Showing posts with label Chit Chat. Show all posts
Showing posts with label Chit Chat. Show all posts

Foto Mesra dan Urusan Kebahagiaan

Monday, August 26, 2019

Belakangan sering banget wara wiri artikel dan status orang tentang foto mesra atau foto berdua di sosmed.

“ Pasangan yang sering umbar kemesraan di sosmed adalah pasangan yang sebenernya tidak bahagia, karena pasangan yang bener bahagia tidak butuh pengakuan orang lain ”

Apalagi sejak Gading- Gisel cerai, makin banyak aja yang komen “ Tuh kaaaan makanyaaaaaa aku tu ga syuka pajang-pajang foto sama suami”

Tambah lagi quote “ Feed instagram indah tak menjamin hidup yg bahagia”

Padahal feed instagram jelek ya belum tentu juga bahagia.

Ga pernah posting foto pasangan, dituduh lagi punya masalah, dituduh malu sama pasangan makanya diumpetin, dituduh pulak nyembunyiin status.

Kurang kerjaan aja ya netijen ini menilai hidup orang dari sosmednya.

Tambah lagia himbauan dan wanti-wanti serem dari netijen.  Ada yang bilang ntar malah membuka peluang ke orang di luar sana buat ganggu pasangan kita , ada juga yang bilang pamali. Ntar kalo ada apa-apa kan malu, udah pajang foto mesra-mesaraan tau-tau pasangan kita ga sebaik yang kita ceritakan.

Hmmm kalau yang pertama, no commentlah, berdoa aja supaya pasangan kita bukan yang mudah tergoda (kitanya juga ya Allah, tolonglaaaaah. Emangnya suami doang yang bisa tergoda). Kalau yang kedua ini nih penyakitnya sosmed.

Karena banyak netijen julid yang siap melontarkan caci maki dan kata-kata, " Kan...kan... gw bilang juga apa",kadang jadi bikin orang takut mau posting apapun. Kayak mau posting foto sama pasangan, takut ntar suatu saat pasangan berulah kita bakal malu. Ya sebenernya ga gitu jugalah. Kita manalah tau masa depan kayak mana.

Kalau selalu mengkhawatirkan hal-hal buruk di depan, ntar malah kejadian beneran lo. Menurutku sih, yang ada sekarang ya nikmatilah. Kebahagian saat ini ya nikmati saat ini. Kalau sekarang bahagia ya ga papa banget mengcapture kebahagiaan kita sepanjang masih wajarlah ya (wajar mnrt gw tentunya 😜). Masalah ntar ada apa-apa, ya itu ntar, samsek tidak menggambarkan yang terjadi saat ini.

Manusia berubah, kita berubah, suatu saat jika pasangan kita berubah toh tidak menghapus kenyataan bahwa ya kita pernah bahagia. Ngapain malu. Kalau khawatir terus ntar rugi dua kali. Rugi di masa sekarang karena keseringan khawatirnya, plus rugi di masa datang kalo beneran kejadian.

Berdoa saja yang baik-baik, usahakan yang baik-baik, mudah-mudahan hasilnya baik-baik. Ga usah julid liat foto pasangan di sosmed, ga usah iri juga. Kita ngga pernah tau gimana cerita di tiap foto.

Jadi kalau lihat teman pajang foto mesra, ikut bahagia saja, ngga usah membatin dalam hati " Halah sok mesra, paling juga lagi menutupi sesuatu".

Hey kurang piknik atau gimana hahahahaha.

Kamu punya foto sama pasangan?
Ser aja ser kalo pengen.

Mengurai Masalah

Sunday, August 25, 2019


Manusia hidup siapa sih yang ga punya masalah. Pas kepentuk tuh ya, rasanya masalah-masalah kita itu beraaaat banget, gede bangeet. Sampe sempit semua-semua terasa.

Beberapa hari ini bacain DM-DM yang masuk tentang pilihan-pilihan hidup yang susah bangetuntuk nentuinnya. Tentang kondisi-kondisi yang mau dipertahankan atau dilepas.

Kalau dimintain pendapat-pendapat begitu aku kebawa pikiran bagett. Ngasi saran itu memang lebih gampang sih ya dibanding yang ketimpuk masalah 😂😂. Ini aku banget.

Tapi sependek pengalamanku, sebenernya tiap masalah itu keliatan berat karena kita belum mengurainya. Kalo sudah diurai biasanya keliatan lebih terang dan tidak seberat yang kita pikirkan

Coba lakukan ini.

1. Bikin Pros and Cons

Tulis masalahnya apa. Kalau itu berupa pilihan, bikin pros consnya. Apa untungnya apa ruginya. Apa kelebihannya apa kekurangannya. Ini biar kamu lebih jernih sebeum memutuskan mana yang terbaik untukmu. Kalau udah diurai pakai data gini secara tertulis biasnya lebih enak.

Aku sering melakukannya. Contoh sat aku bingung antara mau kut job opening kenaikan jabatan atau milih tetap bertahan dulu di posisi sekarang karena khawatir bakal dimutasi.

Prosnya :
- Gaji Naik
- Kesempatan berkarir lebih bagus
- Fasilitas kantor mengikuti

Consnya :
- Kemungkinan LDR
- Tanggung jwab lebih gede.
- Waktunya lebih banyak tersita ke kantor, padahal saat itu anak baru lahir.
- Kalau LDR-an, biaya hidup bakal kali dua, kenaikan gaji malah ntar jadi berasa ngga nambah sama sekali.
- Masih menikmati kondisi saat ini.


Akhirnya aku pilih ngga ikut. Konsekuensinya aku agak tertinggal dibanding teman-teman senagkatanku. But no problema banget. Aku dapat rezeki selalu sekota dengan suamiku, dan itu ngga tergantikan. Berkumpul dengan keluarga itu suatu kemewahan bagi suami istri bekerja. Bukan begitu?

2. Masih belum bisa mutuskan juga? Urai lagi.

Kalu ternyata setelah diurai gitu kamu belum bisa juga memilih, coba urai lagi, dengan melihat sisi consnya. Dari kerugian atau kelemahan yang ada , mana yang masih bisa diterima, mana yang ga bisa ditolerir samsek, mana yang masih bisa dibicarakan.

Misalnya ini saat mau nentukan mau nikah ngga nih dengan calon suami, tapi kok ada beberapa sifatnya yang kurang sejalan sama kita. Beberapa orang ada yang ngga sreg kalo dapet suami perokok misalnya, dan ini menjadi nilai negatif si calon.

Ya ditanyain ke diri sendiri. Seberapa pengaruh kebiasaan merokoknya ke hubungan kalian. Apakah kebiasaan merokoknya bikin kamu ngga nyaman? apakah bikin kamu ilfil sama dia?. Masih bisa dinego ngga kalo merokoknya saat ngga sama kamu aja, dan sebagainya. Tapi tetap siapkan diri juga, iya saat awal nikah merokok kalo ngga sama kamu, lama-lama ya bakal merokok di mana wae juga , hahahaha.

3. Terakhir udah mentok, baru ambil keputusan.

Nah setelah diurai gitu, baru deh ambil keputusan.

Aku kmrn gitu, gundah gulana tak berkesudahan, setelah diurai-urai ah elah ternyata cuma hanya karena masalah harga diriku doang yang setinggi gunung alpen. Pas aku abaikan itu, selesai. Hidup berjalan seperti sedia kala.

Semoga kalian tidak bimbang gundah gulana lagi ya.

Hidup Minimalis dan Level Kepuasan

Wednesday, June 26, 2019


Udah lama banget rencana mau beres-beres rumah tapi karena kesibukan trus kepotong puasa, lebaran, mudik, jadilah baru kemarin aku berhasil memaksakan diri membongkar isi lemari, dan memilah-milah barang di rumah. Soalnya rumahku kayaknya udah sesak sekali, yang sampe kalo mau nyari sesuatu itu harus menyelam dulu, xixixix.

Kebiasaan bongkar lemari ini sebenernya udah rutin aku lakukan. Pokoke gitu merasa lemari pebuh pasti ada yang kusingkir-singkirkan. Kemanakah baju-baju dan barang-barangku?

Biasanya ya ke rumah ibuku, hahahaha, karena apa? karena aku ga punya waktu mikirin mau dikemanain barang-barang itu. Paling gampang ya bawa ke rumah oma, ntar pasti di sana ludes sendiri.

Nah, jadi ceritanya beberapa minggu lalu aku dikirimin linklah sama Icha, linknya Raditya Dika yang ngomongin soal hidup minimalis. Doi cerita di situ kalau dia sampai pada satu titik kayak jenuh gitulah dengan koleksi-koleksi jam tangannya yang ternyata ya cuma koleksi. Yang dipake yang itu-itu mulu, jadi akhirnya semua jamnya dia jual dan dibelikan satu jam yang emang punya "Value" kata bang Dika. Yang kemudian diartikan oleh netijen sebagai MAHAL, hahahaha. Value= MAHAL. oke detergen, bhaik.

Nah, aku jadi ikutan mikirlah, biasa ya aku anaknya memang gampang terpengaruh sama yang begini-begini. Trus mataku memandangi sekeliling rumahku dan ke tumpukan container plastik yang isinya tumpukan tasku (iya, aku ga punya lemari khusus tas, jadi tas-tas itu aku susun di kontainer plastik itu lho gengs. Aku punya 10 biji kontainer. Ini sebenernya akal-akalanku aja biar masteg ga nyadar kalo istrinya punya hobi menumpuk barang, hahahah

Nah, ternyata yah, dari sekian jumlah tasku yang tentu saja harganya cuma seperseratus ribu dari harga jam tangannya Raditya Dhika itu, yang kupake palingan cuma 3-4 tas doang. Sisanya? Aku bahkan ga inget kalo aku punya tas itu.

Trus beralih ke lemari, ya sami mawon. Kok ada beberapa bajuku yang seingetku cuma kupake sekali trus ya udah ga dipake lagi, ada yang masih ada tagnya, ada yang sejak aku ambil dari tukang jait ya digantung doang, astagaaaaa.

Jadi perasannya gimana yah.

Aku bukan baru kali ini sih denger soal hidup minimalis ini, bahkan aku udah lama nerapin ke pemilihan baju. Pokoke beli baju aku prinsipnya, kalo udah cocok ya udah beli beberapa, bodo amat dibilang ga ganti baju, yang penting nyaman dan ga rempong pilih-pilih matchingin baju tiap mau pergi. Alhasil kalo diliat foto di IG, outfitku itu cuma baju puith dan celana jeans donag banyakannya hahahaha.

Oke balik lagi, nah kali ini aku kayak yang wah iya yah, ini ngapain punya barang sebanyak ini kalo memang ga dipake.

Maka jadilah kemarin aku bongkar-bongkar lagi. Sebagian aku hibahkan, sebagian lagi aku preoved-kan xixixi.

" Is kok dipreloved sih, kan mending dikasih aja"

Ya dikasi boleh, dipreloved juga ga salah kan ya, hahaha.

Jadinya saat ini aku nyisain cuma 5 tas ajah. Ini udah yang paling aku pake banget ngetlah. Sepatu juga gitu, aku sisain sneaker tiga doang dan ini pun yg paling sering kupake cuma sebiji, dan sepatu kerja 2 aja.

Rak sepatuku langsung kosong, lemariku pun jadi lega. Containe plastik isi tas-tasku jga udaah kosong. Hatiku juga hapa hahahahaha.

Sebenernya ada hal yang masih mengusikku sih. Pas baca-baca komen di yutub Raditya Dika itu, ada salah satu yang komen begini :



Why oh Why. Itu kok kayak mewakili isi hatiku banget, huhuhuhu.

Aku ngerasain banget hal kayak gitu. Dulu pake tas lokal ya oke-oke aja, ga masalah samsek. Ngga pernah pun merhatiin merk, asal nyaman ya udah. Sekarang ngga tau yah, gegara mudahnya belanja online atau pengaruh algoritma instagram (Instagram disalahin), jadinya tanpa bersusah-susah pun ya muncul aja gitu lho jualan para sissy-sissy pelapak tas-tas di IGku.

Dan iyes banget, level kepuasan kita tuh kayak naik terus. Ibaratnya dulu makan dimsum aja udah berasa makanan paling enak, naik ke sushi, naik terus sushi tei jadi biasa, nyobain sushi-sushi lain, lama-lama bosen ga mau lagi, trus nyari makanan enak lain lagi, gituuu terus.

Jadi sejujurnya aku ga terlalu percaya diri bahwa yang kulakukan sekarang ini soal hidup minimalis, jangan-jangan ya karena aku udah males aja pake tas-tas yang lama. Apakah aku sedang so called menemukan kenyamanan baru di barang-barang yang levelnya lebih dari yang sebelumnya kumiliki/

Ya Tuhan, manusia kok ga ada puasnya ya. ckckckc.

Ya sudahlah, ini cuma postingan receh, gegara satu postingan RD yang mengusikku.

6 bulan lagi aku bakal update, apakah ada barangku yang nambah? atau beneran aku bisa menerapkan yang kupikir saat ini adalah gaya hidup minimalis, halah.

Kalian gimana?, apakah sudah bergaya hidup minimalis sampe nyingkirin barang-barang ya ngga pernah dipakai di lemari kalian? ataukah kayak si mba anonim sebut di atas, minimalis hanya karena yah merasa levelnya udah ga di situ lagi.

Cerita dong, aku butuh pencerahan.

Empati

Wednesday, May 15, 2019


Dulu banget pernah baca share-an sebuah artikel tentang foto seorang ibu yang meletakkan bayinya di lantai di sebuah boarding room bandara sementara itu si ibu terlihat sibuk dengan hape di tangannya. Beugh jusgementnya yah, si ibu dikatakan sebagai ibu yang TERLALU. Bisa-bisanya nggeletakin anak di lantai dan dianya sibuk main hape.

Gemes deh sama orang yang diam-diam memfoto dan mengaplod fotonya. Gini ini nih kelakuan netizen ga bertanggung jawab. Asal cekrek trus main aplod aja.

Ternyata setelah ditelusuri kejadiannya itu, si ibu sedang dalam perjalanan bersama si bayi, delay sampai berja-jm, si ibu memang kecapekan menggendong si bayi, dan tujuan dia meletakkan bayinya di lantai malah biar anakanya bisa istirahat sambil rebahan bukan digendong. Sementara dia sendiri sibuk menelepon suami nya biar sekeluarga ga panik.

Lalu, kemarin baru banget kejadian viral foto sekeluarga yang dikabarkan menjadi korban keracunan karbon monoksida di daerah Pekanbaru. Aku bacanya di facebook yang udah dishare sampe puluhan ribu orang, di situ memang tujuannya memperingatkan, biar kita berhati-hati, tapi wajah orang-orang di foto itu sama sekali tidak diblur.

Aku sedih banget baca beritanya, karena kebetulan aku kenal sama orang di foto itu. Salah seorang kakak kelas SMAku. DI grup SMA sendiri beritanya sudah tersebar dan kita sungguh berduka. Dan tentu saja beritanya ga seperti yang dishare orang-orang tersebut.

Karena ga tega dan ga rela aja orang yang kita kenal fotonya dishare di mana-mana gitu apalagi sedang terkena musibah, aku langsung menginbox ornag yang ngeshare tadi, minta dia hapus postingannya, dan menceritakan kondisi sebenarnya yang ga seperti yang dia ceritakan di postingannya.

Untungnya si pemilik FB itu masih waras, dan langsung meminta maaf serta menghapus foto-foto tadi. Karena ya bayangin aja kalo kaka kelasku itu ngebaca dan melihat foto dia berdear di sosmed gitu, kan sedih banget :(, di mana sih empati kita sekarang ini?

Kadang yah memang banyak banget orang-orang yang ngeliatnya cuma sepotong kejadian trus ngambil kesimpulan sendiri. Apa kita ga sempet berfikir, gimana kalo itu aku?, gimana kalo itu adalah keluargaku?. :(

Nah, kemarin itu aku pulang kantor kan yah, trus mak dudul di depanku muncul sebuah motor yang dikendarai bapak-bapak. Yang bikin aku langsung merhatiin si bapak adalah karena dia mengendarai motor sambil menggendong bayi di belakangnya. Iyaaa, nggendong bayi pake jarik ditaruh di punggung gitu, kayak mbok jamu. Sambil naik kereta lho. Si anak emang kelihatan anteng dan malah hampir ga bergerak.

Karena aku persis berada di belakang doi, otomatis aku ambil hape dan memvideokannya (yup aku memvideokannya), dan malah mengikuti si bapak dari belakang, sampai di perempatan jalan dia berbelok, dan aku lurus jalan terus.

Wih dalam hati langsung ngomel-ngomel, astagaaa orangtua apaan ini, kok tega banget ngga mikirin keselamatan anaknya. Ga ada niat ngeshare di sosmed atau gimana sih. Tapi ya ngga urung, aku share juga di grup WA temen deketku trus gibahin si bapak.

" Iyaaa ga mikirin keselamatan bayinya yah"
"Duh kalo kenapa-kenapa gimana cobaaa"

Aku kepikiran sampe malam lho. Di kepalaku kayak ngomong sendiri, kok tadi ga aku tegur yah, kok tadi aku ngga nyuruh si bapak minggir, berhenti atau gimana. Tapi terus aku mikir lagi, ya ampuuun kok kasihaaan, jangan-jangan si bapak itu baru ditinggal istrinya, trus dia mau pergi kerja, anaknya harus dijaga orang, makanya dia gendong anaknya naik motor entah mau dititip di mana. (karena kebetulan daerah aku kerja itu banyak kawasan pabrik).

Trus malah skenario macem-macem timbul di kepalaku. Mungkin juga si anak sakit, makanya diem aja di belakang, dan ditaruh di belakang karena menghindari angin langsung dari depan. Dan kemungkinan-kemungkinan lain.

Hih, yang gini-gini memang kita mesti punya stok positif thinking segudang biar ga gampang share-share sesuatu yang sama sekali ngga kita ketahui. Yang tadinya aku ngomel-ngomel sekarang jadi sediiih huhuhuhuhu, kenapaaa kasihan sekali, ya Tuhaaaan.

Udah ah, aku jadi mellow kalo mengingatnya.

Kalian plis yah kalo nemu sesuatu di jalan jangan asal cekrek aplod, kasihan lho orang-orang itu yang kita ga tau sama sekali gimana kondisi sebenarnya.

Otoritas

Thursday, February 14, 2019
Kalian pernah baca buku karangan Jody Picoult ga?.

Buku fiksi. Nah aku mau nyeritain isi salah satu bukunya yang berjudul My sister Keeper.

FYI, My Sister Keeper udah difilmkan, Pemerannya Cameron Diaz, mungkin kalian udah ada yg nonton.

Aku tiba2 inget buku ini pas baca RUU Penghapusan kekerasan Seksual.

Kalian gugling ya lagi rame tuh dibahas. Aku ga akan bahas pro kontranya, krn udah byk yg bahas, dan kumasih tak mengerti kenapa ada yg menolak.

Ceritanya itu, ada suami istri Brian dan Sara yang memiliki dua orang anak Jesse dan Kate. Kehidupan mereka baik2 saja, sampai suatu ketika Kate sakit. Hasil pemeriksan diperoleh bahwa Kate mengidap Leukimia. Sara dan Brian sedih bukan main. Seperti para ibu pada umumnya, Sara pun memohon ke dokter , aku akan melakukan apapun, tolong selamatkan anakku.

Oleh si dokte, dikasih saran yang kedengeran agak gila tp akan menjadi harapan hidup Kate. Sara dan Brian disarankan untuk memiliki anak lagi, tapi anak ini semata lahir sebagai penopang/penolong hidup Kate. Karena katanya Leukimia hanya bisa ditolong oleh donor darah dari sumsum tulang belakang saudara sekandung. Aku lupa detailnya, tp kira2 begitu. Bahwa si bayi yg mau direncanakan ini disebut "design baby".

Akhirnya lahirlah Anna. Sejak Anna lahir, maka tiap Kate drop, Brian dan Sara bakal melarikan KAte ke RS, dan harus sepaket dengan Anna. Karena bakal ada darah Anna yg harus diambil. Kehidupan keluarga mereka ya begitu terus. Lagi jalan di mall, tiba-tiba Kate pingsan, cepet2 lari bawa ke RS, dan Ann wajib ikut. Anna sepaketan dengan Kate.

Namanya udah kanker darah, penyakit pun merembet ke tempat lain. Suatu hari Kate dinyaakan gagal ginjal dan harus ada donor ginjal untuk mengganti salah satu ginjalnya. Saat itu usia Anna sdh ga kecil lagi, udah sekitar 12 tahunan atau 15 gitu, yg digambarkan udah bisa protes dan punya pendapat.

Sara meminta Anna untuk mendonorkan ginjalnya ke Kate. Nah saat inilah konflik terjadi. Anna menolak, dia ga mau mendonorkan ginjalnya. dia ngomong kira2 begini " Aku capek gini terus, aku jg mau hidupku normal, aku tau kalian ga sayang aku, kalian melahirkan aku cuma untuk jadi tubuh cadangan untuk hidup Kate" gitulah.

Duuh sedih deh adegannya.

Tentu saja Sara marah, dia ngga habis pikir kenapa Anna ga mau mengerti, kan itu semu untuk hidup kakaknya. Beda dengan Sara, Brian suaminya lebih nrimo, dia berfikir, Anna berhak menolak jika tidak mau. Suami istri ini pun bertengkar.

Di dalam rumah suasana udah ga enak saja. Kalo makan Sara yang akan memandang sinis ke Anna gitulh.

Nah karena Sara terus memaksa Anna untuk mau mendonorkan ginjalnya, maka Anna kabur dari rumah. Dia mendatangi pengacara. Bayar pake hasil jual kalungnya atau apa (lupa). Dia minta bantuan pengacara untuk membawa masalah ini ke pengadilan. Issu yg dibawa pemaksaan terhadap tubuh dia.

Wah bayangin ya gimana marahnya Sara. " Kamu menuntut ibumu untuk usaha menyelamatkan jiwa kakakmu?" (dasar anak durhaka).

Singkat cerita, di pengadilan Sara yang kayak maki2 Anna gitulah. Anna bergeming, kekeuh sama keputusannya, ga mau mendonorkan ginjalnya, " Aku juga anakmu, aku ama pentingnya dengan Kate" gitulah huhuhu sedih.

Nah akhirnya si Jesse (kalian ingat ya ada Jesse di sini, adiknya Kate, abangnya Anna) membuka rahasia diantara mereka.

JAdi ternyata si Anna sebenernya ga masalah mau dijadikan tubuh donor kek, tubuh cadangan kek, krn dia juga ga mau Kate mati, tapi justru permintaan agar ia menolak menjadi donor datang dari si Kate.

Jadi Kate udah tau, kondisi dia semakin memburuk, dia ga mau Anna terus berkorban untuk dia. Dia tau ibunya sangat mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya, tp dia juga ga mau keluarganya jadi ga bahagia krn dia. Makanya di maksa Anna untuk menolak donor ginjal bahkan maksa Anna untuk cari pengacara. Kerna hanya dengan persidangan ibunya ga bisa maksa Anna.

Mengetahui itu, Sara sedih banget. DIa ga nyangka Kate mau nyerah, padahal dia selama ini udah usaha mati2an agar Kate tetap hidup.

Trus akhirnya sampailah di kondisi Kate yg udah parah banget, Kate minta ibunya untuk merelakan dia pergi, jangan sedih lagi, dia bakal ga sakit lagi. Gitulah. Menjelang kematian Kate, Kate mint dibawa ke Pantai, dia pengen main di pantai. Jelaslah Sara ga mau, tp sama Brian (ayahnya) ga peduli, dibawanya ketiga anaknya main k pantai.

Awalnya Sara marah bgt sama Brian. Tp tak lama dia nyusul ke pantai, dan mereka menghabiskan sisa usia KAte di situ, ketawa bersama.

Endingya, Kte meninggal, dan hidup merka berjalan seperti biasa tanpa pernah melupakan bahwa ada KAte di hidup mereka

Duh sedih banget deh filmnya. Aku baca novelnya aja sampe nangis2.

Nah balik ke soal RUU PKS itu

Aku ga mau bilang apa-apa sih. Cuma berkaca dr film itu ya, bahkan seorang ibu pun ga punya hak atas tubuh anaknya. Setiap manusia ya punya otoritas penuh ke tubuhnya. Ga ada yg boleh memaksanya melakukan apapun ke tubuhnya tanpa seizin dia.

Makanya agak aneh aku baca berita ada yg nolak RUU itu

Padahal jelas-jelas inti isinya ya memang menentang segala pemaksaan atau tindakan kekerasan seksual.

Tapi ya sudahlah, mungkin yg menentang punya pikiran lebih mendalam dan analisa sangat2 mumpuni kali ya. Aku positive thinking  krn ingin nyinyir kutakut (follower berkurang) dosa.

2018 Dalam Cerita

Friday, December 28, 2018



Wah wah. 2018 udah mau berlalu ya bunda-bunda. Dan hepinya , aku merasa PUAAAAAS dengan tahun ini, hahahaha.

Sebenarnya ngga ada hal-hal luar biasa sih yang terjadi di tahun ini. Tapi yang nilai kan diri sendiri yak, yaiyalah namanya juga review akhir tahun, ya yang nilai aku dong ah. Ya kan ya kan. (kalem mba kalem).

Mari kita rekap cerita 2018 ini pada postingan yang mungkin akan menjadi postingan penutup di 2018 ini, yeaaaay.

Dapet Bos Baru

Awal tahun dibuka dengan aku dapet bos baru di kantor. Kenapa ini penting aku ceritain? Ya karena beda atasan akan berbeda ritme di kantor, dan itu sedikit banyak akan ngaruh ke hari-hari kita ke depan. Maka, saat terjadi pergantian bos di awal tahun itu, aku yang sedikit was-was. Soalnya sama bos lama udah akrab bangeeeet, udah berasa kayak keluarga, tepatnya sama tim satu kantor sih. Maka saat ada perubahan gitu, ya sedikit banyak bikin excited sekaligus deg-deg-an.

Dan alhamduillah ya, rasanya sama bos baru ini klop banget. Ritme kerja dia cucok banget sama aku, jadi aku hepi sama blio. Ngga bohong sih agak capek hahahaha karena doi orangnya perfeksionist dan monitoringnya juara, tapi aku senang (walau capek #tetep hahaha).

Kehilangan Sahabat-Sahabat Sekantor

Ternyata mutasi ga berhenti di pergantian bos, gerbong mutasinya menggelinding terooooos sampe bulan-buan berikutnya. Satu-satu temen se-geng maksi dan menggosipku pindah. Hwaaaaa, aku syediiiih. Apalagi abis mereka pergi eh penggantinya ga dateng-dateng.

Baayangin yang semula aku tuh di kantor punya temen manajer 3 orang tempat cerita-cerita kerjaanlah, cerita kelakuan anggota yang ajaib, sampai yang berkeluh kesah kalo abis dimere-mee sama bos kita, eh makdudul aku ditinggal sendiri.

Kalo sore-sore jadi bengong di ruangan karena ngga ada yang diceng-in. Kalau abis dikeramas bos juga ga ada orang yang bisa dijadikan tempat nyampah. Dan termaha penting, aku ga punya tukang foto yang biasa moto-motoin aku kalo aku merasa kece di pagi hari, huhuhu.

Tapi untungnya masih ada temen-temen pincapem yang SKnya masih nyangkut di tangan Tuhan, jadi minimal seminggu sekali bisa ngumpul-ngumpul kalo mereka rapat di cabang.

Badai Datang

Halah judule.

Di tengah taun, aku dapet masalah gengs. Masalah kerjaan yang mayan berat dan kalo salah-salah bisa ngaruhlah ke kerjaanku. Males cerita detailnya, tapi intinya anggotaku ada yang berbuat kesalahan gitulah, mayan fatal, tapi ya kan jadi tanggung jawabku juga, jadi aku yang sempet kepikiran banget gitu. Tapi alhamdulillah, masalahnya bisa selesai walau dengan berat hati aku terpaksa ngambil keputusan buat memberhentikan mereka.

Aku suka sedih banget lho kalo harus bikin rekomendasi yang ngga enak gini, tapi ya gimana, mungkin jalan rezekinya mereka memang ada di tepat lain.

Masih di seperempat tahun, aku dapet panggilan pendidikan. Sebulan euy ke Jakarta. Aku ngga terlalu suka sih kalo pendidikan lama-lama gitu karena ninggalin duo krucils kesayanganku di rumah. *boong banget padahal seneng bisa tidur nyenyak.
  
Tapi kali ini aku nganggap pendidikan itu tepat banget datangnya, karena aku lagi butuh menjauh dari kantor, butuh jeda dengan pekerjaan sehari-hari.

Kemarin aku sempet cerita di instagramku (follow dong @winditeguh), bahwa tahun ini merupakan tahun pertarungan jiwa bagiku. Ya itulah dia,  menjauh dari rutinitas sepertinya tepat untukku saat itu. Aku ngga terlalu ngerti tapi yang pasti di tahun ini banyak banget perang batin terjadi. Kok sekarang pas nulis ini berasa dangdut ya, padahal pas ngelaminnya kemarin mewek terus. Untung aku punya suami yang superlaf. Saat lagi down-down gitu, bukannya dicecar pertanyaan tapi doi malah nyuruh aku ketemu sohib-sohibku.

Ya udah sekitaran bulan Juni atau Juli ya, aku  sempet staycation sama sohib-sohib ciwi kesayanagn akoh di Jakarta dan Cirebon.Ternyata ketemu teman yang kita bisa cerita apa aja itu, sungguh kebahagiaan hidup nomor 13 yang harus disyukuri.



Dapat Reward Jalan-Jalan ke Eropa

Pas lagi di Jakarta, aku dapat kabar dari Corpu BRI bahwa di pertengahan September bakal diajak jalan-jalan ke Eropa. Oh WOOOOOW supercombo, aku sampe loncat-loncat dengernya. Akhirnya hadiah jalan-jalan dari kompetisi di kantor tahun lalu terealisasi juga.

Nah jalan-jalan ke Eropa kemarin aku ajak masteg ikutan. Mayan banget yah sis, berasa bulan madu colongan, hahahaha. Pengalaman ngga terlupakan banget deh, seminggu di Eropa sama teman-teman baru yang ngga nyangka juga cucok banget.

Selama di perjalanan hepi terus, ketawa terus, karena ternyata peserta tour yang juga pemenang brinnovation kemarin itu ngga ada yang jaim satu orangpun. Plus karena aku perginya sama mas Teguh yang bikin perjalanan juga makin mengesankan, halah.

Kayak kata pepatah gitu lho geng " Yang penting bukan kemananya tapi dengan siapa-nya" ahsek

Dapet Temen Baru Lagi

Nah di pertengahan tahun,  aku dapet temen baru, ngga tanggung-tanggung, pergi tiga orang langsung diganti manajemen tiga orang juga. Wow kusungguh hepi.

Awal-awal yang agak " Ah pasti ngga bisa seasyik temen-temenku yang dulu nih". Jadi masih males nyapa-nyapa mereka.

Aku kan anaknya gitu, kalo ketemu orang baru ngga bisa langsung akrab, butuh observasi minimal sebulanlah buat mengamati tingah laku dan tindak tanduk ybs. Ibarat di kebun binatang [KENAPA ANALOGINYA KEBUN BINATANG] aku tuh yang mengendus-ngendus dulu. Ini bau-baunya enak ngga nih atau eneg, hahahha.

Dan yes, kadang-kadang ya kita itu memang suka berlebihan khawatirnya. Apalagi sama hal baru, padahal bisa jadi mereka juga sama khawatirnya dengan kita, ya kan. Akhirnyaaaa aku punya temen menggosip lagi kusenaaang.

Tyda-tyda, aku tetep belum dikasi temen manajer cewe di sini. Tapi tyda mengapalah, yang penting ada temen buat nggosipin atasan dan bawahan tanpa beban , xixixi.

Ikut Bootcamp BRI Millennial

Wahahaha, beginian aja diikutin masuk kaleidoskop ya. Biarinlah.

Jadi menjelang akhir tahun, November akhir gitu aku ngajuin public course ke manajemen. Eh ditolak dong yah, alasannya akhir tahun, ngga boleh kemana-mana, kerja kerja kerja, hahahha.

Eh public course ditolak, datang undangan ngikutin boot camp acaranya BRI Millennials di Bandung, yaaaa sama aja kan jalan-jalan. Aku percaya rezeki itu ngga kemana ya teh, termasuk rezeki piknik, xixixix.

Acaranya seru banget sih soalnya makanya hepi dan harus dimasukin ke sini. Di acara itu ku ketemu idolaqu Agung Hapsah, aaak.

Sebenernya ga idola yang gimana-gimana sih, tapi ya kagum emang sama doi dan udah ngikutin youtubenya dari kapan tau. Plus terharu, lha ya kok BRI keren banget ngundang Agung Hapsah gitu lho, dan ini bikin temen-temenku pada iri. Jadi aku bahagia.

Tapi pulang dari Bandung aku tepar gengs. Sakit dan harus dirawat di rumah sakit seminggu full. Gila lah, pengen nangis karena malu. Malu sama gaya pecicilan kok tumbang.

Finansial 

Aku masukin dalam postingan ini, karena di tahun ini aku lebih aware banget sama pengeluaranku, hahahaha kalian mungkin ngga bisa bayangin betapa borosnya aku. Aku sih boros bermartabat ya, tapi tetap aja aku boros, dan tahun ini aku merasa pengendalian diriku oke banget. Aku review keuanganku banget lho dan kembali menata ulang planning-planningku untuk Tara dan Divya. Oh yes mereka adalah alasanku ngga beli tas selama setahun ini dan ngga kalap lihat diskonan sepatu di mall.

Oke, itu dalam dunia kerja.

Sosial Media dn Menulis

Dari sisi hobiku dan kegiatan sampingan lain. Aku sepertinya makin menikmati dunia instagram nih hahahaha, blog agak mulai jarang nulis. Bukan karena malas nulis tapi karena lebih seneng aja sekarang sharing di instagram karena bisa langsung berinteraksi sama temen-temen dan followerku.

Oya, di tahun ini aku tuh bener-bener puasa sosmed untuk hal-hal unfaedah. Berkurang banget nyinyirin orang, berkurang banget ngomentarin hal-hal ngga perlu. Aku capek gengs lihat cara orang bersosmed yang udah makin ngga sehat.

Di facebook aku babarblas cuma share-share link, dan share memory-memory doang. Ngga ada lagi nulis-nulis status kayak yang dulu sering kulakukan. Karena aku ngga mau nambah-nambah pikiran kalo ada yang komen julid hahaha.

Oya, tahun ini juga tahun aku sempet mempertanyakan hal-hal yang cukup serius. Dari tahun lalu sih tepatnya aku kayak yang mikirin kenapa ya orang-orang sekarang kok pada ngegas-ngegas (maksudku circle yang aku tau ya, dari yang kubaca di internet, di FB, di twitter), gampangan banget tersinggung, mudah banget memaki, suka maksain pendapatnya, suka maksain kemauan, dan cara berfikirnya kenapa sangat kebendaan sekali, dsb dsb.

Yang akhirnya bikin aku sampe di titik ya udah aku ngga mau mikirin mereka, biarin aja mereka dengan sikapnya, aku kalo ngga suka yang seperti itu ya aku harus menjadi orang yang menurutku "Seharusnya seperti apa"

Aduh aku ngomongnya belibet, kalian bingung ya hahahaha. Intinya aku tuh capek gitu lho melihat hujatan-hujatan yang wara-wiri di temlen. Ah aku yakin kalian ngertilah maksudku, aku terlalu malas menjabarkannya. Pernah kutulis sih di sini tentang Iman dan Ilmu.

Tulisan panjang sih tapi kalo kalian mau baca aku senang, karena di situ aku numpahin uneg-uneg keresahanku, halah.

Dan akhirnya aku kayak janji sama diri sendiri, aku ngga mau jadi orang-orang seperti mereka. Aku mau nunjukin wajah lain yang punya sikap optimisme dan positif dengan cara berbagi. Iya pokoke belakangan itu aku usaha banget minimal seminggu sekali share hal-hal positif yag aku punya.


Mungkin ya sedikit pengalaman kerja di bank, ya tentang sedikit pengetahuan keuangan yang aku tau, apa aja deh pokoke. Aku ngga mau nambah-nambahin konten negatif di dunia maya yang kusuka ini.

Aku kedengeran kayak aw Karin wakakakak. Bye-bye instagram, aku akan jual pada........................diriku sendiri. Bhaik windi, kamu mulai julid.

Dan ternyata memang itu sangat menyenangkan sekali. Aku seneng banget sat aku share sesuatu di IG, misal tentang mempersiapkan dana pendidikan dan reksadana trus ada yang DM  "Mbaaa aku akhirnya ngurangin pengeluaran ngga pentingku dan buka reksadana buat dana pendidikan anakku mbaaa, makasi ya"

Huhu terharu lho.

Atau bahkan adekku sendiri yang kayak " Wah undi, sharing tentang DPLKnya manfaat banget, awak jadi mau buka juga ah buat perispan pensiun".

Seneng lho dapat DM-DM kayak gitu, karena diriku yang sering banget terlanda rasa inferior ini berasa punya faedah, hahahaha. Dan aku akan makin memperbanyak share-share yang gitu-gitulah di tahun 2019 ntar.

Pokoke " Do somethinglah" ga sekedar cuma membatin " Kok mereka gitu sih" atau nyek-nyek dalam hati " Ih norak, ih lebaay".

Jual Jilbab Onlen

Hahahaha ini patut dimasukin, karena sebuah prestasi atas rencana-rencana doang yang biasanya cuma tinggal wacana.

Jadi kemarin itu pas aku lagi down-downnya di pertengahan tahun. Aku butuh banget hal baru untuk pelarianku dari mikir yang ngga ngga. Ya udah aku putusin aku mau jualan jilbab aja, karena toh selama ini aku memang suka banget beli jilbab. Aku bikin label sesuai nama anakku, lalitavistara.

Plis follow Ignya ya dan beli jilbabnya di @lalitavistara.id

Dan ternyata ya responnya bagus, total sampe sekarang aku udah jual ratusan jilbab lho padahal awalnya cuma nyetok 50 aja ah. Eh yang mesen banyak, kusenaaaaang.

Dan yes, sekarang udah di penghujung tahun aja.

Seperti aku bilang di awal tadi, memang ngga ada sih hal-hal bombastis yang terjadi di tahun ini. Tapi aku pikir tahun 2018 ini sukses aku lalui. Kusenang dengan diriku di tahun ini. Terserah ya, gw mau muji-muji diri sendiri, wong blog blog akuh hahahaha.

Aku senang dan bangga dengan diriku di tahun ini, karena walau sempet melakukan kesalahan-kesalahan, sempat dapat teguran-teguran dari Allah lah, aku mampu banget kok melewatinya. Aku masih bisa berfikir mana yang benar mana yang salah. Masih bisa menjaga hal-hal yang aku sayangi.

Aku bersyukur untuk semua yang telah kulewati di tahun ini. Untuk pembelajaran maha penting tentang pengendalian diri, tentang melihat segala sesuatu lebih komprehensif. Untuk keluargaku yang ya Allah, kenapa anakku lucu sekali, kugemas sama mereka. Untuk pasangan hidup yang walau kadang banyak perbedaannya tapi mampu menyeimbangkan diriku. Ah superlaaaaf.

Tahun 2018, tahun pertarungan jiwa bagiku, dan aku memenangkannya, yeaaaaay. Proud to myself.

Kalian gimanaaaaaa tahun 2018nya. Ayo cerita. Ngga luar biasa ngga apa-apa. Apresiasi diri sendiri, karena kita pantas mendapatkannya. Kuy, tag aku yah.




Kalimat Bijak Yang Ngga Bijak-Bijak Amat

Friday, November 16, 2018
Jadi, gimana kalo sesorean ini, kita bahas tentang kata-kata bijak yang ternyata ga bijak-bijak amat kalo kita pikirkan lebih dalam.
Iya, aku kan kebanyakan waktu luang, sampe sempet-sempetnya mikirin hal-hal unfaedah dalam hidupku. Yang sabar ya kalian.





“ Keluar dari zona nyaman”

Uwuwuwuwuw, siapa yang sering denger kalimat itu?

Sungguh sebuah kalimat maha dahsyat ya. Didengung-dengungkan para motivator. Ayo jangan mau ada di zona nyaman, keluar, bergerak, move move.

Ini ya opo sih rek. Aku dulu juga kayak yg kepecut gitu dengan kalimat di atas. Tapi setelah kupikir-pikir, kenapa kok udah nyaman-nyaman malah sutuh keluar sih.

Emangnya siapa manusia di dunia ini yang ngga suka berada di tempat yang nyaman?.
Kalo kerja emangnya suka di tempat yang penuh konflik?. Kalau di keluarga emangnya suka di rumah yang sempit, yang ekonomi sulit, yang apa-apa harus irit. Ya ngga tho?

Karena ini biasanya sering disebut-sebut untuk memotivasi para pekerja, maka kita ambil sajalah contohnya ya di kantoran.

Awal-awal masuk kerja atau pindah ke tempat baru, pastilah kita belum nyaman, masih kagok, masih meraba-raba, masih belum ada yang dipercaya, mau ketawa masih malu, apalagi ngakak (ntar dianggap bukan wanita solehah dan kurang berbudi pekerti luhur). Seiring waktu udah mulai adaptasi, udah enjoy, udah enaken, udah nyaman, ealah malah disuruh keluar “ Keluar dari zona nyaman”

Iki siopo siiiih .
Mungkin maksudnya bukan zona nyaman kali yah. Tapi jangan berhenti bertumbuh, jangan berhenti mengembangkan diri.

Karena konotasi zona nyamannya ini ibarat katak yang direndem di dalam air, dimasukin panci, trus ditengkrengin di atas kompor. Saat api dinyalakan, di katak dieeem aja, lama-lama anget-anget, eh makin enak dia, makin diem ga mau bergerak. Pas si air udah mencapai titik didihnya, baru deh dia panik, mau lompat udah ga bisa, akhirnya si katak terebus dalam kenyamanannya. Hiks syedih.

Itu kali yah maksudnya.

Baiklah kita anggap saja maksudnya seperti itu.

Tapi ya teutep mungkin kalimat keluar dari zona nyaman itu perlu sedikit diperbaharui. Karena aku suka kenyamanan, aku mau hidup nyaman, siapa yang ngga mau?

Cinta Tak Harus Memiliki

Kalo pas denger kalimat di atas, keliatan romantis banget kan yah.

“ Aku mencintaimu Sergio”

“ Tyda bisa Marimar, kita beda kasta, followerku udah makro, kamu masih remah-remah debu Instagram”

Kemudian Marimar menangis. “ Ya sudah, aku akan tetap mencintaimu selamanya, karena cinta sejatinya tak harus saling memiliki Sergio, aku akan pergi”

“ Jangan Marimar, kita TTM-an aja, atau gimana kalo kita FWB”

Muncungmu itu Sergio

Gini ya Marimar. Kalo kamu suka banget, cinta banget sama Kani mentayaki, masa iya kamu cuma mau liat-liat doang, ngga pengen memasukkannya ke mulutmu apa?. Padahal kamu tau itu enak banget. Apa kenyang cuma diliatin doang, ngga kan? Ngga kan?

Maka ya carilah Kani Mentayaki di tempat lain.
Kenapa harus buang-buang waktu mencintai orang yang tak bisa dimiliki. Cinta itu ya harus memiliki, karena apalah artinya cinta kalau hanya melihat dia di kejauhan. Hati perih, pedih, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Kalau kita mencintai tapi tak bisa memiliki artinya ada yang tidak tepat dengan cinta itu.

Bisa waktunya yang tidak tepat, bisa orangnya yang ga tepat. Maka kalau cinta tapi tak bisa memiliki, jangan dekat-dekat lagi dengan orang itu, segeralah hempaskan cinta itu. Tak usah didramatisir. Cari yang bisa membalas dan bisa kau miliki.

Patah hati itu biasa. Tak bisa memiliki itu sakit luar biasa. Bhay aja.


Kalau jodoh ngga akan kemana

Kemudian nunggu jodohnya diantar sama abang gojek.

Ya bener juga sih, kalau jodoh pasti ketemu di pelaminan. Entah sebagai manten atau malah jadi mantan. Tapi kalo dirimu percaya dengan kalimat itu kisanak, kemudian menanti jodoh jatuh dari langit, ya gpp, siap-siap aja menjomblo terus.

Jomblo itu memang kadang prinsip kadang nasib.

Kalau ketemu dengan orang yang menurutmu sangat cocok denganmu (walau belum tentu dia merasa cocok juga denganmu ) perjuangkan, cari perhatian dia, beritahu dia kalau kamu mencintainya, sepanjang dia bukan masuk kategori “Tak bisa dimiliki”, usahaaaaa.


Jangan Pilih-Pilih Pasangan

Ntar jadi perawan tua lho.

Ini apa Cassandra?

Kenapa kita tidak boleh pilih-pilih pasangan? Kalau beli baju aja kita pilih-pilih. Rela bersusah-susah fitting di kamar pas. Pas dipajang kece parah, pas dipake, eh, nyangkut di pinggul semlohai. Pas dipajang warnanya kok eye catching banget, gitu dipake lho kok ngga pas ya sama warna contact lense, cari warna lain, cari potongan lain, ngga nemu yang pas juga?, pindah cari ke toko lain.

Lha kalau milih baju aja seribet itu dan semau repot itu, kenapa pulak milih pasangan yang bakal mendampingi seumur hidup ga boleh pilih-pilih?

Jangan dengerin orangtua yang ngomong gitu, ditambah pula pepatah

“Pilih-pilih tebu, kena tungkulnya” (ini bener kan yah pepatahnya?)

Ga papa, lama dikit bilang I do, tapi dapat yang fit, ketimbang “Ah biarlah sesek dikit gpp, ntar kalo diet kan nyaman juga celananya” Kalo tambah kurus, kalo makin lemu?

Yhaaaa gimana .

Cinta Ga Butuh Alasan

Kalau cinta ga butuh alasan, ya berarti kita bisa jatuh cinta sama siapa aja dong yah. Sama sembarangan orang. Carilah sebanyak-banyaknya alasan mencintai, jangan cuma satu.

Kamu suka senyumnya, ingat-ingat itu saat berjauhan, kamu kangen dengan senyumnya.

Kamu  jatuh cinta dengan cara berfikirnya. Ingat-ingat itu bahwa dia begitu memikat saat mengeluarkan isi pikirannya.

Kamu jatuh cinta karena masakannya. Rindukan terus masakannya, buat dia tau bahwa masakan terenak di dunia adalah hasil racikan tangannya.

Kamu jatuh cinta karena kecerobohannya. Ingat-ingat betapa lucunya dia saat kesandung mejalah, saat ngga matching antara baju dan jlbab.

Kamu jatuh cinta dengan kebaikan hatinya. Ingat-ingat saat dia begitu menyebalkan, bahwa dia sebenernya baik, Cuma lagi capek aja mungkin.

dst
dst

Selalu ada alasan bagimu mengingatkan kembali kenapa kamu memilih dia dibanding yang lain.


Nikah itu bukan cepet-cepetan tapi lama-lamaan

Walau ini keliatan seperti mematahkan soal nikah mudah, atau dulu-duluan menikah, tapi soal lama-lamaannya juga kok aneh ya.

Pokoke menikah itu bukan balapanlah, jadi ga ada cepet-cepetan dan ya ga ada lama-lamaan. Ya masa kalo udah ga seiya sekata lagi, kalo udah perang badar terus tiap hari, kalo udah ada yang tersakiti, masih harus tahan lama-lamaan?

Menjadi Ibu Adalah Pengorbanan

Ehmmm

Yang pengen jadi ibu siapa?

Yang minta jadi anak siapa?

Tidak ada yang jadi korban ah seharusnya. Wong jadi ibu itu sebuah amanat, sebuah anugerah, buan pengorbanan.

Jangan merasa berkorban, karena inilah cikal bakal orangtua yang selalu nuntut macem-macem ke anaknya. Karena merasa berkorban.

( Baca : Benarkah Seorang Wanita Itu Banyak Berkorban Untuk Keluarga?)


Jangan mau Jadi Pegawai, Jadi Pengusaha Saja

Wahahaha siapa yang sering denger kalimat ini.

" Jangan jadi pegawai"

Seolah-olah jadi pegawai itu begitu buruk. Huh.

Lhaa emang kenapa jadi pegawai?. Ga ada yang salah ih, sma ngga salahnya dengan jadi pengusaha.

Y kalau semua jadi pengusaha, siapa yang mau kalian omelin di kantor-kantor pemerintahan.

Kalau ga ada yang kerja di bank, siapa yang mau kalian sewotin pas kartu ATM kalia tertelan di mesin ATM, hayooo. wahahaha.

Masih ada lagi ga kalimat yang sering kalian denger?



Tentang Postingan Orang Yang Tidak Sesuai Dengan Pendapat Kita

Friday, August 31, 2018


Judulnya ga bisa diringkes aja apa mba?

Hahahahha.

Triggernya karena ternyata banyak juga pembaca blog yang aku singgahin, di komen-komennya itu jawabannya julid-julid banget. Aku pikir komentator instagram aja yang random ternyata komentator di blog juga banyak yang panasan.

Komen-komen yang alih-alih ngajak diskusi tapi  bunyinya malah marahin dan jutekin si penulis. Kalau yang ngga setuju sih aku maklum banget, yaiyalah namanya juga opini. Yang bikin aku sampe pengen nulis postingan ini, karena udahlah ga setuju, malah ngomelin si penulis pulak.

Kayak misal gini

Di postingan beauty blogger misalnya, yang dibahas review lipstik merek tertentu. Dibilanglah di situ lipstik ini bagus, kalo aku cara pakainya biar oke aku tiban pake dua warna, jadi kece bingiit.

Trus komen yang muncul

" Halo mba, emangnya mba pikir pake lipstik ditiban gitu bagus apa untuk bibir. Iya mba enak punya lipstik banyak bisa ditiban-tiban, coba lihat kita-kita ini yang punya lipstik aja cuma satu, mau ditiban pake apa. Lain kali kalo bikin postingan jangan merasa bener sendiri deh, ngga semua orang bisa pake lipstik ditiban-tiban gitu. Ada orang yang bibirnya kering jadi bakal numpuk. Plis deh mba"

Lhaaaaa, ini gimanaaaaa hahahaha.

Contoh lagi

Di postingan blogger yang bahas soal pola mendidik anak.

Anakku selalu aku ajak berfikir dalam segala hal. Aku kasih pertimbangan sebab akibat kalo mau menyuruh dia melakukan sesuatu atau melarangnya. Jadinya sekarang enak, aku kalau mau minta dia apapun tinggal paparin sebab akibatnya dan dia jadi mikir sendiri trus mutusin sendiri deh.

Kayak " Nak, mainin dispenser bahaya lho, kalo kena ciprat air panasnya bisa sakit, panas dan perih, hati-hati ya"

Tanpa aku larang ya, anakku udah ga mau lagi mainin dispenser. Yeaaay

Komen yang muncul :

Mirip sama komen beauty blogger tadi.

" Mba ga semua anak ya bisa dijelasin pake sebab akibat, dan ga semua ibu punya stok sabar kayak gitu. Mbanya sih enak anak cuma satu, kalo anak banyak coba gimana harus jelasin sebab akibat segala. Sok paling bener"

Lhaaaa (2)

Hahahaha, jadi aku merasa lucu gitu.

Ni orang-orang kenapa sih. Si blogger kan cuma cerita. Cerita pengalaman dia, cara dia, bukan mendikte pembaca. Jadi ya baca aja, kalau ngga setuju, kasih opini, bukan malah marahin yang nulis.

Aku mikirnya gini lho, lama-lama orang males jadi nulis sesuatu, yang niat awalnya just sharing ya lama-lama males. Padahal ya, seharusnya kita-kita ini bersyukur lo kalau ada orang yang mau nulis pengalamannya, cerita dia, atau apapunlah ya yang sifatnya berbagi, even ada terselip entah pamer, entah menggurui. Ya itu kan hanya gaya menulis.

Ada orang yang gaya nulisnya blak-blakan, jadi kebacanya kayak ga terfilter.

Ada orang yang gaya nulisnya sebenernya sama sih intinya sama yang blak-blakan tapi karena orangnya lembut, ya kebacanya jadi lebih santun.

Ada orang yang nulis, dia memang harus ngasih tips di akhir tulisannya, eh kebaca kayak yang sok paling tau, yang sok paling berpengalaman.

Ada orang ya kalo nulis yang ditulis adalah ceritanya hidupnya, ya gimana dong?

Manusia memang berbeda-beda pola pikirnya, isi kepalanya. Kadang mau nulis kayak gini aja aku sekarang mikir banget lho. " Ih ntar dikira sensian, gini aja dibahas". Lama-lama kayak nulis sesuatu, trus di tengah jalan berhenti, wah ini ntar dikira macem-macem lagi.

Aku pernah nulis tips mengelola keuangan, dikomenin " Wah pamer ya mba"

Aduh susyeh ya hidup hahahaha, niatnya berbagi aja bisa ditanggapin negatif. Ya namanya sharing aku nganggapnya lebih real kalo aku kasih contoh nyata dibanding aku bilang " Kata Safir Senduk, lalalalal". Aku males banget soalnya nulis sesuatu yang aku ngga alami, karena aku type pencerita, jadi ya tulisanku bakal bercerita. Sedih sih kadang, karena di kepalaku ini banyak banget hal yang mau aku share tapi aku tahan karena ya kepikiran "Ntar kalo aku share ini ada yang sedih pula gegara kondisinya ga kayak yang aku sebut".

Ribet ya.

Mungkin gampang sih bilang "Yaelah ga usah dipikirin kali"

Kalo kondisi mood lagi bagus sih iya bisa banget ga dipikirin, bodo amat, tapi kalo pas ga bagus dan pas lagi overthinking yang kelintas di otak tuh kayak "Wah tulisan ini harus aku pertanggung jawabkan, jangan gegara satu dua kalimat dariku, membuat orang lain ga bahagia, membuat orang lain rusak harinya".

Suseh ya buuu.

Yah begitulah, kembali ke kalimat sakti "Bahwa bagaimana reaksi orang bukanlah tanggung jawab kita, tapi bagaimana kita bereaksi atas reaksi orang tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita"

So, aku pribadi sekarang mikirnya gini sih,  masa kita berharap semua orang bakal setuju terus dengan pendapat kita, bisa aja pas baca postingan kita si orang yang komen itu lagi capek, atau harinya lagi buruk. Mungkin anaknya baru aja numpahin seliter air ke lantai, trus buka hape baca blog yang nyeritain soal begitu penurutnya anak si blogger, wah emosi anjir.

Atau pas, kebetulan dia tadi ke mall mau beli lipstik, pas cek dompet- yah abis karena baru beliin anaknya sepatu", buka hape baca postingan si beauty blogger yang punya lipstik shadenya sampe 100, ya kezel jadinya.

Dan sebagai orang yang suka sharing (Tips menlupakan mantan aja aku share lho), jadi ya mau gimana lagi. Aku bakal tetep nulis, mau apapun tanggapan orang. Gitu aja sih mikirnya. Serah kalo ada yang ga suka, toh prosentase yang suka dan merasa terbantu lebih banyak.

Kembali ke "Reaksi orang bukan tanggung jawab penulislah pokoke" hahahaha.

So untuk siapapun di luaran sana yang mungkin mengalami apa yang aku ceritakan di atas " Keep sharing, keep writing, karena kita ngga pernah tau seberapa manfaat tulisan-tulisan kita bagi orang". Kalau ada komen julid ya anggaplah sebagai pengingat diri bahwa kita memang ga sempurna, dan bahwa ya itulah konsekuensi menulis sesuatu di ranah publik.

Ya ngga?

Andien aja tetep keeukeh nulis mau gimana pun haternya.

Afi aja masih pantang mundur berbagi pikiran-pikirannya,

Hahahaha kenapa aku jadi inget Afiiii.

Selamat sore semuaa, selamat berakhir pekan, mmuah.

Custom Post Signature