Sekolah Itu Ada Gunanya Ngga Sih ?

Wednesday, July 19, 2017

Masih nyambung nih dengan tulisan saya kemarin tentang hari pertama sekolah. Kali ini mau bahas soal penting ngga sih masukin anak ke sekolah dan penting ngga ilmu-ilmu yang kita pelajari di sekolah tersebut.

( Baca : Hari Pertama Sekolah dan Perjalanan Mencari Sekolah Idaman )

Alert: ini bakal panjang banget.


Kenapa sampai muncul pertanyaan ini. Saya ambil paragraph terakhir di tulisan saya sebelumnya yah. Karena saya banyak membaca pendapat orang-orang yang mulai meragukan fungsi sekolah.



Kemarin tulisannya udah kepanjangan jadi disambung dimari, xixixi.

Baca punya Gesi :


Ngga bisa kita pungkiri sih, system pendidikan yang disajikan sekolah-sekolah di negara kita ini belum memuaskan. Dimana parameter untuk menilai hasil belajar anak itu dipukul rata, yaitu nilai UN dan angka-angka di raport. Makanya ngga heran banyak orangtua yang mulai mencari alternative lain untuk pendidikan anaknya.

 Home schooling salah satunya. Demi terbebas dari system pendidikan yang pukul rata tadi.

Rata-rata pendapat orangtua yang saya baca nih, bisa saya simpulkan.


⇔ Sekolah hanya mengajarkan anak menghapal tanpa tahu esensi ilmunya


⇔ Capek-capek mempelajari ilmu eksak, fisika, kimia, math, malah ngga ada gunanya sama sekali di kehidupan, ngga terpakai di dunia nyata

⇔ Sekolah rawan bully, anak bukannya aman malah berbahaya di sekolah


⇔ Sekolah sekarang apa-apa duit mulu, biaya banyak, hasilnya ngga ada


⇔ Sekolah hanya menjadikan anak berorientasi ke hasil tanpa peduli proses


⇔ Sekolah tidak mendidik anak siap terjun di dunia nyata, tapi hanya berkutat di teori semata.


Dan sebagainya-sebagainya.

Hmm menarik banget yah .

Saya mau mengutip kalimat Einstein dulu nih “ Jangan menilai ikan dengan kemampuannya dalam memanjat” karena pastilah si ikan akan kelihatan bodoh.

Saya setuju banget. 

Ini masih berhubungan nih dengan 8 type kecerdasan anak. Bahwa setiap anak itu memiliki kecerdasan masing-masing. Ada yang cerdas dalam bermusik, seni, sains, olahraga, intrapersonal, kecerdasan linguistic, alam, dsb. Cari sendiri ya 8 jenis kecerdasan anak.

( Baca : Kenali Potensi Anak Sejak Dini )

Karena perbedaan kecerdasan inilah, makanya system pendidikan di sekolah konvensional itu ngga akan bisa berlaku adil dalam penilaiannya. Ya gimana, yang diuji di UN mah cuma mata pelajaran tertentu. Jadi kesannya untuk anak-anak yang sama sekali ngga tertarik di bidang eksakta, atau bidang bahasa, bisa-bisa nilainya bakal jeblok banget. 

Kembali ke kalimat Einstein tadi , kita ngga mungkin dong mengukur kemampuan anak yang kecerdasannya adalah bermusik dengan menguji matematika misalnya. Karena parameternya jelas berbeda.

Namun, apa ini jadi alasan kita nih mencibir system pendidikan sekolah di Indonesia? Apa langsung jadi bisa kita simpulkan bahwa percuma sekolah bertahun-tahun ngga ada faedahnya sama sekali, ngga ada gunanya semua pelajaran yang kita enyam dari SD sampai kuliahan tersebut?

Disclaimer: saya hanya membatasai dua hal di atas saja, ngga bahas melebar ke hal lain.

Seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, ada puluhan juta anak sekolah yang harus dipikirkan pemerintah, dengan puluhan juta keinginan yang berbeda-beda pula. Tentu tidak semua keinginan ideal kita sebagai orangtua bisa terealisasi. Saat ini mungkin pendidikan-pendidikan formal tersebut dirasa paling bisa diaplikasikan untuk dana yang ada dan kapasitas sekolah serta guru-gurunya.

Trus gimana dong solusinya untuk anak-anak kita agar usianya ngga sia-sia dihabiskan di sekolah?

Sebenarnya alasan utama para orangtua tersebut berpendapat bahwa sistem pendidikan sekolah kita acakadut dan unfaedah karena kita ini kadang suka berpikir terlalu praktis.

Kita mikirnya ya kalau anakku maunya jadi pelukis ngapain belajar fisika?

Kalau anakku maunya jadi pengusaha real estate kenapa harus pusing dengan ilmu biologi.

Mikirnya pokoknya anak mah diarahkan aja di satu bidang khusus, biar ahli, ilmu yang lain ngga perlu karena seperti pengalaman kita selama ini, sekolah dan belajar lebih dari 5 mata pelajaran, toh malah ngga ada yang kepake.

hahahahahaha


Kurleb seperti itu.

Benarkah?

Bisa jadi benar.

Kayak Valentino Rossi tuh sejak kecil sudah diarahkan jadi pembalap, dilatih balapan dari cimut-cimut ya memang hasilnya jadi pembalap profesional.

Saya ada mengenal beberapa orang yang sudah tau apa yang menjadi minatnya dari kecil. Dia sudah tau dari kecil bahwa dia sukanya menulis misalnya,jadi sedari kecil ya bener-bener diarahin hanya membahas karya-karya sastra saja, diajarin memilih diksi yang bagus. Untuk anak-anak seperti ini tentu orangtua tidak akan mengalami kesulitan untuk mengarahkan minat dan bakat si anak.

Namun, ngga semua orangtua dan ngga semua anak bisa kelihatan bakatnya sejak dini. Banyak banget orang yang tahu apa yang paling disukainya setelah dewasa. Mungkin kamu salah satunya. Dan memang berdasarkan penelitian (saya pernah baca tapi kali ini ngga cantumin sumbernya , ntar kapan kapan saya cari lagi referensinya) bahwa manusia itu banyak yang ngga hanya punya kecerdasan sebiji doang, bisa juga dia punya kecerdasan multitalented, jadi mempelajari banyak hal ini sama sekali ngga ada ruginya.

( Baca : Menemukan passion )

Apalagi jenis-jenis sekolah yang terfokus seperti itu biayanya lumayan mahal yah. Saya nanya temen tuh untuk sekolah musik, biaya daftarnya aja bisa puluhan juta rupiah, belum alatnya, belum kalau mau konser, llalalala bisa-bisa satu tahun sekolah dana yang harus disediakan 300 jutaan sendiri.

Karena biaya mahal tersebutlah, kemungkinan yang bisa disediakan pemerintah ya sekolah-sekolah umum yang ada seperti saat ini.

Makanya menurut saya, bukan saatnya menyalahkan institusi bernama sekolah dalam kegagalan pendidikan di Indonesia, apalagi menganggap bahwa sekolah hanyalah institusi penghasil ijazah semata.

Sebenarnya saat ini sudah banyak pilihan sekolah untuk anak-anak kita. Saya ngomonginnya untuk jenjang TK sampai SD aja ya, karena saya belum nyari tau sampai jenjang SMA.

Bagi anak yang suka kegiatan outdoor ada sekolah alam yang bisa jadi pilihan.

Anak yang suka berkarya macem-macem, utak-atik ina inu, bisa masuk sekolah montessori.

Anak yang sukanya kegiatan mikir kayak nyusun balok, main lego, belajar di kelas, ya banyak sekolah seperti ini.

Untuk anak yang sukanya menghapal (iya ada kok anak yang suka menghapal) dan pengen jadi hafiz Qur'an misalnya ya ada juga sekolahnya.

Bahkan TK sekarang ada yang kurikulumnya internasional, alias pake dua sampai tiga bahasa gitu sebagai pengantarnya.

Itu belum termasuk kursus-kursus yang ada. Kayak kursus masak untuk anak, kursus menggambar, kumon, kegiatan outbond anak, dll.

Mungkin kendala utama ya dibiaya. Makanya pilihan sekolah-sekolah umum yang disediakan pemerintah menurut saya ya masih bisa menjembatani keinginan orangtua.

Caranya, ya dengan si orangtua turut kreatif menambahi apa yang tidak didapat di sekolah tadi.


Yang namanya anak-anak terkadang memang belum tau apa maunya, makanya sebagai orangtua kitalah yang mengarahkan dan memilihkan sekolah yang paling tepat untuk anak-anak kita sesuai bakatnya atau minimal sesuai karakternya.


Namun seperti yang saya bilang di atas, ngga semua orangtua bisa tau apa bakat anaknya sedari kecil. Dan ngga semua anak juga kelihatan apa yang menjadi minatnya sejak dini. Palingan kita hanya menebak berdasarkan kecenderungan yang kita lihat di anak.


Makanya peran sekolah mah yah tetep penting banget. Disamping sebagai sarana bersosialisasi ya sebagai penyaring minat dan bakat tersebut juga.

Keberhasilan pendidikan anak jangan diserahkan sepenuhnya ke sekolah. Kita sebagai ortu yang harus aware kemana arah minat dan bakat anak kita. Kalau kitanya aja sebodo teuing trus malah nyalah-nyalahin pendidikan di sekolahan kan jadi lucu.


Gitu sih menurut saya. Soal kekhawatiran orangtua terhadap sistem pendidikan sekolah yang dirasa terlalu memaku anak di dalam kelas tanpa punya kesempatan bermain, solusinya adalah dengan memilihkan sekolah yang paling sesuai dengan karakter anak.

Jika ngga mampu di biaya, ya masukin saja ke sekolah umu, namun bekali dengan tambahan kegiatan di rumah.

Iya, jadi orangtua memang ngga mudah kok. :)


Pembahasan kedua yang sering dibicarain orang. Benerkah segala ilmu yang ngga ada hubungannya dengan minat dan bakat anak maka jadi tidak berguna?

Sering kan denger orang bilang, ngapain belajar math, fisika, kimia segala macem yang toh ngga akan terpakai di kehidupan nyata.


Iya, mungkin kita ngga bisa mengatakan dengan pasti apa gunanya angka phi yang kita pelajari jaman SD dulu untuk nyari kerja. Atau untuk apa persamaan reaksi kimia yang njelimet itu.

Buat apa tahu 1 mol itu sama dengan berapa gram, toh ngga akan dipakai untuk ngasuh anak misalnya .

Ngapain tahu rumus diferensial, integral segala macem yang sampe lipat tiga itu, buang-buang waktu aja.

Ini terjadi karena kita mikirnya instan, bahwa harusnya kegunaan rumus fisika itu harus kasat mata terpampang nyata di depan kita baru kita rasa itu punya manfaatnya.


Kita merasa ilmu itu ada manfaatnya saat langsung kelihatan hasilnya. Padahal sekolah itu adalah proses belajar.

Di sekolahlah anak diajarkan segala proses tersebut , ngga ujug-ujug ke hasil. Namun yang namanya institusi, ya gimana mau tau hasilnya kalau ngga ada parameter, maka parameternya saat ini mungkin yang bisa dibuat adalah nilai. Termasuklah nilai UN.

( Baca : Proses atau Hasil ? )

Balik lagi ke soal pelajaran eksak yang kelihatan unfaedah.

Saya mau pakai analogi kungfu ajalah.


Pernah lihat film Shaolin?


Kalau lihat film Shaolin dulu ntu ya, padahal tujuan akhirnya tuh untuk bisa kungfu, tapi di awal pendidikan si biksu shaolin itu malah disuruh yang ngangkat air lah, berlatih keseimbangan, berenang, berendam di air, sampai hal-hal yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan kungfu. Makanya ada di salah satu episodenya si murid yang melarikan diri karena menganggap ngga ada faedahnya dia belajar disitu, pengen jadi ahli kungfu kok malah disuruh nimba air.


Nah kayak gitulah saya rasa pendidikan. Mungkin ngga terlihat langsung faedahnya saat ini namun akan bermanfaat saat diaplikasikan di dunia nyata, di kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Karena ya memang namanya belajar itu ngga berarti kita ngomongin tentang rumus P = F/A , maka harus ada nih di kehidupan sehari-hari.


Tapi setidaknya kita jadi tau bahwa yang namanya tekanan berbanding lurus dengan gaya. Maka saat hidupmu tekanannya tinggi coba introspeksi siapa tahu gayamu kegedean, eeeeeaaaaa




So, makanya saya kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sekolah tidak mengajarkan apa-apa selain hanya pelajaran sosialisasi saja. Karena pelajaran bersosialisasi itu tidak sekedar " Hanya" lho.

So kalau ada pertanyaan, buat apa capek-capek belajar segala ilmu eksakta, rumus fisika, kimia, math yang njelimet padahal nyatanya tidak pernah sekalipun dipakai di dunia nyata.

Buat apa belajar fisika kalau mau jadi pemain biola.

Nah disini mungkin perlu kita tanamkan bahwa yang namanya ilmu pengetahuan itu saling kait mengkait, tidak bisa berdiri sendiri. Even kamu pengennya jadi pemain musik aja, kamu tetap perlu ilmu lain.

Saya kasih contoh saat kita mau main musik, main biola deh contohnya.

Saat ingin bermain musik, kamu  ngga cuma butuh belajar not atau tangga nada doang. Kamu juga butuh alat yang bernama biola.

Biola itu dibuat pake apa? pake ilmu padi? pake ilmu fisikalah, tentang gesekan, tentang resonansi, tentang keluar masuk udara maka akan menghasilkan bunyi.

Atau kalau kamu mau jadi dokter, emangnya kamu cuma harus tau soal anatomi tubuh aja, hanya harus gape soal penyakit?

Ya kagak.

Kamu nyuntik pakai apa?, periksa kandungan pake apa? operasi pake apa?

Nah itu semua memangnya yang nyiptain ilmu kedokteran?

Ya kagak.

Disitu ada ilmu tentang gelombang alfa, omega, infrared, laser, you name it, biar tahu panjang gelombang mana nih yang pas buat membasmi kanker. -----> ini ilmu fisika

Untuk nyiptakan alat-alatnya juga mesti diperhatikan bahan mana yang tidak bereaksi dengan obat, tidak bereaksi dengan kulit manusia, mana yang cuma sebagai katalisator, mana yang merupakan zat inert ------> ini ilmu kimia.

So semua ilmu itu saling kait mengkait. Ngga ada ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri.

Jadi plis buang jauh-jauh pikiran bahwa sekolah ngga guna karena terlalu banyak ngajarin hal-hal yang ngga guna langsung di kehidupan.



Jadi pointnya apa?


Point yang ingin saya sampaikan adalah:

Bahwa memang pendidikan di sekolah itu ya tujuannya bukan membentuk sim salabim abakadabra, masuk adonan kue dibentuk nastar , masuk oven maka keluarnya nastar. Ya ngga kayak gitu. Sekolah itu adalah bagian dari proses belajar. Ya termasuk belajar social, empati, tenggang rasa, ilmu eksak, sastra, agama, kemanusiaan, kerjasama.



Termasuk juga dapat pengalaman ketemu cowok brengsek yang nantinya bisa dijadiin bahan buat tokoh antagonis di calon novelmu. 

#curhatalert


Kemudian.

Sebagai orangtua kitalah yang paling bertanggung jawab mencarikan sekolah atau sistem pendidikan paling pas untuk buah hati kita. 

Bukan pemerintah bukan pula pihak sekolah.

Mereka menyediakan, kita yang memilih.

Mereka tak menyediakan, kita cari yang menyediakan.

Tidak ada juga?, combinelah pendidikan di sekolah dengan kreativitas ortu.

Kalau menurut kalian sekolah tujuannya biar bisa cari duit, mungkin memang sekolah itu ngga ada faedahnya. Ya mending langsung belajar dari koko-koko di pasar sambu.

Kalau kita masih berfikir bahwa sekolah harusnya menghasilkan produk siap jadi, ya pilihlah sekolah kejuruan.

Saya percaya bahwa apa-apa yang kita lakukan saat ini adalah hasil akumulasi dari pengalaman hidup, pendidikan dan proses berfikir .

Iyes setuju yang namanya belajar ngga harus di sekolah, bisa di rumah, di mesjid, di jalan, dimana saja.

Saya setuju, yang nilainya paling bagus di sekolah ngga menjamin hidupnya bakal sukses ( ini harus dibahas lagi, parameter sukses itu seperti apa?)

Saya juga setuju lulusan S3 ngga menjamin lebih sukses dari lulusan SD misalnya (ada rezeki, nasib, keturunan yang mempengaruhi yes?)

Ya memang ngga ada jaminan 100% apapun di dunia ini. Tapi data kan berbicara, bahwa orang yang well educated kebanyakan lebih bisa bertahan hidup dimana-mana. karena memang sistemnya masih seperti ini.

Kalaupun ada orang yang tanpa sekolah bisa berhasil, coba hitung berapa persen, dan latar belakangnya seperti apa. Namun tetep dah  tidak ada ruginya sekolah.

Dan bahwa kesuksesan itu ya memang faktornya bukan cuma pendidikan di sekolah. Ada IQ, EQ, dan SQ. Intelegent, Emotional, dan Spiritual.

Sekolah hanya salah satu faktor dan sarana di dalamnya.


Jadi ngga ada yang namanya ilmu itu ngga bemanfaat walaupun tidak kita manfaatkan saat ini secara utuh, tapi tanpa sadar sudah menyertai hari-hari kita.

( Baca : Iman dan Ilmu )


So ibu-ibu, sekolah ya , sekolahin anaknya. Sekolah ngga cuma untuk dapat ijazah , sekolah itu sarana untuk memperkaya batin dan menutrisi otak dan belajar dari orang yang sudah lebih tahu sebelumnya.

Coba mindset masukin anaknya ke sekolah itu diubah dulu.

Sekolah itu sistem terkecil pertama tempat kita mengenalkan kehidupan bermasyarakat ke anak.

Apapun sekolah yang menjadi pilihanmu teruslah belajar, dan berkarya, karena ngga ada ilmu yang sia-sia.

Selamat belajar semuanyaaaa.

Gambar dari FB Maghfirare.









3 comments on "Sekolah Itu Ada Gunanya Ngga Sih ?"
  1. Astaga komiknya Magfira bisa sesuai banget yaaak. Seperti biasa joss. Dan saya suka penjelasan poin dua pake analogi kungfu. Kadang satu titik itu bisa memunculkan banyak persepsi

    ReplyDelete
  2. Sependapat banget sama Mbak Win. Tapi dulunya aku sempet diskusi ama suami, gak cocok ama sistem sekolahan yang begini begitu. Maunya homeschooling tapi belum tentu mau juga kan si anak. Yaudahlah memang tugas kita sebagai orang tua untuk mencari solusinya ya.

    Bener deh apa yang kita pelajari gak ada yang rugi. Ada seseorang yang bilang, output dari sekolah itu harusnya mengubah cara berpikir. Jadi open minded, well educated. Makanya kan rasanya beda kalo kita ngobrol ama orang yang berpendidikan tinggi ama yang rendah. Dari situ mikir kalo sekolah tetep penting, karena di sekolah pula buanyaaaaak sekali kesempatan yang bisa kita raih, dan gak bakal ada kalo bukan di sekolah. Tapi tetep sih, aku berharap pemerintah mau terus memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Jangan yang gila-gilaan fullday aja hihi.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature