Cinta Pertama vs Matematika

Friday, May 25, 2012


Tak kenal maka tak sayang………….

“Matimatian”  itu plesetan temen-temen SD ku dulu untuk si ilmu durjana ini ( parah istilahnya). Seingatku dulu satu kelas ber-40 siswa ( jangan tanya kenapa satu kelas banyak banget siswanya ya) hanya aku sendiri yang tidak anti matematika.

Matematika bagiku ibarat cinta pertama. Sama-sama tidak terlupakan, bikin deg-degan saat ketemu,, kalau tidak bisa menghadapinya bikin panas dingin. Pokoknya cinta monyet banget lah, benci-benci tapi rindu.

Waktu itu usiaku baru lima tahun tapi aku sudah kayak cacing kepanasan saja di rumah ingin sekolah, akhirnya demi kemashalatan umat ibuku mendaftarkanku di SD sebelah rumah.  Wow senangnya hatiku membayangkan akan memakai seragam merah putih seperti abangku. 

Tapi apa mau dikata, ternyata kepala sekolah tak mengizinkanku sekolah dengan alasan umurku belum cukup. Dasar anak ingusan yang belum bisa menerima penolakan, akupun menangis terisak-isak di ruangannya maksa mau ikutan belajar. Akhirnya dengan berat hati si Kepala sekolah mengizinkanku duduk di kelas satu dengan syarat aku harus bisa mengerjakan soal-soal matematika sebagai test masuk. Hehe siapa sangka di umurku yang masih balita itu aku sudah bisa mengerjakan soal –soal penambahan dan pengurangan yang disajikan. Sejak itu kecintaanku pada matematika seperti cintaku pada pacar pertama.

Tak dinyana, kepala sekolah tempatku menuntut ilmu adalah mantan guru matematika, maka tersalurkanlah cintaku yang menggebu-gebu .

“ Saban hari matematika “ itu adalah kata-kata pertama yang dikatakan pak Kepsek saat masuk di kelasku. Saat itu aku duduk di bangku kelas enam, Ibarat mendapat mak comblang gratis aku mendengarnya.

Mulai hari itu, pelajaran utama di kelasku adalah matematika. Setiap tidak ada guru yang mengajar atau lebih dikenal dengan istilah ‘jam kosong’ maka si kepsek akan masuk ke kelas dan memberikan soal-soal matematika. Dan yang paling membuat bahagia adalah siapa yang pertama kali bisa menyelesaikan soal maka boleh istirahat sebelum waktunya atau pulang paling awal . Coba… , apa gak semakin cinta saja sama pacar pertamaku ini.

Berapa hasil penjumlahan 1+3+5+7+9+11+13+ …………+87+89+91+93+95+97+99. 

Pak kepsek menulis soal di papan tulis. Dengan iming-iming bisa pulang paling awal, kami sekelas berusaha menjadi yang tercepat menghitung penjumlahan tersebut. Tapi eitts, selama ada aku di kelas ini  jangan harap ada yang bisa pulang duluan. 

Dalam satu menit aku sudah maju dan menyerahkan kertas kerjaku.

“ Yak satu orang, …....perempuan, !” dengan suara dramatis pak kepsek mengumumkan. Membuat seisi kelas jadi gerah .

Nah benar kan , kataku di awal tulisan ini, matematika itu ibarat cinta pertama, ia membuat kita bahagia sekaligus membuat kita merasa special.

Hmm ,pasti kalian penasaran bagaimana caraku menghitung dengan cepat penjumlahan sepanjang itu. Gampang aja kok. Aku menamainya rumus “ membunuh ular”.  Rumus ini khusus untuk penjumlahan bilangan ganjil berurutan. Bayangkan kita mau membunuh ular, ( soalnya panjangnya kayak ular sih):

1.      Tangkap kepalanya
2.      Tangkap ekornya
3.      Potong di tengah badannya
4.      Lalu plintir dengan memangkatkan dua
5.      Dapet deh hasilnya

Untuk soal diatas , jadi begini nih 1+99 = 100, 100/2 = 50, pangkatkan 2 . hasilnya 2500. Masih gak percaya?? Hitung aja sendiri.


 
 Cat: Tulisan ini diikutkan dlm lomba FTS cinta Matematika , dan gak lolos juga, parrrah :). Tapi tetap pantang menyerah  MySpace

1 comment on "Cinta Pertama vs Matematika"
  1. smangat terus win nulisnya,...semakin dekat dgn keberhasilan di kompetisi menulis

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature