Friendship

Saturday, April 28, 2012


Mata saya mengerjap-ngerjab. Berusaha menahan desakan cairan bening dari Glandula Lacrimalis-kelenjar air mata- yang mendorong-dorong ingin keluar.

Dari sebuah kotak 29 inc di tengah ruangan, saya menyaksikan adegan paling romantic dari dua makhluk lucu berwarna kuning dan pink.

Patrics: “ Hai spongebob, mari kita bermain 'menangkap ubur-ubur
Sponge bob: “ Maaf Patrics aku harus sekolah mengemudi hari ini"
Patrics : “ Lalu, apa yang harus kulakukan”
SB : “ Lakukan saja apa yang biasa kau lakukan kalau aku tidak ada,. Apa yang biasa kau lakukan Patrics?”
Patrics: ” Yang kulakukan jika kau tak ada adalah “ Aku menunggumu”

Terharu melihatnya. Sungguh indah nian persahabatan mereka. Walaupun terkesan bodoh. Tapi semua terlihat tulus, tanpa tendensi apa-apa.

Tiba-tiba saya rindu dengan sahabat-sahabat saya.

Dalam setiap fase kehidupan saya, saya selalu memiliki orang-orang yang memiliki tempat khusus di hati saya. Entah sejak kapan tepatnya, saya tidak ingat lagi. Yang pasti selalu ada seorang sahabat yang menemani di setiap frame hidup saya.

Waktu SD, saya mempunyai seorang sahabat bernama Dian. Kemudian Dian pindah sekolah mengikuti orangtuanya di Aceh. Saya pun memiliki sahabat baru bernama Rani.  Rani pindah, saya bersahabat dengan Maya.

Dulu, saya memang tidak pernah lama bercengkerama dengan sahabat-sahabat saya tersebut. Mereka datang silih berganti.

Sahabat, bagi saya saat itu adalah seseorang yang padanya saya bercerita tentang PR yang diberikan guru. Berbagi majalah Bobo setiap kamis, dan orang yang mengingat hari ulang tahun saya, saling bertukar kado walaupun hanya sebuah buku tulis plus pensil. Seperti Tgline majalah Bobo, sahabat adalah teman bermain dan belajar.

Sahabat masa SMP, bukan lagi teman bermain dan belajar. Lebih dari itu, mereka teman ngegeng. Bersama-sama mengidolakan seseorang, tempat bercerita musik favorit kami, dan muara celotehan debaran-debaran hati remaja.

Pada mereka, tertulis kisah pencarian jati diri yang tak kunjung selesai. 

Sahabat Di SMU adalah merupakan sahabat saya juga di kuliah. Persahabatan yang mulai mendewasa. Persahabatan yang saling membutuhkan. Bertukar opini dan argumentasi. Bersama kami merajut impian dan cita-cita. Membagi kegundahan-kegundahan hidup.

Dan seterusnya, hingga memasuki dunia kerja. Kembali saya bertemu dengan orang-orang baru yang kemudian menjadi sahabat saya. Dengan cara yang lebih natural. Kesamaan pandangan hidup, persamaan nasib dan persamaan pola fikir yang mengeratkan jalinan itu.

Di lingkungan rumah saya juga memiliki sahabat-sahabat lain. Kedekatan tempat tinggal, perkumpulan yang diikuti lagi-lagi bermuara kepada rasa saling yang menjelma menjadi ikatan persahabatan.

Seperti cermin, persahabatan memantulkan siapa diri saya sebenarnya melalui diri sahabat-sahabat saya. Mereka adalah refleksi dari jati diri saya.

Kata orang, sahabat itu seperti bayangan, yang selalu ada dimanapun kamu berada bahkan ditempat gelap sekalipun.

Bagi saya sahabat tidak perlu ada dimanapun saya berada. Tak harus ada setiap saya butuhkan. Tak harus selalu mendukung apa yang saya lakukan. Bukan orang yang selalu mengerti saya, bukan pula orang yang mau menerima kekurangan dan kelebihan saya apa adanya. Bukan seperti itu.

Sahabat saya adalah manusia-manusia biasa yang terkadang tidak ada saat saya butuh teman. Yah mereka punya kehidupan sendiri, mereka punya kepentingan yang lain. Mereka juga terkadang menentang keputusan-keputusan saya, tentu saja dengan pertimbangan demi kebaikan saya. Terkadang diri saya pribadi tidak bisa melihat apa yang buruk di sekitar saya, bisa jadi malah orang di luar diri saya yang meilhatnya. Dan saya berterima kasih untuk setiap kata tidak setuju yang keluar dari bibir sahabat saya.

Sesekali mereka juga akan kesal dengan kecerobohan saya. Bosan dengan curhatan hati saya, dan terkadang mungkin kami akan bersaing memperebutkan sesuatu. Menurut saya itulah persahabatan yang sehat. Karena sahabat bukan tong sampah yang harus selalu mendengar keluh kesah kita. Dia hanya manusia biasa yang terkadang punya ego untuk sekedar berkata “Stop !, kali ini giliran saya”.

Dan seorang sahabat sejati lah yang bisa mengungkapkan kekurangan kita dengan tujuan agar kita lebih baik. Bukan dengan begitu saja menerima segala kekurangan yang kita miliki.

Sejalan dengan tergelincirnya waktu, satu persatu mereka hilang dari keseharian saya. Jarak, keluarga, pekerjaan, membuat semuanya tak bisa sama lagi seperti dulu.

Jika ditanya, siapakah sahabat terbaik saya?. Saya tidak pernah bisa mengatakannya. Karena masing-masing mereka, memiliki tempat khusus di hati saya. Saya selalu menyediakan beranda untuk mereka kunjungi saat kembali nanti







5 comments on "Friendship"
  1. Sahabat, walau jauh tapi dekat di hati ya Mbak

    ReplyDelete
  2. tiap fase kehidupanku, aku memiliki sahabat:) ada yang perorang ada yang kelompok:) dan alhamdulillah sekarang tetap berkomunikasi

    ReplyDelete
  3. sahabat terkadang wujudnya tak nampak namun hati bisa merasakan kehadirannya :)

    ReplyDelete
  4. Selaen suami saya, sekarang saya gak punya sahabat yang deket banget karena terpisah jarak. Tapi, walopun punya sahabat cuman atu, rasanya gak pernah kesepian.... :D

    ReplyDelete
  5. Seperti status FB ku beberapa hari yang lalu : Sahabat adalah dia yang memberimu semangat untuk bangkit dari keterpurukan.
    Salam kenal ya :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature