Jadi Penulis, Siapa Takut (Bag 3)

Wednesday, August 8, 2012

Nyambung postingan siapa takut jadi penulis berikutnya, dari seminar Asma Nadia. ( baca sebelumnya disini dan disono )



Setelah kita tahu manfaat menulis, sekarang kita ngomongin modal untuk menulis. Tidak seperti kegiatan lain yang butuh modal dalam bentuk materi, berbeda halnya dengan menulis. Modalnya itu ngga berat, malah gampang banget, ga butuh biaya dan bisa dilakukan siapa saja.

Pertama dan utama adalah niat yang teguh ( kayak nama suami saya hihi ). Kalau mau jadi penulis itu ngga boleh sambil lalu, ya harus diniatkan dari awal “ I wanna be a writer”. Sekali kita punya niat dan alasan yang kuat, maka itu cukup menjadi amunisi seumur hidup  (pasang iket kepala ). Bahkan penulis blog aja, kalau niatnya ngga teguh ya blognya bisa kayak rumah hantu, penuh sarang laba-laba, rumput liar karena ngga pernah dirawat sama yang punya. Lihat deh rata-rata kita pasti punya lebih dari satu blog, tapi berapa banyak yang benar-benar terurus ( ngomong sama cermin ).

Kalau udah punya niat, modal selanjutnya adalah banyak membaca. Yang namanya penulis kudu suka baca. Karena sekolahnya penulis ya dari bacaan. Percuma kita ikut seminar sana-sini, baca teori menulis ini itu, , tapi ngga pernah membaca. Hanya saja cara penulis membaca itu harus beda dengan pembaca biasa. Dia bukan sekedar menikmati tapi mengamati. Pilihan judul, diksi, cara si penulis buku membangun konflik, alur crita. Pokoknya semuanya diamati. Dari situ kita belajar.

Kalau soal cara bertutur saya suka sekali dengan gaya Ika Natassa, mengalir dan membawa kita larut ke tulisannya. Untuk drama, Joy Fielding is awesome, Grand Avenuenya mantap .

Kalau cara menyelesaikan ending cerita, favorit saya Shidney Sheldon, endingnya selalu merangkum cerita dari awal sampai akhir. Yang tadinya misteri, terurai semua menjadi sangat masuk akal.

Saya kurang suka dengan ending yang To Good To Be True. Walaupun fiksi tetep aja lebih asik kalau membumi. Bukan untuk mengkritik, tapi Tere Liye menurut saya penulis yang bukunya sering gagal di ending. Tapi dia itu penulis yang tulisannya keren banget, banyak banget yang bisa kita ambil dari setiap karyanya. Tapi ya itu, beberapa endingnya kayak sinetron ( Sunset bersama Rossie contohnya, like Kuch Kuch Ho Ta Hai ). Ngga tau juga sih selera orang ya, ada yang suka sad ending, happy ending, open ending, closed ending. Terserah saja. Novel Istana Keduanya Asma Nadia,menurut saya endingnya bagus banget. Menyuruh kita berfikir sendiri. “ Arini berlari membawa luka” (kira-kira bgeitu, lupa saya )

Terus latihan disiplin. Ih mau jadi penulis kok kayak mau ikut latihan militer aja sih. Disipilin disini dalam arti disiplin dengan aturan yang kita buat sendiri. Misalnya kita udah bikin rule untuk diri sendiri menulis dua halaman sehari, ya jangan dilanggar. Kalau saya sih ga saklek-saklek amat. Pokoknya dalam satu minggu harus nulis, gitu aja ( makanya ga jadi-jadi novelnya J) . kalau bisa buat jam biologis. Misalnya nulis dua jam setiap hari di malam hari, atau pagi setelah subuh, atau tiap sabtu sore, terserah. Jadi ngga moody. Sekali-kali boleh ngikuti mood, pas ngga mood ya ngga usah dipaksakan nulis. Tapi kalau orangnya moody terus, ya kapan jadinya.

Dalam menulis, ide memegang peranan sangat penting. Masalahnya, terkadang ide itu datang di saat-saat ngga tepat. Waktu lagi di depan lepi, waktu luang, dengan segelas kopi di tangan, eh kepala kosong melompong. Gitu lagi belanja di pasar, Ting tiba-tiba ide berseliweran. Untuk itulah kita butuh notes. Atau apalah terserah, yang berguna untuk mencatat kapanpun ide datang. Lagi nyabutin rumput, tiba-tiba ‘ AHA” ( kata temen saya, entah darimana kata ini berasal ), langsung ambil notes , catet. Kalau saya yang orangnya grasak grusuk, lebih suka nulis ide di hp. Karena hape yang jelas dibawa kemana-mana. Paling sering dapet ide, kalau lagi ngobrol sama temen. Saat ada satu kata yang menarik, langsung buru-buru bilang “ Tunggu-tunggu, sebentar aku catet dulu kata-katamu barusan, bagus tuh buat tulisan “., wkwkwk, sampai kadang temen saya mutung ngga mau ngomong lagi .

Untuk menemukan ide itu ada beberapa sumber. Bisa dari pengalaman, pengalaman masa kecil, pengalaman sekolah, pengalaman putus cinta. Pengalaman di tempat kerja. Jhon Grisham , Marga T adalah beberapa penulis yang menulis berdasar latar belakang pribadi. Kalau penulis jaman sekarang tuh Raditya Dika,  Andrea Hirata, Ahmad Fuadi atau antologi-antologi yang lagi menjamur.

Bisa juga dari mengamati. Di angkot, di terminal, di taksi, di bandara, di perempatan jalan, dimana-mana deh. Amati semua hal, banyak ide wara-wiri di sekitar kita.

Trus bisa dari tokoh unik. Mungkin di kantor ada temen yang sering di Bully, bagus banget tuh buat jadi tokoh di tulisan kita hahaha. Atau dari public figur ( kalau nonton infotainment, sebaiknya sambil membayangkan si artis dalam imajinasi kita, Ariel contohnya , eh ).  Sepatu Dahlan Iskan salah satu novel yang ditulis berdasarkan seorang tokoh.

Atau khayalan. Hmmm . Konon katanya, Agatha Christie itu dapet ide selalu pas nyuci piring. Wah kerennya, pasti dia jadi rajin banget tuh nyuci piring, lah idenya jadi best seller semua. Ehmm siapa lagi ya. Oya , saya pernah baca, JK Rowling dapet ide waktu naik kereta api dari Manchester ke London. Ia menghabiskan waktu di dalam perjalanannya itu dengan memikirkan plot lengkap dengan ceritanya. Katanya sih, dia tuh cuma duduk menunggu keterlambatan kereta selama 4 jam dan semua detail bermunculan. Tentang anak laki-laki ceking berambut hitam , berkaca mata dan tidak menyadari bahwa ia adalah seorang penyihir.. Kok bisa ya, dari kereta api malah terangkai jadi cerita penyihir. Jadi milyuner pulak, iri.

Ngga dapet dari khayalan, bisa jadi dari mimpi.Si Stephanie Mayer juga dapet ide gara-gara mimpi, pas adegan Edward Cullen tertimpa cahaya matahari di hutan dan timbul kerlap kerlip di badannya.Katanya It’s so beautiful, sangkin indahnya mimpi itu, begitu bangun dia langsung nulis tentang si vampire itu, hadeeeh kapan ane punya mimpi yang spektakuler.

Berikutnya bisa juga dari berita . Kayak dari VOA, dari televisi, dari koran. Seno Gumira Ajidarma banyak menulis berdasarkan berita-berita. Seperti kumpulan cerpennya yang berjudul  “Ketika Jurnalisme dibungkam sastra harus bicara”.

Lanjut. Lengkapi referensi. Ini udah dibahas kemarin yah. Tulisan tanpa referensi kosong. Adanya curcol kayak tulisan saya di blog ini nih.

Jangan lupa goal setting. Apa tujuan kita. Mau dalam setahun nerbitin buku, atau dua tahun, atau sebulan. Sama dengan resolusi kali yah ( nunduk malu, resolusinya terancam gagal).

Terakhir, seperti tadi saya bilang diatas, terkadang semangat kita naik turun. Mood kita berubah-ubah. Bisa saja sekarang berapi-api pengen jadi penulis, trus tiba-tiba di satu titik karena banyaknya kendala, semangat itu padam perlahan-lahan. Makanya biar ga kayak gitu, bergabunglah dengan komunitas penulis. Di FB banyak tuh. Apa pentingnya?? Ya untuk menciptakan atmosfer yang kondusif. Saling memberi semangat. Saling tukar ilmu, bagi-bagi pengalaman. Dan memacu kita, kalau lihat teman udah nerbitin buku, udah nembus media, pasti lah kita akan lebih terpacu. Ngga mau kan cuma jadi penonton. 

Komunitas penulis itu juga bermanfaat untuk melebarkan networking. Biasanya kalau sudah ada yang bisa nembus penerbit mana, minimal kita bisa tanya-tanya tipsnya, minta no contact yang bisa dihubungi. Ah banyak untungnya deh ikut komunitas gini. Tapi memang untuk bisa gabung ngga sembarangan sih,biasanya mereka nentuin syarat tertentu. Ada yang pake daftar, trus bayar berapa gitu, ntar dapet pelatihan online. Ada juga yang gratisan, tapi pertama-tama kita harus ngirim contoh tulisan. Atau ada yang harus mereka yang menginvite kita, bukan kita yang join langsung. Pilah-plih deh. Tapi saya sarankan sih, pilih yang anggotanya terbatas, maksimal seratus orang lah, biar lebih fokus. Kalau grupnya udah kebanyakan orang ngga asik juga. Sama kayak kalau kita di kelas, semakin sedikit pasti lebih intens.

Namun dari semua hal diatas. Ada 3 tips yang paling paten. Ini sudah terbukti kemanjurannya. Agar bisa jadi penulis maka lakukan hal-hal berikut. Pertama , segeralah menulis. Kedua, menulis lagi. Ketiga, tetap menulis.

Semoga bermanfaat


11 comments on "Jadi Penulis, Siapa Takut (Bag 3)"
  1. Mancaaaap...kapan ya saya bisa sekonsisten mbak Windi dan menangan di blogging contest wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixi, saya masih newbie. Itu tuh kata mba asma, kalau mau konsisten, temukan alasan yang kuat untuk menulis, biar bisa jadi amunisi kita.

      Delete
  2. Mbak Windi, sy paling sering gagal di pendalaman emosi. Sy paling sulit memasuki jenis2 emosi manusia dan menuliskanya dlm kata2 yg mantep.



    Apa mbak Windi pernah mengalami hal yg sama ? Bagaimana solusinya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pernah ???? hahahah sering banget mas. Tulisan ini saya buat sebagai hasil seminar, jadi belum tentu juga saya bisa wkwkwk #ngeles.

      Hmmm gimana ya?? kata beberapa penulis yang saya baca sih, bawa diri kita menjadi tokoh itu. Kata mba Asma, bisa dengan berinterkas langsung, atau sering2 membaca buku yang mirip dengan tokoh yang ingin kita tulis. Misalnya mau nulis emosi anak remaja, ya baca novel teenlit, kalo mau dapet emosi pembunuh, baca novel pembunuhan atau novel detektif. CMIIW

      Delete
  3. Mancaaaap... *ikutan kayak mbak Dwi :D*

    ReplyDelete
  4. kl menulis cerpen kayaknya sy blm sanggup :D

    ReplyDelete
  5. mbak Windi gimana sih caranya masukin link-link kayak di blognya panjenengan ini? aku kok masih belum ngeh juga ttg seluk beluk blog ini mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamu copy dulu alamat linknya, trus ditulisan yg ingin kamu link_kan klik kata link di atas entry-an itu, disebelah insert gambar. Ntar muncul kolom, isikan alamt link tadi. Udah.

      Misalnya km mau kata "disini" ngelink ke tulisanmu sebelumnya. Ya , tinggal copy url tulisanmu trus blok kata dissini, klik link, paste url tadi. Selamat $encoba

      Delete
  6. matursuwun penjelasannya mbak, kpn2 akan kucoba :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature