Antara Kartini, Kebaya dan Peran Wanita Di Balik Banking Hall BRI

Thursday, April 21, 2016
Gara-gara status dedengkot mojok Agus Mulyadi tentang perdebatan yang selalu terjadi di hari Kartini, jadi pengen nulis juga tentang itu.

Iya, saya juga heran napa sih harus diperdebatkan, 
Kok harus Kartini? 
Kok bukan Dewi Sartika? 
Kok bukan Rohana Kudus?,
Kok bukan Cut Nyak Dien?
Kok bukan Aisyah We Tenriolle?
Kok bukan Sultanah Seri Ratu Tajul Alama Safiatuddin Johan ?
Kok bukan Martha Christina Tiahahu?

Wah kalau dijembrengin wanita-wanita hebat di masa lalu, ngga akan cukup satu postingan buat membahasnya. Ngga akan cukup satu buku buat menulisnya.

Banyaaaak banget wanita hebat Indonesia yang memiliki peran penting dan memiliki kontribusi yang ga main-main pada jamannya.

Rohana Kudus yang notabene pernah mendirikan sekolah Kerajinan dan Rohana School serta menjadi pelopor pers perempuan tentu menjadi kebanggan urang awak dan kebanggan orang Medan, karena blio pernah juga menjadi guru di Lubuk Pakam.

Sultanah Saifatudin, seorang pemimpin dari Aceh adalah wanita yang sangat pintar, menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Pada masa pemerintahannya , VOC harus gigit jari  karena tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lain yang jadi inceran mereka . Orang Aceh pasti sangat bangga padanya.

Sementara itu, jangan lupakan Aisyah We Tenriolle. Seorang wanita dari Sulawesi Selatan yang gape dalam pemerintahan juga mumpuni dalam kesusastraan. Ia juga pendiri sekolah pertama di Tanette yang merupakan tempat pendidikan modern yang dibuka baik untuk anak pria maupun wanita. Mana mungkin orang Sulawesi melupakan jasanya.

( Dikutip dari buku Satu Abad Kartini, Pustaka Sinar Harapan, yang kemudian di share di group WA)



Mereka memang wanita-wanita yang sangat membanggakan.

Tapi kalau sekarang kita rame-rame memperdebatkan siapa yang lebih hebat diantara mereka, wah bisa-bisa terjadi perang Bubat lagi, lol.

Kalau menurut saya pribadi, di masa kini ini, udahlah hentikan saja perdebatan itu. Yang penting kita ambil spirit yang ingin ditularkan dari penunjukan Kartini sebagai ikon yang ditetapkan untuk emansipasi wanita.

Toh sebenanya, bukan hanya Kartini atau wanita-wanita di atas yang pantas menjadi ikon. Wanita masa kini juga banyak yang bisa menjadi inspirasi kita. Sebut saja Sri Mulyani, Karen Agustiawan, Susi Pujiastuti. Atau wanita-wanita di zaman Rasul, Khadijah, Aisyah, Asiah, Maria ( eh ini udah di luar konteks ya xixixi). Ah banyaklah.

Trus, masa mau dibuat Beauty Contest gitu, untuk memilih siapa yang paling pas buat dinisbahkan menjadi sosok emansipasi wanita. Capek baaang... capek.

Maka, mari kita sudahi perdebatan tak berkesudahan itu.

Sekarang yuk bahas yang lebih asik. Kalau saya sih sebagai wanita yang kerja, setiap hari Kartini itu keingetannya malah sama wanita-wanita yang bisa menyeimbangkan antara karir dan keluarganya. Terus juga punya harapan, semoga semakin banyak wanita-wanita yang bakal jadi top level management di perusahaan-perusahaan. 

Kenapa?

Ya, biar dia bisa bikin kebijakan-kebijakan yang memudahkan para wanita bekerja tapi tetep menguntungkan perusahaan.

Ngga perlulah kebijakan untuk dikasih cuti setahun penuh bagi wanita pasca melahirkan, ntar kagak ada perusahaan yang mau mempekerjakan wanita, tapi cukup sediakan saja ruang laktasi yang memadai plus ijin untuk ijin memerah ASI di sela jam kerja.

Ngga perlu juga, harus bikin peraturan wanita dikasih kerjaan lebih sedikit dari pekerja pria (ntar lagi-lagi perusahaan jadi males mempekerjakan staff wanita), tapi cukup memberi kesempatan yang sama kepada setiap pekerjanya tanpa memadang jenis kelamin.

Hal-hal seperti itu, akan mudah terwujud kalau lebih banyak wanita yang berada di posisi decision maker. Kayak pengalaman pribadi, atasan saya itu wanita. Dan aduh saya bersyukur banget punya atasan seperti beliau. Bukan mentang-mentang saya wanita terus dikasih pekerjaan yang remeh temeh. Beliau tetap mempercayakan pekerjaan sesuai porsi dan job saya, tapi beliau itu yang care banget sama bawahannya. 

Saat anak saya sakit, dengan mudahnya beliau berperan sebagai seorang ibu, bukan sebagai atasan tanpa toleransi. 

Bukaaan... bukan terus otomatis saya boleh libur gitu kalau anak sakit, ya ngga gitu juga sih, tapi minimal pada kondisi demikian, saya bisa pulang kantor teng go. Yeaaah, kalian harus tahu, adalah sangat sulit pulang teng go di kantor saat ini. Loyalitas cuuuy, loyalitas.

Belum lagi, kalau atasan kita seorang wanita, minimal dia bakal lebih ngerti, saat kita harus curi-curi waktu pumping. Lebih mengerti juga kalau suatu hari kita yang ngantuk berat di kantor karena anak rewel malam sebelumnya.

Aaagh banyaklah positifnya kalau semakin banyak wanita yang menduduki posisi penting di perusahaan. Apalagi kalau dia menduduki posisi penting di bagian SDM misalnya, bisa dong lebih care terhadap penempatan pekerjanya, biar didekatkan ke keluarga.

Memang sih, atasan wanita tidak menjamin bakal lebih care dari atasan pria, tapi setidaknya masih ada harapan dia lebih mengerti kebutuhan dan hal-hal yang butuh excuse gitu dari pekerja wanitanya.

Nah, saya melihat di bank tempat saya kerja udah mulai banyak para wanita yang berada di top level management. Ngga cuma Pemimpin Cabang atau Kabag saja, bahkan level Kepala Divisi dan Direksi juga ada sosok wanita-wanita inspiratif disana. Maka ngga heran lah ya, kalau bank tempat saya kerja ini terpilih jadi bank dengan kinerja terbaik. Karena ada tangan-tangan wanita hebat yang bekerja di dalamnya.

( Baca : BRI terpilih menjadi Bank terbaik di Indonesia Tahun 2016).

Di hari Kartini ini pun, tak luput menjadi perhatian. Kalau kalian sempat bertransaksi di bank terbesar dan tersebar di negeri ini kalian akan melihat para Kartini ujung tombak perusahaan yang selalu melayani dengan setulus hati ini berpakaian khas wanita Indonesia. Pakai kebaya mameeen.



BRI CABANG POSO

Kalau sehari-hari pakai pakaian kerja aja udah cantik, hari ini kecantikannya nambah 10 kali lipatnya. Yup semua untuk siapa. Untuk siapa cobaaaaa????

Ya untuk kalianlah para nasabah tercinta.

Setidaknya karena semangat ibu Kartini maka kita-kita ini para wanita bisa turut berkontribusi untuk perekonomiàn negeri ini.



Dan sebagai pengingat bahwa spirit Kartini ada di dalam diri wanita-wanita Indonesia.

Wanita Indonesia ga cuma pegawai bank, ga cuma wanita karir tapi semua wanita yang punya semangat untuk kemajuan kaumnya, termasuk mendidik anak dengan sebaik-baiknya ya bu ibu.

So akhirul kalam, daripada ngeributin siapa yang pantas diperingati hari lahirnya mending kita aja yang menjadikan diri kita Kartini Kartini masa kini.

Dan salah satu ciri Kartini masa kini adalah peduli akan nasib masa depan keturunannya. Masa depan keturunannya bisa banget direncanain dengan mulai menabung di bank terbaik di Indonesia. Yang tentu saja selalu melayani dengan setulus hati.




Masa ga mau sih dibantu mempersipkan masa depan oleh bank dengan kinerja terbaik dan disapa oleh mba-mba dan mas-mas yang senyumnya mampu mengalihkan duniamu, eeeeaaaa.

( Baca : Dapat Gaji dari BRI Tanpa Jadi Pegawai BRI )

Selamat hari kartini wanita-wanita kece se Indonesia Raya.





Catatan : Foto dari kiriman BRI selindo dan sudah mendapat persetujuan dari yang mengirim
11 comments on "Antara Kartini, Kebaya dan Peran Wanita Di Balik Banking Hall BRI"
  1. Kenapa harus kartini?
    Karena....ah sudahlah. Yg penying semangatnya. Tapi perlu juga keknya dicari ya kan kak...mengapa kartini 😁👍

    ReplyDelete
  2. Kenapa harus dan hanya Kartini, sudah jadi perdebaxan setiap tahun... heheh

    ReplyDelete
  3. Kalau pengalaman teman yang bosnya sama2 cewek ternyata sangat gak pengertian, sebab beliaunya ternyata blm berkeluarga. Tapi, yah, tergantung personalnya kali ya Mbak? :D

    Met Hari Kartini Mbak Windi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mab ga selalu sih. Aku jg pernah punya bos cewek yg nyebelin hahahaha padahal udah punya anak juga

      Delete
  4. Replies
    1. Krn Cuma BRI yang melayani dengan setulus hati wahahahaha

      Delete
  5. sebenarnya ada sejarah yg 'dihilangkan' oleh para orientalis belanda dari perjalanan hidup Kartini yang membutnya dikenang terus sampai sekarang, apa itu, ada yg tau? :D

    ReplyDelete
  6. haha kata-katanya bagus "jangan lupa pake sanggul, biar jadi blogger unggul" kalo cowo gimana ya? :v

    ReplyDelete
  7. How to cope with fever and body ache with herbal medicine QNC gamat jelly can help heal or cope with chills and body aches naturally and quickly.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature