Showing posts with label kesehatan. Show all posts
Showing posts with label kesehatan. Show all posts

Vaksin dan Cinta Ibu

Thursday, June 15, 2017
Tampaknya minggu-minggu ini bahasan soal vaksin masih menjadi trending topik sosial media.

Setelah peristiwa Jupe, orang langsung aware terhadap pentingnya vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks. Saya juga langsung berencana nih mau divaksin HPV, tapi belum bisa dilaksanakan saat ini karena kata dokter sebaiknya sebelum vaksin HPV, kita lakukan pap smear dulu. Dan pap smear bisa dilakukann setelah mens. Dan saya belum mens, jadi ya nunggulah beberapa hari ke depan. 

Nah kemarin, seorang anak artis dikabarkan terkena penyakit campak. Tak hanya seorang bahkan anak yang lainnya dari si artis itu juga tertular campak dari adiknya. Sontak kabar ini memunculkan kembali pro kontra soal vaksin.

Uuu yeah bahasan kesekian soal pro kontra mengasuh anak nih, pro vaksin dan anti vaksin.

Baca punya Gesi :




Sudah sejak lama saya membaca soal pro kontra vaksin ini. Entah sejak kapan tepatnya saya tidak tau, tapi konon katanya memang gerakan anti vaksin ini sudah ada bahkan sejak vaksin pertama kali ditemukan. Karena kan vaksin itu berasal dari kuman yang dilemahkan, jadi pihak anti vaksin khawatir malah vaksin bisa memicu datangnya penyakit.

Alasan kedua yang saya tahu adalah karena golongan anti vaksin menganggap bahwa manusia memiliki daya tahan tubuh alami sendiri, sehingga dengan pola hidup sehat dan makanan bergizi, seharusnya berbagai penyakit bisa dicegah.

Dan alasan ketiga yang mana merupakan alasan yang paling keras adalah karena proses pembuatan vaksin  mengandung zat yang berasal dari babi seperti enzim babi, pankreas babi hingga ginjal babi. Makanya sifatnya haram karena mengandung sesuatu yang haram.

Alasan berikutnya, berkaitan dengan isu-isu soal bawa vaksin malah bisa menyebabkan autis dan bahwa anak yang divaksin juga tidak dijamin bakal bebas dari penyakit.

Alasan selanjutnya ya konspirasilah, dan teori-teori lain yang yah sudahlah.

Yah namanya orang kan memang pemikirannya bisa banget berbeda, jadi saya positif thinking ajalah bahwa alasan-alasan ibu-ibu yang anti vaksin sebenernya ya sama juga seperti golongan ibu-ibu pro vaksin. Semua ujung-ujungnya berpendapat bahwa itu demi kebaikan anaknya.

Kebaikan anak versi orang bisa beda-beda lho, jangan salah.

Kalau saya pribadi?

Saya sendiri sangat pro dengan vaksin.

Dua anak saya, semuanya imunisasi full paket komplit. Tidak hanya 5 imunisasi yang diwajibkan pemerintah, bahkan imunisasi tambahan yang disarankan dokter anak saya juga saya berikan.

Alasannya?

Saya ngga punya alasan macem-macem, tapi saya ngga nemu alasan kenapa kok tidak memberi vaksin?

Ya why why why?

Padahal dengan memberi vaksin ke anak berarti kita sudah memberi hak hidup yang lebih baik padanya.

Gimana? Gimana maksudnya?

Dengan memberikannya hak kesehatan yang lebih baik melalui imunisasi berarti saya sudah melindungi sebagian dari masa depannya.

Memang benar bahwa yang namanya kesehatan itu faktor pendukungnya banyak banget. Ngga hanya karena sudah diimunisasi maka anak kita bakal pasti terhindar dari berbagai penyakit. Ada juga kok anak yang diimunisasi campak misalnya ya tetap terkena campak, diimunisasi influenza ya juga kena influenza. Ada faktor makanan, genetik, gaya hidup, lingkungan, daya tahan tubuh sebagai pendukungnya.

Namun, bagi saya setidaknya dengan memberikan imunisasi kita sudah melakukan pencegahan secara dini.

Bayangkan berapa banyak hal positif yang sudah kita lakukan hanya karena memberi kekebalan tambahan bagi anak kita.

Pertama, kita sudah memberinya kesempatan tumbuh dan berkembang dengan risiko penyakit yang diminimalkan. Jadi di saat-saat ia memang seharusnya menikmati masa kecilnya untuk bermain, dan belajar bersama teman, ya dia bisa menikmatinya.



Pernah lihat anak yang terkena polio kan?

Polio itu adalah penyakit yang menyebabkan kelumpuhan yang biasanya menyerang anak-anak di usia 3-5 tahun.

Bayangkan yah kalau amit-amit ada anak yang terkena polio. Tentu hidupnya tidak akan dilalui seperti kebanyakan anak-anak lain. Dia ngga bisa berlari, ngga bisa main, ngga bisa lompat, guling, dan apalah seperti anak lainnya.


Nah polio ini merupakan salah satu penyakit yang sampai saat ini tidak dapat disembuhkan. Ngeri kan?

Namun walau tidak dapat disembuhkan tapi bisa dicegah dengan pemberian imunisasi , pakai vaksin polio (OPV ). Dengan pemberian berulang kali, maka vaksin ini akan melindungi anak seumur hidup.

Itu baru polio, belum penyakit seperti campak, meningitis, tetanus.

Tuh , percaya kan bahwa dengan pemberian vaksin , kita sebagai orangtua sudah memberi hak hidup yang lebih baik untuk anak.


Alasan kedua, dengan memberi vaksin, kita juga turut memberi kesempatan hidup yang lebih baik untuk anak lain.

Hampir semua penyakit yang ada vaksinnya itu adalah penyakit yang bisa menular dan ditularkan. 

Saya mau ambil contoh virus Rubella aja deh. 

Virus Rubella itu bisa menular melalui butiran liur di udara yang dibawa bersin atau batuk. 

Nah virus ini kalau terkena ibu hamil terutama di semester awal kehamilan bisa menyebabkan anak yang dilahirkan mengalami syndrom rubella kongenital yang menyebabkan cacat lahir pada bayi, seperti tuli, penyakit jantung kongenital, kerusakan otak, organ hati dan paru-paru.

Nah FYI, saya dikasih tau Gesi nih, yang pernah terserang virus Rubella, bahwa anak-anak penting banget divaksin rubella, karena apa?

Karena, misalnya nih ya, seorang anak tidak divaksin rubella, trus dia tertular virus rubella, lalu di sekolah dia main nih sama anak-anak dan guru. Eh ndilalah si guru lagi hamil, dan belum pernah imunisasi Rubella, akhirnya di ibu guru tertular. Akhirnya anak yang dikandungnya pun bisa tertular virus Rubella.

Hiii, gimana coba, perasaan kita kalau ternyata gara-gara anak kita yang tidak kita imunisasi rubella, malah membuat anak ibu guru tertular virus Rubella dan anaknya lair tidak seperti anak-anak lain.

Sedih kan?



Jadi, ngga hanya tentang kesehatan anak kita ini mah. Dengan vaksin juga kita turut serta menyelamatkan hidup anak orang lain.

Ngga tau deh ibu-ibu lain gimana. Kalau saya ya, saya paling menjagaaa banget gimana caranya supaya anak saya itu ngga menyebabkan sesuatu hal buruk ke anak orang lain, semampu saya.

Dulu pas Tara masih di daycare, setiap anak saya sakit flu, Tara pasti ngga saya masukkan ke daycare, dia tinggal di rumah sampai sembuh. Demikian juga pas Tara udah sekolah, saat dia flu atau batuk, saya minta ijin ke bu guru agar dia ngga masuk.

Bukan karena saya manjain anak, tapi semata karena saya ngga mau anak saya nularin flu dan batuk ke anak orang lain. Saya ngga ngejudge ibu lain yang tetap membiarkan anaknya sekolah walau kondisinya lagi sakit. Mungkin ngga ada yang jaga di rumah. Yang pasti, dari diri pribadi saya ngge pengen aja anak-anak lain sakit gara-gara anak saya.

Walau yang katanya anak sakit flu-flu atau batuk mah biasa, ya monggo. Tapi bagi saya, kalau memungkinkan ya sebaiknya di rumah saja sampai sembuh.Kasihan anak lain kalau ketularan.

Saya ngga tau ini berlaku ngga sampai Tara sekolah SD ntar.

Masih banyaklah contoh lain.

Misal ada anak-anak yang mengidap alergi tertentu atau tengah menjalani pengobatan. Nah anak-anak yang lagi sakit ini ngga bisa diimunisasi. Jadi penting bagi anak-anak kita yang sehat untuk diimunisasi, agar anak kita tidak sakit atau terpapar virus, sehingga tidak  menularkan virus tersebut ke anak lain yang sakit dan tidak bisa diimunisasi.

Duh belibet ya.

Ini kayak mata rantai gitu. 

Jadi kita mengimunisasi anak kita untuk menyelamatkan anak yang tidak bisa diimunisasi juga.

Makanya, saya bilang dengan tindakan kecil kita mengimunisasi anak, kita sebenarnya sudah berkontribusi banget untuk kehidupan yang lebih baik, untuk kesehatan anak-anak kita dan anak-anak orang lain.

Makanya saya berpendapat, bahwa imunisasi adalah  salah satu bentuk cinta dan kasih sayang saya kepada anak, ahsek.

Apalah artinya duit yang dikeluarkan untuk imunisasi komplit, dibanding efek jangka panjang yang bisa dicegah dan bisa dihindari.

Karena sebenernya dengan mengeluarkan biaya imunisasi , kita justru sedang berhemat. Hemat uang untuk pengobatan jika dia terkena penyakit seperti yang saya sebut di atas, dan hemat waktu juga. Coba itung aja berapa banyak waktu yang kita harus sediakan saat anak sakit, ngapa-ngapain jadi ngga bisa.

Lagian ada kok imunisasi gratis yang disediakan pemerintah.

Mengenai Keharaman bahannya

Kalau masalah soal keharaman bahan-bahannya, menurut yang saya baca, bagian dari babi itu hanya sebagai katalisator . Dan yang namanya katalisator itu tidak ikut bereeaksi, dia tuh hanya sebagai bahan untuk membantu reaksi terjadi, entah untuk memisahkan zat yang dibutuhkan, atau tujuan lain. Pada hasil akhirnya, enzim yang berasal dari bagian babi tidak akan terdeteksi lagi, karena akan mengalami proses pencucian, pemurian, hingga penyaringan. Wallahu alam.

Ini Kata MUI

“Namun, dalam kondisi tertentu ketika tidak ada bahan atau enzim (halal) lain maka dimungkinkan pembolehan vaksin dari bahan najis atau haram. Ini sama seperti yang dilakukan nabi dalam menggunakan air kencing yang jelas-jelas najis dan haram untuk pengobatan,” katanya, di Jakarta, Senin (20/4). Jika belum ada materi zat vaksin yang tersertifikasi halal maka boleh digunakan semata-mata untuk melindungi jiwa. 
Mengenai imunisasi bisa menyebabkan autisme?

Sampai sekarang belum ada buktinya.Ya kalau ada anak yang diimunisasi terus terkena penyakit autis, mungkin itu hanya satu dari sekian kejadian yang ada. Memang imunisasi kan tidak menjamin bahwa anak kita bakal terbebas penyakit seratus persen. Namun imunisasi mencegah itu terjadi dan kalaupun terkena penyakit terntentu, dengan sudah divaksin maka akibatnya jauh lebih ringan dibanding tidak imunisasi sama sekali.

Mengenai manusia punya daya tahan tubuh sendiri?

Iya, tapi penyakit juga berkembang terus menerus. Lagian apa kita bisa menjamin bahwa gaya hidup kita sehat banget. Mencegah tentu lebih baik dari mengobati.

Makanya saya pikir, tidak ada alasan untuk tidak imunisasi., karena manfaat yang didapat itu jauuuuh lebih banyak dari mudharatnya.

Semoga anak kita sehat-sehat semua yah baik yang diimunisasi maupun yang tidak diimunisasi.

Karena saya percaya semua ibu pastilah akan sedih kalau anaknya sakit.

Buat ibu-ibu yang anti vaksin, coba kita pikirkan ulang setiap keputusan kita. Pikirkan bahwa apa yang terjadi di anak kita, bisa jadi akan berpengaruh kepada anak lain. Iyes kita punya tanggung jawab untuk masa depan anak kita dan masa depan anak orang lho.

Jangan sampai karena keputusan kita yang salah,maka wabab penyakit yang sudah hilang malah bisa muncul lagi. 

Jadi, anak kalian sudah diimunisasi belum?

Ayo imunisasi, karena imunisasi itu bentuk kasih sayang dan cinta kita untuk anak dan untuk generasi mendatang.

Kita punya tanggung jawab bersama terhadap kesehatan anak-anak kita.

Share ya biar ibu-ibu lain baca, siapa tau bisa menggugah untuk segera imunisasi anaknya.




Lebih Baik Sakit Hati daripada Sakit Gigi

Wednesday, February 8, 2012
Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati

Sepertinya kata-kata tersebut sudah tidak relevan lagi. Sakit gigi, otomatis dapat menyebabkan sakit hati.

Seperti tadi di kantor, seorang teman memesan pizza American Lover ukuran large. Mencium aromanya saja sudah menghasilkan impuls ke otak yang memerintahkan tubuh untuk memproduksi air liur. Hmmm, sepotong pizza pun sudah ada di genggaman, siap dilahap. Apalah daya, jangankan untuk mengunyah, bahkan membuka mulut pun tak sanggup lagi.  Dengan berat hati potongan pizza yang melambai-lambai  itupun harus berpindah tangan. Ah sakit hati ini.

Ketidakmampuan membuka mulut pun diikuti dengan cenat cenut di kepala. Sudah berusaha semaksimal mungkin menahannya. Akhirnya saya menyerah, minta izin untuk ke dokter. Awalnya seorang teman menganjurkan untuk minum obat pereda nyeri ponstan. Namun saya menolaknya. Sakit gigi dengan gejala gusi bengkak yang saya derita saat ini, bukanlah yang pertama kali. Ini sudah merupakan langganan tetap yang berulang setiap beberapa bulan.

Atasan saya merekomendasikan untuk periksa ke rumah sakit khusus gigi yang katanya lumayan bagus di Jakarta Selatan. Tanpa banyak tanya saya pun segera meluncur kesana. Benarlah, rumah sakiti gigi ini sesuai dengan yang digambarkan. Ruang tunggunya nyaman, pelayanannya cepat.


Tahap pertama, gigi saya harus difoto dulu dengan sinar X, katanya untuk mengetahui bentuk, posisi dan kedalaman gigi. Saya manut saja, lebih cepat lebih baik pikir saya. Setelah difoto, disuruh menunggu sebentar untuk melihat hasilnya. Kira-kira lima belas menit, nama saya pun dipanggil. Saat saya masuk ke ruangan tempat foto tersebut, terjadi perdebatan antara si kepala ruang dengan petugas fotonya ( masih siswa magang). Di tangan si kepala ruang melambai-lambai hasil foto gigi seseorang yang ternyata mereka bingung itu hasil fotonya siapa. Wuih, saya shock melihatnya.

“Ini bukan punya ibu Dewi, nih lihat ya foto yang ini gigi 5 nya ga ada, sedangkan yang satu ini gigi 6 nya yang ga ada, kamu pasti salah masukin ke map pasien nih” katanya.

" Benar pak, yang satu ini punya ibu yang tadi, yang satunya lagi punya bapak-bapak yang barusan" jelas si perawat

" Hari ini yang foto gigi ibu-ibu semua tau, ga ada bapak-bapak" semprot si kepala ruang

APAAAA, bisa ya salah gitu. Saya duduk saja sambil memperhatikan perdebatan mereka. Tak lama dari dalam ruang yang sepertinya tempat untuk mencuci hasil foto keluar satu orang perawat.

“ Iya pak, ini di dalam ada ketinggalan satu foto, mungkin yang ini punya bu Dewi”

Hadeeh, Mungkin. Enak saja pakai mungkin-mungkin segala. Dengan gelisah saya perhatikan mereka, yang tak kunjung bisa memutuskan kepunyaan siapakah gerangan foto tersebut. Waduh jangan-jangan foto saya tertukar juga. Gila aja.

Saya ga mau mengambil resiko sebesar itu, ini gigi man, tempatnya urat syaraf bergerombol, kalau salah foto, terus salah diagnose gimana?. Maka saya minta difoto ulang. Mungkin karena malu, bergegas mereka memfoto ulang mulut saya. Adegan yang saya tidak suka tadi pun diulang kembali. Letakkan dagu, dahi ditempelkan, julurkan lidah sambil digigit. Bisa dibayangkan kan,jeleknya adegan tersebut. Kembali saya sakit hati untk kedua kalinya.

Dari hasil foto tersebut, dokter mengatakan bahwa gigi geraham saya tumbuh tidak normal. Gigi tersebut tidak dapat tumbuh keluar menembus gusi karena tidak kedapatan tempat. Sederhananya gigi saya kebanyakan dibanding lapak tempat tumbuhnya. Rahang saya imut-imut sih, hehehe. Akibatnya gigi tersebut sama sekali tidak tumbuh dan terbenam di dalam tulang, atau bisa juga hanya separuh mahkota yang berhasil menembus tulang dan gusi. Dan posisnya tidak tegak melainkan sedikit miring. Nama kerennya gigi impaksi. Masih tenang-tenang saja dengerin keterangan si dokter.
Kondisi gusi bengkak, kepala pusing ini akan terus berulang saya alami kalau tidak dilakukan tindakan.. Nah untuk itu gigi geraham saya harus dicabut.  Saya masih manggut-manggut.

Tapi karena pencabutan gigi ini tidak bisa dengan cara pencabutan tang biasa, maka harus operasi.
Eh apa tadi kok ngomongin tang, mulai mual.

Si dokter terus ngoceh, ga merhatiin wajah saya yang mulai pias.

“ Nanti prosedurnya, setelah dilakukan bius local, terus dirobek tuh gusi yang menutupi gigi, baru kemudian gigi dikeluarkan, dan terakhir gusi dijahit kembali “

Si dokter jelasinnya kayak nerangin cara memasak indomie yang baik dan benar. Dengan tabah saya hanya bisa mendengar saja.

“ Operasi itu disebut odontectomy” tutupnya dengan puas.

Saya hanya menghela nafas. Kemudian dia mencorat-coret resep di kertas. Ngasi intruksi minum obat-obatan itu untuk mengurangi nyeri, ntar kalau udah hilang sakitnya, saya diminta kontrol ulang.  Obat bisa ditebus di apotik.

Obat yang diresepkannya tuh terdiri dari antibiotic Lincomex, Sirdalud, dan Dentacid. Menurut keterangan si dokter tadi Sirdalud dan Dentacid adalah obat penghilang rasa sakit. Saya percaya seratus lima puluh persen. Pertama karena yang bilang dokter, kedua karena harganya mahal. Satu butir  tertulis seharga USD 1.1. Ceilah gaya banget sih, pake dollar segala. Jangan lupa makan dulu sebelum minum obat kata si apoteker.

Di kost, segera saya minum tuh obat ( setelah makan tentunya) dengan harapan nyeri yang saya derita segera hilang. Dari jam 2 siang sampe jam 6 sore, saya gulang guling terus di kasur. Sakitnya ga reda-reda. Minum air anget, ga reda juga. Bahkan sampai jam 1 malam saya belum bisa tidur juga. Bosan menikmati sakit sampai jam 2 pagi tidak ada tanda-tanda si obat mahal itu bekerja, maka saya putuskan kembali ke selera asal. Saya ambil Paramex , robek bungkusnya, telen bulat-bulat. Tidak sampai satu jam, si biang kerok nyeri hilang. Dan saya bisa menulis ini.


Harga obat kampung itu berapa coba, Rp 2500. Huh tau gitu saya ga perlu ke dokter. Kembali saya sakit hati yang ketiga kali.

Jadi saya simpulkan, lagu Meggy Z diatas, tidak benar dalam dunia nyata.

Custom Post Signature