Hal-Hal Yang Harus Ditanyakan Kepada Orangtua-Part 2

Wednesday, November 2, 2016


Okeee, #GesiWindiTalk kali ini melanjutkan pertanyaan sebelumnya yah.

There is a big correlation between having a parenting philosophy and having a happy family life and successful kids.

Yup, saya setuju banget dengan kalimat di atas, bahwa ada korelasi besar antara filosofi pengasuhan kita terhadap kebahagiaan keluarga dan kesuksesan anak kita kelak. Soalnya pondasi utama pendidikan anak ya keluarga, jadi nilai-nilai yang dianut keluarga itulah yang bakal mempengaruhi gimana cara berfikir dan cara berinteraksi si anak di lingkungan sosialnya.

Nah, mareee kita lanjut ke 5 pertanyaan yang harus ditanyakan kepada orangtua sebelum / saat memiliki anak :

Baca punya Gesi juga ya :


How will you support your kids financially when you cannot work (because you are pregnant, sick or injured)?


Ini pertanyaan yang menurut saya penting pake banget harus dijawab calon orangtua atau yang udah jadi orangtua. Banyak yang berpendapat bahwa rezeki itu udah ada yang ngatur jadi jangan terlalu mengkhawatirkan masa depan. Saya setuju bahwa rezeki itu udah diatur sama Allah, dan setiap anak udah membawa rezekinya masing-masing. Tapi in case terjadi sesuatu dengan si pencari penghasilan, memang harus dipikirkan apa yang harus dilakukan.


Kalau di keluarga saya, jujur aja kami ngga ada pakai asuransi yang macem-macem. Sampai saat ini saya hanya ikut asuransi penyakit kritis, karena menurut saya itu yang paling saya butuhkan. Saya mikirnya sih simpel aja, kalau ada apa-apa dengan saya masih ada suami toh begitu juga sebaliknya, tapi kalau saya sakit dan butuh perawatan intensif, jangan sampai biaya berobat saya menggerogoti keuangan keluarga.

Kalau suami?

Seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, saat ini kami udah nabung aset untuk jaga-jaga kalau terjadi apa-apa sama kami berdua, atau sama suami. Pokoke  kata suami, kalau kenapa-kenapa sama dia, ya udin manfaatkan apa yang kami miliki.

Keluarga lain pasti punya cara masing-masing untuk mengamankan keluarganya dari gangguan financial. Terserah sih caranya gimana, mau ikut asuransi atau mau nyiapin aset berharga, yang penting pastikan itu bakal mencukupi minimal untuk biaya hidup dan biaya pendidikan anak sampai kuliah ya. MINIMAL.

Where do you want your kids to grow? (City, outback, small town…) why?


Di KOTA


Hahaha, saya ngga pernah bermimpi ingin tinggal di desa. Saya ingin tinggal di desa kalau udah pensiun ntar, kalau untuk membesarkan anak, saya maunya di kota aja. Sampai saat ini saya masih berpendapat di kota lebih banyak kesempatan daripada di desa. Jadi kalau anak saya mau les apa aja ada, mau belajar ilmu agama ada, mau sekolah juga pilihannya banyak. 

Di desa apa ngga ada?

Ada jugalah. Tapi kan terbatas pilihannya. Dan di kota itu kita bisa belajar apa aja langsung dari yang terbaik.


Selain itu fasilitas di kota juga lebih lengkap, fasilitas kesehatan terutama. Perbandingannya, kayak sekarang tuh say kan di kota Medan, kota ketiga terbesar di Indonesia, jadi saat melahirkan anak, saya bisa dapat fasilitas rumah sakit yang bagus dibanding teman saya yang bekerja di perusahaan yang sama tapi tinggal di kota kecamatan misalnya. Trus saat akan imunisasi juga pelayanannya lebih bagus. 

Tapi ada juga negatifnya, di kota besar anak juga gampang terpapar hal-hal negatif. Kalau itu tergantung kita sbagai orangtua gimana menjaga anak kita dari pengaruh buruk perkotaan.

Pokoke intinya di kota besar itu banyak pilihan. Mau yang baik-baik banyak, yang buruk juga tersedia. 

Kota impian saya sebenarnya Jogja. Karena Jogja itu kotanya ngga terlalu besar, tapi ya ngga kecil juga, mana sekolahnya bagus-bagus dengan harga terjangkau, laaaaf.

Kota kedua ya Medanlah. I Love Medan so much, karena disini ada ortu dan adikku, jadi Medan masih jadi opsi untuk membesarkan anak.

Kalau Jakarta, saya pengen tapi kayaknya kok mikirin biayanya langsung puyeng yah. Jadi kalau bisa kota-kota yang sdang ajalah, ngga usah yang metropolitan banget.

Tapi mengingat saya kerjanya pindah-pindah, memang harus siap-siap sih kalau tiba-tiba penempatan di kota kecil. Mudah-mudahan penempatannya di kota besar teruslah, minimal ibukota propinsi, Jogja Pliiiis. 

What kind of religious or spiritual philosophy would you like to introduce to your kids?

Naah ini. 

Ini bakal panjaaaaang jawabnya. Saya melihat belakangan kok kelihatannya beragama itu jadi sesuatu yang menakutkan. Beneran ini. Sepertinya seolah-olah kalau ngga sama agamanya jadi patut dibenci, patut dimusuhi. Saya ngga setuju dengan cara beragama seperti ini. Bagi saya, beragama itu harusnya seperti asal katanya, A=tidak, Gama= kocar-kacir. Jadi agama menuntun kita untuk tidak kocar-kacir, untuk memiliki hidup yang lebih baik, sebagai pribadi yang lebih baik, alias jadi lebih santun, lebih mengasihi, lebih lembut hatinya.

Saya akan mengajarkan ke anak saya, bahwa orang yang berbeda keyakinan dengan kita pun boleh ditemani, tidak untuk dijauhi. Jangan menjadi eksklusive di masyarakat, berteman dengan siapa saja. Tapi ia tetap harus paham, bahwa sebaik-baik pertemanan adalah yang bisa membuat kita jadi pribadi lebih baik. 

Anak saya harus tahu bahwa Allah itu maha baik, Dia tidak pembenci, tidak pemarah, maha pengasih, penyayang dan maha pengampun. 

Jadi saya ngga akan nakut-nakutn anak saya dengan kata " Hayoo, nta masuk neraka lho kalau kamu ngga sholat", misalnya

Kalau filosofi hidup yang bakal saya terapkan ke anak saya, ada beberapa hal:

Bahwa Saat kau benar belum tentu orang lain salah

Saya pengen anak saya tahu bahwa terkadang kebenaran itu tidak mutlak. Karena beda sudut pandang bisa membuat beda pendapat dan beda pemikiran. Jadi saya pengen anak saya memiliki pemikiran terbuka, bahwa tidak perlu memaksakan pendapatnya kepada orang lain. 



Kalau sedikit mengalah bisa mendamaikan suasana, maka pilihlah mengalah. Saya pengen Anak saya juga paham, bahwa mengalah tidak selalu berarti kalah. Itu lebih baik.




Bahwa Hidup Ini Pilihan, dan Tiap Pilihan Ada Konsekuensinya, Hargai Pilihan Orang Lain

Jadi, saya pengen menanamkan pemahaman kepada anak-anak saya, bahwa apapun yang dijalani orang dalam hidup itu sudah merupakan pilihannya. Kita ngga boleh mencampuri dan mengintervensi pilihan orang lain, apalagi sampai memaksa dan menganggap pilihan kita adalah yang terbaik. No way. Hargai setiap pilihan orang, karena setiap pilihan ada konsekuensi. Kalaupun misalnya menurut kita pilihan hidup teman kita salah misalnya,cukup memberi pendapat saat ditanya saja. Jika kita ingin mengingatkan maka ingatkanlah dengan cara yang baik.

Bahwa Berbeda itu Tidak Buruk

Ini terkait sifat remaja yang suka ikut-ikutan dengan temannya. Saya nanti mau bilang ke anak saya, kalau dia merasa ngga pengen kayak teman-temannya, ya ga apa, berbeda itu ngga selalu buruk. Kalau temannya rame-rame ngedugem misalnya dia ngga ikutan ya no problema, jangan merasa kuper. 

Bahwa Kita Tidak Mungkin Bisa menyenangkan Semua orang, dan tidak semua keinginan kita Harus terkabul

Ini penting banget dikasih tahu. Saya pengen anak saya menjadi seperti apa yang dia mau, menjadi diri sendiri. Saya ngga mau hanya karena ingin menyenangkan saya misalnya, trus dia harus ikutan arisan atau undangan yang dia ngga nyaman disana, mending dia baca buku kesayangannya di rumah. Ini contohnya cetek banget yah.

Pokoke dia ngga harus disukai semua orang untuk menjadi sempurna. Nggaaaa. 

Ini dari sekarang misalnya Tara minta sesuatu, trus ngga saya kasih, saya biarin aja dia nangis kejer. Biar dia tahu aja kalau semua keinginannya belum tentu bisa didapat. 

Dia Boleh Berbuat Salah

Iya, dia boleh berbuat salah, dan mungkin saya akan marah,tapi dia ngga harus takut untuk memberitahukan kepada orangtuanya . Jadi saya pengennya, dia ngga sembunyi-sembunyi misalnya saat melakukan kesalahan. Minimal saya tahu, biar kalaupun ada yang bisa diperbaiki, masih bisa dilakukan, ketimbang stress,dia diem-diem, pendam sendiri. 

Ya ampun Tara, berat ye hidup kamu, bundanya nafsu banget ya mau nanemin macem-macem.

Aaah banyak deh yang mau saya sampaikan, ntar saya mau nyicil ah nulis satu-satu soal ini.

What kind of kids would you like them to be?

Yang habluminallah dan habluminannasnya seimbang, goals.

Saya cuma pengen dia jadi anak yang ngga sombong, itu aja. Yang lain-lain biarlah dia seperti apa adanya, jadi diri sendiri.

How far apart do you want your kids’ ages to be?

3 tahunlah jarak yang pas, biar cepet juga selesainya. Selesai capek-capeknya, selesai begadangnya trus ntar udah bisa kemana-mana bareng mereka. Sip


Udah itu aja sih. 

Gimana pendapat kalian terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, sharing dong.
3 comments on "Hal-Hal Yang Harus Ditanyakan Kepada Orangtua-Part 2"
  1. yg pasti pengen nanemin jangan egois kali ya? maksudnya jgn self-centered bgt lah krn saya merasa saya self-centered dan agak susah ngubahnya heheu

    ReplyDelete
  2. Bener deh hidup di pelosok itu rempong, nyari buku yg bagus aja susah harus beli online dan sampenya lama, huhu, ngalamin sendiri, hihi. Sekarang udh move on ke kota besar, meski belanja online smpnya juga cepet, hihi.

    ReplyDelete
  3. aku lahir di desa, besar di desa, skrg di desa, dan bener bgt banyak keterbatasannya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature