Anak Saya Minum Sufor, Memangnya Kenapa?

Wednesday, December 18, 2013
"Anaknya usia berapa nih mba" 

Tanya seorang ibu di lift sebuah mall di Medan beberapa bulan yang lalu. Hari itu kebetulan ngga ada undangan, jadi weekend bisa jalan-jalan, refreshing sambil cuci mata bareng si papah dan Tara.

" Tiga bulan bu " jawab saya
" Wah tiga bulan kok keliatan gede banget ya mba, berapa tuh beratnya" tanya si ibu lagi
" Lima kilo" jawab saya sambil tersenyum
" Iiiih anak saya udah 7 bulan aja beratnya baru 7 kilo lo" lanjut si ibu yang membuat hidung saya kembang kempis menahan rasa bangga di hati. Yess, anak guweh sehat, lebih gede dari anak seumurannya, kata hati saya sambil senyam senyum.

" Susunya apa mba?" si ibu ternyata masih penasaran
" ASI " jawab saya cepat yang kemudian diikuti dengan lirikan dari suami saya.

Begitu lift tiba di lantai 3 segera saya keluar. Beberapa langkah dari pintu lift, suami langsung menegur saya.

" Ade, kenapa bohong gitu sih, pake bilang kalo Tara ASI, kok ngga bilang aja apa susunya Tara" 
" Laaah kan Tara memang ASI mas, walau dicampur Sufor juga" jawab saya enteng
" Iya tapi kan ga ada salahnya ade bilang apa merk susu Tara, ibu itu kan serius nanyanya" 
" Ogah, pokoknya Tara itu ASI titik " jawab saya sambil manyun, sebel sama suami.

Xiixixi, itu tuh kejadian yang sudah beberapa kali saya alami. Setiap ketemu orang, entah itu ketemu di jalan, atau tetangga main ke rumah, bahkan saat imunisasi dan ditanya dokter pun saya keukeuh bilang kalau Tara itu ASI.

Padahal kenyataannya sejak saya selesai cuti melahirkan dan kembali ke kantor, Tara sudah tidak full ASI lagi, sudah dibantu oleh sufor.

Saat Tara lahir, ASI saya memang tidak langsung keluar. Namun karena sudah dapat info sebelumnya dari seminar yang diadakan AIMI di Medan,saya jadi tahu kalau bayi itu masih membawa bekal makanan dari rahim ketika lahir dn sanggup bertahan selama 72 jam tanpa asupan apapun. Maka demi si ASI eksklusif saya pun kekukeh ngga memberi apapun. Walau ASI saya ngga keluar, tetap saya tempelin aja Tara di puting saya setiap ia kelihatan haus. 

Malam pertama bersama Tara syukurnya no drama. Walau sempet nangis, namun begitu dinenenin Tara langsung diem dan bobo pules di samping saya. Begitu lahir saya memang minta rawat gabung, Tara ngga dibawa ke ruang bayi, jadi bisa saya susuin sepuasnya, begitu rencananya. 

Hari kedua, siangnya juga berjalan muluuuuuuus, ada kakak ipar saya yang juga masih menyusui anaknya. Jadi saat Tara nangis, tinggal dikasi ke kakak saya itu, disusuin sampai kenyang, dan Tara anteng kembali
Malamnya Tara mulai rewel, disusuin juga ngga mau, mungkin sebel dia karena ngga dapat apa yang diinginkannya, kakak ipar saya juga sudah pulang, agak panik awalnya. Syukurnya malam itu banyak teman kami yang menjenguk, yang salah satunya juga baru punya baby dan masih menyusui. Beberapa hari sebelum lahiran, saya sudah berbicara dengannya, meminta kesediaannya menjadi donor ASI kalau-kalau ASI saya belum keluar sampai tiga hari, dan ia menyetujuinya. Maka saat Tara nangis, dengan sukarela si sahabat menyusui Tara sampai kenyang. Duuuh lega banget rasanya, cita-cita ASI eksklusif masih bisa terlaksana.Demi jaga-jaga kalau entar malam Tara haus lagi, ia pun memerah ASInya untuk stok Tara sekali minum. 

Karena merasa mampu, besok malamnya, si oma yang malam sebelumnya menemani saya dan suami nginep di RS , saya suruh istirahat di rumah saja. Pikir saya, ah gampang lah, kemarin bisa kok.

Begitu suasana sepi, teman-teman sudah pulang, tinggallah kami bertiga, sepasang suami istri plus bayi baru berumur 2 hari yang masih unyu-unyu. Produk baru yang ngga tau mau diapain. Dunia rasanya cuma milik kami bertiga, bahagia tiada tara. Lagi seneng-senengnya memandangi bayi mungil yang terlelap, eh tiba-tiba si bayi bergerak-gerak gelisah dan mulai merengek. Satu rengekan bersambung menjadi dua tiga dan seterusnya malah nangis kejer. Waduh saya dan suami panik bukan main. Disusuin masih nangis, digendong-gendong tetep ngga mau diem. Dinyanyiin sambil ditimang timang, dipeluk, malah makin kenceng nangisnya. Dengan tergesa kami panggil suster.

" Bayinya haus ibu" kata suster tersebut sambil menggendong bayi saya
" Tapi air susu saya belum ada " jawab saya sedih
Si suster diam saja, memberi saya kesempatan berfikir mungkin.
" Tapi sus, katanya kan bayi bisa bertahan sampai 3 hari tanpa apa-apa. Lha ini baru 2 hari kok sus" entah bertanya entah menuntut, saya pun tak tahu.
" Iya bu memang demikian. Sekarang terserah ibu mau gimana"

Lhaaaaa malah diserahin ke saya. Mommy baru yang masih murni tanpa dosa huhuhuhu. Sementara saya diam, tangis Tara makin kenceng. Duh bikin senewen. Hati saya rasanya teriris-irirs denger suaranya, sediiiih banget ( mulai drama). Daaaaaan akhirnya pertahanan saya jebol.

" Suster, tolong dikasih susu formula saja anak saya" jawab saya sendu. Suami menggenggam tangan saya erat.

" Ngga papa dek, besok dicoba susuin lagi, tetep ASI eksklusif kok" katanya menenangkan.
" Kalau begitu, bayinya saya bawa ke ruang bayi ya bu, besok pagi kami antar kembali" 
" Loh ngga bisa diambilin aja susunya sus, biar anak saya tetap disini" saya terkejut juga mendengarnya
" Ngga bisa bu, kalau mau dikasi sufor bayi harus dalam pengawasan kami, besok kami antar jam 7 sampai jam 10, trus jam 4 sore sampai jam 7 malam" terang si suster

Hwaaaaa, langsung nangis saya dengernya. Tapi apa boleh buat, mendengar Tara nangis sampai sesegukan hati saya sungguh ngga tega. Setelah menandatangani surat penyerahan bayi, Tara pun menghilang dari pandangan kami. Suasana kamar langsung sepi seketika. Baru semenit langsung kangen luar biasa, duuuuh. detik itu rasanya saya gagal menjadi seorang ibu yang baik. Sediiiih banget. Tapi yang namanya raga ngga bisa dibohongi, mungkin karena udah dua malam bergadang, akhirnya malam itu saya dan suami tertidur dengan lelapnya. 

Esoknya kami memutuskan untuk langsung keluar dari RS. Ngga kuat harus tidur pisah dari Tara. Begitu sampai di rumah ibu, berbagai makanan penambah dan pelancar ASI langsung disodorkan kepada saya.

"Minum Nira biar ASI nya ngucur" kata seorang tetangga.

Ngga berapa lama, sebotol besar nira pun diantar ke rumah. Langsung saya minum tanpa sisa.

" Makan jantung pisang biar deres " 
Sepanci sayur jantung pisang pun menjadi menu sehari-hari.

" Daun katuk jangan lupa"
" Daun nasi-nasi"
" Yang pait-pait, sawi pait, daun pepaya, pare"
Semuaaaaanyaaa saya makan ngga pake pilih-pilih.

Namun sampai hari kesepuluh ASI saya hanya menetes saja, ngga sampai ngucur-ngucur kayak yang dibilang orang. Saya mulai frustasi.

“ Coba dipijet” Kata tetangga yang lain

Tukang pijet andalan di kampung saya pun didatangkan ke rumah. Langsung dikontrak selama 40 hari ke depan. Hasilnya? Sama saja

“ Coba diperah” kata suami
Dengan semangat 45 saya perah, Pakai pompa manual, merek Midela (penting ini ). Hanya dapat 10 ml. Itu pun setelah diperah selama setengah jam lebih, hiks.

“ Pompanya kurang bagus tuh de” suami saya sepertinya ikut frustasi ngeliat hasil pumping.

Hari itu juga, suami saya yang sangat baik hatinya itu bergegas ke Medan ( rumah ortu saya di Galang, kira-kira satu jam-an dari Medan ) untuk membeli pompa yang lebih bagusan. Langsung beli yang elektrik dengan merek yang sama yang harganya kata tante saya seharga satu ekor kambing untuk kekah itu.

Harapan saya membuncah, membayangkan ASI bakal mengalir deras dari payudara saya. Apalagi adik saya bilang, dulu ia bisa sekali perah dapat 300 ml, saya pun makin semangat.

Hasilnya???
Dapat 30 ml, lumayanlah daripada lumanyun.




“ Kalau mau ASI nya banyak, pikiran harus relaks biar LDR (Let Down Reflex) nya dapet”

Suami dengan senang hati menggaji dua orang ART sekaligus. Satu ngurusin anak, satu buat beres-beres rumah. Masih kurang? Seorang ibu yang biasa ngerawat ibu-ibu pasca melahirkan pun dibooking ke rumah setiap hari. Mulai dari meng-oukup (seperti spa tapi ala rumahan), pijet, lulur sampai makein segala jenis param-paraman ke badan saya. Praktis ada tiga orang yang membantu saya setiap hari.

Karena hasil belum maksimal juga menurut saya soalnya saya ngga pernah yang ngalamin ASI sampai netes-netes kalau ngga diminumin ke bayi, maka saya pun berinisiatif mengudang konselor ASI ke rumah, langsung ahlinya, konselor AIMI.

“ Mungkin perlekatannya kurang pas mba” kata si konselor yang juga ternyata seorang dokter itu

Saya pun langsung memperagakan gaya menyusui Tara.

“ Hmmm udah bagus kok “

Ia lalu menerangkan, bahwa untuk memproduksi ASI, ada dua hormon yang paling berperan. Hormon prolaktin untuk memproduksi ASI dari pabriknya, dan hormon oksitosin untuk mengeluarkan ASI dari payudara. Katanya, hormon prolaktin saya sudah bagus, terbukti dengan payudara saya terlihat penuh. Namun sayangnya hormon oksitosin saya tidak bekerja sempurna. Kemungkinan saya stress.

Hal itulah yang saya tidak mengerti. Masa iya saya stress padahal saya ngga ngerjain apa-apa, istirahat juga cukup ( kan dibantu 3 orang gitu lho ).

Namun sejak konsultasi tersebut, perlahan hasil ASIP saya mengalami peningkatan. Dari 50 ml, akhirnya tembus rekor 100 ml sekali perah. Girangnya bukan main. Langsung difoto buat penambah semangat. Disimpan dibotol dan dimasukin ke freezer, mulai nabung.



Walau katanya produksi ASI tidak sama dengan hasil perahan, namun bagi saya ASIP itu sangat penting, sebagai persiapan saat saya kembali bekerja. Lagi-lagi demi cita-cita ASI eksklusif tadi.

Dalam satu hari, saya bisa menyimpan 2 botol ASIP, maksimal. Namun tabungan ASIP tersebut tidak bertahan lama, karena saat cuti melahirkan saya memutuskan ikut kursus mengemudi. Otomatis saya bakal meninggalkan Tara minimal selama 2 jam dalam sehari. Walau sebelum pergi Tara sudah saya susuin, tetap saja ASIP yang sudah disimpan terpakai juga.

Sampai dengan menjelang masuk kantor lagi, saya hanya berhasil menyetok ASIP sebanyak 15 botol. Padahal udah bangun malam juga untuk pumping.

Begitu aktif kembali ngantor, setiap pergi kerja bawaan saya segambreng. Satu tas isinya perlengkapan saya, laptop, dompet, charger hp. Satu tas lagi isinya breast pump,botol ASIP,ice gel. Ditambah lagi dengan tas bekal makanan. Untuk menjaga kualitas ASI saya memang memutuskan bawa makanan dari rumah. Isi bekalnya ngga jauh-jauh dari daun katu, sawi pahit, jantung pisang dan aneka sayur biar ASI dereeees. Cemilan saya pun isinya segala jenis kacang-kacangan. Mulai dari kacang mede, kacang tananh, kacang almond, semua kacang deh. Bahkan saya sampai minta bawain sodara yang pulang dari Makassar buat beliin kacang mede dari sana, karena harganya agak murahan disana.


Di kantor, saya buat jadwal pumping jam 10 pagi, jam 1 siang saat istirahat dan jam 4 sore menjelang pulang kantor. Awal-awal bisa dapat tiga botol sehari, masing-masing 100 ml.Kadang hanya dapat 200 ml, pernah juga Cuma 150 ml.  Disimpan di kulkasnya pak Pinwil, sore baru saya bawa ke rumah pakai tas khusus ASIP .Di rumah pun saya masih pumping saat Tara tidur. Berapapun tetap saya syukuri. Setetes demi setetes kan lama-lama jadi berbotol-botol juga pikir saya.



Namun, lama kelamaan Tara minum semakin banyak. Saat saya kerja dia bisa menghabiskan sebanyak 4 botol ASIP. Sebulan pertama masih bisa terpenuhi dengan stok ASIP yang sudah ada ditambah hasil pumping di kantor.

Masuk usia empat bulan, Tara menghabiskan 5-6 botol selama saya tinggal. Begitu kembali di rumah, Tara kembali dapat ASI langsung dari saya.Hingga akhirnya stok ASIP saya habis, hanya mengandalkan hasil pumping hari ini untuk diminum besoknya. Pada saat itu akhirnya saya pasrah, berusaha menerima kenyataan, Tara pun mengkonsumsi sufor disamping ASIP.

Jangan ditanya bagaimana sedihnya perasaan saya. Disamping sedih karena cita-cita ASI eksklusif pupus sudah, ditambah lagi dengan kenyataan harga sufor yang ampuuun deh benar-benar bikin panas kantong. Mari kita berhitung.

1 kotak sufor = Rp130.000,-
1 Kotak habis dalam 3 hari
1 bulan = 10 kotak x Rp 130.000 = Rp 1.300.000,- ( nangis )

Bayangkan kalau saya bisa sukses memproduksi pumping ASIP sesuai kebutuhan Tara, uang segitu pasti bisa nambahin semarak buku tabungan.

Awalnya saya takut Tara tidak sesehat anak lain yang full ASI. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini Tara sehat wal afiat dan lincah sama seperti bayi pada umumnya.

Dari pengalaman itu, saya begitu kagum dengan para ibu yang bisa sukses memberi ASIX pada buah hatinya. Seorang teman sekantor yang hanya berjarak seminggu dengan kelahiran Tara juga ternyata bisa memberi ASIX untuk anaknya. Kadang saat pumping bersama di kantor, startnya duluan saya, sambil pumping sambil ngobrol. Gitu selesai, dia bisa keluar dari toilet ( ya saya pumping di toilet) dengan 3-4 botol ASIP di tangan dan saya hanya membawa 1 botol saja. Itu pun kadang tidak full, miris.

Dengan segala daya dan upaya saya telah berusaha maksimal untuk memberi yang terbaik bagi si buah hati. Maka tatkala buka internet, masuk di grup khusus ibu menyusui atau baca blog orang lain atau status teman yang merasa bahwa ibu yang sempurna itu ibu yang bisa memberi ASIX kepada anaknya, duuuh rasanya pengen  langsung ngeklik tombol unlike (sayangnya ngga ada) xixixi.

Atau malah ada yang ngata-ngatain anak yang minum sufor itu adalah anak sapi, iiiih pengen banget nampol yang nulis gitu.

Walau katanya ini bukan tentang kesempurnaan seorang ibu, atau ini bukan tentang anak manusia atau anak sapi, tapi tetep ujung-ujungnya membully ibu-ibu yang memutuskan memberi sufor kepada anaknya, membuat saya jadi males banget kalau udah ngomongin masalah ASI.

Maka saat kemarin heboh soal artikel yang diposting sebuah brand pelembut pakaian, saya hanya tersenyum geli.

Sebenarnya kalau mau jujur apa yang ditulisnya ada benernya lho.

Bahwa menyusui itu melelahkan. Hmmm benar bangets. Beberapa teman yang saya kenal hampir seratus persen sependapat. Menyusui itu luar biasa lelah.Apalagi di awal-awal, saat saya masih belum paham tentang menyusui padahal sudah membaca seabrek artikel menyusui. Tara bisa nempel di puting sampai satu jam lebih. Kalau dilepas nangis. Bukan saya saja, adik saya pun mengalami hal yang sama. Jadilah saya bisa sampai tertidur sambil duduk. Punggung ini pegalnya minta ampun. Posisi menyusui sambil tidur pun membuat badan pegal-pegal.

Tapi mungkin satu hal yang si penulis tidak tahu, bahwa menyusui itu melelahkan namun membahagiakan. Saat sudah tahu trik menyusui yang benar, pegal-pegal saya hilang. Dan saya akan seratus kali lebih memilih menyusui ketimbang bangun tengah malam untuk membuat susu formula. Tinggal buka kancing baju, miringkan badan sedikit, hap bayi kenyang ibu senang. Bayangkan kalau harus membuat sufor. Tangan saya pernah tersiram air panas dari dispenser, karena dalam keadaan ngantuk berat saat menyeduh sufor. Siapa bilang memberi sufor tidak butuh perjuangan? Termasuk perjuangan materi looo.

Dan yang utama, saat melihat mulut mungil Tara menempel di dada saya, menghisap penuh nikmat sambil mata beningnya menatap mata saya, duuuuh momen yang tak mungkin tergantikan oleh apapun. Apalagi kalau sudah kenyang, Tara akan melepaskan mulutnya sambil tersenyum manis, iiih gemes banget.

Artikel kedua si pelembut pakaian. Bahwa para ibu bekerja jangan memaksa diri untuk memberi ASIX.

Saya rasa juga ada benarnya. Hanya saja si penulis sama sekali tidak membahas soal ASIP. Dia hanya mengutarakan betapa repotnya harus pulang ke rumah untuk menyusui yang pastinya tidak akan mungkin bisa dilakukan di kota-kota besar

Kalau kita sudah berusaha maksimal, mengupayakan segala hal, namun toh hasilnya tidak sesuai impian, masa harus memaksa diri juga?

Bagi saya, menjadi seorang ibu yang bahagia jauh lebih penting dari predikat lulus S1. Terdengar egois, namun seorang ibu yang bahagia, yang tidak terbebani dengan pandangan ideal ibu masa kini pastinya akan memberi energi positif pada bayinya.

Saya yakin, kelak anak saya tidak akan menuntut saya jika ia tahu saya tidak berhasil memberinya ASIX. Saya yakin ia tahu bahwa hak asasinya untuk memperoleh ASI telah saya penuhi semaksimal saya bisa.

Maka tak perlulah lagi memperdebatkan siapa lebih baik dari siapa. Dan jangan pula antipati pada artikel yang membahas sufor, apalagi membully pengguna sufor.

Bersyukurlah jika anda mampu memberi ASIX pada si buah hati. Memiliki produksi ASI yang berlimpah ruah, sehingga tidak perlu merogoh kantong lebih dalam, membuka anggaran baru untuk membuat anak anda tidak menangis karena haus dan lapar.

Dan kalau ada yang berpendapat bahwa ASI melimpah bukan anugerah, bukan keberuntungan tapi bisa diusahakan, pun tetap bersyukurlah tidak mengalami apa yang mungkin kami alami.

Cukuplah kami yang tahu, tak perlu label ibu sempurna untuk menunjukkan seberapa besar cinta yang kami miliki untuk si buah hati.

Seperti lagu yang setiap hari dinyanyikan ART di rumah saya

“ Kasih sayangnya bunda
Tidak ada batasnya
Siang malam dijaganya…..
Dipangku dan ditimangnya
Dengan kasih sayangnya”

Kasih ibu tak terbatas usia 6 bulan pertama. ASI adalah makanan terbaik untuknya, tak seorangpun bisa membantahnya.Tak perlu mempertanyakan alasan dibalik pilihan seorang ibu. Masih banyak agenda untuk membentuk generasi penerus yang membanggakan umat.  

Untuk ibu-ibu senasib jangan berkecil hati ya. Jangan sampai kejadian kayak cerita saya di awal. Sekarang saya udah ngga pernah lagi jawab gitu kalau ditanya orang. Saya sudah sedikit lebih mengerti arti menjadi seorang ibu. Bukan soal seberapa banyak ASI yang bisa kau produksi

Jadi,…………… Kalau anak saya minum sufor, memangnya kenapa?
77 comments on "Anak Saya Minum Sufor, Memangnya Kenapa?"
  1. Duh, mbakyu. panjang bener curhatnya ^^. Sufor atau pun ASI memang hak Ibunya kok mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya mak ika. aku emang kadang (kadang???) sedikit lebay kalo lagi sensi, kayak gini aja dijadiin tulisan xixixix

      Delete
  2. anak saya juga minum sufor. so what gitu loh, ya kan jeung wind, hehee..
    tapi ini bukan berarti kita ngajak minum sufor tho, cuma...cuma...pengalaman ibu-ibu kan beda-beda, apa yang terjadi dan apa yang dialami sama seorang ibu, kita gak tau. jadi mari kita stop judging :D

    ReplyDelete
  3. hiks... nggregel aku bacanya Windiii...:'( Tarraaa.... mau ASI, mau sufor, teteup itu anak kita ya Wind, bukan anak ASI atau anak sufor *yaeeyalaaahhhhhh*...
    btw Gaza juga gak eksklusif ASI kok, di usianya yg bbrp hari, kami kasih kurma yang dikunyah sampe lembuuuut untuk keperluan tahnik ;)
    yang penting Tara sudah dapet ASI, yang ngedapetinnya bener2 perlu perjuangan, dan itulah poinnya Wind.
    Seandainya kita tetanggaan ya Wiiind... hihihi...
    anyhow, mau ASI atau sufor, kita tetep ibu kandung yang sudah mengandung dan melahirkannya, yang setiap hari tidur dan bangunnya nyari kita, yang setiap hari masih bisa melihat kita dengan mata penuh binar, itulah yang mestinya disyukuri, Wind, selain tentunya ASI yang tiap tetesnya begitu berharga.

    so, watermelooooooooooooooooooooooon.......:D :D :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. seadnainya kita tetanggan. Tara udah aku titipin ke rumahmu tiap hari mommmy pujiiii hahahaha

      Delete
  4. Duh mbak Win, curhatnya kadang bikin ketawa, kadang bikin terenyuh. Tapi yang penting, si dedek sehat ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini juga nulisnya sambil nangis sambil ketawa

      Delete
  5. teman saya ibu pekerja juga sering banget di bully gara2 kasih sufor padahal usahanya udah maksimal kayak mba wind...salut buat para ibu...kapan saya jadi ibu huhuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa yg bully itu makhluk sempurna kali yah :)

      Delete
  6. postingan mbak ini harus saya baca lagi saat saya udah jadi emak-emak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan mak. Bacanya yg sukses ASIx aja buar semangat :)

      Delete
  7. saya bacanya jadi teharu juga ya sama perujangan mamah tara

    ReplyDelete
  8. emang bener ya mbak "rejeki asi" kalau asi-nya deras tanpa harus minum jamu gejah atau makan sayur katuk
    moga Allah meluaskan rejekinya :)
    dan sun sayang buat Tara

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak walau dibilang ASI itu hrs diusahakan tp ada juga faktor rezeki ASI ya mak

      Delete
  9. Waduh... usahanya boleh diacungi jempol deh :D
    Menyusui memang melelahkan, anak pertama saya menyusu sampai berjam2 punggung dan tangan saya sampai pegel. Belum lagi kalo ditinggal kerja, nangisnya kenceng banget kalo dah kepengen ASI, belum ASI saya pun keluarnya gak banyak, tapi Alhamdulillah lulus ASI eksklusif. Kebahagiaan ibu bukan hanya dari lulus ASI eksklusif (melihat mba Windi sudah berusaha keras), tapi menjaga dan memberi anak kesehatan yg prima juga adalah sesuatu yg membanggakan dan membahagiakan buat ibu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak. Seharusnya sesama ibu saling menguatkan ya maaak bkn saling mencibir

      Delete
  10. Sama kaya saya, Mbak Wid.

    Saya cuma tahan sampai 6 bulan ASIX, selebihnya sudah dicampur sufor. Bukannya ga mau full ASI, tapi karena hasil perahan tidak sejalan dengan kebutuhan anak. Sehari bisa 6 botol, ASIP cuma 4 botol, lha 2 botolnya dari mana.

    Sayangnya beberapa follower pendukung ASI sampai segitu menghujatnya sufor. Awal2 saya juga malu mengakui anak saya campur sufor. Tapi saya ingat bahwa "every mom has her own battle".

    Jadi, mau ASI atau sufor, pastinya si Ibu sudah mengusahakan yang terbaik untuk anaknya.

    Saya juga sedih bukan kepalang ketika Arfan ga mau mimik lagi di usia 1 tahun. Alhasil setahun ini udah ga ada nenen2an, hiks hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa sedih ya mak. Tp mau gimna ya mak. Ya sud lah kita berikan yg terbaik aja utk anak kita ya mak

      Delete
  11. Suami istri yang akur ya...
    ASI kalo bisa 2 tahun full...

    ReplyDelete
  12. mba windi masih beruntung loh meski sedikit tapi masih keluar terus (iya kan?), nah kalau saya, udah pakai segala cara eeh pas bulan ke-3 malah kering begitu aja :( tapi yah saya sih udah cuek beibeh lah sama yg suka men-judge ini itu, yang penting anak-anak sehat. Alhamdulillah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba pokoknya gimanapun disyukuri. Kita yg paling tahu kondisi kita

      Delete
  13. tulisan ini yg bikin saya optimis buat terus nyusuin walau masih campur sama formula juga. aneh saya bacanya sudah lama ternyata ketemu lagi di grup KEB hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haaahaaha iya mak ini tulisan lama. Teteo semangat maaaak. Saya juga sampe skrg msh nyusuin mak tp tetp campur sufor

      Delete
  14. Aaah...jd pengen ikutan nulis ttg ASI dan Sufor jg nih Mak. Saya punya anak 3 msg2 punya cerita sndr. Anak 1 ASI campur sufor, anak 2 dan 3 alhamdulillah bs full ASI. Tp apapun itu sy tetap bersyukur yg penting anak sy sehat ;)

    ReplyDelete
  15. Highlight kalimat ini: "seorang ibu yang bahagia, yang tidak terbebani dengan pandangan ideal ibu masa kini"
    Beda cerita Mbak.. Kalo saya gagal WWL. Di usia 23 bulan, anak sy udah disapih tanpa pke metode WWL.
    Alasannya salah satunya karena menyusui itu capekkkkkk buangettttt.
    Wah, kalo saya cerita bisa panjang banget dan dibully sama ibu-ibu penggiat ASI nih.. -____-

    ReplyDelete
  16. hmm.. sharing yang mencerahkan.
    aku pikir solusi asi ga keluar itu cuma bahagiain aja sang ibu, tar asinya keluar. ternyata ga sesimpel itu ya?

    temenku ada yg ngasih bayinya sufor krn sang bayi ga mau menyusui.

    aku berusaha ga ng-judge.
    aku syukuri saja bahwa aku bsa menyusui bayiku, ga usah perah2 (maklum IRT).

    menyusui memang indah saat bertatapan mata dgn bayi, & dia senyum saat aku sapa :')

    aku berdoa semoga bsa terus mnyusi bayiku hingga2 tahun. aamiiin

    ReplyDelete
  17. jadi lebih banyak tau saya mak hehe....adek saya ASInya nggak keluar,jadi terpaksa pake sufor dari anaknya lahir sampai sekrang usia 5 bulan.

    ReplyDelete
  18. Semangat ya mbak. Asi gak asi emang tergantung anaknya kok. Aku alhamdulillah 16 bulan sampe skrg masih full asi. Tapi asi aku gak banyak loh. Sehari dulu waktu awal awal cuma dapet 2-3 botol asip aja. Siangnya aku pulang ke rumah seh. Jadi bs tertutupi. Dan pas cuti akunya udah lumayan dapet asipnya.

    Tapi aku gak masalah deh dengan sufor. Jangkan yg baby baru lahir yaaa. Aku aja udah yang 16 bulan ini dan mulai ada kepikiran mau campur (stok udah tipis booo, dan aku mau mulai puasa juga) masih aja loh yang ngomongin disuruh pake air putih aja lah karena udah setahun lebih dan kecukupan susunya udah terpenuhi dengan makan. Tapikan masak anakku gak dikasih susu sesiangan. Kasian aja lihatnya. Dan akupun udah sepakat sama mr. Suami bahwa kalo sampe titik aku gak bisa ngumpulin asip lagi aku maunya kasih sufor. Gak mau kasih aor putih doang

    ReplyDelete
  19. perjuangan ibu memang luar biasa ya, jadi bersyukur...waktu saya kasih ASI ke anak2 ga menghadapi banyak kendala..tetp semangt mba!! :)

    ReplyDelete
  20. senasib... sedih..tapi mo diapain lagi.. kejadian sama dengan aku... dukun urut ampe..ngurut PD aku sampai sakit..tapinga keluar.., mendingan ..smpe skrg bisa asi... aku 3 bulan udah kerontang...

    ReplyDelete
  21. Curhatnya panjaaang, salut buat perjuanganmu Windi. Ah, aku aja anak pertama enggak bisa asi eksklusif. Asiku berlimpah, tapi tetep deh si sulung minumnya kuat. Alhamdulillah, kelg, suami mendukung campur sufor. Kalo dibilang anak sufor kalah pinter, enggak juga. Anak sulungku pas lulus SMP lulusan terbaik. Nah, bisa saja kan di antara murid seangkatannya ada yg mamanya dl kasih asi full :)

    ReplyDelete
  22. Panjaang ceritanya. Alhamdulillah saya sudah ngalami dua-duanya mbak. Anak pertama 90% sufor...anak ke dua 90% ASI. Masing2 ada sisi enak dan nggak enaknya mbak...tapi kalau suruh milih, enakan yang ASI. Tinggal buka kancing, kita bisa tidur lagi...he..he

    ReplyDelete
  23. Anakku tiga2nya juga campur ASI dan Sufor. Ya, karena kondisinya memang harus ditambah sufor....karena kalo asi doang nggak cukup...

    ReplyDelete
  24. akupun ga kasih ASI kok mba windy :) .. Ada alasannya, walopun aku yakin pasti bakal di judge ama siapapun kalo sampe aku tulis alasan sebenernya di sini :D.. jd biarlah cuma aku dan Tuhan yg tau...hihihii... yg pasti, walo anak ASI, si kecil sehat, ga obesitas jg, lincah ga ketulungan. jd buatku, ga ptg si ibu mw kasih asi ato ga, asalkan anaknya sehat, dan si ibunya sayang dan bnr2 mw ngerawat, udh cukuplah...

    aku dan adikku jg g asi samasekali dulu... sehat2 aja ampe skr... soal kecerdasan? 2 org adikku dokter spesialis, aku sendiri kerja di perusahaan asing yg bgs :D... Bukan pengaruh dari ASI yg pastinya itu :D... #OkeMulaiDitimpukProAsi #KaburAja :D

    ReplyDelete
  25. Anak pertama aku coba .. (ga main-main loh nyobanya) setiap hari pagi siang malam pake ASI yang gagal keluar juga hiks hiks...

    Percobaan itu bertahan hanya 6 bulan karena kasian si debay :((


    colustrum keluar hanya beberapa tetes dan.. si ASI mandeg deg deg....

    ReplyDelete
  26. Semangat terus, Mak. Aku pun pernah memberi Arya sufor meskipun akhirnya berhasil menyusui sampai 20 bulan. Alhamdulillah, skrg jarang sakit, sehat, pintar. InsyaAllah Tara pun begitu ;)

    ReplyDelete
  27. Sama kayak anakku yang pertama. Dulu pas lahir langsung dikasih sufor sama bidannya :( Mana mama juga mendukung. Maksudnya biar aku bisa istirahat enak gitu di kamar, ga terganggu sama baby yang minta nyusu. :(
    Begitu pulang dari klinik, langsung aku ganti ASI terus. Sufornya aku buang. HORE! Tapi itu cuma terjadi selama sembilan bulan. Masuk bulan kesepuluh kami pisah. Terpaksa pisah tinggalnya, jauh. Jadi mulai saat itu anakku sufor terus. :(
    Kegagalan ngASI anak pertama, aku tebus di anak kedua. Alhamdulillah anak kedua bisa full ASIX dan WWL ketika usia 2 thn lebih beberapa bulan. :)))
    Waktu usia anak pertama udah 2 tahun, pelan2 aku ganti sufornya sama UHT. Jadi sampai sekarang anak2 dua-duanya minumnya UHT, itu pun nggak tiap hari.

    InsyaAllah, dedenya Tara nanti bisa ASIX ya! ^____^

    ReplyDelete
  28. Tetap semangat, mbak Windi! Terharu baca perjuangan mbak buat ngasih ASI ke Tara... *peluk*

    Insya Allah dedeknya Tara bisa ASIX dan Tara juga sehat tak kurang apapun. Aamiin. Btw saya dan kakak juga anak sufor mbak, mama dulu terpaksa campur sufor, tapi alhamdulillah kami sehat. Cita2 pengen ngasih ASI ke anak, kalau nanti punya anak. Doain ya mbak... Semangattt.. ^^

    ReplyDelete
  29. Sejuta Seutuju buat mak wind, Don't Judge (itu paling penting). kita mah apa atuh kyakyakya,,, kita kan nggak tau gimana perjuangan mereka para ibuh2 ASIX dan Sufor. Mereka memilih untuk ASIX atau Sufor pasti ada sabab-musababnya. Toh yang penting anak kita tidak terlantar, sehat jasmani-rohani, jiwa-raga. Dan memang semua tidak hanya terhenti pada salah satu titik ASIX atau Sufor. Gizi yang seimbang dan juga pendidikan moral, akidah serta akhlak mereka jauuh lebih penting untuk bisa menjadi manusia yang mulia (uhuk..) Maaf ya mak win, panjang abiz komennya. Semangat untuk semua ibu2 ya,,,

    ReplyDelete
  30. Salam kenal mba wind. Aahh tulisanny yg ini oke bangett buat aku yg lg galau gara2 masalah asi sufor inii.. Senasib bgt sama mba wind ceritanya..susaaahh bgt buat ikhlas akunya. Udah gtu tiap curhat di sosmed yg ad pada komen akuny stress..pernah jg baca blog bilang yg asiny banyak itu bearti ibuny rajin. Yg ngga dbilang males doong..huhuhu.
    Thanks for the good word!

    ReplyDelete
  31. Mba ini pengalamannya kurang lebih sama kaya aku, aku paling kesel sama ibu2 yang udah judjing, tambah sok2 nasehatin lagi, suru berpikir positif lah biar asinya nambah, helllloooowwww dikira aku ga berjuang belajar sana sini dan berpikir positif keleuusss

    ReplyDelete
  32. setuju banget sama tulisan mbak windi,,,sering saya jumpai banyak yg ngejudge negatif yang ngasih sufor,,,apalagi kalau yg bilang orang jadul itu ketinggalan jamanlah, sok keminter lah, dll pokoknya yg jelek jelek...kita hanya perlu beri pengertian kepada beliau khususnya ibu kita ataupun ibu mertua,, beliau juga berusaha memberikan kasih sayang melimpah untuk cucu cucunya....tok kita udh segede gambreng gini kan juga berkat kasih sayang yg melimpah ruah dari beliau-beliau hehehe...saya pun berharap semoga nantinya saya bisa memberikan yang terbaik untuk anak saya...aamiin

    ReplyDelete
  33. Bagi tips botol dot dek tara dong mak .. pake apaan smpe ga bingung puting ? Sy juga asi campur sufor, tp akhir2 ini si anak lbh rewel kalo disusui badan. Takutnya bingung puting gegara botol dot yg dipake bikin dia ketagihan.. sarannya ya mak windi.. thanks

    ReplyDelete
  34. Bagi tips botol dot dek tara dong mak .. pake apaan smpe ga bingung puting ? Sy juga asi campur sufor, tp akhir2 ini si anak lbh rewel kalo disusui badan. Takutnya bingung puting gegara botol dot yg dipake bikin dia ketagihan.. sarannya ya mak windi.. thanks

    ReplyDelete
  35. Bener bangettt mba win...ku sendri dari lahir mpe skrg bayiku 3bulancampur karena mank ga ckup..buat mimmy...biar ga bingung puting, ajak main bcanda trus kuarin setetes asi kita sblm nyusuin kasih dimulutna ntr bayi cri sendri dan tiap mlm tidur berusaha full asi..asi jam2-5pagi tu bagus loh...

    ReplyDelete
  36. Bener bangettt mba win...ku sendri dari lahir mpe skrg bayiku 3bulancampur karena mank ga ckup..buat mimmy...biar ga bingung puting, ajak main bcanda trus kuarin setetes asi kita sblm nyusuin kasih dimulutna ntr bayi cri sendri dan tiap mlm tidur berusaha full asi..asi jam2-5pagi tu bagus loh...

    ReplyDelete
  37. Terima kasih mba atas sharingnya, jadi lebih paham. Kebetluan saya baru jadi ibu muda. :)

    ReplyDelete
  38. Terima kasih mba atas ceritanya,,krn sy mengalami hal yg sm

    ReplyDelete
  39. Terima kasih mba atas ceritanya,,krn sy mengalami hal yg sm

    ReplyDelete
  40. Terima kasih mba atas ceritanya,,krn sy mengalami hal yg sm

    ReplyDelete
  41. aku juga samaaa mba... malahan aku ga pernah bisa nyusuin langsung anakku karena masalah puting datar, jadinya dari awal emang aku selalu pompa ASI aja, trus kasih ke anakku pake botol susu (jadi makin ga kenal puting anakku..hiks), belum lagi aku kerja, jadi terpaksa harus campur sufor, karena ga bakal terkejar stok ASIP nya. tapi puji Tuhan, anakku sehat banget kok, sekarang udah 5 bulan, dan jarang sakit. hehehe

    ReplyDelete
  42. Ibu manapun ingin memberikan asix tapi apa daya jika telah berusaha ternyata belum optimal. Yang penting memberikan yang terbaik untuk anam kita. Aq juga campur sufor

    ReplyDelete
  43. Waktu itu aq juga tiap hari nangis curhat sana sini, nelpon suami sambil nangis2 setiap hari trus kata suami semampunya aja kemampuan orang berbeda beda siapa bilang yang sufor bakalan bodoh? Yang penting kita sudah berusaha

    ReplyDelete
  44. Terharu baca tulisan ini :)
    Saya kebetulan seorang ibu muda yang Puji Tuhan masih bisa mencukupkan ASI untuk anak saya yg usianya hampir 1 tahun.
    Ngerti banget perasaan mba walaupun saya blm pernah mengalami sampai segitunya, tapi saya juga pernah harus kejar tayang ASI dengan si bayi..hehehe

    Betul banget ukuran seorang ibu bukan bisa atau tidaknya dia ASIX bhakan full ASI sampai 2 tahun. Ada buanaaaayak tanggung jawab ibu. Misal memberi MPASI atau snack yang bergizi untuk bayinya.hehe

    Thanks yah mba untuk sharingnya membuat saya semakin bersyukur sama apa yang ada. :)

    ReplyDelete
  45. terima kasih sharingnya...sama banget pengalamannya...cuma memang kadang-kadang cara orang lain yg niatnya memotivasi kita malah bikin kita tambah stress karena dituntut utk memenuhi kondisi ideal, padahal siapa sih yg gak mau anaknya full asi selama 2 tahun? yang terpenting sekarang, kita sudah usahakan maksimal, biarkan org lain berpendapat ini dan itu, kita gak berkewajiban memenuhi ekspetasi org lain dengan kondisi dan situasi yg kita alami. ibu happy insya Allah baby happy and healthy....amin

    ReplyDelete
  46. Membaca blog ini saya merasa menemukan teman senasib..sudah berusaha maksimal namun asi juga tidak mencukupi.saya juga pernah merasa gagal dan frustasi. Namun jujur sufor membuat semua menjadi lebih mudah. Saya merasa terbantu. Tidak semua ibu bisa memberikan asi ekslusif. Sejak disuport sufor..saya merasa tidak stres, saya lebih bisa menikmati hari hari dengan bayi saya tanpa perasaan gundah memikirkan stok asi yang tidak bisa melimpah seperti harapan. Alhamdulillah bayi saya sehat. Luar biasa sehat..jarang sakit. Lalu saya sadari...mengapa ibu kita istimewa. Karena ibu tahu yang terbaik. Saya sadari..anak saya bukan anaknya ibu2 yang bisa memberi asi..yang harus pro asi..tidak harus hidup dalam pandangan ideal ibu2 lain..saya punya cara dan pilihan sendiri dan saya yakini bahwa memberi sufor bukanlah suatu kesalahan. Yang penting bayi sehat dan tidak kelaparan. Bayi kita tidak harus hidup dalam idealisme ibu2 lain.

    ReplyDelete
  47. Hi mbak, salam kenal...

    Saya elisa, ibu 2 anak (3.5thn & 9.5 bulan) yg dua2nya puji Tuhan full asi, menurut saya mau ASI atau sufor itu sama saja karena kl kita paksa anak kita full ASI yg ada ibunya yg stress krn produksi asi kan meningkat seiring usia anak (ga tiba2 deres)

    Cumaaaa memang kl anak asi ok di antibodi, baru berasa pas kakaknya sekolah, anak2 laen pada rajin izin sakit, si kakak puji Tuhan sampai skrg ga pernah izin...itu aja sih...kl yg lain2nya sih sama aja, malah vitamin yg lain2 komplitan sufor...

    Jadi mau ASI atau sufor tetep semangat yaa, yg utama adalah gimana mendidik anak2 kita kelas menjadi pribadi yg baik...amin...

    ReplyDelete
  48. Masya Allah terharu saya sampe nangis baca artikel ini, kejadiannya sama persis dgn yg saya alami:( tapi disatu sisi saya seneng ternyata bukan saya aja yg mengalami kasus spt ini. btw suka banget sama bagian yg ini
    "Bagi saya, menjadi seorang ibu yang bahagia jauh lebih penting dari predikat lulus S1. Terdengar egois, namun seorang ibu yang bahagia, yang tidak terbebani dengan pandangan ideal ibu masa kini pastinya akan memberi energi positif pada bayinya."

    ReplyDelete
  49. mama Tara saya ijin share ke fb ya. Terima kasih. Semangat buat kita terus jadi ibu yg bahagia...

    ReplyDelete
  50. Terharuu bacanya,, saya pun mengalami hal yg sama, anak sy msh usia 10bulan udh campur sufor, dan asi smkin sdikit, pkonya sedih bgt pas memutuskan pke sufor, tp ya hrs ikhlas yaa, biar ke si anak jg sehat,, mama Tara ijin share yaa, kata2 nya bagus :)

    ReplyDelete
  51. istri saya juga keduanya dijalan mba, kasih sufor saat anak saya dibawa pembantu. kalo dirumah full ASI aja :)

    aku baru tau sekarang perjuangan istri saya dan mungkin perjuangannya sama dengan ibu2 lainnya :)

    ReplyDelete
  52. Bagi saya, menjadi seorang ibu yang bahagia jauh lebih penting dari predikat lulus S1. Terdengar egois, namun seorang ibu yang bahagia, yang tidak terbebani dengan pandangan ideal ibu masa kini pastinya akan memberi energi positif pada bayinya. - - - suka banget dgn pernyataan ini :)

    ReplyDelete
  53. I feel u mak... anak pertamaku dulu ASI derea banget entaj knp anak kedua ini ASI nya belum sebanyal dulu. Entah vitamin n makanan apa aja semua udah aku makan tetep aja belul ada hasil. Tiap malam baby K nangis jejeritan nenen berkali2 tp kayanya ga kenyang smp pernah di suatu malam yg kelam aku bikinin sufor.cuma 30ml dan dia lgs tertidur pulas sementara aku nangis sesenggukan merasa jd ibu yg gagal. Pas kontrol dokter aku masib kekeh bilang asi eksklusif hiks...
    Smp ssekarang masih trs mencoba ga pame sufor.lg meskipun meres hasilnya jg paling banter 60ml n bulan depan aku udh mulai kerja lg. Swdihnya adik iparku jg baru melahirkan beda sminggu aja ma aku asi nya banjir2 sementara aku masih trs berjuang
    Baca postingan mak windi aku jd lebih ikhlas nemerima kenyataan klo baby K udh kena sufor n entah gmxn nasibnya klo aku udh mulai kerja tp yg jelas insyaallah ttp berusaha keras.
    Thanks for sharing mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama mbak muna.. Aku juga lg berjuang ngasih asi. Anak pertama gagal asix karena jadwal mompa bentrok sama rapat (hiks hiks). Anak kedua sukses 2th (udh jadi IRT hehehe) . Nah yg ketiga ini enggak tau kenapa kok asinya enggak cukup, rasanya udah semua dicoba.. yaa hampir kaya perjuangan mbak windi. Ayok semangat terus, asi atau sufor yg penting Anak sehat Dan happy ����

      Delete
  54. Untung dokter SPA ku waktu itu ga maksa asix...krn bener2 cuma sedikit banget asiku...anakku juga ga kenyang pas minum langsung...
    Baca postingan mba windi bikin semangat...soalnya ak juga sering dibully gara2 ga bisa asix

    ReplyDelete
  55. Haloo kak salam kenal, skrg saya jg lg bingung ingin coba pump elektrik. Saat ini saya pny pump manual, tp tiap kali saya gunakan rasanya sakiiiit sekali. apa karna tdk cocok? Sdh saya coba pakai tangan jg keluarnya sedikit sm sprti pakai pump manual. Paling 20-30ml, pdhl tangah sdh sampai pegal, yg ada PD saya tetap keras dan sakit. Saya bingung, karna kasian anak saya krg minum sampe panas. Akhirny saya putuskan kasih sufor. Sedih tp mau gmn lg 😞

    ReplyDelete
  56. Salam kenal bund. Kayanya pengalamannya ga jauh beda sm saya. 3 bln berhasil full ASI akhirnya dg penuh perjuangan untuk kasih ASI ekslusif minimal 6 bulan tapi ga berhasil krn si baby minumnya makin banyak sedangka ASIku ga makin banyak. Sedih rasanya saat memutuskan kasih sufor apalagi babyku sempat bingung puting dan ga mau nenen langsung. Hancur rasanya hati ini lebih sakit drpd putus cinta... (lebay yah). Bukan membenarkan ngasih sufor tapi kalo ASI memang sdh tidak mencukupi lalu kenapa. Toh bayi kita tetaplah anak kita apapun susunya

    ReplyDelete
  57. Mbak lumayan bisa kasih asi ke tara.
    Aku baru lahiran cuma satu minggu asiku keluar,stelah itu gak keluar lagi si kecil pun trpaksa minum sufor,sedih bgtt liatnya huhuhu 😭😭

    ReplyDelete
  58. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  59. I feel youuu malah anak ke dua semua sudah d coba perawatan payudara sudah ampe minum pelancar asi pas trimester hamil tetep aja dikit...akhirnya 3 minggu pas lahiran bru tau anakku lidahnya pendek dan produksi asi menurun...krn semua bilang klo asi ku dikit...berbekal beli pompa elektrik dualpump second akhirnya nyicil dikit2 skrg bsa kumpulin asi 1 frezer kulkas yg paling atas 2 pintu....ampe ga percaya

    ReplyDelete
  60. salam kenal mba windy..wah perjuangannya yang subhanallah ya mba..hebat banget dari suami dan keluarga pun mendukung untuk tetap memberikan ASI, beda jauh dengan saya yang terpaksa dicekokin sufor. waktu anak saya usia beberapa hari sempat di kasih sufor oleh mertua saya dengan alesan biar pas saya kerja anak saya pas di asuh mertua gak susah minum di dot katanya, saat itu hati saya hancur sehancur hancurnya, lalu pas ada tamu jenguk kerumah selalu di cekokin dot sama mertua saya dgn alesan biar gak malu ada tamu nyusuin dari PD aja, waktu itu saya mau nangis dan marah banget sama mertua saya itu cuma gmana lagi menantu harus nurut sama org tua :(( diskusi dengan suami, suami gak bisa mihak salah satu karna mamahnya udh pengalaman ngasuh cucunya dgn kasih sufor:(( (rasanya pengeng aku marah2in itu ibu mertua aku, selalu menyamakan cucu2nya kan beda ini anak saya!!)tapi aku gak berani ngmg gitu dan ujung2nya nangis :(
    (kalo diceritain lagi panjang hehe)
    intinya aku sampe sekarang anak aku mau 5bulan udh full sufor karna semenjak di seling dot anak saya udh bingung puting di usia 2 bulan, saya pompa hasilnya gak begitu banyak hanya di minggu2 pertama saya usahakan ASI dan pompa alhamdulilah 50ml, cm krna saya gak bisa ASIP karna faktor turut campur mertua soal persusuan ini jadi anak saya smpe skrg bingung puting.....saya kesal,marah, murka dengan keadaan ini cuma apa boleh buat, sekarang doa saya adalah anak saya tumbuh berkembang dengan sehat, sempurna, cerdas sprti anak ASIX lainnya :')

    next kalau di kasih rezeki anak lagi, mungkin saya akan setanggung mba windy dan suami untuk tetap usaha ASI, dan mungkin saya akan lebih berani ke mertua untuk masalah ASI doakan ya mba hehe..

    semoga TARA dan anak saya Annasya sehat selalu ya mba..amin.. :))

    ReplyDelete
  61. Hai mbak...sekian tahun baru nemu dan baca artikel mu yg luar biasa ini.
    Kalau aku malah mengalami kebalikannya mbak...dibully karena full asi..karena apa?karena bayi terlihat kurus..
    Ya memang beginilah hidup ya mbak..mau lakuin A ternyata disuruh B..uda lakuin B masi aja dihujat suruh C...begitu terus sampai matahari berhenti berevolusi (kiamat)
    Saya menyusui sampai 24 bulan..bayi sehat, pertumbuhan sesuai kurva..kecerdasan kinestetik.-linguistik juga diatas rata2 (saya konsul lho), cm ya itu tadi..kok bayinya ga gemuk?kok ga montok?kapan nih mulai ditambah sufor?uda sufor aja,asinya ga beegizi tuh..ga enak..
    Nah loh..apa ga pengen kamehameha..apalagi yg ngomong demikian itu orang tua (blok barat-timur). Apalagi ada pembanding anak ipar saya yg full sufor-mix asi sufor.macam mereka mau diadu sumo.
    Menurut saya kok sounds weird ya membandingkan anak, padahal kita yg manusia dewasa kalo dibandingin kan jengah dan pengen nimpuk pake tank. Istigfarrr deh akhirnya..
    Mau dijelaskan A to Z ttg ilmu gizi juga percuma rasanya..senyumin aja jg males dan ga ikhlas..hahahha...bener2 netijen itu maha benar dengan segala komenya.
    Alhamdulillah suami saya bapak asi banget..full support. Beliau bilang "he deserve the best"..dan da best menurut kami adalah ttp berjuang mengasi. Saya ibu bekerja tapi hanya 20 jam seminggu..selebihnya full dengan anak..kadang kuping panas denger anjuran "ayo sufor" uda macam iklan "ayo sekolah" jaman orba dulu..
    Apalagi anak saya kalau sakit tipe yg bb nya susut cepat..wuihh.."ayo sufor"nya uda macam warning "klo ga disufor..anak lo koid".
    Arggh..kalau ga ada suami..saya uda kibar2 bendera semapore kasih tanda menyerah tanpa syarat..
    Sampai pada suatu ketika..setelah shalat..seperti biasa..saya berdoa harian utk orang tua "ya tuhanku..ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tua ku..cintaillah mereka..seperti mereka mencintaiku dikala aku kecil".
    Dari situ saya sadar..bahwasannya menjadi orang tua adalah tentang mencintai..bagaimana pun bentuknya. Mencintai tanpa syarat dan tanpa perintah harus mencintai..
    Ya sudah..saya tutup telinga..kuatkan hati..tetap mengasi..karena menurut kami (saya dan suami) ini adalah bentuk awal perjuangan kami dalam mencintai titipan anugerah dari Tuhan..
    Pun dengan ibu2 hebat diluar sana..
    Udahlah mak..jangan dengerin kata orang...mau asi..mau sufor..yang penting tujuannya demi anak sehat..
    Selamat menyusui ya ibu2...
    Anulir..mencintai...

    ReplyDelete
  62. sis, kalau boleh tau yang kasih asi + diselingi sufor, merk apa ya sufor nya? bayi ku umur 3 bulan, sekarang menolak sufor, sudah 4 merk saya coba, Nutrilon Royal, S26 Gold, Morinaga BTM, Nestle Lactogen.

    ReplyDelete
  63. Duh baca ini jd nostalgia aku mba...

    ReplyDelete
  64. Halo mba, aku baca ini jadi semanget. Aku dapat blog mba dari browsing dan kebetulan mampir lah kesini ..

    Aku kena baby blues dan mungkin udah ppd. Alhamdulillah mba bisa ngasilin ASI sampe 100ml, aku sekali pumping cuma 10ml padahal anak aku udh usia 2 bulan. Total sehari pumping cuma 50ml, dan aku mensyukuri itu ..

    Tapi ketika dsa anak saya nanya asi atau sufor, saya selalu jujur kalo anak saya masih campur. Sqya idah makan daun katuk, prpaya almond booster asi tapi asi saya tidak nambah sedikit pun. Memang saya di rumah ngurus semuanya sendiri.. udah bisa pumping alhamdulillah banget. Tapi mungkin karena saya full di rumah, dokter anak saya ngira kalau saya gak usaha. Pada saat itu ppd saya kumat ..

    Rasanya pingin kuat seperti mba dan gak peduli apa kata orang.. dan ketika baca ini, aku jadi merasa gak sendiri. Terima kasih banyak mba, tulisan mba bikin saya sedikit terobadi

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature