Cinta Sejati Akan Selalu Menemukan Jalan

Sunday, June 24, 2012


Judul Buku      : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit   : 2012
Ukuran             : 512 halaman, 20 cm
Harga              : Rp 72.000,-
ISBN               : 978-979-22-7913-9
Genre              : Novel Dewasa

“Jika kita buang air besar di hulu Kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai,melintas di depan rumah papan kami?
Pertanyaan aneh yang keluar dari mulut seorang bocah kecil bernama Borno. Mungkin kita semua pernah mengalaminya, dimana saat kanak-kanak, begitu banyak pertanyaan berseliweran di otak. Hal-hal tidak masuk akal yang membuat orang yang ditanya kehabisan kata, jengkel dan geleng-geleng kepala. Namun dari semua pertanyaan, tidak ada yang bisa mengalahkan tentang pertanyaan yang satu itu, apalagi kalau bukan soal cinta. Itulah pertanyaan besar dalam hidup Borno.
Borno adalah yatim dari seorang nelayan. Tersengat ubur-ubur kabarnya.  Di lorong rumah sakit, Borno terduduk seorang diri,menatap kosong ke segala arah.Seorang gadis kecil berdiri di depannya dengan pandangan kuyu, sekuyu dirinya. Terhanyut dalam diam, sampai kabar tak masuk akal itu di dengarnya. Sebelum jantungnya berhenti berdetak, ayahnya menyetujui untuk mendonorkan jantungnya kepada seorang pasien gagal jantung yang telah lama menunggu donor namun belum juga mendapatkannya. Umurnya dua belas tahun saat itu, ia tidak pernah tahu, apa yang membuat ayahnya meninggal dunia, sengatan ubur-ubur atau pisau bedah dokter.
Setelah kematian ayahnya, hidup Borno berlanjut. Selepas SMA ia bekerja di sebuah pabrik karet,pekerjaan yang tidak disukainya.” Semua pekerjaan baik”, kata ibunya. “ Aku tahu bu, tapi tidak semua pekerjaan itu bau”. Bukan karena bau ia meninggalkan pekerjaan pertamanya, harga karet yang terjun bebas membuat pabrik gulung tikar, Borno pun berganti pekerjaan menjadi penjaga palang masuk di kapal Feri. Namun ternyata Feri adalah musuh tiga turunan keluarganya. Bang Togar yang merupakan teman dekat almarhum bapak menentang keras pekerjaan itu. Ia diberi ultimatum satu bulan untuk meninggalkan pekerjaan itu. Diboikot oleh pengemudi sepit atas perintah bang Togar, Borno pun menjalani pekerjaannya. Namun akhirnya,ditinggalkannya juga kapal Feri tersebut, karena ada uang haram terselip di antara gaji bulananannya. Setelah itu ia bekerja serabutan, mulai dari menjaga warung Cik Tulani, sampai membantu tetangga mencari kucing yang hilang.
Hingga, suatu pagi, Borno memulai pekerjaan barunya, pekerjaan yang membawa banyak kisah, termasuk bertemu dengan kisah cinta sejati-salah satu pertanyaan terumit selain berapa lama waktu yang diperlukan kotoran berhiliran dari hulu Kapuas hingga ke muaranya di laut Cina Selatan.
“Jangan pernah jadi pengemudi sepit Borno”
Wasiat ayah dilanggarnya. Borno akhirnya resmi menjadi pengemudi sepit, sebuah perahu kecil yang biasa disebut sebagai ojek perahu yang menghubungkan tepi Kapuas satu ke tepi yang lain.
Hari pertama ia menjadi pengemudi sepit, seorang gadis berbaju kurung kuning berpayung merah duduk manis di atas sepitnya. Sepeninggal gadis tersebut, sebuah surat bersampul merah, di lem rapi dan tanpa nama tertinggal di dasar sepitnya. Alamak, inilah asal muasal seluruh cerita. Tanpa membuang waktu Borno segera mencari gadis berbaju kuning tersebut. Yayasan tempat gadis itu mengajar dijambanginya, kejar-kejaran dengan boat fiberglass di sungai Kapuas demi menemui di gadis. Saat matanya tertumbuk ke si gadis, hatinya mencelos kecewa. Disana di tepi sungai Kapuas, seorang gadis peranakan cina sedang membagi-bagikan angpau persis seperti yang ada di tangannya.
“ Abang Borno mau angpau?”. Sepenggal kalimat dari si gadis menjadi pembuka cinta bersemi di hati Borno.
Pertemuan-demi pertemuan yang memang sengaja diciptakan Borno membuat ia semakin dekat dengan si gadis. Mei, nama yang baru diketahui Borno di pertemuan yang entah sudah ke sekian kali dengan sebuah insiden kecil akibat kegugupan Borno membuat lelucon tentang nama-nama bulan yang sering dijadikan nama orang.
Suatu pagi, Mei meminta Borno mengajarinya mengemudikan sepit, namun malang , pagi yang dijanjikan itu pula Pak Tua-orang yang sudah dianggap Borno sebagai pengganti ayahnya- sakit keras dan membuat Borno lupa akan janjinya. Padahal itu adalah hari terakhir Mei di Pontianak, ia harus kembali ke Surabaya tempat tinggal keluarganya. Itulah perpisahan pertama Borno dan Mei.
“ Cinta itu macam musik yang indah. Cinta sejati akan membuatmu tetap menari, meskipun musiknya telah lama berhenti”
Sepenggal nasihat pak Tua membuat Borno tetap tegar melewati hari-hari dilanda kerinduan kepada Mei.
“ Tetap semangat abang “
Ditambah lagi pesan Mei, membuat Borno semangat melanjutkan hidupnya. Tak dinyana ternyata ia memiliki bakat dalam hal permesinan. Berbekal uang hasil penjualan sepitnya dan hasil penjualan rumah ayah Andi-sahabat karibnya sekaligus partner bisnis- ia pun memulai usaha bengkel. Jatuh bangun usahanya termasuk penipuan mulai dari awal pembukaan bengkel tidak membuat Borno menyerah. Hingga akhirnya Mei menginjakkan kaki kembali ke Pontianak.
Namun tampaknya, kisah cinta Borno harus menghadapi badai. Di tengah-tengah cerita, muncul seorang dokter cantik bernama Sarah. Kehadiran Sarah menguak rahasia selama bertahun-tahun, ditambah sikap ayah Mei yang tidak bersahabat dengan Borno.
“ Kau dan Dia hanya akan saling menyakiti” peringatan ayah Mei membuat Borno bertanya-tanya.
 Tak lama setelah itu, Mei pun pergi meninggalkan Borno tanpa alasan.
“ Maafkan aku abang, sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi “.
Ada apa sebenarnya?, Siapa Sarah?, dan kenapa ayah Mei berkata seperti itu?, Apakah ada hubungannya dengan angpau merah tersebut ?.
Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah, sebuah novel dengan kearifan lokal yang kental. Dengan gaya bahasa yang ringan tanpa membuat kening berkerut ditambah lagi sempilan komedi yang membuat kita terbahak, membuat novel ini kaya rasa kaya makna. Bohong, kalau ada yang mengatakan ini novel kisah cinta. Novel ini lebih dari sekedar kisah kasih dua anak manusia.
Seperti biasa Tere Liye selalu membeberkan sisi lain dari sebuah cerita. Kekeluargaan, ketulusan, sikap pantang menyerah tersampaikan dengan jelas tanpa kesan menggurui. 
“ Tidak ada yang akan memecat kau hari ini. Seluruh pegawai bengkel ini adalah keluarga bagiku. Andi, bapaknya Andi, kau, montir lain, semuanya keluarga. Membiarkan kau mendekam lebih lama di sel dingin itu saja aku tidak tega, apalagi memecat kau.”
Saat membaca bagian ini saya sungguh terharu. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi Lai, montir bengkel yang dianggap keluarga sendiri oleh bosnya, bahkan setelah berbuat kesalahan masih diberi kesempatan. Andai saja para atasan membaca buku ini, mereka harus belajar lebih banyak lagi tentang memenangkan hati pegawai dan membuatnya loyal seumur hidup.
Tidak melulu soal cinta, kisah persahabatan Borno dan Andi pun turut mewarnai kisah di novel ini.
“ Habiskan masa-masa sulit kau dengan teman terbaik, maka semua akan lebih ringan. Hanya teman terbaiklah yang nekat mengerjai kau sampai sebegitu, karena dia percaya kau tidak akan benar-benar marah padanya”
Ampuh sekali pesan pak Tua, saat Borno begitu kesal pada Andi karena Andi membohonginya dengan mengatakan Mei sudah kembali disaat Borno benar-benar merindukannya.
Namun bukan Borno namanya kalau tidak membalas perbuatan Andi. Beberapa hari kemudian ia pun balik mengerjai Andi dengan menyuruh Andi memborngkar mesin vespa seorang pejabat yang telah diwanti-wanti ayah Andi, agar jangan disentuh sedikitpun. Tak pelak, Andi pun terpaksa mengungsi dari rumahnya karena bapaknya mengamuk padanya.
Sama seperti di novel-novel sebelumnya, Tere Liye selalu berhasil menampilkan tokoh –tokoh di tulisannya dengan karakter yang kuat. Kalau dalam “Bidadari-Bidadari Surga”, ada kak Laisa yang sangat menginspirasi, maka di novel ini Pak Tua adalah karakter yang sungguh mempesona. Banyak quote-quote yang keluar dari mulutnya membuat kita mengangguk-angguk setuju, terdiam , dan tersadar akan kebenarannya.
“ Borno, jangan pernah menilai sesuatu sebelum kau selesai dengannya, mengenal dengan baik”
Nasehat Pak Tua saat Borno mempertanyakan sikap ayah Mei yang tak bersahabat.
“ Cinta adalah perbuatan, kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta. Tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi”
Menohok,  sering kita mengumbar kata cinta berulang-ulang pada seseorang yang bertahta di hati, namun terkadang kita lupa, bahwa satu perbuatan kecil lebih berarti dari ucapan yang bertubi-tubi.
Selain tokoh Pak Tua, karakter lain turut memperkaya keseluruhan jalan cerita sehingga tidak monoton berpusat di tokoh utama. Koh Acong, pemilik toko kelontong berdarah Tionghoa, Cik Tulani si pemilik warung makan berdarah Melayu, dan tentu saja bang Togar dengan perangainya yang meledak-ledak. Namun ternyata di balik wajah sangar dan suara kerasnya, bang Togar berhati lembut. Bahkan ia memberi tips-tips kencan pertama kepada Borno
Yang pertama, Jadilah diri sendiri, kau tak perlu bergaya seperti anggota grup musik ternama. Cukup jadilah diri sendiri, Borno,seorang pengemudi sepit. Tips kedua, Jadilah pendengar yang baik, wanita manapun suka itu. Yang ketiga, pusatkan perhatian pada dirinya. Dia,dia, dan dia, itulah topik kau sepanjang hari, bahkan bila perlu kau puji sol sepatunya.Yang terakhir, yang paling penting, penutup. Katakan bahwa kau senang menghabiskan waktu bersamanya, bilang bahwa ini jauh lebih hebat dibanding mengantar Gubernur Kalimantan Barat menyeberangi Kapuas.
“ Aku belum pernah mengantar Gubernur bang “ Potong Borno.
Disini saya tergelak melihat reaksi Borno diceramahi bang Togar yang super galak. Apakah Borno berhasil mempraktekkan saran bang Togar??.
Hmm tampaknya kamu harus bersabar membacanya sampai akhir.
Hal yang paling menarik dari karya Tere Liye kali ini adalah setting tempat cerita yang tidak biasa. Kalau Jakarta, Jogja, Bali, Surabaya sudah biasa diangkat menjadi latar, maka kali ini kota Pontianak dengan segala keunikannya tersaji apik menyatu dengan kisah cinta Borno dan Mei.
Novel-novel yang pernah saya baca dengan setting lokasi yang kuat adalah novel karya Sidney Sheldon, Jhon Grisham dan Paulo Coelho. Membacanya, kita seperti ikut melihat, menyaksikan dan berada di dalam suasana yang diceritakan. Pun di novel Tere Liye kali ini.
Pontianak adalah kota yang dibelah oleh sungai terpanjang di Indonesia dan dilewati oleh garis imajiner terpanjang di dunia. Tapi daya tarik kota ini tidak cuma terletak pada fakta geografisnya. Sejarah kota Pontianak diinformasikan secara mengalir oleh Tere Liye.
Saya jadi tahu bahwa kata Pontianak berasal dari nama hantu yang ditemukan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada tahun 1771. Kuntilanak ( atau Puntianak dalam bahasa melayu ), hantu wanita legendaris yang dicirikan dengan rambut panjang, gaun putih, dan tawa melengking. Pemuda tersebut kemudian mengusirnya menggunakan meriam. Bola besi yang ditembakkannya jatuh persis di persimpangan antara sungai Kapuas dan Landak, kawasan subur yang kemudian berkembang menjadi kota Pontianak.
Pemukiman tumbuh, pusat kekuasaan baru lahir. Syarif Abdurrahman menjadi Sultan. Dia mendirikan mesjid jami dan Istana Kadriyah, lalu membawa Pontianak jadi salah satu pusat ekonomi di Kalimantan bermodalkan  sistem transportasi air. Kapuas, sungai yang membelah kota, merupakan sungai terpanjang nomor satu di Indonesai dan nomor 139 di dunia.
Istana Kadriyah menjadi salah satu tempat penting di cerita ini, tempat Borno dan Mei janjian bertemu pertama kalinya. Dominasi warna kuning yang digambarkan Tere Liye membuat saya penasaran. Belakangan saya baru tahu bahwa warna khas Melayu ini melambangkan kewibawaan dan budi pekerti.
Landmark ikonik Pontianak lainnya yang turut melengkapi novel ini adalah Tugu Khatulistiwa, Di tahun 1928 seorang ahli geografi asal Belanda berkunjung ke Pontianak untuk menentukan titik Khatulistiwa.
Peristiwa paling ditunggu wisatawan di Tugu Khatulistiwa adalah kulminasi matahari, yakni momen di saat mentari berada tepat di atas garis khatulistiwa, matahari benar-benar berada di atas kepala dalam arti sebenarnya, hingga membuat semua bayangan raib selama beberapa detik. Peristiwa ini lazimnya terjadi dua kali per tahun, yakni antara 21-23 Maret dan 21-23 September.
“Membaca, membuat cakrawala  terbuka”, terbukti telak di novel ini. Saya yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Pontianak menjadi lebih tahu keadaan geografis, sejarah dan budaya kota tersebut. Bahkan Tere Liye menyelipkan pertandingan sepit yang menjadi tradisi tahunan di tepian sungai Kapuas sampai adat istiadat suku dayak sebagai tambahan pengetahuan bagi pembacanya. Tidak cukup sampai disitu, kisah Borno dan Andi tertangkap saat ingin melintasi petugas perbatasan negara menuju Kuching juga menginformasikan hal-hal yang mungkin tidak akan kita dapat di novel lain.
Laiknya sebuah karya, tentu ada kekurangan yang tidak dapat dinafikkan.
Hal pertama yang mengganggu saya adalah cover. Kalau ini murni penilaian subjektif. Menurut saya cover memegang peranan penting bagi sampainya sebuah karya ke tangan pembaca. Pemilihan warna orange mungkin dimaksudkan untuk menggambarkan suasana senja di tepian Kapuas. Namun warna tersebut kurang eye-cathing untuk sebuah novel dengan kisah semanis madu. Hal ini termaafkan, karena jaminan nama penulis yang sudah tidak diragukan lagi kapasitasnya.
Satu hal yang menjadi catatan saya. Dalam setiap bukunya, kita tidak pernah tahu seperti apa sosok Tere Liye si penulis. Tidak ada informasi apapun mengenai dirinya. Biarlah, kita memang tak perlu secara kasat mata melihat biografi si penulis. Namun dari tulisannya, kita kenal orang seperti apa yang menulis kisah sedemikian indah dan menyentuh nurani.
Berikutnya, jumlah halaman yang begitu tebal ( 512 halaman), membuat cerita sedikit bertele-tele di awal. Saya yang biasanya membaca tulisan Tere Liye sekali lahap, kali ini harus terpotong beberapa kali.
Dan yang terakhir, khas Tere Liye dengan ending yang selalu penuh kejutan. Sepanjang cerita saya sering menebak-nebak jalan ceritanya, seperti halnya Andi yang suka berimajinasi terhadap cerita orang, dan sayangnya tebakan saya sering salah. Namun kali ini ending yang disajikan menurut saya To good to be true. Surprising, namun terkesan nyinetron.
Terlepas dari sedikit kekurangan yang ada, “Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah” sukses membuat saya iri akan kisah perjuangan cinta Borno dan Mei. Kembali mengutip petuah bijak Pak Tua,
“ Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada saja kebetulan, nasib, takdir atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memekasakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendirilah yang akan memberikan jalan baiknya.”
Bagi anda yang ingin membaca kisah ketulusan, semangat, perjuangan tanpa menyerah, dan  para pecinta yang sedang gundah dan galau, novel ini menyajikannya sepaket komplit. Agar kita bisa belajar cinta sejati yang ditawarkan Borno, bukan cinta membabi buta, hanya cinta sederhana, seperti layaknya air. Air di laut akan menguap, menjadi hujan, turun di gunung-gunung tinggi, kembali menjadi ribuan anak sungai, menjadi ribuan perasaan, lantas menyatu menjadi Kapuas. Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan , apalagi hanya sekedar muara.
Selamat Membaca.

Resentator       : Windi Teguh
Diikutsertakan dalam Lomba Resensi Gramedia Pustaka Utama
6 comments on "Cinta Sejati Akan Selalu Menemukan Jalan"
  1. Akhirnya jadi jg resensinya, siip...siip moga2 menang lagi mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ​‎​آمِّينَ يَ رَ بَّلْ عَلَمِيَ
      Tapi saingannya berat nih, para peresensi pada ikutan, nyoba2 aja. Nambah pengalaman, baru pertama ini serius nulis resensi.
      Makasi ya. Btw ga ada namanya sih :(

      Delete
  2. Halo Mba Jawara lomba blog...
    Semoga menang lagi kali ini Mba Wind...
    Semangat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah parah kali ini ben. Resensi ku kacau, ngga runut. Gpp lah itung-itung belajar. ;D. makasi atensinya nya

      Delete
    2. Hohoho...
      Bagus gitu kok dibilang kacau mba...
      Terus belajar tanpa henti...

      Delete
    3. semoga jurinya sependapat, wkkwwkwk. Semangat nih kalo punya temen kaya gini ;D

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga senang yah main kesini :)

Custom Post Signature