Showing posts with label marr. Show all posts
Showing posts with label marr. Show all posts

Menikah Dengan Yang Selevel

Thursday, January 4, 2018



Dulu pas mas Teguh melamar saya, saya sempet ngajuin pertanyaan

" Mas sebelum sama aku, pernah pacaran ngga? atau pernah dikenalin dengan cewek lain?"

Kenapa saya nanya begini?. Karena di lingkungan pekerjaan mas Teguh tuh lumrah banget proses perjodohan. Maklum di tempat kerjanya banyak perantau jadi biasanya atasannya suka membantu ngenalin ke orang yang dirasa pantas gitu buat dijodohin.

" Pernahlah dek, beberapa kali "

" Trus? Kok ngga lanjut?"

" Ya gimana, yang dikenalin ke mas itu anak-anak pejabat, ngga mau ah, mas bukan level mereka"

Hahahahaha, saya langsung cembetut.

 " Jadi maksudnya levelku itu di bawah ya, makanya mas niat banget nikah sama aku, mau menjajah ya?" Tetiba sewot, wakakakaka.

( Baca : How I Met My Hubby )

Setelah ngobrol panjang lebar dengan mas Teg, ternyata maksudnya itu  saya dan doi itu sekufu.

Sekufu itu maksudnya kurleb samalah level keluarganya. Baik dari segi ekonomi, gaya hidup, pendidikan, agama. Menurut mas Teguh, keluarga dia dan keluarga saya dalam banyak hal itu mirip. Kami sama-sama berasal dari kota kecil, background kerjaan ortu kami sama. Bapak mas Teguh itu guru, ibu saya juga guru. Pendidikan kami juga sama, ngga njomplang, selevellah dalam banyak hal..

Hmm, saya jadi mikirin perkataan mas Teguh itu lagi sekarang, gegara ngobrol sama Gesi soal pernikahan. Dan saya mengaminkan banget apa yang dibilang mas Teguh.



Menikah itu memang bukan perkara mudah sih ya. Dalam pernikahan itu ada dua sosok yang niatnya hidup bersama. Maka memang jauh lebih mudah kalau latar belakang kehidupannya ngga njomplang-njomplang amat.

( Baca : Menikah Atau Tidak )

Saya terkesan banget dengan sebuah pecakapan di film Sabtu Bersama Bapak. Bunyinya kira-kira begini

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain”

Walau di sini arah quote itu lebih ke soal finansial, tapi relate juga ke masalah sekufu tadi. Karena pernikahan itu akan jauh lebih mudah saat effort untuk beradaptasi dengan kehidupan pasangan dialihkan untuk maju bersama.

Intinya, ya kalau kita tuh nyari pasangan hidup yang pas awal start bisa sama-sama gandengan mencapai tujuan keluarga. Energinya difokuskan kesitu, bukan ke hal lain.

Saya ngga bilang kalau ngga selevel atau sekufu pernikahan bakal ngga berhasil lho. Karena yang namanya jodoh kan bukan kita yang atur. Siapa yang bisa nolak kalo Cinderella dilamar pangeran ye kan?. Tapi perlu usaha lebih keras untuk bisa menyatukan dua orang yang ngga sekufu atau selevel.

( Baca : Tentang Jodoh )

Gimana coba maksudny?

Level Ekonomi, Gaya Hidup dan Background Keluarga

Saya bayanginnya gini. Misal yah ada perempuan anak pejabat yang terbiasa hidup mudah. Kemana-mana diantar supir, pembantu di rumah 13 belas orang, beda nyuci, masak, nyetrika, beresin rumah, bersihin WC,terbiasa semua dibatuinlah, trus jajan aja sehari dikasi 300 ribu, ngopi harus di Starbak. Kemudian menikah dengan seorang pria yang orangtuanya guru, hidup sederhana, apa-apa dikerjain sendiri, ke sekolah ngangkot, jajan di kantin, 300 ribu buat sebulan.

Saat mereka menikah, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah adaptasi gaya hidup dulu. Kemungkinan yang akan terjadi, si istri bakal minta fasilitas hidup layaknya yang diberikan orangtuanya selama ini kepadanya. Even gaji suaminya mungkin gede pun, kemungkinan tetap akan ada penyesuaian di sini.

Misal bagi si suami, ngasih uang bulanan 10 juta itu udah gede, ekspektasi dia uang segitu cukup untuk makan, make up dan tetek bengek rumah tangga sehari-hari. Si istri yang biasa jajan 300 ribu sehari, ya uang segitu mungkin cukup tapi untuk belanja doang. Kebutuhan ngafe, pulsa, make-up harusnya di luar itu.

Atau sesederhana, bagi si suami belanja baju itu ya di Matahari aja udah oke. Bagi si istri, baju itu yang paling penting nyaman dan harus bermerk, yang sebiji aja harganya sejutaan.

Dalam hal ini saja, perlu usaha saling  mengerti banget. Karena sebenernya ngga ada yang salah. Soalnya gaya hidup selama ini memang beda.

Si suami harus maklum bahwa si istri mungkin ngga ngerti bahwa ngopi itu ada lho yang enak cuma 15 rebuan, ngga harus keluar 50 ribu untuk secangkir doang. Sementara si istri juga harus ngerti bahwa suami yang terbiasa hidup sederhana pengen setiap rupiah yang dikeluarkan itu dipikirin banget manfaat dan peruntukannya.

Jadi bahkan pengertian hemat dan boros mereka bisa beda.

Masih inget sinetron Pernikahan Dini ngga?

Di situ ceritanya kan si Dini anak orkay, trus si Gunawannya anak kampung gitu yang akhirnya jadi supir taksi. Pas si Gunawan gajian pertama kali, dengan gembiranya ngajak si Dini belanja ke supermarket dan ngomong " Aku baru gajian, kamu bisa belanja sesukamu"

Dan wow, gaji sebulan abis buat belanja yang bahkan ga cukup untuk seminggu. Karena bagi si Dini, belanja itu ya jajan Coca Cola, coklat, roti. Di bayangan si Gunawan, belanja itu ya beras, minyak gula. Pulang-pulang mereka bertengkar.

Ini bakal terjadi di soal belanja apa aja. Mulai dari beliin makanan untuk anak, beli perlengkapan bayi, milih rumah, beli kendaraan. Huuuft. Munkin butuh waktu bertahun sampe keduanya bisa berada di level yang sama.




Level Pendidikan

Level pendidikan ini ngga melulu soal gelar, tapi memang paling mudah dilihat ya dari pendidikan yang sudah dtempuh.

Kalau yang satu S2, yah minimal pasangannya kalo bisa S1. Biar obrolannya masih nyambung. Kalo yang satu S2, trus pasangannya tamatan SMA. Ntar diajak ngomongin ekonomi global eh istrinya cengok. Diajak ngobrol politik, istrinya cuma tau dari share-share-an grup WA dan facebook, kan susyeh ya. Mungkin awal-awal bisa menyesuaikan, dengan si suami, ngobrolnya yang ringan-ringan, tapi namanya orang kan butuh temen ngobrol, dan sebaik-baik temen ngobrol itu seharusnya pasangan kita.

Ngga heran kan, banyak kejadian perselingkuhan karena salah satu menemukan temen ngobrol yang pas di tempat kerja. Karena di rumah istrinya lebih hapal sama berita Jejedun dan sepak terjangnya. Diajak becanda soal politik ngga ketawa, karena ngga ngerti dimana lucunya. Huhuhu kan ngga asik yah.



Level Agama

Ini agak sulit dilihat kalau menilainya hanya berdasar penampilan. Harus dari proses mengenal sampai ke cara berfikir.

Misal si istri berjilbab, pakaian tertutup, sopan tapi cara berfikir agamanya cenderung liberal, dalam arti menganggap semua agama tujuannya baik, maka ngga perlu membeda-bedakan teman.

Dapat suami yang level agamanya sebenernya juga ngga jauh-jauh amat bedanya dengan dia. Tapi  dulunya full ikutan liqo, mabit, kajian islami dengan cara berfikir " pokoknya apa kata ustadz kita harus ikuti saja"

Ini imbasnya ngga hanya ke soal pandangan terhadap pergaulan ke orang lain tapi bisa sampe ke ngambil keputusan cara membesarkan anak,  nyekolahin anak, milih tempat tinggal, milih merencanakan keuangan keluarga segala.

Ngga menutup kemungkinan masalah sekolah anak aja bisa berantem. Si istri maunya anaknya sekolah internasionallah, si suami pengen pokoknya sekolah Islam.

Si istri maunya untuk planning keuangan pake cara investasi. Si suami anti dengan segala bau-bau investasi dan segala hal yang berhubungan dengan bank.


Waaah banyaklah hal yang bener-bener harus disesuaikan saat memutuskan menikah dengan orang yang berbeda level.

( Baca : Faktor Kebahagiaan Keluarga )

Itu baru antara si suami dan istri. Belum ke soal keluarga.

Mungkin pas mengunjungi rumah ortu. Dia yang biasa tidur di spring bed King Koil, tetiba pulkam ke rumah ortu kita yang kamarnya aja cuma dua, mana tempat tidurnya pake kapuk lagi. Bisa-bisa tiap lebaran, demi menjaga kenyamanan pasangan kita lebih milih nginep di hotel. Bukan karena malu atau apa, tapi ya karena faktor kebiasaan.

Belum soal rikuhnya ortu pas ketemu besan.

Dan yang terpenting dari semua itu, kita punya hak bicara ngga ntar baik di keluarga sendiri ataupun di keluarga besar dia? Bakal diremehin ngga sama om, tante, oma, opanya.

Kalau kita siap sih ya no problema

Hahaha mungkin saya overthinking. Tapi melihat pengalaman orang-orang sekitar yang menikah dengan level yang sungguh jauh berbeda, saya bisa ambil kesimpulan. Bahwa perlu usaha ekstra keras agar bisa bertahan di pernikahan seperti itu. Korban perasaan udahlah pasti, plus harus memiliki kemauan keras untuk mengimbangi pasangan jika ngga mau ketinggalan di belakang atau di bawah.

To sum up postingan ini, dari sudut pandang saya pribadi, menikah dengan siapapun baik selevel atau beda level, idealnya lakukan wawancara terfokus (astaga istilahnya) pra nikah agar tau hal-hal yang bisa kita tolerir atau tidak dan untuk mengukur seperti apa perbedaan level tersebut bisa kita hadapi.

Apakah kita tidak akan minder?

Apakah kita bisa cuek dengan perbedaan tersebut?

Apakah pasangan adalah orang yang akan mau menurunkan levelnya untuk mencapai posisi square?

Atau sebaliknya apakah kita atau pasangan mau sama-sama berusaha mengupgrade diri untuk menyesuaikan level pasangan kita?

Apakah kita dan pasangan mau berubah satu sama lain agar bisa sesuai kehidupannya?

( Baca : Segabruk Pertanyaan Sebelum Menikah )

So untuk pasangan yang jodohnya orang yang berbeda level.

Jika dirimu yang levelnya lebih tinggi.


  • Ingat-ingat bahwa keputusanmu menikahinya bukan soal status ekonomi, pendidikan atau gaya hidupnya. Tapi kamu menikahinya karena sesuatu di dirinya yang membuatmu mencintainya.
  • Maklumi jika dia akan kaget, shock, mungkin ga seide denganmu 
  • Jangan sekali-kali meremehkan pilihannya, meremehkan keluarganya. Bersikaplah seolah kau biasa melakukan apapun yang biasa dilakukannya.
  • Tanya pendapatnya saat akan memutuskan sesuatu. Kasih tau alasannya dan jelaskan jika ia tidak menangkap maksud baikmu. Karena saat kalian berbeda pendapat bisa jadi itu hanya karena ia tidak tahu.
  • Karena lebih gampang menurunkan level dibanding menaikkan, maka dirimu adalah orang yang seharusnya paling bisa menyesuaikan adaptasi di keluarga.
  • Jika, kamu si istri, sesuaikan gaya hidupmu dengan penghasilannya, atau berbuatlah sesuatu agar gaya hidupmu tidak bergeser jauh.
Jika dirimu level yang lebih rendah

  • Tanya apa kebiasaan dia di keluarga, cari tahu, kalau masih bisa diikuti lakukan, kalau ngga bisa - kompromikan.
  • Jangan paksakan dia hidup dengan caramu, tapi kenalkan bagaimana hidup caramu, lihat apa pendapatnya. 
  • Jika kamu si suami, pastikan saja dengan hidup caramu pun akan fun juga.
  • Tetap jadi diri sendiri namun lakukan penyesuaian-penyesuaian seperlunya.
Dan yang pasti, lepaslah bayang-bayang keluarga masing-masing. Muailah hidup sebagai diri kalian yang memiliki tujuan sama dalam pernikahan.

Duile gw sok iye banget ngomongnya. Ya gw ngomong gini mah enak yah, karena pada kenyataannya saya sama suami sekufu banget, jadi memasuki dunia pernikahan masalah perbedaaan model di atas ngga ngalami. Ini semata berdasar cerita orang-orang yang punya pengalaman Cinderella nikah dengan si pangeran atau si rakyat jelata nikah sama si putri kesayangan.


Karena banyak pernikahan kandas bukan soal cocok atau tidak cocok, cinta atau tidak cinta, tapi lebih ke hilangnya perasaan pride pada salah satu sehingga memutuskan untuk pergi mencari seseorang dimana ia bisa menjadi diri sendiri.






Custom Post Signature