5 Tipe Proyektor Mini Multi Fungsi Terbaik

Wednesday, April 5, 2017


[SP] 5 Tipe Proyektor Mini Multi fungsi Terbaik

Bisa menikmati nonton DVD dengan suasana yang mirip sepeti di bioskop saat dirumah pasti merupakan hal yang menyenangkan bukan? Proyektor merupakan salah satu alat yang biasa digunakan untuk melakukan presentasi atau sekedar menonton film di rumah bersama keluarga

Seiring dengan berkembangnya teknologi saat ini, proyektor juga sudah jauh berkembang dari ukurannya yang besar sampai dengan ukuran mini yang ada saat ini. Untuk kamu yang tertarik untuk memiliki proyektor mini di rumah, berikut ini ada beberapa referensi proyektor mini multifungsi yang bisa kamu miliki :


LG Mini LED Projector PH300


LG Mini LED Projector PH300 mengusung teknologi triple XD engine, proyektor mini besutan LG ini mampu menghadirkan rasio kontras yang sangat tinggi yaitu 100.000:1 yang atinya melebihi nilai dari proyektor biasa yang ada. Selain itu untuk ketajaman gambarnya sendiri, LG juga sudah melengkapi dengan resolusi sebesar 1280x720. Didukung juga dengan adanyafitur plug and play sehingga kamu bisa dengan mudah untuk menghubungkan ke perngkat lainnya.


UO Smart Beam Laser


Dengan design yang bisa disebut minimalis, UO Smart Beam Laser banyak memberikan kemudahan bagi para penggunanya. Meskipun ukurannya bisa dibilang mungil namun untuk performanya bisa dibilang sangatlah memuaskan, dengan resolusi 1280x720 pixel dan aspek rasio 16.9 proyektor mini ini mampu menghadirkan gambar dengan ketajaman warna yang baik. Selain itu UO Smart Beam Laser ini juga sudah dilengkapi dengan konetivitas wireless yang akan memudahkan para penggunanya.


PicoPro


Tidak kalah dengan UO Smart Beam Laser, proyektor mini PicoPro juga menghadirkan design yang unik. Dengan berat sebesar 7 ons serta ukurannya yang tipis dan mudah dimasukan ke dalam kantong pasti akan membuat kamu semakin mudah untuk membawa proyektor mini ini kemanapun bukan. Selain itu proyektor mini ini juga sudah dilengkapi dengan teknologi LED, Fitur autofocus otomatis serta resolusi gambar sebesar 1920x720 yang artinya akan menampilkan gambar yang sangat baik. Kemudian proyektor mini ini juga bisa dihubungkan dengan smart phone kamu dengan menggunakan Wi-Fi.


Allwin E06 Handheld Smart Mini Projector 


Allwin E06 Handheld Smart Mini Projector merupakan salah satu proyektor mini yang paling ramping di dunia, dengan resolusi full HD sebesar 1920x1080 tentu akan membuat kamu sangat puas saat menggunakan proyektor mini ini. Selain itu kamu juga bisa dengan mudah menghubungkan proyektor mini ini dengan smartphone yang kamu punya. 


ASUS S1


Tidak hanya dikenal dengan produk laptop dan smartphonenya, Asus juga memiliki produk berupa proyektor mini. Salah satu proyektor mini besutan dari Asus adalah Asus S1,

Proyektor mini yang berukuran 1,3 x 4,3 x 4 inci ini sangatlah mudah jika ingin dibawa pergi
kemanapun. Meski performa gambarnya tidak sebagus merk lain, namun daya pakai proyektor mini ini bisa mencapai 30.000 jam pemakaian. Selain itu Asus S1 juga memiliki kemampuan short throw, yang artinya kamu tidakperlu menaruh proyektor ini terlalu jauh dari layar untuk mendapatkan kualitas gambar yang bagus.

Yuk segera miliki proyektor mini multifungsi agar kegiatan nonton bareng di rumah bisa terlaksana.Tidak perlu repot keluar rumah, karena kini Anda pun bisa membelinya secara online di MatahariMall.com tentunya dengan harga yang tidak kalah terjangkau dari toko gadget di Mall. Tunggu apalagi, segera cek MatahariMall untuk mendapatkan proyektor mini terbaik.












Jenis-Jenis Orang di Muka Bumi

Friday, March 31, 2017


Quote ini kalo dipikir-pikir nohok banget ya.

Bahkan dari jaman dulu kala, tipe-tipe manusia udah digolongkan seperti di atas, hahahaha.

Bener sih ya, orang-orang besar, orang sukses itu setau saya memang jarang banget yang suka ngurusin urusan orang. Lha iya, ngapain ngurusin orang kan orangnya belum tentu mau kurus *krik krik krik.

Orang-orang besar itu waktunya habis untuk memikirkan ide ide dan ide.

Kayak om Mark tuh, si pemilik facebook. Otaknya mungkin muter terus ya.

" Masa facebook cuma bisa nulis status biasa, bikin yang lain ah"

Tring, bisa bikin status warna warni.

" Masa cuma warna-warni doang sih, yang kreatif dong ah"

Tring, pas tahun baru kemarin, setiap kita ketik Happy New Year maka, otomatis akan muncul kembang api meledak di udara, keren.

" Yah gitu aja mah cemen, apa lagi yah"

Tring muncul Facebook live.

Abis itu sekarang FB pun bisa bikin story.

Wow wow, kalau udah gitu, mana sempat ya ngomongin orang, atau ngomongin hal remeh temeh kayak kita-kita ini. (((KITA))), LOL

Tapi memang terkadang hidup ini butuh keseimbangan.

Iya, sebagai ibu-ibu masa kini yang ngakunya modern, kekinian, dan ngga mudah terikut arus, ternyata ya saya tuh belum bisa jadi Great People sepenuhnya. Semua jenis manusia di atas itu ya nyampur di dalam diri saya.

Satu waktu ngomongin orang kenapa dia begini, kenapa dia begitu.

Meski tidak terang-terangan, adaaa aja gitu selintasan di pikiran " Ih apaan sih nih orang" atau " Ya ampun gitu aja dijadiin status".

Apalagi di jaman sosial media sekarang ini.

Orang dengan mudahnya bisa tahu apa yang lagi dirasakan orang. Karena semua mua bisa dishare ke publik. Semua-mua kehidupan kita ini bisa dilihat orang.

Akibatnya ya itu, kita juga punya kesempatan buat ngomentarin hidup orang. Maka jadilah kita si Small People tadi.

( Baca : Not Everything Is About You )


Di waktu lain ngomongin hal-hal remeh  yang mungkin Great People nganggap ngga penting amat sih. Kayak meratapi kok belum nemu lipen yang ngga hilang walau dibawa makan mie ayam, bakso, sushi dan segala macam. Curhat sama teman gimana caranya biar bisa punya Iphone 7 terbaru tapi ngga keluar duit, halah. Sampai menyesali hidup kok berat badan belum balik ke kondisi semula ya padahal anak udah bisa jalan huhuhuhu.

Ya begitulah namanya hidup.

Walaupun ini kedengarannya kayak pembelaan diri gitu, tapi menurut saya masih wajar-wajar sih. Asal posinya jangan berlebihan.

Jangan lupa sisihkan waktu juga untuk membicarakan apa yang Great People itu bicarakan. Mikirin ide, berkarya, mikirin kreativitas, atau sesuatu selain people atau things lah.

Kalau porsinya tidak dibalik-balik, mungkin kita yang saat ini masih di level small people bisa beranjak jadi average people, dan besok-besok siapa tau saham fesbuk jatuh ke tangan kita wahahahaha.


Makanya yuk yuk, kurang-kurangi ngomongin orang. #Ini notes untuk diri sendiri.

Kalaupun mau ngomongin orang pakai cara yang elehan.

Yang elehan itu yang kayak mana?

Ya dalam hati aja, trus diam-diam bikin tulisan, posting di blog, tambahin kata-kata mutiara, wahahahaha jadi deh satu postingan.

Oke skip, abaikan kalimat di atas.

Saya yakin masing-masing kita tahulah caranya yah, Kan udah dewasa.

Jadi, hari ini kamu dominan jadi orang jenis yg mana?

Great people
Average people
Atau small people?

Pentingkah Istri Memiliki Penghasilan Sendiri?

Thursday, March 30, 2017


Yang namanya berkeluarga itu rezekinya sudah diatur sebesar 100 %
Saat suami istri bekerja, maka rezekinya 100 %
Dan saat istri berhenti kerja, ya rezekinya tetap 100 %

Kalimat itu sering banget saya baca, yang menegaskan bahwa sebenarnya mau suami istri bekerja, atau hanya suami saja yang bekerja, yang namanya rezeki keluarga itu ngga akan berkurang.

Bener sih ya, saya setuju.

Nah, kalau demikian, banyak orang yang beranggapan, ya ngapain kalau begitu istri harus bekerja?

Bahkan ada juga yang berpendapat sebaiknya seorang istri itu ya di rumah saja, biarkan suami yang memenuhi segala kebutuhan rumah tangga, karena suami istri itu punya tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Trus muncul pertanyaan, sebenarnya perlu ngga sih wanita atau istri itu memiliki penghasilan sendiri?

GesiWindiTalk hari ini mau ngomongin itu



Sebelum kesana saya mau cerita dulu sedikit mengenai keluarga saya.

Saya lahir dan dibesarkan di keluarga yang ayah dan ibunya bekerja. Ayah saya kerja di perkebunan sedangkan ibu saya guru. Dari kecil terbiasa melihat ibu saya bekerja dan menghasilkan uang sendiri membuat saya ya cara berfikirnya bahwa perempuan itu normalnya bekerja.

Makanya ngga heran, anak ortu saya, tiga orang perempuan, semua jadi ibu bekerja. Walau pada akhirnya adik saya yang paling kecil memutuskan resign saat harus ikut suami pindah tugas.

Suatu saat di masa kami anak-anak ,ortu saya sedang butuh-butuhnya biaya sekolah, eh ndilalah saat itu ayah saya terkena PHK dari perusahannya. Yang mengakibatkan kami sempat yang mendadak jatuh miskin.

Jatuh miskinnya ngga ngenes banget sih, masih bisa makan, punya tempat tinggal, tapi biaya sekolah sempat yang terengah-engah banget memenuhinya.

Nah saat itulah saya merasakan betapa peran ibu saya yang notabene bekerja menjadi penyelamat bagi kelangsungan hidup keluarga kami. Dan syukurnya, ayah saya ngga lama langsung dapat pekerjaan baru, sehingga roda ekonomi kembali on the track.

But, di masa-masa itu kami sekeluarga sempat bener merasakan yang namanya ngga punya duit itu gimana. Itu pulalah yang menyebabkan saya akhirnya dikirim ke sekolah gratisan (yang juga keren pastinya) di Sibolga sana. Sesuatu yang mungkin ngga akan terjadi kalau keluarga saya ekonominya baik-baik saja.

( Baca : Warna Warni Sekolah Kenangan )

Memang ini bukan semata soal karena ayah saya kehilangan pekerjaan, tapi juga karena perencanaan keuangan keluarga yang buruk.

Iyes, keluarga kami tidak punya tabungan sama sekali, sehingga saat terjadi sesuatu di luar kendali, maka ekonomi keluarga langsung oleng.

So, jika ada pertanyaan, pentingkah seorang istri punya penghasilan sendiri?

Saya akan jawab Penting Banget

Kenapa?

Ada banyak alasan,
  1. Bisa membantu keuangan keluarga
  2. Bisa membeli apapun keinginan kita tanpa harus menunggu pemberian suami
  3. Tidak tergantung ke suami
  4. Bisa berjaga-jaga jika kondisi darurat terjadi
  5. Bisa membantu keluarga tanpa mengganggu uang keluarga
  6. Untuk kualitas hidup yang lebih baik
  7. Rencana keuangan keluarga lebih cepat tercapai
  8. Biar lebih dihargai
  9. Agar lebih percaya diri
  10. dst...dst
Silahkan diteruskan sendiri. Seribu alasan bakal ketemu.

Namun jika pertanyaan diteruskan, haruskan seorang istri memiliki penghasilan sendiri?

Jawaban saya :Tidak Harus.

Kenapa?

Karena ini sangat tergantung dengan kondisi keluarga masing-masing.

Ada keluarga yang peran istri malah akan lebih terasa saat istrinya sama sekali tidak bekerja atau tidak memiliki penghasilan.

Contohnya presiden, gubernur, bupati, istri para pejabat, istri ustazah, istri guru, istri pegawai kantoran, istri siapapun yang memang perannya sebagai pure pendamping suami malah akan lebih optimal untuk keluarga mereka.

Namun ada juga keluarga yang peranan istri tidak hanya sebagai pendamping suami tapi juga partner pencai nafkah.

Ngga bisa dipukul rata.

Soal kepercayaan diri, bisa beli barang sendiri,dll .

Yang kayak gini mah alasan- alasan bisa terpenuhi tanpa harus memiliki penghasilan sendiri.


Makanya walau saya bilang istri memiliki penghasilan sendiri itu penting tapi, istri tidak harus memiliki penghasilan sendiri.

Wah kok bisa gitu?

Ya bisa aja.

Ini mungkin bisa dianalogikan dengan, pertanyaan: penting ngga pakai pensil alis untuk menunjang penampilan?

Jawabannya penting. Tapi kalau diterusian, harus ngga seorang wanita pake pensil alis untuk menunjang penampilan?

Ya ngga harus. Tergantung alisnya udah bagus ngga, perlu ngga dipensil alisin.

Sungguhlah analogi yang luar bisa cerdas, wahahahaha.

Nah, makanya soal alasan kenapa seorang istri itu penting memiliki penghasilan sendiri sebenarnya hanyalah point plus saja dari imbas memiliki penghasilan sendiri.

Lebih dari itu, ada yang urgensinya lebih lagi bagi seorang istri atau siapapun di dunia ini yaitu,

Bahwa kita harus bisa hidup tanpa ketergantungan berlebih kepada orang lain.

Makanya alasan yang paling sering mendasari pendapat bahwa istri harus punya penghasilan sendiri adalah alasan ketiga dan keempat.

Yup, berjaga-jaga dari kondisi darurat merupakan alasan nomor wahid dari urgensi istri memiliki penghasilan sendiri.

Namun apakah itu sepenuhnya benar?

Ngga juga

Di contoh keluarga saya, saat terjadi kondisi darurat, even ibu saya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri ternyata kondisi keluarga tetap morat marit.

Dan di keluarga lain, saat suami duluan pergi, ternyata masih banyak istri tak memiliki penghasilan yang bisa survive.

Nah lho bingung kan?

Berkaca dari hal tersebut, saya mengambil satu kesimpulan, bahwa sebenarnya di luar soal pentingnya istri memiliki penghasilan sendiri, ada setidaknya dua hal mendasar yang harus dimiliki seorang istri yang lebih dari pentingnya memiliki penghasilan sendiri,yaitu


" MENJADI ISTRI YANG MANDIRI DAN MEMILIKI PERENCANAAN KEUANGAN YANG BAIK"

That's it.

Kenapa?

Seperti quote di pembuka tulisan ini, saya percaya bahwa yang namanya rezeki itu sudah ada yang atur. Sejelek-jeleknya nasib, tiba-tiba ditinggal suami pada saat kita tidak memiliki sumber penghasilan sendiri, sepanjang punya perencanaan keuangan yang baik, maka sebenarnya semua bisa banget aman terkendali.

Karena mau seberapa besar pun gaji suami ditambah gaji istri, jika tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik, ya hasilnya nul putul.

Sebaliknya seberapa pas-pasan nya pun penghasilan suami, kalau dikelola dengan baik, maka ya keuangan keluarga juga akan baik-baik saja saat misal suami duluan pergi. Ini kan sunatullah ya, usia manusia pasti berakhir.

Nah, masalahnya, perencanaan keuangan keluarga yang baik, walaupun teorinya itu kata om Safir Senduk ataupun kata mba Ligwina Hananto " Tidak penting berapa penghasilanmu yang penting berapa yang bisa kau sisihkan", tapi pada kenyataannya jauh lebih gampang merencanakan keuangan keluarga saat duitnya memiliki jumlah yang secara kasat mata ada di angka tidak mefet.

Sederhananya, tentu lebih gampang mengatur uang 10 juta untuk kehidupan rumah tangga dengan 2 orang anak dibanding mengatur uang 3 juta misalnya.

Ya kaan ya kaaan?

Untuk memiliki keuangan yang lebih lega itulah, peran istri yang memiliki penghasilan sendiri jadi penting.



Memiliki penghasilan sendiri bukan berarti harus bekerja keluar rumah.

Untuk hal ini, saya ngga mau membuka perdebatan.

Perempuan punya pilihan mau bekerja di luar atau menjadi stay at home mom.

Pendapat pribadi saya, sepanjang suami masih mampu membiayai keuangan keluarga, jika istri memang tidak perlu untuk mencari nafkah, dan si istri serta suami juga merasa baik-baik saja, ya ngga perlu juga maksa untuk memiliki penghasilan sendiri.

Karena salah satu tujuan berkeluarga itu kan biar mencapai kesejahteraan bersama.

Isri memiliki penghasilan sendiri adalah salah satu tools.

Kalau tools itu ngga dibutuhkan ya ngga perlu dipaksa dipakai.

Ya ngga?


Makanya saya bilang disini bukan masalah bekerja di luarnya, atau memiliki penghasilan sendirinya, tapi kemandirian si istrilah yang menjadi pointnya, sehingga jika suatu saat amit-amit terjadi sesuatu yang mengharuskan seorang istri menjadi si pencari nafkah, maka dia ngga akan gagap terhadap perubahan yang terjadi.

Yup, itu Pointnya MANDIRI dan PERENCANAAN KEUANGAN YANG BAIK

Kita bahas satu-satu ya


MANDIRI

Mandiri itu maksudnya bukan tidak perlu bantuan suami, atau bisa apa-apa dikerjakan sendiri. Atau bisa beli barang apa-apa sendiri ngga minta suami. Ngga seperti itu.

Mandiri yang saya maksud adalah seorang perempuan harus memiliki sesuatu yang bisa diandalkan buat bertahan hidup. Life Skill lah istilahnya.

Makanya saya bolak-balik tulis di blog saya ini, saat seorang perempuan berubah status menjadi istri jangan pernah, saya bilang JANGAN PERNAH mengubur mimpi-mimpi kita.

Jangan pernah berhenti untuk mengasah kemampuan diri sendiri, jangan berhenti untuk menggali potensi yang ada. lakukan apa yang menjadi passion kita, jangan berhenti belajar.

( Baca : Wanita dan Cita-Cita Yang Meredup )

Saya mengagumi istri-istri yang tidak pernah merasa bahwa dinding rumah adalah pembatas dirinya dengan dunia luar.

Ada seorang teman saya yang dulunya bekerja , sama seperti saya seorang banker. Saat menikah ia resign. Namun ia tidak pernah berhenti mengasah diri. Saat ada waktu luang yang dilakukannya adalah kursus menjahit. Selesai kursus menjahit, ada waktu lagi ia gunakan untuk kursus memasak.

Selalu ada hal yang bisa dilakukan, dan saat ini bahkan ia sudah bisa mendapat penghasilan dari hobi menjahit dan memasaknya itu.

Saya juga punya seorang teman yang dulunya saat kuliah lulus dengan IPK Cum laude. Begitu menikah, ia menjadi Stay At Home Mom. Tapi bukan sembarangan Stay At Home Mom, dia yang dulu gape meramu berbagai bahan kimia di laboratorium, kini ahli meracik berbagai macam bumbu menjadi aneka hidangan lezat.

Dan ngga, suami mereka ngga yang kekurangan, hidup mereka malah jauh dari kata cukup alias berlebih. Saya yakin jika amit-amit terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, maka mereka tidak akan gagap, minimal dalam hal ekonomi keluarga.

So jadilah perempuan yang mandiri, jadilah istri yang memiliki sesuatu yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup.




PERENCANAAN KEUANGAN YANG BAIK

Point kedua yang terpenting adalah perencanaan keuangan keluarga.

Berkaca di kasus keluarga saya.walau ibu saya bekerja, namun saat ayah kehilangan pekerjaan bisa dibilang kami cukup kocar-kacir menghadapinya. Padahal ibu saya punya penghasilan sendiri.

Iya kami selamat melewatinya, namun sungguh masa-masa yang kalau diinget bisa bikin mbrebes mili lah.



Dan itu semua terjadi karena tidak adanya perencanaan keuangan yang baik.

Maka, seorang istri , apapun kondisinya, mau bekerja mau tidak bekerja, mau punya penghasilan atau tidak punya penghasilan saat ini, mau punya suami kaya atau suami pas-pasan, penting banget bisa mengelola keuangan keluarga dengan baik.

Rencanakan... Apapun selalu rencanakan.

Buat target-target yang masuk akal.

Misal : gaji suami 5 juta, ya targetnya pengeluaran maksimal Rp 3,5 juta. Sisanya untuk tabungan, untuk investasi, untuk asuransi, untuk dana pendidikan anak, terserahlah, sesuaikan dengan tujuan keuangan keluarga masing-masing.

( Baca : Perencaaan Keluarga Ala Ibu Bekerja )

Setiap keluarga tentu memiliki formula yang berbeda-beda. Temukan dengan trial and error. Yang pasti jangan besar pasak dari pada tiang.



Saya amat mempercayai bahwa rezeki itu sudah diatur yang maha Kuasa. Tugas kitalah menjemput rezeki itu dan mengelolanya dengan baik.

Namun bukan berarti kita pasrah aja terhadap apapun kondisi kita. yang namanya manusia itu tugasnya adalah berusaha termasuk berusaha mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang bisa menimpa.

Memiliki penghasilan atau tidak memiliki penghasilan bukan issue utama bagi seorang istri (menurut hemat saya), apalagi soal bekerja atau tidak bekerja. Karena memang ada perempuan yang suka bekerja, hobinya bekerja, passionnya bekerja (seperti saya), ada pula perempuan yang memang hobinya ya mengerjakan segala urusan rumah tangga.



Yang pasti, mau punya penghasilan atau tidak, mau bekerja atau tidak, seorang istri (menurut saya) penting untuk memiliki sebuah keahlian dan Penting pake banget bisa mengatur keuangan keluarga dengan baik

Jadi bu ibu yang sekarang bekerja, dimanapun, mau kerja kantoran, mau kerja MLM, ga perlu ya setiap hari ngajak orang untuk harus punya penghasilan sendiri dan menganggap istri yang ngga punya penghasilan itu afalah istri yang ngga produktif.

Ngga semua istri harus punya penghasilan sendiri.

Dan bu ibu yang saat ini ngga punya penghasilan sendiri juga ga perlu stress,merasa kok kurang keren nih, kok aku ga bisa punya uang sendiri.

Ngga perlu gitu juga.

Yang penting, selalu prepare diri. Kalau memang punya keahlian dagang silahkan diasah dengan berlatih jualan. Punya keahlian masak,ya masak aja terus sampe jadi ahli, punya keahlian nulis, ya terus berlatih nulis.

Karena yang namanya manusia, mau seorang istri atau bukan, mau laki atau perempuan memang selayaknya memiliki keahlian untuk bertahan hidup dan tidak melulu tergantung pada orang lain.


Kalau menurut kalian nih, seberapa penting seorang istri memiliki penghasilan sendiri?


  • Penting Banget
  • Penting Aja
  • Ngga Penting
  • Biasa Aja
  • Ngga peduli
  • Tergantung (tergantung apa?)


Plis ikutan sumbang pendapat dong, pengen tau pendapat kalian. Atau buat post sendiri dan tag saya yah.

10 Merk Baju Bayi dan Balita Paling Bagus Dengan Harga Terjangkau

Thursday, March 23, 2017
10 Merk Baju Bayi dan Balita Paling Bagus Dengan Harga Terjangkau


Dulu banget pas saya belum punya anak, sering nguping pembicaraan emak-emak rekan kerja di kantor.

" Kalau udah nikah itu, kita bakal ngga ingat sama keperluan pribadi, apa-apa yang dipikirin pasti untuk anak. ke mall aja yang dilihat baju anak bukan baju kita"

Setelah saya punya anak?

Hmmm, ternyata ngga terjadi sama saya, LOL.

Sepertinya sense of motherhood saya apa kurang apa gimana ya.

Bagi saya keperluan pribadi ya punya prioritas sendiri, keperluan anak juga punya porsi sendiri. Masing-masing tidak saling mengalahkan kepentingan yang lain.

Maksudnya nih, misal ke mall, ya ada saatnya saya memang kesono untuk beli keperluan saya, pas melihat baju unyu anak sekalipun, kalau saya memang ngga budgetin buat beli baju anak ya ngga beli. Kecuali ada diskon super gede, hahah yang ngga direncanain pun kadang terbeli.

( Baca : Belanja Impulsif )

Nah, sama juga, saat saya memang niatnya ke mall beli keperluan Tara dan Divya ya biasanya saya juga ngga ke counter pakaian dewasa. karena untuk muterin counter anak aja udah makan waktu.

Tapi sejujurnya sih ya, kalau untuk anak seumuran Tara, beli baju di mall memang banyak pilihan, karena ukurannya udah lumayan gede dan banyak diskonnya. tapi kalau untuk baju balita, seusia Divya, saya lebih suka beli di toko-toko perlengkapan anak langsung, karena lebih enak milihnya.

Mengenai toko mana saja yang sering saya kunjungi, nanti dipost berikutnya ya. Sekarang, saya mau kasih tau 10 merk baju balita yang menurut saya paling nyaman, aman, tentram, harga bersahabat untuk balita, LOL.


Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita utamakan saat membeli baju balita.

1. NYAMAN

KENYAMANAN itu nomor satu ya bu ibu.

Banyak banget ibu ibu yang suka beli baju balitanya karena alasan lucu, ada rumbai-rumbainya, ada manik-maniknya.

Ngga salah sih, tapi biasanya yang banyak ornamen-ornamen itu kurang nyaman untuk balita yang masih cimut-cimut. Ntarlah sabar, tahan diri dulu sampe anaknya gedean dikit. Kalau masih unyu gitu anaknya, beli yang nyaman aja pertimbangan utamanya.

Baju yang nyaman itu biasanya terbuat dari bahan kaos, atau katun.

Udahlah pilihnya dari dua bahan itu aja.

2. SIMPEL

Pilih baju yang simpel aja, jangan kebanyakan pernak-pernik. karena balita itu fasenya masih fase penasaran. Apa-apa mau dimakan, mau dimasukin mulut, mau dirasain, jadi semakin simpel bajunya, semakin aman buat anak.

3. HARGA REASONABLE

Karena balita itu fase hidupnya masih panjaaaaang banget, jadi jangan menhabiskan uang belanja buat beli baju yang mahal-mahal ya bu ibu.

Iya mahal BIASANYA bagus, karenabahannya juga biasanya bagus. tapi untuk balita yang pertumbuhan bdannya sangatlah cepat, alangkah sayangnya mengeluarkan duit turah-turah untuk satu baju doang.

Jadi belilah baju yang harganya ngga bikin emak-emak meratapi hari sambil merenung melihat ke tumpukan pakaian di lemari, LOL.

4. UKURAN

Perhatikan ukuran saat membeli baju. jangan beli untuk ukuran pas di umurnya saat itu. Lebihkan satu nomor di atasnya.

Kenapa hanya satu nomor?

karena kalau sampai 2 nomor, kasihan ah anaknya, masa pakai baju kedombrongan.

Bu ibu, kalaupun mau hemat ya jangan parah bangetlah, Estetika juga perlu, hahahaha. Iyes, beli bajunya yang satu ukuran di atasnya aja ya. Misal usianya 1 tahun, ya beli untuk ukuran 2 tahun masih dimaafkan.

( Baca : Serba Serbi Perelngkapan Bayi Baru Lahir )

Nah, 4 pertimbangan itu yang biasanya saya gunakan kalau mau membeli baju untuk anak-anak saya, terutama pas balita. karena kalau udah gedean, saya kadang pilih ada faktor unyu-unyu nya.

Beberapa merk favorit saya, yang memenuhi kriteria di atas itu ada beberapa :

1. Libby, Nary, Fluppy, Nova

Hahaha, mana nih ibu-ibu yang ngga tau merk Libby. kayaknya ini merk sejuta umat banget yah. Libby ini bahannya kaos, lembut untuk kulit balita, harganya ngga mahal, dan hampir pasti ada di semua toko baju bayi.

Ciri khas Libby adalah modelnya yang simpel, coraknya sederhana, dan bayi banget. Dia nyedian ukuran dari new born sampe usia dua tahunan.

Buat ibu-ibu yang baru punya anak, libby ini pilihan bagus menurut saya.

Saya dulu beli singlet, baju rumah, baju tidur mereknya libby aja udahlah.

Merk yang sebelas dua belas sama Libby itu ya Nary dan Fluppy.

Fluppy

Nova

Lupa, kayaknya Libby


Mereka ini saudara seibu tak sebapak apa gimana. hampir mirip sih.

Beda-beda di harga doang. Beda seribu sampe 5 ribulah.

Kalau saya sih membedakannya jadi begini :

Kalau Nary dan Nova itu, lucu-lucu untuk ukuran new born, karena dia imutnya bener-bener imut-imut, jadi memang pas untuk new born.

Kalau Libby sama fluppy, kadang untuk new born masih kegedean, kalau Nary atau Nova bisa pas gitu.

Nah kalau fluppy, dia lebih ke baju bobo.

Baju bobonya merk Fluppy itu unyu-unyu banget, warnanya soft-soft, pastel-pastel gitu.

Jadi sebenernya tiga merk ini hampir mirip-mirip, kalau ke toko bayi biasanya malah raknya sebelahan, jadi ya tinggal pilih sesuai selera aja. Soal kenyamanan sama ketiganya.

Rekomended.

2. Carter

Yes selain 3 merk di atas, Carter juga termasuk merek sejuta umat.

Produk bayi dan balita carter yang best seller itu untuk produk jumper.

Jumper itu baju terusan sampe paha yang ada kancing di tempat pipis bayi, jadi ngga repot mau ganti-ganti diapers.

Satu pack jumper itu isinya 5, harganya sekitar 130 ribuan, jadi mayan hemat.

Carter Jumper


Waktu Tara dulu saya suka makein jumper, tapi pas Divya saya lebih suka pake yang potongan, kaos sama celana pendek, atau celana panjang merk carter.

Carter Kaos


Kalau pasangan gini, satu packnya isi dua. Lucu banget deh, soalnya motifnya lucu-lucu, ada yang buah-buahan, binatang, mobil-mobilan, dan motif atau gambarnya itu biasanya pas di pantat bayi. Jadi pengen nepok pantat bayi terus pas jalan megal megol, hahaha.

I Love carter. carter is The Best.

Tapi kalu udah masuk mall, kenapa carter jadi muahal banget yah. I don't know


3. Banana Baby

Aduh ini merk ucul banget dah.

Biasanya dijual di Matahari atau SOGO. ngga tau ya di tempat lain, soale di Medan, mallnya cuma dua itu sih dept storenya, kalau ngga Matahari ya Sogo yang ada produk babynya.

Banana
Emakny Ngga berhasil Foto anaknya


Banana ini memang khusus untuk baju-baju anak balita yang lutu lutu. Gemesh banget lihat model-modelnya. bahannya lembut, halus, dingin, ngga gerah. ah I laaaaf.

Banana


harganya kisaran Rp 80 ribu ke 200 ribu.

Inga inga beli pas diskon azah ya, kalau diskon mayan, kadang beli 1 gratis 1, atau ngga beli 2 gratis 1 kan hemat ya bu ibu.

4. GW

Merk ini ngga dijual di departement store, dia banyaknya di toko-toko biasa, atau di onlen shop. Modelnya model-model pasangan atas bawah dengan bahas kaos.

Bagus-bagus, cocok untuk baju rumahan tapi yang rada bagusan.

Tau kan maksud ane. Kan baju rumahan itu juga ada kastanya.

Kasta buat lecek-lecekan. Ini saya ada banget, biasanya dipake Tara siang hari pulang sekolah, kan kegiatannya paling bobo dan main dalam rumah doang, dia pake baju yang kasta ini hahahaha.

Nah kalau GW ini kastanya baju santai tapi yang bagusan bisa dibawa ke tengah lah.

GW


Misal untuk jalan-jalan sore, atau untuk pergi makan di luar. Jadi baju santai tapi bagusan gitu lho, hahaha.

harganya di kisaran Rp 60 ribu sampe Rp 130 ribuan tergantung ukuran .


5. Cool Kids

Cool baby dan Cool Kids ini samaan, hanya beda ukuran ajah.

Dia produknya banyakan yang kaos-kaos sama jeans-jenas gitu.

Ini bukan baju rumahan, cocoknya lebih ke baju pergi-pergi tapi yang sporty. kaosnya lucu-lucu, biasanya gambar kartun yang lagi ngehits. Kalo untuk anak perempuan itu motifnya ala-ala Princess, kayak Sofia, Putri Salju, Cinderella, Frozen.

Tara Beli Cool Jids borongan pas diskon 70 %


Beli HANYA PAS DISKON 70 % SAJA.

Hahahaha, maaf pemirsah, saya sungguh perhtiungan saat beli baju anak, ngga ada impulsif-impulsignya. Yaaa ngapaian beli harga normal kalau bisa dapet diskon.

Kaos : Cool Kids
Celana : Hello Kitty


Cool Kids dan Cool Baby ini sering banget ngadaian diskon. Dan dia beneran harganya ngga dinaikin dulu, makanya pas ngga diskon kalao mampir saya suka melnegos. Cih, kaos gini aja harganya 139 ribu, huh. Eh pas diskon bisa jatoh banget sampai di harga 30 ribuan sebiji.

makanya BELILAH HANYA SAAT DISKON 70%. bahkan diskon 50% pun saya ngga mau beli, kecuali anaknya naksir banget. HAHAHAHAHA


6. Popeye Kids

Ini sama, sebelas dua belas sama Cool Kids and Cool Baby, harganya pas normal bikin nyesek. Nyesek dalam arti masih dibawah Mothercare sih, tapi tetap mahal menurut saya. Baju anak itu maksimal 150 ribu mah kalau saya, Di atas itu harus bagus banget, atau modelnya ncul banget #Sikap.

Nah tapi, si Popeye ini suka juga cuci gudang. Tunggu aja, biasanya menjelang lebaran dan tahun baru. Beuuugh, itu jeans anak ucul-ucul bisa sampe harga 50 ribuan sebiji. kaos-kaos bisa nyampe 15 ribuan.

So bu ibu, just a little patient yah hahahaha.

(Ngga nemu fotonya)

7. Hello Kitty

Hello Kitty ini saya taunya cuma di SOGO dan Matahari. di Medan , ngga tau dimana lagi yang jual kalau di Medan. Ya sesuai namanya, baju yang dijual itu memang karakter Hello Kitty gitu. dari mulai kaos, gaun, jeans, ada gambar Heloo Kittynya.

Tapi perlu diperhatikan, jeansnya Hello Kitty itu panjangnya nanggung, kalo dipake Tara pasti cingkrang.

Atas Bawah Kello Kitty


Ini juga pantang beli pas harga normal. Tunggu pas diskon 50% atau beli 1 gratis 1. Dia jarang banget diskon sampe 70%, tapi bolehlah, kalo pas diskon 50% harganya bisa sampe 75 ribu saja sepotong. Mengingat kualitasnya memang bagus, harga segitu boleh masuk keranjang belanja, xixixi.


8. Donita



Donita

Ini baju khusus anak perempuan. Model gaun gaun gitu. Seriiing banget diskon di dept Store. Beli 1 gratis 1. Bahannya katun, enak dingin.

Beli hanya saat diskon bisa jatuhnya cuma 70 ribuan sebiji. Ahsek.

9. Pito Dito

Pito Dito ini sebelah dua belaslah sama Donita, mirip-mirip. Tapi kalau Donita banyakn corak bunga-bunga, Pito Dito lebih ke polosan dan gaun-gaun pesta.

Pito Dito


Tara baju pesta-pestanya banyakan merk ini. Belinya ya pas diskon azah, bisa dapet harga 200 ribuan sebiji dari harga 400 ribuan saat normal.



Dibandingin harus jahit sendiri, Pito Dito mayan banget hemat.


10. Little  M

Little M ini merk yang Matahari banget yah, hahaha. Dia model pakaiannya casual gitu. kaos-kaso, jeans, atau overall.




Saya biasa beli Little M yang model overall gitu, karena dia lutu-lutu.

Dan ini harganya diskon ngga diskon masih terjangkau banget sih. Dibawah 100 ribuan.

Tapi lagi-lagi, belilah pas diskon, wahahahaha. Karena bisa beli 1 gratis 1, dan itu jatuhnya ntar cuma 50 ribuan.

Aih aku bahagia.


So, itu tuh 10 merk baju bayi dan balita paling bagus dengan harga terjangkau yang selama ini saya beli. Ntar kalau inget yang lain saya tulis lagi. Tapi so far kayaknya itu aja udah TOP BGT.

Baju bayi dan balita yang bagus , tapi ngga bikin dompet emaknya kempes.

Kalau yang harganya di atas itu mah buanyak banget. Ini yang saya tulis yang harganya sedengan tapi kualitasnya ngga kodian.

Kalau kalian, biasanya beli merk apa, share dong siapa tahu ada merk lain yang bagus dan lebih murah hahahaha.






Belanja Impulsif

Wednesday, March 22, 2017
Belanja Impulsif




Katanya  wanita dan belanja itu kayak saudara kembar satu mamak satu bapak. Dimana ada wanita hepi-hepi bareng, biasanya ujung-ujungnya belanja.

Bagi sebagian wanita belanja itu kayak sebuah terapy, makanya setelah belanja biasanya dia hepi. Stress di pekerjaan, lari ke mall, belanja ina inu, balik-balik bahagia. Besoknya stress maning, xixixi.

Ada juga yang melakukan kegiatan belanja sebagai me time. Iya me timenya itu belanja, hahaha mahal ya bok.

Ada juga yang menjadikan belanja sebagai sarana piknik, sarana hiburan. Jadi tiap weekend, pikniknya ke mall, ujung-ujungnya belanja.

Ada juga. yang memposisikan belanja ya cuma sebagai kegiatan biasa kayak kegiatan rutin lainnya.

Kalau belanjanya sesuai kebutuhan sih sebenarnya ngga apa-apa.

Nah, sialnya banyak wanita yang belanja atau membeli sesuatu karena alasan ngga logis. kayak ih karena lucu, atau ngga karena warnanya pink, pokoknya pink is a must. Bahkan ada yang belanja karena ya pengen aja, masa pengen dilarang sih T____T.




Nah, model-model belanja yang tanpa perencanaan ini nih yang disebut belanja impulsif.


Jalan-jalan ke mall, niatnya cuma jalan doang, eh mampir ke counter kosmetik, tiba-tiba udah segambreng masuk ke kasir.

Atau lihat-lihat ol shop, trus, tung tung tung, masuk aja ke chart.

Belanja yang semena-mena ini, bener-bener bikin bahagia sesaat, udah gitu pusing sampai migren, LOL.

Dua hari yang lalu, saya abis ngambek dengan suami.

Ngambek yang sampai ngga mau ngomong seharian. Ngambek level ngga mau ada di satu ruangan sama masteg. kalau Mas Teguh di dapur, saya ke kamar. Doi ke kamar, saya ke ruang tamu, doi ke ruang tamu saya ke dapur. Duh rumah seuprit, tempat ngumpet jadi ngga variatif, xixixi.

Apa sebab?

Soalnya saya lagi bete. Saya bete karena duit saya kok cepet banget abisnya bulan ini. Jadi saya ngadu ke suami, dengan harapan bakal ditambahin uang jajannya, eh malah dinasehatin panjang lebar. Tentang berhemat, tentang lalalalalala, yang membuat saya bete beratlah pokoknya. Udah tau orang lagi masygul , bingung entah kemana larinya duit gaji, eh malah diomelin, kan bikin pengen mamam sawi pait ya,LOL

Usut-punya usut ternyata memang di sebulanan kemarin, saya melakukan yang namanya belanja impulsif.


Belanja yang ngga pake mikir, trus main beli-beli aja.

Baca punya Gesi :


Abis itu pas lihat saldo di rekening, langsung berurai air mata, huhuhu. Entah hapa-hapa yang saya beli bulan lalu, sampe malu lihat saldo sendiri .



Padahal kalau pakai skala 1 sampai 10, level kegemaran belanja saya itu sebenarnya berada di angka 5, alias sedang-sedang saja. Saya ngga hobi banget belanja, tapi ya kalau diajak belanja hepi. Tapi bukan type orang yang stress trus belanja. 

Bukan ngga mau, tapi dana ngga mendukung cuy.

Dulu aja pas mau lahiran anak pertama, yang kebanyakan orang excited buat belanja macem-macem keperluan bayinya, eh saya malah lebih milih nitip ke kakak ipar dan adek saya. 

Kebanyakan barang-barang yang saya punya, kayak baju, tas gitu, yang beliin adek atau kaka ipar saya, sangkin malesnya saya belanja. jadi mereka biasanya saat jalan-jalan kemana trus nemu barang bagus yang kira-kira saya bakal suka, langsung dibeli, besoknya saya suruh ganti uangnya, huuuu.

Nah, tapi dalam sebulanan ini, saya bener-bener yang lost control sampe berasa boroooos banget.

Hasil bongkar-bongkar struck belanja, ini nih 3 pengeluaran saya di bulan kemarin dan sebenernya di bulan-bulan sebelumnya juga jadi pos terbesar pengeluaran saya yang sukses bikin saya bokek mendadak.

1. Skincare

Yup, saya pernah cerita di blog ini, kalau saya suka banget nyoba-nyobain skincare. Dan kalau beli tuh, langsung sepaket-sepaketan gitu. Pokoke kalau udah di counter kosmetik, saya lemah bangetlah. Ditawar-tawarin mba SPG, iman langsung lemah, tiba-tiba udah nenteng aja kantong belanjaan isi skincare.

( Baca : My Daily Make Up )

Jadi kebetulan kemarin pas bulan Januari kan saya ultah. Ditawarin kado sama suami. Karena ngga tau mau beli apa, saya jadinya jajan skincare, sepaket, yang harganya bikin nangis. Huhuhuhu saya bahagia tapi sedih, sedih tapi bahagia.

Sedih, karena sekarang mikir, kalau dibeliin emas kan mayan tuh dapat beberapa gram. Tapi bahagia karena dikasi kado yang saya pengen T____T

Padahal kado yah, tapi tetep aja bikin nyesek. Ah elah hidupku ribet amat sik.

Perkara skincare ini, saya pernah juga belanja yang ngga masuk akal.

Saat itu saya lagi ke bogor, nginep di hotel Santika. Bawahnya hotel Santika itu kan Mall Botani Square. Jadi malam-malam saya makan di mall, abis makan jalan-jalanlah lihat-lihat mall, trus mampir ke counter bodyshop. Eh ada payung unyu banget, warna putih, tapi kalau kena hujan ntar dia berubah warna jadi pink. Kyaaa kyaaa saya langsung mupeng.

Tapi, untuk dapetin payung itu harus belanja dulu sejuumlah tertentu. Demi payung saya belanja skincare segambreng, Iyes seimpulsif itu, aaaaaaak. Saya ngga ngerti gimana cara ngeremnya.

Payung yang bikin saya belanja skincare segambreng



2. Sepatu

Ini juga ngga ngerti, kok sebulanan kemarin, dalam waktu sebulan ternyata saya beli sepatu sebanyak...........4 buah, oh my God. Padahal ya kakinya cuma sebiji, tapi bisa-bisanya beli sepatu 4 biji dalam waktu singkat.

Jadi ceritanya, kemarin tuh dapat job, yang bayarannya voucher belanja marketplace gitu.

Buka webnya, pilih-pilih eh naksir sepatunya, beli deh.



Trus ada job yang dilakukan kemarin-kemarin udah selesai, eh bayarannya voucher belanja maning. Lihat-lihat , naksirnya ke sepatu lagi. 

Cuuus, si sepatu baru nyampe ke rumah.



Ini nih sepatunya, yang minat beli silahkan lho. Masih gres,belum saya pakai.

Trus, pas jalan-jalan sama suami ke mall, ditawarin mau beli apa. Karena saya istri yang baik hati dan tidak sombong, saya minta........SEPATU... again.


Trus dua hari kemudian jalan-jalan sama ade saya, nemu sepatu ini. Aaaaargh.


Dan yang dipake, cuma itu lagi itu lagi.

Mungkin saya punya penyakit, syndrom sepatu. I hate it.


3. Spa, Pijet, Salon, dan Kawan-kawannya.

Iyaaaa saya hobi banget ke salon. Bukan buat permak wajah atau apa, tapi buat dipijet-pijet sama mbanya.

Ternyata yah di dua bulan ini ampun banget pengeluaran saya untuk dipijet-pijet. Sampe ..... pokoknya kalian ngga bisa membayangkan berapa yang saya habiskan di salon, yang akhirnya kemarin bikin Mas teguh ceramahin saya panjang lebar.

Karena apa?

Karena Me time saya itu SALON.

SALON is my life

I Love SALON so much.

( Baca : Me Time )

Aaaargh, saya suka banget beli voucher-voucher salon or spa sekali beli 10 biji, biar dapet diskon. Dan itu habisnya cepet banget.

Dalam sebulan mungkin saya empat kali pijet. 

Ditotal-total, pengeluaran karena belanja impulsif ini mencapai sekian sekian juta, aaaaargh. Pantesan suami marah kemarin .



Belum pernah terjadi dalam sejarah, saya seboros ini. Kayaknya memang karena kurang piknik nih, jadi pikniknya ke mall. Jadi pikniknya ke salon, jadi pikniknya cuci mata di olshop.

Pokoke saya kapok deh, ga lagi-lagi belanja tanpa perhitungan gini.

( Baca : Biar kere Yang Penting kece )

Kalian, pernah ga melakukan belanja impulsif. Trus gimana cara ngatasinya, kasih tau saya dong.



Custom Post Signature