Dee's Couching Clinic Medan, Proses Kreatif dibalik Supernova

Monday, March 30, 2015
Nah setelah tahu bagaimana tips dan cara Dee menulis novel di tulisan saya sebelumnya, kita lanjut dengan kekepoan saya mengenai proses kreatif dibalik penulisan Supernova. Iya pengen tau pakai banget, soalnya bagi saya pribadi serial Supernova itu merupakan serial yang tidak biasa, yang rasa-rasanya belum ada penulis Indonesia yang menulis seperti itu. Entah ya kalau saya salah.

Ternyata memang dalam menulis, Dee punya prinsip untuk menulis sesuatu yang ingin ia baca. Karena ia tidak menemukan novel yang bercerita seperti yang ingin dibacanya, maka ia menulisnya. Ini Tips juga nih bagi para penulis, Tulis sesuatu yang ingin kau baca.

Dee's Couching Clinic Medan, Menulis Ala Dee Lestari

Wednesday, March 25, 2015
Setelah mupeng melihat foto-foto dan ulasan emak-emak blogger di Solo, akhirnya tiba juga giliran Medan mendapat kehormatan untuk didatangi acara sekeren Dee’s Couching Clinic, yeaaay. Oya bagi yang belum tahu, Dee’s Coaching Clinic adalah acara yang diselenggarakan oleh penerbit Bentang Pustaka di lima kota yaitu Solo, Medan, Jakarta, Surabaya, Makasar. Kota-kota ini dipilih mewakili basecampnya pembaca Dee sekaligus mewakili geografis Indonesia. Pesertanya sendiri dipilih dari pemenang lomba review novel Dee terbaru yaitu Gelombang. Saya sendiri hadir mewakili komunitas ‘Kumpulan Emak Blogger’ yang super keren itu. Aaih makmin, makasih banget yah untuk kesempatan yang telah diberikan kepada saya.

Saat si Buah Hati Tak Kunjung Hadir

Friday, March 20, 2015
Gara-gara baca postingan seorang blogger ( lupa namanya) jadi pengen cerita bagaimana perjuangan saya dan suami untuk bisa mendapatkan keturunan. Sebenarnya sih agak-agak sungkan mau cerita di blog ini, tapi siapa tahu ya bisa bermanfaat sama orang lain.

Kalau yang sudah sering singgah di mari pasti sudah tahu dong ya kalau anak saya Tara hadir di kehidupan kami setelah kami menikah 4.5 tahun lamanya. Kalau yang belum tau, mungkin bisa baca disin

Kalau Rezeki Ngga akan Kemana

Tuesday, March 17, 2015
Dan setelah hampir lupa bagaimana rasanya menang lomba blog, akhirnya kemarin saya  dapat mention lagi di FB dengan ucapan, " selamaaaat" . Rasanya sesuatu. Setelah kemarau panjang berbulan-bulan hahaha.

Sahabat itu.....

Wednesday, March 11, 2015

Ada pepatah yang mengatakan, Teman itu adalah orang yang selalu memberi apa yang kita minta. Tapi sahabat, tahu apa yang dibutuhkan sahabatnya.

Dan saya bisa membuktikan pepatah itu. Bulan Januari lalu saya menulis tentang kado yang aku mau di blog ini. Waktu nulis itu sih memang agak sedikit pakai kode-kode hahaha siapa tahu ada yang mau ngasih kado ke saya , kan baru ultah ceritanya.

Tidur Nyenyak Tanpa Nging Nging

Tuesday, March 10, 2015
Dulu waktu saya hamil, banyak teman yang bilang kalau kebiasaan ibu hamil akan diturunkan ke bayinya. Termasuk kebiasaan begadang. Iya waktu hamil, saya hobi sekali tidur malam. Soalnya saat itu saya masih tinggal terpisah dengan suami. Jadi kalau malam ngga ada kerjaan, saya banyak nulis. Biasanya sepulang kerja, setelah selesai beres-beres, mandi, makan sholat, saya baca buku. Setelah itu baru nulis sampai larut malam. Soalnya kalau malam banyak dapat inspirasi . Itu terjadi dari mulai hamil muda sampai menjelang lahiran. Makanya begitu Tara lahir, ngga heran ni anak suka sekali bergadang. Olala, agak menyesal juga jadinya, duh.

Sejak Dulu Kala

Friday, March 6, 2015
Hai, ketemu lagi sama aku. Dulu aku pernah lho bicara sama kalian melalui blog bunda ini, waktu aku masih dalam kandungan. Sekarang aku sudah lahir, umurku sudah hampir 2 tahun saat ini. Walau aku belum mengerti benar apa yang dikatakan bunda, tapi aku tahu pasti, setiap kata yang disampaikan bunda kepadaku mengandung hal-hal baik yang ingin ditanamkan bunda untukku. Mungkin agar di masa depan aku bisa menjadi putri terbaik negeri ini.

Setiap malam, sambil menyusuiku, ada saja yang dilakukan bunda agar aku cepat terlelap. Terkadang bunda membacakan tahlil anak kecil. Kadang juga menyanyikan lagu-lagu lucu. Terkadang bunda mendongeng.

Beberapa hari ini bunda suka menceritakan kisah tentang suatu negeri. Sepertinya negeri itu berada di antah berantah, karena nama-namanya susah sekali diucapkan.

Bunda bercerita, bahwa ada sebuah pulau di pesisir Barat bernama Svwarnadwipa. Yang berarti pulau emas. Konon katanya pulau tersebut diduga sebagai tempat armada Solomon ( Nabi Sulaiman), mengambil muatan emas dan gading. Emas tersebut dikeruk dari pegunungan yang berbaris disana. Sedikitnya ada beribu ton emas yang bisa dikeruk. Emas tersebut diangkut melalui sebuah pelabuhan tua bernama Barus. Di Barus, juga terdapat pohon besar berwarna hitam yang tinggi menjulang. Dari getahnya bisa dihasilkan benda yang disebut kapur barus . Kapur barus itu dulunya digunakan bangsa mesir untuk mengawetkan mummi firaun. Harganya sangat mahal di kala itu. Pulau itu menjadi tempat persinggahan para pedagang dari berbagai penjuru dunia.

Di hari lain, bunda bercerita tentang pulau lain bernama Labdiu, atau pulau padi.

Di pulau tersebut, segala tanaman pangan tumbuh dengan suburnya. Padi, palawija, kacang-kacangan , buah, sayur, kopi terlihat dimana-mana. Tanah yang kita injak pun begitu gembur. Tanah andosol, regosol tersebar dimana-mana. Tanah yang berasal dari abu vulkanis. Di pulau tersebut terdapat gunung-gunung api yang menyebabkan tanahnya gemah ripah akan kandungan hara. Bahkan kata bunda, kita lemparkan saja biji cabai sembarangan, niscaya dalam seminggu dua minggu akan tumbuh pohon cabai di atasnya.

Besoknya, bunda bercerita tentang sebuah pulau yang katanya pulaunya para dewata. 

Disana kita bisa melihat sunset yang begitu indah diantara Pura Pura menjulang. Siluet alam paling menakjubkan yang mungkin bisa kita saksikan. Pantai dengan ombak membuih,Sawah berundak. 

Di seberang pulau itu, akan terlihat para pedagang Cina mondar-mandir mengangkut kayu-kayu cendana .Di pulau itu juga puluhan ekor  Komodo akan bersiweran layaknya ayam di rumah oma. Kalau berani, bahkan aku bisa memegangnya.Pulau itu bernama Warunadwipa. Disana juga pedagang asing wara-wiri membawa sarang burung walet yang dibarter dengan guci keramik yang terlihat mahal. Aku terpukau mendengarnya.

Terkadang bunda bercerita tentang sebuah lembah, dimana aku bisa menyaksikan tambang batubara dengan para pekerjanya yang sibuk memacul batu.Tetesan emas hitam berupa minyak yang mengalir melalui pipa-pipa dan tangki serta gas yang menyembur-nyembur ke luar pun tak luput dari perhatian. Semua itu tercurah begitu saja sebagai anugerah Ilahi.

Kata bunda, kalau aku sudah besar, bunda akan ajarkan aku untuk menghitung berapa nominal yang bisa dihasilkan dari semua itu.

Selesai melihat tambang batubara dan gas, bunda mengajakku menaiki sebuah kapal menuju pulau di seberangnya. Di seberang menanti sebuah pulau bernama Sholibis atau pulau besi. Disini segala jenis bahan tambang ada. Mulai dari besi, tembaga, perak, nikel, titanium, mangan, semen, pasir besi, belerang, kaolin sampai bahan galian C seperti pasir, batu,kerikil dan trass. Bayangkan saja betapa makmurnya penduduk di pulau ini.


Ternyata semakin jauh bunda mengajakku berpetualang semakin menakjubkan hal-hal yang dibicarakan nya. Kami tiba di sebuah kepulauan bernama Jazirah Al-mulk, yang artinya semenanjung kerajaan. Pulau ini ternyata penghasil rempah-rempah, termasuk tanaman purbakala bernama cengkeh yang merupakan tanaman asli pulau ini. Konon harga cengkeh di masa lampau melebihi harga emas sehingga menjadi sebab peperangan. Astaga.......


Lalu bunda mengajakku menjelajah pulau Labadios. Disana kami bisa melihat burung yang sangat indah bulunya. Burung Cendrawasih, dengan warna-warni yang memukau. Tidak hanya cendrawasih, disana terdapat juga puluhan jenis burung, kupu-kupu, katak dan tumbuhan yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Kata bunda, seorang sejarahwan mengatakan di bukunya bahwa pulau Labadios merupakan dunia yang hilang. Ada juga yang menyebutnya sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi. Bahkan di sebuah daerahnya terdapat sumber emas yang bisa membuat rakyatnya kaya raya hanya dengan menambang dan mengolahnya. Emas disana bisa menghasilkan dua juta rupiah per detiknya. Tik... dua juta... tok ..dua juta.

Aku begitu terpesona dengan kisah yang didongengkan bunda. Saat kutanya bunda, dimana negeri itu berada, bunda katakan besok akan memberitahuku.

Ya, dan hari ini bunda membuka misteri itu. Ternyata pulau-pulau yang diceritakan bunda dari kemarin itu adalah Indonesia. Tanah tempat aku dilahirkan. Tempat bunda dan papa dilahirkan juga. Oma, opa, dan semua orang yang kusayangi juga dilahirkan di Indonesia. Aku hampir tak percaya mendengarnya. Betapa kayanya negeriku ini.

Wow kalau memang seperti itu, sungguh beruntung aku dilahirkan menjadi salah satu anak Indonesia. Bunda bilang, sebagai putri yang akan menjadi pewaris negeri ini kelak aku harus berbuat sesuatu untuk bangsaku. Bukan hanya sebagai penonton saja. Seperti yang terjadi saat ini. Bangsa Indonesia malah menjadi penonton di negeri sendiri. Kekayaan kita dibawa pergi, untuk kemudian kita bayar kembali saat menikmatinya

Kata Bunda, kekayaan itu sampai saat ini belum diberdayakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyatnya sesuai amanat Undang-Undang 45 pasal 33. Aduh beratnya bahasa bundaku. Tapi intinya, semua kekayaan tanah airku ini masih banyak yang dikelola oleh bangsa asing.

Bukan, bukan karena kita tidak mampu tapi karena kurangnya  rasa nasionalisme di diri penduduknya. Gimana ngga ? Pemuda-pemuda negeri ini, yang pintar-pintar, yang memiliki pemikiran hebat, kebanyakan lebih suka mencari nafkah di negara lain. Alasan utamanya tentu saja materi yang lebih menggiurkan. Tidak salah sih, soalnya kalau di dalam negeri sendiri mereka kurang dihargai. Misalnya saja, di sebuah perusahaan ada dua pekerja yang sama kemampuannya. Yang satu pemuda Indonesia yang satu bule, gaji yang diterima masing-masing mereka berbeda. Paradigma disini, orang bule itu lebih mumpuni, lebih pintar sehingga akan dibayar lebih mahal. Padahal di negara lain pemuda-pemuda negeri ini dihargai sekali prestasinya. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di luar negeri  itu selalu menjadi  juara lho di kelasnya. Mereka diakui disana. Giliran kembali ke negeri sendiri malah dinomorduakan dibanding ekspatriat.

Malah di sebuah perbankan swasta yang terkenal disini. Gaji antara pekerja pribumi dan pekerja bermata sipit berbeda lho. Sama-sama orang Indonesia tetapi berbeda ras saja bisa berbeda perlakuannya, oleh orang Indonesia sendiri. Bagaimana coba? Pusing ngga sih.

Ya contoh kecilnya saja. Kalau di keluarga sendiri kita selalu diremehkan, dibanding-bandingkan dengan anak tetangga, apa kita bakal percaya diri?. Yang ada malah sebal sama orangtua kita. Terus giliran anaknya teman ortu kita datang pas keran air rumah rusak, dia bisa memperbaikinya, ortu langsung pasang muka manis, dibeliin martabak deh dia. Padahal sebenarnya kita bisa juga memperbaikinya, hanya tidak dipercaya saja sama ortu. Bagaimana mungkin kita bisa memliki rasa bangga dengan keluarga kita. Yang ada, malah kita berniat ntuk hengkang dari rumah dan merantau sejauh-jauhnya. Ya ngga?

Jadi perkara nasionalisme dan rasa kebangsaan bukan hanya harus ada pada  diri penduduknya terutama para pemudanya. Tapi juga dari pemerintahan Indonesia sendiri. Pemerintah juga harus percaya dengan kemampuan anak negerinya. Percaya bahwa mereka bisa sebaik bahkan lebih baik dari para ekspatriat itu. Dengan kepercayaan yang diberikan, anak negeri ini akan lebih percaya diri. Tentu nantinya akan menumbuhkan juga rasa nasionalisme mereka. Hmm, aku sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya. Tapi bunda membantuku dengan mengutip perkataan pendiri bangsa ini .

“ Siapa yang mau mencari mutiara, haruslah berani menyelam ke dasar laut yang sedalam-dalamnya
Siapa yang dengan senang hati hanya berdiri di pinggir saja, ia tidak akan dapat apapun”

Akhirnya bunda menasehatiku bahwa kita semua adalah generasi penerus dari sebuah perjalanan sejarah bangsa pada suatu masa. Yang suka atau tidak suka harus menerima keburukan ataupun kebobrokan pendahulunya. Suka atau tidak suka semua persoalan bangsa yang dihadapi pada saat ini kelak harus diberikan kepada generasi berikutnya. Sehingga tidak ada alasan bahwa kita semua tidak berjalan meski harus tertaih-tatih. Mengingat bahwa kita semua bertanggung jawab atas generasi mendatang yang tak lain adalah anak cucu kita. Untuk itu, saat ini bundaku berusaha melakukan apapun yang ia bisa untuk kebaikan bangsa ini, termasuk dari hal terkecil. Mendidik aku dengan sebaik-baiknya, menanamkan nilai-nilai baik kepadaku, karena kelak aku juga akan mewariskan apa yang diajarkan bunda kepada anak cucuku.

Bunda juga berusaha untuk melakukan pekerjaanya sebaik mungkin, sehingga bisa turut berkontribusi untuk pertumbuhan ekonomi negara. Kalau bunda bekerja baik, target tercapai, perusahaan laba, bisa memberi deviden ke negara. Trus negara menggunakannya untuk pembangunan, membiayai pendidikan anak negeri, memperbaiki kualitas kesehatan dan kualitas hidup rakyatnya, akhirnya semua berefek domino terhadap kemajuan dan perbaikan negeri ini.

Nah saat tiba waktuku nanti, bunda pun berharap aku menjadi anak yang bisa memberi manfaat bagi lingkunganku. Mungkin diawali dengan bisa memberi manfaat untuk diriku sendiri, keluarga, perusahaan dan negari ini. Kata bunda, segala hal besar dimulai dari langkah kecil. Jadi tidak ada kata terlambat untuk memberi sumbangsih kepada negeri ini. itulah cara mensyukuri Dan berterima kasih pada negeri dan bangsa ini. Seperti Kata pepatah :

Setiap orang ada masanya,setiap masa ada orangnya.

Aku pikir mass mendatang adalah milk kita.Pilihannya adadalah menjadi pelaku sejarah atau cuma menjadi penonton Saja?. 


Sayup-sayup kudengar bunda bersenandung.

Indonesia sejak dulu kala.... tetap di puja puja bangsa.

Aku tidur dulu ya. Jayalah negeriku Indonesia.Salam sayang dariku.


Keterangan :
Svarnadwipa : Pulau SUmatera
Labdiu : Pulau Jawa
Warunadwipa: NTT
Sholibis: Pulau Sulawesi
Labadios : Pulau Irian jaya








Tentang Mendidik Anak

Tuesday, March 3, 2015

Cara Asyik Melahirkan Normal

Barusan saya dicurhatin seorang teman yang bilang kalau doi takut melahirkan. Trus nanya-nanya ke saya, bagaimana proses melahirkan saya dulu. Kok kayanya saya yang enjoy gitu, malah buru-buru pengen hamil lagi, kayak yang pernah saya tulis disini.

Sampai saat ini semua orang mengira saya lahiran Caesar. Kalau saya bilang saya melahirkan normal pasti langsung komen, “ Haaah, masa?, apa iya??”. Ih sebel, kayak yang saya ngga sanggup aja lahiran normal. Ternyata bukan karena mikir ngga sanggup. Adek-adek saya juga sempet takjub saya lahiran normal. Mereka bilang, soalnya saya itu type orang yang ngga mau ribet, dan type ibu masa kini yang doyan yang praktis-praktis. Jadi kepikirannya saya pasti pilh Caesar, biar cepet dan ringkes. ( huwoo padahal kata orang Caesar itu malah lebih ribet dan lebih sakit ya dari normal, I dun no). Dan begitulah, persepsi orang tentang saya.

Tentang Panitia Lomba Yang Ingkar Janji

Monday, March 2, 2015
Sebagai banci kontes yang sudah putus urat malu perkontesannya ( banyakan kalahnya daripada menangnya), beberapa kali saya mengalami yang namanya di PHP-in sama penyelenggara lomba. 

Macem-macem deh tabiat penyelenggara yang tidak bertanggung jawab. Dari mengundurkan jadwal pengumuman, sampai malah ngga ada pemenang sama sekali. Dari hadiah yang di down grade sampai yang tak kunjung diterima. Haduh, kenyang deh.

Yang paling membekas di hati  itu, saat saya mengikuti lomba berhadiah jalan-jalan dari sebuah merk kopi ternama. Waduh, semangatnya epic banget deh. Mulai dari membuat video, share ke semua sosial media sampai yang nulis rencana-rencana liburan gitu. Bagaimana tidak, hadiah yang ditawarkan begitu menggiurkan. Pemenang utama bisa jalan-jalan ke tempat wisata yang diiginkannya bersama brand ambassador produk itu, yang mana kita juga bisa pilih mau pergi dengan siapa. Trus finalis yang tidak menjadi pemenang utama, akan diundang gathering bersama para brand ambassador dan nantinya diberi hadiah berupa jalan-jalan yang dilakukan sediri ( tidak bersama artisnya). Wiiih, bikin mupeng kan, secara kesempatannya menangnya lumayan besar.

Custom Post Signature