Istana Kedua

Tuesday, May 8, 2012


Aku sangat membenci poligami, Poligami menurutku adalah bukti kesombongan seseorang entah itu laki-laki ataupun perempuan. Karena sombong identik dengan tidak bersyukur, dan orang yang tidak bersyukur biasanya adalah orang yang tidak sabaran. jadi sama saja seorang yang berpoligami adalah orang yang tidak bersyukur atas apa yang dimilikinya dan tidak bersabar atas apa yang tidak dimilikinya.Selain itu menurutku poligami adalah bukti ketidakmampuan seseorang mencari kebahagiaan tanpa mencederai kebahagiaan orang lain.

Bukan berarti aku anti poligami. Tapi jelas aku bukan pendukungnya. Bagiku poligami adalah pilihan hidup seseorang karena aku yakin setiap orang pasti punya alasan di tiap keputusan yang diambilnya, Tapi ya itu tadi aku membencinya. Dan aku selalu berdoa kepada Allah agar tidak diberi cobaan berupa “ berbagi cinta” dengan orang yang jelas-jelas secara kasat mata merupakan saingan nomor wahid dalam menikmati kasih sayang suamiku.
Turunan dari rasa benciku terhadap poligami, ya jelas, aku juga tidak respek dengan para pelakunya, baik si lelaki maupun si wanita pendatang baru. Aku selalu berpandangan negative terhadap wanita-wanita kedua, yang menurutku sangat tidak tahu malu dan tidak punya perasaan serta tidak punya sedikitpun rasa empati terhadap sesama kaumnya. Demikian juga terhadap si pria, aku rasa dia adalah orang yang tidak tahu terima kasih, atau dengan kata lain seperti kacang lupa akan kulitnya.atau bisa juga seperti peribahasa “ habis manis sepah dibuang”, hufft.
Hal ini kurasakan bertahun tahun, apalagi di sekitarku banyak keluarga yang diuji dengan ketangguhannya dalam hal “kemampuan berbagi” sesuatu yang tak seharusnya dibagi. Dan skenario yang sering terjadi adalah si wanita pertama yang harus menelan pil pahit kehidupan sejak suaminya memutuskan berpoligami. Ah, aku bertambah muak
Sewaktu aku kuliah ada seorang temanku, sebutlah namanya Zulaikha yang kutahu berpacaran dengan suami orang, Wah aku sangat marah padanya. Namun aku tak mengatakan apa-apa, karena bagiku itu bukan urusanku, dan kuanggap dia telah dewasa dalam mengambil keputusan. Namun rasa marahku itu kusalurkan dengan tidak bertegur sapa padanya selama berminggu-minggu, bahkan aku selalu menutup pintu kamarku jika kutau dia ada di kos.
Bertahun-tahun setelah aku menyelesaikan studiku, pandanganku tetap tak berubah tentang poligami dan pelakunya.
Di suatu sabtu pagi yang lengang, aku melewatkan waktu dengan membenahi isi lemariku, saat itulah aku melihat buku Asma Nadia yang telah lama kubeli namun karena kesibukanku belum sempat kubaca. Buku itu berjudul “ Istana Kedua”. Bukunya tidak terlalu tebal, tidak seperti kebanyakan novel pada umumnya.
Setelah selesai beberes, aku mulai membacanya. Ceritanya sederhana, cerita keluarga kecil seperti pada umumnya. Kisah seorang istri bernama Arini yang mempunyai seorang suami bernama Pras. Keluarga kecil yang sangat bahagia, Sang istri cantik dan istri yang salehah, sedangkan sang suami adalah pria mapan yang sangat bertanggung jawab dalam keluarga. Intinya adalah mereka merupakan gambaran keluarga sakinah mawaddah wa rahmah yang selama ini sering kita dengar.
Namun di suatu sisi kehidupan lainnya, tersebutlah seorang wanita keturunan Tionghoa bernama Mei, yang hidupnya selalu menderita, keluarganya adalah korban kerusuhan reformasi. Setelah ditinggal mati oleh ayah ibunya ia tinggal dengan bibinya yang memperlakukannya layaknya pembantu. Mei seorang gadis yang tidak cantik, namun mempunyai karir yang gemilang di kantornya.
Mei selalu diremehkan orang, ia tidak pernah sukses dalam masalah percintaan, bahkan tak ada seorang pria pun yang berniat mendekatinya. Hingga suatu hari, Rafa teman sekantornya selalu mendekatinya,akhirnya mereka pacaran, namun memang nasib sial kiranya sangat suka berteman dengannya , pria tersebut malah menginjak-injak kehormatannya dan meninggalkannya seperti rosngsokan yang tak berguna .
Mei yang terlanjur hamil merasa dia harus mempertahankan harga dirinya di depan Rafa. Maka di tengah keputusasaannya Mei mengiklankan dirinya melalui Email dan mengirimkannya secara acak di internet,isi iklan tersebut bahwa dia mencari seorang lelaki yang mau menikahinya, tanggung jawab tak dibutuhkannya, dia bersedia menjadi istri kedua tanpa perlu dapat giliran berkunjung bahkan dia bersedia menanggung hidup lelaki tersebut. Hebohlah dunia internet para lelaki.
Singkat kata ,Mei mendapat lelaki yang mau menikahinya. Di luar dugaannya, lelaki tersebut ternyata tampan dan baik hati. Bersinar kembalilah dunia Mei yang selama ini tertutup awan kelabu. Si lelaki sangat menyayanginya. Di tentukanlah hari pernikahan mereka, gedung telah dipesan, pakaian dijahit,catering telah dipilih. Namun pada hari yang ditentukan, saat Mei tiba di tempat resepsi ternyata ia mendapati kenyataan yang sangat menyakitkan. Gedungnya sama, nama mempelai pria sama namun mempelai wanitanya bukanlah dia. Ternyata untuk kesekian kalinya dia telah ditipu lelaki, diinjak-injak harga dirinya, kehormatannya dan martabatnya.
Dengan membawa malu Mei memacu mobilnya sekencang-kencangnya. Dia berniat bunuh diri, karena sudah tak ada lagi alasan dia hidup, bahkan dia sudah tidak punya muka untuk kembali bekerja di kantornya. Maka diterjangnyalah palang lalu lintas, dia ingin membunuh dirinya dan bayi yang dikandungnya,
Bukan salah takdir, kalau saat itu Pras melewati jalan yang sama, ia lalu menolong Mei dan menyelamatkan bayi yang dikandungnya. Hari demi hari berlalu, tumbullah rasa simpati Mei terhadap Pras, dan tanpa disadari akhirnya Mei merasa Pras lah lelaki yang bisa melindunginya.
Paragrap demi paragraph kubaca dengan emosi yang kadang naik kadang turun. Aku penasaran bagaimana akhir cerita keluarga ini.
Seperti pepatah yang mengatakan “ Sepandai pandai menyimpan bangkai, pasti akan tercium juga”. Maka itu lah yang tejadi,Arini menemukan no telepon Mei di saku Pras, Dan runtuhlah langit Arini saat tahu ada Ny Pras lain di luar sana. Akhir cerita saat Arini memutuskan datang ke rumah Mei, terjadi dialog yang sangat menohok hati saya. 
“ Arini, hidupmu begitu sempurna, kau punya suami yang mencintaimu, anak-anak yang sehat dan keluarga yang sangat menyayangimu. Sedangkan aku, Pras adalah satu-satunya hal baik dalam hidupku, maka tak relakah kau berbagi sedikit saja kebahagaianmu padaku “.
Sayang Asma Nadia membuat plot terbuka di akhir cerita. Aku tak tau apa yang terjadi pada Arini dan Mei.
Setelah membaca novel tersebut, aku tercenung lama. Aku begitu terhanyut dengan kisah yang dituturkan di novel tersebut. Aku sangat memahami perasaan arini yang hancur saat tau suaminya punya istana lain selain istana yang dibangunnya. Namun menelusuri kisah hidup Mei, rasanya tak bisa juga menyalahkannya yang ingin mempertahankan satu-satunya orang yang membangkitkannya dari mati surinya. Dan Pras, di novel diceritakan dia terjebak dalam situasi yang di luar kendalinya. Ah lelaki, kenapa saat seperti itu mereka bisa-bisanya berkilah “semua di luar kesadaranku”.
Asma Nadia seolah-olah ingin mengajak pembacanya mengerti bahwa dia membenci poligami. Namun mungkin ada satu atau dua kasus poligami yang dilatar belakangi oleh keadaan dimana tak satu pihak pun bersalah. Tidak si wanita pertama, wanita kedua ataupun si lelaki. Semuanya terjadi apa adanya. Mungkin karena takdir, mungkin memang sudah jalannya seperti itu. Atau mungkin itu merupakan ujian hidup yang memang harus dhadapi. Ah entahlah.
Tiba-tiba aku teringat dengan sikapku dahulu pada Zulaikha. Aku menyadari sekarang, tak seharusnya aku menghakimi seseorang tanpa aku tahu apa latar belakang di setiap keputusannya. Mungkin dia juga tak berniat untuk menjadi wanita kedua, semua orang pasti ingin menjadi yang pertama. Tapi bagaimana kalo dia tak punya kesempatan untuk menjadi yang pertama?? Apakah salah dia memilih menjadi yang kedua. Ataukah dia lebih baik tidak menjadi siapa-siapa?
Pertanyaan tersebut sampai sekarang tak kutemukan jawabannya. Biarlah masing-masing orang menjawab sendiri. Menentukan apa yang terbaik dalam hidupnya. Menyadari bahwa sesuatu yang menjadi hak kita pada akhirnya dibatasi oleh hak orang lain juga. Kebahagiaan yang kita inginkan jangan sampai mencuri kebahagiaan orang lain.
Novel tersebut tetap tidak mengubah pandanganku tentang poligami. Aku tetap membenci poligami. Aku tetap bukan anti poligami, namun aku juga bukan pendukungnya. Namun aku mendapat pelajaran berharga, bahwa sebagai manusia yang punya keterbatasan aku tidak punya kapasitas untuk menilai orang lain berdasar pengetahuan manusiawiku. Biarlah Sang empunya hati yang menilai, karena Dia yang maha tahu segala sesuatu yang tersembunyi.
Hal yang sangat kusyukuri sekarang, aku mempunyai seorang suami yang sangat menyayangiku. Dan keluarga yang sesuai dengan impianku. Akan kujaga sekuat tenagaku, agar tidak ada yang mengusiknya.
Judul Buku : Istana Kedua
Penulis    : Asma Nadia

3 comments on "Istana Kedua"
  1. Benci poligami tapi gak anti poligami, jadi rancu bahasane, Mba. Jangan benci poligami, tp tak ada keharusan jg untuk mendukungnya, hehehe.....

    ReplyDelete
  2. Gitu ya mba. Saking esmosinya, bilang benciiiii tp ga mau bilang anti sih mba, kan boleh dlm agama. Jd bingung mau nulisnya. Makasi mba masukannya. Biar lbh bagus lagi

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature