan suatu saat saya menjadi ibu rumah tangga. Dan karena tuntutan kebutuhan, ibu rumah tangga menjadi wanita karir. Bukankah hidup adalah misteri?. Apapun peran kita, selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh, ikhlas maka akan ada imbalan dari yang maha Kuasa untuk itu semua.

Perjalanan, seperti kendaraan yang membutuhkan bahan bakar yang cukup untuk sampai di tujuan. Semoga dengan rute yang berbeda-beda, perjalanan hidup kita masing-masing berakhir di tempat yang paling indah.

Let's Check This Story















Untung Gw Puasa


" Huh, untung gw puasa, kalau ngga udah gw bales omongannya" , teman kantor saya berlalu sambil menghela nafas dalam sekali, terlihat ia menahan emosi yang berkobar.

" Hush, ngga baik ngomongin orang, bulan puasa nih", bu Mira membubarkan geng "toilet" yang tengah asyik berbisik-bisik.

" Suer, mana mungkin gw bohong, gw kan puasa". kata suara yang lain.

Wow, saya takjub bukan buatan. Betapa Ramadhan menjadikan begitu banyak alasan untuk tidak berbuat hal-hal yang merugikan orang lain. Mencegah perbuatan sia-sia dan mengerem nafsu amarah.

Ramadhan, bulan penuh pengampunan. Bulan dimana semua amalan dilipatgandakan pahalanya. Kalau main games, ibarat grand prize, atau apalah istilahnya, dapat point tambahan yang mendongkrak skor berkali lipat.
Begitu banyak kebajikan yang menyebar seperti wabah di bulan Ramadhan.

Hanya karena puasalah alasan satu-satunya yang membuat para perokok tahan off dari memproduksi asap beracun selama 12 jam. Hanya karena puasa pula, sesorang akan berfikir dua kali dalam menyebar kebohongan. Sedekah terasa ringan. Amarah mampu ditekan.

Ramadhan, memang bulan penuh berkah. 

Saat inilah, makan bersama terasa begitu nikmat. Tetangga menjadi sahabat. Interaksi sosial pun kian dekat, karena sudah menjadi kebiasaan sebelum puasa , orang akan saling bermaafan, biar puasanya afdol. Kosong-kosong istilahnya.

Maka, kenapa tidak menciptakan Ramadhan sepanjang tahun??


 

Aku Rindu Ramadhanku


Saat melewati pasar Benhil sore ini, saya terbawa euforia Ramadhan. Berjejalan para penjual makanan menggelar dagangan khas berbuka puasa. Mulai dari kolak, es buah, aneka kue, sampai makanan berat sebangsa ikan bakar dan lauk-pauknya.

Tak lama azan pun berkumandang, dengan mengucap basmallah segera saya basahi tenggorokan yang kering dengan segelas teh hangat, aaaah. Tuntas sudah dahaga sedari siang. Setelah tarawih, tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Ada rindu yang begitu mendesak-desak. Rindu kampung halaman. Ya, saya memang perantau di ibukota ini.

Sebenarnya bukan kampung halaman yang membuat akhirnya saya menulis ini. Saya rindu suasana ramadhan ketika tinggi badan saya masih sepinggang orang dewasa. Saat malam-malam, mesjid begitu semarak. Subuh begitu semangat. Ramadhan yang begitu membekas di hati.

Saya rindu tadarusan di mesjid kampung dekat rumah. Berlomba-lomba saya dan teman-teman rebutan mike untuk membaca Al-Qur'an. Rasanya bangga sekali kalau bisa ngaji dan suara kita terdengar kemana-mana. Terutama, pengen orangtua saya tahu, kalau anaknya udah pinter baca Qur'an nih.

Biasanya, setiap malam, akan dibagi beberapa kelompok tadarusan, terdiri dari 5-10 orang. Kemudian ditetukan juz mana yang harus dikhatamkan setiap kelompok. Dibaca satu persatu. Jatahnya satu ain bergantian. Waduh, saya paling sebel kalau dapat ain yang pendek. Pengennya dapat yang panjang-panjang. Untuk mensiasatinya, dengan cepat saya akan menghitung kira-kira di ayat berapa giliran saya. Kalau kebagian yang pendek, saya minta tuker posisi duduk. Itu sangkin semangatnya menghidupkan malam-malam selama Ramadhan.

Dalam satu malam, kalau tidak dibatasi juz-nya bisa-bisa langsung khatam tuh Al-Qur'an. Itu aja udah pakai aturan ngga boleh baca cepat-cepat. Ibarat pakai irama 3/4 lah. Coba kalau dibolehkan satu nafas satu ain, wah bisa-bisa dalam satu Ramadhan khatam sampai 30 kali.

Tidak hanya itu, sholat subuh pun begitu menyenangkan. Di mesjid kampung saya dulu, selesai sholat subuh akan ada kuis berhadiah. Setiap hari di lempar satu pertanyaan, yang jawabannya harus ditulis di selembar kertas dan dikumpul keesokan subuh lagi. Begitu seterusnya selama satu bulan. Di akhir Ramadhan nanti akan diundi pemenangnya. Hadiahnya berasal dari sumbangan warga desa. Tujuannya agar anak-anak semangat ke mesjid. Wah, tidak satu subuh pun akan saya lewatkan tanpa sholat di mesjid. Kecuali hujan deras, dan badai menghadang.

Terkadang, di hari-hari tertentu, ada saja warga desa yang menyumbang uang untuk dibagi dalam bentuk pertanyaan spontan. Siapa bisa jawab, langsung ngacung. kalau benar dapat 500 perak. Wew, seneng banget rasanya. Pertanyaanya biasanya tentang kisah nabi, atau disuruh hapal ayat pendek.  Jadinya setiap hari kudu ngapalin juz amma, biar bisa dapet 500 perak itu.  

Hmm, saya terduduk sendiri di kamar kos, menerawang ke masa lalu. Berusaha menangkap suara-suara yang mungkin terdengar dari speaker mesjid seberang pasar Benhil. Namun, nihil, hanya hening yang tercipta.

Ah, kemana anak-anak jaman sekarang pergi. Apakah mereka terlalu sibuk belajar?, sehingga tidak sempat meramaikan mesjid?, ataukah trend Ramadhan sudah berubah? berpindah ke Mall?

Saya rindu suasana ramadhan itu, masa dimana kata " remaja mesjid " terdengar begitu eksotis. Ingin segera saya lahirkan jundi-jundi Islam untuk kembali meramaikan mesjid kita.

Custom Post Signature